NASHITA SHAFIYAH
2413031009
1. Perbandingan pendekatan tradisional fair value vs AI dalam teori akuntansi
Dalam pendekatan tradisional, penilaian fair value sangat bergantung pada penilaian profesional, penggunaan data pasar yang dapat diverifikasi, serta pertimbangan akuntansi yang dapat dijelaskan secara transparan, sehingga auditor dapat menelusuri asumsi, input, dan teknik penilaian yang digunakan. Sebaliknya, pendekatan berbasis AI memindahkan proses penilaian ke algoritma yang mengolah big data secara otomatis, sehingga meskipun hasilnya cepat dan adaptif terhadap kondisi pasar, proses pengambilannya cenderung menjadi “black box” yang sulit dipahami. Dari perspektif teori akuntansi, pendekatan tradisional menekankan verifiability dan understandability, sedangkan AI menonjolkan efisiensi dan predictive accuracy, namun berpotensi melemahkan representational faithfulness jika modelnya tidak dapat dijelaskan.
2. Implikasi epistemologis penggunaan AI dalam fair value
Penggunaan AI mengubah sumber pengetahuan akuntansi karena informasi tidak lagi sepenuhnya berasal dari penilaian manusia, tetapi dari model algoritmik yang bergantung pada kualitas data, parameter tersembunyi, dan pola historis semua ini tidak selalu terlihat oleh pengguna laporan keuangan. Secara epistemologis, validitas pengetahuan akuntansi menjadi dipertanyakan apabila akuntan tidak memahami bagaimana AI membentuk nilai wajar atau jika data pelatihan mengandung bias pasar yang tidak terdeteksi. Hal ini menciptakan tantangan baru terhadap prinsip justifiability dalam akuntansi, karena hasil AI dapat menghasilkan angka yang tampak objektif tetapi tidak dapat dibenarkan secara substantif tanpa mekanisme explainability yang memadai.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan agar sesuai IFRS 13
Untuk memastikan penilaian AI tetap selaras dengan IFRS 13, perusahaan perlu mengembangkan kerangka akuntabilitas yang mencakup dokumentasi lengkap atas model, sumber data, asumsi utama, serta prosedur validasi yang dilakukan secara berkala. Transparansi dapat diperkuat dengan model explainability, seperti mengungkapkan faktor pasar yang paling berpengaruh terhadap output AI, rentang sensitifitas nilai, dan uji kecocokan data input dengan hierarki fair value (level 1–3). Selain itu, perusahaan harus menyediakan governance yang kuat berupa pengawasan manusia (human oversight), audit model oleh pihak independen, serta mekanisme fallback jika algoritma gagal atau memberikan hasil yang tidak wajar. Dengan cara ini, penilaian AI tetap dapat diterima auditor dan regulator tanpa mengorbankan keandalan informasi keuangan.