གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ MUHAMMAD ARIFIN ILHAM

TA2025 -> CASE STUDY

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muuhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003

1. Analisis praktik manajemen laba pada PT Karya Sentosa
PT Karya Sentosa diduga melakukan manajemen laba karena terdapat peningkatan piutang, penurunan cadangan kerugian, serta kenaikan pendapatan tanpa dukungan arus kas operasi, yang mengindikasikan pengakuan pendapatan sebelum diterima.

2. Perbandingan dua jurnal ilmiah
Rahmawati (2021) menemukan bahwa tata kelola perusahaan yang baik, khususnya melalui dewan komisaris dan audit internal, mampu menekan manajemen laba. Sebaliknya, Santoso (2023) menunjukkan bahwa tekanan target laba justru mendorong praktik tersebut. Perbedaan utama terletak pada fokus: pengawasan versus motivasi kinerja.

3. Evaluasi kritis
Manajemen laba tidak selalu buruk jika bertujuan menstabilkan kinerja, namun menjadi masalah bila digunakan untuk menipu atau memanipulasi informasi keuangan.

4. Kesimpulan dan rekomendasi
PT Karya Sentosa disarankan meningkatkan transparansi dan pengawasan internal. Auditor serta investor perlu lebih teliti terhadap akun-akun akrual agar analisis dan keputusan tetap akurat.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003

Esensi isi:
Artikel ini membahas manajemen laba sebagai upaya manajer memengaruhi laporan keuangan untuk tujuan tertentu tanpa melanggar aturan akuntansi. Berdasarkan tinjauan 50 artikel, sebagian besar penelitian memandang manajemen laba dari sisi oportunistik, sedangkan sebagian kecil melihatnya sebagai sarana penyampaian sinyal positif kepada investor. Penulis menekankan bahwa manajemen laba bisa bermanfaat jika dilakukan secara etis dan transparan.

Opini:
Saya menilai artikel ini memberikan pemahaman seimbang tentang manajemen laba. Praktik ini tidak selalu negatif, karena dapat berfungsi sebagai alat komunikasi strategis, asalkan tetap transparan dan tidak menyesatkan pihak lain.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama: Muhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003


1. Artikel: “Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity” (Tohang & Lusiana, 2022)
Esensi isi:
Penelitian ini meneliti dampak penerapan XBRL terhadap biaya ekuitas perusahaan publik di Indonesia. Dari analisis pada 59 perusahaan sebelum dan sesudah adopsi XBRL, ditemukan bahwa penggunaan XBRL menurunkan biaya ekuitas, terutama pada perusahaan besar, karena meningkatnya transparansi dan kualitas laporan keuangan.

Opini:
Saya menilai bahwa digitalisasi pelaporan keuangan melalui XBRL sangat penting untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor. Namun, keberhasilannya perlu didukung oleh kesiapan teknologi dan SDM, khususnya di perusahaan kecil.

2. Artikel: “Enhancing the Value of Corporate Sustainability: An Approach for Aligning Multiple SDGs Guides on Reporting”
Esensi isi:
Artikel ini membahas pentingnya menyelaraskan berbagai panduan pelaporan keberlanjutan seperti GRI, IIRC, dan SDGs agar laporan menjadi terpadu dan bernilai strategis. Studi kasus di sektor telekomunikasi menunjukkan bahwa keselarasan panduan meningkatkan transparansi dan nilai strategis laporan keberlanjutan.

Opini:
Menurut saya, pelaporan yang terintegrasi dengan SDGs mencerminkan komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan keberlanjutan, sekaligus memperkuat reputasi dan daya saing di tingkat global.

TA2025 -> CASE STUDY

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muhammad Arifin Ilham
NPM : 2413031003

1. Tantangan utama PT Sumber Hijau 

PT Sumber Hijau menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Ekspansi memang mendorong ekonomi, tetapi berisiko menimbulkan deforestasi dan konflik masyarakat. Selain itu, tekanan dari investor global untuk memenuhi standar ESG dan SDGs meningkat, sementara PSAK belum mengatur secara lengkap. Tantangan ini menyangkut legitimasi, reputasi, dan kepercayaan publik.

2. Teori positif dan normatif 

Teori positif menjelaskan bahwa keputusan pelaporan sering dipengaruhi kepentingan manajemen dan tekanan eksternal, sedangkan teori normatif menekankan pentingnya pelaporan yang etis dan transparan. Jadi, teori positif menjawab “mengapa perusahaan bertindak”, sedangkan teori normatif membahas “bagaimana seharusnya perusahaan bertindak.”

3. Integrasi SDGs ke laporan keuangan 

Meski PSAK belum mengatur detail tentang ESG, perusahaan bisa mengacu pada standar global seperti GRI atau laporan terintegrasi. Misalnya, mengaitkan biaya reklamasi dalam laporan keuangan dengan SDG 13 dan SDG 15, sehingga laporan tetap sesuai PSAK namun berisi narasi keberlanjutan yang lebih komprehensif.

4. Saran untuk narasi laporan 

Sebagai akuntan, narasi laporan sebaiknya disusun secara jujur dan berimbang. Perusahaan perlu mengakui kritik masyarakat serta menunjukkan langkah nyata memperbaiki dampak lingkungan dan sosial. Sertakan juga target terukur, seperti jumlah pekerja lokal atau luas lahan direstorasi, agar laporan dapat dipercaya oleh investor maupun masyarakat.


TA2025 -> DISKUSI

MUHAMMAD ARIFIN ILHAM གིས-
Nama : Muhammad arifin Ilham
NPM : 2413031003

Menurut saya, video “Reporting on SDGs” dari Askel Sustainability Solutions memberikan pemahaman penting tentang peran bisnis dalam mendukung 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Perusahaan tidak hanya harus mengejar keuntungan, tetapi juga mengintegrasikan prinsip SDGs ke dalam strategi mereka untuk menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pelaporan SDGs menjadi langkah strategis yang meningkatkan transparansi, akuntabilitas, serta membuka peluang bisnis baru. Dengan demikian, pelaporan ini sebaiknya dipandang sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan, bukan sekadar kewajiban formal.