FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

Number of replies: 34

                                 

                                                                  A

Forum ini disediakan untuk berdiskusi dan berbagi mengenai Laporan observasi yang sedang dipelajari. 

Silahkan berpartisipasi aktif pada forum ini untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi yang telah disampaikan di atas.

Petunjuk diskusi kelompok:

  1. Kelompok yang mendapatkan giliran untuk memaparkan materi  sesuai dengan Topik Bahasan menyiapkan  media presentasi berupa PPT interaktif untuk diunggah dalam forum ini. 
  2. Mahasiswa lainnya pada hari pertemuan memahami materi presentasi dan materi makalah dan dipersilahkan untuk bertanya,  terkait materi tersebut atau hal-hal lain yang berhubungan dengan materi yang ditampilkan oleh pemateri. Cara bertanya dan berdiskusi: Mahasiswa me-reply pada topik yang disediakan kemudian menuliskan nama dan NPM serta pertanyaan atau berupa tanggapan.
  3. Selamat berdiskusi dan tetap semangat.




In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore teman-teman semua.

Perkenalkan, kami dari Kelompok 4 yang beranggotakan:

1. Faiz Kurniawan (2413053084)
2. Cintia Dwi Cahyati (2413053154)

Pada kesempatan kali ini, kami akan memaparkan hasil diskusi kelompok kami. Untuk memahami materi yang kami berikan secara lebih lengkap, teman-teman dapat mencermati makalah serta PowerPoint yang telah kami bagikan.

Apabila terdapat pertanyaan, tanggapan, maupun saran, kami dengan senang hati mempersilakan teman-teman untuk menyampaikannya melalui forum diskusi pada hari ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Atas perhatian dan partisipasi teman-teman, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Nadine Syakila Azzahra -
Nama: Nadine Syakila Azzahra
Npm: 2413053030

Pertanyaan: Jika sekolah tempat Anda mengajar memiliki keterbatasan fasilitas (tidak ada perpustakaan dan minim buku), bagaimana Anda tetap dapat menerapkan tahap Development dalam model ADDIE untuk mendukung kegiatan literasi?
In reply to Nadine Syakila Azzahra

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Faiz Kurniawan -
Nama : Faiz Kurniawan
NPM : 2413053084

Jika sekolah tempat mengajar memiliki keterbatasan fasilitas seperti tidak adanya perpustakaan dan minimnya buku, tahap pengembangan (Development) dalam ADDIE Model tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber belajar sederhana dan kreatif. Guru dapat mengembangkan bahan literasi sendiri, seperti membuat lembar bacaan sederhana, cerita pendek buatan guru, kartu kosakata, poster kata, atau buku mini dari kertas bekas yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Selain itu, guru juga dapat memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber literasi, misalnya membuat teks bacaan dari cerita rakyat daerah, pengalaman sehari-hari siswa, atau informasi tentang lingkungan sekolah. Guru dapat pula mengajak siswa membuat pojok baca kelas sederhana dengan mengumpulkan bahan bacaan dari hasil karya siswa, majalah bekas, atau fotokopi teks bacaan. Dengan cara ini, meskipun fasilitas terbatas, tahap pengembangan dalam model ADDIE tetap dapat mendukung kegiatan literasi melalui bahan ajar yang kreatif, kontekstual, dan mudah diakses oleh siswa.
In reply to Nadine Syakila Azzahra

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154

Izin menambahkan jawaban,
Meskipun sekolah memiliki keterbatasan fasilitas seperti tidak adanya perpustakaan dan minimnya buku, guru tetap dapat menerapkan tahap Development dalam model ADDIE dengan mengembangkan sarana dan bahan literasi secara sederhana. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat "pojok baca" di dalam kelas. Pojok baca dapat diisi dengan buku yang tersedia, buku milik guru atau siswa, serta bahan bacaan sederhana seperti cerita pendek, artikel, atau teks bacaan yang dibuat oleh guru.

Selain itu, guru juga dapat mengajak siswa untuk membawa atau membuat bahan bacaan sederhana sehingga dapat digunakan sebagai sumber literasi bersama di kelas. Dengan memanfaatkan kreativitas guru dalam mengembangkan media dan bahan bacaan tersebut, kegiatan literasi tetap dapat berjalan meskipun fasilitas sekolah terbatas. Pojok baca juga dapat membantu menumbuhkan minat baca siswa karena bahan bacaan menjadi lebih mudah diakses selama proses pembelajaran.
In reply to Nadine Syakila Azzahra

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Muhamad Dakar Aldino -
Nama : Muhamad Dakar Aldino
NPM : 2413053017

Izin menambahkan jawabanJika sekolah memiliki keterbatasan fasilitas seperti tidak adanya perpustakaan dan minim buku, tahap Development dalam model ADDIE tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekitar. Guru dapat mengembangkan bahan literasi sederhana seperti lembar bacaan, cerita pendek, atau teks yang dibuat sendiri sesuai dengan kemampuan siswa. Selain itu, guru juga dapat memanfaatkan media digital sederhana, cerita rakyat dari masyarakat sekitar, atau bahan bacaan dari internet yang kemudian dicetak dan dibagikan kepada siswa. Dengan cara tersebut, kegiatan literasi tetap dapat berlangsung meskipun fasilitas di sekolah terbatas.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by ABRAL AL-TISA 2413053051 -
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Izin bertanya kepada kelompok 4.

Nama: Abral Al-Tisa
NPM: 2413053051
Pertanyaan:
Menurut kelompok 4, bagaimana penerapan model ADDIE dapat membantu guru sekolah dasar dalam mengatasi rendahnya kemampuan literasi siswa di kelas?
In reply to ABRAL AL-TISA 2413053051

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Faiz Kurniawan -
Nama : Faiz Kurniawan
NPM : 2413053084

Penerapan ADDIE Model dapat membantu guru sekolah dasar mengatasi rendahnya kemampuan literasi siswa melalui langkah pembelajaran yang sistematis. Pada tahap analisis, guru mengidentifikasi kemampuan dan kesulitan membaca siswa. Selanjutnya pada tahap perancangan dan pengembangan, guru merancang tujuan pembelajaran serta menyiapkan strategi dan media literasi yang menarik. Tahap pelaksanaan dilakukan dengan menerapkan kegiatan membaca yang aktif dan interaktif di kelas. Terakhir, pada tahap evaluasi guru menilai perkembangan kemampuan literasi siswa dan memperbaiki pembelajaran jika diperlukan. Dengan demikian, model ADDIE membantu guru merancang pembelajaran literasi yang lebih terarah dan efektif.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by ADELIA NANDA FEBRIANI -
Nama : Adelia Nanda Febriani
Npm : 2413053106

Izin bertanya kepada kelompok 4, Pendekatan STEM dan STEAM apakah cocok di terapkan di semua fase kelas untuk anak SD, dan bagaimana cara kita memastikan pengintegrasian seluruh unsur sudah seimbang dalam pembelajaran?
In reply to ADELIA NANDA FEBRIANI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Adelia Nanda Febriani

Pendekatan STEM dan STEAM pada dasarnya dapat diterapkan di semua fase kelas di sekolah dasar. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan siswa. Pada kelas rendah, kegiatan pembelajaran sebaiknya dibuat lebih sederhana dan bersifat konkret, misalnya melalui kegiatan mengamati benda di sekitar, bermain sambil belajar, atau membuat karya sederhana. Sementara itu, pada kelas tinggi kegiatan pembelajaran dapat dibuat lebih kompleks, seperti melakukan percobaan sederhana, mengerjakan proyek, atau memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Agar pengintegrasian unsur sains, teknologi, rekayasa, matematika, dan seni dalam pembelajaran dapat berjalan dengan seimbang, guru perlu merencanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru dapat memulai dengan menentukan tema atau masalah yang dekat dengan kehidupan siswa. Setelah itu, guru merancang kegiatan yang melibatkan pengamatan atau penjelasan konsep sains, penggunaan alat atau media sebagai bagian dari teknologi, kegiatan merancang atau membuat sesuatu sebagai bagian dari rekayasa, penggunaan perhitungan atau pengukuran dalam matematika, serta menambahkan unsur kreativitas atau desain sebagai bagian dari seni.

Dengan perencanaan yang jelas dan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan siswa, pendekatan STEM atau STEAM dapat membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih menarik serta melatih kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah sejak di sekolah dasar.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Gendy bima pangestu -
Nama : Gendy Bima Pangestu
Npm : 2413053127

Disebutkan dalam materi tentang faktor-faktor yang memengaruhi literasi bahwa salah satu faktor penting adalah minat membaca. Perlu diketahui bahwa Indonesia masih termasuk negara dengan tingkat minat baca yang relatif rendah. Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada pada angka 54,8 poin. Menariknya, nilai tertinggi justru diperoleh oleh dua provinsi yang dapat dikatakan belum sepenuhnya memiliki sarana dan prasarana yang memadai, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa NTB dan NTT justru dapat memiliki tingkat minat baca yang cukup tinggi, padahal sarana dan prasarana di wilayah tersebut masih terbatas? Sebaliknya, mengapa provinsi yang lebih maju seperti Jakarta atau Bandung tidak memiliki tingkat minat baca yang lebih tinggi dibandingkan NTB dan NTT?
In reply to Gendy bima pangestu

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Gendy Bima Pangestu

Fenomena tersebut dapat dijelaskan bahwa minat membaca tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kebiasaan dan budaya membaca di masyarakat. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia berada pada 54,8 poin, yang dihitung dari beberapa indikator seperti frekuensi membaca, durasi membaca, dan jumlah bahan bacaan yang dibaca.

Tingginya minat baca di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dapat terjadi karena adanya kebiasaan membaca yang cukup kuat di masyarakat, serta adanya program literasi dari sekolah, komunitas, dan taman bacaan masyarakat yang aktif mendorong kegiatan membaca. Meskipun fasilitas seperti perpustakaan atau buku tidak sebanyak di daerah maju, masyarakat tetap terbiasa memanfaatkan sumber bacaan yang tersedia.

Sebaliknya, di daerah yang lebih maju seperti Jakarta atau Bandung, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan hiburan lain, seperti penggunaan gawai, media sosial, permainan digital, atau hiburan visual lainnya. Banyaknya alternatif hiburan tersebut dapat membuat waktu untuk membaca menjadi lebih sedikit. Oleh karena itu, meskipun sarana dan prasarana lebih lengkap, tingkat minat baca tidak selalu lebih tinggi, karena sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan budaya membaca masyarakatnya.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by FARIDA PALUPI -
Nama : Farida Palupi
NPM : 2413053087

Izin bertanya, mengapa dalam beberapa kasus perlu dilakukan uji coba awal terhadap media pembelajaran yang dikembangkan, terutama jika media tersebut berbasis multimedia atau perangkat lunak?
In reply to FARIDA PALUPI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Faiz Kurniawan -
NAMA : Faiz Kurniawan
NPM : 2413053084

Uji coba awal penting dilakukan untuk mengetahui apakah media pembelajaran tersebut dapat berfungsi dengan baik, mudah digunakan, serta sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Melalui uji coba, pengembang atau guru dapat mengidentifikasi berbagai kekurangan, seperti kesalahan teknis, tampilan yang kurang jelas, navigasi yang sulit dipahami, atau materi yang belum sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, uji coba juga membantu memastikan bahwa media tersebut benar-benar efektif dalam membantu proses belajar siswa sebelum digunakan secara luas di kelas. Dengan demikian, perbaikan dan penyempurnaan dapat dilakukan sehingga media pembelajaran menjadi lebih optimal dan mampu mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Yuda Prasetiyo -
Nama : Yuda Prasetiyo
NPM : 2413053010

Pertanyaan :
Kita tahu bahwa perkembangan teknologi yang terjadi dizaman sekarang ini sangat pesat, sehingga banyak pendidik yang menggunakan media berbaisis teknologi (digital) dalam Pembelajaran nya. Nah, Pertanyaan nya menurut kalian apakah penggunaan teknologi digital ini dapat meningkatkan atau justru menurunkan kemampuan literasi peserta didik? Jelaskan alasannya.
In reply to Yuda Prasetiyo

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Yuda Prasetiyo

Penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan literasi peserta didik, tetapi juga bisa menurunkannya, tergantung pada cara penggunaannya.

Jika digunakan dengan tepat, teknologi digital dapat meningkatkan literasi karena peserta didik memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber bacaan, seperti buku digital, artikel, atau materi pembelajaran daring. Selain itu, media digital juga dapat membuat pembelajaran lebih menarik melalui video, gambar, atau aplikasi pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi untuk membaca dan memahami informasi.

Namun, penggunaan teknologi digital juga dapat menurunkan kemampuan literasi jika tidak digunakan secara bijak. Banyak peserta didik lebih sering menggunakan gawai untuk hiburan seperti bermain game, media sosial, atau menonton video, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca menjadi berkurang. Selain itu, kebiasaan membaca secara cepat di media digital terkadang membuat siswa kurang memahami isi bacaan secara mendalam.

Oleh karena itu, penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran perlu diarahkan dan diawasi oleh guru, sehingga teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan literasi, bukan justru menghambatnya.
In reply to Yuda Prasetiyo

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Muhamad Dakar Aldino -
Nama : Muhamad Dakar Aldino
NPM : 2413053017

Izin menambahkan jawaban dari pertanyaan Yuda Menurut saya, penggunaan teknologi digital dapat meningkatkan kemampuan literasi peserta didik jika digunakan secara tepat dalam pembelajaran. Teknologi digital memudahkan siswa untuk mengakses berbagai sumber bacaan seperti e-book, artikel, dan video pembelajaran sehingga mereka dapat memperoleh informasi dengan lebih luas dan cepat. Selain itu, penggunaan media digital juga dapat membuat pembelajaran lebih menarik sehingga siswa lebih termotivasi untuk membaca dan belajar.
Namun, jika penggunaan teknologi tidak diawasi dengan baik, hal tersebut juga dapat menurunkan kemampuan literasi. Hal ini dapat terjadi karena siswa lebih banyak menggunakan teknologi untuk hiburan seperti bermain game atau media sosial dibandingkan untuk membaca atau belajar. Akibatnya, minat membaca siswa dapat berkurang.
Oleh karena itu, penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran perlu diarahkan dan dibimbing oleh guru agar dapat dimanfaatkan secara positif untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Devina Meisarif Senggagau -
Nama : Devina Meisarif Senggagau
Npm : 2413053023

pertanyaan saya yaitu, jika dalam model pembelajaran ADDIE tidak terlaksanakan dengan baik, bagaimana tanggapan kalian?
In reply to Devina Meisarif Senggagau

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Devina Meisarif Senggagau

Pada dasarnya, sebelum menerapkan model pembelajaran ADDIE dalam meningkatkan literasi siswa, guru seharusnya telah melalui tahapan awal yaitu analisis (analyze). Pada tahap ini guru melakukan identifikasi terhadap kebutuhan pembelajaran, kondisi siswa, serta fasilitas yang tersedia di sekolah. Dengan adanya analisis tersebut, guru dapat memastikan bahwa model pembelajaran yang akan digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran literasi yang ingin dicapai.

Setelah tahap analisis dilakukan, guru kemudian melanjutkan ke tahap desain (design) dan pengembangan (development), yaitu merancang strategi pembelajaran, media, serta kegiatan yang dapat mendukung peningkatan literasi siswa. Selanjutnya tahap implementasi (implementation) dilakukan dengan menerapkan rancangan pembelajaran tersebut dalam proses belajar di kelas.

Namun, apabila pada pelaksanaannya model pembelajaran ADDIE tidak berjalan dengan baik atau belum memberikan hasil yang maksimal, maka hal tersebut menjadi bahan refleksi bagi guru untuk melakukan tahap evaluasi (evaluation). Melalui evaluasi ini guru dapat meninjau kembali setiap tahapan yang telah dilakukan, mulai dari analisis hingga implementasi, untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

Dengan demikian, meskipun pada awalnya model ADDIE telah dirancang melalui tahapan yang sistematis, evaluasi tetap diperlukan untuk memastikan bahwa proses pembelajaran dapat terus diperbaiki dan tujuan peningkatan literasi siswa dapat tercapai secara lebih optimal.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Naufal Fadhlirrahman -
Nama : Naufal Fadhlirrahman
Npm : 2413053005
izin untuk bertanya
disekitar kita saat ini kan anak-anak sangat akrab dengan teknologi seperti handphone dan internet. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video atau bermain game.Pertanyaannya adalah mengapa program literasi yang sudah diterapkan di sekolah belum tentu berhasil meningkatkan kemampuan literasi siswa?
In reply to Naufal Fadhlirrahman

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Naufal Fadhlirrahman
Program literasi di sekolah belum tentu berhasil meningkatkan kemampuan literasi siswa karena adanya beberapa faktor, salah satunya adalah pengaruh teknologi dan peran orang tua. Saat ini banyak anak lebih tertarik menggunakan handphone untuk menonton video atau bermain game sehingga waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca menjadi berkurang. Hal ini membuat minat membaca siswa menjadi rendah.

Selain itu, faktor orang tua juga sangat berpengaruh. Jika di rumah orang tua tidak membiasakan anak untuk membaca atau kurang memberikan pendampingan dalam belajar, maka kebiasaan membaca anak akan sulit berkembang. Beberapa orang tua juga memberikan handphone kepada anak tanpa pengawasan yang cukup, sehingga anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan teknologi daripada membaca buku.

Oleh karena itu, keberhasilan program literasi tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan dukungan dari orang tua dan lingkungan keluarga agar kebiasaan membaca dapat terbentuk secara konsisten.
In reply to Naufal Fadhlirrahman

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Muhamad Dakar Aldino -
Nama : Muhamad Dakar Aldino
NPM : 2413053017

Izin menambahkan jawaban dari pertanyaan Naufal Program literasi di sekolah belum tentu berhasil meningkatkan kemampuan literasi siswa karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah pengaruh teknologi seperti handphone dan internet yang sering digunakan anak-anak untuk hiburan, seperti menonton video atau bermain game, sehingga waktu untuk membaca menjadi berkurang.
Selain itu, minat baca siswa juga masih rendah karena mereka lebih tertarik pada konten visual dan hiburan yang ada di media digital. Faktor lain adalah keterbatasan fasilitas dan bahan bacaan di sekolah, sehingga siswa tidak memiliki banyak pilihan bacaan yang menarik.
Selain itu, pelaksanaan program literasi di sekolah terkadang belum dilakukan secara konsisten dan menarik, sehingga siswa kurang termotivasi untuk membaca. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara guru, sekolah, dan orang tua untuk membimbing siswa dalam memanfaatkan teknologi secara bijak serta menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by AZZAHRA CHIKA PERTIWI -
Nama : Azzahra Chika Pertiwi
NPM : 2413053033

Izin bertanya kepada kelompok 4
Bagaimana peran guru dan lingkungan sekolah dalam mendukung peningkatan literasi siswa melalui model pembelajaran yang tepat?
In reply to AZZAHRA CHIKA PERTIWI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Azzahra Chika Pertiwi
Peran guru dan lingkungan sekolah sangat penting dalam mendukung peningkatan literasi siswa melalui penerapan model pembelajaran yang tepat. Guru berperan sebagai fasilitator yang merancang dan melaksanakan pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk aktif membaca, memahami informasi, serta mengekspresikan ide melalui kegiatan diskusi maupun menulis. Guru juga perlu memilih model pembelajaran yang sesuai, seperti model yang mendorong keterlibatan siswa secara aktif, penggunaan bahan bacaan yang menarik, serta kegiatan yang melatih kemampuan memahami teks. Dengan pembelajaran yang terstruktur dan menarik, siswa akan lebih termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan literasi.

Selain itu, lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam mendukung budaya literasi. Sekolah dapat menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan membaca seperti perpustakaan, pojok baca di kelas, serta berbagai program literasi yang dilakukan secara rutin. Lingkungan yang mendukung akan membantu siswa terbiasa dengan kegiatan membaca dan menjadikan literasi sebagai bagian dari aktivitas belajar sehari-hari. Dengan adanya kerja sama antara guru dan lingkungan sekolah, upaya peningkatan literasi siswa dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
In reply to AZZAHRA CHIKA PERTIWI

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Muhamad Dakar Aldino -
Nama : Muhamad Dakar Aldino
NPM : 2413053017

Izin menambahkan jawaban dari pertanyaan Chika Peran guru dalam meningkatkan literasi siswa adalah dengan mengarahkan dan membimbing siswa agar terbiasa membaca, menulis, dan memahami informasi melalui kegiatan pembelajaran yang menarik. Guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai, misalnya dengan diskusi, membaca bersama, atau menugaskan siswa membuat rangkuman dari bacaan sehingga siswa lebih aktif dalam kegiatan literasi.
Selain itu, lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan literasi. Sekolah perlu menciptakan suasana belajar yang mendukung kebiasaan membaca, misalnya dengan menyediakan sudut baca di kelas, menempelkan poster atau tulisan edukatif, serta membiasakan kegiatan membaca sebelum pelajaran dimulai. Dengan dukungan dari guru dan lingkungan sekolah, budaya literasi pada siswa dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik.
In reply to Cintia Dwi Cahyati

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by vania diandra vadin -
Nama : Vania Diandra Vadin
NPM : 2453053007
Izin bertanya kelompok 4
Menurut kalian apakah kurikulum yang ada saat ini sudah cukup memberi ruang bagi pengembangan literasi siswa, atau justru terlalu fokus pada penyelesaian materi pelajaran?
In reply to vania diandra vadin

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Vania Diandra Vadian
Menurut kami, kurikulum yang ada saat ini sebenarnya sudah memberikan ruang bagi pengembangan literasi siswa, terutama melalui berbagai kebijakan seperti Gerakan Literasi Sekolah dan penerapan pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis serta pemahaman terhadap teks. Dalam kurikulum juga terdapat kegiatan yang dapat mendukung literasi, seperti membaca, menulis, berdiskusi, serta memahami informasi dari berbagai sumber belajar. Hal ini menunjukkan bahwa secara konsep, kurikulum telah dirancang untuk mendukung perkembangan kemampuan literasi siswa.

Namun, dalam pelaksanaannya di kelas sering kali pembelajaran masih lebih berfokus pada penyelesaian materi pelajaran dan pencapaian target kurikulum. Guru biasanya harus mengejar ketuntasan materi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sehingga kegiatan literasi belum selalu mendapat perhatian yang cukup. Akibatnya, siswa lebih banyak diarahkan untuk memahami materi secara cepat daripada mengembangkan kemampuan membaca dan memahami informasi secara mendalam.

Oleh karena itu, meskipun kurikulum saat ini sebenarnya sudah memberikan peluang untuk mengembangkan literasi siswa, penerapannya masih perlu dioptimalkan. Guru perlu mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam proses pembelajaran sehari-hari agar siswa tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan membaca, memahami informasi, serta berpikir kritis melalui kegiatan literasi.
In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Syarifah Siti Fatimah NA -
Nama: Syarifah Siti Fatimah NA
NPM: 2413053036

izin bertanya, jika model ADDIE sudah diterapkan tetapi kemampuan literasi siswa masih rendah, menurut kalian langkah apa yang harus dilakukan guru selanjutnya?
In reply to Syarifah Siti Fatimah NA

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cintia Dwi Cahyati -
Nama: Cintia Dwi Cahyati
NPM: 2413053154
Izin menjawab pertanyaan dari Syarifah Siti Fatimah NA

Jika model pembelajaran ADDIE sudah diterapkan tetapi kemampuan literasi siswa masih rendah, maka langkah yang perlu dilakukan guru selanjutnya adalah melakukan evaluasi dan perbaikan pada setiap tahapan model ADDIE. Guru perlu meninjau kembali apakah tahap analisis sudah benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Bisa saja pada tahap analisis masih belum sepenuhnya menggambarkan kondisi literasi siswa sehingga strategi yang dirancang kurang tepat.

Selain itu, guru juga dapat memperbaiki desain pembelajaran, misalnya dengan menggunakan metode yang lebih menarik, menambah variasi kegiatan literasi, atau menggunakan media pembelajaran yang lebih interaktif agar siswa lebih termotivasi untuk membaca dan menulis. Guru juga dapat menyesuaikan materi literasi dengan tingkat kemampuan dan minat siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami.

Dengan demikian, apabila kemampuan literasi siswa masih rendah meskipun model ADDIE telah diterapkan, guru perlu melakukan refleksi, evaluasi, serta perbaikan strategi pembelajaran agar proses pembelajaran selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa.
In reply to Syarifah Siti Fatimah NA

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Cici Regina Nainggolan -
Izin menjawab pertanyaan dari saudari Syarifah dan menambahkan jawaban dari saudari Cintia.

Selain melakukan evaluasi pada setiap tahap ADDIE, guru juga perlu melihat secara langsung kesulitan literasi yang dialami siswa. Misalnya dengan memberikan latihan membaca atau menulis secara bertahap dan memberi pendampingan lebih intensif kepada siswa yang masih mengalami kesulitan. Guru juga dapat membiasakan kegiatan literasi sederhana di kelas, seperti membaca singkat sebelum pembelajaran dimulai. Dengan cara ini, kemampuan literasi siswa dapat dilatih secara terus-menerus sehingga perlahan dapat meningkat.

In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Elfira Rosa Lubis -
Nama : Elfira Rosa Lubis
NPM : 2413053014

izin bertanya Jika pendekatan STEM dan STEAM diterapkan secara konsisten di sekolah dasar, menurut kalian bagaimana dampaknya terhadap perkembangan kemampuan berpikir siswa di masa depan?
In reply to Elfira Rosa Lubis

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Agin Aulia Putri -
Nama:Agin Aulia Putri
NPM: 2413053028

Izin menjawab pertanyaan Elfira,
Jika pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dan  STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) diterapkan secara konsisten di sekolah dasar, dampaknya terhadap kemampuan berpikir siswa di masa depan bisa sangat baik. Beberapa dampaknya antara lain:

1. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis
Siswa akan terbiasa menganalisis masalah, mencari penyebab, dan menemukan solusi sendiri.

2. Meningkatkan kreativitas
Terutama pada pendekatan STEAM karena ada unsur seni, sehingga siswa belajar menggabungkan logika dengan ide kreatif.

3. Melatih kemampuan memecahkan masalah
Siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga belajar melalui praktik dan percobaan.

4. Membiasakan kerja sama dan komunikasi
Banyak kegiatan STEM/STEAM dilakukan secara kelompok, sehingga siswa belajar berdiskusi dan bekerja sama.

5. Mempersiapkan siswa menghadapi perkembangan teknologi
Siswa menjadi lebih siap menghadapi tantangan di masa depan yang berkaitan dengan teknologi dan inovasi.


Kesimpulannya, jika STEM dan STEAM diterapkan sejak sekolah dasar secara konsisten, siswa akan berkembang menjadi lebih kritis, kreatif, inovatif, dan mampu memecahkan masalah di masa depan.
In reply to First post

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Rika Noviliana -
Nama : Rika Noviliana
NPM : 2413053073

Izin bertanya, pada faktor internal disebutkan motivasi belajar dan minat membaca mempengaruhi literasi. Namun, bagaimana strategi guru untuk menumbuhkan motivasi membaca pada siswa yang sejak awal memang tidak memiliki minat terhadap kegiatan membaca?
In reply to Rika Noviliana

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Monika ardhana parasmitha -
Nama:Monika Ardhana Parasmitha
NPM:2413053153

Izin menjawab pertanyaan rika

Strategi utama guru untuk menumbuhkan motivasi pada siswa yang apatis terhadap literasi adalah dengan mengubah paradigma membaca dari sebuah kewajiban akademis menjadi sebuah pengalaman yang relevan dan menyenangkan. Guru dapat memulainya dengan metode "pintu masuk" melalui minat pribadi siswa, yakni menyediakan bahan bacaan yang sangat spesifik dengan hobi mereka, seperti komik, majalah olahraga, atau panduan gim, sehingga membaca dirasakan sebagai sarana pemuas rasa ingin tahu, bukan beban tugas. Selain itu, guru perlu menciptakan lingkungan kelas yang kaya literasi namun santai, seperti menyediakan pojok baca yang nyaman dan menggunakan teknik pembacaan nyaring (read-aloud) pada bagian cerita yang paling menggantung untuk memancing rasa penasaran alami siswa secara spontan.
​Lebih jauh lagi, guru harus mampu menghilangkan tekanan evaluatif yang seringkali menjadi penghambat minat, misalnya dengan membiarkan siswa membaca bebas tanpa kewajiban meringkas atau menjawab soal di akhir kegiatan. Penggunaan media multimodal dan platform digital yang interaktif juga dapat menjadi jembatan bagi siswa yang lebih nyaman dengan konten visual untuk mulai terbiasa mengonsumsi teks. Dengan memberikan otonomi penuh kepada siswa untuk memilih bahan bacaannya sendiri dan memberikan apresiasi terhadap setiap proses yang mereka lalui, guru secara perlahan dapat mengikis hambatan mental siswa, sehingga aktivitas membaca beralih dari sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebutuhan intrinsik yang tumbuh secara bertahap.
In reply to Rika Noviliana

Re: FORUM DISKUSI KELOMPOK 4

by Siti Rahmawati 2413053068 -
izin menanggapi pertanyaan dari Rika Noviliana
nama : Siti Rahmawati
NPM : 2413053068
tanggapannya:
Strategi yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan motivasi membaca pada siswa yang sejak awal kurang memiliki minat membaca adalah dengan menciptakan kegiatan membaca yang menarik dan dekat dengan kehidupan siswa. Guru dapat menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan usia, gambar yang menarik, serta topik yang disukai siswa, sehingga siswa merasa membaca bukan sebagai kegiatan yang membosankan. Selain itu, guru juga dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang kreatif, seperti membaca bersama, bercerita, atau mengaitkan kegiatan membaca dengan permainan dan diskusi sederhana.

Guru juga dapat memberikan contoh secara langsung dengan menunjukkan kebiasaan membaca di kelas serta memberi penghargaan atau apresiasi kepada siswa yang mulai menunjukkan minat membaca. Dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan dukungan dari guru, secara perlahan siswa dapat merasakan bahwa membaca merupakan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan sehingga motivasi membaca mereka dapat tumbuh.