Kiriman dibuat oleh HabibahHusnul 2523031006

PKDIPS2025 -> Summary

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Masalah sosial dalam bidang politik, hukum, dan kewarganegaraan menjadi tantangan penting dalam pendidikan IPS karena memengaruhi kualitas kehidupan demokratis. Di bidang politik, rendahnya literasi politik dan maraknya disinformasi memicu polarisasi serta partisipasi publik yang tidak rasional. Pada aspek hukum, ketidakadilan dan lemahnya penegakan hukum menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Sementara itu, dalam ranah kewarganegaraan, melemahnya nilai kebangsaan dan rendahnya kesadaran akan hak serta kewajiban menunjukkan bahwa generasi muda masih rentan terhadap pengaruh negatif globalisasi. Pendidikan IPS berperan strategis untuk merespons isu tersebut dengan menanamkan kemampuan berpikir kritis, pemahaman etika hukum, dan sikap demokratis. Melalui analisis kasus isu aktual, dan simulasi sederhana tentang proses politik atau hukum, siswa diajak memahami dampak keputusan publik terhadap masyarakat. Dengan cara ini, IPS menjadi sarana penting dalam membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan berintegritas.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Upaya menumbuhkan karakter yang baik dalam konteks transmisi kewarganegaraan yang baik (good citizenship) menjadi sangat penting karena globalisasi saat ini membawa arus nilai dan gaya hidup yang tidak selalu sejalan dengan moralitas bangsa. Pertama, pembentukan karakter harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pendidikan utama, melalui penanaman nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan disiplin dalam aktivitas sehari-hari. Kedua, sekolah perlu menjadi ruang strategis untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dan kewarganegaraan ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya PPKn. Pembelajaran harus mendorong peserta didik memahami hak dan kewajiban, menghargai keberagaman, serta memiliki kesadaran kritis terhadap isu sosial, termasuk pengaruh negatif media digital. Ketiga, pendidikan karakter perlu diperkuat melalui teladan baik dari guru, orang tua, maupun tokoh publik karena keteladanan merupakan bentuk transmisi nilai yang paling efektif.

Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus menyediakan lingkungan sosial yang kondusif, seperti kegiatan organisasi pemuda, program bakti sosial, literasi digital, dan ruang kreatif bagi generasi muda untuk mengekspresikan identitas positifnya. Penguatan literasi digital menjadi penting agar mereka mampu membedakan informasi bermanfaat dan konten destruktif yang sering muncul di era globalisasi. Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaboratif antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, generasi muda dapat dibentuk menjadi warga negara yang cerdas, berkarakter, dan mampu mempertahankan nilai moral di tengah perubahan global yang begitu cepat.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Fenomena globalisasi terjadi karena kemajuan teknologi komunikasi, transportasi, dan informasi yang membuat batas antarnegara semakin kabur. Pertukaran barang, jasa, budaya, dan gagasan berlangsung sangat cepat sehingga masyarakat di berbagai belahan dunia saling terhubung dalam satu jaringan besar. Arus globalisasi juga diperkuat oleh perdagangan internasional, kerja sama ekonomi, migrasi, serta dominasi media digital global yang mendorong terjadinya homogenisasi budaya. Akibatnya, nilai dan gaya hidup dari luar negeri mudah masuk dan memengaruhi pola perilaku masyarakat, terutama generasi muda. Di tengah derasnya pengaruh global tersebut, penanaman budaya lokal menjadi strategi penting untuk membangkitkan rasa kebangsaan Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memperkuat pendidikan karakter dan sejarah bangsa di sekolah, mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran, serta mendorong kegiatan seni, bahasa daerah, dan tradisi sebagai bagian dari identitas yang membanggakan. Media sosial juga dapat dijadikan sarana kreatif untuk mengenalkan budaya lokal secara modern, misalnya melalui konten kuliner, kerajinan, tarian, atau cerita rakyat dalam format digital yang menarik. Selain itu, keterlibatan komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku budaya sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi melalui festival lokal, pelatihan budaya, serta pelindungan terhadap warisan budaya. Dengan memadukan pemahaman global dan penguatan identitas lokal, masyarakat khususnya generasi muda dapat memiliki sikap terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan akar kebangsaan. Pendekatan ini bukan hanya memperkuat rasa cinta tanah air, tetapi juga mendorong Indonesia untuk berperan aktif dan percaya diri dalam dinamika global.

PKDIPS2025 -> Summary

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Fenomena ekonomi dan bisnis pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menunjukkan bahwa kehidupan sosial manusia kini berada dalam arus perubahan yang sangat cepat, terutama karena digitalisasi dan otomatisasi telah mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi. Teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan Internet of Things membuat proses bisnis menjadi lebih efisien, tetapi juga memunculkan tantangan baru, terutama dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Meski barang dan jasa semakin mudah diakses melalui platform digital, kelangkaan tetap terjadi karena keterbatasan sumber daya alam, distribusi yang tidak merata, serta ketimpangan kapasitas manusia dalam memanfaatkan teknologi. Sisi lain, kehidupan sosial manusia juga terdampak: pola interaksi bergeser ke ruang digital, muncul pekerjaan baru sekaligus hilangnya profesi lama, serta meningkatnya kesenjangan antara individu yang melek teknologi dan yang tertinggal. Kelangkaan dalam konteks modern bukan hanya terkait sumber daya fisik, tetapi juga akses terhadap informasi, literasi digital, dan peluang ekonomi. Society 5.0 berupaya menawarkan solusi melalui integrasi teknologi berbasis kemanusiaan teknologi tidak hanya untuk efisiensi industri, tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Solusi terhadap kelangkaan dan tantangan tersebut meliputi penguatan literasi digital, peningkatan keterampilan melalui pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, serta kebijakan pemerintah yang memastikan pemerataan akses. Dengan demikian, manusia dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital sekaligus mengatasi kelangkaan secara lebih inovatif dan berkeadilan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya saling menggerakkan secara simultan: inovasi teknologi menciptakan efisiensi, produk baru, serta model bisnis yang meningkatkan produktivitas, sementara kebutuhan ekonomi seperti persaingan pasar, tuntutan konsumen, dan investasi industri, mendorong percepatan riset serta penerapan teknologi baru. Dalam konteks modernisasi ekonomi saat ini, manusia dituntut untuk beradaptasi secara cepat karena perubahan teknologi berjalan lebih cepat dibanding kemampuan kebijakan atau pendidikan dalam mempersiapkan tenaga kerja. Digitalisasi yang pesat, didorong oleh otomasi, kecerdasan buatan, serta ekonomi platform, telah menggeser jenis keterampilan yang dibutuhkan; bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga literasi digital, kecakapan berpikir kritis, kolaborasi, pemecahan masalah, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Tanpa adaptasi ini, individu berisiko tertinggal dan tergerus dari dinamika pasar kerja yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.

Agar tetap mampu bertahan (survive) dalam kehidupan yang dinamis, manusia perlu melakukan pembelajaran berkelanjutan melalui peningkatan dan pengembangan keterampilan (reskilling dan upskilling), memanfaatkan peluang kerja fleksibel seperti wirausaha digital, serta membangun ketahanan ekonomi melalui manajemen keuangan yang bijak dan kesiapan menghadapi perubahan. Upaya adaptasi juga perlu didukung oleh lingkungan sosial dan kebijakan pemerintah melalui penyediaan pelatihan, jaminan sosial, dan infrastruktur digital yang merata. Namun adaptasi paling penting tetap berasal dari individu, yaitu kesediaan untuk membuka diri terhadap inovasi, menggunakan teknologi secara produktif, serta memahami risiko dan etika dalam ekonomi digital.

Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, penting untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya memperkenalkan konsep mikro dan makro ekonomi, tetapi juga membantu peserta didik memahami realitas ekonomi masa kini dan tren yang akan datang. Pembelajaran harus bersifat interdisipliner, menggabungkan pemahaman ekonomi dengan teknologi, sosial, budaya, dan isu etika. Selain itu, pembelajaran harus berbasis kompetensi, mendorong literasi digital, kemampuan membaca data, serta pemikiran sistem dalam menganalisis perubahan ekonomi di tingkat lokal maupun global. Metode seperti project-based learning, studi kasus berbasis konteks daerah, simulasi pasar, serta analisis data sederhana perlu diintegrasikan agar siswa dapat menarik hubungan antara teori dan fenomena nyata, seperti perkembangan pasar digital, perubahan perilaku konsumen, atau dampak teknologi terhadap pekerjaan masyarakat. Dengan rancangan pembelajaran seperti ini, peserta didik bukan hanya memahami perubahan ekonomi, tetapi juga siap menghadapi tantangan dan peluang dalam ekonomi modern secara kritis, adaptif, dan berdaya saing.

Refrensi:
OECD, Employment Outlook / AI and labour market (2021–2023)
World Bank, Skills Development / Digital Skills pages & reports.