Weekly outline
General
Selamat Datang di Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat datang mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lampung di LMS Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran.
Mata kuliah Perencanaan Pembelajaran ini diampu oleh Dr. Pujiati, S.Pd.,M.Pd. dan Prof. Dr. Herpratiwi, M.Pd.

Dr. Pujiati, S.Pd., M.Pd. Prof. Dr. Herpratiwi, M.Pd.
Pada mata kuliah ini, kita akan bersama-sama mempelajari dan mempraktikkan bagaimana merancang pembelajaran ekonomi yang sistematis, inovatif, kontekstual, berpusat pada mahasiswa, dan berorientasi pada capaian pembelajaran (Outcome-Based Education/OBE).
Melalui berbagai aktivitas pembelajaran, Case Method, Team-Based Project, diskusi, praktik, presentasi, dan refleksi, Saudara diharapkan tidak hanya memahami konsep perencanaan pembelajaran, tetapi juga mampu menghasilkan perangkat pembelajaran ekonomi yang kreatif, relevan, dan dapat diterapkan dalam praktik pendidikan.
Mari kita bangun suasana belajar yang aktif, kolaboratif, kritis, kreatif, dan menyenangkan. Jadilah calon pendidik ekonomi yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Selamat belajar, berkarya, berdiskusi, dan berkolaborasi.
Semoga perkuliahan ini menjadi ruang bagi kita untuk tumbuh menjadi pendidik ekonomi yang profesional, adaptif, dan inspiratif.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat belajar dan selamat berproses!
Mata kuliah Perencanaan Pembelajaran membekali mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam menganalisis kebutuhan pembelajaran serta merancang pembelajaran ekonomi yang sistematis, kontekstual, aktif, inklusif, berbasis teknologi, dan berorientasi pada capaian pembelajaran.
Mahasiswa mempelajari konsep dan prinsip perencanaan pembelajaran, analisis karakteristik peserta didik, analisis kebutuhan dan konteks pembelajaran, penyusunan tujuan pembelajaran, penyusunan alur dan perangkat pembelajaran, pemilihan model/metode/media/sumber belajar, penyusunan asesmen diagnostik-formatif-sumatif, penyusunan modul ajar/perangkat pembelajaran ekonomi, integrasi teknologi dan literasi digital, serta evaluasi dan revisi rancangan pembelajaran.
Pembelajaran dilaksanakan melalui kombinasi Case Method dan Team-Based Project. Case Method digunakan untuk menganalisis permasalahan nyata perencanaan pembelajaran ekonomi, sedangkan Team-Based Project digunakan untuk menghasilkan produk autentik berupa Paket Perencanaan Pembelajaran Ekonomi yang dapat digunakan dalam konteks sekolah.
CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH (CPMK)
Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa mampu:
CPMK-1
Menjelaskan konsep, prinsip, landasan, fungsi, komponen, dan paradigma perencanaan pembelajaran dalam konteks pendidikan ekonomi.
CPMK-2
Menganalisis karakteristik peserta didik, kebutuhan belajar, konteks pembelajaran, kurikulum, serta permasalahan pembelajaran ekonomi sebagai dasar penyusunan perencanaan pembelajaran.
CPMK-3
Merancang tujuan pembelajaran, materi, strategi/model/metode, media, sumber belajar, dan aktivitas pembelajaran ekonomi yang selaras dengan capaian pembelajaran.
CPMK-4
Merancang asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif yang autentik, valid, reliabel, adil, serta selaras dengan tujuan dan aktivitas pembelajaran.
CPMK-5
Menghasilkan perangkat/paket perencanaan pembelajaran ekonomi berbasis proyek secara kolaboratif dengan memanfaatkan teknologi digital dan prinsip pembelajaran aktif.
CPMK-6
Mengevaluasi dan merevisi rancangan pembelajaran berdasarkan hasil analisis kasus, peer review, umpan balik dosen, dan refleksi pembelajaran.
CPMK-7
Mengomunikasikan dan mempertanggungjawabkan rancangan pembelajaran secara akademik, profesional, kolaboratif, dan etis.
F. SUB-CPMK
Kode
Sub-CPMK
Sub-CPMK 1
Mahasiswa mampu menjelaskan konsep, tujuan, fungsi, prinsip, dan landasan perencanaan pembelajaran.
Sub-CPMK 2
Mahasiswa mampu membandingkan paradigma pembelajaran tradisional, student-centered learning, dan OBE.
Sub-CPMK 3
Mahasiswa mampu menganalisis karakteristik peserta didik dan kebutuhan belajar ekonomi.
Sub-CPMK 4
Mahasiswa mampu menganalisis kurikulum dan konteks pembelajaran sebagai dasar perencanaan.
Sub-CPMK 5
Mahasiswa mampu merumuskan tujuan pembelajaran menggunakan kata kerja operasional/HOTS.
Sub-CPMK 6
Mahasiswa mampu menyusun alur pembelajaran yang constructive aligned dengan capaian pembelajaran.
Sub-CPMK 7
Mahasiswa mampu memilih model, metode, pendekatan, strategi, dan aktivitas pembelajaran ekonomi.
Sub-CPMK 8
Mahasiswa mampu memilih dan mengembangkan media serta sumber belajar digital.
Sub-CPMK 9
Mahasiswa mampu merancang asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif.
Sub-CPMK 10
Mahasiswa mampu menyusun instrumen dan rubrik asesmen autentik.
Sub-CPMK 11
Mahasiswa mampu menganalisis kasus nyata perencanaan pembelajaran ekonomi menggunakan Case Method.
Sub-CPMK 12
Mahasiswa mampu merancang proyek perangkat pembelajaran ekonomi secara berkelompok.
Sub-CPMK 13
Mahasiswa mampu menghasilkan paket perencanaan pembelajaran ekonomi melalui Team-Based Project.
Sub-CPMK 14
Mahasiswa mampu melakukan peer review, evaluasi, refleksi, dan revisi perangkat pembelajaran.
Sub-CPMK 15
Mahasiswa mampu mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan produk proyek secara profesional.
RENCANA PEMBELAJARAN 16 PERTEMUAN
Mg
Sub-CPMK
Bahan Kajian
Metode
Aktivitas Mahasiswa
Asesmen
1
1
Orientasi, kontrak kuliah, konsep perencanaan pembelajaran
SCL, diskusi
Mengidentifikasi pengalaman pembelajaran dan ekspektasi
Aktivitas
2
2
OBE, CPL, CPMK, Sub-CPMK, constructive alignment
Case Method
Menganalisis contoh RPS
Kuis + aktivitas
3
3
Karakteristik peserta didik
Case Method
Menganalisis profil peserta didik ekonomi
Tugas
4
4
Analisis kebutuhan dan konteks pembelajaran
Case Method
Memecahkan kasus pembelajaran ekonomi
Aktivitas + tugas
5
5
Perumusan tujuan pembelajaran dan HOTS
Menyusun learning outcomes
Kuis
6
6
Kurikulum dan alur pembelajaran
Case Method
Analisis kurikulum dan mapping
Aktivitas
7
7
Model, metode, strategi pembelajaran
Case Method
Memilih model sesuai kasus
Tugas
8
CPMK 1–3
UTS
Tes
Ujian analisis/perancangan
UTS 15%
9
8
Media, sumber belajar, teknologi digital
Mendesain media pembelajaran
Aktivitas
10
9
Asesmen diagnostik, formatif, sumatif
Case Method
Menganalisis kasus asesmen
Kuis
11
10
Rubrik dan asesmen autentik
Membuat rubrik
Tugas
12
12
Perancangan Team-Based Project
Project-Based Learning
Pembentukan tim, project charter
Aktivitas
13
12–13
Pengembangan perangkat pembelajaran
Team-Based Project
Mengembangkan paket pembelajaran
Project
14
13–14
Peer review dan revisi
Team-Based Project
Review antar tim
Aktivitas + project
15
15
Presentasi dan uji produk
Team-Based Project
Presentasi, kritik, tanya jawab
Project
16
CPMK 4-7
UAS dan refleksi
Presentasi/refleksi/tes
UAS dan refleksi capaian pembelajaran
UAS 20%
SISTEM PENILAIAN
Bobot penilaian akhir:
Komponen
Bobot
Project
35%
Aktivitas Partisipatif
15%
UTS
15%
UAS
20%
Tugas
10%
Kuis
5%
TOTAL
100%
RINCIAN ASESMEN
1. Project – 35%
Komponen
Bobot dalam nilai Project
Analisis kebutuhan
10%
Alignment CPL–CPMK–Tujuan–Asesmen
15%
Kualitas desain pembelajaran
20%
Materi dan aktivitas pembelajaran
15%
Media/teknologi
10%
Asesmen dan rubrik
15%
Kreativitas dan inovasi
5%
Presentasi
5%
Refleksi dan revisi
5%
Total
100%
RUBRIK PROJECT
Kriteria
4 – Sangat Baik
3 – Baik
2 – Cukup
1 – Kurang
Analisis kebutuhan
Berbasis data dan sangat relevan
Relevan dan cukup berbasis data
Data terbatas
Tidak berbasis data
Alignment
Sangat konsisten
Cukup konsisten
Sebagian selaras
Tidak selaras
Desain pembelajaran
Sistematis, inovatif, kontekstual
Sistematis
Cukup sistematis
Tidak sistematis
Aktivitas
Aktif, kolaboratif, HOTS
Aktif
Sebagian aktif
Pasif
Media
Relevan, kreatif, efektif
Relevan
Kurang optimal
Tidak sesuai
Asesmen
Autentik dan sangat selaras
Selaras
Sebagian selaras
Tidak selaras
Kolaborasi
Sangat efektif
Efektif
Tidak merata
Tidak ada kolaborasi
Presentasi
Sangat komunikatif dan argumentatif
Komunikatif
Cukup
Kurang
Refleksi
Mendalam dan berbasis bukti
Baik
Deskriptif
Minimal
AKTIVITAS PARTISIPATIF – 15%
Aktivitas partisipatif mencakup:
- diskusi;
- Case Method;
- presentasi;
- peer review;
- pertanyaan kritis;
- argumentasi;
- pemberian feedback;
- refleksi.
Rubrik:
Indikator
Bobot
Kehadiran dan kesiapan
15%
Keaktifan diskusi
20%
Kualitas argumentasi
20%
Analisis kasus
20%
Peer feedback
15%
Refleksi
10%
Total
100%
- Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University. 4th ed. Open University Press.
- Dick, W., Carey, L., & Carey, J. O. (2015). The Systematic Design of Instruction. 8th ed. Pearson.
- Morrison, G. R., Ross, S. M., Morrison, J. R., & Kalman, H. K. (2019). Designing Effective Instruction. 8th ed. Wiley.
- Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. Springer.
- Reigeluth, C. M., & Carr-Chellman, A. A. (Eds.). (2009). Instructional-Design Theories and Models: Building a Common Knowledge Base. Routledge.
- Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2015). Models of Teaching. Pearson.
- Arends, R. I. (2012). Learning to Teach. 9th ed. McGraw-Hill.
- Majid, A. (2013). Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Remaja Rosdakarya.
- Rusman. (2017). Belajar dan Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana.
- Sani, R. A. (2019). Pembelajaran Berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills). Tira Smart.
- Artikel jurnal nasional/internasional yang relevan
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
KONTRAK PERKULIAHAN
18 August - 24 August
Salam pembelajar,
Selamat datang, mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi, pada pertemuan pertama Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran.
Pada pertemuan awal ini, kita akan memulai perjalanan untuk memahami bahwa pembelajaran yang baik tidak terjadi secara kebetulan, tetapi lahir dari perencanaan yang baik. Seorang pendidik tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna, sesuai dengan karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran, perkembangan teknologi, serta kebutuhan dunia pendidikan.
Apa yang akan kita lakukan?
Pada pertemuan ini, kita akan membahas tiga hal utama:
- Orientasi Perkuliahan
Mengenal tujuan, capaian pembelajaran, materi, aktivitas, sistem penilaian, serta penggunaan LMS selama perkuliahan. - Kontrak Kuliah
Menyepakati aturan dan komitmen bersama mengenai kehadiran, partisipasi, tugas, diskusi, kerja kelompok, etika akademik, penggunaan teknologi/AI, serta tanggung jawab selama proses pembelajaran. - Konsep Perencanaan Pembelajaran
Memahami pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan komponen perencanaan pembelajaran serta mengapa kemampuan merencanakan pembelajaran menjadi kompetensi penting bagi calon guru ekonomi.
Mengapa Perencanaan Pembelajaran Penting?
Bayangkan Saudara akan mengajar suatu materi ekonomi di kelas. Apakah cukup hanya dengan menguasai materi?
Tentu tidak.
Saudara perlu mengetahui siapa peserta didiknya, apa yang harus mereka capai, bagaimana mereka akan belajar, aktivitas apa yang sesuai, media apa yang digunakan, bagaimana pembelajaran dinilai, dan bagaimana mengetahui bahwa tujuan pembelajaran benar-benar tercapai.
Di sinilah perencanaan pembelajaran menjadi penting.
“Guru yang baik tidak hanya tahu apa yang akan diajarkan, tetapi juga merancang bagaimana peserta didik dapat belajar dan mencapai tujuan pembelajaran.”
Mari Belajar sebagai Calon Pendidik
Dalam perkuliahan ini, Saudara tidak hanya akan mendengarkan penjelasan dosen. Saudara akan menganalisis kasus, berdiskusi, merancang pembelajaran, bekerja dalam tim, membuat proyek, memberikan umpan balik, melakukan refleksi, dan memperbaiki rancangan pembelajaran.
Karena itu, keberhasilan perkuliahan ini sangat bergantung pada keaktifan, tanggung jawab, kreativitas, kolaborasi, dan komitmen Saudara.
Mari kita jadikan mata kuliah ini sebagai ruang untuk belajar menjadi calon pendidik ekonomi yang mampu merancang pembelajaran secara kritis, kreatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Pertanyaan Reflektif
Sebelum memulai pembelajaran, silakan renungkan:
“Jika suatu saat saya menjadi guru ekonomi, pengalaman belajar seperti apa yang ingin saya hadirkan agar peserta didik tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk memahami dan memecahkan persoalan kehidupan nyata?”
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu titik awal perjalanan kita dalam mempelajari Perencanaan Pembelajaran.
Selamat belajar, berdiskusi, dan berproses. Mari kita mulai perjalanan ini!
- Orientasi Perkuliahan
Konsep Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran adalah proses sistematis yang dilakukan guru untuk menentukan apa yang harus dicapai peserta didik, apa yang akan dipelajari, bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan, sumber dan media apa yang digunakan, serta bagaimana ketercapaian tujuan tersebut dinilai.
Sederhananya, perencanaan pembelajaran dapat dipahami sebagai “peta perjalanan pembelajaran”. Guru perlu mengetahui titik awal, tujuan yang ingin dicapai, rute yang digunakan, dan cara memastikan peserta didik sampai pada tujuan tersebut.
1. Tujuan Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran bertujuan untuk:
- memberikan arah yang jelas bagi proses pembelajaran;
- memastikan pembelajaran berorientasi pada capaian pembelajaran;
- menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik;
- memilih materi, metode, media, dan sumber belajar secara tepat;
- menentukan asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran;
- menciptakan pembelajaran yang efektif, efisien, aktif, dan bermakna.
2. Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memiliki beberapa fungsi penting, yaitu:
a. Sebagai pedoman
Membantu guru melaksanakan pembelajaran secara terarah dan sistematis.b. Sebagai alat pengendalian
Membantu guru mengetahui apakah proses pembelajaran berjalan sesuai tujuan.c. Sebagai dasar asesmen
Tujuan yang direncanakan menjadi dasar untuk menentukan bagaimana keberhasilan belajar peserta didik diukur.d. Sebagai dasar perbaikan
Hasil pembelajaran dapat digunakan untuk melakukan refleksi dan memperbaiki rancangan pembelajaran berikutnya.3. Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran yang baik setidaknya memperhatikan prinsip:
- Berorientasi pada peserta didik – memperhatikan karakteristik, kebutuhan, kemampuan awal, dan keragaman peserta didik.
- Berorientasi pada tujuan – setiap aktivitas pembelajaran harus memiliki hubungan dengan capaian yang ingin dicapai.
- Selaras (aligned) – tujuan, materi, aktivitas pembelajaran, dan asesmen harus saling mendukung.
- Kontekstual – pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan lingkungan peserta didik.
- Fleksibel – dapat disesuaikan dengan kondisi kelas dan perkembangan kebutuhan peserta didik.
- Berorientasi pada pembelajaran bermakna – peserta didik tidak sekadar menghafal konsep, tetapi mampu memahami, menerapkan, menganalisis, dan menggunakannya.
4. Komponen Perencanaan Pembelajaran
Secara sederhana, perencanaan pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut:
Peserta Didik → Tujuan → Materi → Aktivitas/Metode → Media/Sumber → Asesmen → Refleksi dan Perbaikan
Contohnya, seorang calon guru ekonomi akan mengajarkan materi Inflasi.
Guru tidak cukup hanya menyiapkan materi tentang pengertian inflasi. Ia perlu merencanakan:
- Tujuan: peserta didik mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat.
- Materi: konsep inflasi, penyebab, jenis, dampak, dan kebijakan pengendalian inflasi.
- Aktivitas: peserta didik menganalisis berita atau data inflasi Indonesia dan mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan rumah tangga.
- Media: grafik perkembangan inflasi, berita ekonomi, dan data BPS.
- Metode: Case Method atau Problem-Based Learning.
- Asesmen: peserta didik menyusun analisis kasus dan rekomendasi berdasarkan data.
Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pertanyaan “Apa itu inflasi?”, tetapi berkembang menjadi “Mengapa inflasi terjadi, siapa yang terdampak, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?”
Mengapa Penting bagi Calon Guru Ekonomi?
Sebagai calon guru ekonomi, Saudara nantinya tidak hanya dituntut menguasai ilmu ekonomi, tetapi juga harus mampu mengubah pengetahuan ekonomi menjadi pengalaman belajar yang dapat dipahami dan bermakna bagi peserta didik.
Guru yang menguasai materi tetapi tidak mampu merencanakan pembelajaran dapat mengalami kesulitan dalam menentukan apa yang harus dipelajari, bagaimana peserta didik belajar, dan bagaimana membuktikan bahwa mereka telah mencapai tujuan.
Sebaliknya, guru yang mampu merencanakan pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang membuat peserta didik berpikir kritis, memecahkan masalah, menghubungkan konsep ekonomi dengan kehidupan nyata, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi.
“Perencanaan pembelajaran bukan sekadar menyiapkan administrasi mengajar, tetapi merupakan proses merancang pengalaman belajar agar peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.”
Refleksi untuk Mahasiswa
Coba bayangkan Saudara mengajar materi “Permintaan dan Penawaran”.
Apakah Saudara akan cukup menjelaskan definisi dan menggambar kurva di papan tulis?
Atau, Saudara dapat mengajak peserta didik mengamati mengapa harga cabai, beras, atau bahan bakar dapat berubah, kemudian menganalisis faktor yang memengaruhinya menggunakan konsep permintaan dan penawaran.
Pilihan tersebut merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran.
Karena itu, mulai dari sekarang, biasakan berpikir seperti seorang instructional designer:
“Apa yang ingin peserta didik capai, pengalaman belajar apa yang perlu mereka alami, dan bukti apa yang menunjukkan bahwa mereka telah mencapai tujuan tersebut?”
Pertanyaan sederhana inilah yang menjadi dasar penting dalam merancang pembelajaran ekonomi yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada capaian pembelajaran (OBE).
Berikut beberapa link E-BOOK, silakan didownloud dan dipelajari:
Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University (4th ed.). Open University Press
Teaching for Quality Learning at University
Morrison, G. R., Ross, S. M., Morrison, J. R., & Kalman, H. K. (2019). Designing Effective Instruction (8th ed.). Wiley.
Designing Effective Instruction, 8th Edition
Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. Springer.
Spady, W. G. (1994). Outcome-Based Education: Critical Issues and Answers. American Association of School Administrators.
Mari kita baca dan telaah bersama artikel berikut:
Selanjutnya berikan
Kasus Pemantik Diskusi
“Guru Menguasai Materi, tetapi Mengapa Pembelajarannya Tidak Berhasil?”
Kasus
Bu Rina adalah guru Ekonomi kelas XI di sebuah SMA. Ia dikenal memiliki penguasaan materi ekonomi yang sangat baik. Ia mampu menjelaskan konsep inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter, dan kebijakan fiskal dengan lancar.
Pada suatu pertemuan, Bu Rina akan mengajarkan materi “Inflasi dan Dampaknya terhadap Perekonomian”.
Karena merasa sudah menguasai materi, Bu Rina tidak membuat perencanaan pembelajaran secara rinci. Ia hanya menyiapkan beberapa slide presentasi dan buku teks.
Ketika pembelajaran berlangsung, Bu Rina menjelaskan pengertian, jenis, penyebab, dan dampak inflasi selama hampir satu jam. Setelah itu, mahasiswa—eh, peserta didik—diminta mengerjakan beberapa soal pilihan ganda dari buku teks.
Hasilnya ternyata tidak sesuai harapan.
Sebagian besar peserta didik dapat menghafalkan pengertian inflasi, tetapi ketika diberikan kasus berikut:
“Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara pendapatan sebagian besar masyarakat tidak mengalami peningkatan. Bagaimana kondisi tersebut memengaruhi daya beli masyarakat? Apa faktor yang mungkin menyebabkan kondisi tersebut, dan kebijakan apa yang dapat dilakukan pemerintah?”
Sebagian besar peserta didik kesulitan menjawab.
Dalam refleksi setelah pembelajaran, Bu Rina menemukan beberapa persoalan:
- tujuan pembelajaran tidak dirumuskan secara jelas;
- aktivitas pembelajaran lebih banyak berupa ceramah;
- peserta didik tidak diberi kesempatan menganalisis data ekonomi nyata;
- media yang digunakan tidak disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik;
- asesmen hanya mengukur kemampuan mengingat;
- tidak ada kegiatan untuk mengetahui pengetahuan awal peserta didik;
- pembelajaran tidak dikaitkan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari.
Bu Rina kemudian bertanya kepada dirinya sendiri:
“Saya sudah menguasai materi ekonomi. Mengapa peserta didik belum mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menganalisis persoalan ekonomi?”
Pertanyaan Pemantik Diskusi
Diskusikan kasus tersebut dalam kelompok dengan menjawab pertanyaan berikut.
1. Identifikasi Masalah
Apa masalah utama dalam pembelajaran Bu Rina?
Apakah masalahnya terletak pada:
- penguasaan materi guru;
- metode pembelajaran;
- peserta didik;
- media;
- asesmen;
- atau perencanaan pembelajaran?
Berikan alasan.
2. Analisis
Menurut kelompok Anda:
Bagian mana dari perencanaan pembelajaran yang tidak dilakukan atau tidak dilakukan dengan baik oleh Bu Rina?
Analisis minimal dari aspek:
- tujuan pembelajaran;
- karakteristik peserta didik;
- materi;
- metode/model;
- aktivitas pembelajaran;
- media/sumber belajar;
- asesmen.
3. Berpikir sebagai Calon Guru Ekonomi
Bayangkan Anda menggantikan Bu Rina.
Anda tetap akan mengajarkan materi “Inflasi dan Dampaknya terhadap Perekonomian”.
Bagaimana Anda merencanakan pembelajaran tersebut agar peserta didik tidak hanya mampu menjelaskan konsep inflasi, tetapi juga mampu menganalisis dampaknya terhadap kehidupan masyarakat?
4. Tantangan HOTS
Pilih salah satu kasus ekonomi aktual, misalnya:
- kenaikan harga pangan;
- perubahan harga BBM;
- kenaikan suku bunga;
- perubahan nilai tukar;
- pengangguran;
- perkembangan ekonomi digital.
Kemudian rumuskan satu tujuan pembelajaran yang menuntut kemampuan HOTS.
5. Pertanyaan Kunci
Diskusikan pernyataan berikut:
“Guru yang menguasai materi belum tentu mampu menghasilkan pembelajaran yang efektif. Sebaliknya, guru yang mampu merencanakan pembelajaran dapat mengubah pengetahuan menjadi pengalaman belajar yang bermakna.”
Apakah kelompok Anda setuju atau tidak? Jelaskan dengan argumentasi akademik.
Tujuan Diskusi
Melalui kasus ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa perencanaan pembelajaran bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan proses profesional untuk menentukan:
Siapa yang belajar → apa yang harus dicapai → apa yang dipelajari → bagaimana peserta didik belajar → sumber/media apa yang digunakan → bagaimana keberhasilan diukur.
Khusus bagi calon guru ekonomi, perencanaan pembelajaran menjadi semakin penting karena konsep ekonomi perlu diubah menjadi pengalaman belajar yang kontekstual, sehingga peserta didik mampu menghubungkan teori ekonomi dengan persoalan nyata dalam kehidupan.
Output Diskusi
Setiap kelompok menghasilkan 1 lembar “Diagnosis dan Solusi Pembelajaran” yang berisi:
Komponen
Hasil Analisis Kelompok
Masalah utama
...
Penyebab
...
Komponen perencanaan yang bermasalah
...
Tujuan pembelajaran yang seharusnya
...
Model/metode yang disarankan
...
Aktivitas peserta didik
...
Media/sumber belajar
...
Bentuk asesmen
...
Solusi pembelajaran
...
Presentasi
Setiap kelompok diberikan waktu 5–7 menit untuk menyampaikan:
“Apa yang salah dalam perencanaan Bu Rina dan bagaimana kami akan memperbaikinya?”
Kelompok lain memberikan minimal satu pertanyaan kritis atau rekomendasi.
Refleksi Individu
Setelah diskusi, tuliskan jawaban singkat:
“Jika saya menjadi guru ekonomi, tiga hal apa yang akan saya pastikan sebelum masuk ke kelas agar pembelajaran yang saya lakukan benar-benar bermakna bagi peserta didik?”
Jawaban refleksi ini menjadi titik awal bagi kalian sebagai calon guru untuk memahami bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menguasai apa yang akan diajarkan, tetapi juga tentang merancang bagaimana peserta didik dapat belajar.
25 August - 31 August
OBE, CPL, CPMK, Sub-CPMK, dan Constructive Alignment
Pengantar
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah memahami bahwa perencanaan pembelajaran merupakan proses merancang pengalaman belajar agar peserta didik mencapai tujuan yang diharapkan.
Pada pertemuan kedua, kita akan melangkah lebih jauh dengan memahami satu pertanyaan penting:
“Apa yang sebenarnya harus mampu dilakukan mahasiswa setelah mengikuti suatu proses pembelajaran?”
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pendekatan Outcome-Based Education (OBE).
1. Apa itu Outcome-Based Education (OBE)?
Outcome-Based Education (OBE) adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian pembelajaran (learning outcomes) sebagai titik awal dalam merancang pembelajaran.
Dalam pendekatan tradisional, kita sering berpikir:
Materinya apa → bagaimana mengajarkannya → kemudian bagaimana mengujinya?
Dalam OBE, cara berpikirnya dibalik:
Mahasiswa harus mampu melakukan apa → pengalaman belajar apa yang diperlukan → bagaimana mengukur ketercapaiannya?
Dengan demikian, OBE tidak hanya bertanya:
“Apa yang sudah diajarkan?”
tetapi lebih penting:
“Apa yang benar-benar mampu dilakukan mahasiswa setelah belajar?”
Contoh dalam Pendidikan Ekonomi
Jangan hanya menetapkan:
“Mahasiswa memahami konsep inflasi.”
Tetapi rumuskan capaian yang dapat diamati:
“Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data ekonomi.”
Perbedaannya penting.
Pada rumusan pertama, fokusnya adalah materi yang dipelajari.
Pada rumusan kedua, fokusnya adalah kemampuan yang dapat ditunjukkan mahasiswa.
2. CPL – Capaian Pembelajaran Lulusan
CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan) adalah kemampuan yang diharapkan dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan seluruh program studi.
CPL bersifat luas dan menggambarkan kompetensi lulusan.
CPL biasanya mencakup aspek:
- sikap;
- pengetahuan;
- keterampilan umum;
- keterampilan khusus.
Contoh sederhana CPL Pendidikan Ekonomi
Misalnya salah satu CPL program studi adalah:
“Mampu merancang, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran ekonomi yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.”
CPL tersebut tidak mungkin dicapai hanya melalui satu mata kuliah.
Karena itu, CPL kemudian diturunkan menjadi capaian yang lebih spesifik pada setiap mata kuliah.
3. CPMK – Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) adalah kemampuan yang harus dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan suatu mata kuliah.
Jika CPL menggambarkan kemampuan lulusan, maka CPMK menggambarkan kontribusi satu mata kuliah terhadap pencapaian CPL.
Contoh
CPL:
Mahasiswa mampu merancang pembelajaran ekonomi yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Kemudian pada Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran, CPL tersebut dapat diturunkan menjadi CPMK:
CPMK: Mahasiswa mampu merancang perangkat pembelajaran ekonomi yang sistematis, kontekstual, inovatif, dan selaras dengan capaian pembelajaran.
Jadi:
CPL = tujuan besar lulusan
CPMK = kontribusi mata kuliah terhadap tujuan tersebut
4. Sub-CPMK
Jika CPMK masih relatif luas, maka CPMK perlu dijabarkan menjadi kemampuan yang lebih spesifik dan terukur yang disebut Sub-CPMK.
Sub-CPMK menggambarkan kemampuan yang harus dicapai mahasiswa pada bagian atau tahapan tertentu dalam suatu mata kuliah.
Contoh
CPMK:
Mahasiswa mampu merancang perangkat pembelajaran ekonomi yang sistematis, kontekstual, inovatif, dan selaras dengan capaian pembelajaran.
Dapat diturunkan menjadi:
Sub-CPMK 1:
Mahasiswa mampu menganalisis karakteristik dan kebutuhan peserta didik sebagai dasar perencanaan pembelajaran.Sub-CPMK 2:
Mahasiswa mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi menggunakan kata kerja operasional yang terukur.Sub-CPMK 3:
Mahasiswa mampu memilih model dan metode pembelajaran sesuai karakteristik materi dan peserta didik.Sub-CPMK 4:
Mahasiswa mampu merancang asesmen yang selaras dengan tujuan pembelajaran.Sub-CPMK 5:
Mahasiswa mampu menghasilkan perangkat pembelajaran ekonomi secara kolaboratif.Dengan demikian, hubungan sederhananya adalah:
CPL → CPMK → Sub-CPMK
5. Perbedaan CPL, CPMK, dan Sub-CPMK
Aspek
CPL
CPMK
Sub-CPMK
Lingkup
Program studi
Mata kuliah
Bagian/tahapan mata kuliah
Fokus
Kompetensi lulusan
Kompetensi dari suatu mata kuliah
Kemampuan spesifik
Waktu pencapaian
Akhir studi
Akhir mata kuliah
Pertemuan/tahapan tertentu
Sifat
Umum dan luas
Lebih spesifik
Sangat spesifik dan terukur
Contoh
Mampu merancang pembelajaran
Mampu merancang pembelajaran ekonomi
Mampu merumuskan tujuan pembelajaran
Cara mudah mengingat:
CPL = “Saya ingin menjadi guru seperti apa?”
CPMK = “Apa kontribusi mata kuliah ini untuk menjadi guru tersebut?”
Sub-CPMK = “Kemampuan apa yang harus saya kuasai tahap demi tahap?”
6. Apa itu Constructive Alignment?
Setelah memahami OBE, CPL, CPMK, dan Sub-CPMK, kita perlu memahami konsep penting berikutnya, yaitu:
Constructive Alignment
Secara sederhana, constructive alignment adalah keselarasan antara capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan asesmen.
Artinya:
Apa yang ingin dicapai harus selaras dengan apa yang dilakukan mahasiswa dalam proses belajar dan bagaimana pencapaiannya dinilai.
Tiga unsur utama:
Learning Outcomes
Apa yang harus mampu dilakukan mahasiswa?
↓
Learning Activities
Aktivitas apa yang membuat mahasiswa mampu mencapainya?
↓
Assessment
Bagaimana kita membuktikan bahwa mahasiswa telah mencapainya?
7. Contoh Constructive Alignment dalam Pendidikan Ekonomi
Misalnya tujuan pembelajaran:
Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data ekonomi.
Maka aktivitas pembelajarannya harus mendukung kemampuan menganalisis.
Mahasiswa dapat:
- membaca data inflasi;
- menginterpretasikan grafik;
- menganalisis berita ekonomi;
- berdiskusi dalam kelompok;
- memecahkan kasus;
- menyusun argumentasi berdasarkan bukti.
Kemudian asesmennya juga harus mengukur kemampuan menganalisis, bukan sekadar menghafal.
Contohnya:
“Berdasarkan data inflasi Indonesia tahun tertentu, analisislah dampaknya terhadap daya beli rumah tangga dan berikan rekomendasi yang dapat dilakukan pemerintah.”
Yang tidak aligned:
Tujuan: menganalisis inflasi.
Aktivitas: mahasiswa hanya mendengarkan ceramah.
Asesmen: “Apa pengertian inflasi?”
Ini menunjukkan ketidaksesuaian (misalignment).
8. Contoh Alignment yang Baik
Komponen
Contoh
Sub-CPMK
Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi
Materi
Konsep, penyebab, dan dampak inflasi
Aktivitas
Analisis data dan Case Method
Media
Data/grafik inflasi dan berita ekonomi
Produk
Analisis kasus
Asesmen
Case analysis
Kriteria
Ketepatan analisis, penggunaan bukti, argumentasi, rekomendasi
Semuanya mengarah pada kemampuan yang sama:
ANALISIS
Inilah inti constructive alignment.
9. Hubungan OBE dan Constructive Alignment
OBE menjawab:
“Outcome apa yang harus dicapai?”
Constructive alignment menjawab:
“Bagaimana pembelajaran dan asesmen harus dirancang agar outcome tersebut benar-benar tercapai?”
Hubungannya dapat digambarkan:
OBE
⬇️
CPL
⬇️
CPMK
⬇️
Sub-CPMK
⬇️
Aktivitas Pembelajaran
⬇️
Asesmen
⬇️
Feedback & Reflection
⬇️
Ketercapaian Learning Outcomes
10. Mengapa Penting bagi Calon Guru Ekonomi?
Sebagai calon guru ekonomi, Saudara nantinya akan membuat berbagai keputusan pembelajaran.
Misalnya ketika mengajarkan:
- inflasi;
- pengangguran;
- pasar;
- pertumbuhan ekonomi;
- kebijakan fiskal;
- kebijakan moneter;
- perpajakan;
- kewirausahaan;
- ekonomi digital.
Saudara harus mampu menjawab tiga pertanyaan:
1️⃣ Apa yang harus dapat dilakukan peserta didik?
→ Learning Outcome
2️⃣ Pengalaman belajar apa yang dapat membuat mereka mampu melakukannya?
→ Learning Activities
3️⃣ Bagaimana saya mengetahui bahwa mereka benar-benar telah mampu melakukannya?
→ Assessment
Jika ketiga pertanyaan tersebut dapat dijawab secara konsisten, maka Saudara telah mulai berpikir sebagai perancang pembelajaran (instructional designer).
Contoh Utuh
Misalnya:
CPL
Mampu merancang pembelajaran ekonomi yang inovatif dan kontekstual.
⬇️
CPMK
Mampu merancang pembelajaran ekonomi berbasis masalah dan data.
⬇️
Sub-CPMK
Mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
⬇️
Aktivitas
Mahasiswa menganalisis kasus kenaikan harga bahan pokok dan merumuskan tujuan pembelajaran.
⬇️
Asesmen
Mahasiswa dinilai berdasarkan ketepatan merumuskan tujuan, tingkat kognitif, keterukuran, dan kesesuaiannya dengan kasus.
⬇️
Outcome
Mahasiswa mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi yang terukur, relevan, dan berorientasi HOTS.
Pesan Penting untuk Mahasiswa
Jangan melihat CPL, CPMK, dan Sub-CPMK hanya sebagai istilah administratif dalam RPS.
Ketiganya merupakan peta kompetensi yang membantu kita mengetahui arah pembelajaran.
Begitu pula OBE bukan sekadar mengganti istilah “tujuan pembelajaran” menjadi “learning outcomes”.
OBE mengubah cara kita berpikir:
Bukan “Apa yang sudah saya ajarkan?”
tetapi:
“Apa yang sudah mampu dilakukan oleh mahasiswa/peserta didik setelah belajar?”
Dan constructive alignment memastikan bahwa tujuan, aktivitas pembelajaran, dan asesmen berjalan menuju tujuan yang sama.
Pertanyaan Reflektif
Bayangkan Saudara menjadi guru ekonomi dan akan mengajarkan materi “Kebijakan Moneter”.
Coba jawab:
Apa yang ingin peserta didik mampu lakukan setelah pembelajaran?
Aktivitas apa yang akan Saudara berikan agar kemampuan tersebut berkembang?
Asesmen apa yang dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar telah mencapainya?
Jika Saudara mampu menjawab ketiga pertanyaan tersebut secara selaras, berarti Saudara telah mulai menerapkan prinsip OBE dan constructive alignment dalam perencanaan pembelajaran.
Selamat berdiskusi dan selamat belajar menjadi calon guru ekonomi yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna.
“Menguji Keselarasan OBE dalam Perencanaan Pembelajaran Ekonomi”
Waktu: 1 minggu
Tujuan Penugasan
Setelah menyelesaikan tugas ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- membedakan CPL, CPMK, dan Sub-CPMK;
- menganalisis penerapan prinsip OBE dalam pembelajaran ekonomi;
- mengidentifikasi keselarasan antara learning outcome, aktivitas pembelajaran, dan asesmen;
- memberikan rekomendasi perbaikan perencanaan pembelajaran berdasarkan prinsip constructive alignment.
Kasus
Pak Andi adalah guru Ekonomi kelas XI. Ia akan mengajarkan materi “Kebijakan Moneter dan Dampaknya terhadap Perekonomian”.
Dalam RPP/modul ajarnya, Pak Andi menuliskan tujuan pembelajaran:
“Peserta didik memahami pengertian, tujuan, instrumen, dan jenis kebijakan moneter.”
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pak Andi melakukan kegiatan:
- menjelaskan materi menggunakan PowerPoint selama 60 menit;
- meminta peserta didik membaca buku teks;
- memberikan beberapa pertanyaan lisan;
- meminta peserta didik membuat rangkuman materi.
Pada akhir pembelajaran, Pak Andi memberikan tes:
1. Jelaskan pengertian kebijakan moneter!
2. Sebutkan tiga instrumen kebijakan moneter!
3. Jelaskan tujuan kebijakan moneter!
4. Sebutkan jenis-jenis kebijakan moneter!Namun, Pak Andi sebenarnya ingin peserta didiknya memiliki kemampuan yang lebih tinggi, yaitu:
“Peserta didik mampu menganalisis dampak perubahan suku bunga terhadap konsumsi, investasi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi serta memberikan argumentasi berdasarkan data.”
Tugas Mahasiswa
Berdasarkan kasus tersebut, lakukan analisis menggunakan perspektif OBE dan constructive alignment.
1. Analisis OBE
Identifikasi apakah tujuan pembelajaran Pak Andi sudah mencerminkan prinsip OBE.
Jelaskan:
- Apa kelemahan rumusan tujuan tersebut?
- Kata kerja apa yang menunjukkan kemampuan tingkat rendah?
- Bagaimana seharusnya tujuan pembelajaran dirumuskan agar lebih berorientasi pada outcome?
2. Rumuskan Sub-CPMK
Sebagai calon guru ekonomi, rumuskan 1 Sub-CPMK yang memenuhi prinsip:
- spesifik;
- terukur;
- relevan dengan materi;
- berorientasi pada kemampuan mahasiswa/peserta didik;
- menggunakan kata kerja operasional.
Contoh format:
Peserta didik mampu ........................................ berdasarkan ........................................
3. Analisis Constructive Alignment
Analisis keselarasan antara:
Komponen
Kondisi Pak Andi
Analisis Anda
Learning Outcome
Memahami kebijakan moneter
Apakah sudah tepat? Mengapa?
Aktivitas pembelajaran
Ceramah, membaca, merangkum
Apakah mendukung outcome?
Asesmen
Soal definisi dan menyebutkan
Apakah mengukur outcome?
Alignment
Selaras/tidak selaras
Jelaskan alasannya
4. Rancang Perbaikan
Ubahlah rancangan Pak Andi agar menerapkan constructive alignment.
Buat rancangan singkat:
Sub-CPMK → Aktivitas Pembelajaran → Produk/Bukti Belajar → Asesmen
Contoh format:
Sub-CPMK
Aktivitas
Produk/Bukti
Asesmen
Mahasiswa/peserta didik mampu menganalisis...
Analisis kasus kenaikan/penurunan suku bunga
Laporan analisis
Rubrik analisis
5. Berikan Argumentasi
Tuliskan jawaban terhadap pertanyaan berikut:
“Mengapa seorang guru ekonomi tidak cukup hanya mengajarkan konsep dan definisi ekonomi, tetapi harus memastikan adanya keselarasan antara capaian pembelajaran, aktivitas belajar, dan asesmen?”
Jawaban 300–500 kata dan harus menggunakan argumentasi akademik.
Produk Akhir
Mahasiswa mengumpulkan 1 dokumen analisis 3–5 halaman, terdiri atas:
- identitas mahasiswa;
- analisis kasus;
- analisis OBE;
- rumusan Sub-CPMK;
- analisis constructive alignment;
- rancangan perbaikan;
- argumentasi/refleksi;
- daftar referensi.
Gunakan minimal 3 referensi ilmiah, dengan sekurang-kurangnya 1 artikel jurnal nasional SINTA 1 atau artikel internasional bereputasi.
Rubrik Penilaian
Aspek
Bobot
Ketepatan memahami OBE, CPL, CPMK, Sub-CPMK
20%
Kedalaman analisis kasus
25%
Ketepatan penerapan constructive alignment
25%
Kualitas rancangan perbaikan
20%
Argumentasi, referensi, dan tata tulis
10%
Total
100%
Kriteria keberhasilan
Mahasiswa tidak cukup menjawab “sudah selaras” atau “belum selaras”.
Anda harus mampu menjelaskan:
Apa masalahnya → mengapa menjadi masalah → prinsip apa yang dilanggar → bagaimana memperbaikinya → mengapa solusi tersebut lebih baik.
Setelah menyelesaikan tugas, renungkan oleh Anda:
Jika kelak saya menjadi guru ekonomi, apakah saya akan lebih sibuk memikirkan “materi apa yang harus saya sampaikan” atau “kemampuan apa yang harus dimiliki peserta didik setelah belajar”?
Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan inti dari perubahan paradigma dari pembelajaran berbasis materi menuju pembelajaran berbasis capaian (OBE).
1 September - 7 September
Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik peserta didik merupakan salah satu aspek penting yang harus dipahami calon guru sebelum merancang pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki perbedaan dalam kemampuan akademik, minat, motivasi, pengalaman, gaya belajar, perkembangan sosial-emosional, serta latar belakang sosial dan budaya. Karena itu, perencanaan pembelajaran tidak seharusnya menggunakan pendekatan yang seragam, tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan keragaman peserta didik agar pembelajaran menjadi lebih efektif, inklusif, dan bermakna.
Bagi mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi, pemahaman terhadap karakteristik peserta didik sangat penting karena materi ekonomi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Guru perlu mengetahui kondisi dan pengalaman peserta didik agar dapat memilih metode, media, sumber belajar, serta bentuk asesmen yang tepat. Misalnya, ketika mengajarkan materi permintaan dan penawaran, guru dapat menggunakan contoh harga kebutuhan pokok atau fenomena belanja melalui platform digital yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Contoh kasus terkini: pada Juli 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan. Kebijakan tersebut bukan berarti melarang teknologi, tetapi mendorong penggunaannya secara bijaksana dan sesuai kebutuhan pembelajaran. (SMK Kemendikdasmen) Di SMP Bumi Cendekia Yogyakarta, misalnya, gawai tetap digunakan untuk mencari informasi dan memanfaatkan AI, tetapi penggunaannya diarahkan agar peserta didik tetap berpikir kritis dan tidak bergantung pada teknologi. (Kemendikdasmen)
Kasus tersebut menunjukkan bahwa karakteristik peserta didik di era digital perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan pembelajaran. Guru bukan hanya menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga memahami siapa yang belajar, bagaimana mereka belajar, serta lingkungan dan teknologi apa yang memengaruhi proses belajarnya. Dengan demikian, pemahaman karakteristik peserta didik menjadi dasar untuk menciptakan pembelajaran ekonomi yang relevan, adaptif, dan berpusat pada peserta didik.
Mari kita simak video berikut.
Sumber: youtube.com
Berikan simpulan Anda setelah menyimak video tersebut. Respon disini ya...
Kasus: “Satu Kelas, Beragam Karakteristik Peserta Didik”
Seorang guru Ekonomi kelas X mengajarkan materi Permintaan dan Penawaran. Dalam satu kelas terdapat 32 peserta didik dengan karakteristik yang beragam. Sebagian peserta didik aktif berdiskusi dan mudah memahami materi melalui contoh kehidupan sehari-hari. Sebagian lainnya lebih nyaman belajar melalui gambar, video, atau simulasi. Ada pula peserta didik yang cenderung pasif karena kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat.
Guru tersebut kemudian memberikan materi melalui metode ceramah dan meminta seluruh peserta didik mengerjakan soal yang sama dalam waktu yang sama. Setelah dilakukan evaluasi, hasilnya cukup beragam. Beberapa peserta didik memperoleh nilai tinggi, tetapi sebagian lainnya kesulitan menjelaskan hubungan antara perubahan harga dengan jumlah permintaan dan penawaran.
Dalam proses pembelajaran, guru juga menemukan bahwa beberapa peserta didik sering menggunakan telepon pintar untuk mencari informasi tambahan, sedangkan peserta didik lainnya justru menggunakannya untuk aktivitas yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Kondisi tersebut membuat guru bingung menentukan strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan, minat, gaya belajar, tingkat motivasi, dan pemanfaatan teknologi dalam satu kelas.
Permasalahan
Guru perlu merancang kembali pembelajaran agar karakteristik peserta didik dapat menjadi dasar dalam menentukan tujuan, metode, media, aktivitas, dan asesmen pembelajaran.
Pertanyaan Diskusi
- Analisis: Apa saja karakteristik peserta didik yang tampak dalam kasus tersebut? Jelaskan bukti yang mendukung identifikasi Anda.
- Identifikasi masalah: Mengapa metode pembelajaran yang sama untuk seluruh peserta didik belum mampu menghasilkan pemahaman yang optimal?
- Pemecahan masalah: Strategi pembelajaran apa yang dapat digunakan guru untuk mengakomodasi keberagaman karakteristik peserta didik tersebut?
- Perencanaan: Bagaimana Anda merancang kegiatan pembelajaran materi Permintaan dan Penawaran agar lebih berpusat pada peserta didik?
- Teknologi: Bagaimana telepon pintar dan teknologi berbasis AI dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar tanpa membuat peserta didik menjadi bergantung pada teknologi?
- Evaluasi: Bentuk asesmen apa yang paling tepat untuk mengetahui apakah seluruh peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran? Jelaskan alasannya.
Tugas Mahasiswa
Berdasarkan kasus tersebut, mahasiswa diminta menyusun solusi pembelajaran yang konkret dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik. Solusi harus memuat: (1) identifikasi karakteristik peserta didik, (2) masalah utama, (3) strategi/metode pembelajaran, (4) media atau sumber belajar, dan (5) bentuk asesmen.

8 September - 14 September
Analisis Kebutuhan dan Konteks Pembelajaran
Analisis kebutuhan dan konteks pembelajaran merupakan tahap penting dalam perencanaan pembelajaran untuk memastikan bahwa pembelajaran yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik, kondisi lingkungan belajar, tujuan pembelajaran, serta perkembangan zaman. Analisis ini membantu guru menemukan kesenjangan antara kemampuan atau kondisi peserta didik saat ini dengan kompetensi yang diharapkan, sehingga guru dapat menentukan materi, metode, media, sumber belajar, dan asesmen yang tepat.
Bagi calon guru Ekonomi, analisis kebutuhan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga perlu mempertimbangkan pengalaman ekonomi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika akan mengajarkan materi inflasi, guru terlebih dahulu dapat mengetahui apakah peserta didik memahami perubahan harga kebutuhan pokok, penyebab kenaikan harga, dan dampaknya terhadap daya beli keluarga.
Contoh: Guru melakukan survei sederhana kepada peserta didik mengenai perubahan harga makanan yang biasa mereka beli. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik menyadari harga makanan meningkat, tetapi belum mampu menghubungkannya dengan konsep inflasi. Berdasarkan kondisi tersebut, guru dapat merancang pembelajaran dengan menggunakan data perubahan harga kebutuhan pokok di daerah setempat, dilanjutkan dengan diskusi mengenai penyebab dan dampak inflasi terhadap kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, konsep ekonomi yang abstrak menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman peserta didik.
Contoh lain dapat diterapkan pada materi permintaan dan penawaran. Guru dapat menganalisis konteks lingkungan peserta didik, misalnya keberadaan pasar tradisional, toko daring, atau aktivitas jual beli di lingkungan sekitar. Peserta didik kemudian diminta mengamati mengapa harga suatu barang dapat berubah ketika permintaan meningkat atau ketika persediaannya berkurang. Aktivitas tersebut membantu peserta didik menghubungkan teori ekonomi dengan fenomena nyata.
Melalui Pertemuan 4 ini, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, menganalisis konteks pembelajaran, menemukan kesenjangan pembelajaran, serta menggunakan hasil analisis tersebut sebagai dasar dalam merancang pembelajaran Ekonomi yang relevan, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Kasus: “Pembelajaran Inflasi yang Tidak Kontekstual”
Seorang guru Ekonomi kelas XI akan mengajarkan materi inflasi. Sebelum pembelajaran dimulai, guru langsung menggunakan metode ceramah dan memberikan definisi serta rumus inflasi dari buku teks. Setelah pembelajaran selesai, sebagian besar peserta didik dapat menghafalkan pengertian inflasi, tetapi ketika diminta menjelaskan mengapa harga kebutuhan sehari-hari meningkat dan bagaimana kenaikan harga tersebut memengaruhi daya beli keluarga, mereka mengalami kesulitan.
Guru kemudian mengetahui bahwa sebagian besar peserta didik sebenarnya memiliki pengalaman langsung dengan perubahan harga. Mereka sering membeli makanan di kantin sekolah, berbelanja kebutuhan melalui platform digital, dan membantu orang tua dalam kegiatan ekonomi keluarga. Namun, pengalaman tersebut belum pernah digunakan sebagai konteks dalam pembelajaran.
Pertanyaan
Berdasarkan kasus tersebut:
Analisislah masalah pembelajaran yang terjadi dan susun solusi pembelajaran Ekonomi yang sesuai dengan hasil analisis kebutuhan dan konteks peserta didik. Jelaskan langkah-langkah yang akan Anda lakukan sebagai calon guru Ekonomi, mulai dari mengidentifikasi kebutuhan peserta didik sampai menentukan strategi pembelajaran dan bentuk asesmennya.
15 September - 21 September
Perumusan Tujuan Pembelajaran dan HOTS
Perumusan tujuan pembelajaran merupakan langkah penting dalam perencanaan pembelajaran karena menjadi arah bagi guru dalam menentukan materi, aktivitas pembelajaran, metode, media, dan asesmen. Tujuan pembelajaran yang baik harus jelas, terukur, relevan, serta menggambarkan kemampuan yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah mengikuti pembelajaran.
Bagi calon guru Ekonomi, tujuan pembelajaran sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengingat dan memahami konsep, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, menganalisis masalah ekonomi, mengevaluasi pilihan, dan menghasilkan solusi. Kemampuan tersebut dikenal sebagai Higher Order Thinking Skills (HOTS), terutama pada tingkat kognitif menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).
Contoh Perumusan Tujuan Pembelajaran
1. Materi Inflasi
Tujuan pembelajaran tingkat dasar:
Peserta didik mampu menjelaskan pengertian dan penyebab inflasi.
Tujuan pembelajaran berbasis HOTS:
Peserta didik mampu menganalisis dampak kenaikan harga kebutuhan pokok terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data yang tersedia serta mengevaluasi alternatif kebijakan untuk mengurangi dampak inflasi.
Perbedaannya terletak pada tuntutan berpikir. Tujuan pertama hanya meminta peserta didik menjelaskan konsep, sedangkan tujuan kedua mengharuskan peserta didik mengolah informasi, menganalisis hubungan sebab-akibat, menggunakan data, dan memberikan penilaian terhadap alternatif solusi.
2. Materi Permintaan dan Penawaran
Tujuan pembelajaran tingkat dasar:
Peserta didik mampu menjelaskan hukum permintaan dan penawaran.
Tujuan pembelajaran berbasis HOTS:
Peserta didik mampu menganalisis perubahan harga dan jumlah barang akibat perubahan permintaan atau penawaran pada suatu pasar serta menyusun rekomendasi bagi pelaku usaha berdasarkan hasil analisis tersebut.
Contohnya, peserta didik diberikan kasus harga cabai yang meningkat karena pasokan berkurang. Mereka tidak sekadar menyebutkan hukum penawaran, tetapi menganalisis mengapa harga meningkat, bagaimana perubahan jumlah barang yang tersedia memengaruhi pasar, dan apa strategi yang dapat dilakukan pedagang atau konsumen.
3. Materi Pajak
Tujuan pembelajaran berbasis HOTS dapat dirumuskan:
Peserta didik mampu mengevaluasi dampak kenaikan pajak terhadap perilaku konsumen dan produsen serta menyampaikan argumentasi mengenai kebijakan pajak yang dianggap paling tepat berdasarkan kondisi ekonomi masyarakat.
Dalam kegiatan pembelajaran, mahasiswa dapat memberikan data sederhana tentang kenaikan pajak suatu barang. Peserta didik kemudian diminta membandingkan dampaknya terhadap harga, permintaan, daya beli konsumen, dan pendapatan produsen, lalu mempertahankan pendapatnya berdasarkan bukti.
Hal Penting bagi Calon Guru Ekonomi
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mahasiswa perlu memperhatikan hubungan antara tujuan – aktivitas pembelajaran – asesmen. Jika tujuan menuntut peserta didik menganalisis, maka kegiatan pembelajaran harus memberikan kesempatan untuk menganalisis data atau kasus, dan asesmennya juga harus mengukur kemampuan analisis tersebut.
Dengan demikian, pembelajaran Ekonomi tidak hanya membuat peserta didik “tahu konsep”, tetapi mampu menggunakan konsep untuk membaca fenomena ekonomi, mengambil keputusan, mengevaluasi kebijakan, dan memecahkan masalah kehidupan nyata.
Latihan Singkat
Perhatikan tujuan berikut:
“Peserta didik mampu menyebutkan tiga fungsi uang.”
Ubahlah menjadi tujuan pembelajaran yang berorientasi HOTS (C4–C6) dengan menggunakan contoh fenomena ekonomi yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Contoh jawaban:
“Peserta didik mampu menganalisis perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan uang tunai dan pembayaran digital serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangannya berdasarkan aspek fungsi uang dalam kegiatan ekonomi.”
Learning outcomes merupakan rumusan kemampuan yang diharapkan dapat ditunjukkan mahasiswa/peserta didik setelah menyelesaikan suatu proses pembelajaran. Dalam tugas ini, mahasiswa sebagai calon guru Ekonomi dilatih menyusun learning outcomes yang jelas, terukur, relevan dengan kompetensi, dan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
Petunjuk Tugas
Pilih satu topik pembelajaran Ekonomi pada jenjang SMA/SMK, misalnya inflasi, permintaan dan penawaran, pasar, pajak, pengangguran, pendapatan nasional, atau kebijakan moneter.
Kemudian susun 3 learning outcomes yang menunjukkan kemampuan peserta didik pada tingkat HOTS, yaitu:
- C4 – Menganalisis: peserta didik mampu menguraikan informasi, menemukan hubungan sebab-akibat, atau menganalisis suatu fenomena ekonomi.
- C5 – Mengevaluasi: peserta didik mampu memberikan penilaian terhadap suatu kebijakan, pilihan, atau solusi berdasarkan kriteria dan bukti.
- C6 – Mencipta: peserta didik mampu menghasilkan gagasan, strategi, rekomendasi, atau solusi terhadap permasalahan ekonomi.
Contoh Topik: Inflasi
- C4: Peserta didik mampu menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok berdasarkan data ekonomi yang tersedia.
- C5: Peserta didik mampu mengevaluasi dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat dan efektivitas beberapa alternatif kebijakan pemerintah.
- C6: Peserta didik mampu merancang rekomendasi sederhana untuk membantu rumah tangga menghadapi dampak inflasi berdasarkan hasil analisis data.
Produk yang Dikumpulkan
Mahasiswa menyusun tugas dalam format berikut:
Komponen
Isi
Topik Ekonomi
Pilih satu materi
Jenjang/Kelas
Contoh: SMA Kelas XI
Learning Outcome C4
Rumusan kemampuan menganalisis
Learning Outcome C5
Rumusan kemampuan mengevaluasi
Learning Outcome C6
Rumusan kemampuan mencipta
Fenomena/Kasus Kontekstual
Contoh nyata yang relevan dengan topik
Bentuk Asesmen
Cara mengukur ketercapaian learning outcomes
Pertanyaan Refleksi
Setelah menyusun learning outcomes, mahasiswa menjawab:
“Bagaimana learning outcomes yang Anda susun dapat mendorong peserta didik tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga mampu menganalisis masalah, mengevaluasi pilihan, dan menghasilkan solusi terhadap persoalan ekonomi di kehidupan nyata?”
Tujuan Tugas
Melalui tugas ini, Anda diharapkan mampu menerjemahkan konsep HOTS ke dalam learning outcomes yang operasional dan terukur, sekaligus memastikan adanya keterkaitan antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, konteks permasalahan ekonomi, dan asesmen.
22 September - 28 September
Kurikulum dan Alur Pembelajaran
Kurikulum merupakan landasan utama dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran karena memberikan arah mengenai kompetensi yang perlu dicapai peserta didik, materi yang dipelajari, pengalaman belajar, serta asesmen yang digunakan. Sementara itu, alur pembelajaran menggambarkan urutan kegiatan dan pengalaman belajar yang disusun secara sistematis agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara bertahap dan bermakna.
Bagi calon guru Ekonomi, memahami kurikulum dan alur pembelajaran penting agar pembelajaran tidak dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi memiliki keterkaitan yang jelas antara capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi, aktivitas, dan asesmen.
Contoh Alur Pembelajaran Ekonomi
Misalnya guru akan mengajarkan topik Inflasi. Alur pembelajaran dapat dirancang sebagai berikut:
Fenomena ekonomi → Memahami konsep → Menganalisis data → Mengevaluasi dampak → Merumuskan solusi → Asesmen
- Mengamati fenomena: Peserta didik mengamati berita atau data mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Memahami konsep: Peserta didik mempelajari pengertian, penyebab, jenis, dan indikator inflasi.
- Menganalisis: Peserta didik membandingkan data perubahan harga dan menganalisis faktor yang menyebabkan inflasi.
- Mengevaluasi: Peserta didik mendiskusikan dampak inflasi terhadap rumah tangga, produsen, dan pemerintah.
- Merumuskan solusi: Peserta didik menyusun rekomendasi sederhana mengenai langkah yang dapat dilakukan masyarakat atau pemerintah dalam menghadapi inflasi.
- Asesmen: Guru menilai kemampuan peserta didik melalui analisis data, presentasi, laporan, atau tugas pemecahan masalah.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Ekonomi tidak harus dimulai dari hafalan definisi. Fenomena ekonomi yang dekat dengan kehidupan peserta didik dapat menjadi titik awal untuk membangun pemahaman konsep, menganalisis masalah, dan menghasilkan solusi.
Hal Penting bagi Calon Guru Ekonomi
Dalam menyusun alur pembelajaran, calon guru perlu memastikan bahwa setiap tahap saling berkesinambungan dan mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran. Alur yang baik juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bergerak dari kemampuan dasar menuju kemampuan berpikir yang lebih kompleks.
Dengan memahami kurikulum dan alur pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu merancang pembelajaran Ekonomi yang sistematis, kontekstual, berpusat pada peserta didik, serta selaras antara tujuan, kegiatan belajar, dan asesmen.
Tugas: Analisis Kurikulum dan Curriculum Mapping untuk Calon Guru Ekonomi
Relevansi: Tugas ini berkaitan langsung dengan materi “Kurikulum dan Alur Pembelajaran”. Mahasiswa dilatih menganalisis hubungan antara capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, materi, aktivitas pembelajaran, dan asesmen sebelum menyusun alur pembelajaran Ekonomi.
Soal/Tugas
Anda adalah calon guru Ekonomi yang akan mengajar materi Inflasi untuk kelas XI SMA.
Berdasarkan dokumen kurikulum yang berlaku di satuan pendidikan, lakukan analisis kurikulum dan curriculum mapping untuk menunjukkan bagaimana materi tersebut dapat diarahkan untuk mencapai kompetensi peserta didik.
Susun hasil analisis dalam format berikut:
Komponen
Hasil Analisis
Capaian Pembelajaran/kompetensi yang relevan
…
Tujuan Pembelajaran
…
Materi Esensial
…
Konsep/Keterampilan yang harus dikuasai
…
Aktivitas Pembelajaran
…
Asesmen
…
Alokasi Waktu
…
Keterkaitan dengan kehidupan nyata
…
Selanjutnya, buat alur pembelajaran sederhana dari awal sampai akhir dengan menunjukkan urutan:
Capaian Pembelajaran → Tujuan Pembelajaran → Materi → Aktivitas → Asesmen
29 September - 5 October
Model, Metode, dan Strategi Pembelajaran
Pada Pertemuan 7, mahasiswa akan mempelajari model, metode, dan strategi pembelajaran sebagai bagian penting dalam perencanaan pembelajaran. Ketiga komponen tersebut membantu guru menentukan bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif, sesuai dengan karakteristik peserta didik, materi, konteks pembelajaran, dan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.
Model pembelajaran merupakan kerangka atau pola pembelajaran yang sistematis, seperti Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning, dan Inquiry Learning. Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran, misalnya diskusi, ceramah, tanya jawab, studi kasus, simulasi, dan presentasi. Sementara itu, strategi pembelajaran merupakan rancangan atau pendekatan yang digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas dan sumber belajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Contoh bagi Calon Guru Pendidikan Ekonomi
Misalnya mahasiswa calon guru Ekonomi akan mengajarkan materi Inflasi pada kelas XI.
- Model: Problem Based Learning (PBL), karena peserta didik dihadapkan pada masalah nyata mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok.
- Strategi: pembelajaran berpusat pada peserta didik melalui kerja kelompok, analisis data, diskusi, dan pemecahan masalah.
- Metode: studi kasus, diskusi kelompok, analisis data, presentasi, dan tanya jawab.
- Aktivitas: peserta didik menganalisis data perubahan harga, mengidentifikasi penyebab inflasi, membahas dampaknya terhadap daya beli masyarakat, kemudian menyusun rekomendasi solusi.
Contoh lainnya pada materi Permintaan dan Penawaran dapat menggunakan Discovery Learning. Peserta didik diberikan data perubahan harga dan jumlah barang di pasar, kemudian diarahkan untuk menemukan hubungan antara harga, permintaan, dan penawaran melalui diskusi serta analisis data.
Melalui pembelajaran ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menghafal nama-nama model atau metode, tetapi mampu menentukan pilihan yang tepat berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi Ekonomi, kondisi kelas, dan sumber belajar yang tersedia.
Pada akhir Pertemuan 7, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis, memilih, dan merancang penggunaan model, metode, serta strategi pembelajaran yang relevan untuk menciptakan pembelajaran Ekonomi yang aktif, kontekstual, berpusat pada peserta didik, dan mendukung kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah.
Kasus: Menentukan Model, Metode, dan Strategi Pembelajaran Ekonomi
Situasi
Anda adalah seorang calon guru Ekonomi yang akan mengajar materi “Permintaan dan Penawaran” pada kelas X SMA yang terdiri dari 34 peserta didik. Berdasarkan pengamatan awal, Anda menemukan bahwa kemampuan peserta didik cukup beragam. Sebagian aktif menyampaikan pendapat, tetapi sebagian lainnya cenderung pasif. Peserta didik lebih antusias ketika pembelajaran menggunakan contoh dari kehidupan sehari-hari dibandingkan ketika hanya membaca buku teks.
Guru juga menemukan bahwa peserta didik sering menjumpai perubahan harga barang di lingkungan sekitar, seperti harga cabai, beras, telur, dan makanan di kantin sekolah. Namun, mereka masih kesulitan menjelaskan mengapa perubahan jumlah permintaan atau penawaran dapat memengaruhi harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan.
Pada pembelajaran sebelumnya, guru menggunakan metode ceramah dan latihan soal secara individual. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik mampu menghafalkan pengertian permintaan dan penawaran, tetapi belum mampu menerapkan konsep tersebut untuk menganalisis masalah ekonomi nyata.
Permasalahan
Sebagai calon guru Ekonomi, Anda diminta merancang pembelajaran yang dapat membuat peserta didik:
- Menghubungkan konsep permintaan dan penawaran dengan fenomena ekonomi sehari-hari.
- Menganalisis faktor yang menyebabkan perubahan harga.
- Aktif berdiskusi dan mengemukakan pendapat.
- Mampu memecahkan masalah ekonomi sederhana berdasarkan data.
Tugas Analisis
Berdasarkan kasus tersebut, tentukan:
1. Model pembelajaran yang paling tepat digunakan. Jelaskan alasan pemilihannya.
2. Metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendukung model tersebut. Jelaskan minimal dua metode.
3. Strategi pembelajaran yang akan digunakan untuk mengaktifkan peserta didik dan mengakomodasi perbedaan karakteristik mereka.
4. Rancang secara singkat alur pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan, inti, sampai penutup.
5. Jelaskan alasan mengapa pilihan model, metode, dan strategi tersebut lebih sesuai dibandingkan pembelajaran yang hanya menggunakan ceramah.
6 October - 12 October
UJIAN TENGAH SEMESTER
Terlampir soal UTS Perencanaan Pembelajaran. Silakan dikerjakan sesuai petunjuk,
Deadline unggah jawaban hari Selasa, 20 Oktober 2026 pukul
Silakan diunggah jawaban UTS Anda disini.
- This week
13 October - 19 October
Media, Sumber Belajar, dan Teknologi Digital
Media, sumber belajar, dan teknologi digital merupakan komponen penting dalam perencanaan pembelajaran karena dapat membantu guru menyampaikan materi secara lebih konkret, menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Ketiganya perlu dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi, kondisi lingkungan belajar, serta ketersediaan fasilitas.
Media pembelajaran adalah sarana yang digunakan untuk membantu menyampaikan pesan atau materi pembelajaran, seperti gambar, infografis, video, grafik, peta konsep, simulasi, dan presentasi interaktif. Sumber belajar mencakup segala sesuatu yang dapat digunakan peserta didik untuk memperoleh informasi dan pengalaman belajar, baik buku teks, artikel, data statistik, lingkungan sekitar, narasumber, maupun sumber digital. Sementara itu, teknologi digital memungkinkan guru dan peserta didik mengakses, mengolah, menyajikan, dan berbagi informasi melalui perangkat serta platform digital.
Contoh bagi Calon Guru Pendidikan Ekonomi
Misalnya guru akan mengajarkan materi Inflasi kepada peserta didik kelas XI.
- Media pembelajaran: guru menggunakan infografis yang menampilkan perubahan harga beberapa kebutuhan pokok agar peserta didik lebih mudah melihat pola kenaikan harga.
- Sumber belajar: peserta didik menggunakan buku Ekonomi, data resmi mengenai inflasi, artikel ekonomi, serta hasil pengamatan harga barang di lingkungan sekitar.
- Teknologi digital: peserta didik menggunakan spreadsheet untuk mengolah data perubahan harga dan membuat grafik sederhana, kemudian mempresentasikan hasil analisisnya secara digital.
Contoh lainnya pada materi Permintaan dan Penawaran. Guru dapat menampilkan grafik interaktif yang menunjukkan perubahan harga dan jumlah barang. Peserta didik kemudian diberikan kasus tentang kenaikan harga cabai dan diminta menganalisis perubahan permintaan atau penawaran berdasarkan data yang tersedia.
Prinsip Pemilihan Media dan Teknologi
Calon guru Ekonomi perlu memahami bahwa penggunaan teknologi bukan sekadar agar pembelajaran terlihat modern. Teknologi harus memiliki fungsi pedagogis dan membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
Misalnya, jika tujuan pembelajaran adalah “peserta didik mampu menganalisis hubungan perubahan harga dengan jumlah permintaan,” maka penggunaan grafik atau simulasi interaktif lebih tepat daripada sekadar menampilkan slide berisi definisi.
Dengan demikian, pemilihan media, sumber belajar, dan teknologi digital harus mempertimbangkan:
- Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.
- Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik.
- Kesesuaian dengan materi Ekonomi.
- Kemudahan akses dan ketersediaan fasilitas.
- Keakuratan dan kredibilitas sumber informasi.
- Kemampuan teknologi dalam meningkatkan aktivitas dan pemahaman peserta didik.
Melalui Pertemuan 9, mahasiswa diharapkan mampu memilih dan merancang penggunaan media, sumber belajar, serta teknologi digital yang relevan untuk pembelajaran Ekonomi, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, interaktif, kritis, dan bermakna bagi peserta didik.
Pada workshop ini, mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi akan mempraktikkan kemampuan dalam merancang media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, materi Ekonomi, serta perkembangan teknologi digital. Media yang dirancang diharapkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki fungsi pedagogis dan mampu membantu peserta didik memahami konsep atau memecahkan masalah ekonomi.
Tujuan Workshop
Setelah mengikuti aktivitas ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menentukan materi Ekonomi yang membutuhkan dukungan media pembelajaran.
- Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai melalui media.
- Memilih jenis media yang sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik.
- Mendesain media pembelajaran Ekonomi yang kontekstual, interaktif, dan mudah digunakan.
- Menjelaskan keterkaitan antara media yang dirancang dengan aktivitas dan asesmen pembelajaran.
Langkah-Langkah Workshop
Tahap 1 – Menentukan Topik
Pilih satu materi Ekonomi pada jenjang SMA/SMK, misalnya:
- Permintaan dan penawaran
- Inflasi
- Pajak
- Pengangguran
- Pendapatan nasional
- Pasar modal
- Kebijakan moneter
- Perdagangan internasional
Tahap 2 – Menentukan Tujuan Pembelajaran
Rumuskan minimal 1 tujuan pembelajaran yang akan dicapai melalui media tersebut. Usahakan tujuan mendorong kemampuan berpikir kritis atau HOTS.
Tahap 3 – Menentukan Media
Pilih media yang paling sesuai, misalnya:
- Infografis
- Video pembelajaran
- E-modul
- Presentasi interaktif
- Simulasi ekonomi
- Komik digital
- Poster digital
- Kuis interaktif
- Media berbasis AI
Tahap 4 – Mendesain Media
Buat rancangan media dengan memperhatikan:
- Kejelasan tujuan pembelajaran.
- Ketepatan dan kredibilitas informasi ekonomi.
- Bahasa yang mudah dipahami peserta didik.
- Tampilan yang menarik tetapi tidak berlebihan.
- Contoh atau kasus yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
- Adanya aktivitas yang mendorong peserta didik berpikir atau berinteraksi.
Contoh:
Untuk materi Inflasi, mahasiswa dapat membuat infografis interaktif “Mengapa Harga Naik?” yang menampilkan data perubahan harga kebutuhan pokok, penyebab inflasi, dampaknya terhadap daya beli, dan pertanyaan analitis yang harus dijawab peserta didik.
Tahap 5 – Uji dan Presentasi
Setelah media selesai, lakukan uji coba sederhana kepada teman sejawat. Mintalah masukan mengenai kejelasan materi, tampilan, kemudahan penggunaan, dan manfaat media untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Selanjutnya, presentasikan hasil desain media di kelas dengan menjelaskan:
- Materi dan tujuan pembelajaran.
- Alasan memilih jenis media.
- Cara penggunaan media dalam pembelajaran.
- Aktivitas peserta didik ketika menggunakan media.
- Bentuk asesmen yang digunakan.
- Kelebihan dan keterbatasan media.
Produk Workshop
Setiap mahasiswa/kelompok mengumpulkan:
1. Produk media pembelajaran Ekonomi.
2. Deskripsi singkat media (1–2 halaman).
3. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
4. Petunjuk penggunaan media.
5. Rencana aktivitas peserta didik.
6. Bentuk asesmen yang terkait dengan penggunaan media.Refleksi
Setelah workshop, tuliskan refleksi singkat:
“Bagaimana media yang saya desain dapat membantu peserta didik memahami konsep Ekonomi secara lebih konkret dan mendorong mereka untuk berpikir kritis serta menghubungkan materi dengan kehidupan nyata?”
Catatan: Media yang baik bukanlah media yang paling canggih, tetapi media yang paling tepat guna, sesuai tujuan pembelajaran, mudah diakses, dan mampu meningkatkan kualitas pengalaman belajar peserta didik.
20 October - 26 October
Asesmen Diagnostik, Formatif, dan Sumatif
Asesmen merupakan bagian penting dalam perencanaan pembelajaran karena membantu guru mengetahui kesiapan, perkembangan, dan ketercapaian belajar peserta didik. Asesmen tidak hanya digunakan untuk memberikan nilai, tetapi juga menjadi dasar bagi guru dalam mengambil keputusan dan memperbaiki proses pembelajaran.
Terdapat tiga bentuk asesmen yang penting dipahami calon guru Ekonomi, yaitu:
1. Asesmen Diagnostik
Dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal, pemahaman, kesulitan, minat, atau kebutuhan belajar peserta didik.
Contoh: Sebelum mengajarkan materi Permintaan dan Penawaran, guru memberikan beberapa pertanyaan sederhana tentang pengalaman peserta didik ketika harga suatu barang naik atau turun. Dari hasilnya, guru mengetahui bahwa sebagian peserta didik sudah memahami hubungan harga dan permintaan, sedangkan sebagian lainnya belum. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan strategi pembelajaran.
2. Asesmen Formatif
Dilakukan selama proses pembelajaran untuk memantau perkembangan pemahaman peserta didik dan memberikan umpan balik. Hasil asesmen formatif dapat digunakan guru untuk memperbaiki pembelajaran sebelum melanjutkan ke materi berikutnya.
Contoh: Saat membahas Inflasi, guru memberikan studi kasus singkat: “Harga beras meningkat sementara pendapatan keluarga tetap. Bagaimana kondisi tersebut memengaruhi daya beli?” Jawaban peserta didik digunakan guru untuk mengetahui apakah konsep inflasi dan daya beli sudah dipahami. Jika masih banyak kesalahan, guru memberikan penjelasan atau aktivitas tambahan.
3. Asesmen Sumatif
Dilakukan pada akhir suatu periode pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah ditetapkan.
Contoh: Setelah menyelesaikan materi Inflasi, peserta didik mengerjakan tugas analisis data mengenai perubahan harga kebutuhan pokok dan menyusun kesimpulan tentang dampaknya terhadap masyarakat. Hasilnya digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi pada akhir unit pembelajaran.
Perbedaan Utama
Jenis Asesmen
Waktu
Tujuan Utama
Contoh dalam Ekonomi
Diagnostik
Sebelum pembelajaran
Mengetahui kemampuan dan kebutuhan awal
Pertanyaan tentang pengalaman perubahan harga
Formatif
Selama pembelajaran
Memantau dan memperbaiki proses belajar
Studi kasus dan kuis singkat
Sumatif
Akhir pembelajaran
Menilai ketercapaian kompetensi
Ujian, proyek, atau analisis kasus
Hal Penting bagi Calon Guru Ekonomi
Ketiga asesmen tersebut saling melengkapi. Asesmen diagnostik membantu guru mengetahui “dari mana peserta didik mulai belajar”, asesmen formatif membantu mengetahui “bagaimana perkembangan belajar mereka”, sedangkan asesmen sumatif membantu mengetahui “sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai”.
Dengan demikian, asesmen sebaiknya dirancang sejak awal dan selaras dengan tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan karakteristik peserta didik, bukan sekadar dilakukan untuk memberikan nilai.
Tugas: Menganalisis Kasus Asesmen Pembelajaran Ekonomi
Relevansi: Tugas ini dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa calon guru Ekonomi tentang asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta kemampuan memilih asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Kasus: “Nilai Tinggi, Pemahaman Rendah”
Seorang guru Ekonomi kelas XI mengajarkan materi Inflasi. Sebelum pembelajaran dimulai, guru langsung memberikan materi melalui ceramah tanpa melakukan asesmen untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik.
Selama pembelajaran, guru lebih banyak menjelaskan materi dan meminta peserta didik mencatat. Sesekali guru memberikan pertanyaan, tetapi hanya kepada beberapa peserta didik yang aktif. Ketika sebagian peserta didik terlihat kesulitan memahami hubungan antara inflasi, kenaikan harga, dan daya beli masyarakat, guru tetap melanjutkan materi karena mengejar target pembelajaran.
Pada akhir pembelajaran, guru memberikan tes pilihan ganda sebanyak 30 soal. Sebagian besar peserta didik memperoleh nilai di atas 80. Namun, ketika diberikan kasus nyata:
“Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara pendapatan keluarga tidak mengalami peningkatan. Analisislah dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan berikan alternatif solusi yang dapat dilakukan rumah tangga.”
sebagian besar peserta didik kesulitan memberikan jawaban yang logis dan berdasarkan konsep ekonomi.
Guru kemudian menyimpulkan bahwa peserta didik telah menguasai materi karena memperoleh nilai tes yang tinggi.
Pertanyaan/Tugas Mahasiswa
Berdasarkan kasus tersebut, analisislah permasalahan asesmen yang dilakukan guru dengan menjawab pertanyaan berikut:
- Identifikasi kelemahan asesmen yang dilakukan guru pada tahap sebelum, selama, dan setelah pembelajaran.
- Tentukan asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif yang seharusnya digunakan dalam kasus tersebut.
- Jelaskan mengapa nilai tes yang tinggi belum tentu menunjukkan bahwa peserta didik telah memahami konsep inflasi secara mendalam.
- Rancang satu contoh instrumen asesmen untuk masing-masing jenis asesmen:
- Diagnostik
- Formatif
- Sumatif
- Jelaskan bagaimana hasil ketiga asesmen tersebut dapat digunakan guru untuk memperbaiki proses pembelajaran Ekonomi.
Produk yang Dikumpulkan
Mahasiswa menyusun jawaban dalam bentuk analisis 2–3 halaman yang memuat:
- Identifikasi masalah asesmen.
- Analisis diagnostik, formatif, dan sumatif.
- Contoh instrumen masing-masing asesmen.
- Alasan pemilihan instrumen.
- Rekomendasi perbaikan asesmen.
- Kesimpulan.
Tujuan Pembelajaran Tugas
Melalui tugas ini, mahasiswa diharapkan mampu:
menganalisis kelemahan praktik asesmen, membedakan fungsi asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta merancang asesmen yang mampu mengukur pemahaman konseptual dan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik dalam pembelajaran Ekonomi.
Pertanyaan Reflektif
Sebagai calon guru Ekonomi, apakah nilai ujian yang tinggi sudah cukup untuk menyatakan bahwa peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran? Jelaskan dengan argumentasi yang didukung oleh kasus.
27 October - 2 November
Rubrik dan Asesmen Autentik
Rubrik dan asesmen autentik merupakan bagian penting dalam perencanaan pembelajaran karena membantu guru menilai kemampuan peserta didik secara lebih objektif, transparan, dan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Asesmen tidak hanya mengukur kemampuan mengingat materi, tetapi juga dapat menilai kemampuan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan, menganalisis masalah, menghasilkan produk, berkomunikasi, dan memecahkan persoalan nyata.
Rubrik penilaian adalah pedoman yang berisi kriteria dan tingkat pencapaian yang digunakan untuk menilai kualitas suatu tugas atau kinerja peserta didik. Rubrik membantu guru memberikan penilaian yang konsisten sekaligus memberikan informasi kepada peserta didik mengenai aspek yang harus diperbaiki.
Contoh rubrik sederhana pembelajaran Ekonomi:
Peserta didik mendapat tugas menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat dan mempresentasikan hasilnya.
Aspek
Sangat Baik (4)
Baik (3)
Cukup (2)
Perlu Perbaikan (1)
Analisis ekonomi
Analisis sangat tepat dan didukung data
Analisis tepat dengan sedikit kekurangan
Analisis masih terbatas
Tidak menunjukkan analisis
Penggunaan data
Data relevan dan digunakan secara tepat
Data relevan tetapi belum optimal
Data terbatas
Tidak menggunakan data
Solusi
Solusi logis, kreatif, dan relevan
Solusi relevan
Solusi kurang jelas
Tidak memberikan solusi
Presentasi
Sangat jelas, sistematis, dan meyakinkan
Jelas dan cukup sistematis
Kurang sistematis
Sulit dipahami
Asesmen autentik merupakan penilaian yang meminta peserta didik menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi atau permasalahan yang menyerupai kehidupan nyata. Bentuknya dapat berupa proyek, studi kasus, portofolio, presentasi, simulasi, investigasi, atau produk.
Contoh bagi calon guru Ekonomi: daripada hanya meminta peserta didik menghafalkan pengertian inflasi, guru memberikan tugas:
“Analisislah perubahan harga tiga kebutuhan pokok di lingkungan sekitar selama beberapa periode. Jelaskan kemungkinan penyebabnya, dampaknya terhadap daya beli keluarga, kemudian buat rekomendasi strategi yang dapat dilakukan rumah tangga.”
Tugas tersebut bersifat autentik karena peserta didik menggunakan data dan pengalaman nyata, menganalisis permasalahan ekonomi, serta menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan.
Hal Penting bagi Calon Guru Ekonomi
Rubrik dan asesmen autentik sebaiknya dirancang selaras dengan tujuan pembelajaran. Jika tujuan pembelajaran menuntut peserta didik mampu menganalisis dan memecahkan masalah ekonomi, maka asesmen harus memberikan kesempatan untuk melakukan analisis dan pemecahan masalah, bukan hanya mengerjakan soal hafalan.
Melalui Pertemuan 11, Anda diharapkan mampu merancang asesmen autentik dan rubrik penilaian yang jelas, objektif, terukur, dan relevan dengan pembelajaran Ekonomi, sehingga penilaian dapat menggambarkan kemampuan peserta didik secara lebih utuh.
Petunjuk Workshop: Membuat Rubrik Penilaian Mata Pelajaran Ekonomi
Mata Kuliah: Perencanaan Pembelajaran
Sasaran: Mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi
Topik: Rubrik Penilaian dan Asesmen AutentikA. Tujuan Workshop
Melalui workshop ini, mahasiswa diharapkan mampu merancang rubrik penilaian yang objektif, terukur, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran Ekonomi, khususnya untuk menilai kemampuan berpikir kritis, analisis, komunikasi, dan pemecahan masalah.
B. Tugas Workshop
Pilih satu materi Ekonomi pada jenjang SMA/SMK, kemudian buat sebuah asesmen autentik dan rubrik penilaiannya.
Pilihan materi dapat berupa:
- Permintaan dan penawaran
- Inflasi
- Pajak
- Pengangguran
- Pendapatan nasional
- Kebijakan moneter
- Perdagangan internasional
- Pasar modal
- Kewirausahaan
C. Langkah-Langkah Pengerjaan
1. Tentukan tujuan pembelajaran
Rumuskan minimal 1 tujuan pembelajaran yang akan diukur melalui tugas.
Contoh:
Peserta didik mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data ekonomi dan menyusun rekomendasi solusi yang relevan.
2. Tentukan bentuk asesmen autentik
Pilih salah satu:
- Studi kasus
- Proyek
- Presentasi
- Investigasi sederhana
- Portofolio
- Simulasi
- Produk/karya
- Analisis data ekonomi
3. Buat tugas untuk peserta didik
Contoh:
“Analisis perubahan harga tiga kebutuhan pokok dalam beberapa periode. Identifikasi faktor yang mungkin menyebabkan perubahan tersebut, jelaskan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, dan susun rekomendasi yang dapat dilakukan rumah tangga.”
4. Tentukan aspek yang dinilai
Minimal 4 aspek, misalnya:
- Ketepatan konsep ekonomi
- Kemampuan menganalisis data
- Kualitas argumentasi
- Pemecahan masalah/solusi
- Kreativitas
- Komunikasi/presentasi
5. Buat rubrik analitik
Gunakan skala 1–4, dengan deskripsi yang jelas untuk setiap tingkat pencapaian.
D. Contoh Rubrik
Aspek
4 – Sangat Baik
3 – Baik
2 – Cukup
1 – Perlu Perbaikan
Konsep Ekonomi
Konsep sangat tepat dan digunakan secara mendalam
Konsep tepat dengan sedikit kekurangan
Terdapat beberapa kesalahan konsep
Konsep tidak tepat
Analisis Data
Data relevan, akurat, dan dianalisis secara mendalam
Data relevan dan analisis cukup tepat
Analisis masih terbatas
Tidak mampu menganalisis data
Argumentasi
Argumentasi logis, kritis, dan didukung bukti
Argumentasi logis dan cukup didukung bukti
Argumentasi kurang kuat
Tidak memberikan argumentasi yang jelas
Solusi
Solusi sangat relevan, realistis, dan kreatif
Solusi relevan dan realistis
Solusi kurang tepat
Tidak memberikan solusi
Presentasi
Sangat sistematis, komunikatif, dan meyakinkan
Jelas dan sistematis
Kurang sistematis
Tidak mampu menyampaikan hasil dengan baik
E. Perhitungan Nilai
Jika terdapat 5 aspek dan setiap aspek memiliki skor maksimal 4:
Skor maksimal = 5 × 4 = 20
Nilai akhir dapat dihitung:
Nilai = (Skor yang diperoleh ÷ 20) × 100
Contoh: kelompok memperoleh skor 17.
Nilai = (17 ÷ 20) × 100 = 85
F. Produk yang Dikumpulkan
Setiap mahasiswa/kelompok mengumpulkan:
- Materi Ekonomi dan jenjang/kelas.
- Tujuan pembelajaran.
- Bentuk asesmen autentik.
- Instruksi tugas untuk peserta didik.
- Minimal 4 aspek/kriteria penilaian.
- Rubrik skala 1–4.
- Cara menghitung nilai.
- Penjelasan singkat alasan memilih kriteria tersebut.
G. Aktivitas Peer Review
Setelah rubrik selesai, tukarkan hasil kerja dengan kelompok lain. Berikan penilaian terhadap rubrik teman dengan tiga pertanyaan:
- Apakah kriteria penilaian sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran?
- Apakah deskripsi skor 1–4 sudah jelas dan dapat membedakan kualitas kinerja peserta didik?
- Apakah rubrik tersebut dapat digunakan guru secara objektif?
Mahasiswa kemudian merevisi rubrik berdasarkan hasil masukan (peer review).
Refleksi Workshop
Tuliskan refleksi singkat:
“Apa tantangan terbesar dalam membuat rubrik penilaian Ekonomi dan bagaimana rubrik dapat membantu guru memberikan penilaian yang lebih objektif serta memberikan umpan balik yang bermakna kepada peserta didik?”
3 November - 9 November
Perancangan Team-Based Project
10 November - 16 November
Pengembangan perangkat pembelajaran
17 November - 23 November
Peer review dan revisi
24 November - 30 November
Presentasi dan uji produk
1 December - 7 December
UJIAN AKHIR SEMESTER DAN REFLEKSI