Posts made by Adelia fi janatin aliah 2511011067

Nama: Adelia fi janatin aliah
Npm: 2511011067

1. Power, influence, dan authority
Power adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain. Influence adalah proses atau cara seseorang memengaruhi orang lain. Sedangkan authority adalah kekuasaan yang berasal dari jabatan atau posisi resmi.

2. Lima basis kekuasaan French & Raven
Ada lima, yaitu legitimate power (jabatan), reward power (memberi penghargaan), coercive power (memberi hukuman), expert power (keahlian), dan referent power (dihormati atau disukai).

3. Cara memperoleh dan mempertahankan kekuasaan
Kekuasaan dapat diperoleh melalui jabatan, keahlian, pengalaman, hubungan yang baik, atau kemampuan memberikan penghargaan. Untuk mempertahankannya, perlu menjaga kepercayaan, konsisten, dan menggunakan kekuasaan dengan tepat.

4. Taktik pengaruh
Beberapa taktik pengaruh yaitu memberikan alasan yang logis, meminta dukungan orang lain, memberi penghargaan, membangun hubungan baik, melibatkan orang lain dalam keputusan, dan memberikan tekanan jika diperlukan.

5. Dampak kekuasaan terhadap bawahan
Penggunaan kekuasaan yang tepat dapat membuat bawahan patuh dan lebih berkomitmen. Sebaliknya, jika terlalu memaksa atau menyalahgunakan kekuasaan, bawahan mungkin hanya patuh karena takut dan akhirnya kehilangan motivasi.

6. Penerapan secara etis
Kekuasaan dan taktik pengaruh harus digunakan secara adil, transparan, dan tidak merugikan orang lain. Pemimpin sebaiknya lebih mengutamakan komunikasi, alasan yang jelas, dan menghargai bawahan daripada memaksakan kehendak.
Nama: Adelia fi janatin aliah
Npm: 2511011067

Jawaban:

1. Persiapan awal 83 hari pertama penting dilakukan supaya pemimpin tidak langsung mengambil keputusan tanpa memahami kondisi yang ada. Pemimpin perlu mempelajari organisasi, mengenali anggota tim, memahami masalah yang sedang dihadapi, dan mengetahui target yang harus dicapai. Dengan begitu, pemimpin punya dasar yang cukup untuk menentukan langkah selama masa awal kepemimpinannya.

2. Kesan pertama bisa dibangun melalui sikap yang percaya diri, terbuka, dan mau mendengarkan orang lain. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya serius dalam menjalankan tanggung jawab, tetapi tidak membuat anggota tim merasa takut. Cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain sejak awal sangat memengaruhi kepercayaan terhadap pemimpin.

3. Dalam dua minggu pertama, pemimpin sebaiknya lebih banyak mengamati dan memahami keadaan sebelum melakukan perubahan besar. Pemimpin dapat berdiskusi dengan anggota, mempelajari pekerjaan yang berjalan, melihat masalah yang ada, dan menentukan prioritas. Tahap ini menjadi dasar agar keputusan berikutnya tidak salah arah.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi berdasarkan hasil pengamatan sebelumnya. Selain itu, perlu ditentukan pembagian tugas, struktur kerja, dan orang yang paling sesuai untuk menjalankan setiap tanggung jawab. Penempatan staf harus mempertimbangkan kemampuan dan pengalaman masing-masing agar pekerjaan bisa berjalan lebih efektif.

5. Pada bulan ketiga, rencana yang sudah dibuat mulai dikomunikasikan kepada anggota tim. Pemimpin harus menjelaskan alasan perubahan, tujuan yang ingin dicapai, serta apa yang perlu dilakukan oleh setiap anggota. Perubahan juga harus dilakukan secara bertahap dan mendapat dukungan dari tim, bukan hanya berdasarkan keputusan pemimpin sendiri.

6. Pemimpin perlu melihat kembali apa saja yang sudah dilakukan selama 100 hari pertama. Hal yang berhasil bisa dipertahankan, sedangkan kesalahan perlu dijadikan pelajaran agar tidak terulang. Dari pengalaman tersebut, pemimpin dapat mengetahui cara memimpin yang lebih tepat untuk ke depannya.

7. Umpan balik dapat diperoleh dengan membuka komunikasi dengan anggota tim, rekan kerja, maupun atasan. Pemimpin bisa meminta pendapat mengenai cara kerja dan keputusan yang sudah dilakukan. Yang penting, pemimpin harus mau menerima kritik dan tidak langsung menganggap kritik sebagai sesuatu yang negatif.

8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tanggung jawab baru di luar pekerjaan utama. Hal tersebut bisa membantu pemimpin meningkatkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman baru. Namun, tantangan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan supaya tidak mengganggu pekerjaan utama.

9. Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara mereka bekerja dan memimpin. Kita bisa mengambil hal-hal positif dari orang yang lebih berpengalaman dan menjadikannya sebagai contoh. Selain itu, pengalaman orang lain juga bisa membantu kita menghindari kesalahan yang sama.

10. Jurnal pemimpin berisi catatan tentang pengalaman, keputusan, masalah, dan pembelajaran selama menjalankan pekerjaan. Tidak harus panjang, yang penting mencatat kejadian penting dan apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut. Jurnal ini bisa digunakan untuk melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki dan kemampuan yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu, tentukan tujuan, cara mencapainya, serta waktu yang dibutuhkan. Misalnya, jika kemampuan komunikasi masih kurang, maka bisa direncanakan untuk lebih sering melakukan presentasi atau diskusi.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Caranya bisa melalui pelatihan, membaca, bertanya kepada orang yang lebih ahli, dan langsung mempraktikkannya. Semakin sering digunakan, kemampuan tersebut akan semakin berkembang.

13. Kita harus memahami tujuan besar organisasi terlebih dahulu, kemudian melihat hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan tersebut. Setiap tugas seharusnya memiliki manfaat terhadap pencapaian tujuan organisasi. Dengan memahami hal ini, kita tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga tahu alasan dari pekerjaan tersebut.

14. Menjadi ahli membutuhkan proses belajar dan pengalaman yang terus-menerus. Kita harus memahami pekerjaan secara mendalam, tidak hanya mengetahui cara mengerjakannya tetapi juga memahami alasan dan dampaknya. Kesalahan yang terjadi juga harus dijadikan bahan untuk memperbaiki kemampuan.

15. Peluang dapat dicari dengan bersedia mengikuti proyek, kegiatan, atau pekerjaan yang berbeda dari biasanya. Kita juga bisa meminta kesempatan kepada atasan untuk mencoba tanggung jawab baru. Dengan pengalaman yang lebih beragam, kemampuan dan cara berpikir kita juga akan semakin luas.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, sikap profesional, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Kita harus memahami apa yang diharapkan atasan dan memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan. Hubungan yang baik bukan berarti selalu setuju, tetapi bisa saling menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat.

17. Memahami dunia atasan berarti mencoba melihat pekerjaan dari sudut pandang mereka. Atasan biasanya memiliki tanggung jawab dan tekanan yang lebih luas, sehingga keputusan mereka tidak hanya berkaitan dengan satu orang. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa lebih mengerti alasan di balik keputusan yang dibuat.

18. Setiap atasan memiliki gaya komunikasi dan cara kerja yang berbeda. Kita perlu mengetahui bagaimana cara atasan memberikan arahan, menerima laporan, dan mengambil keputusan. Setelah memahaminya, kita bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja agar hubungan kerja menjadi lebih lancar.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, dan saling menghargai. Jangan hanya berfokus pada kepentingan pribadi karena pekerjaan biasanya membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Kepercayaan juga penting supaya rekan kerja merasa nyaman untuk bekerja sama.

20. Kita perlu mencari tahu apa yang menjadi tujuan masing-masing pihak, kemudian menemukan bagian yang memiliki kesamaan. Jika tujuan bersama sudah diketahui, kerja sama akan lebih mudah dilakukan. Dengan fokus pada kepentingan bersama, perbedaan pendapat dapat lebih mudah diselesaikan.

21. Untuk memahami rekan sejawat, kita perlu mengetahui tanggung jawab dan masalah yang mereka hadapi. Kita juga perlu memahami apa yang mereka harapkan dari pekerjaan, termasuk penghargaan atau hasil yang ingin dicapai. Hal ini membuat kita lebih mudah memahami sudut pandang mereka ketika bekerja sama.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan menentukan kemampuan atau bagian diri yang ingin ditingkatkan. Setelah itu, tentukan target yang jelas, langkah yang akan dilakukan, dan waktu pencapaiannya. Rencana tersebut juga perlu dibuat realistis supaya bisa benar-benar dilakukan.

23. Setelah menjalankan rencana, kita perlu melihat apakah hasilnya sudah sesuai dengan target. Jika ada cara yang kurang berhasil, rencana tersebut bisa diubah atau diperbaiki. Jadi, rencana pengembangan tidak harus selalu tetap karena dapat disesuaikan dengan pengalaman dan kebutuhan baru.

24. Hasil belajar bisa diterapkan dengan menyesuaikannya dengan kondisi lingkungan baru. Tidak semua cara yang berhasil di tempat sebelumnya akan langsung berhasil di tempat baru. Karena itu, kita perlu memahami situasi terlebih dahulu, kemudian menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki dengan cara yang sesuai.
Adelia fi janatin aliah
NPM: 2511011067

1. Pengembangan Kepemimpinan Melalui Pengalaman
Diproses lewat praktik langsung di lapangan. Pengalaman melatih insting, ketahanan mental, dan pengambilan keputusan dalam kondisi nyata.

2. Model Action–Observation–Reflection (AOR)
Pemimpin bertindak (Action), mengamati dampaknya pada tim (Observation), lalu menganalisis alasannya (Reflection) untuk memetik pelajaran.

3. Pengaruh Persepsi, Bias, dan Mindset
Persepsi membentuk sudut pandang, bias merusak objektivitas keputusan, dan mindset menentukan sejauh mana pemimpin mampu beradaptasi.

4. Penerapan Refleksi dan Pembelajaran Pengalaman
Dilakukan dengan mengevaluasi hasil proyek secara jujur, mengakui kekurangan, dan menyusun rencana perbaikan untuk situasi berikutnya.

5. Mengembangkan Growth Mindset dan Menerima Umpan Balik
Mewajibkan keyakinan bahwa kemampuan bisa dilatih, aktif meminta masukan, serta mendengarkan kritik tanpa bersikap defensif.
Adelia fi janatin aliah 
NPM: 2511011067

1. Kepemimpinan itu bukan soal jabatan atau gelar saja, tapi proses mempengaruhi orang lain buat capai tujuan bareng. Hal ini terjadi karena ada interaksi antara pemimpin, pengikut, dan situasi. Makanya, orang tanpa jabatan formal pun bisa jadi pemimpin. 

2. Nggak selalu pemimpin sukses paham teori yang valid. Suksesnya mereka sering kali dibantu faktor hoki, kesempatan, kondisi lingkungan, dan peran anggotanya. Apalagi ada mitos kalau kepemimpinan itu cuma modal akal sehat atau pengalaman lapangan aja. 

3. Bisa banget dipelajari secara ilmiah karena kepemimpinan punya sisi science lewat teori, riset, dan analisis perilaku. Materi juga meyakinkan kalau skill memimpin itu bisa dibentuk dan dipelajari, bukan sekadar bawaan lahir doang. 

4. Karena ada sisi seni (art), cara ningkatinnya adalah rajin cari pengalaman langsung biar insting membaca situasinya makin peka. Selain logika, kita harus ngasah empati/emosional dan rajin komunikasi kolaboratif biar orang mau ngikutin karena percaya, bukan terpaksa.
1. Pertumbuhan bisnis internasional membuat perusahaan membutuhkan SDM yang mampu bekerja lintas negara, budaya, dan bahasa.
2. Faktor yang berpengaruh yaitu budaya, hukum ketenagakerjaan, kondisi ekonomi, bahasa, dan sistem pendidikan tiap negara.
3. Perbedaan antarnegara memengaruhi perekrutan, pelatihan, aturan kerja, hingga penyesuaian budaya dalam perencanaan HR.
4. Perusahaan memilih SDM berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan adaptasi budaya, lalu melatih mereka dengan bahasa, budaya, dan keterampilan internasional.
5. Tantangannya meliputi perbedaan standar penilaian kerja, sistem gaji, tunjangan, nilai tukar mata uang, dan budaya kerja.
6. Perusahaan mempersiapkan manajer dengan pelatihan budaya, bahasa, dan penyesuaian kerja, serta membantu mereka beradaptasi kembali saat pulang.