NASHITA SHAFIYAH
2413031009
1) Pengaruh blockchain terhadap teori akuntansi (reliabilitas & transparansi)
Blockchain dapat memperkuat elemen reliabilitas dan transparansi dalam sustainability reporting karena menyediakan bukti jejak (audit trail) yang tak mudah diubah, timestamped, dan verifiable secara kriptografis; ini menggeser beban verifikasi dari dokumen fisik ke bukti digital yang dapat diaudit terus-menerus. Namun teori akuntansi yang tradisional—yang bergantung pada judgement manajerial, bukti sumber yang dapat diverifikasi secara independen, dan prinsip materialitas—harus diperluas untuk memasukkan konsep “data provenance” dan validitas input (garbage in, garbage out): catatan di blockchain meningkatkan keandalan hanya jika input awalnya benar dan kontrol internal kuat. Dengan kata lain, blockchain memperbaiki traceability dan integritas penyimpanan, tetapi tidak otomatis menjamin kebenaran substantif tanpa mekanisme verifikasi sumber, pengungkapan metode pengukuran (mis. perhitungan emisi), dan audit atas proses pengumpulan datanya.
2) Tantangan penerapan di Indonesia & global
Tantangan utama bersifat praktis, regulatori, dan etis:
(a) validitas hukum bukti berbasis blockchain di yurisdiksi lokal dan perlindungan privasi data (mis. data pemasok) belum sepenuhnya jelas
(b) interoperabilitas standar bagaimana data blockchain dipetakan ke format GRI, standar MRV (measurement, reporting, verification), atau persyaratan pengawas—dapat memicu inkonsistensi
(c) masalah governance seperti siapa yang menulis/menyetujui entri pada rantai (permissioned vs public), potensi konflik kepentingan penyedia data, dan beban biaya/teknis pada pemasok kecil
(d) resistensi stakeholder (auditor tradisional, regulator, lembaga pemeringkat) yang belum terbiasa menilai bukti kriptografis; serta
(e) risiko keamanan siber dan tantangan skala/keandalan data yang harus diatasi agar laporan tidak sekadar “pamer teknologi” tetapi benar-benar kredibel.
3) Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi & teknologi
Mulailah dengan pendekatan bertahap: pilot pada satu rantai pasok atau metrik (mis. jejak karbon komoditas utama), gunakan permissioned blockchain untuk kontrol akses dan privasi, dan kombinasikan catatan on-chain dengan off-chain attestations (sensor IoT, sertifikat pihak ketiga) yang jelas metodologinya menurut GRI. Perkuat governance etapkan siapa penulis data, proses validasi, SLA untuk koreksi, dan independen third-party attestors (verifier) yang diakui; dokumentasikan metode pengukuran, asumsi, dan tingkat ketidakpastian dalam laporan sesuai prinsip akuntansi (pengakuan, pengukuran, pengungkapan). Libatkan auditor dan regulator sejak awal untuk menyepakati bukti yang dapat diterima secara hukum, dan siapkan pelatihan kemampuan digital untuk tim akuntansi. Terakhir, komunikasikan perubahan ini secara transparan kepada pemangku kepentingan: jelaskan manfaat (traceability, efisiensi verifikasi) sekaligus keterbatasan teknis dan kontrol yang diterapkan ini menjaga kredibilitas sambil meminimalkan risiko etika dan regulatori.