Posts made by Tiara Vita Loka

AKL A2026 -> Case

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Kerangka Konseptual PSAK/IFRS memiliki peran yang sangat penting ketika suatu transaksi belum diatur secara spesifik dalam standar akuntansi yang berlaku. Dalam kasus PT Edukasi Nusantara, karakteristik bisnis digital yang unik tidak sepenuhnya dijelaskan secara rinci dalam PSAK tertentu. Oleh karena itu, manajemen perlu merujuk pada Kerangka Konseptual sebagai dasar dalam menentukan kebijakan akuntansi yang tepat.

Kerangka Konseptual membantu memastikan bahwa laporan keuangan tetap memenuhi tujuan utamanya, yaitu menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditur, dan pihak lain dalam pengambilan keputusan ekonomi. Di dalamnya dijelaskan karakteristik kualitatif informasi keuangan seperti relevansi dan representasi yang tepat (faithful representation). Artinya, informasi yang disajikan harus mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, bukan sekadar mengikuti bentuk formal transaksi. Selain itu, Kerangka Konseptual juga memberikan definisi unsur-unsur laporan keuangan seperti aset dan liabilitas, sehingga manajemen memiliki landasan yang jelas dalam menentukan apakah suatu pos layak diakui atau tidak. Dengan demikian, Kerangka Konseptual berfungsi sebagai pedoman normatif agar professional judgment tetap berada dalam koridor prinsip akuntansi yang benar.


b. Analisis pengakuan goodwill dan pengukuran nilai wajar aset tidak berwujud

Pengakuan goodwill dalam akuisisi 70% saham PT Cerdas Digital pada dasarnya merupakan praktik yang wajar dalam kombinasi bisnis. Goodwill mencerminkan kelebihan harga beli atas nilai wajar aset neto yang diperoleh, yang biasanya berkaitan dengan potensi keuntungan masa depan, reputasi, atau keunggulan kompetitif perusahaan yang diakuisisi. Dalam konteks perusahaan edutech, proyeksi pertumbuhan pengguna memang dapat menjadi dasar yang rasional karena nilai perusahaan digital sering terletak pada basis penggunanya.

Namun demikian, proyeksi pertumbuhan pengguna bersifat estimasi dan sangat dipengaruhi oleh asumsi manajemen. Industri digital memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, persaingan yang ketat, serta perubahan teknologi yang cepat. Jika proyeksi tersebut terlalu optimistis, maka nilai goodwill yang diakui dapat menjadi terlalu besar dan tidak sepenuhnya mencerminkan substansi ekonomi yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengakuan goodwill harus didukung oleh analisis yang objektif dan pengujian penurunan nilai (impairment test) secara berkala agar tetap realistis.

Pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan pendekatan nilai wajar juga dapat dipahami karena aset tersebut memiliki potensi manfaat ekonomi yang signifikan. Akan tetapi, karena tidak terdapat pasar aktif untuk aset tersebut, nilai wajar ditentukan melalui model penilaian yang bergantung pada asumsi internal. Kondisi ini meningkatkan risiko subjektivitas dan bias. Secara substansi ekonomi, pengukuran tersebut dapat mencerminkan realitas jika dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berdasarkan metode valuasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun jika tidak, maka informasi yang dihasilkan berpotensi kurang andal dan menyesatkan.


c. Risiko dan implikasi etis penggunaan professional judgment yang tidak tepat

Professional judgment merupakan bagian tak terpisahkan dari praktik akuntansi, terutama dalam situasi yang kompleks dan belum diatur secara rinci. Namun, penggunaan pertimbangan profesional yang tidak tepat atau terlalu agresif dapat menimbulkan berbagai risiko. Laporan keuangan dapat menyajikan nilai aset dan laba yang terlalu tinggi, sehingga memberikan gambaran yang tidak akurat mengenai kondisi perusahaan. Hal ini dapat memengaruhi keputusan investor, kreditur, maupun pihak lain yang bergantung pada informasi tersebut.

Dari sisi etika, penyalahgunaan professional judgment dapat melanggar prinsip integritas dan objektivitas. Jika manajemen sengaja memilih asumsi yang menguntungkan demi menarik investor atau meningkatkan citra perusahaan, maka hal tersebut tidak lagi mencerminkan praktik akuntansi yang sehat. Dampaknya bukan hanya pada kinerja perusahaan, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Oleh karena itu, penggunaan judgment harus selalu didasarkan pada itikad baik, transparansi, dan tanggung jawab moral.


d. Pemanfaatan kasus sebagai pembelajaran akuntansi yang kritis dan beretika

Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini sangat relevan untuk dijadikan bahan pembelajaran karena menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar proses pencatatan angka, melainkan juga proses penilaian yang memerlukan analisis dan etika. Peserta didik dapat diajak memahami bahwa laporan keuangan dibentuk melalui berbagai asumsi dan estimasi, sehingga perlu dianalisis secara kritis.

Melalui diskusi kasus seperti ini, siswa dapat belajar membedakan antara kepatuhan formal terhadap standar dan substansi ekonomi yang sebenarnya. Mereka juga dapat memahami pentingnya tanggung jawab moral dalam penyusunan laporan keuangan. Dengan demikian, pembelajaran akuntansi tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan karakter yang berintegritas. Hal ini penting agar di masa depan mereka tidak hanya menjadi tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga bertanggung jawab secara etis.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Artikel ini membahas praktik manajemen laba, yaitu tindakan manajer untuk memanipulasi laba dalam laporan keuangan dengan tujuan tertentu, seperti memenuhi target, memperoleh bonus, atau menyampaikan sinyal kepada investor, tanpa melanggar aturan akuntansi. Kajian ini menelaah berbagai penelitian dan menemukan bahwa sebagian besar fokus pada accrual-based earnings management, di mana manajer memanfaatkan kebijakan akuntansi untuk tujuan oportunistik, misalnya memaksimalkan keuntungan pribadi atau memenuhi batasan utang. Selain itu, terdapat perspektif signaling, yaitu praktik ini dipandang sebagai cara manajer menyampaikan informasi internal perusahaan kepada pemangku kepentingan agar persepsi pasar lebih baik. Artikel ini juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut tentang real earnings management, yaitu manipulasi aktivitas bisnis nyata yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjang perusahaan.

Opini
Menurut saya, meskipun manajemen laba dapat dipandang sebagai alat signaling, risiko distorsi informasi tetap tinggi. Praktik oportunistik bisa menurunkan kualitas laporan keuangan dan mengurangi kepercayaan investor. Oleh karena itu, penguatan tata kelola perusahaan, audit yang ketat, dan standar akuntansi yang jelas sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan. Artikel ini sangat relevan karena tidak hanya menjelaskan teori dan metode manajemen laba, tetapi juga menyoroti konsekuensi jangka panjangnya bagi perusahaan, investor, dan regulator, sehingga membantu memahami praktik ini dari perspektif yang lebih luas.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Jurnal 1

Jurnal ini membahas peran pelaporan keberlanjutan perusahaan dalam meningkatkan nilai korporasi dengan mengaitkan praktik bisnis terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Penulis menekankan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan tujuan sosial, lingkungan, dan ekonomi ke dalam strategi dan pelaporannya cenderung mendapatkan kepercayaan pemangku kepentingan yang lebih tinggi, meningkatkan reputasi, serta mendukung pertumbuhan jangka panjang. Studi ini juga menyoroti pentingnya metodologi pelaporan yang transparan dan terstandarisasi, seperti GRI, agar dampak nyata perusahaan terhadap SDGs dapat diukur dan dibandingkan. Intinya, pengungkapan keberlanjutan bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi juga strategi untuk menciptakan nilai tambahan bagi perusahaan dan masyarakat.

Opini:
Menurut saya, jurnal ini menekankan relevansi nyata dari integrasi SDGs dalam praktik bisnis modern. Di era di mana konsumen dan investor semakin peduli terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan, perusahaan yang transparan dalam pelaporan keberlanjutan akan memiliki keunggulan kompetitif sekaligus kontribusi positif bagi masyarakat.

2. Jurnal 2

Jurnal ini mengeksplorasi hubungan antara praktik akuntansi manajemen dan pengambilan keputusan strategis perusahaan. Fokusnya adalah pada bagaimana informasi akuntansi yang tepat dan terukur membantu manajemen dalam merencanakan, mengendalikan, dan mengevaluasi kinerja organisasi. Penulis menekankan bahwa akuntansi manajemen bukan hanya tentang pencatatan biaya atau keuntungan, tetapi juga memberikan wawasan yang mendukung efisiensi operasional, inovasi, dan perencanaan jangka panjang. Selain itu, artikel ini menekankan pentingnya teknologi dan sistem informasi dalam meningkatkan kualitas data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat.

Opini:
Menurut saya, jurnal ini memperlihatkan bahwa akuntansi manajemen adalah alat strategis, bukan sekadar administratif. Kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan data secara tepat akan menentukan efektivitas keputusan manajerial dan daya saing organisasi. Integrasi teknologi modern dalam akuntansi semakin penting untuk menghadapi dinamika bisnis yang cepat.

TA2025 -> DISKUSI

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022


Video “Reporting on SDGs” menekankan pentingnya perusahaan secara aktif melaporkan kontribusi mereka terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai bentuk transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial. Pelaporan ini tidak hanya menyoroti kinerja finansial, tetapi juga menggambarkan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi yang dihasilkan perusahaan, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan masyarakat, energi bersih, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Video tersebut menekankan bahwa perusahaan memiliki peran strategis dalam mencapai tujuan global 2030, karena keputusan bisnis mereka dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan menggunakan standar pelaporan seperti GRI (Global Reporting Initiative), perusahaan dapat mengintegrasikan SDGs ke dalam strategi bisnis, pengambilan keputusan, dan pelaporan keberlanjutan, sehingga pemangku kepentingan termasuk investor, pelanggan, dan komunitas dapat memahami dan menilai sejauh mana perusahaan berkontribusi secara nyata terhadap pembangunan berkelanjutan. Selain itu, pelaporan SDGs membantu perusahaan memperkuat reputasi, membangun kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap isu-isu global. Intinya, video ini menegaskan bahwa pelaporan SDGs bukan sekadar kewajiban formal atau alat pemasaran, tetapi merupakan alat strategis untuk mendorong bisnis berperan aktif dalam perubahan sosial dan lingkungan yang positif, sekaligus memastikan perusahaan bertindak secara etis dan bertanggung jawab.

TA2025 -> e-journal

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Artikel ini membahas tantangan yang dihadapi perusahaan ketika berusaha memenuhi komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pelaporan yang transparan, relevan, dan bernilai bagi para pemangku kepentingan. Dalam dua dekade terakhir, berbagai kerangka pelaporan keberlanjutan seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC) telah berkembang dan menyediakan panduan untuk membantu perusahaan melaporkan kontribusinya terhadap SDGs. Namun, karena jumlah panduan yang banyak dengan fokus dan struktur yang berbeda‑beda serta tantangan pelaporan yang terus berubah, perusahaan sering mengalami kesulitan untuk memanfaatkan panduan ini secara efektif. Oleh karena itu, artikel ini mengusulkan sebuah metode alignment (penyelarasan) yang sistematis dan kerangka kerja (alignment framework) yang kuat untuk membantu perusahaan menyelaraskan berbagai panduan SDGs dari GRI dan IIRC sehingga pelaporan keberlanjutan mereka menjadi lebih sistematis, konsisten, dan bernilai strategis. 

Dalam penelitian ini, penulis menerapkan alignment approach pada empat perusahaan di sektor telekomunikasi untuk mengevaluasi kontribusi panduan SDGs terhadap kinerja pelaporan dan tantangan pelaporan mereka. Metode ini mempertimbangkan empat segmen utama dari corporate sustainability, yaitu penilaian keberlanjutan (sustainability assessment), perspektif inside‑out, strategi keberlanjutan, serta akuntansi dan pengendalian manajemen keberlanjutan. Dengan menyusun alignment tables, perusahaan dapat melihat bagaimana kombinasi panduan dari GRI dan IIRC dapat digunakan untuk mengatasi tantangan spesifik dalam pelaporan SDGs mereka dan memperbaiki kualitas pelaporan agar lebih komparabel, konsisten, dan relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyelarasan tersebut mampu membantu perusahaan meningkatkan performa pelaporan SDGs dan memberikan nilai tambah strategis karena pelaporan tidak lagi bersifat naratif semata tetapi terintegrasi dalam aktivitas bisnis inti serta relevan bagi pemangku kepentingan. 

Secara keseluruhan, artikel ini menekankan bahwa corporate sustainability reporting yang efektif bukan hanya tentang mengisi format laporan, tetapi tentang pemahaman yang lebih dalam terhadap kontribusi perusahaan terhadap tujuan global SDGs dan bagaimana panduan pelaporan dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam strategi dan operasi perusahaan. Pendekatan alignment yang diusulkan membantu memperjelas peran masing‑masing panduan pelaporan dalam mengatasi tantangan spesifik perusahaan, sehingga pelaporan keberlanjutan menjadi lebih robust, relevant, dan bernilai tambah. 

Opini saya, artikel ini memberikan kontribusi penting untuk literatur strategi keberlanjutan karena tidak hanya menekankan pentingnya pelaporan yang berkualitas, tetapi juga menunjukkan bagaimana perusahaan dapat secara pragmatis memanfaatkan panduan pelaporan yang ada untuk menyusun laporan SDGs yang lebih bermakna. Pendekatan sistematis semacam ini sangat berguna untuk organisasi yang ingin menyajikan pelaporan keberlanjutan yang tidak hanya memenuhi persyaratan keterbukaan, tetapi juga mencerminkan strategi dan komitmen nyata terhadap pencapaian SDGs.