Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM: 2413031006
1. Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting meningkatkan reliabilitas informasi akuntansi melalui sifat immutable dan desentralisasi data, memastikan jejak karbon serta rantai pasok bahan baku tidak dapat dimanipulasi, selaras dengan prinsip akuntansi GRI yang menekankan verifikasi independen. Transparansi juga terdongkrak karena stakeholder dapat mengakses ledger terdistribusi secara real-time, mengurangi greenwashing dan membangun kepercayaan di konteks pelaporan ESG. Pendekatan ini merevolusi teori akuntansi tradisional dengan menggantikan verifikasi manual menjadi konsensus otomatis, meski memerlukan adaptasi standar GRI untuk integrasi data digital.
2. PT Hijau Lestari berpotensi menghadapi hambatan regulasi di Indonesia, di mana OJK masih mengembangkan kerangka ESG reporting tanpa panduan spesifik blockchain, menyebabkan ketidakpastian kepatuhan dengan POJK dan standar GRI yang sedang transisi. Secara global, interoperability antar platform blockchain menyulitkan integrasi dengan sistem legacy, ditambah keterbatasan sumber daya teknis di perusahaan agribisnis skala menengah. Resistensi organisasi dan kurangnya expertise lokal juga memperbesar risiko, terutama di sektor dengan variasi kualitas pengungkapan ESG seperti agribisnis.
3. Adopsi hybrid model yang mengintegrasikan blockchain dengan AI untuk analisis data GRI, didukung pelatihan akuntan dalam smart contracts guna menjaga judgement profesional. Libatkan auditor eksternal untuk continuous verification melalui akses blockchain, serta kolaborasi dengan regulator OJK untuk pilot project transparansi rantai pasok. Pantau evolusi standar global seperti ISSB sambil menguji interoperability, memastikan skalabilitas untuk jejak karbon tanpa mengorbankan biaya operasional.
NPM: 2413031006
1. Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting meningkatkan reliabilitas informasi akuntansi melalui sifat immutable dan desentralisasi data, memastikan jejak karbon serta rantai pasok bahan baku tidak dapat dimanipulasi, selaras dengan prinsip akuntansi GRI yang menekankan verifikasi independen. Transparansi juga terdongkrak karena stakeholder dapat mengakses ledger terdistribusi secara real-time, mengurangi greenwashing dan membangun kepercayaan di konteks pelaporan ESG. Pendekatan ini merevolusi teori akuntansi tradisional dengan menggantikan verifikasi manual menjadi konsensus otomatis, meski memerlukan adaptasi standar GRI untuk integrasi data digital.
2. PT Hijau Lestari berpotensi menghadapi hambatan regulasi di Indonesia, di mana OJK masih mengembangkan kerangka ESG reporting tanpa panduan spesifik blockchain, menyebabkan ketidakpastian kepatuhan dengan POJK dan standar GRI yang sedang transisi. Secara global, interoperability antar platform blockchain menyulitkan integrasi dengan sistem legacy, ditambah keterbatasan sumber daya teknis di perusahaan agribisnis skala menengah. Resistensi organisasi dan kurangnya expertise lokal juga memperbesar risiko, terutama di sektor dengan variasi kualitas pengungkapan ESG seperti agribisnis.
3. Adopsi hybrid model yang mengintegrasikan blockchain dengan AI untuk analisis data GRI, didukung pelatihan akuntan dalam smart contracts guna menjaga judgement profesional. Libatkan auditor eksternal untuk continuous verification melalui akses blockchain, serta kolaborasi dengan regulator OJK untuk pilot project transparansi rantai pasok. Pantau evolusi standar global seperti ISSB sambil menguji interoperability, memastikan skalabilitas untuk jejak karbon tanpa mengorbankan biaya operasional.