CASE STUDY 1

CASE STUDY 1

CASE STUDY 1

Number of replies: 33

PT Hijau Lestari, sebuah perusahaan agribisnis di Indonesia, sedang mempersiapkan sustainability reporting (laporan keberlanjutan) sesuai dengan standar GRI (Global Reporting Initiative). Perusahaan ini mempertimbangkan untuk menggunakan teknologi blockchain guna meningkatkan transparansi dan integritas data dalam laporan keberlanjutan mereka, khususnya terkait jejak karbon dan sumber bahan baku.

Namun, manajemen belum sepenuhnya memahami implikasi akuntansi dan etika dari penggunaan blockchain dalam pelaporan tersebut, serta bagaimana hal ini akan diterima oleh stakeholder dan regulator di Indonesia.

Pertanyaan:

  1. Analisislah bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam konteks sustainability reporting.
  2. Evaluasilah tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global.
  3. Berikan rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi ini.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Fathiyah Dzahirah 2413031001 -
Nama : Fathiyah Dzahirah
NPM : 2413031001

Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi):
Penggunaan blockchain dapat memperkuat prinsip reliabilitas karena data dicatat secara permanen, sulit diubah, dan memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini meningkatkan keandalan pengukuran jejak karbon dan asal bahan baku dalam sustainability reporting sesuai GRI. Selain itu, transparansi meningkat karena setiap transaksi dapat diverifikasi oleh pihak terkait, sehingga mengurangi asimetri informasi dan meningkatkan akuntabilitas perusahaan terhadap stakeholder.

Tantangan Regulasi Indonesia dan Global:
Tantangannya meliputi belum matangnya regulasi terkait penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan, standarisasi data lingkungan yang belum seragam, serta isu privasi dan keamanan data. Regulasi Indonesia mengenai ESG dan GRI belum secara eksplisit mengatur mekanisme berbasis blockchain, sehingga menimbulkan potensi ketidaksesuaian audit. Secara global, perbedaan standar dan ekspektasi antarnegara dapat menyebabkan kompleksitas kepatuhan, terutama dalam rantai pasok internasional.

Rekomendasi Strategis:
PT Hijau Lestari perlu mengadopsi tata kelola data yang kuat, melakukan verifikasi algoritma blockchain, serta memastikan kualitas input data agar sesuai prinsip akuntansi dan pedoman GRI. Perusahaan disarankan menjalin kolaborasi dengan auditor dan regulator untuk memastikan kepatuhan, sambil mengintegrasikan teknologi blockchain dengan sistem pelaporan yang ada melalui pilot project. Edukasi internal, data governance, dan evaluasi risiko etika harus dilakukan untuk memastikan penerapan teknologi tetap konsisten dengan prinsip transparansi, akurasi, dan akuntabilitas laporan keberlanjutan.
In reply to Fathiyah Dzahirah 2413031001

Re: CASE STUDY 1

by Saskia Kanesa Dinia -
Nama: Saskia Kanesa Dinia
NPM: 241303121

1. Pengaruh Blockchain terhadap Akuntansi
Teknologi blockchain meningkatkan reliabilitas dan transparansi laporan keberlanjutan karena data bersifat permanen, dapat ditelusuri, dan sulit dimanipulasi. Hal ini mendukung teori akuntansi yang menekankan informasi yang andal dan berguna bagi pengambilan keputusan stakeholder.

2. Tantangan Penerapan
Tantangan utama meliputi ketidakjelasan regulasi di Indonesia, biaya dan kesiapan teknologi, keterbatasan SDM, serta isu etika dan privasi data. Selain itu, perbedaan regulasi global dapat mempersulit penerimaan laporan berbasis blockchain.

3. Rekomendasi Strategis
Perusahaan disarankan menerapkan blockchain secara bertahap, tetap mengacu pada standar GRI, memastikan data dapat diaudit, serta meningkatkan kompetensi SDM. Penggunaan blockchain harus berfokus pada akuntabilitas dan manfaat nyata bagi stakeholder.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Nashita Shafiyah -

NASHITA SHAFIYAH

2413031009


1) Pengaruh blockchain terhadap teori akuntansi (reliabilitas & transparansi) 

Blockchain dapat memperkuat elemen reliabilitas dan transparansi dalam sustainability reporting karena menyediakan bukti jejak (audit trail) yang tak mudah diubah, timestamped, dan verifiable secara kriptografis; ini menggeser beban verifikasi dari dokumen fisik ke bukti digital yang dapat diaudit terus-menerus. Namun teori akuntansi yang tradisional—yang bergantung pada judgement manajerial, bukti sumber yang dapat diverifikasi secara independen, dan prinsip materialitas—harus diperluas untuk memasukkan konsep “data provenance” dan validitas input (garbage in, garbage out): catatan di blockchain meningkatkan keandalan hanya jika input awalnya benar dan kontrol internal kuat. Dengan kata lain, blockchain memperbaiki traceability dan integritas penyimpanan, tetapi tidak otomatis menjamin kebenaran substantif tanpa mekanisme verifikasi sumber, pengungkapan metode pengukuran (mis. perhitungan emisi), dan audit atas proses pengumpulan datanya.


2) Tantangan penerapan di Indonesia & global 

Tantangan utama bersifat praktis, regulatori, dan etis: 

(a) validitas hukum bukti berbasis blockchain di yurisdiksi lokal dan perlindungan privasi data (mis. data pemasok) belum sepenuhnya jelas

(b) interoperabilitas standar bagaimana data blockchain dipetakan ke format GRI, standar MRV (measurement, reporting, verification), atau persyaratan pengawas—dapat memicu inkonsistensi

(c) masalah governance seperti siapa yang menulis/menyetujui entri pada rantai (permissioned vs public), potensi konflik kepentingan penyedia data, dan beban biaya/teknis pada pemasok kecil

(d) resistensi stakeholder (auditor tradisional, regulator, lembaga pemeringkat) yang belum terbiasa menilai bukti kriptografis; serta 

(e) risiko keamanan siber dan tantangan skala/keandalan data yang harus diatasi agar laporan tidak sekadar “pamer teknologi” tetapi benar-benar kredibel.


3) Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi & teknologi  

Mulailah dengan pendekatan bertahap: pilot pada satu rantai pasok atau metrik (mis. jejak karbon komoditas utama), gunakan permissioned blockchain untuk kontrol akses dan privasi, dan kombinasikan catatan on-chain dengan off-chain attestations (sensor IoT, sertifikat pihak ketiga) yang jelas metodologinya menurut GRI. Perkuat governance etapkan siapa penulis data, proses validasi, SLA untuk koreksi, dan independen third-party attestors (verifier) yang diakui; dokumentasikan metode pengukuran, asumsi, dan tingkat ketidakpastian dalam laporan sesuai prinsip akuntansi (pengakuan, pengukuran, pengungkapan). Libatkan auditor dan regulator sejak awal untuk menyepakati bukti yang dapat diterima secara hukum, dan siapkan pelatihan kemampuan digital untuk tim akuntansi. Terakhir, komunikasikan perubahan ini secara transparan kepada pemangku kepentingan: jelaskan manfaat (traceability, efisiensi verifikasi) sekaligus keterbatasan teknis dan kontrol yang diterapkan  ini menjaga kredibilitas sambil meminimalkan risiko etika dan regulatori.


In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Tantowi Jauhari -
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan meningkatkan reliabilitas informasi karena setiap data—seperti jejak karbon, penggunaan energi, atau asal bahan baku—tersimpan dalam ledger terdistribusi yang tidak mudah dimodifikasi, sehingga mengurangi risiko manipulasi atau greenwashing. Dalam teori akuntansi, konsep verifiability dan representational faithfulness semakin kuat karena transaksi atau data lingkungan divalidasi oleh banyak pihak dan memiliki jejak audit yang permanen. Transparansi juga meningkat karena data dapat dilihat secara real-time dan dapat ditelusuri (traceable) sehingga pemangku kepentingan lebih percaya bahwa laporan mengikuti prinsip GRI yang menekankan akurasi, kelengkapan, dan keterbandingan informasi.

2. Tantangan Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari dapat menghadapi tantangan dari sisi regulasi karena penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan masih relatif baru dan belum sepenuhnya diatur secara spesifik oleh OJK maupun standar GRI, sehingga terdapat risiko ketidakpastian hukum dan kesulitan penyesuaian terhadap pedoman audit lingkungan. Selain itu, peraturan perlindungan data di Indonesia (UU PDP) dapat membatasi jenis data yang boleh disimpan dalam blockchain, terutama jika melibatkan data sensitif atau lintas negara. Secara global, tantangan muncul pada harmonisasi standar, interoperabilitas teknologi, serta penerimaan auditor dan regulator yang mungkin masih meragukan validitas data berbasis blockchain jika tidak disertai mekanisme verifikasi independen.

3. Rekomendasi Strategi Implementasi
PT Hijau Lestari dapat mengadopsi pendekatan bertahap dengan melakukan pilot project pada satu jenis data keberlanjutan (misalnya jejak karbon) untuk menguji kelayakan sistem blockchain sebelum diperluas ke seluruh rantai pasok. Berdasarkan teori akuntansi, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem yang diterapkan memenuhi karakteristik kualitatif laporan seperti relevance, faithful representation, dan comparability dengan mengintegrasikan smart contract untuk otomatisasi pencatatan data yang terukur. PT Hijau Lestari juga sebaiknya bekerja sama dengan auditor independen, konsultan GRI, serta regulator (seperti OJK dan KLHK) untuk memastikan kesesuaian praktik dengan standar nasional dan internasional. Selain itu, meningkatkan literasi teknologi internal dan menyediakan mekanisme off-chain verification menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas data dan penerimaan pemangku kepentingan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Refamei Kudadiri -
Nama: Refamei Kudadiri
Npm:2413031014

1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dapat memperkuat dua konsep inti dalam teori akuntansi: reliabilitas dan transparansi. Data yang dicatat di blockchain bersifat immutable dan memiliki jejak audit otomatis, sehingga meningkatkan keandalan informasi terkait emisi karbon, asal bahan baku, dan konsumsi energi. Hal ini mendukung prinsip representational faithfulness—informasi yang disajikan lebih konsisten dengan kondisi nyata di lapangan. Transparansi juga meningkat karena stakeholder dapat memverifikasi data secara langsung tanpa bergantung sepenuhnya pada klaim perusahaan. Namun, teori akuntansi menekankan bahwa reliabilitas tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh mutu input. Jika proses pencatatan di tahap awal keliru atau bias, blockchain hanya akan mengunci kesalahan tersebut secara permanen. Artinya, teknologi meningkatkan struktur pengendalian, tetapi tidak menggantikan kebutuhan atas judgement akuntansi yang benar.
2. Tantangan dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Global
Di Indonesia, penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan belum memiliki payung regulasi yang jelas. Standar GRI, OJK, dan POJK 51/2017 mendorong transparansi, tetapi tidak memberikan panduan teknis tentang teknologi pendukung seperti blockchain. Akibatnya, PT Hijau Lestari mungkin menghadapi ketidakpastian terkait validitas hukum bukti digital, integrasi dengan sistem audit lokal, serta persepsi regulator yang masih berhati-hati terhadap teknologi baru. Secara global, masalah interoperabilitas standar, perlindungan data, serta keberlanjutan energi blockchain juga menjadi isu. Selain itu, auditor atau regulator harus mampu memverifikasi sistem blockchain itu sendiri, bukan hanya datanya—sesuatu yang membutuhkan keahlian yang belum banyak tersedia.
3. Rekomendasi Strategis
Perusahaan perlu mengadopsi pendekatan yang sejalan dengan teori akuntansi dan perkembangan teknologi. Pertama, memastikan bahwa proses input data tunduk pada pengendalian internal yang kuat sehingga catatan yang masuk ke blockchain sudah valid. Kedua, memilih jenis blockchain yang efisien energi dan bersifat permissioned agar sesuai dengan kebutuhan tata kelola dan privasi perusahaan agribisnis. Ketiga, melakukan pelatihan bagi akuntan internal dan bekerja sama dengan auditor untuk mengembangkan metodologi audit digital yang kompatibel. Keempat, menyelaraskan desain sistem blockchain dengan GRI Standards dan ketentuan OJK agar penerapannya mudah diterima oleh regulator dan stakeholder. Dengan langkah-langkah ini, PT Hijau Lestari dapat memanfaatkan keunggulan teknologi tanpa mengabaikan prinsip akuntansi, etika, dan kepatuhan regulasi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Nurida Elsa -

Nama: Nurida Elsa

NPM: 2413031012


1. Pengaruh Blockchain terhadap Reliabilitas dan Transparansi Akuntansi

Blockchain dapat memperkuat dua prinsip penting dalam akuntansi, yaitu reliabilitas dan transparansi. Karena data di blockchain tidak bisa diubah dan selalu memiliki jejak audit, informasi seperti emisi karbon atau asal bahan baku menjadi lebih akurat dan mudah diverifikasi. Ini mendukung prinsip bahwa laporan harus mencerminkan kondisi sebenarnya. Namun, akuntansi tetap bergantung pada kualitas data awal—jika data yang dimasukkan sudah salah, blockchain justru mengunci kesalahan itu selamanya. Jadi, meskipun blockchain meningkatkan keamanan dan keterbukaan data, perusahaan tetap harus memastikan proses pencatatan awal dilakukan dengan benar.

2. Tantangan dalam Regulasi Indonesia dan Global.

Di Indonesia, belum ada aturan khusus yang mengatur penggunaan blockchain untuk laporan keberlanjutan. Standar seperti GRI atau POJK 51 memang mewajibkan transparansi, tetapi belum menyediakan panduan teknis penggunaan teknologi seperti blockchain. Akibatnya, perusahaan dapat menghadapi ketidakpastian hukum terkait bukti digital, cara auditor memeriksa sistem, serta kesiapan regulator yang masih berhati-hati. Di tingkat global, tantangannya mencakup standar data yang berbeda-beda, perlindungan informasi, dan isu konsumsi energi blockchain. Selain itu, auditor bukan hanya harus menilai datanya, tetapi juga menilai sistem blockchain itu sendiri, yang membutuhkan keahlian khusus.

3. Rekomendasi Strategis bagi PT Hijau Lestari

Agar penerapan blockchain berhasil, perusahaan perlu memastikan bahwa data yang masuk sudah benar melalui pengendalian internal yang kuat. Perusahaan juga sebaiknya memilih jenis blockchain yang hemat energi dan memiliki akses terbatas (permissioned) agar sesuai dengan kebutuhan privasi dan tata kelola. Selain itu, penting untuk melatih akuntan dan bekerja sama dengan auditor supaya proses pemeriksaan data dapat menyesuaikan dengan teknologi baru. Terakhir, perusahaan harus memastikan sistem blockchain yang dibangun tetap selaras dengan standar GRI dan ketentuan OJK agar mudah diterima oleh regulator dan stakeholder. Dengan langkah-langkah ini, teknologi dapat dimanfaatkan dengan optimal tanpa mengabaikan etika, aturan, dan prinsip akuntansi.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Serly Natasa -
Nama: Serly Natasa
NPM: 2413031028


1. Penerapan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan dapat memperkuat prinsip reliabilitas dan transparansi data akuntansi karena teknologi ini menyediakan rekaman informasi yang aman, tidak dapat diubah, dan dapat diakses secara transparan. Dengan demikian, data jejak karbon dan sumber bahan baku yang terekam di blockchain menjadi lebih kredibel dan mudah diverifikasi oleh pihak eksternal, sehingga meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap laporan keberlanjutan perusahaan. Hal ini sejalan dengan teori akuntansi yang menekankan pentingnya informasi yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Penerapan blockchain menghadapi tantangan seperti skalabilitas, risiko keamanan siber, serta kesulitan integrasi dengan sistem yang telah ada. Di Indonesia, regulasi blockchain masih berkembang dan belum sepenuhnya mendukung aspek teknis dan legal penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan. Di tingkat global, perusahaan perlu memahami berbagai standar pelaporan seperti GRI, ESRS, dan IFRS S1 yang mulai mempertimbangkan teknologi digital, namun implementasinya masih bervariasi dan memerlukan pendekatan yang harmonis antara inovasi dan kepatuhan regulasi.

3. PT Hijau Lestari disarankan membangun infrastruktur blockchain yang sesuai dengan standar pelaporan keberlanjutan GRI dan memastikan integrasi dengan sistem akuntansi yang ada. Perusahaan juga perlu meningkatkan kompetensi SDM terkait teknologi blockchain serta berkoordinasi dengan auditor dan regulator untuk memastikan kepatuhan dan kualitas data. Sebaiknya dilakukan uji coba terlebih dahulu untuk menilai efektivitas dan mendapatkan masukan dari stakeholder sebelum implementasi penuh, serta menyusun kebijakan tata kelola yang kuat guna menjaga integritas dan privasi data.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

1. Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting PT Hijau Lestari dapat memperkuat teori akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi informasi. Blockchain menyediakan ledger yang tidak dapat diubah dan terdesentralisasi, sehingga data jejak karbon dan sumber bahan baku dapat diverifikasi secara independen dan transparan, mengurangi risiko manipulasi dan meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap laporan keberlanjutan.

2. Tantangan utama yang dihadapi PT Hijau Lestari meliputi ketidakpastian regulasi di Indonesia, integrasi dengan standar GRI dan regulasi internasional, serta kebutuhan kompetensi teknis dan sumber daya untuk mengelola sistem blockchain. Selain itu, interoperabilitas antar platform blockchain dan resistensi terhadap perubahan di lingkungan organisasi juga menjadi hambatan signifikan.

3. Rekomendasi strategis yang dapat diberikan adalah:
-melakukan konsultasi intensif dengan regulator dan asosiasi akuntansi untuk memastikan kepatuhan terhadap standar lokal dan global
-membangun kerangka kerja pengendalian internal yang kuat untuk mengelola data blockchain
-meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan teknologi digital dan audit sustainability
-berkolaborasi dengan pihak ketiga seperti auditor teknologi dan penyedia layanan blockchain untuk memastikan validitas dan keamanan data
-aktif berpartisipasi dalam pengembangan standar pelaporan sustainability berbasis teknologi di Indonesia
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Syifa Dwi Putriyani -
Nama: Syifa Dwi Putriyani
NPM: 2413P31024

Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)

Penerapan blockchain mampu meningkatkan reliabilitas karena setiap data dicatat secara permanen, sulit dimodifikasi, dan memiliki jejak audit yang transparan. Hal ini memperkuat keakuratan pelacakan jejak karbon serta asal bahan baku dalam sustainability reporting sesuai standar GRI. Transparansi juga meningkat karena setiap pihak yang berkepentingan dapat memeriksa transaksi secara langsung, sehingga mengurangi ketimpangan informasi dan memperkuat akuntabilitas perusahaan kepada para stakeholder.

Tantangan Regulasi Indonesia dan Global

Beberapa hambatan muncul karena regulasi mengenai penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan masih belum berkembang, ditambah standar data lingkungan yang belum konsisten, serta masalah privasi dan keamanan informasi. Regulasi ESG dan GRI di Indonesia juga belum secara spesifik mengatur pemanfaatan blockchain, sehingga dapat menimbulkan potensi ketidaktepatan dalam proses audit. Di tingkat global, variasi standar dan tuntutan antarnegara menyebabkan tantangan kepatuhan, terutama bagi perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok internasional.

Rekomendasi Strategi

PT Hijau Lestari disarankan membangun tata kelola data yang solid, melakukan pengecekan terhadap algoritma blockchain, serta memastikan kualitas data yang dimasukkan sesuai prinsip akuntansi dan pedoman GRI. Perusahaan juga perlu bekerja sama dengan auditor dan regulator untuk menjamin kepatuhan, sambil menjalankan proyek percontohan untuk mengintegrasikan blockchain dengan sistem pelaporan yang sudah ada. Selain itu, pelatihan internal, penguatan data governance, serta evaluasi risiko etika penting dilakukan agar penerapan teknologi sejalan dengan prinsip transparansi, ketepatan, dan akuntabilitas dalam laporan keberlanjutan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Eris Ana Dita -

Nama : Eris Ana Dita

Npm : 2413031017

1. Penggunaan teknologi blockchain

Penggunaan teknologi blockchain meningkatkan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam sustainability reporting GRI melalui sifatnya yang immutable, desentralisasi, dan verifikasi real-time, yang selaras dengan teori akuntansi seperti triple-entry accounting (TEA) yang menggantikan double-entry rentan manipulasi. Dalam konteks jejak karbon dan rantai pasok PT Hijau Lestari, blockchain menciptakan audit trail lengkap yang mencegah greenwashing, mengurangi asimetri informasi, dan mendukung prinsip reliabilitas (verifiability dan representational faithfulness) serta transparansi sesuai GRI Standards. Hal ini memperkuat legitimasi laporan keberlanjutan bagi stakeholder dengan data yang tak terubah dan traceable dari sumber bahan baku hingga emisi.

2. Tantangan Regulasi dan Implementasi

PT Hijau Lestari menghadapi regulasi Indonesia yang sedang berkembang, seperti Sustainability Disclosure Standards (SPK) dari DSK IAI yang selaras IFRS S1/S2 efektif 2027 dan POJK 51/2017, di mana OJK belum punya pedoman khusus blockchain untuk sustainability reporting meski mendukung fintech via sandbox. Tantangan global termasuk interoperability antarplatform, konsumsi energi tinggi (meski PoS lebih efisien), serta kurangnya standar akuntansi untuk aset digital blockchain. Di Indonesia, disharmoni antarotoritas (OJK, BI) menimbulkan ketidakpastian hukum, ditambah keterbatasan SDM akuntansi dan infrastruktur digital pada agribisnis.

3Rekomendasi Strategis
Mulai dengan pilot project blockchain permissioned untuk jejak karbon dan
traceability bahan baku, integrasikan dengan IoT/AI untuk data real-time sesuai
institutional theory guna adaptasi regulasi OJK. Kolaborasi multi-stakeholder
(OJK sandbox, IAI, konsorsium industri) dan pelatihan akuntan digital untuk
compliance SPK/GRI, sambil pantau harmonisasi global ISSB. Adopsi bertahap:
asses materiality ESG, bangun kapasitas internal, dan ukur ROI via pengurangan
biaya audit untuk penerimaan stakeholder.
 

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1) Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas & transparansi
Penggunaan blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi dalam sustainability reporting karena setiap data (misalnya jejak karbon atau asal bahan baku) dicatat dalam sistem yang tidak mudah diubah dan memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini memperkuat kepercayaan terhadap integritas data. Namun, blockchain tidak otomatis menjamin kebenaran isi data—kalau data awalnya salah, maka catatan blockchain tetap salah. Jadi, kualitas bukti akuntansi tetap bergantung pada proses input dan verifikasi off-chain.

2) Tantangan regulasi di Indonesia dan global
Tantangan utama PT Hijau Lestari adalah belum adanya regulasi Indonesia yang secara spesifik mengatur penggunaan blockchain untuk sustainability reporting, sehingga perusahaan harus memastikan kesesuaian dengan standar GRI, OJK, dan prinsip perlindungan data. Tantangan lainnya termasuk biaya implementasi, kemampuan pemasok kecil untuk beradaptasi, serta kebutuhan auditor untuk tetap melakukan verifikasi manual. Secara global, persyaratan standar IFRS/ISSB juga makin ketat, sehingga integrasi blockchain harus memenuhi tuntutan bukti yang dapat diaudit.

3) Rekomendasi strategis
PT Hijau Lestari sebaiknya menerapkan tata kelola data yang kuat, memverifikasi data sebelum masuk ke blockchain, dan menggunakan model hybrid (on-chain untuk integritas, off-chain untuk data mentah). Perusahaan juga perlu melibatkan auditor sejak awal, memastikan kepatuhan hukum, dan memulai implementasi bertahap melalui pilot project. Dalam laporan GRI, perusahaan harus menjelaskan bagaimana blockchain digunakan, batasannya, dan proses verifikasi sehingga pengguna laporan memahami tingkat keandalan data.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Reyhta Putri Herdian -
Nama : Reyhta Putri Herdian
NPM : 2413031035

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting berpotensi memperkuat prinsip akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi informasi. Dalam teori akuntansi, informasi yang andal harus dapat diverifikasi, bebas dari manipulasi, dan konsisten dari waktu ke waktu. Blockchain menyediakan sistem pencatatan yang immutable, terdesentralisasi, dan dapat diakses secara real-time, sehingga data seperti jejak karbon atau asal-usul bahan baku dapat diverifikasi secara independen oleh stakeholder. Dengan demikian, blockchain meningkatkan kredibilitas laporan keberlanjutan karena risiko manipulasi data berkurang, dan setiap transaksi atau jejak rantai pasok tercatat secara permanen.

2. Meskipun teknologi ini menawarkan transparansi tinggi, PT Hijau Lestari menghadapi sejumlah tantangan regulasi dan operasional. Di Indonesia, peraturan terkait penggunaan blockchain dalam pelaporan non-keuangan masih terbatas, sehingga perusahaan harus berhati-hati agar penerapan teknologi ini tidak melanggar ketentuan perlindungan data, pajak, atau pelaporan lingkungan yang berlaku. Secara global, standar seperti GRI atau SASB mengakui pentingnya transparansi, tetapi belum sepenuhnya mengatur penggunaan teknologi blockchain, sehingga auditor dan regulator mungkin memerlukan bukti tambahan terkait validitas data. Selain itu, adopsi blockchain membutuhkan investasi infrastruktur IT yang signifikan dan kemampuan sumber daya manusia untuk mengelola dan memverifikasi sistem.

3. PT Hijau Lestari sebaiknya mengintegrasikan teori akuntansi tradisional dengan inovasi teknologi. Strategi yang dapat dilakukan meliputi: memastikan setiap data yang dicatat di blockchain memiliki sumber yang dapat diverifikasi (data provenance), mendokumentasikan prosedur pengukuran dan input data untuk audit trail, serta melakukan validasi silang antara data blockchain dan catatan internal perusahaan. Selain itu, perusahaan harus melibatkan auditor independen yang memahami teknologi blockchain untuk memberikan assurance pada laporan keberlanjutan. Pelatihan SDM dan kolaborasi dengan regulator juga penting agar implementasi sesuai dengan standar lokal dan internasional, sekaligus menjaga kredibilitas di mata stakeholder. Dengan kombinasi akuntabilitas, teknologi, dan kepatuhan regulasi, blockchain dapat meningkatkan kualitas dan kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan perusahaan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Rahmi Taqiya Darmawanti -
Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM: 2413031006

1. Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting meningkatkan reliabilitas informasi akuntansi melalui sifat immutable dan desentralisasi data, memastikan jejak karbon serta rantai pasok bahan baku tidak dapat dimanipulasi, selaras dengan prinsip akuntansi GRI yang menekankan verifikasi independen. Transparansi juga terdongkrak karena stakeholder dapat mengakses ledger terdistribusi secara real-time, mengurangi greenwashing dan membangun kepercayaan di konteks pelaporan ESG. Pendekatan ini merevolusi teori akuntansi tradisional dengan menggantikan verifikasi manual menjadi konsensus otomatis, meski memerlukan adaptasi standar GRI untuk integrasi data digital.

2. PT Hijau Lestari berpotensi menghadapi hambatan regulasi di Indonesia, di mana OJK masih mengembangkan kerangka ESG reporting tanpa panduan spesifik blockchain, menyebabkan ketidakpastian kepatuhan dengan POJK dan standar GRI yang sedang transisi. Secara global, interoperability antar platform blockchain menyulitkan integrasi dengan sistem legacy, ditambah keterbatasan sumber daya teknis di perusahaan agribisnis skala menengah. Resistensi organisasi dan kurangnya expertise lokal juga memperbesar risiko, terutama di sektor dengan variasi kualitas pengungkapan ESG seperti agribisnis.

3. Adopsi hybrid model yang mengintegrasikan blockchain dengan AI untuk analisis data GRI, didukung pelatihan akuntan dalam smart contracts guna menjaga judgement profesional. Libatkan auditor eksternal untuk continuous verification melalui akses blockchain, serta kolaborasi dengan regulator OJK untuk pilot project transparansi rantai pasok. Pantau evolusi standar global seperti ISSB sambil menguji interoperability, memastikan skalabilitas untuk jejak karbon tanpa mengorbankan biaya operasional.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Mourien Ganesti -

Nama : Mourien Ganesti 

Npm : 2413031013

CASE STUDY 1

1. Dalam dunia akuntansi, prinsip-prinsip seperti keandalan, keterbukaan, dan kemampuan untuk diverifikasi menjadi landasan penting guna menjamin bahwa informasi akuntansi dapat diterima oleh para pemangku kepentingan, khususnya dalam konteks pelaporan keberlanjutan yang mengacu pada pedoman GRI dan menekankan pengungkapan data lingkungan, sosial, dan tata kelola, seperti jejak karbon dan rantai pasokan bahan baku. Penerapan teknologi blockchain mampu memperkuat teori akuntansi ini dengan menyimpan informasi dalam buku besar terdistribusi yang tidak bisa diubah, sehingga menghindari manipulasi data atau penghapusan secara permanen, yang sangat bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan kesalahan manusia atau penipuan dalam pengukuran jejak karbon. Ini sejalan dengan konsep representasi yang akurat menurut IFRS, di mana data harus mewakili kenyataan ekonomi dengan tanpa prasangka, sekaligus memberikan akses waktu nyata dan terbuka bagi para pemangku kepentingan yang berwenang, seperti investor atau pengatur, tanpa memerlukan perantara, sehingga mendukung transparansi dalam pelacakan asal bahan baku dari hulu ke hilir untuk memverifikasi klaim keberlanjutan seperti sertifikasi organik. Di samping itu, blockchain menyokong prinsip perbandingan dan kemudahan pemahaman, karena data dapat dibandingkan antara periode dan entitas yang berbeda, serta lebih mudah dipahami melalui visualisasi yang ditawarkan oleh teknologi ini. Dari sudut pandang etika akuntansi, seperti yang tertuang dalam kode etik IFAC, blockchain meningkatkan akuntabilitas dengan mengurangi ketimpangan informasi antara perusahaan dan pemangku kepentingan, namun juga menghadirkan dilema etis seperti masalah privasi terkait data sensitif dalam rantai pasokan yang dapat bocor atau tanggung jawab atas kesalahan teknis, yang harus ditangani melalui tata kelola yang kuat. Secara keseluruhan, teknologi blockchain merubah paradigma pelaporan dari yang statis menjadi lebih dinamis, memperkuat teori akuntansi tradisional dengan tambahan elemen teknologi, tetapi memerlukan integrasi dengan standar seperti GRI agar tidak mengalami ketergantungan.

2. Penerapan teknologi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan menghadapi berbagai hambatan akibat kurangnya regulasi yang jelas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia, OJK/Bapepam-LK belum memberikan pedoman mengenai keabsahan data blockchain, sehingga auditor memiliki kemungkinan untuk menolak bukti yang bersifat digital tersebut. Isu privasi juga menjadi perhatian, mengingat peraturan mengenai data pribadi (PDPA) masih dalam tahap perkembangan. Secara global, standar GRI/IFRS belum mencakup penggunaan blockchain, ditambah dengan variabilitas peraturan antara negara, seperti GDPR yang sangat ketat. Risiko ketidakpatuhan serta tanggung jawab hukum atas kesalahan data menjadikan adopsi blockchain mahal dan bisa memperlambat proses pelaporan.

3. Berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi seperti cost-benefit dan materiality, serta kemajuan teknologi seperti penggabungan AI dengan blockchain untuk analisis data, PT Hijau Lestari dapat menerapkan strategi yang cermat untuk mendukung suksesnya penerapan blockchain dalam laporan keberlanjutan. Pertama, disarankan agar perusahaan memulai dengan pilot project yang terbatas hanya pada satu aspek, misalnya penelusuran jejak karbon, dengan menggunakan blockchain privat seperti Hyperledger untuk meminimalkan risiko, yang sesuai dengan teori akuntansi yang mengedepankan pengujian sebelum dilakukan adopsi secara menyeluruh, sehingga dapat menekan biaya awal dan memberikan kesempatan untuk menilai kehandalan data. Kedua, kerjasama dengan para pemangku kepentingan sangat penting, termasuk mengajak auditor eksternal bersertifikat dari Big Four serta otoritas Indonesia untuk merancang protokol validasi data berbasis blockchain, dan menerapkan standar gabungan yang mengintegrasikan GRI dengan teknologi untuk memastikan transparansi, di mana pendidikan terhadap para pemangku kepentingan melalui seminar dapat mengurangi resistensi dan mendorong etika dalam adopsi. Ketiga, perpaduan teknologi dan tata kelola internal sangat diperlukan, misalnya dengan memanfaatkan blockchain yang dilengkapi smart contracts untuk mengotomatisasi proses verifikasi, bersamaan dengan AI untuk analisis ESG, diikuti dengan penetapan kerangka tata kelola yang mencakup audit berkala dan pengarsipan data untuk memenuhi teori akuntansi mengenai kontrol internal, serta mengawasi perkembangan global seperti inisiatif Blockchain for Impact sebagai tolak ukur. Terakhir, perhatian utama harus diberikan pada mitigasi risiko dengan menganggarkan dana untuk keamanan siber dan asuransi data, serta menyusun rencana darurat jika regulasi mengalami perubahan, sambil mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap reputasi perusahaan, agar memastikan bahwa penerapan ini memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan tanpa mengorbankan efisiensi. Dengan langkah-langkah ini, PT Hijau Lestari dapat secara optimal memanfaatkan blockchain, sambil tetap meminimalkan risiko dari segi regulasi dan etika, dan jika diperlukan, berkonsultasi dengan pakar blockchain dan akuntansi untuk penyesuaian yang lebih spesifik.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Amara Gusti Kharisma -

Nama : Amara Gusti Kharisma

NPM : 2413031033

1. Pengaruh blokchain pada teori akuntansi

Blockchain meningkatkan reliabilitas informasi akuntansi dalam sustainability reporting GRI melalui ledger terdesentralisasi yang immutable, memastikan verifiability dan faithful representation sesuai kerangka konseptual FASB/IASB, sehingga data jejak karbon dan sumber bahan baku tak bisa dimanipulasi. Transparansi ditingkatkan karena transaksi tercatat real-time dan dapat diverifikasi stakeholder tanpa intermediary, mengurangi risiko greenwashing serta asimetri informasi seperti pada signaling perspective dalam earnings management. Hal ini selaras dengan agency theory, di mana smart contracts otomatisasi kepatuhan GRI meminimalkan konflik manajer-stakeholder dan mendukung legitimate theory untuk reputasi perusahaan.

2. Tantangan implementasi

Di Indonesia, PT Hijau Lestari menghadapi ketidakjelasan regulasi karena POJK No. 51/2017 dan standar OJK 2025 belum spesifik mengatur blockchain untuk ESG, sementara OJK Regulation 27/2024 fokus aset kripto tanpa panduan traceability karbon. Secara global, GRI menuntut interoperability blockchain yang kompleks, ditambah konsumsi energi tinggi menyebabkan scalability issues pada agribisnis SMEs. Tantangan etika meliputi privasi data supply chain dan bias algoritma, berpotensi langgar regulasi data pribadi Indonesia serta kurangnya expertise infrastruktur lokal.

3. Rekomendasi strategi

Lakukan pilot project blockchain untuk traceability bahan baku dan karbon menggunakan model REC Indonesia, integrasikan IoT guna data real-time sesuai GRI 305 emissions dan positive accounting theory untuk signaling prospek berkelanjutan. Kolaborasi dengan OJK serta auditor independen melalui blockchain bridge untuk verifikasi, kurangi biaya dan tingkatkan kepercayaan stakeholder. Investasikan pelatihan akuntan pada etika blockchain dikombinasikan AI analisis, pastikan compliance jangka panjang dan daya saing global di pasar agribisnis.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1. Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi: Reliabilitas dan Transparansi dalam Sustainability Reporting
Penggunaan blockchain berpotensi memperkuat konsep reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam sustainability reporting, sebagaimana ditekankan dalam teori akuntansi positif dan normative accounting theory. Dari sisi reliabilitas, karakteristik blockchain yang bersifat immutable, terdesentralisasi, dan menggunakan mekanisme verifikasi berlapis memungkinkan data jejak karbon, penggunaan energi, serta sumber bahan baku dicatat secara permanen tanpa dapat dimanipulasi setelah masuk ke dalam jaringan. Hal ini mendukung prinsip representational faithfulness, di mana informasi yang disajikan mencerminkan kondisi sebenarnya. Selain itu, transparansi meningkat karena blockchain memungkinkan audit trail yang lengkap dan dapat diakses oleh auditor serta stakeholder terkait, mendukung teori decision usefulness yang menekankan bahwa informasi akuntansi harus relevan dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Dalam konteks sustainability reporting GRI, penggunaan blok-blok data yang dapat diverifikasi juga meminimalkan risiko greenwashing, sehingga memperkuat legitimasi perusahaan di mata publik, sebagaimana dibahas dalam teori legitimacy. Dengan demikian, blockchain tidak hanya menjadi alat teknis tetapi juga mekanisme yang memperkuat keandalan dan kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan.

2. Evaluasi Tantangan dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Global
Meskipun potensial, penerapan blockchain oleh PT Hijau Lestari menghadapi sejumlah tantangan regulasi dan operasional. Pertama, regulasi Indonesia terkait teknologi blockchain masih berkembang, terutama dalam aspek perlindungan data, audit digital, dan penerimaan data terdesentralisasi sebagai bukti akuntansi formal. Belum adanya pedoman spesifik OJK atau Kementerian Lingkungan Hidup terkait penggunaan blockchain untuk sustainability reporting dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, khususnya dalam proses verifikasi dan assurance laporan keberlanjutan. Kedua, standar global seperti GRI, ESRS, maupun IFRS Sustainability Disclosure Standards memang mendorong transparansi, tetapi belum memberikan tata cara baku mengenai penggunaan blockchain, sehingga interpretasi dapat bervariasi. Tantangan teknis juga muncul, seperti keterbatasan infrastruktur digital di sektor agribisnis, integrasi antara blockchain dan sistem ERP perusahaan, serta potensi biaya awal yang cukup besar. Selain itu, risiko etis terkait privasi data pemasok dan petani kecil harus diperhatikan, mengingat sebagian data rantai pasok bersifat sensitif. Tantangan lain adalah kesiapan auditor dalam melakukan audit atas sistem blockchain, mengingat kompetensi dan prosedur audit teknologi ini masih dalam proses standardisasi global.

3. Rekomendasi Strategis Berbasis Teori Akuntansi dan Teknologi
Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain dalam sustainability reporting, PT Hijau Lestari dapat mengambil sejumlah langkah strategis. Pertama, berdasarkan teori decision usefulness dan stakeholder theory, perusahaan perlu melakukan materiality assessment untuk menentukan indikator GRI mana yang paling diuntungkan oleh penggunaan blockchain, misalnya jejak karbon (GRI 305) atau rantai pasok bahan baku (GRI 204). Kedua, perusahaan sebaiknya mengadopsi pendekatan bertahap (pilot project) pada satu segmen rantai pasok untuk menguji efektivitas teknologi dan memastikan kesesuaian dengan kebutuhan auditor dan regulator. Ketiga, kolaborasi dengan lembaga verifikasi independen, startup blockchain, dan asosiasi industri diperlukan untuk memastikan standar, keamanan, serta validitas data sesuai praktik internasional. Keempat, perusahaan perlu menyusun governance data yang jelas, mencakup etika digital, privasi, dan mekanisme verifikasi, sejalan dengan prinsip akuntansi mengenai kontrol internal. Selain itu, PT Hijau Lestari dapat mengedukasi stakeholder internal (manajemen, auditor internal, dan staf sustainability) tentang implikasi akuntansi dan etika dari blockchain untuk meningkatkan organizational readiness. Terakhir, berpartisipasi dalam diskusi publik dengan regulator dan organisasi profesi (IAI, OJK, KLHK) dapat membantu mendorong pembentukan pedoman nasional terkait digital sustainability reporting. Dengan strategi ini, implementasi blockchain dapat berjalan lebih efektif, diterima oleh regulator, dan meningkatkan kredibilitas laporan keberlanjutan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Susan Ti -
NAMA:SUSANTI
NPM:2413031034


1. Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi: Reliabilitas dan Transparansi dalam Sustainability Reporting
Penggunaan blockchain berpotensi memperkuat konsep reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam sustainability reporting, sebagaimana ditekankan dalam teori akuntansi positif dan normative accounting theory. Dari sisi reliabilitas, karakteristik blockchain yang bersifat immutable, terdesentralisasi, dan menggunakan mekanisme verifikasi berlapis memungkinkan data jejak karbon, penggunaan energi, serta sumber bahan baku dicatat secara permanen tanpa dapat dimanipulasi setelah masuk ke dalam jaringan. Hal ini mendukung prinsip representational faithfulness, di mana informasi yang disajikan mencerminkan kondisi sebenarnya. Selain itu, transparansi meningkat karena blockchain memungkinkan audit trail yang lengkap dan dapat diakses oleh auditor serta stakeholder terkait, mendukung teori decision usefulness yang menekankan bahwa informasi akuntansi harus relevan dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Dalam konteks sustainability reporting GRI, penggunaan blok-blok data yang dapat diverifikasi juga meminimalkan risiko greenwashing, sehingga memperkuat legitimasi perusahaan di mata publik, sebagaimana dibahas dalam teori legitimacy. Dengan demikian, blockchain tidak hanya menjadi alat teknis tetapi juga mekanisme yang memperkuat keandalan dan kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan.

2. Evaluasi Tantangan dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Global
Meskipun potensial, penerapan blockchain oleh PT Hijau Lestari menghadapi sejumlah tantangan regulasi dan operasional. Pertama, regulasi Indonesia terkait teknologi blockchain masih berkembang, terutama dalam aspek perlindungan data, audit digital, dan penerimaan data terdesentralisasi sebagai bukti akuntansi formal. Belum adanya pedoman spesifik OJK atau Kementerian Lingkungan Hidup terkait penggunaan blockchain untuk sustainability reporting dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, khususnya dalam proses verifikasi dan assurance laporan keberlanjutan. Kedua, standar global seperti GRI, ESRS, maupun IFRS Sustainability Disclosure Standards memang mendorong transparansi, tetapi belum memberikan tata cara baku mengenai penggunaan blockchain, sehingga interpretasi dapat bervariasi. Tantangan teknis juga muncul, seperti keterbatasan infrastruktur digital di sektor agribisnis, integrasi antara blockchain dan sistem ERP perusahaan, serta potensi biaya awal yang cukup besar. Selain itu, risiko etis terkait privasi data pemasok dan petani kecil harus diperhatikan, mengingat sebagian data rantai pasok bersifat sensitif. Tantangan lain adalah kesiapan auditor dalam melakukan audit atas sistem blockchain, mengingat kompetensi dan prosedur audit teknologi ini masih dalam proses standardisasi global.

3. Rekomendasi Strategis Berbasis Teori Akuntansi dan Teknologi
Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain dalam sustainability reporting, PT Hijau Lestari dapat mengambil sejumlah langkah strategis. Pertama, berdasarkan teori decision usefulness dan stakeholder theory, perusahaan perlu melakukan materiality assessment untuk menentukan indikator GRI mana yang paling diuntungkan oleh penggunaan blockchain, misalnya jejak karbon (GRI 305) atau rantai pasok bahan baku (GRI 204). Kedua, perusahaan sebaiknya mengadopsi pendekatan bertahap (pilot project) pada satu segmen rantai pasok untuk menguji efektivitas teknologi dan memastikan kesesuaian dengan kebutuhan auditor dan regulator. Ketiga, kolaborasi dengan lembaga verifikasi independen, startup blockchain, dan asosiasi industri diperlukan untuk memastikan standar, keamanan, serta validitas data sesuai praktik internasional. Keempat, perusahaan perlu menyusun governance data yang jelas, mencakup etika digital, privasi, dan mekanisme verifikasi, sejalan dengan prinsip akuntansi mengenai kontrol internal. Selain itu, PT Hijau Lestari dapat mengedukasi stakeholder internal (manajemen, auditor internal, dan staf sustainability) tentang implikasi akuntansi dan etika dari blockchain untuk meningkatkan organizational readiness. Terakhir, berpartisipasi dalam diskusi publik dengan regulator dan organisasi profesi (IAI, OJK, KLHK) dapat membantu mendorong pembentukan pedoman nasional terkait digital sustainability reporting. Dengan strategi ini, implementasi blockchain dapat berjalan lebih efektif, diterima oleh regulator, dan meningkatkan kredibilitas laporan keberlanjutan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Nayla Andara -
Nama: Nayla Andara
NPM: 2413031018

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting PT Hijau Lestari dapat memperkuat teori akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi, karena karakteristik utama blockchain immutability, distributed ledger, serta audit trail otomatis—mampu meningkatkan keandalan data jejak karbon dan asal bahan baku. Dalam teori akuntansi, kualitas informasi yang andal (reliable) menuntut data bebas dari bias dan dapat diverifikasi; blockchain memungkinkan verifikasi lintas pihak tanpa perubahan sepihak, sehingga memperkuat faithful representation dan verifiability. Selain itu, transparansi informasi meningkat karena stakeholder dapat menelusuri setiap transaksi atau pencatatan keberlanjutan secara real time, mendukung prinsip full disclosure  dalam pelaporan keberlanjutan GRI. Dengan begitu, penerapan blockchain dapat membantu perusahaan menghasilkan laporan yang lebih kredibel, konsisten, dan mudah diaudit.

2. penerapan teknologi tersebut juga menimbulkan sejumlah tantangan, baik pada tingkat regulasi Indonesia maupun global. Dari sisi Indonesia, belum adanya regulasi eksplisit terkait penggunaan blockchain untuk pelaporan keberlanjutan membuat perusahaan harus berhati-hati memastikan praktiknya tetap sesuai dengan standar GRI, peraturan OJK tentang sustainability reporting (POJK 51/2017), serta ketentuan akuntansi dan audit yang berlaku. Tantangan lain mencakup kesiapan infrastruktur digital, kebutuhan integrasi dengan sistem akuntansi yang sudah ada, serta potensi resistensi dari auditor atau regulator yang belum familiar dengan teknologi ini. Secara global, penerapan blockchain dalam pelaporan ESG masih berada pada tahap adopsi awal, sehingga standar dan pedoman internasional belum seragam. Selain itu, isu etika seperti perlindungan data pemasok, privasi, dan potensi bias algoritma juga dapat memunculkan kekhawatiran bagi stakeholder.

3. Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain, PT Hijau Lestari sebaiknya mengembangkan strategi berbasis teori akuntansi sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi terkini. Perusahaan dapat memulai dengan pilot project pada aspek pelaporan yang paling membutuhkan verifikasi tinggi, seperti jejak karbon dan rantai pasok bahan baku, guna menguji efektivitas dan reliabilitas sistem. Selanjutnya, perusahaan perlu menyusun kebijakan tata kelola data berbasis prinsip accountability dan responsibility, termasuk pengawasan internal yang mengikuti teori stewardship. Pelatihan bagi auditor internal, manajemen, dan mitra rantai pasok harus dilakukan untuk memastikan pemahaman teknologi berjalan merata. Di tingkat eksternal, perusahaan perlu berkolaborasi dengan regulator, lembaga sertifikasi, dan auditor independen untuk memastikan penggunaan blockchain selaras dengan standar GRI dan regulasi Indonesia. Dengan pendekatan bertahap dan berbasis teori, implementasi blockchain tidak hanya meningkatkan kualitas sustainability reporting, tetapi juga memperkuat kepercayaan stakeholder terhadap komitmen keberlanjutan PT Hijau Lestari.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Vina Nailatul Izza -
Nama : Vina Nailatul Izza
NPM : 2413031007

1. Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Reliabilitas dan Transparansi dalam Sustainability Reporting
Teknologi blockchain meningkatkan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi karena setiap transaksi terekam secara permanen, terverifikasi, dan sulit dimanipulasi. Dalam sustainability reporting, blockchain memungkinkan perusahaan menyajikan bukti yang lebih objektif terkait jejak karbon, penggunaan energi, dan rantai pasok hijau. Hal ini memperkuat teori akuntansi mengenai faithful representation dan reliabilitas karena data ESG yang dihasilkan berasal dari sistem yang terbuka dan dapat diaudit real-time. Namun, blockchain juga menantang teori akuntansi tradisional yang masih bergantung pada verifikasi manual dan dokumentasi fisik, sehingga memerlukan pembaruan konsep tentang bukti audit, pengendalian internal, dan kualitas informasi keberlanjutan.

2. Evaluasi Tantangan PT Hijau Lestari dalam Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari akan menghadapi sejumlah tantangan ketika menerapkan blockchain, terutama berkaitan dengan regulasi yang belum sepenuhnya matang di Indonesia. Aturan mengenai audit digital, penyimpanan data berbasis blockchain, serta integrasi dengan SAK/IFRS dan ketentuan OJK terkait sustainability reporting masih dalam tahap berkembang. Secara global, perusahaan juga harus menyesuaikan diri dengan standar ISSB (IFRS S1 & S2), kewajiban transparansi rantai pasok, serta persyaratan pelaporan lingkungan di negara mitra dagang. Tantangan teknis seperti keamanan siber, interoperabilitas antarplatform, biaya investasi awal, dan kebutuhan peningkatan literasi teknologi bagi staf juga dapat menghambat implementasi.

3. Rekomendasi Strategis bagi Perusahaan dan Akuntan
Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain, PT Hijau Lestari perlu mengambil pendekatan berbasis teori akuntansi modern yang menekankan decision usefulness dan faithful representation. Perusahaan dapat memulai dengan pilot project pada area sustainability yang rawan manipulasi, seperti pendataan emisi atau pelacakan bahan baku ramah lingkungan. Penerapan smart contracts sebagai bagian dari pengendalian internal juga dapat meningkatkan keakuratan data ESG. Selain itu, perusahaan perlu menyelaraskan sistemnya dengan standar internasional seperti IFRS S1/S2 atau GRI, meningkatkan kompetensi SDM akuntansi dalam teknologi dan data analytics, serta berkolaborasi dengan auditor eksternal dan regulator untuk memastikan proses audit blockchain dapat diakui secara hukum dan dipercaya publik.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Nasroh Aulia -
Nama : Nasroh Aulia
NPM : 2413031004

1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas dan transparansi
Jika PT Hijau Lestari menggunakan blockchain dalam sustainability reporting, teknologi ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan terhadap data. Setiap informasi misalnya jejak karbon, asal bahan baku, atau catatan transportasi akan tersimpan dalam sistem yang tidak bisa diubah begitu saja. Hal ini membuat laporan keberlanjutan terlihat lebih jujur, transparan, dan sulit dimanipulasi. Namun, teori akuntansi tetap mengingatkan bahwa kualitas laporan ditentukan oleh kualitas data yang masuk, bukan hanya oleh teknologinya. Jika data dari sensor, pemasok, atau pihak ketiga salah sejak awal, maka data yang “dikunci” di blockchain juga salah. Jadi teknologi ini hanya memperkuat transparansi jika proses input dan pengendalian datanya juga kuat. Dengan kata lain, blockchain bisa menjadi alat yang baik, tetapi bukan jaminan kebenaran otomatis.

2. Tantangan regulasi Indonesia dan global
Dalam konteks Indonesia, PT Hijau Lestari kemungkinan menghadapi beberapa hambatan. Pertama, regulasi teknologi digital terutama yang terkait blockchain masih berkembang, sehingga belum semua aspek diatur secara jelas. Perusahaan harus memastikan sistem yang dipakai tidak melanggar aturan tentang data, audit, dan kerjasama dengan pemasok lokal. Kedua, tidak semua pihak dalam rantai pasok siap menggunakan teknologi ini. Pemasok kecil atau petani mungkin kesulitan mengikuti sistem digital yang kompleks. Ketiga, auditor dan regulator mungkin meminta bukti tambahan untuk memastikan data on-chain benar-benar akurat. Di level global, perusahaan juga perlu mengikuti standar GRI serta praktik pelaporan lingkungan internasional yang menuntut konsistensi, verifikasi, dan metodologi pengukuran yang jelas. Jika tidak siap, penggunaan blockchain malah bisa menimbulkan banyak pertanyaan dari investor dan regulator.

3. Rekomendasi strategis
Untuk berhasil mengadopsi blockchain, PT Hijau Lestari perlu mengambil langkah yang terencana. Perusahaan sebaiknya memulai dari area kecil misalnya satu lini produk atau pemasok tertentu untuk memastikan proses pencatatan data berjalan baik sebelum diterapkan lebih luas. Selanjutnya, perusahaan harus membangun sistem kontrol data yang kuat agar informasi yang masuk benar, akurat, dan dapat diverifikasi. Kolaborasi antara divisi keuangan, teknologi, keberlanjutan, dan pemasok menjadi penting agar tidak ada pihak yang tertinggal secara teknis. PT Hijau Lestari juga perlu membuka diri terhadap audit atau verifikasi independen, sehingga hasil laporan keberlanjutan tidak hanya terlihat transparan tetapi juga benar-benar dapat dipercaya. Terakhir, perusahaan perlu terus mengikuti perkembangan regulasi dan standar pelaporan agar penggunaan teknologi ini tetap sesuai aturan dan dapat diterima oleh regulator maupun stakeholder.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting dapat memperkuat teori akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi karena data yang dicatat bersifat tidak dapat diubah, mudah diverifikasi, serta memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini mendukung prinsip *faithful representation* dan *verifiability*, sehingga informasi mengenai jejak karbon dan asal bahan baku menjadi lebih akurat, dapat dipercaya, serta mengurangi peluang manipulasi data. Dengan demikian, blockchain dapat meningkatkan kualitas pelaporan keberlanjutan dan kepercayaan stakeholder terhadap informasi akuntansi yang disajikan perusahaan.

2. PT Hijau Lestari kemungkinan menghadapi tantangan regulasi karena pemanfaatan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan belum sepenuhnya diatur di Indonesia, sehingga aspek legalitas, validitas bukti elektronik, dan perlindungan data pemasok masih berpotensi diperdebatkan. Di tingkat global, perbedaan standar pelaporan keberlanjutan dan persyaratan verifikasi seperti GRI, ISSB, atau kebijakan rantai pasok negara importir dapat menimbulkan kompleksitas kepatuhan. Selain itu, biaya implementasi, kesiapan teknologi, dan kompetensi SDM juga menjadi hambatan yang perlu diatasi agar sistem berbasis blockchain berjalan efektif dan diterima oleh regulator maupun stakeholder internasional.

3. Untuk mendukung keberhasilan implementasi blockchain, PT Hijau Lestari perlu menerapkan pengendalian internal dan tata kelola data yang kuat sesuai prinsip akuntansi, memastikan setiap transaksi keberlanjutan dapat diverifikasi dan diaudit dengan jelas. Implementasi sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui proyek percontohan pada sebagian rantai pasok sambil meningkatkan kompetensi SDM terkait akuntansi digital. Perusahaan juga perlu membangun kolaborasi dengan auditor, regulator, dan pihak eksternal untuk memastikan kesesuaian dengan standar GRI serta praktik pelaporan global, sehingga penerapan teknologi ini benar-benar meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan stakeholder terhadap laporan keberlanjutan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by TRIASWARI AYUNANDINI -

Nama: Triaswari Ayunandini

NPM: 2413031029

1. Analisis Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi

Penggunaan blockchain secara fundamental memperkuat pilar reliabilitas dan transparansi dalam teori akuntansi. Sifat teknologi ini yang berupa buku besar yang tidak dapat diubah (immutable ledger) memastikan bahwa data jejak karbon atau sumber bahan baku yang telah dicatat tidak dapat dimanipulasi di kemudian hari, sehingga meningkatkan karakteristik keterverifikasian informasi. Hal ini sejalan dengan prinsip faithful representation, di mana laporan harus mencerminkan realitas ekonomi dan ekologis yang sebenarnya tanpa bias.

Selain itu, dalam perspektif Teori Keagenan (Agency Theory), blockchain berfungsi efektif mengurangi asimetri informasi antara manajemen PT Hijau Lestari dan para pemangku kepentingan. Dengan menyediakan jejak audit digital (audit trail) yang transparan dan dapat diakses secara real-time, risiko praktik greenwashing (klaim lingkungan palsu) dapat diminimalisir. Ini mendukung prinsip pengungkapan penuh (full disclosure), di mana validitas data tidak lagi bergantung tunggal pada otoritas manajemen, melainkan pada konsensus sistem yang objektif.

2. Evaluasi Tantangan Implementasi

Tantangan teknis terbesar yang dihadapi adalah "The Oracle Problem", yaitu risiko ketidakakuratan data saat pertama kali dimasukkan (input). Blockchain menjamin data tidak berubah setelah dicatat, namun tidak bisa menjamin kebenaran data fisik sebelum masuk sistem (Garbage In, Garbage Out). Di sisi regulasi Indonesia, tantangan muncul karena belum adanya standar audit spesifik yang mengakui data blockchain sebagai bukti hukum utama yang berdiri sendiri, sehingga perusahaan mungkin masih terbebani dengan kewajiban menyediakan bukti audit konvensional secara paralel.

Secara global dan etika, tantangan muncul dari paradoks konsumsi energi dan privasi. Penggunaan blockchain publik yang boros energi dapat menjadi bumerang bagi reputasi perusahaan yang sedang mempromosikan keberlanjutan lingkungan. Selain itu, sifat data yang permanen di blockchain berpotensi melanggar regulasi privasi data (seperti GDPR atau UU PDP Indonesia) jika data pribadi petani atau mitra bisnis terekspos tanpa bisa dihapus, menuntut manajemen enkripsi data yang sangat hati-hati.

3. Rekomendasi Strategis

PT Hijau Lestari disarankan untuk menggunakan pendekatan Signaling Theory dengan mengimplementasikan Consortium atau Private Blockchain, bukan Public Blockchain. Langkah ini akan mengatasi isu tingginya konsumsi energi dan menjaga privasi data sensitif, sambil tetap memberikan akses verifikasi kepada auditor dan regulator. Hal ini akan meningkatkan legitimasi sosial perusahaan tanpa mengorbankan efisiensi operasional.

Selanjutnya, untuk memitigasi kesalahan input, perusahaan wajib mengintegrasikan blockchain dengan sensor Internet of Things (IoT). Dengan merekam data emisi dan panen secara otomatis dari mesin ke blockchain, perusahaan dapat meminimalkan intervensi manusia dan potensi kecurangan. Transisi ini sebaiknya dilakukan bertahap (pilot project) pada komoditas unggulan untuk membuktikan konsep triple-entry accounting sebelum diterapkan ke seluruh rantai pasok.


In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Alya Nurani -
Nama: Alya Nurani
Npm: 2413031025

1. Dampak Penggunaan Blockchain terhadap Teori Akuntansi: Reliabilitas dan Transparansi

Penerapan blockchain dalam sustainability reporting berpotensi mengubah cara akuntansi menilai reliabilitas dan transparansi informasi. Sifatnya yang immutable membuat setiap data yang masuk—misalnya jejak karbon, asal bahan baku, atau catatan rantai pasok—sulit diubah setelah tercatat. Hal ini memperkuat reliabilitas karena bukti digital menjadi lebih sulit dimanipulasi dibanding database tradisional.

Di sisi lain, transparansi meningkat melalui kemampuan traceability: setiap tahapan proses dapat ditelusuri kembali hingga sumbernya. Namun transparansi ini tidak otomatis; perusahaan tetap harus menentukan data apa yang dimasukkan ke blockchain, bagaimana data diolah, dan siapa yang memiliki akses. Selain itu, blockchain hanya menjamin keutuhan catatan, bukan kebenaran input. Jika sensor, pemasok, atau sistem internal memberikan data yang salah, blockchain justru mengabadikan kesalahan tersebut. Karena itu, representational faithfulness tetap bergantung pada kualitas proses input dan pengendalian internal.

Penggunaan blockchain juga menggeser sumber pengetahuan akuntansi. Nilai dan informasi tidak lagi hanya berasal dari profesional akuntansi, tetapi dari model digital dan mekanisme otomatis. Hal ini memunculkan tantangan epistemologis baru: apakah pengguna laporan memahami bagaimana data terbentuk dan dapatkah mereka menilai keandalannya?

2. Tantangan bagi PT Hijau Lestari dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Global

PT Hijau Lestari akan menghadapi beberapa tantangan. Pertama, regulasi Indonesia terkait blockchain, pelaporan keberlanjutan, dan data digital masih berkembang sehingga perusahaan harus menavigasi ketidakpastian hukum. Kedua, standar akuntansi dan assurance belum sepenuhnya memberi panduan khusus untuk bukti berbasis blockchain, sehingga auditor mungkin memerlukan metodologi tambahan untuk memverifikasi data on-chain dan off-chain.

Tantangan lain berupa isu privasi, keamanan data, serta kebutuhan akan interoperabilitas antara sistem blockchain dengan standar pelaporan seperti GRI atau IFRS berbasis keberlanjutan. Selain itu, penerimaan stakeholder tidak otomatis positif; perusahaan harus menunjukkan bahwa teknologi ini bukan sekadar gimmick, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas pelaporan.

3. Rekomendasi Strategis untuk Implementasi Blockchain

PT Hijau Lestari dapat mengambil pendekatan hybrid, yaitu menyimpan ringkasan atau hash data di blockchain sementara data mentah berada di sistem off-chain yang lebih fleksibel. Strategi ini menjaga keandalan bukti tanpa mengorbankan privasi.

Perusahaan perlu membangun governance yang kuat: dokumentasi model, sumber data, alur input, mekanisme validasi, dan pengawasan manusia yang konsisten. Audit independen terhadap smart contract, data pipeline, dan sistem sensor sangat disarankan agar informasi dapat diterima auditor dan regulator.

Selain itu, perusahaan harus memastikan data yang masuk berkualitas tinggi melalui verifikasi pemasok, kalibrasi perangkat pengukur, dan pengendalian internal yang ketat. Pemetaan data blockchain ke standar GRI dan konsultasi dengan regulator lokal dapat mempermudah proses penerimaan.

Akhirnya, komunikasi terbuka dengan investor, pelanggan, dan regulator akan membantu membangun pemahaman tentang manfaat teknologi ini serta batasannya, sehingga implementasinya berjalan lebih mulus dan kredibel.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

NPM : 2413031011


1) Pengaruh blockchain terhadap teori akuntansi (reliabilitas & transparansi)

Blockchain menjanjikan peningkatan transparansi karena data transaksi atau jejak pasokan bisa dicatat secara terdistribusi dan tidak mudah diubah—ini mendukung prinsip pengungkapan yang jadi landasan laporan keberlanjutan. Pada sisi reliabilitas, ledger terdistribusi dapat menguatkan bukti atas kejadian (evidence) karena timestamp, hash, dan rekam jejak yang dapat diverifikasi pihak ketiga. Namun penting dipahami: blockchain memperkuat integritas catatan setelah data masuk; ia tidak otomatis menjamin kebenaran sumber data (masalah “garbage in, garbage out”). Dari perspektif teori akuntansi, hal ini menggeser fokus: auditor/penyusun laporan perlu menilai lebih kuat aspek kontrol sumber data, proses verifikasi di titik pengumpulan, dan governance atas input data selain menilai catatan akhir. (Sumber yang membahas dampak digitalisasi dan isu governance pada sustainability reporting: GRI dan kajian tentang digitalisasi laporan keberlanjutan).

2) Tantangan bagi PT Hijau Lestari dalam konteks regulasi

Di Indonesia, laporan keberlanjutan sudah diatur oleh OJK, tapi belum ada pedoman khusus mengenai penggunaan blockchain sebagai bukti resmi. Artinya, walaupun memakai teknologi baru, perusahaan tetap harus mengikuti format dan kewajiban yang berlaku. Tantangan berikutnya datang dari proses assurance. Auditor masih menyesuaikan diri dengan sistem terdesentralisasi, sehingga perusahaan harus memastikan bahwa data berbasis blockchain tetap dapat diaudit.

Di sisi lain, kualitas data di lapangan bisa jadi kendala. Untuk agribisnis, pengumpulan data dari petani kecil atau pemasok sering tidak seragam. Jika data dasar belum rapi, blockchain tidak otomatis membuatnya lebih baik. Ada juga masalah privasi, biaya implementasi, kesiapan pemasok, serta bagaimana teknologi ini dipandang regulator dan publik. Bila tidak disertai penjelasan yang jelas, penggunaan blockchain tetap bisa memunculkan keraguan atau dianggap sebagai upaya pencitraan berlebih.

3) Rekomendasi strategis

Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:

  1. Mulai dari proyek percontohan kecil. Pilih satu komoditas atau rantai pasok untuk diuji lebih dulu. Ini membantu perusahaan melihat biaya, tantangan teknis, serta kesiapan pemasok.
  2. Tetapkan aturan main untuk pengumpulan data. Susun standar data, siapa yang bertanggung jawab mencatat, bagaimana cara memeriksa keakuratannya, dan prosedur jika ada kesalahan. Dasar akuntansinya tetap sama: pastikan sumber data dapat dipercaya.
  3. Gunakan blockchain yang aksesnya terbatas. Informasi yang sifatnya rahasia bisa disimpan di luar blockchain, sementara blockchain menyimpan bukti pengamannya saja. Dengan begitu, privasi tetap terjaga.
  4. Libatkan auditor sejak tahap awal. Auditor dapat memberi masukan tentang bukti apa yang dibutuhkan agar data mudah diverifikasi. Ini menghindari masalah di akhir proses.
  5. Sesuaikan dengan standar GRI dan aturan OJK. Data yang dikumpulkan harus bisa diturunkan menjadi indikator yang diminta GRI, serta tetap memenuhi format laporan yang diwajibkan regulator.
  6. Ajak pemasok dan pemangku kepentingan terlibat. Semakin banyak pihak yang memahami sistemnya sejak awal, semakin mudah penerapannya.
  7. Bangun komunikasi yang jujur. Jelaskan dengan terbuka apa yang bisa dan tidak bisa dijamin oleh blockchain. Ini menghindari salah paham dan menjaga kepercayaan publik.
  8. Rencanakan proses assurance jangka panjang. Pastikan perusahaan bekerja sama dengan lembaga penjamin independen yang paham teknologi dan standar keberlanjutan.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by FERIN OKTAVIA RAMADANI -
Nama : Ferin Oktavia Ramadani
NPM : 2413031023

1. Dalam dunia akuntansi, prinsip-prinsip seperti keandalan, keterbukaan, dan kemampuan untuk diverifikasi menjadi landasan penting guna menjamin bahwa informasi akuntansi dapat diterima oleh para pemangku kepentingan, khususnya dalam konteks pelaporan keberlanjutan yang mengacu pada pedoman GRI dan menekankan pengungkapan data lingkungan, sosial, dan tata kelola, seperti jejak karbon dan rantai pasokan bahan baku. Penerapan teknologi blockchain mampu memperkuat teori akuntansi ini dengan menyimpan informasi dalam buku besar terdistribusi yang tidak bisa diubah, sehingga menghindari manipulasi data atau penghapusan secara permanen, yang sangat bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan kesalahan manusia atau penipuan dalam pengukuran jejak karbon. Ini sejalan dengan konsep representasi yang akurat menurut IFRS, di mana data harus mewakili kenyataan ekonomi dengan tanpa prasangka, sekaligus memberikan akses waktu nyata dan terbuka bagi para pemangku kepentingan yang berwenang, seperti investor atau pengatur, tanpa memerlukan perantara, sehingga mendukung transparansi dalam pelacakan asal bahan baku dari hulu ke hilir untuk memverifikasi klaim keberlanjutan seperti sertifikasi organik. Di samping itu, blockchain menyokong prinsip perbandingan dan kemudahan pemahaman, karena data dapat dibandingkan antara periode dan entitas yang berbeda, serta lebih mudah dipahami melalui visualisasi yang ditawarkan oleh teknologi ini. Dari sudut pandang etika akuntansi, seperti yang tertuang dalam kode etik IFAC, blockchain meningkatkan akuntabilitas dengan mengurangi ketimpangan informasi antara perusahaan dan pemangku kepentingan, namun juga menghadirkan dilema etis seperti masalah privasi terkait data sensitif dalam rantai pasokan yang dapat bocor atau tanggung jawab atas kesalahan teknis, yang harus ditangani melalui tata kelola yang kuat. Secara keseluruhan, teknologi blockchain merubah paradigma pelaporan dari yang statis menjadi lebih dinamis, memperkuat teori akuntansi tradisional dengan tambahan elemen teknologi, tetapi memerlukan integrasi dengan standar seperti GRI agar tidak mengalami ketergantungan.

2. Penerapan teknologi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan menghadapi berbagai hambatan akibat kurangnya regulasi yang jelas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia, OJK/Bapepam-LK belum memberikan pedoman mengenai keabsahan data blockchain, sehingga auditor memiliki kemungkinan untuk menolak bukti yang bersifat digital tersebut. Isu privasi juga menjadi perhatian, mengingat peraturan mengenai data pribadi (PDPA) masih dalam tahap perkembangan. Secara global, standar GRI/IFRS belum mencakup penggunaan blockchain, ditambah dengan variabilitas peraturan antara negara, seperti GDPR yang sangat ketat. Risiko ketidakpatuhan serta tanggung jawab hukum atas kesalahan data menjadikan adopsi blockchain mahal dan bisa memperlambat proses pelaporan.

3. Berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi seperti cost-benefit dan materiality, serta kemajuan teknologi seperti penggabungan AI dengan blockchain untuk analisis data, PT Hijau Lestari dapat menerapkan strategi yang cermat untuk mendukung suksesnya penerapan blockchain dalam laporan keberlanjutan. Pertama, disarankan agar perusahaan memulai dengan pilot project yang terbatas hanya pada satu aspek, misalnya penelusuran jejak karbon, dengan menggunakan blockchain privat seperti Hyperledger untuk meminimalkan risiko, yang sesuai dengan teori akuntansi yang mengedepankan pengujian sebelum dilakukan adopsi secara menyeluruh, sehingga dapat menekan biaya awal dan memberikan kesempatan untuk menilai kehandalan data. Kedua, kerjasama dengan para pemangku kepentingan sangat penting, termasuk mengajak auditor eksternal bersertifikat dari Big Four serta otoritas Indonesia untuk merancang protokol validasi data berbasis blockchain, dan menerapkan standar gabungan yang mengintegrasikan GRI dengan teknologi untuk memastikan transparansi, di mana pendidikan terhadap para pemangku kepentingan melalui seminar dapat mengurangi resistensi dan mendorong etika dalam adopsi. Ketiga, perpaduan teknologi dan tata kelola internal sangat diperlukan, misalnya dengan memanfaatkan blockchain yang dilengkapi smart contracts untuk mengotomatisasi proses verifikasi, bersamaan dengan AI untuk analisis ESG, diikuti dengan penetapan kerangka tata kelola yang mencakup audit berkala dan pengarsipan data untuk memenuhi teori akuntansi mengenai kontrol internal, serta mengawasi perkembangan global seperti inisiatif Blockchain for Impact sebagai tolak ukur. Terakhir, perhatian utama harus diberikan pada mitigasi risiko dengan menganggarkan dana untuk keamanan siber dan asuransi data, serta menyusun rencana darurat jika regulasi mengalami perubahan, sambil mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap reputasi perusahaan, agar memastikan bahwa penerapan ini memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan tanpa mengorbankan efisiensi
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Eka Saryuni -
Nama: Eka Saryuni
Npm: 2413031030

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting dapat memperkuat teori akuntansi yang menekankan reliabilitas dan transparansi informasi, karena sifat blockchain yang immutable dan dapat diaudit memberikan dasar objektif bagi pencatatan jejak karbon dan asal bahan baku. Dalam perspektif teori agensi dan teori sinyal, blockchain membantu mengurangi asimetri informasi dengan menyediakan bukti transaksi yang tidak dapat dimanipulasi, sehingga meningkatkan kepercayaan antara manajemen dan stakeholder.

2. Tantangan yang mungkin muncul bagi PT Hijau Lestari mencakup ketidakjelasan regulasi terkait penggunaan blockchain untuk pelaporan non-keuangan di Indonesia, termasuk belum adanya pedoman eksplisit dari OJK atau Kementerian terkait mengenai validitas data berbasis blockchain.Tantangan global juga muncul karena harmonisasi standar keberlanjutan seperti GRI, ISSB, dan EU CSRD masih berkembang, sehingga penggunaan blockchain harus mampu memenuhi kebutuhan berbagai standar sekaligus. Biaya implementasi, kebutuhan literasi digital manajemen, serta isu privasi data juga menjadi hambatan yang signifikan.

3. Rekomendasi strategis meliputi penerapan pilot project blockchain untuk area tertentu seperti pelacakan rantai pasok atau pengukuran jejak karbon sehingga perusahaan dapat menguji manfaat dan risiko sebelum implementasi penuh. PT Hijau Lestari perlu menyelaraskan desain sistem blockchain dengan prinsip teori akuntansi seperti relevansi dan reliabilitas, memastikan bahwa data yang dicatat memenuhi kriteria materialitas dan dapat diaudit.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Pengaruh Blockchain terhadap Reliabilitas dan Transparansi

Penggunaan teknologi blockchain oleh PT Hijau Lestari berpotensi meningkatkan reliabilitas dan transparansi dalam sustainability reporting. Blockchain memungkinkan pencatatan data secara permanen, terverifikasi, dan tidak dapat diubah, sehingga data terkait jejak karbon, sumber bahan baku, dan praktik keberlanjutan lainnya menjadi lebih andal. Dari perspektif teori akuntansi, hal ini memperkuat prinsip faithful representation karena informasi dapat diverifikasi secara independen oleh stakeholder, mengurangi risiko manipulasi atau laporan yang bias. Transparansi meningkat karena pihak terkait dapat menelusuri transaksi dan kegiatan rantai pasok secara real time, sesuai dengan prinsip laporan keberlanjutan berbasis GRI.

2. Tantangan Implementasi Blockchain

Penerapan blockchain menghadirkan tantangan regulasi dan operasional. Di Indonesia, regulasi terkait pelaporan digital dan akuntansi berbasis blockchain masih berkembang, sehingga perusahaan perlu memastikan kepatuhan terhadap peraturan lokal dan standar akuntansi yang relevan. Di tingkat global, perbedaan regulasi mengenai pelaporan ESG dan verifikasi digital dapat menyulitkan penyajian laporan yang konsisten dan diakui secara internasional. Selain itu, implementasi memerlukan investasi teknologi, adaptasi proses internal, pelatihan SDM, dan penerimaan stakeholder, termasuk auditor dan investor, yang harus diyakinkan mengenai kredibilitas sistem.

3. Rekomendasi Strategis

Strategi implementasi yang efektif mencakup integrasi blockchain dengan sistem pelaporan internal dan standar GRI sehingga data keberlanjutan dapat tercatat secara otomatis dan terverifikasi. Perusahaan perlu menyusun protokol audit digital untuk memeriksa keakuratan dan konsistensi informasi. Selain itu, pengungkapan transparan terkait metodologi dan penggunaan teknologi sangat penting agar stakeholder memahami kredibilitas dan keterbatasan sistem. Pendekatan ini memastikan laporan keberlanjutan tetap relevan, andal, dan diterima secara luas, sekaligus memanfaatkan blockchain untuk memperkuat integritas dan kepercayaan publik terhadap informasi yang disajikan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Davina Nur Ramadhani -
Nama: Davina Nur Ramadhani
NPM: 2413031010

1. Penggunaan blockchain dapat memperkuat keandalan dan keterbukaan informasi dalam sustainability reporting karena setiap data tercatat secara permanen dan dapat ditelusuri. Ini membuat indikator seperti jejak karbon atau asal bahan baku lebih mudah diverifikasi. Dari sudut teori akuntansi, blockchain mendukung faithful representation dan verifiability, tetapi kualitas informasi tetap bergantung pada akurasi data yang dimasukkan sejak awal. Jika input-nya salah, blockchain hanya mengabadikan kesalahan tersebut. Karena itu, kendali atas pengumpulan data, sensor, dan verifikator independen tetap menjadi bagian penting agar informasi tetap dapat dipercaya.

2. Jika diterapkan di Indonesia, perusahaan bisa menghadapi hambatan berupa ketidakjelasan aturan terkait penggunaan blockchain sebagai bukti resmi, isu privasi data pemasok, kesulitan integrasi dengan standar GRI, serta biaya tinggi untuk membangun teknologi dan melatih SDM. Selain itu, belum semua pihak—regulator, auditor, maupun komunitas lokal—memiliki pemahaman mendalam tentang blockchain sehingga potensi resistensi bisa muncul. Secara global, tantangannya serupa: masih ada perbedaan standar, belum ada pedoman universal, dan auditor membutuhkan metode baru untuk memverifikasi data digital.

3. PT Hijau Lestari dapat memulai dengan proyek percontohan di satu bagian rantai pasok sambil memastikan bahwa data yang masuk diverifikasi oleh pihak independen. Perusahaan juga perlu menyiapkan sistem tata kelola blockchain, termasuk pengaturan akses, prosedur koreksi data, dan audit teknologi. Selanjutnya, integrasikan indikator GRI dengan data on-chain dan ungkapkan secara jelas bagaimana proses verifikasi dilakukan serta keterbatasannya. Pelibatan auditor eksternal dan stakeholder lokal sangat penting agar implementasi lebih kredibel. Selain itu, perusahaan harus membangun kapasitas internal dan mengikuti perkembangan standar global seperti IFRS Sustainability/ISSB untuk memastikan penerapan blockchain tetap sesuai dengan prinsip pelaporan keuangan dan keberlanjutan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Revie Nevilla Extin -

Nama : Revie Nevilla Extin 

NPM : 2413031027

1. Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting PT Hijau Lestari berpotensi meningkatkan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi, dua konsep penting dalam teori akuntansi. Dalam teori akuntansi, informasi yang andal harus mencerminkan kondisi nyata perusahaan, bebas dari kesalahan material, dan tidak dimanipulasi. Blockchain, dengan karakteristiknya yang terdesentralisasi, terenkripsi, dan tidak dapat diubah (immutable), memungkinkan pencatatan data jejak karbon dan sumber bahan baku secara permanen dan otomatis. Hal ini mengurangi risiko manipulasi data serta meningkatkan kredibilitas laporan keberlanjutan. Selain itu, sifat transparan blockchain memungkinkan stakeholder eksternal, termasuk auditor dan investor, untuk memverifikasi data secara langsung, sehingga prinsip transparansi dalam teori akuntansi dapat terwujud dengan lebih optimal. Dengan demikian, penggunaan blockchain tidak hanya memperkuat keandalan data tetapi juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap laporan keberlanjutan perusahaan.

2. Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan blockchain dalam sustainability reporting juga menghadirkan berbagai tantangan. Dari sisi regulasi, Indonesia belum memiliki panduan resmi yang mengatur penggunaan blockchain untuk pelaporan akuntansi atau GRI reporting, sehingga perusahaan menghadapi ketidakpastian hukum mengenai kepatuhan laporan terhadap standar yang berlaku. Secara global, standar pelaporan berbasis blockchain masih beragam, sehingga PT Hijau Lestari harus memastikan implementasi teknologinya diterima oleh stakeholder internasional. Selain itu, tantangan operasional muncul dari kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten dalam mengoperasikan sistem blockchain, biaya investasi yang relatif tinggi, serta integrasi data dari berbagai sumber agar tercatat secara akurat di blockchain. Dari sisi etika, perusahaan juga harus memastikan bahwa data yang dicatat sahih, bebas dari bias, dan memperhatikan hak privasi pihak terkait, misalnya petani atau pemasok bahan baku.

3. Untuk memastikan keberhasilan implementasi blockchain, PT Hijau Lestari sebaiknya memulai dengan kajian mendalam terkait aspek akuntansi dan teknologi, memastikan sistem yang diterapkan mendukung prinsip reliability dan transparency, misalnya melalui audit trail dan mekanisme verifikasi data dari sumber primer. Perusahaan juga perlu berkolaborasi dengan regulator, auditor, dan ahli keberlanjutan agar laporan berbasis blockchain sesuai dengan standar GRI dan peraturan akuntansi di Indonesia maupun standar internasional. Strategi implementasi sebaiknya diawali dengan pilot project pada satu lini produk atau jenis data, misalnya jejak karbon, untuk menguji efektivitas sistem dan kesiapan internal. Selain itu, edukasi kepada seluruh pemangku kepentingan sangat penting agar mereka memahami cara kerja blockchain dan manfaatnya, sehingga kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan meningkat. Dengan pendekatan yang matang, pemahaman teori akuntansi, dan adaptasi teknologi yang tepat, PT Hijau Lestari dapat menghasilkan laporan keberlanjutan yang lebih akurat, transparan, dan dipercaya oleh stakeholder.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Laila Asia Somad -
NAMA : LAILA ASIA SOMAD
NPM: 2413031005

1. Penggunaan blockchain oleh PT Hijau Lestari sangat meningkatkan kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan mereka. Teknologi ini memperkuat prinsip reliabilitas (keandalan) karena blockchain menyimpan data (seperti jejak karbon atau sumber bahan baku) secara permanen (imutable) dan di banyak komputer (terdistribusi). Ini membuat data sulit dimanipulasi, sehingga auditor dan publik dapat lebih yakin bahwa informasi yang disajikan perusahaan itu benar. Selain itu, blockchain meningkatkan transparansi karena data dapat diakses dengan cepat oleh stakeholder, sehingga informasi menjadi lebih relevan karena tersedia tepat waktu. Ini mengubah laporan keberlanjutan dari dokumen lama yang statis menjadi aliran data yang real-time dan mudah diperiksa.

2. Penerapan blockchain akan menghadapi tantangan regulasi yang signifikan. Di Indonesia, tantangan utamanya adalah kurangnya aturan spesifik dari regulator (seperti OJK) untuk data sustainability berbasis blockchain. Auditor mungkin belum tahu cara resmi untuk memeriksa keabsahan data yang ada di blockchain, sehingga menyulitkan PT Hijau Lestari mendapatkan validasi resmi. Di tingkat global, tantangannya adalah standarisasi. Agar data blockchain PT Hijau Lestari bisa dipakai secara internasional, harus ada kesepakatan teknis yang sama dengan pemasok atau mitra global lain. Selain itu, ada masalah privasi: perusahaan perlu hati-hati agar pengungkapan data rantai pasok yang terlalu terbuka di blockchain tidak melanggar kerahasiaan bisnis.

3. Untuk sukses menerapkan blockchain, PT Hijau Lestari harus fokus pada transparansi teknologi dan pengawasan audit.Pengungkapan Rinci:
A.  Gunakan blockchain untuk menjalankan peran Stewardship (tanggung jawab pelaporan) dengan memberikan penjelasan rinci di laporan keberlanjutan tentang cara kerja smart contract yang menghitung emisi.
B. Kemitraan Audit Teknologi: Perusahaan harus bekerja sama dengan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang memiliki keahlian data science. Auditor perlu dilatih untuk mengaudit Smart Contract itu sendiri memeriksa kode dan logika program bukan hanya data yang dihasilkan.
C. Standar Hybrid: Gunakan GRI sebagai panduan apa yang harus dilaporkan, dan blockchain sebagai infrastruktur bagaimana data itu dicatat dan diamankan, sambil memperhatikan standar pelaporan ESG global (seperti ISSB) untuk memastikan kompatibilitas internasional.

In reply to Laila Asia Somad

Re: CASE STUDY 1

by Paulina Silaban -
Nama : Paulina Silaban 
NPM : 2413031016

1. Pengaruh blockchain terhadap teori akuntansi dalam sustainability reporting

Penggunaan teknologi blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi, karena:

  • Data yang dicatat di blockchain tidak bisa diubah atau dimanipulasi, sehingga laporan keberlanjutan menjadi lebih andal.
  • Setiap transaksi atau jejak bahan baku dapat ditrace secara real-time, sehingga stakeholder bisa memverifikasi klaim perusahaan sendiri.
  • Dari sisi teori akuntansi, blockchain mendukung prinsip reliabilitas (reliability) dan transparansi (faithful representation) dalam pelaporan. Dengan teknologi ini, data jejak karbon atau sumber bahan baku tidak hanya dicatat, tetapi juga terbukti autentik dan akurat.

2. Tantangan penerapan blockchain

Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari:

  • Regulasi Indonesia: Saat ini, belum ada regulasi khusus tentang penggunaan blockchain untuk sustainability reporting. Otoritas mungkin masih menuntut laporan yang bisa diaudit secara tradisional.
  • Biaya dan teknologi: Implementasi blockchain membutuhkan investasi infrastruktur IT, pelatihan staf, dan integrasi dengan sistem lama.
  • Penerimaan stakeholder: Beberapa pemangku kepentingan mungkin belum memahami blockchain, sehingga informasi yang disajikan dianggap sulit diverifikasi.
  • Standar internasional: Walaupun GRI mengatur konten laporan, blockchain belum diatur secara eksplisit dalam standar pelaporan global, sehingga perlu penyesuaian metode pelaporan

3. Rekomendasi strategis

Berdasarkan teori akuntansi dan teknologi:

  • Pendekatan bertahap: Mulai dengan pilot project pada satu area, misal pelacakan sumber bahan baku tertentu atau jejak karbon.
  • Integrasi dengan audit tradisional: Gunakan blockchain sebagai lapisan tambahan verifikasi untuk meningkatkankepercayaan, sambil tetap memenuhi persyaratan auditor dan regulator.
  • Pelatihan dan edukasi: Tingkatkan pemahaman manajemen dan stakeholder tentang blockchain agar penerimaan lebih luas.
  • Kolaborasi dengan regulator: Bekerja sama dengan otoritas untuk memastikan laporan sesuai regulasi Indonesia dan tetap mengacu pada standar GRI internasional.
  • Keamanan dan privasi data: Pastikan sistem blockchain memenuhi standar keamanan dan perlindungan data agar informasi sensitif tidak disalahgunakan.

In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Indah Rahma alfiah -
Nama : Indah Rahma Alfiah
NPM : 2413031015

1. Pengaruh Penggunaan Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas dan Perlindungan Informasi)
Dalam perspektif teori akuntansi, khususnya yang berkaitan dengan reliabilitas (reliability) dan faithful representation, teknologi blockchain dapat memperkuat kualitas informasi dalam pelaporan keberlanjutan PT Hijau Lestari. Blockchain memiliki karakteristik immutability (data tidak mudah diubah) dan transparansi, sehingga data terkait jejak karbon dan sumber bahan baku menjadi lebih dapat diverifikasi dan bebas dari manipulasi. Hal ini sejalan dengan konsep reliabilitas, di mana informasi akuntansi harus dapat dipercaya, netral, dan dapat diuji kebenarannya.
Selain itu, dari sudut pandang teori stewardship, penggunaan blockchain mendukung akuntabilitas manajemen kepada pemangku kepentingan karena data keberlanjutan tercatat secara permanen dan dapat diakses sesuai otorisasi. Dalam konteks perlindungan informasi akuntansi, blockchain juga memperkuat pengendalian internal melalui sistem kriptografi, sehingga risiko perubahan data secara tidak sah dapat diminimalkan. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan bahwa data yang dimasukkan ke dalam blockchain sudah valid, karena blockchain hanya menjamin keandalan sistem, bukan kebenaran awal data (garbage in–garbage out).

2. Tantangan Implementasi Blockchain dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Global
PT Hijau Lestari berpotensi menghadapi beberapa tantangan. Pertama, dari sisi regulasi, standar GRI belum secara eksplisit mewajibkan atau mengatur penggunaan blockchain, sehingga terdapat ketidakpastian mengenai penerimaan regulator di Indonesia, seperti OJK atau Kementerian terkait. Hal ini berkaitan dengan teori regulasi, di mana inovasi teknologi sering kali lebih cepat berkembang dibandingkan aturan formalnya.
Kedua, dari aspek akuntansi dan audit, masih terbatasnya pedoman audit atas data berbasis blockchain dapat menimbulkan keraguan auditor dalam memberikan assurance atas laporan keberlanjutan. Ketiga, tantangan global mencakup perbedaan standar pelaporan keberlanjutan antarnegara serta isu privasi dan perlindungan data, terutama jika rantai pasok PT Hijau Lestari melibatkan mitra internasional. Terakhir, dari sisi internal, keterbatasan sumber daya manusia dan biaya implementasi teknologi juga menjadi hambatan signifikan.

3. Rekomendasi Strategi Berbasis Teori Akuntansi dan Perkembangan Teknologi
Untuk mendukung keberhasilan implementasi, PT Hijau Lestari disarankan menerapkan strategi bertahap. Pertama, berdasarkan teori decision usefulness, perusahaan dapat memulai penggunaan blockchain pada indikator keberlanjutan yang paling material, seperti emisi karbon dan traceability bahan baku, agar informasi yang dihasilkan benar-benar relevan bagi pemangku kepentingan.
Kedua, perusahaan perlu mengombinasikan blockchain dengan sistem pengendalian internal dan assurance independen, sehingga reliabilitas data tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada proses akuntansi yang memadai. Ketiga, dari sisi regulasi, PT Hijau Lestari sebaiknya aktif berdialog dengan regulator dan mengikuti praktik terbaik global (best practices) agar penerapan blockchain tetap sejalan dengan standar GRI dan perkembangan kebijakan keberlanjutan.
Dengan pendekatan berbasis teori akuntansi dan pemanfaatan teknologi secara proporsional, blockchain dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan transparansi, kredibilitas, dan kepercayaan publik terhadap pelaporan keberlanjutan PT Hijau Lestari.
In reply to First post

Re: CASE STUDY 1

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas dan transparansi dalam teori akuntansi keberlanjutan

Pemanfaatan teknologi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan dapat memperkuat konsep keandalan dan keterbukaan informasi yang menjadi dasar teori akuntansi. Dalam kerangka teori akuntansi normatif, blockchain mendukung karakteristik kualitas informasi seperti keterverifikasian dan penyajian yang jujur, karena data yang tersimpan bersifat permanen, terdesentralisasi, dan sulit diubah. Informasi terkait emisi karbon dan asal bahan baku dapat ditelusuri secara menyeluruh oleh berbagai pihak, sehingga meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan. Dari sudut pandang teori akuntansi positif, penerapan blockchain berpotensi mengurangi asimetri informasi serta membatasi perilaku oportunistik manajemen, sehingga meningkatkan kredibilitas laporan di mata investor dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Tantangan regulasi dan implementasi di tingkat nasional dan global

Walaupun menawarkan manfaat yang signifikan, implementasi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan tidak terlepas dari kendala regulasi, khususnya di Indonesia. Standar akuntansi dan kebijakan pelaporan keberlanjutan nasional masih belum secara eksplisit mengatur penggunaan blockchain sebagai sarana pencatatan dan verifikasi data keberlanjutan, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam penerapan dan proses audit. Di tingkat internasional, perbedaan kerangka pelaporan keberlanjutan seperti GRI, ISSB, dan berbagai regulasi ESG lintas negara menuntut sistem blockchain yang mampu beradaptasi dan saling terhubung. Selain itu, persoalan perlindungan data, risiko keamanan siber, keterbatasan infrastruktur, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi tantangan tambahan yang perlu dikelola secara serius.

3. Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan teknologi

Agar penerapan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan berjalan efektif, PT Hijau Lestari perlu mengembangkan strategi yang selaras dengan prinsip akuntansi dan perkembangan teknologi. Blockchain sebaiknya diposisikan sebagai sarana untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, bukan sebagai pengganti pertimbangan profesional akuntan. Selain itu, sistem blockchain perlu diintegrasikan dengan standar pelaporan keberlanjutan yang berlaku secara internasional, seperti GRI dan ISSB, agar informasi yang disajikan tetap relevan dan dapat dibandingkan secara global. Perusahaan juga perlu memperkuat tata kelola data, sistem pengendalian internal berbasis digital, serta melibatkan auditor independen guna menjamin keandalan informasi. Dengan langkah-langkah tersebut, blockchain dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan dan memperkuat kepercayaan stakeholder.