Forum Analisis Soal-2
Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai paradigma ilmu, yaitu sebagai kerangka berpikir, sumber nilai, dan landasan etika dalam pengembangan setiap disiplin ilmu di Indonesia. Pancasila memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berkembang secara bebas tanpa arah, melainkan tetap berpijak pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam setiap disiplin ilmu, Pancasila menjadi pedoman agar pengembangan ilmu tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi, tetapi juga pada kemanfaatan bagi masyarakat luas. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun ilmu agar dikembangkan secara bermoral dan bertanggung jawab. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan ilmu tidak merugikan martabat manusia. Nilai Persatuan Indonesia mengarahkan ilmu untuk memperkuat keutuhan bangsa, sedangkan nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial menuntut agar hasil ilmu dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.
Di tengah persaingan global yang sangat ketat, Pancasila berfungsi sebagai filter terhadap pengaruh globalisasi. Ilmu pengetahuan dari luar dapat diadopsi dan dikembangkan, tetapi tetap disesuaikan dengan nilai dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pancasila menjadikan pengembangan ilmu di Indonesia tidak kehilangan identitas nasional, sekaligus tetap mampu bersaing secara global secara etis dan bermartabat.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Harapan saya, Indonesia memiliki pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam sikap dan tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana. Pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang jujur, adil, bijaksana, mengutamakan kepentingan rakyat, serta mampu menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab dan bermoral.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, serta aktif menjaga persatuan dan keharmonisan sosial. Di tengah perkembangan IPTEK, warga negara juga diharapkan cerdas secara digital, tidak mudah terprovokasi hoaks, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sekadar untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ilmuwan harus menjunjung tinggi etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam setiap riset dan inovasi yang dilakukan.
Dengan terwujudnya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global, memanfaatkan kemajuan IPTEK secara positif, serta mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
NAMA:AYU DEWI PRASTIYANI
NPM:2515012002
KELAS:B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu Arsitektur
Pancasila berfungsi sebagai landasan etika dan kebijakan agar kemajuan teknologi dalam arsitektur tidak hanya mengejar keindahan visual, tetapi juga kesejahteraan masyarakat dan kelestarian bangsa.
Sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa): Arsitektur harus menghormati nilai-nilai keagamaan dan lingkungan sebagai ciptaan Tuhan. Contohnya, dalam merancang bangunan, aspek keberlanjutan (sustainability) adalah bentuk tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta.
Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Pemanfaatan IPTEK (seperti software simulasi bangunan) harus bertujuan menciptakan ruang yang manusiawi, aman, dan nyaman bagi semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.
Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Arsitektur harus memperkuat identitas nasional. Penggunaan teknologi konstruksi modern sebaiknya dikombinasikan dengan kearifan lokal (Arsitektur Nusantara) untuk menjaga persatuan dan keunikan budaya bangsa.
Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): Kebijakan pembangunan dan tata kota harus melibatkan aspirasi masyarakat. Teknologi digital harus memudahkan partisipasi publik dalam perencanaan ruang kota.
Sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Kemajuan IPTEK dalam arsitektur harus dirasakan manfaatnya secara merata. Arsitek dituntut merancang hunian terjangkau bagi rakyat kecil, bukan hanya bangunan mewah bagi segelintir kaum hedonis.
Proses di Tengah Persaingan Global: Di tengah persaingan global, arsitek Indonesia harus tetap berpegang pada produksi domestik dan bahan baku dalam negeri daripada terlalu bergantung pada standar atau material multilateral.
B. Harapan Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Berdasarkan teks tersebut, harapan untuk masa depan adalah:
Model Pemimpin: Pemimpin yang mampu menjadi regulator yang bijak dalam menghadapi pasar bebas agar ekonomi dan pembangunan tidak sepenuhnya dikuasai asing. Pemimpin arsitektur/pembangunan harus berorientasi kepada rakyat dan mendukung kemajuan kesejahteraan umum.
Model Warganegara: Warganegara yang bijak dalam menggunakan IPTEK, tidak terjebak dalam gaya hidup hedonisme, konsumtif, atau individualisme yang dipicu oleh teknologi. Warganegara diharapkan tetap menjaga norma sosial dan tidak menyalahgunakan teknologi untuk tindakan anarkis atau pelanggaran hukum (seperti hacking).
Model Ilmuwan (Arsitek/Insinyur): Ilmuwan yang profesional, transparan, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan IPTEK. Mereka diharapkan mampu memperkuat produksi domestik dengan menggunakan bahan baku dalam negeri agar bangsa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang mandiri.
NPM: 2515012032
Kelas: B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang dipelajari, sebagai landasan etika pengembangan ilmu, serta prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi dasar cara berpikir, sumber nilai, dan pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Pancasila memastikan bahwa ilmu yang dipelajari dan dikembangkan tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi dan kepentingan ekonomi, tetapi juga memiliki arah yang jelas dan bertanggung jawab secara moral sesuai dengan nilai-nilai bangsa.
Sebagai landasan etika, Pancasila mengarahkan pengembangan ilmu agar tetap menghormati nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara bermoral, tidak merugikan martabat manusia, serta memberi manfaat bagi masyarakat luas. Dengan berpegang pada nilai Pancasila, ilmu tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Pancasila berfungsi sebagai penyaring terhadap pengaruh globalisasi. Ilmu dan teknologi dari luar dapat diadopsi dan dikembangkan, namun tetap disesuaikan dengan nilai, budaya, dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tetap mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri nasional.
B. Bagaimanakah harapan mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia saat ini dan di masa mendatang?
Pemimpin yang Pancasilais diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana. Pemimpin harus bersikap jujur, adil, bijaksana, bertanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, dan aktif menjaga persatuan bangsa. Di era perkembangan teknologi, warga negara juga dituntut memiliki kecerdasan digital, tidak mudah terpengaruh hoaks, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan masyarakat. Ilmuwan harus menjunjung tinggi etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam setiap kegiatan penelitian dan inovasi. Dengan adanya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global dan mewujudkan tujuan nasional.
NAMA: FITRIA RAHMA WULANDARI
NPM: 2515012020
A.Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, yaitu kerangka nilai, arah, dan landasan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) agar tidak menyimpang dari jati diri bangsa, terutama di tengah persaingan global.
1.Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Pengembangan ilmu harus dilandasi nilai moral dan etika keagamaan. IPTEK tidak boleh digunakan untuk tujuan yang merusak kemanusiaan, melanggar norma agama, atau bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
2.Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu dan teknologi harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan martabat manusia. IPTEK dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menindas atau merugikan pihak lain.
3.Sila Persatuan Indonesia
Pengembangan IPTEK harus memperkuat persatuan bangsa, mendorong kemandirian nasional, serta mengurangi ketergantungan pada pihak asing, khususnya dalam bidang teknologi strategis.
4.Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Kebijakan ilmu pengetahuan harus dihasilkan melalui musyawarah dan berpihak pada kepentingan rakyat. IPTEK digunakan sebagai sarana meningkatkan partisipasi publik dan demokrasi yang sehat.
5.Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Hasil pengembangan IPTEK harus dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu, sehingga mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, Pancasila menjadi penyaring dan pengarah agar perkembangan IPTEK tetap relevan dengan nilai bangsa di tengah arus globalisasi.
B. Harapan terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
1.Pemimpin Pancasilais
Diharapkan mampu memanfaatkan IPTEK secara bijak, adil, transparan, dan bertanggung jawab. Pemimpin harus menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
2.Warga Negara Pancasilais
Warga negara diharapkan cerdas dalam menggunakan teknologi, tidak menyalahgunakan kebebasan informasi, serta tetap menjunjung nilai moral, toleransi, dan persatuan bangsa di era digital.
3.Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, kesejahteraan bangsa, serta selaras dengan nilai Pancasila, UUD 1945, dan kepentingan nasional.
Ke depan, sinergi antara pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang berlandaskan Pancasila akan menjadi kunci agar kemajuan IPTEK membawa dampak positif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi landasan nilai, arah, dan etika dalam pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap disiplin ilmu tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang bebas nilai, melainkan harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan sosial. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun pengembangan ilmu agar dilakukan secara jujur, beretika, dan tidak merusak kehidupan manusia maupun alam. Ilmu pengetahuan harus disadari sebagai amanah yang penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa ilmu dan teknologi harus berorientasi pada peningkatan martabat manusia serta menghormati hak asasi manusia. Dalam persaingan global, ilmu tidak semata-mata diarahkan pada efisiensi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial yang ditimbulkannya. Sementara itu, nilai Persatuan Indonesia mengarahkan pengembangan ilmu agar memperkuat kemandirian bangsa, menjaga identitas nasional, dan tidak menjadikan Indonesia sekadar konsumen teknologi asing. Ilmu perlu dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional serta kearifan lokal.
Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menuntut agar kebijakan ilmu dan teknologi disusun secara demokratis, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Ilmu tidak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu, melainkan harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selanjutnya, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan bahwa hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dirasakan secara merata, mengurangi kesenjangan sosial, serta mendukung kesejahteraan bersama. Di tengah persaingan global saat ini, proses pengembangan ilmu harus tetap berakar pada nilai Pancasila agar kemajuan IPTEK tidak mengorbankan keadilan dan kemanusiaan.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Pancasilais
Warganegara Pancasilais diharapkan menjadi individu yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi, kritis terhadap informasi, serta bertanggung jawab dalam ruang digital. Kemajuan IPTEK seharusnya tidak menjadikan masyarakat bersikap individualistis atau kehilangan nilai sosial, melainkan memperkuat toleransi, solidaritas, dan persatuan. Warganegara yang Pancasilais mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal produktif sekaligus menjaga etika dan norma sosial.
Ilmuwan Pancasilais diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan dan bangsa, bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Ilmuwan harus menjunjung tinggi kejujuran akademik, etika penelitian, serta tanggung jawab sosial. Dalam menghadapi persaingan global, ilmuwan Indonesia diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang berdaya saing tinggi, namun tetap berlandaskan nilai Pancasila sebagai identitas dan pedoman moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
NPM: 2515012007
Kelas: B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Ilmu
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu yang menjadi landasan nilai, arah kebijakan, dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tengah persaingan global.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Ilmu pengetahuan dikembangkan dengan menjunjung nilai moral dan tanggung jawab kepada Tuhan, sehingga tidak disalahgunakan dan tetap menghormati nilai agama.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pengembangan ilmu harus berorientasi pada kemanusiaan, tidak merugikan manusia, serta menghormati martabat dan hak asasi manusia.
Sila Persatuan Indonesia
Ilmu dan teknologi diarahkan untuk memperkuat persatuan bangsa, mengurangi kesenjangan, dan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Pengembangan ilmu dilakukan secara demokratis, terbuka terhadap kritik, dan melibatkan partisipasi masyarakat serta komunitas ilmiah.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan harus memberi manfaat yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Proses pengembangan ilmu di era global dilakukan dengan bersikap terbuka terhadap kemajuan IPTEK dunia, namun tetap menyaringnya berdasarkan nilai-nilai Pancasila agar tidak kehilangan identitas bangsa.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Pancasilais
Harapan ke depan adalah lahirnya pemimpin Pancasilais yang berintegritas, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Warganegara Pancasilais diharapkan memiliki sikap kritis, bijak dalam menggunakan teknologi, toleran, dan bertanggung jawab secara sosial.
Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang inovatif namun tetap beretika, berorientasi pada kesejahteraan bangsa, serta tidak melepaskan diri dari nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
NPM:2515012058
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang dipelajari, sebagai landasan etika pengembangan ilmu, serta prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila berperan sebagai pedoman nilai dan etika dalam pengembangan ilmu arsitektur, khususnya di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persaingan global. Dalam arsitektur, Pancasila menjadi dasar dalam cara berpikir, merancang, dan mengambil keputusan agar hasil karya tidak hanya indah dan modern, tetapi juga bermoral, manusiawi, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan moral agar arsitek menyadari bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Oleh karena itu, proses perancangan dan pembangunan bangunan harus dilakukan secara bertanggung jawab, tidak merusak lingkungan, serta memperhatikan prinsip keberlanjutan. Penggunaan teknologi dalam arsitektur juga harus dibatasi oleh etika agar tidak merugikan manusia maupun alam.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa arsitektur harus berorientasi pada manusia. Bangunan dan ruang publik perlu dirancang dengan memperhatikan kenyamanan, keselamatan, dan kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Arsitektur tidak boleh hanya mementingkan keuntungan ekonomi atau tren global, tetapi harus menjunjung martabat manusia dan nilai kemanusiaan.
Sila Persatuan Indonesia mengajarkan pentingnya menjaga identitas dan jati diri bangsa dalam arsitektur. Di tengah globalisasi, arsitek Indonesia dituntut untuk tetap menghargai budaya lokal, kearifan tradisional, dan kondisi lingkungan setempat. Arsitektur yang berlandaskan persatuan akan memperkuat rasa kebangsaan dan mencegah hilangnya karakter arsitektur Indonesia akibat pengaruh budaya asing.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan tercermin dalam proses perencanaan dan pembangunan yang melibatkan masyarakat. Arsitek perlu membuka ruang dialog dengan warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya agar keputusan desain diambil melalui musyawarah dan tidak merugikan pihak tertentu. Dengan demikian, arsitektur dapat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut agar pengembangan arsitektur tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Arsitektur harus mendukung pemerataan pembangunan, seperti penyediaan hunian layak, fasilitas umum, dan ruang publik yang mudah diakses semua orang. Di tengah persaingan global, ilmu arsitektur harus diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan sosial, bukan sekadar keuntungan ekonomi.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya harapkan lahir pemimpin Pancasilais yang jujur, adil, dan bijaksana dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan rakyat serta pembangunan yang berkelanjutan. Warga negara Pancasilais diharapkan mampu bersikap kritis, bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi, serta tetap menjaga persatuan dan menghargai perbedaan. Sementara itu, ilmuwan dan akademisi Pancasilais, termasuk arsitek, diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan teknologi secara kreatif dan inovatif, namun tetap berpegang pada nilai moral, etika, dan keadilan sosial. Dengan demikian, kemajuan IPTEK dan arsitektur di Indonesia dapat berjalan seimbang antara modernitas, kemanusiaan, dan nilai-nilai Pancasila.
NPM : 2515012074
KELAS : A
ANALISIS SOAL
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Menurut saya, Pancasila punya peran penting sebagai paradigma ilmu supaya pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya fokus pada kemajuan teknologi dan persaingan global, tetapi juga tetap punya arah dan nilai. Dalam disiplin ilmu Arsitektur yang saya pelajari, Pancasila bisa menjadi dasar dalam menentukan bagaimana ilmu dan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa dalam mengembangkan ilmu arsitektur perlu ada kesadaran moral, kejujuran, dan tanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun terhadap manusia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa bangunan dan ruang yang dirancang seharusnya memperhatikan kenyamanan, keselamatan, dan kebutuhan manusia, bukan hanya nilai estetika atau keuntungan semata. Sila Persatuan Indonesia mendorong agar dalam menghadapi persaingan global, arsitektur tetap mempertahankan identitas dan budaya lokal, tanpa menutup diri dari perkembangan teknologi modern. Sila Kerakyatan menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, sedangkan sila Keadilan Sosial menjadi tujuan akhir agar hasil pembangunan bisa dirasakan oleh semua kalangan, bukan hanya kelompok tertentu.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya berharap pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang tidak hanya pintar dan mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga punya sikap adil dan peduli terhadap masyarakat. Pemimpin seharusnya mampu menggunakan kemajuan IPTEK untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Sebagai warganegara, sikap Pancasilais bisa ditunjukkan dengan menggunakan teknologi secara bijak, tidak mudah terprovokasi, dan tetap menghargai perbedaan. Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan tidak lepas dari nilai kemanusiaan. Ke depan, pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang berpegang pada nilai Pancasila sangat dibutuhkan agar kemajuan IPTEK benar-benar membawa dampak positif bagi Indonesia.
NAMA : Nanda Hanifatuzzakiyyah
NPM : 2515012050
KELAS : B
A. Pancasila Sebagai Paradigma dan Etika Ilmu
Pancasila itu bukan hanya pajangan, tapi ibarat sistem operasi buat ilmu yang kita pelajari. Di tengah persaingan global yang keras, ilmu kita tidak hanya boleh cuma cari untung, tapi harus punya etika.
Sila 1 (Ketuhanan): Menjadi landasan bahwa setiap penemuan atau teknologi yang dipelajari harus punya tanggung jawab moral kepada Tuhan dan menjaga alam.
Sila 2 (Kemanusiaan): Ilmu harus dipakai untuk memanusiakan manusia. Etikanya, perkembangan ilmu tidak boleh membuat orang jadi budak mesin atau merendahkan martabat orang lain.
Sila 3 (Persatuan): Kebijakan ilmu harus bisa menyatukan bangsa. Di tengah dunia digital, ilmu harusnya dipakai untuk mempererat persaudaraan, bukan untuk memecah belah.
Sila 4 (Kerakyatan): Pengembangan ilmu harus demokratis.
Sila 5 (Keadilan):Ilmu harus bisa memberi akses yang sama untuk semua orang, supaya tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin dalam menikmati teknologi.
B. Harapan Sosok Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan Masa Depan
Pemimpin yang Pancasilais: Harapannya kita punya pemimpin yang tidak hanya bisa berpidato, tapi jujur, adil, dan ingin mendengar aspirasi rakyat lewat kemajuan teknologi (transparan). Mereka harus berani pakai IPTEK untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk korupsi.
Warga Negara yang Pancasilais: Sebagai warga negara diharapkan jadi pengguna medsos yang bijak. Tidak mudah terkena hoaks, tidak hobi bully (individualisme), dan tetap punya rasa peduli sama tetangga atau komunitas meskipun sibuk sama gadget masing-masing.
Ilmuwan yang Pancasilais: Kita butuh ilmuwan yang kalau membuat inovasi, memikirkan dampaknya buat masyarakat luas. Mereka harus punya integritas tinggi, tidak hanya cari nama atau uang, tapi benar-benar ingin memajukan bangsa Indonesia supaya tidak hanya jadi pasar produk asing terus.
NPM : 2515012013
1. Pancasila berfungsi sebagai filter dan pedoman agar kemajuan IPTEK tetap berorientasi pada kepentingan bangsa Indonesia dan kesejahteraan umum. Berikut adalah rinciannya berdasarkan nilai-nilai sila Pancasila:
-Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Pengembangan ilmu harus selaras dengan nilai-nilai keagamaan agar tidak terjadi penyimpangan, seperti tindakan kriminalitas berbasis teknologi (contoh: hacking).
-Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): IPTEK harus memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia tanpa menghilangkan nilai-nilai sosial dan moral.
-Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Kemajuan IPTEK harus digunakan untuk mempererat persatuan, bukan memicu tindakan anarkis yang mengganggu stabilitas nasional.
-Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): IPTEK mendukung nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih dan jujur.
-Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Pemanfaatan teknologi harus ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa, dan mengurangi kesenjangan sosial.
Di tengah persaingan global, proses ini dilakukan dengan memperkuat produksi domestik dan tidak bergantung sepenuhnya pada badan multilateral. Negara harus menjadi regulator yang memastikan pasar tidak menguasai sepenuhnya mekanisme ekonomi sehingga kepentingan rakyat tetap terlindungi.
2. Pemimpin harus mampu mengelola IPTEK sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih, jujur, adil, dan aspiratif terhadap masyarakat.
-Model Warganegara: Diharapkan menjadi warganegara yang cerdas dalam menerima informasi, memiliki wawasan luas, namun tetap memegang teguh norma agama dan sosial. Warganegara harus menghindari sifat hedonisme, individualisme, dan tidak menyalahartikan kebebasan demokrasi untuk tindakan anarkis.
-Model Ilmuwan: Diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberikan kemudahan bagi manusia sekaligus tetap mengacu pada landasan hukum dan UUD 1945. Ilmuwan harus berorientasi pada kemandirian bangsa dengan mengoptimalkan bahan baku dalam negeri demi kesejahteraan rakyat banyak.
NPM: 2515012047
A. Pancasila berperan sebagai penyaring sekaligus arah penuntun agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berpihak pada kepentingan nasional serta kesejahteraan masyarakat. Setiap sila mengandung prinsip yang relevan dalam pengelolaan IPTEK. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa pengembangan ilmu harus sejalan dengan nilai keimanan dan moral agar tidak disalahgunakan untuk tindakan menyimpang, seperti kejahatan siber. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengamanatkan agar IPTEK dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa mengabaikan nilai sosial dan etika. Sila Persatuan Indonesia menuntut agar kemajuan teknologi digunakan sebagai sarana pemersatu bangsa, bukan pemicu konflik atau tindakan destruktif. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menempatkan IPTEK sebagai pendukung transparansi, partisipasi, dan pengawasan dalam praktik demokrasi yang sehat. Sementara itu, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menekankan bahwa teknologi harus diarahkan untuk pemerataan kesejahteraan, peningkatan kecerdasan bangsa, serta pengurangan ketimpangan sosial. Dalam konteks persaingan global, upaya tersebut perlu disertai penguatan produksi nasional dan peran negara sebagai pengatur agar mekanisme pasar tidak mengesampingkan kepentingan rakyat.
B. Para pemimpin dituntut mampu memanfaatkan IPTEK sebagai sarana untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, adil, dan responsif terhadap aspirasi masyarakat. Dari sisi warganegara, diharapkan terbentuk individu yang kritis dan cakap dalam menyaring informasi, berpengetahuan luas, serta tetap berpegang pada nilai agama dan norma sosial, sehingga tidak terjebak pada gaya hidup hedonis, sikap individualistis, maupun penyalahgunaan kebebasan demokrasi. Adapun dari sisi ilmuwan, diharapkan lahir inovasi yang mempermudah kehidupan manusia namun tetap berlandaskan hukum dan UUD 1945, serta berorientasi pada kemandirian bangsa dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya dalam negeri demi kesejahteraan masyarakat luas.