CASE STUDY

CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 33

PT Delta Finansial adalah perusahaan penyedia layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) yang beroperasi secara internasional. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan ini telah mengadopsi teknologi AI untuk pencatatan transaksi, serta menggunakan blockchain untuk verifikasi dan penyimpanan data akuntansi. Namun, akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi suku bunga global, perusahaan menghadapi tekanan likuiditas, volatilitas nilai tukar, dan ketidakpastian regulasi internasional.

Di sisi lain, laporan keuangan terakhir PT Delta menunjukkan laba bersih yang stabil, namun analis keuangan eksternal mencurigai adanya delay pengakuan beban dan manipulasi estimasi akuntansi berbasis algoritma untuk menjaga citra perusahaan di mata investor.

 

Pertanyaan:

  1. Analisis Kritis:
  • Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?
  • Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?
Etika dan Transparansi:
  • Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?
  • Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?
Respon Strategis:
  • Berikan rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi.
  • Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi? Jelaskan pandangan Anda.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Mourien Ganesti -

Nama : Mourien Ganesti 

Npm : 2413031013

Analisis Kritis

1. Salah satu tantangan utama dari teori akuntansi konvensional dalam konteks otomatisasi dan blockchain adalah ketidakselarasan dengan prinsip akrual, kesulitan dalam proses verifikasi audit, serta masalah dalam menangani volatilitas yang disebabkan faktor geopolitik, yang dapat menghasilkan laporan keuangan yang tidak akurat atau sulit untuk diaudit.

2. Proses digitalisasi membuka jalan bagi peningkatan efisiensi dan transparansi melalui penggunaan kecerdasan buatan dan blockchain, namun juga menghadirkan risiko manipulasi yang termasuk dalam bentuk bias algoritma, kelemahan dalam aspek keamanan, serta kurangnya kontrol dari manusia, yang dapat menipu investor seperti yang terlihat pada kasus dugaan manipulasi yang melibatkan PT Delta.

Etika dan Transparansi

1. Risiko-risiko etis bagi para akuntan mencakup hilangnya tanggung jawab, adanya bias dari algoritma, serta potensi konflik kepentingan, karena penggunaan AI dalam pengambilan keputusan sering kali terjadi tanpa adanya validasi etis yang memadai.

2. Para akuntan profesional perlu menolak segala bentuk tekanan untuk mengubah laporan, mengutamakan integritas dengan memeriksa keakuratan output dari AI, mengungkapkan segala dugaan adanya manipulasi, dan berupaya meningkatkan transparansi guna menjaga kepercayaan dari investor.

Respon Strategis

1. Perusahaan bersama akuntan publik wajib mengadaptasi proses audit dengan cara mengintegrasikan teknologi seperti AI untuk pemantauan yang berlangsung secara langsung, membentuk komite audit yang berbasis digital, serta mengedepankan validasi terhadap algoritma demi mendeteksi adanya manipulasi.

2. Saat ini, standar pelaporan keuangan belum sepenuhnya fleksibel dikarenakan kekurangan panduan yang spesifik untuk teknologi digital serta tantangan globalisasi, sehingga diperlukan evolusi yang mendesak dengan adanya modul-modul baru untuk meningkatkan transparansi dan menyelaraskan regulasi guna mengatasi kompleksitas yang tampak pada kasus PT Delta.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by MUHAMMAD ARIFIN ILHAM -
Nama : MUHAMMAD ARIFIN ILHAM
NPM : 2413031003

Analisis Kritis

Salah satu hambatan utama teori akuntansi tradisional dalam era otomatisasi dan blockchain adalah ketidakcocokannya dengan sistem akrual, tantangan dalam proses verifikasi audit, serta kesulitan menghadapi fluktuasi akibat kondisi geopolitik. Hal tersebut dapat menyebabkan laporan keuangan menjadi kurang akurat dan sulit untuk diverifikasi auditor.

Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi dan keterbukaan melalui pemanfaatan AI dan blockchain, namun juga membawa risiko manipulasi, seperti bias dalam algoritma, celah keamanan, dan minimnya pengawasan manusia. Kondisi ini dapat menyesatkan investor, sebagaimana terlihat pada dugaan manipulasi yang melibatkan PT Delta.

Etika dan Transparansi

Tantangan etis yang dihadapi akuntan meliputi berkurangnya akuntabilitas, munculnya bias pada sistem algoritma, serta potensi konflik kepentingan. Ini terjadi karena keputusan berbasis AI sering dibuat tanpa adanya peninjauan etis yang memadai.

Akuntan profesional harus menolak segala tekanan untuk memodifikasi laporan, menjaga integritas dengan menelaah ketepatan keluaran sistem AI, melaporkan setiap indikasi manipulasi, dan memperkuat keterbukaan informasi demi mempertahankan kepercayaan investor.

Respons Strategis
Perusahaan dan akuntan publik perlu memperbarui pendekatan audit dengan menggabungkan teknologi seperti AI untuk pemantauan real-time, membentuk komite audit digital, serta memastikan algoritma melalui proses validasi guna mengidentifikasi potensi manipulasi.

Saat ini, standar pelaporan keuangan belum cukup adaptif karena minimnya panduan yang jelas terkait teknologi digital dan tantangan globalisasi. Oleh sebab itu, dibutuhkan pembaruan segera melalui penambahan modul khusus yang dapat meningkatkan transparansi, menyesuaikan regulasi, dan menangani kompleksitas seperti yang terjadi pada kasus PT Delta.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Fathiyah Dzahirah 2413031001 -
Nama : Fathiyah Dzahirah
NPM : 2413031001

Analisis Kritis:
Penerapan teori akuntansi tradisional menjadi menantang ketika perusahaan menggunakan otomatisasi AI dan blockchain karena konsep lama seperti pencatatan berurutan, verifikasi manual, serta pengendalian internal berbasis dokumen menjadi kurang relevan. Blockchain menciptakan catatan permanen yang sulit disesuaikan, sementara AI menghasilkan transaksi dan estimasi secara real-time sehingga konsep *matching* dan *historical cost* sering tidak sinkron. Digitalisasi juga membuka peluang efisiensi—transaksi lebih cepat, audit trail lebih kuat—namun sekaligus meningkatkan risiko manipulasi, misalnya melalui pengaturan algoritma, delay pengakuan beban, atau bias data yang tidak mudah terdeteksi auditor.

Etika dan Transparansi:
Penggantian judgement manusia dengan algoritma AI menimbulkan risiko etika, seperti ketergantungan berlebihan pada model yang tidak transparan, kemungkinan bias, serta potensi rekayasa parameter sistem untuk menampilkan kinerja yang lebih baik. Akuntan menghadapi dilema ketika manajemen meminta “penyesuaian” agar laporan tampak menarik; secara profesional, akuntan harus tetap berpegang pada integritas, skeptisisme profesional, serta standar etika IESBA dan menolak permintaan yang dapat menyesatkan pemangku kepentingan.

Respon Strategis:
Untuk menghadapi sistem akuntansi berteknologi tinggi, perusahaan dan auditor harus memperbarui prosedur audit dengan teknik *IT audit*, *data analytics*, dan verifikasi algoritma, termasuk pengujian bias model serta penelusuran jejak blockchain. Pengawasan internal perlu fokus pada tata kelola data, keamanan siber, dan validasi algoritma. Standar pelaporan keuangan saat ini relatif adaptif, tetapi belum sepenuhnya memadai untuk kompleksitas aset digital, transaksi lintas negara real-time, dan penggunaan AI; karena itu diperlukan pembaruan standar, panduan khusus aset digital, serta kerangka audit teknologi agar pelaporan tetap relevan dan andal.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nashita Shafiyah -

NASHITA SHAFIYAH

2413031009

1. Analisis Kritis

Penggunaan otomatisasi dan blockchain dalam akuntansi membuat beberapa konsep tradisional menjadi sulit diterapkan, karena transaksi dicatat secara otomatis, permanen, dan terdesentralisasi. Hal ini menggeser peran judgement manusia yang sebelumnya menjadi fondasi utama dalam pencatatan dan verifikasi. Di sisi lain, digitalisasi membuka peluang efisiensi dan akurasi, tetapi juga menciptakan risiko manipulasi yang lebih terselubung—misalnya melalui pengaturan algoritma atau penundaan pengakuan beban. Dengan sistem yang bekerja seperti “kotak hitam”, manipulasi menjadi lebih sulit dideteksi meski laporan terlihat stabil di permukaan.


2. Etika dan Transparansi

Ketika estimasi dan penilaian akuntansi mulai digantikan oleh AI, akuntan menghadapi risiko etika berupa ketergantungan berlebihan pada algoritma yang mungkin memuat bias atau logika yang tidak sepenuhnya dipahami. Situasi ini bisa mengaburkan tanggung jawab profesional, terutama jika sistem digunakan untuk membenarkan hasil yang tidak mencerminkan kondisi nyata perusahaan. Dalam tekanan menjaga citra perusahaan, akuntan tetap harus berpegang pada integritas dan menolak penyesuaian laporan yang tidak didukung dasar akuntansi, karena transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan publik.


3. Respon Strategis

Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan auditor perlu menyesuaikan pendekatan audit dengan memahami struktur algoritma, proses dalam blockchain, dan potensi bias data. Audit tidak cukup hanya memeriksa angka akhir, tetapi juga harus menilai bagaimana data dihasilkan dan apakah sistem dapat dimanipulasi. Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas digital dan globalisasi, sehingga perlu pembaruan agar pelaporan mampu mengakomodasi penggunaan AI, transaksi lintas negara, serta bukti digital yang semakin beragam. Pembaruan ini penting agar akuntansi tetap relevan dan dapat diandalkan di era teknologi tinggi.


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Alissya Putri Kartika -

Nama : Alissya Putri Kartika 

NPM : 2413031011


Analisis Kritis

1) Tantangan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan memakai otomatisasi dan blockchain

Saat proses pencatatan mulai digerakkan oleh sistem otomatis dan teknologi blockchain, banyak prinsip akuntansi klasik tidak lagi mudah diterapkan. Penentuan waktu pengakuan dan perhitungan nilai yang biasanya menuntut pertimbangan manusia kini tertanam dalam kode. Hal ini membuat penyesuaian manual sulit dilakukan dan menyulitkan auditor dalam menilai apakah transaksi dicatat sesuai prinsip akuntansi.

Selain itu, meskipun blockchain memberi bukti transaksi yang sulit dimanipulasi, kejadian ekonomi yang terjadi di luar sistem tetap harus diverifikasi secara terpisah. Auditor harus memastikan informasi on-chain benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Ketika estimasi mulai dihasilkan oleh algoritma, asumsi dan bias di dalam model dapat tersembunyi. Prinsip akuntansi menuntut transparansi, sementara sistem otomatis sering tidak memberikan penjelasan atas cara angka tersebut diperoleh.

2) Digitalisasi: peluang dan risiko manipulasi

Digitalisasi membuka kesempatan untuk bekerja lebih cepat dan akurat. Kesalahan input dapat berkurang, data bisa dianalisis lebih detail, dan manajemen dapat memantau kondisi perusahaan hampir secara real-time.

Namun, otomatisasi juga membuka celah baru. Logika algoritma bisa disesuaikan untuk mengubah waktu pencatatan atau menghaluskan angka laporan. Jika data yang dipakai model tidak berkualitas atau sengaja dimanipulasi, hasil akhirnya bisa salah secara sistematis. Kurangnya transparansi dalam model juga memungkinkan hasil yang tidak dapat diuji kembali oleh auditor.


Etika dan Transparansi

1) Risiko etika ketika peran judgement digantikan AI

Jika keputusan akuntansi sepenuhnya dipercayakan pada algoritma, muncul pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab ketika hasilnya keliru. Pengembang sistem, pengguna, atau bagian keuangan bisa saling melempar tanggung jawab.

Model otomatis juga bisa disesuaikan demi memenuhi target tertentu. Jika tidak diawasi dengan ketat, tuning model dapat menjadi bentuk manipulasi terselubung. Selain itu, ketergantungan pada output sistem membuat akuntan berisiko kehilangan sikap skeptis yang seharusnya melekat pada profesi.

2) Sikap akuntan saat menghadapi tekanan untuk “merapikan” laporan

Akuntan harus tetap menjaga integritas. Setiap bentuk tekanan harus dicatat dan dilaporkan sesuai jalurnya. Jika algoritma menghasilkan hasil yang dianggap “kurang menarik”, akuntan tetap wajib menilai ulang asumsi dan sumber datanya, bukan sekadar mengganti parameter untuk mempercantik laporan.

Jika ada upaya memengaruhi hasil secara tidak etis, akuntan perlu menyampaikan temuan tersebut ke komite audit atau auditor eksternal. Transparansi harus diprioritaskan agar laporan tetap dapat dipercaya.


Respon Strategis

1) Penyesuaian praktik audit dan pengawasan

Perusahaan perlu menerapkan tata kelola yang jelas terhadap model dan sistem digital. Setiap algoritma harus memiliki pemilik, dokumentasi, serta catatan perubahan. Model penting juga perlu diuji oleh pihak independen, bukan hanya oleh tim yang membuatnya.

Untuk aset digital, perusahaan wajib menjaga pemisahan tugas, prosedur pengamanan kunci privat, serta rekonsiliasi antara data on-chain dan pembukuan internal.

Auditor, baik internal maupun eksternal, perlu meningkatkan kemampuan teknis terkait blockchain, validasi model, penelusuran transaksi, dan analisis forensik digital. Pendekatan audit juga harus menggabungkan pemeriksaan bukti digital dan dokumen konvensional.

2) Apakah standar pelaporan sudah cukup adaptif?

Standar yang ada saat ini memang bergerak ke arah yang lebih relevan dengan aset digital, tetapi belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kompleksitas transaksi modern. Banyak aturan masih berbasis prinsip umum sehingga perusahaan harus menafsirkan sendiri  penerapannya pada skenario digital.

Karena itu, perusahaan perlu mengambil langkah proaktif, seperti menambah pengungkapan, memperkuat tata kelola, dan rutin mengikuti perkembangan regulasi, mengingat standar yang lebih rinci sedang dalam proses pembahasan di banyak yurisdiksi.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Tantowi Jauhari -
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Analisis Kritis (AI & Blockchain vs. Akuntansi Tradisional)
Tantangan Teori Tradisional: AI menantang prinsip kehati-hatian (conservatism) dan realisasi dengan mempercepat/menunda pengakuan transaksi. Data immutable blockchain dapat bertentangan dengan kebutuhan penilaian fair value yang fluktuatif (akibat geopolitik/suku bunga).

Digitalisasi: Risiko & Peluang:
Peluang: Data real-time dan immutable meningkatkan keandalan dan efisiensi audit.
Risiko: Potensi manipulasi algoritmik (delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi) yang sulit dideteksi karena prosesnya black-box bagi auditor eksternal.

2. Etika dan Transparansi
Risiko Etika AI: Akuntan berisiko kehilangan akuntabilitas dengan menyalahkan keputusan judgement pada algoritma (moral hazard). Jika algoritma AI memiliki bias untuk menghaluskan laba (earnings smoothing), ia akan melegitimasi praktik tidak etis secara otomatis.

Sikap Akuntan Profesional: Harus berpegang pada Integritas dan Objektivitas. Akuntan wajib mendokumentasikan dan mempertahankan judgement algoritmik berdasarkan standar (bukan tekanan investor), serta melaporkan tekanan yang tidak etis kepada Komite Audit.

3. Respon Strategis (Audit & SPK)
Penyesuaian Audit:
Fokus audit beralih dari transaksi sampel ke pengujian desain dan parameter algoritma AI dan validasi model.
Adopsi Continuous Auditing dan melibatkan spesialis data/TI untuk mengaudit logic AI dan blockchain.

Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (SPK): Belum sepenuhnya adaptif. SPK masih kurang memiliki panduan spesifik tentang judgement yang dihasilkan oleh AI, pengungkapan teknologi inti (blockchain/AI), dan kerangka fair value yang spesifik untuk aset digital. Diperlukan amandemen untuk mengatur tata kelola data akuntansi digital.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Refamei Kudadiri -
Nama:Refamei Kudadiri
Npm: 2413031014

Analisis kritis
1. Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan besar ketika perusahaan memakai otomatisasi dan blockchain. Teori akuntansi konvensional dibangun atas dasar proses pencatatan manual, sistem terpusat, dan pengendalian internal yang berbasis manusia. Ketika transaksi dicatat oleh AI dan disimpan di blockchain, konsep seperti verifikasi dokumen, otorisasi, serta rekonsiliasi berubah bentuk. Blockchain bersifat immutabel sehingga koreksi dan penyesuaian akuntansi tidak dapat dilakukan seperti biasanya. Selain itu, algoritma yang melakukan pencatatan otomatis dapat bertindak sebagai “black box”, menyulitkan pemahaman dasar pengakuan dan pengukuran transaksi.
2. Digitalisasi juga membuka peluang efisiensi, kecepatan, dan keakuratan data, tetapi pada saat yang sama menciptakan risiko manipulasi. Perusahaan dapat mengatur parameter algoritma untuk menunda pengakuan beban, memperhalus volatilitas laba, atau mengoptimalkan estimasi secara sistematis tanpa jejak yang mudah terlihat oleh auditor. Jika blockchain digunakan hanya pada tahap penyimpanan, tetapi input datanya berasal dari sistem otomatis yang dapat diprogram ulang, maka potensi manipulasi justru meningkat melalui rekayasa algoritmik sebelum data “dikunci” dalam block.

Etika dan transparansi
Ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh AI, risiko etika muncul dalam bentuk hilangnya akuntabilitas. Akuntan dapat bersembunyi di balik algoritma untuk menghindari tanggung jawab atas keputusan pelaporan. Bias algoritma, error model, atau pengaturan parameter yang sengaja diubah dapat menimbulkan informasi menyesatkan tanpa terlihat sebagai rekayasa manual. Di sisi lain, tekanan untuk menyesuaikan laporan agar menarik bagi investor tetap ada, dan dapat muncul dalam bentuk pengaturan sistem—misalnya menunda pencatatan beban melalui konfigurasi AI.
2. Akuntan profesional harus menolak tekanan tersebut dengan menegaskan bahwa integritas laporan keuangan tidak dapat dinegosiasikan, serta memastikan bahwa mekanisme AI tetap tunduk pada standar akuntansi dan prinsip etika profesi seperti objektivitas, transparansi, dan kejujuran.

Respon strategis
1. Perusahaan dan akuntan publik harus meningkatkan prosedur audit dengan fokus pada audit sistem, bukan hanya angka. Auditor perlu menilai desain algoritma, logika pencatatan otomatis, integritas smart contract di blockchain, serta kontrol akses terhadap sistem. Audit harus mencakup penilaian atas potensi bias, error, dan manipulasi parameter algoritma. Perusahaan juga perlu menerapkan governance teknologi yang kuat, termasuk dokumentasi model AI, jejak audit digital, serta pengawasan manajemen risiko teknologi.
2. Mengenai standar pelaporan keuangan saat ini, banyak di antaranya belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital dan global. Standar masih berfokus pada transaksi tradisional, sementara ekonomi digital menciptakan jenis transaksi baru seperti aset kripto, smart contract, dan algoritma yang menghasilkan nilai ekonomis. Selain itu, globalisasi membuat volatilitas nilai tukar, likuiditas lintas batas, dan risiko regulasi semakin relevan, sementara standar yang ada belum memberikan panduan komprehensif untuk area-area baru tersebut. Pandangan yang lebih fleksibel, berbasis prinsip, dan responsif terhadap teknologi diperlukan agar pelaporan tetap mencerminkan realitas ekonomi modern.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nurida Elsa -

Nama: Nurida Elsa

NPM: 241303012


Analisis Kritis: Dalam konteks otomatisasi dan penggunaan blockchain, teori akuntansi tradisional menghadapi hambatan besar karena tidak sepenuhnya selaras dengan sistem akrual modern. Proses verifikasi audit menjadi lebih rumit, apalagi ketika kondisi geopolitik yang tidak stabil menyebabkan fluktuasi data keuangan. Akibatnya, laporan keuangan dapat menjadi kurang akurat dan semakin sulit diverifikasi oleh auditor.

Digitalisasi memang membawa manfaat seperti efisiensi yang lebih tinggi dan transparansi data melalui AI dan blockchain. Namun, teknologi ini juga membuka peluang manipulasi, misalnya melalui bias pada algoritma, celah keamanan, dan berkurangnya pengawasan manusia. Risiko ini dapat menyesatkan investor, seperti yang dicurigai terjadi pada PT Delta.

Etika dan Transparansi: Secara etis, akuntan menghadapi tantangan seperti hilangnya akuntabilitas karena keputusan banyak dilakukan oleh AI, munculnya bias dalam algoritma, dan potensi terjadinya konflik kepentingan. Masalah ini terjadi karena keputusan berbasis sistem otomatis sering kali tidak disertai pengawasan etis yang memadai.

Dalam situasi seperti itu, akuntan profesional wajib mempertahankan integritas. Mereka harus menolak tekanan untuk mengubah hasil laporan, memeriksa kembali akurasi output AI, melaporkan setiap dugaan manipulasi, dan memastikan informasi disampaikan secara transparan agar kepercayaan investor tetap terjaga.

Respons Strategis: Untuk menghadapi tantangan teknologi tinggi, perusahaan dan auditor perlu memperbarui metode audit mereka. Salah satunya dengan memanfaatkan AI untuk memantau transaksi secara real-time, membentuk komite audit yang khusus menangani aspek digital, serta memastikan bahwa algoritma yang digunakan telah divalidasi dan tidak berpotensi disalahgunakan.

Saat ini, standar pelaporan keuangan belum sepenuhnya mampu mengikuti perkembangan teknologi digital dan tuntutan globalisasi. Karena itu, diperlukan pembaruan yang lebih spesifik, termasuk pedoman baru yang meningkatkan transparansi dan membantu menghadapi kompleksitas pelaporan seperti kasus yang dialami PT Delta.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Serly Natasa -
Nama: Serly Natasa
NPM: 2413031028

Analisis Kritis
1. Tantangan teori akuntansi tradisional dengan otomatisasi dan blockchain ialah teori akuntansi tradisional yang berbasis pada prinsip pengakuan, pengukuran, dan pelaporan sering kali belum sepenuhnya mengakomodasi sifat real-time dan desentralisasi dari teknologi digital seperti blockchain dan AI. Otomatisasi dan blockchain mengubah proses pencatatan dan verifikasi data, sehingga menuntut akuntan untuk beradaptasi dengan sistem yang lebih kompleks, memahami regulasi baru, serta mengatasi risiko keamanan data dan gangguan sistem.

2. Peluang dan risiko digitalisasi akuntansi ialah Digitalisasi membuka peluang untuk efisiensi, akurasi, dan transparansi dalam pelaporan keuangan, serta memudahkan analisis data dan audit. Namun, risiko manipulasi informasi juga meningkat, terutama jika sistem AI digunakan tanpa pengawasan manusia yang memadai, seperti delay pengakuan beban atau penggunaan estimasi bias untuk memanipulasi citra perusahaan.

Etika dan Transparansi
1. Risiko etika akuntan dengan algoritma AI yaitu Penggunaan algoritma AI menimbulkan risiko etika seperti bias algoritmik, kurangnya transparansi, dan masalah privasi data. Akuntan harus memastikan adanya kebijakan tata kelola yang kuat, transparansi algoritmik, serta perlindungan data sensitif untuk menjaga integritas proses akuntansi.

2. Sikap akuntan profesional terhadap tekanan menyesuaikan laporan yaitu Akuntan profesional harus tetap menjunjung prinsip independensi, objektivitas, dan integritas, serta melaporkan praktik yang tidak etis jika menghadapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor.

Respon Strategis
1. Rekomendasi penyesuaian praktik audit dan pengawasan yaitu Perusahaan dan akuntan publik perlu memperkuat tata kelola teknologi, meningkatkan kompetensi SDM dalam teknologi digital, serta menerapkan audit berbasis teknologi seperti continuous auditing dan AI-powered analytics. Audit tradisional harus diperkaya dengan pendekatan yang memahami algoritma dan sistem digital, serta memastikan adanya audit trail yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Adaptasi standar pelaporan keuangan yaitu Standar pelaporan keuangan saat ini masih dalam proses adaptasi terhadap kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. Meskipun ada upaya penyempurnaan, banyak standar belum sepenuhnya mengakomodasi dinamika dan risiko unik dari sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi. Perlu inovasi dan kolaborasi antara regulator, akademisi, dan praktisi agar standar tetap relevan dan efektif
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Analisis Kritis
1. Penerapan teori akuntansi tradisional pada perusahaan seperti PT Delta Finansial yang menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain menghadapi tantangan seperti skalabilitas, fleksibilitas arsitektur, keamanan siber, serta integrasi dengan sistem akuntansi yang sudah ada.
2. Digitalisasi membuka peluang besar dalam transparansi, efisiensi, dan real-time reporting, namun juga menciptakan risiko manipulasi informasi akuntansi, terutama melalui algoritma AI yang dapat digunakan untuk delay pengakuan beban atau memanipulasi estimasi agar laporan keuangan tampak lebih menarik.​

Etika dan Transparansi
1. Risiko etika utama yang dihadapi akuntan adalah hilangnya tanggung jawab profesional dan potensi bias algoritma ketika estimasi dan judgement digantikan oleh AI.
2. Akuntan profesional harus tetap kritis, mengawasi output AI, serta menolak tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan demi menjaga citra perusahaan, demi menjaga integritas dan transparansi pelaporan keuangan.​

Respon Strategis
1. Perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dengan memperkuat kompetensi teknologi, menerapkan audit berbasis data dan blockchain, serta memperkuat pengendalian internal untuk mengurangi risiko manipulasi.
2. Standar pelaporan keuangan saat ini masih perlu adaptasi lebih lanjut untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, terutama dalam hal regulasi, kepatuhan, dan pedoman penggunaan teknologi seperti AI dan blockchain, karena regulasi yang ada belum sepenuhnya matang dan masih menghadirkan ketidakpastian hukum.​
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Amara Gusti Kharisma -

Nama : Amara Gusti Kharisma

NPM : 2413031033

ANALISIS KRITIS

1. Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan seperti skalabilitas, hambatan regulasi, dan integrasi sistem saat menggunakan otomatisasi dan blockchain, karena ledger terdistribusi sulit disesuaikan dengan prinsip pengakuan historis dan estimasi manual. Blockchain mengurangi kesalahan manusia melalui otomatisasi smart contract, tetapi memerlukan adaptasi aturan akuntansi konvensional yang bergantung pada judgement auditor manusia.

2. Digitalisasi menciptakan peluang seperti efisiensi operasional dan deteksi fraud melalui AI serta blockchain, namun juga risiko manipulasi data akuntansi akibat bias algoritma atau celah cybersecurity. Teknologi ini meningkatkan transparansi real-time, tetapi memperbesar kerentanan terhadap ancaman siber yang bisa dimanfaatkan untuk memodulasi fraud.

ETIKA DAN TRANSPARANSI

1. Akuntan menghadapi risiko etika seperti bias dalam dataset AI yang menghasilkan estimasi tidak adil, serta hilangnya transparansi judgement manusia yang digantikan algoritma. Privasi data sensitif juga terancam karena AI memerlukan akses luas, berpotensi menimbulkan output distorsi jika data pelatihan subyektif.

2. Akuntan profesional harus menolak tekanan dari CEO atau target earnings dengan melaporkan ke audit committee, memprioritaskan integritas daripada citra investor sementara. Respons etis mencakup dokumentasi keputusan independen dan peningkatan internal control untuk menangkal peer pressure yang mendorong manipulasi.

RESPON STRATEGI

1. Perusahaan dan akuntan publik harus mengadopsi AI untuk analisis prediktif fraud serta blockchain untuk audit trail real-time, sambil meningkatkan cybersecurity maturity. Praktik ini termasuk pelatihan auditor pada smart contract dan verifikasi independen algoritma untuk memastikan akurasi.

2. Standar pelaporan saat ini seperti IFRS belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas digital dan globalisasi, karena regulasi seperti GDPR masih mengejar ketertinggalan teknologi cepat. Pandangan ini menekankan perlunya pembaruan framework untuk akomodasi blockchain dan AI, dengan fokus pada transparansi data lintas batas.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Syifa Dwi Putriyani -
Nama: Syifa Dwi Putriyani
NPM: 2413P31024

Analisis Kritis

1. Salah satu hambatan utama dalam teori akuntansi konvensional ketika dihadapkan pada otomatisasi dan teknologi blockchain adalah kurangnya kesesuaian dengan prinsip akrual, tantangan dalam proses audit, serta ketidakstabilan yang dipicu kondisi geopolitik. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan laporan keuangan menjadi tidak tepat atau sulit untuk diverifikasi.


2. Transformasi digital memang memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi dan keterbukaan melalui pemanfaatan AI dan blockchain. Namun, hal ini juga membawa ancaman berupa potensi manipulasi, seperti bias algoritma, celah keamanan, dan minimnya kendali manusia, yang dapat merugikan investor—seperti yang diduga terjadi dalam kasus manipulasi pada PT Delta.




---

Etika dan Transparansi

1. Secara etis, akuntan menghadapi risiko seperti berkurangnya akuntabilitas, munculnya bias pada sistem berbasis algoritma, serta kemungkinan terjadinya konflik kepentingan. Hal ini disebabkan karena keputusan yang dihasilkan AI sering kali tidak melalui pemeriksaan etis yang memadai.


2. Akuntan profesional harus tetap menolak segala bentuk intervensi dalam pengubahan laporan, menjaga integritas dengan mengevaluasi ketepatan hasil yang dihasilkan AI, melaporkan setiap indikasi manipulasi, serta meningkatkan keterbukaan agar kepercayaan investor tetap terjaga.




---

Respon Strategis

1. Perusahaan dan auditor publik perlu menyesuaikan prosedur audit dengan mengadopsi teknologi seperti AI untuk pemantauan real-time, membentuk komite audit berbasis digital, serta memperkuat proses validasi algoritma agar manipulasi dapat terdeteksi sejak dini.


2. Standar pelaporan keuangan saat ini masih belum cukup adaptif karena minimnya pedoman khusus terkait teknologi digital dan tantangan globalisasi. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan standar dan penambahan modul-modul baru untuk meningkatkan transparansi serta harmonisasi regulasi, terutama dalam menghadapi kompleksitas seperti yang terlihat pada kasus PT Delta.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Eris Ana Dita -

Nama : Eris Ana Dita

Npm : 2413031017

1.Analisis Kritis : 

  • Tantangan teori akuntansi tradisional dengan otomatisasi dan blockchain di PT Delta Finansial adalah pengakuan dan verifikasi data yang otomatis sehingga kontrol manual dan judgement manusia berkurang, sehingga sulit mendeteksi manipulasi menggunakan algoritma atau delay beban. Selain itu, blockchain meningkatkan transparansi tapi menuntut audit real-time dan penyesuaian prosedur audit tradisional.
  • Digitalisasi memberi peluang efisiensi dan akurasi pencatatan transaksi, tapi juga risiko manipulasi data dengan teknik canggih seperti mengubah algoritma atau menunda pengakuan beban untuk memperbaiki citra keuangan. Hal ini menuntut penguatan sistem keamanan dan pengawasan berbasis TI untuk cegah manipulasi.

2.Etika dan Transparansi :

  • Risiko etika akuntan muncul ketika AI dan algoritma menggantikan judgement, terutama terkait bias algoritma, kurangnya transparansi proses, dan tekanan menyesuaikan angka demi kepentingan manajemen yang bisa mengorbankan objektivitas profesional.
  • Akuntan profesional harus meneguhkan independensi dan integritas, menolak tekanan melakukan manipulasi laporan, serta mendorong penggunaan AI yang explainable dan audit berbasis teknologi guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

3.Respon Strategis:

  • Rekomendasi audit dan pengawasan adalah menyesuaikan prosedur audit dengan teknologi blockchain dan AI, termasuk audit berkelanjutan (continuous audit), validasi algoritma oleh pihak independen, dan memperkuat kolaborasi IT dan audit. Perusahaan perlu membangun kontrol internal TI dan pelatihan akuntan digital guna adaptasi risiko teknologi tinggi.
  • Standar pelaporan saat ini seperti IFRS dan PSAK sudah mulai adaptif dengan digitalisasi dan kompleksitas global, tapi perlu pengembangan lebih lanjut agar lebih responsif terhadap inovasi teknologi dan isu risiko seperti aset digital, serta peningkatan pedoman pengungkapan teknologi dan algoritma AI.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rahma Amelia -
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2413031026

1. Analisis Kritis
a. Tantangan teori akuntansi tradisional saat perusahaan memakai otomatisasi & blockchain
Ketika PT Delta Finansial memakai AI dan blockchain, konsep akuntansi tradisional seperti pencatatan manual, verifikasi dokumen, dan proses audit berbasis sampling menjadi kurang relevan. Sistem otomatis membuat transaksi tercatat real-time dan terenkripsi, tetapi menimbulkan tantangan baru karena akuntan tidak selalu memahami cara algoritma memproses data. Blockchain yang bersifat permanen juga membuat koreksi kesalahan pencatatan menjadi sulit. Selain itu, teori akuntansi yang sangat bergantung pada judgement manusia menjadi lebih kompleks ketika judgement diambil oleh sistem otomatis yang tidak transparan (black box).

b. Bagaimana digitalisasi menciptakan peluang & risiko manipulasi
Digitalisasi memberi peluang besar untuk efisiensi, pengurangan human error, dan penyajian data keuangan yang cepat serta akurat. Namun, sistem otomatis tetap bisa dimanipulasi melalui pengaturan parameter algoritma, penundaan pengakuan beban, atau penyesuaian estimasi agar laba terlihat lebih stabil. AI yang diprogram secara bias oleh manajemen juga dapat menghasilkan laporan yang tampak valid tetapi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga risiko fraud berbasis teknologi semakin besar.

2. Etika dan Transparansi
a. Risiko etika ketika judgement digantikan algoritma AI
Risiko etika muncul karena akuntan dapat kehilangan kontrol terhadap proses estimasi dan perhitungan penting, seperti penilaian aset, cadangan kerugian, atau pengakuan pendapatan. Jika AI bekerja tanpa transparansi, akuntan sulit memastikan bahwa keputusan algoritma benar dan sesuai standar akuntansi. Selain itu, jika AI dirancang mengikuti kepentingan manajemen, hal ini dapat menciptakan laporan keuangan yang tampak objektif padahal sebenarnya dimanipulasi.

b. Sikap akuntan terhadap tekanan “menyesuaikan” laporan ke investor
Akuntan profesional harus tetap berpegang pada integritas dan prinsip etika seperti objektivitas dan kejujuran. Saat ditekan untuk “mempercantik” laporan, akuntan harus menolak intervensi tersebut dan mendokumentasikan semua proses estimasi dengan jelas. Mereka perlu menjelaskan kepada manajemen bahwa laporan yang dimodifikasi tidak hanya melanggar standar tetapi juga berisiko merusak reputasi perusahaan dan mengakibatkan sanksi hukum serta audit.

3. Respon Strategis
a. Rekomendasi untuk menyesuaikan audit & pengawasan di era teknologi tinggi
Perusahaan dan akuntan publik harus meningkatkan kompetensi teknologi, termasuk audit terhadap algoritma, pengujian integritas data, dan pengecekan keamanan blockchain. Auditor perlu mengadopsi teknik audit digital seperti continuous auditing, data analytics, serta pengujian model AI (model audit). Selain itu, perusahaan harus membangun kontrol internal yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan algoritma dan memastikan setiap perubahan kode sistem didokumentasikan.

b. Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif?
Secara umum, standar pelaporan keuangan global (seperti IFRS) sudah mulai adaptif terhadap perkembangan digital, namun belum sepenuhnya mengikuti kecepatan inovasi seperti AI dan blockchain. Banyak area abu-abu terkait perlakuan data digital, algoritma, serta transaksi yang terjadi di jaringan blockchain. Dengan demikian, standar saat ini cukup memadai, tetapi masih perlu pembaruan untuk mengakomodasi kompleksitas bisnis digital, volatilitas global, dan pengendalian risiko teknologi modern.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Reyhta Putri Herdian -
Nama : Reyhta Putri Herdian
NPM : 2413030135

Analisis Kritis :
Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan signifikan ketika perusahaan mengadopsi sistem otomatisasi dan blockchain. Sistem otomatisasi mempercepat proses pencatatan transaksi, namun mengurangi keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan yang biasanya mengandalkan judgement profesional. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam mengaplikasikan prinsip akuntansi konservatif atau accrual, karena algoritma dapat melakukan estimasi berdasarkan asumsi yang tidak sepenuhnya transparan. Blockchain, meskipun meningkatkan keamanan dan keakuratan data, juga menimbulkan tantangan dalam hal pengakuan dan penyusunan laporan keuangan karena sifatnya yang immutable, sehingga kesalahan atau ketidaksesuaian data sulit diperbaiki, berbeda dengan praktik akuntansi tradisional yang lebih fleksibel.

Digitalisasi membuka peluang untuk efisiensi, akurasi, dan audit real-time, namun juga menimbulkan risiko manipulasi informasi akuntansi. Penggunaan algoritma AI memungkinkan estimasi dan pengakuan transaksi dilakukan secara otomatis, sehingga ada potensi untuk “menyesuaikan” laporan dengan parameter tertentu agar terlihat lebih menguntungkan. Jika tidak diawasi secara ketat, hal ini dapat dimanfaatkan untuk delay pengakuan beban atau memperhalus hasil laba, sehingga transparansi dan integritas laporan keuangan dapat terancam.

Etika dan Transparansi :

Ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI, akuntan menghadapi risiko etika berupa hilangnya kontrol langsung atas pengambilan keputusan kritis. Akuntan mungkin terjebak pada situasi di mana mereka hanya memvalidasi output mesin tanpa memahami asumsi dan logika yang digunakan, sehingga tanggung jawab profesional menjadi ambigu. Tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan agar menarik bagi investor menambah risiko konflik kepentingan. Akuntan profesional harus menegaskan independensi, menolak manipulasi data, dan memastikan setiap estimasi atau algoritma yang digunakan dapat dijelaskan secara transparan serta dapat diaudit, agar prinsip etika akuntansi tetap dijaga.


Respon Strategis :
Perusahaan dan akuntan publik perlu menyesuaikan praktik audit dengan mengadopsi pendekatan berbasis teknologi tinggi, seperti audit berbasis data (data analytics audit) dan audit real-time untuk memantau aktivitas transaksi yang dihasilkan AI dan blockchain. Akuntan harus memahami logika algoritma, parameter estimasi, serta keamanan sistem blockchain untuk memastikan akurasi dan integritas laporan. Mengenai standar pelaporan keuangan saat ini, meskipun prinsip dasar seperti IFRS dan PSAK menyediakan panduan umum, standar tersebut belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, khususnya terkait AI dan aset digital. Oleh karena itu, perusahaan dan regulator perlu mendorong pengembangan pedoman tambahan yang lebih spesifik, misalnya tentang pengakuan transaksi digital, penggunaan algoritma dalam estimasi, dan disclosure risiko teknologi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rahmi Taqiya Darmawanti -
Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM: 2413031006

A. Analisis Kritis
1. Tantangan Akuntansi Tradisional
Penerapan teori akuntansi konvensional menghadapi kesulitan saat berhadapan dengan otomatisasi dan blockchain, terutama karena skalabilitas jaringan yang terbatas untuk volume data besar, sehingga memperlambat proses pencatatan transaksi skala perusahaan. Selain itu, integrasi dengan sistem legacy memerlukan investasi waktu dan biaya tinggi, sementara regulasi yang masih berkembang menimbulkan ketidakpastian kepatuhan hukum. Tantangan ini sering kali menghambat efisiensi penuh dari smart contracts yang mengotomatisasi verifikasi.
2. Peluang dan Risiko Digitalisasi
Digitalisasi membuka peluang melalui transparansi data yang sulit diubah berkat konsensus blockchain, mengurangi kesalahan manusia dan biaya audit secara signifikan. Namun, risiko muncul dari potensi manipulasi algoritma yang memproses estimasi akuntansi, di mana data masukan yang bias dapat menghasilkan laporan yang menyesatkan investor. Volatilitas sistem otomatis juga memperbesar kerentanan terhadap gangguan teknis atau serangan siber.

B. Etika dan Transparansi
1. Risiko Etika pada AI
Akuntan menghadapi dilema etis ketika judgement profesional digantikan algoritma AI, karena model prediktif bisa mewarisi bias dari data pelatihan, mengaburkan akuntabilitas keputusan keuangan. Ketergantungan pada black-box AI menyulitkan verifikasi keadilan estimasi, berpotensi melanggar prinsip integritas profesi. Hal ini menuntut keseimbangan antara efisiensi teknologi dan pengawasan manusia untuk menjaga kepercayaan publik.
2. Risiko Etika pada AI
Akuntan menghadapi dilema etis ketika judgement profesional digantikan algoritma AI, karena model prediktif bisa mewarisi bias dari data pelatihan, mengaburkan akuntabilitas keputusan keuangan. Ketergantungan pada black-box AI menyulitkan verifikasi keadilan estimasi, berpotensi melanggar prinsip integritas profesi. Hal ini menuntut keseimbangan antara efisiensi teknologi dan pengawasan manusia untuk menjaga kepercayaan publik.

C. Respon Strategis
1. Rekomendasi Audit Teknologi
Perusahaan dan akuntan publik perlu mengadopsi audit berbasis teknologi, seperti continuous auditing dengan tools blockchain untuk verifikasi real-time, serta pelatihan auditor dalam AI dan kriptografi. Pengawasan dapat ditingkatkan melalui hybrid model yang menggabungkan smart contracts dengan review manusia, ditambah protokol pengujian algoritma secara berkala. Kerja sama dengan regulator internasional juga esensial untuk standar global.
2. Adaptasi Standar Pelaporan
Standar pelaporan keuangan saat ini seperti IFRS kurang adaptif sepenuhnya terhadap kompleksitas digital, karena masih bergantung pada judgement manual yang sulit diterapkan pada data blockchain terdistribusi atau estimasi AI. Pandangan ini menekankan perlunya amandemen untuk mengakomodasi transparansi immutable data, meski kemajuan lambat akibat ketidakseragaman regulasi global. Evolusi ini krusial agar pelaporan tetap relevan di era fintech global.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Alya Khoirun Nisa -
Nama : Alya Khoirun Nisa
NPM : 2413031019

1. Tantangan dalam penerapan teori akuntansi tradisional saat perusahaan menggunakan otomatisasi dan blockchain

Penerapan otomatisasi dan blockchain membawa perubahan fundamental terhadap cara akuntansi bekerja, sehingga menimbulkan tantangan bagi teori akuntansi tradisional yang selama ini bertumpu pada proses manual, dokumentasi fisik, dan judgement manusia. Sistem otomatisasi berbasis AI mencatat transaksi secara real time sehingga batasan periode akuntansi yang bersifat diskrit menjadi kurang relevan. Sementara itu, blockchain menghasilkan bukti transaksi yang tidak dapat diubah, tetapi tetap meninggalkan persoalan baru: bagaimana menilai integritas data yang masuk ke dalam rantai blok, bagaimana memverifikasi smart contract, serta bagaimana mengaudit transaksi yang tidak memiliki bukti fisik konvensional. Selain itu, banyak aspek akuntansi seperti cadangan kerugian atau penilaian aset memerlukan judgement manusia, sedangkan algoritma—yang tidak selalu transparan—dapat mengambil alih proses tersebut dan memunculkan ketidakpastian mengenai pertanggungjawaban profesional. Inilah yang membuat teori akuntansi tradisional harus beradaptasi dengan logika pencatatan dan validasi digital yang lebih kompleks.


2. Bagaimana digitalisasi menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi

Digitalisasi memang membuka peluang besar bagi peningkatan efisiensi dan akurasi akuntansi, namun pada saat yang sama menciptakan risiko manipulasi yang lebih halus dan sulit terdeteksi. Dengan otomatisasi, proses rekonsiliasi menjadi lebih cepat dan kesalahan manual berkurang drastis. Blockchain memberikan jejak transaksi yang kuat sehingga meningkatkan keandalan data. Namun, di balik keunggulan ini, digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi berbasis algoritma, misalnya dengan mengubah parameter model AI agar beban dapat ditunda atau laba terlihat lebih stabil. Model yang bekerja sebagai “black box” juga membuat kesalahan atau bias dalam estimasi sulit dipahami oleh auditor maupun investor. Bahkan data yang menjadi input ke dalam sistem dapat direkayasa melalui manipulasi data off-chain atau melalui pengaturan sistem yang bertujuan membentuk citra finansial tertentu. Oleh karena itu, digitalisasi adalah pedang bermata dua: meningkatkan kualitas informasi, tetapi sekaligus membuka ruang manipulasi yang lebih canggih.


3. Risiko etika ketika judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI

Ketika algoritma AI mulai menggantikan judgement manusia dalam penentuan estimasi keuangan, risiko etika bagi akuntan semakin besar. Akuntan dapat terjebak pada sikap menyerahkan tanggung jawab kepada sistem tanpa melakukan penilaian kritis, padahal keputusan akuntansi tetap membutuhkan skeptisisme profesional. Jika model menghasilkan angka tertentu, akuntan tetap wajib memastikan bahwa asumsi, data, dan logika model tidak bias atau dimodifikasi untuk menguntungkan pihak tertentu. Selain itu, penggunaan AI dapat menimbulkan konflik kepentingan ketika manajemen menekan akuntan untuk melakukan penyetelan parameter agar hasil laporan terlihat lebih menarik di mata investor. Transparansi algoritma menjadi isu penting, sebab tanpa penjelasan yang memadai, akuntan dapat dianggap menyetujui keputusan yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Oleh karena itu, tanggung jawab etis akuntan justru semakin besar di era otomatisasi, bukan semakin kecil.


4. Sikap akuntan profesional terhadap tekanan untuk “menyesuaikan” laporan agar menarik bagi investor

Dalam menghadapi tekanan untuk memoles laporan keuangan, akuntan profesional harus berpegang teguh pada kode etik, terutama prinsip integritas dan objektivitas. Ketika manajemen menginginkan agar laporan terlihat lebih menguntungkan, akuntan perlu menolak setiap bentuk intervensi yang bertujuan memanipulasi estimasi, baik melalui perubahan manual maupun manipulasi algoritmik. Akuntan juga harus memperjelas bahwa penggunaan AI bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab profesional; keputusan tetap harus diuji secara independen dan didasarkan pada bukti serta prinsip akuntansi yang berlaku. Dengan bersikap tegas, akuntan dapat menjaga kepercayaan investor, mengurangi risiko legal, dan memastikan bahwa perusahaan tetap berada dalam koridor pelaporan yang benar. Keberanian untuk menolak tekanan inilah yang membedakan akuntan profesional dari sekadar operator sistem.


5. Rekomendasi penyesuaian praktik audit dan pengawasan dalam sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi

Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan auditor publik harus mengembangkan pendekatan audit yang lebih modern dan adaptif. Perusahaan perlu membangun governance sistem yang kuat, termasuk dokumentasi model AI, kontrol akses terhadap data, serta pengujian independen terhadap algoritma yang digunakan dalam estimasi akuntansi. Auditor publik harus memperluas kompetensi teknisnya, memahami arsitektur blockchain, smart contract, dan cara kerja model pembelajaran mesin. Audit tidak lagi bisa bergantung pada pemeriksaan periodik saja; continuous auditing dan monitoring berbasis data menjadi penting untuk mendeteksi anomali secara real time. Selain itu, auditor harus memastikan bahwa perubahan algoritma, pembaruan sistem, dan aliran data dicatat dengan jelas agar manipulasi dapat dideteksi dengan cepat. Dengan memperkuat kapasitas ini, audit dapat tetap relevan dan efektif dalam lingkungan akuntansi digital.


6. Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital?

Secara keseluruhan, standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, meskipun mulai menunjukkan perkembangan. Standar seperti IFRS dan PSAK masih berlandaskan konsep yang dirancang untuk transaksi konvensional, sedangkan teknologi seperti blockchain, aset digital, dan otomatisasi menciptakan situasi baru yang belum sepenuhnya diatur. Banyak transaksi digital, smart contract, dan algoritma yang mempengaruhi laporan belum memiliki pedoman formal yang detail, sehingga perusahaan dan auditor sering harus mengandalkan interpretasi profesional dan pedoman non-resmi. Namun, badan regulator internasional sudah mulai merumuskan pendekatan baru untuk aset digital dan penggunaan AI dalam pelaporan, sehingga ke depan standar kemungkinan akan semakin adaptif. Meskipun demikian, saat ini terdapat kesenjangan signifikan yang menuntut kehati-hatian ekstra dari akuntan dalam menyajikan informasi keuangan yang andal dan transparan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Susan Ti -
NAMA:SUSANTI
NPM:2413031034


Analisis Kritis
1. Penerapan teori akuntansi tradisional pada perusahaan seperti PT Delta Finansial yang menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain menghadapi tantangan seperti skalabilitas, fleksibilitas arsitektur, keamanan siber, serta integrasi dengan sistem akuntansi yang sudah ada.
2. Digitalisasi membuka peluang besar dalam transparansi, efisiensi, dan real-time reporting, namun juga menciptakan risiko manipulasi informasi akuntansi, terutama melalui algoritma AI yang dapat digunakan untuk delay pengakuan beban atau memanipulasi estimasi agar laporan keuangan tampak lebih menarik.​

Etika dan Transparansi
1. Risiko etika utama yang dihadapi akuntan adalah hilangnya tanggung jawab profesional dan potensi bias algoritma ketika estimasi dan judgement digantikan oleh AI.
2. Akuntan profesional harus tetap kritis, mengawasi output AI, serta menolak tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan demi menjaga citra perusahaan, demi menjaga integritas dan transparansi pelaporan keuangan.​

Respon Strategis
1. Perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dengan memperkuat kompetensi teknologi, menerapkan audit berbasis data dan blockchain, serta memperkuat pengendalian internal untuk mengurangi risiko manipulasi.
2. Standar pelaporan keuangan saat ini masih perlu adaptasi lebih lanjut untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, terutama dalam hal regulasi, kepatuhan, dan pedoman penggunaan teknologi seperti AI dan blockchain, karena regulasi yang ada belum sepenuhnya matang dan masih menghadirkan ketidakpastian hukum.​
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nayla Andara -

Nama: Nayla Andara

NPM: 2413031018

Analisis Kritis:

1Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan otomatisasi dan blockchain muncul karena AI dan smart contract mencatat transaksi berdasarkan peristiwa teknis yang terjadi secara real-time, sedangkan teori akuntansi tradisional menekankan substansi ekonomi, penilaian risiko, dan judgement manusia sebelum pengakuan transaksi dilakukan. Selain itu, estimasi akuntansi seperti nilai wajar, cadangan kerugian, atau pengakuan beban yang dihasilkan oleh algoritma sering kali tidak transparan dan sulit direkonsiliasi dengan prinsip kehati-hatian. Blockchain memang menyediakan jejak audit yang kuat, tetapi bukti yang bersifat teknis tersebut tetap membutuhkan interpretasi akuntansi karena hash dan rekaman digital tidak secara otomatis menjelaskan hak, kewajiban, atau substansi transaksi. Kompleksitas sistem digital lintas negara juga menimbulkan tantangan penerapan prinsip akuntansi tradisional yang biasanya disusun berdasarkan konteks yurisdiksi tertentu.

2Digitalisasi dapat menciptakan peluang dan risiko secara bersamaan. Dari sisi peluang, digitalisasi meningkatkan efisiensi pencatatan, meminimalkan kesalahan manusia, menyediakan rekonsiliasi otomatis, serta memperkuat transparansi melalui pencatatan berbasis blockchain. Namun, risiko manipulasi juga meningkat karena algoritma dapat disetel untuk menunda pengakuan beban atau mengatur parameter agar laporan terlihat lebih baik. Data yang digunakan untuk melatih model dapat dimodifikasi atau bias sehingga menghasilkan output yang mendistorsi kondisi keuangan. Selain itu, sifat black-box dari beberapa model AI membuat manajemen dapat menyembunyikan manipulasi dengan alasan teknis, sehingga risiko penyimpangan informasi akuntansi menjadi lebih besar.

Etika dan Transparansi:

1. Risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement digantikan oleh AI meliputi hilangnya akuntabilitas profesional karena keputusan penting dilakukan oleh sistem yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Akuntan dapat terjebak dalam automation bias, yaitu kecenderungan menerima hasil model tanpa skeptisisme yang memadai, padahal algoritma itu sendiri mungkin mengandung asumsi yang tidak tepat atau dipengaruhi kepentingan tertentu. Selain itu, penggunaan data besar memunculkan isu privasi, keamanan, dan potensi penyalahgunaan data untuk kepentingan pelaporan yang tidak etis.


2. Untuk menyikapi tekanan agar laporan tetap menarik bagi investor, akuntan profesional harus menjaga integritas, menolak permintaan yang menyimpang dari standar, serta memastikan proses akuntansi tetap transparan. Setiap output algoritma perlu divalidasi melalui uji sensitivitas, pemeriksaan data, dan dokumentasi menyeluruh atas asumsi yang digunakan. Akuntan juga harus menjalankan skeptisisme profesional dan menggunakan jalur pelaporan pelanggaran jika terjadi intervensi yang mengarah pada manipulasi.

Respon Strategis:
1. Perusahaan dan akuntan publik perlu menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dengan menerapkan kerangka pengendalian risiko model, validasi independen terhadap algoritma, pengelolaan kualitas data, dan pencatatan versi model secara transparan sehingga seluruh proses dapat diaudit. Auditor harus memperluas prosedur audit dengan meninjau kode sumber, memverifikasi dataset, menguji ulang model, serta menerapkan continuous auditing untuk memantau transaksi otomatis secara berkelanjutan. Kemampuan teknis auditor juga perlu ditingkatkan melalui kolaborasi dengan data scientist dan spesialis forensik digital.
2. Mengenai adaptivitas standar pelaporan keuangan saat ini, standar seperti IFRS memang masih relevan karena berbasis prinsip, tetapi belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kompleksitas keuangan digital, termasuk aset kripto, smart contract, dan estimasi berbasis AI. Teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada pedoman akuntansi, sehingga terdapat area abu-abu dalam pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi digital. Oleh karena itu, standar yang ada perlu dilengkapi dengan pedoman khusus dan interpretasi tambahan agar dapat menjawab tantangan globalisasi dan digitalisasi secara memadai.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Vina Nailatul Izza -
Nama : Vina Nailatul Izza
NPM : 2413031007

Analisis Kritis:
Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan besar ketika perusahaan beralih ke sistem otomatisasi dan blockchain karena konsep dasar pencatatan berbasis dokumen fisik dan verifikasi manual menjadi kurang relevan. Blockchain, misalnya, menciptakan catatan permanen dan tidak dapat diubah, sehingga mengubah peran akuntan dari pencatat transaksi menjadi analis data. Namun, teori tradisional belum sepenuhnya mengakomodasi karakteristik data real-time, kontrak pintar, atau aset digital yang nilainya fluktuatif dan tidak berwujud. Digitalisasi juga membuka peluang efisiensi dan ketepatan data, tetapi sekaligus meningkatkan risiko manipulasi melalui rekayasa algoritma, bias data, serta kemungkinan penyalahgunaan otomatisasi untuk menutupi pola transaksi mencurigakan yang tersamarkan oleh kompleksitas teknologi.

Etika dan Transparansi:
Risiko etika muncul ketika estimasi dan judgement profesional digantikan oleh algoritma AI, karena keputusan keuangan menjadi bergantung pada model yang mungkin tidak transparan, bias, atau tidak dapat dijelaskan secara logis kepada pemangku kepentingan. Akuntan dapat kehilangan kendali dan tanggung jawab moral jika terlalu bergantung pada sistem yang tidak mereka pahami secara penuh. Selain itu, akuntan profesional sering menghadapi tekanan untuk “menyesuaikan” laporan agar tampak lebih menarik bagi investor, terutama dalam perusahaan yang sangat kompetitif. Dalam situasi seperti ini, integritas menjadi kunci: akuntan harus berpegang pada kode etik profesi, menjaga objektivitas, dan menolak manipulasi informasi meskipun ada tekanan internal, karena laporan keuangan bukan alat pemasaran, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap perusahaan.

Respon Strategis:
Untuk menghadapi teknologi tinggi dalam sistem akuntansi, perusahaan dan akuntan publik perlu memperbarui praktik audit dengan pendekatan berbasis data analytics, continuous auditing, dan pemahaman mendalam tentang sistem digital seperti blockchain atau ERP otomatis. Auditor harus meningkatkan kompetensi teknologi, bukan hanya kemampuan akuntansi tradisional, agar mampu mengidentifikasi risiko baru seperti integritas data, keamanan siber, dan ketergantungan pada vendor teknologi. Di sisi standar pelaporan, standar saat ini masih belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital, terutama terkait valuasi aset digital, pengakuan transaksi otomatis, serta implikasi kontrak pintar. Diperlukan pembaruan standar yang lebih fleksibel, prinsip-based, dan mampu menyesuaikan perkembangan teknologi global tanpa mengorbankan transparansi dan reliabilitas informasi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nasroh Aulia -
Nama : Nasroh Aulia
NPM : 2413031004

1. Analisis Kritis
Ketika perusahaan menggunakan AI dan blockchain, teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan karena banyak proses pencatatan tidak lagi dilakukan manusia. AI dapat mengubah estimasi secara otomatis dan blockchain mencatat transaksi secara permanen, tetapi data yang masuk tetap bisa salah. Hal ini membuat pengakuan pendapatan, beban, serta validitas bukti transaksi menjadi lebih sulit diuji. Digitalisasi juga menciptakan peluang seperti efisiensi dan transparansi, namun membuka risiko manipulasi baru—misalnya mengatur parameter algoritma untuk menunda biaya atau menampilkan laba yang lebih stabil sehingga sulit dideteksi auditor.

2. Etika dan Transparansi
Ketika keputusan akuntansi digantikan AI, muncul risiko etika seperti hilangnya akuntabilitas, bias model, dan potensi penyalahgunaan algoritma untuk mempercantik laporan. Akuntan dapat menghadapi tekanan agar menerima hasil AI tanpa kritik. Dalam kondisi ini, akuntan harus tetap menjaga integritas, menolak permintaan yang tidak sesuai standar, dan mendokumentasikan seluruh bentuk tekanan agar laporan keuangan tetap fair dan tidak menyesatkan investor.

3. Strategis
Perusahaan dan auditor perlu memperkuat pengawasan teknologi, memastikan dokumentasi model AI, menelusuri sumber data, serta memvalidasi kontrol sistem. Auditor juga harus menilai proses, bukan hanya angka akhir, dan bekerja sama dengan ahli data. Sementara standar pelaporan keuangan saat ini mulai beradaptasi, perkembangan teknologi lebih cepat sehingga diperlukan pedoman yang lebih jelas terkait audit AI, aset digital, dan transparansi risiko teknologi agar laporan tetap dapat dipercaya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Waly Tanti Fitrani -
NAMA: WALY TANTI FITRANI
NPM: 2413031031

ANALISIS KRITIS :
1. Tantangan pada penerapan teori akuntansi tradisional (di era automatisasi & blockchain)
a. Pengakuan dan timing (recognition & measurement)
Teori tradisional bergantung pada judgement manusia (estimasi cadangan, pengakuan pendapatan, penilaian wajar). Saat proses itu diotomasi oleh AI/algoritma, muncul masalah: siapa yang menentukan asumsi dasar, dan bagaimana memastikan bahwa algoritma menerapkan prinsip pengakuan sesuai kerangka akuntansi (mis. revenue recognition, impairment)? Model bisa menunda pengakuan beban atau percepat pendapatan karena parameter yang “diperhalus” untuk menghasilkan angka yang stabil.
b. Transparansi & explainability
Banyak model AI (deep learning, ensemble) bersifat black-box: sulit menjelaskan mengapa sistem memilih angka tertentu. Teori akuntansi mensyaratkan pengungkapan dan dasar estimasi tetapi bila estimasi dihasilkan oleh model yang tidak bisa dijelaskan, prinsip transparansi menjadi sulit diterapkan.
c. Auditabilitas & bukti audit
Teori audit dan bukti audit tradisional mengasumsikan adanya dokumen/ bukti yang dapat diverifikasi. Blockchain menambah jejak immutable tetapi transformasi yang dilakukan oleh AI (pre-processing, feature engineering) mungkin tidak tercatat di ledger publik; ini mempersulit auditor merekonstruksi alur keputusan ekonomi yang melatarbelakangi angka dalam laporan.
d. Penafsiran konsep materialitas & relevansi
Otomatisasi memungkinkan banyak keputusan mikro (thresholds, rounding rules). Hal ini menuntut penyesuaian konsep materialitas: apakah banyak keputusan kecil yang diotomasi kumulatifnya menjadi material? Teori tradisional jarang membahas “mass automation” dari decisions.
e. Kecepatan & frekuensi laporan
Sistem digital bisa menghasilkan laporan real-time. Teori akuntansi dan proses pengendalian dirancang untuk periode (quarter, year). Perbedaan frekuensi menuntut mekanisme kontrol dan governance baru.

2. Peluang
• Efisiensi & konsistensi: Otomasi mengurangi kesalahan manual, standardisasi pengakuan, dan mempercepat closing.
• Audit trail lebih kuat (blockchain): Immutable ledger memudahkan verifikasi asal transaksi jika desainnya benar (on-chain proofs).
• Analitik untuk deteksi risiko: AI dapat mendeteksi anomali transaksi atau pola fraud lebih cepat daripada pemeriksaan manual.
Risiko manipulasi
• Manipulasi model / parameter tuning: Jika manajemen mengendalikan model, mereka bisa men-tune hyperparameter atau training data untuk “menghasilkan” hasil yang diinginkan (mis. understate allowance).
• Delay pengakuan biaya lewat algoritma: Rule-based scheduling bisa diset untuk menunda expense recognition (mis. shifting provisioning ke periode berikutnya).
• Data poisoning / input manipulation: Karena model bergantung pada data, pihak internal dapat mengubah/menyaring data input (mis. memfilter buruk invoices) sehingga output terlihat sehat.
• Opacity memberi celah moral hazard: Ketika keputusan diambil “oleh mesin”, aktor manusia bisa berlindung di balik algoritma untuk menghindari tanggung jawab.
• Automated scaling of small manipulations: Banyak keputusan mikro yang tampak tidak material bisa diotomasi sehingga akumulasi dampaknya menjadi material (needle moving).


ETIKA DAN TRANSPARANSI :
1. Risiko etika ketika estimasi dan judgement digantikan oleh algoritma AI
a. Akuntabilitas & tanggung jawab profesional
Akuntan harus tetap bertanggung jawab atas estimasi. Delegasi ke AI tidak menghilangkan tanggung jawab profesional tapi jika perusahaan tidak menetapkan human-in-the-loop, akuntan kehilangan kontrol dan etika profesional terancam (conflict of interest, pressure to conform).
b. Bias & diskriminasi dalam model
Model dapat memperkuat bias historis (misal: menilai risiko kredit tertentu lebih rendah/tinggi tanpa basis ekonomi yang sah). Ini bisa memengaruhi cadangan kerugian, penilaian wajar, dan kebijakan provisioning.
c. Konflik kepentingan dan tekanan hasil
Tekanan manajemen untuk “menjaga citra” dapat mendorong penggunaan algoritma sebagai alat kosmetik: men-setting loss thresholds, reward function, atau objective function model agar menghasilkan angka yang menguntungkan.
d. Transparansi kepada pemakai laporan
Etika memerlukan pengungkapan asumsi material. Model yang tidak bisa dijelaskan menjadikan pengungkapan formal sulit dan mengurangi kemampuan pengguna laporan untuk mengevaluasi risiko.
e. Kegagalan model & overreliance
Kerap terjadi overreliance pada model ketika model gagal dalam kondisi pasar yang berubah (geopolitik, suku bunga tinggi), estimasi bisa jauh meleset dan menimbulkan kerugian material.

2. Sikap akuntan professional:
• Pertahankan prinsip profesional & independensi: akuntan harus menolak tekanan; dokumentasikan instruksi manajemen dan keputusan profesional.
• Human-in-the-loop mandatory: setiap output material dari AI harus mendapat review profesional yang terdokumentasi (reasonableness checks, sensitivity analysis).
• Model governance & approval: terapkan charter formal: siapa owner model, siapa yang boleh mengubahnya, change logs, approval board (termasuk independen komite risiko).
• Transparansi & disclosure: jelaskan penggunaan AI dan dampaknya terhadap estimasi material; ungkapkan asumsi utama, confidence intervals, serta back-testing hasil historis.
• Whistleblowing & protection: siapkan saluran aman untuk melaporkan manipulasi model/ data tampering.


RESPON STRATEGIS:
1. Rekomendasi praktis audit & pengawasan untuk sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi
Untuk perusahaan (manajemen & board):
• AI/Model Governance Framework sertakan pengembangan, validasi, deployment, monitoring, dan decommissioning model. Libatkan fungsi audit internal, risk, compliance, dan independen data scientists.
• Data lineage & immutable logging pastikan semua preprocessing, transformasi, dan parameter model dicatat (audit trail) ledger blockchain harus menyimpan hash/ pointers ke sumber data & versi model.
• Human oversight & approval gates khususnya untuk estimasi yang mempengaruhi laba, harus ada sign-off level senior (CFO/financial controller).
• Back-testing & stress testing — jalankan skenario ekstrem (currency shock, liquidity crunch) untuk melihat sensitivitas model.
• Segregation of duties & access controls — batasi siapa yang dapat mengubah data, param, atau model code; gunakan key management dan multi-sig pada smart contracts.
Untuk auditor publik:
• Expand audit procedures auditor harus menguji: data pipeline, model training processes, validation results, and monitoring alerts. Bukti audit harus mencakup reproducibility tests.
• Use specialists (tech & ML audit teams) tambahkan data scientists & cyber experts untuk menilai model validity, overfitting, data poisoning risk.
• Obtain logs & hashes minta cryptographic proofs dari blockchain (transaction hashes, timestamps) untuk membuktikan tidak ada perubahan setelah pencatatan.
• Evaluate management’s model governance termasuk model change controls, model inventory, and independent validation.
• Continuous auditing / real-time monitoring mengingat tempo digital, auditor perlu mekanisme monitoring berkelanjutan, bukan hanya sampling periodik.

2. belum sepenuhnya.
• Standar akuntansi (IFRS/GAAP) menetapkan prinsip umum (pengakuan, pengukuran, pengungkapan) yang masih relevan, tapi kurang detail soal hal-hal spesifik digital: pengakuan transaksi on-chain, akuntansi smart contracts, algoritma-driven estimates, dan bukti audit berbasis kriptografi.
• Standar auditing juga sedang berevolusi, namun perlu pedoman praktis terkait audit model AI, penggunaan bukti elektronik immutable, dan audit atas sistem otomatis.
• Oleh karena itu, regulator dan standard setters perlu mengeluarkan guidance yang lebih rinci (mis. disclosure tentang penggunaan AI, requirement model governance, cyber risk disclosures, treatment for digital assets & smart contracts).
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by TRIASWARI AYUNANDINI -

Nama: Triaswari Ayunandini

NPM: 2413031029

1. Analisis Kritis: Tantangan Teori Akuntansi dalam Era Otomatisasi

a. Tantangan Penerapan Teori Akuntansi Tradisional

Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan fundamental ketika berhadapan dengan teknologi blockchain dan otomatisasi AI yang diterapkan oleh PT Delta Finansial. Tantangan utamanya meliputi:

  • Substance Over Form vs. Immutability: Dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan, prinsip akuntansi mengutamakan substansi ekonomi di atas bentuk hukum (substance over form) agar laporan keuangan merepresentasikan fenomena ekonomi secara tepat (IASB, 2018). Namun, sifat blockchain yang permanen dan tidak dapat diubah (immutable) menciptakan kekakuan. Dai dan Vasarhelyi (2017) mencatat bahwa arsitektur blockchain dapat menyulitkan penyesuaian akuntansi (adjusting entries) yang lazim dilakukan dalam sistem akrual, terutama jika terjadi kesalahan input atau perubahan estimasi manajemen.
  • Verifikasi vs. Validasi Transaksi: Standar audit membedakan asersi manajemen antara keterjadian (occurrence) dan penilaian (valuation) (IAASB, 2019). Sistem otomatisasi seringkali dianggap "pasti benar", padahal sistem hanya memverifikasi bahwa data telah diinput secara kriptografis, bukan memvalidasi kewajaran nilai ekonominya. Hal ini menciptakan risiko di mana transaksi manipulatif yang lolos verifikasi algoritma dianggap valid tanpa pengujian substantif.

b. Peluang dan Risiko Manipulasi dalam Digitalisasi

Digitalisasi adalah pedang bermata dua bagi pelaporan keuangan:

  • Peluang: Digitalisasi menawarkan efisiensi tinggi dan integritas data yang lebih baik melalui sistem buku besar terdistribusi yang transparan.
  • Risiko Manipulasi: Risiko muncul dalam bentuk manipulasi algoritma. Seperti yang dicurigai pada PT Delta, manajemen dapat melakukan penundaan pengakuan beban (expense shifting). Jones (2011) mendefinisikan hal ini sebagai bentuk creative accounting atau manajemen laba yang tidak etis, yang kini berevolusi menjadi lebih sulit dideteksi karena tersembunyi di balik kompleksitas kode pemrograman sistem otomatisasi.

2. Etika dan Transparansi: Profesionalisme Akuntan di Tengah Algoritma

a. Risiko Etika Akuntan dalam Lingkungan AI

Ketika estimasi akuntansi digantikan oleh AI, risiko etika utama yang muncul adalah diffusion of responsibility. Kokina dan Davenport (2017) menyoroti bahwa otomatisasi mengubah peran auditor dan akuntan, namun tidak menghilangkan tanggung jawab profesional mereka. Terdapat risiko bias algoritma, di mana AI mereplikasi pola keputusan masa lalu yang mungkin agresif atau bias, yang jika tidak dikoreksi oleh pertimbangan manusia, akan menghasilkan laporan keuangan yang menyesatkan.

b. Sikap Akuntan Profesional terhadap Tekanan Laporan Keuangan

Dalam menghadapi tekanan untuk menjaga citra perusahaan di mata investor, akuntan profesional harus berpegang teguh pada prinsip dasar etika:

  1. Integritas dan Objektivitas: Sesuai dengan Handbook of the International Code of Ethics, akuntan tidak boleh membiarkan bias, benturan kepentingan, atau pengaruh orang lain mengesampingkan pertimbangan profesional (IESBA, 2022). Akuntan harus menolak manipulasi estimasi akuntansi meskipun dilakukan melalui algoritma.
  2. Skeptisisme Profesional: Akuntan tidak boleh menerima output AI secara mentah. Kokina dan Davenport (2017) menyarankan bahwa akuntan harus berevolusi menjadi penilai logika sistem, memastikan bahwa algoritma AI beroperasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, bukan sekadar alat pemoles laba.

3. Respon Strategis: Adaptasi Audit dan Standar Pelaporan

a. Rekomendasi Penyesuaian Praktik Audit

Untuk menghadapi sistem berbasis teknologi tinggi seperti di PT Delta, praktik audit harus berevolusi:

  • Pemanfaatan Pakar IT: Mengingat kompleksitas coding AI dan Blockchain, auditor tidak cukup hanya memiliki kemampuan akuntansi. Sesuai dengan ISA 620, auditor disarankan menggunakan pekerjaan seorang pakar (auditor’s expert) di bidang teknologi untuk membantu mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat terkait logika algoritma perusahaan (IAASB, 2009).
  • Audit Algoritma: Pengawasan tidak lagi hanya pada dokumen fisik, melainkan pada logika pemrograman untuk mendeteksi anomali yang disengaja dalam sistem.

b. Relevansi Standar Pelaporan Keuangan Saat Ini

Standar pelaporan keuangan saat ini masih menghadapi tantangan adaptabilitas dalam mengakomodasi keuangan digital:

  • Ambiguitas Klasifikasi Aset: Deloitte (2018) mencatat bahwa dalam kerangka IFRS, terdapat kompleksitas dalam mengklasifikasikan aset digital atau cryptocurrency, apakah sebagai aset tak berwujud atau persediaan. Ketidakpastian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan seperti PT Delta untuk memilih metode pengakuan yang paling menguntungkan posisi laba mereka (cherry-picking).
  • Kebutuhan Karakteristik Kualitatif: Agar tetap relevan, pelaporan keuangan harus kembali pada karakteristik kualitatif fundamental yaitu relevansi dan representasi tepat (faithful representation) sebagaimana diatur dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (IAI, 2019). Standar perlu diperbarui untuk mewajibkan pengungkapan (disclosure) yang lebih rinci mengenai asumsi dan risiko penggunaan AI dalam estimasi akuntansi.

Sumber Referensi:

Dai, J., & Vasarhelyi, M. A. (2017). Toward Blockchain-Based Accounting and Assurance. Journal of Information Systems, 31(3), 5-21.

Deloitte. (2018). Accounting for Cryptocurrencies: IFRS Perspectives. Tersedia di: IAS Plus.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). (2019). Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan. Jakarta: IAI.

International Accounting Standards Board (IASB). (2018). Conceptual Framework for Financial Reporting. London: IFRS Foundation.

International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB). (2009). ISA 620: Using the Work of an Auditor’s Expert. New York: IFAC.

International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB). (2019). ISA 315 (Revised): Identifying and Assessing the Risks of Material Misstatement. New York: IFAC.

International Ethics Standards Board for Accountants (IESBA). (2022). Handbook of the International Code of Ethics for Professional Accountants. New York: IFAC.

Jones, M. J. (2011). Creative Accounting, Fraud and International Accounting Scandals. John Wiley & Sons.

Kokina, J., & Davenport, T. H. (2017). The Emergence of Artificial Intelligence: How Automation is Changing Auditing. Journal of Emerging Technologies in Accounting, 14(1), 115-122.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Alya Nurani -
Nama: Alya Nurani
Npm: 2413031025

Analisis Kritis

1. Salah satu tantangan utama dari teori akuntansi konvensional dalam konteks otomatisasi dan blockchain adalah ketidakselarasan dengan prinsip akrual, kesulitan dalam proses verifikasi audit, serta masalah dalam menangani volatilitas yang disebabkan faktor geopolitik, yang dapat menghasilkan laporan keuangan yang tidak akurat atau sulit untuk diaudit.

2. Proses digitalisasi membuka jalan bagi peningkatan efisiensi dan transparansi melalui penggunaan kecerdasan buatan dan blockchain, namun juga menghadirkan risiko manipulasi yang termasuk dalam bentuk bias algoritma, kelemahan dalam aspek keamanan, serta kurangnya kontrol dari manusia, yang dapat menipu investor seperti yang terlihat pada kasus dugaan manipulasi yang melibatkan PT Delta.

Etika dan Transparansi

1. Risiko-risiko etis bagi para akuntan mencakup hilangnya tanggung jawab, adanya bias dari algoritma, serta potensi konflik kepentingan, karena penggunaan AI dalam pengambilan keputusan sering kali terjadi tanpa adanya validasi etis yang memadai.

2. Para akuntan profesional perlu menolak segala bentuk tekanan untuk mengubah laporan, mengutamakan integritas dengan memeriksa keakuratan output dari AI, mengungkapkan segala dugaan adanya manipulasi, dan berupaya meningkatkan transparansi guna menjaga kepercayaan dari investor.

Respon Strategis

1. Perusahaan bersama akuntan publik wajib mengadaptasi proses audit dengan cara mengintegrasikan teknologi seperti AI untuk pemantauan yang berlangsung secara langsung, membentuk komite audit yang berbasis digital, serta mengedepankan validasi terhadap algoritma demi mendeteksi adanya manipulasi.

2. Saat ini, standar pelaporan keuangan belum sepenuhnya fleksibel dikarenakan kekurangan panduan yang spesifik untuk teknologi digital serta tantangan globalisasi, sehingga diperlukan evolusi yang mendesak dengan adanya modul-modul baru untuk meningkatkan transparansi dan menyelaraskan regulasi guna mengatasi kompleksitas yang tampak pada kasus PT Delta.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by FERIN OKTAVIA RAMADANI -
Nama : Ferin Oktavia Ramadani
NPM : 2413031023

1. Analisis Kritis
Ketika perusahaan menggunakan AI dan blockchain, teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan karena banyak proses pencatatan tidak lagi dilakukan manusia. AI dapat mengubah estimasi secara otomatis dan blockchain mencatat transaksi secara permanen, tetapi data yang masuk tetap bisa salah. Hal ini membuat pengakuan pendapatan, beban, serta validitas bukti transaksi menjadi lebih sulit diuji. Digitalisasi juga menciptakan peluang seperti efisiensi dan transparansi, namun membuka risiko manipulasi baru—misalnya mengatur parameter algoritma untuk menunda biaya atau menampilkan laba yang lebih stabil sehingga sulit dideteksi auditor.

2. Etika dan Transparansi
Ketika keputusan akuntansi digantikan AI, muncul risiko etika seperti hilangnya akuntabilitas, bias model, dan potensi penyalahgunaan algoritma untuk mempercantik laporan. Akuntan dapat menghadapi tekanan agar menerima hasil AI tanpa kritik. Dalam kondisi ini, akuntan harus tetap menjaga integritas, menolak permintaan yang tidak sesuai standar, dan mendokumentasikan seluruh bentuk tekanan agar laporan keuangan tetap fair dan tidak menyesatkan investor.

3. Strategis
Perusahaan dan auditor perlu memperkuat pengawasan teknologi, memastikan dokumentasi model AI, menelusuri sumber data, serta memvalidasi kontrol sistem. Auditor juga harus menilai proses, bukan hanya angka akhir, dan bekerja sama dengan ahli data. Sementara standar pelaporan keuangan saat ini mulai beradaptasi, perkembangan teknologi lebih cepat sehingga diperlukan pedoman yang lebih jelas terkait audit AI, aset digital, dan transparansi risiko teknologi agar laporan tetap dapat dipercaya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Dalam konteks PT Delta Finansial, penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan signifikan karena sistem otomatisasi dan blockchain mengubah cara transaksi dicatat dan diverifikasi. Teori akuntansi konvensional didesain untuk interaksi manusia dengan dokumentasi fisik dan judgment profesional, sedangkan algoritma AI dan blockchain dapat menghasilkan data real-time dan otomatis, tetapi juga menimbulkan risiko bahwa asumsi, estimasi, atau bias tersembunyi dalam algoritma memengaruhi laporan keuangan. Digitalisasi menciptakan peluang untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan integritas data melalui verifikasi otomatis, namun di sisi lain memungkinkan manipulasi yang lebih tersamar, misalnya delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi berbasis model algoritmik, yang sulit dideteksi oleh audit tradisional.

2. Risiko etika muncul ketika keputusan profesional yang sebelumnya bergantung pada pertimbangan manusia digantikan oleh AI. Akuntan menghadapi dilema ketika algoritma memberikan hasil yang optimal secara numerik tetapi tidak mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya atau digunakan untuk menyesuaikan laba demi menarik investor. Profesional akuntansi tetap harus mempertahankan integritas, objektivitas, dan prinsip pengungkapan yang jujur, serta menolak tekanan untuk memanipulasi hasil, dengan memastikan bahwa sistem otomatisasi hanya menjadi alat bantu, bukan pengganti judgment etis.

3. Untuk menanggapi kompleksitas ini, perusahaan dan auditor publik perlu menyesuaikan praktik audit dan pengawasan. Audit harus mencakup review algoritma, validasi data blockchain, dan pengujian kontrol internal digital untuk mendeteksi potensi bias atau manipulasi. Selain itu, standar pelaporan keuangan saat ini, meskipun fleksibel, belum sepenuhnya adaptif untuk kompleksitas keuangan digital dan globalisasi; misalnya, IFRS dan PSAK mengatur pengungkapan transaksi dan estimasi, tetapi tidak memberikan panduan khusus untuk audit berbasis AI atau blockchain. Oleh karena itu, perusahaan dan regulator perlu mengembangkan pedoman tambahan yang menekankan transparansi algoritma, audit berbasis risiko teknologi, dan pengungkapan informasi digital agar laporan keuangan tetap relevan, dapat diandalkan, dan sesuai dengan praktik global.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Davina Nur Ramadhani -
Nama: Davina Nur Ramadhani
NPM: 2413031010

Analisis kritis
Penerapan AI dan blockchain membuat beberapa konsep dasar akuntansi menjadi kurang relevan, karena pengakuan transaksi dan estimasi kini dilakukan otomatis oleh sistem, bukan lagi sepenuhnya oleh judgement manusia. Hal ini menimbulkan masalah dalam menentukan waktu pengakuan, menilai kewajaran estimasi, dan memastikan bahwa data yang tercatat benar-benar mencerminkan substansi ekonomi. Meski blockchain memberi jejak audit yang kuat, teknologi ini tetap tidak menjamin kebenaran jika data awal atau algoritma yang digunakan bias atau sengaja diarahkan. Selain itu, digitalisasi menciptakan asimetri informasi baru karena perusahaan memahami algoritmanya lebih jauh daripada auditor atau investor.

Digitalisasi membuka kesempatan untuk pencatatan yang lebih cepat, akurat, dan terdokumentasi dengan baik. Teknologi juga mendukung analitik dan audit berkelanjutan. Namun, sistem otomatis dapat digunakan untuk menyetel parameter agar menghasilkan angka yang menguntungkan, memanipulasi input data, atau menyembunyikan alasan di balik keputusan akuntansi karena sifatnya yang “black box”. Jadi, efisiensi meningkat, tetapi risiko rekayasa informasi juga ikut bertambah.

Etika dan transparansi
Ketika estimasi digantikan algoritma, muncul pertanyaan etis: siapa yang bertanggung jawab atas salah saji? Akuntan juga berisiko kehilangan skeptisisme jika terlalu percaya pada output sistem. Tekanan manajemen agar laporan terlihat “baik” dapat muncul melalui pengaturan algoritma, bukan manipulasi manual. Dalam kondisi ini, akuntan harus tetap berpegang pada prinsip profesional seperti integritas, objektivitas, serta menolak hasil yang tidak wajar dan mendokumentasikan alasan penolakan dengan jelas.

Respon strategis
Perusahaan perlu memiliki tata kelola khusus untuk AI, termasuk dokumentasi model, kontrol perubahan, serta validasi independen terhadap asumsi dan data. Auditor harus meningkatkan kompetensi—terutama di bidang audit TI, analisis data, dan sistem blockchain—serta menambah prosedur audit seperti pengujian data input, review log sistem, dan evaluasi model. Koordinasi dengan regulator juga penting agar praktik audit tetap relevan dengan teknologi baru.

Standar seperti IFRS/PSAK sebenarnya cukup fleksibel karena berbasis prinsip, tetapi belum memberi panduan spesifik tentang penggunaan AI dan blockchain dalam laporan keuangan. Tanpa aturan yang lebih jelas, perusahaan dan auditor memiliki ruang interpretasi yang luas, yang bisa menimbulkan ketidakpastian. Karena itu, standar pelaporan perlu berkembang dengan menambahkan panduan mengenai penggunaan model digital, pengungkapan algoritma, serta bukti yang dibutuhkan untuk memastikan laporan tetap dapat dipercaya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Revie Nevilla Extin -

Nama : Revie Nevilla Extin 

NPM : 2413031027

1. Analisis Kritis

a. Tantangan teori akuntansi tradisional

Penggunaan AI dan blockchain membuat pencatatan transaksi menjadi otomatis, cepat, dan permanen. Namun, hal ini menimbulkan tantangan bagi teori akuntansi tradisional yang biasanya mengandalkan pemeriksaan manual dan pertimbangan profesional. Auditor bisa kesulitan menelusuri proses pengambilan keputusan, terutama dalam pengakuan beban atau estimasi, sehingga prinsip transparansi dan keandalan informasi bisa terganggu.

b. Peluang dan risiko digitalisasi

Digitalisasi memungkinkan pencatatan data lebih cepat, akurat, dan konsisten, serta mempermudah monitoring dan analisis. Namun, ada risiko manipulasi, misalnya algoritma dapat diatur agar laba terlihat stabil dengan menunda pengakuan beban atau menyesuaikan estimasi. Dengan demikian, digitalisasi menawarkan keuntungan sekaligus tantangan etis dan kontrol yang harus diperhatikan.


2. Etika dan Transparansi

a. Risiko etika penggunaan AI

Ketika estimasi dan keputusan akuntansi digantikan oleh AI, akuntan menghadapi risiko etika karena algoritma tidak memiliki penilaian moral. Misalnya, AI bisa menghasilkan estimasi yang menguntungkan perusahaan, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. Akuntan tetap harus memastikan keputusan algoritma sesuai prinsip integritas, objektivitas, dan profesionalisme.

b. Tekanan untuk menyesuaikan laporan

Akuntan profesional sering menghadapi tekanan untuk membuat laporan lebih menarik bagi investor. Dalam konteks AI, tekanan ini bisa mendorong manipulasi parameter atau asumsi algoritma. Akuntan harus tetap independen, memastikan laporan mencerminkan kondisi ekonomi yang nyata, dan menjelaskan asumsi serta metode yang digunakan agar transparansi tetap terjaga.


3. Respon Strategis

a. Penyesuaian praktik audit dan pengawasan

Perusahaan dan auditor perlu menerapkan audit berbasis teknologi, termasuk dokumentasi algoritma, pengujian logika AI, dan audit trail blockchain. Hal ini memungkinkan proses penilaian dan pencatatan dapat diverifikasi, sehingga integritas data tetap terjaga. Penggabungan penilaian AI dengan review profesional manusia juga penting untuk menyeimbangkan kecepatan dan akurasi dengan pertimbangan profesional.

b. Kecukupan standar pelaporan saat ini

Standar pelaporan keuangan saat ini sebagian besar masih berbasis prinsip tradisional dan belum sepenuhnya menyesuaikan dengan kompleksitas sistem digital dan globalisasi. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan pengungkapan tambahan terkait penggunaan AI dan blockchain, termasuk metode penilaian, asumsi algoritma, dan risiko yang terkait, sehingga laporan tetap relevan, transparan, dan dapat dipercaya oleh stakeholder.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Laila Asia Somad -

NAMA : LAILA ASIA SOMAD
NPM : 2413031005

ANALISIS KRITIS
1. Tantangan utama adalah konflik dengan prinsip verifiabilitas dan jejak audit. Teori tradisional mengandalkan dokumen fisik dan pencatatan terpusat, yang digantikan oleh data terdistribusi dan immutable pada blockchain. Selain itu, kecepatan dan otomatisasi AI menantang prinsip kehati-hatian (prudence) karena judgment manusia dihilangkan dalam proses estimasi.
2. Digitalisasi memberi peluang peningkatan kualitas laba dan transparansi data mentah (immutable). Namun, risiko utama adalah manipulasi estimasi berbasis algoritma (risiko black box). Manajemen dapat "menyetel" (tune) parameter AI untuk memanipulasi laba (misalnya, menunda pengakuan beban) secara canggih tanpa meninggalkan jejak dokumen fisik yang diubah..

ETIKA DAN TRANSPARASI
Risiko etika utama adalah erosi prinsip Integritas, Objektivitas, dan Kompetensi Profesional. Ketika estimasi dan judgment keuangan digantikan oleh algoritma AI, akuntan menghadapi risiko black box, di mana mereka mungkin tidak dapat sepenuhnya memahami atau memvalidasi logika di balik keputusan AI. Hal ini dapat menyebabkan akuntan melanggar prinsip Kompetensi Profesional karena mereka tidak mampu menjelaskan dasar estimasi kepada stakeholders. Selain itu, jika algoritma diprogram dengan bias atau dirancang untuk menghasilkan hasil yang menguntungkan manajemen, ini secara langsung melanggar prinsip Objektivitas dan Integritas profesi akuntan.
2. Akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar menarik bagi investor dengan memegang teguh Kode Etik Profesi Akuntan, khususnya prinsip Integritas dan Objektivitas. Akuntan harus menolak segala bentuk manajemen laba yang melewati batas etis dan legal, meskipun ada tekanan dari manajemen atau investor. Respons strategisnya adalah:
(a) Mempertahankan Skeptisisme Profesional terhadap hasil laporan yang dihasilkan AI, memverifikasi parameter dan asumsi algoritma.
(b) Mendokumentasikan secara Transparan judgment dan alasan untuk menolak penyesuaian yang tidak didukung oleh substansi ekonomi.
(c) Menjadikan kepentingan publik dan penyajian laporan yang wajar sebagai prioritas utama di atas keinginan stakeholders tertentu. 

RESPON STRATEGIS
1Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis AI dan blockchain, perusahaan (PT Delta) dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit mereka ke arah Audit Berbasis Data Berkelanjutan (Continuous Auditing). Rekomendasi utamanya adalah:
(a) Membangun Tim Audit Hybrid yang menggabungkan keahlian akuntansi dengan data science dan spesialis keamanan siber untuk memverifikasi integritas data blockchain dan logika kode AI.
(b) Auditor harus fokus pada Audit terhadap Algoritma, bukan hanya hasil akhir, dengan menguji parameter input, model, dan logic gate yang digunakan AI dalam membuat estimasi untuk mendeteksi potensi tuning laba. 
2. Mengenai adaptabilitas standar pelaporan saat ini, pandangan saya adalah standar seperti PSAK (mengadopsi IFRS) belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. Standar saat ini tidak secara eksplisit menyediakan panduan memadai untuk pengakuan, pengukuran, atau pengungkapan transaksi aset digital, risiko smart contract, atau model bisnis yang didukung penuh oleh AI, terutama terkait transparansi algoritma. Diperlukan pengembangan standar baru atau interpretasi spesifik oleh badan penyusun standar (IASB/FASB) yang mewajibkan pengungkapan yang lebih ketat mengenai parameter estimasi AI agar laporan keuangan tetap relevan, andal, dan dapat diperbandingkan di era digital.

In reply to Laila Asia Somad

Re: CASE STUDY

by Paulina Silaban -

Nama : Paulina Silaban 

NPM : 2413031016


1. Tantangan dalam penerapan teori akuntansi tradisional

Teori akuntansi tradisional biasanya mengasumsikan pencatatan manual dan verifikasi manusia, sementara sistem otomatisasi dan blockchain bekerja secara otomatis dan terdesentralisasi.

Tantangannya termasuk:

  • Kesulitan memverifikasi transaksi secara manual, karena blockchain menyimpan data secara permanen dan AI memproses transaksi dengan cepat.
  • Estimasi dan judgement tradisional menjadi sulit diterapkan karena keputusan sudah diotomatisasi oleh algoritma.
  • Audit tradisional perlu adaptasi untuk menilai keandalan sistem teknologi, bukan hanya dokumen fisik atau laporan manual.

2. Peluang dan risiko digitalisasi

Peluang:

  • Digitalisasi meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kecepatan pencatatan transaksi.
  • Memberikan transparansi dan jejak audit otomatis melalui blockchain, sehingga mempermudah pengawasan.

Risiko:

  • AI dan algoritma bisa digunakan untuk mengatur timing pengakuan beban atau estimasi laba sehingga terlihat stabil.
  • Digitalisasi dapat menimbulkan manipulasi informasi secara sistematis, jika tidak ada kontrol atau pengawasan yang memadai.

Etika dan Transparansi

a. Risiko etika akuntan:

  • Ketika keputusan keuangan digantikan AI, akuntan bisa kehilangan kontrol atas judgement profesional, misalnya manipulasi estimasi otomatis.
  • Risiko etika muncul jika akuntan menerima begitu saja hasil algoritma tanpa pengecekan, atau terlibat menyetujui manipulasi untuk mempertahankan citra perusahaan.

b. Menyikapi tekanan investor:

  • Akuntan profesional harus menegakkan prinsip integritas, independensi, dan objektivitas.
  • Tekanan untuk “menyesuaikan” laporan tidak boleh diikuti; akuntan harus memastikan laporan keuangan benar, wajar, dan transparan, serta memberikan penjelasan kepada manajemen dan pemangku kepentingan jika ada tekanan tidak etis.

Respon Strategis

1. Rekomendasi praktik audit dan pengawasan:

  • Auditor dan akuntan publik perlu memahami teknologi yang digunakan, termasuk AI dan blockchain, agar bisa menilai keandalan sistem.
  • Gunakan audit berbasis data (data analytics) dan continuous auditing, bukan hanya pemeriksaan laporan tahunan.
  • Terapkan kontrol internal digital, misalnya algoritma harus memiliki log audit yang dapat diverifikasi secara independen.

2. Adaptasi standar pelaporan keuangan:

  • Standar saat ini cukup dasar untuk laporan keuangan tradisional, tapi belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas fintech, AI, dan transaksi global digital.
  • Pandangan saya: standar perlu dikembangkan agar mencakup pengungkapan risiko algoritma, estimasi berbasis AI, dan transaksi blockchain,sehingga laporan tetap relevan dan transparan bagi investor dan regulator global.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Saskia Kanesa Dinia -
Nama: Saskia Kanesa Dinia
NPM: 2413031021

1. Analisis Kritis
- Tantangan utama adalah ketidaksesuaian prinsip substansi mengungguli bentuk dan perlunya kerangka akuntansi baru. Teori akuntansi tradisional sering mengandalkan prinsip "substansi mengungguli bentuk" dan penilaian manusia, yang sulit diterapkan pada transaksi otomatis dan transparan yang diverifikasi oleh blockchain. Otomatisasi dan blockchain meningkatkan efisiensi dan transparansi data, tetapi juga menantang konsep tradisional kepemilikan dan kontrol, yang memerlukan standar pelaporan keuangan baru yang lebih adaptif.

- Digitalisasi menawarkan peluang transparansi tetapi juga risiko manipulasi yang canggih. Peluangnya termasuk peningkatan inklusi keuangan dan efisiensi operasional melalui platform digital. Namun, ada risiko manipulasi estimasi akuntansi berbasis algoritma, seperti yang dicurigai dalam studi kasus PT Delta, di mana penundaan pengakuan beban dapat digunakan untuk menjaga citra perusahaan di mata investor.

2. Etikka Dan Transparansi
- Risiko etika utama adalah hilangnya akuntabilitas manusia dan potensi bias algoritmik yang tidak terdeteksi. Ketika algoritma AI menggantikan penilaian (judgement) manusia, akuntan menghadapi tantangan dalam memastikan akuntabilitas atas keputusan yang dibuat oleh mesin. Ada potensi bias yang tersembunyi dalam algoritma yang dapat menyebabkan hasil yang tidak adil atau manipulatif, yang sulit diaudit tanpa transparansi dalam desain algoritma itu sendiri.

- Akuntan profesional harus memprioritaskan etika, independensi, dan kepatuhan terhadap standar akuntansi. Mereka harus menolak tekanan untuk memanipulasi hasil laporan dan berfokus pada penyajian informasi yang jujur dan adil. Kepatuhan terhadap kode etik profesional, seperti prinsip integritas dan objektivitas, sangat penting.

3. Respon Strategis
- Rekomendasi melibatkan penggunaan alat audit berbasis AI dan fokus pada audit sistem. Perusahaan dan akuntan publik harus mengadopsi alat audit yang didukung AI untuk menganalisis volume data yang besar secara efisien. Pengawasan harus bergeser dari sampel transaksi manual ke audit berkelanjutan terhadap sistem otomatis dan algoritma yang digunakan untuk pemrosesan data dan estimasi keuangan.

- Standar saat ini belum sepenuhnya adaptif. Meskipun standar pelaporan keuangan telah berevolusi, kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, terutama yang melibatkan teknologi baru seperti blockchain dan AI, menantang kerangka kerja yang ada. Diperlukan pembaruan standar yang berkelanjutan untuk mengatasi isu-isu spesifik seperti pengakuan aset kripto, akuntabilitas algoritma AI, dan transaksi lintas batas yang cepat.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Indah Rahma alfiah -
Nama : Indah Rahma Alfiah
NPM : 2413031015

*Analisis Kritis*
1. Tantangan Teori Akuntansi Tradisional dalam Sistem Otomatisasi dan Blockchain
Penerapan AI dan blockchain menantang asumsi dasar teori akuntansi tradisional yang menempatkan manusia sebagai pusat judgement dan pengendali proses akuntansi. Dalam sistem otomatis, konsep seperti matching principle, accrual basis, dan prudence (konservatisme) menjadi lebih sulit diterapkan karena keputusan pengakuan dan pengukuran bergantung pada algoritma yang sering bersifat black box.
Selain itu, blockchain dengan sifat immutability dapat bertentangan dengan kebutuhan akuntansi untuk melakukan penyesuaian dan koreksi estimasi di masa depan. Hal ini menimbulkan dilema konseptual antara reliabilitas mekanis (data tidak dapat diubah) dan faithful representation (penyajian yang mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya).

2. Digitalisasi sebagai Peluang dan Risiko Manipulasi Informasi Akuntansi
Digitalisasi membuka peluang besar dalam meningkatkan kecepatan, akurasi, dan keterlacakan data. AI mampu memproses volume transaksi global secara real-time, sementara blockchain memperkuat jejak audit (audit trail). Dari perspektif decision usefulness theory, kualitas informasi bagi investor dapat meningkat secara signifikan.
Namun, di sisi lain, digitalisasi juga menciptakan risiko manipulasi baru. Algoritma AI dapat dirancang untuk menunda pengakuan beban, mengoptimalkan asumsi nilai wajar, atau mengatur parameter estimasi akuntansi agar laba terlihat stabil. Manipulasi ini bersifat lebih sistematis dan sulit terdeteksi karena tersembunyi dalam model matematis, sehingga berpotensi melemahkan prinsip transparansi dan netralitas dalam akuntansi.

Etika dan Transparansi
1. Risiko Etika Akuntan dalam Penggunaan Algoritma AI
Ketika estimasi dan judgement keuangan dialihkan ke AI, muncul risiko pengaburan tanggung jawab profesional. Akuntan dapat terjebak pada sikap over-reliance terhadap teknologi dan menghindari akuntabilitas dengan alasan “keputusan sistem”.
Selain itu, algoritma AI berpotensi mengandung bias desain yang menguntungkan manajemen, sehingga bertentangan dengan kode etik profesi akuntan yang menekankan integritas, objektivitas, dan independensi. Jika akuntan tidak memahami logika algoritma, maka fungsi etis akuntansi sebagai penjaga kepentingan publik menjadi terancam.

2. Sikap Akuntan terhadap Tekanan Manipulasi Laporan
Akuntan profesional harus berpegang pada prinsip professional judgement dan due care, meskipun menghadapi tekanan manajemen atau investor. Penyesuaian hasil laporan yang disengaja untuk menjaga citra perusahaan dapat dikategorikan sebagai earnings management oportunistik, yang secara etis dan teoritis melanggar konsep true and fair view.
Dalam konteks ini, akuntan perlu:
Menolak intervensi yang melanggar standar akuntansi,
Mendokumentasikan seluruh asumsi dan parameter algoritma,
Mengedepankan pengungkapan (disclosure) yang memadai atas ketidakpastian dan risiko.

*Respon Strategis*
1. Penyesuaian Praktik Audit dan Pengawasan
Perusahaan dan akuntan publik perlu mengadopsi technology-enabled auditing, antara lain:
Audit atas model dan algoritma AI, bukan hanya output keuangan,
Pengujian kontrol IT dan governance data blockchain,
Kolaborasi lintas disiplin antara akuntan, auditor IT, dan ahli data.
Selain itu, regulator dan auditor harus memperkuat pendekatan continuous auditing dan real-time assurance untuk mengimbangi kecepatan sistem digital.

2. Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan terhadap Keuangan Digital dan Globalisasi
Standar pelaporan keuangan saat ini (IFRS/PSAK) relatif adaptif secara prinsip, namun masih belum sepenuhnya responsif terhadap kompleksitas keuangan digital. Standar lebih fokus pada hasil (output) pelaporan, sementara tantangan utama justru berada pada proses digital, seperti algoritma, data lintas negara, dan risiko teknologi.
Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan standar dalam aspek:
Pengungkapan penggunaan AI dan blockchain,
Transparansi asumsi algoritmik,
Harmonisasi regulasi lintas negara.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


Analisis Kritis

1. Tantangan teori akuntansi konvensional dalam sistem otomatisasi dan blockchain

Penggunaan AI dan blockchain dalam sistem akuntansi menimbulkan tantangan bagi teori akuntansi konvensional yang selama ini menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan akuntansi. Pendekatan tradisional sangat bergantung pada pertimbangan profesional dalam proses pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi, sementara sistem otomatis bekerja berdasarkan algoritma dan aturan yang telah diprogram. Kondisi ini menimbulkan persoalan terkait penerapan prinsip kehati-hatian dan representasi wajar, terutama ketika proses pengambilan keputusan bersifat tertutup dan sulit ditelusuri. Selain itu, karakteristik blockchain yang permanen menyulitkan perbaikan kesalahan estimasi, meskipun dalam praktik akuntansi perubahan estimasi merupakan hal yang wajar seiring berkembangnya informasi baru.

2. Peluang dan risiko manipulasi dalam era digitalisasi akuntansi

Digitalisasi memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan ketepatan pencatatan transaksi serta memperkuat sistem pengendalian melalui jejak audit digital. Namun, kemajuan ini juga menciptakan risiko baru berupa manipulasi informasi yang dilakukan melalui pengaturan algoritma, asumsi model, atau kualitas data yang digunakan. Manipulasi semacam ini dapat berlangsung secara konsisten dan berulang tanpa mudah terdeteksi, karena terjadi dalam sistem otomatis. Akibatnya, kesalahan atau penyimpangan dalam laporan keuangan dapat bersifat sistemik dan sulit diidentifikasi melalui prosedur audit konvensional.


Etika dan Transparansi

1. Risiko etika akibat penggunaan AI dalam penilaian dan estimasi akuntansi

Penggantian pertimbangan profesional dengan algoritma AI menimbulkan risiko etika yang berkaitan dengan hilangnya tanggung jawab individual. Algoritma tidak memiliki kesadaran etis, sehingga keputusan yang dihasilkan sepenuhnya mencerminkan tujuan dan asumsi yang dirancang oleh manusia. Jika sistem diarahkan untuk mempertahankan kinerja laba atau citra perusahaan, maka prinsip integritas dan objektivitas berpotensi terabaikan. Kurangnya keterbukaan dalam cara kerja algoritma juga menyulitkan akuntan dan auditor dalam menilai kewajaran hasil yang dihasilkan, sehingga meningkatkan risiko pelanggaran etika profesi.

2. Sikap profesional akuntan terhadap tekanan penyesuaian laporan

Dalam menghadapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan keuangan agar tetap menarik bagi investor, akuntan profesional harus tetap menjunjung tinggi prinsip etika dan kepentingan publik. Praktik seperti penundaan pengakuan beban atau pengaturan estimasi melalui sistem otomatis bertentangan dengan prinsip integritas dan penyajian yang wajar. Oleh karena itu, akuntan perlu bersikap kritis terhadap output teknologi, melakukan penilaian independen atas asumsi yang digunakan, serta menolak intervensi yang berpotensi menyesatkan pengguna laporan keuangan.


Respon Strategis

1. Penyesuaian praktik audit dan pengawasan di lingkungan teknologi tinggi

Menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi canggih, perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit yang berorientasi pada risiko dan teknologi. Auditor tidak cukup hanya memeriksa hasil laporan, tetapi juga harus memahami dan mengevaluasi desain algoritma, kualitas data, serta efektivitas pengendalian internal digital. Penerapan audit berkelanjutan dan analisis data secara real-time menjadi semakin penting untuk mendeteksi pola penyimpangan yang bersifat sistematis.

2. Kesiapan standar pelaporan keuangan dalam konteks digital dan global

Standar pelaporan keuangan yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas transaksi digital dan dinamika globalisasi. Meskipun telah mengalami perkembangan, PSAK dan IFRS masih lebih menekankan pada hasil akhir pelaporan dibandingkan pada proses berbasis teknologi yang mendasarinya. Aspek seperti transparansi algoritma, akuntabilitas penggunaan AI, dan pengungkapan risiko teknologi masih memerlukan pengaturan yang lebih jelas. Oleh karena itu, diperlukan standar yang lebih adaptif dan berbasis prinsip untuk memastikan kualitas dan keandalan pelaporan keuangan di era digital.