Posts made by Diojuna Akbar Artanto

Nama: Diojuna Akbar Artanto
NPM: 2313053195

Film pendek ini menyampaikan pesan moral tentang pentingnya pendidikan anti-korupsi melalui kisah seorang anak yang melakukan manipulasi nota pembayaran di warung fotokopi. Dalam cerita, si anak menaikkan harga pada nota dari Rp. 5.000 menjadi Rp. 10.000 untuk mendapatkan keuntungan pribadi sebesar Rp. 5.000 dari temannya. Tindakan ini, meskipun sederhana, merupakan contoh nyata praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Konflik berkembang ketika anak tersebut merasa bersalah beberapa hari kemudian. Perasaan penyesalan muncul setelah ia dinasihati oleh seorang teman yang mengingatkannya bahwa perbuatan tersebut tidak baik. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengembalikan uang Rp. 5.000 kepada pemiliknya, menunjukkan proses introspeksi dan komitmen untuk berubah.
Film ini menunjukkan bahwa tindakan seperti manipulasi nota merupakan bentuk korupsi skala kecil yang sering dianggap remeh. Jika tidak diatasi, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih besar.
Teman yang memberikan nasihat bijak menjadi representasi pentingnya lingkungan sosial yang mendukung pembentukan karakter baik. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan moral tidak hanya berasal dari keluarga atau sekolah, tetapi juga dari interaksi sosial sehari-hari.
Film ini berhasil menggambarkan bagaimana korupsi bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dari hal-hal kecil. Melalui cerita sederhana, film ini memberikan pelajaran bahwa tindakan korupsi apa pun tetap salah dan penting untuk diatasi sejak dini. Dengan menonjolkan kesadaran moral dan upaya perbaikan diri, film ini menjadi contoh baik untuk menanamkan pendidikan anti-korupsi kepada generasi muda.
Nama: Diojuna Akbar Artanto
NPM: 2313053195

Pada jurnal ini " Problematika Moral Bangsa terhadap Etika Indonesia di Kampung Cijambe Girang Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi" membahas penurunan moral dan etika masyarakat di Kampung Cijambe Girang yang berpengaruh pada karakter bangsa. Faktor utama meliputi kurangnya pemahaman hukum, minimnya pendidikan moral, dan pengaruh negatif teknologi. Penulis menggarisbawahi pentingnya norma etika sebagai pelengkap norma hukum formal yang sering kali diabaikan masyarakat.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data primer melalui observasi dan data sekunder dari literatur. Hasil penelitian menunjukkan pelanggaran etika seperti pelecehan seksual sebagai contoh nyata krisis moral. Penyebab utamanya adalah lemahnya sanksi, minimnya kesadaran masyarakat, dan pengabaian nilai-nilai Pancasila.

Solusi yang diusulkan meliputi peningkatan peran keluarga dalam mendidik moral, pembatasan dampak negatif teknologi, penerapan pendidikan karakter di sekolah, serta pembuatan undang-undang yang spesifik mengatur etika masyarakat. Selain itu, pentingnya kerja sama antara masyarakat dan pemerintah ditegaskan untuk membentuk budaya hukum yang mendukung nilai-nilai moral.
Penulis menekankan pentingnya moral dan etika dalam membangun karakter bangsa. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan individu sangat diperlukan untuk mengatasi krisis moral. Penegakan hukum yang mengintegrasikan nilai-nilai moral menjadi salah satu langkah penting yang diusulkan. Untuk penguatan penelitian, diperlukan data lapangan yang lebih komprehensif dan panduan implementasi solusi yang lebih konkret.
Nama: Diojuna Akbar Artanto
NPM: 2313053195

Pada jurnal ini "Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat: Suatu Pemikiran Kefilsafatan" membahas konflik antara individualisme dan kolektivisme yang menjadi persoalan mendasar dalam kehidupan sosial. Konflik ini terjadi ketika kepentingan individu berbenturan dengan kepentingan masyarakat, yang diperparah oleh fenomena korupsi dalam pemerintahan. Penulis menekankan pentingnya kesadaran moral dan norma etika sebagai landasan untuk menyelaraskan kedua kepentingan tersebut.

Kesadaran moral dipandang sebagai dasar untuk membangun perilaku individu yang selaras dengan norma sosial, sementara etika berfungsi sebagai panduan dalam menciptakan masyarakat yang adil. Dalam konteks ini, pendidikan memegang peranan penting untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika. Pendidikan yang mencakup kecerdasan spiritual, intelektual, dan moral diyakini mampu membentuk individu yang kreatif, produktif, dan bermoral, yang pada gilirannya mendukung terciptanya masyarakat yang berkeadilan.

Selain itu, kreativitas individu menjadi salah satu elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kreativitas ini harus didorong dan diarahkan melalui kesadaran moral, sehingga tidak hanya menghasilkan kemajuan tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan. Kesimpulannya, melalui kesadaran moral dan norma etika, konflik antara individualisme dan kolektivisme dapat dikelola secara konstruktif untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.
Nama: Diojuna Akbar Artanto
NPM: 2313053195
Perbedaan Kriteria Nilai Hardskill dan softskill
hard skill adalah keterampilan teknis yang spesifik dan dapat diukur secara jelas. hard skill biasanya dipelajari melalui pendidikan formal atau pelatihan khusus seperti kemampuan dalam bahasa asing, pengkodean atau keterampilan akuntansi. kemampuan-kemampuan ini penting karena menjadi bukti kompetensi seseorang di bidang tertentu yang biasanya dibutuhkan dalam pekerjaan atau proyek spesifik.

softskill adalah keterampilan interpersonal dan emosional membuat seseorang berinteraksi dengan baik dan terhadap persatuan berbagai situasi. contoh softskill termasuk komunikasi kepemimpinan pemecahan masalah dan manajemen stress.
Softskill diukur karena sifatnya subjektif, namun dapat diamati melalui perilaku atau penilaian dari orang lain.
Secara umum, hard skill memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas teknis, sementara soft skill memampukan mereka untuk melakukannya dengan cara yang efektif, kolaboratif dan adaptif.
Nama: Diojuna Akbar Artanto
NPM:2313053195

Jurnal ini membahas peran pendidikan moral dalam lingkungan keluarga sebagai langkah mencegah kenakalan remaja. Penulis menekan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama anak menerima pendidikan dan menanamkan nilai moral. Hal ini menjadi dasar bagi perkembangan moral dan kepribadian anak.
Dalam cuma ini juga menjelaskan bahwa kemerosotan pertama disebabkan oleh kurangnya penanaman nilai keinginan lingkungan masyarakat yang kurang sehat dan ketidak harmonisan dalam keluarga. oleh karena itu, proses pendidikan moral dalam keluarga harus dimulai sejak dini, meliputi penanaman nilai keimanan pembelajaran etika dalam bertutur kata dan berperilaku, serta menciptakan hubungan harmonis antara orang tua. Kombinasi antara pendidikan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat sangat diperlukan agar anak dapat mengembangkan moral yang baik secara optimal.