Penugasan

Penugasan

Number of replies: 30
  1. Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh.
  2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
  3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
  4. Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
  5. Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Aufa Nabila -
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

Ulasan Film “Keluarga Cemara” (2019)
Analisis Dilema Moral, Perkembangan Karakter, dan Nilai Keluarga

1. Sinopsis Singkat
Film Keluarga Cemara disutradarai oleh Yandy Laurens dan diadaptasi dari sinetron legendaris dengan judul yang sama. Film ini menceritakan kehidupan keluarga sederhana yang harus menghadapi perubahan besar ketika sang ayah, Abah, kehilangan seluruh harta bendanya akibat ditipu rekan bisnis. Mereka pun pindah ke kampung dan harus memulai hidup dari awal. Dalam situasi sulit ini, setiap anggota keluarga belajar tentang arti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kebersamaan.

2. Dilema Moral dalam Film
a. Abah (Ringgo Agus Rahman) menghadapi dilema moral antara menjaga harga diri dan menerima kenyataan. Setelah bangkrut, Abah harus memilih: mempertahankan gengsi sebagai pengusaha sukses di kota atau menerima hidup sederhana di desa agar keluarganya tetap utuh. Pilihannya untuk kembali ke desa menunjukkan bahwa nilai keluarga lebih penting daripada status sosial.
b. Euis (Adhisty Zara), anak sulung, mengalami dilema moral antara ego remaja dan tanggung jawab keluarga. Ia awalnya marah karena kehilangan kenyamanan hidup dan malu dengan teman-temannya. Namun, ia kemudian belajar mengorbankan keinginannya demi keluarga. Dilema ini menggambarkan pertumbuhan moral dari orientasi diri menuju kesadaran sosial.

3. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Menurut teori Kohlberg, perkembangan moral terdiri dari tiga tingkat: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.
Abah berada pada tahap pascakonvensional, terutama tahap “orientasi pada prinsip universal.” Ia bertindak berdasarkan nilai-nilai moral internal seperti kejujuran dan tanggung jawab, bukan sekadar aturan sosial. Ia tetap memilih jujur meski bisnisnya gagal dan menolak cara curang untuk mendapatkan uang kembali.
Euis, pada awal film, berada pada tahap konvensional, yaitu “orientasi pada kesesuaian interpersonal.” Ia berusaha diterima oleh lingkungannya dan takut dinilai rendah. Namun, menjelang akhir film, ia mulai naik ke tahap pascakonvensional dengan menilai bahwa cinta keluarga lebih penting daripada penilaian orang lain.
Emak (Nirina Zubir) mencerminkan stabilitas moral di tahap konvensional tinggi, yang menjunjung nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap keluarga. Ia menjadi penyeimbang antara rasionalitas Abah dan emosi anak-anak.

4. Pesan Moral Film
Film Keluarga Cemara mengajarkan bahwa nilai keluarga adalah fondasi kehidupan yang sesungguhnya. Harta bisa hilang, tapi kasih sayang dan kebersamaan tidak ternilai harganya. Dalam dunia modern yang cenderung materialistis, film ini mengingatkan penontonnya untuk kembali pada nilai-nilai sederhana: kejujuran, kerja keras, dan cinta tanpa syarat.
Konflik utama dalam film bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga krisis identitas dan moral. Abah harus belajar menerima kegagalan tanpa kehilangan martabat. Euis belajar memaknai cinta keluarga lebih dari sekadar kenyamanan materi. Emak menjadi simbol kekuatan perempuan yang tangguh dan penuh kasih, menjaga agar keluarga tidak hancur meski kondisi berubah drastis.
Secara moral, film ini memperlihatkan bahwa keputusan etis sering kali tidak mudah. Abah bisa saja memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang, tetapi ia memilih kejujuran. Ini menunjukkan moralitas tingkat tinggi yang didasarkan pada nilai universal, bukan pada imbalan atau hukuman. Sementara itu, Euis yang awalnya egois berkembang menjadi pribadi yang empatik, mencerminkan proses perkembangan moral remaja menuju kedewasaan.
Pesan yang paling kuat dari film ini adalah pentingnya ketulusan dan kerja sama dalam keluarga. Setiap anggota memiliki peran masing-masing untuk saling menguatkan, bukan menyalahkan. Dalam kondisi serba sulit, nilai seperti saling menghargai, pengorbanan, dan komunikasi menjadi kunci ketahanan keluarga.
Film ini juga menyoroti ketimpangan sosial antara kota dan desa. Namun, alih-alih menonjolkan kemiskinan sebagai penderitaan, film ini justru menampilkan kesederhanaan sebagai sumber kebahagiaan sejati. Dengan sinematografi yang hangat dan alur yang menyentuh, Keluarga Cemara berhasil membangkitkan empati sekaligus refleksi moral bagi penontonnya.
In reply to Aufa Nabila

Re: Penugasan

by DINA OKTA FITRIANA FITRIANA -
Nama:DINA OKTA FITRIANA
kelas :25C
NPM. :2513032079

FILM KELUARGA CEMARA 2 2022

1.mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang pertama ini piaget:
Dilema tentang tanggung jawab dan perhatian orang tua terhadap anak-anaknya. Dalam film tersebut, Abah mulai sibuk dengan pekerjaan baru sehingga semakin jarang mengurus anak-anak, yang menimbulkan masalah perhatian dan kebutuhan emosional anak, terutama Ara yang merasa tersisih. Dilema ini berkaitan dengan konflik moral antara kewajiban orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak dan tuntutan pekerjaan yang menyita waktu.

2.Dilema kejujuran dan komunikasi dalam keluarga. Ara mengatakan bahwa ia bisa berkomunikasi dengan seekor anak ayam yang menjadi temannya, tetapi anggota keluarga lainnya tidak percaya dan berasumsi berbohong. Konflik moral muncul antara kejujuran anak dan sikap skeptis keluarga yang tidak menerima keunikannya. Dalam konteks ini, dilema menguji nilai kejujuran, pengertian, dan penerimaan dalam keluarga.

mengidentifikasi perkembangan moral menurut Kohlberg yaitu:

Tahap Prakonvensional: Pada tahap ini, tokoh utama mungkin masih bertindak berdasarkan keinginan pribadi untuk menghindari hukuman atau mendapatkan keuntungan. Misalnya, Ara yang merasa ditinggalkan dan ingin mendapatkan perhatian dengan berinteraksi dengan anak ayam, berarti belum sepenuhnya memahami norma sosial. Perilakunya masih didorong oleh keinginan pribadi dan bukan oleh aturan yang sudah diakui oleh masyarakat.

Tahap Konvensional: Karakter Abah dan Emak yang peduli pada tanggung jawab keluarga serta menghormati aturan sosial untuk menjaga keharmonisan keluarga mencerminkan tahap ini.
Mereka mengikuti norma dan aturan yang berlaku, seperti Abah yang bekerja keras dan Emak yang menjaga kebutuhan keluarga. Perilaku mereka mencerminkan usaha untuk menjaga hubungan sosial dan menghormati aturan yang ada.

Tahap Pascakonvensional: Meskipun tidak terlihat secara jelas, ada petunjuk bahwa beberapa tokoh mulai mempertimbangkan nilai-nilai yang lebih abstrak dan etis, seperti keadilan, tanggung jawab moral, dan kebebasan pribadi.
Misalnya, ketika Ara berusaha menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dengan ayam sebagai bentuk ekspresi diri, ini menunjukkan perkembangan pemikiran yang terkait dengan prinsip etika dan kesadaran nilai yang lebih tinggi.

perbandingan film dengan kehidupan nyata
menurut saya
Film ini membahas cerita realistis tentang upaya orang tua yang bekerja keras untuk mencari penghasilan yang halal sambil tetap menjaga hubungan harmonis dalam keluarga. Masalah tentang bagaimana mengimbangi pekerjaan dengan perhatian kepada anak sangat sama dengan banyak keluarga nyata,itu juga di alami saya semasa bapak ibu saya kan berjualan tapi pada waktu itu sepi jarang ada pembeli.

Dalam film Keluarga Cemara 2, konflik remaja tentang privasi dialami oleh Euis, anak perempuan tertua yang mulai memasuki masa remaja. Euis merasa ingin memiliki ruang pribadi yang terpisah dengan Ara, adiknya. Ia juga mulai merasakan perasaan cinta di usia remaja, sehingga sering merasa canggung dan menginginkan ruang pribadinya dihargai oleh orang tua dan keluarga.

Di sisi lain, Ara, anak bungsu, merasa terabaikan karena orang tuanya terlalu sibuk.
Hal ini memperparah konflik dalam keluarga, karena ada kekurangan komunikasi dan munculnya perasaan sendirian tidak ada yang paham antar anggota keluarga.
In reply to DINA OKTA FITRIANA FITRIANA

Re: Penugasan

by Alya Niza Silvia -
Nama : Alya Niza Silvia
Kelas : 25 C
NPM : 2513032078

FILM KELUARGA CEMARA 2019

Mengidentifikasi minimal dua dilema moral
1. Dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi = Setelah ayahnya, Abah, mengalami kebangkrutan, keluarga mereka jatuh miskin dan harus pindah ke desa. Dalam kondisi sulit, muncul dilema moral antara mempertahankan kejujuran dan harga diri atau mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Contohnya: Abah menolak untuk menempuh cara curang atau meminta belas kasihan, meski keluarganya kesulitan ekonomi. Ini menimbulkan konflik batin antara rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan prinsip moral yang ia pegang.

2. Dilema anak (Euis) antara gengsi dan rasa hormat kepada keluarga = Euis, sebagai anak remaja, merasa malu karena kondisi keluarganya berubah drastis dari kaya menjadi miskin. Ia menghadapi dilema moral antara menjaga harga diri dan gengsinya di hadapan teman-teman atau menerima keadaan dan tetap menghormati orang tuanya.

3. Dilema Abah dan Emak antara kebahagiaan keluarga dan ambisi pribadi = Abah harus memilih antara menerima pekerjaan dengan prinsip kejujuran dan tanggung jawab, atau mengejar kesuksesan materi yang lebih cepat tapi berisiko moral. Emak pun berjuang antara keinginan mendukung suami secara moral dan dorongan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga secepatnya.

4. Dilema solidaritas dan ego pribadi = Dalam situasi sulit, setiap anggota keluarga diuji antara memikirkan diri sendiri atau saling mendukung. Euis yang awalnya egois dan Cemara (Ara) yang polos, sama-sama belajar bahwa nilai keluarga dan kasih sayang jauh lebih penting daripada kenyamanan pribadi.

Mengidentifikasi perkembangan moral menurut Kohlberg:
1. Tahap Prakonvensional (anak menilai baik-buruk berdasarkan akibat langsung bagi dirinya)
Pada tahap ini, Ara sebagai anak kecil pada awalnya menunjukkan moral prakonvensional. Ia patuh pada orang tuanya karena takut dimarahi atau tidak ingin membuat mereka sedih, bukan karena memahami alasan moral di balik aturan itu. Kemudian, pada awalnya juga Euis menunjukkan moral prakonvensional ketika ia merasa malu dengan kondisi miskin keluarganya dan berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Ia lebih fokus pada pandangan orang lain terhadap dirinya.

2. Tahap Konvensional (seseorang mulai berperilaku baik agar diterima, dihormati, dan sesuai dengan norma sosial atau aturan kelompok)
Euis mulai berpindah ke tahap konvensional ketika ia memahami bahwa kebahagiaan keluarga lebih penting daripada gengsi sosial. Seperti, Euis berhenti menyalahkan keadaan dan mulai membantu keluarga, ia menunjukkan rasa tanggung jawab dan empati. Jadi, ia mulai menerima keadaan dan mendukung Abah serta Emaknya dengan tulus. Kemudian, Abah dan Emak juga menunjukkan tahap konvensional ketika mereka tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab meski dalam tekanan ekonomi. Mereka berpegang pada norma sosial dan moral keluarga, bahwa hidup harus dijalani dengan kejujuran dan kebersamaan.

3. Tahap Pascakonvensional (seseorang menilai benar-salah bukan semata karena aturan sosial, tapi karena prinsip moral dan nilai kemanusiaan yang diyakini)
Abah menjadi tokoh yang paling jelas menunjukkan tahap pascakonvensional. Meskipun ia bisa saja mencari jalan pintas untuk mendapatkan uang, ia tetap memilih kejujuran dan tanggung jawab moral. Emak juga memperlihatkan moral pascakonvensional karena ia mendukung keputusan Abah atas dasar prinsip moral, bukan sekadar aturan sosial. Ia memaknai penderitaan mereka sebagai proses untuk menjaga kehormatan keluarga dan menanamkan nilai kehidupan bagi anak-anaknya.

Perbandingan Film Keluarga Cemara (2019) dengan Kehidupan Nyata

Dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia, situasi serupa sering terjadi. Banyak keluarga harus beradaptasi ketika mengalami penurunan ekonomi atau kehilangan pekerjaan. Pada tahap prakonvensional, anak-anak di dunia nyata biasanya berperilaku baik karena takut dihukum atau ingin mendapat hadiah, sebagaimana terlihat pada Cemara yang patuh karena takut membuat orang tuanya sedih. Seiring bertambahnya usia, moralitas berkembang menuju tahap konvensional, seperti Euis yang mulai memahami pentingnya norma, tanggung jawab, dan kebersamaan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam budaya Indonesia, di mana perilaku baik sering didasarkan pada keinginan untuk diterima dan dihormati oleh masyarakat. Tokoh Abah menjadi cerminan tahap moral pascakonvensional dalam kehidupan nyata. Ia tetap menjunjung tinggi kejujuran dan prinsip hidup meski tertekan oleh kebutuhan ekonomi. Di masyarakat Indonesia, nilai ini masih dijunjung tinggi, namun sering kali diuji oleh realitas sosial dan ekonomi. Tidak semua orang mampu bertahan dalam kejujuran saat menghadapi kesulitan, sehingga Abah menjadi simbol ideal moral yang diharapkan dapat diteladani oleh masyarakat. Film ini menunjukkan bahwa mempertahankan nilai moral universal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang adalah bentuk moralitas tertinggi yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, film Keluarga Cemara merefleksikan kondisi nyata kehidupan keluarga Indonesia yang berjuang antara tuntutan ekonomi dan nilai moral. Yandy Laurens berhasil menampilkan kisah yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga menggugah kesadaran penonton tentang pentingnya perkembangan moral di dalam keluarga. Baik dalam film maupun kehidupan nyata, keluarga menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang benar dan salah, serta bagaimana mempertahankan nilai moral meski dalam kesulitan. Pesan film ini selaras dengan teori Kohlberg, bahwa perkembangan moral manusia adalah proses bertahap yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan kekuatan nilai yang ditanamkan sejak dini.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Nadin Azizah -
Nama : Nadin Nurul Azizah
NPM : 2553032001
Kelas : 25 C

Saya menonton film Keluarga Cemara melalui Netflix, pada film versi pertama yang rilis tahun 2019, disutradarai oleh Yandy Laurens. Film ini berdurasi sekitar 1 jam 50 menit. Ceritanya menampilkan perjuangan keluarga Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam menghadapi perubahan hidup setelah kehilangan harta benda mereka.



Film Keluarga Cemara yang disutradarai oleh Yandy Laurens merupakan adaptasi dari sinetron legendaris karya Arswendo Atmowiloto. Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga sederhana yang harus berjuang menghadapi perubahan drastis setelah kehilangan harta benda mereka. Tokoh utama dalam film ini adalah Abah (Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), dan dua anak mereka, Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri). Kisah mereka menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang hangat, realistis, dan sarat pesan moral.

Awalnya, keluarga Abah hidup berkecukupan di kota. Namun, karena tertipu rekan bisnis, Abah kehilangan semua hartanya. Mereka harus pindah ke rumah sederhana peninggalan ayah Abah di desa. Perubahan ini menjadi titik balik yang menguji kekuatan dan keharmonisan keluarga. Konflik moral muncul ketika Abah merasa gagal sebagai kepala keluarga dan Euis merasa malu dengan keadaan mereka. Dari sinilah terlihat bahwa film ini bukan hanya tentang kehilangan materi, tetapi juga tentang menemukan kembali makna keluarga dan cinta yang sesungguhnya.

Salah satu dilema moral yang muncul adalah ketika Abah harus memilih antara terus berjuang di kota demi uang atau menerima kenyataan dan fokus pada keluarganya. Ia akhirnya menyadari bahwa tanggung jawab dan kejujuran lebih penting daripada ambisi pribadi. Dilema lainnya dialami oleh Euis, yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Ia sempat merasa minder dan marah pada keadaan, tetapi kemudian belajar bahwa cinta keluarga jauh lebih berharga daripada gengsi dan kemewahan.

Dilihat dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, karakter Abah berada pada tahap konvensional, karena ia berperilaku berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Sementara Euis awalnya berada pada tahap pra-konvensional (mementingkan diri sendiri), lalu berkembang menjadi konvensional setelah ia memahami arti kasih sayang dan kejujuran. Emak, di sisi lain, berperan sebagai penyeimbang moral yang selalu menguatkan keluarganya dengan kesabaran dan ketulusan.

Pesan moral yang paling kuat dari film ini adalah pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan kasih sayang keluarga. Kekayaan materi dapat hilang kapan saja, tetapi nilai-nilai keluarga tidak akan pernah pudar jika dijaga dengan cinta dan kebersamaan. Film ini juga mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan kebersamaan dalam menghadapi ujian hidup.

Dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang mengalami masalah ekonomi, bahkan hingga kehilangan keharmonisan. Keluarga Cemara menunjukkan bahwa ujian justru dapat memperkuat hubungan jika dilandasi dengan cinta dan saling pengertian. Nilai-nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang sering terjebak pada kesibukan dan materialisme.

Secara keseluruhan, Keluarga Cemara bukan sekadar film drama keluarga, tetapi juga cermin kehidupan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, jujur, dan menghargai arti kebersamaan. Pesan moralnya sederhana namun mendalam: “Harta yang paling berharga adalah keluarga.”
In reply to First post

Re: Penugasan

by Maura Agustin -
Nama: Maura Agustin
NPM: 2553032012
Kelas: 25C

Film "Keluarga Cemara" (2018) adalah cerita yang membuat hati terhangat, berlatar kisah keluarga Abah yang harus pindah dari hidup mewah di Jakarta ke kehidupan sederhana di sebuah desa di Bogor setelah Abah mengalami kebangkrutan berat. Film ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga penuh dengan pelajaran moral dan pertumbuhan tokoh yang nyata.

Identifikasi Dilema Moral
Krisis keuangan yang dialami keluarga ini menciptakan beberapa dilema moral yang kuat, khususnya terkait tanggung jawab dan harga diri

Dilema Abah: Integritas Diri vs. Kesejahteraan Anak, Abah harus berjuang antara menerima pekerjaan yang status sosialnya jauh lebih rendah, seperti menjadi tukang bangunan atau ojek online, yang melukai nya sebagai mantan direktur , demi memastikan anak-anaknya tetap sehat dan aman.
Dilema ini berpusat pada tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang memaksa ia melepas ego pribadinya.

Dilema Euis: Status Sosial vs. Loyalitas Keluarga, Euis, anak tertua yang masih remaja, harus menghadapi rasa malu dan penolakan ketika ia dipaksa mengambil bagian dalam menjual opak di sekolah.
Dilema ini melibatkan konflik batin antara keinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial dan menjaga harga diri remaja, dibandingkan dengan kewajiban moral dan kesetiaan untuk mendukung usaha ekonomi keluarga.

Analisis Karakter Euis Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Kohlberg:
Perkembangan moral Euis mencerminkan transisi dari tahap yang berpusat pada diri sendiri menuju tahap yang berorientasi pada relasi interpersonal, sesuai dengan teori Lawrence Kohlberg.
Pada awal kebangkrutan, Euis cenderung berada di tingkat Pra-konvensional (Tahap 2: Individualisme dan Tujuan Diri). Tindakannya (seperti marah, menolak menjual opak) didorong oleh kerugian pribadi yang ia rasakan, kehilangan gaya hidup dan status sosial. Namun, seiring waktu, ia bergeser ke tingkat Konvensional (Tahap 3: Harapan Interpersonal). Euis mulai beradaptasi, membantu Emak menjual opak, dan berupaya menjadi "anak yang baik" untuk memenuhi harapan orang tuanya dan mempertahankan hubungan harmonis dalam keluarga. Perkembangan ini menunjukkan kematangan moral, di mana Euis beralih fokus dari apa yang ia dapat menjadi apa yang ia berikan demi keutuhan keluarga.

ulasan tertulis:
Film "Keluarga Cemara" bukan hanya sekadar cerita remake yang menyentuh hati, tapi juga cermin yang mendalam tentang arti sebenarnya dari kekayaan dan kebahagiaan. Film ini dengan baik menggambarkan kisah kebangkrutan sebagai penggerak untuk menemukan nilai-nilai moral yang sangat berharga. Pesan utamanya sangat jelas, yaitu harta paling berharga di dunia bukan uang, melainkan keluarga. Krisis keuangan yang menimpa keluarga justru menjadi ujian yang autentik, membongkar kebiasaan materialistik dan mendorong setiap anggota untuk memahami makna ikatan keluarga. Keruntuhan materi justru menjadi jalan untuk membangun kembali fondasi spiritual dan hubungan keluarga yang lebih kuat.
Perbedaan antara hidup dulu yang banyak fasilitas dan hidup sekarang yang terbatas jadi titik awal di mana nilai moral diuji secara keras. Abah, yang dulu sebagai direktur perusahaan dengan semua kemewahannya, harus mengendalikan ego dan bekerja sebagai tukang bangunan serta ojek online di desa. Karakter Abah mengajarkan pesan tentang integritas dan kerja keras yang tak terbatas. Ia menunjukkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh jabatan, harta, atau gaji, melainkan dari usaha yang halal, keikhlasan menerima kondisi, dan tanggung jawab untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan keluarga. Abah menunjukkan bahwa tidak menyerah adalah bentuk cinta dan rasa hormat terhadap diri sendiri yang paling murni, dan menjadi fondasi etos kerja yang jujur bagi anak-anaknya. Perjuangan Abah ini juga menjadi kritik lembut terhadap masyarakat modern yang sering menyamakan harga diri dengan kepemilikan materi, sebuah masalah sosial yang ditentang oleh film ini melalui cerita yang menyentuh.

Di sisi lain, Emak menjadi simbol keikhlasan dan dukungan tanpa syarat. Ia seperti pilar emosional yang mendukung Abah dan seluruh keluarga, menjaga agar semangat tetap tidak pernah padam. Tanpa mengeluh, ia berusaha menghadapi kondisi baru, bahkan memulai usaha membuat dan menjual opak. Aktivitas ini bukan hanya untuk mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi juga menunjukkan pesan moral bahwa kekuatan sebuah keluarga terletak pada kemampuan untuk bersyukur dan berjuang bersama. Sikap Emak yang selalu positif, sabar, dan mendukung membuat beban yang dihadapi terasa lebih ringan. Ia mengajarkan bahwa peran seorang ibu sebagai pengelola perasaan keluarga adalah aset yang tidak terlihat, nilainya melebihi segala kekayaan, dan menjadi sumber kekuatan yang abadi.
Pesan moral terasa jelas lewat karakter anak pertama, Euis. Perjuangannya untuk bisa menerima keadaan baru, dari seorang remaja kota yang populer menjadi penjual opak, mengajarkan pelajaran berharga tentang menerima diri sendiri dan rendah hati. Euis harus menghadapi celaan dan kesulitan menyesuaikan diri, namun lewat proses ini ia belajar bahwa teman sejati adalah orang yang menerima dirinya apa adanya. Ia menyadari bahwa jujur mengenai kesulitan dan kelemahan jauh lebih bernilai daripada memperlihatkan kepalsuan. Melalui perjuangan batin yang berat, Euis tumbuh secara moral, mengalihkan perhatian dari kerugian pribadinya, kehilangan status dan teman-teman lama, loyalitas dan dukungan yang kuat kepada keluarganya. Perubahan prioritas Euis menunjukkan kedewasaan yang sebenarnya, yaitu perubahan dari seorang remaja yang fokus pada diri sendiri menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, "Keluarga Cemara" berhasil mengirimkan pesan kuat bahwa krisis justru dapat menjadi momen emas untuk mempererat ikatan dan menemukan kembali kehangatan yang hilang dalam kesibukan. Di tengah keterbatasan, kebersamaan di meja makan, canda tawa sederhana saat membuat opak, atau sekadar berbagi cerita di rumah reot mereka, adalah harta yang tak dapat dibeli oleh uang berapapun. Film ini adalah pengingat yang kuat bagi masyarakat modern yang sering kali terperangkap dalam pengejaran materi yang tak berujung. Ia menegaskan bahwa fondasi moral dan emosional yang kokoh, sehangat rumah reot mereka di desa, adalah kunci untuk bertahan dari badai kehidupan.

Diskusi: Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai-nilai keluarga yang disajikan dalam film "Keluarga Cemara"  berbeda jauh dengan kenyataan kehidupan keluarga sekarang, khususnya soal uang, kemampuan beradaptasi, dan cara berkomunikasi.

Pertama, tentang pengertian kekayaan.
Film ini jelas menyatakan bahwa hal paling berharga adalah kehangatan dan keharmonisan di dalam keluarga. Meskipun mereka tidak punya banyak uang, mereka tetap bisa hidup rukun. Di dunia nyata, orang biasanya mengukur kekayaan berdasarkan uang dan kemampuan memenuhi kebutuhan berlebih. Film ini mengingatkan kita bahwa terlalu fokus pada uang bisa membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan keluarga.

Kedua, film ini menunjukkan tingkat ketahanan yang sangat tinggi dan ideal.
Keluarga Cemara menerima perubahan hidup dengan cepat dan langsung bekerja bersama untuk mengatasi masalah. Abah berpesan bahwa semua pekerjaan yang halal adalah baik, dan nilai utama adalah kerja keras, bukan tingkat pencapaian. Namun, di dunia nyata, menghadapi krisis sering kali lebih rumit. Tekanan mental dan kecemasan bisa menghalangi kemampuan orang untuk bertahan, dan status pekerjaan masih sering dianggap sebagai ukuran utama kehormatan.

Terakhir, soal komunikasi dan pengelolaan waktu.
Film ini menampilkan dialog yang terbuka, hangat, dan sering kali berujung pada diskusi bersama. Mereka pun berkesempatan untuk berkumpul dan berbagi waktu, seperti makan bersama atau bernyanyi. Hal ini berbeda jauh dengan realitas saat ini, di mana komunikasi seringkali terganggu karena begitu sibuknya rutinitas kerja, kesibukan pribadi, dan kebiasaan menggunakan gadget. Film ini berharap kita bisa merasakan bahwa meskipun hidup penuh tekanan, keluarga harus menjadi tempat aman dan nyaman di mana berbagai masalah bisa dibicarakan dengan kasih sayang dan tanpa penyalahgunaan.

Secara keseluruhan, meskipun film ini menampilkan model keluarga yang terlihat ideal, pesan utamanya jelas: fondasi yang kuat dibangun dari cinta, pengambilan keputusan bersama, dan penerimaan tanpa syarat adalah cara terbaik untuk berjuang dan menemukan kebahagiaan walaupun di tengah kehidupan yang sulit.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Dinda Putri Amelia -
Nama: Dinda Putri Amelia
Kelas: 25C
NPM: 2553032003


Ulasan Film “Keluarga Cemara” (2018)

I. Identifikasi Dilema Moral Utama
Film Keluarga Cemara menggambarkan dua dilema moral besar yang dihadapi oleh para tokohnya. Dilema pertama dialami oleh Abah, seorang ayah yang kehilangan segalanya karena ditipu rekan bisnis. Ia harus memilih antara mempertahankan harga diri dan status sosialnya atau mengutamakan tanggung jawab terhadap keluarga. Setelah jatuh miskin, Abah memutuskan untuk tetap bekerja jujur walau harus menanggung rasa malu dan kesulitan. Ia menjadi simbol kepala keluarga yang rela mengesampingkan gengsi demi kesejahteraan anak-anak dan istrinya. Pilihan Abah memperlihatkan nilai moral yang tinggi bahwa kehormatan sejati tidak ditentukan oleh jabatan atau kekayaan, melainkan oleh kejujuran dan tanggung jawab. Ungkapan “Harta yang paling berharga adalah keluarga” menjadi landasan moral dari seluruh perjalanan hidup Abah.
Dilema kedua muncul melalui karakter Euis, anak sulung yang remaja dan memiliki ambisi kuat. Sebelum keluarganya bangkrut, Euis hidup di Jakarta dan bercita-cita menjadi penari profesional. Namun, ketika situasi ekonomi keluarga berubah dan mereka harus pindah ke desa, Euis menghadapi konflik antara mengejar mimpinya atau mendukung keluarganya yang sedang kesulitan. Awalnya ia memberontak dan menolak keadaan, tetapi kemudian mulai memahami makna solidaritas dan tanggung jawab. Euis belajar bahwa cinta keluarga lebih berharga daripada kesuksesan pribadi. Keputusan Euis untuk beradaptasi dan membantu keluarga menunjukkan proses pendewasaan moral yang tulus dan realistis.


II. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg membantu menjelaskan bagaimana para karakter dalam Keluarga Cemara berkembang secara moral. Euis merepresentasikan tahap transisi dari moralitas konvensional menuju kedewasaan moral. Pada awal film, ia berada pada tahap ketiga, yaitu orientasi anak baik. Euis peduli terhadap pandangan sosial, takut dianggap gagal atau memalukan di mata teman-teman lamanya. Namun setelah pindah ke desa, ia beranjak ke tahap keempat, orientasi hukum dan keteraturan. Ia mulai memahami bahwa menjadi “baik” bukan berarti harus diterima orang lain, tetapi menjalankan tanggung jawab moral terhadap keluarga. Pilihan Euis untuk menunda impiannya dan membantu keluarganya merupakan bukti bahwa ia telah memahami nilai-nilai moral yang lebih dalam.
Sementara itu, Abah beroperasi pada tingkat moral tertinggi, yaitu level pascakonvensional atau tepatnya tahap kelima, orientasi kontrak sosial. Dalam tahap ini, keputusan moral seseorang tidak lagi bergantung pada aturan eksternal, melainkan pada kesadaran terhadap prinsip universal seperti keadilan, integritas, dan kemanusiaan. Abah tetap memberikan pesangon kepada karyawan meski dirinya sedang dalam kondisi bangkrut, karena ia meyakini bahwa manusia harus saling menghormati. Ia menolak jalan pintas yang tidak jujur, sekalipun itu bisa memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya. Pilihan Abah mencerminkan moralitas yang matang dan berakar pada nilai kemanusiaan sejati.


III. Kerangka Ulasan dan Pesan Moral Film
Film Keluarga Cemara merupakan kisah sederhana yang sarat makna moral. Di balik cerita tentang keluarga yang jatuh miskin, film ini menyajikan perjalanan spiritual tentang kejujuran, cinta, dan keteguhan hati. Abah menjadi sosok moral yang kuat, sedangkan Euis merepresentasikan proses tumbuhnya kesadaran moral di masa remaja. Ketika Abah berkata, “Ya Ara, memang begitu hidup. Tidak semua yang kita cintai bisa kita dapatkan,” ia menanamkan nilai keikhlasan dan penerimaan terhadap kehidupan yang tidak selalu sesuai harapan. Melalui konflik batin yang mereka alami, film ini menegaskan bahwa cobaan justru memperkuat ikatan keluarga dan memperjelas makna kebahagiaan yang sejati.
Pesan moral utama film ini adalah bahwa kekayaan sejati tidak terletak pada materi, tetapi pada keutuhan dan kasih sayang keluarga. Dalam kemiskinan, mereka justru menemukan arti syukur, kesabaran, dan solidaritas. Emak menjadi simbol keteguhan hati yang selalu bersyukur meski menghadapi kesulitan. Film ini menumbuhkan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari kemewahan hidup, melainkan dari cinta yang saling menguatkan di antara anggota keluarga.


IV. Diskusi: Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai-nilai keluarga yang digambarkan dalam Keluarga Cemara dapat dilihat sebagai cerminan ideal dari budaya kekeluargaan Indonesia. Film ini menonjolkan sikap saling mendukung, kejujuran, dan ketulusan yang sering dianggap sebagai nilai-nilai tradisional bangsa. Ketika menghadapi krisis ekonomi, keluarga Cemara merespons dengan rasa syukur dan kebersamaan. Mereka tidak saling menyalahkan, melainkan saling menguatkan. Pandangan hidup nrimo (menerima dengan ikhlas) menjadi bagian penting dari ketahanan moral keluarga ini. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada harta benda, melainkan pada hubungan yang penuh cinta dan saling menghargai.
Sebaliknya, dalam kehidupan nyata, nilai-nilai ini sering kali tergerus oleh gaya hidup modern dan tekanan ekonomi. Banyak keluarga menghadapi konflik ketika kehilangan kestabilan finansial; sebagian memilih jalan pintas, bahkan tidak jarang berakhir pada perpecahan atau perceraian. Ukuran kebahagiaan dalam masyarakat modern sering kali bergeser dari kebersamaan menuju pencapaian material. Film Keluarga Cemara hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai lama seperti kejujuran, kesederhanaan, dan solidaritas masih sangat relevan. Ia mengajak penonton untuk meninjau kembali prioritas hidup: apakah kebahagiaan benar-benar datang dari harta, atau justru dari kehangatan keluarga yang saling menerima dalam suka dan duka.
Dengan demikian, Keluarga Cemara tidak hanya menjadi kisah inspiratif tentang ketahanan keluarga, tetapi juga kritik halus terhadap budaya materialistis yang mulai mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Film ini mengajarkan bahwa dalam setiap kehilangan, masih ada yang tak ternilai: cinta, kesetiaan, dan rumah yang diisi oleh kasih.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Muhammad Ilyas -
Nama: Muhammad Ilyas
NPM:2513032082
Kelas:25C

Keluarga Cemara Episode Sepeda Euis
1. Dilema Moral yang Muncul
Dalam episode Sepeda Euis, kisah berpusat pada keinginan Euis untuk memiliki sepeda baru seperti teman-temannya di sekolah. Kondisi keluarga yang sederhana membuat keinginan itu sulit dipenuhi. Dua dilema moral utama yang muncul adalah.Euis antara menuruti keinginan pribadi atau menghargai kondisi keluarga.
Euis merasa malu dan iri terhadap teman-temannya yang memiliki sepeda baru. Ia sempat marah kepada Abah dan Emak karena tak mampu membelikan sepeda. Namun, setelah menyadari perjuangan orang tuanya, Euis menghadapi dilema moral antara ego dan empati.
Abah antara memenuhi keinginan anak atau mempertahankan kejujuran.
Abah sempat mendapat tawaran pekerjaan dengan imbalan besar tetapi mengandung unsur ketidakjujuran. Ia memilih menolak, meski berarti tidak bisa membeli sepeda untuk Euis. Pilihan ini menunjukkan komitmen moral Abah terhadap prinsip hidup yang bersih.
2. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
a. Abah
Abah berada pada tahap pascakonvensional (tingkat tertinggi teori Kohlberg), khususnya tahap keenam: orientasi pada prinsip etika universal. Ia menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab, tidak tergoda oleh keuntungan pribadi yang melanggar nilai moral. Bagi Abah, harga diri dan integritas lebih penting daripada kemewahan materi.
b. Emak
Emak berada pada tahap konvensional (tahap keempat): orientasi pada hukum dan ketertiban sosial. Ia memegang teguh norma keluarga dan masyarakat menjaga kehormatan, kesopanan, dan kesetiaan terhadap suami. Ia juga berperan mendidik anak-anak agar memahami arti kerja keras dan kejujuran.
c. Euis
Sebagai remaja, Euis berada pada tahap pra-konvensional menuju konvensional. Awalnya ia berpikir secara egosentris (ingin punya sepeda seperti teman-teman), tetapi seiring waktu belajar menilai perbuatannya berdasarkan norma keluarga dan nilai sosial. Proses ini menunjukkan perkembangan moral yang alami dari kebutuhan pribadi menuju empati dan tanggung jawab.
Episode Sepeda Euis dalam serial Keluarga Cemara merupakan salah satu kisah yang paling menyentuh karena menggambarkan pergulatan batin seorang anak dalam keluarga sederhana. Film ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kepemilikan benda, tetapi pada kasih sayang, pengertian, dan kejujuran dalam keluarga.
Kisah dimulai ketika Euis sangat menginginkan sepeda baru agar tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Namun, Abah dan Emak tidak mampu membelikannya karena keterbatasan ekonomi. Situasi ini memunculkan konflik emosional.
Euis merasa kecewa, sementara Abah dan Emak sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan anak mereka. Namun, alih-alih memanjakan Euis dengan cara instan, Abah dan Emak memilih mengajarkan nilai kejujuran dan kerja keras.
Melalui perjalanan ceritanya, penonton diajak memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab moral terhadap yang lain. Abah menunjukkan keteguhan prinsip ia tidak mau menempuh jalan yang salah demi memenuhi keinginan anak. Emak menjadi sumber ketenangan dan pengingat akan arti syukur. Sementara itu, Euis belajar bahwa cinta orang tua jauh lebih berharga daripada benda yang ia inginkan.
3.Pesan moral utama episode ini adalah tentang kejujuran, kesederhanaan, dan rasa syukur. Film ini menegaskan bahwa ujian terbesar dalam keluarga bukanlah kemiskinan, melainkan bagaimana setiap anggota keluarga mempertahankan nilai-nilai moral ketika menghadapi tekanan. Keluarga Cemara berhasil menyampaikan bahwa kemuliaan hidup terletak pada kesetiaan terhadap prinsip, bukan pada kemewahan materi.
Dengan gaya penceritaan yang sederhana, film ini membangkitkan rasa nostalgia terhadap nilai-nilai keluarga Indonesia yang mulai luntur di tengah arus modernisasi. Ia mengingatkan penonton untuk menghargai kerja keras orang tua, tidak mudah iri, dan menempatkan cinta keluarga di atas segalanya.
4.Nilai-nilai keluarga dalam Keluarga Cemara seperti kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan masih sangat relevan hingga kini. Namun, dalam kehidupan nyata, banyak keluarga modern yang mulai terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif dan individualistik. Tekanan sosial membuat sebagian orang tua lebih fokus mengejar materi ketimbang waktu bersama keluarga.
Film ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan keluarga tidak ditentukan oleh kemewahan, melainkan oleh hubungan yang hangat dan saling menghargai. Dalam dunia nyata, nilai-nilai Keluarga Cemara dapat diterapkan melalui hal sederhana: makan bersama tanpa gawai, saling mendukung dalam kesulitan, dan menanamkan kejujuran sejak dini.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Revita Winasa Pasundari -

Nama: Revita Winasa Pasundari

NPM: 2553032002

Kelas:25C

Film dan serial “Keluarga Cemara” menceritakan kehidupan sederhana keluarga Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil. Mereka dulunya hidup berkecukupan, namun setelah mengalami kebangkrutan, mereka harus pindah ke desa dan memulai hidup baru dengan penuh kesederhanaan. Meski hidup berubah, nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan kekompakan keluarga tetap menjadi pegangan utama.

Dua dilema moral yang muncul dalam film tersebut:

Pertama pada Dilema Abah  Antara Harga Diri dan Kebutuhan Keluarga Abah harus memilih antara mempertahankan harga dirinya atau menerima pekerjaan yang dianggap“rendahan” setelah kehilangan hartanya. Ia akhirnya memilih bekerja apa pun yang halal demi keluarganya. Ini menunjukkan dilema antara kehormatan diri dan tanggung jawab moral terhadap keluarga.Yang kedua Dilema Euis Antara Gengsi dan Kebenaran Euis sempat malu dengan kehidupan barunya yang sederhana dan sempat berbohong pada teman-temannya tentang kondisi ekonomi keluarganya. Namun akhirnya ia menyadari bahwa kejujuran dan cinta keluarga lebih penting daripada penilaian orang lain. Ini menggambarkan dilema antara gengsi pribadi dan nilai kejujuran.

Analisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral:

1.Abah Menurut teori Kohlberg, Abah berada pada tahap pascakonvensional, yaitu tahap tertinggi perkembangan moral. Ia berpegang pada prinsip moral universal seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kasih sayang, bukan karena tekanan sosial, tetapi karena keyakinan pribadi bahwa itu benar.

2.Emak menunjukkan tahap konvensional, di mana ia patuh pada norma dan nilai sosial, serta selalu menjaga keharmonisan keluarga. Ia menjadi penyeimbang antara idealisme Abah dan emosi anak-anaknya.

3.Euis awalnya berada pada tahap prakonvensional, di mana keputusan moralnya didasari oleh rasa takut atau keinginan diterima teman-temannya. Namun seiring waktu, ia tumbuh menuju tahap konvensional dengan memahami makna tanggung jawab dan kejujuran.

Diskusi perbandingan nilai keluarga dalam film dan dunia nyata:Dalam film, keluarga Cemara hidup dengan nilai-nilai yang kuat seperti kejujuran, kesederhanaan, dan saling mendukung. Di kehidupan nyata, nilai-nilai itu sering mulai luntur karena pengaruh modernisasi, kesibukan, dan persaingan ekonomi. Banyak keluarga kini lebih fokus pada materi daripada waktu bersama. Namun, film ini menjadi pengingat bahwa keluarga yang bahagia bukanlah yang paling kaya, melainkan yang paling saling mengasihi dan menjaga keutuhan.

In reply to First post

Re: Penugasan

by Bagas Saputra -
Nama : Bagas Saputra
Npm :2513032084
Kelas : 25 C


1.Mengidentifikasi dua dilema moral dalam film

1. Dilema kejujuran vs kebutuhan ekonomi

Abah menghadapi dilema antara tetap jujur meskipun kondisi ekonomi keluarganya sulit, atau mengambil jalan pintas demi uang. la memilih kejujuran, menunjukkan bahwa nilai moral lebih penting daripada materi.

2. Dilema tanggung jawab anak terhadap keluarga

Euis sempat merasa malu dan kecewa karena harus pindah dari kehidupan mewah ke desa sederhana. la dihadapkan pada dilema antara ego pribadi (gengsi) dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga yang harus saling mendukung. Akhirnya, Euis memilih menerima keadaan dan membantu keluarganya dengan penuh kasih.

2.Analisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral (Lawrence Kohlberg)

Menurut teori Kohlberg, perkembangan moral seseorang terdiri atas tiga tingkat:

1. Prakonvensional
2. Konvensional
3. Pascakonvensional

Abah berada pada tahap pascakonvensional, karena ia berpegang teguh pada prinsip moral (kejujuran dan tanggung jawab) walau harus kehilangan harta benda.

Emak juga berada pada tahap pascakonvensional, selalu mendukung keputusan Abah demi nilai kebaikan yang hakiki.

Euis berada pada tahap konvensional, awalnya terpengaruh oleh pandangan sosial, namun kemudian memahami nilai keluarga yang sesungguhnya.

Ara, anak bungsu, masih berada pada tahap prakonvensional, karena tindakannya masih berdasarkan pengaruh orang tua dan hadiah/punishment.

3.Diskusi: Perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata

Nilai keluarga dalam film Keluarga Cemara sangat relevan dengan kehidupan nyata. Dalam film, keluarga ditunjukkan sebagai tempat berlindung, tempat belajar arti kasih sayang, dan tempat membangun moral yang kuat. Di kehidupan nyata, meskipun banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan sosial, nilai seperti saling menghargai, kerja sama, dan kesetiaan tetap menjadi pondasi utama.

Bedanya, di dunia modern sekarang, banyak keluarga yang mulai tergerus oleh gaya hidup individualistis. Film ini mengingatkan kita untuk kembali pada nilai-nilai dasar keluarga: cinta, kejujuran, dan kebersamaan. Dengan mempertahankan nilai tersebut, setiap keluarga dapat tetap utuh dan bahagia, apa pun kondisi ekonominya.
In reply to Bagas Saputra

Re: Penugasan

by 2553032010 2553032010 -
Nama : ihsan Revaldo
Npm : 2553032010
Kls : 25c

Film Keluarga Cemara merupakan salah satu serial keluarga Indonesia yang sangat populer pada masanya. Dalam episode Sepeda Euis, kisahnya berfokus pada Euis, anak sulung keluarga Cemara, yang memiliki keinginan untuk memiliki sepeda baru seperti teman-temannya. Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, keinginan itu sulit dipenuhi. Dari sinilah muncul berbagai konflik batin, nilai moral, dan pelajaran hidup yang sangat bermakna tentang arti keluarga dan kejujuran.


Dilema pertama dialami oleh Euis, yaitu antara keinginan pribadi dan rasa empati terhadap keluarganya. Euis merasa malu karena teman-temannya memiliki sepeda baru, sementara dirinya tidak. Ia sempat kecewa dan marah kepada orang tuanya, tapi kemudian sadar bahwa Abah dan Emak telah berjuang keras demi kebutuhan keluarga. Euis belajar bahwa kebahagiaan tidak harus selalu diukur dengan barang, tetapi dengan kasih sayang dan kejujuran.

Dilema kedua dialami oleh Abah, ketika ia mendapat tawaran pekerjaan dengan bayaran tinggi, tetapi mengandung unsur ketidakjujuran. Jika diterima, Abah bisa membeli sepeda untuk Euis, tetapi ia memilih menolak karena tidak ingin mengkhianati prinsip hidupnya. Keputusan ini menunjukkan bahwa Abah lebih mengutamakan integritas daripada kepentingan

teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg.
Menurut teori Lawrence Kohlberg, perkembangan moral seseorang terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Abah berada pada tahap pascakonvensional, khususnya tahap keenam yaitu orientasi pada prinsip etika universal. Ia tidak tergoda oleh keuntungan pribadi dan lebih memilih hidup jujur walau sederhana. Prinsip moral yang dipegang Abah bersumber dari hati nurani, bukan dari tekanan sosial.

Emak berada pada tahap konvensional, terutama tahap keempat yaitu orientasi pada hukum dan ketertiban sosial. Ia menjunjung tinggi norma, menjaga kehormatan keluarga, dan mengajarkan anak-anaknya agar tetap sopan, jujur, serta menghargai kerja keras.

Euis berada pada tahap peralihan dari pra-konvensional menuju konvensional. Pada awal cerita, ia berpikir secara egosentris, hanya memikirkan keinginannya sendiri. Namun, setelah melihat pengorbanan orang tuanya, ia mulai memahami nilai-nilai moral dan belajar menahan diri demi kebaikan keluarga.



dalam film Keluarga Cemara memberikan banyak pesan moral yang relevan untuk kehidupan sehari-hari. Cerita ini menggambarkan perjuangan sebuah keluarga sederhana dalam menghadapi keterbatasan ekonomi, tanpa kehilangan kejujuran dan kasih sayang.

Kisah dimulai dari keinginan Euis untuk memiliki sepeda baru. Ia merasa minder ketika teman-temannya pergi ke sekolah dengan sepeda yang bagus. Abah dan Emak yang hidup pas-pasan merasa sedih karena tidak mampu memenuhinya. Namun, mereka tidak ingin menuruti keinginan anak dengan cara yang salah. Ketika Abah mendapat tawaran pekerjaan dengan imbalan besar tapi tidak jujur, ia menolaknya. Sikap ini menjadi contoh bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada kemewahan.

Euis pada akhirnya menyadari bahwa kasih sayang orang tua tidak bisa diukur dengan barang. Ia mulai memahami perjuangan mereka dan menyesali sikapnya yang egois. Perubahan sikap Euis menjadi simbol perkembangan moral anak menuju kedewasaan.

Pesan moral utama film ini adalah kejujuran, kesederhanaan, dan rasa syukur. Film ini juga mengajarkan bahwa dalam hidup, ujian terbesar bukanlah kemiskinan, melainkan godaan untuk meninggalkan nilai-nilai moral saat berada dalam kesulitan. Keluarga Cemara menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari uang atau barang, melainkan dari hubungan keluarga yang penuh cinta, saling menghargai, dan saling mendukung.

Dengan gaya cerita yang sederhana namun menyentuh, film ini juga mengingatkan penonton akan pentingnya menjaga nilai-nilai keluarga Indonesia yang kini mulai terkikis oleh modernisasi. Di tengah arus zaman, film ini tetap relevan karena menekankan pentingnya kejujuran dan kasih sayang dalam keluarga.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Muhammad Bagus Bahtiar -
•Dua Dilema Moral yang Muncul dalam Film
1. Kehilangan Kekayaan dan Harga Diri
Setelah Abah kehilangan harta bendanya karena ditipu rekan bisnis, keluarga Cemara harus hidup sederhana di desa. Dilema moral muncul ketika Abah dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan gengsi dan kenyamanan hidup di kota atau memulai hidup baru dengan penuh kejujuran di desa. Ia memilih kejujuran dan kerja keras, menunjukkan bahwa nilai moral lebih tinggi dari kemewahan materi.
2. Kejujuran vs. Godaan Material
Euis, anak sulung, mengalami konflik batin saat beradaptasi dengan kehidupan miskin. Ia tergoda untuk berbohong agar diterima oleh teman-temannya yang lebih kaya. Namun, akhirnya ia memilih untuk jujur dan bangga terhadap keluarganya. Ini menggambarkan dilema moral remaja yang berjuang antara citra sosial dan nilai kejujuran.

•Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
1. Abah (Tahap Pasca-konvensional)
Abah berada pada tahap moral tertinggi menurut Kohlberg, yaitu tahap pasca-konvensional. Ia menilai benar dan salah berdasarkan prinsip moral universal, bukan hanya norma sosial. Kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang adalah pedoman moralnya, bukan kepentingan pribadi. Keputusan Abah untuk bekerja keras dan hidup jujur walau miskin mencerminkan integritas moral sejati.
2. Emak (Tahap Konvensional)
Emak berperan sebagai penyeimbang emosi keluarga. Ia menunjukkan moral pada tahap konvensional, di mana ketaatan pada aturan sosial, kasih, dan tanggung jawab keluarga menjadi pedoman moral utama. Ia mendukung Abah tanpa mengeluh dan mendidik anak-anaknya dengan teladan nyata tentang kesetiaan dan keikhlasan.
3. Euis (Tahap Transisi dari Konvensional ke Pasca-konvensional)
Sebagai remaja, Euis mulai mencari jati diri moralnya. Ia sempat terjebak pada tahap konvensional (ingin diterima teman sebaya), tetapi berkembang menuju tahap pasca-konvensional ketika akhirnya memahami makna kejujuran dan cinta keluarga yang sejati.

•Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
Film “Keluarga Cemara” versi jadul merupakan cerminan nyata tentang keteguhan moral dalam menghadapi perubahan hidup. Cerita ini menggambarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari harta, melainkan dari kekuatan cinta dan kebersamaan keluarga. Abah dan Emak menjadi teladan orang tua yang berpegang teguh pada nilai kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang meski hidup serba kekurangan.
Pesan moral paling kuat dari film ini adalah bahwa nilai keluarga adalah fondasi utama kehidupan. Di tengah krisis ekonomi dan perubahan sosial, film ini menegaskan pentingnya integritas. Abah menolak jalan pintas yang tidak jujur untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, menunjukkan bahwa prinsip moral tidak boleh dikorbankan demi keuntungan materi.
Selain itu, film ini menyoroti ketulusan cinta dalam keluarga sederhana. Emak tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga penjaga harmoni dan sumber keteguhan batin. Anak-anak belajar dari keteladanan kedua orang tuanya, bukan sekadar dari nasihat. Melalui kisah mereka, penonton diajak untuk merenungkan kembali makna “rumah”bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat di mana kasih dan kejujuran tumbuh.
Film ini juga memberi pelajaran penting tentang pendewasaan moral anak-anak. Dalam era modern yang sering menilai seseorang dari status sosial, Keluarga Cemara menegaskan bahwa kehormatan manusia datang dari kejujuran dan ketulusan hati. Nilai-nilai ini tetap relevan hingga kini, di tengah masyarakat yang sering terjebak pada materialisme.
Secara keseluruhan, Keluarga Cemara mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan pada banyaknya uang, melainkan pada kelapangan hati, saling menghargai, dan kesetiaan keluarga. Film ini mengingatkan kita bahwa di tengah kesulitan hidup, keluarga yang saling mendukung adalah sumber kekuatan paling besar.

•Diskusi: Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Dalam film, keluarga Cemara digambarkan ideal penuh kasih, jujur, dan sabar. Di kehidupan nyata, banyak keluarga menghadapi tantangan serupa: kehilangan pekerjaan, tekanan ekonomi, hingga konflik nilai. Namun, tidak semua keluarga mampu mempertahankan keharmonisan seperti keluarga Cemara.
Film ini menginspirasi agar masyarakat modern kembali pada nilai-nilai dasar: kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang, yang kini sering tergeser oleh ambisi material dan gengsi sosial.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Arjuna Nugraha Triatmaja Arjuna -
Nama : Arjuna Nugraha Triatmaja
Kelas : 25 C
NPM : 2553032005

Dilema moral pertama: Abah harus memilih antara mempertahankan harga diri dan gengsi sebagai kepala keluarga atau menerima kenyataan untuk hidup sederhana dan bekerja serabutan demi keluarganya. Di satu sisi, ia merasa malu dan kehilangan martabat, tetapi di sisi lain, ia tahu bahwa keluarganya membutuhkan keteguhan dan tanggung jawab darinya.

Dilema moral kedua: Euis, anak sulung, harus memilih antara tetap membantu orang tuanya dan beradaptasi dengan kehidupan baru di desa atau menolak keadaan karena kehilangan gaya hidup lamanya di kota. Konflik batin Euis antara keinginan pribadi dan tanggung jawab terhadap keluarga menjadi cerminan dilema moral remaja yang sedang mencari jati diri. Menurut teori Lawrence Kohlberg, perkembangan moral manusia terdiri dari tiga tingkat:

Prakonvensional (berdasarkan hukuman dan imbalan),

Konvensional (berdasarkan norma sosial dan harapan orang lain), dan

Pascakonvensional (berdasarkan prinsip moral universal).

Abah menunjukkan moralitas tingkat pascakonvensional. Ia memegang teguh nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan, meskipun secara sosial ia kehilangan status dan harta. Keputusan Abah untuk tetap bekerja keras tanpa mengeluh, dan menolak jalan pintas yang tidak jujur, menunjukkan bahwa nilai moralnya didasari oleh prinsip etika pribadi, bukan sekadar tuntutan sosial.

Emak beroperasi pada tingkat konvensional. Ia menjaga keharmonisan keluarga dan mendukung suaminya dengan cara menyesuaikan diri terhadap norma-norma sosial dan budaya. Emak menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kesabaran, dan keikhlasan kepada anak-anaknya, menjadikan keluarga tetap utuh dalam keterbatasan.

Euis, sebagai remaja, berada pada tahap transisi dari prakonvensional ke konvensional. Awalnya ia lebih mempertimbangkan pandangan teman-teman dan rasa malu karena kehilangan status sosial, tetapi kemudian ia belajar menghargai kerja keras dan cinta keluarganya, menandakan perkembangan moral menuju kedewasaan. Film Keluarga Cemara adalah potret hangat tentang makna sejati keluarga di tengah keterpurukan ekonomi dan perubahan sosial. Cerita dimulai ketika Abah (Ringgo Agus Rahman) kehilangan hartanya karena ditipu oleh rekan bisnis. Kehidupan mewah mereka di kota berubah menjadi kehidupan sederhana di desa, menguji kekuatan nilai-nilai keluarga yang selama ini mereka pegang.

Pesan moral utama dari film ini adalah keluarga sebagai sumber kekuatan dan kebahagiaan sejati, bukan harta benda. Dalam situasi sulit, keluarga Cemara justru menemukan kembali nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kasih sayang, dan kebersamaan. Abah dan Emak menjadi teladan tentang tanggung jawab dan keteguhan moral; mereka tidak menyerah pada keadaan, tetapi berjuang bersama untuk tetap bahagia dalam kesederhanaan.

Film ini juga mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi, tetapi dari kualitas hubungan antaranggota keluarga. Euis, yang awalnya malu dengan kemiskinan, akhirnya memahami bahwa cinta dan dukungan keluarganya lebih berharga daripada status sosial. Ara (adik Euis) menampilkan kepolosan dan semangat positif yang mengingatkan penonton bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil.

Secara moral, film ini menanamkan nilai integritas, tanggung jawab, kerja keras, dan cinta tanpa syarat. Abah menolak jalan curang untuk mendapatkan uang, meski situasinya mendesak. Emak mengajarkan kesabaran dan keikhlasan, sedangkan anak-anak belajar arti pengorbanan dan rasa syukur.

Selain itu, film ini menyoroti pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk moral anak. Nilai yang diajarkan Abah dan Emak menjadi dasar perkembangan moral anak-anaknya, sesuai dengan teori Kohlberg, di mana lingkungan keluarga berperan penting dalam pembentukan prinsip moral individu. Nilai keluarga yang digambarkan dalam film Keluarga Cemara seperti kejujuran, kesederhanaan, saling menghargai, dan kebersamaan masih sangat relevan dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Namun, dalam realitas modern, nilai-nilai tersebut sering tergerus oleh gaya hidup materialistis dan individualistis.

Banyak keluarga saat ini lebih menekankan pencapaian ekonomi daripada kebersamaan emosional. Film Keluarga Cemara menjadi pengingat bahwa kekuatan keluarga tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada saling dukung dan rasa cinta yang tulus. Dalam kehidupan nyata, menerapkan nilai-nilai seperti dalam film dapat memperkuat ikatan keluarga dan menumbuhkan karakter moral yang tangguh pada anak-anak.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Luthfia Maharani -

Nama : Luthfia Maharani

NPM : 2513032087

Kelas : 25 C


1. Menonton film "Keluarga Cemara" secara utuh


Film "Keluarga Cemara" adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2018. Film ini menceritakan tentang kehidupan keluarga Abah Cemara yang berusaha untuk mempertahankan kehidupan keluarga mereka meskipun menghadapi berbagai kesulitan.


2. Mengidentifikasi dilema moral


Dua dilema moral yang muncul dalam film "Keluarga Cemara" adalah:


- Dilema antara memenuhi kebutuhan keluarga dan mempertahankan harga diri: Abah Cemara harus memilih antara memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang tidak terhormat atau mempertahankan harga dirinya.

- Dilema antara kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga: Euis, anak perempuan Abah Cemara, harus memilih antara melanjutkan pendidikannya atau membantu keluarga secara finansial.


3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral


Karakter utama dalam film "Keluarga Cemara" adalah Abah Cemara. Berdasarkan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, Abah Cemara dapat dikategorikan sebagai orang yang berada pada tahap perkembangan moral konvensional. Abah Cemara berusaha untuk mempertahankan harga diri dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai ayah dan suami, serta mempertimbangkan kepentingan keluarga.


4. Menyusun ulasan tertulis tentang pesan moral film


Film "Keluarga Cemara" menyampaikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya keluarga dan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga. Film ini menunjukkan bahwa keluarga adalah sumber kekuatan dan dukungan bagi individu, dan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan saling menghargai sangat penting dalam membangun kehidupan keluarga yang harmonis.


5. Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata


Dalam diskusi, kita dapat membandingkan nilai-nilai keluarga yang digambarkan dalam film "Keluarga Cemara" dengan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan nyata.

In reply to Luthfia Maharani

Re: Penugasan

by lena septiana -
Nama: Lena septiana
Npm: 2513032074
Kelas: 25C


Film Keluarga Cemara adalah film keluarga Indonesia yang penuh dengan nilai moral dan pelajaran hidup. Ceritanya tentang Abah, Emak, Euis, dan Ara. sebuah keluarga yang awalnya hidup enak dan berkecukupan di kota. Tapi kehidupan mereka berubah total setelah Abah tertipu oleh rekan kerjanya. Semua harta dan rumah hilang, dan mereka terpaksa pindah ke desa untuk memulai hidup dari awal. Walau hidupnya jadi serba kekurangan, keluarga ini tetap berpegang pada kejujuran, kasih sayang, dan kebersamaan.
Di dalam film ini ada beberapa dilema moral yang bisa kita lihat. Pertama, dilema yang dialami Abah. Dia harus memilih antara mempertahankan gengsi atau tetap hidup jujur. Abah memilih tetap jujur dan bekerja keras walaupun hidupnya sulit. Dia tidak mau mencari jalan curang untuk cepat kaya. Sikap ini menunjukkan bahwa buat Abah, kejujuran lebih penting daripada penampilan atau status sosial. Dilema kedua datang dari Euis, anak sulung, yang awalnya merasa kecewa dan marah karena harus pindah dari kota ke desa. Ia kehilangan semua kenyamanan hidupnya. Tapi lama-lama Euis belajar menerima keadaan dan mulai memahami bahwa kebahagiaan sejati bukan dari uang, tapi dari cinta dan kebersamaan keluarga.
Kalau dilihat dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, Abah sudah berada di tahap paling tinggi, yaitu pascakonvensional. Artinya, Abah mengambil keputusan berdasarkan nilai moral yang dia yakini, bukan karena takut hukuman atau ingin dipuji orang. Emak berada di tahap konvensional, di mana dia berusaha berbuat baik karena ingin menjaga keharmonisan keluarga dan memenuhi harapan sosial. Sementara Euis, awalnya masih di tahap prakonvensional karena cenderung mementingkan diri sendiri, tapi kemudian berkembang ke tahap konvensional setelah memahami nilai yang diajarkan orang tuanya.
Kalau dikaitkan dengan teori kawasan moral, film ini memperlihatkan tiga hal penting: pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Abah dan Emak tahu bahwa jujur dan bertanggung jawab itu penting (moral knowing). Mereka juga punya perasaan empati dan kasih sayang satu sama lain (moral feeling). Dan yang paling penting, mereka benar-benar melakukan tindakan nyata seperti bekerja keras, saling membantu, dan nggak menipu (moral action). Jadi, nilai-nilai moral dalam film ini nggak cuma diucapkan, tapi juga benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan moral dari film Keluarga Cemara sangat kuat. Film ini mengajarkan bahwa keluarga jauh lebih berharga daripada harta benda. Hidup jujur, bersyukur, dan saling mendukung adalah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya. Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, film ini juga menunjukkan nilai-nilai seperti gotong royong, kesederhanaan, dan pentingnya menjaga hubungan keluarga. Melalui cerita yang sederhana tapi menyentuh, Keluarga Cemara bisa jadi contoh nyata bagaimana film bisa digunakan sebagai media pendidikan moral. Cerita ini mengingatkan kita bahwa seberapa sulit pun hidup, kalau keluarga tetap kompak dan saling mendukung, semua bisa dijalani. Jadi, film ini bukan cuma hiburan, tapi juga cermin kehidupan yang mengajarkan arti kejujuran, tanggung jawab, dan cinta keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Dina Ayu Lestari -
Nama: Dina Ayu Lestari
Kelas: 25 C
NPM: 2513032071

Film Keluarga Cemara tahun 2018
•Dilema Moral
1. Dilema yang dialami oleh Euis, ia merupakan anak sulung yang masih berusia remaja tengah mengalami dilema moral yang membuat Euis cukup sedih karena ayahnya bangkrut dan imbasnya kepada keluarga yang harus pindah dari kota ke desa untuk melanjutkan hidup. Euis harus pindah sekolah yang jauh berbeda fasilitasnya dengan sekolah sebelumnya di Jakarta, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru bertemu dengan teman-teman baru. Dalam kasus ini termasuk pada kawasan Perilaku moral, yaitu dimana perilaku seseorang memengaruhi kesejahteraan orang lain (kepentingan bersama & konteks situasional) dalam perilaku ini proses proses batin yang melahirkan perilaku, menyeleksi berbagai penilaian dengan perilaku mana yang patut dilaksanakan.
2. Dilema yang dialami oleh Abah, Abah yang bangkrut kehilangan pekerjaan dan status sosial yang ia punya. Setelah itu Abah mencoba melamar pekerjaan tetapi hasilnya ditolak, Abah mencoba melamar sebagai kuli yang pekerjaannya cukup berat, dalam hal ini Abah sempat bimbang antara mempertahankan harga diri atau menerima pekerjaan kasar demi keluarga. Ini termasuk kedalam kawasan penalaran moral dimana suatu proses pertimbangan sebelum suatu tindakan dilakukan, pada akhirnya Abah memilih untuk bekerja sebagai kuli bangunan agar bisa menghidupi keluarganya.

•Analisis karakter berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg
1. Abah
Orientasi hukum dan ketertiban
• Ia menunjukkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga meski harus kehilangan pekerjaan dan status sosial.
• Contoh: Tetap bekerja keras sebagai tukang becak meski sebelumnya seorang manajer, demi memenuhi kewajiban moral sebagai ayah.
2. Emak
Orientasi keselarasan interpersonal
• Emak berusaha menjaga keharmonisan keluarga dan menjadi penyeimbang emosi.
• Ia mendukung Abah dan membimbing anak-anak dengan empati dan keteladanan.
Contoh: Menenangkan Euis saat kecewa, dan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari materi.
3. Euis (Anak Sulung)
Transisi dari Tahap 2 ke Tahap 3
• Awalnya Euis menunjukkan moralitas pra-konvensional: kecewa, marah, dan ingin kembali ke Jakarta demi kenyamanan pribadi.
• Namun ia mulai memahami pentingnya kebersamaan dan empati terhadap keluarga.
Contoh: Mulai membantu Emak, mendukung Ara, dan menerima kehidupan baru dengan lebih dewasa.
4. Ara (Anak Bungsu)
Orientasi hukuman dan kepatuhan
• Sebagai anak kecil, Ara menunjukkan moralitas sederhana: takut dimarahi, ingin menyenangkan orang tua.
• Ia belajar dari teladan orang tua dan kakaknya.
Contoh: Meniru sikap baik Emak dan Abah, serta menunjukkan rasa ingin tahu dan kepatuhan.

•Film Keluarga Cemara (2018) merupakan nilai-nilai keluarga dalam menghadapi perubahan hidup yang drastis. Cerita bermula ketika Abah, seorang ayah yang sebelumnya hidup mapan di kota, mengalami kebangkrutan dan harus membawa keluarganya pindah ke desa. Perubahan ini tidak hanya menyangkut kondisi ekonomi, tetapi juga mengguncang psikologis seluruh anggota keluarga.
Pesan moral yang disampaikan film ini adalah bahwa keluarga adalah harta paling berharga. Ketika semua materi (uang, jabatan, rumah, pekerjaan) hilang, yang tersisa hanya ikatan kasih sayang dan solidaritas antaranggota keluarga. Abah dan Emak menunjukkan keteladanan dalam menjaga keutuhan keluarga, meski harus mengorbankan kenyamanan dan status sosial. Mereka tetap menjunjung tinggi kejujuran dan kerja keras, serta tidak tergoda untuk mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Sikap ini menjadi pelajaran penting bagi anak-anak mereka, terutama Euis, yang awalnya merasa kecewa dan sulit menerima kenyataan. Seiring waktu, Euis mulai memahami bahwakebersamaan jauh lebih penting daripada popularitas atau gaya hidup kota.
Setiap anggota keluarga Cemara mengalami proses belajar dan tumbuh secara emosional. Mereka menghadapi tantangan dengan kesederhanaan, namun tetap menjaga martabat. Dalam dunia yang semakin materialistis, Keluarga Cemara hadir sebagai pengingat bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kesederhanaan tetap relevan dan penting untuk ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.

•Perbandingan antara film Keluarga Cemara dan kehidupan nyata.
Film ini menggambarkan keluarga yang sangat ideal saling mendukung, penuh kasih sayang, dan tetap kompak meski menghadapi kesulitan ekonomi. Abah dan Emak merupakan orang tua yang sabar, jujur, dan selalu mengutamakan kebersamaan. Anak-anaknya pun, meski sempat kecewa, akhirnya belajar menerima keadaan dan saling membantu. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kesederhanaan benar-benar terasa kuat di dalam film keluarga cemara.
Sementara itu, di kehidupan nyata, kondisi keluarga bisa jauh lebih kompleks. Tidak semua orang tua mampu bersikap setenang Abah dan Emak saat menghadapi masalah. Banyak keluarga yang justru retak karena tekanan ekonomi, kurang komunikasi, atau perbedaan cara pandang antar generasi. Anak-anak pun kadang sulit menerima perubahan, apalagi jika harus pindah tempat tinggal yang sangat signifikan perbedaannya. Di dunia nyata, konflik dalam keluarga bisa berlangsung lama dan tidak selalu berakhir dengan pemahaman atau kebersamaan.
In reply to First post

Re: Penugasan

by keysa putri -
nama : keysa aulian as'ya putri
npm : 2513032073
kelas : 25C

film Keluarga Cemara (2019) disutradarai oleh yandy laurens. Film ini merupakan adaptasi modern dari sinetron legendaris karya Arswendo Atmowiloto yang populer pada tahun 1990-an. dalam versi film nya  menghadirkan kembali nilai-nilai keluarga Indonesia dalam konteks kehidupan masa kini, di tengah tantangan ekonomi, sosial, dan perubahan gaya hidup masyarakat modern.

dua dilema moral yang muncul dalam film yaitu :
a. ketika abah dilema antara kejujuran dan tanggung jawab karena ia kehilangan harta nya sehabis di tipu oleh rekan bisnis. dia mengalami dilema moral yaitu ia harus menyembunyikan kenyataan pahit ini dari keluarga nya atau dia jujur walau hal itu membuat  sedih. jadi akhirnya dia jujur kepada keluarganya.

b. tokoh emak juga menghadapi dilema antara ambisi pribadi dan keluarga. ia dilema saat harus meninggalkan kenyamanan hidup di kota dan beradaptasi di desa. ia punya keinginan untuk tetap hidup layak di kota dan menjaga status sosial tapi dia juga sadar kalau keluarganya butuh kebersamaan dan kestabilan emosional. untuk itu emak akhirnya memilih mengutamakan keluarganya.

menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral menurut kohlberg yaitu :

a. abah dari tingkat konvensional ke pasca konvensional karena awalnya Abah berpikir bahwa keberhasilan diukur lewat status ekonomi. Tapi setelah kehilangan harta, ia naik ke tingkat pascakonvensional dengan prinsip bahwa kebahagiaan keluarga lebih berharga dari kekayaan.

b. emak di tingkat konvesional, Emak ini tetap patuh pada nilai sosial dan tanggung jawab sebagai istri dan ibu. tapi, dia juga berjuang agar keluarga nya tetap kuat, menunjukkan empati dan kesadaran sosial tinggi.

c. euis dia dari pra-konvensional ke konvensional Awalnya Euis itu remaja yang memikirkan gaya hidup dan penampilan, tapi kemudian dia belajar tentang arti tanggung jawab dan kebersamaan keluarga menunjukkan kematangan moral yang

d. cemara pra-konvensional ia disini masih berpikir polos, menganggap baik itu  yang membuat orang lain senang. Tapi kejujurannya jadi pondasi nilai moral keluarga.


pesan moral yang dapat diambil dari film keluarga cemara ini yaitu keluarga adalah harta yang paling berharga karena Film ini menegaskan kalau kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh kasih sayang dan kebersamaan keluarga. Saat Abah dan keluarganya kehilangan segalanya, mereka justru menemukan kembali arti keluarga yang sesungguhnya tempat untuk saling mendukung dan menguatkan. tidak hanya itu film ini juga menegaskan jika kesederhanaan bukanlah kelemahan. Setelah pindah ke desa, keluarga Cemara belajar hidup sederhana. Walau harus berhemat dan bekerja keras, mereka tetap bahagia karena hidup mereka dipenuhi rasa syukur dan kebersamaan. Film ini mengajarkan bahwa hidup sederhana justru bisa membawa ketenangan. cinta dan dukungan dari keluarga berpengaruh untuk mengatasi kesulitan karna Ketika masalah datang, Abah, Emak, Euis, dan Cemara tidak saling menyalahkan. Mereka saling menguatkan dan berjuang bersama.

perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata salah satu nya yaitu Orang tua rela melakukan banyak pengorbanan demi pendidikan anak, kesejahteraan keluarga, meskipun penghasilan terbatas Pengorbanan orang tua untuk pendidikan anak juga umum di banyak keluarga seringkali orang tua bekerja keras agar anak dapat sekolah atau mendapatkan peluang lebih baik.
In reply to First post

Re: Penugasan

by NILA DWI LANA 2513032070 -

1. Dilema Moral dalam Film Keluarga Cemara 1 (2019)     Menurut saya film ini mengisahkan tentang keluarga Abah yang kehilangan harta bendanya setelah ditipu oleh mitra bisnisnya, sehingga terpaksa pindah dari kota besar ke desa dan memulai kehidupan yang sederhana. Dari kisah ini, muncul beberapa dilema moral:

a. Dilema Abah antara kebanggaan dan tanggung jawab keluarga Abah harus memilih antara mempertahankan kebanggaan dan status sosialnya sebagai pengusaha sukses atau menerima kenyataan pahit hidup sederhana di desa. Ia mengalami dilema antara kebanggaan diri dan kewajiban moralnya untuk tetap menjadi teladan bagi keluarganya.

b. Dilema Euis antara rasa malu dan kejujuran Euis, adalah anak sulung, merasa malu karena keadaan keluarganya telah berubah drastis. Ia harus memilih antara berpura-pura di depan teman-temannya atau menerima kenyataan dengan jujur. Situasi ini menggambarkan konflik antara citra sosial dan nilai kejujuran.

2. Analisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral (Lawrence Kohlberg). Teori Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tahap utama: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

a. Abah (Ayah)

Abah berada pada tahap konvensional. Dia memegang teguh nilai-nilai tanggung jawab dan integritas. Meskipun dia telah kehilangan segalanya, dia tidak menyalahkan orang lain secara emosional, melainkan berusaha mengambil tanggung jawab untuk keluarganya. Keputusan Abah untuk tetap jujur dan bekerja keras mencerminkan moralitas yang didasarkan pada kewajiban sosial dan norma-norma universal kebenaran.

b. Euis (anak sulung)

Euis sedang dalam proses transisi dari tahap prakonvensional ke tahap konvensional. Awalnya, ia cenderung berpikir berdasarkan konsekuensi pribadi (rasa malu, kehilangan teman), tetapi seiring waktu, ia belajar memahami nilai-nilai keluarga dan tanggung jawab moral terhadap orang lain. Hal ini menunjukkan perkembangan moral yang mulai mempertimbangkan harapan sosial dan nilai kejujuran.

3. Ulasan Tertulis Pesan Moral Film 500 kata                                     

 Film Keluarga Cemara adalah potret hangat dan mengharukan tentang makna keluarga sejati. Disutradarai oleh Yandy Laurens, film ini menghidupkan kembali cerita klasik dengan pendekatan modern yang tetap mempertahankan keberadaan nilai-nilai keluarga Indonesia. Cerita dimulai ketika Abah, kepala keluarga yang awalnya hidup nyaman, ditipu oleh rekan bisnisnya. Kehilangan harta bendanya memaksa dia, istrinya (Emak), dan dua anaknya (Euis dan Ara) pindah ke desa untuk memulai hidup dari nol. 

Pesan moral utama film ini adalah tentang ketekunan, kejujuran, dan pentingnya kebersamaan keluarga di tengah kesulitan hidup. Film ini menekankan bahwa nilai sejati sebuah keluarga tidak diukur dari harta benda, tetapi dari cinta, dukungan, dan saling pengertian di antara anggota keluarga. Abah menjadi simbol tanggung jawab moral; meskipun jatuh miskin, ia tidak mengorbankan prinsip-prinsip kejujurannya. Sementara itu, Emak menunjukkan kekuatan cinta dan kesabaran yang menjadi landasan sebuah keluarga.Euis dan Ara masing-masing mewakili dinamika pertumbuhan moral anak-anak dalam situasi sulit. 

Euis belajar menerima kenyataan dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada barang-barang materi, sementara Ara menunjukkan ketulusan dan kejujuran seorang anak yang memandang hidup dengan hati yang murni. Secara moral, film ini mengingatkan penonton bahwa kehormatan dan kebersamaan lebih berharga daripada kekayaan. 

Film ini juga mengkritik gaya hidup materialistis perkotaan dan menonjolkan nilai-nilai tradisional seperti kerja sama, kejujuran, dan kesederhanaan. Dalam konteks sosial Indonesia, Keluarga Cemara berfungsi sebagai cermin moral yang mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan akar nilai-nilai manusia di tengah modernitas.Melalui sinematografi yang lembut dan dialog yang sederhana, film ini berhasil menyampaikan pesan moralnya dengan kuat tanpa terdengar menggurui. Keluarga Cemara bukan hanya cerita tentang kehilangan kekayaan, tetapi tentang menemukan kembali makna hidup: bahwa keluarga adalah tempat berlindung dari segala kesulitan, tempat di mana cinta dan pengertian tidak pernah habis.                                                                     

 4. Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata

Dalam film, nilai-nilai keluarga digambarkan sebagai ideal: dukungan tanpa pamrih, menerima kesulitan dengan keteguhan hati, dan selalu mengutamakan kejujuran. Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai ini terkadang sulit untuk dipertahankan sepenuhnya. Tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan ego individu seringkali membuat keluarga modern menjadi lebih rapuh. Namun, film ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai seperti saling menghormati, komunikasi terbuka, dan ketulusan tetap relevan dan perlu dijaga agar keluarga tetap utuh.

In reply to First post

Re: Penugasan

by Ica Cahya Marsugi -
Nama : Ica Cahya Marsugi
NPM : 2513032081
Kelas : 25.C

Analisis FILM "KELUARGA CEMARA 2" (2022)

Identifikasi dilema moral, Analisis Karakter dan Nilai Keluarga.


Keluarga Cemara 2 adalah film drama keluarga Indonesia tahun 2022 yang disutradarai oleh Ismail Basbeth. Film yang merupakan sekuel dari film Keluarga Cemara ini dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Widuri Puteri dan Adhisty Zara.

A.Dilema Moral;
1. Abah (Ringgo Agus Rahman) mengalami dilema moral yang mana ia berada dalam kondisi antara harus memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga yaitu mencari uang atau tanggung jawab kepada keluarga yaitu lebih mementingkan perhatian kepada anak-anaknya. Dalam film KELUARGA CEMARA 2 ini Abah telah mendapatkan pekerjaan baru yaitu menjadi penjaga peternakan ayam yang mana ia disibukkan oleh mengurnus makan para ayam, memberi obat, menjaga ayam agar tidak stress dan berakhir mati serta mengantar pesanan ayam yang mana kegiatan itu semua sangat menyita waktu. Akibat dari pekerjaan tersebut Abah hanya mempunyai sedikit waktu untuk keluarganya.

2. Ara (Widuri Puteri) mengalami dilema moral pada saat ia bingung harus memilih antara mendengarkan perkataan orang tua nya atau tetap ingin mengembalikan ayam peliharaannya (Neon) pada keluarga aslinya. Difilm tersebut Ara sebelumnya sudah tidak akan pergi kekampung tetangga untuk mengembalikan ayam peliharaannya (Neon) karena jarak yang sangat jauh bagi anak seusianya dengan menaiki sepeda bersama temannya (Aril) hanya untuk mengembalikan ayam, tetapi karena ia tidak sengaja mendengar perkataan teman sekolah nya bahwa ayam yang seperti miliknya tidak dapat bertahan sampai 10 hari akhirnya ia dengan temannya (Aril) tanpa berpikir panjang langsung mengambil ayamnya dan pergi kekampung tetangga.

B. Analisis karakter berdasarkan teori perkembangan moral (Menurut Kohlberg);

1. Abah (Ringgo Agus Rahman)
Abah berada pada tahap keempat (konvensional: hukum dan ketertiban) karena ia berusaha keras menunaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga dengan bekerja jujur dan menjaga integritas. Namun, saat menyadari bahwa kesibukannya membuat Ara merasa diabaikan, ia mulai bergerak ke tahap kelima (pascakonvensional: kontrak sosial) dengan menempatkan kebahagiaan keluarga di atas rutinitas dan aturan formal.

2. Emak (Nirina Zubir)
Emak menunjukkan tahap kelima (pascakonvensional) karena menilai baik dan buruk berdasarkan empati dan nilai kemanusiaan. Ia menjadi penyeimbang dalam keluarga dan berusaha mengembalikan keharmonisan ketika anak-anak merasa kurang diperhatikan, menunjukkan moralitas yang berlandaskan kasih sayang dan tanggung jawab emosional.

3. Euis (Adhisty Zara)
Euis berada pada tahap ketiga (konvensional: orientasi anak baik) karena berusaha menjadi anak yang mandiri dan diterima oleh keluarga. Ketika mulai menyadari perannya dalam menjaga hubungan dengan Ara, ia menunjukkan pergeseran menuju tahap keempat, memahami bahwa kebaikan juga berarti menjaga keseimbangan dalam keluarga.

4. Ara (Widuri Puteri)
Ara masih berada pada tahap kedua (prakonvensional: orientasi instrumental-relativis) karena berbuat baik untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Namun melalui pengalamannya merasa diabaikan dan kemudian kembali ke keluarga, ia mulai belajar memahami arti kebersamaan dan kasih sayang yang tulus.

C. Perbandingan nilai keluarga dalam film dengan kehidupan nyata.
Film ini menggambarkan bagaimana sebuah keluarga dapat tetap bahagia walau dengan kesederhanaan. Film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata banyak keluarga. Banyak nilai yang sangat sederhana tetapi sebenarnya sangat berdampak besar bagi manusia yang hidup bersama. Seperti pada karakter Abah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman, ia sangat menggambarkan sosok ayah dibanyak keluarga yang mana ia disibukkan oleh pekerjaan tetapi ia juga harus memenuhi perhatian kepada keluarganya, istri dan anak-anaknya. Terkadang ia lupa harus bersikap bagaimana apakah harus keras mendidik kepada anak-anaknya atau justru harus memanjakan mereka. Seperti yang terjadi pada Emak yang diperankan oleh Nirina Zubir sangat menggambarkan sosok ibu yang sibuk dengan urusan rumah tangga dan memberi perhatian kepada anak-anaknya. Disisi lain ia ingin membantu sang suami (Abah) memenuhi kebutuhan hidup dengan membuka usaha dan menabung dikarenakan pengalaman yang mereka lalui sebelumnya tetapi ia dibingungkan oleh biaya yang akhirnya ia mendapat bantuan dari Ceu Salmah. Tetapi ia juga dibingungkan oleh kesibukan mengurus anaknya yang masih balita.
Sedangkan Euis ia sangat menggambarkan sosok remaja pada umumnya yang mana ia mulai mengenal kehidupan manis para remaja dan menjadi sosok kakak yang baik bagi adiknya.
Inti dari film ini ialah bagaimana seharusnya anggota dalam sebuah keluarga harus saling menyayangi, cinta, dukungan ketika dalam masa sulit, memberi perhatian dan saling peduli sehingga dapat terwujud keluarga yang bahagia yaitu Keluarga Cemara.
In reply to Ica Cahya Marsugi

Re: Penugasan

by Nur Hidayati -
Nama: Nur Hidayati
NPM: 2513032080
Kelas: 25 C


Sinetron "Keluarga Cemara" tayang kembali di TVRI setelah kesuksesan film layar lebarnya Sinetron "Keluarga Cemara" disutradarai oleh Ismail Basbeth, menghadirkan kisah keluarga Abah dan Emak yang jatuh miskin namun tetap harmonis. Sinetron ini ditayangkan ulang di TVRI mulai tanggal 6 Oktober 1996 hingga 28 Februari 2005. Penayangan ulangnya di TVRI dimulai 26 Desember 2018 pukul 11.00 WIB.
Ringkasan cerita
Pada episode ini" Siap Sekolah", menceritakan keluarga kecil yang sederhana: Abah, Emak, Euis, Ara. Cerita berfokus pada persiapan Ara untuk masuk sekolah. Ia sangat bersemangat ingin memiliki seragam atau pakaian baru agar hari pertama sekolah tampak menyenangkan. Namun kondisi keuangan keluarga terbatas yang mengharuskan Abah bekerja sebagai tukang becak dan Emak berjualan opak yang membuat keinginan Ara menjadi tantangan.
Keluarga kemudian berdiskusi, berkompromi, dan menunjukkan bahwa kebahagiaan sekolah tidak selalu tergantung pada pakaian baru mewah, tetapi juga pada semangat, kebersamaan keluarga, dan sikap rela berkorban.
Dalam prosesnya, Ara belajar tentang tanggung jawab, pengertian terhadap kondisi keluarga, dan bahwa “siap sekolah” juga berarti siap secara mental dan sikap, bukan hanya secara materi.

Mengidentifikasi Dilema Moral
1. Dilema Moral Ara
Konteks: Ara ingin bersekolah dengan seragam baru seperti teman-temannya, namun ia tahu kondisi keluarga sedang sulit.
Dilema: Di satu sisi, ia ingin diterima secara sosial (keinginan pribadi, kebutuhan psikologis akan penghargaan).
Di sisi lain, ia tidak ingin membebani Abah dan Emak yang sedang kesulitan ekonomi.
Analisis berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg:
Ara berada di tahap konvensional awal (tahap 3: orientasi anak baik). Ia mulai menilai benar-salah berdasarkan harapan orang tua dan orang di sekitarnya. Ara belum mempertimbangkan prinsip moral universal, tapi sudah memahami bahwa berbuat baik berarti tidak membuat orang tuanya susah.
Keputusan Ara untuk akhirnya menerima seragam bekas atau sederhana menunjukkan kesadaran moral yang tumbuh: nilai kebersamaan lebih tinggi dari gengsi pribadi.
Nilai yang muncul: empati, tanggung jawab, dan penerimaan sosial yang matang.

2. Dilema Moral Euis
Konteks: Kakak Ara, Euis, sadar adiknya ingin seragam baru. Ia tahu kondisi ekonomi keluarga tapi ingin membantu mewujudkan keinginan adiknya.
Dilema: Ia bisa diam saja (rasional: tidak menambah beban orang tua), atau berinisiatif mencari jalan keluar, seperti menabung atau mengorbankan miliknya sendiri (emosional dan penuh kasih).
Analisis berdasarkan Teori Kohlberg:
Euis mulai menunjukkan tahap konvensional akhir (tahap 4: menjaga ketertiban sosial dan tanggung jawab).
Ia berpikir lebih luas tentang kewajiban, tanggung jawab sebagai anggota keluarga, dan keadilan dalam rumah tangga.
Ketika ia memilih menolong dengan cara realistis, Euis mengedepankan nilai care ethics (etika kepedulian): bahwa moralitas tak melulu soal aturan, tapi juga relasi dan kasih sayang.
Nilai yang muncul: solidaritas, tanggung jawab sosial, kasih sayang alturistik.

3. Dilema Moral Abah: Antara harga diri dan kebutuhan keluarga
Abah ingin memberi yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi ia sadar pekerjaannya sebagai tukang becak membuatnya sulit membeli seragam baru.
Jika memaksakan, ia mungkin berutang atau kehilangan stabilitas ekonomi. Jika tidak, ia khawatir anak-anaknya kecewa.
Abah menunjukkan moralitas pasca konvensional (tahap 5: orientasi kontrak sosial). Ia menimbang nilai kejujuran dan tanggung jawab jangka panjang dibanding kesenangan sesaat.

4. Dilema Emak: Antara kasih ibu dan pendidikan nilai.
Emak bisa saja memanjakan Ara dengan meminjam uang demi seragam baru, tapi ia memilih mengajarkan makna kesyukuran dan sederhana. Ini memperlihatkan moralitas pasca konvensional tahap 6 (prinsip etika universal).
Ia bertindak berdasar prinsip kejujuran dan cinta sejati: bahwa mendidik anak agar kuat menghadapi hidup lebih penting daripada memuaskan keinginan sesaat.

Perbandingan Nilai Keluarga Dalam Film dan Kehidupan Nyata.
Didalam film Keluarga Cemara: "Siap Sekolah", nilai-nilai keluarga digambarkan secara hangat dan ideal. Abah, Emak, Euis, dan Ara hidup sederhana, saling mendukung, serta menempatkan kebersamaan di atas kebutuhan materi. Mereka menunjukkan bahwa cinta, kejujuran, dan pengertian bisa membuat keluarga tetap kuat meskipun serba terbatas. Abah berusaha menjadi teladan tangguh yang menjaga harga diri keluarga, Emak menanamkan rasa syukur dan kesederhanaan, sedangkan anak-anak belajar empati dan tanggung jawab lewat situasi sehari-hari.
Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai itu sering diuji oleh tekanan sosial dan ekonomi. Banyak keluarga menghadapi tuntutan gaya hidup, perbandingan sosial, dan keterbatasan waktu yang membuat komunikasi dan kebersamaan berkurang. Orang tua bisa terjebak pada kebutuhan memenuhi standar “layak” menurut masyarakat seperti seragam baru, gawai modern, atau penampilan luar padahal yang dibutuhkan anak adalah perhatian dan teladan. Selain itu, ritme kerja yang padat sering membuat dialog keluarga menjadi singkat atau bahkan hilang, sehingga pendidikan moral bergeser menjadi urusan sekolah semata. Sikap menumbuhkan kejujuran dalam keterbatasan, menjaga komunikasi, dan menilai keberhasilan bukan dari harta, melainkan dari kedekatan hati antar anggota keluarga. Nilai-nilai itu menjadi pengingat bahwa “siap sekolah” bukan sekadar soal seragam baru, melainkan kesiapan karakter, kasih sayang, dan keutuhan keluarga di tengah tantangan kehidupan modern.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Via Dwi Silviani -
Nama : Via Dwi Silviani
NPM. : 2513032085
Kelas. : C

Film Keluarga Cemara menggambarkan kehidupan keluarga sederhana yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi. Dalam ceritanya, terdapat berbagai dilema moral yang dihadapi oleh para tokoh, terutama Abah dan anak-anaknya. Salah satu dilema moral utama muncul ketika Abah harus memilih antara mempertahankan kejujuran atau melakukan kecurangan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Setelah kehilangan harta bendanya akibat ditipu rekan bisnis, Abah memutuskan untuk hidup jujur dan bekerja keras, meski penghasilannya kecil. Pilihan ini menunjukkan bahwa baginya, kejujuran dan harga diri jauh lebih penting daripada kekayaan material.

Dilema moral kedua dapat dilihat melalui tokoh Euis, anak sulung keluarga Cemara. Sebagai remaja, Euis sering merasa malu dengan kondisi keluarganya yang kini hidup dalam kesederhanaan. Ia menghadapi konflik batin antara keinginannya untuk diterima oleh lingkungan sosialnya dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Pada akhirnya, Euis memilih untuk menerima keadaan keluarganya dengan lapang dada dan tetap bangga pada orang tuanya. Sikap ini menggambarkan bahwa ia telah belajar menempatkan nilai kasih sayang dan kebersamaan di atas rasa gengsi dan penilaian orang lain.
Analisis Perkembangan Moral Berdasarkan Teori Kohlberg

Menurut teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, perkembangan moral seseorang terbagi menjadi tiga tingkat: pra-konvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Tokoh Abah digambarkan berada pada tahap pascakonvensional. Ia bertindak berdasarkan prinsip moral universal seperti kejujuran dan tanggung jawab, bukan semata karena aturan atau pandangan masyarakat. Keputusannya untuk tetap jujur meskipun hidup susah menunjukkan bahwa tindakannya didasari oleh keyakinan pribadi terhadap nilai moral yang luhur. Ia tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi berusaha memberikan teladan bagi anak-anaknya agar tetap menjunjung integritas dan kerja keras.
Sementara itu, perkembangan moral Euis berada di antara tahap konvensional dan pascakonvensional. Pada awal cerita, Euis masih menunjukkan perilaku konvensional, di mana ia peduli terhadap pandangan teman-temannya dan ingin diterima di lingkungan sosialnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Euis mulai memahami makna moral yang lebih dalam — bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh kekayaan, melainkan oleh kejujuran dan kasih sayang dalam keluarga. Proses perubahan ini menunjukkan bahwa Euis mulai bergerak ke arah tahap pascakonvensional, di mana ia menilai tindakan berdasarkan prinsip dan nilai kemanusiaan, bukan sekadar penerimaan sosial.
Menurut saya,film Keluarga Cemara menggambarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan keluarga seperti kesederhanaan, kejujuran, kerja keras, dan kasih sayang antaranggota keluarga. Meskipun kehilangan harta benda, keluarga Abah tetap hidup bahagia karena saling mendukung, menghargai, dan menerima keadaan dengan ikhlas. Nilai-nilai tersebut menjadi teladan kuat tentang arti kebersamaan dan cinta tanpa pamrih. Namun, dalam dunia nyata saat ini, nilai-nilai keluarga seperti itu mulai tergerus oleh pengaruh gaya hidup modern dan kemajuan teknologi. Banyak keluarga lebih sibuk mengejar materi atau pekerjaan hingga melupakan kebersamaan, meskipun masih ada yang berusaha mempertahankan keharmonisan dan nilai moral dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, film Keluarga Cemara menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta atau kemewahan, melainkan dari cinta, kejujuran, dan kebersamaan dalam keluarga.
In reply to Via Dwi Silviani

Re: Penugasan

by Anita Zahra -
Nama : Anita Zahra
NPM : 2513032077
Kelas : C

1. Salah satu pilihan yang saya tonton mengenai film keluarga cemara adalah Keluarga Cemara tahun 2018 sebuah film karya yandy Laurens dan diadaptasi dari serial TV legendaris "keluarga cemara" Karya Arswendo Atmowiloto.

2. Mengidentifikasi dilema moral yang muncul dalam film
a. Abah mendapatkan tawaran untuk menjual rumah warisan di desa (yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka) untuk mendapatkan modal agar bisa kembali ke kota dan memulai kembali hidup baru seperti dulu. Tetapi anak-anaknya, terutama Euis dan Ara sudah mulai menemukan kebahagiaan dan kenyamanan hidup sederhana di desa.
b. Dilema kedua saat abah ditelfon oleh pengacara abah (memberi tahu bahwa abah memberi surat kuasa kepada fajar). Akibat dari kejadian itu, abah sudah tidak bisa lagi mendapatkan hak miliknya, abah kehilangan semua semua harta benda dan kemewahan akibat bangkrut dan harus menetap di desa. Dilema moralnya adalah apakah abah harus jujur dan terbuka sepenuhnya tentang keputusannya kepada anak-anaknya atau ia harus berusaha keras menyembunyikan dan berpura-pura kuat demi menjaga kebahagiaan dalam keluarganya.

3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg
a. Abah
Teori perkembangan pada karakter abah adalah konvensional (hukum dan ketertiban) didasarkan pada tugas dan mempertahankan aturan/ketertiban. Bukti dalam filmnya adalah abah mengganggap bahwa tugas utamanya adalah bertanggungjawab penuh demi menafkahi dan menjaga keutuhan keluarganya.
b. Euis
Teori perkembangan moral pada karakter Euis adalah Konvensional (Orientasi Anak manis) didasarkan pada memenuhi harapan orang lain. Bukti dalam filmnya adalah meskipun awalnya berat dan malu, Euis akhirnya menerima untuk membantu emak dan menjual opak di sekolah, ini menunjukkan bahwa ia mulai tanggung jawab atau mematuhi sebagai anggota keluarga.
d. Cemara (Ara)
Teori perkembangan moral pada karakter Ara adalah pra konvensional (Orientasi relativis instrumental) didasarkan pada anak mematuhi apapun sepanjang memenuhi kebutuhan sendiri/orang lain. Bukti dalam film adalah Ara menyatakan bahwa ia senang di desa karena abah jadi sering dirumah, Emak masak opak setiap hari, terus Ara bisa sekamar sama teteh, ini menunjukkan bahwa ia menilai situasi secara baik karena memberinya keuntungan berupa kebersamaan dan kedekatan.

4. Pesan moral yang paling utama adalah keluarga adalah harta yang paling berharga dan bernilai jauh lebih penting daripada kekayaan materi atau status sosial. Dari film ini, Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan asalkan di dalamnya ada kebersamaan dan komunikasi yang jujur antar anggota keluarga. Ketika anggota keluarga sedang dalam kesulitan, setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab untuk saling mendukung sehingga masalah seberat apapun dapat dilalui.

Film ini juga mengajarkan tentang keikhlasan. Kehidupan seringkali tidak berjalan sesuai rencana, dan disinilah kita diajarkan untuk belajar ikhlas melepaskan apa yang bukan milik kita lagi. Pesan moral lainnya adalah tentang pentingnya tidak mudah memberi janji kepada orang jika tidak bisa menepati janji tersebut. Konflik yang terjadi antar anggota keluarga seringkali berakar dari ekspektasi yang tidak terpenuhi atau janji yang terabaikan, mengajarkan pentingnya berkata jujur dan menimbang matang-matang setiap ucapan yang akan kita ucapkan. Selain itu, Film ini juga menunjukkan bahwa keretakan hubungan dalam keluarga seringkali dapat diperbaiki dengan kesediaan untuk saling memaafkan. Tindakan memaafkan adalah kunci untuk melepaskan beban emosional.

5. Perbandingan nilai-nilai keluarga dalam film keluarga Cemara tahun 2018 dengan kehidupan nyata. Dalam film, ketika Abah bangkrut, semua anggota keluarga (Abah, Emak, Euis, dan Ara) secara kompak menunjukkan ketulusan dan rasa sayang yang sangat kental, tulus dan menjadi prioritas utama keluarga, setiap anggota secara aktif saling menyemangati dan membantu terutama saat kesulitan ekonomi, dan komunikasi terbuka menjadikan kunci keluarga sebagai benteng pertahanan utama. Sebaliknya, nilai keluarga di kehidupan nyata juga menjunjung tinggi kebersamaan namun seringkali lebih kompleks dan penuh tantangan. Misalnya, dalam kehidupan nyata, kesulitan ekonomi tidak selalu disikapi dengan kekompakan, tekanan hidup, tuntutan gaya hidup modern, dukungan ada, tetapi terkadang terselubung atau terbentur ego ,perbedaan pendapat atau kurangnya komunikasi dan kesibukan kerja orang tua bisa membuat komunikasi lebih renggang dan memicu konflik antar anggota keluarga. Intinya, film menampilkan impian tentang keluarga yang selalu utuh dalam kesederhanaan, sementara kehidupan nyata adalah perjuangan terus-menerus untuk menjaga nilai-nilai tersebut di tengah segala godaan dan rintangan modern.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Aulia Rahma Ramadani -
Nama: Aulia Rahma Ramadani
NPM: 2513032083
Kelas: 25 C

1. Film keluarga Cemara ini menceritakan keluarga Abah yang awalnya hidup nyaman di kota. Tapi karena tertipu oleh rekan bisnis, mereka kehilangan rumah dan harta benda. Akhirnya, mereka pindah ke desa, ke rumah warisan keluarga Abah. Di desa, mereka menjalani hidup sederhana, yang dimana Abah bekerja keras demi keluarganya, Emak berjuang menjaga semangat keluarga, Euis yang mulai remaja belajar menerima keadaan, Ara tetap ceria walau hidup berubah drastis.

2. A.Dilema abah antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi.
Situasi: Setelah kehilangan pekerjaannya di kota, Abah berusaha keras mencari nafkah untuk keluarganya. Dalam beberapa kesempatan, ia dihadapkan pada pilihan untuk mengambil jalan pintas (misalnya bekerja tanpa izin atau menerima tawaran yang meragukan secara moral) agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
Dilemanya: Apakah Abah harus berpegang pada kejujuran dan prinsipnya meskipun hidup mereka jadi susah,
atau mengorbankan prinsip itu demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga?

B. Dilema Euis antara ego pribadi dan cinta keluarga.
Situasi: Euis yang remaja awalnya sangat sulit menerima kenyataan bahwa mereka harus pindah ke desa dan hidup sederhana. Ia merasa malu dan marah, apalagi saat teman-temannya di kota masih hidup enak.
Dilemanya: Apakah Euis harus terus memendam rasa kecewa dan menyalahkan orang tuanya, atau belajar memahami kondisi keluarga dan berkorban demi kebersamaan?

3. Masuk ke dalam tahap perkembangan moral Kohlberg, yang dimana karakter utama, yaitu:
1.Abah
-Tingkat Pascakonvensional tahap 6 (Prinsip Etika Universal)
-Bukti:Saat ditipu oleh rekan bisnisnya dan kehilangan harta, Abah tetap memilih untuk tidak berbuat curang atau membalas dendam dan keputusan Abah untuk tetap sabar dalam mendidik anak-anaknya tentang arti kejujuran dan kerja keras menunjukkan moral berbasis prinsip, bukan sekadar aturan sosial.
2.Emak
-Tingkat Konvensional tahap 3 (Orientasi Interpersonal)
-Bukti:Emak berusaha menjaga keharmonisan keluarga di tengah kesulitan dan Ia tidak menyalahkan Abah atas kebangkrutan, melainkan menunjukkan empati dan cinta tanpa syarat.
3.Euis
-Tingkat Konvensional tahap 4 (Orientasi Hukum dan Ketertiban)
-Bukti:Awalnya Euis merasa malu dan marah karena kehilangan teman dan gaya hidup di kota. Namun, ia kemudian belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan dari materi, melainkan dari kehangatan keluarga dan Ia mulai mematuhi nilai dan aturan keluarga yang diajarkan Abah dan Emak.
4.Ara
-Tingkat Pra Konvensional Tahap 2 (Orientasi Relativis Instrumental)
-Bukti: Ara tetap ceria meski keluarganya jatuh miskin,Ia tidak memahami masalah ekonomi keluarga secara detail tetapi ia tahu bahwa bersikap ceria membuat Abah dan Emak bahagia.

4. Hidup Sederhana
-Di film Keluarga Cemara tetap bahagia walau hidup sederhana atau susah, dan jika dibandingkan dengan kehidupan nyata banyak orang lupa bahwa hidup sederhana bisa membawa kemenangan.
-Kasih Sayang
Di film keluarga Cemara mereka saling sayang dan tidak saling menyalahkan, dan perbandingan nya pada kehidupan nyata yaitu banyak keluarga lupa menunjukkan kasih sayang karena sibuk.
In reply to First post

Re: Penugasan

by desta purnama sari -
Nama:Desta purnama sari
NPM:2513032075
Kelas:25C

Judul: Keluarga Cemara (2018)
Sutradara: Yandy Laurens
Pemeran utama: Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), Widuri Puteri (Ara)
Durasi: 110 menit
Film Keluarga Cemara menceritakan tentang keluarga sederhana yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan seluruh harta benda mereka. Abah, yang dulunya seorang pengusaha sukses di kota, kini rumah dan hartanya disita oleh debt collector untuk membayar hutang perusahaan yang disebabkan oleh kakak iparnya.
Akibatnya, Abah, Emak, dan kedua anaknya, Euis dan Ara, terpaksa pindah ke desa dan memulai hidup baru dari nol. Walau hidup mereka berubah drastis, keluarga ini tetap berusaha bertahan dengan kejujuran dan kasih sayang.

Dalam film ini, ada beberapa dilema moral yang sangat terasa. Yang pertama dialami oleh Abah. Ia harus memilih antara terus menuntut keadilan atas penipuan yang menimpanya, atau menerima kenyataan dan fokus membangun hidup baru bersama keluarganya. Di sini, Abah memilih untuk tidak larut dalam amarah. Ia lebih memilih menjaga keluarganya tetap utuh dan tenteram. Pilihan ini bukan hal mudah, karena di satu sisi ia merasa kehilangan harga diri sebagai kepala keluarga, tetapi di sisi lain ia sadar bahwa ketenangan keluarganya jauh lebih penting dari harta.

Dilema moral kedua muncul dari Euis, anak sulung Abah dan Emak. Saat pindah ke desa, Euis merasa malu dengan keadaan keluarganya yang kini hidup sederhana. Ia sempat menyembunyikan kondisi keluarganya dari teman-temannya, karena takut direndahkan. Namun seiring waktu, Euis belajar menerima keadaan. Ia menyadari bahwa kebahagiaan bukan datang dari kemewahan, melainkan dari kasih sayang dan kebersamaan keluarga.

Kalau dilihat dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg,
karakter Abah berada pada tingkat konvensional menuju pasca-konvensional. Ia menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Saat Abah memilih bekerja keras di desa sebagai tukang ojek dan kuli meski pernah hidup mewah, ia menunjukkan moralitas yang berlandaskan prinsip etika universal yaitu bekerja dengan jujur lebih mulia daripada mencari kekayaan dengan cara curang.
Euis berada pada tahap konvensional awal, di mana moralitasnya masih sangat dipengaruhi oleh penilaian sosial. Namun, seiring berjalannya cerita, Euis belajar memahami bahwa kebahagiaan keluarga dan kasih sayang jauh lebih berharga dari status sosial. Perkembangan ini menunjukkan proses transisi menuju moralitas yang lebih matang.

Pesan moral dari film ini sangat kuat.
Film Keluarga Cemara mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk kembali, apapun keadaan kita. Uang dan jabatan bisa hilang, tapi keluarga yang saling mencintai akan selalu menjadi sumber kekuatan.Film ini juga menunjukkan bahwa kejujuran, kerja keras, dan rasa syukur adalah nilai yang harus dijaga di tengah perubahan zaman. Selain itu, film ini mengajarkan bahwa orang tua tidak harus sempurna, tapi harus selalu berusaha menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Kalau dibandingkan dengan kehidupan nyata, nilai kekeluargaan dalam film ini terasa lebih hangat dan sederhana. Di dunia sekarang, banyak keluarga yang sibuk dengan urusan masing-masing, bahkan jarang makan bersama. Film ini seolah menegur kita agar tidak lupa pada arti kebersamaan. Walau hidup penuh tekanan dan tantangan, kebahagiaan bisa tetap ada jika kita saling mendukung dan menghargai satu sama lain.

Secara keseluruhan, Keluarga Cemara bukan hanya film keluarga biasa, tapi juga cermin kehidupan. Film ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang tulus, keluarga yang saling mengasihi, dan rasa syukur atas apa yang kita miliki.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Andika Pratama 2553032008 -
NAMA: Andika Pratama
KELAS: 25 C
NPM: 2553032008


Saya menonton film Keluarga Cemara episode ke-12 berjudul “Jiwa Berharga” .

Dalam episode ini, kita melihat kehidupan Abah, Emak, dan dua anak mereka, Euis dan Ara. Keluarga ini awalnya hidup makmur dan nyaman di kota, tetapi setelah Abah tertipu oleh rekan bisnisnya, mereka kehilangan semuanya dan harus pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Mereka belajar kembali arti kerja keras, kebersamaan, dan kejujuran dari hidup di desa yang sederhana. Mereka menemukan, jauh dari gaya hidup mewah, bahwa kebahagiaan sejati berasal dari rasa terima kasih, cinta, dan dukungan satu sama lain, bukan dari harta benda.

Saya menemukan dua dilema moral yang signifikan dalam film ini. Pertama, Abah menghadapi dilema: tetap jujur atau memperbaiki ekonomi keluarga dengan cara yang tidak jujur. Meskipun hidup dalam kesulitan, Abah memilih jalan yang benar dengan bekerja keras dan tidak menempuh cara yang salah. Kedua, dilema dialami oleh Euis. Ia merasa malu dengan kondisi keluarganya yang berubah drastis setelah pindah ke desa. Awalnya ia berusaha menutupi keadaan sebenarnya agar tidak dipandang rendah oleh teman-temannya.

Namun, pada akhirnya Euis menyadari bahwa harga diri dan kebahagiaan tidak bergantung pada materi, tetapi pada rasa cinta dan kebersamaan keluarga.
Jika dikaitkan dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, maka perkembangan moral tokoh-tokoh dalam film ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Dia berada di antara tahap konvensional dan pasca-konvensional. Ini ditunjukkan oleh keputusannya untuk tetap jujur dan berpegang pada prinsip moral meskipun menghadapi kesulitan. Ia menunjukkan sikapnya pada tahap orientasi hukum dan orde karena menghormati nilai moral dan hukum, dan karena tindakannya didasarkan pada nilai moral universal dan hati nurani.

Euis berada di fase konvensional remaja, tepatnya fase orientasi perempuan yang baik. Ia berusaha beradaptasi agar teman-temannya menyukainya dan ingin terlihat baik di mata orang lain. Namun, Euis belajar tentang tanggung jawab dan mulai menghargai nilai-nilai keluarga, yang menunjukkan perkembangan moral ke tingkat yang lebih tinggi.
Sementara itu, Emak menggambarkan tahap pasca-konvensional, di mana perilakunya dilandasi oleh prinsip hati nurani dan nilai-nilai universal. Dalam menghadapi berbagai cobaan, ibu menunjukkan sikap sabar, tulus, dan teguh. Ia menjadi sosok panutan moral dalam keluarga, bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat tindakan nyata dalam menjaga keharmonisan dan menanamkan nilai kejujuran pada anak-anaknya.

Film Keluarga Cemara episode “Jiwa Berharga” menghadirkan kisah sederhana namun penuh makna tentang perjuangan sebuah keluarga dalam menghadapi perubahan
hidup Jika mereka kehilangan kekayaan atau status sosial, itu tidak membuat mereka menyerah; sebaliknya, itu adalah titik balik untuk kembali ke nilai-nilai moral yang sebenarnya. Keluarga adalah harta yang paling berharga, itulah pesan utama. Keluarga adalah tempat berlindung dan kekuatan dalam setiap tantangan. Film ini juga menunjukkan bahwa walaupun dalam situasi terbatas, kejujuran dan kerja keras masih penting.

Abah dan Emak memberikan teladan bahwa ketulusan dan semangat pantang menyerah dapat menjaga keluarga tetap kuat dan bahagia. Selain itu, kisah Euis menunjukkan pentingnya proses penerimaan diri dan bagaimana seorang anak belajar memahami arti tanggung jawab dan cinta yang tulus. Film ini juga memperlihatkan bahwa harmoni keluarga tidak tergantung pada banyaknya uang, tetapi pada kehangatan, pengertian, dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga.
Menyryt saya, Film ini sangat menyentuh dan penuh pelajaran hidup, menurut saya. Ceritanya mengingatkan kita bahwa nilai-nilai seperti kasih sayang, kebersamaan, dan kejujuran sering terlupakan di tengah kesibukan dan gaya hidup modern yang materialistis. Film ini mengajari kita bahwa hidup sederhana bukan berarti miskin jika dilakukan dengan tulus dan bersyukur.

Film menunjukkan prinsip-prinsip seperti tanggung jawab, empati, kasih sayang, dan kerja sama yang sangat relevan hingga hari ini. Dalam kehidupan nyata, saya percaya bahwa kebahagiaan sebuah keluarga tidak selalu diukur oleh kekayaan, tetapi lebih dari bagaimana satu sama lain saling memahami dan mendukung. Keluarga sering menghadapi tantangan karena perubahan sosial, kesibukan pekerjaan, atau tekanan hidup. Namun, dengan komunikasi yang baik dan nilai moral yang kuat, keluarga akan tetap harmonis. Film Family Tree ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat pertama seorang anak belajar empati, tanggung jawab, dan kejujuran. Keluarga membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, film ini tidak hanya menyenangkan untuk dilihat, tetapi juga memberi kita pelajaran moral tentang pentingnya menjaga dan menghargai nilai-nilai keluarga.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Shelfia Lestari -
Nama : Shelfia Lestari
Kelas : 25 C
NPM : 2513032072

Saya menonton film keluarga cemara episode 1 "Siap Sekolah". Video ini berdurasi 22 menit 6 detik. Dalam video ini menceritakan Film ini menceritakan kisah keluarga Abah yang jatuh miskin dan terpaksa pindah ke desa, di mana salah satu putri mereka, yakni Ara menghadapi dilema berat saat akan memulai sekolah baru. Ara merasa malu karena tidak memiliki seragam dan perlengkapan baru seperti teman-temannya.

Identifikasi Dilema Moral :
1. Dilema antara Kebutuhan Anak dengan Realitas Keuangan
​Pihak yang Terlibat: Abah dan Emak.
​Haruskah Abah dan emak memaksakan diri mencari uang (bahkan sampai terbersit menjual barang atau mengingat utang) untuk membelikan baju baru bagi Ara agar anak merasa nyaman dan tidak minder di hari pertama sekolah, atau haruskah mereka jujur dengan Ara bahwa uang yang ada harus diprioritaskan untuk kebutuhan dasar sekolah lainnya (buku dan pensil) meskipun itu berarti Ara harus memakai baju lama?
2. Dilema Prinsip Moral dengan Tuntutan Sosial
​Pihak yang Terlibat: Abah dan Ara.
​Haruskah Abah mengalah pada tuntutan sosial yang secara tidak langsung mengharuskan anak memiliki baju baru saat sekolah, atau haruskah Abah berpegang teguh pada prinsip moral bahwa nilai utama sekolah adalah untuk belajar dan menjadi pintar, bukan untuk memamerkan pakaian baru?

Analisis karakter utama :
Abah menunjukkan prinsip Post-Konvensional yang matang, ia tidak hanya berkata "tidak," tetapi mendidik Ara bahwa kejujuran dan kepintaran jauh lebih berharga daripada penampilan baru. Berkebalikan dengannya, Emak menunjukkan level Konvensional, di mana keputusannya didorong oleh tekanan emosional dan keinginan untuk melindungi Ara dari rasa malu sosial. Emak merasa gagal dan berusaha keras mencari uang, namun pada akhirnya ia menggunakan kasih sayang dan kreativitas (dengan baju lama) untuk menghibur Ara. Sementara itu, Ara, yang berada pada level Pra-Konvensional sesuai usianya, fokus pada pemenuhan keinginan pribadi (baju baru) dan merespons dengan kesedihan. Terakhir, meskipun tidak terlalu disorot dalam dilema ini, Euis sebagai anak sulung biasanya menunjukkan tanggung jawab dan kesadaran akan kondisi keluarga, bertindak sebagai contoh bagi adik-adiknya.

Dalam film, Abah mengajarkan kesederhanaan, kejujuran, dan pentingnya pendidikan di atas penampilan, membuat Ara nyaman dengan baju lama. Sebaliknya, di dunia nyata saat ini, tekanan sosial (atau gengsi) sangat tinggi sehingga banyak keluarga yang sedang dalam kondisi sulit maupun tidak, sering memaksakan pengeluaran demi memenuhi standar materi salah satunya fashion agar anak tidak minder, sehingga nilai materi seringkali mengalahkan nilai moral seperti rasa syukur dan kesederhanaan. Dengan demikian, Keluarga Cemara dapat menjadi pengingat penting tentang prioritas moral yang seharusnya menjadi fondasi utama keluarga.

Pesan utama film ini adalah: "Harta yang paling berharga adalah keluarga." Melalui Abah, kita diajari bahwa kejujuran, prinsip kesederhanaan, dan semangat belajar jauh lebih penting daripada uang atau penampilan. Keluarga Cemara menunjukkan bahwa dengan kasih sayang dan rasa syukur, kita bisa tetap bahagia dan kuat menghadapi kesulitan.
In reply to First post

Re: Penugasan

by octa villanza -
Nama: Octa Villanza Ramadhany
Npm: 2553032006
judul: keluarga cemara
permeran :Abah(Ringgo agus Rahman), emak(Nirina Zubir) ,Euis( Ashisty Zara ), Ara(Widuri Puteri)

Kisah film ini yang berjudul " KELUARGA CEMARA " yaitu seorang keluarga yang berasal dari keluarga serba ada tinggal di kota dengan anak dan istrinya ,mereka hidup ditengah kota dengan lika liku nya perjalanan ,suatu hari seorang Abah yaitu ayahnya bekerja disuatu perusahaan bisnis ,abah seorang pekerja di perusahaan dan seiring nya waktu tiba lah kenyataan pahit itu menghampiri keluarga nya ,yang dulunya abah terkenal menjadi pengusaha sukses dan di kenal baik oleh masyarakat sekitar ,sekarang mereka menelan pahitnya kehidupan karna lalainya seorang ayah bekerja sama dengan temannya dan pada akhirnya semua aset yang di miliki oleh keluarga ini di ambil atau disita untuk membayar hutang yang telah di janjikan oleh iparnya ini dengan perjanjian rumah sang Abah .
Akibatnya Keluarga ini harus meninggalkan semua kenangan dirumah itu , setelah itu Abah,Emak,Euis dan ,Ara terpaksa meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu , mereka mencari tempat tinggal di suatu desa yaitu rumah peninggalan kakek dan nenek si abah dan mereka memulai kehidupan baru dirumah kecil yang di kelilingi oleh pemandangan pohon pohon hijau yang sangat sejuk dan adem itu ,mereka menjalankan hidup mulai dari 0 lagi ,walaupun agak berat bagi mereka tetapi mereka selalu bersyukur dan bertahan

Disini "Dua Dilema " yang dapat saya ambil yaitu :
1. Tanggung Jawab: setelah kejadian yang menimpa keluarga ini dan mereka pindah ke desa yang jauh dari perkotaan anak anak abah harus menghadapi dilema pergaulan sekolah yang baru , kebutuhan keluarga yang baru , beradaptasi sesama warga disana ,membantu usaha kecil kecilan dan menyesuaikan diri di lingkungan yang baru . Dan mereka harus bisa mengorbankan sebagian keinginan pribadi demi keharmonisan , kedamaian dan selalu kompak demi keluarga yang mereka bangun dari 0

2. Ekonomi Sosial : karena mereka masih di kelilingi dengan hutang yang dimana akibat sebuah kepercayaan seseorang sudah menjadi palsu dengan sebuah janji bisnis keluarga termasuk penghianatan temannya abah . apasih dilemanya? yaitu antara ingin menyerah atau melawan dan menjaga harga diri dan tanggung jawab terhadap keluarga kecil itu , Meskipun situasi ini sulit bagi mereka , mereka tidak putus asa . Mengambil keputusan untuk pindah itu juga termasuk hidup sederhana dan menjaga keutuhan keluarga

Mengalisis Karakter Utama
1. Abah : sebagai seorang kepala rumah tangga ,ayah dari anak anak . Abah ini melakukan bukan hanya berdasarkan nama baik diri sendiri melainkan keadilan dan pertanggung jawabnya sebagai ayah dan suami terhadapat keluarga , Meskipun menghadapi masalah yang sangat pahit , ia tetap memperthankan dan menerima konsekuensinya atas keputusan yang dia ambil dari perjalanan keluarga yang salah dan pada akhirnya ia mengarahkan keluarganya ke kehidupan yang sederhana agar tetap terjaga keharmonisan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga

2. Emak : adalah seorang ibu dan istri yang sabar selalu mendukung ,mengajarkan nilai kejujuran ,dan kasih sayang terhadap keluarga . dia menjalankan sebagai istri dan ibu untuk mengutamakan kesahjeteraan keluarga di atas kepentingan diri sendiri , Emak juga mempunyai tugas yang sangat berat untuk mempertahankan keluarga yang utuh , harmonis ,mempererat kesetiaan terhadap suami di situasi apapun dan dalam keadaan pahit yang menimpa keluarga mereka

3. Euis: seorang anak perempuan yang jadi contoh adek dan harapan pertama orang tua nya untuk menuju perkembangan dewasannya ,ia juga sangat menerima kisah yang di alami keluarganya dia juga menerima semua permasalahn ekonomi ,tempat tinggal ,beradaptasi dengan teman bru dan ia juga membantu ibunya berjualan secara moral dia sudah mengorbankan keinginannya demi kebaikan keluarga

4. Ara: yaitu seorang adek yang tidak banyak berbicara tapi dia selalu mengerti bagaimana kondisi keluarganya , ia tidak pernah sedikitpun protes kenapa keluarganya berubah atau ekonominya yang berbeda , ara adalah adek yang selalu paham arti kehidupan baru ,selalu menjadi anak yang bisa jadi tempat mendengar dalam setiap euis di marah dengan abah , moralnya adalah ara menjadi anak yang pandai membagi keadilan dan jadi tempat nyaman bagi kakaknya euis

Film Keluarga Cemara mengisahkan cerita sederhana namun sarat emosi dan nilai moral tentang arti sebenarnya keluarga, tanggung jawab, dan keutuhan saat menghadapi kesulitan. Awalnya, keluarga ini hidup bahagia dan mapan, tapi sebuah pengkhianatan atau masalah dalam bisnis dan keluarga besar membuat mereka kehilangan kestabilan keuangan. Akibatnya, mereka harus pindah ke desa dan menjalani hidup yang lebih sederhana. Dalam proses ini, muncul konflik batin mengenai cara menjaga harga diri, mempererat kebersamaan, dan mendidik anak-anak agar tetap optimis serta setia meski kondisi hidup berubah drastis.
Pesan utama film ini adalah bahwa keluarga adalah tempat kembali dan sumber kekuatan emosional, bukan hanya lambang kemapanan materi. Uang dan status bisa hilang, tapi kasih sayang, solidaritas, dan saling menghormati tetap jadi pondasi yang membuat keluarga tetap utuh. Film ini menegaskan bahwa kesederhanaan bisa menjadi ujian karakter dan jalan menuju kedewasaan moral.
Selain itu, film menggarisbawahi pentingnya kejujuran dan tanggung jawab, walaupun dalam tekanan finansial. Abah memilih menghadapi konsekuensi dari pengkhianatan dengan jujur dan melindungi keluarganya secara terbuka, meskipun harus menjalani hidup lebih sederhana. Pilihan pindah ke desa bukan tanda menyerah, melainkan langkah praktis agar keluarga bisa tetap bermartabat dan bahagia meski hidup sederhana.
Nilai kasih sayang dan pengorbanan antara anggota keluarga—baik anak kepada orang tua maupun sebaliknya—menjadi benang merah kisah ini. Anak-anak belajar mendukung orang tua, menyesuaikan prioritas dan gaya hidup demi kebaikan bersama. Sementara orang tua memberi contoh lewat kesabaran, kerja keras, dan integritas.
Film juga menyampaikan bahwa perubahan hidup, termasuk jatuhnya kondisi ekonomi dan status sosial, bukan akhir identitas keluarga. Sebaliknya, itu menjadi kesempatan membangun kembali nilai-nilai dasar yang mungkin terlupakan oleh kenyamanan materi. Keterbatasan justru memicu kreativitas, kebersamaan, dan penguatan ikatan emosional keluarga.
Secara keseluruhan, Keluarga Cemara menghadirkan pesan moral kuat bahwa nilai-nilai kemanusiaan—kasih sayang, kejujuran, dan tanggung jawab—lebih bermakna daripada kemewahan materi. Film ini mengajak penonton untuk menilai ulang makna kemapanan dan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Juga mengingatkan bahwa setiap anggota keluarga punya peran moral penting dalam menjaga kehormatan dan kebersamaan, bahkan saat hidup jauh dari ideal.
Lewat cerita keluarga Cemara, penonton diajak memahami bahwa cinta, solidaritas, dan kepercayaan antar anggota keluarga adalah tempat berteduh saat dunia luar tidak lagi ramah secara materi. Pesan film ini sangat relevan di tengah ketidakpastian ekonomi, perubahan sosial, dan arus modernisasi, menegaskan keluarga sebagai sandaran utama nilai-nilai etis dan kemanusiaan.

Perbandingan nilai ada persamaan dan perbedaan

Persamaan
Banyak keluarga mengalami perubahan ekonomi atau kesulitan finansial, seperti kehilangan pekerjaan, bisnis gagal, atau krisis keuangan. Dalam situasi ini, nilai gotong-royong dan solidaritas keluarga menjadi sangat penting. Nilai-nilai moral seperti menghormati orang tua, berlaku jujur, menjaga nama baik keluarga, dan saling membantu antar anggota keluarga sering dijumpai dalam kehidupan nyata, terutama di komunitas tradisional atau budaya komunal. Pengorbanan generasi muda untuk keluarga, misalnya dengan membantu keuangan atau memilih jalur pendidikan dan pekerjaan yang lebih praktis daripada idealis, juga merupakan hal yang nyata terjadi.

Perbedaan dan Tantangan
Namun, dalam kenyataan, tekanan ekonomi sering menimbulkan konflik internal yang lebih rumit, seperti benturan antara ego pribadi, aspirasi karier, dan tuntutan yang lebih sulit diatasi dibandingkan dengan yang ditampilkan dalam film. Film cenderung menyederhanakan konflik agar tetap menarik secara sinematik. Selain itu, tidak semua keluarga memiliki kemampuan emosional atau komunikasi yang baik, sehingga konflik moral dalam kenyataan tidak selalu berakhir harmonis seperti dalam film. Realita bisa jauh lebih keras dan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Perubahan sosial modern seperti urbanisasi, tekanan pekerjaan, dan globalisasi nilai menambahkan kompleksitas, dengan masalah psikologis, persaingan karier, dan perbedaan nilai antar generasi
In reply to First post

Re: Penugasan

by Nadifah Andresta Asmoro -
Nama: Nadifah Andresta Asmoro
NPM: 2513032076
Kelas: 25 C

dilema moral dalam film "Keluarga Cemara" adalah:
1. ketika sedang di uji dalam ekonomi emak di hadapkan oleh 2 pilihan yaitu pada saat penjual meminta dagangan opaknya untuk anak sang penjual makan, apakah ia akan memilih memberi opak atau tidak memperbolehkannya dikarenakan saat itu ekonomi keluarga itu sedang sulit, tetapi emak lebih memilih untuk memberikan opak kepada pedagang tersebut agar sang anak pedagang tersebut bisa makan.
2. ketika Elis dilema tentang apakah dia harus memilih pisah kamar dengan Ara demi mengambil kembali hak privasi, memiliki barang barang sendiri tanpa berbagi dengan Ara dan membiarkan Ara menjadi kesepian dan sedih atau memilih tetap satu kamar dengan Ara demi menjaga perasaan Ara dan agar Ara tidak merasa kesepian pada akhirnya Elis memutuskan untuk tetap berpisah kamar dengan Ara demi mengambil kembali privasi bagi dirinya sendiri.
3. Abah dihadapkan dilema pada saat apakah dia harus memilih sibuk kerja tanpa ada waktu untuk keluarganya demi membangkitkan kembali ekonomi mereka yang sempat turun drastis pada saat covid atau membagi waktu untuk keluarganya demi bisa mengurus Agil bersama dan agar mereka memiliki tabungan dan perhatian kepada anak anak merupakan tugas mereka berdua hingga pada akhirnya ayah memilih untuk membagi waktunya antara kerja dan keluarga demi keduanya seimbang dan menjaga keharmonisan di dalam rumah tangga
4. Elis dihadapkan dilema dimana ia harus memilih antara masa masa remajanya atau keluarganya terutama Ara yang sangat kesepian dan pada akhirnya Elis memilih untuk selalu ada untuk keluarganya.

Analisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral:
-prakonvensional adalah pada saat ara tidak lagi mengulanginya yaitu main jauh mencari keluargaa ayam, karena jika ia melakukannya lagi Abah akan marah kepadanya sehingga melakukannya karena suatu hukuman.
-Konvensional emak dan Abah memberi
pemahaman dengan Ara dengan cara ia harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan mreka melakukan untuk untuk dihormati dan dijaga kepercayaannya.
-Pasca konvensional adalah masa dimana orang melihat hukum dan aturan dapat diubah demi kebaikan yang lebih baik adalah ketika Abah tetap kukuh pada pendiriannya akan pekerjaan ternak ayam dibandingkan menyerah di tengah jalan dan mencari uang dengan cara yang haram, hal ini dia lakukan dikarenakan ia sudah memahami dan mengetahui peraturan/hukuman.

Ulasan mengenai moral film
pesan moral:pondasi utuh/utuhnya dan harmonisnya suatu keluarga itu dikarenakan semua anggota keluarga bisa mempertahankan keluarga itu sendiri, keluarga merupakan orang yang mau menemani kita dalam keadaan apapun baik senang maupun susah. Sebagai orang tua kita harus bisa menjadi pondasi dan dapat memberi contoh yang baik kepada anak kita dan sebisa mungkin menciptakan suasana rumah yang membuat anak nyaman, memiliki sikap tegas agar anak kita dapat mengerti serta mengetahui maksud tujuan yang kita lakukan dan jangan pernah menyerah dengan apa yang sedang kamu usahakan, yakinkan dan tanamkan pada diri bahwa kamu bisa serta mampu mencapai keinginanmu. secara garis besar film ini sangat bagus dikarenakan tidak hanya 1 pesan moral yang dapat diambil dari film diatas tetapi juga banyak.

Perbandingan nilai keluarga dalam film kehidupan nyata
perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata adalah keduanya memiliki pengertian dan prospektif yang sama mengenai makna apa itu keluarga, bagaimana yang dimaksud keluarga Cemara keduanya baik di dunia nyata atupun film sama sama membahas bahwasanya keluarga itu lebih dari segalanya, bahkan walaupun kita sedang sedikit kesusahan selama keluarga Masi bersama kita semua akan baik baik saja.
In reply to First post

Re: Penugasan

by frisca chintya sari asisko -
Nama : Frisca Chintya Sari Asisko
Npm : 2553032013
kelas : 25C

Judul : Keluarga Cemara
Pemeran Utama : Ringgo Agus Rahman (Abah), Nirina Zubir (Emak), Adhisty Zara (Euis), Widuri Puteri (Ara)
Film Keluarga Cemara (2019) menggambarkan kehidupan sederhana sebuah keluarga yang harus beradaptasi setelah mengalami kebangkrutan. Abah, Emak, Euis, dan Ara kehilangan harta benda dan rumah mereka, sehingga terpaksa pindah ke desa untuk memulai hidup baru. Meski hidup berubah drastis, keluarga ini tetap memegang nilai-nilai moral, kejujuran, dan kasih sayang sebagai landasan kehidupan mereka.

Dilema Moral dalam Film
Dua dilema moral yang menonjol dalam film ini adalah:
Pertama, dilema antara kejujuran dan kebutuhan ekonomi.
Ketika Abah kehilangan pekerjaannya dan uangnya ditipu, ia harus memilih antara mencari jalan pintas demi kebutuhan keluarga atau tetap berpegang pada kejujuran. Dalam situasi sulit, Abah tetap memilih jalan yang benar meskipun secara ekonomi keluarganya tertekan. Hal ini menunjukkan adanya proses penalaran moral, yaitu pertimbangan moral sebelum tindakan diambil. Abah menimbang nilai benar dan salah dengan suara hati nuraninya (sesuai dengan konsep Bertens tentang keterlibatan hati nurani dalam keputusan moral).

Kedua, dilema antara ego pribadi dan tanggung jawab keluarga yang dialami oleh Euis.
Sebagai anak remaja yang sebelumnya hidup berkecukupan, Euis merasa malu hidup miskin dan pindah ke desa. Ia sempat marah dan menjauh dari keluarganya. Namun, ketika melihat perjuangan Abah dan Emak, Euis belajar menekan egonya dan memahami makna tanggung jawab serta kasih dalam keluarga. Proses ini menunjukkan adanya perasaan moral, yaitu keterlibatan emosi dan empati terhadap orang lain dalam pengambilan keputusan moral.

Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Jika dikaitkan dengan teori developmental-cognitive dari Lawrence Kohlberg, Abah dapat dikategorikan berada pada tahap pasca-konvensional (tahap 5–6). Ia tidak lagi bertindak hanya karena aturan sosial, tetapi karena kesadaran akan prinsip moral universal kejujuran dan tanggung jawab. Ia bertindak benar bukan karena takut hukuman, tetapi karena yakin itu kewajiban moralnya.

Sementara itu, Euis berada pada tahap konvensional (tahap 3–4), di mana tindakan moralnya dipengaruhi oleh keinginan untuk diterima dan dianggap baik oleh keluarga. Awalnya ia menilai situasi dari sudut pandang sosial (malu karena miskin), namun kemudian berkembang menjadi kesadaran akan pentingnya solidaritas dan kasih. Perkembangan moralnya menunjukkan pergeseran dari kepentingan pribadi menuju pemahaman moral yang lebih matang.

Pesan Moral Film
Pesan moral utama film ini adalah bahwa keluarga merupakan tempat belajar nilai-nilai kehidupan yang paling mendasar. Kejujuran, kerja keras, dan cinta tidak dapat digantikan oleh kekayaan. Film ini juga mengajarkan bahwa kehilangan materi bukan akhir dari segalanya, justru bisa menjadi awal untuk menemukan arti kebahagiaan sejati.

Dalam konteks teori moral, film ini menekankan keseimbangan antara penalaran moral (rasionalitas dalam menentukan benar dan salah), perasaan moral (empati dan cinta kasih), serta perilaku moral (tindakan nyata yang lahir dari proses batin yang tulus).

Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata
Nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia, yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, dan kesetiaan pada keluarga. Namun, di dunia modern saat ini, nilai-nilai itu sering tergeser oleh gaya hidup materialistis dan individualis. Keluarga Cemara mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, tetapi pada kehangatan dan ketulusan hubungan antaranggota keluarga.
In reply to First post

Re: Penugasan

by Asep Nurman -
Nama : Asep Nurman
NPM : 2513032086
Kelas : 25 C

1. Identifikasi Dua Dilema Moral dalam Film Keluarga Cemara (2019)
a. Dilema Abah antara Kejujuran dan Kebutuhan Keluarga
Setelah usahanya gagal akibat ditipu rekan bisnis, Abah harus memilih antara tetap jujur atau mengambil jalan pintas demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Dalam situasi sulit, Abah tetap memilih kejujuran meskipun akibatnya adalah kehilangan harta benda dan status sosial. Kejadian ini menunjukkan dilema moral antara nilai moral (kejujuran) dengan tekanan ekonomi.
b. Dilema Euis antara Gengsi dan Tanggung Jawab
Euis, anak sulung Abah, menghadapi dilema moral ketika harus beradaptasi an diri dengan kehidupan baru di desa. Dia malu dengan kondisi keluarganya dan sempat menyembunyikan kebenaran dari teman-temannya. Namun, ia akhirnya menyadari bahwa tanggung jawab terhadap keluarga dan kejujuran lebih penting daripada menjaga gengsi atau citra diri.
2. Analisis Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
a. Abah Tahap Pascakonvensional
Abah menunjukkan moralitas pada tingkat konvensional. Abah memegang teguh nilai moral kejujuran, tanggung jawab, dan keteguhan prinsip hidup, meskipun dalam kondisi ekonomi sulit. Abah memilih bekerja keras secara halal, menolak kecurangan, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan tahap tertinggi yang dikemukakan Kohlberg, yaitu berfokus terhadap hukum dan ketertiban serta kesadaran diri atas akibat dari Tindakan yang akan diperbuat dan prinsip hidupnya, di mana tindakan moral dilakukan untuk menjaga ketertiban sosial dan norma etika masyarakat, serta keteguhan pada prinsip diri sendiri dan kesadaran pribadi.
b. Euis Perubahan dari Tahap Konvensional ke Pascakonvensional
Perkembangan moral Euis tampak ketika ia mulai memahami bahwa nilai-nilai sosial bukan hanya soal penilaian orang lain, tetapi juga tentang tanggung jawab pribadi dan kejujuran. Setelah melalui konflik batin antara gengsi dan cinta keluarga, Euis akhirnya berani menerima keadaan keluarganya dengan lapang dada. Hal ini menunjukkan bahwa ia mulai berpindah ke tahap pascakonvensional, di mana moralitas ditentukan oleh kesadaran pribadi, bukan hanya norma sosial.
3. Ulasan Pesan Moral Film Keluarga Cemara
Film Keluarga Cemara (2019) merupakan adaptasi modern dari karya Arswendo Atmowiloto yang dulu populer sebagai sinetron televisi. Versi filmnya berhasil menghadirkan kisah yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia masa kini yaitu tentang makna keluarga, kejujuran, dan keteguhan menghadapi cobaan.
Cerita berawal dari Abah (Ringgo Agus Rahman) yang kehilangan seluruh hartanya akibat ditipu rekan bisnis. Bersama istrinya Emak (Nirina Zubir) dan dua anak mereka, Euis (Zara JKT48) serta Cemara (Widuri Puteri), Abah pindah ke desa untuk memulai kehidupan baru dengan sederhana. Dalam situasi penuh keterbatasan ini, setiap anggota keluarga diuji dengan konflik emosional dan moral.
Pesan moral utama film ini adalah bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta, tapi pada kebersamaan keluarga dan kejujuran dalam menjalani hidup. Abah sebagai kepala keluarga memperlihatkan sikap tegas dalam menjaga kejujuran, menolak jalan curang, dan menanamkan nilai kerja keras kepada anak-anaknya. Emak menjadi simbol kasih sayang, kesabaran, dan kekuatan perempuan dalam mendukung keluarga. Sementara itu, Euis menggambarkan perjalanan remaja yang belajar menerima kenyataan dan menemukan jati diri di tengah perubahan sosial.
Sutradara Yandy Laurens berhasil menampilkan interaksi keluarga Indonesia dengan sangat natural. Dialog sederhana namun bermakna, latar pedesaan yang hangat, serta konflik batin yang nyata membuat film ini tidak sekadar drama keluarga, tetapi cerminan kehidupan sosial. Film ini mengajarkan bahwa krisis ekonomi bukan akhir dari segalanya, justru menjadi awal untuk menumbuhkan nilai moral, kebersamaan, dan keikhlasan.
Selain kejujuran, film ini juga menekankan pentingnya gotong royong dan saling menghargai. Dalam kehidupan di desa, keluarga Abah belajar untuk saling membantu dan menerima kekurangan. Nilai-nilai sosial seperti empati, kepedulian, dan kerja sama menjadi bagian penting dalam pemulihan emosional mereka.
Secara keseluruhan, Keluarga Cemara menyampaikan pesan bahwa keluarga adalah tempat belajar pertama tentang makna moral dan cinta tanpa syarat. Film ini mengingatkan penonton bahwa ketika harta dan jabatan hilang, keluarga tetap menjadi sumber kekuatan yang paling nyata. Melalui nilai-nilai sederhana seperti kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang, film ini menegaskan bahwa kebahagiaan bukan ditentukan oleh materi, tetapi oleh hati yang tulus dalam berbagi dan saling memahami.
4. Nilai Keluarga dalam Film Keluarga Cemara

a. Kejujuran: ditunjukkan oleh Abah yang tetap jujur meski dalam kesulitan, namun didunia nyata banyak orang melakukan segala cara demi mendapatkan keuntungan, seperti menyogok orang demi mendapaatkan pekerjaan disuatu tempat tertentu.
b. Tanggung Jawab: semua anggota keluarga berusaha berperan aktif untuk bertahan hidup, namun masih banyak anak dalam suatu keluarga yang menjadi beban keluarga seperti tidak mau membantu pekerjaan orang tuanya, atau bahkan hanya membantu bersih-bersih rumah saja masih banyak yang tidak membantu.
c. Kasih Sayang dan Kebersamaan: terlihat dari dukungan emosional antara Abah, Emak, Euis, dan Cemara, namun didunia nyata beberapa orang tua yang biasanya kaya tidak terlalu mewujudkan kasih sayang dalam keluarganya, namun hanya memeberikan kecukupan uang, sehingga muncul permasalahan sosial baru seperti siswa siswi yang mencari perhatian dengan membuat kenalakan dikenal seperti bolos, merokok dan sebagainya.
d. Kesederhanaan dan Keikhlasan: mereka belajar menikmati kehidupan apa adanya tanpa gengsi, didunia nyata masih banyak mementingkan gengsinya seperti memaksa orang tua membelikan hp Iphone yang pasti memberatkan orang tuanya, padahal hp yang penting dapat memenuhi kebutuhan kita.
e. Ketekunan dan Kerja Keras: Abah dan Emak tidak menyerah menghadapi ujian hidup dan selalu mencari cara yang halal untuk bertahan, didunia nyata ada beberapa ayah yang kesulitan dalam finansialnya, akhirnya mereka mencari jalan pintas dengan percaya dan melakukan judi online, akhirnya yang ada malah timbul permasalahan baru seprti menjual tanah atau harta yang dimiliki.
In reply to First post

Re: Penugasan

by DHIMAS BAGUS KUNCORO -
NAMA: Dhimas Bagus Kuncoro
KELAS: 25 C
NPM: 2553032004


1. Dilema Moral dalam Film

Dalam film Keluarga Cemara (2019), terdapat beberapa dilema moral yang sangat kuat dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Salah satu dilema utama muncul pada sosok Abah. Ketika keluarganya jatuh secara ekonomi, Abah harus memilih antara mempertahankan gengsi sebagai kepala keluarga atau menerima pekerjaan sederhana demi memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Ia berjuang melawan rasa malu dan tekanan sosial, namun akhirnya memilih bekerja apa adanya demi bertanggung jawab. Ini menjadi gambaran nyata bagaimana ego sering bertentangan dengan kewajiban moral dalam keluarga.

Dilema lainnya terlihat pada diri Euis, anak sulung. Ia dihadapkan pada situasi sulit ketika kondisi ekonomi keluarganya menurun drastis. Di sekolah baru, ia tergoda untuk menutupi kenyataan agar tidak diremehkan teman-temannya. Di sinilah konflik antara kejujuran dan rasa aman emosional muncul. Euis belajar bahwa menerima keadaan dengan jujur jauh lebih berharga daripada mencari penerimaan dengan kepura-puraan.


2. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral

Jika dilihat melalui kacamata teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, karakter Abah berada pada tahap moral konvensional. Ia berpegang pada nilai tanggung jawab, kejujuran, dan menjaga keharmonisan keluarga. Keputusan-keputusannya bukan lagi didorong oleh kepentingan pribadi, tetapi oleh kewajiban moral sebagai ayah serta rasa ingin tetap berada di jalur yang benar. Meski sesekali masih bergulat dengan ego, Abah lebih banyak menempatkan kesejahteraan keluarga di atas kepentingan dirinya.

Sementara itu, Euis berada pada masa transisi menuju tahap moral konvensional. Pada awalnya ia masih terpengaruh penilaian sosial dan citra diri di depan teman-temannya, namun seiring cerita berjalan ia mulai memahami bahwa nilai keluarga, kejujuran, dan penerimaan diri lebih penting daripada opini orang lain.

Ulasan Pesan Moral Film
Keluarga Cemara adalah film yang sederhana namun penuh makna mendalam tentang arti keluarga sesungguhnya. Film ini menceritakan bagaimana sebuah keluarga yang tadinya hidup nyaman harus memulai kehidupan baru di desa setelah tertipu dan kehilangan harta. Melalui perjalanan penuh dinamika tersebut, film ini mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan terkadang kehilangan adalah pintu menuju kedewasaan dan kebijaksanaan.

Salah satu pesan moral paling kuat dalam film ini adalah bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada materi. Ketika segala sesuatu hilang, yang tersisa adalah orang-orang terdekat yang tetap bersama kita. Abah, meski pernah berada pada posisi mapan, belajar bahwa makna seorang kepala keluarga bukan dari jabatan atau harta, tetapi dari keberanian untuk tetap berusaha, bertanggung jawab, dan hadir secara emosional bagi keluarga.

Emak menjadi simbol ketegaran dan kebijaksanaan seorang ibu. Ia menunjukkan bahwa cinta dan dukungan tidak selalu datang dalam bentuk uang, tetapi juga berupa perhatian, kesabaran, dan keberanian berdiri di samping suami pada saat terburuk. Anak-anak mereka juga belajar arti syukur, empati, dan sederhana tanpa kehilangan cita-cita.

Selain itu, Keluarga Cemara menampilkan konflik sosial seperti rasa malu akibat perubahan ekonomi, tekanan dari lingkungan, hingga sikap manusia ketika berada di titik terendah. Namun yang membuat film ini menyentuh adalah caranya menunjukkan bahwa ketulusan, kerja keras, dan kebersamaan selalu menemukan jalan keluar.

Pada akhirnya, film ini tidak hanya bercerita tentang sebuah keluarga yang jatuh bangun dalam ekonomi, melainkan perjalanan batin tentang memaknai kehidupan. Di tengah budaya modern yang sering mengukur keberhasilan dari kekayaan, Keluarga Cemara mengajak kita kembali pada nilai-nilai sederhana: cinta, kesetiaan, dan syukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan.


3. Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film dan Kehidupan Nyata

Nilai keluarga dalam film ini sangat ideal: saling mendukung, menerima kekurangan, dan tetap bersatu saat krisis. Banyak keluarga nyata juga memiliki nilai serupa, terutama budaya keluarga Indonesia yang erat, penuh perhatian, dan menghormati orangtua.

Namun dalam kenyataan, krisis ekonomi sering memunculkan masalah lain: stres, konflik, bahkan perpecahan keluarga. Tidak semua orang mampu setegar keluarga Cemara, dan tidak semua lingkungan memberi dukungan seperti yang digambarkan dalam film. Meski demikian, cerita ini memberi inspirasi bahwa nilai seperti pengorbanan, kebersamaan, kerja keras, dan kejujuran masih sangat relevan dan perlu terus dijaga di kehidupan nyata.