Kiriman dibuat oleh Ahmad Dzulhakim

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

oleh Ahmad Dzulhakim -
Nama: Ahmad Dzulhakim
NPM: 2515012057
Kelas: B


Jurnal “Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasinya terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” karya Syarifuddin mengkaji peran Pancasila sebagai dasar filosofis dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Penulis menyoroti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa dampak besar dalam kehidupan masyarakat, namun berpotensi menimbulkan krisis moral dan melemahnya jati diri bangsa apabila tidak dibarengi dengan nilai-nilai Pancasila.

Dalam jurnal ini, Pancasila dipahami tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai filsafat ilmu yang memberikan arah dan batas dalam proses pengembangan pengetahuan. Ilmu pengetahuan dipandang tidak bebas nilai, melainkan harus berlandaskan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Melalui kelima sila tersebut, penulis menegaskan bahwa IPTEK seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, memperkuat persatuan bangsa, serta mewujudkan kesejahteraan sosial.

Kelebihan jurnal ini terletak pada kekuatan argumentasi normatif dan relevansinya dengan konteks kebangsaan Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan globalisasi. Namun, pembahasannya masih bersifat konseptual dan kurang disertai contoh konkret penerapan nilai Pancasila dalam perkembangan IPTEK modern. Meskipun demikian, jurnal ini memberikan pemahaman penting bahwa Pancasila harus dijadikan pedoman utama agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap selaras dengan nilai dan kepribadian bangsa Indonesia.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal-2

oleh Ahmad Dzulhakim -
Nama: Ahmad Dzulhakim
NPM: 2515012057
Kelas: B


A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, artinya menjadi sumber nilai, arah, dan landasan etika dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam disiplin ilmu IPTEK, Pancasila berfungsi sebagai pedoman agar kemajuan ilmu tidak hanya berorientasi pada kemanfaatan teknis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan, moral, dan keadilan sosial.

Peran masing-masing sila Pancasila dapat dijabarkan sebagai berikut:

Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam pengembangan IPTEK, sila ini menjadi landasan etika bahwa ilmu harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan kesadaran akan nilai ketuhanan. Ilmu pengetahuan tidak boleh disalahgunakan untuk merugikan manusia, seperti penyalahgunaan teknologi untuk penipuan, peretasan, atau kejahatan siber. Proses pengembangan ilmu harus menjunjung nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.

Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu dan teknologi harus digunakan untuk meningkatkan martabat manusia. Dalam IPTEK, hal ini tercermin pada pengembangan teknologi yang ramah manusia, tidak diskriminatif, serta memperhatikan dampak sosial. Contohnya, teknologi digital dikembangkan untuk mempermudah akses pendidikan, kesehatan, dan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Pengembangan ilmu harus memperkuat persatuan bangsa, bukan memecah belah. Dalam konteks IPTEK, teknologi informasi seharusnya digunakan untuk mempererat komunikasi dan kolaborasi nasional, bukan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau provokasi yang dapat merusak persatuan bangsa.

Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila ini menekankan bahwa kebijakan ilmu dan teknologi harus melibatkan partisipasi masyarakat dan diputuskan secara bijaksana. Dalam praktiknya, regulasi terkait teknologi, seperti perlindungan data pribadi dan keamanan digital, harus dibuat melalui musyawarah yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan dan teknologi harus memberikan manfaat yang adil dan merata. Pengembangan IPTEK tidak boleh hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi harus mampu mengurangi kesenjangan sosial. Contohnya, pemerataan akses internet dan teknologi pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.

Di tengah persaingan global saat ini, proses pengembangan ilmu yang berlandaskan Pancasila dilakukan dengan cara menguasai ilmu pengetahuan modern, namun tetap menjaga identitas nasional, etika, dan kepentingan bangsa agar tidak tergerus oleh arus globalisasi.

B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Harapan saya terhadap pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan bangsa. Pemimpin Pancasilais diharapkan mampu bersikap adil, jujur, serta bijaksana dalam memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk kesejahteraan rakyat dan menjaga persatuan nasional. Warganegara yang Pancasilais diharapkan memiliki kesadaran moral dan kecerdasan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menghormati perbedaan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi negatif. Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menjunjung tinggi nilai etika, kemanusiaan, dan keadilan sosial, sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia di masa kini maupun masa mendatang.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal-1

oleh Ahmad Dzulhakim -
Nama: Ahmad Dzulhakim
NPM: 2515012057
Kelas: B


A. Bagaimanakah tanggapanmu mengenai berita tersebut dan apa yang anda lakukan untuk mengantisipasi dampak negatif penyebaran hoaxs?
Menurut saya, berita tersebut menunjukkan bahwa hoaks sangat berbahaya karena mudah menyebar melalui media sosial dan dapat memengaruhi pola pikir masyarakat, bahkan orang yang berpendidikan. Hoaks yang terus beredar dapat memecah persatuan dan merusak kepercayaan publik. Untuk mengantisipasinya, saya akan lebih berhati-hati dalam menerima informasi, memeriksa kebenaran berita dari sumber tepercaya, tidak mudah terprovokasi, serta tidak langsung membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya.

B. Bagaimanakah pengaruh pengembangan iptek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di media sosial dan  solusi apa yang anda sampaikan bagi pengembangan iptek yang lebih baik?
Pengembangan IPTEK yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di media sosial dapat menyebabkan lunturnya sikap toleransi, meningkatnya ujaran kebencian, dan penyalahgunaan teknologi. Oleh karena itu, IPTEK seharusnya dikembangkan dengan mengedepankan etika, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan. Pendidikan literasi digital dan penanaman nilai Pancasila sangat penting agar teknologi digunakan untuk hal yang positif dan mempersatukan bangsa.

C. Sikap Konsumerisme menyebabkan Indonesia menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain yang lebih maju ipteknya, bagaimakah solusi menurut program studi/jurusan yang anda ambil saat ini atas permasalahan tersebut?
Sikap konsumerisme membuat Indonesia lebih banyak menjadi pengguna teknologi dari negara lain. Solusinya adalah mendorong inovasi dan kreativitas sesuai bidang studi yang saya jalani, mendukung produk dalam negeri, serta membangun pola pikir produktif agar mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi sendiri.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

oleh Ahmad Dzulhakim -
Nama: Ahmad Dzulhakim
NPM: 2515012057
Kelas: B


Pancasila diposisikan bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai landasan nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Gagasan ini terasa relevan, karena perkembangan IPTEK yang sangat cepat sering kali berjalan tanpa kontrol nilai, sehingga berpotensi menimbulkan dampak dehumanisasi. Penulis menekankan bahwa ilmu yang berkembang tanpa pijakan ideologi bangsa dapat kehilangan arah dan bahkan bertentangan dengan karakter masyarakat Indonesia.

Menariknya, jurnal ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak dimaknai secara simbolik, melainkan sebagai sistem nilai yang hidup dan operasional. Nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial dipandang sebagai satu kesatuan etis yang seharusnya menjadi “rambu” dalam pengembangan IPTEK. Artinya, kemajuan teknologi tidak cukup diukur dari aspek efisiensi atau inovasi semata, tetapi juga dari sejauh mana ia menjaga martabat manusia dan keadilan sosial.

Dalam konteks kekinian, analisis ini terasa semakin penting. Dominasi IPTEK dari negara-negara maju berpotensi membawa nilai asing yang tidak selalu sejalan dengan budaya Indonesia. Penulis menilai bahwa tanpa proses “mempribumikan ilmu”, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan subjek yang berdaulat secara intelektual. Pandangan ini cukup kritis dan relevan dengan kondisi pendidikan dan riset di Indonesia saat ini.

Jurnal ini juga menyoroti sisi historis dan politis Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu. Dari amanat UUD 1945 hingga kebijakan para pemimpin nasional, terlihat bahwa pencerdasan kehidupan bangsa selalu dikaitkan dengan nilai Pancasila. Namun demikian, penulis mengakui bahwa penegasan Pancasila sebagai paradigma keilmuan masih sering bersifat normatif dan belum sepenuhnya terimplementasi secara konkret di dunia akademik.

Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan pemahaman bahwa Pancasila bukan penghambat kemajuan ilmu, melainkan fondasi etis agar IPTEK berkembang secara manusiawi, adil, dan berkepribadian Indonesia. Analisis ini mengajak pembaca terutama mahasiswa dan akademisi untuk tidak memisahkan antara kemajuan ilmu dan tanggung jawab moral sebagai bangsa.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

oleh Ahmad Dzulhakim -
Nama: Ahmad Dzulhakim
NPM: 2515012057
Kelas: B


Berdasarkan jurnal Pengaruh Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam Menyikapi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dapat dipahami bahwa perkembangan IPTEK yang semakin pesat membawa dampak besar bagi kehidupan mahasiswa. Kemudahan akses informasi di era globalisasi tidak hanya memberikan manfaat, tetapi juga menimbulkan tantangan, terutama terkait lunturnya nilai moral, etika, dan jati diri bangsa. Dalam konteks inilah mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila memiliki peran yang sangat penting.

Penulis jurnal menjelaskan bahwa Pendidikan Pancasila berfungsi sebagai landasan dalam membentuk sikap dan kepribadian mahasiswa agar tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila saat menghadapi perkembangan teknologi. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kesadaran moral, sikap tanggung jawab, toleransi, serta etika dalam memanfaatkan IPTEK, khususnya dalam kehidupan akademik dan bermedia sosial.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kepribadian Pancasila yang tergolong baik. Hal ini tercermin dari sikap jujur, disiplin, toleran terhadap perbedaan, serta kemampuan menyaring informasi yang diperoleh dari media digital. Mahasiswa juga cenderung menggunakan teknologi untuk hal-hal positif, seperti mendukung proses pembelajaran, mencari referensi akademik, dan berkomunikasi secara santun di ruang digital.

Melalui analisis regresi, jurnal ini membuktikan adanya pengaruh yang signifikan antara mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dengan kemampuan mahasiswa dalam menyikapi perkembangan IPTEK. Artinya, semakin baik pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai Pancasila, maka semakin bijak pula sikap mereka dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi. Meskipun demikian, pengaruh tersebut belum sepenuhnya dominan, karena masih terdapat faktor lain di luar perkuliahan yang turut memengaruhi sikap mahasiswa, seperti lingkungan sosial dan budaya digital.

Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan gambaran bahwa Pendidikan Pancasila tidak hanya penting sebagai mata kuliah wajib, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter mahasiswa di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Nilai-nilai Pancasila perlu terus diaktualisasikan agar mahasiswa tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga matang secara moral dan berkepribadian Indonesia.