Diskusi

Diskusi

Number of replies: 7

Cobalah kemukakan disini bagaiman fenomena globaliisasi dan upaya menanamkan budaya lokal untuk membangkitkan rasa kebangsaan Indonesia.

In reply to First post

Re: Diskusi

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Fenomena globalisasi terjadi karena kemajuan teknologi komunikasi, transportasi, dan informasi yang membuat batas antarnegara semakin kabur. Pertukaran barang, jasa, budaya, dan gagasan berlangsung sangat cepat sehingga masyarakat di berbagai belahan dunia saling terhubung dalam satu jaringan besar. Arus globalisasi juga diperkuat oleh perdagangan internasional, kerja sama ekonomi, migrasi, serta dominasi media digital global yang mendorong terjadinya homogenisasi budaya. Akibatnya, nilai dan gaya hidup dari luar negeri mudah masuk dan memengaruhi pola perilaku masyarakat, terutama generasi muda. Di tengah derasnya pengaruh global tersebut, penanaman budaya lokal menjadi strategi penting untuk membangkitkan rasa kebangsaan Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memperkuat pendidikan karakter dan sejarah bangsa di sekolah, mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran, serta mendorong kegiatan seni, bahasa daerah, dan tradisi sebagai bagian dari identitas yang membanggakan. Media sosial juga dapat dijadikan sarana kreatif untuk mengenalkan budaya lokal secara modern, misalnya melalui konten kuliner, kerajinan, tarian, atau cerita rakyat dalam format digital yang menarik. Selain itu, keterlibatan komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku budaya sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi melalui festival lokal, pelatihan budaya, serta pelindungan terhadap warisan budaya. Dengan memadukan pemahaman global dan penguatan identitas lokal, masyarakat khususnya generasi muda dapat memiliki sikap terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan akar kebangsaan. Pendekatan ini bukan hanya memperkuat rasa cinta tanah air, tetapi juga mendorong Indonesia untuk berperan aktif dan percaya diri dalam dinamika global.
In reply to First post

Re: Diskusi

by amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fati Sari
NPM : 2523031004

Globalisasi membawa masyarakat Indonesia pada keterbukaan informasi, interaksi lintas budaya, dan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Namun, fenomena ini juga menimbulkan tantangan berupa melemahnya identitas nasional, berkurangnya minat terhadap budaya tradisional, serta meningkatnya dominasi budaya asing dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjaga jati diri bangsa di tengah arus globalisasi, diperlukan upaya nyata dalam menanamkan dan menghidupkan kembali budaya lokal. Langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:
- Integrasi budaya lokal dalam pendidikan, seperti pembelajaran berbasis kearifan lokal, pengenalan seni daerah, dan kegiatan yang menumbuhkan kesadaran budaya.
- Pelestarian dan revitalisasi tradisi, melalui penguatan upacara adat, festival budaya, seni pertunjukan, dan kuliner tradisional agar tetap relevan bagi generasi muda.
- Pemanfaatan teknologi digital, untuk mempromosikan budaya Indonesia melalui media sosial, konten kreatif, dan platform edukasi berbasis digital.
- Mendorong kebanggaan terhadap produk dan karya lokal, sehingga masyarakat, terutama generasi muda, melihat budaya lokal sebagai sesuatu yang modern, menarik, dan bernilai ekonomi.
Upaya tersebut sangat penting untuk membentuk identitas nasional yang kuat. Dengan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal, masyarakat Indonesia akan memiliki rasa kebangsaan yang kokoh, sehingga mampu menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beragam namun tetap bersatu.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Fenomena globalisasi membawa dampak kompleks bagi Indonesia, antara lain akses pasar yang lebih luas dan investasi asing, tetapi juga tantangan seperti pola hidup konsumtif dan pengaruh gaya hidup kebarat-baratan. Untuk menanamkan budaya lokal sekaligus membangkitkan rasa kebangsaan, berbagai upaya dilakukan seperti memasukkan elemen budaya lokal dalam pendidikan, menggelar pertunjukan seni tradisional, melibatkan masyarakat dalam pelestarian seni dan ritual adat, serta mengembangkan industri kreatif lokal yang mengangkat nilai budaya dan tradisi Indonesia. Selain itu, program-program pengenalan kearifan lokal melalui seni budaya di daerah juga efektif untuk menumbuhkan nasionalisme dan memperkuat identitas bangsa.Globalisasi membuka peluang seperti peningkatan akses ke pasar internasional dan masuknya investasi asing yang membawa transfer teknologi dan peningkatan keahlian tenaga kerja. Namun, dampak negatif juga muncul seperti pola hidup konsumtif, individualistik, serta gaya hidup kebarat-baratan yang dapat mengikis nilai-nilai lokal dan identitas budaya.

Pendidikan menjadi salah satu media penting untuk mengenalkan budaya lokal, dengan pengajaran sejarah, seni, dan bahasa daerah di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler seni tradisional juga membantu generasi muda mengenal dan mencintai warisan budaya. Selain itu, keterlibatan komunitas dalam pelestarian budaya melalui pelatihan seni dan ritual adat sangat penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi budaya. Pendekatan yang efektif adalah menggabungkan seni budaya dan kearifan lokal untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, seperti yang dilakukan dalam program "Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah." Program ini juga mendukung usaha ekonomi masyarakat. Pengembangan industri kreatif lokal yang mengangkat budaya dan nilai-nilai tradisional juga memperkuat identitas nasional dan rasa kebangsaan. Jadi, globalisasi hendaknya dihadapi dengan strategi pelestarian budaya lokal yang kuat dan upaya penguatan rasa kebangsaan melalui pendidikan, seni, keterlibatan masyarakat, dan pengembangan industri kreatif berbasis budaya Indonesia.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009

Fenomena globalisasi dalam dua dekade terakhir memunculkan intensifikasi arus informasi, mobilitas manusia, dan difusi budaya global yang beroperasi melampaui batas teritorial negara bangsa. Dalam perspektif teori budaya Appadurai, globalisasi menciptakan ethnoscapes, mediascapes, dan ideoscapes yang membentuk imajinasi sosial baru dan berpotensi mendesentralisasi identitas lokal. Pada konteks Indonesia, penetrasi budaya populer global, mulai dari industri hiburan Korea, gaya hidup konsumtif Barat, hingga pola komunikasi digital transnasional mendorong perubahan preferensi nilai generasi muda secara cepat. Kondisi ini memunculkan kecenderungan melemahnya orientasi nasional, erosi solidaritas komunal, dan reduksi apresiasi terhadap nilai-nilai kearifan lokal. Namun demikian, Indonesia memiliki modal kultural yang kuat melalui keragaman etnik, bahasa, dan tradisi yang dapat berfungsi sebagai cultural buffer untuk mempertahankan identitas kebangsaan.
Upaya menanamkan budaya lokal sebagai strategi revitalisasi nasionalisme harus dilakukan melalui mekanisme edukatif, institusional, dan kultural. Dalam pendidikan, integrasi nilai-nilai kearifan lokal, seperti semangat gotong royong, musyawarah, dan penghargaan terhadap keberagaman ke dalam kurikulum IPS berfungsi memperkuat kesadaran identitas kolektif sekaligus mengembangkan civic competence peserta didik. Pada ranah kebijakan, revitalisasi bahasa daerah, perlindungan komunitas adat, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis warisan budaya berperan menjaga keberlanjutan identitas lokal di tengah kompetisi budaya global. Sementara itu, dalam praksis budaya kontemporer, festival budaya, literasi sejarah lokal, dan digitalisasi arsip tradisi dapat memfasilitasi generasi muda untuk menginternalisasi identitas nasional dalam ruang sosial yang relevan dengan dunia mereka. Dengan demikian, penguatan budaya lokal bukanlah bentuk resistensi terhadap globalisasi, tetapi strategi adaptif agar masyarakat Indonesia mampu terlibat dalam jejaring global tanpa kehilangan kohesi nasional dan kesadaran kebangsaannya.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Arus globalisasi telah membawa arus informasi, teknologi, ekonomi, dan budaya yang bergerak melampaui batas negara dengan sangat cepat. Kondisi ini membuat masyarakat Indonesia semakin mudah mengakses budaya asing melalui media digital, hiburan, gaya hidup, hingga pola konsumsi. Di satu sisi, globalisasi membuka peluang besar bagi Indonesia untuk berkembang, berkompetisi, serta berinteraksi dalam ruang global. Namun di sisi lain, globalisasi juga menghadirkan tantangan berupa melemahnya identitas nasional, berkurangnya apresiasi terhadap budaya lokal, dan meningkatnya homogenisasi budaya global yang sering kali mendominasi ruang publik. Jika tidak diimbangi dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan, arus global yang begitu kuat berpotensi menggerus karakter bangsa, terutama di kalangan generasi muda.

Untuk itu, upaya menanamkan budaya lokal menjadi kunci dalam membangkitkan kembali rasa kebangsaan Indonesia di tengah derasnya globalisasi. Pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui ritus adat atau seni tradisional semata, tetapi juga melalui pengintegrasian budaya lokal dalam pendidikan, media, kreativitas digital, dan ekonomi kreatif. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk mengenal, menghayati, dan mengemas budaya lokal secara modern sehingga tetap relevan dengan perkembangan zaman. Misalnya, melalui pembelajaran berbasis proyek tentang kearifan lokal, pengenalan tokoh sejarah nasional, penggunaan cerita rakyat dalam literasi digital, atau pemanfaatan teknologi untuk mempromosikan kuliner, musik, dan kerajinan tradisional. Selain itu, memperkuat nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, dan saling menghargai yang merupakan karakter budaya Indonesia dapat menjadi pondasi sosial dalam menghadapi kompetisi global.

Dengan menggabungkan pemahaman terhadap globalisasi dan kebanggaan terhadap budaya sendiri, masyarakat Indonesia akan mampu berdiri di tengah dunia global tanpa kehilangan jati diri. Budaya lokal bukan penghalang kemajuan, tetapi justru modal sosial yang memperkuat identitas bangsa, memperkaya kreativitas, serta menjadi pembeda Indonesia di kancah internasional. Melalui pendidikan, peran keluarga, media, dan komunitas budaya, rasa kebangsaan dapat terus dibangkitkan sehingga generasi mendatang tetap mampu bersaing secara global dengan berpijak pada nilai-nilai lokal yang kuat.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Diah Rachmawati Syukri -
Nama : Diah Rachmawati Syukri
NPM : 2523031003

Fenomena globalisasi membawa pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari ekonomi, sosial, politik, hingga budaya. Globalisasi membuka batas-batas antarnegara sehingga arus informasi, teknologi, dan budaya luar dapat masuk dengan sangat cepat.

Menurut Held & McGrew (2007), globalisasi menciptakan keterhubungan yang intens antarnegara sehingga nilai, gaya hidup, dan produk budaya global mudah diadopsi masyarakat.

Dampaknya, budaya lokal kerap mengalami tekanan karena tersaingi oleh budaya populer global yang dianggap lebih modern atau menarik. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi ini dapat melemahkan identitas nasional dan rasa kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, upaya menanamkan budaya lokal menjadi sangat penting dalam membangkitkan dan mempertahankan rasa kebangsaan Indonesia. Pelestarian budaya lokal dapat dilakukan melalui pendidikan, kegiatan seni, penguatan kearifan lokal, serta pemanfaatan media digital untuk mempromosikan budaya nasional. UNESCO (2003) menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal merupakan kunci dalam mempertahankan identitas bangsa di tengah arus global. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki peran besar dalam memperkuat rasa cinta tanah air dengan cara mengintegrasikan nilai budaya lokal ke dalam kurikulum, menyelenggarakan festival budaya, serta mengembangkan konten kreatif yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, generasi muda perlu didorong untuk aktif menciptakan inovasi berbasis budaya lokal sehingga budaya tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi juga berkembang dan relevan di era global. Dengan demikian, globalisasi tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Selama masyarakat mampu menyeimbangkan antara keterbukaan terhadap budaya global dan kecintaan terhadap budaya sendiri, rasa kebangsaan Indonesia akan tetap terjaga.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Siti Aminah -
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002

Fenomana globalisasi membawa perubahan besar terhadap bebarapa aspek kehidupan masyarakat Indonesia, antara lain dalam bidang ekonomi, budaya, dan teknologi. Di satu sisi, globalisasi memberikan banyak manfaat seperti kemajuan teknologi, terbukanya peluang ekonomi, dan akses pengetahuan yang luas. Namun di sisi lain, globalisasi juga berpotensi menggeser nilai-nilai budaya lokal dan melemahkan rasa kebangsaan, terutama pada generasi muda yang lebih akrab dengan budaya global dibandingkan budaya daerahnya sendiri.

Dalam konteks tersebut, penanaman budaya dan kearifan lokal menjadi upaya penting untuk membangkitkan dan memperkuat rasa kebangsaan Indonesia. Kearifan lokal merupakan nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, serta penghormatan terhadap alam dan sesama. Nilai-nilai ini mencerminkan identitas bangsa Indonesia yang berakar pada keberagaman budaya. Dengan mengenalkan kearifan lokal, masyarakat tidak hanya belajar tentang tradisi, tetapi juga memahami makna kebersamaan dan persatuan dalam kehidupan berbangsa.