Case

Case

Number of replies: 13

PT Edukasi Nusantara Tbk adalah perusahaan jasa pendidikan yang sedang berkembang pesat dan memiliki beberapa unit usaha (sekolah swasta, pelatihan digital, dan platform edutech). Pada tahun 2024, perusahaan melakukan ekspansi besar melalui akuisisi 70% saham PT Cerdas Digital, sebuah perusahaan rintisan berbasis teknologi pendidikan.

Manajemen PT Edukasi Nusantara menghadapi beberapa transaksi yang belum diatur secara eksplisit dalam PSAK tertentu dan memerlukan pertimbangan profesional (professional judgment). Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen memutuskan untuk:

  1. Mengakui goodwill dari akuisisi PT Cerdas Digital sebagai aset dengan nilai signifikan berdasarkan proyeksi pertumbuhan pengguna di masa depan.
  2. Mengukur beberapa aset tidak berwujud (platform digital dan basis data pengguna) menggunakan pendekatan nilai wajar, meskipun pasar aktif untuk aset tersebut tidak tersedia.
  3. Menyusun laporan keuangan konsolidasian dengan mengacu pada Kerangka Konseptual PSAK/IFRS karena tidak terdapat PSAK spesifik yang secara rinci mengatur karakteristik unik bisnis digital tersebut.

Sebagian pemangku kepentingan (investor dan pendidik) mempertanyakan apakah kebijakan akuntansi yang dipilih manajemen telah mencerminkan substansi ekonomi dan memenuhi tujuan pelaporan keuangan yang berkualitas.

 

Pertanyaan:

Berdasarkan kasus di atas:

a. Jelaskan peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS dalam membantu manajemen mengambil keputusan akuntansi ketika tidak terdapat PSAK spesifik yang mengatur transaksi tertentu.

b. Analisis secara kritis apakah pengakuan goodwill dan pengukuran nilai wajar aset tidak berwujud dalam kasus ini telah mencerminkan substansi ekonomi.

c. Jelaskan risiko dan implikasi etis apabila professional judgment digunakan secara tidak tepat dalam penyusunan laporan keuangan.

d. Menurut Anda sebagai calon pendidik ekonomi, bagaimana kasus ini dapat digunakan sebagai contoh pembelajaran untuk menanamkan pemahaman akuntansi yang kritis dan beretika kepada peserta didik?


In reply to First post

Re: Case

by Syifa Dwi Putriyani -

Nama: Syifa Dwi Putriyani

NPM: 2413031024

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Dalam kondisi ketika tidak terdapat PSAK yang secara spesifik mengatur transaksi tertentu, Kerangka Konseptual PSAK/IFRS menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan akuntansi. Kerangka ini memberikan arah mengenai tujuan pelaporan keuangan, yaitu menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur dalam pengambilan keputusan ekonomi. Melalui definisi unsur laporan keuangan, kriteria pengakuan, serta karakteristik kualitatif informasi (relevansi dan representasi tepat), manajemen memiliki pedoman normatif untuk menentukan perlakuan akuntansi yang paling mencerminkan substansi ekonomi transaksi.

Dalam kasus PT Edukasi Nusantara, penggunaan Kerangka Konseptual menunjukkan bahwa manajemen berupaya menyusun laporan keuangan berdasarkan prinsip, bukan sekadar aturan teknis. Hal ini penting terutama dalam bisnis digital yang sering kali memiliki karakteristik unik dan belum sepenuhnya terakomodasi dalam standar yang ada. Dengan demikian, Kerangka Konseptual berfungsi sebagai penyeimbang agar professional judgment tetap berada dalam koridor objektivitas dan akuntabilitas.

b. Analisis Kritis atas Pengakuan Goodwill dan Pengukuran Nilai Wajar

Pengakuan goodwill dalam akuisisi PT Cerdas Digital secara konsep dapat mencerminkan substansi ekonomi apabila memang terdapat manfaat ekonomi masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah, seperti sinergi usaha, reputasi, dan potensi pertumbuhan pengguna. Namun, karena goodwill sangat bergantung pada estimasi dan proyeksi masa depan, terdapat risiko bahwa nilainya terlalu optimistis. Jika asumsi pertumbuhan pengguna atau proyeksi pendapatan tidak realistis, maka nilai goodwill yang diakui dapat menyebabkan overstatement aset dan memberikan gambaran yang kurang akurat mengenai kondisi keuangan perusahaan.

Demikian pula dengan pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan pendekatan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif. Secara teori, penggunaan teknik penilaian diperbolehkan selama didukung asumsi yang dapat diuji dan metode yang rasional. Akan tetapi, karena bergantung pada input Level 3 (estimasi internal), tingkat subjektivitas menjadi tinggi. Jika proses valuasi tidak transparan dan tidak didukung bukti memadai, maka informasi yang dihasilkan berpotensi kehilangan kualitas representasi tepat. Oleh karena itu, apakah kebijakan tersebut benar-benar mencerminkan substansi ekonomi sangat bergantung pada kualitas asumsi, independensi penilaian, serta pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan.

c. Risiko dan Implikasi Etis Penggunaan Professional Judgment yang Tidak Tepat

Professional judgment merupakan bagian tak terpisahkan dari praktik akuntansi modern. Namun, jika digunakan secara tidak tepat, risiko yang muncul tidak hanya bersifat teknis tetapi juga etis. Penggunaan estimasi yang bias atau terlalu agresif dapat menyebabkan distorsi informasi keuangan, menyesatkan investor, dan mengurangi kepercayaan publik terhadap perusahaan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada reputasi perusahaan, potensi sanksi regulator, hingga penurunan nilai perusahaan di pasar.

Secara etis, akuntan dan manajemen memiliki tanggung jawab untuk menjunjung prinsip integritas, objektivitas, dan profesionalisme. Ketika professional judgment digunakan untuk memanipulasi persepsi kinerja atau posisi keuangan, maka laporan keuangan tidak lagi mencerminkan substansi ekonomi yang sebenarnya. Oleh karena itu, transparansi pengungkapan dan dokumentasi pertimbangan profesional menjadi kunci untuk menjaga akuntabilitas.

d. Relevansi sebagai Pembelajaran Akuntansi yang Kritis dan Beretika

Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar proses pencatatan angka, melainkan proses interpretasi realitas ekonomi. Peserta didik dapat diajak menganalisis bagaimana standar akuntansi bekerja dalam praktik, terutama ketika menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan regulasi.

Melalui diskusi kasus ini, siswa dapat dilatih untuk berpikir kritis terhadap asumsi yang digunakan dalam pengukuran, memahami pentingnya substansi ekonomi dibanding bentuk formal, serta menyadari dimensi etis dalam setiap keputusan akuntansi. Dengan demikian, pembelajaran akuntansi tidak hanya membentuk kompetensi teknis, tetapi juga karakter profesional yang menjunjung integritas dan tanggung jawab sosial.

In reply to First post

Re: Case

by Reyhta Putri Herdian -
Nama : Reyhta Putri Herdian
NPM : 2413031035

A. Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berfungsi sebagai pedoman dasar bagi manajemen dalam mengambil keputusan akuntansi ketika tidak terdapat PSAK spesifik yang mengatur suatu transaksi. Dalam kasus PT Edukasi Nusantara Tbk, kerangka konseptual membantu manajemen memahami tujuan pelaporan keuangan, yaitu menyediakan informasi yang relevan dan andal bagi para pemangku kepentingan. Selain itu, kerangka konseptual menjadi acuan dalam menentukan apakah suatu transaksi memenuhi definisi dan kriteria pengakuan aset, serta memastikan bahwa kebijakan akuntansi yang dipilih mencerminkan substansi ekonomi dan memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan, seperti relevansi dan representasi setia.

B. Pengakuan goodwill atas akuisisi PT Cerdas Digital pada dasarnya dapat mencerminkan substansi ekonomi karena goodwill merepresentasikan manfaat ekonomi masa depan yang tidak dapat diidentifikasi secara terpisah, seperti sinergi usaha dan potensi pertumbuhan pengguna. Namun, apabila pengakuan goodwill terlalu bergantung pada proyeksi pertumbuhan pengguna yang bersifat optimistis, maka terdapat risiko bahwa nilai goodwill menjadi terlalu tinggi dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Sementara itu, pengukuran aset tidak berwujud menggunakan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif dapat meningkatkan relevansi informasi, tetapi juga mengandung tingkat subjektivitas yang tinggi. Oleh karena itu, penggunaan asumsi yang tidak realistis dapat mengurangi keandalan laporan keuangan dan berpotensi menyesatkan pengguna.

C. Penggunaan professional judgment yang tidak tepat dalam penyusunan laporan keuangan dapat menimbulkan risiko penyajian informasi yang bias dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi perusahaan secara wajar. Dari sisi etika, tindakan tersebut dapat melanggar prinsip integritas dan objektivitas karena laporan keuangan disusun untuk memenuhi kepentingan tertentu, bukan untuk memberikan informasi yang jujur kepada pengguna. Selain itu, kesalahan dalam penggunaan professional judgment dapat menurunkan kepercayaan investor dan pemangku kepentingan, serta berpotensi menimbulkan risiko hukum dan reputasi bagi perusahaan.

D. Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus PT Edukasi Nusantara Tbk dapat digunakan sebagai contoh pembelajaran untuk menanamkan pemahaman akuntansi yang kritis dan beretika kepada peserta didik. Kasus ini dapat membantu siswa memahami bahwa akuntansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memerlukan pertimbangan profesional dan pemahaman terhadap substansi ekonomi. Selain itu, peserta didik dapat diajak untuk menganalisis dampak penggunaan professional judgment terhadap kualitas laporan keuangan dan pentingnya nilai etika dalam praktik akuntansi, sehingga mereka mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan ekonomi di masa depan.
In reply to First post

Re: Case

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026


a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Kerangka Konseptual PSAK/IFRS memiliki peran penting sebagai pedoman dalam penyusunan laporan keuangan ketika tidak terdapat standar akuntansi yang secara spesifik mengatur suatu transaksi. Dalam kasus PT Edukasi Nusantara Tbk, karakteristik bisnis digital yang unik belum diatur secara rinci dalam PSAK tertentu. Oleh karena itu, manajemen menggunakan Kerangka Konseptual sebagai dasar dalam menentukan pengakuan, pengukuran, dan penyajian unsur laporan keuangan. Kerangka Konseptual membantu memastikan bahwa informasi yang disajikan tetap relevan, andal, dan mencerminkan substansi ekonomi yang sebenarnya, sehingga tujuan pelaporan keuangan tetap tercapai.

b. Analisis Pengakuan Goodwill dan Pengukuran Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud

Pengakuan goodwill atas akuisisi PT Cerdas Digital secara prinsip diperbolehkan karena goodwill merupakan selisih antara harga perolehan investasi dan nilai wajar aset neto teridentifikasi yang diperoleh. Namun, apabila nilai goodwill yang diakui didasarkan pada proyeksi pertumbuhan yang terlalu optimistis tanpa dukungan data yang memadai, maka terdapat risiko bahwa nilai tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Demikian pula, pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan pendekatan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif memerlukan pertimbangan profesional yang cermat. Jika metode penilaian dan asumsi yang digunakan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan, maka pengukuran tersebut dapat mencerminkan substansi ekonomi. Akan tetapi, jika terlalu bergantung pada estimasi yang subjektif, maka terdapat potensi terjadinya penyajian yang tidak andal dalam laporan keuangan.

c. Risiko dan Implikasi Etis Penggunaan Professional Judgment

Penggunaan professional judgment yang tidak tepat dapat menimbulkan risiko signifikan, baik secara finansial maupun reputasional. Laporan keuangan yang disusun berdasarkan pertimbangan yang bias atau tidak objektif dapat menyesatkan investor dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan keputusan. Selain itu, perusahaan berpotensi menghadapi sanksi hukum serta penurunan kepercayaan publik. Dari perspektif etika, penyusunan laporan keuangan harus dilandasi oleh prinsip integritas, objektivitas, dan tanggung jawab. Penyimpangan dalam penggunaan pertimbangan profesional dapat dianggap sebagai pelanggaran etika dan merugikan berbagai pihak.

d. Pemanfaatan Kasus sebagai Pembelajaran bagi Peserta Didik

Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini dapat digunakan sebagai contoh pembelajaran untuk menanamkan pemahaman akuntansi yang kritis dan beretika. Peserta didik dapat diajak untuk menganalisis bahwa akuntansi tidak semata-mata berkaitan dengan perhitungan angka, tetapi juga melibatkan pertimbangan profesional dan tanggung jawab moral. Melalui diskusi kasus, siswa dapat dilatih untuk menilai apakah suatu kebijakan akuntansi telah mencerminkan substansi ekonomi serta memahami pentingnya kejujuran dan transparansi dalam pelaporan keuangan. Dengan demikian, pembelajaran akuntansi tidak bersifat teoristis, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.


In reply to First post

Re: Case

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Kerangka Konseptual PSAK/IFRS memiliki peran yang sangat penting ketika suatu transaksi belum diatur secara spesifik dalam standar akuntansi yang berlaku. Dalam kasus PT Edukasi Nusantara, karakteristik bisnis digital yang unik tidak sepenuhnya dijelaskan secara rinci dalam PSAK tertentu. Oleh karena itu, manajemen perlu merujuk pada Kerangka Konseptual sebagai dasar dalam menentukan kebijakan akuntansi yang tepat.

Kerangka Konseptual membantu memastikan bahwa laporan keuangan tetap memenuhi tujuan utamanya, yaitu menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditur, dan pihak lain dalam pengambilan keputusan ekonomi. Di dalamnya dijelaskan karakteristik kualitatif informasi keuangan seperti relevansi dan representasi yang tepat (faithful representation). Artinya, informasi yang disajikan harus mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, bukan sekadar mengikuti bentuk formal transaksi. Selain itu, Kerangka Konseptual juga memberikan definisi unsur-unsur laporan keuangan seperti aset dan liabilitas, sehingga manajemen memiliki landasan yang jelas dalam menentukan apakah suatu pos layak diakui atau tidak. Dengan demikian, Kerangka Konseptual berfungsi sebagai pedoman normatif agar professional judgment tetap berada dalam koridor prinsip akuntansi yang benar.


b. Analisis pengakuan goodwill dan pengukuran nilai wajar aset tidak berwujud

Pengakuan goodwill dalam akuisisi 70% saham PT Cerdas Digital pada dasarnya merupakan praktik yang wajar dalam kombinasi bisnis. Goodwill mencerminkan kelebihan harga beli atas nilai wajar aset neto yang diperoleh, yang biasanya berkaitan dengan potensi keuntungan masa depan, reputasi, atau keunggulan kompetitif perusahaan yang diakuisisi. Dalam konteks perusahaan edutech, proyeksi pertumbuhan pengguna memang dapat menjadi dasar yang rasional karena nilai perusahaan digital sering terletak pada basis penggunanya.

Namun demikian, proyeksi pertumbuhan pengguna bersifat estimasi dan sangat dipengaruhi oleh asumsi manajemen. Industri digital memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, persaingan yang ketat, serta perubahan teknologi yang cepat. Jika proyeksi tersebut terlalu optimistis, maka nilai goodwill yang diakui dapat menjadi terlalu besar dan tidak sepenuhnya mencerminkan substansi ekonomi yang sebenarnya. Oleh karena itu, pengakuan goodwill harus didukung oleh analisis yang objektif dan pengujian penurunan nilai (impairment test) secara berkala agar tetap realistis.

Pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan pendekatan nilai wajar juga dapat dipahami karena aset tersebut memiliki potensi manfaat ekonomi yang signifikan. Akan tetapi, karena tidak terdapat pasar aktif untuk aset tersebut, nilai wajar ditentukan melalui model penilaian yang bergantung pada asumsi internal. Kondisi ini meningkatkan risiko subjektivitas dan bias. Secara substansi ekonomi, pengukuran tersebut dapat mencerminkan realitas jika dilakukan secara hati-hati, transparan, dan berdasarkan metode valuasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun jika tidak, maka informasi yang dihasilkan berpotensi kurang andal dan menyesatkan.


c. Risiko dan implikasi etis penggunaan professional judgment yang tidak tepat

Professional judgment merupakan bagian tak terpisahkan dari praktik akuntansi, terutama dalam situasi yang kompleks dan belum diatur secara rinci. Namun, penggunaan pertimbangan profesional yang tidak tepat atau terlalu agresif dapat menimbulkan berbagai risiko. Laporan keuangan dapat menyajikan nilai aset dan laba yang terlalu tinggi, sehingga memberikan gambaran yang tidak akurat mengenai kondisi perusahaan. Hal ini dapat memengaruhi keputusan investor, kreditur, maupun pihak lain yang bergantung pada informasi tersebut.

Dari sisi etika, penyalahgunaan professional judgment dapat melanggar prinsip integritas dan objektivitas. Jika manajemen sengaja memilih asumsi yang menguntungkan demi menarik investor atau meningkatkan citra perusahaan, maka hal tersebut tidak lagi mencerminkan praktik akuntansi yang sehat. Dampaknya bukan hanya pada kinerja perusahaan, tetapi juga pada kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Oleh karena itu, penggunaan judgment harus selalu didasarkan pada itikad baik, transparansi, dan tanggung jawab moral.


d. Pemanfaatan kasus sebagai pembelajaran akuntansi yang kritis dan beretika

Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini sangat relevan untuk dijadikan bahan pembelajaran karena menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar proses pencatatan angka, melainkan juga proses penilaian yang memerlukan analisis dan etika. Peserta didik dapat diajak memahami bahwa laporan keuangan dibentuk melalui berbagai asumsi dan estimasi, sehingga perlu dianalisis secara kritis.

Melalui diskusi kasus seperti ini, siswa dapat belajar membedakan antara kepatuhan formal terhadap standar dan substansi ekonomi yang sebenarnya. Mereka juga dapat memahami pentingnya tanggung jawab moral dalam penyusunan laporan keuangan. Dengan demikian, pembelajaran akuntansi tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan karakter yang berintegritas. Hal ini penting agar di masa depan mereka tidak hanya menjadi tenaga profesional yang kompeten, tetapi juga bertanggung jawab secara etis.
In reply to First post

Re: Case

by Nasroh Aulia -
Nama : Nasroh Aulia
NPM : 2413031004

a. Pada PT Edukasi Nusantara Tbk, pertumbuhan dalam sektor digital dan pengambilalihan perusahaan edutech menyebabkan adanya berbagai transaksi yang belum diatur dengan jelas dalam PSAK. Dalam kondisi seperti ini, manajemen tidak dapat sembarangan menetapkan kebijakan akuntansi, sehingga Kerangka Konseptual PSAK/IFRS dijadikan pedoman utama. Kerangka ini membantu manajemen dalam memahami tujuan dari laporan keuangan, yaitu untuk memberikan informasi yang berguna bagi pengguna dalam membuat keputusan ekonomi.

Selain itu, kerangka konseptual juga berfungsi untuk menilai apakah suatu transaksi dapat diakui sebagai aset atau elemen lain, serta bagaimana cara pengukurannya supaya tetap adil. Dengan mengikuti kerangka yang disusun oleh IFRS Foundation, PT Edukasi Nusantara Tbk tetap mampu menyusun laporan keuangan yang rasional, konsisten, dan mencerminkan keadaan ekonomi perusahaan meskipun tidak ada PSAK spesifik yang mengaturnya secara rinci.

b. Pengakuan goodwill dari pengambilalihan PT Cerdas Digital terhadap PT Edukasi Nusantara Tbk pada dasarnya mencerminkan aspek ekonomi karena menunjukkan adanya harapan untuk manfaat ekonomi di masa mendatang, seperti pertumbuhan jumlah pengguna, peningkatan teknologi, dan kolaborasi bisnis. Goodwill menunjukkan nilai tambahan yang tidak dapat dipisahkan dari aset lainnya. Namun, pengakuan goodwill ini perlu diperhatikan dengan cermat karena nilai tersebut sangat tergantung pada proyeksi dan asumsi yang dibuat oleh manajemen yang belum tentu dapat terwujud. Apabila asumsi tersebut terlalu optimis, maka nilai goodwill bisa jadi terlalu tinggi.

Hal serupa berlaku pada penilaian nilai wajar aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna, yang tidak memiliki pasar yang aktif. Penilaian terhadap aset ini bersifat subjektif dan tergantung pada estimasi, sehingga ada risiko tidak sepenuhnya mencerminkan nilai ekonomi yang sebenarnya.

c. Penggunaan penilaian professional judgment yang tidak tepat saat menyusun laporan keuangan dapat memunculkan berbagai risiko. Salah satu akibatnya adalah laporan keuangan tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang sesungguhnya, sehingga informasi yang diberikan bisa menjerumuskan pemakai laporan keuangan. Investor dan pihak berkepentingan lainnya mungkin membuat keputusan yang salah karena informasi yang tersedia tidak dapat dipercaya.

Dari sudut pandang etis, penilaian yang tidak objektif melanggar prinsipal kejujuran, integritas, dan tanggung jawab profesional yang seharusnya dijunjung oleh manajemen dan akuntan. Jika situasi ini berlanjut, kepercayaan terhadap perusahaan serta profesi akuntansi bisa berkurang dan berdampak negatif dalam jangka panjang.

d. Sebagai seorang calon pendidik
dalam bidang ekonomi, studi kasus PT Edukasi Nusantara Tbk dapat dijadikan sebagai contoh yang relevan dengan situasi nyata di dunia profesional. Melalui kasus ini, siswa bisa menyadari bahwa akuntansi tidak selalu memiliki jawaban yang jelas karena sering melibatkan pertimbangan dan asumsi. Guru dapat mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai apakah keputusan akuntansi yang diambil sudah sesuai dan transparan, serta bagaimana hal itu memengaruhi pihak-pihak lain. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teori akuntansi, tetapi juga belajar untuk bersikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam menghadapi masalah ekonomi di dunia nyata.
In reply to First post

Re: Case

by Nayla Andara -

Nama : Nayla Andara

NPM : 2413031018

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS dalam Pengambilan Keputusan Akuntansi

Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berfungsi sebagai pedoman dasar ketika standar akuntansi spesifik belum mengatur suatu transaksi secara rinci. Perannya antara lain:

-Memberi arah tujuan pelaporan keuanganu. Tujuan utama laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan, andal, dan berguna bagi pengambilan keputusan ekonomi oleh pengguna (investor, kreditor, dan pihak lain).

- Menentukan kriteria pengakuan dan pengukuranK. erangka Konseptual membantu menjawab: apakah suatu item dapat diakui sebagai aset atau liabilitas?, baaimana seharusnya item tersebut diukur?

- Menjadi dasar professional judgment. Saat tidak ada PSAK khusus, manajemen menggunakan prinsip umum dalam Kerangka Konseptual agar kebijakan akuntansi tetap konsisten dan rasional.

- Mencegah perlakuan yang sembarangan. Keputusan tetap harus mengarah pada penyajian substansi ekonomi, bukan sekadar mengikuti bentuk hukum.

b. Analisis Kritis: Apakah Pengakuan Goodwill dan Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud Mencerminkan Substansi Ekonomi?

1. Pengakuan Goodwill

- Positif: goodwill mencerminkan manfaat ekonomi masa depan seperti reputasi, teknologi, dan potensi pertumbuhan pengguna. Dalam akuisisi, pengakuan goodwill memang lazim jika harga beli lebih besar dari nilai wajar aset bersih.

- Kritis: goodwill dihitung berdasarkan proyeksi masa depan, yang bersifat subjektif.nJika proyeksi terlalu optimistis, goodwill bisa terlalu besar (overstated).

2. Pengukuran Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud Tanpa Pasar Aktif

- Positif: Platform digital dan basis data pengguna memang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan nilai wajar bisa menggambarkan potensi manfaat ekonominya.

- Kritis: tanpa pasar aktif, nilai wajar sangat bergantung pada model dan asumsi. Risiko manipulasi atau bias manajemen menjadi lebih besar. Pengungkapan asumsi secara transparan,Pengujian penurunan nilai (impairment) secara rutin

c. Risiko dan Implikasi Etis Jika Professional Judgment Digunakan Tidak Tepat

Risiko:

-Laporan keuangan menyesatkan

-Keputusan investor menjadi salah

-Kehilangan kepercayaan publik

-Potensi sanksi hukum

Implikasi Etis:

-Melanggar prinsip integritas

-Tidak jujur dalam menyajikan kondisi perusahaan

- Mengutamakan kepentingan manajemen daripada pengguna laporan

Pada intinya, Professional judgment harus digunakan untuk mewakili kenyataan, bukan untuk “mempercantik” angka.

d. Pemanfaatan Kasus sebagai Contoh Pembelajaran bagi Peserta Didik

Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini dapat digunakan untuk:

- Melatih berpikir kritis, siswa menganalisis apakah angka akuntansi mencerminkan realitas bisnis.

- Menanamkan pemahaman bahwa akuntansi bukan sekadar hitungan. Banyak keputusan membutuhkan pertimbangan profesional.

- Mengajarkan pentingnya etika. Tekankan bahwa kejujuran lebih penting daripada laba besar.

- simulasi diskusi kelas. Siswa berperan sebagai manajemen, auditor, dan investor.

-Menunjukkan keterkaitan teori dan praktik. Kerangka konseptual bukan hanya teori, tetapi alat nyata dalam praktik.

In reply to First post

Re: Case

by Serly Natasa -
Nama: Serly Natasa
NPM: 2413031028

A. Kerangka Konseptual PSAK/IFRS menjadi acuan pokok bagi manajemen untuk membentuk kebijakan akuntansi saat transaksi tidak diatur oleh PSAK spesifik, seperti pada kasus konsolidasi usaha edutech PT Edukasi Nusantara. Dokumen ini menawarkan prinsip fundamental berupa relevansi, materialitas, serta substansi di atas bentuk legal guna menjamin keputusan akuntansi selaras dengan sasaran pelaporan keuangan yang unggul. Oleh karena itu, manajemen mampu menyajikan laporan keuangan gabungan yang seragam dan terbuka, walaupun tanpa pedoman standar yang teliti.

B. Pengakuan goodwill dari estimasi ekspansi pengguna selaras dengan PSAK 22, yang mengidentifikasi goodwill sebagai kelebihan harga akuisisi dari nilai wajar aset bersih serta diuji penurunan nilai setiap tahun tanpa amortisasi. Meski demikian, secara analitis, andalan pada hipotesis subjektif ini rawan gagal merefleksikan realitas ekonomi apabila prakiraan berlebihan tidak terwujud, sehingga membengkakkan aset dan memprovokasi kesalahpahaman stakeholder. Penilaian aset tak berwujud via nilai wajar (Tingkat 3 PSAK 68/113) tanpa pasar likuid bergantung pada pendekatan valuasi internal terpercaya, namun rentan distorsi manajerial akibat minimnya pengamatan empiris, yang dapat melemahkan independensi pelaporan.

C. Penerapan penilaian profesional yang keliru dapat picu praktik rekayasa laba, contohnya pembebankan nilai aset berlebih demi mempercantik neraca, mengakibatkan kerugian pemodal serta degradasi kredibilitas pasar. Dampak etika mencakup pengkhianatan prinsip profesi akuntan seperti kejujuran dan ketidakberpihakan, dengan ancaman hukuman dari otoritas OJK/BPK, gugatan perdata, serta noda citra korporasi. Selain itu, hal semacam ini memperlemah ketidakseimbangan informasi, merugikan guru dan pihak terkait yang mengandalkan data keuangan presisi.

D. Studi kasus ini sangat berguna dalam mata kuliah akuntansi melalui sesi diskusi tim mengenai PSAK 22/19 di sektor edutech, lengkap dengan latihan simulasi penilaian Tingkat 3 demi mengasah penilaian analitis. Integrasikan permainan peran antara tim manajemen dan auditor untuk memicu perdebatan soal esensi ekonomi, serta tambah analisis kasus etika aktual guna membekali nilai keterbukaan dan moralitas. Sebagai pendidik ekonomi masa depan, manfaatkan animasi video atau kuis digital dari kasus ini untuk membangun kesadaran etis pada mahasiswa Universitas Lampung.
In reply to First post

Re: Case

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

NPM : 2413031011

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Kerangka Konseptual berfungsi sebagai pedoman dasar ketika tidak ada PSAK yang secara spesifik mengatur suatu transaksi. Di situ dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan, karakteristik kualitatif (relevan dan andal), serta definisi aset, liabilitas, pendapatan, dan beban.

Dalam kasus PT Edukasi Nusantara, manajemen bisa mengacu pada Kerangka Konseptual untuk memastikan bahwa kebijakan yang dipilih tetap mencerminkan substansi ekonomi, bukan hanya bentuk hukumnya. Jadi, Kerangka Konseptual membantu agar keputusan tetap logis, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Analisis goodwill dan nilai wajar aset tidak berwujud

Pengakuan goodwill sebagai aset itu wajar dalam akuisisi, apalagi jika ada proyeksi pertumbuhan yang kuat. Namun, goodwill sangat bergantung pada estimasi masa depan. Kalau proyeksi pengguna terlalu optimis, nilai goodwill bisa menjadi terlalu tinggi dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Untuk aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna, penggunaan nilai wajar tanpa pasar aktif berarti penilaiannya banyak bergantung pada asumsi manajemen. Secara substansi ekonomi, bisa saja mencerminkan potensi bisnis digital. Tapi risikonya tinggi terhadap bias atau overstatement.

Dengan demikan, secara konsep bisa dibenarkan, tetapi harus didukung asumsi yang realistis dan transparan agar benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya.

c. Risiko dan implikasi etis jika professional judgment tidak tepat

Kalau professional judgment digunakan secara tidak objektif, risikonya cukup besar:

  • Laporan keuangan bisa menyesatkan investor.
  • Nilai aset dan laba bisa terlihat lebih tinggi dari kondisi riil.
  • Kepercayaan publik terhadap perusahaan bisa turun.
  • Berpotensi melanggar prinsip integritas dan objektivitas dalam etika profesi akuntan.

Secara moral, manajemen harus mengutamakan kejujuran dan transparansi. Professional judgment bukan alat untuk “mengatur” angka agar terlihat bagus, tapi untuk menyajikan informasi yang paling wajar dan masuk akal.

d. Sebagai contoh pembelajaran bagi peserta didik

Kasus ini bisa dijadikan bahan diskusi kelas tentang:

  • Pentingnya memahami substansi ekonomi, bukan hanya aturan teknis.
  • Peran etika dalam pengambilan keputusan akuntansi.
  • Bahwa akuntansi bukan sekadar hitung-hitungan, tapi juga melibatkan pertimbangan dan tanggung jawab moral.

Sebagai calon pendidik ekonomi, saya akan menggunakan kasus ini untuk melatih mahasiswa berpikir kritis: apakah suatu kebijakan itu benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi, atau hanya menguntungkan manajemen. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya paham teori, tetapi juga sadar akan tanggung jawab moral dalam praktik akuntansi.


In reply to First post

Re: Case

by Mourien Ganesti -
Nama : Mourien Ganesti
Npm : 2413031013

JAWABAN :
a. Kerangka konseptual PSAK/IFRS berperan sebagai panduan utama untuk menyusun laporan keuangan ketika tidak ada standar tertentu yang mengatur transaksi khusus, contohnya pengakuisisian perusahaan teknologi pendidikan oleh PT Edukasi Nusantara, dengan penekanan pada inti ekonomi, kegunaan, dan representasi yang tepat untuk melestarikan konsistensi dan kualitas data keuangan yang berguna untuk semua pihak yang berkepentingan.

b.Pencatatan goodwill yang didasarkan pada proyeksi pertumbuhan pengguna di masa depan dan penilaian nilai pasar untuk aset tak berwujud seperti platform online dan database pelanggan, meskipun tanpa adanya pasar yang aktif, biasanya mencerminkan inti ekonomi bila menggunakan metode yang solid dan bukti empiris; namun, secara mendalam, metode tersebut rentan terhadap elemen subjektif dan risiko inflasi nilai, terutama di sektor bisnis digital yang tidak stabil, sehingga diperlukan validasi eksternal untuk menghindari penyimpangan dalam data keuangan.

c.Penggunaan pertimbangan profesional yang tidak tepat dalam penyusunan laporan keuangan PT Edukasi Nusantara menimbulkan risiko besar, seperti ketidakakuratan laporan yang dapat berdampak pada keputusan investor dan pendidik, serta konsekuensi etis seperti pelanggaran integritas dan kewajiban sosial, yang dapat berujung pada litigasi, kerusakan reputasi, dan sanksi profesional.

d. Sebagai calon pengajar ekonomi, studi kasus PT Edukasi Nusantara dapat dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran praktis dalam pendidikan akuntansi untuk mengembangkan pemikiran kritis dan etika di kalangan siswa, melalui debat analitis, latihan penyusunan laporan keuangan, dan refleksi tentang risiko penyalahgunaan, sehingga mendorong penerapan prinsip IFRS secara objektif dan bertanggung jawab dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
In reply to First post

Re: Case

by TRIASWARI AYUNANDINI -

Nama: Triaswari Ayunandini

NPM: 2413031029

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS dalam Pengambilan Keputusan

Menurut saya, Kerangka Konseptual di sini fungsinya seperti "kompas" atau peta dasar bagi manajemen. Dalam dunia akuntansi, tidak semua transaksi punya aturan detail di PSAK (seperti kasus bisnis digital yang sangat dinamis ini). Nah, ketika manajemen bingung karena tidak ada PSAK spesifik, mereka harus pakai professional judgment yang mengacu pada Kerangka Konseptual.

Tujuannya supaya informasi yang dihasilkan tetap Relevan dan punya Representasi Tepat. Jadi, manajemen tidak boleh asal catat; mereka harus memastikan bahwa kebijakan yang diambil itu memberikan gambaran nyata soal posisi keuangan perusahaan kepada investor, meskipun standar teknisnya belum ada. Singkatnya, Kerangka Konseptual mencegah manajemen "ngarang" bebas dalam menyusun laporan keuangan.

b. Analisis Goodwill dan Nilai Wajar Aset Tak Berwujud

Kalau kita bedah secara kritis, langkah manajemen ini sebenarnya cukup berisiko dan bisa dibilang "terlalu optimis":

Soal Goodwill, Pengakuan goodwill yang signifikan cuma berdasarkan "proyeksi pertumbuhan pengguna" itu agak rawan. Secara substansi ekonomi, goodwill itu harusnya mencerminkan sinergi bisnis yang nyata, bukan sekadar ekspektasi jumlah user yang belum tentu jadi cuan (pendapatan). Kalau nanti jumlah pengguna tidak sesuai target, perusahaan harus melakukan impairment (penurunan nilai) yang bakal bikin laba perusahaan anjlok seketika.

Soal Nilai Wajar, Mengukur aset (platform & basis data) pakai nilai wajar padahal tidak ada pasar aktifnya itu sangat subjektif. Karena tidak ada pembanding di pasar, manajemen pasti pakai asumsi sendiri (model internal). Di sini letak masalahnya: kalau asumsinya terlalu "manis", nilai aset jadi ketinggian (overstated). Jadi menurut saya, ini belum sepenuhnya mencerminkan substansi ekonomi yang konservatif dan hati-hati.

c. Risiko dan Implikasi Etis Penggunaan Professional Judgment yang Salah

Kalau professional judgment ini disalahgunakan atau dilakukan dengan tidak tepat, risikonya fatal:

  • Risiko Keuangan: Laporan keuangan jadi tidak akurat. Investor bisa merasa tertipu karena melihat aset yang besar padahal isinya cuma "angka di atas kertas" (asumsi). Ini bisa memicu mosi tidak percaya dari pasar modal.
  • Implikasi Etis: Ini masuk ke ranah etika profesi. Manajemen bisa dianggap melakukan window dressing (mempercantik laporan keuangan) untuk kepentingan tertentu, misalnya supaya harga saham naik atau dapat bonus. Secara etis, manajemen sudah melanggar prinsip integritas dan objektivitas karena lebih mementingkan citra perusahaan daripada transparansi ke publik.

d. Strategi Pembelajaran untuk Peserta Didik (Perspektif Calon Pendidik)
Sebagai calon pendidik ekonomi, saya rasa kasus ini sangat bagus untuk diajarkan di kelas supaya siswa tidak hanya belajar hafalan debit-kredit. Cara mengemasnya:

  1. Diskusi Debat: Saya akan bagi kelas jadi dua kelompok (pihak manajemen vs pihak investor). Biar mereka berdebat soal pantas atau tidaknya angka tersebut dicatat. Ini melatih berpikir kritis.
  2. Menanamkan Skeptisisme Profesional: Saya ingin murid paham bahwa "angka tidak selalu jujur". Mereka harus diajak melihat catatan kaki laporan keuangan (CALK) untuk cari tahu asal-usul sebuah angka.
  3. Etika di atas Teknis: Saya akan tekankan bahwa jadi akuntan atau manajer itu beban moralnya besar. Satu keputusan akuntansi bisa berdampak pada nasib ribuan investor. Jadi, kejujuran itu lebih utama daripada sekadar membuat laporan yang terlihat untung besar.

Intinya, saya ingin murid saya nanti sadar kalau akuntansi itu bukan cuma soal matematika, tapi soal pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

 



In reply to First post

Re: Case

by Indah Rahma alfiah -
Nama : Indah Rahma Alfiah
Npm : 2413031015

A. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS dalam Pengambilan Keputusan Akuntansi

Dewan Standar Akuntansi Keuangan melalui PSAK mengadopsi konsep yang selaras dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Ketika tidak terdapat PSAK spesifik yang mengatur suatu transaksi, manajemen dapat merujuk pada Kerangka Konseptual PSAK/IFRS sebagai pedoman utama.
Peran Kerangka Konseptual antara lain:
Memberikan dasar pengakuan dan pengukuran
Kerangka Konseptual menjelaskan definisi aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan beban. Dalam kasus ini, manajemen menggunakan definisi aset untuk menentukan apakah goodwill dan aset tidak berwujud memenuhi kriteria pengakuan.
Menekankan karakteristik kualitatif laporan keuangan
Informasi harus relevan dan merepresentasikan secara tepat (faithful representation), serta memiliki daya banding, dapat diverifikasi, tepat waktu, dan dapat dipahami.
Mengarahkan penggunaan professional judgement
Ketika standar belum mengatur secara rinci (misalnya karakteristik unik bisnis digital), Kerangka Konseptual menjadi landasan untuk memastikan kebijakan akuntansi tetap mencerminkan substansi ekonomi.
Dengan demikian, Kerangka Konseptual berfungsi sebagai panduan normatif agar laporan keuangan tetap memenuhi tujuan pelaporan, yaitu menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur dalam pengambilan keputusan ekonomi.

B. Analisis Kritis atas Pengakuan Goodwill dan Pengukuran Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud
Pengakuan goodwill dalam akuisisi PT Cerdas Digital mencerminkan selisih lebih antara harga perolehan dengan nilai wajar aset neto teridentifikasi. Dalam konteks bisnis digital, goodwill dapat merepresentasikan potensi pertumbuhan pengguna, inovasi teknologi, reputasi merek, dan sinergi bisnis. Secara substansi ekonomi, pengakuan goodwill dapat dibenarkan apabila didukung oleh proyeksi yang rasional dan berbasis data.
Namun, karena goodwill sangat bergantung pada estimasi masa depan, terdapat risiko subjektivitas yang tinggi. Jika proyeksi pertumbuhan pengguna terlalu optimistis dan tidak realistis, maka nilai goodwill dapat menjadi terlalu besar dan tidak lagi mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Oleh karena itu, uji penurunan nilai (impairment test) dan pengungkapan asumsi menjadi sangat penting untuk menjaga keandalan laporan keuangan.
Hal serupa berlaku pada pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan pendekatan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif. Secara konseptual, nilai wajar dapat memberikan gambaran yang lebih relevan dibandingkan biaya historis. Namun, penilaian tersebut sangat bergantung pada teknik estimasi seperti proyeksi arus kas dan tingkat diskonto, yang rentan terhadap bias manajemen. Jika asumsi yang digunakan tidak objektif, maka informasi yang dihasilkan tidak lagi mencerminkan substansi ekonomi secara faithful.
Dengan demikian, kebijakan akuntansi tersebut dapat mencerminkan substansi ekonomi apabila didukung oleh estimasi yang wajar, transparan, dan dapat diverifikasi. Sebaliknya, tanpa kehati-hatian, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan distorsi informasi.

C. Risiko dan Dampak Penggunaan Professional Judgement yang Tidak Tepat
Professional judgement merupakan bagian penting dalam penyusunan laporan keuangan, namun penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati dan bertanggung jawab. Jika pertimbangan profesional digunakan secara tidak tepat, risiko yang muncul dapat sangat signifikan.
Pertama, terdapat risiko salah saji material (material misstatement), di mana aset dan laba dilaporkan lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Kedua, kredibilitas perusahaan dapat menurun apabila investor menemukan bahwa informasi yang disajikan tidak akurat atau terlalu optimistis. Ketiga, perusahaan dapat menghadapi risiko hukum dan sanksi regulator jika terbukti melakukan pelaporan yang menyesatkan. Keempat, keputusan ekonomi para pemangku kepentingan menjadi terganggu karena didasarkan pada informasi yang tidak mencerminkan realitas ekonomi.
Dalam konteks perusahaan publik, kesalahan dalam penggunaan professional judgement tidak hanya berdampak pada laporan keuangan, tetapi juga pada reputasi, harga saham, dan kepercayaan pasar secara keseluruhan.

D. Pemanfaatan Kasus sebagai Pembelajaran Akuntansi yang Kritis dan Beretika
Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus PT Edukasi Nusantara Tbk dapat dijadikan contoh pembelajaran yang sangat efektif. Kasus ini menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar proses pencatatan angka, melainkan proses analisis, interpretasi, dan pertimbangan profesional yang memerlukan integritas.

Melalui studi kasus ini, peserta didik dapat diajak untuk menganalisis apakah pengakuan goodwill dan pengukuran nilai wajar benar-benar mencerminkan substansi ekonomi. Siswa juga dapat dilatih untuk memahami pentingnya karakteristik kualitatif laporan keuangan, seperti relevansi dan representasi yang tepat. Selain itu, kasus ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai etika profesi, bahwa laporan keuangan harus disusun secara jujur dan bertanggung jawab kepada publik.

Dengan pendekatan pembelajaran berbasis kasus, peserta didik tidak hanya memahami teori akuntansi, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etis dalam praktik akuntansi. Hal ini penting agar mereka kelak menjadi profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas yang tinggi.
In reply to First post

Re: Case

by Eris Ana Dita -
Nama : Eris Ana Dita
Npm : 2413031017


A). Peran Kerangka Konseptual
Kerangka Konseptual menyediakan prinsip dasar seperti relevansi, keandalan, mudah di pahami, dan substansi atas bentuk untuk menilai pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan aset seperti goodwill dan aset tidak berwujud. Ketika tidak ada standar spesifik, manajemen dapat menggunakan kerangka untuk mempertimbangkan bagaimana transaksi tersebut mencerminkan substansi ekonomi dan bagaimana efek nya terhadap laporan keuangan. Kerangka konseptual memastikan keputusan professional judgment selaras dengan tujuan pelaporan keuangan, yaitu memberikan informasi berguna bagi pengambilan keputusan pemangku kepentingan.

B). Analisis Goodwill dan Nilai Wajar
Pengakuan goodwill berdasarkan proyeksi pertumbuhan pengguna mencerminkan substansi ekonomi jika didasarkan pada sinergi akuisisi yang dapat diandalkan, sesuai PSAK 22 yang mendefinisikan goodwill sebagai excess biaya perolehan atas nilai wajar aset neto teridentifikasi. Namun, pengukuran nilai wajar aset tidak berwujud tanpa pasar aktif berisiko subyektif, karena PSAK mensyaratkan teknik level 3 (model valuasi) yang harus transparan; jika proyeksi terlalu optimis, hal ini melanggar prinsip prudent dan dapat menyesatkan investor.

C). Risiko dan Implikasi Etis Penggunaan Profesional Judgment
Penggunaan professional judgment tidak tepat berisiko menimbulkan overstating aset, manipulasi laba (earnings management), dan sanksi OJK/BPK, serta hilangnya kepercayaan stakeholder. Ketidakjelasan dalam pemilihan kebijakan akuntansi dapat mengarah pada pengelabuan informasi bagi pemangku kepentingan. Secara etis, melanggar kode etik akuntan (integritas, obyektivitas) dapat merusak reputasi perusahaan dan memicu tuntutan hukum, karena bertentangan dengan prinsip transparansi IFRS.

D). Contoh Pembelajaran untuk Pendidik Ekonomi
Kasus ini ideal untuk diskusi kelas akuntansi dengan analisis kasus yang membandingkan PSAK 22 vs IFRS 3, role-playing sebagai auditor/manajemen, dan simulasi impairment test goodwill. Gunakan untuk menanamkan berpikir kritis melalui pertanyaan "apakah substansi ekonomi terpenuhi?" dan etika via skenario dilema, lengkap dengan KPI evaluasi seperti esai analisis risiko.
In reply to First post

Re: Case

by Arnesta Az Zahra -
Nama : Arnesta Az Zahra
NPM : 2313031066

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS

Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berfungsi sebagai landasan berpikir ketika suatu transaksi belum diatur secara rinci dalam standar tertentu. Dalam situasi seperti yang dialami PT Edukasi Nusantara Tbk, manajemen tetap harus menyusun laporan keuangan secara wajar meskipun tidak ada PSAK yang secara spesifik membahas karakteristik bisnis digital seperti platform edutech atau basis data pengguna. Melalui Kerangka Konseptual, manajemen dapat menentukan apakah suatu pos memenuhi definisi aset, kapan harus diakui, serta bagaimana cara pengukurannya agar informasi yang disajikan tetap relevan dan mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Dengan kata lain, Kerangka Konseptual membantu menjaga agar keputusan akuntansi tetap selaras dengan tujuan pelaporan keuangan, yaitu memberikan informasi yang berguna bagi investor, kreditur, dan pihak lainnya dalam pengambilan keputusan ekonomi.

b. Analisis Kritis Pengakuan Goodwill dan Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud

Pengakuan goodwill atas akuisisi PT Cerdas Digital pada dasarnya dapat dibenarkan jika memang terdapat kelebihan nilai yang mencerminkan potensi manfaat ekonomi di masa depan, seperti inovasi teknologi, loyalitas pengguna, dan peluang pertumbuhan pasar. Namun, karena goodwill sangat bergantung pada estimasi dan proyeksi, terdapat risiko bahwa nilainya dipengaruhi oleh asumsi yang terlalu optimistis. Jika estimasi tersebut tidak realistis, maka angka yang disajikan bisa melebihi kondisi ekonomi yang sebenarnya. Demikian juga dengan pengukuran aset tidak berwujud menggunakan pendekatan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif. Proses penilaian sangat bergantung pada model dan asumsi internal perusahaan. Apabila metode yang digunakan objektif dan didukung data yang memadai, maka pengukuran tersebut dapat mencerminkan substansi ekonomi. Tetapi jika terlalu spekulatif, maka ada kemungkinan laporan keuangan menjadi kurang andal.

c. Risiko dan Implikasi Etis dari Penggunaan Professional Judgment


Pertimbangan profesional memang menjadi bagian penting dalam praktik akuntansi modern, terutama pada transaksi yang kompleks. Namun, jika tidak digunakan secara hati-hati, professional judgment dapat membuka peluang terjadinya bias, manipulasi, atau penyajian informasi yang terlalu dilebihkan. Risiko yang mungkin muncul antara lain penggelembungan nilai aset, peningkatan laba secara tidak wajar, hingga menurunnya kualitas laporan keuangan. Dari sisi etika, akuntan dan manajemen dituntut untuk menjunjung tinggi integritas, objektivitas, dan tanggung jawab profesional. Penyalahgunaan judgment demi kepentingan tertentu dapat merugikan investor dan merusak kepercayaan publik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada reputasi perusahaan bahkan berujung pada konsekuensi hukum.

d. Pemanfaatan Kasus sebagai Media Pembelajaran Akuntansi yang Kritis dan Beretika

Kasus ini dapat dijadikan contoh nyata dalam pembelajaran agar mahasiswa memahami bahwa akuntansi tidak hanya berfokus pada pencatatan angka, tetapi juga melibatkan analisis, penalaran, dan tanggung jawab moral. Melalui studi kasus ini, peserta didik dapat diajak berdiskusi mengenai bagaimana keputusan akuntansi memengaruhi persepsi para pemangku kepentingan dan kondisi perusahaan secara keseluruhan. Selain itu, mahasiswa dapat belajar untuk bersikap kritis terhadap laporan keuangan dan tidak menerima angka secara mentah tanpa memahami proses di baliknya. Dengan pendekatan seperti ini, pembelajaran akuntansi akan membentuk individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etika dalam praktik profesionalnya.