Weekly outline
General
Assalamu'alaikum,wr.wb.
Salam pembelajar, selamat datang di perkuliahan daring Ekonomi Pendidikan. Mata kuliah ini mempelajari berbagai konsep dasar dan ruang lingkup ekonomi pendidikan, human capital, human investment, biaya dan pembiayaan pendidikan, benefit pendidikan, dan analisa cost-benefit pendidikan.

Dr. Pujiati, S.Pd., M.Pd. Meyta pritandari, S.Pd., M.Pd. Fanni Rahmawati, S.Pd., M.Pd.
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu menganalisis aspek-aspek ekonomi dalam pendidikan, seperti konsep human capital, manfaat dan keuntungan pendidikan, permintaan dan penawaran pendidikan serta pembiayaan pendidikan, yang sangat berguna dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan baik formal maupun nonformal.
Perkuliahan ini menerapkan pendekatan saintific. Problem Based Learning, Project based Learning dan Discovery model menjadi pilihan dalam menumbuhkembangkan proses belajar dan pembelajaran. Berbagai metode belajar (deskripsi singkat, diskusi, penugasan individual dan kelompok serta presentasi tugas) diterapkan guna mengaktifkan mahasiswa. Sebagai contoh dosen akan memberikan deskripsi singkat pada awal-awal pertemuan untuk memberi latar belakang dan kerangka berpikir mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan dan penugasan. Partisipasi aktif mahasiswa lebih diutamakan seperti kemampuan mahasiswa dalam memahami, membahas dan menyelesaikan tugas-tugas baik secara individual dan kelompok untuk kemudian menyelesaikannya di kelas sehingga pembelajaran lebih bermakna dan menarik.
Daftar kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa yaitu:
- Mempelajari bahan kajian secara mandiri, kemudian membuat catatan pembahasan yang nantinya akan berguna bagi mahasiswa dalam mengerjakan tugas makalah individu.
- Secara aktif Berdiskusi/brainstorming bersama kelompok dan dosen.
- Menyelesaikan anotasi tentang ekonomi pendidikan dengan memanfaatkan ragam sumber pembelajaran minimal 20 referensi yakni dari buku, e-book dan jurnal ilmiah serta e-journal hasil penelitian terkait dengan ekonomi pendidikan.
- Menyelesaikan makalah individual dan kelompok yang temanya telah dipilih sebelumnya terkait dengan ekonomi pendidikan dikaji dengan berbagai pendekatan dengan analisis yang komprehensif dan tepat waktu.
- Mempresentasikan makalah yang telah disusun dengan memanfaatkan media berbasis ICT.
Nilai akhir akan menggunakan pembobotan sebagai berikut:
Kuis 5%
UTS 15%
UAS 20%
Tugas 10%
Aktivitas dan partisipatif 15%
Produk 35%
Kriteria acuan penilaian tugas individual dan kelompok meliputi:
· Sistematika 10%
· Ketepatan isi 20%
· Relevansi 20%
· Relevansi dan kebaharuan 20%
· Originalitas 20%
Kriteria penilaian
Penilaian dilakukan oleh dosen dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
Nilai Range Status Penilaian
A ≥ 76 Lulus
B+ 71 <76 Lulus
B 66 <71 Lulus
C+ 61 <66 Lulus
C 56 <61 Lulus
D 50- <56 Lulus Bersyarat
E <50 Tidak Lulus
Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Ekonomi Pendidikan
Silakan dipelajari kontrak kuliah berikut ini.

Mari kita simak video berikut.
Link Youtube:
9 February - 15 February
Salam pembelajar,
Pada pertemuan kali ini kita akan mempelajari tentang Konsep dasar ekonomi pendidikan: sejarah ekonomi pendidikan, konsep ekonomi pendidikan, dan persoalan pokok ekonomi pendidikan. Apakah kalian ada yang sudah mengetahui tentang bahan kajian kita tersebut? silakan direspon di kolom komentar ya...
Good, mari kita bahas bersama ya...
Sejarah Ekonomi Pendidikan
A. Lahirnya Ekonomi Pendidikan
Ekonomi Pendidikan berkembang pesat sejak tahun 1950–1960-an, terutama setelah munculnya teori Human Capital.
Tokoh penting:
- Theodore W. Schultz
- Gary S. Becker
Mereka berargumen bahwa pendidikan adalah investasi, bukan sekadar konsumsi sosial.
Latar Historis
Setelah Perang Dunia II:
- Negara-negara Eropa dan Amerika mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi.
- Para ekonom bertanya: Mengapa pertumbuhan ekonomi lebih cepat dari pertumbuhan modal fisik?
Jawabannya: modal manusia (human capital).
Schultz (1961) menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan tenaga kerja di Amerika Serikat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
B. Bukti Empirik Awal
Penelitian Becker menunjukkan bahwa:
- Setiap tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan pendapatan individu rata-rata 7–10% (rate of return to education).
- Pendidikan tinggi memberikan private return lebih besar dibanding pendidikan dasar.
Data global modern (World Bank & OECD) menunjukkan:
- Rata-rata return pendidikan global ≈ 9% per tahun sekolah.
- Negara berkembang sering memiliki return lebih tinggi dibanding negara maju.
Artinya: secara ekonomi, sekolah adalah investasi produktif.
Konsep Dasar Ekonomi Pendidikan
Ekonomi Pendidikan adalah cabang ilmu ekonomi yang menganalisis:
Bagaimana sumber daya pendidikan dialokasikan, dibiayai, dan berdampak terhadap individu dan masyarakat.
Secara umum ada tiga dimensi utama:
A. Pendidikan sebagai Investasi (Human Capital Theory)
Konsep ini menyatakan:
Pendidikan meningkatkan produktivitas → meningkatkan pendapatan → mendorong pertumbuhan ekonomi.
Contoh Kontekstual Indonesia:
- Rata-rata upah lulusan SMA lebih tinggi dibanding lulusan SMP.
- Lulusan perguruan tinggi memiliki tingkat pengangguran lebih rendah dibanding lulusan SD.
BPS menunjukkan:
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi sering terjadi pada pendidikan rendah.
- Rata-rata upah meningkat seiring jenjang pendidikan.
B. Pendidikan sebagai Konsumsi
Sebagian ekonom melihat pendidikan juga sebagai:
- Konsumsi sosial
- Hak asasi manusia
- Sarana pembentukan karakter & kewarganegaraan
Pendekatan ini dipengaruhi oleh perspektif kesejahteraan sosial dan pembangunan manusia seperti yang dikembangkan oleh:
- Amartya Sen
Menurut Sen, pendidikan bukan hanya untuk pendapatan, tetapi untuk memperluas capabilities (kemampuan hidup bermakna).
C. Pendidikan sebagai Sinyal (Signaling Theory)
Tokoh penting:
- Michael Spence
Teori ini menyatakan:
Pendidikan tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi menjadi sinyal kemampuan bagi pasar kerja.
Contoh:
- Gelar sarjana menjadi “tanda” bahwa seseorang disiplin, cerdas, dan mampu menyelesaikan tugas jangka panjang.
- Perusahaan menggunakan ijazah sebagai alat seleksi.
Persoalan Pokok Ekonomi Pendidikan
Dalam analisis ekonomi, selalu ada tiga pertanyaan dasar:
- Apa yang diproduksi?
- Bagaimana diproduksi?
- Untuk siapa diproduksi?
Mari kita terapkan dalam pendidikan.
A. Apa yang Diproduksi?
Apakah pendidikan bertujuan:
- Menghasilkan tenaga kerja siap pakai?
- Membentuk warga negara demokratis?
- Menghasilkan inovator dan peneliti?
Contoh kebijakan:
- Pendidikan vokasi diperkuat untuk mengurangi pengangguran.
- Program Merdeka Belajar untuk fleksibilitas kompetensi.
Ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara:
- Efisiensi ekonomi
- Tujuan sosial dan kebudayaan
B. Bagaimana Pendidikan Diproduksi?
Masalah efisiensi:
- Berapa biaya per siswa?
- Apakah anggaran 20% APBN untuk pendidikan efektif?
- Bagaimana distribusi guru?
Data empiris:
- Indonesia mengalokasikan >20% APBN untuk pendidikan (amanat konstitusi).
- Namun hasil PISA Indonesia masih relatif rendah dibanding rata-rata OECD.
Ini menimbulkan pertanyaan:
Apakah masalahnya pada jumlah dana, atau efisiensi dan tata kelola?
C. Untuk Siapa Pendidikan Diproduksi?
Masalah pemerataan (equity):
- Akses pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)
- Ketimpangan kualitas sekolah negeri dan swasta
- Ketimpangan kota–desa
Data menunjukkan:
- Anak dari keluarga kuintil atas memiliki peluang jauh lebih besar masuk perguruan tinggi dibanding kuintil bawah.
- Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi masih belum merata antar provinsi.
Di sinilah muncul dilema:
- Efisiensi vs Keadilan
- Meritokrasi vs Affirmative action
Perspektif Multi-Teoretis
Agar mahasiswa tidak melihat ekonomi pendidikan secara tunggal, kita bandingkan beberapa perspektif:
Perspektif
Pandangan tentang Pendidikan
Human Capital
Investasi produktif
Signaling
Alat seleksi pasar kerja
Teori Reproduksi Sosial (Bourdieu)
Pendidikan mereproduksi ketimpangan sosial
Capability Approach
Pendidikan memperluas kebebasan manusia
Contoh kritik dari perspektif reproduksi sosial:
- Sekolah elit menghasilkan lulusan elit.
- Pendidikan justru memperkuat stratifikasi sosial.
Isu Kontemporer Ekonomi Pendidikan
Beberapa isu mutakhir:
1. Overeducation
Lulusan sarjana bekerja di pekerjaan yang tidak memerlukan gelar.
2. Skill Mismatch
Dunia industri mengeluhkan lulusan tidak sesuai kebutuhan pasar.
3. Digital Divide
Ketimpangan akses teknologi (terlihat jelas saat pandemi COVID-19).
4. Privatisasi Pendidikan
Meningkatnya peran swasta dalam pendidikan tinggi.
Sintesis Konseptual
Sebagai penutup kuliah hari ini:
Ekonomi Pendidikan mempelajari bagaimana:
- Pendidikan meningkatkan produktivitas (efisiensi)
- Pendidikan memengaruhi distribusi pendapatan (equity)
- Pendidikan berperan dalam pembangunan nasional (growth)
- Pendidikan membentuk kualitas manusia (capability)
Secara matematis sederhana:
Pendidikan → Human Capital → Produktivitas → Pendapatan → Pertumbuhan Ekonomi
Namun secara sosiologis:
Pendidikan ↔ Struktur Sosial ↔ Ketimpangan ↔ Mobilitas Sosial
Pertanyaan Reflektif untuk kalian sebagai calon pendidik:
- Apakah pendidikan tinggi di Indonesia lebih berfungsi sebagai investasi atau sebagai sinyal?
- Apakah alokasi 20% APBN sudah menjamin kualitas?
- Bagaimana menyeimbangkan efisiensi dan pemerataan?
Silakan downloud materi berikut dan bacalah beberapa referensi terkait sebagaimana yang tertera di dalam kontrak perkuliahan.
Mari kita simak video berikut.
Link youtube:
berikan pandangan-pandangan anda tentang konsep ekonomi pendidikan.
16 February - 22 February
Salam pembelajar,
Pada pekan ini materi ini adalah tentang Sumber daya manusia dalam doktrin ekonomi: konsep sumber daya manusia, identifikasi nilai SDM. Apa yang ada di pikiran kalian tentang SDM?
Mari kita bahas bersama.
Konsep Sumber Daya Manusia dalam Doktrin Ekonomi
Evolusi Pandangan tentang SDM
A. Pandangan Klasik: Manusia sebagai Faktor Produksi
Dalam ekonomi klasik, manusia diposisikan sebagai tenaga kerja (labor), salah satu dari tiga faktor produksi:
- Tanah (land)
- Modal (capital)
- Tenaga kerja (labor)
Tokoh utama:
- Adam Smith
- David Ricardo
Dalam karya The Wealth of Nations (1776), Adam Smith sudah menyadari bahwa keterampilan pekerja adalah bentuk “modal tetap” (fixed capital). Artinya, bahkan dalam ekonomi klasik, kualitas manusia sudah diakui bernilai ekonomi.
Namun, pada tahap ini manusia masih dipandang terutama sebagai input produksi, belum sebagai investasi strategis jangka panjang.
B. Revolusi Human Capital (1960-an)
Perubahan besar terjadi ketika muncul teori Human Capital.
Tokoh penting:
- Theodore W. Schultz
- Gary S. Becker
Mereka menyatakan:
Pendidikan, kesehatan, dan pelatihan adalah investasi yang meningkatkan produktivitas manusia.
SDM tidak lagi sekadar tenaga kerja, tetapi modal produktif yang dapat ditingkatkan nilainya melalui investasi pendidikan dan pelatihan.
Konsep SDM dalam Perspektif Ekonomi Modern
Dalam ekonomi modern, SDM mencakup:
- Pengetahuan (knowledge)
- Keterampilan (skills)
- Kompetensi
- Kesehatan
- Etos kerja
- Kreativitas dan inovasi
Secara sederhana:
SDM = Human Capital + Kompetensi Sosial + Kapasitas Adaptif
Dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), SDM bahkan lebih penting dibanding modal fisik.
Contoh empiris:
- Negara seperti Korea Selatan dan Singapura minim sumber daya alam, tetapi unggul karena investasi besar dalam pendidikan dan pelatihan.
- Sebaliknya, banyak negara kaya sumber daya alam mengalami “resource curse” karena kualitas SDM rendah.
II. Identifikasi Nilai Sumber Daya Manusia
Pertanyaan penting dalam Ekonomi Pendidikan:
Bagaimana kita mengukur nilai ekonomi manusia?
Nilai SDM dapat diidentifikasi melalui beberapa pendekatan.
Pendekatan Produktivitas dan Pendapatan
Cara paling umum adalah melihat:
- Upah
- Pendapatan seumur hidup (lifetime earnings)
- Produktivitas tenaga kerja
Data Empirik Global
Bank Dunia menunjukkan bahwa:
- Setiap tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan pendapatan individu rata-rata sekitar 8–10%.
- Negara dengan rata-rata lama sekolah lebih tinggi memiliki PDB per kapita lebih besar.
Contoh kontekstual Indonesia:
- Rata-rata upah lulusan perguruan tinggi bisa 2–3 kali lipat dibanding lulusan SD.
- Tingkat pengangguran cenderung lebih rendah pada pendidikan menengah dan tinggi (meskipun ada fenomena mismatch).
Artinya: nilai SDM tercermin dalam return to education.
Pendekatan Kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dalam model pertumbuhan endogen, seperti yang dikembangkan oleh:
- Paul Romer
SDM menjadi mesin inovasi dan pertumbuhan jangka panjang.
Model ini menjelaskan bahwa:
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari akumulasi modal fisik, tetapi dari akumulasi pengetahuan.
Data empiris menunjukkan:
- Negara dengan indeks pendidikan tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil.
- Investasi pendidikan dasar dan menengah memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas nasional.
Pendekatan Human Development
Nilai SDM tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial.
UNDP mengembangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM/HDI), yang mencakup:
- Pendidikan
- Kesehatan
- Pendapatan
Pendekatan ini dipengaruhi oleh pemikiran:
- Amartya Sen
Menurut Sen:
Manusia bukan alat produksi, tetapi tujuan pembangunan itu sendiri.
Dalam perspektif ini, nilai SDM terletak pada kemampuannya menjalani kehidupan yang bermakna.
III. Perspektif Multi-Teoretis tentang Nilai SDM
Agar tidak terjebak dalam satu sudut pandang, mari kita lihat beberapa perspektif:
Perspektif Neoklasik
- SDM adalah aset ekonomi.
- Nilainya diukur dari produktivitas dan upah.
- Investasi pendidikan dianalisis seperti investasi mesin.
Kelebihan:
✔ Terukur secara kuantitatif
✔ Relevan untuk kebijakan ekonomiKritik:
Terlalu menyederhanakan manusia menjadi faktor produksi.Perspektif Sosiologis (Reproduksi Sosial)
Berargumen bahwa:
- Pendidikan tidak selalu meningkatkan mobilitas sosial.
- SDM dipengaruhi latar belakang keluarga dan modal sosial.
Artinya, nilai SDM tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh:
- Jaringan sosial
- Budaya
- Status ekonomi keluarga
Perspektif Institusional
Menekankan bahwa kualitas SDM bergantung pada:
- Sistem pendidikan
- Tata kelola
- Institusi pasar tenaga kerja
Contoh:
- Negara dengan sistem pelatihan vokasi kuat (misalnya model dual system di Jerman) memiliki pengangguran muda rendah.
- Negara dengan mismatch tinggi menunjukkan lemahnya koordinasi pendidikan dan industri.
IV. Masalah Aktual dalam Pengembangan SDM
Sebagai calon analis kebijakan pendidikan, saudara perlu memahami persoalan riil:
1. Skill Mismatch
Lulusan tidak sesuai kebutuhan industri.
2. Brain Drain
Tenaga terdidik pindah ke luar negeri.
3. Overeducation
Pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan peluang kerja.
4. Ketimpangan Kualitas
Perbedaan mutu sekolah kota–desa memengaruhi kualitas SDM nasional.
Mari kita simak video berikut.
Link Youtube:
Coba diskusikan bersama rekan-rekan anda disini, seberapa penting SDM perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan suatu negara.
Silakan dipelajari artikel berikut.
Sumber: https://www.reff-associates.ro/content/dam/assets/re/Documents/employment/DUP_GlobalHumanCapitalTrends2015.pdf
- This week
23 February - 1 March
Salam pembelajar,
Pada pertemuan kali ini kita akan mempelaajri tentang Sumber daya manusia dalam doktrin ekonomi: peran SDM dalam kegiatan ekonomi.
Sumber Daya Manusia dalam Doktrin Ekonomi
Mahasiswa sekalian,
Dalam doktrin ekonomi klasik, terdapat tiga faktor produksi utama:
- Tanah (land)
- Modal (capital)
- Tenaga kerja (labor)
Dalam perkembangan ekonomi modern, konsep tenaga kerja berkembang menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) — yang tidak hanya mencakup jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas, keterampilan, pendidikan, kesehatan, produktivitas, kreativitas, dan kapasitas inovasi.
Artinya, manusia tidak lagi dipandang sekadar “input produksi”, tetapi sebagai aset strategis pembangunan ekonomi.
Evolusi Pemikiran: Dari Tenaga Kerja ke Human Capital
Konsep SDM dalam ekonomi modern sangat dipengaruhi oleh teori Human Capital.
Tokoh penting:
- Adam Smith
- Theodore Schultz
- Gary Becker
Adam Smith (1776)
Dalam The Wealth of Nations, Smith menyatakan bahwa keterampilan pekerja adalah bagian dari “fixed capital”. Artinya, pendidikan meningkatkan produktivitas layaknya mesin.
Theodore Schultz & Gary Becker (1960-an)
Mereka memformalkan teori bahwa:
Pendidikan adalah investasi, bukan konsumsi.
Biaya pendidikan (tuition, waktu, tenaga) dianggap sebagai investasi yang menghasilkan return berupa:
- Upah lebih tinggi
- Produktivitas lebih tinggi
- Pertumbuhan ekonomi nasional
Peran SDM dalam Kegiatan Ekonomi
SDM berperan dalam tiga level utama:
A. SDM sebagai Faktor Produksi
Dalam fungsi produksi:
Y=f(K,L,H)Y = f(K, L, H)Y=f(K,L,H)
Di mana:
- Y = output
- K = modal
- L = tenaga kerja
- H = human capital (kualitas SDM)
Negara dengan kualitas SDM tinggi menghasilkan output lebih besar meskipun jumlah tenaga kerja sama.
Contoh Faktual:
- Negara seperti Jepang dan Korea Selatan minim sumber daya alam
- Namun memiliki SDM berkualitas tinggi
- Hasilnya: menjadi negara industri maju
Sebaliknya, negara kaya sumber daya alam tanpa SDM unggul sering mengalami resource curse.
B. SDM sebagai Penggerak Inovasi
Dalam teori pertumbuhan endogen, seperti model:
- Paul Romer
Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh:
- Pengetahuan
- Inovasi
- Teknologi
Semuanya berasal dari kualitas SDM.
Data Empirik Global
Berdasarkan laporan Human Capital Index (Bank Dunia):
- Negara dengan skor HCI tinggi memiliki PDB per kapita jauh lebih besar.
- Kenaikan 1 tahun rata-rata lama sekolah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,37–0,58% per tahun (estimasi studi lintas negara).
C. SDM sebagai Agen Distribusi dan Konsumsi
SDM juga berperan sebagai:
- Konsumen
- Wirausaha
- Pembayar pajak
- Penggerak permintaan agregat
Semakin tinggi pendidikan → semakin tinggi pendapatan → semakin tinggi daya beli → mendorong pertumbuhan ekonomi.
Gambaran Empirik Indonesia
Mari kita lihat konteks Indonesia.
Data Kunci:
- Rata-rata lama sekolah: ± 8–9 tahun
- Angka pengangguran terbuka lulusan SMK relatif tinggi
- Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih di bawah Singapura dan Malaysia
Bandingkan dengan:
- Singapura
- Malaysia
Singapura menempatkan pendidikan sebagai strategi utama pembangunan sejak 1960-an. Investasi besar pada:
- STEM
- Pendidikan vokasi
- Pelatihan industri
Hasilnya:
- Produktivitas tinggi
- Upah tinggi
- Daya saing global kuat
Perspektif Multi-Dimensional tentang SDM
Sebagai mahasiswa Ekonomi Pendidikan, kita tidak boleh melihat SDM hanya dari satu sudut.
Perspektif 1: Perspektif Neoklasik
- Pendidikan meningkatkan produktivitas
- Upah mencerminkan produktivitas marginal
Perspektif 2: Perspektif Sosiologis
Pendidikan tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi berfungsi sebagai:
- Sinyal (signaling theory)
- Alat seleksi pasar kerja
Ijazah kadang lebih berfungsi sebagai "filter sosial".
Perspektif 3: Perspektif Struktural
Masalah bukan hanya kualitas individu, tetapi:
- Struktur pasar kerja
- Ketimpangan akses pendidikan
- Diskriminasi
- Ketidakcocokan (mismatch) pendidikan dan industri
Contoh Indonesia:
- Banyak lulusan sarjana bekerja di sektor informal
- Terjadi over-education dan underemployment
SDM dan Bonus Demografi
Indonesia sedang mengalami bonus demografi.
Artinya:
- Penduduk usia produktif lebih besar dari usia non-produktif
- Potensi pertumbuhan tinggi
Namun ada dua kemungkinan:
Jika SDM Berkualitas:
→ Pertumbuhan ekonomi melonjak
Jika SDM Tidak Siap:
→ Pengangguran massal
→ Beban sosial meningkat
→ Instabilitas ekonomiContoh negara yang sukses memanfaatkan bonus demografi:
- Korea Selatan
Tantangan Strategis SDM di Era Digital
Kita masuk ke ekonomi berbasis pengetahuan:
Ciri-ciri:
- Otomatisasi
- AI
- Digital economy
- Gig economy
SDM yang dibutuhkan:
- Problem solving
- Digital literacy
- Adaptif
- Lifelong learning
Jika sistem pendidikan tidak responsif, maka:
Pendidikan tertinggal dari kebutuhan pasar kerja.
Silakan dipelajari bahan berikut
Mari kita simak video berikut.
Link youtube:
Berikan pandangan Anda tentang SDM Indonesia setelah menyimak video tersebut.
Coba kemukakan disini peran SDM dalam kegiatan ekonomi
2 March - 8 March
Salam pembelajar,
Topik pekan ini adalah mengkaji Kebutuhan akan sumber daya manusia: penawaran dan permintaan tenaga terdidik, karakteristik tenaga terdidik.
Apa yang ada dalam pemikiran anda terkait dengan topik tersebut? Adakah kalian sudah membaca referensi terkait dari buku maupun jurnal nasional/internasional?
Mari kita bahas bersama,
KEBUTUHAN AKAN SUMBER DAYA MANUSIA
(Penawaran dan Permintaan Tenaga Terdidik serta Karakteristiknya)
Kerangka Dasar: Pasar Tenaga Kerja Terdidik
Mahasiswa sekalian,
Dalam ekonomi, tenaga kerja terdidik dianalisis melalui mekanisme permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar tenaga kerja.
Secara sederhana:
- Permintaan tenaga terdidik → berasal dari dunia usaha/industri
- Penawaran tenaga terdidik → berasal dari sistem pendidikan
Keseimbangan keduanya menentukan:
- Tingkat upah
- Tingkat pengangguran terdidik
- Tingkat mismatch pendidikan
Permintaan Tenaga Terdidik (Demand for Educated Labor)
A. Perspektif Teori Ekonomi
Permintaan tenaga kerja bersifat derived demand (permintaan turunan).
Artinya:
Perusahaan mempekerjakan tenaga terdidik karena mereka membantu menghasilkan output.
Dalam teori produktivitas marginal:
- Perusahaan akan mempekerjakan tenaga kerja sampai
- Nilai produk marginal (VMP) = upah
Jika produktivitas tenaga terdidik tinggi → permintaan meningkat → upah naik.
B. Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tenaga Terdidik
1. Perubahan Teknologi
Dalam teori pertumbuhan endogen oleh Paul Romer, inovasi menjadi kunci pertumbuhan.
Ekonomi digital meningkatkan permintaan pada:
- Data scientist
- Engineer
- Software developer
- Analis keuangan
Fenomena ini disebut:
Skill-Biased Technological Change (SBTC)
→ Teknologi lebih menguntungkan pekerja berpendidikan tinggi.2. Struktur Ekonomi
Negara berbasis industri & jasa modern → permintaan tinggi pada tenaga terdidik.
Contoh:
- Singapura
Ekonomi berbasis jasa keuangan & teknologi → mayoritas tenaga kerja terdidik. - Indonesia
Masih dominan sektor informal & berbasis komoditas → struktur permintaan tenaga terdidik belum optimal.
3. Globalisasi dan MEA
Mobilitas tenaga kerja regional meningkatkan persaingan tenaga terdidik antar negara ASEAN.
Penawaran Tenaga Terdidik (Supply of Educated Labor)
Penawaran berasal dari:
- Sekolah
- Perguruan tinggi
- Lembaga pelatihan
- Pendidikan vokasi
Secara ekonomi, keputusan individu untuk sekolah dipengaruhi oleh teori Human Capital oleh:
- Gary Becker
Individu akan melanjutkan pendidikan jika:
ExpectedReturn>CostofEducationExpected Return > Cost of EducationExpectedReturn>CostofEducation
Biaya:
- Biaya langsung (SPP, buku)
- Biaya tidak langsung (opportunity cost)
Manfaat:
- Upah lebih tinggi
- Status sosial
- Stabilitas pekerjaan
Data Empirik dan Fakta Kontekstual Indonesia
Fakta 1: Peningkatan Partisipasi Pendidikan
- Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Indonesia meningkat signifikan dalam 20 tahun terakhir.
- Jumlah lulusan sarjana meningkat tajam.
Namun...
Fakta 2: Pengangguran Terdidik
Data BPS menunjukkan:
- Pengangguran terbuka cukup tinggi pada lulusan SMK dan sarjana muda.
- Terjadi mismatch antara kompetensi dan kebutuhan industri.
Fenomena ini disebut:
Educated Unemployment
Fakta 3: Return to Education
Berbagai studi menunjukkan:
- Tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan upah sekitar 7–10% (estimasi umum model Mincer di banyak negara berkembang).
- Namun return berbeda antar jurusan.
Contoh kontekstual:
- Lulusan teknik & kesehatan → return tinggi
- Lulusan bidang tertentu di ilmu sosial → return lebih bervariasi
Ketidakseimbangan: Mismatch Pasar Tenaga Kerja
Ada tiga bentuk mismatch:
1. Vertical Mismatch
Tingkat pendidikan lebih tinggi dari pekerjaan (over-education).
Contoh:
Sarjana bekerja sebagai admin entry-level.2. Horizontal Mismatch
Bidang studi tidak sesuai pekerjaan.
Contoh:
Lulusan pertanian bekerja di sektor perbankan.3. Skill Mismatch
Industri butuh soft skills & digital skills, tetapi lulusan kurang siap.
Karakteristik Tenaga Terdidik
Tenaga terdidik memiliki beberapa karakteristik ekonomi:
A. Produktivitas Lebih Tinggi
Mampu:
- Menggunakan teknologi
- Beradaptasi
- Menghasilkan inovasi
B. Upah Lebih Tinggi
Teori Mincer:
Upah meningkat seiring tahun pendidikan dan pengalaman.C. Elastisitas Mobilitas Tinggi
Lebih mudah berpindah sektor dan wilayah.
D. Risk-Taker dalam Inovasi
Lebih berpeluang menjadi wirausaha modern.
Perspektif Multi-Perspektif
Sebagai mahasiswa Ekonomi Pendidikan, kita harus melihat dari beberapa sudut.
Perspektif Neoklasik
- Pasar tenaga kerja akan mencapai keseimbangan.
- Jika kelebihan sarjana → upah turun → orang berhenti kuliah → seimbang.
Namun realitas tidak sesederhana itu.
Perspektif Struktural
Masalah bukan hanya individu, tetapi:
- Kurikulum tidak relevan
- Informasi pasar kerja tidak transparan
- Industri kurang berkembang
Perspektif Institusional
Kebijakan pemerintah sangat menentukan:
- Link and match pendidikan–industri
- Pendidikan vokasi
- Sertifikasi kompetensi
- Investasi riset
Perspektif Sosiologis (Signaling Theory)
Ijazah tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi:
- Berfungsi sebagai sinyal kemampuan
- Alat seleksi dalam rekrutmen
Ilustrasi Sederhana dalam Grafik Konseptual
Jika:
- Supply tenaga terdidik meningkat cepat
- Demand tumbuh lambat
→ Terjadi surplus tenaga terdidik
→ Pengangguran terdidik naik
→ Return pendidikan menurunSebaliknya:
Jika:
- Ekonomi tumbuh pesat
- Industri padat teknologi berkembang
→ Demand naik
→ Upah naik
→ Insentif sekolah meningkatTantangan Masa Depan
Di era:
- AI
- Otomatisasi
- Ekonomi digital
Permintaan bukan hanya pada gelar, tetapi pada:
- Kompetensi
- Adaptabilitas
- Lifelong learning
Negara seperti:
- Korea Selatan
Berhasil menyelaraskan sistem pendidikan dengan industrialisasi.
Indonesia masih menghadapi tantangan:
- Ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah
- Kesenjangan digital
- Dominasi sektor informal
Silakan dipelajari e-book berikut.
sUMBER: https://core.ac.uk/download/pdf/154761828.pdf
Silakan dibaca dan dipelajari e-book di atas, selanjutnya anda buat summary hasil membaca, maksimal 2 halaman ditulis tangan dan dikirmkan disini.
Mari kita simak video berikut.
Link youtube:
Setelah menyimak video tersebut, berikan pandangan Anda tentang urgensi pengembangan manusia dalam upaya pemenuhan kebutuhan tenaga terdidik di era digital!
9 March - 15 March
Salam pembelajar,
Untuk pertemuan pekan ini kita akan mengkaji Kebutuhan akan sumber daya manusia: upaya pengembangan sumber daya manusia.
KEBUTUHAN AKAN SUMBER DAYA MANUSIA
(Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Ekonomi Pendidikan)
Mengapa Sumber Daya Manusia (SDM) Menjadi Kebutuhan Utama?
Mahasiswa sekalian,
Dalam teori pertumbuhan ekonomi modern, kualitas SDM merupakan faktor produksi yang sama pentingnya dengan modal fisik dan teknologi.
Teori klasik seperti:
- Adam Smith → menekankan pentingnya spesialisasi tenaga kerja.
- Theodore Schultz dan Gary Becker → mengembangkan teori Human Capital, bahwa pendidikan adalah investasi, bukan konsumsi.
Inti Teori Human Capital
Pendidikan meningkatkan:
- Produktivitas
- Pendapatan individu
- Daya saing nasional
- Pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Secara sederhana:
Pendidikan → Kompetensi → Produktivitas → Pertumbuhan Ekonomi
Gambaran Faktual dan Data Empirik
Data Global
Menurut laporan:
- World Bank
- OECD
- UNDP
Beberapa temuan empiris:
- Setiap tambahan 1 tahun pendidikan dapat meningkatkan pendapatan individu rata-rata 8–10%.
- Negara dengan Human Capital Index tinggi cenderung memiliki:
- Produktivitas tenaga kerja tinggi
- Tingkat kemiskinan lebih rendah
- Pertumbuhan ekonomi stabil
Contoh:
- Korea Selatan pada 1960-an adalah negara miskin dengan GDP per kapita rendah.
- Investasi besar-besaran di pendidikan sains & teknologi.
- Kini menjadi negara industri maju.
Konteks Indonesia
Menurut data BPS:
- Rata-rata lama sekolah Indonesia ± 8–9 tahun.
- Masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah.
- Tingkat pengangguran terbuka terbesar berasal dari lulusan SMA/SMK.
Artinya:
Masalah bukan hanya akses pendidikan, tetapi kualitas dan relevansi kompetensi.
Mengapa Pengembangan SDM Menjadi Urgen?
Dalam ekonomi modern berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), kebutuhan SDM berubah:
Era
Kebutuhan SDM
Agraris
Tenaga fisik
Industri
Tenaga teknis
Digital
Kognitif, inovatif, adaptif
Revolusi Industri 4.0 menuntut:
- Literasi digital
- Critical thinking
- Problem solving
- Soft skills
Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia
A. Melalui Pendidikan Formal
Upaya yang dilakukan:
- Wajib belajar 12 tahun
- Revitalisasi SMK
- Kurikulum berbasis kompetensi
- Peningkatan kualitas guru
Dari perspektif ekonomi:
- Pendidikan dasar → pemerataan
- Pendidikan menengah → kesiapan kerja
- Pendidikan tinggi → inovasi & riset
B. Pelatihan dan Pengembangan (Training & Development)
Pengembangan SDM tidak berhenti di sekolah.
Perusahaan melakukan:
- On-the-job training
- Upskilling
- Reskilling
- Sertifikasi profesi
Ini penting karena:
Skill memiliki “masa kedaluwarsa” akibat perubahan teknologi.
C. Investasi Kesehatan
SDM berkualitas bukan hanya cerdas, tetapi sehat.
Penelitian menunjukkan:
- Gizi buruk → menurunkan kapasitas kognitif
- Stunting → berdampak pada produktivitas jangka panjang
Maka investasi SDM mencakup:
- Pendidikan
- Kesehatan
- Nutrisi
Perspektif Multi Sudut Pandang
Perspektif Ekonomi
SDM adalah investasi jangka panjang dengan rate of return tinggi.
Perspektif Sosial
Pendidikan mengurangi ketimpangan sosial.
Perspektif Individu
Meningkatkan mobilitas sosial dan kesejahteraan.
Perspektif Industri
Menjamin ketersediaan tenaga kerja kompeten.
Permasalahan dalam Pengembangan SDM
Beberapa tantangan nyata:
- Ketimpangan kualitas pendidikan
- Link and match yang belum optimal
- Brain drain
- Pendidikan tidak relevan dengan kebutuhan industri
- Rendahnya budaya riset dan inovasi
Contoh kontekstual:
- Lulusan sarjana banyak, tetapi industri kekurangan tenaga dengan keahlian digital spesifik.
- Banyak tenaga kerja informal belum tersertifikasi.
Analisis Kritis: Apakah Pendidikan Selalu Solusi?
Dalam pendekatan ekonomi kritis:
- Pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin pekerjaan.
- Terjadi fenomena over-education.
- Pasar tenaga kerja juga dipengaruhi struktur ekonomi dan kebijakan industri.
Artinya:
Pengembangan SDM harus selaras dengan strategi pembangunan ekonomi nasional.
Dalam Ekonomi Pendidikan:
- SDM adalah modal utama pembangunan.
- Pendidikan merupakan investasi, bukan biaya.
- Pengembangan SDM harus komprehensif:
- Pendidikan formal
- Pelatihan
- Kesehatan
- Kebijakan industri
- Relevansi dan kualitas lebih penting dari sekadar kuantitas.
Silakan didownloud dan dipelajari
Silakan diskusikan bersama rekan-rekan anda:
- Apakah peningkatan anggaran pendidikan otomatis meningkatkan kualitas SDM?
- Bagaimana hubungan antara pengangguran sarjana dan teori human capital?
- Apakah Indonesia lebih membutuhkan perluasan akses atau peningkatan kualitas?
16 March - 22 March
Salam pembelajar,
Pada pekan ini kita akan mengkaji tentang Pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia: penawaran dan permintaan pendidikan, input dan output pendidikan.
Pendidikan sebagai Investasi Sumber Daya Manusia
Konsep Dasar: Human Capital Theory
Mahasiswa sekalian,
Teori ini dipopulerkan oleh ekonom seperti Theodore Schultz dan Gary Becker pada 1960-an. Mereka menyatakan bahwa:
Pendidikan bukan sekadar konsumsi, tetapi investasi yang meningkatkan produktivitas individu dan pertumbuhan ekonomi.
Seperti investasi fisik (mesin, gedung), pendidikan meningkatkan kapasitas produktif manusia.
Gambaran Empirik Global
Laporan World Bank menunjukkan bahwa:
- Setiap tambahan 1 tahun sekolah dapat meningkatkan pendapatan individu rata-rata 8–10% per tahun (rate of return pendidikan).
- Negara dengan rata-rata lama sekolah tinggi cenderung memiliki PDB per kapita lebih tinggi.
Contoh:
- Korea Selatan (rata-rata sekolah >12 tahun) → PDB per kapita tinggi.
- Negara dengan rata-rata sekolah rendah → pertumbuhan ekonomi lambat.
Mengapa Pendidikan Disebut Investasi?
Karena ada:
Komponen
Pendidikan
Biaya sekarang
SPP, buku, transportasi, opportunity cost
Manfaat masa depan
Gaji lebih tinggi, peluang kerja lebih baik
Return
Peningkatan produktivitas dan pendapatan
Contoh Kontekstual (Indonesia)
Data BPS menunjukkan:
- Lulusan SD → rata-rata upah jauh lebih rendah dibanding lulusan SMA.
- Lulusan Perguruan Tinggi → pendapatan bisa 2–3 kali lipat dibanding lulusan SMP.
Artinya, ada private return to education.
Penawaran dan Permintaan Pendidikan
Dalam ekonomi pendidikan, pendidikan diperlakukan seperti “pasar”.
A. Permintaan Pendidikan (Demand for Education)
Permintaan pendidikan berasal dari:
- Individu
- Keluarga
- Masyarakat
Faktor yang Mempengaruhi Permintaan:
- Tingkat pendapatan keluarga
- Ekspektasi upah masa depan
- Biaya pendidikan
- Budaya & nilai sosial
- Kebijakan pemerintah
Contoh Empirik
Program seperti Program Indonesia Pintar meningkatkan partisipasi sekolah kelompok miskin karena:
- Mengurangi biaya langsung
- Mengurangi risiko putus sekolah
Artinya → subsidi meningkatkan permintaan pendidikan.
Kurva Permintaan Pendidikan
Secara teori:
- Jika biaya pendidikan naik → jumlah yang sekolah turun.
- Jika return pendidikan tinggi → permintaan naik.
Contoh:
Ketika industri digital berkembang, jurusan IT di perguruan tinggi meningkat peminatnya karena ekspektasi gaji tinggi.B. Penawaran Pendidikan (Supply of Education)
Penawaran berasal dari:
- Sekolah
- Perguruan tinggi
- Lembaga pelatihan
- Pemerintah
Faktor yang Mempengaruhi Penawaran:
- Anggaran pendidikan
- Jumlah guru
- Infrastruktur
- Regulasi
- Teknologi
Gambaran Empirik Indonesia
Konstitusi Indonesia mewajibkan 20% APBN untuk pendidikan.
Contoh institusi:
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
- Universitas Indonesia
Namun, masalah supply sering muncul:
- Ketimpangan kualitas sekolah kota vs desa
- Kekurangan guru di daerah 3T
- Infrastruktur tidak merata
Input dan Output Pendidikan
Ini bagian penting dalam analisis efisiensi pendidikan.
A. Input Pendidikan
Input adalah segala sesuatu yang digunakan dalam proses pendidikan.
Contoh Input:
- Guru (kualitas & jumlah)
- Kurikulum
- Fasilitas (laboratorium, perpustakaan)
- Teknologi
- Dana
- Karakteristik siswa
Bukti Empirik
Studi PISA oleh OECD menunjukkan:
- Negara dengan kualitas guru tinggi → skor literasi & numerasi tinggi.
- Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD dalam skor matematika & membaca.
Artinya:
Bukan hanya jumlah sekolah penting, tetapi kualitas input sangat menentukan output.B. Output Pendidikan
Output bisa dilihat dari:
- Nilai akademik
- Kelulusan
- Kompetensi
- Tingkat partisipasi kerja
- Pendapatan
Namun dalam ekonomi pendidikan, output terbaik adalah:
Produktivitas dan peningkatan kesejahteraan.
Perspektif Mikro vs Makro
Perspektif Mikro (Individu)
- Pendidikan → meningkatkan gaji.
- Mengurangi risiko pengangguran.
Perspektif Makro (Negara)
- Pendidikan → pertumbuhan ekonomi.
- Mengurangi kemiskinan.
- Meningkatkan stabilitas sosial.
Perspektif Kritis dan Multi-Perspektif
Sebagai mahasiswa ekonomi pendidikan, kita tidak hanya menerima teori human capital secara mentah.
A. Perspektif Human Capital
Pendidikan = investasi produktif.
B. Perspektif Signaling Theory (Michael Spence)
Ijazah bukan meningkatkan produktivitas, tapi sebagai “sinyal” kemampuan.
Contoh:
Perusahaan lebih memilih lulusan universitas ternama karena reputasi.C. Perspektif Sosial
Pendidikan juga:
- Membangun demokrasi
- Mengurangi kriminalitas
- Meningkatkan kesehatan
Studi global menunjukkan:
Setiap tambahan 1 tahun pendidikan perempuan → penurunan angka kematian anak signifikan.Masalah Kontemporer
Beberapa isu penting dalam ekonomi pendidikan:
- Over-education (lulusan banyak, lapangan kerja terbatas)
- Skill mismatch
- Ketimpangan akses
- Digital divide
- Efisiensi anggaran pendidikan
Ilustrasi Kontekstual Sederhana
Bayangkan seorang siswa dari keluarga miskin:
Jika tidak sekolah:
→ bekerja kasar, upah rendah sepanjang hidup.Jika sekolah hingga sarjana:
→ biaya 4 tahun, tetapi gaji 2–3 kali lipat.Dalam jangka panjang:
NPV (Net Present Value) pendidikan positif.Dalam ekonomi pendidikan:
- Pendidikan adalah investasi modal manusia.
- Ada mekanisme permintaan dan penawaran.
- Input menentukan kualitas output.
- Return pendidikan bisa dihitung secara ekonomi.
- Namun pendidikan juga memiliki dimensi sosial dan moral yang tidak sepenuhnya bisa diukur dengan uang.
Mari kita simak video berikut.
Link Youtube:
Silakan dibaca buku berikut.
Silakan dipelajari artikel tersebut.
Sumber: http://eprints.undip.ac.id/16864/1/Investasi_Sumber_Daya_Manusia_Melalui_Pendidikan....by_Hastarini_Dwi_Atmanti_(OK).p
Cobalah diskusikan bersama rekan-rekan anda:
- Bagaimana ketimpangan dalam input pendidikan (guru, fasilitas, teknologi) memengaruhi hasil pendidikan di daerah?
- Mengapa kebijakan afirmatif seperti KIP, BOS, atau program inklusi belum optimal dalam meratakan permintaan dan supply pendidikan?
- Apakah investasi pemerintah pada pendidikan akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi wilayah tertinggal? Jelaskan menggunakan data empiris.
- Apa perbedaan pendekatan kebijakan untuk meningkatkan akses pendidikan vs. meningkatkan kualitas pendidikan? Mana yang harus didahulukan?
- Bagaimana peran sektor non-pemerintah (swasta, komunitas) dalam mengatasi masalah pendidikan di Indonesia?
23 March - 29 March
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita adalah Pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia: sumber daya pendidikan, dan pendidikan sebagai suatu industri.
Mari kita simak dahulu video berikut ini untuk menambah wawasan kita tentang pentingnya investasi pendidikan.
Link Youtube:
Pendidikan sebagai Investasi Sumber Daya Manusia
Mahasiswa sekalian,
Kerangka Teoritis: Human Capital Theory
Teori ini dipelopori oleh:
- Theodore Schultz
- Gary Becker
Mereka menyatakan bahwa pendidikan adalah bentuk investasi, sama seperti investasi pada mesin atau infrastruktur, tetapi yang ditingkatkan adalah kapasitas manusia (pengetahuan, keterampilan, produktivitas).
Secara ekonomi:
Pendidikan → meningkatkan produktivitas → meningkatkan pendapatan → meningkatkan pertumbuhan ekonomi
Gambaran Empirik: Return to Education
Penelitian lintas negara menunjukkan bahwa:
- Tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan pendapatan individu rata-rata 8–10% (data global Bank Dunia).
- Di Indonesia, estimasi tingkat pengembalian (rate of return) pendidikan:
- SD: ± 6–8%
- SMA: ± 10–12%
- Perguruan Tinggi: bisa > 15% tergantung bidang studi
Artinya, seseorang yang menyelesaikan S1 secara statistik akan memperoleh pendapatan jauh lebih tinggi dibanding lulusan SMA.
Contoh kontekstual Indonesia:
- Rata-rata upah pekerja lulusan SMA lebih rendah dibanding lulusan universitas.
- Sektor formal (perbankan, BUMN, teknologi) mensyaratkan minimal S1.
- Bonus demografi Indonesia (usia produktif dominan) hanya akan produktif jika kualitas pendidikan tinggi.
Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi
Negara-negara seperti:
- South Korea
- Singapore
berhasil mentransformasi ekonomi melalui investasi besar pada pendidikan pasca 1960-an.
Fakta:
- Korea Selatan tahun 1960-an: negara agraris miskin.
- Kini: negara industri maju berbasis teknologi (Samsung, Hyundai).
- Salah satu kuncinya: ekspansi besar pendidikan menengah dan tinggi.
Pendidikan sebagai Investasi: Perspektif Mikro dan Makro
Perspektif Mikro (Individu & Rumah Tangga)
- Biaya pendidikan = biaya langsung (SPP, buku) + biaya tidak langsung (opportunity cost).
- Keputusan sekolah adalah keputusan investasi: membandingkan biaya sekarang dengan manfaat masa depan.
Contoh:
Mahasiswa yang kuliah 4 tahun kehilangan potensi gaji jika langsung bekerja. Namun diharapkan pendapatan jangka panjangnya lebih tinggi.Perspektif Makro (Negara)
Pemerintah Indonesia mengalokasikan minimal 20% APBN untuk pendidikan.
Tujuannya:
- Meningkatkan kualitas SDM
- Mengurangi kemiskinan struktural
- Meningkatkan daya saing global
Namun, tantangan:
- Ketimpangan kualitas sekolah kota vs desa
- Rendahnya skor PISA Indonesia dibanding rata-rata OECD
Kritik terhadap Human Capital Theory
Tidak semua ekonom sepakat.
a) Teori Sinyal (Signaling Theory)
Pendidikan tidak selalu meningkatkan produktivitas, tetapi menjadi "sinyal" kemampuan bagi perusahaan.
Contoh:
Ijazah S1 menjadi alat seleksi, walau pekerjaan mungkin tidak memerlukan semua materi kuliah.b) Credential Inflation
Semakin banyak orang berpendidikan tinggi → standar pekerjaan naik → S1 jadi syarat minimum → terjadi inflasi gelar.
Sumber Daya Pendidikan (Educational Resources)
Dalam ekonomi pendidikan, sumber daya pendidikan meliputi:
Sumber Daya Finansial
- APBN/APBD
- Dana BOS
- SPP
- Hibah
Indonesia mengalokasikan >20% APBN untuk pendidikan, tetapi efisiensi penggunaannya masih menjadi isu.
Sumber Daya Manusia
- Guru
- Dosen
- Tenaga kependidikan
Masalah empiris Indonesia:
- Distribusi guru tidak merata
- Kualitas pedagogik belum homogen
- Banyak guru honorer dengan kesejahteraan rendah
Sumber Daya Fisik
- Gedung sekolah
- Laboratorium
- Teknologi digital
- Akses internet
Ketimpangan nyata:
- Sekolah di Jakarta memiliki laboratorium lengkap.
- Sekolah di daerah 3T masih kekurangan fasilitas dasar.
Sumber Daya Non-Material
- Kurikulum
- Manajemen sekolah
- Budaya belajar
Negara dengan sistem manajemen pendidikan kuat cenderung menghasilkan capaian akademik lebih baik.
Pendidikan sebagai Suatu Industri
Sekarang kita masuk perspektif yang lebih kontemporer.
Pendidikan sebagai Industri Jasa
Secara ekonomi, pendidikan memenuhi karakteristik industri jasa:
- Intangible (tidak berwujud)
- Produksi dan konsumsi bersamaan
- Kualitas sulit diukur
Institusi pendidikan bertindak sebagai:
- Produsen layanan pendidikan
- Rumah tangga sebagai konsumen
- Negara sebagai regulator
Industrialisasi Pendidikan
Contoh nyata:
- Munculnya universitas swasta besar
- Lembaga bimbingan belajar
- EdTech seperti platform pembelajaran daring
Contoh global:
- Coursera
- Udemy
Di Indonesia:
- RuangGuru
- Zenius
Pendidikan kini menjadi pasar bernilai miliaran dolar secara global.
Dampak Positif Industri Pendidikan
· Inovasi teknologi pembelajaran
· Akses pendidikan lebih luas
· Kompetisi meningkatkan kualitas
Dampak Negatif & Kritik
Komersialisasi pendidikan
Pendidikan jadi mahal
Orientasi profit mengalahkan misi sosialPertanyaan kritis untuk mahasiswa calon pendidik:
Apakah pendidikan adalah public good atau private good?
Jika dianggap public good → negara harus dominan.
Jika private good → mekanisme pasar lebih besar perannya.Perspektif Multi Dimensi
Perspektif
Pendidikan Dipandang Sebagai
Ekonomi Klasik
Investasi produktivitas
Sosiologi
Mobilitas sosial
Politik
Instrumen pembangunan
Industri
Sektor jasa berbasis pengetahuan
Kritis
Alat reproduksi ketimpangan
Reflektif untuk Mahasiswa Calon Pendidik Ekonomi:
Sebagai calon analis kebijakan atau praktisi pendidikan, pertanyaan pentingnya:
- Bagaimana menyeimbangkan pendidikan sebagai investasi ekonomi dan hak sosial?
- Apakah sistem pendidikan kita sudah efisien?
- Apakah industrialisasi pendidikan memperluas akses atau justru memperdalam ketimpangan?
Pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi tentang:
- Struktur ekonomi
- Distribusi pendapatan
- Masa depan daya saing bangsa
Silakan didownloud artikel berikut dan dipelajari.
Sumber: https://core.ac.uk/download/pdf/297841821.pdf
Cobalah diskusikan disini pendidikan sebagai suatu industri dan transformasi pendidikan abad 21 kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia.
30 March - 5 April
Salam Pembelajar,
Pada pekan ini kita akan melaksanakan ujian tengah semester.
6 April - 12 April
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita adalah Nilai tambah pendidikan: Identifikasi nilai tambah pendidikan, pengelompokkan nilai tambah pendidikan.
Konsep Nilai Tambah Pendidikan (Value Added of Education)
Definisi Nilai Tambah Pendidikan
Mahasiswa sekalian,
Dalam ekonomi pendidikan, nilai tambah pendidikan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kualitas individu, produktivitas, dan kesejahteraan, di luar faktor awal yang sudah dimiliki individu (misal latar belakang keluarga atau kemampuan awal).
Secara formal:
Nilai Tambah Pendidikan=Output Pendidikan−Input Pendidikan (kondisi awal)\text{Nilai Tambah Pendidikan} = \text{Output Pendidikan} - \text{Input Pendidikan (kondisi awal)}Nilai Tambah Pendidikan=Output Pendidikan−Input Pendidikan (kondisi awal)
- Output: kemampuan akademik, keterampilan, kompetensi sosial
- Input: latar belakang sosial ekonomi, tingkat awal kemampuan, sumber daya rumah tangga
Intinya: nilai tambah pendidikan mengukur efektivitas sekolah atau sistem pendidikan dalam “meningkatkan” potensi siswa, bukan hanya hasil mentah ujian.
Fungsi dan Pentingnya Nilai Tambah
- Evaluasi kualitas sekolah
- Sekolah bisa memiliki siswa awal berbakat, tapi nilai tambahnya rendah → sekolah kurang efektif.
- Sekolah dengan siswa awal biasa tapi nilai tambah tinggi → sekolah sangat efektif.
- Pengembangan kebijakan pendidikan
- Data nilai tambah membantu pemerintah menentukan alokasi sumber daya secara lebih adil dan efisien.
- Akuntabilitas lembaga pendidikan
- Memberikan indikator kinerja bagi guru, kepala sekolah, dan pemerintah daerah.
Identifikasi Nilai Tambah Pendidikan
Nilai tambah pendidikan dapat diidentifikasi melalui beberapa dimensi:
Akademik / Cognitive Value Added
- Mengukur peningkatan kemampuan belajar siswa secara kuantitatif, misalnya skor ujian nasional, PISA, atau tes kemampuan dasar.
- Contoh empiris Indonesia:
- Rata-rata skor PISA 2018:
- Membaca: 371 (rata-rata OECD: 487)
- Matematika: 379 (rata-rata OECD: 489)
- Ilmu
Pengetahuan Alam: 396 (rata-rata OECD: 489)
→ Sekolah dengan nilai tambah tinggi: yang mampu meningkatkan skor meski awalnya rendah.
Non-Akademik / Non-Cognitive Value Added
- Kemampuan sosial, kepemimpinan, kreativitas, etika kerja, dan keterampilan hidup.
- Contoh di Indonesia:
- Program OSIS, pramuka, kegiatan seni → meningkatkan soft skills siswa.
- Sekolah yang sukses menumbuhkan karakter positif memiliki nilai tambah non-akademik tinggi.
Ekonomi / Employability Value Added
- Kontribusi pendidikan terhadap kesiapan kerja dan penghasilan masa depan.
- Empirik:
- Lulusan SMK di bidang IT di Jakarta rata-rata mendapatkan gaji awal ± Rp4,5 juta/bulan, lebih tinggi dibanding lulusan SMA reguler ± Rp3,2 juta/bulan.
- Hal ini menunjukkan nilai tambah pendidikan vokasi dalam produktivitas ekonomi.
Sosial / Community Value Added
- Pendidikan meningkatkan kesadaran sosial, partisipasi masyarakat, dan kemampuan beradaptasi.
- Contoh:
- Sekolah di desa yang mengajarkan pertanian berkelanjutan → siswa meningkatkan produktivitas pertanian keluarga.
Pengelompokan Nilai Tambah Pendidikan
Nilai tambah pendidikan biasanya dikelompokkan berdasarkan dimensi output dan level analisis.
Kategori Nilai Tambah
Fokus Utama
Contoh Kontekstual Indonesia
Akademik / Cognitive
Peningkatan skor ujian, literasi, numerasi
Sekolah favorit di Jakarta meningkatkan skor UN dari 75 → 90
Non-Akademik / Non-Cognitive
Soft skills, karakter, kreativitas
Kegiatan ekstrakurikuler: debat, seni, kewirausahaan
Ekonomi / Employability
Produktivitas dan pendapatan masa depan
SMK IT di Bandung → lulusan cepat terserap kerja
Sosial / Community
Dampak pada masyarakat sekitar
Sekolah adiwiyata → siswa peduli lingkungan desa
Perspektif Multi-Dimensi
Perspektif Mikro (Individu)
- Nilai tambah pendidikan mengukur keuntungan personal siswa.
- Contoh: siswa dari keluarga kurang mampu bisa memperoleh kemajuan akademik signifikan → nilai tambah tinggi → peluang pendapatan meningkat.
Perspektif Sekolah / Institusi
- Nilai tambah digunakan untuk mengukur efektivitas sekolah.
- Sekolah dengan input rendah (siswa awal kurang siap) tetapi output tinggi → manajemen dan guru efektif.
Perspektif Makro (Negara)
- Menilai kontribusi sistem pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia.
- Indonesia menghadapi tantangan distribusi kualitas sekolah: urban vs rural. Nilai tambah tinggi di kota besar belum tentu terjadi di desa terpencil.
Perspektif Ekonomi & Kebijakan Publik
- Mengalokasikan dana pendidikan berbasis nilai tambah → lebih adil dan efisien.
- Contoh: Dana BOS bisa lebih besar untuk sekolah dengan nilai tambah potensial tinggi tapi awalnya tertinggal.
Contoh Kontekstual Analisis Nilai Tambah di Indonesia
- Sekolah A di Jakarta
- Input siswa: rata-rata nilai awal rendah (literasi dasar 50/100)
- Output: nilai UN meningkat menjadi 85/100
- → Nilai tambah tinggi → sekolah efektif meningkatkan potensi siswa
- Sekolah B di desa Jawa Tengah
- Input siswa: literasi 60/100
- Output: nilai UN meningkat menjadi 65/100
- → Nilai tambah rendah → sekolah perlu intervensi, misal pelatihan guru, akses bahan ajar
- Sekolah SMK di Bandung
- Output lulusan cepat terserap kerja
- Nilai tambah ekonomi tinggi → mendukung pertumbuhan regional
Penting untuk diingat oleh kalian bahwa:
- Nilai tambah pendidikan adalah indikator kunci efektivitas pendidikan, bukan sekadar hasil mentah.
- Penting untuk melihat dimensi akademik, non-akademik, ekonomi, dan sosial.
- Dari perspektif kebijakan, nilai tambah bisa menjadi alat:
- Mengukur efektivitas sekolah
- Mengalokasikan sumber daya secara adil
- Meningkatkan produktivitas SDM nasional
Silakan dipelajari artikel berikut.
Sumber: https://media.neliti.com/media/publications/218123-nilai-ekonomi-dari-pendidikan.pdf
Cobalah anda identifikasi dan kelompokkan nilai tambah pendidikan berdasarkan pengalaman anda menempuh pendidikan dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.
13 April - 19 April
Salam pembelajar,
Pada pekan ini kita akan mepelajari bahan kajian Nilai tambah pendidikan: pendekatan dalam mengukur nilai tambah pendidikan, dan persoalan pokok dalam pengukuran nilai tambah pendidikan.
Pendekatan dalam Mengukur Nilai Tambah Pendidikan
Mahasiswa sekalian,
Nilai tambah pendidikan (educational value added) mengukur kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kemampuan siswa, setelah dikoreksi faktor awal (misal kemampuan awal atau latar belakang keluarga). Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam praktik ekonomi pendidikan.
Pendekatan Statistik: Value-Added Modeling (VAM)
Definisi:
Metode ini menggunakan model statistik untuk memprediksi output belajar siswa berdasarkan input awal, kemudian membandingkan prediksi dengan hasil nyata.Nilai Tambah=Hasil Aktual Siswa−Hasil Prediksi Berdasarkan Input
Ciri utama:
- Mempertimbangkan faktor awal seperti:
- Nilai awal siswa
- Latar belakang sosial ekonomi
- Gender, usia
- Memberikan gambaran sekolah atau guru yang efektif meningkatkan kemampuan siswa.
Contoh empirik:
- Di Amerika Serikat, sekolah yang awalnya memiliki siswa berprestasi rendah tapi mampu meningkatkan nilai matematika dan membaca → nilai tambah tinggi.
- Di Indonesia, penelitian OECD (PISA 2018) menunjukkan sekolah di kota besar cenderung memiliki nilai tambah akademik lebih tinggi dibanding sekolah desa, walaupun input awal siswa serupa.
Pendekatan Tes Standar (Exam-Based Approach)
Definisi:
Mengukur nilai tambah berdasarkan peningkatan skor ujian standar dari awal hingga akhir pendidikan.Contoh:
- Nilai UN SMP 2022:
- Skor awal rata-rata siswa: 60/100
- Skor akhir rata-rata: 75/100
- Nilai tambah sekolah = 15 poin
Kelebihan: mudah diukur, langsung, dan kuantitatif.
Kekurangan: hanya menilai aspek kognitif, mengabaikan non-kognitif (karakter, kreativitas).Pendekatan Non-Kognitif
- Fokus pada keterampilan sosial, karakter, dan kompetensi hidup.
- Metode: observasi, kuesioner, portofolio, atau penilaian guru.
Contoh:
- Sekolah adiwiyata di Indonesia menilai kemampuan siswa dalam pengelolaan lingkungan → nilai tambah sosial tinggi.
- Program kewirausahaan SMK → peningkatan kemampuan berwirausaha → nilai tambah ekonomi tinggi.
Pendekatan Gabungan (Holistic Value Added)
- Menggabungkan kognitif dan non-kognitif.
- Contoh metode: multilevel modeling, di mana pengaruh sekolah, guru, dan rumah tangga dianalisis bersama.
- Memberikan pandangan lebih lengkap tentang efektivitas pendidikan secara menyeluruh.
Persoalan Pokok dalam Pengukuran Nilai Tambah Pendidikan
Pengukuran nilai tambah pendidikan tidaklah sederhana. Ada beberapa persoalan utama:
Masalah Data dan Informasi
- Data awal siswa tidak selalu lengkap atau akurat.
§ Misal: kemampuan awal di sekolah desa tidak terdokumentasi.
- Data non-kognitif sulit diukur secara objektif.
§ Kreativitas, karakter, dan soft skills cenderung subjektif.
Dampak: model nilai tambah bisa bias atau tidak merepresentasikan realitas.
Masalah Validitas dan Reliabilitas Tes
- Tes standar sering hanya mengukur kognitif → mengabaikan aspek penting non-kognitif.
- Perbedaan jenis tes dan kualitas soal antar sekolah → sulit membandingkan nilai tambah secara adil.
Contoh:
- Skor matematika SMA A di kota besar vs SMA B di desa → perbedaan fasilitas tes bisa memengaruhi pengukuran nilai tambah.
Masalah Seleksi Siswa (Selection Bias)
- Sekolah elit cenderung menerima siswa yang sudah unggul → nilai tambah bisa tampak rendah karena siswa sudah tinggi kemampuannya.
- Sekolah yang menerima siswa dengan kemampuan rendah → nilai tambah tinggi, meski skor mutlak rendah.
Implikasi: perlu memperhitungkan input awal siswa untuk menghindari kesalahan interpretasi.
Masalah Non-Kognitif dan Kultural
- Nilai tambah sosial atau karakter sulit diukur universal.
- Kegiatan ekstrakurikuler, budaya sekolah, dan dukungan keluarga memengaruhi pengukuran.
Contoh kontekstual:
- Sekolah di Bali menekankan seni dan budaya lokal → siswa memiliki nilai tambah sosial dan budaya tinggi, tapi tes nasional fokus kognitif → nilai tambah akademik terlihat rendah.
Masalah Kompleksitas Model
- Pendekatan multilevel atau value-added modeling membutuhkan keahlian statistik dan data yang lengkap.
- Banyak sekolah di Indonesia belum memiliki sistem manajemen data siswa yang memadai.
III. Perspektif Multi-Dimensi
Perspektif
Tantangan & Catatan
Mikro (Individu)
Siswa bisa merasa “dinilai” hanya dari tes akademik, padahal non-kognitif penting
Sekolah / Guru
Nilai tambah mencerminkan efektivitas guru, tapi bias seleksi siswa bisa menyesatkan
Makro (Negara)
Nilai tambah membantu kebijakan, tapi data tidak merata → sulit alokasi dana adil
Ekonomi & Kebijakan Publik
Mengukur produktivitas SDM → penting bagi pertumbuhan ekonomi, tapi harus hati-hati interpretasi
Contoh Kontekstual Indonesia
- Sekolah Negeri Jakarta
- Input: skor awal 70/100
- Output: skor UN 90/100
- Nilai tambah: 20 → tinggi, efektif meningkatkan potensi siswa
- Sekolah Negeri di Papua
- Input: skor awal 50/100
- Output: skor UN 55/100
- Nilai tambah: 5 → rendah, perlu intervensi guru dan fasilitas
- SMK Vokasi Bandung
- Nilai tambah non-kognitif: tinggi karena keterampilan kerja meningkat → lulusan cepat terserap industri
Summary & Refleksi untuk kalian mahasiswa calon pendidik:
- Pendekatan pengukuran nilai tambah pendidikan:
- Statistik/VAM, tes standar, non-kognitif, dan gabungan.
- Persoalan utama:
- Data tidak lengkap, tes terbatas, seleksi siswa, non-kognitif sulit diukur, kompleksitas model.
- Implikasi kebijakan:
- Nilai tambah bukan sekadar skor, tapi indikator efektivitas pendidikan.
- Membantu alokasi sumber daya, pengembangan guru, dan evaluasi sekolah.
Silakan didownloud bahan bacaan berikut, pelajarilah dengan baik.
Sumber: https://www.oecd.org/education/skills-beyond-school/Litterature%20Review%20VAM.pdf
Pemerintah ingin mengalokasikan dana tambahan untuk sekolah berdasarkan nilai tambah. Namun, data kemampuan awal siswa di beberapa daerah terpencil belum lengkap.
Pertanyaan Diskusi:
- Apa risiko pengambilan keputusan jika menggunakan data nilai tambah yang tidak lengkap?
- Bagaimana strategi untuk tetap menggunakan pendekatan nilai tambah secara adil?
20 April - 26 April
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita adalah Pembiayaan pendidikan: pengeluaran pendidikan, sumber pembiayaan pendidikan.
PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
1) Pengeluaran Pendidikan (Educational Expenditure)
2) Sumber Pembiayaan Pendidikan (Sources of Education Financing)
Mahasiswaku sekalian,
I. Mengapa Pembiayaan Pendidikan Penting?
Secara ekonomi, pendidikan adalah investasi jangka panjang (long-term investment) dalam modal manusia (human capital). Teori Human Capital dari Gary Becker menjelaskan bahwa pendidikan meningkatkan produktivitas individu yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi.
Negara yang berani mengalokasikan dana besar untuk pendidikan cenderung:
- Memiliki tingkat inovasi tinggi
- Produktivitas tenaga kerja meningkat
- Ketimpangan sosial lebih rendah
- Stabilitas ekonomi lebih kuat
Contoh nyata:
- South Korea pasca perang 1950-an adalah negara miskin. Kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia karena investasi besar pada pendidikan dan teknologi.
- Finland dikenal memiliki sistem pendidikan terbaik dengan dukungan pembiayaan publik yang kuat dan merata.
II. Pengeluaran Pendidikan (Educational Expenditure)
Pengeluaran pendidikan adalah seluruh biaya yang digunakan untuk menjalankan proses pendidikan.
A. Jenis Pengeluaran Pendidikan
Pengeluaran Langsung (Direct Cost)
- Gaji guru dan tenaga kependidikan
- Pembangunan gedung
- Buku dan fasilitas
- Teknologi pembelajaran
Pengeluaran Tidak Langsung (Indirect Cost)
- Transportasi siswa
- Uang saku
- Biaya kesempatan (opportunity cost) — misalnya siswa tidak bekerja karena bersekolah
Komponen Utama Pengeluaran Pendidikan
Dalam praktiknya, anggaran pendidikan biasanya terserap untuk:
- Gaji dan tunjangan guru (komponen terbesar)
- Sarana dan prasarana
- Administrasi dan manajemen
- Pengembangan kurikulum
- Teknologi dan digitalisasi pendidikan
Fakta Aktual (Indonesia):
Konstitusi Indonesia mengamanatkan minimal 20% APBN dan APBD untuk pendidikan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan diposisikan sebagai prioritas nasional.Namun pertanyaannya:
Apakah besarnya anggaran selalu identik dengan kualitas?
Belum tentu.
Karena dalam ekonomi pendidikan, kita juga berbicara tentang:
- Efisiensi
- Efektivitas
- Return on Investment (ROI) Pendidikan
III. Sumber Pembiayaan Pendidikan
Sekarang kita masuk ke pertanyaan besar:
Dari mana uang pendidikan berasal?
Secara umum, ada tiga sumber utama:
Pemerintah (Public Financing)
- APBN / APBD
- Dana transfer daerah
- Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
Kelebihan:
✔ Meningkatkan pemerataan
✔ Mengurangi ketimpangan aksesTantangan:
✖ Ketergantungan fiskal
✖ Risiko birokrasi tidak efisienRumah Tangga (Private Household Financing)
- Uang sekolah
- Biaya perlengkapan
- Les privat
- Pendidikan tinggi swasta
Fenomena aktual:
Di banyak negara berkembang, beban biaya pendidikan tinggi semakin besar ditanggung keluarga.Contoh:
Di United States, isu student loan menjadi masalah ekonomi nasional karena tingginya biaya kuliah.Sektor Swasta & Filantropi
- Corporate Social Responsibility (CSR)
- Yayasan pendidikan
- Donor internasional
- Kemitraan industri
Contoh:
- Bill & Melinda Gates Foundation banyak mendanai program pendidikan global.
- Perusahaan teknologi mendukung digitalisasi sekolah melalui perangkat dan pelatihan.
IV. Fenomena dan Isu Aktual
Digitalisasi Pendidikan
Pandemi COVID-19 mengubah struktur pengeluaran pendidikan secara drastis:
- Lonjakan biaya internet
- Pengadaan perangkat digital
- Platform pembelajaran daring
Sekolah kini harus mengalokasikan dana untuk:
- Learning Management System
- Pelatihan guru digital
- Keamanan data
Ketimpangan Akses
Masalah klasik dalam pembiayaan pendidikan:
- Sekolah di kota vs desa
- Sekolah negeri vs swasta
- Negara maju vs berkembang
Ketimpangan pembiayaan menghasilkan ketimpangan kualitas.
Efisiensi Anggaran
Negara-negara mulai menerapkan:
- Performance-based budgeting
- School-based management
- Data-driven policy
Tujuannya: setiap rupiah menghasilkan dampak maksimal.
V. Perspektif Futuristik: Masa Depan Pembiayaan Pendidikan
Mari kita berpikir 10–20 tahun ke depan.
Beberapa kemungkinan besar:
Education as Investment Portfolio
Pendidikan bisa dibiayai melalui:
- Income Share Agreement (ISA)
- Social Impact Bond
- Crowdfunding pendidikan
Investor mendanai pendidikan siswa, dan pengembalian didasarkan pada pendapatan masa depan.
AI dan Efisiensi Biaya
Dengan AI:
- Satu guru bisa mengelola lebih banyak siswa secara personal
- Materi otomatis terdiferensiasi
- Evaluasi otomatis
Efisiensi meningkat → Struktur biaya berubah.
Pendidikan Hybrid & Global Marketplace
Mahasiswa bisa:
- Kuliah dari universitas global tanpa berpindah negara
- Membayar per modul (micro-credential)
- Sistem langganan pendidikan (education subscription model)
VI. Refleksi Kritis untuk Mahasiswa
Sebagai calon ekonom pendidikan, tanyakan pada diri Anda:
- Apakah pendidikan harus sepenuhnya dibiayai negara?
- Bagaimana memastikan keadilan tanpa mengorbankan efisiensi?
- Apakah pendidikan adalah hak sosial atau komoditas ekonomi?
- Bagaimana desain pembiayaan yang adaptif terhadap revolusi teknologi?
Kesimpulan penting untuk kita semua bahwa:
Pembiayaan pendidikan bukan sekadar persoalan angka dalam APBN.
Ia adalah:
- Strategi pembangunan
- Instrumen pemerataan
- Investasi produktivitas
- Fondasi inovasi nasional
Negara yang gagal merancang sistem pembiayaan pendidikan yang adil dan efisien akan tertinggal dalam ekonomi global berbasis pengetahuan.
Sebaliknya, negara yang berani berinvestasi cerdas pada pendidikan akan memetik:
- Bonus demografi
- Daya saing global
- Kesejahteraan berkelanjutan
Silakan dipelajari bahan berikut https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED574634.pdf
Cobalah anda diskusikan pertimbangan-pertimbangan apa yang harus diperhatikan kaitannya dengan pengeluaran dan sumber pembiayaan pendidikan.
SOAL KASUS
“Reformasi Pembiayaan Pendidikan di Provinsi Nusantara Raya”
Pemerintah Provinsi Nusantara Raya memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Jumlah penduduk: 8 juta jiwa
- Anggaran pendidikan: 22% dari APBD
- 68% anggaran pendidikan digunakan untuk gaji dan tunjangan guru
- 12% untuk infrastruktur
- 8% untuk program bantuan siswa (beasiswa & subsidi)
- 12% untuk administrasi dan lainnya
Namun, hasil evaluasi menunjukkan:
- Skor literasi dan numerasi siswa berada di bawah rata-rata nasional
- Ketimpangan kualitas antara sekolah kota dan desa sangat tinggi
- Banyak sekolah memiliki guru berlebih di kota, tetapi kekurangan guru di daerah terpencil
- Infrastruktur digital sangat terbatas
Sebagai pembanding, pemerintah pusat ingin mendorong reformasi dengan merujuk praktik negara anggota OECD yang:
- Memiliki sistem performance-based budgeting
- Mengalokasikan dana berbasis kebutuhan siswa
- Mengutamakan peningkatan kualitas guru
- Menggunakan sistem evaluasi berbasis data
TUGAS ANDA
Sebagai analis ekonomi pendidikan, Anda diminta menyusun rekomendasi kebijakan dengan menjawab pertanyaan berikut:
1) Analisis Struktur Pengeluaran
- Apakah struktur belanja pendidikan di Nusantara Raya sudah efisien?
- Bagian mana yang perlu direalokasi? Mengapa?
2) Analisis Sumber Pembiayaan
- Apakah pembiayaan masih terlalu bergantung pada pemerintah daerah?
- Perlukah melibatkan sektor swasta atau skema pembiayaan alternatif? Jelaskan model yang tepat.
3) Perbandingan dengan Negara OECD
- Elemen apa dari praktik negara OECD yang realistis diadopsi?
- Apa tantangan implementasinya di konteks Indonesia?
4) Rancangan Reformasi
Susun proposal singkat reformasi pembiayaan pendidikan selama 5 tahun yang mencakup:
- Perubahan struktur belanja
- Strategi peningkatan kualitas guru
- Digitalisasi sekolah
- Mekanisme monitoring dan evaluasi
27 April - 3 May
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita adalah Pembiayaan pendidikan: biaya operasional pendidikan, dan investasi pendidikan.
Pembiayaan Pendidikan
1) Biaya Operasional Pendidikan
2) Investasi Pendidikan
Mahasiswa sekalian,
Materi ini penting karena menyangkut satu pertanyaan besar dalam ekonomi:
Apakah pendidikan hanya pengeluaran rutin, atau investasi strategis jangka panjang?
Sebagai ekonom pendidikan, kita harus mampu membedakan keduanya secara konseptual dan kebijakan.
I. Biaya Operasional Pendidikan (Operational Cost of Education)
Definisi
Biaya operasional pendidikan adalah seluruh biaya yang digunakan untuk menjalankan aktivitas pendidikan sehari-hari agar proses belajar mengajar dapat berlangsung.
Artinya: ini adalah biaya agar sekolah/universitas tetap “hidup” dan berfungsi.
Komponen Biaya Operasional
Biaya operasional biasanya meliputi:
1) Gaji guru dan tenaga kependidikan
2) Listrik, air, internet
3) Pemeliharaan Gedung
4) ATK dan bahan ajar
5) Administrasi sekolah
6) Biaya kegiatan belajar (ujian, praktik, dll.)
Fakta Aktual (Indonesia):
Sebagian besar anggaran pendidikan daerah terserap untuk belanja pegawai (gaji dan tunjangan guru). Ini menunjukkan bahwa struktur biaya operasional sangat dominan dalam pembiayaan pendidikan.Perspektif Ekonomi
Dalam analisis ekonomi:
- Biaya operasional = short-term expenditure
- Fungsinya menjaga sistem tetap berjalan
- Tidak selalu langsung meningkatkan kualitas
Masalah yang sering muncul:
✔ Biaya tinggi
✖ Efisiensi rendah
✖ Outcome belum optimalDi banyak negara anggota OECD, biaya operasional tetap besar, tetapi dikelola dengan sistem monitoring berbasis kinerja.
Fenomena Aktual
1) Digitalisasi pasca pandemi meningkatkan biaya internet dan perangkat.
2) Sekolah perlu anggaran keamanan siber.
3) Biaya energi meningkat secara global.
Artinya, struktur biaya operasional berubah dan semakin kompleks.
II. Investasi Pendidikan (Educational Investment)
Sekarang kita masuk ke dimensi yang lebih strategis.
Definisi
Investasi pendidikan adalah pengeluaran yang bertujuan meningkatkan kapasitas, kualitas, dan produktivitas jangka panjang sumber daya manusia.
Jika biaya operasional menjaga sistem tetap berjalan, maka:
Investasi pendidikan bertujuan meningkatkan nilai sistem itu sendiri.
Bentuk Investasi Pendidikan
1) Pelatihan dan peningkatan kompetensi guru
2) Digitalisasi sekolah
3) Pembangunan laboratorium modern
4) Pendidikan anak usia dini (PAUD)
5) Beasiswa pendidikan tinggi
6) Riset dan inovasi universitas
Teori Human Capital
Ekonom seperti Gary Becker menjelaskan bahwa pendidikan meningkatkan produktivitas → meningkatkan pendapatan → mendorong pertumbuhan ekonomi.
Investasi pendidikan memiliki:
- Rate of Return (pengembalian investasi)
- Dampak jangka panjang terhadap PDB
- Efek intergenerasional
Contoh empiris:
- South Korea bertransformasi dari negara miskin menjadi negara maju karena investasi besar dalam pendidikan dan teknologi.
- Finland berinvestasi besar pada kualitas guru, bukan hanya infrastruktur.
III. Perbedaan Kunci: Operasional vs Investasi
Aspek
Biaya Operasional
Investasi Pendidikan
Tujuan
Menjaga sistem berjalan
Meningkatkan kualitas & produktivitas
Horizon waktu
Jangka pendek
Jangka panjang
Dampak ekonomi
Tidak langsung
Langsung pada pertumbuhan
Contoh
Gaji rutin, listrik
Pelatihan guru, digitalisasi
Masalah di banyak negara berkembang:
Anggaran lebih banyak terserap untuk operasional daripada investasi.
Akibatnya:
- Sistem berjalan, tetapi tidak berkembang.
IV. Fenomena Aktual Global
AI dan Transformasi Struktur Biaya
Sekolah kini harus berinvestasi pada:
- Artificial Intelligence
- Adaptive learning
- Learning analytics
Jika tidak, sistem pendidikan akan tertinggal dari kebutuhan industri 4.0.
Krisis Pembelajaran Global
Banyak laporan menunjukkan learning loss pasca pandemi. Artinya, biaya operasional tetap berjalan, tetapi hasil belajar menurun.
Ini menunjukkan:
Operasional ≠ peningkatan kualitas.
Bonus Demografi Indonesia
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Jika investasi pendidikan tidak optimal, maka:
- Angkatan kerja besar
- Produktivitas rendah
- Potensi pertumbuhan hilang
Sebaliknya, jika investasi tepat:
- Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di Asia.
V. Perspektif Futuristik (10–20 Tahun ke Depan)
Mari kita berpikir visioner.
1) Pergeseran dari Fixed Cost ke Smart Investment
Teknologi akan mengurangi biaya administratif dan meningkatkan personalisasi belajar.2) Education as Economic Asset
Pendidikan akan dipandang seperti portofolio investasi nasional.Skema Pembiayaan Berbasis Kinerja
Sekolah akan dibiayai berdasarkan:· Learning outcome
· Inovasi
· Kesiapan kerja lulusan
3) Micro-Credential & Lifelong Learning
Investasi pendidikan tidak lagi berhenti di usia sekolah, tetapi sepanjang hayat.VI. Refleksi Kritis untuk Mahasiswa
Sebagai calon analis kebijakan pendidikan, Anda perlu menjawab:
1) Apakah struktur anggaran pendidikan saat ini terlalu berat pada operasional?
2) Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan investasi jangka panjang?
3) Berapa porsi ideal investasi untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi optimal?
Kesimpulan Strategis untuk kita ingat dan pahami Bersama bahwa:
Biaya operasional penting — tanpa itu sekolah tidak bisa berjalan.
Namun investasi pendidikan jauh lebih menentukan masa depan bangsa.
Negara yang hanya fokus pada operasional akan stagnan.
Negara yang berani berinvestasi akan unggul secara ekonomi dan teknologi.Sebagai generasi dan insan akademik, Anda bukan hanya mempelajari angka anggaran, tetapi merancang masa depan pembangunan manusia.
Mari kita simak video berikut>
Linnk youtube:
Berikan sintesa Anda setelah menyimak video tersebut. Maksimal 350kata.
Silakan dipelajari bahan berikut.
Sumber: http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_9-April_2008/Pembiayaan_Pendidikan_Landasan_Teori_dan_Studi_Empiris.pdf
Cobalah inventarisasi biaya operasional pendidikan, dan investasi pendidikan dari jenjang TK hingga perguruan tinggi berdasarkan pengalaman anda masing-masing, kami bisa pastikan bahwa tidak akan ada kesamaan antar kalian dikarenakan kalian bersekolah di tempat yang berbeda dari jenjang per jenjang. Selamat belajar.
4 May - 10 May
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita tentang Analisis nilai tambah pendidikan: pengukuran nilai sekarang, nilai bersih sekarang, rasio biaya-manfaat pendidikan, dan tingkat pengembalian investasi.
Analisis Nilai Tambah Pendidikan
Mahasiswa sekalian,
Topik ini pada dasarnya menjawab pertanyaan besar:
“Apakah pendidikan yang kita jalani atau biayai benar-benar memberikan manfaat, dan seberapa besar manfaat itu dibandingkan biayanya?”
Dalam ekonomi pendidikan, kita biasanya menilai ini lewat empat konsep utama:
- Nilai Sekarang (Present Value – PV)
- Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value – NPV)
- Rasio Biaya-Manfaat (Benefit-Cost Ratio – BCR)
- Tingkat Pengembalian Investasi Pendidikan (Rate of Return – RoR)
I. Nilai Sekarang (Present Value – PV)
Konsep Inti
Bayangkan: kamu menabung untuk membeli motor 10 tahun ke depan. Nilai uangmu sekarang tidak sama dengan nilai uang di masa depan karena inflasi atau kesempatan lain.
Nilai sekarang pendidikan adalah:
Seberapa besar manfaat pendidikan yang akan kamu terima di masa depan jika dihitung dalam “nilai saat ini”.
Contoh Sederhana
- Kamu lulus SMA → bisa dapat pekerjaan dengan gaji Rp 3 juta/bulan
- Tanpa SMA → hanya dapat Rp 2 juta/bulan
- Jadi, pendidikan SMA memberikan manfaat ekstra Rp 1 juta/bulan.
- PV membantu menghitung manfaat itu dalam konteks nilai saat ini, agar bisa dibandingkan dengan biaya pendidikan.
Intinya: PV membantu kita melihat “berapa nilai pendidikan saat ini jika manfaat masa depan dihitung secara realistis”.
II. Nilai Bersih Sekarang (Net Present Value – NPV)
Konsep Inti
NPV menanyakan pertanyaan sederhana:
“Apakah manfaat pendidikan lebih besar dari biayanya?”
- Jika manfaat lebih besar → pendidikan menguntungkan
- Jika manfaat lebih kecil → pendidikan kurang efisien
Contoh Sederhana
- Biaya kursus komputer: Rp 2 juta
- Setelah lulus, kamu bisa kerja dan dapat tambahan penghasilan Rp 5 juta
- NPV = Manfaat – Biaya = Rp 5 juta – Rp 2 juta = Rp 3 juta positif
Intinya: pendidikan itu investasi yang untung jika NPV positif.
III. Rasio Biaya-Manfaat (Benefit-Cost Ratio – BCR)
Konsep Inti
BCR menanyakan:
“Setiap 1 rupiah yang kita keluarkan, seberapa banyak manfaat yang kita dapatkan?”
- BCR > 1 → investasi menguntungkan
- BCR < 1 → investasi kurang efisien
Contoh Sederhana
- Biaya pelatihan bahasa Inggris: Rp 1 juta
- Manfaat (misal kenaikan gaji atau peluang kerja): Rp 3 juta
- BCR = 3 ÷ 1 = 3
Artinya: setiap Rp 1 yang dikeluarkan menghasilkan Rp 3 manfaat.
IV. Tingkat Pengembalian Investasi Pendidikan (Rate of Return – RoR)
Konsep Inti
RoR mirip seperti persentase keuntungan dari investasi.
- Semakin tinggi RoR → pendidikan semakin “menguntungkan”
- Semakin rendah RoR → mungkin perlu pertimbangan ulang atau investasi lain
Contoh Sederhana
- Kursus desain grafis: biaya Rp 2 juta → menghasilkan tambahan penghasilan Rp 4 juta
- RoR kira-kira 100% (artinya setiap Rp 1 yang dikeluarkan menghasilkan Rp 2 manfaat)
Intinya: RoR membantu kita menilai “seberapa cepat pendidikan membayar dirinya sendiri”.
V. Fenomena Aktual
1) Ketimpangan RoR di Indonesia
- Lulusan IT, digital marketing → RoR tinggi karena banyak peluang kerja
- Lulusan non-kejuruan, bidang yang kurang permintaan → RoR rendah
2) Digitalisasi & Online Learning
- Sekarang banyak kursus online murah → PV dan RoR bisa tinggi karena biaya rendah dan manfaat besar
3) Pandemi COVID-19
- Learning loss → menurunkan manfaat pendidikan sementara
- Menguatkan pentingnya investasi digital (misal e-learning, tablet, internet)
VI. Perspektif Futuristik
Dalam 10–20 tahun ke depan:
- Pembelajaran modular & micro-credential: Bayar per modul → RoR lebih fleksibel
- AI & learning analytics: Bisa mengukur nilai tambah setiap siswa secara real-time
- Investasi pendidikan sepanjang hayat: PV dan RoR bukan hanya untuk sekolah formal, tapi juga kursus, pelatihan, dan skill baru
- Pendidikan global: Siswa bisa belajar online dari universitas manapun → PV & RoR bisa meningkat karena akses ke penghasilan global
VII. Ringkasan Simpel
Konsep
Pertanyaan Sederhana
Contoh
PV
Seberapa besar manfaat pendidikan masa depan dihitung saat ini?
Gaji tambahan setelah lulus SMA dibanding tanpa SMA
NPV
Apakah manfaat lebih besar dari biaya?
Kursus Rp 2 juta → penghasilan tambahan Rp 5 juta → positif
BCR
Setiap Rp 1 yang dikeluarkan menghasilkan berapa banyak manfaat?
Rp 1 → Rp 3 manfaat
RoR
Seberapa cepat pendidikan “membayar dirinya sendiri”?
Kursus Rp 2 juta → tambah penghasilan Rp 4 juta → RoR 100%
Pesan penting untuk kalian sebagai calon pendidik ekonomi:
Pendidikan itu bukan sekadar biaya rutin. Dengan analisis nilai tambah, kita bisa melihat mana pendidikan yang benar-benar menguntungkan jangka panjang dan bagaimana mengalokasikan sumber daya secara cerdas.
Silakan didownloud dan dipelajari
Silakan berlatih menganalisis nilai tambah pendidikan: pengukuran nilai sekarang, nilai bersih sekarang, rasio biaya-manfaat pendidikan, dan tingkat pengembalian investasi berdasarkan pengalaman anda menempuh pendidikan dan jadikanlah acuan referensi-referensi perkuliahan yang selama ini telah diberikan. Bahan-bahan yang diberikan selama ini saling berkaitan sehingga mohon bisa dipelajari tiap-tiap bagian dengan seksama. Selamat belajar.
11 May - 17 May
Salam pembelajar,
Pada pekan ini bahan kajian kita adalah Analisis nilai tambah pendidikan dalam dimensi mikro dan makro: analisis mikro lembaga pendidikan, analisis nilai tambah pendidikan secara perorangan, dan analisis nilai tambah pendidikan bagi masyarakat.
Analisis Nilai Tambah Pendidikan: Dimensi Mikro dan Makro
Mahasiswaku sekalian,
Nilai tambah pendidikan berarti manfaat yang diperoleh dari pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan bisa dilihat dari skala kecil hingga besar.
I. Analisis Mikro: Lembaga Pendidikan
Apa itu?
Ini melihat seberapa efektif sebuah sekolah atau universitas memberikan nilai tambah kepada siswa.
Fokusnya adalah kualitas pendidikan yang dihasilkan oleh lembaga.Contoh Sederhana
- Sekolah A menyediakan laboratorium sains modern, pelatihan guru berkualitas, dan program ekstrakurikuler.
- Lulusan sekolah A lebih siap menghadapi ujian, bisa berkreasi, dan mendapatkan nilai tambah keterampilan dibanding sekolah tanpa fasilitas tersebut.
Fenomena Aktual
- Banyak sekolah di kota besar Indonesia memiliki fasilitas lengkap → nilai tambah tinggi.
- Sekolah di daerah terpencil masih kekurangan guru dan laboratorium → nilai tambah rendah.
- Di dunia internasional, OECD sering melakukan PISA (Programme for International Student Assessment) untuk mengukur nilai tambah sekolah.
Perspektif Futuristik
- Sekolah akan menggunakan AI untuk menyesuaikan materi pelajaran dengan kemampuan masing-masing siswa.
- Lembaga pendidikan bisa mengukur nilai tambah secara real-time dengan data belajar digital.
- Sekolah hybrid (offline + online) akan memaksimalkan hasil belajar tanpa menambah biaya operasional terlalu besar.
II. Analisis Nilai Tambah Pendidikan Secara Perorangan (Mikro Individu)
Apa itu?
Melihat manfaat pendidikan yang diperoleh oleh individu: kemampuan, keterampilan, dan peluang hidup yang lebih baik.
Contoh Sederhana
- Rudi menyelesaikan SMA → bisa bekerja dan mendapatkan gaji Rp 2 juta/bulan.
- Jika tidak sekolah → hanya bisa kerja kasar Rp 1,2 juta/bulan.
- Nilai tambah pendidikan Rudi = Rp 0,8 juta/bulan tambahan penghasilan + keterampilan baru.
Selain gaji, nilai tambah juga bisa berupa:
- Keterampilan sosial
- Kemampuan berpikir kritis
- Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi
Fenomena Aktual
- Kursus coding online → banyak pemuda desa bisa bekerja di perusahaan global → nilai tambah tinggi meskipun biaya rendah.
- Banyak lulusan SMA yang tidak mendapat keterampilan sesuai kebutuhan industri → nilai tambah rendah.
Perspektif Futuristik
- Pendidikan akan lebih fleksibel → bisa diakses online, modular, dan sesuai kebutuhan karier.
- Siswa bisa memilih kursus yang memberikan manfaat paling besar untuk masa depan mereka, misal AI, digital marketing, atau green technology.
- Nilai tambah pendidikan bukan hanya pekerjaan, tapi juga keterampilan hidup sepanjang hayat.
III. Analisis Nilai Tambah Pendidikan bagi Masyarakat (Makro)
Apa itu?
Melihat manfaat pendidikan bagi masyarakat secara keseluruhan: pertumbuhan ekonomi, inovasi, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
Contoh Sederhana
- Kota X meningkatkan kualitas pendidikan → lebih banyak lulusan dengan keterampilan tinggi →
- Perusahaan baru berdiri → lapangan kerja meningkat
- Pendapatan masyarakat naik
- Tingkat kemiskinan menurun
- Sebaliknya, jika pendidikan buruk → produktivitas rendah → kemiskinan dan ketimpangan tinggi.
Fenomena Aktual
- Negara OECD: negara dengan pendidikan berkualitas tinggi memiliki ekonomi inovatif dan masyarakat sejahtera (misal Finlandia, Korea Selatan).
- Indonesia: ada bonus demografi, namun potensi ini bisa terbuang jika investasi pendidikan tidak tepat sasaran.
Perspektif Futuristik
- Pendidikan akan menjadi investasi nasional strategis, diukur bukan hanya jumlah sekolah, tapi seberapa besar nilai tambah untuk pertumbuhan masyarakat.
- Teknologi akan memungkinkan pemerintah memantau secara real-time kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan inovasi.
- Pendidikan bisa menjadi instrumen untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi revolusi industri 5.0 dan tantangan global seperti perubahan iklim atau digitalisasi massal.
IV. Ringkasan Singkat
Dimensi
Fokus
Contoh Nilai Tambah
Fenomena Aktual
Pandangan Futuristik
Mikro Lembaga
Sekolah/universitas
Laboratorium, guru berkualitas
Sekolah kota vs desa
AI untuk personalisasi belajar, sekolah hybrid
Mikro Individu
Siswa
Keterampilan, peluang kerja
Kursus online → kerja global
Pendidikan modular & lifelong learning
Makro Masyarakat
Komunitas/nasional
Produktivitas, inovasi, kesejahteraan
OECD → negara maju; Indonesia → bonus demografi
Pendidikan sebagai investasi nasional & data-driven policy
Pesan Penting untuk kalian sebagai calon pendidik ekonomi:
- Pendidikan memiliki nilai tambah di tiga level: lembaga, individu, dan masyarakat.
- Tidak semua pendidikan sama: kualitas lembaga, relevansi kurikulum, dan akses mempengaruhi hasil.
- Masa depan pendidikan akan lebih fleksibel, digital, dan berbasis data, sehingga nilai tambah bisa dioptimalkan secara lebih adil dan efisien.
Siakan dipelajari bahan berikut.
Sumber: http://download.ei-ie.org/Docs/WebDepot/2016_EI_VAM_EN_final_Web.pdf
Tulislah paper singkat berdasarkan pengalaman anda menempuh pendidikan, kaitkan dengan Analisis nilai tambah pendidikan dalam dimensi mikro dan makro: analisis mikro lembaga pendidikan, analisis nilai tambah pendidikan secara perorangan, dan analisis nilai tambah pendidikan bagi masyarakat. Maksimal paper 5 halaman, spasi 1,5 jenis huruf times new roman 12. Mohon tidak copy paste dari internet, jika anda mengutip silakan dicantumkan referensi yang anda gunakan. Selamat belajar.
18 May - 24 May
Salam pembelajar,
Pekan ini kita akan mempelajari tentang Pendidikan dan pembangunan: kontribusi pendidikan terhadap pembangunan, pendekatan ekonomi dalam perencanaan pendidikan, dan kebutuhan investasi pendidikan.
Mari kita simak video berikut ini untuk menambah wawasan kita.
Link Youtube:
Silakan didownloud dan dipelajari dengan baik
Sumber: http://www.c3l.uni-oldenburg.de/cde/OMDE625/Todaro/Todaro%20Chapter%2011.pdf
Cobalah kemukakan pendapat anda tentang Pendidikan dan pembangunan: kontribusi pendidikan terhadap pembangunan, pendekatan ekonomi dalam perencanaan pendidikan, dan kebutuhan investasi pendidikan.
25 May - 31 May
Pada pertemuan ke-16 ini akan dilaksanakan Ujian Akhir Semester. Silakan disiapkan mental dan fisik anda, semoga berhasil.