Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009
Nama : Nashita Shafiyah
NPM : 2413031009
1. Tantangan utama PT Sumber Hijau
Tantangan terbesar PT Sumber Hijau adalah bagaimana menyeimbangkan antara ekspansi bisnis dengan menjaga lingkungan dan hak masyarakat lokal. Di satu sisi, ekspansi bisa menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, tapi di sisi lain ada risiko deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan konflik sosial. Selain itu, perusahaan juga harus menghadapi tekanan dari investor global yang menuntut laporan ESG sesuai SDGs, sementara PSAK sendiri belum sepenuhnya mengatur soal keberlanjutan. Jadi, masalahnya bukan hanya soal bisnis, tapi juga soal legitimasi sosial, reputasi, dan kepercayaan investor.
2. Teori positif dan normatif
Teori positif bisa menjelaskan bahwa pilihan kebijakan akuntansi atau pelaporan keberlanjutan biasanya dipengaruhi kepentingan manajemen dan tekanan eksternal. Misalnya, manajemen bisa memilih mengungkap lebih banyak informasi ESG karena ada dorongan dari investor. Sedangkan teori normatif lebih menekankan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu pelaporan yang transparan, jujur, dan sesuai nilai keberlanjutan. Jadi positif melihat kenapa perusahaan bertindak begitu, sedangkan normatif melihat bagaimana seharusnya perusahaan bertindak.
3. Integrasi SDGs ke laporan keuangan
Walaupun PSAK belum detail soal ESG, perusahaan bisa pakai standar lain seperti GRI (Global Reporting Initiative) atau laporan terintegrasi. Caranya dengan membuat laporan keberlanjutan yang dihubungkan dengan laporan keuangan, misalnya mencatat provisi biaya reklamasi tambang di laporan keuangan dan menjelaskan kaitannya dengan SDG 13 dan SDG 15. Jadi, laporan keuangan tetap sesuai PSAK, tapi ditambah narasi keberlanjutan sesuai standar global.
4. Saran untuk narasi laporan
Kalau saya jadi akuntan, saya akan menyarankan narasi yang jujur dan seimbang. Perusahaan perlu mengakui adanya kritik dari LSM dan masyarakat adat, lalu menjelaskan langkah konkret untuk mengurangi dampak lingkungan serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Di sisi lain, perusahaan juga harus menyampaikan target dan indikator yang jelas, misalnya jumlah tenaga kerja lokal yang diserap atau luas lahan yang direstorasi. Dengan begitu, laporan tidak hanya meyakinkan investor global, tapi juga bisa diterima oleh masyarakat lokal yang langsung terdampak.
Setelah saya menyimak video “Reporting on SDGs”, saya menangkap pesan bahwa perusahaan sekarang tidak bisa lagi hanya mengejar keuntungan finansial, tapi juga dituntut memberi kontribusi nyata pada lingkungan dan masyarakat. SDGs menjadi panduan penting agar bisnis selaras dengan tujuan global, seperti mengurangi emisi, mendukung energi bersih, atau menciptakan lapangan kerja yang layak. Video ini menunjukkan bahwa dengan merancang strategi yang terhubung langsung pada SDGs, perusahaan bisa membuktikan bahwa mereka peduli pada keberlanjutan, bukan sekadar angka laba di laporan tahunan.
Video ini juga menjelaskan bagaimana proses pelaporan SDGs seharusnya dilakukan secara sederhana tetapi transparan. Mulai dari memilih tujuan yang paling relevan dengan kegiatan usaha, menetapkan indikator yang bisa diukur, hingga menyampaikan hasilnya kepada publik. Menurut saya, pendekatan ini membuat laporan keberlanjutan lebih bermakna karena bukan hanya menampilkan keberhasilan, tapi juga mengakui tantangan yang dihadapi. Dengan begitu, perusahaan bisa membangun kepercayaan pemangku kepentingan sekaligus menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pembangunan berkelanjutan.
Artikel karya Muhammad Daham Sabbar menekankan bahwa akuntansi keuangan bukan sekadar pencatatan transaksi, melainkan sarana penting dalam menyampaikan informasi yang transparan dan relevan kepada berbagai pemangku kepentingan. Di era globalisasi, laporan keuangan harus mampu merefleksikan kondisi ekonomi yang sesungguhnya, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi tersebut bermanfaat luas, akuntansi perlu mengutamakan keandalan, relevansi, dan kesesuaian dengan standar internasional sehingga laporan perusahaan bisa dibandingkan secara global.
Selain itu, akuntansi juga memiliki peran sosial dalam menjaga kepercayaan publik dan mendukung pembangunan ekonomi. Laporan yang disusun dengan transparan dapat meningkatkan keyakinan investor dan masyarakat, sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis. Sebaliknya, jika akuntansi digunakan untuk manipulasi, maka risiko hilangnya kepercayaan akan menjadi ancaman serius. Karena itu, penulis menekankan bahwa akuntansi keuangan harus dipandang bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi juga instrumen moral yang berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Artikel ini menjelaskan bahwa akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) berusaha menghubungkan aspek psikologi, sosiologi, dan perilaku manusia dengan praktik akuntansi. Tidak hanya sebatas mencatat dan melaporkan transaksi, akuntansi juga dipengaruhi oleh sikap, motivasi, persepsi, kepribadian, serta nilai-nilai yang dimiliki individu maupun kelompok dalam organisasi. Penulis menegaskan bahwa memahami faktor psikologis dan sosial ini penting agar sistem akuntansi tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga mampu mencegah masalah etika, seperti kasus manipulasi laporan keuangan yang pernah terjadi di perusahaan besar dunia. Dengan kata lain, akuntansi tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia yang menggunakannya maupun yang terlibat dalam prosesnya.
Lebih jauh, artikel ini menyoroti bagaimana konsep-konsep psikologi seperti perubahan sikap, teori motivasi, disonansi kognitif, hingga pembentukan kepribadian dapat diaplikasikan dalam akuntansi keperilakuan. Hal ini membantu menjelaskan mengapa perilaku individu dalam organisasi bisa memengaruhi pengambilan keputusan dan desain sistem akuntansi. Penulis menyimpulkan bahwa akuntansi keperilakuan penting dipahami, baik oleh praktisi maupun akademisi, untuk membangun sistem yang lebih transparan, etis, dan mendukung keberlanjutan organisasi. Dengan mengintegrasikan aspek manusia, akuntansi dapat berfungsi tidak hanya sebagai alat hitung, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan dan integritas dalam dunia usaha.