Kiriman dibuat oleh Cintia Dwi Cahyati

DesainB3 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

oleh Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Adelia Nanda Febriani

Pendekatan STEM dan STEAM pada dasarnya dapat diterapkan di semua fase kelas di sekolah dasar. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan siswa. Pada kelas rendah, kegiatan pembelajaran sebaiknya dibuat lebih sederhana dan bersifat konkret, misalnya melalui kegiatan mengamati benda di sekitar, bermain sambil belajar, atau membuat karya sederhana. Sementara itu, pada kelas tinggi kegiatan pembelajaran dapat dibuat lebih kompleks, seperti melakukan percobaan sederhana, mengerjakan proyek, atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Agar pengintegrasian unsur sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan seni dalam pembelajaran dapat berjalan dengan seimbang, guru perlu merencanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru dapat memulai dengan menentukan tema atau masalah yang dekat dengan kehidupan siswa. Setelah itu, guru merancang kegiatan yang melibatkan pengamatan atau penjelasan konsep sains, penggunaan alat atau media sebagai bagian dari teknologi, kegiatan merancang atau membuat sesuatu sebagai bagian dari rekayasa, penggunaan perhitungan atau pengukuran dalam matematika, serta menambahkan unsur kreativitas atau desain sebagai bagian dari seni.

Dengan perencanaan yang jelas dan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan siswa, pendekatan STEM atau STEAM dapat membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih menarik serta melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah sejak di sekolah dasar.

DesainB3 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

oleh Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154

Izin menambahkan jawaban,
Meskipun sekolah memiliki keterbatasan fasilitas seperti tidak adanya perpustakaan dan minimnya buku, guru tetap dapat menerapkan tahap Development dalam model ADDIE dengan mengembangkan sarana dan bahan literasi secara sederhana. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat "pojok baca" di dalam kelas. Pojok baca dapat diisi dengan buku yang tersedia, buku milik guru atau siswa, serta bahan bacaan sederhana seperti cerita pendek, artikel, atau teks bacaan yang dibuat oleh guru.

Selain itu, guru juga dapat mengajak siswa untuk membawa atau membuat bahan bacaan sederhana sehingga dapat digunakan sebagai sumber literasi bersama di kelas. Dengan memanfaatkan kreativitas guru dalam mengembangkan media dan bahan bacaan tersebut, kegiatan literasi tetap dapat berjalan meskipun fasilitas sekolah terbatas. Pojok baca juga dapat membantu menumbuhkan minat baca siswa karena bahan bacaan menjadi lebih mudah diakses selama proses pembelajaran.

DesainB3 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

oleh Cintia Dwi Cahyati -
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore teman-teman semua.

Perkenalkan, kami dari Kelompok 4 yang beranggotakan:

1. Faiz Kurniawan (2413053084)
2. Cintia Dwi Cahyati (2413053154)

Pada kesempatan kali ini, kami akan memaparkan hasil diskusi kelompok kami. Untuk memahami materi yang kami berikan secara lebih lengkap, teman-teman dapat mencermati makalah serta PowerPoint yang telah kami bagikan.

Apabila terdapat pertanyaan, tanggapan, maupun saran, kami dengan senang hati mempersilakan teman-teman untuk menyampaikannya melalui forum diskusi pada hari ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian dan partisipasi teman-teman, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.