Mengacu kepad avideo dan artikel di atas, Buatlah resume singkat minimal 250 kata sertakan opini Anda.
ACTIVITY: RESUME
Npm: 2413031014
Berdasarkan video “Reporting on SDGs” dan dua artikel terkait pelaporan keberlanjutan (“Enhancing the Value of Corporate Sustainability” dan “Finansal Raporlamaya İlişkin Kavramsal Çerçevedeki Sınırlamalar”), ketiganya memiliki benang merah yang sama, yaitu pentingnya pelaporan keberlanjutan yang tidak sekadar formalitas, tetapi menjadi sarana nyata bagi perusahaan dalam menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Video Reporting on SDGs menekankan bahwa pelaporan keberlanjutan adalah alat strategis untuk mengukur, mengkomunikasikan, dan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Laporan ini bukan hanya untuk memenuhi tuntutan regulator, tetapi juga sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat dan investor. Pelaporan SDGs yang baik harus mencakup dampak nyata perusahaan terhadap lingkungan dan sosial, bukan sekadar janji atau citra positif.
Artikel Enhancing the Value of Corporate Sustainability memperkuat pesan ini dengan menunjukkan perlunya penyelarasan antarstandar pelaporan seperti GRI dan IIRC. Dengan pendekatan alignment, perusahaan dapat mengintegrasikan pelaporan keberlanjutan ke dalam strategi bisnisnya secara sistematis, sehingga laporan menjadi relevan, konsisten, dan bernilai strategis. Sementara artikel Finansal Raporlamaya İlişkin Kavramsal Çerçevedeki Sınırlamalar menyoroti bahwa sistem pelaporan keuangan tradisional yang hanya berfokus pada angka tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan informasi pemangku kepentingan modern. Diperlukan kerangka pelaporan yang lebih luas yang menggabungkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Menurut saya, esensi dari video dan artikel tersebut adalah bahwa pelaporan keberlanjutan harus mencerminkan keseimbangan antara kinerja ekonomi dan tanggung jawab sosial-lingkungan. Akuntansi modern tidak cukup hanya menghitung laba, tetapi juga harus menilai sejauh mana aktivitas perusahaan memberi manfaat atau dampak bagi masyarakat dan planet. Pelaporan keberlanjutan yang jujur dan terintegrasi akan memperkuat kepercayaan publik, meningkatkan reputasi, dan menjadi landasan penting bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di masa depan.
NPM: 2413031026
Artikel ini membahas konsep manajemen laba (earnings management) yang merupakan tindakan manajer untuk memengaruhi laporan keuangan agar sesuai dengan tujuan tertentu tanpa melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Penulis meninjau 50 artikel internasional tentang manajemen laba dari dua sudut pandang, yaitu opportunistic perspective dan signaling perspective. Perspektif oportunistik menjelaskan bahwa manajer memanfaatkan asimetri informasi untuk kepentingan pribadi, seperti memperoleh bonus, memenuhi perjanjian utang, atau menghindari intervensi politik. Sementara itu, perspektif sinyal berpendapat bahwa manajer melakukan manajemen laba untuk menyampaikan informasi positif kepada investor mengenai prospek perusahaan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar studi (sekitar 74%) bersifat kuantitatif dan menggunakan pendekatan accrual-based earnings management. Selain itu, 75% artikel masih menyoroti manajemen laba sebagai tindakan oportunistik, sedangkan hanya sebagian kecil (13%) yang memandangnya sebagai mekanisme penyampaian sinyal yang efisien. Penulis menegaskan bahwa meskipun sering dianggap negatif, praktik manajemen laba pada tingkat tertentu dapat membantu komunikasi internal dan eksternal perusahaan, asalkan dilakukan secara transparan dan etis.
Opini saya, artikel ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai berbagai sudut pandang manajemen laba dan relevansinya dalam praktik akuntansi modern. Saya setuju bahwa tidak semua bentuk manajemen laba bersifat manipulatif; dalam konteks tertentu, tindakan ini bisa menjadi alat komunikasi strategis untuk menjaga stabilitas kinerja dan menarik kepercayaan investor. Namun, praktik ini tetap harus diawasi dengan baik agar tidak menyesatkan pemangku kepentingan atau merusak integritas laporan keuangan.
Nama : Mourien Ganesti
Npm : 2413031013
Video
Scara analitis, meskipun manajemen laba tidak dianggap ilegal, metode ini menghadirkan masalah besar terkait prinsip-prinsip kualitas dan relevansi dalam informasi akuntansi. Fleksibilitas dalam standar akuntansi yang memungkinkan penentuan waktu transaksi secara alami merusak representasi yang jujur dari kinerja dasar perusahaan. Tindakan manajemen laba, khususnya dalam hal pembentukan cadangan atau pengaturan pencatatan keuntungan, menghasilkan angka laba yang tidak benar-benar mencerminkan kinerja operasi sesungguhnya pada periode tersebut. Ini menciptakan gambaran yang tidak jelas bagi orang-orang yang memanfaatkan laporan keuangan, terutama para investor, yang mengandalkan laba untuk memprediksi arus kas serta performa di masa depan. Oleh karena itu, manajemen laba dianggap sebagai suatu praktik yang mengorbankan objektivitas dan keandalan laporan keuangan. Dalam kerangka tata kelola perusahaan yang baik, diperlukan pengawasan yang ketat serta analisis mendalam terhadap transaksi yang tidak biasa, untuk memastikan bahwa laba yang dilaporkan berlandaskan pada substansi ekonomi, bukan hanya manipulasi waktu pelaporan.
Artikel
Artikel berjudul “Earnings Management: A Literature Review” mengungkap bahwa manajemen laba dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu sebagai opportunistic dan signaling. Penulis menggarisbawahi bahwa praktik ini tidak selalu bersifat penipuan, karena kadang dipakai untuk memberikan sinyal positif mengenai masa depan perusahaan kepada investor. Dalam konteks persaingan bisnis yang ketat, fleksibilitas dalam pelaporan keuangan sering dianggap sebagai strategi untuk menjaga kestabilan serta citra perusahaan, sehingga penting untuk memahami alasan di balik praktik ini.
Namun, garis pemisah antara strategi dan manipulasi sangat tipis. Jika digenjot secara berlebihan, manajemen laba bisa menuntun pengguna laporan keuangan pada kesalahan dan menurunkan tingkat kepercayaan publik. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat transparansi, tata kelola perusahaan yang baik, serta pengawasan auditor agar praktik ini tetap etis dan berfungsi sebagai alat komunikasi yang sehat tanpa mengorbankan integritas laporan keuangan.
NPM: 2413031024
Esensi isi:
Artikel ini mengulas konsep earnings management atau manajemen laba, yaitu tindakan manajer dalam mengatur laporan keuangan agar mencapai tujuan tertentu tanpa melanggar prinsip akuntansi yang berlaku. Penulis menelaah 50 artikel internasional terkait manajemen laba dari dua sudut pandang utama, yakni opportunistic perspective dan signaling perspective. Perspektif oportunistik menjelaskan bahwa manajer menggunakan celah informasi untuk kepentingan pribadi, seperti memperoleh bonus, memenuhi kontrak utang, atau menghindari tekanan politik. Sebaliknya, perspektif sinyal memandang manajemen laba sebagai upaya manajer untuk mengomunikasikan informasi positif tentang prospek perusahaan kepada investor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas studi (sekitar 74%) bersifat kuantitatif dengan pendekatan accrual-based earnings management. Sebagian besar (75%) menilai manajemen laba sebagai tindakan oportunistik, sedangkan hanya sebagian kecil (13%) yang menafsirkan sebagai alat penyampaian sinyal yang efisien. Penulis menekankan bahwa meskipun sering dipandang negatif, praktik manajemen laba dalam batas tertentu dapat berperan positif dalam komunikasi internal maupun eksternal, selama dilakukan secara etis dan transparan.
Opini:
Menurut saya, artikel ini memberikan pemahaman menyeluruh tentang berbagai perspektif dalam praktik manajemen laba serta relevansinya di dunia akuntansi modern. Saya sependapat bahwa tidak semua bentuk manajemen laba harus dipandang manipulatif; dalam kondisi tertentu, hal ini bisa menjadi strategi komunikasi yang bermanfaat untuk menjaga kestabilan kinerja dan meningkatkan kepercayaan investor. Namun demikian, praktik ini harus diawasi dengan ketat agar tidak menimbulkan distorsi informasi atau merusak kredibilitas laporan keuangan.
NPM : 2413031003
Esensi isi:
Artikel ini membahas manajemen laba sebagai upaya manajer memengaruhi laporan keuangan untuk tujuan tertentu tanpa melanggar aturan akuntansi. Berdasarkan tinjauan 50 artikel, sebagian besar penelitian memandang manajemen laba dari sisi oportunistik, sedangkan sebagian kecil melihatnya sebagai sarana penyampaian sinyal positif kepada investor. Penulis menekankan bahwa manajemen laba bisa bermanfaat jika dilakukan secara etis dan transparan.
Opini:
Saya menilai artikel ini memberikan pemahaman seimbang tentang manajemen laba. Praktik ini tidak selalu negatif, karena dapat berfungsi sebagai alat komunikasi strategis, asalkan tetap transparan dan tidak menyesatkan pihak lain.
NPM : 2413031035
Artikel ini membahas konsep manajemen laba (earnings management) sebagai tindakan yang dilakukan oleh manajer untuk menyesuaikan laporan keuangan demi mencapai tujuan tertentu tanpa melanggar standar akuntansi yang berlaku. Penulis meninjau 50 artikel internasional mengenai manajemen laba dari dua perspektif utama, yaitu opportunistic perspective dan signaling perspective. Perspektif oportunistik menjelaskan bahwa manajer memanfaatkan asimetri informasi demi kepentingan pribadi, seperti memperoleh bonus, memenuhi ketentuan perjanjian utang, atau menghindari tekanan politik. Sebaliknya, perspektif sinyal memandang manajemen laba sebagai cara bagi manajer untuk menyampaikan sinyal positif kepada investor tentang prospek perusahaan di masa depan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 74% studi menggunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus pada accrual-based earnings management. Sebagian besar artikel (sekitar 75%) masih melihat manajemen laba sebagai tindakan oportunistik, sementara hanya sebagian kecil (13%) yang menilainya sebagai mekanisme penyampaian sinyal yang efisien. Penulis menegaskan bahwa meskipun sering dipersepsikan negatif, praktik manajemen laba dalam batas tertentu dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang bermanfaat antara pihak internal dan eksternal, asalkan dilakukan secara transparan dan beretika.
Menurut pandangan saya, artikel ini memberikan pemahaman yang luas mengenai berbagai pendekatan terhadap manajemen laba serta kaitannya dengan praktik akuntansi masa kini. Saya sependapat bahwa tidak semua bentuk manajemen laba bersifat manipulatif; dalam beberapa situasi, praktik ini dapat menjadi strategi komunikasi yang efektif untuk menjaga stabilitas kinerja dan memperkuat kepercayaan investor. Meski demikian, pengawasan yang ketat tetap diperlukan agar praktik ini tidak disalahgunakan dan tetap menjaga integritas laporan keuangan.
Nama: Triaswari Ayunandini
NPM: 2413031029
Resume:
Dua Perspektif Utama
Riset akademik membagi motivasi EM menjadi dua pandangan kontras:
- Oportunistik (Mayoritas Riset): Manajer menggunakan EM untuk memaksimalkan kepentingan pribadi mereka, seperti mendapatkan bonus (Bonus Plan Hypothesis) atau memenuhi perjanjian utang (Debt Covenant Hypothesis), dengan mengeksploitasi asimetri informasi. Sekitar 75% studi mengadopsi pandangan ini.
- Signaling: Manajer menggunakan EM sebagai alat komunikasi yang rasional untuk menyampaikan informasi insider mengenai prospek perusahaan. Tujuannya adalah membuat laba lebih stabil dan prediktif, yang dapat meningkatkan kepercayaan investor dan nilai informasi.
Pendekatan Pengukuran
Manajemen laba dapat dilakukan dan diukur melalui dua pendekatan:
- EM Berbasis Akrual: Manipulasi melalui akrual diskresioner. Pendekatan ini masih dominan dalam penelitian kuantitatif.
- EM Berbasis Aktivitas Riil: Manipulasi melalui keputusan operasional harian, seperti penentuan waktu penjualan aset atau perubahan biaya produksi.
Opini saya:
Saya melihat EM sebagai manifestasi dari konflik keagenan (agency conflict). Meskipun EM sering kali memiliki konotasi negatif karena potensi menyesatkan (oportunistik), perspektif signaling mengingatkan kita bahwa judgment manajerial bisa bernilai positif.
Tantangan utama Akuntansi adalah membedakan EM oportunistik yang merugikan pasar dari EM signaling yang bermanfaat—yaitu, upaya yang etis untuk membuat laba menjadi indikator nilai perusahaan yang lebih bersih dan prediktif. Profesi akuntansi perlu terus menyempurnakan standar dan mekanisme deteksi untuk membatasi penyalahgunaan tanpa menghilangkan fleksibilitas yang diperlukan untuk komunikasi yang efisien.
NPM: 2413031028
Earnings management adalah intervensi yang disengaja oleh manajemen dalam pelaporan keuangan untuk mencapai angka laba tertentu sesuai keinginan, biasanya dengan melakukan modifikasi kebijakan akuntansi yang diperbolehkan. Konsep ini muncul karena adanya asimetri informasi antara pihak internal (manajemen) dan eksternal seperti investor dan kreditur. Dua perspektif utama terkait earnings management adalah perspektif oportunistik dan perspektif sinyal. Perspektif oportunistik menunjukkan bahwa manajemen bisa menggunakan fleksibilitas akuntansi untuk memaksimalkan keuntungan pribadi atau memenuhi persyaratan kontraktual seperti bonus dan perjanjian hutang. Sebaliknya, perspektif sinyal melihat bahwa earnings management bisa digunakan untuk memberikan informasi tambahan kepada investor mengenai prospek perusahaan secara lebih halus melalui laba yang smooth dan berkembang secara berkala.Video juga menjelaskan bahwa earnings quality (kualitas laba) berbeda-beda, karena laba yang dihasilkan bisa merupakan hasil operasi nyata atau hasil manipulasi transaksi yang dilakukan manajemen untuk memenuhi target tertentu. Tekanan pasar seperti memenuhi ekspektasi analis dan investor mendorong perusahaan untuk melakukan earnings management, yang bisa berdampak pada kualitas laba yang rendah jika dilakukan agresif. Namun, jika earnings management dilakukan secukupnya dan dalam batas wajar, dapat membantu memberikan kestabilan dan mengkomunikasikan kondisi perusahaan dengan lebih baik kepada pemangku kepentingan. Earnings management adalah fenomena yang kompleks dengan dua sisi; meskipun sering dikaitkan dengan manipulasi dan distorsi informasi, pada tingkat tertentu, praktik ini mencerminkan realitas bisnis yang dinamis dan kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang dapat dipahami dengan cara yang lebih stabil. Oleh karena itu, penilaian earnings management harus dilakukan dengan cermat dan mempertimbangkan konteks, intensitas, dan mekanisme pengawasan perusahaan agar tidak menyebabkan kerusakan pada kualitas informasi yang diterima pasar. Regulasi dan tata kelola perusahaan yang baik menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan potensi manfaat earnings management dalam pelaporan keuangan.
Npm : 2413031017
Video :
Video Edspira menjelaskan bahwa earnings management adalah praktik memanipulasi laba dengan mengatur waktu transaksi agar laba tercatat terlihat lebih baik sesuai tujuan manajemen. Contohnya, perusahaan memiliki tanah yang dibeli seharga $1.000 dengan nilai pasar saat ini $1.700, namun belum terjual sehingga keuntungan $700 belum terealisasi dan tidak dicatat dalam laporan laba rugi. Jika di tahun berjalan laba perusahaan turun, manajemen dapat memilih menjual tanah tersebut agar keuntungan $700 ini direalisasikan dan menaikkan laba tahun tersebut. Praktik ini legal dan tidak dianggap fraud karena tanah memang dijual, tetapi penjualan dilakukan semata untuk menaikkan laba tahun saat itu, bukan karena alasan ekonomi yang mendesak. Ada juga praktik manajemen laba yang menurunkan laba (earnings smoothing) dengan menyimpan cadangan laba untuk dipakai saat kondisi perusahaan buruk, menciptakan citra laba yang lebih stabil.
Artikel :
Artikel menjelaskan dua perspektif utama earnings management. Pertama, perspektif oportunistik, di mana manajer menggunakan praktik ini untuk memaksimalkan keuntungan pribadi seperti bonus atau memenuhi persyaratan hutang melalui manipulasi laba yang dapat menyesatkan pemangku kepentingan. Kedua, perspektif sinyal, yang menganggap earnings management sebagai cara manajer memberikan sinyal positif tentang prospek perusahaan kepada investor, sehingga mempengaruhi harga saham dan ekspektasi pasar. Studi menunjukkan mayoritas penelitian earnings management masih dari perspektif oportunistik, dengan pendekatan kuantitatif lebih dominan terutama menggunakan model akrual. Secara metodologis, earnings management dapat dilakukan melalui dua pendekatan utama: manajemen laba akrual dan manajemen laba riil. Manajemen laba riil lebih sulit terdeteksi dan melibatkan perubahan aktivitas operasional untuk mencapai target laba tertentu.
Opini saya, earnings management adalah praktik yang kompleks dan memiliki dua sisi. Dari sisi negatif, praktik ini dapat mengurangi transparansi dan menyesatkan pengguna laporan keuangan, yang berpotensi merugikan investor dan kreditor. Namun, dari sisi positif, jika dilaksanakan dalam batas tertentu, earnings management bisa menjadi alat komunikasi yang berguna untuk memperhalus ketidakpastian laba dan membantu investor membuat keputusan yang lebih baik. Oleh karena itu, penting adanya regulasi dan pengawasan yang ketat agar earnings management tidak berkembang menjadi manipulasi yang merugikan semua pihak.
NPM : 2413031008
Artikel “Earnings Management: A Literature Review” membahas bagaimana manajer memanfaatkan fleksibilitas akuntansi untuk memengaruhi laba yang dilaporkan. Esensi utama artikel ini adalah bahwa earnings management bukan sekadar fenomena teknis, namun merupakan praktik yang dipengaruhi oleh insentif, konflik kepentingan, dan asimetri informasi antara manajemen dan pemangku kepentingan. Penulis menunjukkan bahwa dari 50 artikel yang direview, sebagian besar penelitian masih melihat earnings management dari sudut opportunistic perspective, yaitu pandangan bahwa manajer cenderung memanipulasi laba untuk keuntungan pribadi seperti bonus, memenuhi perjanjian utang, atau menghindari tekanan regulasi. Hal ini seringkali menyebabkan informasi keuangan kehilangan relevansi dan berpotensi menyesatkan pengguna laporan.
Namun, artikel ini juga mengangkat perspektif kedua, yaitu signaling perspective, yang memandang earnings management dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi internal perusahaan kepada investor. Dalam konteks ini, manajer melakukan smoothing atau penyesuaian laba bukan untuk memanipulasi, tetapi untuk memberikan sinyal positif mengenai prospek jangka panjang perusahaan. Beberapa penelitian yang direview mendukung gagasan bahwa earnings management kadang dapat meningkatkan relevansi informasi keuangan.
Menurut opini saya, artikel ini memberikan gambaran yang seimbang tentang dua sisi earnings management—baik yang merugikan maupun yang berpotensi memberikan manfaat. Namun, dominasi penelitian yang menekankan aspek oportunistik menunjukkan bahwa praktik manipulasi laba masih menjadi masalah serius dalam pelaporan keuangan. Oleh karena itu, perlu ada peningkatan transparansi, standar pengungkapan, dan pengawasan untuk memastikan bahwa earnings management tidak disalahgunakan. Artikel ini sangat relevan sebagai rujukan bagi akademisi, regulator, dan praktisi untuk memahami kompleksitas di balik penyajian laba perusahaan.
Nama: Nayla Andara
NPM: 2413031018
Earnings Management adalah tindakan manajemen yang sengaja memanipulasi pelaporan laba dalam laporan keuangan agar sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa melanggar aturan akuntansi tetapi dapat menyesatkan para pemangku kepentingan. Berdasarkan jurnal, ada dua perspektif utama terkait earnings management: oportunistik dan sinyal. Perspektif oportunistik menunjukkan bahwa manajer memanfaatkan asimetri informasi untuk memaksimalkan keuntungan pribadi melalui manipulasi laba demi memenuhi kontrak, seperti target hutang atau bonus. Sebaliknya, perspektif sinyal menganggap earnings management sebagai cara manajer menyampaikan informasi prospek perusahaan kepada investor dengan tujuan membantu prediksi kinerja masa depan.
Dua pendekatan utama dalam earnings management adalah accrual (penyesuaian akrual) dan real earnings management (manipulasi kegiatan bisnis riil). Banyak penelitian menggunakan pendekatan accrual karena modelnya sudah mapan, tetapi manajemen laba nyata sering kali lebih sulit dideteksi dan lebih sering digunakan untuk mencapai target laba.
Video Edspira menjelaskan earnings management sebagai upaya pengelolaan waktu transaksi, contohnya menjual aset saat ada keuntungan tidak terealisasi untuk meningkatkan laba pada periode tertentu. Hal ini legal dan berbeda dengan fraud. Kadang manajemen laba juga dilakukan untuk memperhalus laba agar stabil dari waktu ke waktu, seperti menyimpan cadangan laba untuk masa sulit. Namun, praktik ini bisa berpotensi menjadi fraud jika dilakukan secara agresif.
Secara keseluruhan, earnings management memiliki dua sisi: bisa menjadi alat manajemen yang membantu komunikasi dan efisiensi, tetapi juga bisa menyesatkan jika dilakukan untuk keuntungan oportunistik semata.
Npm : 2413031030
Artikel mengenai earnings management membahas praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan untuk memengaruhi laporan keuangan sehingga tampak lebih stabil, menarik, atau sesuai target tertentu. Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan kebebasan dalam standar akuntansi untuk mengubah waktu pengakuan pendapatan, biaya, maupun estimasi akuntansi agar mencapai angka yang diinginkan. Artikel ini menjelaskan bahwa meskipun praktik tersebut masih berada dalam batas kebijakan akuntansi yang diperbolehkan, tujuannya sering kali tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Dampak manajemen laba bersifat signifikan, baik bagi investor maupun keberlanjutan perusahaan. Praktik ini dapat menurunkan kualitas informasi keuangan, meningkatkan risiko kesalahan keputusan investasi, serta merusak kepercayaan pasar. Dalam jangka panjang, perusahaan yang sering melakukan manajemen laba cenderung menghadapi risiko litigasi, penurunan nilai perusahaan, dan masalah tata kelola.
NPM : 2413031011
Earnings management adalah sebuah tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mengatur laporan keuangan agar laba yang ditampilkan sesuai keinginan. Praktik ini tidak selalu melanggar hukum, karena sering kali hanya mengubah waktu atau cara pencatatan transaksi agar laporan keuntungan terlihat lebih baik atau stabil. Tujuan utama biasanya untuk memenuhi target tertentu, misalnya harapan investor atau aturan dalam kontrak hutang. Ada dua pandangan utama tentang earnings management. Pertama, pandangan opportunistik yang menganggap manajemen melakukannya demi keuntungan pribadi, seperti meningkatkan bonus atau menghindari pelanggaran ketentuan keuangan. Kedua, pandangan sinyal yang memandang earnings management sebagai upaya manajer untuk menyampaikan informasi penting yang sebenarnya kepada pasar agar investor bisa membuat keputusan lebih tepat. Cara earnings management bisa berbentuk manipulasi akun-akun akrual atau mengubah aktivitas operasional secara nyata di perusahaan. Dari studi literatur yang ada, sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan akrual dan lebih cenderung melihat praktik ini sebagai tindakan yang opportunistik atau manipulatif. Namun, earnings management tidak selalu negatif. Jika dilakukan dengan tepat, tindakan ini bisa membantu memperbaiki komunikasi informasi keuangan dan mempermudah pengambilan keputusan oleh para pemangku kepentingan. Contoh sederhana misalnya menjual aset pada waktu tertentu untuk menyesuaikan laba yang dilaporkan agar tampak lebih baik atau konstan. Maka, pengaturan seperti ini memerlukan pengawasan yang hati-hati agar tidak disalahgunakan.
NPM : 2413031003
Video diatas membahas konsep earnings management dalam ilmu akuntansi, yaitu praktik pengelolaan laba oleh perusahaan melalui penjadwalan transaksi tertentu. Praktik ini bertujuan untuk memengaruhi angka laba tanpa melibatkan penipuan atau pelanggaran hukum. Earnings management melibatkan penciptaan keuntungan atau kerugian secara sengaja, dengan fokus utama pada manipulasi laba daripada pertimbangan ekonomi murni.
Menurut isi video tersebut, earnings management berbeda dari fraud karena bersifat legal. Umumnya, perusahaan menerapkan upward earnings management untuk meningkatkan laba guna memenuhi ekspektasi pasar. Namun, terdapat pula downward earnings management, di mana laba yang berlebih "disimpan" dalam bentuk cookie jar reserves untuk digunakan pada periode sulit. Sebagai contoh, jika target laba mencapai 10 dolar tetapi hasil aktual 17 dolar, kelebihan 7 dolar dapat ditabung untuk mengatasi kuartal buruk di masa depan.
Artikel ini merangkum berbagai penelitian tentang earnings management dan menunjukkan bahwa sebagian besar studi menggambarkan praktik ini sebagai tindakan manipulasi laba oleh manajer akibat adanya ketidakseimbangan informasi antara manajemen dan pihak luar. Penelitian-penelitian tersebut banyak menggunakan pendekatan accrual untuk mendeteksi tindakan tersebut. Namun, artikel ini juga menyoroti bahwa earnings management tidak selalu bermakna negatif, karena dalam beberapa kasus digunakan sebagai sinyal untuk memberi informasi tambahan kepada investor tentang kondisi atau prospek perusahaan. Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa motif dan konteks sangat menentukan apakah earnings management merugikan atau justru bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan.
Menurut saya, artikel ini membuka sudut pandang baru tentang earnings management. Selama ini saya menganggapnya sebagai tindakan manipulasi yang pasti merugikan, tapi setelah membaca berbagai penelitian yang dirangkum, ternyata tidak selalu begitu. Ada kalanya manajer memang menyesuaikan laba untuk memberi sinyal tentang kondisi nyata perusahaan yang belum terlihat di laporan keuangan. Meski begitu, saya tetap merasa bahwa praktik ini harus diawasi, karena tanpa batas yang jelas bisa menyesatkan pengguna laporan. Intinya, earnings management bisa berdampak baik atau buru semuanya tergantung niat dan bagaimana informasi tersebut disampaikan secara transparan.
NPM : 2413031001
Artikel “Earnings Management: A Literature Review” membahas bagaimana manajemen laba menjadi fenomena penting dalam pelaporan keuangan karena dapat memengaruhi keputusan ekonomi para pengguna laporan. Berdasarkan literatur yang dianalisis, manajemen laba muncul akibat adanya asimetri informasi antara manajer dan pihak eksternal, sehingga manajer memiliki ruang untuk mengatur angka laba sesuai kepentingan tertentu. Artikel ini meninjau 50 penelitian yang sebagian besar menggunakan pendekatan kuantitatif dan mengukur manajemen laba melalui accrual earnings management, meskipun penelitian terbaru mulai banyak menyoroti real earnings management. Secara teoritis, manajemen laba dapat dipandang dari dua perspektif utama, yakni perspektif oportunistik dan perspektif sinyal. Perspektif oportunistik menilai bahwa tindakan manajemen laba dilakukan untuk keuntungan pribadi manajer, misalnya untuk memenuhi perjanjian utang, mendapatkan bonus, atau menghindari tekanan regulasi. Sebaliknya, perspektif sinyal memandang manajemen laba sebagai upaya manajer menyampaikan informasi internal terkait prospek perusahaan kepada investor, sehingga praktik tersebut tidak selalu negatif dan dapat meningkatkan relevansi informasi laba. Artikel ini juga menegaskan bahwa sebagian besar penelitian terdahulu masih menilai manajemen laba sebagai tindakan manipulatif, sementara studi yang melihatnya sebagai mekanisme sinyal masih terbatas. Dengan demikian, penulis mendorong penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi motivasi manajemen laba secara lebih mendalam agar dapat membedakan mana praktik yang merugikan dan mana yang justru meningkatkan kualitas informasi keuangan.
NASHITA SHAFIYAH
2413031009
Video tersebut menjelaskan konsep earnings management dalam akuntansi, yaitu upaya perusahaan mengatur angka laba melalui pengaturan waktu transaksi tertentu. Praktik ini digunakan untuk membentuk laporan laba sesuai tujuan manajemen, namun tetap berada dalam koridor aturan sehingga tidak termasuk tindakan penipuan. Intinya, earnings management lebih menekankan pada penyiasatan angka laba daripada pertimbangan ekonomi murni, dan bisa menghasilkan laba atau rugi secara sengaja.
Dalam penjelasan video, earnings management dipisahkan dari fraud karena sifatnya legal dan umum dilakukan. Banyak perusahaan memilih upward earnings management agar laba terlihat memenuhi ekspektasi pasar. Sebaliknya, downward earnings management dilakukan ketika perusahaan sengaja “menyimpan” kelebihan laba (cookie jar reserves) untuk dipakai di periode berikutnya. Misalnya, target laba hanya 10 dolar tetapi hasilnya 17 dolar—kelebihan 7 dolar itu dapat ditahan untuk membantu kinerja di masa sulit.
Artikel yang diringkas meninjau berbagai penelitian mengenai earnings management dan menemukan bahwa mayoritas studi memandangnya sebagai bentuk manipulasi laba yang muncul akibat asimetri informasi antara manajer dan pihak eksternal. Kebanyakan penelitian menggunakan pendekatan akrual untuk mendeteksi praktik ini. Meski begitu, artikel tersebut menekankan bahwa earnings management tidak selalu berkonotasi negatif, karena dalam beberapa situasi dapat menjadi sinyal tambahan bagi investor mengenai kondisi atau prospek perusahaan. Dengan kata lain, konteks dan motivasi manajemen sangat menentukan apakah praktik ini merugikan atau justru membantu pengguna laporan.
Dari sisi saya pribadi, artikel ini memberikan pandangan baru tentang earnings management. Sebelumnya saya selalu melihatnya sebagai tindakan manipulatif yang pasti berdampak buruk, tetapi berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa tidak selalu demikian. Ada kalanya manajer melakukannya untuk menyampaikan informasi yang belum tercermin di laporan keuangan. Meski begitu, saya tetap berpendapat bahwa praktik ini perlu diawasi, karena tanpa batas dan transparansi yang jelas bisa menimbulkan persepsi yang menyesatkan. Pada akhirnya, manfaat atau kerugiannya sangat bergantung pada niat pengelola dan cara penyampaiannya kepada publik.
Nama: Nurida Elsa
NPM: 2413031012
Earnings management adalah tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mengatur laporan keuangan agar laba yang ditampilkan sesuai dengan keinginan mereka. Praktik ini tidak selalu melanggar hukum karena biasanya hanya melibatkan penyesuaian waktu atau cara pencatatan transaksi agar laporan laba terlihat lebih baik atau lebih stabil. Tujuan utama biasanya untuk memenuhi target tertentu, seperti harapan investor atau persyaratan dalam kontrak utang.
Ada dua cara pandang terhadap earnings management. Pertama, pandangan opportunistik, yang menganggap manajemen melakukan tindakan ini untuk kepentingan pribadi, misalnya agar bonus meningkat atau untuk menghindari pelanggaran peraturan keuangan. Kedua, pandangan sinyal, yang melihat earnings management sebagai upaya manajer untuk menyampaikan informasi penting kepada pasar sehingga investor dapat mengambil keputusan lebih tepat.
Praktik ini dapat dilakukan dengan mengatur akun-akun akrual atau mengubah aktivitas operasional perusahaan secara nyata. Berdasarkan penelitian, sebagian besar studi melihat earnings management sebagai tindakan manipulatif atau opportunistik. Namun, earnings management tidak selalu buruk. Jika dilakukan dengan benar, hal ini dapat membantu meningkatkan komunikasi informasi keuangan dan mempermudah pengambilan keputusan bagi para pemangku kepentingan. Contohnya, perusahaan mungkin menjual aset pada waktu tertentu agar laba yang dilaporkan terlihat lebih baik atau stabil. Karena itu, praktik ini membutuhkan pengawasan yang hati-hati agar tidak disalahgunakan.
NPM : 2413031007
Artikel ini menguraikan konsep manajemen laba sebagai upaya manajer untuk mengarahkan hasil pelaporan keuangan agar sesuai dengan tujuan tertentu tanpa melanggar standar akuntansi yang berlaku. Melalui telaah terhadap 50 artikel internasional, penulis menyoroti dua pendekatan utama dalam memahami praktik ini, yaitu pandangan oportunistik dan pandangan sinyal. Perspektif oportunistik menggambarkan manajemen laba sebagai tindakan yang memanfaatkan ketidakseimbangan informasi antara manajemen dan pemangku kepentingan untuk kepentingan pribadi, seperti mengejar bonus, memenuhi ketentuan perjanjian utang, atau menghindari tekanan regulasi. Di sisi lain, perspektif sinyal memandang bahwa manajemen laba dapat digunakan oleh pihak manajemen untuk menyampaikan informasi mengenai prospek dan kekuatan perusahaan kepada investor, terutama ketika saluran komunikasi formal tidak cukup mewakili kondisi riil perusahaan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas penelitian yang ditelaah (sekitar 74 persen) menggunakan metode kuantitatif dengan fokus pada accrual-based earnings management sebagai indikator utama praktik manajemen laba. Temuan lainnya menunjukkan bahwa sebagian besar artikel (75 persen) masih mengaitkan manajemen laba dengan perilaku oportunistik manajer, sementara hanya sebagian kecil studi (13 persen) yang menempatkannya sebagai alat penyampaian sinyal yang dianggap dapat membantu mengurangi asimetri informasi. Penulis menekankan bahwa meskipun manajemen laba sering dipersepsikan sebagai tindakan negatif, praktik ini pada batas tertentu dapat berfungsi untuk memperbaiki komunikasi internal dan eksternal, serta memberikan gambaran yang lebih stabil mengenai kinerja perusahaan, selama dilakukan secara jelas dan tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan.
Menurut pendapat saya, artikel ini memberikan pemahaman yang luas mengenai beragam interpretasi manajemen laba dan menunjukkan bahwa fenomena ini tidak selalu identik dengan manipulasi atau kecurangan. Dalam beberapa kondisi, manajemen laba dapat menjadi mekanisme komunikasi yang membantu perusahaan menjaga persepsi pasar dan membangun kepercayaan investor. Namun demikian, praktik ini tetap membutuhkan pengawasan ketat serta pedoman etika yang kuat untuk memastikan bahwa penyesuaian yang dilakukan tidak menyimpang dari prinsip kejujuran dan akuntabilitas. Integritas laporan keuangan harus tetap menjadi prioritas utama agar informasi yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi perusahaan dan tidak merugikan pemangku kepentingan.
NPM : 2413031020
Earnings management adalah praktik yang dilakukan perusahaan untuk memanipulasi atau mengatur waktu transaksi agar angka laba yang dilaporkan sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melakukan kecurangan atau fraud yang ilegal. Praktik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memanfaatkan timing penjualan aset (misalnya menjual tanah yang telah naik nilainya untuk mencatat keuntungan pada periode tertentu), membuat cadangan laba (cookie jar reserves) untuk digunakan di masa depan, atau memanipulasi aktivitas operasional agar laba tampak stabil atau meningkat.
Dalam konteks akuntansi, earnings management bisa dibagi menjadi dua jenis: manajemen berbasis akrual (accrual-based earnings management) dan manajemen berbasis aktivitas nyata (real earnings management). Manajemen berbasis akrual dilakukan dengan memilih metode akuntansi tertentu, sedangkan manajemen berbasis aktivitas nyata dilakukan dengan mengatur kegiatan nyata perusahaan seperti produksi atau pengeluaran. Contoh kasus yang sering muncul adalah perusahaan yang memilih menjual aset pada periode saat laba cenderung turun agar angka laba tetap naik atau stabil, meskipun alasan ekonominya tidak kuat.
Meskipun earnings management tidak selalu ilegal, praktik ini sering kali menimbulkan pertanyaan etis karena dapat menyesatkan para pemangku kepentingan, seperti investor dan regulator, tentang kondisi keuangan sebenarnya perusahaan. Perusahaan yang terlalu sering melakukan earnings management bisa merusak reputasi dan kepercayaan pasar, bahkan berisiko terlibat dalam praktik yang lebih agresif hingga fraud jika batasnya dilanggar. Dari sudut pandang etika, transparansi dan integritas dalam pelaporan keuangan sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan keberlanjutan perusahaan jangka panjang.
Saya berpendapat bahwa earnings management memang merupakan praktik yang kompleks dan perlu diwaspadai. Meskipun terkadang bisa digunakan untuk menstabilkan laba dan memberikan gambaran yang lebih baik kepada pasar, penggunaannya yang berlebihan atau tidak transparan dapat merugikan kepentingan publik dan merusak akuntabilitas perusahaan. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat dan komitmen terhadap prinsip etika akuntansi sangat penting agar praktik ini tidak disalahgunakan.
NPM: 2413031006
Tinjauan Literatur Manajemen Laba
Artikel ini menyajikan ulasan komprehensif terhadap 50 artikel jurnal internasional tentang manajemen laba, yang diperoleh dari Google Scholar, dengan fokus pada dua perspektif utama: oportunistik dan sinyal. Manajemen laba didefinisikan sebagai intervensi disengaja dalam pelaporan keuangan untuk mencapai target laba melalui variasi kebijakan akuntansi yang sah, memanfaatkan asimetri informasi yang dimiliki manajer. Perspektif oportunistik, yang didasarkan pada teori Watts dan Zimmerman (1986), memandang manajemen laba sebagai upaya manajer memaksimalkan utilitas pribadi melalui kontrak bonus, kovenan utang, atau regulasi politik, sering kali menyesatkan pemangku kepentingan seperti kreditor dan pemerintah. Sebaliknya, perspektif sinyal (Holthausen dan Leftwich, 1983) menganggapnya sebagai mekanisme komunikasi informasi internal tentang prospek perusahaan kepada investor, menciptakan pola laba yang halus dan berkelanjutan untuk menurunkan biaya modal dan meningkatkan nilai saham.
Metodologi ulasan mengikuti pendekatan Ruch dan Taylor (2015), mengklasifikasikan artikel berdasarkan jenis penelitian, pendekatan pengukuran, dan perspektif. Sebanyak 74% (37 artikel) bersifat kuantitatif, sementara 26% kualitatif. Dari studi kuantitatif, 65% menggunakan pendekatan akrual (diukur melalui akrual diskresioner jangka pendek dan panjang), dibandingkan real activities manipulation seperti arus kas operasi abnormal, biaya produksi abnormal, dan pengeluaran diskresioner abnormal. Pendekatan akrual lebih populer karena modelnya telah disempurnakan dan dianggap sebagai proksi terbaik, meskipun survei Graham et al. (2005) menunjukkan manajer lebih memilih manipulasi real untuk menghindari deteksi auditor. Jurnal terkemuka seperti The Accounting Review (7 artikel) dan Journal of Financial Economics (6 artikel) mendominasi sampel.
Temuan dominan mengungkapkan 75% artikel mengadopsi perspektif oportunistik, mengaitkan manajemen laba dengan perilaku manipulatif yang mendistorsi informasi keuangan, sementara hanya 25% mengeksplorasi perspektif sinyal yang melihatnya sebagai alat efisien untuk pengambilan keputusan. Hal ini mencerminkan bias negatif terhadap praktik ini, meskipun bukti empiris seperti Subramanyam (1996) menunjukkan manajemen laba dapat meningkatkan relevansi nilai informasi laba.
Penelitian ini memberikan kontribusi berharga dengan mengintegrasikan perspektif ganda, namun terbatas pada dua sudut pandang saja, mengabaikan motif campuran yang lebih kompleks. Opini saya, manajemen laba bukanlah praktik hitam-putih; dalam konteks Indonesia dengan regulasi PSAK yang fleksibel, perspektif sinyal patut dieksplorasi lebih dalam untuk mendorong transparansi sukarela yang menguntungkan investor, bukan sekadar pengawasan ketat yang menekan inovasi akuntansi. Rekomendasi: Peneliti masa depan harus menggabungkan data longitudinal dan AI untuk deteksi real-time, sementara regulator seperti OJK bisa mempromosikan pelaporan XBRL (seperti studi sebelumnya) guna mengurangi asimetri informasi. Pendekatan holistik ini akan menyeimbangkan efisiensi pasar dengan perlindungan stakeholder, mencegah skandal seperti kasus Enron versi lokal.
Nama : Amara Gusti Kharisma
NPM : 2413031033
Earnings management merupakan praktik di mana manajer perusahaan secara sengaja memanipulasi pelaporan keuangan untuk mencapai target laba yang diinginkan, tanpa melanggar aturan akuntansi, tetapi sering kali menyesatkan pemangku kepentingan. Video dari Edspira menjelaskan konsep ini melalui contoh timing transaksi, seperti menjual aset (misalnya tanah yang dibeli Rp1.000 dan naik nilai menjadi Rp1.700) di akhir tahun untuk merealisasikan gain unrealized sebesar Rp700, sehingga meningkatkan laba dari Rp1.600 menjadi Rp2.300 pada tahun keempat, menjaga tren kenaikan laba. Praktik ini bisa upward (meningkatkan laba) atau downward (menyimpan laba berlebih dalam "cookie jar reserves" untuk periode buruk), dan bukan fraud karena legal, meski agresif bisa berujung pelanggaran.
Artikel "Earnings Management: A Literature Review" dari Indonesian Journal of Accounting and Governance (Vol. 8, No. 1, 2024) mereview 50 artikel internasional, mengklasifikasikan berdasarkan tipe penelitian, pendekatan, dan perspektif. Sebanyak 74% studi kuantitatif, dengan 65% menggunakan accrual-based (diskresi akrual jangka pendek/panjang) daripada real activities manipulation (seperti abnormal cash flow atau produksi), karena model accrual lebih matang dan sulit dideteksi auditor. Perspektif dominan adalah opportunistic (75% artikel), di mana manajer memanfaatkan asimetri informasi untuk kepentingan pribadi seperti bonus, covenant utang, atau regulasi (hipotesis Watts-Zimmerman), berpotensi merugikan kreditor dan investor. Sementara signaling perspective (25%) melihatnya sebagai sinyal prospek perusahaan untuk stabilkan harga saham dan kurangi cost of capital.
Secara keseluruhan, kedua sumber saling melengkapi: video memberikan ilustrasi praktis accrual/real manipulation, sementara artikel menyediakan kerangka teoritis komprehensif. Opini: Earnings management perlu diawasi ketat dalam pendidikan akuntansi Indonesia, karena meski legal, perspektif opportunistic mendominasi dan berisiko erosi kepercayaan investor, terutama di pasar berkembang seperti kita. Pendekatan signaling bisa bermanfaat jika transparan, tapi regulasi PSAK harus diperkuat untuk deteksi dini, mendorong etika manajerial demi literasi pasar modal yang lebih baik bagi pemula.
NPM : 2413031019
Earnings management atau manajemen laba adalah tindakan manajer untuk memengaruhi laporan keuangan dengan tujuan mencapai angka laba tertentu, baik untuk memenuhi target internal, memenuhi ekspektasi pasar, maupun menjaga stabilitas kinerja perusahaan. Video pembelajaran menunjukkan bagaimana nilai aset atau transaksi tertentu dapat dimanipulasi melalui estimasi akuntansi, penundaan pengakuan, maupun pemanfaatan fleksibilitas standar akuntansi. Contohnya, perusahaan dapat menaikkan nilai aset secara tidak langsung melalui revaluasi atau mempercepat/memenunda pengakuan pendapatan dan beban agar laba tampak sesuai harapan. Hal ini tidak selalu melanggar hukum, karena manajemen laba dapat dilakukan secara legal menggunakan ruang kebijakan akuntansi yang diperbolehkan.
Artikel Earnings Management: A Literature Review menjelaskan bahwa praktik manajemen laba dapat terjadi melalui dua pendekatan utama: accrual-based earnings management dan real earnings management. Accrual-based dilakukan melalui penyesuaian akun-akun akrual seperti penyisihan piutang, depresiasi, atau persediaan, sementara real earnings management dilakukan dengan mengubah aktivitas operasional, misalnya memberikan diskon besar agar penjualan meningkat atau menunda biaya riset. Literatur juga menyoroti motivasi manajemen laba seperti tekanan dari pemegang saham, kompensasi berbasis kinerja, penawaran saham perdana, hingga penghindaran pelanggaran perjanjian utang (debt covenant). Dampaknya dapat merugikan investor karena laporan keuangan tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.
OPINI
Menurut saya, praktik manajemen laba adalah fenomena yang sulit dihindari karena fleksibilitas standar akuntansi memberi ruang pilihan bagi manajer. Namun, praktik ini menjadi berbahaya jika dilakukan secara agresif hingga menyesatkan pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu, penting bagi auditor, regulator, dan investor untuk memahami pola-pola manajemen laba agar dapat mengidentifikasi penyimpangan sejak dini. Transparansi, pengawasan yang kuat, serta sistem tata kelola perusahaan yang baik harus terus diperkuat agar laporan keuangan tetap mencerminkan kinerja yang jujur dan dapat dipercaya.
NPM:2413031034
Earnings management adalah praktik yang dilakukan perusahaan untuk memanipulasi atau mengatur waktu transaksi agar angka laba yang dilaporkan sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melakukan kecurangan atau fraud yang ilegal. Praktik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memanfaatkan timing penjualan aset (misalnya menjual tanah yang telah naik nilainya untuk mencatat keuntungan pada periode tertentu), membuat cadangan laba (cookie jar reserves) untuk digunakan di masa depan, atau memanipulasi aktivitas operasional agar laba tampak stabil atau meningkat.
Dalam konteks akuntansi, earnings management bisa dibagi menjadi dua jenis: manajemen berbasis akrual (accrual-based earnings management) dan manajemen berbasis aktivitas nyata (real earnings management). Manajemen berbasis akrual dilakukan dengan memilih metode akuntansi tertentu, sedangkan manajemen berbasis aktivitas nyata dilakukan dengan mengatur kegiatan nyata perusahaan seperti produksi atau pengeluaran. Contoh kasus yang sering muncul adalah perusahaan yang memilih menjual aset pada periode saat laba cenderung turun agar angka laba tetap naik atau stabil, meskipun alasan ekonominya tidak kuat.
Meskipun earnings management tidak selalu ilegal, praktik ini sering kali menimbulkan pertanyaan etis karena dapat menyesatkan para pemangku kepentingan, seperti investor dan regulator, tentang kondisi keuangan sebenarnya perusahaan. Perusahaan yang terlalu sering melakukan earnings management bisa merusak reputasi dan kepercayaan pasar, bahkan berisiko terlibat dalam praktik yang lebih agresif hingga fraud jika batasnya dilanggar. Dari sudut pandang etika, transparansi dan integritas dalam pelaporan keuangan sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan keberlanjutan perusahaan jangka panjang.
Saya berpendapat bahwa earnings management memang merupakan praktik yang kompleks dan perlu diwaspadai. Meskipun terkadang bisa digunakan untuk menstabilkan laba dan memberikan gambaran yang lebih baik kepada pasar, penggunaannya yang berlebihan atau tidak transparan dapat merugikan kepentingan publik dan merusak akuntabilitas perusahaan. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat dan komitmen terhadap prinsip etika akuntansi sangat penting agar praktik ini tidak disalahgunakan.
NPM: 2413031031
Artikel ini membahas manajemen laba sebagai tindakan yang dilakukan manajemen untuk memodifikasi informasi laba dalam laporan keuangan dengan tujuan tertentu, namun tetap mengikuti standar akuntansi yang berlaku. Hal ini dimungkinkan karena adanya asimetri informasi antara manajer dan pemakai laporan keuangan, sehingga manajemen memiliki peluang untuk menyajikan laba sesuai kepentingan mereka.
Penelitian ini merupakan studi literatur dengan menelaah 50 artikel internasional mengenai manajemen laba. Hasil kajian menunjukkan mayoritas penelitian bersifat kuantitatif (74%), dan hanya 17% yang bersifat kualitatif. Selain itu, 65% penelitian menggunakan accrual-based earnings management dibandingkan pendekatan manajemen laba riil, karena discretionary accrual dianggap lebih umum dan sesuai sebagai alat ukur praktik manipulasi laba.
Artikel menyoroti dua perspektif utama dalam manajemen laba:
1. Opportunistic Perspective
Perspektif ini menilai bahwa manajer menggunakan fleksibilitas akuntansi untuk memaksimalkan kepentingan pribadi, seperti memenuhi target bonus, memenuhi syarat utang, atau menghindari campur tangan regulator. Tindakan ini dapat menyesatkan pemakai laporan keuangan karena laba tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya.
2. Signaling Perspective
Perspektif ini berpendapat bahwa manajemen laba justru dapat digunakan untuk mengkomunikasikan informasi internal mengenai prospek perusahaan, misalnya membuat laba lebih stabil agar investor dapat memprediksi kinerja di masa depan. Dalam konteks ini, manajemen laba dapat meningkatkan relevansi informasi dan efisiensi pasar.
Penelitian menyimpulkan bahwa sebagian besar studi masih terfokus pada pandangan oportunistik dan menganggap manajemen laba sebagai praktik negatif. Namun, artikel menegaskan bahwa dalam batas tertentu, manajemen laba juga dapat memberikan manfaat bagi komunikasi informasi keuangan dan pengambilan keputusan pemakai laporan keuangan.
Npm: 2413031025
Ketiga sumber—video Reporting on SDGs serta dua artikel tentang pelaporan keberlanjutan—pada dasarnya berbicara dalam satu nada yang sama: dunia bisnis modern tidak lagi cukup hanya berbicara lewat angka, tetapi juga lewat jejak yang ditinggalkannya bagi manusia dan bumi. Pelaporan keberlanjutan bukan sekadar dokumen tahunan yang dibaca sambil lalu, tetapi menjadi cermin yang menunjukkan seberapa jauh perusahaan benar-benar berkomitmen pada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Video Reporting on SDGs menegaskan bahwa laporan keberlanjutan adalah kompas strategis. Melaluinya, perusahaan dapat menakar kontribusi mereka terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sekaligus membuka diri kepada publik dan investor tentang dampak nyata yang mereka hasilkan. Bukan janji, bukan pencitraan, tetapi bukti konkret mengenai apa yang sudah dan sedang dilakukan.
Artikel Enhancing the Value of Corporate Sustainability memperluas gagasan tersebut dengan pentingnya penyelarasan standar—seperti GRI dan IIRC—agar pelaporan tidak terfragmentasi. Dengan mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi bisnis, laporan menjadi lebih bernilai, konsisten, dan mampu membantu perusahaan bergerak dengan arah yang lebih jelas. Di sisi lain, artikel Finansal Raporlamaya İlişkin Kavramsal Çerçevedeki Sınırlamalar mengingatkan bahwa pelaporan keuangan tradisional terlalu sempit jika hanya menyoroti angka. Dunia membutuhkan kerangka pelaporan yang menempatkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagai elemen utama dalam menilai kinerja perusahaan.
Inti dari semuanya: pelaporan keberlanjutan adalah jembatan antara keuntungan dan kebermanfaatan. Ia membantu perusahaan menimbang dampak sekaligus membangun kepercayaan publik. Dengan laporan yang jujur, transparan, dan terintegrasi, bisnis dapat bertumbuh tanpa mengabaikan bumi dan masyarakat yang menjadi fondasi keberadaannya.
NPM : 2413031023
Earnings management merupakan praktik di mana manajer perusahaan secara sengaja memanipulasi pelaporan keuangan untuk mencapai target laba yang diinginkan, tanpa melanggar aturan akuntansi, tetapi sering kali menyesatkan pemangku kepentingan. Video dari Edspira menjelaskan konsep ini melalui contoh timing transaksi, seperti menjual aset (misalnya tanah yang dibeli Rp1.000 dan naik nilai menjadi Rp1.700) di akhir tahun untuk merealisasikan gain unrealized sebesar Rp700, sehingga meningkatkan laba dari Rp1.600 menjadi Rp2.300 pada tahun keempat, menjaga tren kenaikan laba.
Cara earnings management bisa berbentuk manipulasi akun-akun akrual atau mengubah aktivitas operasional secara nyata di perusahaan. Dari studi literatur yang ada, sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan akrual dan lebih cenderung melihat praktik ini sebagai tindakan yang opportunistik atau manipulatif. Namun, earnings management tidak selalu negatif. Jika dilakukan dengan tepat, tindakan ini bisa membantu memperbaiki komunikasi informasi keuangan dan mempermudah pengambilan keputusan oleh para pemangku kepentingan.
NPM: 2413031010
Earnings management atau manajemen laba adalah upaya manajer untuk mengatur angka laba melalui pilihan metode akuntansi maupun keputusan operasional agar hasil yang dilaporkan sesuai dengan target tertentu. Praktik ini dilakukan tanpa melanggar standar akuntansi, namun tetap dapat memengaruhi persepsi pengguna laporan keuangan. Artikel Earnings Management: A Literature Review menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian memandang manajemen laba sebagai tindakan strategis yang dilakukan manajer baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk memberikan sinyal kepada pemakai informasi.
Kajian literatur tersebut menemukan bahwa penelitian earnings management sebagian besar memakai pendekatan kuantitatif, terutama accrual-based earnings management, yaitu manipulasi melalui estimasi akrual seperti penyisihan, depresiasi, atau penilaian persediaan. Selain itu, terdapat juga real earnings management, yaitu manipulasi aktivitas nyata seperti mengurangi biaya riset, menunda promosi, atau meningkatkan produksi untuk menurunkan biaya per unit.
Dalam penelitian, terdapat dua sudut pandang utama. Perspektif opportunistic menilai earnings management sebagai cara manajer memaksimalkan kepentingan sendiri misalnya mengejar bonus, memenuhi perjanjian utang, atau mengurangi sorotan publik. Sementara itu, perspektif signaling melihat bahwa pengaturan laba dapat digunakan untuk menyampaikan informasi internal yang tidak diketahui investor, terutama terkait prospek perusahaan.
Video menjelaskan konsep dasar manajemen laba secara sederhana, termasuk contoh teknik yang sering digunakan seperti mempercepat pendapatan atau menunda beban. Menurut saya secara keseluruhan, kedua sumber tersebut menekankan bahwa earnings management merupakan fenomena penting dalam akuntansi karena dapat memengaruhi kualitas laporan keuangan dan keputusan ekonomi pengguna.
Nama : Revie Nevilla Extin
NPM : 2413031027
Berdasarkan video dan artikel yang dibahas, manajemen laba (Earnings Management) adalah praktik intervensi sengaja oleh manajer dalam penyusunan laporan keuangan untuk mencapai angka laba tertentu. Praktik ini memanfaatkan fleksibilitas prinsip akuntansi yang berlaku, seperti GAAP, atau kebijakan akuntansi lain. Contohnya, manajer bisa menjual aset yang nilainya meningkat untuk merealisasikan keuntungan pada periode yang lemah, sehingga laba terlihat stabil atau meningkat, meskipun kondisi ekonomi sesungguhnya tidak mendukung. Praktik ini tidak selalu ilegal, karena fokusnya lebih pada pengaturan angka daripada pelanggaran hukum.
Dalam literatur, manajemen laba dilihat dari dua perspektif. Pertama, perspektif oportunistik menekankan bahwa manajer menggunakan diskresi akuntansi untuk kepentingan pribadi, misalnya mendapatkan bonus atau memenuhi perjanjian utang, yang berpotensi menyesatkan pemangku kepentingan. Kedua, perspektif signaling melihat manajemen laba sebagai alat rasional untuk menyampaikan informasi internal kepada investor, seperti melalui income smoothing, sehingga aliran laba lebih stabil, biaya modal menurun, dan persepsi nilai perusahaan meningkat.
Penelitian sebagian besar bersifat kuantitatif, dengan dua pendekatan utama, accrual-based yang memanipulasi akrual diskresioner, dan real earnings management yang mengubah aktivitas operasional, misalnya pemotongan biaya diskresioner. Secara kritis, praktik ini bersifat ambigu, jika opportunistik, bisa merusak nilai jangka panjang, tetapi jika digunakan untuk signaling, dapat meningkatkan efisiensi pasar dan memberikan informasi berguna. Tantangan bagi auditor dan regulator adalah membedakan praktik yang bermanfaat dari yang menyesatkan.
Opini saya, manajemen laba sebaiknya dipahami secara kontekstual. Praktik ini bisa menjadi alat strategis untuk komunikasi dengan investor, tetapi harus diawasi ketat agar tidak merugikan pemangku kepentingan.
NAMA : LAILA ASIA SOMAD
NPM : 2413031005
Secara analitis, meskipun manajemen laba (pemanfaatan fleksibilitas standar akuntansi untuk mengatur waktu transaksi) tidak ilegal, praktik ini merusak kualitas dan objektivitas informasi akuntansi. Tindakan ini, seperti manipulasi waktu pencatatan keuntungan atau pembentukan cadangan, menghasilkan angka laba yang tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja operasional dasar perusahaan pada periode tersebut. Konsekuensinya, investor yang mengandalkan laba untuk memprediksi arus kas masa depan akan mendapatkan gambaran yang menyesatkan, sehingga mengorbankan keandalan laporan keuangan.
Namun, literatur memandang manajemen laba dari dua perspektif: oportunistik dan pensinyalan (signaling). Dalam konteks pensinyalan, praktik ini dapat menjadi strategi sah untuk mengkomunikasikan prospek positif perusahaan kepada investor, menjaga citra, dan stabilitas di tengah persaingan. Meskipun demikian, garis antara strategi yang sah dan manipulasi yang berlebihan sangatlah tipis, dan pelanggaran garis ini dapat menurunkan kepercayaan publik.
Opini saya, risiko dari perilaku oportunistik jauh lebih besar daripada manfaat pensinyalan. Penggunaan fleksibilitas akuntansi secara berlebihan secara fundamental menggerus prinsip representasi yang jujur dalam pelaporan. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan auditor yang ketat dan tata kelola perusahaan yang kuat. Selain itu, regulator harus terus berupaya mempersempit ruang interpretasi standar agar laba yang dilaporkan selalu berlandaskan pada substansi ekonomi riil, bukan sekadar pengaturan waktu pelaporan.
Nama : Paulina Silaban
NPM : 2413031016
Pada Video Earnings Management pada dasarnya menjelaskan konsep manajemen laba dalam akuntansi. Manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan sehingga laba yang dilaporkan terlihat berbeda dari kondisi ekonomi sebenarnya. Tujuan utamanya adalah membuat laporan keuangan terlihat lebih baik agar dapat memenuhi ekspektasi investor, mendapatkan bonus, mempertahankan harga saham, atau memenuhi perjanjian dengan kreditur.
Dalam video ini dijelaskan bahwa teknik manajemen laba bisa bermacam-macam, seperti:
- Pemilihan kebijakan akuntansi yang optimal (misalnya: metode penyusutan, pengakuan biaya).
- Pengaturan waktu transaksi (misalnya mendorong pengakuan pendapatan atau menunda biaya).
- Manipulasi cadangan atau estimasi yang bersifat subjektif.
- Tujuan utamanya adalah agar angka laba terlihat “lebih stabil”, “lebih tinggi”, atau sesuai target tertentu
Video juga menekankan bahwa praktik ini sering terjadi karena adanya tekanan dari pihak eksternal, seperti ekspektasi pasar atau persaingan antar perusahaan. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, perilaku ini dapat menurunkan kualitas laporan keuangan dan membuat pengguna laporan salah dalam pengambilan keputusan investasi.
Dan pada Jurnal ini merupakan literature review yang membahas fenomena earnings management (manajemen laba) dari banyak penelitian ilmiah. Secara umum, jurnal ini menjelaskan bahwa earnings management terjadi ketika manajer menggunakan diskresi akuntansi untuk mempengaruhi jumlah laba yang dilaporkan tanpa melanggar standar akuntansi secara langsung, tetapi bertujuan mengubah persepsi pengguna laporan.
Jurnal tersebut menguraikan dua perspektif utama:
- Perspektif opportunistic (kesempatan): manajer mengelola laba untuk kepentingan sendiri, seperti mendapatkan bonus, memenuhi target pinjaman, atau mengurangi tekanan dari pemegang saham
- Perspektif signaling (sinyal): di sini manajemen laba dianggap sebagai alat untuk menyampaikan informasi tersembunyi kepada pasar, misalnya menunjukkan prospek masa depan perusahaan secara lebih stabil atau konsisten.
Opini Saya terkait video dan jurnal
Pendekatan jurnal ini sangat penting karena menggabungkan berbagai penelitian untuk memberi gambaran yang lebih luas. Menurut saya, manajemen laba bukan selalu buruk ada konteks di mana hal itu merupakan alat komunikasi dengan investor (signaling). Dan Menurut saya, video ini sangat membantu untuk memahami bahwa laporan keuangan bukan sekadar angka, melainkan juga dipengaruhi oleh keputusan manusia. Manajemen laba bisa memberi sinyal positif untuk pertumbuhan masa depan, tetapi kalau hanya dimaksudkan untuk “menipu” pengguna laporan, ini berbahaya dan tidak etis. Akuntan dan analis harus mampu membedakan antara praktik yang wajar dan yang merugikan.
NPM: 2413031021
Video ini membahas konsep manajemen laba dalam akuntansi.
Mendefinisikan
Manajemen laba adalah tindakan memilih waktu transaksi (penjualan aset, dll.) untuk menghasilkan laba atau rugi, dengan tujuan utama bukan untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang sebenarnya tetapi untuk memanipulasi angka laba (meningkatkan atau mengurangi). Ini bukan tindakan ilegal (penipuan), tidak seperti penipuan.
Bentuk Manajemen Laba
- Manajemen laba ke atas: Umumnya, ini bertujuan untuk meningkatkan angka keuntungan.
- Manajemen laba menurun: Kurang umum. Tujuan: Cadangan toples kue Ketika suatu bisnis memiliki kuartal yang luar biasa, bisnis tersebut dapat "menyimpan" keuntungan dalam toples untuk digunakan di masa mendatang (misalnya, selama kuartal yang buruk). Contoh Ilustrasi: Mengelola Pertumbuhan Laba
Situasi:
- Perusahaan tersebut membeli tanah itu seharga $1.000.
- Nilai tanah meningkat menjadi $1.700 (kenaikan sebesar $700).
- Perusahaan belum menjual tanah tersebut, jadi keuntungan sebesar $700 itu adalah "keuntungan yang belum terealisasi".
Evolusi keuntungan:
- Tahun 1: $2.000
- Tahun ke-2: $2.100
- Tahun ke-3: $2.200
- Tahun ke-4: $1.600 (pendapatan menurun)
Solusi manajemen keuntungan:
- Perusahaan tersebut memutuskan untuk menjual tanah tersebut untuk mencatat keuntungan sebesar $700.
- Hasil: Keuntungan meningkat pada tahun ke-4. 2.300$ (1.600$-700$).
Npm : 2413031015
Manajemen Pendapatan: Tinjauan Literatur
Artikel Manajemen Pendapatan: Tinjauan Literatur membahas konsep, motivasi, serta implikasi praktik manajemen pendapatan (earnings management) dalam pelaporan keuangan perusahaan. Manajemen pendapatan didefinisikan sebagai upaya manajemen dalam memengaruhi angka laba yang dilaporkan melalui pilihan kebijakan akuntansi atau estimasi tertentu, dengan tetap berada dalam koridor standar akuntansi yang berlaku. Literatur menegaskan bahwa praktik ini muncul karena adanya fleksibilitas dalam standar akuntansi dan perbedaan kepentingan antara manajemen dan pemilik perusahaan sebagaimana dijelaskan dalam teori keagenan.
Artikel ini mengelompokkan manajemen pendapatan ke dalam dua bentuk utama, yaitu manajemen pendapatan berbasis akrual dan manajemen pendapatan riil. Manajemen pendapatan berbasis akrual dilakukan melalui penyesuaian estimasi akuntansi, seperti cadangan kerugian piutang, penyusutan, dan pengakuan pendapatan. Sementara itu, manajemen pendapatan riil dilakukan melalui keputusan operasional, seperti pemberian diskon besar untuk meningkatkan penjualan atau pengurangan biaya tertentu yang berdampak pada arus kas.
Literatur juga mengungkap berbagai motivasi manajemen pendapatan, antara lain untuk memenuhi target laba, menjaga stabilitas laba, memperoleh bonus manajemen, serta mempertahankan kepercayaan investor dan kreditor. Namun, praktik ini memiliki konsekuensi negatif karena dapat menurunkan kualitas laba dan meningkatkan asimetri informasi, sehingga laporan keuangan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya.
Opini saya, artikel ini menegaskan bahwa manajemen pendapatan merupakan fenomena yang kompleks dan tidak selalu bersifat ilegal, tetapi berpotensi merugikan jika dilakukan secara oportunistik. Dalam konteks pasar berkembang seperti Indonesia, penguatan tata kelola perusahaan, kualitas audit, dan transparansi pengungkapan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak negatif manajemen pendapatan dan menjaga kredibilitas laporan keuangan.
Nama : Salsabila Labibah
NPM : 2413031002
Video
Video tersebut membahas topik earnings management menjelaskan bahwa manajemen laba merupakan praktik yang dilakukan perusahaan dengan memanfaatkan kebijakan dan teknik akuntansi tertentu untuk memengaruhi angka laba yang disajikan dalam laporan keuangan. Tujuan utama dari praktik ini adalah untuk menampilkan kinerja perusahaan agar terlihat lebih baik di mata investor, kreditor, maupun pihak eksternal lainnya. Video tersebut menekankan bahwa manajemen laba sering muncul sebagai respons atas tekanan pasar, tuntutan pencapaian target, serta keinginan manajemen untuk menjaga stabilitas dan reputasi perusahaan. Meskipun demikian, ditegaskan pula bahwa terdapat batas tipis antara manajemen laba yang masih berada dalam koridor standar akuntansi dan praktik manipulatif yang dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan.
Lebih lanjut, video menjelaskan beberapa bentuk umum earnings management, seperti income smoothing dan window dressing. Income smoothing dilakukan untuk mengurangi fluktuasi laba antarperiode sehingga kinerja perusahaan tampak stabil dan konsisten dari waktu ke waktu. Sementara itu, window dressing bertujuan memperindah tampilan laporan keuangan pada periode tertentu, terutama menjelang pelaporan tahunan atau saat perusahaan membutuhkan kepercayaan investor dan kreditor. Praktik-praktik tersebut sering kali didorong oleh kepentingan manajerial, seperti pencapaian bonus, pemenuhan perjanjian utang, atau penyesuaian terhadap ekspektasi analis pasar.
Video tersebut juga menegaskan bahwa earnings management tidak selalu bersifat ilegal. Selama dilakukan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, praktik ini masih dapat diterima secara formal. Namun, risiko utama muncul ketika manajemen laba dilakukan secara berlebihan atau dengan niat menyesatkan, karena hal tersebut dapat menurunkan kualitas, relevansi, dan keandalan informasi akuntansi yang disajikan kepada publik. Dalam jangka panjang, praktik tersebut berpotensi merusak kepercayaan investor dan kredibilitas perusahaan.
Opini saya, video ini memberikan pemahaman yang cukup komprehensif mengenai realitas praktik manajemen laba dalam dunia bisnis. Penjelasan yang disampaikan menunjukkan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan pencatatan angka, tetapi juga sarat dengan kepentingan, tekanan, dan pertimbangan strategis manajemen. Di satu sisi, earnings management dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas kinerja di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, di sisi lain, tanpa landasan etika dan transparansi yang kuat, praktik ini berisiko mengaburkan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, peran akuntan profesional, auditor, dan regulator menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa praktik manajemen laba tidak melanggar prinsip kejujuran, akuntabilitas, dan kepentingan publik.
Jurnal
Artikel "Earnings Management: A Literature Review" karya Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama, diterbitkan dalam Indonesian Journal of Accounting and Governance Vol. 8 No. 1 Juni 2024, memberikan ulasan literatur mendalam atas 50 artikel internasional dari Google Scholar tentang pengelolaan laba (earnings management/EM). Penelitian ini membahas EM melalui dua sudut pandang pokok, yakni oportunistik dan signaling, disertai pengelompokan berdasarkan tipe studi, metode pengukuran, serta pengaruhnya bagi para pengguna laporan keuangan. Pengelolaan laba diartikan sebagai campur tangan sengaja pada pelaporan keuangan guna meraih target laba melalui penyesuaian kebijakan akuntansi, yang meski tidak melanggar ketentuan, bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi pemangku kepentingan. Sudut pandang oportunistik (Watts & Zimmerman, 1986) menggambarkan manajer yang memanfaatkan ketidakseimbangan informasi demi keuntungan pribadi, seperti insentif bonus, syarat perjanjian utang, atau tekanan regulasi, sehingga berisiko memutarbalikkan keputusan investasi. Di sisi lain, perspektif signaling (Holthausen & Leftwich, 1983) memposisikan EM sebagai alat penyampaian data internal kepada investor, menghasilkan pola laba yang stabil dan naik secara bertahap, yang pada gilirannya menekan biaya modal serta memperkuat kegunaan informasi. Mengadopsi kerangka Ruch dan Taylor (2015), studi ini menyortir 50 artikel dari jurnal ternama seperti The Accounting Review dan Journal of Accounting Research, di mana 74% (37 artikel) bersifat kuantitatif serta 26% kualitatif; dari studi kuantitatif, 65% menerapkan metode akrual (akrual diskresioner jangka pendek/panjang) ketimbang manipulasi aktivitas riil seperti arus kas operasional abnormal, biaya produksi abnormal, atau pengeluaran diskresioner abnormal. Sebagian besar (75%) condong ke perspektif oportunistik yang memandang EM sebagai tindakan manipulatif merugikan kreditor dan regulator, sementara 25% memilih signaling demi kepentingan investor. Hasil analisis mengungkap kecenderungan kuat pada metode akrual dan oportunistik, walaupun manipulasi riil lebih tersembunyi dan lebih digemari eksekutif berdasarkan survei Graham et al. (2005). Kendala utama adalah keterbatasan pada dua perspektif saja; rekomendasi ke depan ialah menggali motif dasar EM untuk membedakan praktik yang bermanfaat atau merugikan.
Opini: Ulasan ini sangat berguna bagi para akuntan di Indonesia, khususnya dalam kerangka PSAK No. 1, sebab menekankan harmoni antara keluwesan akuntansi dan keterbukaan informasi guna hindari penyimpangan, sesuai dengan fokus saya pada standar pelaporan keuangan. Meski demikian, absennya pembahasan konteks lokal membatasi relevansinya; studi selanjutnya berbasis data perusahaan BEI bakal lebih aplikatif untuk bahan ajar dan analisis kasus bisnis.
NPM: 2413031022
Artikel ini membahas praktik manajemen laba, yaitu tindakan manajer untuk memanipulasi laba dalam laporan keuangan dengan tujuan tertentu, seperti memenuhi target, memperoleh bonus, atau menyampaikan sinyal kepada investor, tanpa melanggar aturan akuntansi. Kajian ini menelaah berbagai penelitian dan menemukan bahwa sebagian besar fokus pada accrual-based earnings management, di mana manajer memanfaatkan kebijakan akuntansi untuk tujuan oportunistik, misalnya memaksimalkan keuntungan pribadi atau memenuhi batasan utang. Selain itu, terdapat perspektif signaling, yaitu praktik ini dipandang sebagai cara manajer menyampaikan informasi internal perusahaan kepada pemangku kepentingan agar persepsi pasar lebih baik. Artikel ini juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut tentang real earnings management, yaitu manipulasi aktivitas bisnis nyata yang dapat memengaruhi kinerja jangka panjang perusahaan.
Opini
Menurut saya, meskipun manajemen laba dapat dipandang sebagai alat signaling, risiko distorsi informasi tetap tinggi. Praktik oportunistik bisa menurunkan kualitas laporan keuangan dan mengurangi kepercayaan investor. Oleh karena itu, penguatan tata kelola perusahaan, audit yang ketat, dan standar akuntansi yang jelas sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan. Artikel ini sangat relevan karena tidak hanya menjelaskan teori dan metode manajemen laba, tetapi juga menyoroti konsekuensi jangka panjangnya bagi perusahaan, investor, dan regulator, sehingga membantu memahami praktik ini dari perspektif yang lebih luas.