Diskusi

Diskusi

Diskusi

Jumlah balasan: 8

Ekonomi digital merubah ekonomi global, memungkinkan industri kecil menjadi industri multinasional mikro dengan elastisitas dan dinamika yang mereka miliki. Hal ini memberi kesempatan yang lebih tinggi bagi para pemula untuk terlahir secara global, digitalisasi mendorong persaingan karena memungkinkan model bisnis yang inovatif dan memungkinkan perusahaan untuk meningkat dengan cepat. Puluhan juta perusahaan kecil dan menengah di seluruh dunia telah berubah menjadi eksportir dan bergabung dengan pasar e-commerce, dan bisa bersaing dengan perusahaan multinasional terbesar. (sumber: https://www.ristekbrin.go.id/kolom-opini/persaingan-di-era-globalisasi-dan-ekonomi-digital/)

Cobalah anda kemukakan  disini mengapa perkembangan ipteks tidak pernah lepas dari sektor ekonomi? Seberapa penting manusa perlu adaptasi dalam modernisasi ekonomi dan bagaimana upaya manusia agar tetap survive dalam kehidupan yang sangat dinamis dan tidak tergerus dalam digitalisasi ekonomi yang sangat pesat saat ini. Selanjutnya sebagai calon pengembang ips, bagaimana seharusnya pembelajaran ips dirancang agar peserta didik mampu memahami kondisi saat ini dan yang akan datang dalam konteks perubahan mikro dan makro ekonomi tersebut. Silakan dielaborasi dengan analisis yg komprehensif dari berbagai sumber.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya saling menggerakkan secara simultan: inovasi teknologi menciptakan efisiensi, produk baru, serta model bisnis yang meningkatkan produktivitas, sementara kebutuhan ekonomi seperti persaingan pasar, tuntutan konsumen, dan investasi industri, mendorong percepatan riset serta penerapan teknologi baru. Dalam konteks modernisasi ekonomi saat ini, manusia dituntut untuk beradaptasi secara cepat karena perubahan teknologi berjalan lebih cepat dibanding kemampuan kebijakan atau pendidikan dalam mempersiapkan tenaga kerja. Digitalisasi yang pesat, didorong oleh otomasi, kecerdasan buatan, serta ekonomi platform, telah menggeser jenis keterampilan yang dibutuhkan; bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga literasi digital, kecakapan berpikir kritis, kolaborasi, pemecahan masalah, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Tanpa adaptasi ini, individu berisiko tertinggal dan tergerus dari dinamika pasar kerja yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.

Agar tetap mampu bertahan (survive) dalam kehidupan yang dinamis, manusia perlu melakukan pembelajaran berkelanjutan melalui peningkatan dan pengembangan keterampilan (reskilling dan upskilling), memanfaatkan peluang kerja fleksibel seperti wirausaha digital, serta membangun ketahanan ekonomi melalui manajemen keuangan yang bijak dan kesiapan menghadapi perubahan. Upaya adaptasi juga perlu didukung oleh lingkungan sosial dan kebijakan pemerintah melalui penyediaan pelatihan, jaminan sosial, dan infrastruktur digital yang merata. Namun adaptasi paling penting tetap berasal dari individu, yaitu kesediaan untuk membuka diri terhadap inovasi, menggunakan teknologi secara produktif, serta memahami risiko dan etika dalam ekonomi digital.

Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, penting untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya memperkenalkan konsep mikro dan makro ekonomi, tetapi juga membantu peserta didik memahami realitas ekonomi masa kini dan tren yang akan datang. Pembelajaran harus bersifat interdisipliner, menggabungkan pemahaman ekonomi dengan teknologi, sosial, budaya, dan isu etika. Selain itu, pembelajaran harus berbasis kompetensi, mendorong literasi digital, kemampuan membaca data, serta pemikiran sistem dalam menganalisis perubahan ekonomi di tingkat lokal maupun global. Metode seperti project-based learning, studi kasus berbasis konteks daerah, simulasi pasar, serta analisis data sederhana perlu diintegrasikan agar siswa dapat menarik hubungan antara teori dan fenomena nyata, seperti perkembangan pasar digital, perubahan perilaku konsumen, atau dampak teknologi terhadap pekerjaan masyarakat. Dengan rancangan pembelajaran seperti ini, peserta didik bukan hanya memahami perubahan ekonomi, tetapi juga siap menghadapi tantangan dan peluang dalam ekonomi modern secara kritis, adaptif, dan berdaya saing.

Refrensi:
OECD, Employment Outlook / AI and labour market (2021–2023)
World Bank, Skills Development / Digital Skills pages & reports.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Ahmad Ridwan Syuhada -
Perkembangan ipteks tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya memiliki hubungan simbiotik yang saling memperkuat. Ekonomi menjadi pendorong utama inovasi teknologi melalui investasi riset dan pengembangan, sementara ipteks menjadi enabler pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi. Sejak Revolusi Industri hingga era digital saat ini, setiap lompatan teknologi dari mesin uap, listrik, komputer, hingga AI selalu dimotivasi oleh kebutuhan ekonomi untuk mengoptimalkan produksi, menekan biaya, dan membuka pasar baru. Schumpeter menyebutnya sebagai "creative destruction" di mana inovasi teknologi menjadi motor penggerak kapitalisme. Negara-negara maju seperti AS, China, dan negara-negara Eropa mengalokasikan dana riset hingga 2-4% dari PDB mereka karena memahami bahwa investasi ipteks adalah kunci daya saing ekonomi global.

Adaptasi manusia dalam modernisasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan. Pentingnya adaptasi terletak pada kenyataan bahwa digitalisasi ekonomi telah mengubah fundamental cara produksi, distribusi, dan konsumsi. World Economic Forum memperkirakan bahwa 65% anak-anak yang masuk sekolah dasar saat ini akan bekerja pada jenis pekerjaan yang belum ada sekarang. Untuk survive, manusia perlu mengembangkan literasi digital, critical thinking, kreativitas, dan kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning). Upaya konkret meliputi: reskilling dan upskilling melalui platform pembelajaran online, membangun adaptabilitas dan resiliensi mental, mengembangkan soft skills yang tidak tergantikan oleh AI seperti empati dan kolaborasi, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat pemberdayaan bukan ancaman.

Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran perlu dirancang dengan pendekatan yang kontekstual, kritis, dan berorientasi masa depan. Pertama, kurikulum IPS harus mengintegrasikan literasi ekonomi digital, termasuk memahami e-commerce, fintech, cryptocurrency, dan sharing economy, bukan hanya teori ekonomi klasik. Kedua, menggunakan pedagogi konstruktivis dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) yang mengajak siswa menganalisis kasus nyata seperti dampak platform digital terhadap UMKM lokal atau perubahan pola konsumsi generasi Z. Ketiga, mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis data ekonomi, membandingkan berbagai perspektif tentang globalisasi, dan mengevaluasi kebijakan ekonomi. Keempat, memanfaatkan teknologi pembelajaran seperti simulasi ekonomi digital, virtual field trip ke perusahaan startup, dan project-based learning yang melibatkan siswa membuat model bisnis digital sederhana. Kelima, menanamkan kesadaran tentang perubahan mikro ekonomi (perilaku konsumen digital, gig economy) dan makro ekonomi (perdagangan internasional digital, kebijakan fiskal di era digital). Pembelajaran IPS harus menghasilkan generasi yang tidak hanya memahami kondisi saat ini tetapi mampu mengantisipasi, beradaptasi, dan bahkan menjadi agen perubahan dalam transformasi ekonomi global yang terus berlangsung.

Sumber:
Schumpeter, J.A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. New York: Harper & Brothers.
World Economic Forum. (2020). The Future of Jobs Report 2020. Geneva: World Economic Forum.
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2021). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Diakses dari https://www.ristekbrin.go.id/kolom-opini/persaingan-di-era-globalisasi-dan-ekonomi-digital/
OECD. (2019). Measuring the Digital Transformation: A Roadmap for the Future. Paris: OECD Publishing.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
NAMA : MARIA ULFA RARA ARDHIKA
NPM: 2523031009

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) dalam beberapa dekade terakhir tidak pernah terlepas dari dinamika sektor ekonomi. Hal ini terjadi karena teknologi merupakan penggerak utama produktivitas, efisiensi, dan inovasi yang menentukan arah pertumbuhan ekonomi modern. Setiap kemajuan teknologi mulai dari otomasi, kecerdasan buatan, hingga digitalisasi layanan publik secara langsung membentuk cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi barang serta jasa. OECD (2025) menegaskan bahwa inovasi teknologi adalah motor yang mempercepat transformasi struktur industri dan menciptakan nilai ekonomi baru di berbagai sektor. Sejalan dengan itu, berbagai laporan ekonomi global menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang sangat ditentukan oleh kemampuan suatu negara mengadopsi, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi informasi, komunikasi, serta inovasi digital (Fernández-Portillo et al., 2020).
Dalam dunia yang terus berubah, manusia berada pada posisi yang semakin dituntut untuk beradaptasi. Arus otomatisasi, penggunaan robotika, dan penetrasi kecerdasan buatan menyebabkan perubahan signifikan dalam lanskap pekerjaan. Beberapa jenis pekerjaan menghilang, banyak yang berubah, dan banyak pekerjaan baru muncul sebagai respon atas kebutuhan ekonomi digital. McKinsey & Company (2025) dan World Bank (2023) menunjukkan bahwa tanpa keterampilan baru dan kemampuan belajar berkelanjutan, kelompok pekerja sangat rentan kehilangan daya saing dalam ekonomi yang semakin menuntut kecakapan digital dan kognitif tingkat tinggi. Karena itu, adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar agar manusia tetap mampu bertahan (survive) sekaligus memanfaatkan peluang dalam ekosistem ekonomi digital.
Upaya bertahan dalam ekonomi modern mensyaratkan tiga jenis kemampuan utama. Pertama, literasi digital dasar, yang meliputi kemampuan memahami perangkat digital, keamanan data, dan pemanfaatan teknologi untuk bekerja maupun berproduksi. Kedua, keterampilan kognitif tingkat tinggi seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kemampuan menganalisis data. Ketiga, keterampilan sosial-emosional seperti komunikasi, kolaborasi, dan adaptabilitas. World Bank (2021) menekankan bahwa kombinasi keterampilan teknis, kognitif, dan sosial merupakan fondasi penting untuk menghadapi perubahan pasar tenaga kerja dan kompleksitas ekonomi digital. Selain itu, keberhasilan adaptasi juga dipengaruhi oleh tersedianya pelatihan vokasi, program reskilling, akses internet yang setara, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pembelajaran sepanjang hayat (UNESCO, 2023).
Fenomena ini dapat diamati secara konkret dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya para pelaku UMKM lokal di berbagai daerah, termasuk Lampung, yang mulai memanfaatkan platform e-commerce untuk memasarkan hasil kopi, keripik, atau produk olahan lainnya. Penguasaan strategi pemasaran digital menentukan apakah UMKM mampu bertahan dalam pasar yang kompetitif. Demikian pula, petani dan pembudidaya ikan pesisir harus belajar menggunakan aplikasi cuaca, sistem budidaya berbasis sensor, atau teknologi pengering hasil panen untuk meningkatkan nilai jual dan mengurangi risiko. Digitalisasi tidak hanya menciptakan persaingan baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi mereka yang mampu menyesuaikan diri.
Dalam konteks pendidikan, khususnya pendidikan IPS, perubahan besar pada sektor ekonomi dan teknologi menuntut adanya transformasi desain pembelajaran. Sebagai calon pengembang IPS, penting untuk merumuskan pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan konsep-konsep ekonomi secara teoritis, tetapi juga memampukan peserta didik memahami realitas masa kini dan masa depan, baik dalam perspektif ekonomi mikro maupun ekonomi makro. OECD (2020), dalam What Students Learn Matters, menegaskan pentingnya kurikulum yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21 sehingga siswa mampu memahami kompleksitas sosial-ekonomi global.
Pembelajaran IPS perlu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kemampuan membaca data ekonomi, dan kecakapan menganalisis fenomena sosial secara komprehensif. Dengan strategi pembelajaran berbasis masalah, siswa dapat mempelajari isu-isu nyata seperti digitalisasi UMKM di desa, dampak otomatisasi terhadap pekerjaan orang tua, ketimpangan akses digital, atau perubahan kebijakan fiskal dan moneter dalam ekonomi global. Pengalaman belajar seperti observasi lapangan, proyek kewirausahaan digital, analisis grafik ekonomi, dan diskusi kebijakan publik akan membantu peserta didik memahami bagaimana perubahan teknologi memengaruhi struktur ekonomi dan kehidupan sosial secara nyata. Pendekatan berbasis proyek ini juga selaras dengan rekomendasi OECD untuk pembelajaran bermakna, relevan, dan kontekstual (OECD, 2020).
Dengan demikian, hubungan erat antara IPTEKS dan ekonomi menandakan pentingnya adaptasi manusia terhadap modernisasi ekonomi. Dalam kehidupan yang semakin dinamis dan terdigitalisasi, manusia harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar mampu bertahan, berkembang, dan berperan aktif dalam menciptakan inovasi. Pendidikan IPS, melalui pendekatan yang kontekstual, kritis, dan berorientasi masa depan, menjadi ruang strategis untuk membentuk generasi yang siap menghadapi perubahan mikro maupun makro ekonomi serta berkontribusi terhadap kemajuan masyarakat secara berkelanjutan.

Referensi:
McKinsey & Company. (2025). Superagency in the workplace: Empowering people to unlock AI’s full potential. McKinsey Global Institute.
McKinsey & Company. (2024). We’re all techies now: Digital skill building for the future. McKinsey Global Institute.
OECD. (2025). Science, Technology and Innovation Outlook 2025. Organisation for Economic Co-operation and Development.
OECD. (2020). What Students Learn Matters: Towards a 21st Century Curriculum. Organisation for Economic Co-operation and Development.
Romer, P. (1990). Endogenous technological change. Journal of Political Economy, 98(5), S71–S102.
Lucas, R. (1988). On the mechanics of economic development. Journal of Monetary Economics, 22(1), 3–42.
Schumpeter, J. A. (1934). The theory of economic development. Harvard University Press.
World Bank. (2023). The vital role of digital skills in building an inclusive digital economy. World Bank Group.
World Bank. (2021). Digital skills: A framework for measuring digital competencies. World Bank Publications.
Fernández-Portillo, A., Almodóvar-González, M., & Hernández-Rojas, R. (2020). Impact of ICT development on economic growth. Sustainability, 12(9), 1–15.
UNESCO. (2023). Lifelong learning policies and practices in the digital era. UNESCO Publishing.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Perkembangan IPTEKS selalu terkait erat dengan sektor ekonomi karena kebutuhan ekonomi menjadi pendorong utama terciptanya inovasi. Setiap kali masyarakat membutuhkan cara yang lebih efisien, cepat, dan murah untuk memproduksi barang, mendistribusikan sumber daya, atau mengelola informasi, teknologi baru muncul sebagai jawabannya. Sebaliknya, teknologi yang berkembang kemudian mendorong ekspansi ekonomi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, membuka lapangan kerja baru, dan mengubah pola konsumsi. Karena itu, hubungan IPTEKS dan ekonomi bersifat saling menguatkan: ekonomi memberi dorongan dan sumber daya untuk penelitian, sedangkan inovasi teknologi memberikan nilai tambah yang mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dalam era modernisasi ekonomi yang sangat dinamis, manusia dituntut untuk mampu beradaptasi agar tidak tergerus oleh arus digitalisasi yang terus bergerak maju. Adaptasi ini penting karena teknologi digital mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi dalam skala global. Untuk tetap survive, individu perlu meningkatkan keterampilan abad 21 seperti literasi digital, kemampuan berpikir analitis, komunikasi, kreativitas, serta kesiapan untuk belajar sepanjang hayat. Selain itu, penting bagi manusia untuk mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan peluang misalnya melalui usaha berbasis platform digital, pemasaran online, atau penggunaan aplikasi produktivitas untuk meningkatkan kualitas kerja.

Dalam konteks pengembangan pendidikan IPS, pembelajaran harus dirancang untuk membekali peserta didik agar peka terhadap perubahan ekonomi mikro dan makro. Pembelajaran dapat diarahkan pada analisis fenomena terkini seperti ekonomi digital, transformasi industri, gig economy, dan globalisasi pasar. Guru dapat menggunakan pendekatan berbasis proyek, studi kasus, data real-time, dan simulasi ekonomi agar siswa dapat melihat hubungan nyata antara teknologi dan dinamika ekonomi. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami perubahan yang sedang terjadi, tetapi juga mampu memprediksi tren masa depan dan mengambil peran aktif sebagai warga yang adaptif, produktif, dan berdaya saing dalam era ekonomi digital. Sebagai calon pengembang IPS, pembelajaran IPS harus dirancang untuk membantu peserta didik memahami dinamika ekonomi mikro dan makro dalam era digital. Pembelajaran perlu menggunakan pendekatan kontekstual berbasis fenomena, analisis data nyata, studi kasus bisnis digital, dan proyek berbasis masalah yang menuntut siswa mengeksplorasi hubungan antara teknologi, pasar kerja, globalisasi, dan transformasi industri. Peserta didik harus dibekali tiga literasi utama literasi digital, literasi ekonomi, dan literasi kewargaan global agar mampu membaca perubahan dan mengambil peran dalam ekonomi masa depan. Dengan desain pembelajaran yang adaptif dan berorientasi masa depan, IPS dapat menjadi wahana untuk menyiapkan generasi yang kritis, produktif, inovatif, dan siap menghadapi dinamika ekonomi digital global.

Sumber Rujukan:

1. Friedman, T. L. (2016). Thank You for Being Late: An Optimist's Guide to Thriving in the Age of Accelerations. Farrar, Straus and Giroux.

2. OECD (2020). Digital Economy Outlook. OECD Publishing.

3. Kementerian Kominfo RI. (2021). Peta Jalan Indonesia Digital 2021–2024.

4. Rifkin, J. (2014). The Zero Marginal Cost Society. Palgrave Macmillan.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS) tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya merupakan dua ruang yang saling menggerakkan dan saling memperkuat. Dalam sejarah perkembangan peradaban, kemajuan ekonomi selalu ditopang oleh inovasi teknologi—mulai dari revolusi industri, mekanisasi, komputerisasi, hingga era digital saat ini. Teknologi meningkatkan efisiensi produksi, mendorong lahirnya model bisnis baru, memperluas jangkauan pasar, serta mengurangi biaya transaksi sehingga pertumbuhan ekonomi berlangsung lebih cepat dan kompetitif (Rosenberg, 1982). Pada saat yang sama, kebutuhan ekonomi baik kebutuhan pasar, tenaga kerja, maupun industri mendorong lahirnya inovasi teknologi baru sebagai respons terhadap tuntutan efisiensi dan profitabilitas. Dengan demikian, IPTEKS dan ekonomi merupakan hubungan dua arah yang bersifat mutualistik: teknologi memperkuat ekonomi, dan dinamika ekonomi mendorong penciptaan teknologi baru (Fagerberg, 2005).

Dalam konteks modernisasi ekonomi saat ini, manusia dituntut untuk mampu beradaptasi secara cepat dan berkelanjutan. Digitalisasi ekonomi telah mengubah cara manusia bekerja, bertransaksi, memproduksi, hingga membangun relasi sosial. Mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi berpotensi tertinggal dari sistem ekonomi baru ini. UNESCO (2021) menekankan bahwa literasi digital, adaptabilitas, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan belajar sepanjang hayat menjadi kunci penting bagi individu agar mampu bertahan dalam arus perubahan yang masif. Adaptasi diperlukan bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pasar kerja, tetapi juga untuk mempertahankan eksistensi diri dalam kehidupan sosial-ekonomi yang semakin kompetitif. Dalam situasi ini, manusia perlu belajar mengembangkan kompetensi teknologis, fleksibilitas dalam bekerja, serta kreativitas dalam menciptakan peluang mulai dari memanfaatkan platform digital, belajar kewirausahaan digital, hingga membangun jejaring global. Upaya-upaya ini menjadi kunci agar manusia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu berkembang dalam ekosistem ekonomi digital yang dinamis.

Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, peran kita menjadi sangat strategis. Pembelajaran IPS harus dirancang bukan hanya untuk memahami fenomena sosial-ekonomi masa kini, tetapi juga untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. IPS sebagai disiplin integratif harus mampu memberikan pemahaman mengenai bagaimana perubahan mikro (perilaku konsumen, UMKM digital, ekonomi rumah tangga) dan makro (globalisasi, perdagangan internasional, ekonomi digital global) saling berkaitan dan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Strategi pembelajaran perlu mengintegrasikan pendekatan berbasis masalah (Problem-Based Learning), studi kasus ekonomi digital, simulasi pasar digital, dan proyek kewirausahaan berbasis teknologi. Pendekatan seperti ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk menganalisis dinamika ekonomi modern, memahami implikasi teknologi terhadap kehidupan sosial, serta mengembangkan keterampilan kritis, kreatif, dan adaptif kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam abad 21 (OECD, 2018).

Melalui pembelajaran IPS yang kontekstual, integratif, dan berbasis literasi digital, peserta didik tidak hanya diajak memahami perubahan ekonomi, tetapi juga diberdayakan untuk mampu memosisikan diri sebagai agen perubahan. Mereka dapat melihat bagaimana perkembangan IPTEKS membentuk struktur ekonomi global, memahami tantangan yang muncul, serta merumuskan strategi yang relevan agar mampu survive dan berperan aktif dalam masyarakat digital. Dengan demikian, pendidikan IPS berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pengetahuan, realitas sosial, dan kesiapan masa depan peserta didik dalam menghadapi transformasi ekonomi yang sangat pesat.

Daftar Referensi
Fagerberg, J. (2005). Innovation: A Guide to the Literature. Oxford University Press.
OECD. (2018). The Future of Education and Skills: Education 2030. Paris: OECD Publishing.
Rosenberg, N. (1982). Inside the Black Box: Technology and Economics. Cambridge University Press.
UNESCO. (2021). Digital Literacy for Sustainable Development. Paris: UNESCO.
RistekBRIN. (2023). “Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Perkembangan IPTEKS tidak pernah bisa dilepaskan dari sektor ekonomi karena teknologi dan inovasi menjadi mesin utama produktivitas, kompetisi, dan transformasi cara produksi serta konsumsi di seluruh dunia. Digitalisasi memungkinkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas jangkauan pasar, mempercepat proses transaksi, serta menurunkan biaya operasional, aspek ini terlihat ketika banyak UMKM di Indonesia memanfaatkan e-commerce dan layanan digital untuk meningkatkan daya saingnya. Teknologi seperti platfom daring, sistem pembayaran digital, dan layanan cloud memungkinkan UKM bersaing di level global, melintasi batas geografis, sesuatu yang dulu hanya mungkin bagi perusahaan besar.

Namun, transformasi ini juga menuntut manusia untuk adaptif, bukan sekadar memiliki akses teknologi, tetapi juga menguasai keterampilan baru: literasi digital, manajemen data, pemasaran online, serta kemampuan merancang model bisnis kreatif dan responsif terhadap dinamika pasar. Sebab menurut penelitian, perusahaan kecil dan menengah yang berhasil melalui digitalisasi menunjukkan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan daya saing yang nyata. Dengan demikian, adaptasi manusia melalui pembelajaran, peningkatan skill, dan orientasi kewirausahaan menjadi elemen penting agar individu maupun kelompok usaha tidak tersingkir dalam ekonomi digital yang sangat dinamis.

Dalam konteks pendidikan, terutama dalam kerangka pembelajaran IPS, penting untuk merancang kurikulum dan proses pembelajaran yang mencerminkan kondisi ekonomi digital global ini. IPS tidak lagi cukup hanya mengajarkan teori klasik tentang masyarakat, ekonomi, dan politik: ia perlu mengintegrasikan literasi digital, pemahaman ekonomi digital, dan kewirausahaan sosial-ekonomi agar peserta didik mampu memahami perubahan mikro (misalnya UKM lokal go-digital) maupun makro (struktur ekonomi nasional/global, global value chain, kebijakan ekonomi digital). Pendidikan seperti ini akan mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya kritis terhadap fenomena sosial-ekonomi, tetapi juga mampu beradaptasi, berpikir kreatif, dan bertindak sebagai agen perubahan ekonomi. Dalam jangka panjang, model pembelajaran IPS semacam itu membantu membentuk warga negara yang produktif, adaptif terhadap teknologi, serta berdaya saing sekaligus menjaga nilai-nilai sosial, demokrasi, dan keadilan dalam transformasi ekonomi.

STIS Ummul Ayman. (2022). Jurnal GoSeJES: Peran UMKM dalam Ekonomi Digital.
BRIN. (2023). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Badan Riset dan Inovasi Nasional.
World Economic Forum. (2023). Empowering MSMEs through digital connectivity
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Diah Rachmawati Syukri -
Nama : Diah Rachmawati Syukri
NPM : 2523031003

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena kedua elemen ini saling memengaruhi dalam proses pertumbuhan dan perubahan sosial. Ipteks menjadi motor penggerak modernisasi ekonomi melalui inovasi teknologi, digitalisasi, dan otomatisasi yang meningkatkan efisiensi produksi, memperluas jaringan distribusi, serta membuka pasar global yang lebih kompetitif.

Menurut Schwab (2016), Revolusi Industri 4.0 telah mengintegrasikan teknologi digital ke dalam seluruh rantai nilai ekonomi sehingga hampir seluruh aktivitas ekonomi modern bergantung pada perkembangan teknologi. Dalam konteks ekonomi digital saat ini, kemajuan ipteks juga memungkinkan pelaku usaha kecil masuk ke pasar global melalui platform e-commerce, seperti dijelaskan RistekBRIN (2021), yang menyebut digitalisasi memperluas kesempatan UMKM untuk menjadi eksportir mikro dan bersaing dengan perusahaan multinasional.
Manusia sebagai aktor utama dalam sistem ekonomi perlu melakukan adaptasi untuk dapat bertahan (survive) dalam lingkungan ekonomi yang semakin dinamis. Adaptasi ini mencakup peningkatan literasi digital, kemampuan memanfaatkan teknologi, kreativitas dalam inovasi, dan kesiapan menghadapi perubahan pola kerja di era digital. Tanpa kemampuan adaptif tersebut, individu akan kesulitan bersaing dan rentan mengalami ketertinggalan teknologi. Kemampuan kreativitas dan pemanfaatan teknologi merupakan modal esensial dalam menghadapi ekonomi berbasis inovasi. Digitalisasi yang cepat menuntut manusia untuk tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta dan pengembang dalam ekosistem ekonomi digital yang terus berubah.
Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, guru perlu merancang pembelajaran yang membantu peserta didik memahami perubahan mikro dan makro ekonomi akibat digitalisasi. Pembelajaran IPS sebaiknya mengaitkan teori ekonomi dengan fenomena aktual seperti e-commerce, ekonomi kreatif, startup digital, serta dampak teknologi pada tenaga kerja.

Menurut Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, pembelajaran IPS harus bersifat kontekstual dan mendorong peserta didik berpikir kritis terhadap perubahan sosial-ekonomi. Dengan pembelajaran yang relevan, siswa dapat mengembangkan kemampuan analitis, memahami realitas ekonomi masa kini, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan ekonomi masa depan yang semakin kompetitif.

Daftar Referensi
Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum.
Permendikbud Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi

oleh Siti Aminah -
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002

Perkembangan ipteks tidak pernah terlepas dari sektor ekonomi karena ekonomi menjadi ruang untuk IPTEKS diterapkan. Kemajuan IPTEKS menjadi jawaban untuk memudahkan berbagai kegiatan ekonomi seperti kemudahan dalam memproduksi, mendistribusi dan mengonsumsi barang atau jasa dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, IPTEKS dan ekonomi memiliki hubungan timbal balik dimana perkembangan ipteks mendorong pertumbuhan ekonomi, sementara kebutuhan ekonomi menjadi pendorong utama lahirnya inovasi teknologi.

Dalam konteks modernisasi ekonomi, penting bagi manusia untuk beradaptasi karena digitalisasi telah mengubah cara manusia bekerja, berwirausaha, dan mengambil keputusan ekonomi. Tanpa adanya kemauan beradaptasi, seseorang berisiko tertinggal dan tersisih dari sistem ekonomi yang semakin kompetitif.

Upaya yang dapat dilakukan manusia agar tetap survive dalam kehidupan yang sangat dinamis dan tidak tergerus dalam digitalisasi ekonomi yang sangat pesat saat ini adalah dengan membangun sikap kewirausahaan yang fleksibel dan responsif terhadap perubahan pasar. Dalam ekonomi digital, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh modal besar, tetapi oleh kemampuan membaca peluang, memanfaatkan teknologi, dan beradaptasi dengan cepat. Hal inilah yang memungkinkan industri kecil dan menengah bertransformasi menjadi pelaku ekonomi global, sebagaimana ditunjukkan oleh banyaknya UMKM yang kini menjadi eksportir melalui platform e-commerce dan mampu bersaing dengan perusahaan multinasional.

Sebagai calon pengembang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sudah seharusnya pembelajaran IPS dirancang secara kontekstual yang relevan dengan realitas ekonomi saat ini. Pembelajaran IPS tidak lagi cukup berfokus pada konsep ekonomi klasik secara teoritis, tetapi harus mengaitkan perubahan ekonomi mikro dan makro dengan kehidupan nyata peserta didik. Dalam praktiknya, pembelajaran IPS dapat dirancang berbasis konteks dan problem nyata, seperti studi kasus UMKM digital, simulasi perdagangan online, analisis perubahan pekerjaan akibat teknologi, serta diskusi tentang peluang dan tantangan ekonomi digital.