Posts made by Alissya Putri Kartika

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Alissya Putri Kartika -
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011

Earnings management adalah sebuah tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan untuk mengatur laporan keuangan agar laba yang ditampilkan sesuai keinginan. Praktik ini tidak selalu melanggar hukum, karena sering kali hanya mengubah waktu atau cara pencatatan transaksi agar laporan keuntungan terlihat lebih baik atau stabil. Tujuan utama biasanya untuk memenuhi target tertentu, misalnya harapan investor atau aturan dalam kontrak hutang. Ada dua pandangan utama tentang earnings management. Pertama, pandangan opportunistik yang menganggap manajemen melakukannya demi keuntungan pribadi, seperti meningkatkan bonus atau menghindari pelanggaran ketentuan keuangan. Kedua, pandangan sinyal yang memandang earnings management sebagai upaya manajer untuk menyampaikan informasi penting yang sebenarnya kepada pasar agar investor bisa membuat keputusan lebih tepat. Cara earnings management bisa berbentuk manipulasi akun-akun akrual atau mengubah aktivitas operasional secara nyata di perusahaan. Dari studi literatur yang ada, sebagian besar penelitian menggunakan pendekatan akrual dan lebih cenderung melihat praktik ini sebagai tindakan yang opportunistik atau manipulatif. Namun, earnings management tidak selalu negatif. Jika dilakukan dengan tepat, tindakan ini bisa membantu memperbaiki komunikasi informasi keuangan dan mempermudah pengambilan keputusan oleh para pemangku kepentingan. Contoh sederhana misalnya menjual aset pada waktu tertentu untuk menyesuaikan laba yang dilaporkan agar tampak lebih baik atau konstan. Maka, pengaturan seperti ini memerlukan pengawasan yang hati-hati agar tidak disalahgunakan.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Alissya Putri Kartika -
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011

Kedua artikel tersebut membahas peran XBRL sebagai teknologi pelaporan keuangan yang mampu memperbaiki kualitas informasi yang diterima para pengguna laporan. Artikel pertama meneliti perusahaan keuangan di Yordania dan menemukan bahwa penggunaan XBRL benar–benar mendorong transparansi. Informasi keuangan menjadi lebih jelas, konsisten, dan mudah dibandingkan, sehingga membantu manajer, auditor, dan pemangku kepentingan lain mengambil keputusan dengan lebih percaya diri. Penulis memandang XBRL sebagai kebutuhan strategis, khususnya di negara berkembang yang ingin mengejar standar pelaporan global dan memperbaiki efisiensi sistem keuangan mereka.

Artikel kedua meneliti kondisi di Indonesia. Penelitian ini membandingkan periode sebelum dan sesudah XBRL diwajibkan di Bursa Efek Indonesia. Pada tahap awal penerapan memang muncul banyak masalah seperti ketidaktepatan format, kesalahan teknis, dan kebingungan investor. Walau begitu, hasil akhirnya menunjukkan bahwa XBRL justru menurunkan biaya ekuitas, terutama bagi perusahaan besar yang lebih siap secara sistem dan sumber daya. Penulis berpendapat bahwa tantangan awal bukan alasan untuk menolak XBRL, karena manfaatnya baru terlihat setelah proses pelaporan semakin matang dan kualitas data meningkat.

Secara keseluruhan, kedua jurnal menekankan bahwa XBRL memberikan dampak positif pada transparansi, kualitas informasi, dan efisiensi pasar. Meski negara dan konteksnya berbeda, keduanya sepakat bahwa adopsi XBRL adalah langkah penting untuk meningkatkan kepercayaan publik dan mendukung tata kelola yang lebih baik.

TA2025 -> DISKUSI

by Alissya Putri Kartika -
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011

Video tersebut menjelaskan bahwa 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sangat penting bagi bisnis karena dapat menjadi panduan untuk menjalankan bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan SDGs ke dalam strategi dan operasional, perusahaan tidak hanya membantu menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan global, tapi juga mendapatkan manfaat nyata seperti meningkatkan reputasi, membangun kepercayaan dengan pelanggan dan pemangku kepentingan, serta membuka peluang pasar baru. Selain itu, pelaporan yang transparan tentang pencapaian SDGs membuat perusahaan lebih kredibel dan mampu mengelola risiko yang berkaitan dengan lingkungan dan sosial. Video ini menegaskan bahwa pelaporan SDGs bukan hanya kewajiban, tapi strategi penting untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang dan berkontribusi positif bagi masyarakat secara umum. Dengan kata lain, menerapkan SDGs membawa keuntungan bagi perusahaan dan membantu menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua.

TA2025 -> CASE STUDY

by Alissya Putri Kartika -
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011

1. Manajemen PT Lestari Mineral memilih kebijakan akuntansi konservatif karena ingin menjaga kehati-hatian, stabilitas jangka panjang, dan reputasi perusahaan di mata regulator dan publik. Pendekatan ini menghindari risiko overstatement laba serta menunjukkan tanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Dampaknya, laba terlihat lebih kecil, tapi kepercayaan dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga keuangan bisa meningkat.

2. Sebagai akuntan, keputusan harus tetap berlandaskan integritas dan objektivitas. Tekanan investor untuk menampilkan laba lebih tinggi tidak boleh diikuti jika bertentangan dengan prinsip konservatisme dan standar akuntansi yang berlaku. Mengubah kebijakan demi kepentingan tertentu bisa melanggar etika profesional, terutama prinsip kejujuran dan independensi.

3. Penetapan standar akuntansi sering dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Dalam kasus ini, pemerintah Indonesia dihadapkan pada tekanan industri agar aturan tidak memberatkan pelaku usaha. Di tingkat global, lembaga seperti IASB juga menghadapi tekanan dari negara atau korporasi besar yang ingin menjaga kepentingan bisnis mereka.

4. IFRS berbasis prinsip memberi fleksibilitas dan menuntut pertimbangan profesional, sedangkan GAAP berbasis aturan lebih ketat dan rinci. Untuk Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih relevan karena dapat menyesuaikan dengan dinamika ekonomi dan mendorong transparansi, namun tetap perlu pengawasan agar tidak disalahgunakan.

Kesimpulan dari kasus tersebut adalah PT Lestari Mineral menunjukkan bahwa pilihan kebijakan akuntansi bukan hanya soal teknis, tapi juga soal nilai, etika, dan politik. Keputusan untuk tetap konservatif menggambarkan tanggung jawab sosial dan kehati-hatian, sedangkan tekanan dari investor memperlihatkan benturan antara kepentingan ekonomi jangka pendek dan prinsip keberlanjutan jangka panjang.

TA2025 -> DISKUSI

by Alissya Putri Kartika -
Nama : Alissya Putri Kartika
NPM : 2413031011

Dalam artikel karya Muhammad Daham Sabbar, dijelaskan bahwa akuntansi keuangan bukan hanya sekadar proses pencatatan angka dan transaksi, tetapi merupakan alat utama dalam menyampaikan informasi ekonomi yang jelas, relevan, dan dapat dipercaya kepada berbagai pihak yang berkepentingan. Di tengah arus globalisasi, laporan keuangan memiliki tanggung jawab besar untuk mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya agar mampu menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat dan objektif. Oleh karena itu, keandalan dan kesesuaian laporan dengan standar internasional menjadi hal yang sangat penting agar hasil pelaporan perusahaan bisa dipahami serta dibandingkan secara global. Akuntansi, dengan demikian, tidak hanya berbicara tentang data finansial, tetapi juga tentang bagaimana data tersebut dapat memberikan gambaran menyeluruh terhadap kinerja dan kondisi ekonomi suatu entitas.

Lebih jauh, Sabbar menegaskan bahwa akuntansi juga memiliki fungsi sosial yang besar dalam menjaga kepercayaan publik serta mendukung terciptanya stabilitas ekonomi. Ketika laporan disusun dengan jujur dan terbuka, masyarakat maupun investor akan merasa yakin terhadap integritas perusahaan, yang pada akhirnya memperkuat kelangsungan bisnis. Namun sebaliknya, jika akuntansi digunakan untuk kepentingan manipulatif, maka kepercayaan publik akan luntur dan dapat menimbulkan krisis kepercayaan yang berdampak luas terhadap dunia usaha. Oleh sebab itu, akuntansi keuangan seharusnya dipahami bukan hanya sebagai perangkat teknis, tetapi juga sebagai alat moral dan etika yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial suatu negara.

Sementara itu, artikel kedua membahas mengenai akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) yang mencoba mengaitkan dimensi manusiawi—seperti psikologi, sosiologi, dan perilaku individu—ke dalam praktik akuntansi. Akuntansi dalam pandangan ini tidak semata-mata berkutat pada angka atau laporan keuangan, melainkan juga dipengaruhi oleh karakter, sikap, motivasi, serta nilai-nilai yang dianut oleh individu maupun kelompok di dalam organisasi. Penulis artikel ini menekankan bahwa memahami faktor psikologis dan sosial sangat penting agar sistem akuntansi tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga mampu mencegah munculnya penyimpangan etika, seperti manipulasi data keuangan yang kerap terjadi di berbagai perusahaan besar. Dengan kata lain, perilaku manusia memiliki peran yang tidak bisa dipisahkan dari cara akuntansi dijalankan dan diterapkan.

Lebih mendalam lagi, artikel ini menjelaskan bagaimana teori-teori psikologi seperti perubahan sikap, motivasi, disonansi kognitif, hingga pembentukan kepribadian dapat diterapkan dalam konteks akuntansi keperilakuan. Melalui pendekatan tersebut, kita dapat memahami mengapa perilaku individu di dalam organisasi bisa memengaruhi proses pengambilan keputusan serta rancangan sistem akuntansi. Penulis menutup pembahasannya dengan menegaskan bahwa akuntansi keperilakuan perlu dipahami secara serius oleh para praktisi maupun akademisi agar tercipta sistem yang lebih etis, transparan, dan berorientasi pada keberlanjutan organisasi. Dengan menggabungkan aspek manusia ke dalam akuntansi, profesi ini tidak lagi sekadar alat penghitungan, tetapi juga menjadi sarana membangun kepercayaan, integritas, dan budaya kerja yang sehat dalam dunia bisnis modern.

Secara keseluruhan, kedua jurnal tersebut menegaskan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan proses pencatatan dan pelaporan keuangan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan moral yang sangat penting. Akuntansi keuangan berperan sebagai alat untuk menyampaikan informasi yang akurat, transparan, dan relevan, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi yang tepat serta memperkuat kepercayaan publik terhadap perusahaan. Sementara itu, akuntansi keperilakuan menyoroti peran manusia di balik proses akuntansi, di mana faktor psikologis dan sosial seperti motivasi, sikap, dan nilai-nilai etika sangat memengaruhi keandalan sistem akuntansi. Dengan demikian, akuntansi yang ideal adalah akuntansi yang tidak hanya mengedepankan ketepatan angka, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sosial demi menciptakan sistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.