Kiriman dibuat oleh Tiara Vita Loka

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Analisis Praktik Manajemen Laba di PT Karya Sentosa

Dalam kasus PT Karya Sentosa, terdapat indikasi praktik manajemen laba berbasis akrual (accrual-based earnings management). Lonjakan laba bersih yang tidak sejalan dengan arus kas operasi menunjukkan adanya penyesuaian akrual yang memperbesar laba secara artifisial. Indikator lain yang mendukung dugaan ini antara lain kenaikan signifikan piutang usaha yang tidak diimbangi peningkatan penjualan tunai, serta penurunan cadangan kerugian piutang yang biasanya disesuaikan untuk memperhalus laba. Pola ini sesuai dengan praktik manajemen laba yang menunda pengakuan biaya atau mempercepat pengakuan pendapatan untuk mencapai target laba tertentu.

2. Perbandingan Dua Jurnal Ilmiah Terkini

Jurnal pertama, misalnya diterbitkan dalam Journal of Accounting and Public Policy (2021), menggunakan pendekatan empiris kuantitatif dengan model Jones termodifikasi untuk mengukur accrual discretionary pada perusahaan manufaktur di Asia Tenggara. Studi ini menemukan bahwa tekanan pasar dan insentif manajemen berpengaruh signifikan terhadap praktik earnings management. Jurnal kedua, diterbitkan dalam Accounting Horizons (2023), menggunakan metode survei dan wawancara dengan CFO perusahaan di Amerika Utara, menekankan aspek perilaku manajer dan faktor internal perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan manajemen laba tidak selalu negatif, tetapi sering digunakan untuk stabilisasi laba atau menyesuaikan ekspektasi investor. Perbedaan utama antara kedua studi ini terletak pada pendekatan: satu bersifat kuantitatif berbasis data historis, sementara yang lain lebih kualitatif dan berbasis perilaku manajer, namun keduanya menyepakati bahwa tekanan eksternal dan insentif internal memengaruhi praktik manajemen laba.

3. Evaluasi Praktik Earnings Management

Earnings management tidak selalu bersifat negatif. Dari perspektif teori positif akuntansi, praktik ini dapat dilihat sebagai respons rasional manajemen terhadap insentif ekonomi, kontrak, dan ekspektasi pasar. Beberapa literatur empiris menunjukkan bahwa manajemen laba dapat digunakan untuk stabilisasi laba, mengurangi volatilitas, atau menjaga hubungan dengan investor, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasar dalam jangka pendek. Namun, jika digunakan secara oportunistik untuk menipu pemangku kepentingan atau menyembunyikan kinerja buruk, praktik ini jelas merugikan dan dapat menimbulkan risiko hukum serta reputasi. Dengan kata lain, konteks, tujuan, dan transparansi adalah faktor kunci dalam menilai dampak earnings management.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan indikasi yang ada, PT Karya Sentosa kemungkinan melakukan manajemen laba berbasis akrual. Stakeholder perlu berhati-hati, terutama investor dan kreditur, dalam menilai kualitas laba perusahaan. Rekomendasi yang dapat diberikan antara lain meminta transparansi lebih lanjut melalui pengungkapan catatan atas laporan keuangan, melakukan audit internal tambahan untuk memverifikasi kebijakan akrual, dan memantau arus kas operasi sebagai indikator keandalan laba. Perusahaan sebaiknya memperkuat tata kelola dan kebijakan akuntansi untuk memastikan praktik earnings management digunakan untuk stabilisasi atau komunikasi laba yang wajar, bukan untuk manipulasi oportunistik.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM:2413031022

1. Tantangan Utama

PT Sumber Hijau menghadapi tantangan kompleks dalam menyeimbangkan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan. Di satu sisi, proyek di Kalimantan Timur menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja lokal, tetapi di sisi lain menimbulkan risiko kerusakan hutan tropis dan konflik dengan masyarakat adat. Tekanan dari LSM lingkungan dan investor global menuntut perusahaan mengadopsi praktik ESG yang transparan, sementara standar akuntansi nasional (PSAK) belum sepenuhnya mengakomodasi pelaporan isu keberlanjutan. Tantangan utama terletak pada bagaimana menyajikan informasi yang relevan dan kredibel mengenai dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi secara bersamaan, sehingga laporan keuangan dan keberlanjutan dapat dipercaya oleh seluruh pemangku kepentingan.

2. Pendekatan Teori Akuntansi Positif dan Normatif

Teori akuntansi positif membantu memahami perilaku manajemen dalam pelaporan keberlanjutan sebagai respons terhadap insentif ekonomi dan tekanan stakeholder. Misalnya, perusahaan mungkin menekankan kontribusi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja untuk menarik investor dan mengurangi kritik, karena hal ini dapat memengaruhi persepsi pasar. Sebaliknya, pendekatan normatif menekankan bagaimana perusahaan seharusnya melaporkan dampak keberlanjutan berdasarkan prinsip etika, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Dalam kasus PT Sumber Hijau, kombinasi keduanya membantu menjelaskan perilaku manajemen sekaligus memberikan panduan etis untuk menyusun laporan yang mencerminkan praktik keberlanjutan yang sebenarnya.

3. Integrasi Pelaporan SDGs ke dalam Laporan Keuangan

Meskipun PSAK belum sepenuhnya mengatur pelaporan ESG, PT Sumber Hijau dapat menggunakan standar pelaporan keberlanjutan seperti GRI (Global Reporting Initiative) atau SASB (Sustainability Accounting Standards Board) untuk menyusun informasi non-finansial yang relevan. Perusahaan dapat menghubungkan indikator SDG seperti SDG 13, 15, dan 8 dengan data operasional dan dampak sosial-ekonomi yang dapat diukur, misalnya emisi karbon, luas lahan yang direklamasi, atau jumlah tenaga kerja yang diserap. Pendekatan ini memungkinkan integrasi pelaporan keberlanjutan dengan laporan keuangan melalui narasi manajemen, tabel kinerja, dan catatan kaki yang menjelaskan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan proyek.

4. Penyusunan Narasi Laporan Keberlanjutan

Sebagai akuntan yang bertanggung jawab, saya akan menyarankan perusahaan untuk menyusun narasi yang transparan dan seimbang, menekankan kontribusi ekonomi serta inisiatif mitigasi dampak lingkungan. Narasi harus menyertakan indikator kuantitatif dan kualitatif, misalnya pengurangan emisi, rehabilitasi hutan, program pemberdayaan masyarakat, serta pencapaian SDGs yang relevan. Selain itu, penting untuk menjelaskan tantangan dan risiko yang dihadapi, sehingga stakeholder lokal memahami komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan, sementara investor global mendapatkan informasi yang kredibel mengenai kinerja ESG. Penyajian yang jujur dan berbasis data akan meningkatkan kepercayaan dan legitimasi laporan di mata semua pihak.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Perilaku Manajemen dan Motivasi

Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif dalam mengakui biaya lingkungan hidup jangka panjang untuk menjaga kehati-hatian dan meminimalkan risiko pencatatan liabilitas yang berlebihan. Motivasi utama kemungkinan adalah memastikan bahwa laporan keuangan tetap kredibel, mencerminkan kewajiban lingkungan yang realistis, dan menghindari potensi sanksi hukum atau reputasi negatif di masa depan. Dampaknya terhadap pemangku kepentingan bervariasi: investor domestik dan regulator mungkin melihat hal ini sebagai tanda manajemen yang prudent dan transparan, sementara investor luar negeri yang mengutamakan laba tinggi bisa merasa perusahaan kurang agresif dalam memaksimalkan profit.

2. Tekanan Investor dan Etika Akuntan

Sebagai akuntan perusahaan, menghadapi tekanan dari investor luar negeri memerlukan keseimbangan antara kepentingan pasar dan prinsip etika profesi. Mengikuti permintaan investor untuk mengubah kebijakan akuntansi demi meningkatkan laba tanpa dasar yang kuat atau tidak sesuai standar akuntansi akan bertentangan dengan prinsip objektivitas, integritas, dan profesionalisme. Oleh karena itu, sikap yang tepat adalah menjelaskan konsekuensi perubahan tersebut, memastikan kepatuhan terhadap IFRS dan PSAK, serta mempertahankan transparansi dan akurasi laporan keuangan. Etika profesi menuntut akuntan tidak mengorbankan keandalan informasi demi kepentingan pihak tertentu.

3. Ekonomi Politik dalam Standard-Setting

Proses penetapan standar akuntansi sering dipengaruhi oleh ekonomi politik, baik secara nasional maupun global, karena berbagai kepentingan industri, investor, dan pemerintah ikut menentukan arah regulasi. Dalam kasus PT Lestari Mineral, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan dari asosiasi industri ketika merumuskan standar akuntansi lingkungan yang lebih mencerminkan keberlanjutan. Contoh lain, di tingkat global, pengaruh kelompok industri energi dan keuangan kerap terlihat dalam diskusi IFRS mengenai pengungkapan risiko iklim atau derivatif, di mana keputusan standar tidak sepenuhnya bersifat teknis tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi.

4. Pendekatan Principle-Based vs Rule-Based

Pendekatan berbasis prinsip seperti IFRS menekankan fleksibilitas, relevansi informasi, dan penerapan profesional judgment, sehingga laporan keuangan mencerminkan realitas ekonomi meski tidak setiap kasus diatur secara rinci. Pendekatan berbasis aturan seperti US GAAP lebih kaku dan mengutamakan kepatuhan terhadap aturan spesifik, sehingga konsistensi tinggi tetapi terkadang kurang relevan dalam konteks kompleks. Di Indonesia, dengan pasar yang berkembang dan kebutuhan untuk mengakomodasi praktik bisnis yang beragam, pendekatan berbasis prinsip lebih relevan karena memungkinkan penilaian profesional dan penyesuaian terhadap konteks lokal, termasuk isu keberlanjutan dan kompleksitas industri.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Teori positif akuntansi (Positive Accounting Theory) berasumsi bahwa manajer cenderung membuat keputusan akuntansi yang memaksimalkan kepentingan pribadi atau organisasi, dengan mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dan insentif yang ada. Dalam konteks PT IndoEnergi, perubahan metode depresiasi dari garis lurus ke saldo menurun ganda dapat dijelaskan sebagai respons terhadap insentif yang ada, misalnya pengurangan laba untuk tujuan penghematan pajak, pengaturan ekspektasi dividen, atau strategi signaling kepada pasar tentang pola konsumsi aset yang lebih realistis. Teori ini melihat perilaku manajemen bukan sebagai pelanggaran prinsip akuntansi, tetapi sebagai pilihan rasional yang dipengaruhi oleh kontrak, pajak, dan tekanan pasar.

2. Di negara lain, seperti di bawah US GAAP atau IFRS, perubahan metode depresiasi juga diperbolehkan selama alasan perubahan dapat dijelaskan dan pengaruhnya diungkapkan secara transparan dalam catatan atas laporan keuangan. Praktik ini memang terjadi, terutama ketika perusahaan ingin mencocokkan pola penyusutan dengan konsumsi manfaat ekonomi aset. Di AS, perusahaan sering melakukan perubahan metode untuk tujuan pajak atau manajemen laba, sedangkan di IFRS, prinsip konsistensi dan keterbukaan informasi menjadi penekanan utama. Dengan kata lain, tindakan seperti yang dilakukan PT IndoEnergi bukanlah hal yang asing dan dapat ditemui di berbagai yurisdiksi, asalkan dilaporkan secara memadai.

3. Teori positif akuntansi cukup kuat dalam menjelaskan motivasi manajemen seperti dalam kasus PT IndoEnergi karena menekankan insentif ekonomi dan perilaku rasional manajemen. Namun, teori ini memiliki keterbatasan, terutama dalam konteks global, karena tidak selalu memperhitungkan faktor normatif atau etis, seperti persepsi investor, tanggung jawab sosial, dan regulasi yang berbeda di berbagai negara. Selain itu, teori ini kurang menekankan pentingnya transparansi dan kualitas informasi bagi pemangku kepentingan yang lebih luas. Oleh karena itu, meskipun teori positif membantu memahami motivasi ekonomi di balik keputusan depresiasi, evaluasi menyeluruh tetap membutuhkan pertimbangan prinsip akuntansi, etika, dan standar internasional untuk memastikan laporan keuangan tetap kredibel dan informatif.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Kelebihan dan Kekurangan Fair Value dibanding Historical Cost

Penggunaan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di PT Nusantara Properti memiliki kelebihan dalam hal relevansi. Dengan mencerminkan nilai pasar terkini, laporan keuangan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang posisi keuangan perusahaan, terutama dalam industri properti yang sangat fluktuatif. Investor dan pemangku kepentingan dapat menilai potensi ekonomi aset dengan lebih realistis, yang sulit dicapai jika menggunakan biaya historis. Namun, ada kekurangan signifikan, yaitu keandalan informasi dapat dipertanyakan. Penilaian pihak ketiga sering kali mengandalkan asumsi pasar yang bersifat subjektif, sehingga angka nilai wajar bisa berubah-ubah dan menimbulkan volatilitas pada ekuitas serta laba rugi. Sebaliknya, biaya historis lebih andal karena berbasis transaksi nyata, tetapi kurang relevan karena tidak memperhitungkan perubahan nilai pasar yang signifikan.

2. Relevansi dan Keandalan dalam Konteks IFRS dan Indonesia

Dalam konteks Indonesia dan standar global seperti IFRS, penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi informasi akuntansi tanpa mengorbankan keandalan, asalkan prosedur penilaian dilakukan secara transparan dan terdokumentasi dengan baik. Standar PSAK 16 dan IFRS menekankan pentingnya estimasi yang wajar dan penggunaan metode penilaian yang dapat diverifikasi, termasuk asumsi pasar dan pendekatan perbandingan transaksi sejenis. Dengan demikian, meskipun nilai wajar melibatkan estimasi, praktik penilaian yang disiplin dan audit yang ketat dapat menjaga keandalan, sehingga informasi tetap dapat digunakan secara kredibel oleh investor dan pemangku kepentingan.

3. Rekomendasi Kebijakan untuk DSAK IAI

Jika saya menjadi anggota Komite Standar Akuntansi Keuangan, saya akan merekomendasikan penggunaan nilai wajar sebagai opsi bagi perusahaan properti yang memiliki pasar aktif atau aset yang mudah dinilai secara wajar. Namun, saya akan menekankan perlunya pengungkapan lengkap terkait metode penilaian, asumsi yang digunakan, dan sensitivitas nilai wajar terhadap perubahan kondisi pasar. Kebijakan ini selaras dengan prinsip pelaporan keuangan, yaitu memberikan informasi yang relevan dan andal kepada pengguna laporan keuangan. Dengan demikian, investor memperoleh informasi yang realistis tentang nilai aset, sementara risiko subjektivitas dan volatilitas dapat dikendalikan melalui transparansi dan audit yang memadai.