Posts made by Alissya Putri Kartika

MPPE A26 -> Diskusi 3

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

Npm : 2413031011

Macam-macam teknik sampling dalam penelitian kualitatif antara lain:

  1. Purposive Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya orang yang dianggap paling memahami masalah yang diteliti.

  2. Snowball Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan meminta informan awal merekomendasikan informan lain yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

  3. Convenience Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kemudahan peneliti dalam menjangkau mereka.

  4. Quota Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan jumlah atau kuota tertentu yang telah ditetapkan peneliti.

  5. Theoretical Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kebutuhan pengembangan teori yang muncul selama proses penelitian, biasanya digunakan dalam pendekatan grounded theory.

  6. Maximum Variation Sampling, yaitu pemilihan informan dengan karakteristik yang beragam untuk memperoleh sudut pandang yang berbeda mengenai suatu fenomena.

  7. Homogeneous Sampling, yaitu pemilihan informan yang memiliki karakteristik atau pengalaman serupa agar peneliti dapat memahami suatu kelompok secara lebih mendalam.

  8. Criterion Sampling, yaitu pemilihan informan yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.

Menurut saya, teknik yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah purposive sampling karena peneliti memilih informan yang benar-benar memahami permasalahan yang sedang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, pemilihan informan lebih mengutamakan relevansi informasi dan kedalaman data daripada jumlah responden.

Macam-macam teknik sampling dalam penelitian kuantitatif dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling.

  1. Probability Sampling
    Teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang terpilih kepada setiap anggota populasi berdasarkan mekanisme pemilihan yang ditentukan.

a. Simple Random Sampling, pengambilan sampel secara acak sehingga setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih.

b. Proportionate Stratified Random Sampling, pengambilan sampel secara acak dari setiap kelompok atau strata sesuai proporsi jumlah anggotanya.

c. Disproportionate Stratified Random Sampling, pengambilan sampel dari setiap strata tanpa mengikuti proporsi jumlah anggota dalam populasi.

d. Cluster Sampling, pengambilan sampel berdasarkan kelompok atau klaster tertentu, misalnya kelas atau sekolah.

e. Systematic Sampling, pengambilan sampel dengan menentukan titik awal secara acak, kemudian memilih anggota populasi berdasarkan interval tertentu.

  1. Non-Probability Sampling
    Teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang terpilih yang sama atau tidak diketahui secara pasti bagi setiap anggota populasi.

a. Purposive Sampling, pemilihan sampel berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian.

b. Accidental Sampling, pemilihan responden yang kebetulan ditemui dan memenuhi kebutuhan penelitian.

c. Quota Sampling, pengambilan sampel berdasarkan jumlah atau kuota yang telah ditentukan.

d. Snowball Sampling, penentuan sampel melalui rekomendasi responden awal kepada responden lainnya.

e. Sampling Jenuh, menggunakan seluruh anggota populasi sebagai sampel ketika semua anggota populasi dilibatkan dalam penelitian.

f. Sampling Sistematis Kuota, istilah ini tidak umum digunakan sebagai kategori tersendiri. Systematic sampling dan quota sampling sebaiknya dipahami sebagai teknik yang berbeda.

Menurut saya, pemilihan teknik sampling dalam penelitian kuantitatif harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, jumlah populasi, ketersediaan daftar anggota populasi, dan kondisi di lapangan. Jika peneliti ingin memperoleh sampel yang mewakili populasi melalui pemilihan acak, probability sampling dapat menjadi pilihan. Namun, jika terdapat keterbatasan tertentu atau sampel harus memenuhi kriteria khusus, peneliti dapat mempertimbangkan non-probability sampling.


MPPE A26 -> Diskusi 4

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

Npm : 2413031011

  1. Latar Belakang Penelitian

Literasi keuangan merupakan kemampuan seseorang dalam memahami dan mengelola keuangan, seperti mengatur pengeluaran, menyusun anggaran, menabung, serta mengambil keputusan keuangan secara tepat. Kemampuan ini penting bagi mahasiswa karena mereka mulai menghadapi berbagai kebutuhan finansial, baik untuk keperluan kuliah maupun kebutuhan sehari-hari.

Namun, masih ada mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengatur uang bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang untuk tabungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai keuangan perlu mendapat perhatian, termasuk di kalangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi (PSPE) FKIP Universitas Lampung.

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi mempelajari berbagai konsep ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya dan pengambilan keputusan. Akan tetapi, pemahaman materi ekonomi belum tentu menjamin bahwa mahasiswa mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengelola keuangan pribadi.

Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana tingkat literasi keuangan mahasiswa PSPE FKIP Unila, faktor-faktor yang berkaitan dengan literasi keuangan mereka, serta kendala yang dihadapi dalam mengelola keuangan pribadi.

  1. Jenis Penelitian

Penelitian ini dapat menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus.

Alasannya, penelitian berfokus pada pemahaman secara mendalam mengenai kondisi literasi keuangan mahasiswa, kebiasaan mereka dalam mengelola uang, serta faktor-faktor yang memengaruhi perilaku keuangan mereka.

Peneliti dapat memperoleh data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.

Namun, jika tujuan penelitian adalah mengukur tingkat literasi keuangan mahasiswa menggunakan skor atau persentase, pendekatan kuantitatif deskriptif juga dapat digunakan.

  1. Cara Menentukan Sampel atau Responden

Jika menggunakan pendekatan kualitatif, sampel ditentukan berdasarkan kesesuaian informan dengan tujuan penelitian, bukan berdasarkan perhitungan statistik.

Peneliti dapat memilih mahasiswa PSPE FKIP Unila yang memiliki pengalaman dalam mengelola keuangan pribadi. Informan sebaiknya berasal dari semester yang berbeda agar peneliti memperoleh variasi pengalaman.

Jumlah informan dapat dimulai dari sekitar 8 sampai 15 mahasiswa, kemudian disesuaikan dengan kebutuhan penelitian dan kecukupan informasi yang diperoleh.

Kriteria informan yang dapat digunakan, antara lain:

  • Mahasiswa aktif PSPE FKIP Unila.

  • Memiliki uang saku atau sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  • Bersedia diwawancarai.

  • Memiliki pengalaman mengatur pengeluaran, menabung, atau membuat keputusan keuangan pribadi.

  1. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik yang sesuai adalah purposive sampling.

Purposive sampling merupakan teknik pemilihan informan berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Contohnya, peneliti memilih mahasiswa yang memiliki pengalaman mengatur uang bulanan, tetapi masih mengalami kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan. Peneliti juga dapat memilih mahasiswa yang sudah terbiasa membuat anggaran sebagai pembanding.

Dengan cara tersebut, peneliti dapat menggali berbagai pengalaman dan memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan literasi keuangan mahasiswa.

  1. Grand Theory yang Sesuai

Teori utama yang dapat digunakan adalah Theory of Planned Behavior (TPB) dari Icek Ajzen (1991).

Teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang berkaitan dengan niat untuk melakukan suatu tindakan. Niat tersebut dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu:

  • Attitude toward the behavior, yaitu pandangan seseorang terhadap suatu perilaku. Contohnya, mahasiswa menganggap menabung sebagai kebiasaan yang penting.

  • Subjective norm, yaitu pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku seseorang. Contohnya, kebiasaan teman atau keluarga dalam mengelola uang dapat memengaruhi perilaku keuangan mahasiswa.

  • Perceived behavioral control, yaitu persepsi seseorang mengenai kemampuannya melakukan suatu tindakan. Contohnya, mahasiswa merasa mampu menyusun anggaran dan mengendalikan pengeluaran bulanannya.

TPB relevan untuk menjelaskan perilaku pengelolaan keuangan mahasiswa. Namun, jika fokus penelitian benar-benar pada tingkat pengetahuan dan pemahaman keuangan, teori literasi keuangan dapat digunakan sebagai landasan konseptual utama, sedangkan TPB membantu menjelaskan penerapan pengetahuan tersebut dalam perilaku sehari-hari.


MPPE A26 -> Diskusi 2

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika

Npm : 2413031011

Macam-macam teknik sampling dalam penelitian kualitatif antara lain:

  1. Purposive Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya orang yang dianggap paling memahami masalah yang diteliti.

  2. Snowball Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan meminta informan awal merekomendasikan informan lain yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

  3. Convenience Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kemudahan peneliti dalam menjangkau mereka.

  4. Quota Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan jumlah atau kuota tertentu yang telah ditetapkan peneliti.

  5. Theoretical Sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kebutuhan pengembangan teori yang muncul selama proses penelitian, biasanya digunakan dalam pendekatan grounded theory.

  6. Maximum Variation Sampling, yaitu pemilihan informan dengan karakteristik yang beragam untuk memperoleh sudut pandang yang berbeda mengenai suatu fenomena.

  7. Homogeneous Sampling, yaitu pemilihan informan yang memiliki karakteristik atau pengalaman serupa agar peneliti dapat memahami suatu kelompok secara lebih mendalam.

  8. Criterion Sampling, yaitu pemilihan informan yang memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.

Menurut saya, teknik yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah purposive sampling karena peneliti memilih informan yang benar-benar memahami permasalahan yang sedang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, pemilihan informan lebih mengutamakan relevansi informasi dan kedalaman data daripada jumlah responden.

Referensi:
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.


MPPE A26 -> Diskusi 1

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

Npm : 2413031011

Menurut saya, populasi dan sampel merupakan dua hal penting dalam penelitian karena berkaitan dengan siapa atau apa yang akan diteliti oleh seorang peneliti. Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang memiliki karakteristik tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Populasi tidak selalu berupa manusia, tetapi bisa juga berupa kelompok, dokumen, atau objek lainnya. Misalnya, seorang mahasiswa ingin meneliti pengaruh motivasi belajar terhadap nilai ekonomi di suatu sekolah. Jika penelitian tersebut melibatkan seluruh siswa kelas X di sekolah itu, maka semua siswa kelas X tersebut menjadi populasi penelitian. Sementara itu, sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi tersebut. Sampel digunakan karena terkadang peneliti memiliki keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga untuk meneliti seluruh anggota populasi. Contohnya, dari 200 siswa kelas X, peneliti memilih 50 siswa sebagai responden untuk mengumpulkan data penelitian.

Menurut saya, penentuan populasi dan sampel harus dilakukan dengan tepat agar data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Pemilihan sampel juga perlu menggunakan teknik yang sesuai, sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan kondisi populasi secara lebih akurat. Jika sampel dipilih secara sembarangan, hasil penelitian berisiko tidak mencerminkan keadaan populasi yang sebenarnya. Jadi, perbedaan utamanya terletak pada cakupannya. Populasi mencakup seluruh objek yang menjadi sasaran penelitian, sedangkan sampel merupakan sebagian dari populasi yang digunakan sebagai sumber data. Keduanya perlu ditentukan sejak awal agar penelitian lebih terarah dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Referensi:
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.


MPPE A26 -> Diskusi

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

Npm : 2413031011


Menurut saya, hipotesis yang belum didukung oleh teori dan penelitian terdahulu tetap bisa diuji, tetapi peneliti perlu mempertimbangkan kembali alasan yang mendasari hipotesis tersebut. Dalam penelitian, hipotesis tidak seharusnya dibuat hanya berdasarkan perkiraan pribadi, melainkan perlu memiliki alasan yang masuk akal dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Jika belum ditemukan teori atau penelitian sebelumnya yang mendukung, peneliti dapat melakukan penelusuran literatur lebih lanjut atau menjadikan fenomena yang ditemukan di lapangan sebagai titik awal untuk merumuskan dugaan penelitian. Hasil pengujian nantinya dapat memberikan temuan baru, tetapi peneliti tetap harus menjelaskan dasar pemikirannya secara jelas.

Menurut saya, landasan teori, kerangka pikir, dan hipotesis memiliki hubungan yang saling melengkapi dalam proses penelitian. Landasan teori membantu peneliti memahami suatu permasalahan melalui konsep dan penjelasan ilmiah yang sudah ada. Setelah itu, peneliti menggunakan teori dan hasil penelitian terdahulu untuk menyusun kerangka pikir yang menggambarkan alasan serta kemungkinan hubungan antara variabel yang diteliti. Dari kerangka pikir tersebut, peneliti dapat merumuskan hipotesis yang sesuai dengan arah penelitiannya.

Sebagai contoh, mahasiswa ingin meneliti alasan sebagian siswa memperoleh nilai ekonomi yang rendah meskipun sudah mengikuti pembelajaran. Peneliti dapat menggunakan teori motivasi belajar untuk memahami bagaimana dorongan belajar berkaitan dengan usaha siswa. Selanjutnya, kerangka pikir disusun untuk menjelaskan hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar, kemudian hipotesis dirumuskan untuk menguji hubungan tersebut melalui data.

Jadi, ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling mendukung. Landasan teori menjadi dasar penjelasan, kerangka pikir menghubungkan konsep secara logis, sedangkan hipotesis menjadi dugaan yang perlu dibuktikan melalui penelitian. Namun, hipotesis tidak selalu diperlukan, terutama dalam penelitian kualitatif yang bertujuan memahami pengalaman atau fenomena secara mendalam.