Kiriman dibuat oleh Resti Gustin

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Earnings management adalah praktik yang dilakukan perusahaan untuk memanipulasi atau mengatur waktu transaksi agar angka laba yang dilaporkan sesuai dengan tujuan tertentu, tanpa harus melakukan kecurangan atau fraud yang ilegal. Praktik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memanfaatkan timing penjualan aset (misalnya menjual tanah yang telah naik nilainya untuk mencatat keuntungan pada periode tertentu), membuat cadangan laba (cookie jar reserves) untuk digunakan di masa depan, atau memanipulasi aktivitas operasional agar laba tampak stabil atau meningkat.​

Dalam konteks akuntansi, earnings management bisa dibagi menjadi dua jenis: manajemen berbasis akrual (accrual-based earnings management) dan manajemen berbasis aktivitas nyata (real earnings management). Manajemen berbasis akrual dilakukan dengan memilih metode akuntansi tertentu, sedangkan manajemen berbasis aktivitas nyata dilakukan dengan mengatur kegiatan nyata perusahaan seperti produksi atau pengeluaran. Contoh kasus yang sering muncul adalah perusahaan yang memilih menjual aset pada periode saat laba cenderung turun agar angka laba tetap naik atau stabil, meskipun alasan ekonominya tidak kuat.​

Meskipun earnings management tidak selalu ilegal, praktik ini sering kali menimbulkan pertanyaan etis karena dapat menyesatkan para pemangku kepentingan, seperti investor dan regulator, tentang kondisi keuangan sebenarnya perusahaan. Perusahaan yang terlalu sering melakukan earnings management bisa merusak reputasi dan kepercayaan pasar, bahkan berisiko terlibat dalam praktik yang lebih agresif hingga fraud jika batasnya dilanggar. Dari sudut pandang etika, transparansi dan integritas dalam pelaporan keuangan sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan keberlanjutan perusahaan jangka panjang.​

Saya berpendapat bahwa earnings management memang merupakan praktik yang kompleks dan perlu diwaspadai. Meskipun terkadang bisa digunakan untuk menstabilkan laba dan memberikan gambaran yang lebih baik kepada pasar, penggunaannya yang berlebihan atau tidak transparan dapat merugikan kepentingan publik dan merusak akuntabilitas perusahaan. Oleh karena itu, pengawasan yang ketat dan komitmen terhadap prinsip etika akuntansi sangat penting agar praktik ini tidak disalahgunakan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

1. Jurnal pertama "Does XBRL adoption increase financial information transparency in digital disclosure environment? Insights from emerging markets" (M. Al-Okaily et al., 2024)
Artikel ini mengevaluasi dampak adopsi XBRL terhadap transparansi informasi keuangan di perusahaan keuangan Yordania. Penelitian menunjukkan bahwa adopsi XBRL secara signifikan meningkatkan relevansi, keandalan, dan transparansi laporan keuangan dalam lingkungan pelaporan digital. XBRL membantu mempercepat proses pelaporan, memudahkan analisis data, serta meningkatkan kepercayaan pengguna laporan keuangan. Studi ini juga menyoroti pentingnya kapasitas teknologi dan sumber daya manusia untuk memaksimalkan manfaat XBRL, terutama di negara berkembang seperti Yordania.​

2. Jurnal kedua "Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity" (Valentina Tohang & Silvi Lusiana, 2022)
Artikel ini meneliti hubungan antara adopsi XBRL dan biaya ekuitas di perusahaan terbuka di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi XBRL secara signifikan menurunkan biaya ekuitas, terutama pada perusahaan berukuran besar. Hal ini disebabkan oleh peningkatan transparansi, penurunan kesalahan pelaporan, dan penurunan biaya pemrosesan informasi. Namun, pada masa awal adopsi, masih ada tantangan seperti kesalahan pelaporan dan keterbatasan kapasitas, sehingga perusahaan kecil cenderung mengalami risiko lebih tinggi dan biaya ekuitas yang lebih tinggi.

Menurut saya, Kedua artikel menunjukkan bahwa digitalisasi pelaporan keuangan melalui XBRL memberikan manfaat signifikan dalam meningkatkan transparansi dan efisiensi pelaporan, serta menurunkan biaya modal. Namun, keberhasilan adopsi sangat tergantung pada kesiapan teknis, regulasi, dan kapasitas sumber daya manusia. Di Indonesia, tantangan utama adalah memastikan konsistensi kualitas pelaporan dan memperkuat kapasitas SDM agar manfaat XBRL dapat dirasakan secara optimal, terutama oleh perusahaan kecil dan menengah.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

1. Tantangan utama PT Sumber Hijau dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan dan pelaporan SDGs adalah tekanan dari LSM dan masyarakat adat terkait dampak lingkungan dan sosial, serta kebutuhan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan sumber daya lokal. Selain itu, perusahaan harus memenuhi ekspektasi investor global yang mendorong pelaporan ESG dan SDGs, sementara regulasi lokal seperti PSAK belum sepenuhnya mendukung pelaporan isu tersebut.​

2. Pendekatan teori akuntansi positif dapat digunakan untuk memahami bagaimana PT Sumber Hijau memilih kebijakan pelaporan keberlanjutan sebagai respons terhadap tekanan eksternal, seperti tuntutan investor dan LSM. Sementara itu, teori akuntansi normatif dapat membantu mengevaluasi apakah pelaporan yang dihasilkan sesuai dengan prinsip etika dan tanggung jawab sosial, serta memenuhi harapan stakeholder secara adil dan transparan.​

3. PT Sumber Hijau dapat mengintegrasikan pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangan dengan menggunakan standar GRI dan referensi SDGs sebagai pelaporan tambahan di luar laporan keuangan konvensional. Perusahaan dapat menyusun laporan keberlanjutan terpisah yang mencantumkan indikator kinerja ESG, serta memasukkan narasi tentang kontribusi terhadap SDG 8, 13, dan 15 dalam catatan atas laporan keuangan, meskipun PSAK belum mengatur secara rinci pelaporan ESG.​

4. Sebagai akuntan, saya akan menyarankan PT Sumber Hijau untuk menyusun narasi laporan yang seimbang, mengakui tantangan dan dampak sosial-lingkungan dari ekspansi, serta menampilkan komitmen konkret terhadap keberlanjutan dan keterlibatan stakeholder lokal. Narasi ini harus jelas, transparan, dan mencakup data kuantitatif dan kualitatif tentang kontribusi terhadap SDGs, serta menunjukkan upaya perbaikan dan pertanggungjawaban kepada semua stakeholder, baik lokal maupun global.​

TA2025 -> e-journal

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Esensi dari artikel Enhancing the Value of Corporate Sustainability: An Approach for Aligning Multiple SDGs Guides on reporting membahas pentingnya harmonisasi berbagai panduan pelaporan Sustainable Development Goals (SDGs) dari framework seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan International Integrated Reporting Council (IIRC) untuk meningkatkan kinerja pelaporan keberlanjutan perusahaan. Esensi utama artikel adalah perlunya pendekatan struktural dan metodologi aligmen yang sistematis agar perusahaan dapat memenuhi tantangan pelaporan SDGs yang terus berkembang, memperkuat strategi keberlanjutan, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas terhadap stakeholder. Dengan memetakan tantangan pelaporan SDGs dan mengintegrasikan panduan dari berbagai framework, perusahaan dapat menciptakan pelaporan yang lebih relevan, konsisten, dan dapat dibandingkan, sekaligus menangani isu-isu seperti greenwashing dan ketidaksesuaian target pelaporan. Pendekatan ini sangat relevan bagi perusahaan seperti PT Lestari Mineral yang beroperasi di industri yang kompleks dan dihadapkan pada tekanan ekonomi politik serta ekspektasi beragam stakeholder.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Setelah menyimak video tentang pelaporan Sustainable Development Goals (SDGs) untuk bisnis, dapat disimpulkan bahwa pelaporan SDGs memberikan manfaat strategis bagi perusahaan, seperti peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan stakeholders, serta membantu perusahaan mengidentifikasi peluang dan risiko yang berkaitan dengan keberlanjutan. Dengan melaporkan kemajuan terhadap SDGs, perusahaan tidak hanya memenuhi ekspektasi sosial dan lingkungan, tetapi juga dapat memperkuat reputasi dan daya saing di pasar global, sekaligus mendukung upaya pembangunan berkelanjutan secara lebih luas.