Posts made by Dina Ayu Lestari

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Dina Ayu Lestari -
Nama : Dina Ayu Lestari
NPM : 2513032071
Kelas : 25 C

Pendekatan yang Relevan di Indonesia yaitu Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Pendekatan ini sesuai dengan kebutuhan pendidikan di Indonesia karena dapat menghindari krisis moral dan karakter, dengan makin maraknya korupsi, intoleransi, dan kekerasan menunjukkan perlunya pendidikan yang menanamkan nilai secara konsisten. Sejalan dengan norma sosial masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai seperti gotong royong, hormat kepada orang lain. Pendekatan ini dilakukan dengan cara pemerintah menekankan pentingnya pendidikan karakter dalam kurikulum merdeka belajar serta membentuk kebiasaan dan sikap positif, pada pendekatan ini menekankan pengulangan, keteladanan, dan penguatan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan pemilihan Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach):
1.Fokus pada internalisasi nilai. Siswa tidak hanya tahu nilai, tetapi juga menghayati dan menerapkannya dalam tindakan nyata.
2.Menggunakan metode langsung Seperti pemberian contoh, penguatan positif, dan latihan berulang.
3.Efektif untuk usia dini dan remaja. Supaya anak-anak dan remaja dapat responsif terhadap pembiasaan dan keteladanan.


Contoh kegiatan pembelajaran berbasis Pendekatan Penanaman Nilai (Inculcation Approach)
Judul Kegiatan: “Pekan Kejujuran” di Sekolah
Tujuan: Menanamkan nilai kejujuran melalui pembiasaan dan penguatan positif.

Langkah-langkah:
1. Pembukaan, Guru menjelaskan pentingnya kejujuran.
• Peserta didik diberi contoh konkret (misalnya: mengakui kesalahan, tidak mencontek, mengembalikan barang temuan).
2. Peserta didik diminta menuliskan satu tindakan jujur yang mereka lakukan di “Buku Kejujuran”.
• Guru dan siswa lain memberikan apresiasi (pujian, stiker, atau bintang) bagi siswa yang menunjukkan perilaku jujur.
3. Selanjutnya refleksi dan penguatan diskusi kelas: Menelaah apa tantangan menjadi jujur? dan bagaimana rasanya?
• Guru menegaskan bahwa kejujuran adalah bagian dari karakter bangsa yang kuat.
4. Penutup: Siswa membuat poster kecil bertuliskan “Saya Anak Jujur” dan menempelkannya di kelas agar setiap membaca tulisan tersebut bisa tertanam dalam hati.

Hasil yang diharapkan yaitu adalah:
1. Peserta didik mampu terbiasa bersikap jujur dalam berbagai situasi.
2.Terjadi perubahan peserta didik mengenai sikap dan perilaku nyata, bukan hanya pemahaman teori

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

by Dina Ayu Lestari -
Nama : Dina ayu lestari
NPM : 2513032071
Kelas : 25 C

Prof Bujang pada video menjelaskan tentang "Kajian Kasus Kasus di Bidang Pendidikan" video ini berisikan mengenai berbagai tantangan dan solusi dalam dunia pendidikan khususnya pada konteks pembelajaran dan karakter siswa. Ada beberapa contoh kasus yang dijelaskan yaitu pertama tentang Kasus Guru Dilaporkan ke Kepolisian karena Menegur Siswa Kasus ini mencerminkan dilema yang dihadapi guru saat menjalankan peran mendidik, terutama ketika tindakan disiplin terhadap siswa dianggap sebagai pelanggaran oleh orang tua. Contohnya terjadi di Konawe Selatan, di mana seorang guru dilaporkan ke polisi setelah menegur siswa. Situasi ini menunjukkan kurangnya komunikasi dan kepercayaan antara pihak sekolah dan keluarga. Idealnya, orang tua perlu memahami bahwa guru bertugas membantu membentuk karakter anak, bukan sekadar menyampaikan pelajaran. Kolaborasi yang erat antara guru dan orang tua sangat penting agar proses pendidikan berjalan selaras dan tidak menimbulkan konflik.

Selanjutnya terdapat kasus Perilaku Tidak Bermoral di Kalangan Pelajar, Fenomena meningkatnya perilaku menyimpang, termasuk seks bebas di kalangan pelajar menjadi tanda bahwa nilai-nilai moral dan spiritual mulai terpinggirkan. Banyak siswa yang tidak lagi memiliki kesadaran akan batasan etika dan agama, sehingga mudah terjerumus dalam tindakan yang bertentangan dengan norma masyarakat. Penyebab utamanya adalah lemahnya pemahaman dan penghayatan terhadap ajaran agama. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan terpadu antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan secara konsisten dan menyentuh aspek kehidupan nyata siswa.

Berikutnya terdapat Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja dan Mahasiswa, Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa terus menunjukkan tren peningkatan, menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda. Ketidaktahuan tentang bahaya narkoba dan kurangnya pengawasan dari lingkungan sekitar membuat remaja rentan terhadap pengaruh negatif. Oleh karena itu, sekolah perlu aktif mengadakan program pencegahan, seperti kampanye anti-narkoba, penyuluhan rutin, dan pembentukan komunitas peduli narkoba. Selain itu, orang tua dan masyarakat harus turut serta dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, agar siswa tidak merasa terisolasi dan memiliki tempat untuk berbagi masalah secara sehat.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Dina Ayu Lestari -
Nama: Dina Ayu Lestari
Kelas: 25 C
NPM: 2513032071

Film Keluarga Cemara tahun 2018
•Dilema Moral
1. Dilema yang dialami oleh Euis, ia merupakan anak sulung yang masih berusia remaja tengah mengalami dilema moral yang membuat Euis cukup sedih karena ayahnya bangkrut dan imbasnya kepada keluarga yang harus pindah dari kota ke desa untuk melanjutkan hidup. Euis harus pindah sekolah yang jauh berbeda fasilitasnya dengan sekolah sebelumnya di Jakarta, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru bertemu dengan teman-teman baru. Dalam kasus ini termasuk pada kawasan Perilaku moral, yaitu dimana perilaku seseorang memengaruhi kesejahteraan orang lain (kepentingan bersama & konteks situasional) dalam perilaku ini proses proses batin yang melahirkan perilaku, menyeleksi berbagai penilaian dengan perilaku mana yang patut dilaksanakan.
2. Dilema yang dialami oleh Abah, Abah yang bangkrut kehilangan pekerjaan dan status sosial yang ia punya. Setelah itu Abah mencoba melamar pekerjaan tetapi hasilnya ditolak, Abah mencoba melamar sebagai kuli yang pekerjaannya cukup berat, dalam hal ini Abah sempat bimbang antara mempertahankan harga diri atau menerima pekerjaan kasar demi keluarga. Ini termasuk kedalam kawasan penalaran moral dimana suatu proses pertimbangan sebelum suatu tindakan dilakukan, pada akhirnya Abah memilih untuk bekerja sebagai kuli bangunan agar bisa menghidupi keluarganya.

•Analisis karakter berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg
1. Abah
Orientasi hukum dan ketertiban
• Ia menunjukkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga meski harus kehilangan pekerjaan dan status sosial.
• Contoh: Tetap bekerja keras sebagai tukang becak meski sebelumnya seorang manajer, demi memenuhi kewajiban moral sebagai ayah.
2. Emak
Orientasi keselarasan interpersonal
• Emak berusaha menjaga keharmonisan keluarga dan menjadi penyeimbang emosi.
• Ia mendukung Abah dan membimbing anak-anak dengan empati dan keteladanan.
Contoh: Menenangkan Euis saat kecewa, dan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari materi.
3. Euis (Anak Sulung)
Transisi dari Tahap 2 ke Tahap 3
• Awalnya Euis menunjukkan moralitas pra-konvensional: kecewa, marah, dan ingin kembali ke Jakarta demi kenyamanan pribadi.
• Namun ia mulai memahami pentingnya kebersamaan dan empati terhadap keluarga.
Contoh: Mulai membantu Emak, mendukung Ara, dan menerima kehidupan baru dengan lebih dewasa.
4. Ara (Anak Bungsu)
Orientasi hukuman dan kepatuhan
• Sebagai anak kecil, Ara menunjukkan moralitas sederhana: takut dimarahi, ingin menyenangkan orang tua.
• Ia belajar dari teladan orang tua dan kakaknya.
Contoh: Meniru sikap baik Emak dan Abah, serta menunjukkan rasa ingin tahu dan kepatuhan.

•Film Keluarga Cemara (2018) merupakan nilai-nilai keluarga dalam menghadapi perubahan hidup yang drastis. Cerita bermula ketika Abah, seorang ayah yang sebelumnya hidup mapan di kota, mengalami kebangkrutan dan harus membawa keluarganya pindah ke desa. Perubahan ini tidak hanya menyangkut kondisi ekonomi, tetapi juga mengguncang psikologis seluruh anggota keluarga.
Pesan moral yang disampaikan film ini adalah bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Ketika semua materi (uang, jabatan, rumah, pekerjaan) hilang, yang tersisa hanya ikatan kasih sayang dan solidaritas antaranggota keluarga. Abah dan Emak menunjukkan keteladanan dalam menjaga keutuhan keluarga, meski harus mengorbankan kenyamanan dan status sosial. Mereka tetap menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras, serta tidak tergoda untuk mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Sikap ini menjadi pelajaran penting bagi anak-anak mereka, terutama Euis, yang awalnya merasa kecewa dan sulit menerima kenyataan. Seiring waktu, Euis mulai memahami bahwakebersamaan jauh lebih penting daripada popularitas atau gaya hidup kota.
Setiap anggota keluarga Cemara mengalami proses belajar dan tumbuh secara emosional. Mereka menghadapi tantangan dengan kesederhanaan, namun tetap menjaga martabat. Dalam dunia yang semakin materialistis, Keluarga Cemara hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kesederhanaan tetap relevan dan penting untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

•Perbandingan antara film Keluarga Cemara dan kehidupan nyata.
Film ini menggambarkan keluarga yang sangat ideal saling mendukung, penuh kasih sayang, dan tetap kompak meski menghadapi kesulitan ekonomi. Abah dan Emak merupakan orang tua yang sabar, jujur, dan selalu mengutamakan kebersamaan. Anak-anaknya pun, meski sempat kecewa, akhirnya belajar menerima keadaan dan saling membantu. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kesederhanaan benar-benar terasa kuat di dalam film keluarga cemara.
Sementara itu, di kehidupan nyata, kondisi keluarga bisa jauh lebih kompleks. Tidak semua orang tua mampu bersikap setenang Abah dan Emak saat menghadapi masalah. Banyak keluarga yang justru retak karena tekanan ekonomi, kurang komunikasi, atau perbedaan cara pandang antar generasi. Anak-anak pun kadang sulit menerima perubahan, apalagi jika harus pindah tempat tinggal yang sangat signifikan perbedaannya. Di dunia nyata, konflik dalam keluarga bisa berlangsung lama dan tidak selalu berakhir dengan pemahaman atau kebersamaan.
Nama : Dina Ayu Lestari 
NPM : 2513032071
Kelas : 25 C

Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah untuk memerdekakan manusia agar menjadi pribadi yang selamat dan bahagia, maksudnya yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya.
Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya. Sebagai manusia untuk mencapai kebahagiaan perlu adanya keselamatan dimaksudkan dengan kompetensi dan survive terhadap apa yang terjadi melalui keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari dalam pendidikan.
Ada 3 peran pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara bentuk kebahagiaan yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan yaitu tri rahayu:
1. memajukan dan menjaga diri
Pendidikan harus membentuk individu yang mengenal, menerima, dan mencintai dirinya. Ini mencakup kepercayaan diri, kesadaran akan potensi, dan kemampuan untuk mengelola emosi serta pikiran secara sehat.
2. memelihara dan menjaga bangsa
Pendidikan harus menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan kemampuan berinteraksi secara harmonis dengan orang lain. Manusia yang rahayu secara sosial akan mampu hidup berdampingan, saling menghargai, dan berkontribusi positif dalam masyarakat.
3. memelihara dan menjaga dunia

Ketiga unsur ini saling melengkapi dan menjadi fondasi bagi manusia yang merdeka, selamat, dan bahagia.

Jika saya menjadi guru hal yang akan saya lakukan adalah dengan membangun pembelajaran yang memerdekakan menggunakan metode aktif seperti diskusi serta simulasi agar peserta didik belajar dengan cara yang relevan serta menanamkan nilai nilai tri rahayu kedalam proses pembelajaran.