PERTEMUAN 2 OBE, CPL, CPMK, Sub-CPMK, dan Constructive Alignment
OBE, CPL, CPMK, Sub-CPMK, dan Constructive Alignment
Pengantar
Pada pertemuan sebelumnya, kita telah memahami bahwa perencanaan pembelajaran merupakan proses merancang pengalaman belajar agar peserta didik mencapai tujuan yang diharapkan.
Pada pertemuan kedua, kita akan melangkah lebih jauh dengan memahami satu pertanyaan penting:
“Apa yang sebenarnya harus mampu dilakukan mahasiswa setelah mengikuti suatu proses pembelajaran?”
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pendekatan Outcome-Based Education (OBE).
1. Apa itu Outcome-Based Education (OBE)?
Outcome-Based Education (OBE) adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian pembelajaran (learning outcomes) sebagai titik awal dalam merancang pembelajaran.
Dalam pendekatan tradisional, kita sering berpikir:
Materinya apa → bagaimana mengajarkannya → kemudian bagaimana mengujinya?
Dalam OBE, cara berpikirnya dibalik:
Mahasiswa harus mampu melakukan apa → pengalaman belajar apa yang diperlukan → bagaimana mengukur ketercapaiannya?
Dengan demikian, OBE tidak hanya bertanya:
“Apa yang sudah diajarkan?”
tetapi lebih penting:
“Apa yang benar-benar mampu dilakukan mahasiswa setelah belajar?”
Contoh dalam Pendidikan Ekonomi
Jangan hanya menetapkan:
“Mahasiswa memahami konsep inflasi.”
Tetapi rumuskan capaian yang dapat diamati:
“Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data ekonomi.”
Perbedaannya penting.
Pada rumusan pertama, fokusnya adalah materi yang dipelajari.
Pada rumusan kedua, fokusnya adalah kemampuan yang dapat ditunjukkan mahasiswa.
2. CPL – Capaian Pembelajaran Lulusan
CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan) adalah kemampuan yang diharapkan dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan seluruh program studi.
CPL bersifat luas dan menggambarkan kompetensi lulusan.
CPL biasanya mencakup aspek:
- sikap;
- pengetahuan;
- keterampilan umum;
- keterampilan khusus.
Contoh sederhana CPL Pendidikan Ekonomi
Misalnya salah satu CPL program studi adalah:
“Mampu merancang, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan pembelajaran ekonomi yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.”
CPL tersebut tidak mungkin dicapai hanya melalui satu mata kuliah.
Karena itu, CPL kemudian diturunkan menjadi capaian yang lebih spesifik pada setiap mata kuliah.
3. CPMK – Capaian Pembelajaran Mata Kuliah
CPMK (Capaian Pembelajaran Mata Kuliah) adalah kemampuan yang harus dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan suatu mata kuliah.
Jika CPL menggambarkan kemampuan lulusan, maka CPMK menggambarkan kontribusi satu mata kuliah terhadap pencapaian CPL.
Contoh
CPL:
Mahasiswa mampu merancang pembelajaran ekonomi yang inovatif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Kemudian pada Mata Kuliah Perencanaan Pembelajaran, CPL tersebut dapat diturunkan menjadi CPMK:
CPMK: Mahasiswa mampu merancang perangkat pembelajaran ekonomi yang sistematis, kontekstual, inovatif, dan selaras dengan capaian pembelajaran.
Jadi:
CPL = tujuan besar lulusan
CPMK = kontribusi mata kuliah terhadap tujuan tersebut
4. Sub-CPMK
Jika CPMK masih relatif luas, maka CPMK perlu dijabarkan menjadi kemampuan yang lebih spesifik dan terukur yang disebut Sub-CPMK.
Sub-CPMK menggambarkan kemampuan yang harus dicapai mahasiswa pada bagian atau tahapan tertentu dalam suatu mata kuliah.
Contoh
CPMK:
Mahasiswa mampu merancang perangkat pembelajaran ekonomi yang sistematis, kontekstual, inovatif, dan selaras dengan capaian pembelajaran.
Dapat diturunkan menjadi:
Sub-CPMK 1:
Mahasiswa mampu menganalisis karakteristik dan kebutuhan peserta didik sebagai
dasar perencanaan pembelajaran.
Sub-CPMK 2:
Mahasiswa mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi menggunakan kata kerja
operasional yang terukur.
Sub-CPMK 3:
Mahasiswa mampu memilih model dan metode pembelajaran sesuai karakteristik
materi dan peserta didik.
Sub-CPMK 4:
Mahasiswa mampu merancang asesmen yang selaras dengan tujuan pembelajaran.
Sub-CPMK 5:
Mahasiswa mampu menghasilkan perangkat pembelajaran ekonomi secara kolaboratif.
Dengan demikian, hubungan sederhananya adalah:
CPL → CPMK → Sub-CPMK
5. Perbedaan CPL, CPMK, dan Sub-CPMK
|
Aspek |
CPL |
CPMK |
Sub-CPMK |
|
Lingkup |
Program studi |
Mata kuliah |
Bagian/tahapan mata kuliah |
|
Fokus |
Kompetensi lulusan |
Kompetensi dari suatu mata kuliah |
Kemampuan spesifik |
|
Waktu pencapaian |
Akhir studi |
Akhir mata kuliah |
Pertemuan/tahapan tertentu |
|
Sifat |
Umum dan luas |
Lebih spesifik |
Sangat spesifik dan terukur |
|
Contoh |
Mampu merancang pembelajaran |
Mampu merancang pembelajaran ekonomi |
Mampu merumuskan tujuan pembelajaran |
Cara mudah mengingat:
CPL = “Saya ingin menjadi guru seperti apa?”
CPMK = “Apa kontribusi mata kuliah ini untuk menjadi guru tersebut?”
Sub-CPMK = “Kemampuan apa yang harus saya kuasai tahap demi tahap?”
6. Apa itu Constructive Alignment?
Setelah memahami OBE, CPL, CPMK, dan Sub-CPMK, kita perlu memahami konsep penting berikutnya, yaitu:
Constructive Alignment
Secara sederhana, constructive alignment adalah keselarasan antara capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran, dan asesmen.
Artinya:
Apa yang ingin dicapai harus selaras dengan apa yang dilakukan mahasiswa dalam proses belajar dan bagaimana pencapaiannya dinilai.
Tiga unsur utama:
Learning Outcomes
Apa yang harus mampu dilakukan mahasiswa?
↓
Learning Activities
Aktivitas apa yang membuat mahasiswa mampu mencapainya?
↓
Assessment
Bagaimana kita membuktikan bahwa mahasiswa telah mencapainya?
7. Contoh Constructive Alignment dalam Pendidikan Ekonomi
Misalnya tujuan pembelajaran:
Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat berdasarkan data ekonomi.
Maka aktivitas pembelajarannya harus mendukung kemampuan menganalisis.
Mahasiswa dapat:
- membaca data inflasi;
- menginterpretasikan grafik;
- menganalisis berita ekonomi;
- berdiskusi dalam kelompok;
- memecahkan kasus;
- menyusun argumentasi berdasarkan bukti.
Kemudian asesmennya juga harus mengukur kemampuan menganalisis, bukan sekadar menghafal.
Contohnya:
“Berdasarkan data inflasi Indonesia tahun tertentu, analisislah dampaknya terhadap daya beli rumah tangga dan berikan rekomendasi yang dapat dilakukan pemerintah.”
Yang tidak aligned:
Tujuan: menganalisis inflasi.
Aktivitas: mahasiswa hanya mendengarkan ceramah.
Asesmen: “Apa pengertian inflasi?”
Ini menunjukkan ketidaksesuaian (misalignment).
8. Contoh Alignment yang Baik
|
Komponen |
Contoh |
|
Sub-CPMK |
Mahasiswa mampu menganalisis dampak inflasi |
|
Materi |
Konsep, penyebab, dan dampak inflasi |
|
Aktivitas |
Analisis data dan Case Method |
|
Media |
Data/grafik inflasi dan berita ekonomi |
|
Produk |
Analisis kasus |
|
Asesmen |
Case analysis |
|
Kriteria |
Ketepatan analisis, penggunaan bukti, argumentasi, rekomendasi |
Semuanya mengarah pada kemampuan yang sama:
ANALISIS
Inilah inti constructive alignment.
9. Hubungan OBE dan Constructive Alignment
OBE menjawab:
“Outcome apa yang harus dicapai?”
Constructive alignment menjawab:
“Bagaimana pembelajaran dan asesmen harus dirancang agar outcome tersebut benar-benar tercapai?”
Hubungannya dapat digambarkan:
OBE
⬇️
CPL
⬇️
CPMK
⬇️
Sub-CPMK
⬇️
Aktivitas Pembelajaran
⬇️
Asesmen
⬇️
Feedback & Reflection
⬇️
Ketercapaian Learning Outcomes
10. Mengapa Penting bagi Calon Guru Ekonomi?
Sebagai calon guru ekonomi, Saudara nantinya akan membuat berbagai keputusan pembelajaran.
Misalnya ketika mengajarkan:
- inflasi;
- pengangguran;
- pasar;
- pertumbuhan ekonomi;
- kebijakan fiskal;
- kebijakan moneter;
- perpajakan;
- kewirausahaan;
- ekonomi digital.
Saudara harus mampu menjawab tiga pertanyaan:
1️⃣ Apa yang harus dapat dilakukan peserta didik?
→ Learning Outcome
2️⃣ Pengalaman belajar apa yang dapat membuat mereka mampu melakukannya?
→ Learning Activities
3️⃣ Bagaimana saya mengetahui bahwa mereka benar-benar telah mampu melakukannya?
→ Assessment
Jika ketiga pertanyaan tersebut dapat dijawab secara konsisten, maka Saudara telah mulai berpikir sebagai perancang pembelajaran (instructional designer).
Contoh Utuh
Misalnya:
CPL
Mampu merancang pembelajaran ekonomi yang inovatif dan kontekstual.
⬇️
CPMK
Mampu merancang pembelajaran ekonomi berbasis masalah dan data.
⬇️
Sub-CPMK
Mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi yang mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
⬇️
Aktivitas
Mahasiswa menganalisis kasus kenaikan harga bahan pokok dan merumuskan tujuan pembelajaran.
⬇️
Asesmen
Mahasiswa dinilai berdasarkan ketepatan merumuskan tujuan, tingkat kognitif, keterukuran, dan kesesuaiannya dengan kasus.
⬇️
Outcome
Mahasiswa mampu merumuskan tujuan pembelajaran ekonomi yang terukur, relevan, dan berorientasi HOTS.
Pesan Penting untuk Mahasiswa
Jangan melihat CPL, CPMK, dan Sub-CPMK hanya sebagai istilah administratif dalam RPS.
Ketiganya merupakan peta kompetensi yang membantu kita mengetahui arah pembelajaran.
Begitu pula OBE bukan sekadar mengganti istilah “tujuan pembelajaran” menjadi “learning outcomes”.
OBE mengubah cara kita berpikir:
Bukan “Apa yang sudah saya ajarkan?”
tetapi:
“Apa yang sudah mampu dilakukan oleh mahasiswa/peserta didik setelah belajar?”
Dan constructive alignment memastikan bahwa tujuan, aktivitas pembelajaran, dan asesmen berjalan menuju tujuan yang sama.
Pertanyaan Reflektif
Bayangkan Saudara menjadi guru ekonomi dan akan mengajarkan materi “Kebijakan Moneter”.
Coba jawab:
Apa yang ingin peserta didik mampu lakukan setelah pembelajaran?
Aktivitas apa yang akan Saudara berikan agar kemampuan tersebut berkembang?
Asesmen apa yang dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar telah mencapainya?
Jika Saudara mampu menjawab ketiga pertanyaan tersebut secara selaras, berarti Saudara telah mulai menerapkan prinsip OBE dan constructive alignment dalam perencanaan pembelajaran.
Selamat berdiskusi dan selamat belajar menjadi calon guru ekonomi yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna.