Forum Analisis Jurnal
Jurnal ini menekankan bahwa Pancasila merupakan hasil akulturasi berbagai nilai budaya Nusantara yang berkembang melalui interaksi antar suku bangsa dan pengaruh luar, termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Proses sejarah, khususnya pada masa penjajahan dan diberlakukannya politik etis, turut melahirkan kaum intelektual Indonesia yang kemudian merumuskan dasar negara dalam bentuk Pancasila dan UUD 1945. Hal ini menunjukkan bahwa Pancasila bersifat dinamis, kontekstual, dan berakar kuat pada realitas sosial budaya bangsa.
Dalam pembahasan Pancasila sebagai filsafat ilmu, jurnal ini mengaitkan konsep filsafat dengan pandangan para ahli seperti Hegel dan Muhtar Latif. Pancasila dipahami sebagai hasil sintesis pemikiran yang lahir dari pertentangan gagasan dan kemudian melahirkan kesepakatan bersama yang harmonis. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai landasan berpikir dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan, dengan menempatkan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, moral, dan kepribadian bangsa sebagai dasar utama.
Jurnal ini juga menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak boleh terlepas dari nilai-nilai Pancasila. Ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan mencari kebenaran secara rasional, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia dan kebahagiaan lahir dan batin. Dengan demikian, Pancasila berperan sebagai pedoman normatif dan etis agar IPTEK tidak disalahgunakan dan tetap berpihak pada kemanusiaan serta keadilan sosial.
NAMA:AYU DEWI PRASTIYANI
NPM:2515012002
KELAS:B
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia harus menjadikan Pancasila sebagai landasan etis dan paradigma utama agar kemajuan tersebut tidak mencerabut identitas bangsa. Pancasila berperan sebagai filter penting untuk membendung dampak negatif globalisasi yang sering kali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan moralitas dan mentalitas lokal. Melalui Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, para ilmuwan diingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan memikul tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta dalam setiap penemuan atau kebijakan yang diambil. Sementara itu, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa IPTEK harus berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, bukan justru menjadikannya alat penindasan atau pemicu kesenjangan sosial.Dalam persatuan dan kerakyatan, IPTEK harus diorientasikan untuk memperkuat rasa nasionalisme dan solidaritas antarwilayah di Indonesia melalui kemudahan interaksi yang tetap menghargai kearifan lokal. Implementasi ini juga harus didasari oleh sistem musyawarah yang transparan agar setiap kebijakan pembangunan bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi Pancasila. Hal ini sangat penting karena tanpa pengawasan yang berlandaskan etika, kemajuan teknologi dikhawatirkan dapat memicu tindakan anarkis, individualisme, serta gaya hidup hedonis yang merusak tatanan sosial.
Secara ekonomi, kedaulatan bangsa harus diperkuat dengan mengurangi ketergantungan pada badan-badan multilateral dan teknologi asing. Pengembangan ilmu pengetahuan harus lebih fokus pada penguatan produksi domestik dengan mengoptimalkan bahan baku dalam negeri guna mewujudkan kemandirian nasional. Dengan demikian, visi masa depan Indonesia adalah melahirkan model pemimpin dan ilmuwan yang tidak hanya profesional dan ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki integritas moral yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
NPM: 2515012032
KELAS: B
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu dan perannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menekankan bahwa Pancasila merupakan hasil pemikiran mendalam bangsa Indonesia yang lahir dari nilai budaya, agama, dan sejarah perjuangan bangsa. Di tengah pesatnya perkembangan IPTEK dan arus globalisasi, Pancasila dipandang sebagai fondasi penting agar kemajuan ilmu tidak mengikis moral, mental, dan identitas bangsa.
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu berfungsi sebagai landasan berpikir dan pedoman etis dalam proses pencarian serta pengembangan pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia, tetapi juga harus diarahkan pada kemaslahatan hidup manusia. Tanpa nilai Pancasila, ilmu dan teknologi berpotensi berkembang secara bebas, sekuler, dan tidak terkendali sehingga dapat merugikan kehidupan sosial dan kemanusiaan.
Jurnal ini juga menguraikan bahwa setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai yang relevan bagi pengembangan IPTEK, seperti nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. IPTEK harus dikembangkan dengan mempertimbangkan nilai religius, menghormati martabat manusia, memperkuat persatuan bangsa, menjunjung sikap demokratis, serta berorientasi pada keadilan dan kesejahteraan bersama. Dengan demikian, IPTEK tidak hanya maju secara teknis, tetapi juga bermoral dan berbudaya.
Pada bagian simpulan, jurnal menegaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu harus menjadi dasar utama dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Pancasila berperan sebagai filter terhadap pengaruh negatif modernisasi dan globalisasi sekaligus sebagai pedoman agar kemajuan ilmu pengetahuan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara adil, bermartabat, dan berkelanjutan. Dengan berlandaskan Pancasila, pengembangan IPTEK diharapkan tetap selaras dengan jati diri dan tujuan bangsa.
NAMA: FITRIA RAHMA WULANDARI
NPM: 2515012020
1.Identitas & Fokus Jurnal
Judul: Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Penulis: Syarifuddin (Fakultas Tarbiyah, IAI Muhammadiyah Bima).
Topik Utama: Menjelaskan Pancasila sebagai filsafat ilmu dan bagaimana nilai-nilainya memengaruhi perkembangan IPTEK di Indonesia.
2.Tujuan Penelitian
Penelitian/jurnal ini bertujuan untuk:
-Menegaskan posisi Pancasila sebagai filsafat ilmu—bukan sekadar dasar negara atau ideologi—melainkan landasan berpikir dan nilai dalam ilmu pengetahuan.
-Menjelaskan implikasi Pancasila terhadap perkembangan IPTEK, terutama agar perkembangan tersebut tetap berlandaskan nilai moral, kebudayaan, dan identitas bangsa.
3.Inti Isi (Ringkasan)
•Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
-Pancasila bukan sekadar norma negara, tetapi filsafat hidup bangsa Indonesia yang tumbuh dari pemikiran mendalam para pendiri bangsa.
-Sebagai filsafat ilmu, Pancasila menjadi dasar berpikir, berperilaku, dan mengembangkan ilmu yang mempertimbangkan nilai moral, etika, sosial, dan budaya.
-Keberadaan Pancasila penting supaya perkembangan IPTEK tidak sekadar mengejar kemajuan teknis, tetapi juga tetap memperhatikan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan kebangsaan.
•Implikasi terhadap IPTEK
Jurnal ini menunjukkan bahwa implikasi Pancasila terhadap IPTEK antara lain:
-Moral & Etika Ilmiah
Pancasila menekankan pentingnya etika, tanggung jawab, dan moral dalam setiap kegiatan ilmiah dan teknologi, sehingga perkembangan IPTEK tidak menghasilkan dampak negatif sosial maupun budaya.
-Perlindungan Identitas & Budaya Bangsa
Tanpa landasan Pancasila, perkembangan ilmu dan teknologi berpotensi melepaskan diri dari budaya dan nilai lokal, bahkan mengancam identitas bangsa Indonesia.
-Pengembangan IPTEK yang Berkelanjutan
Nilai-nilai Pancasila mendorong agar IPTEK digunakan secara bertanggung jawab, adil, dan manusiawi sehingga manfaatnya tidak hanya bersifat material, tapi juga meningkatkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata.
4. Kelebihan Penelitian
-Pilar filosofis yang kuat: Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila adalah filsafat ilmu, bukan hanya ideologi atau dasar negara semata.
-Penekanan nilai integratif: Menjelaskan bagaimana nilai Pancasila dapat ditempatkan secara konkret dalam perkembangan sains dan teknologi.
-Relevan dengan konteks sosial bangsa: Membantu pembaca memahami pentingnya landasan nilai dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi.
Kelemahan/Batasan
-Tidak bersifat empiris: Artikel ini bersifat konseptual/teoretis; tidak ada data empiris atau studi kasus yang menguji hubungan Pancasila dan IPTEK di lapangan.
-Fokus lebih pada landasan nilai dan kurang pada contoh konkret dalam pengembangan teknologi modern seperti AI, bioteknologi, atau sistem informasi.
5.Kesimpulan
Jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila berperan sebagai filsafat ilmu yang memberi arah nilai dan etika dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Implikasi Pancasila terhadap IPTEK meliputi:
-Menjaga moral dan etika ilmiah.
-Melindungi identitas budaya bangsa.
-Memastikan IPTEK memberi manfaat sosial yang berkeadilan.
Singkatnya: Tanpa landasan Pancasila, perkembangan IPTEK berpotensi menghasilkan dampak negatif sosial dan budaya.
Hubungan dengan Literatur Lain
Kajian lain juga berpendapat bahwa Pancasila berfungsi sebagai basis etika dan moral dalam IPTEK sehingga teknologi berkembang secara bertanggung jawab, sejalan dengan nilai keadilan sosial, kemanusiaan, dan identitas bangsa.
Jurnal ini menempatkan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara atau ideologi politik, tetapi sebagai filsafat ilmu yang harus menjadi landasan dalam proses berpikir, pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penulis berangkat dari kegelisahan terhadap derasnya arus perkembangan IPTEK yang tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai moral, etika, dan kepribadian bangsa. Dalam konteks tersebut, jurnal ini menegaskan bahwa IPTEK yang berkembang tanpa pijakan nilai Pancasila berpotensi merusak moralitas, mentalitas, dan identitas bangsa Indonesia.
Secara konseptual, jurnal ini kuat dalam menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari proses historis dan kultural bangsa Indonesia yang panjang, sehingga memiliki legitimasi filosofis sebagai pandangan hidup dan sistem pengetahuan. Penulis menunjukkan bahwa Pancasila merupakan hasil sintesis dari berbagai pemikiran, budaya, dan pengalaman bangsa, sehingga layak dijadikan kerangka filosofis dalam pengembangan ilmu. Dengan pendekatan filsafat ilmu, Pancasila dipahami bukan sekadar norma praktis, tetapi sebagai dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam ilmu pengetahuan.
Lebih lanjut, sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dipahami sebagai dasar demokratisasi ilmu, di mana pengembangan IPTEK harus terbuka, dapat dikritisi, dan tidak dimonopoli oleh elit tertentu. Sementara itu, sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan bahwa hasil IPTEK harus dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh rakyat, serta menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, masyarakat, dan alam.
Secara metodologis, jurnal ini bersifat konseptual-filosofis dengan pendekatan studi pustaka. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan penulis untuk menegaskan posisi Pancasila sebagai filsafat ilmu. Namun, keterbatasannya terletak pada minimnya contoh konkret atau studi kasus IPTEK kontemporer yang dapat memperkuat relevansi praktis gagasan tersebut di era digital saat ini.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan kontribusi penting dalam kajian Pendidikan Pancasila dan filsafat ilmu dengan menegaskan bahwa kemajuan IPTEK harus selalu dikendalikan oleh nilai-nilai Pancasila.
NPM:2515012058
Jurnal ini membahas pentingnya Pancasila sebagai dasar filsafat ilmu yang harus menjiwai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menjelaskan bahwa perkembangan IPTEK yang sangat pesat dapat membawa manfaat besar, tetapi juga berpotensi merusak moral, mental, dan jati diri bangsa jika tidak dibimbing oleh nilai-nilai Pancasila. Pancasila diposisikan sebagai pedoman berpikir, bersikap, dan bertindak dalam pengembangan ilmu agar tetap berlandaskan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Setiap sila Pancasila memiliki implikasi langsung dalam IPTEK, seperti menjunjung etika, menghormati martabat manusia, memperkuat persatuan, bersikap terbuka dan demokratis, serta mewujudkan keadilan sosial. Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa pengembangan IPTEK yang berlandaskan Pancasila diharapkan mampu menciptakan kemajuan ilmu yang bermoral, berkeadilan, dan bermanfaat bagi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.
Jurnal ini menunjukkan bahwa Pancasila dapat dijadikan landasan filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Setiap sila Pancasila memiliki implikasi langsung terhadap IPTEK, yaitu sebagai pedoman etika, moral, dan arah pengembangan ilmu agar tidak bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan kepribadian bangsa. IPTEK yang berkembang pesat perlu dikendalikan oleh nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial agar tidak menimbulkan dampak negatif seperti krisis moral, dehumanisasi, dan hilangnya jati diri bangsa.
Jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai filsafat ilmu dan pedoman utama dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila diharapkan mampu menciptakan kemajuan IPTEK yang bermoral, berkeadilan, berorientasi pada kesejahteraan manusia, serta tetap menjaga identitas dan karakter bangsa Indonesia.
NPM: 2515012007
Kelas: B
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu yang menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia untuk menjaga moralitas bangsa. Penulis, Syarifuddin, menekankan bahwa kemajuan IPTEK tanpa nilai Pancasila justru berpotensi merusak budaya dan mentalitas masyarakat. Analisis menyoroti Pancasila sebagai hasil akulturasi budaya nusantara yang harus memfilter informasi global.
Dokumen menjelaskan Pancasila sebagai dasar falsafah negara yang lahir dari pemikiran mendalam para pendiri bangsa, seperti Soekarno. Pancasila diposisikan sebagai filsafat ilmu yang mengintegrasikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial dalam pengembangan pengetahuan. Pendekatan ini mencegah IPTEK menjadi alat penghancur akibat arus informasi cepat dari luar.
NPM : 2515012074
KELAS : A
ANALISIS JURNAL
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penulis melihat bahwa kemajuan IPTEK yang begitu pesat saat ini membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi memberi kemudahan dan kemajuan, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan krisis nilai apabila tidak diarahkan dengan landasan yang jelas. Karena itu, Pancasila diposisikan sebagai dasar filosofis agar ilmu pengetahuan tidak berkembang secara bebas tanpa mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan moral bangsa.
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai sistem filsafat yang lahir dari pengalaman historis dan kebudayaan bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan hasil perenungan mendalam para pendiri bangsa terhadap realitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, Pancasila dianggap relevan untuk dijadikan landasan berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan, bukan hanya sebagai simbol formal, tetapi sebagai pedoman yang hidup.
Pembahasan mengenai Pancasila sebagai filsafat ilmu menekankan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak bersifat netral nilai. Ilmu selalu berkaitan dengan tujuan, kepentingan, dan dampaknya bagi manusia. Pancasila berfungsi memberi arah agar pengembangan ilmu tidak hanya berorientasi pada kebenaran rasional dan kemajuan teknologi, tetapi juga pada kemaslahatan manusia. Dengan landasan ini, ilmu pengetahuan diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara akal, etika, dan tanggung jawab sosial.
Penulis juga menguraikan implikasi nilai-nilai Pancasila terhadap pengembangan IPTEK. Setiap sila memberikan batasan sekaligus arah etis dalam pengembangan ilmu, mulai dari pentingnya nilai ketuhanan dalam proses berpikir ilmiah, penghormatan terhadap martabat manusia, penguatan persatuan bangsa melalui kemajuan teknologi, kebebasan ilmiah yang bertanggung jawab, hingga tujuan akhir berupa keadilan sosial. Dari sini terlihat bahwa IPTEK idealnya dikembangkan untuk memperbaiki kualitas hidup manusia, bukan sekadar mengejar kemajuan material.
Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi dan modernisasi. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemajuan IPTEK diharapkan tetap sejalan dengan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepribadian bangsa Indonesia. Pendekatan ini penting agar ilmu pengetahuan tidak justru menjadi sumber masalah, tetapi menjadi sarana untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih bermakna.
NAMA : Nanda Hanifatuzzakiyyah
NPM : 2515012050
KELAS : B
Pancasila: "Kompas" Supaya Kita Tidak Tersesat di Dunia Teknologi
Teknologi itu seperti pisau bermata dua. Kalau kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu Pancasila sebagai filsafat ilmu kemajuan ini bukannya membuat kita maju, malah bisa membuat kita kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.
Di jurnal ini dijelaskan kalau Pancasila itu sebenarnya adalah hasil pemikiran yang mendalam dari para pendiri bangsa kita. Fungsinya tidak hanya untuk di hafal saat upacara, tapi jadi landasan berpikir. Sama seperti kalau IPTEK berkembang tanpa nilai-nilai Pancasila. Orang bisa saja makin pintar secara teknis, tapi moral nya hancur. Misalnya, makin bisa membuat aplikasi tapi ujung-ujungnya dipakai untuk menipu, menyebar hoaks, atau merusak persatuan. Tanpa filter Pancasila, budaya asing yang tidak cocok sama kita seperti sikap individualis atau hedonisme dapat mudah sekali masuk dan merusak mental kita.
Makanya, implikasinya untuk kita di kampus itu besar sekali. Setiap ilmu yang kita pelajari harus punya tujuan untuk memanusiakan manusia, menjaga alam Indonesia, dan membuat masyarakat semakin sejahtera secara adil. Jadi, sesibuk apa pun kita mengejar IPK dan teknologi terbaru, kita harus tetap membumi dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan.
Kesimpulannya, Pancasila itu ibarat "saringan" atau filter digital yang paling canggih untuk kita. Dengan pegang teguh filsafat Pancasila, kita bisa tetap gaul dan melek teknologi tanpa harus kehilangan etika dan rasa cinta sama tanah air. IPTEK harusnya bikin hidup kita lebih bermakna, bukan malah bikin kita makin jauh dari nilai-nilai luhur bangsa kita sendiri.
NPM : 2515012013
Dalam jurnal ini, terdapat beberapa pokok bahasan :
1. Konsep Dasar Pancasila sebagai Filsafat.
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan hasil pemikiran mendalam (falsafah) yang digali dari budaya nusantara. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai:
-Landasan Berpikir: Menjadi dasar dalam proses manusia mencari pengetahuan.
-Pedoman Hidup: Mengarahkan pengembangan ilmu agar tidak hanya mencari kebenaran teoretis, tetapi juga mencapai kebahagiaan lahir dan batin.
-Filter Ideologis: Menjadi penyaring terhadap derasnya arus informasi dan modernisasi agar bangsa tetap memiliki identitas yang kuat.
2. Urgensi Pancasila dalam IPTEK.
Penulis menekankan bahwa kemajuan IPTEK yang sangat cepat dapat menjadi aspek penghancur jika tidak dibarengi dasar moralitas yang kuat. Tanpa landasan Pancasila, pengembangan ilmu pengetahuan akan terlepas dari nilai-nilai hakiki kemanusiaan.
3. Implikasi Sila-Sila Pancasila terhadap IPTEK.
Pengembangan ilmu pengetahuan harus selaras dengan nilai-nilai dalam setiap sila:
-Sila I (Ketuhanan): Menyeimbangkan aspek rasional dan irasional. Ilmuwan harus sadar akan keterbatasan akal manusia di hadapan Sang Pencipta.
-Sila II (Kemanusiaan): IPTEK harus diabdikan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, bukan membuat manusia sombong atau hanya menguntungkan kelompok tertentu.
-Sila III (Persatuan): IPTEK harus memperkuat rasa nasionalisme dan persaudaraan antar-daerah di Indonesia.
-Sila IV (Kerakyatan): Menuntut adanya kebebasan akademik yang demokratis, di mana setiap ilmuwan harus terbuka terhadap kritik dan perbandingan teori.
-Sila V (Keadilan Sosial): IPTEK harus menjaga keseimbangan keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, Tuhan, sesama, serta lingkungan alamnya.
Kesimpulan:
Jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila adalah sistem pengetahuan yang memberikan landasan normatif bagi penguasaan IPTEK. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat membawa perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, dan damai.
NPM: 2515012047
Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai lambang kenegaraan, tetapi merupakan hasil perenungan filosofis yang bersumber dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai dasar cara berpikir manusia dalam memperoleh pengetahuan, pedoman hidup yang mengarahkan pengembangan ilmu agar tidak berhenti pada kebenaran teoritis semata, serta sebagai penyaring ideologis untuk menghadapi arus globalisasi dan modernisasi tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Penulis menyoroti bahwa kemajuan IPTEK yang berlangsung sangat cepat berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila tidak disertai landasan moral yang kuat. Tanpa nilai-nilai Pancasila, pengembangan ilmu pengetahuan berisiko menjauh dari hakikat kemanusiaan dan tujuan kesejahteraan bersama.
Setiap sila Pancasila memiliki peran dalam mengarahkan pengembangan IPTEK. Sila Ketuhanan menuntut keseimbangan antara akal dan kesadaran spiritual, sehingga manusia menyadari keterbatasan rasio di hadapan Tuhan. Sila Kemanusiaan mengarahkan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia, bukan demi kesombongan atau kepentingan segelintir pihak. Sila Persatuan menegaskan bahwa IPTEK harus memperkuat rasa kebangsaan dan solidaritas antarwilayah. Sila Kerakyatan menuntut iklim akademik yang demokratis dan terbuka terhadap kritik. Sementara itu, Sila Keadilan Sosial menekankan pentingnya keadilan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, diri sendiri, dan lingkungan alam.
Kesimpulan
Jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila merupakan sistem pengetahuan yang memberikan kerangka normatif dalam pengembangan IPTEK. Integrasi nilai-nilai Pancasila diharapkan mampu mengarahkan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara adil, aman, damai, dan berkelanjutan.
Kelas: B
NPM: 2515012042
Analisis Jurnal Pertemuan Ke-15
Jurnal “Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasinya terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” menempatkan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai filsafat ilmu yang harus menjadi landasan dalam pengembangan dan penerapan IPTEK di Indonesia. Penulis menyoroti pesatnya perkembangan teknologi yang tidak selalu diikuti penguatan nilai moral, sehingga berpotensi merusak karakter dan identitas bangsa jika tidak berpijak pada Pancasila.
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari proses historis dan budaya bangsa Indonesia, sehingga memiliki legitimasi filosofis sebagai pandangan hidup dan sistem pengetahuan. Dengan pendekatan filsafat ilmu, Pancasila dipahami sebagai dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang mengarahkan ilmu agar tidak hanya mengejar kebenaran rasional, tetapi juga memberi manfaat dan kebijaksanaan bagi kehidupan manusia.
Setiap sila Pancasila dikaitkan dengan etika pengembangan IPTEK, seperti batas moral dan spiritual, orientasi kemanusiaan, penguatan persatuan bangsa, demokratisasi ilmu, serta pemerataan manfaat teknologi. Secara metodologis, jurnal ini bersifat konseptual melalui studi pustaka, meskipun masih minim contoh konkret IPTEK masa kini. Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa IPTEK tidak bersifat bebas nilai, tetapi harus dikembangkan sesuai nilai Pancasila demi kemanusiaan dan kesejahteraan bangsa.
NPM : 2515012052
Jurnal “Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai landasan filosofis dan etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Perkembangan iptek yang sangat pesat membawa dampak positif berupa kemudahan akses informasi dan peningkatan kualitas kehidupan, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan degradasi moral, lunturnya nilai budaya, serta melemahnya jati diri bangsa apabila tidak dibingkai oleh nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, pengembangan iptek harus diarahkan dan dikendalikan oleh nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial agar kemajuan ilmu tidak hanya berorientasi pada efisiensi dan kemanfaatan teknis, tetapi juga pada pembentukan manusia yang bermoral, berkeadaban, serta berkontribusi bagi kesejahteraan dan keberlanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara.
NPM: 2515012006
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu yang menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman filosofis dan etis dalam pengembangan ilmu agar tidak terlepas dari nilai moral, kemanusiaan, dan kepribadian bangsa.
Jurnal ini menyoroti bahwa perkembangan IPTEK yang sangat pesat, jika tidak diimbangi dengan nilai-nilai Pancasila, berpotensi merusak moralitas dan mentalitas bangsa. Oleh karena itu, Pancasila harus berfungsi sebagai alat penyaring (filter) terhadap pengaruh globalisasi dan arus informasi yang masuk ke Indonesia.
Setiap sila Pancasila dijelaskan implikasinya dalam pengembangan IPTEK, mulai dari pentingnya nilai religius dan etika (Ketuhanan), orientasi kemanusiaan dan kesejahteraan (Kemanusiaan), penguatan persatuan nasional (Persatuan), pengembangan ilmu yang demokratis dan terbuka terhadap kritik (Kerakyatan), hingga pemerataan manfaat IPTEK demi keadilan sosial (Keadilan Sosial).
Kesimpulannya, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu harus menjadi dasar pengembangan IPTEK agar kemajuan ilmu pengetahuan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia secara seimbang, bermoral, dan berkeadilan.
NPM : 2515012041
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu yang memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai pedoman berpikir dan bersikap dalam mengembangkan ilmu agar tidak menyimpang dari nilai-nilai bangsa.
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa kemajuan IPTEK membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti mempermudah aktivitas, meningkatkan efisiensi, dan mendorong kemajuan bangsa. Namun, jika perkembangan IPTEK tidak diarahkan dengan baik, hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif, seperti krisis moral, lunturnya nilai kemanusiaan, dan ketimpangan sosial. Oleh karena itu, Pancasila diperlukan sebagai landasan agar IPTEK berkembang secara seimbang antara kemajuan ilmu dan nilai etika.
Setiap sila dalam Pancasila memiliki peran dalam pengembangan IPTEK. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa ilmu harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan kesadaran akan nilai spiritual. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa IPTEK harus digunakan untuk kesejahteraan manusia dan tidak merugikan sesama. Sila Persatuan Indonesia mengarahkan IPTEK untuk memperkuat persatuan bangsa, bukan menimbulkan perpecahan. Sila Kerakyatan mengajarkan penggunaan ilmu secara demokratis dan terbuka, sedangkan Sila Keadilan Sosial menuntut agar hasil perkembangan IPTEK dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu sangat penting untuk menjaga agar perkembangan IPTEK tetap selaras dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar, ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat membawa kemajuan tanpa menghilangkan jati diri dan moral masyarakat Indonesia.
NPM : 2515012034
Kelas : B
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai dasar filsafat ilmu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya ideologi negara, tetapi juga hasil pemikiran mendalam bangsa Indonesia yang seharusnya menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan mengembangkan ilmu.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat membawa banyak kemudahan, namun juga berpotensi menimbulkan masalah jika tidak dibarengi dengan nilai Pancasila. Arus informasi global yang masuk tanpa filter dapat memengaruhi moral, budaya, dan cara berpikir masyarakat. Karena itu, Pancasila diperlukan sebagai penyaring agar kemajuan IPTEK tetap sejalan dengan kepribadian bangsa.
Sebagai filsafat ilmu, Pancasila memberi arah agar ilmu pengetahuan tidak hanya mengejar kebenaran dan kemajuan, tetapi juga memperhatikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan untuk kepentingan manusia, bukan justru merugikan atau merendahkan martabat manusia itu sendiri.
Setiap sila Pancasila memiliki implikasi dalam pengembangan IPTEK. Nilai Ketuhanan menuntun manusia agar menyadari keterbatasannya dan tetap berlandaskan nilai spiritual. Nilai kemanusiaan menegaskan bahwa IPTEK harus berpihak pada kesejahteraan manusia. Persatuan mengarahkan IPTEK untuk memperkuat kebangsaan. Kerakyatan menuntut pengembangan ilmu secara demokratis dan terbuka. Sementara keadilan sosial menegaskan bahwa manfaat IPTEK harus dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Jadi, dari jurnal ini dapat disimpulkan bahwa Pancasila memiliki peran penting sebagai landasan filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman, IPTEK diharapkan berkembang secara seimbang antara kemajuan dan nilai moral. Pengembangan ilmu yang berlandaskan Pancasila dapat membantu mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang lebih manusiawi, adil, dan bermartabat.
NPM:2515012085
KELAS B
1. Esensi Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan sebuah sistem filsafat yang menjadi landasan berpikir (epistemologis) bagi bangsa Indonesia. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila memberikan kerangka bagi ilmuwan untuk tidak hanya mengejar kebenaran teknis, tetapi juga kebenaran yang bermoral.
Implikasi: Pengembangan IPTEK di Indonesia tidak boleh bersifat bebas nilai (value-free), melainkan harus terikat nilai (value-bound) yang bersumber dari akar budaya dan religi bangsa sendiri.
2. Urgensi Pancasila di Tengah Derasnya Informasi
Penulis menyoroti bahwa di era digital, informasi masuk tanpa filter. Jika IPTEK berkembang tanpa dasar Pancasila yang kuat, maka akan terjadi kerusakan pada moralitas dan mentalitas bangsa.
Analisis: Tanpa "kompas" Pancasila, masyarakat mudah terjebak dalam pragmatisme, hoaks, dan individualisme yang dibawa oleh teknologi global.
3. Landasan Aksiologis (Tujuan Ilmu)
Secara filosofis, pengembangan ilmu dalam perspektif Pancasila harus memiliki implikasi nyata bagi kualitas hidup:
Kesejahteraan Bersama: Ilmu pengetahuan dikembangkan untuk mencapai keadilan sosial, bukan untuk menindas kelompok lain.
Kemanusiaan: Teknologi harus tetap menempatkan manusia sebagai subjek yang bermartabat, bukan sekadar objek dari mesin atau algoritma.
Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dan Kebijakan Etika
Pancasila berfungsi sebagai paradigma (kerangka acuan) dalam setiap disiplin ilmu melalui rincian berikut:
Sila 1 (Ketuhanan): Melengkapi ilmu dengan etika religius. Kebijakan ilmu harus memastikan bahwa inovasi tidak melanggar hukum alam atau merusak hubungan manusia dengan Tuhan.
Sila 2 (Kemanusiaan): Menjadi landasan etika agar IPTEK tidak mendehumanisasi. Contohnya, dalam ilmu medis atau IT, privasi dan martabat manusia adalah prioritas utama.
Sila 3 (Persatuan): Kebijakan ilmu harus mengarah pada integrasi nasional. Inovasi teknologi komunikasi harus digunakan untuk mempersatukan, bukan memecah belah melalui hoaks.
Sila 4 (Kerakyatan): Pengembangan ilmu bersifat demokratis dan partisipatif, melibatkan aspirasi rakyat dalam setiap kebijakan teknologi.
Sila 5 (Keadilan): Kebijakan ilmu harus menjamin distribusi teknologi yang merata agar tidak terjadi jurang digital (digital divide)
B. Harapan Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Masa Depan
Harapan ke depan adalah terciptanya ekosistem bangsa yang "Pancasilais" dalam perilaku nyata:
Pemimpin Pancasilais: Sosok yang menggunakan kekuasaannya sebagai amanah Tuhan, transparan dalam kebijakan, dan berani mengambil keputusan sulit demi persatuan nasional di atas kepentingan partai atau golongan.
Warganegara Pancasilais: Individu yang memiliki literasi digital tinggi (mampu memfilter hoaks), menghargai perbedaan pendapat di media sosial, dan memiliki semangat nasionalisme ekonomi dengan mencintai inovasi lokal.
Ilmuwan Pancasilais: Inovator yang memiliki Integritas Moral tinggi. Mereka tidak hanya menciptakan sesuatu yang canggih, tetapi juga yang bermanfaat bagi rakyat kecil dan ramah lingkungan. Ilmuwan yang berdedikasi pada kemandirian bangsa agar Indonesia berdaulat secara teknologi.
NPM : 2515012010
Analisis jurnal
"PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT ILMU DAN IMPLIKASI
TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN
TEKNOLOGI"
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, tetapi juga memiliki peran penting sebagai filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis menyoroti bahwa perkembangan IPTEK yang sangat pesat di era globalisasi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, namun di sisi lain juga menimbulkan berbagai tantangan, terutama dalam aspek moral, mental, dan budaya bangsa. Tanpa landasan nilai-nilai Pancasila yang kuat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi disalahgunakan dan justru dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila dipandang sebagai pedoman utama yang mampu menyaring pengaruh global agar sesuai dengan kepribadian bangsa.
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu berfungsi sebagai dasar berpikir, dasar etika, dan arah tujuan dalam pengembangan IPTEK. Setiap sila Pancasila mengandung nilai yang harus diimplementasikan dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menekankan bahwa pengembangan ilmu harus dilandasi nilai religius, moral, dan etika agar manusia tidak bersikap sombong terhadap kemampuannya. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengarahkan IPTEK agar dikembangkan untuk kesejahteraan dan martabat manusia, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu atau merugikan sesama. Sila Persatuan Indonesia menegaskan bahwa IPTEK harus berperan dalam memperkuat persatuan, nasionalisme, dan identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Selanjutnya, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan menuntut agar pengembangan IPTEK dilakukan secara demokratis, terbuka terhadap kritik, serta bertanggung jawab. Sementara itu, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menekankan bahwa manfaat IPTEK harus dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Secara keseluruhan, jurnal ini menyimpulkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat penting untuk menciptakan kemajuan yang berimbang antara aspek intelektual, moral, dan sosial. Dengan menjadikan Pancasila sebagai filsafat ilmu, pengembangan IPTEK di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat karakter bangsa, serta menciptakan kehidupan nasional yang adil, sejahtera, aman, dan bermartabat.
NPM: 2515012057
Kelas: B
Jurnal “Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasinya terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” karya Syarifuddin mengkaji peran Pancasila sebagai dasar filosofis dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Penulis menyoroti pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa dampak besar dalam kehidupan masyarakat, namun berpotensi menimbulkan krisis moral dan melemahnya jati diri bangsa apabila tidak dibarengi dengan nilai-nilai Pancasila.
Dalam jurnal ini, Pancasila dipahami tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai filsafat ilmu yang memberikan arah dan batas dalam proses pengembangan pengetahuan. Ilmu pengetahuan dipandang tidak bebas nilai, melainkan harus berlandaskan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Melalui kelima sila tersebut, penulis menegaskan bahwa IPTEK seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, memperkuat persatuan bangsa, serta mewujudkan kesejahteraan sosial.
Kelebihan jurnal ini terletak pada kekuatan argumentasi normatif dan relevansinya dengan konteks kebangsaan Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan globalisasi. Namun, pembahasannya masih bersifat konseptual dan kurang disertai contoh konkret penerapan nilai Pancasila dalam perkembangan IPTEK modern. Meskipun demikian, jurnal ini memberikan pemahaman penting bahwa Pancasila harus dijadikan pedoman utama agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap selaras dengan nilai dan kepribadian bangsa Indonesia.
NPM : 2515012019
Kelas : B
1. Eksistensi Pancasila sebagai Sistem Filsafat
Pancasila merupakan hasil pemikiran mendalam para pendiri bangsa yang digali dari berbagai unsur budaya di Nusantara. Sebagai dasar falsafah negara, Pancasila bersifat final dan menjadi pedoman hidup yang memberikan identitas khas bagi bangsa Indonesia. Secara filosofis, Pancasila merupakan sebuah sintesis pemikiran yang harmonis, lahir dari dialektika berbagai pandangan untuk mempersatukan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
Pancasila sebagai filsafat ilmu merupakan landasan fundamental dalam seluruh proses berpikir dan pencarian pengetahuan. Perannya mencakup beberapa aspek krusial:
Pancasila memberikan landasan teoretik dan normatif bagi penguasaan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Sebagai sistem pengetahuan, Pancasila membantu masyarakat memikirkan masalah dasar kehidupan secara rasional dan universal.
Pancasila berfungsi sebagai filter terhadap dampak negatif modernisasi dan penyempitan ideologis, sehingga bangsa Indonesia tetap memiliki sikap kritis namun terbuka.
Tujuan pengembangan ilmu dalam perspektif ini adalah untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.
3. Implikasi Sila-Sila Pancasila dalam Pengembangan IPTEK
Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
Pengembangan IPTEK harus mengakui batasan pemikiran manusia dan mengembalikannya pada kekuasaan Sang Pencipta. Implikasinya adalah terciptanya keseimbangan antara aspek rasional dan irasional, serta antara akal dan rasa. IPTEK tidak boleh menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta, melainkan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini memberikan arah moral agar IPTEK dikembalikan pada fungsi hakikinya, yaitu untuk kesejahteraan umat manusia secara umum, bukan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu. Pembangunan IPTEK harus beradab dan ditujukan untuk meningkatkan harkat serta martabat manusia, bukan justru menciptakan keangkuhan.
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
Kemajuan IPTEK diimplikasikan sebagai sarana untuk memperkuat rasa nasionalisme dan persatuan bangsa. Teknologi informasi dan komunikasi harus mampu menjalin persaudaraan antardaerah dan memelihara keutuhan wilayah Indonesia dalam pergaulan internasional.
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Dalam hal ini, IPTEK harus dikembangkan secara demokratis. Setiap ilmuwan memiliki kebebasan untuk berkarya, namun wajib menghormati kebebasan orang lain serta bersikap terbuka terhadap kritik, kajian ulang, maupun perbandingan dengan teori-teori lainnya.
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Pengembangan IPTEK wajib menjaga keseimbangan keadilan dalam berbagai dimensi kehidupan. Hal ini mencakup hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan masyarakat bangsa dan negara, hingga hubungan manusia dengan alam lingkungannya.
4. Kesimpulan Analisis
Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dibarengi dengan dasar Pancasila yang kuat berisiko merusak moralitas dan mentalitas bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pegangan, diharapkan perkembangan IPTEK dapat membawa perbaikan kualitas hidup dan menciptakan masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, serta damai.
NPM:2515012026
Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pedoman hidup bangsa Indonesia yang lahir dari proses panjang pemikiran dan perjuangan para pendiri bangsa. Nilai-nilai Pancasila digali dari budaya Nusantara dan dirumuskan melalui musyawarah, sehingga menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, Pancasila bersifat final dan harus dijadikan acuan dalam seluruh aspek pembangunan nasional, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kemajuan ini membawa banyak manfaat, seperti kemudahan akses informasi, efisiensi pekerjaan, dan meningkatnya kualitas hidup. Namun, tanpa landasan nilai Pancasila yang kuat, perkembangan IPTEK justru dapat menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya moral, melemahnya mental bangsa, serta terkikisnya identitas budaya nasional.
Pancasila berperan sebagai filsafat ilmu, yaitu dasar dalam cara berpikir dan bertindak manusia Indonesia dalam mengembangkan pengetahuan. Artinya, ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan mencari kebenaran secara rasional, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Dengan landasan ini, ilmu pengetahuan diharapkan dapat berkembang secara seimbang antara akal, moral, dan tanggung jawab sosial.
Setiap sila Pancasila memiliki implikasi penting dalam pengembangan IPTEK. Nilai Ketuhanan menuntun manusia agar ilmu dikembangkan dengan etika dan kesadaran akan keterbatasan manusia. Nilai kemanusiaan menegaskan bahwa IPTEK harus digunakan untuk kesejahteraan umat manusia. Nilai persatuan mengarahkan IPTEK untuk memperkuat nasionalisme dan kebersamaan. Nilai kerakyatan mendorong pengembangan ilmu secara demokratis dan terbuka terhadap kritik. Sementara itu, nilai keadilan sosial menuntut agar manfaat IPTEK dapat dirasakan secara adil oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan Pancasila diharapkan mampu membawa kemajuan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga bermoral dan beradab. IPTEK yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila akan membantu mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang sejahtera, aman, dan berkeadilan.
Data Mahasiswa
Nama: Handaru Rakha Albaihaqi
NPM: 2515012045
Kelas: B
I. Identitas Jurnal
Judul: Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penulis: Syarifuddin
Instansi: Fakultas Tarbiyah IAI Muhammadiyah Bima
Sumber: eL-Muhbib: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Dasar, Vol. 2 No. 2, Desember 2018
II. Abstrak dan Pendahuluan
Artikel ini menjabarkan peran Pancasila sebagai falsafah dan pedoman hidup bangsa yang dihasilkan dari pemikiran mendalam para pendiri negara. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini sangat cepat dan memengaruhi segala aspek kehidupan budaya bangsa. Namun, kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan dasar Pancasila yang kuat berisiko menjadi aspek penghancur moralitas dan mentalitas bangsa. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus diperkuat sebagai filter terhadap derasnya arus informasi global.
III. Konsep Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
Pancasila sebagai filsafat ilmu merupakan landasan dalam proses berpikir dan berpengetahuan. Hal ini berarti setiap pengetahuan yang berkembang harus memperhatikan aspek Ketuhanan dan kemanusiaan agar tidak terlepas dari nilai hakiki pengetahuan itu sendiri. Sebagai suatu sistem pengetahuan, Pancasila memberikan landasan teoretis dan normatif bagi penguasaan IPTEK serta menetapkan tujuan yang dilandasi oleh moralitas kepribadian manusia. Pancasila membantu bangsa Indonesia mengambil sikap terbuka namun tetap kritis terhadap dampak modernisasi.
IV. Implikasi Sila-Sila Pancasila dalam Pengembangan IPTEK
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini memberikan dasar bahwa manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan harus memahami batas kemampuannya, karena tidak semua hal di alam ini dapat dijangkau oleh akal manusia. IPTEK harus menciptakan perimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas, serta menempatkan Tuhan sebagai pusat jagad raya, bukan manusia.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Implikasi sila kedua adalah memberikan arah agar ilmu pengetahuan dikembalikan pada fungsi asalnya, yaitu untuk kemanusiaan, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu. Pengembangan IPTEK harus didasarkan pada usaha meningkatkan harkat dan martabat manusia agar manusia tidak menjadi angkuh akibat kemajuan teknologi.
3. Sila Persatuan Indonesia
Sila ini memberikan kesadaran bahwa kemajuan IPTEK seharusnya memperkuat rasa nasionalisme dan persatuan bangsa. Melalui IPTEK, persaudaraan antar daerah di Indonesia dapat terjalin dengan lebih erat dan terpelihara dalam hubungan internasional.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...
Sila keempat mendasari pengembangan IPTEK secara demokratis. Setiap ilmuwan harus memiliki kebebasan untuk mengembangkan ilmu, namun wajib menghormati kebebasan orang lain serta bersikap terbuka terhadap kritik maupun kajian ulang atas penemuan-penemuannya.
5. Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Dalam pengembangan IPTEK, sila kelima menekankan pentingnya menjaga keseimbangan keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, Tuhan, sesama manusia, masyarakat, bangsa, negara, serta alam lingkungannya.
V. Simpulan
Pancasila sebagai filsafat ilmu merupakan pedoman bagi bangsa Indonesia untuk menyelesaikan berbagai masalah kehidupan secara rasional. Pengembangan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila diharapkan mampu membawa perbaikan kualitas hidup serta mewujudkan masyarakat yang sejahtera, aman, dan damai.
NPM: 2515012064
KELAS: B
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai filsafat ilmu dan menekankan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai dasar bangsa Indonesia. Penulis, Syarifuddin, melihat bahwa kemajuan IPTEK yang begitu cepat memang membawa banyak kemudahan, tetapi jika tidak dibarengi dengan landasan Pancasila yang kuat justru bisa merusak moral, mental, dan jati diri bangsa. Arus informasi global yang sangat bebas membuat masyarakat mudah terpengaruh nilai luar, sehingga Pancasila dipandang penting sebagai pegangan dan penyaring agar bangsa Indonesia tidak kehilangan arah dalam menghadapi modernisasi.
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga hasil pemikiran mendalam yang lahir dari pengalaman sejarah dan budaya bangsa. Karena itu, Pancasila layak dijadikan filsafat ilmu, yaitu sebagai dasar cara berpikir, bersikap, dan mengembangkan pengetahuan. Ilmu tidak dipahami hanya sebagai alat untuk mencari kebenaran atau memenuhi rasa ingin tahu, tetapi juga harus memberi manfaat nyata bagi kehidupan manusia. Dengan menjadikan Pancasila sebagai filsafat ilmu, pengembangan IPTEK diarahkan agar tetap berpihak pada nilai kemanusiaan, etika, dan keseimbangan hidup, bukan semata-mata pada kemajuan materi atau kepentingan kelompok tertentu.
Penulis juga menguraikan implikasi setiap sila Pancasila dalam pengembangan IPTEK. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menekankan bahwa ilmu harus dikembangkan dengan kesadaran akan keterbatasan manusia dan tanggung jawab moral kepada Tuhan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa IPTEK harus digunakan untuk meningkatkan martabat manusia, bukan justru merendahkan atau merugikan sesama. Sila Persatuan Indonesia mengarahkan agar pengembangan ilmu memperkuat persatuan dan nasionalisme, bukan menciptakan ketergantungan atau perpecahan. Sila Kerakyatan menegaskan pentingnya kebebasan akademik yang disertai sikap terbuka, dialog, dan tanggung jawab sosial. Sementara itu, sila Keadilan Sosial menuntut agar hasil IPTEK dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu berfungsi sebagai arah, pengendali, dan penyeimbang dalam pengembangan IPTEK. Ilmu dan teknologi tetap perlu berkembang mengikuti zaman dan persaingan global, tetapi harus berakar pada nilai Pancasila agar tidak kehilangan tujuan kemanusiaannya. Dengan landasan ini, pengembangan IPTEK diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjaga identitas Indonesia sebagai bangsa yang bermoral, berbudaya, dan berkeadilan.
NPM: 2515012044
Artikel ini membahas Pancasila sebagai landasan filsafat ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Perkembangan IPTEK yang sangat pesat dapat membawa dampak negatif apabila tidak disertai nilai-nilai Pancasila, terutama dalam aspek moral dan karakter bangsa. Oleh karena itu, Pancasila perlu dijadikan pedoman agar ilmu pengetahuan berkembang secara bertanggung jawab.
Pancasila dipahami bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai dasar berpikir ilmiah. Setiap sila mengandung nilai yang mengarahkan pengembangan IPTEK agar berorientasi pada ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Dengan berlandaskan Pancasila, pengembangan IPTEK diharapkan mampu memberikan manfaat yang adil dan bermakna bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Npm: 2555012003
Kelas: A
Analisis jurnal pertemuan ke 15
Jurnal ini membahas Pancasila sebagai dasar falsafah negara sekaligus filsafat ilmu yang lahir dari proses pemikiran mendalam bangsa Indonesia. Pancasila bukan hanya ideologi negara, tetapi juga pandangan hidup, pedoman tingkah laku, serta dasar persatuan dan ketahanan bangsa.
Pancasila terbentuk dari akulturasi budaya Nusantara dan pengaruh pemikiran global (Barat, Timur Tengah, Asia) yang kemudian dirumuskan menjadi dasar negara dan UUD 1945. Tokoh-tokoh seperti Soekarno menegaskan bahwa Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia yang telah hidup turun-temurun.
Sebagai filsafat ilmu, Pancasila menjadi landasan etis, moral, dan normatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ilmu tidak boleh bebas nilai, tetapi harus memperhatikan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial agar bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.
Implikasinya, pengembangan IPTEK harus berorientasi pada kebenaran, kebijaksanaan, dan kemaslahatan bangsa, bukan sekadar pemenuhan hasrat intelektual. Dengan demikian, Pancasila berfungsi sebagai pedoman berpikir, pengembangan ilmu, dan pemecahan masalah kehidupan bangsa Indonesia di tengah modernisasi dan globalisasi.
NPM : 2515012062
Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara, tapi juga bisa dipahami sebagai filsafat ilmu yang penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Intinya, kemajuan IPTEK tidak boleh berjalan sendirian tanpa nilai. Kalau ilmu dan teknologi berkembang tanpa arah moral, justru bisa membawa dampak buruk, seperti krisis etika, lunturnya budaya, dan menurunnya moral masyarakat.
Penulis ingin menekankan bahwa Pancasila berperan sebagai “penyaring” agar ilmu pengetahuan tetap berpihak pada kemanusiaan. Setiap sila memberi arah, mulai dari pentingnya nilai ketuhanan sebagai landasan berpikir, kemanusiaan agar IPTEK tidak merugikan manusia, persatuan supaya kemajuan tidak memecah bangsa, demokrasi dalam pengembangan ilmu, sampai keadilan sosial agar manfaat IPTEK bisa dirasakan semua orang, bukan segelintir pihak saja.
Secara keseluruhan, jurnal ini mengajak kita untuk lebih bijak menghadapi kemajuan zaman. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang penting, tapi akan jauh lebih bermakna jika dikembangkan dengan berpegang pada nilai-nilai Pancasila. Dengan begitu, kemajuan yang dicapai bukan hanya canggih secara teknologi, tapi juga sehat secara moral dan bermanfaat bagi kehidupan bersama.
NAMA : LUTFI PUSPITA SARI
NPM : 2515012061
KELAS : B
1.) Latar Belakang dan Masalah
Penulis menyoroti derasnya perkembangan IPTEK dan masuknya ideologi asing yang berpotensi menggerus nilai Pancasila. Permasalahan utama jurnal ini adalah bagaimana menempatkan Pancasila sebagai dasar filosofis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menimbulkan krisis moral dan identitas bangsa.
2. )Tujuan Penulisan
Jurnal ini bertujuan:
Menjelaskan Pancasila sebagai filsafat ilmu.
Mengkaji implikasi nilai-nilai Pancasila terhadap pengembangan IPTEK.
Menegaskan pentingnya Pancasila sebagai filter etis, moral, dan budaya dalam menghadapi kemajuan teknologi.
3.) Landasan Teoretis
Penulis menggunakan:
Teori filsafat (Hegel, Muhtar Latif),
Pemikiran tokoh nasional (Soekarno, Yamin, Notonegoro),
Konsep filsafat ilmu (epistemologi dan aksiologi).
Pancasila diposisikan sebagai sistem pengetahuan dan pandangan hidup yang mampu mengarahkan ilmu agar tetap berorientasi pada kemanusiaan dan kesejahteraan bersama.
4.) Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
Jurnal ini menegaskan bahwa:
Pancasila adalah hasil refleksi filosofis bangsa Indonesia.
Pancasila memenuhi unsur filsafat karena lahir dari proses berpikir mendalam dan sintesis nilai budaya.
Sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi:
>Memberi arah dan tujuan IPTEK,
>Menjadi landasan etika ilmiah,
>Mengendalikan dampak negatif ilmu pengetahuan.
5.) Analisis Implikasi Sila-Sila Pancasila terhadap IPTEK
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
IPTEK harus dikembangkan dengan kesadaran religius dan keterbatasan rasio manusia. Ilmu tidak boleh lepas dari nilai spiritual dan moral.
b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu pengetahuan harus mengabdi pada kemanusiaan, menjunjung martabat manusia, dan menolak penyalahgunaan IPTEK yang merugikan manusia.
c. Persatuan Indonesia
IPTEK dipandang sebagai sarana memperkuat nasionalisme, persatuan bangsa, dan kemandirian teknologi nasional.
d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Pengembangan IPTEK harus demokratis, terbuka terhadap kritik, serta menghargai kebebasan akademik yang bertanggung jawab.
e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
IPTEK harus dimanfaatkan secara adil dan merata demi kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya kelompok tertentu.
6.) Kesimpulan Analitis
Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi landasan filosofis dan etis dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Tanpa Pancasila, IPTEK berpotensi merusak moral, kemanusiaan, dan persatuan bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai filsafat ilmu, IPTEK diharapkan mampu menciptakan kemajuan yang berkeadilan, bermoral, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
NPM: 2515012056
KELAS: A
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia perlu menempatkan Pancasila sebagai dasar nilai dan kerangka berpikir utama agar kemajuannya tidak menghilangkan jati diri bangsa. Pancasila berfungsi sebagai penyaring terhadap pengaruh negatif globalisasi yang kerap membawa nilai-nilai yang tidak selaras dengan moral dan budaya lokal. Melalui sila Ketuhanan Yang Maha Esa, para ilmuwan diingatkan akan keterbatasan manusia serta tanggung jawab etis kepada Tuhan dalam setiap inovasi dan kebijakan yang dihasilkan. Sementara itu, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa IPTEK harus diarahkan untuk mengangkat martabat manusia, bukan menjadi sarana penindasan atau memperlebar kesenjangan sosial.
Dalam konteks persatuan dan kerakyatan, pengembangan IPTEK seharusnya memperkuat nasionalisme dan solidaritas antardaerah melalui kemudahan komunikasi yang tetap menghormati kearifan lokal. Pelaksanaannya juga perlu dilandasi prinsip musyawarah yang terbuka agar setiap kebijakan pembangunan benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas sesuai dengan semangat demokrasi Pancasila. Tanpa pengawasan etis, kemajuan teknologi berpotensi mendorong perilaku individualistis, hedonis, dan tindakan anarkis yang dapat merusak tatanan sosial.
Dari sisi ekonomi, kemandirian bangsa harus diperkuat dengan mengurangi ketergantungan pada teknologi dan lembaga asing. Pengembangan ilmu pengetahuan sebaiknya diarahkan pada penguatan produksi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dan bahan baku dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu melahirkan pemimpin dan ilmuwan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berintegritas moral serta berlandaskan nilai-nilai Pancasila demi mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
NPM : 2414 012031
KELAS : B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Ilmu dan Pengembangannya di Era Global
Pancasila sebagai paradigma ilmu berarti Pancasila dijadikan kerangka berpikir, sumber nilai, dan landasan etika dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ilmu tidak bersifat bebas nilai, tetapi harus diarahkan untuk kemanusiaan dan kepentingan bangsa.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Kebijakan ilmu:
Pengembangan IPTEK harus menghormati nilai agama dan moral.
Ilmu digunakan untuk kemaslahatan, bukan perusakan (misalnya kejahatan siber, penyalahgunaan AI).
Landasan etika:
Kejujuran ilmiah, tanggung jawab moral, dan kesadaran bahwa ilmu harus dipertanggungjawabkan secara etis dan spiritual.
Proses di era global:
Di tengah persaingan global, ilmuwan Indonesia tetap menjunjung etika, tidak melakukan plagiarisme, manipulasi data, atau penyalahgunaan teknologi.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kebijakan ilmu:
IPTEK harus berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Teknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Landasan etika:
Menghormati hak asasi manusia (HAM).
Tidak diskriminatif dalam pemanfaatan teknologi.
Proses di era global:
Ilmu digunakan untuk mengurangi kesenjangan, bukan memperlebar jurang sosial akibat digital divide.
3. Sila Persatuan Indonesia
Kebijakan ilmu:
IPTEK diarahkan untuk memperkuat persatuan dan identitas nasional.
Mengembangkan teknologi yang mendukung kepentingan nasional.
Landasan etika:
Menghindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi berbasis teknologi.
Proses di era global:
Bangsa Indonesia mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri dan budaya bangsa.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Kebijakan ilmu:
Ilmu dan teknologi dikembangkan secara demokratis dan partisipatif.
Kebijakan IPTEK melibatkan masyarakat dan berbasis musyawarah.
Landasan etika:
Keterbukaan informasi dan tanggung jawab publik.
Ilmuwan tidak elitis dan mau mendengar aspirasi rakyat.
Proses di era global:
Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan partisipasi publik dan kualitas demokrasi.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kebijakan ilmu:
IPTEK harus meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya kelompok tertentu.
Mendukung ekonomi kerakyatan dan kemandirian nasional.
Landasan etika:
Keadilan dalam distribusi manfaat IPTEK.
Keberpihakan pada kepentingan nasional dan rakyat kecil.
Proses di era global:
Menghadapi persaingan global dengan memperkuat inovasi dalam negeri dan produksi nasional.
B. Harapan tentang Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
1. Model Pemimpin Pancasilais
Pemimpin yang diharapkan adalah:
Beriman dan bermoral (Sila 1)
Menjunjung kemanusiaan dan keadilan (Sila 2)
Menyatukan bangsa di tengah keberagaman (Sila 3)
Demokratis dan bijaksana (Sila 4)
Berpihak pada kesejahteraan rakyat (Sila 5)
Di masa depan, pemimpin harus melek teknologi, tetapi tetap beretika dan berpihak pada kepentingan nasional.
2. Model Warganegara Pancasilais
Warganegara yang diharapkan:
Bijak dalam menggunakan IPTEK.
Tidak mudah terprovokasi informasi digital.
Menghormati hukum, norma sosial, dan nilai budaya.
Aktif berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.
3. Model Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan Pancasilais adalah:
Mengembangkan ilmu untuk kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat.
Menjunjung etika keilmuan dan kejujuran akademik.
Tidak sekadar mengejar kemajuan global, tetapi juga kepentingan nasional.
Mampu memfilter pengaruh global agar sesuai dengan nilai Pancasila.
Kesimpulan
Kemajuan IPTEK membawa dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila berperan penting sebagai paradigma ilmu agar perkembangan IPTEK tetap berada pada koridor nilai moral, kemanusiaan, persatuan, dem…
NPM: 2515012014
Kelas: A
ANALISIS JURNAL
Judul: Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap IPTEK
Tema Utama: Bagaimana Pancasila berfungsi sebagai filsafat ilmu dan bagaimana hal itu berdampak pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
1. Latar Belakang dan Fokus Kajian
Jurnal ini berangkat dari kenyataan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berlangsung sangat cepat dan sering kali hanya berorientasi pada kemajuan teknis. Penulis melihat adanya kebutuhan mendesak akan landasan nilai agar perkembangan IPTEK tidak kehilangan arah dan tidak merugikan manusia. Dalam konteks tersebut, Pancasila diposisikan sebagai filsafat ilmu yang mampu memberikan arah, makna, dan batasan etis bagi pengembangan IPTEK di Indonesia.
Fokus utama jurnal adalah menjelaskan bagaimana Pancasila dapat berfungsi sebagai dasar filosofis dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta apa implikasinya terhadap praktik IPTEK di tengah perkembangan global.
2. Kerangka Pemikiran dan Pendekatan
Jurnal ini menggunakan pendekatan konseptual dan filosofis dengan metode studi pustaka. Penulis mengkaji berbagai pandangan mengenai filsafat ilmu dan nilai-nilai Pancasila, kemudian mengaitkannya dengan perkembangan IPTEK. Pendekatan ini menempatkan Pancasila sebagai sumber nilai yang mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam pengembangan ilmu.
Melalui pendekatan ini, jurnal menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak bersifat netral sepenuhnya, melainkan selalu dipengaruhi oleh nilai dan kepentingan tertentu.
3. Temuan dan Argumen Utama
Jurnal menyimpulkan bahwa Pancasila memiliki peran strategis sebagai filsafat ilmu karena mampu memberikan arah nilai dalam pengembangan IPTEK. Pancasila tidak hanya menjadi dasar normatif, tetapi juga menjadi pedoman etis agar ilmu dan teknologi digunakan untuk kemaslahatan manusia.
Implikasi dari pemikiran ini adalah bahwa IPTEK seharusnya dikembangkan dengan memperhatikan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, serta keseimbangan antara kemajuan dan dampaknya. IPTEK tidak boleh hanya mengejar efisiensi dan keuntungan, tetapi harus mempertimbangkan konsekuensi sosial, budaya, dan lingkungan.
4. Analisis Kritis terhadap Jurnal
Secara konseptual, jurnal ini kuat karena berhasil menempatkan Pancasila sebagai kerangka berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Argumen yang dibangun relevan dengan kondisi saat ini, di mana banyak masalah sosial muncul akibat penggunaan teknologi tanpa pertimbangan etika.
Namun, jurnal ini masih memiliki keterbatasan. Pembahasan yang disajikan cenderung bersifat normatif dan teoritis, sehingga kurang didukung oleh contoh konkret atau studi kasus nyata. Penulis belum menunjukkan secara langsung bagaimana Pancasila dapat diterapkan dalam menghadapi persoalan IPTEK modern seperti media sosial, hoaks, kecerdasan buatan, atau eksploitasi lingkungan. Akibatnya, gagasan yang disampaikan masih berada pada tataran ideal dan belum sepenuhnya operasional.
5. Relevansi dengan Kondisi IPTEK Saat Ini
Dalam konteks perkembangan IPTEK saat ini, jurnal ini menjadi sangat relevan. Banyak persoalan muncul akibat kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan nilai dan tanggung jawab, seperti penyalahgunaan media sosial, pelanggaran privasi, serta kerusakan lingkungan akibat industrialisasi.
Pemikiran dalam jurnal ini memberikan kerangka kritis bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berarti kemajuan peradaban. Tanpa landasan nilai yang kuat, IPTEK justru dapat memperlebar ketimpangan sosial dan menurunkan kualitas kehidupan manusia.
6. Kesimpulan Analisis
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan kontribusi penting dalam memperkuat pemahaman bahwa Pancasila dapat berfungsi sebagai filsafat ilmu dalam pengembangan IPTEK. Jurnal ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan oleh nilai agar benar-benar bermanfaat bagi manusia dan bangsa.
Meskipun masih bersifat konseptual dan kurang aplikatif, gagasan yang ditawarkan jurnal ini tetap relevan sebagai dasar berpikir dalam menghadapi tantangan IPTEK di era global. Oleh karena itu, jurnal ini layak dijadikan rujukan akademik untuk membangun pengembangan IPTEK yang beretika, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas.
NPM: 2515012073
Kelas: B
TUGAS ANALISIS JURNAL PERTEMUAN KE-15
Judul: Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penulis: Syarifuddin
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga menjadi pedoman dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Perkembangan IPTEK yang sangat cepat harus disertai dengan nilai-nilai Pancasila agar tidak menimbulkan dampak negatif, seperti menurunnya moral dan hilangnya jati diri bangsa.
Ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan untuk mencari kebenaran, tetapi juga harus bermanfaat bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, pengembangan IPTEK harus memperhatikan nilai agama, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Setiap sila Pancasila memiliki peran dalam pengembangan IPTEK. Sila Ketuhanan mengajarkan bahwa manusia harus menyadari keterbatasannya dan bertanggung jawab kepada Tuhan dalam mengembangkan ilmu. Sila Kemanusiaan menekankan bahwa IPTEK harus digunakan untuk meningkatkan martabat manusia. Sila Persatuan mengarahkan IPTEK agar dapat memperkuat persatuan dan rasa cinta tanah air. Sila Kerakyatan menuntut pengembangan IPTEK yang terbuka, demokratis, dan dapat dikritik. Sila Keadilan Sosial mengajarkan bahwa manfaat IPTEK harus dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
NPM : 2515012024
1. Pancasila sebagai Fondasi Filosofis Ilmu
Artikel ini berargumen bahwa IPTEK tidak bebas nilai (value-free). Oleh karena itu, Pancasila memberikan kerangka berpikir:
Aspek Ontologis: Hakikat ilmu pengetahuan adalah untuk kemaslahatan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan makhluk sosial.
Aspek Epistemologi: Pengembangan ilmu di Indonesia harus mempertimbangkan nilai-nilai lokal, budaya, dan religiusitas bangsa, bukan sekadar meniru mentah-mentah paradigma Barat.
Aspek Aksiologi: Ilmu pengetahuan harus memiliki nilai manfaat yang berorientasi pada persatuan dan keadilan sosial, bukan untuk penindasan atau perusakan moral.
2. Tantangan IPTEK dan Moralitas
Penulis menyoroti bahwa arus informasi yang sangat deras di era digital dapat merusak mentalitas bangsa jika tidak dibarengi dengan dasar Pancasila yang kuat.
Dampak Negatif: Tanpa filter Pancasila, IPTEK dapat memicu gaya hidup hedonis, individualistis, dan lunturnya etika tradisional.
Solusi: Reaktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam setiap tahapan riset dan penerapan teknologi.
3. Implikasi bagi Ilmuwan dan Akademisi
Ilmuwan Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa inovasi yang mereka hasilkan tidak bertentangan dengan martabat manusia (Sila ke-2) dan kepentingan nasional (Sila ke-3).
Pengembangan ilmu harus bersifat demokratis (Sila ke-4), di mana ilmu pengetahuan dapat diakses dan bermanfaat bagi orang banyak, bukan hanya segelintir elite.
NPM: 2515012043
KELAS: B
Konsep Pancasila Sebagai Filsafat Ilmu
Pancasila bukan hanya dasar negara, tapi juga sebuah sistem pengetahuan dan hasil pemikiran mendalam/falsafah dari budaya Indonesia. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila memiliki fungsi, menjadi dasar dalam proses berpikir dan mencari pengetahuan. Sebagai pedoman hidup, tidak hanya mencari kebenaran, tetapi juga menjadi arahan supaya pengembangan ilmu mencapai kebahagiaan. Menjadi penyaring terhadap pengaruh derasnya informasi global dan modernisasi supaya bangsa tetap memiliki identitas.
Implikasi Sila-sila Pancasila terhadap IPTEK
Ketuhanan Yang Maha Esa: IPTEK harus menyeimbangkan antara rasional dan irasional serta akal dan rasa. Ilmuwan harus sadar akan keterbatasan manusia dan mengembalikan segalanya kepada Tuhan.
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap: Ilmu harus disesuaikan pada fungsinya untuk menyejahterakan masyarakat secara beradab, bukan untuk kesombongan atau kelompok tertentu saja.
Persatuan Indonesia: IPTEK harus digunakan untuk memperkuat rasa nasionalisme dan mempersatukan keberagaman suku serta daerah di Indonesia melalui kemajuan teknologi.
Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat, Kebijaksanaan, Dalam Permusyawaratan Perwakilan: Pengembangan ilmu harus bersifat demokratis, ilmuwan memiliki kebebasan berkarya namun harus tetap terbuka terhadap kritik dan menghargai penemuan orang lain.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: IPTEK harus menjaga keseimbangan keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar.
Relevansi dan Tantangan Saat Ini
Dari sisi positif, kemajuan teknologi memudahkan aktivitas manusia, menghemat waktu, tenaga, dan mempercepat penyelesaian pekerjaan. Dan untuk risikonya, jika tidak diikuti dengan dasar Pancasila yang kuat, IPTEK dapat menjadi aspek penghancur bangsa, terutama merusak moralitas dan mentalitas akibat banyaknya informasi asing yang tidak di saring.
Kesimpulannya
Pancasila sebagai filsafat ilmu memberikan landasan teoritis, normatif, dan moral bagi pengembangan IPTEK. Supaya kemajuan teknologi tetap searah dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, dan damai.
NPM : 2515012022
Kelas : B
Tugas Analisis Jurnal :
> Konsep Dasar Pancasila
Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, memiliki lima sila yang mencerminkan nilai-nilai yang membimbing kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila tidak hanya sebagai dasar moral, tetapi juga sebagai landasan filosofi yang mendalam untuk membangun negara dan masyarakat yang adil dan makmur.
> Pancasila Sebagai Filsafat Ilmu
Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Pancasila menekankan pada keadilan sosial, kemanusiaan, dan keselarasan antara ilmu pengetahuan dengan moralitas. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan tidak hanya dipandang sebagai alat untuk mencapai kemajuan teknologis, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara holistik, mencakup aspek moral, sosial, dan spiritual.
Pancasila juga mendorong pendekatan integratif antara berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan memperhatikan keselarasan antara ilmu, teknologi, dan kebutuhan masyarakat, terutama dalam konteks kebudayaan dan keberagaman Indonesia.
> Implikasi Sila-sila Pancasila dalam Pengembangan IPTEK
Setiap sila dalam Pancasila memiliki implikasi yang signifikan terhadap pengembangan IPTEK, sebagai berikut:
Sila 1: Ketuhanan yang Maha Esa
Implikasi: IPTEK harus berlandaskan pada nilai-nilai agama dan etika moral. Pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan harus selaras dengan ajaran agama, mengedepankan kebajikan, dan menghindari penyalahgunaan ilmu untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan. Teknologi yang berkembang harus dapat mendukung pemahaman spiritual dan mendekatkan manusia kepada Tuhan, bukan malah menjauhkan atau merusak nilai-nilai kemanusiaan.
Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Implikasi: Pengembangan IPTEK harus memperhatikan dimensi kemanusiaan, di mana hasilnya harus bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat. Teknologi tidak boleh merugikan kemanusiaan, dan harus digunakan untuk mengatasi permasalahan sosial, meningkatkan kesejahteraan, serta mengurangi ketimpangan. Dalam konteks ini, IPTEK berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup dan harkat martabat manusia.
Sila 3: Persatuan Indonesia
Implikasi: IPTEK harus memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Teknologi harus dijadikan sebagai sarana untuk mengatasi perbedaan dan mempererat hubungan antarbangsa, dengan mengedepankan toleransi dan rasa kebersamaan. Inovasi dalam bidang IPTEK harus mampu memajukan Indonesia dalam konteks global, serta meningkatkan hubungan antarwilayah dalam kerangka kesatuan Indonesia.
Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Implikasi: Pengembangan IPTEK harus mengutamakan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan ilmiah dan teknologis. Teknologi harus diperkenalkan dengan bijaksana dan dilakukan melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama yang mengutamakan kepentingan rakyat banyak, bukan hanya sekelompok orang atau pihak tertentu. Dalam konteks ini, IPTEK harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap aspek inovasi dan aplikasinya.
Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Implikasi: IPTEK harus berfokus pada penciptaan keadilan sosial. Teknologi dan ilmu pengetahuan harus digunakan untuk menciptakan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Inovasi yang ada harus dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya oleh kelompok tertentu, tetapi untuk seluruh masyarakat, baik yang tinggal di kota maupun di pedesaan.
NPM:2555012001
kelas:B
Jurnal ini menjelaskan Pancasila sebagai filsafat ilmu yang menjadi landasan moral, etika, dan sosial dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Setiap sila memberi panduan: Ketuhanan menanamkan etika religius, Kemanusiaan menekankan kemanfaatan bagi manusia, Persatuan memperkuat nasionalisme, Kerakyatan mendorong pengembangan IPTEK secara demokratis, dan Keadilan Sosial menjamin kesejahteraan merata. Dengan landasan Pancasila, IPTEK dapat berkembang tanpa merusak moral, identitas, dan nilai-nilai bangsa.
NPM: 2515012004
KELAS: B
TUGAS PERTEMUAN 15 (ANALISIS JURNAL)
Jurnal ini membahas bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan IPTEK yang pesat harus tetap diarahkan oleh nilai-nilai Pancasila agar tidak menimbulkan dampak negatif, terutama dalam hal moral dan kemanusiaan. Tanpa nilai tersebut, ilmu pengetahuan bisa disalahgunakan dan menjauh dari tujuan kesejahteraan manusia.
Selain itu, pancasila dipandang sebagai hasil pemikiran bangsa Indonesia yang lahir dari budaya dan pengalaman sejarah. Karena itu, Pancasila layak dijadikan pedoman berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Setiap sila memiliki peran, seperti menjaga keseimbangan antara akal dan moral, menumbuhkan sikap kemanusiaan, memperkuat persatuan, menjunjung demokrasi, serta mewujudkan keadilan sosial.
2515012086
Pada jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai filsafat ilmu yang menjadi landasan dalam cara berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Perkembangan IPTEK yang sangat pesat perlu diarahkan agar tidak merusak moral, nilai kemanusiaan, dan jati diri bangsa.
Ilmu pengetahuan harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai Pancasila, mulai dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, hingga keadilan sosial. Setiap sila memberikan pedoman etis agar IPTEK digunakan untuk kesejahteraan manusia, bukan sekadar kemajuan material atau kepentingan kelompok tertentu.
Implikasinya, Pancasila berperan sebagai penyaring dan pengendali IPTEK, sehingga kemajuan ilmu tetap selaras dengan nilai moral, budaya, dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, IPTEK diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara adil, manusiawi, dan berkelanjutan.
NPM: 2515012011
KELAS: B
ANALISIS JURNAL PERTEMUAN KE 15
Jurnal ini merinci bagaimana setiap sila dalam Pancasila harus menjiwai pengembangan IPTEK, seperti:
> Sila 1 (Ketuhanan): Teknologi harus dibuat dengan sadar bahwa ada batasan manusia dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta.
> Sila 2 (Kemanusiaan): Teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk menyiksa atau merendahkan orang lain. Teknologi harus menjadikan kita semakin beradab, bukan biadab.
> Sila 3 (Persatuan): Kemajuan teknologi seperti internet harusnya mampu membuat Indonesia semakin kompak dan bersatu, bukan justru memecah belah akibat hoaks atau adu domba.
> Sila 4 (Demokrasi): Ilmuwan harus bebas berkarya, tetapi juga harus menerima kritik dan menghargai pendapat orang lain.
> Sila 5 (Keadilan): Hasil teknologi harus bisa dirasakan manfaatnya oleh semua orang secara adil, bukan hanya untuk orang kaya atau kelompok tertentu saja.
Pengembangan IPTEK yang tidak berdasar dengan Pancasila dikhawatirkan akan menjadi aspek penghancur bangsa, terutama dari sisi mentalitas. Oleh karena itu, menjadikan Pancasila sebagai landasan proses berpikir diharapkan dapat membawa perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, dan damai.
NAMA: MUHAMMAD NURUL YAQIN
NPM: 2515012054
KELAS: B
Jurnal ini sebenarnya sedang menyuarakan sebuah kegelisahan yang sangat relevan: bisakah kita maju secara teknologi tanpa kehilangan jati diri? Penulis tidak melihat Pancasila cuma sebagai slogan politik atau hafalan di sekolah, tapi sebagai sebuah "filsafat ilmu". Artinya, setiap kali kita berpikir, menciptakan, atau memakai teknologi, nilai-nilai Pancasila harusnya sudah ada di sana sebagai pondasi utamanya. Tanpa itu, kemajuan IPTEK justru bisa jadi bumerang yang merusak moral dan identitas kita sebagai bangsa.
Secara ide, jurnal ini sangat kuat karena mengingatkan kita kalau Pancasila itu bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari sejarah panjang dan budaya kita sendiri. Penulis ingin menggeser paradigma ilmu modern yang seringkali dianggap "bebas nilai" atau sekadar alat untuk cari cuan dan kekuasaan. Bagi Indonesia, ilmu pengetahuan itu punya tugas suci: mencari kebijaksanaan, bukan cuma kebenaran rasional yang dingin. Ilmu harus bikin hidup manusia jadi lebih berkualitas, baik secara fisik maupun batin.
Bagian yang paling menarik adalah bagaimana setiap sila diterjemahkan ke dalam dunia teknologi:
Sila 1 (Ketuhanan): Mengingatkan ilmuwan agar tidak merasa jadi "Tuhan" yang bisa melakukan apa saja tanpa batas moral.
Sila 2 (Kemanusiaan): Teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia, bukan malah menindas atau merendahkan martabat kita.
Sila 3 (Persatuan): Inovasi harusnya bikin kita makin mandiri dan kompak sebagai bangsa, bukan malah bikin kita makin ketergantungan sama asing.
Sila 4 (Kerakyatan): Ilmu itu harus "terbuka". Jangan cuma jadi mainan kaum elit, tapi harus bisa dikritisi dan bermanfaat buat orang banyak.
Sila 5 (Keadilan): Hasil dari teknologi harus bisa dinikmati secara merata, dari Sabang sampai Merauke, sambil tetap menjaga alam.
Meskipun pembahasannya sangat mendalam secara filosofis, jurnal ini memang sedikit "kurang bumbu" di bagian contoh nyata di era digital—seperti bagaimana etika Pancasila menghadapi isu AI atau data pribadi. Tapi secara keseluruhan, pesannya sangat jelas: IPTEK tidak boleh netral. Teknologi harus berpihak pada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
NPM: 2515012009
1. Tujuan dan Fokus Jurnal
Jurnal ini bertujuan untuk:
- Menjelaskan kedudukan Pancasila sebagai filsafat ilmu.
- Menjabarkan implikasi nilai-nilai Pancasila terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
- Menegaskan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai dasar normatif dan etis dalam menghadapi arus perkembangan IPTEK yang sangat cepat dan global.
2. Pancasila sebagai Filsafat Ilmu
Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga merupakan sistem filsafat yang lahir dari proses historis, kultural, dan intelektual bangsa Indonesia. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila:
- Menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam pengembangan ilmu.
- Menjaga keseimbangan antara aspek rasional dan spiritual.
- Menjadi pedoman dalam memaknai realitas, menyelesaikan masalah, dan mengarahkan tujuan ilmu untuk kesejahteraan manusia.
Pancasila diposisikan sebagai sistem nilai yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pengembangan IPTEK.
3. Implikasi Lima Sila terhadap Pengembangan IPTEK
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
- Ilmu harus dikembangkan dengan kesadaran akan keterbatasan manusia dan keberadaan Tuhan.
- Menekankan pentingnya nilai spiritual, moral, dan etika dalam proses ilmiah.
- Mendorong keseimbangan antara akal dan rasa, rasionalitas dan iman.
b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
- IPTEK harus diarahkan untuk kemaslahatan umat manusia, bukan untuk dominasi atau eksploitasi.
- Menolak penggunaan ilmu yang merusak martabat manusia.
- Menekankan pentingnya moralitas dan budaya dalam pengembangan ilmu.
c. Persatuan Indonesia
- IPTEK harus memperkuat integrasi nasional dan mempererat solidaritas antar daerah dan kelompok.
- Mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan konteks lokal dan memperkuat identitas nasional.
d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
- Pengembangan IPTEK harus demokratis, terbuka terhadap kritik, dan melibatkan partisipasi masyarakat.
- Ilmuwan harus memiliki kebebasan akademik, namun tetap bertanggung jawab secara sosial dan etis.
e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
- IPTEK harus diarahkan untuk pemerataan manfaat, bukan hanya untuk kelompok tertentu.
- Menekankan pentingnya keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keadilan dalam akses terhadap teknologi dan pendidikan.
4. Kekuatan Jurnal
- Menyajikan pendekatan filosofis yang mendalam dan kontekstual terhadap Pancasila.
- Memberikan kerangka nilai yang jelas dan aplikatif untuk pengembangan IPTEK.
- Menyediakan penjabaran sistematis dari setiap sila dan relevansinya terhadap ilmu pengetahuan.
5. Catatan Kritis
- Jurnal ini bersifat konseptual dan normatif, belum disertai data empiris atau studi kasus konkret.
- Beberapa bagian bersifat repetitif dan dapat dipadatkan untuk meningkatkan kejelasan.
- Perlu penguatan pada aspek implementatif, misalnya bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kebijakan riset, kurikulum pendidikan tinggi, atau inovasi teknologi.
6. Kesimpulan
Pancasila sebagai filsafat ilmu memberikan arah normatif dan etis dalam pengembangan IPTEK di Indonesia. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar berpikir dan bertindak, ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi alat kemajuan teknis, tetapi juga sarana untuk membangun peradaban yang adil, beradab, dan bermartabat. Dalam konteks globalisasi dan modernisasi, Pancasila berperan sebagai filter nilai dan penuntun arah agar IPTEK tetap berpihak pada kemanusiaan dan keutuhan bangsa.
NPM: 2515012076
KELAS: B
Jurnal “Urgensi Penegasan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan IPTEK” karya Ika Setyorini membahas pentingnya Pancasila sebagai landasan nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penulis menegaskan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi nilai budaya, agama, dan moral bangsa yang seharusnya menjiwai seluruh aktivitas kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah. Dengan dasar ini, pengembangan IPTEK tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis, tetapi juga tetap menjaga nilai kemanusiaan dan kepribadian bangsa.
Jurnal ini menjelaskan bahwa kemajuan IPTEK memang membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti kemudahan dan peningkatan kesejahteraan. Namun, penulis juga menekankan bahwa IPTEK dapat menimbulkan dampak negatif apabila tidak dibarengi dengan nilai etika. Oleh karena itu, Pancasila diposisikan sebagai rambu normatif yang berfungsi mengarahkan dan mengendalikan perkembangan ilmu agar tidak menyimpang dari nilai kemanusiaan, keadilan, dan moralitas bangsa Indonesia.
Penulis juga menguraikan Pancasila sebagai sistem nilai yang terdiri dari nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis. Melalui pembagian ini, Pancasila dipandang tetap relevan dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya. Selain itu, setiap sila Pancasila dijelaskan memiliki peran etis dalam pengembangan IPTEK, mulai dari tanggung jawab moral, penghormatan terhadap martabat manusia, penguatan persatuan bangsa, sikap demokratis, hingga keadilan sosial.
Kelebihan dari jurnal ini adalah pembahasannya yang cukup komprehensif dan sistematis dalam menjelaskan posisi Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan IPTEK. Penulis mampu mengaitkan Pancasila dengan aspek historis, sosiologis, dan politis sehingga argumen yang disampaikan terasa kuat dan relevan dengan kondisi Indonesia. Selain itu, penggunaan rujukan dari berbagai sumber akademik memperkuat isi jurnal dan menunjukkan dasar teoritis yang jelas.
Namun, kekurangan jurnal ini terletak pada pembahasan yang cenderung normatif dan konseptual. Jurnal ini masih minim contoh konkret penerapan nilai Pancasila dalam pengembangan IPTEK di kehidupan nyata, khususnya pada bidang-bidang ilmu tertentu. Selain itu, bahasa yang digunakan cukup padat dan teoritis sehingga bagi pembaca awam atau mahasiswa awal, diperlukan pemahaman ekstra untuk menangkap isi pembahasannya secara menyeluruh.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan kontribusi penting dalam memperkuat pemahaman tentang urgensi Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Meskipun masih memiliki keterbatasan dalam contoh aplikatif, jurnal ini tetap relevan sebagai bahan refleksi agar kemajuan IPTEK tidak lepas dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
NPM : 2515012060
Analisis Jurnal: Pancasila sebagai Filsafat Ilmu dan Implikasi terhadap Pengembangan Iptek
1. Pancasila sebagai Filsafat Ilmu (Paradigma Berpikir)
Pancasila bukan sekadar ideologi negara, melainkan sebuah sistem filsafat dan pengetahuan yang lahir dari pemikiran mendalam serta akulturasi budaya nusantara. Sebagai filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai:
Landasan Berpikir: Menjadi pijakan dalam proses pencarian kebenaran dan kebijaksanaan yang tidak hanya memuaskan hasrat ingin tahu, tetapi juga menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Filter Ideologis: Membantu bangsa Indonesia mengambil sikap terbuka namun kritis terhadap dampak modernisasi dan informasi global yang masuk tanpa bendung.
Penyelesaian Masalah: Memberikan wawasan rasional dan argumentasi universal untuk memecahkan masalah dasar hidup secara nasional maupun global.
2. Implikasi Sila-Sila Pancasila dalam Pengembangan Iptek
Pengembangan ilmu pengetahuan harus memiliki tanggung jawab moral yang berlandaskan pada kelima sila Pancasila:
Sila Pertama (Ketuhanan): Menempatkan Tuhan sebagai pusat alam semesta, bukan manusia. Implikasinya, ilmuwan harus memahami batas kemampuan pikirnya dan menciptakan keseimbangan antara rasional (akal) dan irrasional (rasa/religi).
Sila Kedua (Kemanusiaan): Iptek harus dikendalikan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Ilmu harus dikembalikan pada fungsinya untuk kemanusiaan secara adil, bukan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu atau membuat manusia menjadi angkuh.
Sila Ketiga (Persatuan): Iptek berperan dalam memperkuat rasa nasionalisme dan persaudaraan antar-daerah melalui kemudahan interaksi. Pengembangan ilmu harus ditujukan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI.
Sila Keempat (Kerakyatan): Iptek harus dikembangkan secara demokratis. Setiap ilmuwan memiliki kebebasan berkarya, namun wajib menghormati kebebasan orang lain serta bersikap terbuka terhadap kritik dan pengkajian ulang teori.
Sila Kelima (Keadilan): Pengembangan iptek harus menjaga keseimbangan keadilan dalam lima hubungan: manusia dengan dirinya, Tuhan, sesama, masyarakat/negara, dan alam lingkungan.
3. Harapan terhadap Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan
Berdasarkan teks jurnal, figur ideal yang Pancasilais didefinisikan sebagai berikut:
Pemimpin: Sosok yang menjalankan kedaulatan rakyat dengan hikmat kebijaksanaan, jujur, dan bertanggung jawab baik kepada Tuhan maupun rakyat yang diwakilinya.
Warganegara: Individu yang memiliki moralitas dan mentalitas kuat agar tidak hancur oleh derasnya arus informasi global. Warganegara harus menjunjung tinggi patriotisme dan kerukunan antarumat beragama.
Ilmuwan: Inovator yang tidak hanya bertumpu pada bangsa asing, melainkan aktif mengembangkan iptek demi kemandirian bangsa (masyarakat madani). Ilmuwan harus memiliki tanggung jawab moral dalam menggunakan pengetahuannya demi kesejahteraan umum.
Simpulan:
Tanpa dasar Pancasila yang kuat, perkembangan Iptek dapat menjadi aspek penghancur bangsa dari segi moral dan mental. Oleh karena itu, Pancasila harus tetap menjadi landasan teoritik, normatif, dan intrinsik bagi setiap penguasaan teknologi di Indonesia.
Nama : Adeline Trianita Maulana
NPM : 2515012029
Kelas : A
Jurnal ini membahas bahwa Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai filsafat ilmu yang menjadi landasan moral dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penulis menjelaskan bahwa Pancasila lahir dari pemikiran bangsa sendiri dan memuat nilai-nilai yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk itu, ketika ilmu dan teknologi berkembang sangat cepat, Pancasila tetap harus dijadikan panduan dalam berpikir dan bertindak agar kemajuan tersebut tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan, moral, dan budaya bangsa.
Dalam jurnal disebutkan bahwa perkembangan IPTEK yang tidak dibarengi dengan dasar Pancasila yang kuat justru bisa berpotensi merusak bangsa, terutama dari segi moral dan mental masyarakat. Pancasila sebagai filsafat ilmu memberikan arah agar pembangunan teknologi tidak hanya sekedar mengejar kemajuan, tetapi juga mengedepankan moral, etika, dan tanggung jawab sosial.
Selanjutnya, jurnal ini juga menguraikan implikasi dari setiap sila Pancasila terhadap IPTEK. Misalnya, sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa pengembangan ilmu harus tetap menghargai batas kemampuan akal dan tidak mengabaikan nilai spiritual; serta memberi pemahaman bahwa manusia bukan pusat segalanya, tetapi bagian dari kehidupan yang lebih luas. Dengan demikian, nilai-nilai Pancasila seperti religius, adil, dan hormat terhadap sesama menjadi bagian penting dalam cara kita menyikapi dan mengembangkan IPTEK.
Secara keseluruhan, jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila sebagai filsafat ilmu penting untuk menjaga arah perkembangan IPTEK agar tetap etis dan berakar pada nilai bangsa sendiri. Dengan Pancasila sebagai pedoman, pengembangan ilmu tidak hanya mengejar kemajuan teknologi semata, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan sosial, moral, dan budaya masyarakat Indonesia.
NPM : 2515012066
Jurnal ini menjelaskan bahwasanya Pancasila dipahami sebagai hasil pemikiran mendalam bangsa Indonesia yang lahir dari proses sejarah panjang, akulturasi budaya, serta pengalaman penjajahan. Ia bukan hanya dasar negara, tetapi juga pandangan hidup dan sistem nilai yang membimbing seluruh aspek kehidupan bangsa, termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks filsafat ilmu, Pancasila berfungsi sebagai landasan epistemologis, aksiologis, dan ontologis yang menuntun arah berpikir, tujuan, serta penggunaan ilmu pengetahuan agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan dan moral bangsa.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, kemajuan IPTEK mempermudah kehidupan manusia, mempercepat arus informasi, serta meningkatkan efisiensi kerja. Namun di sisi lain, tanpa landasan nilai yang kuat, IPTEK berpotensi merusak tatanan moral, budaya, dan mentalitas bangsa. Oleh karena itu, Pancasila diposisikan sebagai filter dan pedoman etis agar ilmu pengetahuan tidak berkembang secara bebas tanpa arah, melainkan tetap berorientasi pada kemaslahatan manusia dan bangsa Indonesia.
Sebagai filsafat ilmu, Pancasila menempatkan kegiatan ilmiah tidak semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia, tetapi juga untuk mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan lahir batin. Ilmu pengetahuan harus memperhatikan dimensi ketuhanan, kemanusiaan, sosial, dan keadilan. Dengan demikian, kebenaran ilmiah tidak berdiri netral dan bebas nilai, melainkan terikat pada tanggung jawab moral dan spiritual.
Nilai Ketuhanan menegaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan rasional, sehingga pengembangan ilmu pengetahuan harus disertai kesadaran akan keberadaan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Ilmu tidak boleh menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan. Nilai ini mendorong integrasi antara akal dan moral serta antara rasionalitas dan spiritualitas dalam pengembangan IPTEK.
Nilai Kemanusiaan mengarahkan ilmu pengetahuan agar berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. IPTEK tidak boleh menjadi alat penindasan, eksploitasi, atau kepentingan kelompok tertentu. Ilmu harus dikembangkan secara beradab, bermoral, dan berorientasi pada kesejahteraan umat manusia secara luas, bukan sekadar kemajuan material atau kekuasaan.
Nilai Persatuan menekankan bahwa kemajuan IPTEK harus memperkuat rasa kebangsaan dan kesatuan nasional. Ilmu pengetahuan berperan sebagai sarana penghubung antardaerah, antarsuku, dan antarkelompok sosial. Dengan pengelolaan yang tepat, IPTEK dapat menjadi alat pemersatu bangsa sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pergaulan internasional tanpa kehilangan identitas nasional.
Nilai Kerakyatan mengandung makna bahwa pengembangan ilmu pengetahuan harus berlangsung secara demokratis. Ilmuwan memiliki kebebasan akademik untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan teori, namun kebebasan tersebut harus disertai sikap terbuka, tanggung jawab sosial, serta kesediaan untuk diuji dan dikritik. IPTEK tidak boleh bersifat elitis, melainkan harus dapat diakses dan dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.
Nilai Keadilan Sosial mengarahkan agar hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia. IPTEK harus menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban manusia, antara pembangunan material dan spiritual, serta antara manusia dan lingkungan. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan tidak menciptakan kesenjangan sosial, melainkan menjadi sarana pemerataan kesejahteraan.
Secara keseluruhan, Pancasila sebagai filsafat ilmu memberikan kerangka nilai yang menyeluruh bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Ia memastikan bahwa IPTEK tidak berkembang secara bebas nilai, melainkan terarah, bermoral, dan berkeadilan. Dengan berlandaskan Pancasila, pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.
NPM : 2515012018
KELAS : B
Analisis Jurnal " PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT ILMU DAN IMPLIKASI TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN
Hasil Analisis :
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila berfungsi sebagai filsafat ilmu yang menjadi dasar berpikir, bersikap, dan bertindak dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menekankan bahwa kemajuan IPTEK yang tidak dilandasi nilai-nilai Pancasila berpotensi merusak moral, mental, dan jati diri bangsa.
Analisis dalam jurnal menunjukkan bahwa setiap sila Pancasila memiliki implikasi etis dalam pengembangan IPTEK, mulai dari tanggung jawab religius, penghormatan terhadap martabat manusia, penguatan persatuan, pengembangan ilmu secara demokratis, hingga pemerataan manfaat IPTEK bagi seluruh rakyat.
Secara keseluruhan, jurnal ini bersifat konseptual dan filosofis, namun relevan sebagai landasan teoretis yang menegaskan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai filter nilai dan arah pengembangan IPTEK agar kemajuan ilmu benar-benar membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.
NPM : 2555012002
Kelas : B
Jurnal ini menyampaikan bahwa Pancasila tidak hanya dasar negara yang dihafalkan, tapi juga bisa dijadikan cara berpikir dalam mengembangkan ilmu dan teknologi. Penulis menekankan bahwa kemajuan IPTEK sekarang memang sangat cepat dan membantu kehidupan manusia, tapi kalau tidak dibarengi nilai Pancasila, dampaknya bisa berbahaya, terutama bagi moral dan cara berpikir masyarakat. Pancasila berfungsi seperti pegangan atau rem. Ilmu dan teknologi boleh berkembang sejauh mungkin, tapi tetap harus punya batas. Ilmu tidak boleh hanya mengejar kecanggihan atau keuntungan, tapi harus bermanfaat dan tidak merugikan manusia. Setiap sila Pancasila memberi arah: ilmu harus dijalankan dengan tanggung jawab kepada Tuhan, menghargai manusia, menjaga persatuan, terbuka terhadap kritik, dan hasilnya bisa dirasakan secara adil oleh semua orang. Penulis juga menyoroti derasnya arus informasi dari luar yang masuk ke Indonesia lewat teknologi. Kalau masyarakat tidak punya dasar nilai yang kuat, mereka bisa mudah terpengaruh dan kehilangan jati diri. Karena itu, Pancasila penting sebagai penyaring agar kita tetap bisa maju tanpa meninggalkan nilai dan kepribadian bangsa. Intinya, jurnal ini mengingatkan bahwa Indonesia perlu maju dalam ilmu dan teknologi, tapi kemajuan itu harus tetap berpihak pada manusia dan berlandaskan Pancasila supaya tidak salah arah.
NPM: 2515012070
KELAS: A
Jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila merupakan hasil pemikiran mendalam para pendiri bangsa yang dipengaruhi oleh beragam tradisi keilmuan, baik dari Barat, Timur Tengah, Asia, maupun nilai lokal Nusantara. Keberagaman sumber pemikiran tersebut kemudian disatukan menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila dan UUD 1945. Hal ini menunjukkan bahwa Pancasila lahir sebagai sintesis pemikiran yang kontekstual dengan kondisi sosial, budaya, dan sejarah Indonesia.
Lebih lanjut, jurnal memposisikan Pancasila sebagai filsafat ilmu, yaitu sebagai landasan dalam proses berpikir dan pengembangan pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak dipahami secara bebas nilai, melainkan harus terikat pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan moral. Dengan pendekatan ini, ilmu tidak hanya bertujuan memenuhi rasa ingin tahu manusia, tetapi juga diarahkan untuk menjadi pedoman hidup serta sarana mencapai kesejahteraan lahir dan batin.
Analisis terhadap lima sila Pancasila menunjukkan bahwa masing-masing sila memiliki implikasi nyata terhadap pengembangan IPTEK. Nilai Ketuhanan menuntun agar ilmu dikembangkan secara etis dan rendah hati terhadap keterbatasan manusia. Nilai Kemanusiaan memastikan bahwa ilmu digunakan untuk meningkatkan martabat manusia, bukan merugikan atau menindas. Nilai Persatuan menegaskan bahwa IPTEK harus memperkuat integrasi bangsa. Nilai Kerakyatan menuntut pengembangan ilmu yang demokratis, terbuka terhadap kritik, dan bertanggung jawab. Sementara itu, nilai Keadilan Sosial menekankan bahwa manfaat ilmu dan teknologi harus dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat.
Secara keseluruhan, jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga kerangka etis dan filosofis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan menjadikan Pancasila sebagai filsafat ilmu, kemajuan IPTEK diharapkan tetap berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, dan jati diri bangsa Indonesia di tengah tantangan globalisasi.
Nama : Jihan farihah
NPM: 2515012025
Kelas : B
Jurnal ini menjelaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara untuk urusan politik, tapi juga merupakan filsafat ilmu. Artinya, setiap cara kita berpikir, belajar, dan menciptakan teknologi baru di Indonesia harus punya "ruh" atau nyawa Pancasila. Ilmu pengetahuan tidak boleh bebas nilai (netral total), melainkan harus punya tanggung jawab moral.Perkembangan teknologi (IPTEK) saat ini melaju sangat kencang. Jika kita hanya mengejar kecanggihan tanpa dasar mental yang kuat:
- Bahaya Moral: Informasi negatif (seperti radikalisme atau budaya yang merusak) bisa masuk tanpa filter.
- Aspek Penghancur: Teknologi yang canggih justru bisa menjadi alat pemecah belah bangsa jika tidak dibarengi dengan moralitas yang kuat.
Jurnal ini memberikan gambaran bagaimana Pancasila memandu para ilmuwan dan pengguna teknologi:
- Bukan Sekadar Alat: Teknologi diciptakan bukan cuma untuk mempermudah hidup, tapi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara utuh (lahir dan batin).
- Keseimbangan: Ada keseimbangan antara kemampuan akal manusia dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Jadi, sehebat apa pun teknologinya, ia tidak boleh merendahkan martabat manusia atau merusak alam.
- Solusi Masalah Bangsa: Pengembangan ilmu harus berakar dari budaya kita sendiri agar bisa menyelesaikan masalah khas Indonesia, bukan sekadar meniru mentah-mentah teknologi barat.
NPM: 2515012012
Jurnal karya Syarifuddin ini pada dasarnya ingin mengingatkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bisa dilepaskan dari nilai dasar bangsa. Pancasila, menurut penulis, tidak seharusnya hanya dipahami sebagai simbol negara atau hafalan normatif, melainkan sebagai cara berpikir yang memberi arah pada ilmu pengetahuan itu sendiri. Gagasan ini menjadi penting di tengah perkembangan IPTEK yang sangat cepat dan sering kali tidak diiringi dengan pertimbangan moral.
Penulis memulai pembahasan dengan menjelaskan asal-usul Pancasila sebagai hasil perenungan panjang para pendiri bangsa yang digali dari pengalaman sejarah, budaya, dan nilai yang hidup di masyarakat Nusantara. Penjelasan ini menunjukkan bahwa Pancasila bukan konsep abstrak yang terlepas dari realitas, melainkan lahir dari kebutuhan nyata bangsa Indonesia. Karena itu, menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang logis dan relevan dengan konteks Indonesia.
Ketika Pancasila diposisikan sebagai filsafat ilmu, penulis ingin menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berkembang secara bebas tanpa arah. Ilmu memang berangkat dari akal dan rasio, tetapi tidak cukup jika hanya berhenti pada pencapaian teknis atau kemajuan material. Ilmu juga harus mempertimbangkan nilai Ketuhanan, kemanusiaan, serta tujuan hidup manusia secara lebih luas. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan seharusnya membantu manusia menjadi lebih bijaksana, bukan justru kehilangan arah karena kemajuan teknologi yang tidak terkendali.
Pembahasan mengenai implikasi setiap sila Pancasila terhadap pengembangan IPTEK memperlihatkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat berfungsi sebagai penuntun etis. Nilai Ketuhanan mengajarkan kesadaran akan keterbatasan manusia, sehingga ilmu tidak dikembangkan dengan sikap merasa paling berkuasa. Nilai kemanusiaan menempatkan manusia sebagai tujuan, bukan sekadar alat, sehingga teknologi seharusnya meningkatkan martabat manusia, bukan merendahkannya. Sementara itu, nilai persatuan mengingatkan bahwa kemajuan IPTEK seharusnya memperkuat kebersamaan bangsa, bukan menciptakan jarak sosial atau konflik.
Nilai kerakyatan dan keadilan sosial juga memberikan tekanan bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara terbuka, bertanggung jawab, dan tidak elitis. Ilmu seharusnya bisa dikritik, dikaji ulang, dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas. Jika IPTEK hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, maka tujuan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan Pancasila menjadi sulit terwujud.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan sudut pandang bahwa Pancasila dapat menjadi fondasi moral sekaligus filosofis dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun pembahasannya cukup teoritis, gagasan yang disampaikan tetap relevan dengan kondisi saat ini, ketika kemajuan teknologi sering kali lebih cepat daripada kesiapan nilai dan etika penggunanya. Jurnal ini mengajak pembaca untuk tidak memandang IPTEK sebagai sesuatu yang netral, melainkan sebagai hasil pilihan manusia yang seharusnya dipertanggungjawabkan secara moral dan sosial.
NPM: 2515012003
KELAS: A
TUGAS ANALISIS JURNAL
Jurnal ini membahas bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga landasan cara berpikir dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Isi utamanya menekankan bahwa kemajuan IPTEK harus tetap diarahkan oleh nilai-nilai Pancasila agar tidak merusak moral, budaya, dan persatuan bangsa.
Setiap sila memberi panduan etika dalam ilmu:
Sila Ketuhanan menekankan tanggung jawab moral dan kesadaran spiritual dalam penggunaan ilmu.
Sila Kemanusiaan mengingatkan bahwa IPTEK harus memuliakan manusia dan mencegah ketidakadilan.
Sila Persatuan mengarahkan IPTEK agar memperkuat nasionalisme dan kebersamaan.
Sila Kerakyatan menekankan sikap terbuka, dialog, dan kebebasan ilmiah yang tetap bertanggung jawab.
Sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa hasil pengembangan ilmu harus memberi manfaat bagi seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Secara umum, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila berfungsi sebagai “filter” dan kompas moral agar perkembangan IPTEK di era global membawa kebaikan bagi manusia dan kehidupan bangsa.