responsi sesi 3

Responsi sesi 3

Responsi sesi 3

by Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M. -
Number of replies: 81

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1. Jelaskan  Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ? 

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan ! 

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?


In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Juanita Puspita Sari -
Nama : Juanita Puspita Sari
NPM : 2511011074
1. Sebelum memulai sebagai pemimpin, lakukan persiapan dengan mempelajari organisasi, budaya, kondisi tim, serta pekerjaan yang akan dipimpin. Pemimpin juga perlu mencari informasi dari berbagai pihak dan menyiapkan kegiatan yang akan dilakukan pada awal masa kepemimpinan.


2. Kesan pertama dapat dibangun dengan memperkenalkan diri secara baik, menunjukkan sikap terbuka, menjelaskan nilai dan harapan kepada tim, serta membangun komunikasi yang baik dengan atasan dan anggota tim.


3. Dua minggu pertama digunakan untuk membangun fondasi dengan mengenali anggota tim, memahami pekerjaan dan tujuan mereka, mengetahui masalah yang sedang dihadapi, serta mencari potensi dan kemampuan yang dimiliki anggota tim.


4. Dua bulan pertama digunakan untuk mengumpulkan informasi dan menyusun arah tim. Pemimpin menentukan strategi atau visi terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan struktur tim dan menentukan penempatan staf yang sesuai. Urutannya adalah strategi, struktur, kemudian penempatan staf.


5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, tujuan, harapan, dan perubahan kepada seluruh anggota tim. Pemimpin harus menjelaskan apa yang berubah, alasan perubahan, serta bagaimana perubahan tersebut akan dilakukan dan diterapkan melalui tindakan nyata.


6. Pengalaman 100 hari pertama dapat dijadikan bahan pembelajaran dengan mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan, melihat keberhasilan dan kesalahan, meminta umpan balik, mencoba tantangan baru, belajar dari orang lain, membuat jurnal, serta menyusun rencana pengembangan diri.


7. Pemimpin dapat memperoleh umpan balik dengan secara aktif meminta pendapat dari anggota tim, bawahan, rekan kerja, dan atasan. Pemimpin harus benar-benar terbuka terhadap kritik dan tidak hanya mengatakan bahwa dirinya terbuka untuk berdiskusi.


8. Tantangan tambahan dilakukan dengan mengambil tugas yang sedikit berada di luar zona nyaman. Tujuannya untuk mengembangkan kemampuan melalui pengalaman baru dan meningkatkan keterampilan secara bertahap.


9. Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati cara orang yang lebih berpengalaman bekerja, bertanya kepada mereka, mempelajari cara mereka menyelesaikan masalah, serta mengambil pelajaran dari keberhasilan maupun kesalahan mereka.


10. Jurnal pemimpin dibuat dengan mencatat pengalaman kepemimpinan, kejadian penting, keputusan yang dibuat, hal yang berhasil maupun tidak berhasil, serta refleksi terhadap pengalaman tersebut. Jurnal membantu pemimpin melihat perkembangan dan mengevaluasi dirinya.


11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai, mengetahui kemampuan yang dimiliki, menemukan kekurangan, menentukan keterampilan yang perlu dikembangkan, serta menetapkan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.


12. Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, belajar dari orang yang lebih ahli, serta terus berlatih. Penguasaan kompetensi teknis membantu seseorang bekerja lebih efektif dan meningkatkan kepercayaan dari orang lain.


13. Untuk mengetahui kontribusi pekerjaan terhadap misi keseluruhan, pahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan organisasi. Dengan demikian, seseorang dapat mengetahui mengapa pekerjaannya penting dan bagaimana hasil pekerjaannya membantu organisasi mencapai tujuannya.


14. Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan terus mempelajari pekerjaan, mengikuti pelatihan, bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, mendapatkan pengalaman langsung, serta membagikan atau mengajarkan pengetahuan kepada orang lain.


15. Peluang untuk memperluas pengalaman dapat dicari dengan menerima tugas baru, mengikuti proyek, bekerja dengan bagian lain, mengambil penugasan yang berbeda, dan terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi.


16. Hubungan efektif dengan atasan dibangun melalui komunikasi yang baik, memberikan informasi yang dibutuhkan, memahami tujuan atasan, memberikan dukungan, serta ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan tim. Hubungan tersebut harus didasarkan pada kerja sama, bukan sekadar mencari perhatian atasan.


17. Memahami dunia atasan dilakukan dengan mengetahui tujuan, nilai, cara berpikir, preferensi, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan yang dimiliki atasan. Hal ini membantu seseorang memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan atasannya.


18. Beradaptasi dengan gaya atasan berarti menyesuaikan cara berkomunikasi, bekerja, mengambil keputusan, dan menyampaikan informasi dengan gaya yang disukai atasan. Jika atasan lebih menyukai laporan tertulis, misalnya, maka bawahan perlu menyesuaikan cara komunikasinya.


19. Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, saling membantu, menghargai pendapat, dan membangun kepercayaan. Hubungan yang baik membuat pekerjaan bersama menjadi lebih mudah dan efektif.


20. Kepentingan dan tujuan bersama dapat dikenali dengan berkomunikasi secara terbuka, mendengarkan pendapat rekan kerja, serta memahami kebutuhan, nilai, minat, dan tujuan mereka. Dari situ dapat ditemukan hal-hal yang menjadi kepentingan bersama.


21. Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja dilakukan dengan mengetahui pekerjaan yang mereka lakukan, kesulitan yang mereka hadapi, serta penghargaan atau keuntungan yang mereka dapatkan. Hal ini membantu memahami alasan di balik perilaku mereka dan mempermudah kerja sama.


22. Perencanaan pengembangan dapat dilakukan melalui analisis GAPS, yaitu menentukan tujuan, mengetahui kemampuan saat ini, memahami bagaimana orang lain melihat diri kita, dan mengetahui standar yang ditetapkan organisasi. Setelah itu, tentukan kesenjangan dan kebutuhan pengembangan yang paling penting.


23. Merefleksikan pembelajaran dilakukan dengan mengevaluasi kemajuan secara berkala. Jika tujuan, cara, atau strategi yang digunakan ternyata kurang sesuai, rencana pengembangan perlu diperbaiki. Evaluasi juga dapat dilakukan bersama atasan atau rekan yang dipercaya.


24. Hasil belajar diterapkan di lingkungan baru dengan menyesuaikan keterampilan yang sudah diperoleh terhadap situasi yang berbeda. Rencana pengembangan harus terus diperbarui berdasarkan pengalaman, umpan balik, keterampilan baru, dan kebutuhan yang muncul.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dhiya Ayu Kusuma Wardhani 2511011020 -
Nama : Dhiya Ayu Kusuma Wardhani
NPM : 2511011020

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Persiapan awal dilakukan sebelum mulai memimpin. Pemimpin perlu mencari tahu tentang organisasi, budaya kerja, kondisi tim, apa yang sudah berjalan baik, apa yang bermasalah, serta tujuan dari posisi yang akan dijalankan. Dengan begitu, saat mulai bekerja pemimpin tidak benar-benar mulai dari nol.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Pada hari pertama, pemimpin sebaiknya bertemu dengan atasan dan seluruh tim. Kepada atasan, pemimpin membahas tujuan, kondisi tim, cara komunikasi, dan rencana kerja. Kepada tim, pemimpin memperkenalkan diri, menyampaikan nilai dan harapan dalam bekerja, serta menjelaskan rencana ke depannya.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk banyak belajar dan membangun hubungan. Pemimpin perlu bertemu anggota tim, rekan kerja, dan orang-orang yang memahami kondisi tim. Tujuannya untuk mengetahui pekerjaan yang sedang dilakukan, masalah yang ada, tujuan anggota tim, dan siapa saja yang memiliki kinerja baik.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Pada dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi lebih banyak, menentukan visi dan arah tim, kemudian menyesuaikan struktur dan orang yang ditempatkan dalam setiap posisi. Urutannya harus strategi dulu, kemudian struktur, baru penempatan staf. Jadi orang yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan strategi dan struktur tim.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, struktur baru, harapan, dan alasan perubahan kepada tim. Perubahan tidak cukup hanya disampaikan lewat kata-kata, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata seperti keputusan promosi, restrukturisasi, atau penempatan staf.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Caranya dengan tidak hanya menjalani pengalaman, tetapi juga mengevaluasinya. Pemimpin perlu meminta umpan balik, mencoba tantangan baru sekitar 10 persen di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan membuat rencana pengembangan.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin harus aktif meminta pendapat dari orang lain, terutama dari anggota tim. Jangan hanya mengatakan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik, tetapi benar-benar menciptakan suasana yang membuat orang nyaman memberikan pendapat. Bisa juga menggunakan survei atau evaluasi secara berkala.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Tantangan tambahan dilakukan dengan mencoba sesuatu yang sedikit di luar zona nyaman, sekitar 10 persen. Misalnya lebih berani berbicara dalam rapat, mencoba menjadi ketua kegiatan, atau belajar menghadapi situasi yang sebelumnya dihindari. Tujuannya supaya kemampuan dan keberanian sebagai pemimpin berkembang secara bertahap.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Caranya dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah dan menjalankan kepemimpinan. Kita juga bisa bertanya langsung kepada orang yang lebih berpengalaman, termasuk orang yang sebelumnya pernah memegang posisi tersebut. Intinya, kita harus mau belajar dari siapa saja, bukan hanya dari orang yang secara resmi disebut pemimpin.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal pemimpin bukan sekadar menulis kegiatan sehari-hari, tetapi mencatat pengalaman yang berkaitan dengan kepemimpinan. Misalnya kejadian yang menarik, masalah dengan tim, cara seseorang menyelesaikan masalah, atau refleksi tentang keputusan yang kita ambil. Jurnal membantu kita melihat pengalaman dari sudut pandang yang lebih objektif dan melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Pertama, tentukan tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu cari tahu kemampuan yang masih kurang, tentukan prioritas, buat langkah tindakan yang jelas, tentukan siapa yang akan memberikan umpan balik, dan tentukan kapan perkembangan akan dievaluasi. Rencana ini harus realistis dan fokus pada beberapa kebutuhan utama saja.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Caranya bisa melalui pendidikan atau pelatihan, pengalaman kerja, mengamati orang lain, bertanya, dan bahkan mengajarkan sesuatu kepada orang lain.

13. Bagaimana cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Kita harus memahami hubungan antara pekerjaan yang kita lakukan dengan tujuan besar organisasi. Setelah itu, kita bisa menentukan pengetahuan dan keterampilan apa yang paling dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan pekerjaan dan organisasi. Kita juga perlu mengevaluasi kemampuan diri melalui hasil kerja dan umpan balik dari atasan maupun rekan kerja.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Dengan terus belajar dan memperdalam bidang yang dikerjakan. Bisa melalui pelatihan, mengamati orang yang lebih ahli, banyak bertanya, dan mencoba memahami alasan di balik suatu tindakan. Salah satu cara yang efektif juga dengan mengajarkan pekerjaan tersebut kepada orang lain, karena kita jadi dituntut benar-benar memahami materinya.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Caranya dengan mencoba tugas yang berbeda, terlibat dalam proyek bersama, mengenal bagian lain dalam organisasi, atau ikut kegiatan yang bisa menambah keterampilan. Dengan pengalaman yang lebih luas, kita jadi lebih memahami bagaimana setiap bagian saling berhubungan dan berkontribusi terhadap organisasi.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Dengan memahami tujuan atasan, memberikan informasi yang dibutuhkan, membantu menyelesaikan pekerjaan, bersikap jujur, dan dapat diandalkan. Hubungan yang baik bukan berarti harus menjadi penjilat, tetapi bagaimana kita bisa membantu atasan dan organisasi mencapai tujuan bersama.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Kita perlu memahami tujuan, nilai, preferensi, dan cara kerja atasan. Selain itu, kita juga harus mengetahui kelebihan, kekurangan, serta kendala yang dihadapi atasan. Dengan begitu, kita bisa memberikan dukungan yang sesuai dan tidak hanya melihat sesuatu dari sudut pandang kita sendiri.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Kita harus menyesuaikan cara bekerja dan berkomunikasi dengan gaya atasan. Misalnya, kalau atasan lebih suka komunikasi tertulis, kita menggunakan laporan atau memo. Kalau atasan lebih formal, kita juga perlu menyesuaikan diri. Jadi, kita perlu fleksibel dalam cara komunikasi, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Dengan membangun komunikasi yang baik, saling membantu, memahami pekerjaan masing-masing, dan menjaga hubungan yang positif. Hubungan dengan rekan penting karena dalam organisasi kita tidak bisa bekerja sendiri dan sering membutuhkan bantuan atau sumber daya dari orang lain.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Caranya dengan mencari tahu apa yang menjadi tujuan, nilai, minat, dan harapan rekan kerja. Kemudian cari bagian yang sama dengan kepentingan kita. Komunikasi informal juga bisa membantu karena biasanya orang lebih mudah mengetahui kesamaan kepentingan melalui interaksi yang tidak terlalu formal.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Kita perlu memahami apa pekerjaan rekan kita, masalah yang mereka hadapi, dan apa yang membuat mereka termotivasi. Dengan memahami kondisi tersebut, kita tidak langsung menganggap seseorang tidak kooperatif, tetapi melihat apakah ada faktor situasi atau sistem imbalan yang memengaruhi perilakunya.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Mulai dengan menentukan tujuan karier, melihat kemampuan yang dimiliki sekarang, mencari tahu kesenjangan kemampuan, lalu menentukan kebutuhan pengembangan yang paling penting. Setelah itu dibuat langkah tindakan, kriteria keberhasilan, sumber umpan balik, dan waktu evaluasi.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Kita perlu mengevaluasi apakah rencana yang dibuat masih sesuai dengan kondisi dan tujuan. Kalau ternyata ada kekurangan atau cara yang lebih baik, rencana tersebut harus diperbaiki. Evaluasi juga sebaiknya dilakukan secara berkala bersama atasan atau orang yang dipercaya.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Hasil belajar tidak berhenti di lingkungan tempat kita mendapatkannya. Kita perlu mencoba keterampilan tersebut di situasi atau lingkungan baru, terus memperbarui rencana pengembangan, dan bisa juga mengajarkan keterampilan tersebut kepada orang lain. Dengan begitu, kemampuan yang sudah dipelajari menjadi lebih kuat dan bisa diterapkan dalam berbagai situasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Marda Lika Rahmadani 2511011010 -
Marda Lika Rahmadani
2511011010

1. Sebelum mulai menjadi pemimpin, seseorang perlu mempersiapkan diri dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang organisasi yang akan dipimpin. Hal yang perlu dipahami antara lain tujuan organisasi, kondisi yang sedang dihadapi, budaya kerja, serta orang-orang yang ada di dalamnya. Dengan persiapan tersebut, pemimpin tidak masuk ke lingkungan baru tanpa mengetahui situasinya.

2. Kesan pertama sangat penting karena hanya ada satu kesempatan untuk membangunnya. Pada awal menjadi pemimpin, sebaiknya mulai dengan bertemu atasan dan seluruh anggota tim. Pemimpin perlu menunjukkan sikap terbuka, percaya diri, dan mampu membangun hubungan yang baik sejak awal.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk membangun dasar hubungan kerja. Pemimpin perlu mengenal anggota tim satu per satu, bertemu rekan kerja, dan mengetahui orang-orang yang memiliki peran penting dalam organisasi. Tahap ini lebih banyak digunakan untuk memahami orang dan situasi sebelum mengambil keputusan besar.

4. Dalam dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf. Pemimpin perlu melihat bagaimana tim bekerja, menentukan tujuan yang ingin dicapai, serta menempatkan orang sesuai kemampuan dan kebutuhan. Selain itu, keputusan yang dibuat sebaiknya dikomunikasikan dan mendapatkan masukan dari pihak yang berkaitan.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan arah yang ingin dicapai dan mendorong perubahan. Pemimpin dapat membangun budaya tim, menentukan nilai dan tujuan bersama, membuat target yang jelas, serta mengatur pola kerja dan pertemuan. Perubahan juga perlu dilakukan secara bertahap agar anggota tim dapat memahami dan mengikutinya.

6. Pengalaman selama 90 hari pertama bisa menjadi pembelajaran penting bagi seorang pemimpin. Kesalahan dan keberhasilan yang terjadi perlu dievaluasi agar pemimpin mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Jadi, pengalaman tidak hanya dilewati begitu saja, tetapi digunakan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

7. Pemimpin perlu secara aktif menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik. Jangan hanya mengandalkan kebijakan pintu terbuka, karena belum tentu anggota merasa nyaman menyampaikan pendapat. Pemimpin bisa meminta pendapat secara langsung, menggunakan survei atau kuesioner, sehingga mengetahui bagaimana perilakunya dirasakan oleh orang lain.

8. Salah satu tantangan tambahan dalam mengembangkan diri adalah berani keluar sedikit dari zona nyaman. Buku menyebutnya sebagai “10 percent stretch”, yaitu mencoba melakukan sesuatu yang sedikit berbeda dari kebiasaan. Misalnya lebih aktif berbicara, mengambil tanggung jawab baru, atau mencoba menjadi lebih tegas dalam situasi tertentu.

9. Seorang pemimpin bisa belajar dari siapa saja, bukan hanya dari atasan atau orang yang dianggap ahli. Caranya dengan banyak bertanya, mengamati cara orang lain menghadapi masalah, dan memperhatikan pengalaman orang yang pernah berada di posisi yang sama. Dengan begitu, pengalaman orang lain bisa menjadi bahan pembelajaran untuk diri sendiri.

10. Jurnal bagi pemimpin bukan sekadar catatan kegiatan sehari-hari. Jurnal dapat digunakan untuk mencatat pengalaman kepemimpinan, masalah yang dihadapi, interaksi dengan orang lain, hal yang berhasil maupun yang kurang berhasil, serta pemikiran yang muncul dari pengalaman tersebut. Dengan membaca kembali catatan tersebut, pemimpin dapat melihat perkembangan cara berpikir dan kepemimpinannya.

11. Rencana pengembangan dibuat agar pemimpin mempunyai arah yang jelas dalam meningkatkan kemampuan dirinya. Rencana tersebut berisi tujuan pengembangan, kemampuan yang perlu diperbaiki, serta cara untuk mencapainya. Dengan adanya rencana, kesempatan untuk belajar dan berkembang tidak mudah terlewatkan.

12. Kompetensi teknis adalah pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Kompetensi ini dapat dibangun melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, maupun belajar langsung dari orang lain. Seorang pemimpin juga perlu memahami pekerjaan yang dipimpinnya agar dapat membimbing anggota dengan baik.

13. Pekerjaan perlu dipahami kaitannya dengan misi organisasi secara keseluruhan. Artinya, seorang pemimpin tidak hanya melihat tugasnya sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi juga memahami bagaimana pekerjaan tersebut membantu organisasi mencapai tujuan besarnya.

14. Menjadi ahli dalam pekerjaan berarti benar-benar memahami pekerjaan yang dilakukan, bukan hanya mengetahui dasarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan terus belajar, mengikuti pelatihan, mengamati cara kerja orang yang lebih berpengalaman, bertanya ketika belum memahami sesuatu, dan bahkan mengajarkan kembali pengetahuan tersebut kepada orang lain.

15. Pemimpin perlu mencari kesempatan untuk memperluas pengalaman, misalnya dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengikuti proyek bersama, atau terlibat dalam kegiatan di luar pekerjaan utama. Pengalaman yang lebih luas membuat seseorang lebih memahami pekerjaan orang lain dan menambah kemampuan yang dimilikinya.

16. Hubungan dengan atasan perlu dibangun dengan komunikasi yang baik, kepercayaan, dan sikap saling mendukung. Bawahan bukan hanya menunggu arahan, tetapi juga dapat membantu atasannya mencapai tujuan organisasi. Hubungan yang baik dapat mengurangi konflik dan membuat pekerjaan menjadi lebih efektif.

17. Memahami dunia atasan berarti mengetahui tujuan, nilai, prioritas, gaya kerja, dan cara berpikir atasan. Pemimpin juga perlu memahami bahwa atasannya memiliki keterbatasan dan tekanan tertentu. Dengan memahami kondisi tersebut, seseorang akan lebih mudah menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan atasannya.

18. Setiap atasan memiliki gaya komunikasi, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah yang berbeda. Karena itu, bawahan perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya atasannya. Selain itu, penting juga untuk membicarakan harapan, tanggung jawab, dan prioritas pekerjaan sejak awal.

19. Hubungan dengan rekan sejawat penting karena dalam pekerjaan seseorang tidak bisa selalu bekerja sendiri. Sering kali dibutuhkan bantuan, informasi, atau sumber daya dari rekan kerja. Karena itu, hubungan yang baik dengan rekan sejawat dapat membantu pekerjaan berjalan lebih lancar, terutama ketika harus memengaruhi orang lain tanpa memiliki wewenang langsung.

20. Untuk membangun hubungan dengan rekan sejawat, perlu dicari kepentingan dan tujuan yang sama. Komunikasi tidak hanya membicarakan pekerjaan, tetapi juga dapat dilakukan secara informal agar lebih memahami satu sama lain. Dari situ biasanya lebih mudah menemukan hal-hal yang dapat menjadi dasar kerja sama.

21. Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat berarti mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab mereka, kesulitan yang mereka hadapi, dan hal-hal yang mereka anggap penting dalam pekerjaan. Dengan memahami kondisi tersebut, kita dapat memberikan bantuan yang sesuai dan lebih menghargai kontribusi mereka.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan mengetahui posisi diri sekarang dan tujuan yang ingin dicapai. Salah satu cara yang digunakan adalah GAPS Analysis, yaitu melihat Goals, Abilities, Perceptions, dan Standards. Dari analisis tersebut dapat diketahui kesenjangan kemampuan yang perlu dikembangkan dan kemudian ditentukan prioritasnya.

23. Rencana pengembangan perlu dievaluasi secara berkala karena kebutuhan dan pengalaman seseorang dapat berubah. Pemimpin perlu melihat perkembangan yang sudah dicapai, meminta umpan balik, kemudian memperbaiki atau mengubah rencana jika ternyata cara yang digunakan belum efektif. Jadi, rencana pengembangan tidak bersifat tetap.

24. Hasil pembelajaran sebaiknya tidak hanya digunakan dalam situasi yang sama, tetapi juga diterapkan ketika menghadapi lingkungan atau situasi baru. Pemimpin perlu menyesuaikan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki dengan kondisi baru. Dengan begitu, pembelajaran dari pengalaman sebelumnya tetap bisa digunakan meskipun orang, tugas, atau lingkungannya berbeda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Hana Aliya Sofyana 2511011121 -
Hana Aliya Sofyana
2511011121

1. Persiapan Awal dan Hari Pertama Pemimpin
• Persiapan Awal (Before You Start): Berfokus pada pengumpulan data pra-perekrutan serta menyiapkan rangkaian kegiatan pasca-perekrutan.
• Hari Pertama (The First Day): Prioritas utama adalah menjadwalkan agenda pertemuan langsung dengan atasan serta seluruh anggota tim.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
• Menunjukkan sikap yang dapat didekati (approachable) dan tulus.
• Bersikap terbuka terhadap dialog, mendengar aspirasi, serta membangun transparansi awal dengan seluruh tim.

3. Menyusun Dua Minggu Pertama (Membangun Fondasi)
• Fokus Utama: Berorientasi pada pengembangan dan pengenalan hubungan antar-manusia (people-oriented).
• Tindakan Konkret: Mengatur jadwal untuk bertemu anggota tim, rekan kerja setingkat, pemangku kepentingan, serta berpartisipasi dalam rapat-rapat internal.

4. Dua Bulan Pertama (Strategi, Struktur, dan Staf)
•Pengamatan Luar: Mengambil sudut pandang eksternal (external standpoint) untuk mengevaluasi situasi.
• Perencanaan & Eksekusi: Merumuskan strategi, menentukan struktur organisasi, menetapkan penempatan staf (staffing), melakukan sosialisasi, mengambil keputusan strategis, serta mengumpulkan umpan balik (feedback).

5. Bulan Ketiga (Komunikasi & Mendorong Perubahan)
• Fokus Utama: Memperkuat budaya kerja dan menyelenggarakan acara tim di luar kantor (out-of-office team event).
• Agenda: Membahas serta menyelaraskan nilai-nilai (values), strategi organisasi, ritme operasional, area evaluasi, dan analisis sub-tim.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Terdapat 5 metode utama untuk memetik pembelajaran:
1. Meminta umpan balik (feedback) secara berkala.
2. Mengambil tantangan "peregangan 10 persen" (10 percent stretch).
3. Belajar dari pengamatan terhadap orang lain.
4. Mencatat perkembangan melalui jurnal.
5. Menyusun rencana pengembangan diri secara sistematis.

7. Menciptakan Peluang Umpan Balik
• Menampilkan karakter kepemimpinan yang tulus dan mudah diakses oleh bawahan. • Buka ruang diskusi dua arah yang konstruktif agar anggota tim merasa aman untuk memberikan masukan jujur.

8. Melakukan Tantangan Tambahan (10 Percent Stretch)
• Merupakan komitmen sukarela dan konsisten untuk keluar dari zona nyaman sebesar 10% guna meningkatkan kompetensi kepemimpinan secara bertahap.

9. Belajar dari Orang LainMengamati secara
• aktif bagaimana pemimpin atau rekan lain merespons dan menyelesaikan berbagai situasi, baik berupa dinamika harian maupun tantangan strategis besar.

10. Metode Pembuatan Jurnal
• KepemimpinanMembuat catatan harian atau berkala yang secara khusus merefleksikan aspek-aspek kepemimpinan tertentu serta dinamika interaksi yang terjadi di lingkungan kerja.

11. Penyusunan Rencana Pengembangan Diri
1. Menentukan tujuan yang terukur dan konkret.
2. Mengumpulkan data evaluasi kinerja dan umpan balik.
3. Mengamati interaksi rekan kerja untuk mendapatkan prespektif baru.
4. Meninjau peran diri secara objektif dalam situasi kerja.
5. Mengidentifikasi kebutuhan keterampilan baru.
6. Memanfaatkan instrumen psikologi/kuesioner formal serta literatur kepemimpinan.

12. Membangun Kompetensi Teknis
• Menguasai pengetahuan operasional dan variasi perilaku kerja untuk menyelesaikan tugas secara optimal.
• Penguasaan kompetensi teknis yang tinggi meningkatkan pengaruh pemimpin di dalam kelompok serta keterlibatannya dalam pengambilan keputusan penting.

13. Menentukan Kontribusi Pekerjaan pada • • Misi KeseluruhanMengidentifikasi dan memastikan bahwa seluruh luaran (output) pekerjaan harian sejalan serta mendukung pencapaian visi dan misi utama organisasi.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
• Terus mengasah kompetensi teknis dasar (technical competence).
• Berkomitmen pada pembelajaran berkelanjutan dan mendalami detail operasional dari ruang lingkup tanggung jawab yang dipegang.

15. Mencari Peluang Memperluas Pengalaman
• Mengambil tanggung jawab baru di luar tugas rutin, terlibat dalam proyek lintas fungsi, dan memanfaatkan tantangan "peregangan 10 persen" untuk memperluas wawasan kepemimpinan.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
1. Memahami sudut pandang dan kondisi kerja atasan.
2. Memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi dengan gaya komunikasi dan kerja atasan.

17. Memahami Dunia Atasan
• Menganalisis dan memahami prioritas, beban kerja, tekanan organisasi, serta ekspektasi yang ditargetkan kepada atasan guna memberikan dukungan yang relevan.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
• Mempelajari preferensi komunikasi dan pola pengambilan keputusan atasan, kemudian menyesuaikan cara penyampaian laporan dan koordinasi sesuai preferensi tersebut.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
1. Mengidentifikasi minat dan tujuan bersama.
2. Memahami tugas, tantangan, dan indikator keberhasilan (reward) rekan kerja.
3. Menerapkan asumsi Teori Y (meyakini potensi dan integritas orang lain).
4. Mengelola dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
• Membuka jalur komunikasi untuk menemukan titik temu (overlapping goals) antara target unit kerja diri sendiri dengan unit kerja rekan sejawat demi kelancaran kolaborasi.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
• Berdiskusi secara berkala untuk memahami alur kerja (workflow), hambatan operasional, dan kriteria penilaian keberhasilan yang dihadapi oleh rekan sejawat guna membangun empati kerja.

22. Perencanaan Pengembangan dengan Struktur GAPS
1. Analisis GAPS: Mengidentifikasi celah (gap) antara kondisi kompetensi saat ini dengan ekspektasi kinerja.
2. Penyusunan Rencana Action: Menetapakan sasaran dan tindakan nyata yang terukur.
3. Evaluasi & Refleksi: Melakukan kaji ulang (review) secara berkala terhadap kemajuan yang dicapai.

23. Merefleksikan Pembelajaran & Memodifikasi Rencana
• Melakukan evaluasi berkala terhadap hasil yang dicapai.
• Jika terdapat strategi yang tidak efektif atau terjadi perubahan kebutuhan organisasi, rencana aksi dan target pengembangan perlu disesuaikan kembali.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
• Mengintegrasikan wawasan, kompetensi teknis, serta strategi kepemimpinan yang telah diperoleh untuk mempercepat proses adaptasi, membaca situasi dinamika tim baru, dan membangun hubungan kerja yang produktif sejak awal.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Alya Angelica Arista 2511011006 -
Alya Angelica Arista
2511011006

1. - Pengumpulan data pra perekrutan sebelum seseorang benar-benar menjabat, seseorang itu harus mengumpulkan informasi tentang organisasi mulai dari latar belakang tim yang akan dipimpin, tantangan yang sedang dihadapi unit tersebut, budaya kerja, serta ekspektasi dari pihak yang merekrut. Data ini menjadi bekal awal agar pemimpin tidak masuk dalam kondisi buta arah
- Kegiatan pasca perekrutan, setelah proses perekrutan/penunjukan selesai namun sebelum hari pertama kerja, pemimpin baru biasanya mulai melakukan orientasi awal seperti mempelajari dokumen organisasi, menghubungi pihak-pihak kunci, atau menyiapkan rencana kerja awal, sehingga transisi ke peran baru berjalan lancar.

2. Kesan pertama ini adalah hal penting dalam pembentukan citra seseorang. Hal pertama yang harus di lakukan saat pertama kali menjabat adalah bertemu dengan atasan karena hal ini penting untuk menyelaraskan ekspetasi dari awal lalu yang kedua adalah bertemu dengan seluruh karyawan atau anggota tim hal ini penting karena ini adalah bentuk pembangunan citra kepada mereka bagaimana cara kita menyapa,berbicara dan memberikan kesan yang baik bagi mereka.

3. -Bertemu anggota tim dengan melakukan percakapan lebih mendalam secara individual dengan anggota tim untuk memahami kekuatan, tantangan, dan harapan masing-masing orang.
- Bertemu rekan kerja dengan membangun relasi dengan rekan sejawat di unit lain yang mungkin akan sering berkolaborasi ke depannya.
- Bertemu karyawan dengan memperluas jangkauan interaksi ke level operasional, tidak hanya dengan pihak manajerial, agar pemimpin memahami kondisi di lapangan secara langsung.
- Rapat, lainnya dengan mengikuti berbagai forum/rapat rutin organisasi untuk memahami ritme kerja, budaya diskusi, dan dinamika pengambilan keputusan yang sudah berjalan.
Fase ini pada dasarnya adalah fase mendengarkan dan memetakan, bukan fase mengambil keputusan besar. Tujuannya membangun dasar pemahaman yang kuat sebelum melangkah lebih jauh.

4. Dengan mendapatkan sudut pandang eksternal : mencari masukan dari pihak luar tim langsung untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif tentang kinerja dan reputasi tim. Yang kedua adalah strategi, struktur, dan penempatan karyawan dimulai dari merumuskan arah strategi ke depan, mengevaluasi apakah struktur organisasi saat ini sudah tepat, serta menilai kesesuaian orang-orang di posisi masing-masing (siapa yang tepat di posisinya, siapa yang mungkin perlu dipindah atau dikembangkan).Lalu selanjutnya adalah sosialisasi dengan menyampaikan arah dan rencana awal kepada tim secara lebih luas agar semua pihak memahami ke mana arah organisasi akan dibawa. Selanjutnya adalah keputusan : mulai mengambil keputusan-keputusan awal berdasarkan data dan pemahaman yang telah dikumpulkan pada fase-fase sebelumnya. Dan yang terakhir adalah mendapatkan timbal balik dengan meminta umpan balik atas langkah-langkah awal yang sudah diambil, untuk memastikan arah yang diambil sudah tepat atau belum.
Fase ini adalah titik transisi dari mendengarkan menuju bertindak.

5. Pada bulan ketiga, fokus bergeser ke penguatan arah kerja jangka panjang, melalui membangun budaya lalu melakukan acara tim di luar kantor, yang mencakup lima aspek yaitu Nilai-nilai,strategi, ritme operasional, area yang perlu ditingkatkan dan analisis subtim

6. Dengan menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik,melakukan peregangan 10 persen, belajar dari orang lain, menulis jurnal dan memiliki rencana pengembangan.

7. Umpan balik bagi seorang pemimpin bukan hanya sekadar menyatakan kebijakan, tetapi juga menyangkut bagaimana pemimpin itu dipandang sebagai sosok yang mudah didekati dan tulus dalam menawarkan atau meminta umpan balik. Dengan menciptakan ruang yang membuat orang merasa aman untuk berbicara jujur, memiliki sikap mudah didekati dan ketulusan dalam meminta umpan balik akan terlihat dari tindak lanjut nyata.

8. Dengan mengambil tantangan yang sedikit di luar zona nyaman secara sukarela namun tekun bukan lompatan besar yang berisiko tinggi melainkan peningkatan bertahap dalam keterampilan kepemimpinan. Contoh pemimpin yang terbiasa mengambil keputusan sendiri mulai mencoba melibatkan tim lebih banyak dalam proses pengambilan keputusan, atau yang biasa menghindari konfrontasi mulai berlatih memberi umpan balik yang lebih tegas kepada bawahannya. Pendekatan ini bersifat berkelanjutan dan konsisten, bukan dilakukan sekali saja sehingga peningkatan kompetensi kepemimpinan terjadi secara alami melalui pengulangan tantangan-tantangan kecil yang terus bertambah seiring waktu.

9. Dengan mengamati secara aktif bagaimana orang lain bereaksi dan menangani tantangan/situasi bahkan yang tampak umum sekalipun. Ini tidak harus formal tapi bisa berupa observasi sehari-hari terhadap pemimpin lain, rekan kerja, atau bawahan.

10. Dengan menuliskan entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai diri sebagai pemimpin atau tentang kepemimpinan itu sendiri bukan sekadar catatan harian umum dan di tuliskan secara konsisten.

11. Mengidentifikasi tujuan konkret, lalu mengumpulkan informasi melalui evaluasi kinerja (sesi umpan balik), memperhatikan interaksi rekan sejawat sebagai sumber ide
, meninjau peran sendiri dalam situasi tertentu secara objektif, melihat keterampilan baru yang diperlukan, melakukan tes psikologis formal dan kuesioner dan yang terakhir melakukan program membaca pribadi untuk memperluas perspektif kepemimpinan.

12. Dengan memahami bahwa kompetensi teknis adalah pengetahuan dan repertoar perilaku yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan suatu tugas dengan sukses sehingga kinerja seseorang sering kali bergantung pada seberapa baik penguasaan teknisnya.

13.Dengan memahami keterkaitan tugas spesifik dengan tujuan besar organisasi. Tanpa ini pekerjaan teknis terasa terisolasi. Pemahaman ini membantu memprioritaskan tugas yang benar-benar berdampak dan membantu pemimpin menjelaskan makna kerja ke timnya.

14. Dengan mendalami bidang kerja secara serius hingga benar-benar menguasai detail teknis, praktik terbaik, dan tantangan umum yang ada di bidang tersebut, lalu membangun keahlian melalui kombinasi pengalaman langsung, belajar dari sumber-sumber terpercaya, serta interaksi dengan ahli lain di bidang yang sama, menjadi ahli tidak berarti harus tahu segalanya, cukup memiliki pemahaman yang mendalam agar mampu mengambil keputusan yang tepat dan dipercaya oleh tim maupun atasan.

15. Dengan aktif mencari kesempatan baru di luar rutinitas kerja biasa seperti proyek lintas fungsi atau penugasan khusus serta bersedia mengambil tanggung jawab tambahan untuk memperkaya wawasan.

16. Dengan menyesuaikan diri dengan gaya atasan dan menyelaraskan cara berinteraksi dengannya tanpa kehilangan integritas diri sendiri.

17.Dengan mempelajari konteks, tekanan, dan prioritas yang dihadapi atasan dari sudut pandangnya sendiri, termasuk target yang harus ia capai, tuntutan dari pihak yang lebih tinggi, serta keterbatasan sumber daya yang ia hadapi.

18. Dengan mengenali preferensi komunikasinya, amati cara dia mengambil keputusan, sesuaikan format kerja kita dengannya, memperhatikan gaya kepemimpinannya dan tetap menjaga integritas diri.

19. Dengan mengenali minat dan tujuan bersama, memahami tugas/masalah/imbalan rekan kerja, menerapkan sikap Teori Y, dan mengelola konflik dengan rekan kerja.

20. Dengan mengidentifikasi area di mana kepentingan unit sendiri selaras dengan kepentingan rekan sejawat di unit lain sebagai dasar kerja sama win-win, bukan persaingan antar unit.

21. Dengan menghindarkan kesalahpahaman dan membuat permintaan kolaborasi lebih realistis sesuai konteks tekanan mereka.

22. Yang pertama itu analisis GAPS dulu, lalu Menyusun rencana pengembangan dan yang terakhir adalah evaluasi dan refleksi dengan meninjau apakah perencanaan ini sudah berjalan secara efektif.

23.Refleksi bukan sekadar melihat apakah rencana sudah dijalankan tetapi juga menilai apakah target awal masih relevan dengan situasi yang berkembang.Jika ditemukan bahwa suatu area pengembangan ternyata kurang berdampak atau muncul kebutuhan baru yang belum terpikirkan sebelumnya, rencana pengembangan perlu dimodifikasi agar tetap sesuai kebutuhan.

24. Setelah rencana pengembangan direfleksikan dan dimodifikasi, hasil pembelajaran tersebut perlu diterapkan kembali termasuk ketika pemimpin menghadapi peran, tim, atau lingkungan kerja yang baru dengan menerapkan hasil belajar di lingkungan baru menuntut kemampuan adaptasi yaitu pelajaran dari pengalaman sebelumnya tidak selalu bisa diterapkan mentah-mentah melainkan perlu disesuaikan dengan konteks baru yang dihadapi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Eka Vrakas Shetia 2511011085 -
1. Persiapan Awal 90 Hari Pertama

Sebelum resmi menduduki posisi kepemimpinan, seorang calon pemimpin harus melakukan serangkaian persiapan matang. Proses ini dimulai sejak masa wawancara kerja, di mana calon pemimpin secara aktif mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai organisasi melalui situs web resmi, laporan tahunan, siaran pers, dan materi pemasaran. Calon pemimpin juga disarankan memanfaatkan jejaring sosial profesional seperti LinkedIn, Facebook, atau Plaxo untuk mengadakan wawancara informasional dengan orangorang di dalam organisasi guna memahami sejarah, budaya, serta dinamika internal secara lebih mendalam.

Selama wawancara berlangsung, calon pemimpin harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan strategis, seperti alasan organisasi merekrut pihak luar, hal-hal yang dapat meningkatkan efektivitas tim, aspek yang sudah atau belum berjalan dengan baik, serta isu-isu yang membuat pihak pewawancara merasa khawatir.

Setelah resmi diterima, persiapan pascaperekrutan dilanjutkan dengan meminta data konkret kepada atasan baru, seperti hasil kinerja atau metrik kelompok sebelumnya, presentasi pendahulu, data anggaran, dan informasi kontak bawahan langsung. Pemimpin baru juga wajib mengurus kebutuhan logistik awal seperti kartu akses fasilitas, akun email, ruang kerja, dan ponsel kerja agar operasional dapat berjalan lancar sejak hari pertama. Sebelum masuk, pemimpin baru sebaiknya telah menjadwalkan rapat satu jam bersama atasan dan seluruh tim pada hari pertama, serta menyusun agenda pertemuan satu lawan satu (one on one) berdurasi dua hingga tiga jam dengan setiap anggota tim untuk dua minggu pertama.



2. Memberikan Kesan Pertama pada Hari Pertama

Hari pertama bekerja merupakan momen kritis bagi seorang pemimpin baru untuk membangun impresi awal yang positif melalui dua agenda utama:

1. Rapat Pertama dengan Atasan Baru (Berlangsung sekitar 1 jam):
Rapat ini diadakan di kantor atasan untuk mendiskusikan tujuan utama, metrik keberhasilan, dan proyek-proyek penting yang sedang dihadapi tim. Pemimpin baru harus menggali pandangan atasan mengenai kekuatan dan kelemahan tim, mendiskusikan gaya komunikasi yang diinginkan atasan (mengenai kapan, bagaimana, dan hal apa saja yang perlu dilaporkan), membagikan rencana kerjanya untuk beberapa minggu ke depan, serta menjadwalkan pertemuan rutin lanjutan untuk mengevaluasi kemajuan.
2. Rapat Pertama dengan Seluruh Anggota Tim (Berlangsung sekitar 1 jam):
Pertemuan ini dilakukan di ruang rapat, auditorium, atau melalui panggilan konferensi (tergantung ukuran tim). Pemimpin baru memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan latar belakang pribadinya, membagikan nilai-nilai dan prinsip kerja yang dianggap penting, menyampaikan harapan terhadap diri sendiri dan karyawan, menjelaskan kebiasaan kerja serta aktivitas rekreasi/keluarga, dan menyampaikan rencana awal untuk beberapa minggu mendatang. Pada tahap ini, interaksi cenderung berlangsung satu arah karena anggota tim masih dalam tahap mengamati dan belum mengenal pemimpin baru secara dekat.



3. Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi

Dua minggu pertama difokuskan pada tiga tujuan utama: mempelajari kondisi organisasi, membangun hubungan kerja, dan mengidentifikasi sekutu masa depan.

Pemimpin baru mengadakan pertemuan satu lawan satu secara mendalam (berdurasi 2–3 jam) dengan anggota tim kunci atau bawahan langsung. Jika tim beranggotakan kurang dari 15 orang, seluruh anggota ditemui secara individual. Jika tim lebih besar, pertemuan individual diprioritaskan bagi bawahan langsung, sementara anggota tim lainnya ditemui dalam kelompok kecil sepanjang 90 hari pertama. Dalam pertemuan individual ini, pemimpin mengajukan pertanyaan kunci mengenai proyek yang sedang dikerjakan, tujuan kerja anggota tim, identitas karyawan berkinerja tinggi (bintang) di level bawah, masalah perilaku atau hubungan interpersonal di dalam tim, ide perbaikan kinerja, serta saran atau bantuan yang dibutuhkan anggota tim untuk sukses. Pemimpin disarankan berhati-hati dalam menjaga rahasia serta menunda interaksi pribadi yang terlalu dekat (seperti bertemu keluarga bawahan) selama 60 hari pertama agar tidak mengganggu objektivitas keputusan struktur dan staf di kemudian hari.

Selain dengan bawahan, pemimpin baru juga menjadwalkan pertemuan satu lawan satu berdurasi satu jam di kantor para rekan sejawat (peers). Pertemuan ini digunakan untuk memahami tujuan dan tantangan tim rekan kerja, meminta pandangan mereka mengenai kinerja tim pemimpin baru, serta mempelajari cara berkomunikasi dan pengambilan keputusan di lingkungan atasan. Pemimpin juga perlu menemui anggota tim berprestasi tinggi, mantan anggota tim yang telah pindah ke bagian lain untuk mendapatkan wawasan sejarah, serta mengidentifikasi peran-peran kritis dan calon kandidat internal yang sebelumnya mengincar posisi kepemimpinan tersebut.



4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf

Memasuki enam minggu berikutnya, fokus pemimpin bergeser ke pengumpulan data tingkat lanjut, penentuan arah strategis, serta penyempurnaan struktur dan staf. Pemimpin mengumpulkan informasi perbandingan (benchmarking) dari organisasi lain, bertemu dengan pelanggan dan pemasok eksternal utama, serta (jika memungkinkan) berdiskusi dengan pemimpin tim sebelumnya.

Seluruh informasi yang terkumpul diolah untuk merumuskan visi atau arah baru tim untuk satu hingga tiga tahun ke depan. Dalam mengeksekusi perubahan, pemimpin wajib mematuhi urutan logis: Strategi (visi dan tujuan) harus menjadi dasar dari Struktur Tim, dan Struktur Tim menjadi dasar dari keputusan Penempatan Staf (kepegawaian). Mengubah urutan ini berisiko menciptakan tim yang dis-fungsional.

Sebelum keputusan kepegawaian ditetapkan, pemimpin harus menyosialisasikan dan "mendiskusikan" gagasan strategi, struktur, dan staf tersebut kepada atasan dan rekan kerja untuk mendapatkan masukan serta persetujuan. Setelah disetujui, pemimpin memanggil secara tatap muka setiap anggota tim yang terdampak untuk menjelaskan alasan perubahan, peran baru, serta ekspektasi yang diharapkan. Sepanjang proses ini, pemimpin harus tetap menjaga stabilitas kinerja harian tim serta mulai mencari umpan balik awal mengenai gaya kepemimpinan-nya melalui perekrut atau rekan kerja.



5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan

Pada bulan ketiga, pemimpin fokus mengonsolidasikan visi dan mendorong perubahan secara nyata melalui dua acara utama:

1. Rapat Akbar Bersama Seluruh Tim:
Pemimpin membagikan hasil temuan selama proses pengumpulan informasi, memaparkan visi masa depan, menjelaskan struktur dan model penempatan staf yang baru, menyampaikan harapan, serta menegaskan alasan di balik perubahan tersebut. Pemimpin mengaitkan perubahan ini dengan nilai-nilai yang pernah disampaikan pada hari pertama. Perubahan diwujudkan melalui tindakan nyata seperti keputusan perekrutan, promosi, restrukturisasi, atau pemecatan.
2. Rapat di Luar Kantor (Offsite Meeting) dengan Bawahan Langsung:
Untuk tim berukuran besar, rapat berdurasi satu hingga dua hari di luar kantor diadakan guna meminimalkan gangguan. Agenda utamanya meliputi:
Menyelaraskan Nilai dan Atribut: Mendefinisikan secara jelas perilaku positif dan negatif yang diharapkan dari anggota tim.
Membuat Kartu Penilaian Tim (Team Scorecard): Merumuskan sasaran konkret, spesifik, dilengkapi jadwal dan tolok ukur keberhasilan.
Menetapkan Ritme Operasional: Menentukan frekuensi, tujuan, aturan main rapat, serta mempublikasikan kalender tahunan rapat.
Membentuk Tim Tugas (Task Force): Melibatkan anggota-anggota terbaik untuk menyelesaikan inisiatif perubahan utama, sekaligus menjadi sarana bagi pemimpin untuk mengamati kinerja mereka secara langsung.





6. Belajar dari Pengalaman

Seorang pemimpin dapat meningkatkan nilai pembelajaran dari pengalaman kerja yang dijalaninya melalui lima pendekatan utama. Pertama, pemimpin harus secara aktif menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dari orang-orang di sekitarnya. Kedua, pemimpin perlu mengambil tantangan 10 persen di luar zona nyaman untuk melatih perilaku baru. Ketiga, pemimpin harus membuka diri untuk belajar dari siapa saja dan dari situasi sehari-hari. Keempat, pemimpin membiasakan diri menulis jurnal harian untuk me-refleksikan peristiwa kepemimpinan. Kelima, pemimpin harus menyusun rencana pengembangan diri yang ter-struktur.



7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik

Mendapatkan umpan balik yang jujur sering kali sulit bagi seorang pemimpin karena posisi kekuasaan yang dimilikinya. Untuk mengatasinya, pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan klaim "kebijakan pintu terbuka" (opendoor policy), melainkan harus menunjukkan sikap tulus, bersahabat, dan mudah didekati. Kunci utamanya adalah secara aktif dan sistematis meminta umpan balik dari bawahan mengenai bagaimana perilaku pemimpin memengaruhi efektivitas tim. Selain itu, pemimpin dapat memanfaatkan instrumen formal seperti tes psikologis, survei berkala, atau kuesioner umpan balik untuk memperoleh data evaluasi yang objektif.



8. Melakukan Tantangan Tambahan 

Prinsip "peregangan 10 persen" adalah upaya sukarela namun konsisten untuk keluar sedikit dari zona nyaman demi memperluas perilaku kepemimpinan. Hal ini mirip dengan latihan fisik, di mana pemimpin memperluas batas perilakunya sedikit demi sedikit. Contoh tindakannya antara lain menyapa seluruh staf di kantor setidaknya sekali sehari, bersedia menjadi ketua komite, atau mencoba bersikap lebih tenang (atau lebih tegas) dalam rapat sesuai kebutuhan situasi.

Manfaat dari latihan ini adalah menurunkan kecemasan pemimpin saat mencoba halhal baru, memperluas repertoar keterampilan kepemimpinan, meningkatkan efektivitas kerja, serta memberikan teladan nyata bagi bawahan tentang pentingnya pengembangan diri secara berkelanjutan.



9. Belajar dari Orang Lain

Proses belajar dari orang lain dimulai dengan kesadaran bahwa pelajaran kepemimpinan bisa diperoleh dari siapa saja, tanpa membatasi pengamatan pada figur kepemimpinan formal semata (misalnya, seorang atlet bisa belajar kepemimpinan tidak hanya dari pelatihnya, tetapi juga dari konduktor orkestra atau sutradara teater).

Selain itu, pemimpin harus rajin mengajukan pertanyaan, terutama saat baru memegang suatu jabatan, dengan berkonsultasi kepada pejabat sebelumnya untuk menyerap pengalaman dan wawasan-nya. Pemimpin yang jeli juga dapat memetik pelajaran berharga dengan mengamati bagaimana orang lain merespons tantangan dalam kegiatan harian yang sederhana (seperti kegiatan pencucian mobil atau operasional restoran cepat saji) dan merenungkan alasan di balik tindakan tersebut berdasarkan konsep kepemimpinan.



10. Membuat Jurnal Bagi Pemimpin

Jurnal mirip dengan buku harian, tetapi bukan sekadar catatan peristiwa sehari-hari. Sebuah jurnal sebaiknya berisi entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan. Entri jurnal dapat berupa komentar tentang kutipan yang mendalam atau menarik, anekdot, artikel koran, atau bahkan kartun lucu tentang kepemimpinan. Entri tersebut juga dapat berisi refleksi atas peristiwa pribadi, seperti interaksi dengan atasan, pelatih, guru, siswa, karyawan, pemain, rekan tim, teman sekamar, dan sebagainya. Catatan semacam itu dapat menyoroti cara baik (atau buruk) seseorang menangani suatu hal, masalah yang sedang berkembang, perbedaan reaksi orang-orang terhadap situasi tertentu, atau tokoh-tokoh dalam berita, buku, atau film. Para pemimpin juga sebaiknya menggunakan jurnal mereka untuk “berpikir di atas kertas” mengenai bacaan kepemimpinan dari buku teks atau program kepemimpinan formal, atau untuk menggambarkan contoh dari pengalaman pribadi mereka terkait konsep yang dipresentasikan dalam bacaan tersebut. Setidaknya ada tiga alasan baik untuk menulis jurnal. Pertama, proses menulis meningkatkan kemungkinan para pemimpin dapat melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda atau merasakan hal yang berbeda tentangnya. Mengungkapkan pengalaman dengan kata-kata dapat menjadi langkah menuju pandangan yang lebih objektif terhadapnya. Kedua, para pemimpin dapat (dan seharusnya) membaca ulang entri-entri sebelumnya. Catatan sebelumnya memberikan otobiografi yang menarik dan berharga mengenai perkembangan pemikiran seorang pemimpin tentang kepemimpinan dan peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidupnya. Ketiga, catatan jurnal berfungsi sebagai gudang ide yang kelak mungkin ingin digunakan para pemimpin secara lebih formal untuk makalah, kata-kata penyemangat, atau pidato.

Tiga alasan utama pentingnya menulis jurnal:

1. Membantu pemimpin mengungkapkan pengalaman dengan kata-kata sehingga dapat melihat suatu kejadian secara lebih objektif dan dari sudut pandang berbeda.
2. Menyediakan catatan otobiografi mengenai perkembangan pemikiran dan gaya kepemimpinan dari waktu ke waktu.
3. Berfungsi sebagai gudang ide dan contoh konkret yang dapat digunakan kembali saat menyusun pidato, presentasi, atau makalah di masa depan.



11. Menyusun Rencana Pengembangan

Proses penyusunan rencana pengembangan diri pemimpin dilakukan secara terstruktur melalui beberapa tahap:

1. Mengumpulkan data kebutuhan pengembangan melalui evaluasi kinerja harian, diskusi umpan balik dengan atasan, interaksi dengan rekan kerja, serta tes psikologis.
2. Menentukan dua hingga tiga tujuan pengembangan yang konkret dan selaras dengan arah karier.
3. Melakukan Analisis GAPS (Goals, Abilities, Perceptions, Standards) untuk mendeteksi kesenjangan antara kondisi saat ini dan harapan masa depan.
4. Menyusun langkah-langkah tindakan spesifik di tempat kerja, menetapkan indikator keberhasilan, melibatkan pihak lain untuk umpan balik, serta menetapkan jadwal evaluasi berkala.
5. Memasukkan program membaca pribadi secara aktif (bacaan klasik, biografi tokoh, esai etika, buku pengembangan diri) guna menjaga stimulasi intelektual dan memperluas wawasan kepemimpinan.



12. Membangun Kompetensi Teknis

Kompetensi teknis adalah penguasaan pengetahuan dan perilaku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dengan sukses. Pemimpin maupun pengikut dapat membangun kompetensi teknis melalui langkah-langkah berikut:

Memahami bagaimana fungsi pekerjaannya memberikan kontribusi langsung pada misi utama organisasi.
Mengevaluasi tingkat keterampilan saat ini menggunakan umpan balik lisan, penilaian kinerja, atau data objektif (seperti statistik kualitas atau tes).
Mengikuti program pendidikan formal, pelatihan teknis, atau kursus yang relevan.
Mengamati secara cermat bagaimana orang lain menyelesaikan masalah kerja dan merenungkan latar belakang tindakan mereka.
Mengajukan pertanyaan untuk memverifikasi asumsi dan memahami prosedur kerja secara mendalam.
Mengajar orang lain mengenai prosedur, peralatan, atau strategi kerja, karena proses mengajar menuntut pemahaman materi yang sangat mendalam.
Mencari peluang perluasan pengalaman melalui variasi tugas, proyek tim lintas unit, atau kegiatan sukarela masyarakat.



13. Menentukan Kontribusi Pekerjaan pada Misi Keseluruhan

Langkah awal dalam membangun kompetensi teknis adalah menganalisis dan memahami garis hubungan antara tugas-tugas harian yang dilakukan individu dengan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Dengan memahami keterkaitan ini, individu dapat mengidentifikasi jenis pengetahuan teknis dan perilaku mana yang paling kritis untuk dipelajari dan ditingkatkan. Setelah itu, individu mengevaluasi kekuatan dan kelemahannya saat ini melalui umpan balik atasan, rekan kerja, dan data kinerja objektif agar program pelatihan atau pendidikan yang diambil benarbenar tepat sasaran.



14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan

Menjadi seorang ahli teknis merupakan fondasi bagi pengembangan karier kepemimpinan. Keahlian ini dapat dibangun melalui empat cara utama:

1. Pendidikan dan Pelatihan Formal: Mengikuti kursuskursus relevan yang menunjang keterampilan teknis.
2. Pengamatan Cermat dan Refleksi: Mengamati cara orang lain menangani masalah koordinasi atau target kerja, lalu merenungkan mengapa tindakan tersebut dilakukan dengan mengaitkannya pada konsep atau teori.
3. Mengajukan Pertanyaan: Bertanya secara aktif untuk mengonfirmasi motif, latar belakang prosedur, atau alasan di balik suatu kejadian kerja, guna memastikan kesimpulan yang diambil akurat.
4. Mengajar Orang Lain: Mengambil kesempatan untuk melatih atau mengajari orang lain mengenai prosedur, peralatan, dan strategi kerja, yang secara otomatis memperdalam penguasaan materi bagi si pengajar itu sendiri.



15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman

Untuk memperluas kompetensi teknis dan perspektif kerja, seseorang disarankan untuk:

Mencoba menjalankan tugastugas dari posisi lain di dalam kelompok kerjanya agar dapat mengapresiasi peran rekan timnya.
Mengunjungi dan mempelajari operasional di unit atau bagian lain dalam organisasi guna memahami keterkaitan antar divisi.
Berpartisipasi dalam proyek tim lintas unit yang memberikan kesempatan berinteraksi dengan personel lain sekaligus mempelajari keterampilan baru.
Menjadi relawan dalam kegiatan sekolah, politik, atau organisasi kemasyarakatan untuk mengasah keterampilan perencanaan, hubungan masyarakat, penggalangan dana, dan berbicara di depan umum.



16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan

Membangun hubungan kerja yang efektif dengan atasan didasari oleh pemahaman bahwa kesuksesan bawahan dan atasan saling bergantung. Bawahan yang efektif memandang diri mereka sebagai bagian dari tim atasan yang dievaluasi berdasarkan keberhasilan tim secara keseluruhan.

Langkahlangkah untuk membangun hubungan yang efektif meliputi:

Memahami tujuan, nilainilai, preferensi, serta kekuatan dan kelemahan atasan.
Mengambil peran aktif untuk melengkapi kelemahan atasan (seperti membantu tugas detail atau perencanaan yang tidak dikuasai atasan).
Proaktif memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan kerja dan masalah di lapangan agar atasan tidak mendapat "kejutan buruk" atau merasa dipermalukan di depan pihak lain.
Berpikir kritis dan beradaptasi secara fleksibel terhadap gaya kepemimpinan, cara berkomunikasi, dan proses pengambilan keputusan atasan.
Menunjukkan integritas yang tinggi dan keandalan (selalu menepati janji, tepat waktu, dan menyelesaikan tugas sesuai urutan).



17. Memahami Dunia Atasan

Untuk memahami dunia atasan, bawahan perlu mempelajari tujuan pribadi dan organisasi yang ingin dicapai oleh atasannya, karena dukungan dan loyalitas berawal dari rasa saling memahami. Bawahan juga harus menyadari bahwa atasan adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan, kendala, serta kelemahan tertentu.

Bawahan dapat memberikan kontribusi besar dengan cara melengkapi keterbatasan atasan tersebut melalui keahlian yang dimilikinya (misalnya membantu merancang alat bantu visual atau mengurus administrasi perjalanan bagi atasan yang tidak menyukai tugas detail). Selain itu, bawahan harus terus menyampaikan informasi penting dan pandangan kritis yang relevan mengenai kondisi kelompok kerja agar atasan selalu memiliki pemahaman yang akurat mengenai wilayah tanggung jawabnya.



18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan

Tanggung jawab untuk beradaptasi berada di tangan bawahan, bukan sebaliknya. Bawahan harus fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi atasan (misalnya menggunakan memo tertulis jika atasan menyukai format dokumen, atau menyesuaikan diri dengan gaya interaksi yang formal/informal).

Bawahan juga harus mengklarifikasi ekspektasi mengenai peran mereka. Berbeda dengan deskripsi pekerjaan yang bersifat formal dan rinci mengenai tugas harian, peran mencakup ciri khas dan pendekatan pribadi dalam menjalankan tugas tersebut. Untuk memperjelas peran, bawahan dapat menyusun daftar tanggung jawab utama dan menggunakannya sebagai bahan diskusi dengan atasan untuk menyelaraskan prioritas dan cara pelaksanaan tugas.



19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat

Bekerja dalam organisasi membutuhkan kemampuan "memengaruhi tanpa wewenang," karena keberhasilan tugas sering kali bergantung pada bantuan rekan kerja yang berada di luar garis komando formal. Hubungan yang efektif dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui:

Mengenali dan menyelaraskan minat, nilai, serta tujuan kerja bersama.
Membuka saluran komunikasi informal yang jujur dan bersedia mendengarkan kebutuhan serta ide orang lain.
Menghadiri kegiatan sosial, makan siang bersama, atau tim olahraga perusahaan sebagai sarana mempererat hubungan di luar tugas harian.
Memahami jenis tugas, hambatan, dan sistem imbalan yang dihadapi oleh rekan kerja.
Menunjukkan sikap Teori Y, yaitu mengasumsikan bahwa rekan kerja adalah orangorang yang kompeten, dapat dipercaya, dan mau bekerja sama.
Memberikan pujian tulus, ucapan terima kasih, dan bantuan saat rekan kerja menghadapi masalah.



20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama dengan Rekan Sejawat

Guna menemukan kesamaan minat, tujuan, dan nilainilai kerja, seseorang harus membangun saluran komunikasi informal. Hal ini membutuhkan sikap terbuka dan jujur dalam menyampaikan kebutuhan diri sendiri, serta kesediaan yang sama besar untuk mendengarkan aspirasi dan pandangan rekan kerja. Selain itu, menghadiri pertemuan sosial, acara makan siang, rapat komite, atau kegiatan komunitas perusahaan merupakan sarana yang sangat efektif untuk bertemu rekan kerja dalam konteks yang lebih santai dan mempererat hubungan profesional.



21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat

Rasa saling menghormati antar rekan kerja tumbuh dari pemahaman atas pekerjaan satu sama lain. Seseorang perlu mempelajari jenis tugas harian yang dilakukan rekan kerjanya serta peka terhadap kesulitan yang mereka hadapi. Salah satu cara terbaik memperkuat hubungan adalah dengan mengulurkan bantuan saat rekan kerja menghadapi kendala pribadi atau organisasi.

Selain itu, penting untuk memahami struktur imbalan yang memengaruhi perilaku rekan kerja. Kadang kala, perilaku tidak kooperatif dari seorang rekan disebabkan oleh sistem imbalan organisasi (misalnya persaingan bonus) dan bukan karena kepribadiannya. Seseorang juga disarankan tidak meremehkan dampak positif dari dorongan moral, ucapan terima kasih, dan pujian tulus dalam memperkuat kerja sama antar rekan sejawat.



22. Cara Membuat Perencanaan Pengembangan (Proses 5 Fase)

Proses perencanaan pengembangan diri yang terstruktur terdiri dari lima fase berurutan:

1. Melakukan Analisis GAPS:
Goals (Tujuan): Menentukan tujuan karier spesifik untuk satu tahun ke depan.
Abilities (Kemampuan): Menilai kekuatan dan kebutuhan pengembangan diri saat ini.
Perceptions (Persepsi): Mengumpulkan data umpan balik 360 derajat atau penilaian kinerja mengenai persepsi orang lain terhadap perilaku kita.
Standards (Standar): Memahami standar, persyaratan, dan harapan yang ditetapkan oleh atasan atau organisasi.


2. Melakukan Analisis Kesenjangan (GAPS Gap Analysis):
Membandingkan fokus masa depan (Goals & Standards) dengan kondisi masa kini (Abilities & Perceptions) untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan dua hingga tiga kebutuhan pengembangan terpenting.
3. Menyusun Rencana Pengembangan Berdampak Tinggi:
Merumuskan tujuan karier dan pengembangan, menentukan kriteria keberhasilan yang jelas, menetapkan langkahlangkah tindakan spesifik di tempat kerja (dapat menggunakan panduan dari buku referensi manajemen), mengidentifikasi pihak yang dilibatkan untuk umpan balik, serta memasukkan penugasan yang menantang (stretch assignment).
4. Refleksi atas Pembelajaran:
Mengevaluasi kemajuan secara berkala bersama seorang mitra atau atasan langsung untuk memastikan tindakan tetap berada di jalur yang benar.
5. Transfer Pembelajaran ke Lingkungan Baru:
Menerapkan keterampilan baru di situasi kerja yang berbeda, terus memperbarui rencana pengembangan, serta membimbing orang lain untuk memperkuat penguasaan keterampilan tersebut.



23. Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan

Refleksi dilakukan dengan menerapkan siklus TindakanPengamatanRefleksi (AOR). Pemimpin meninjau kemajuan dan proses pembelajarannya secara berkala bersama seorang mitra tepercaya atau atasan langsung. Diskusi ini bertujuan untuk menilai apakah tujuan karier yang ditetapkan masih relevan, apakah langkah tindakan yang diambil efektif, serta apakah diperlukan perubahan rute atau tambahan sumber daya. Pemimpin kemudian memperbarui dan memodifikasi rencana pengembangannya sehingga dokumen tersebut tetap hidup dan adaptif terhadap perkembangan diri dan situasi kerja yang baru.



24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru

Transfer pembelajaran ke situasi baru dilakukan melalui tiga pendekatan utama:

1. Memperbarui Rencana Pengembangan Secara Berkelanjutan: Menyesuaikan fokus pengembangan seiring bertambahnya pengalaman dan terpenuhinya target awal.
2. Mempraktikkan Keterampilan di Lingkungan Baru: Menerapkan perilaku atau keterampilan yang baru dipelajari pada skala tantangan yang lebih besar (misalnya, menerapkan teknik pendelegasian yang tadinya digunakan pada tim kecil beranggota 3 orang ke dalam tim baru beranggota 25 orang).
3. Membimbing (Mentoring) Orang Lain: Mengajari dan membimbing orang lain dalam menguasai keterampilan tersebut. Transisi dari peran seorang murid menjadi seorang ahli/pembimbing merupakan cara terbaik untuk mengukuhkan dan menyempurnakan hasil belajar secara permanen.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Tazkiatul Fuadah 2511011038 -

Nama: Tazkiatul Fuadah
NPM: 2511011038

  1. Sebelum resmi menjabat, pemimpin perlu mempelajari organisasi melalui website, laporan, media sosial, dan wawancara dengan orang dalam organisasi. Setelah diterima, pemimpin meminta data tim, anggaran, dan hasil kerja sebelumnya. Selain itu, berbagai kebutuhan kerja seperti email dan akses kantor perlu disiapkan agar dapat langsung bekerja. Pertemuan dengan atasan dan tim juga perlu dijadwalkan sejak hari pertama.

  2. Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan tim. Dengan atasan, dibahas sasaran, kondisi tim, gaya komunikasi, serta rencana kerja. Dengan tim, pemimpin memperkenalkan diri, menyampaikan nilai dan ekspektasi, menjelaskan rencana kerja, serta membuka kesempatan untuk bertanya.

  3. Dua minggu pertama digunakan untuk belajar, membangun hubungan, dan mengenali potensi anggota tim. Pemimpin melakukan pertemuan satu-satu dengan bawahan, rekan sejawat, dan anggota tim terbaik. Pemimpin juga perlu memahami masalah tim, sejarah organisasi, serta calon talenta yang dapat menjadi pendukung di masa depan.

  4. Enam minggu berikutnya digunakan untuk melakukan benchmarking, memahami pelanggan dan pemasok, serta menentukan visi tim. Penyusunan dilakukan dengan urutan strategi, struktur, kemudian penempatan staf. Setelah keputusan disepakati dengan atasan dan rekan sejawat, perubahan dijelaskan kepada anggota tim yang terdampak. Pemimpin juga harus tetap menjaga kinerja tim.

  5. Pada bulan ketiga, pemimpin menyampaikan hasil pembelajaran, visi, struktur, dan rencana perubahan kepada seluruh tim. Pemimpin juga dapat melakukan off-site untuk menyepakati nilai tim, membuat scorecard, menetapkan aturan kerja, dan membentuk task force untuk menangani perubahan penting.

  6. Pembelajaran dari pengalaman 100 hari pertama dapat dilakukan dengan mencari umpan balik, melakukan 10 percent stretch, belajar dari orang lain, membuat jurnal kepemimpinan, dan menyusun development plan.

  7. Pemimpin perlu bersikap terbuka dan mudah didekati. Umpan balik harus diminta secara aktif untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin dipersepsikan dan memengaruhi tim. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau penilaian secara berkala.

  8. 10 percent stretch adalah usaha untuk mencoba perilaku atau aktivitas sedikit di luar zona nyaman, seperti lebih aktif berbicara dalam rapat atau mencoba memimpin kegiatan. Hal ini dapat mengurangi rasa takut, memperluas keterampilan, meningkatkan efektivitas kepemimpinan, dan menjadi contoh bagi orang lain.

  9. Pemimpin dapat belajar dari siapa saja, bukan hanya dari atasan atau orang yang memiliki jabatan tinggi. Caranya dengan bertanya, mengamati pengalaman orang lain, dan berbicara dengan orang yang pernah memegang posisi yang sama. Pembelajaran juga dapat diperoleh dari berbagai situasi sehari-hari.

  10. Jurnal dapat berisi kutipan, pengalaman pribadi, refleksi terhadap suatu kejadian, serta hubungan antara pengalaman dengan teori kepemimpinan. Jurnal membantu pemimpin melihat suatu peristiwa secara lebih objektif, mengetahui perkembangan dirinya, dan menjadi sumber ide untuk tulisan atau presentasi.

  11. Rencana pengembangan dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis kesenjangan, menyusun rencana, melakukan evaluasi secara berkala, dan menerapkan hasil pembelajaran di lingkungan baru.

  12. Kompetensi teknis adalah pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Kompetensi ini dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Kompetensi teknis penting karena meningkatkan kinerja, keahlian, kemampuan melatih bawahan, serta mengurangi konflik dan ketidakjelasan pekerjaan.

  13. Pertama, pahami bagaimana pekerjaan berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi. Setelah itu, evaluasi kemampuan melalui umpan balik dari atasan dan rekan kerja, penilaian kinerja sebelumnya, serta data kinerja yang objektif.

  14. Menjadi ahli dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, mengamati cara kerja orang lain, aktif bertanya, serta mengajarkan pengetahuan kepada orang lain. Mengajar dapat membantu seseorang memahami pekerjaannya secara lebih mendalam.

  15. Pengalaman dapat diperluas dengan mencoba tugas dari posisi lain, mempelajari bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek lintas unit, serta aktif dalam kegiatan sekolah atau komunitas. Hal tersebut dapat menambah keterampilan dan wawasan.

  16. Bawahan perlu aktif membangun hubungan dengan atasan dengan memahami tujuan dan gaya kerja atasan. Hubungan yang baik dapat mengurangi konflik, meningkatkan dukungan, memperbesar kesempatan terlibat dalam pengambilan keputusan, serta mendukung perkembangan karier.

  17. Bawahan perlu memahami tujuan, nilai, kepribadian, kekuatan, dan kelemahan atasannya. Bawahan juga harus membantu melengkapi kelemahan atasan serta selalu memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan, terutama mengenai masalah yang sedang terjadi.

  18. Bawahan perlu menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan atasannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memahami ekspektasi peran, menjaga kejujuran, memiliki integritas, serta menunjukkan sikap dapat dipercaya dan dapat diandalkan.

  19. Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui kemampuan influence without authority, yaitu memengaruhi orang lain tanpa memiliki wewenang formal. Hubungan yang baik penting karena pekerjaan organisasi membutuhkan kerja sama dan dukungan dari banyak pihak.

  20. Caranya dengan memahami tujuan, nilai, dan minat rekan sejawat melalui komunikasi terbuka. Pemimpin juga harus mau mendengarkan orang lain dan membangun hubungan melalui kegiatan sosial atau kerja sama informal.

  21. Pemimpin perlu memahami tugas, masalah, dan sistem imbalan yang diterima rekan sejawat. Bantuan ketika rekan menghadapi masalah dapat memperkuat hubungan. Selain itu, perilaku seseorang perlu dipahami berdasarkan sistem penghargaan yang diterapkan, bukan hanya berdasarkan karakter pribadinya.

  22. Perencanaan pengembangan menggunakan analisis GAPS, yaitu Goals untuk menentukan tujuan karier, Abilities untuk mengetahui kemampuan dan kekurangan diri, Perceptions untuk memahami bagaimana orang lain melihat kemampuan dan perilaku kita, serta Standards untuk memahami standar yang ditetapkan organisasi. Setelah itu, tentukan kesenjangan yang perlu diperbaiki, buat tujuan pengembangan, tentukan tindakan, dan lakukan evaluasi secara berkala.

  23. Pemimpin perlu meninjau kembali perkembangan secara berkala untuk mengetahui apakah tujuan masih sesuai dan apakah diperlukan perubahan. Evaluasi dapat dilakukan bersama atasan atau orang yang dipercaya agar rencana pengembangan tetap relevan.

  24. Hasil belajar dapat diterapkan dengan terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan baru dalam situasi yang berbeda, serta mengajarkan atau melakukan coaching kepada orang lain. Dengan demikian, kemampuan akan terus berkembang melalui pengalaman baru.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by imas khansa qurota a'yun 2511011028 -
Nama: Imas Khansa Qurota A'yun
NPM: 2511011028

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Persiapan awal seorang pemimpin dilakukan melalui tahap before you start, yang mencakup kegiatan pengumpulan data pra-perekrutan (pre-hire data gathering) serta pelaksanaan berbagai agenda dan aktivitas pasca-perekrutan (post-hire activities).

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
Kesan pertama dibentuk pada hari pertama (the first day) dengan mengadakan pertemuan langsung dg para pemimpin untuk menyelaraskan ekspektasi serta menemui dan menyapa seluruh anggota tim secara langsung untuk membangun komunikasi yang baik.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
Dua minggu pertama difokuskan untuk membangun fondasi kerja melalui serangkaian pertemuan tatap muka dengan anggota tim, rekan kerja (peers), dan para karyawan, serta aktif menghadiri rapat-rapat penting dan agenda organisasi lainnya.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
Pada dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan sudut pandang eksternal untuk merumuskan strategi, merancang struktur organisasi, menetapkan penempatan staf (staffing), melakukan sosialisasi, mengambil keputusan-keputusan substantif, dan memperoleh umpan balik.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
Bulan ketiga difokuskan untuk membangun budaya kerja serta mengadakan acara tim di luar kantor (offsite team event) yang membahas lima aspek utama, yaitu nilai-nilai, strategi, ritme operasional, area yang perlu ditingkatkan, dan analisis subtim.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Belajar dari pengalaman dilakukan melalui lima pilar utama, yakni menciptakan kesempatan umpan balik, melakukan tantangan tambahan (10 percent stretch), belajar dari mengamati orang lain, menulis jurnal kepemimpinan, dan memiliki rencana pengembangan diri.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
Peluang umpan balik diciptakan tidak hanya dengan menyatakan kebijakan secara formal, tetapi juga dengan memposisikan diri sebagai sosok pemimpin yang mudah didekati (approachable) dan tulus dalam meminta masukan.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
Tantangan tambahan dilakukan melalui "Peregangan 10 Persen" (10 percent stretch), yaitu upaya sukarela namun tekun dan konsisten untuk keluar dari zona nyaman demi mengasah keterampilan kepemimpinan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
Pemimpin belajar dari orang lain dengan cara mengamati secara aktif bagaimana orang lain bereaksi, mengambil keputusan, serta menyelesaikan berbagai tantangan dan situasi kerja sehari-hari.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
Membuat jurnal dilakukan dengan menulis entri catatan harian secara teratur yang secara spesifik membahas refleksi diri, evaluasi tindakan pribadi, dan aspek-aspek penting terkait kepemimpinan.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
Rencana pengembangan dibuat dengan mengidentifikasi tujuan konkret, mengumpulkan data evaluasi kinerja, mengamati interaksi rekan sejawat, meninjau peran secara objektif, mengenali kebutuhan keterampilan baru, memanfaatkan tes psikologis/kuesioner, serta menjalankan program membaca pribadi.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
Kompetensi teknis dibangun dengan memahami pentingnya pengetahuan dan perilaku tugas untuk meningkatkan kinerja, pengaruh, dan peluang promosi, yang dicapai melalui pemahaman kontribusi tugas pada misi, menjadi ahli di bidangnya, serta memperluas pengalaman.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
Caranya adalah dengan menganalisis dan memetakan secara jelas keterkaitan serta dampak langsung dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pekerjaan harian terhadap pencapaian misi utama organisasi.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
Menjadi ahli dilakukan dengan mendalami pengetahuan teknis serta mengasah keterampilan spesifik yang dibutuhkan agar mampu menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawab dengan tingkat keberhasilan yang tinggi.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
Peluang memperluas pengalaman dicari dengan aktif mengambil tanggung jawab baru, variasi tugas yang berbeda, atau tantangan kerja baru guna memperkaya wawasan dan repertoar perilaku kepemimpinan.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
Hubungan efektif dengan atasan dibangun melalui dua langkah utama, yaitu memahami dunia atasan (understand the boss's world) dan beradaptasi dengan gaya kepemimpinan atasan (adapt to the boss's style).

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
Memahami dunia atasan dilakukan dengan menganalisis konteks kerja, tekanan, tanggung jawab, serta situasi organisasi yang sedang dihadapi atasan agar dapat memberikan dukungan yang selaras.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
Beradaptasi dilakukan dengan mengamati preferensi komunikasi, proses kerja, dan cara pengambilan keputusan atasan, kemudian menyesuaikan gaya interaksi diri agar tercipta sinergi.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun dengan mengenali minat/tujuan bersama, memahami tugas, masalah, dan imbalan mereka, menerapkan sikap Teori Y, serta mengelola konflik secara profesional.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
Mengenali kepentingan bersama dilakukan dengan mengidentifikasi kesamaan target, prioritas kerja, dan titik temu antara unit kerja sendiri dengan unit kerja rekan sejawat untuk mempermudah kolaborasi.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
Hal ini dilakukan dengan mempelajari beban kerja, kendala yang dihadapi, serta sistem motivasi/imbalan rekan kerja guna menumbuhkan empati dan kerja sama tim yang solid.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Perencanaan pengembangan dibuat melalui tiga tahapan utama, yaitu melakukan analisis GAPS, menyusun rencana aksi pengembangan, serta melaksanakan evaluasi dan refleksi secara berkala.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
Refleksi dilakukan pada tahap evaluasi untuk meninjau pencapaian, menganalisis hambatan belajar, dan memperbarui atau memodifikasi rencana aksi agar tetap relevan dengan kebutuhan.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
Hasil belajar diterapkan dengan menggunakan temuan analisis GAPS, catatan jurnal, dan hasil evaluasi rencana pengembangan untuk mempraktikkan perilaku, strategi, dan keterampilan baru secara nyata di lingkungan kerja yang baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Michael Rusdianto 2511011072 -
Nama: Michael Rusdianto
NPM: 2511011072

1. Pemimpin perlu memahami organisasi, tugas, budaya kerja, kondisi tim, serta masalah yang ada. Pada tahap awal, pemimpin sebaiknya banyak mengamati dan mendengarkan sebelum mengambil keputusan.

2. Dengan menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Pemimpin juga harus mampu berkomunikasi dengan baik agar dapat membangun kepercayaan.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk mengenal atasan, bawahan, dan rekan kerja serta memahami tugas dan kondisi organisasi. Fokusnya adalah belajar, membangun hubungan, dan mengumpulkan informasi.

4. Pemimpin mulai menentukan prioritas, strategi kerja, pembagian tugas, dan penempatan staf sesuai kemampuan masing-masing agar tujuan organisasi dapat tercapai.

5. Pemimpin menyampaikan rencana dan alasan perubahan secara jelas, melibatkan anggota, serta menerima masukan agar perubahan dapat diterima dan dijalankan bersama.

6. Dengan mengevaluasi keberhasilan, kesalahan, dan keputusan yang telah dibuat selama 100 hari pertama. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Dengan meminta pendapat dari atasan, bawahan, dan rekan kerja secara langsung. Kritik dan saran digunakan untuk mengetahui kekurangan dan memperbaiki diri.

8. Dengan mengambil tugas atau tanggung jawab baru di luar pekerjaan rutin untuk menambah pengalaman dan mengembangkan kemampuan.

9. Dengan mengamati orang yang lebih berpengalaman, meminta saran, berdiskusi, dan mempelajari cara mereka menghadapi masalah serta mengambil keputusan.

10. Dengan mencatat pengalaman, keputusan, masalah, hasil tindakan, dan pembelajaran secara rutin. Jurnal membantu pemimpin melakukan evaluasi dan refleksi diri.

11. Dengan menentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, cara mencapainya, serta waktu untuk mengevaluasi hasilnya.

12. Dengan belajar, mengikuti pelatihan, membaca, berdiskusi dengan orang yang ahli, dan mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan.

13. Dengan memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan dan misi organisasi sehingga dapat menentukan pekerjaan yang paling penting dan diprioritaskan.

14. Dengan terus belajar, berlatih, memahami pekerjaan secara mendalam, serta belajar dari kesalahan dan pengalaman yang telah dilalui.

15. Dengan mencoba tugas baru, mengikuti proyek lain, bekerja dengan bagian berbeda, dan menerima tanggung jawab tambahan untuk menambah pengalaman.

16. Dengan menjaga komunikasi yang baik, memahami harapan atasan, bertanggung jawab, serta menyampaikan masalah sekaligus solusi.

17. Dengan melihat pekerjaan dari sudut pandang atasan, termasuk memahami target, tanggung jawab, tekanan, dan alasan di balik keputusan yang dibuat.

18. Dengan memahami cara atasan berkomunikasi dan bekerja, kemudian menyesuaikan cara berinteraksi agar hubungan kerja lebih efektif.

19. Dengan membangun komunikasi, kepercayaan, kerja sama, dan saling menghargai serta tidak hanya mementingkan kepentingan sendiri.

20. Dengan memahami kepentingan masing-masing pihak dan mencari tujuan yang sama agar perbedaan dapat dikelola melalui kerja sama.

21. Dengan memahami tanggung jawab, masalah, serta hal-hal yang menjadi motivasi rekan kerja agar dapat bekerja sama dengan lebih baik.

22. Dengan menentukan kemampuan yang perlu ditingkatkan, menetapkan tujuan, menentukan langkah pengembangan, serta membuat target dan waktu pencapaiannya.

23. Dengan mengevaluasi hasil pembelajaran dan memperbaiki rencana jika cara yang digunakan belum efektif. Rencana pengembangan harus disesuaikan dengan pengalaman yang diperoleh.

24. Dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan yang sudah diperoleh, tetapi tetap menyesuaikannya dengan kondisi, budaya, dan kebutuhan lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Jihan Nasywa Hanifah_2511011030 -
Nama : Jihan Nasywa Hanifah
NPM : 2511011030

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin

Persiapan awal pemimpin pada masa 83 hari pertama dilakukan dengan memahami kondisi organisasi, mengenali atasan, bawahan, dan rekan kerja, serta mengumpulkan informasi mengenai tujuan, masalah, kekuatan, dan kelemahan tim. Masa awal ini menjadi kesempatan bagi pemimpin untuk membangun hubungan, menentukan arah tim, serta mempersiapkan perubahan yang diperlukan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin?

Kesan pertama dibangun sejak hari pertama melalui pertemuan dengan atasan dan seluruh tim. Pemimpin perlu menjelaskan latar belakang, nilai-nilai yang dianggap penting, harapan terhadap diri sendiri dan anggota tim, kebiasaan kerja, cara berkomunikasi, serta rencana beberapa minggu ke depan. Dengan demikian, anggota tim memperoleh gambaran mengenai karakter dan arah kepemimpinan yang akan dijalankan.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?

Dua minggu pertama digunakan untuk belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi calon sekutu. Pemimpin perlu bertemu dengan anggota tim, rekan kerja, atasan, dan pihak lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Pertemuan satu lawan satu juga penting untuk memahami kondisi tim, pandangan orang lain, serta berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

4. Jelaskan dua bulan pertama: menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf

Pada dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah atau visi tim, kemudian menyusun struktur dan penempatan staf. Urutannya harus strategi, struktur, dan penempatan staf. Strategi menentukan tujuan dan arah tim, struktur disesuaikan dengan strategi, kemudian orang ditempatkan sesuai kebutuhan struktur tersebut. Pemimpin juga perlu mendiskusikan rencana perubahan dengan atasan dan rekan kerja sebelum mengambil keputusan.

5. Bagaimana bulan ketiga: mengomunikasikan dan mendorong perubahan?

Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, alasan perubahan, struktur tim, penempatan staf, serta harapan kepada seluruh anggota. Perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Pemimpin juga perlu memastikan perubahan yang dilakukan sesuai dengan nilai dan prinsip yang telah disampaikan sejak hari pertama.

6. Bagaimana cara belajar dari pengalaman 100 hari pertama?

Pembelajaran dari pengalaman dapat dilakukan dengan lima cara utama, yaitu menciptakan peluang mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan 10 persen, belajar dari orang lain, membuat jurnal kepemimpinan, dan memiliki rencana pengembangan. Kelima cara tersebut membantu pemimpin menjadikan pengalaman sebagai bahan evaluasi dan pengembangan diri.

7. Bagaimana menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik?

Pemimpin dapat memperoleh umpan balik dengan membuka kesempatan bagi anggota untuk menyampaikan pendapat, kritik, dan saran. Pemimpin juga harus bersikap terbuka dan mudah diajak berdiskusi. Selain itu, umpan balik dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau evaluasi secara berkala.

8. Bagaimana melakukan tantangan tambahan?

Tantangan tambahan dilakukan melalui konsep “10 persen stretch”, yaitu secara bertahap melakukan sesuatu yang sedikit berada di luar zona nyaman. Contohnya berbicara dengan lebih banyak orang, menjadi ketua suatu kegiatan, atau mengubah gaya komunikasi dalam rapat. Tujuannya bukan mengubah kepribadian secara drastis, tetapi memperluas kemampuan kepemimpinan secara bertahap.

9. Jelaskan cara belajar dari orang lain

Pemimpin harus menyadari bahwa ia dapat belajar dari siapa saja, bukan hanya dari orang yang memiliki jabatan atau profesi yang sama. Pembelajaran dapat dilakukan dengan mengamati cara orang lain menghadapi masalah, mengajukan pertanyaan, dan memperhatikan situasi sehari-hari. Dengan memperluas sumber pembelajaran, pemimpin memperoleh perspektif dan keterampilan yang lebih beragam.

10. Jelaskan cara membuat jurnal bagi pemimpin

Jurnal kepemimpinan digunakan untuk mencatat peristiwa, keputusan, pengalaman, serta pembelajaran yang diperoleh pemimpin dalam menjalankan tugas. Dengan mencatat pengalaman secara rutin, pemimpin dapat melakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan mengenali pola keberhasilan maupun kesalahan untuk diperbaiki di kemudian hari. Konsep jurnal merupakan salah satu cara utama belajar dari pengalaman kepemimpinan.

11. Jelaskan cara membuat rencana pengembangan

Rencana pengembangan dapat dibuat dengan menetapkan tujuan yang jelas, menentukan kemampuan yang perlu dikembangkan, dan menyusun langkah-langkah untuk mencapainya. Dalam menyusunnya, pemimpin dapat menggunakan hasil evaluasi kinerja, masukan dari atasan dan rekan kerja, serta mempertimbangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk perkembangan ke posisi yang lebih tinggi.

12. Bagaimana membangun kompetensi teknis?

Kompetensi teknis dibangun melalui pendidikan formal, pelatihan, pengalaman kerja, dan praktik langsung. Kompetensi ini mencakup pengetahuan serta kemampuan menerapkan perilaku atau keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

13. Bagaimana menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?

Caranya dengan memahami hubungan antara pekerjaan sendiri dengan pekerjaan unit lain dan tujuan organisasi secara keseluruhan. Pemimpin atau anggota organisasi perlu melihat bagaimana tugas yang dilakukan berkontribusi terhadap keberhasilan tim dan organisasi, termasuk dengan memahami pekerjaan di bagian lain.

14. Bagaimana menjadi ahli dalam pekerjaan?

Menjadi ahli dapat dilakukan dengan memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan serta memperoleh pengalaman secara terus-menerus. Salah satu cara efektif adalah mengajarkan pekerjaan kepada orang lain, karena seseorang harus benar-benar memahami suatu pekerjaan sebelum mampu menjelaskannya secara efektif.

15. Bagaimana mencari peluang untuk memperluas pengalaman?

Peluang dapat diperoleh dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, terlibat dalam proyek lintas unit, serta mengikuti kegiatan organisasi atau masyarakat. Hal tersebut membantu seseorang memahami operasi organisasi secara lebih luas sekaligus mengembangkan keterampilan baru.

16. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan atasan?

Hubungan yang efektif dengan atasan dapat dibangun dengan memahami apa yang diharapkan atasan, memberikan dukungan, dan menyampaikan informasi yang penting dengan tepat waktu. Selain itu, bawahan perlu membantu mencapai tujuan organisasi. Hubungan yang efektif bukan berarti mencari perhatian atasan, tetapi saling mendukung agar pekerjaan dan tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.

17. Bagaimana memahami dunia atasan?

Bawahan perlu memahami tujuan pribadi dan organisasi atasannya, nilai-nilai, cara atau pilihan yang disukai, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan yang dimiliki atasan. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat memberikan dukungan yang lebih tepat dan membantu melengkapi kelemahan atasannya.

18. Bagaimana beradaptasi dengan gaya atasan?

Bawahan perlu menyesuaikan cara bekerja dengan gaya komunikasi dan pengambilan keputusan atasannya. Misalnya, jika atasan lebih menyukai laporan tertulis, bawahan perlu menggunakan laporan tertulis. Penyesuaian juga mencakup cara berkomunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan berinteraksi.

19. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat?

Hubungan efektif dibangun dengan melakukan komunikasi secara terbuka, memahami pekerjaan rekan, menunjukkan sikap saling membantu, serta membangun interaksi baik dalam maupun di luar konteks pekerjaan. Pertemuan rutin juga dapat membantu memperkuat hubungan dan mengantisipasi konflik.

20. Bagaimana mengenali kepentingan dan tujuan bersama?

Caranya dengan mengetahui tujuan, nilai, kepentingan, dan harapan rekan kerja melalui komunikasi informal maupun formal. Pemimpin perlu terbuka mengenai kebutuhan dan tujuannya sendiri sekaligus bersedia mendengarkan kebutuhan serta masukan orang lain. Dari sana dapat ditemukan kepentingan dan tujuan yang sama sebagai dasar kerja sama.

21. Bagaimana memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat?

Pemimpin perlu memahami jenis pekerjaan yang dilakukan rekan, masalah yang mereka hadapi, serta sistem imbalan yang memengaruhi perilaku mereka. Dengan memahami kondisi tersebut, pemimpin dapat memberikan bantuan dan penghargaan yang tepat serta tidak terburu-buru menganggap perilaku negatif seseorang semata-mata berasal dari karakter pribadinya.

22. Bagaimana cara membuat perencanaan pengembangan?

Perencanaan pengembangan dimulai dengan menentukan tujuan yang jelas dan terarah, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, kemudian menentukan strategi pengembangan yang sesuai. Sumber informasinya dapat berasal dari evaluasi kinerja, umpan balik atasan dan rekan sejawat, kebutuhan pekerjaan di masa depan, serta evaluasi diri.

23. Bagaimana cara merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana pengembangan?

Refleksi dilakukan dengan melihat kembali pengalaman dan hasil yang telah dicapai, kemudian melihat apakah sudah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Masukan dari orang lain juga perlu diperhatikan untuk mengetahui hal yang masih perlu diperbaiki. Jika ada kekurangan atau kebutuhan baru, rencana pengembangan dapat diubah dan disesuaikan dengan perkembangan diri serta kebutuhan pekerjaan.

24. Bagaimana menerapkan hasil belajar di lingkungan baru?

Hasil belajar diterapkan dengan menyesuaikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dengan kondisi lingkungan baru. Pemimpin perlu memahami karakteristik organisasi, orang-orang di dalamnya, aturan, budaya, serta tuntutan pekerjaan sebelum menerapkan pendekatan yang telah dipelajari. Pengalaman sebelumnya dijadikan dasar, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan situasi baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Nayla Faiza Chairunnisa -
Nama : Nayla Faiza Chairunnisa
NPM : 2511011012

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin? Sebelum jadi pemimpin, kita harus melakukan persiapan dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai organisasi seperti sejarah, budaya, kondisi organisasi, fungsi atau tim yang akan dipimpin, serta masalah yang sedang dihadapi. Setelah mendapatkan posisi, pemimpin juga perlu mencari informasi lebih lanjut mengenai pekerjaan barunya dan membuat rencana kegiatan untuk dua minggu pertama. Pemimpin sebaiknya meminta informasi dari atasan mengenai hasil kerja tim, anggaran, presentasi dari pemimpin sebelumnya, serta berbagai kebutuhan administratif agar dapat memulai pekerjaan dengan lancar.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ? Pada hari pertama, pemimpin baru memiliki dua tugas utama, yaitu bertemu dengan atasan dan bertemu dengan tim. Saat bertemu atasan, pemimpin perlu membahas tujuan utama, metrik, proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta menentukan bagaimana dan kapan komunikasi dengan atasan akan dilakukan. Pemimpin juga sebaiknya menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk mengevaluasi perkembangan. Ketika bertemu tim, pemimpin perlu memperkenalkan latar belakang dirinya, nilai-nilai yang dianggap penting, harapan terhadap dirinya dan anggota tim, kebiasaan kerja, cara berinteraksi, serta rencana beberapa minggu ke depan.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ? Dua minggu pertama digunakan untuk belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan. Pemimpin harus bertemu dengan berbagai pihak, baik yang berada di dalam maupun di luar tim. Pemimpin dapat melakukan pertemuan satu lawan satu dengan anggota tim kunci untuk mengetahui pekerjaan mereka, tujuan mereka, masalah dalam tim, anggota yang memiliki kinerja tinggi, serta hal-hal yang masih dapat diperbaiki. Pemimpin juga perlu bertemu dengan rekan sejawat, mantan anggota tim, anggota tim yang berprestasi tinggi, serta pihak HR untuk memperoleh informasi mengenai sejarah tim, peran penting, dan kandidat internal yang potensial.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ? Pemimpin mengumpulkan informasi tambahan, menentukan visi tim, kemudian menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf. Urutannya harus strategi terlebih dahulu, kemudian struktur, lalu penempatan staf agar tim dapat bekerja secara efektif.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ? Pemimpin mengomunikasikan hasil pembelajaran, visi masa depan, struktur baru, harapan terhadap anggota tim, serta alasan perubahan. Perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata seperti perekrutan, promosi, restrukturisasi, atau penempatan staf.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama? Pemimpin dapat belajar dari pengalaman dengan cara: a. Menciptakan peluang mendapatkan umpan balik. b. Melakukan tantangan 10 persen di luar zona nyaman. c. Belajar dari orang lain. d. Menulis jurnal kepemimpinan. e. Memiliki rencana pengembangan. f. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ? Pemimpin harus secara aktif menciptakan kesempatan untuk memperoleh umpan balik, terutama dari bawahan. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik atau memiliki kebijakan pintu terbuka. Pemimpin harus benar-benar meminta pendapat dan masukan mengenai perilaku serta kinerjanya. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, dan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam kepemimpinan.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ? Pemimpin perlu melakukan tantangan 10 persen, yaitu mencoba melakukan sesuatu sedikit di luar zona nyaman secara bertahap. Contohnya menjadi ketua komite, berbicara dengan orang yang berbeda, atau mengubah cara berkomunikasi dalam rapat.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ? Pemimpin harus menyadari bahwa pembelajaran dapat diperoleh dari siapa saja. Caranya dengan mengamati perilaku orang lain, mengajukan pertanyaan, mempelajari pengalaman orang yang pernah menduduki posisi tersebut, dan memperhatikan bagaimana orang lain menghadapi masalah.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin ! Sebuah jurnal sebaiknya berisi entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan. Entri jurnal dapat berupa komentar tentang kutipan yang mendalam atau menarik, anekdot, artikel koran, atau bahkan kartun lucu tentang kepemimpinan. Entri tersebut juga dapat berisi refleksi atas peristiwa pribadi, seperti interaksi dengan atasan, pelatih, guru, siswa, karyawan, pemain, rekan tim, teman sekamar, dan sebagainya. Catatan semacam itu dapat menyoroti cara baik (atau buruk) seseorang menangani suatu hal, masalah yang sedang berkembang, perbedaan reaksi orang-orang terhadap situasi tertentu, atau tokoh-tokoh dalam berita, buku, atau film. Para pemimpin juga sebaiknya menggunakan jurnal mereka untuk “berpikir di atas kertas” mengenai bacaan kepemimpinan dari buku teks atau program kepemimpinan formal, atau untuk menggambarkan contoh dari pengalaman pribadi mereka terkait konsep yang dipresentasikan dalam bacaan tersebut.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan ! Pemimpin perlu menentukan tujuan pengembangan yang konkret, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan melalui evaluasi kinerja serta umpan balik, kemudian menentukan strategi untuk meningkatkan kemampuan. Rencana harus membantu memanfaatkan peluang pengembangan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ? Kompetensi teknis dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan. Caranya melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, serta evaluasi terhadap kemampuan yang dimiliki.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ? Pemimpin perlu memahami hubungan antara pekerjaannya dengan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, tentukan pengetahuan dan keterampilan yang paling penting bagi keberhasilan pekerjaan serta evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik dan data kinerja.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ? Menjadi ahli dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, belajar dari pengalaman, serta mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Mengajar orang lain membantu memperdalam pemahaman terhadap pekerjaan sendiri.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ? Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek tim, serta terlibat dalam kegiatan organisasi atau masyarakat.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ? Pemimpin perlu membangun hubungan yang saling mendukung dengan atasan, membantu mencapai tujuan organisasi, memberikan informasi penting, menyampaikan masalah secara bertanggung jawab, serta bersikap jujur dan dapat diandalkan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ? Caranya dengan memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasannya. Dengan begitu, pemimpin dapat memberikan dukungan yang sesuai dan membantu melengkapi kelemahan atasan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ? Bawahan perlu menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan cara berinteraksi yang disukai atasan. Jika perlu, klarifikasi ekspektasi mengenai peran dan tanggung jawab agar pekerjaan dapat dilakukan sesuai harapan.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ? Hubungan efektif dibangun dengan komunikasi, kerja sama, saling membantu, dan membangun kepercayaan. Rekan kerja perlu dipandang sebagai bagian penting dalam mencapai tujuan karena pekerjaan organisasi membutuhkan kerja sama dan pengaruh tanpa wewenang formal.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ? Caranya dengan mengetahui tujuan, nilai, kebutuhan, dan minat rekan kerja. Komunikasi informal dan keterbukaan membantu menemukan kesamaan tersebut. Pemimpin juga harus mau mendengarkan kepentingan orang lain, bukan hanya menyampaikan kepentingannya sendiri.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ? Pemimpin perlu memahami pekerjaan, masalah, serta sistem imbalan yang dihadapi rekan kerja. Dengan memahami situasi tersebut, pemimpin dapat memberikan bantuan dan memahami alasan munculnya perilaku tertentu.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan? Perencanaan pengembangan dimulai dengan menentukan tujuan yang konkret, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, mengumpulkan informasi dari evaluasi dan umpan balik, kemudian menentukan strategi atau kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ? Pemimpin perlu mengevaluasi perkembangan secara berkala berdasarkan pengalaman, umpan balik, dan perubahan kebutuhan. Jika tujuan atau strategi tidak lagi sesuai, rencana pengembangan harus diperbaiki agar tetap relevan.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ? Hasil pembelajaran perlu diterapkan dalam situasi atau lingkungan yang baru dengan menyesuaikan pengetahuan dan keterampilan terhadap kondisi yang dihadapi. Pengalaman baru kemudian digunakan kembali sebagai bahan evaluasi dan pengembangan diri.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Bintang Satriyani Putri 2551011022 -
Nama : Bintang Satriyani Putri
NPM : 2551011022

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin
Persiapan awal dilakukan sebelum atau sejak mulai menjabat sebagai pemimpin. Pemimpin perlu memahami visi, misi, tujuan, budaya organisasi, struktur kerja, kondisi tim, serta permasalahan yang sedang dihadapi. Selain itu, pemimpin harus menentukan prioritas dan mempersiapkan rencana tindakan. Tujuannya agar pemimpin tidak terburu-buru melakukan perubahan sebelum memahami kondisi organisasi secara menyeluruh.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
Kesan pertama dibangun melalui sikap, komunikasi, integritas, kompetensi, dan cara memperlakukan anggota tim. Pemimpin sebaiknya menunjukkan rasa percaya diri tetapi tetap terbuka terhadap masukan. Mendengarkan anggota tim, menjelaskan harapan dengan jelas, dan menunjukkan keteladanan akan membantu membangun kepercayaan sejak awal.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu fokus pada mengenal orang, memahami pekerjaan, mengumpulkan informasi, dan membangun hubungan. Pemimpin dapat melakukan diskusi dengan anggota tim, atasan, dan rekan kerja untuk mengetahui kondisi nyata organisasi. Pada tahap ini, sebaiknya pemimpin tidak langsung membuat perubahan besar sebelum memiliki pemahaman yang cukup.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Setelah memahami kondisi organisasi, pemimpin mulai menyusun strategi dan prioritas kerja. Pemimpin menentukan tujuan yang ingin dicapai, membangun struktur kerja yang jelas, membagi tanggung jawab, serta memastikan orang yang tepat berada pada posisi yang tepat. Penempatan staf harus mempertimbangkan kompetensi, pengalaman, kemampuan, dan kebutuhan organisasi, bukan hanya hubungan pribadi.

5.Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan strategi dan perubahan kepada seluruh anggota. Komunikasi harus menjelaskan mengapa perubahan diperlukan, apa manfaatnya, apa yang akan dilakukan, dan bagaimana setiap orang berperan. Pemimpin juga perlu memberikan dukungan, menangani penolakan secara bijaksana, dan menunjukkan hasil awal agar perubahan mendapatkan kepercayaan.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Pemimpin perlu melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan selama 100 hari pertama. Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat keberhasilan, kegagalan, keputusan yang tepat, kesalahan, dan respons anggota tim. Dari evaluasi tersebut, pemimpin dapat mempertahankan strategi yang efektif dan memperbaiki strategi yang kurang berhasil.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Pemimpin perlu menciptakan suasana yang membuat orang merasa aman untuk memberikan pendapat. Umpan balik dapat diperoleh melalui rapat, diskusi pribadi, survei, evaluasi rutin, atau percakapan informal. Pemimpin harus menerima kritik secara terbuka dan tidak langsung menyalahkan orang yang memberikan masukan.

8. Melakukan Tantangan Tambahan
Tantangan tambahan berarti pemimpin sengaja mencari pengalaman yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinannya. Contohnya memimpin proyek baru, menangani konflik, berbicara di depan banyak orang, mengambil tanggung jawab yang lebih besar, atau memimpin tim lintas bagian. Tantangan tersebut membantu pemimpin keluar dari zona nyaman dan meningkatkan kompetensi.

9. Belajar dari Orang Lain
Pemimpin dapat belajar dari atasan, mentor, rekan kerja, bawahan, maupun pemimpin yang lebih berpengalaman. Caranya dengan mengamati cara mereka mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghadapi konflik. Pemimpin tidak harus meniru sepenuhnya, tetapi mengambil praktik yang baik dan menyesuaikannya dengan situasi sendiri.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Jurnal kepemimpinan digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, perasaan, masalah, keberhasilan, kesalahan, dan pembelajaran. Setelah suatu kegiatan atau keputusan penting, pemimpin dapat menuliskan apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, apa yang sudah dilakukan dengan baik, dan apa yang harus diperbaiki. Jurnal membantu pemimpin melakukan refleksi secara konsisten.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan merupakan langkah sistematis untuk meningkatkan kemampuan pemimpin. Pertama, identifikasi kekuatan dan kelemahan. Kemudian tentukan kompetensi yang perlu dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, kegiatan pengembangan, sumber belajar, serta batas waktu pencapaiannya.
Contohnya:
Kelemahan: komunikasi di depan umum
Tujuan: mampu melakukan presentasi dengan percaya diri
Tindakan: mengikuti pelatihan dan melakukan latihan presentasi
Waktu: 3 bulan
Indikator: mampu melakukan presentasi tanpa bergantung pada teks.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Kompetensi teknis dibangun dengan memahami pengetahuan, prosedur, teknologi, metode, dan keterampilan khusus yang berkaitan dengan pekerjaan. Caranya melalui pendidikan, pelatihan, membaca referensi, mengikuti perkembangan teknologi, belajar dari ahli, dan mempraktikkan pengetahuan secara langsung.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Pemimpin harus memahami hubungan antara tugas sehari-hari dengan visi, misi, dan tujuan organisasi. Caranya dengan bertanya: “Apa tujuan pekerjaan ini?”, “Siapa yang mendapatkan manfaat?”, dan “Bagaimana hasil pekerjaan saya memengaruhi tujuan organisasi?” Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya dianggap sebagai tugas rutin, tetapi sebagai bagian dari pencapaian tujuan organisasi.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Menjadi ahli membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan. Pemimpin harus menguasai pekerjaan, memahami masalah yang sering muncul, mengetahui standar kerja, mempelajari perkembangan bidangnya, dan terus melakukan praktik. Keahlian juga diperkuat dengan meminta umpan balik dari orang yang lebih berpengalaman.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Pemimpin perlu mencari pengalaman di luar tugas rutinnya. Misalnya dengan mengikuti proyek lintas departemen, bekerja dengan tim berbeda, mengikuti pelatihan, menjadi anggota tim khusus, atau mengambil tanggung jawab baru. Semakin beragam pengalaman yang dimiliki, semakin luas perspektif pemimpin dalam mengambil keputusan.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Hubungan dengan atasan dibangun melalui kepercayaan, komunikasi terbuka, profesionalisme, dan pemahaman terhadap harapan atasan. Pemimpin harus mengetahui prioritas atasannya, memberikan informasi yang diperlukan, menyampaikan masalah beserta solusi, dan memenuhi komitmen yang telah dibuat.

17. Memahami Dunia Atasan
Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, tekanan, target, kepentingan, dan tantangan yang dihadapi atasan. Dengan memahami perspektif tersebut, seorang pemimpin dapat lebih mudah menyampaikan informasi dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Ada yang sangat detail, ada yang memberikan kebebasan, ada yang berorientasi pada hasil, dan ada yang lebih mengutamakan hubungan. Pemimpin perlu menyesuaikan cara komunikasi, cara memberikan laporan, dan cara menyampaikan masalah tanpa kehilangan prinsip profesionalitas

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui saling menghormati, komunikasi, kepercayaan, kerja sama, dan keterbukaan. Hindari persaingan yang tidak sehat dan fokus pada kepentingan organisasi. Hubungan yang baik akan mempermudah koordinasi dan penyelesaian masalah lintas bagian.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Dalam bekerja dengan rekan sejawat, setiap pihak mungkin mempunyai kepentingan yang berbeda. Pemimpin harus mencari tujuan yang sama, misalnya peningkatan kualitas pelayanan, pencapaian target, efisiensi, atau keberhasilan organisasi. Kesamaan tujuan menjadi dasar untuk membangun kerja sama.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Pemimpin perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawab, tekanan, masalah, target, dan penghargaan bagi rekan sejawat. Dengan memahami kondisi mereka, pemimpin dapat menghindari kesalahpahaman dan membuat kerja sama yang lebih realistis serta saling menguntungkan.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Perencanaan pengembangan harus dibuat secara terarah dan terukur. Langkahnya meliputi:
Menilai kemampuan saat ini.
Menentukan kompetensi yang ingin ditingkatkan.
Menentukan tujuan.
Menentukan kegiatan pengembangan.
Menentukan waktu.
Menentukan indikator keberhasilan.
Melakukan evaluasi secara berkala.

23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan tidak boleh bersifat kaku. Setelah memperoleh pengalaman, pemimpin harus melakukan refleksi: apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, apa yang sudah dipelajari, dan kemampuan apa yang masih kurang. Berdasarkan hasil refleksi tersebut, rencana pengembangan dapat diperbarui agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Ketika berada di lingkungan baru, pemimpin harus menerapkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan menyesuaikannya terhadap budaya, orang, situasi, dan kebutuhan organisasi yang baru. Tidak semua metode yang berhasil di tempat lama akan berhasil di tempat baru. Karena itu, pemimpin perlu memahami situasi terlebih dahulu, kemudian memilih dan menyesuaikan pengalaman yang relevan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengembangan kepemimpinan merupakan proses berkelanjutan. Pemimpin yang efektif tidak hanya menguasai pekerjaan, tetapi juga mampu membangun hubungan dengan atasan dan rekan sejawat, menerima umpan balik, belajar dari pengalaman, mengembangkan kompetensi, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan. Tahap awal kepemimpinan sangat penting karena menjadi dasar terbentuknya kepercayaan, kredibilitas, strategi, dan efektivitas pemimpin.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dimas Prasetyo -
Nama: Dimas Prasetyo
NPM: 2511011076

1. Persiapan awal sebagai pemimpin bisa dilakukan dengan mempelajari kondisi organisasi, memahami tugas dan tanggung jawab yang akan dijalankan, mengetahui tujuan organisasi, serta mencari informasi mengenai masalah dan tantangan yang sedang dihadapi. Persiapan ini penting agar pemimpin tidak mengambil keputusan secara terburu-buru dan dapat memahami situasi sebelum mulai melakukan perubahan.

2. Kesan pertama sebagai pemimpin busa diberikan dengan menunjukkan sikap profesional, percaya diri, terbuka, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan anggota tim untuk memahami harapan, tujuan, serta kondisi tim.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk membangun fondasi kepemimpinan dengan mengenal anggota tim, memahami pekerjaan mereka, mendengarkan masalah yang dihadapi, dan mencari tahu kemampuan masing-masing anggota. Pemimpin juga perlu membangun hubungan dengan rekan kerja serta mengidentifikasi orang-orang yang dapat membantu mencapai tujuan tim.

4. di dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi berdasarkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Setelah strategi ditentukan, pemimpin dapat menentukan struktur organisasi yang sesuai dan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang sesuai dengan kemampuan mereka.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, tujuan, strategi, dan perubahan yang akan dilakukan kepada anggota tim. Pemimpin juga perlu membuat tujuan yang jelas, menentukan ukuran keberhasilan, membangun aturan kerja, serta mendorong anggota tim untuk ikut menjalankan perubahan.

6. Pemimpin dapat belajar dari pengalaman 100 hari pertama dengan melakukan tindakan, mengamati hasilnya, kemudian melakukan refleksi terhadap pengalaman tersebut. Pembelajaran dapat dilakukan dengan mencari umpan balik, mencoba tantangan baru, belajar dari orang lain, membuat jurnal, dan memiliki rencana pengembangan diri.

7. Pemimpin dapat menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik dengan secara langsung meminta pendapat dari anggota tim, rekan kerja, dan atasan mengenai kepemimpinannya.

8. Tantangan tambahan bisadilakukan dengan mencoba tugas atau kegiatan yang sedikit lebih sulit dari kemampuan yang biasa dilakukan. Cara ini bisa membantu pemimpin keluar dari zona nyaman dan memperoleh pengalaman baru.

9. Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati bagaimana orang lain bekerja, menyelesaikan masalah, berkomunikasi, dan menghadapi berbagai situasi. Setelah mengamati, pemimpin perlu melakukan refleksi untuk memahami mengapa orang tersebut bertindak dengan cara tertentu.

10. Jurnal bagi pemimpin merupakan catatan mengenai pengalaman dan pembelajaran yang berkaitan dengan kepemimpinan. Jurnal dapat berisi kejadian penting, interaksi dengan orang lain, masalah yang dihadapi, keputusan yang dibuat, serta pelajaran yang diperoleh. Dengan membuat jurnal, pemimpin dapat melihat kembali pengalaman sebelumnya dan memahami perkembangan cara berpikir serta kemampuan kepemimpinannya.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai, menilai kemampuan yang dimiliki saat ini, mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki, dan menentukan kegiatan yang dapat membantu meningkatkan kemampuan tersebut. Rencana ini perlu dievaluasi secara berkala agar dapat disesuaikan dengan perkembangan dan pengalaman yang diperoleh.

12. kkompetensi teknis dapat dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Pemimpin dapat mengikuti pelatihan, belajar dari orang yang lebih berpengalaman, mengamati cara orang lain bekerja, bertanya mengenai hal yang belum dipahami, dan mengajarkan pengetahuan kepada orang lain.

13. Untuk mengetahui kontribusi pekerjaan terhadap misi organisasi, pemimpin harus memahami bagaimana tugas yang dilakukan dapat membantu keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelahnya, pemimpin perlu mengetahui pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang paling penting untuk mendukung keberhasilan pekerjaan tersebut.

14. Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang yang ditekuni. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, mengamati orang yang lebih ahli, bertanya, melakukan praktik, dan mengajarkan pengetahuan kepada orang lain.

15. Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba melakukan berbagai tugas yang berbeda, mengikuti proyek bersama tim lain, dan mempelajari bagian lain dalam organisasi. Dengan memperoleh pengalaman yang lebih beragam, pemimpin dapat memahami bagaimana berbagai pekerjaan saling berhubungan dan dapat meningkatkan keterampilan yang dimilikinya.

16. cara membangun hubungan yang efektif dengan atasan dapat dibangun dengan memahami tujuan dan harapan atasan, menjalankan tugas dengan baik, memberikan informasi yang diperlukan, serta memberikan dukungan dalam mencapai tujuan organisasi. Hubungan yang baik harus didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama, bukan sekadar berusaha menyenangkan atasan.

17. cara memahami dunia atasan adalah dengan memahami tanggung jawab dan cara berpikirnya. Kita dapat melakukannya dengan mengetahui apa yang menjadi tujuan dan target organisasi, memahami masalah yang sedang dihadapi, melihat suatu masalah dari sudut pandang atasan, serta memahami bahwa atasan harus bertanggung jawab terhadap hasil kerja tim.

18. Cara beradaptasi dengan gaya atasan adalah menyesuaikan cara bekerja dan berkomunikasi dengan karakter serta kebiasaan atasan, tanpa menghilangkan sikap profesional. Hal ini dapat dilakukan dengan memahami cara atasan memberikan arahan, mengetahui cara komunikasi yang disukai, mengikuti aturan dan standar kerja yang ditetapkan, bersikap terbuka terhadap kritik dan saran, serta menyesuaikan cara menyampaikan laporan atau masalah.

19. Hubungan efektif dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, kerja sama, saling menghargai, dan saling memberikan dukungan. Pemimpin perlu memahami bahwa rekan sejawat juga memiliki tujuan dan kepentingan yang harus diperhatikan sehingga hubungan kerja tidak hanya berfokus pada kepentingan pribadi.

20. Kepentingan dan tujuan bersama dapat dikenali dengan memahami apa yang ingin dicapai oleh diri sendiri dan rekan kerja. Setelah mengetahui tujuan masing-masing, pemimpin dapat mencari persamaan yang dapat menjadi dasar kerja sama.

21. Pemimpin perlu memahami tugas yang dilakukan oleh rekan sejawat, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan atau penghargaan yang mereka dapatkan dari pekerjaan. pemahaman tersebut membantu pemimpin melihat suatu masalah dari sudut pandang rekan kerja sehingga dapat membangun kerja sama dan hubungan yang lebih baik

22. perencanaan pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan, menilai kemampuan yang dimiliki, mengidentifikasi kesenjangan antara kemampuan saat ini dengan kemampuan yang dibutuhkan, kemudian menentukan langkah untuk menutup kesenjangan tersebut. Perencanaan harus dibuat secara realistis dan dapat dievaluasi sehingga perkembangan diri dapat diketahui.

23. Refleksi dilakukan dengan melihat kembali pengalaman yang telah dilalui dan menilai apa yang sudah berhasil maupun yang masih perlu diperbaiki. Berdasarkan hasil refleksi tersebut, rencana pengembangan dapat diubah atau disesuaikan agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kemampuan pemimpin.

24. Hasil belajar dapat diterapkan di lingkungan baru dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh pada situasi yang berbeda. Pemimpin perlu menyesuaikan penerapan tersebut dengan kondisi lingkungan baru dan terus melakukan evaluasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dheyamantha Mutiara Jean -
Nama : Dheyamantha Mutiara Jean
NPM : 2511011005
1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Sebelum memulai, pemimpin perlu melakukan persiapan dengan mempelajari sebanyak mungkin tentang organisasi, seperti sejarah, budaya, laporan, dan kondisi tim. Pemimpin juga harus mengetahui posisi yang akan dipimpin, apakah sudah berjalan dengan baik atau adakah masalah yang sedang dihadapi. Setelah mendapatkan posisi, pemimpin perlu mengumpulkan informasi tambahan dan merencanakan kegiatan selama dua minggu pertama.
2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan seluruh tim secara langsung. Dengan atasan, pemimpin dapat membahas tujuan utama, metrik, proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta gaya komunikasi yang diharapkan. Sedangkan kepada tim, pemimpin dapat memperkenalkan latar belakang, nilai-nilai, harapan, kebiasaan kerja, dan rencana ke depan.
3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan. Pemimpin perlu bertemu secara langsung dengan anggota tim agar terbangun hubungan yang kuat.
4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Dua bulan pertama digunakan untuk mengumpulkan informasi dan menyusun arah tim. pemimpin mengumpulkan informasi lebih banyak, menentukan visi dan arah tim, kemudian menyesuaikan struktur dan orang yang ditempatkan dalam setiap posisi. Urutannya harus strategi dulu, kemudian struktur, baru penempatan staf. Jadi orang yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan strategi dan struktur tim.
5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mengomunikasikan visi, perubahan, struktur tim, penempatan staf, dan harapan kepada seluruh anggota tim. Pemimpin harus menjelaskan apa yang berubah, alasan perubahan, serta bagaimana perubahan tersebut akan dilakukan dan diterapkan melalui tindakan nyata.
6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Pemimpin dapat belajar dari pengalaman dan mengevaluasinya. Seperti dengan meminta umpan balik, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan membuat rencana pengembangan.
7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin perlu secara aktif meminta umpan balik, terutama dari orang yang bekerja di bawahnya. Kebijakan pintu terbuka saja tidak cukup, pemimpin harus benar-benar terlihat mudah didekati dan tulus menerima masukan. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau evaluasi secara berkala.
8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
dengan melakukan “10 persen tantangan”, yaitu secara sukarela dan terus-menerus melakukan sesuatu sedikit di luar zona nyaman. Contohnya berbicara dengan lebih banyak orang.
9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Pemimpin harus menyadari bahwa mereka dapat belajar dari siapa pun, bukan hanya dari orang yang dianggap sebagai pemimpin. Caranya dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah, mengajukan pertanyaan, serta berbicara dengan orang lain.
10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal pemimpin bukan sekadar menulis kegiatan sehari-hari, tetapi mencatat pengalaman. Misalnya kejadian yang menarik, masalah dengan tim, cara seseorang menyelesaikan masalah, atau refleksi tentang keputusan yang kita ambil. Jurnal membantu kita melihat pengalaman dari sudut pandang yang lebih objektif dan melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu.
11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Rencana pengembangan dibuat secara sistematis dengan menentukan tujuan karier dan kebutuhan pengembangan, menentukan kriteria keberhasilan, menyusun langkah tindakan, menentukan pihak yang memberikan umpan balik dan waktu evaluasi, serta menyediakan tugas yang menantang dan sumber daya yang dibutuhkan.
12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan formal, pelatihan, pelatihan di tempat kerja, dan pengalaman.
13. Bagaimana menentukan pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Langkah pertama adalah menentukan bagaimana pekerjaan kita berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, identifikasi pengetahuan dan perilaku teknis yang paling berhubungan dengan keberhasilan pekerjaan, lalu evaluasi kemampuan melalui umpan balik atasan dan rekan kerja, penilaian kinerja, atau data kinerja objektif.
14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Menjadi ahli dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan formal, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, dan mengajarkan orang lain. Mengajar membuat seseorang harus memahami pekerjaan secara mendalam sehingga dapat meningkatkan kompetensi teknis dirinya sendiri.
15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Caranya dengan mencoba tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, terlibat dalam proyek tim, serta mengikuti kegiatan organisasi atau masyarakat. Hal ini membantu memahami keseluruhan operasi organisasi sekaligus mengembangkan keterampilan baru.
16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Bawahan harus bersikap aktif dalam membangun hubungan dengan atasan, bukan pasif. Caranya dengan membantu atasan mencapai keberhasilan, memberikan dukungan, memahami kebutuhan atasan, serta memberikan informasi penting mengenai perkembangan dan masalah organisasi.
17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Bawahan perlu memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan atasan. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat melengkapi kelemahan atasan dan memberikan kontribusi yang lebih efektif.
18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Tanggung jawab untuk menyesuaikan diri berada pada bawahan. Bawahan harus fleksibel terhadap cara atasan berkomunikasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berinteraksi. Selain itu, bawahan perlu mengetahui peran mereka dan menjadi pribadi yang jujur serta dapat diandalkan.
19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Hubungan efektif dibangun melalui komunikasi, kerja sama, dan pembentukan hubungan (circle) dengan rekan sejawat. Karena pekerjaan sering membutuhkan bantuan dari orang lain.
20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Hal tersebut dapat dilakukan dengan membangun komunikasi informal, terbuka mengenai kebutuhan dan tujuan sendiri, serta mau mendengarkan kebutuhan dan gagasan orang lain.
21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Caranya dengan memahami jenis tugas yang dilakukan rekan kerja serta masalah dan imbalan yang mereka hadapi. Pemimpin dapat membantu dan memahami bahwa perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh sistem imbalan yang diterimanya. Dorongan, ucapan terima kasih, dan pujian tulus juga dapat memengaruhi perilaku positif.
22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Perencanaan pengembangan terdiri dari lima fase:
(1) mengidentifikasi kebutuhan pengembangan,
(2) menganalisis dan memprioritaskan kebutuhan,
(3) menyusun rencana yang terfokus dan dapat dicapai,
(4) meninjau serta memodifikasi rencana secara berkala, dan
(5) mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru.
23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Rencana pengembangan harus ditinjau secara berkala untuk melihat apakah tujuan masih sesuai, dan apakah diperlukan sumber daya tambahan. Refleksi dapat dilakukan bersama rekan kerja atau atasan agar perkembangan dapat dievaluasi dan rencana dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.
24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Pembelajaran harus terus diterapkan dan dikembangkan dengan tiga cara utama, yaitu memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh di lingkungan baru, serta membimbing orang lain dalam menggunakan keterampilan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by MARITZA AULIA NADINE 2511011106 -
Nama : Maritza Aulia Nadine
NPM : 2511011106

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Para kandidat pemimpin sebaiknya telah membaca sebanyak mungkin tentang organisasi tersebut dengan meninjau situs web, laporan tahunan, siaran pers, dan materi pemasaran organisasi. Mereka juga sebaiknya memanfaatkan Facebook, LinkedIn, Plaxo, dan situs jejaring sosial lainnya untuk mengatur wawancara informasional dengan orang-orang di dalam organisasi. Wawancara informasional ini akan membantu kandidat memahami lebih dalam sejarah dan budaya organisasi serta memberikan wawasan tambahan mengenai posisi yang kosong. Pada suatu saat selama proses wawancara, kandidat juga sebaiknya mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan berikut:
1.Mengapa organisasi tersebut mencari kandidat dari luar untuk posisi tersebut?
2.Apa yang dapat membuat fungsi atau tim yang akan dipimpin menjadi lebih efektif?
3.Apa yang saat ini berjalan dengan baik dalam fungsi atau tim yang akan dipimpin?
4.Apa yang saat ini tidak berjalan dengan baik dalam fungsi atau tim yang akan dipimpin?
5.Apa saja hal terkait fungsi atau tim tersebut yang membuat pewawancara gelisah?
Setelah kandidat mendapatkan posisi baru, mereka sebaiknya mencari informasi tambahan mengenai pekerjaan barunya serta merencanakan beberapa kegiatan yang perlu dilakukan selama dua minggu pertama di tempat kerja. Karyawan baru

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
Pertemuan pertama sebaiknya dilakukan di kantor atasan dan berlangsung sekitar satu jam. Berikut adalah beberapa
topik utama yang perlu dibahas dalam pertemuan ini:
1.Mengidentifikasi tujuan utama, metrik, dan proyek-proyek penting tim.
2.Memahami pandangan atasan mengenai kekuatan dan kelemahan tim.
3.Menyusun jadwal rapat dan gaya komunikasi. (Bagaimana, kapan, dan mengenai hal apa atasan ingin terus
mendapat informasi?)
4.Membagikan rencana untuk hari ini dan beberapa minggu ke depan.
Karyawan baru sebaiknya mengakhiri diskusi dengan menjadwalkan pertemuan lanjutan bersama atasan mereka untuk
mengevaluasi kemajuan dan menanyakan apakah pertemuan satu lawan satu mingguan atau bulanan akan bermanfaat.
Para pemimpin baru juga sebaiknya bertemu dengan seluruh tim mereka pada hari pertama bekerja. Tergantung pada
ukuran tim, pertemuan ini dapat diadakan di ruang rapat kecil atau di auditorium besar dengan siaran langsung atau
panggilan konferensi ke lokasi jarak jauh. Biasanya, pemimpin baru membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk
berbagi latar belakang mereka, sifat dan nilai yang mereka anggap penting untuk kesuksesan, harapan bagi diri sendiri
dan karyawan, kebiasaan kerja dan cara berinteraksi yang disukai, aktivitas keluarga dan rekreasi, serta rencana
mereka untuk beberapa minggu ke depan. Setelah membagikan informasi ini, pemimpin baru sebaiknya menanyakan
kepada anggota tim apakah ada yang ingin bertanya, tetapi sebaiknya tidak mengharapkan banyak tanggapan. Karena
anggota tim belum mengenal pemimpin baru dengan baik, pertemuan awal ini cenderung lebih banyak berupa
komunikasi satu arah daripada dialog interaktif.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
Pemimpin baru sebaiknya menghabiskan dua minggu pertama untuk bertemu dengan banyak orang, baik di dalam
maupun di luar tim. Tujuan utama pertemuan-pertemuan ini adalah (1) mempelajari sebanyak mungkin, (2)
membangun hubungan, dan (3) mengidentifikasi sekutu di masa depan. Pemimpin baru perlu sangat berhati-hati
terhadap apa yang mereka katakan atau tulis dalam pertemuan-pertemuan ini karena mereka belum tahu kepada siapa
mereka dapat mempercayai rahasia. Mereka juga perlu menyadari bahwa beberapa orang yang mereka temui, entah
karena alasan apa pun, tidak senang dengan kedatangan mereka dan mungkin tidak ingin mereka berhasil.

Selama dua minggu pertama, pemimpin baru juga sebaiknya berusaha bertemu dengan individu-individu yang pernah
menjadi bagian dari tim namun kini menduduki posisi di bagian lain organisasi. Individu-individu ini dapat
memberikan wawasan unik mengenai sejarah tim dan anggotanya, dan sumber informasi ini tidak boleh diabaikan

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
Setelah putaran pertemuan awal dengan atasan, rekan kerja, dan bawahan langsung, pemimpin baru perlu
menghabiskan enam minggu berikutnya untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah, serta
menyempurnakan struktur dan penempatan staf yang tepat untuk tim. Beberapa tugas yang harus dilakukan selama
periode ini meliputi mengumpulkan informasi perbandingan dari organisasi lain, bertemu dengan pelanggan dan
pemasok eksternal utama, serta—jika sesuai—bertemu dengan pemimpin tim sebelumnya. Informasi tambahan ini,
bila digabungkan dengan informasi yang diperoleh dari atasan, rekan sejawat, bawahan langsung, dan anggota tim
unggulan, seharusnya membantu pemimpin tim baru menentukan arah yang tepat bagi tim mereka.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
Pada tahap ini dalam masa jabatan pemimpin baru, ia telah mengembangkan visi masa depan dan dapat menjelaskan
bagaimana tim akan meraih kesuksesan; mengidentifikasi apa, mengapa, dan bagaimana perubahan yang diperlukan;
serta menetapkan serangkaian ekspektasi yang jelas bagi anggota tim. Dua acara utama pada bulan ketiga adalah
pertemuan dengan seluruh tim dan pertemuan di luar kantor dengan bawahan langsung (jika timnya besar). Tujuan
pertemuan tim pertama adalah agar pemimpin baru membagikan apa yang ia pelajari dari siapa selama proses
pengumpulan informasi, visinya tentang masa depan, struktur tim dan model penempatan staf yang baru, harapannya
terhadap anggota tim, serta alasan di balik perubahan apa pun dalam tim. Pemimpin baru perlu mengaitkan perubahan
yang mereka lakukan dengan sifat dan nilai-nilai yang telah mereka sampaikan pada hari pertama mereka menjabat.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Para praktisi kepemimpinan dapat meningkatkan nilai pembelajaran dari pengalaman mereka dengan (1) menciptakan
peluang untuk mendapatkan umpan balik; (2) mengambil tantangan 10 persen di luar zona nyaman; (3) belajar dari
orang lain; (4) membuat jurnal harian tentang peristiwa-peristiwa kepemimpinan; dan (5) memiliki rencana
pengembangan.


7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
Kunci dialog yang konstruktif (yaitu, umpan balik) bukan hanya sekadar menyatakan kebijakan, tetapi juga dipandang sebagai sosok yang mudah didekati dan tulus dalam penawarannya.
Beberapa informasi paling bermanfaat untuk mengembangkan kepemimpinan Anda sendiri dapat diperoleh dengan
meminta umpan balik dari orang lain mengenai persepsi mereka terhadap perilaku Anda dan dampaknya terhadap
efektivitas keseluruhan tim Anda. Pemimpin yang mengikuti tes psikologis dan menggunakan survei atau kuesioner
berkala akan memiliki akses yang lebih besar terhadap umpan balik dibandingkan pemimpin yang gagal secara
sistematis meminta umpan balik dari bawahan mereka. Kecuali pemimpin meminta umpan balik, mereka mungkin
tidak akan mendapatkannya.


8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
Istilah “10 persen tantangan” menggambarkan upaya sukarela namun tekun untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan.
Hal ini serupa dengan latihan fisik, meskipun dalam konteks ini “melangkah keluar” berarti memperluas perilaku
Anda bukan otot Anda sedikit melampaui zona nyaman. Contohnya antara lain berupaya berbicara secara santai
dengan semua orang di kantor setidaknya sekali sehari, mencari kesempatan untuk menjadi ketua komite, atau
bersikap lebih tenang dari biasanya dalam rapat (atau lebih tegas, tergantung situasinya). Ada banyak manfaat yang
dapat diperoleh dari komitmen terhadap “latihan” berkelanjutan semacam ini untuk pengembangan diri dan
kepemimpinan.


9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
Pemimpin belajar dari orang lain, pertama-tama, dengan menyadari bahwa mereka dapat belajar dari orang lain dan,
yang terpenting, dari siapa pun. Hal ini mungkin tampak jelas, tetapi pada kenyataannya orang sering membatasi apa
dan siapa yang mereka perhatikan, dan karenanya apa yang dapat mereka pelajari. Misalnya, atlet mungkin sangat
memperhatikan bagaimana pelatih menangani situasi kepemimpinan. Namun, mereka mungkin tidak menyadari
bahwa mereka juga dapat belajar banyak dengan mengamati sutradara pertunjukan sekolah dan konduktor orkestra.
Para pemimpin tidak boleh membatasi pembelajaran mereka dengan mendefinisikan secara sempit jenis orang yang
mereka perhatikan.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
Sebuah
jurnal sebaiknya berisi entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan. Entri
jurnal dapat berupa komentar tentang kutipan yang mendalam atau menarik, anekdot, artikel koran, atau bahkan kartun
lucu tentang kepemimpinan. Entri tersebut juga dapat berisi refleksi atas peristiwa pribadi, seperti interaksi dengan
atasan, pelatih, guru, siswa, karyawan, pemain, rekan tim, teman sekamar, dan sebagainya. Catatan semacam itu dapat
menyoroti cara baik (atau buruk) seseorang menangani suatu hal, masalah yang sedang berkembang, perbedaan reaksi
orang-orang terhadap situasi tertentu, atau tokoh-tokoh dalam berita, buku, atau film. Para pemimpin juga sebaiknya
menggunakan jurnal mereka untuk “berpikir di atas kertas” mengenai bacaan kepemimpinan dari buku teks atau
program kepemimpinan formal, atau untuk menggambarkan contoh dari pengalaman pribadi mereka terkait konsep
yang dipresentasikan dalam bacaan tersebut.


11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
Langkah pertama seorang pemimpin dalam mengendalikan pengembangan pribadinya adalah mengidentifikasi
beberapa tujuan konkret. Cara lain untuk mengidentifikasi tujuan pengembangan adalah dengan melihat ke depan mengenai keterampilan baru apa yang diperlukan untuk berfungsi secara efektif pada tingkat yang lebih tinggi dalam organisasi, atau dalam peran yang berbeda dari yang saat ini diemban oleh pemimpin tersebut. Terakhir, para pemimpin dapat menggunakan tes
psikologis formal dan kuesioner untuk menentukan kekuatan dan kelemahan relatif mereka sebagai pemimpin. Sebagai penutup, ada satu kegiatan yang harus dimasukkan para pemimpin ke dalam rencana pengembangan mereka,
terlepas dari apa pun yang mungkin tercantum di dalamnya: program membaca pribadi untuk memperluas perspektif
mereka tentang kepemimpinan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
Seseorang biasanya memperoleh kompetensi teknis melalui
pendidikan formal atau pelatihan dalam topik khusus (seperti hukum, kedokteran, akuntansi, pengelasan, atau
pertukangan), pelatihan di tempat kerja, atau pengalaman.3 Banyak penelitian telah mendokumentasikan pentingnya
kompetensi teknis bagi kesuksesan dan efektivitas seseorang baik sebagai pemimpin maupun sebagai pengikut. Bagian
ini menjelaskan mengapa kompetensi teknis penting bagi pengikut dan pemimpin; bagian ini juga memberikan ide
tentang bagaimana Anda dapat meningkatkan kompetensi teknis Anda sendiri.


13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
Langkah pertama dalam membangun kompetensi teknis adalah menentukan bagaimana pekerjaan Anda berkontribusi
terhadap kesuksesan organisasi secara keseluruhan. Dengan mengambil langkah ini, Anda dapat lebih baik menentukan
pengetahuan teknis dan perilaku mana yang paling erat kaitannya dengan kesuksesan pekerjaan dan organisasi.
Selanjutnya, Anda harus mengevaluasi tingkat keterampilan teknis Anda saat ini dengan meminta umpan balik lisan dari
rekan kerja dan atasan, meninjau hasil penilaian kinerja sebelumnya, atau meninjau data kinerja objektif (seperti skor tes,
statistik tim, atau jumlah produk yang ditolak karena kualitas buruk). Tindakan-tindakan ini akan membantu Anda
memahami kekuatan dan kelemahan Anda sendiri dengan lebih baik, dan pada gilirannya dapat membantu memastikan
bahwa program pendidikan atau pelatihan formal apa pun yang Anda ikuti paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan
Anda.


14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
Ada sejumlah cara untuk menjadi ahli di bidang Anda, termasuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan formal,
mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, dan mengajar orang lain. Mengikuti kursus pendidikan dan pelatihan
yang relevan adalah salah satu cara untuk memperoleh keterampilan teknis, dan banyak perusahaan menanggung biaya
kuliah serta biaya terkait kursus tersebut. Cara lain untuk meningkatkan keahlian di bidang Anda adalah dengan
menjadi pengamat yang cermat terhadap perilaku manusia. Anda dapat belajar banyak dengan mengamati bagaimana
orang lain menangani masalah koordinasi kerja, mencapai target produksi, mendisiplinkan anggota tim, atau
membantu anggota tim yang kurang terampil untuk berkembang. Namun, sekadar mengamati bagaimana orang lain
melakukan sesuatu tidaklah seefektif mengamati dan merenungkan mengapa mereka melakukannya. Salah satu
metode refleksi adalah mencoba menjelaskan perilaku orang lain berdasarkan konsep atau teori yang dijelaskan dalam
buku ini.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
Anda dapat meningkatkan kompetensi teknis Anda dengan mencari peluang untuk memperluas pengalaman. Sama
seperti seorang anggota tim olahraga seharusnya mencoba memainkan berbagai posisi untuk lebih menghargai
kontribusi anggota tim lainnya, demikian pula seseorang seharusnya mencoba melaksanakan tugas-tugas yang terkait
dengan posisi lain dalam kelompok kerjanya untuk lebih memahami bagaimana pekerjaan tersebut berkontribusi pada
kesuksesan organisasi. Demikian pula, kunjungi bagian-bagian lain dalam organisasi untuk memahami keseluruhan
operasinya.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
Di mana pun seseorang ditempatkan dalam suatu organisasi, aspek penting dari pekerjaannya adalah membantu
atasannya meraih kesuksesan, sama seperti bagian penting dari pekerjaan atasan adalah membantu bawahan meraih
kesuksesan. Ini tidak berarti bawahan harus menjadi penjilat, bermain politik, atau memutarbalikkan informasi agar
atasan terlihat baik. Namun, bawahan harus memandang kesuksesan diri mereka sendiri dan atasannya sebagai hal
yang saling bergantung. Anggota tim adalah pemain dalam tim atasannya dan harus dievaluasi berdasarkan kesuksesan
tim, bukan hanya kesuksesan pribadi mereka. Jika tim berhasil, baik pelatih maupun anggota tim

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
Bawahan dapat melakukan sejumlah hal untuk lebih memahami dunia atasan mereka. Pertama, mereka harus berusaha
memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan mereka. Kedua, bawahan perlu menyadari bahwa atasan bukanlah manusia super; atasan tidak memiliki semua jawaban, dan mereka memiliki kelebihan serta kelemahan. Bawahan dapat memberikan kontribusi besar bagi kesuksesan tim secara keseluruhan dengan mengenali dan melengkapi kelemahan atasan serta memahami kendala dan batasan yang dimilikinya. Dalam arti yang lebih umum lagi, bawahan dapat memperkuat hubungan atasan–bawahan dengan terus memberi tahu atasan mengenai berbagai kegiatan dalam kelompok kerja atau perkembangan baru maupun peluang di bidangnya.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
Salah satu cara bawahan dapat beradaptasi dengan lebih baik terhadap gaya atasan adalah dengan mengklarifikasi
ekspektasi mengenai peran mereka dalam tim, komite, atau kelompok kerja. Pekerja muda sering kali tidak memahami
perbedaan antara deskripsi pekerjaan dan peran mereka sendiri dalam pekerjaan tersebut. Deskripsi pekerjaan adalah
pernyataan formal mengenai tugas dan aktivitas; sedangkan peran menggambarkan ciri khas pribadi yang diberikan
oleh pemegang jabatan terhadap pekerjaan tersebut.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
Menginvestasikan waktu dan upaya untuk mengembangkan hubungan yang efektif dengan rekan kerja tidak hanya memberikan manfaat langsung tetapi juga dapat memberikan manfaat jangka panjang jika suatu saat rekan kerja tersebut menduduki posisi berkuasa di masa depan. Seringkali pemimpin dipilih dari kalangan anggota suatu kelompok, komite, klub, atau tim; dan dengan
sebelumnya telah menghabiskan waktu untuk membangun hubungan yang bersahabat bukan yang antagonistik dengan anggota kelompok kerja lainnya, para pemimpin akan meletakkan landasan untuk membangun hubungan yang efektif dengan atasan dan menjadi bagian dari lingkaran dalam atasan.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
Membangun saluran komunikasi informal merupakan salah
satu cara terbaik untuk menemukan minat dan nilai-nilai bersama. Untuk melakukannya, seseorang perlu bersikap
terbuka dan jujur dalam menyampaikan kebutuhan, nilai-nilai, dan tujuannya sendiri, serta bersedia mengakui
kebutuhan, aspirasi, dan minat orang lain. Tidak ada yang dapat menghancurkan hubungan dengan rekan kerja lebih
cepat daripada seseorang yang terlalu bersemangat membagikan masalah dan keyakinannya sendiri, namun enggan
mendengarkan gagasan orang lain mengenai isu yang sama. Cara yang efektif untuk membangun hubungan dengan anggota lain dalam sebuah tim, komite, atau organisasi adalah dengan bertemu mereka dalam konteks di luar hubungan kerja biasa.


21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
Untuk mendapatkan kerja sama dari orang lain, penting untuk mengetahui faktor-faktor situasional apa yang
memperkuat perilaku positif maupun negatif pada orang lain. Dengan memahami situasi yang dihadapi orang lain
secara lebih baik, seseorang dapat menentukan apakah umpan balik positifnya (atau ketiadaan umpan balik tersebut)
berkontribusi pada, atau justru menghambat, pembentukan hubungan yang efektif dengan rekan-rekan. Orang tidak boleh meremehkan kekuatan dorongan, ucapan terima kasih, dan pujian tulus mereka sendiri dalam memengaruhi perilaku rekan kerja secara positif.


22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Fase pertama perencanaan pengembangan adalah mengidentifikasi kebutuhan pengembangan. Di sini,
para pemimpin mengidentifikasi tujuan karier, mengevaluasi kemampuan mereka berdasarkan tujuan karier tersebut,
mencari umpan balik tentang bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang lain, dan meninjau standar organisasi
yang berkaitan dengan tujuan karier mereka. Setelah informasi ini dikumpulkan, fase kedua terdiri dari menganalisis
data tersebut untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan pengembangan. Kebutuhan pengembangan yang
telah diprioritaskan kemudian digunakan untuk menyusun rencana pengembangan yang terfokus dan dapat dicapai,
yang merupakan fase ketiga dari proses ini. Fase keempat dalam perencanaan pengembangan adalah meninjau rencana
secara berkala, merefleksikan pembelajaran, serta memodifikasi atau memperbarui rencana sesuai kebutuhan. Seperti
yang mungkin Anda duga, model tindakan pengamatan refleksi (AOR), yang dijelaskan dalam Bab 2, merupakan
komponen kunci selama fase ini dalam proses perencanaan pengembangan. Fase terakhir dalam perencanaan
pengembangan adalah mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru. Hanya karena seorang pemimpin dapat
mendelegasikan tugas dengan sukses kepada tim beranggotakan tiga orang, belum

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
Merefleksikan pembelajaran Anda bersama
rekan kerja juga merupakan bentuk komitmen terbuka, dan orang-orang yang membuat komitmen terbuka jauh lebih
mungkin untuk menepatinya. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan kasus, mungkin yang terbaik adalah
mengevaluasi kemajuan Anda secara berkala bersama atasan Anda. Atasan Anda tidak boleh dibiarkan tidak
mengetahui perkembangan Anda, dan mengevaluasi kemajuan secara berkala bersama atasan Anda akan membantu
memastikan tidak ada kejutan saat penilaian kinerja.


24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
Pada dasarnya ada tiga cara untuk mentransfer pembelajaran
ke lingkungan baru. Cara pertama adalah terus memperbarui rencana pengembangan Anda. Cara lain untuk
meningkatkan pembelajaran Anda adalah dengan mempraktikkan keterampilan yang baru Anda peroleh di lingkungan
baru. Cara terakhir untuk mengasah dan menyempurnakan keterampilan Anda adalah dengan membimbing orang lain
dalam pengembangan keterampilan yang baru Anda peroleh. Beralih dari peran sebagai siswa ke peran sebagai ahli
adalah cara yang sangat baik untuk memperkuat pembelajaran Anda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Ananda Arido Pratama -
Ananda Arido Pratama
2551011026

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama: Sebagai Pemimpin
Masa transisi kepemimpinan dimulai jauh sebelum hari pertama Anda masuk kantor. Intinya adalah menyiapkan mental dan strategi.
Pelajari situasi: Pahami kenapa Anda direkrut atau dipromosikan, serta apa ekspektasi utama atasan terhadap Anda.
Kosongkan gelas: Jangan langsung membawa solusi instan. Masuki peran baru dengan pikiran terbuka untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya.

2. Bagaimana Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin?
Orang-orang akan menilai Anda sejak hari pertama. Kesan awal yang baik dibangun melalui kejelasan arah dan sikap mendengarkan.
Bersikaplah profesional, ramah, namun tegas.
Hindari langsung merombak sistem secara ekstrem; tunjukkan dulu bahwa Anda menghargai apa yang sudah dibangun oleh tim sebelumnya.

3. Bagaimana Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Fase ini adalah tentang observasi dan membangun relasi.
Dengarkan lebih banyak: Jadwalkan sesi ngobrol santai (1-on-1) dengan anggota tim untuk memahami tantangan mereka.
Petakan masalah: Cari tahu apa yang berjalan baik dan apa yang sedang mandek tanpa langsung mencari siapa yang salah.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Setelah paham kondisi lapangan, saatnya Anda mengambil langkah taktis.
Strategi: Tentukan prioritas kerja yang realistis untuk dicapai dalam jangka pendek.
Struktur & Staf: Evaluasi apakah pembagian tugas sudah pas, dan tempatkan orang-orang di posisi yang sesuai dengan keahlian terbaik mereka (the right man in the right place).

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Di bulan ketiga, Anda mulai mengeksekusi perubahan nyata.
Sampaikan visi dan rencana kerja secara transparan kepada seluruh tim.
Mulai terapkan perbaikan kecil yang bisa memberikan kemenangan cepat (quick wins) untuk membangun kepercayaan diri tim.

6. Cara Belajar dari Pengalaman 100 (83) Hari Pertama
Transisi adalah proses belajar yang intens. Evaluasi apa saja yang berhasil dan gagal. Catat hambatan terbesar yang Anda temui dan bagaimana Anda mengatasinya agar tidak terulang.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Jangan menunggu orang lain memberi masukan. Aktiflah bertanya.
Tanyakan kepada atasan, rekan kerja, dan tim secara berkala: "Adakah hal yang perlu saya perbaiki dari cara kerja saya sejauh ini?"

8. Melakukan Tantangan Tambahan
Jangan hanya berpuas diri dengan tugas rutin. Ambil inisiatif untuk terlibat di proyek cross-functional atau tantangan kecil di luar zona nyaman Anda untuk menguji kapasitas kepemimpinan.

9. Cara Belajar dari Orang Lain
Manfaatkan pengalaman para senior atau mentor di tempat kerja. Ajak mereka berdiskusi, dengarkan cerita kegagalan dan kesuksesan mereka, lalu ambil pelajaran berharganya.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Menulis jurnal harian membantu Anda merefleksikan pikiran. Tuliskan apa yang Anda pelajari hari ini, emosi atau tantangan yang dirasakan, serta keputusan penting yang sudah diambil. Ini sangat bagus untuk melacak perkembangan diri.

11. Jelaskan cara membuat rencana pengembangan!
cara menyusun rencana pengembangan diri secara sistematis:
1. Evaluasi Diri: Tentukan dua hingga tiga keterampilan yang paling mendesak untuk ditingkatkan berdasarkan pengalaman kerja sebelumnya.
2. Tetapkan Tujuan Spesifik: Buat sasaran yang terukur, contohnya: "Menguasai analisis laporan keuangan dasar dalam satu bulan."
3. Tentukan Metode Pembelajaran: Pilih cara yang paling efektif, seperti mengikuti pelatihan, membaca literatur, atau belajar langsung dari rekan kerja yang lebih berpengalaman.
4. Tentukan Indikator Keberhasilan: Buat ukuran yang jelas untuk menilai ketercapaian target, misalnya kemampuan menyelesaikan tugas tertentu secara mandiri tanpa bantuan orang lain.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Meskipun Anda seorang pemimpin, Anda tetap harus paham substansi pekerjaan tim Anda. Luangkan waktu mendalami teknis kerja inti agar Anda disegani dan tidak mudah dibohongi oleh keadaan di lapangan.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Bantu tim melihat the big picture. Jelaskan kepada setiap anggota bagaimana tugas kecil yang mereka kerjakan berdampak langsung pada kesuksesan perusahaan secara keseluruhan.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Fokuslah menguasai detail operasional dan dinamika unik di bidang Anda sampai orang lain mengandalkan keahlian Anda untuk mencari solusi.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Kunjungi divisi lain, pahami cara kerja bagian keuangan, operasional, atau pemasaran. Pemimpin yang hebat melihat bisnis secara utuh, bukan hanya dari kacamatanya sendiri.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Kunci utamanya adalah kepercayaan (trust) dan komunikasi transparan. Jangan biarkan atasan Anda dikejutkan oleh masalah besar (no surprises).

17. Memahami Dunia Atasan
Cari tahu apa yang menjadi beban pikiran atasan Anda, apa target utama mereka dari manajemen di atasnya, dan apa indikator kesuksesan yang mereka pegang.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Sesuaikan cara komunikasi Anda dengan gaya atasan. Ada atasan yang suka laporan singkat via pesan, ada juga yang lebih suka diskusi mendalam lewat meeting resmi. Ikuti ritme mereka.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Rekan sejawat adalah mitra kolaborasi, bukan pesaing. Bangun aliansi yang kuat karena Anda akan sering membutuhkan dukungan mereka untuk meloloskan sebuah program.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Cari titik temu antara target divisi Anda dan target divisi rekan sejawat. Kolaborasi akan jauh lebih mudah jika kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Pahami apa kesibukan utama rekan kerja Anda, tekanan apa yang sedang mereka hadapi, dan apa motivasi kerja mereka. Empati ini akan membuat kerja sama tim lintas departemen menjadi sangat mulus.

22.Bagaiman cara membuat perencanaan pengembangan?
Cara bikin Rencana Pengembangan Diri dalam 4 langkah singkat:
1. Cari Celah: Pilih 2-3 skill yang paling perlu diperbaiki dari pengalaman kerja lu (contoh: komunikasi atau manajemen waktu).
2. Bikin Target Spesifik: Tentukan goal yang jelas, misal: "Bulan ini mau paham dasar laporan keuangan."
3. Pilih Cara Belajar: Tentukan aksi nyatanya, entah itu minta diajarin senior, baca buku, atau ikut workshop.
4. Tentukan Ukuran Sukses: Bikin patokan berhasilnya, misal: bisa baca laporan bulanan tanpa harus nanya-nanya tim keuangan lagi.

23. Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan
Rencana tidak selalu berjalan mulus. Jika di tengah jalan Anda merasa ada skill lain yang lebih mendesak untuk dipelajari, jangan ragu untuk merevisi rencana pengembangan diri Anda.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Ilmu atau wawasan baru tidak ada artinya jika hanya disimpan. Langsung aplikasikan pelajaran yang Anda dapatkan ke dalam proyek nyata di tim Anda sehari-hari.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Gita Carcella Fourdiana Putri 2511011043 -
Nama: Gita Carcella Fourdiana Putri
NPM: 2511011043

1. Persiapan awal yang perlu dilakukan sebelum menjalankan posisi sebagai pemimpin, yaitu mencari informasi sebanyak mungkin tentang organisasi tersebut, sejarah organisasi, kondisi tim, budaya kerja, serta masalah yang sedang dihadapi organisasi. Selain itu, pemimpin juga perlu menyiapkan rencana kegiatan untuk beberapa minggu pertama, salah satunya menjadwalkan pertemuan dengan atasan dan anggota tim.

2. Cara memberikan kesan pertama sebagai pemimpin baru bisa dibangun dengan menunjukkan sikap profesional, terbuka, dan jelas dalam menyampaikan tujuan. Pada hari pertama, pemimpin sebaiknya bertemu dengan atasan untuk memahami tujuan, kondisi tim, cara komunikasi, dan ekspektasi. Setelah itu, pemimpin juga perlu memperkenalkan diri kepada seluruh tim, menjelaskan nilai-nilai yang dianggap penting, kebiasaan kerja, serta harapan terhadap tim.

3. Dalam dua minggu pertama sebaiknya digunakan untuk belajar, membangun hubungan, dan mencari orang-orang yang bisa menjadi pendukung ke depannya. Pemimpin perlu bertemu dengan anggota tim, rekan sejawat, anggota yang berprestasi, dan orang-orang yang sebelumnya pernah berada dalam tim. Dari pertemuan tersebut, pemimpin bisa mengetahui pekerjaan yang sedang berjalan, tujuan anggota tim, masalah yang ada, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai mengumpulkan informasi lebih dalam untuk menentukan arah kerja tim. Setelah memahami kondisi tim, pemimpin menyusun strategi atau visi, kemudian menyesuaikan dengan struktur tim, dan terakhir menentukan penempatan staf yang sesuai. Strategi yang baik menjadi dasar struktur dan struktur menjadi dasar dalam menempatkan orang. Sebelum mengambil keputusan besar, pemimpin juga sebaiknya meminta masukan dari atasan dan rekan sejawat.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, tujuan, perubahan struktur, dan harapan kepada seluruh anggota tim. Pemimpin harus menjelaskan apa yang berubah, mengapa perubahan diperlukan, dan bagaimana perubahan tersebut akan dilakukan. Perubahan juga tidak cukup hanya disampaikan lewat kata-kata, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata seperti keputusan mengenai promosi, penempatan staf, restrukturisasi, dan sebagainya.

6. Belajar dari pengalaman itu tidak hanya menjalaninya saja, tetapi juga mengevaluasi apa yang terjadi. Pemimpin dapat meminta umpan balik, mencoba tantangan baru sekitar 10% di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan membuat rencana pengembangan. Dengan begitu, pengalaman yang sudah dilalui bisa menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

7. Pemimpin harus aktif meminta umpan balik, terutama dari orang-orang yang bekerja bersamanya atau di bawah kepemimpinannya. Jangan hanya mengatakan bahwa pemimpin terbuka terhadap kritik, tetapi juga harus menunjukkan bahwa dirinya benar-benar mudah didekati dan mau mendengarkan. Umpan balik bisa diperoleh melalui diskusi langsung, survei, kuesioner, atau meminta orang lain menilai bagaimana perilaku pemimpin memengaruhi tim.

8. Tantangan tambahan dilakukan dengan menerapkan konsep “10 persen stretch”, yaitu mencoba melakukan sesuatu yang sedikit di luar zona nyaman. Misalnya, seseorang yang biasanya pasif dalam rapat mencoba lebih aktif menyampaikan pendapat, atau seseorang yang jarang berbicara dengan orang lain mencoba membangun komunikasi lebih sering. Tujuannya bukan melakukan perubahan besar sekaligus, tetapi meningkatkan kemampuan sedikit demi sedikit.

9. Belajar dari orang lain bisa dilakukan dengan mengamati bagaimana mereka menghadapi masalah, mengambil keputusan, berkomunikasi, atau memimpin. Kita juga bisa bertanya langsung kepada orang yang lebih berpengalaman, termasuk orang yang sebelumnya pernah memegang posisi yang sama. Jangan membatasi diri hanya belajar dari orang yang dianggap pemimpin, karena pelajaran kepemimpinan bisa ditemukan dari berbagai situasi dan berbagai orang.

10. Jurnal bagi pemimpin bukan sekadar mencatat kegiatan sehari-hari, tetapi lebih kepada mencatat pengalaman dan merefleksikan apa yang terjadi. Isinya bisa berupa pengalaman saat berinteraksi dengan atasan, bawahan, atau rekan kerja, hal yang menurut kita berhasil atau tidak berhasil, serta pelajaran yang diperoleh. Jurnal juga bisa dibaca kembali untuk melihat perkembangan cara berpikir dan kemampuan kepemimpinan dari waktu ke waktu.

11. Rencana pengembangan dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dan kemampuan apa yang perlu dikembangkan. Setelah itu, tentukan prioritas, kriteria keberhasilan, langkah-langkah yang harus dilakukan, sumber daya yang dibutuhkan, serta waktu untuk mengevaluasi perkembangan. Rencana tersebut sebaiknya realistis dan fokus pada dua atau tiga kebutuhan pengembangan utama agar lebih mudah dilakukan.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Caranya bisa melalui pendidikan atau pelatihan, pengalaman kerja, mengamati orang lain, bertanya, dan mencoba mengajarkan pengetahuan tersebut kepada orang lain. Semakin memahami pekerjaan secara mendalam, semakin mudah seseorang menjalankan tugas dan membantu orang lain.

13. Caranya dengan memahami hubungan antara pekerjaan yang kita lakukan dengan tujuan besar organisasi. Kita perlu mengetahui pekerjaan apa yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan organisasi, kemudian melihat kemampuan teknis apa yang dibutuhkan untuk menjalankannya. Setelah itu, kemampuan diri bisa dievaluasi melalui penilaian kinerja, masukan dari atasan dan rekan kerja, maupun data hasil kerja.

14. Untuk menjadi ahli, tidak cukup hanya melakukan pekerjaan berulang-ulang. Kita perlu memperdalam pengetahuan melalui pendidikan atau pelatihan, mengamati orang yang lebih berpengalaman, banyak bertanya, dan memahami alasan di balik suatu tindakan. Salah satu cara yang sangat efektif adalah mengajarkan pekerjaan tersebut kepada orang lain, karena kita akan terdorong untuk benar-benar memahami materi yang diajarkan.

15. Caranya dengan mencoba tugas atau posisi yang berbeda dari pekerjaan utama. Kita juga bisa ikut proyek bersama, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, atau terlibat dalam kegiatan di luar pekerjaan. Dengan pengalaman yang lebih luas, kita bisa memahami bagaimana setiap bagian saling berhubungan dan bagaimana pekerjaan kita berkontribusi terhadap organisasi secara keseluruhan.

16. Hubungan yang baik dengan atasan dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, dan sikap saling mendukung. Sebagai bawahan, kita tidak seharusnya hanya menunggu arahan, tetapi juga aktif membantu atasan mencapai tujuan organisasi. Kita perlu menunjukkan bahwa keberhasilan kita dan keberhasilan atasan sebenarnya saling berkaitan.

17. Kita perlu memahami tujuan, nilai, prioritas, cara berpikir, dan gaya kerja atasan. Selain itu, kita juga harus memahami kelebihan, kelemahan, serta keterbatasan yang dimiliki atasan. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa mengetahui cara terbaik untuk memberikan bantuan dan mendukung pekerjaan atasan.

18. Beradaptasi berarti menyesuaikan cara kerja dan komunikasi dengan gaya atasan, bukan memaksa atasan mengikuti gaya kita. Misalnya, jika atasan lebih suka menerima informasi melalui laporan tertulis, maka kita perlu menggunakan cara tersebut. Kita juga perlu memahami gaya pengambilan keputusan, komunikasi, dan interaksi atasan.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi yang baik, saling membantu, dan membangun kepercayaan. Kita juga perlu memahami bahwa pekerjaan tidak bisa dilakukan sendirian sehingga kerja sama dengan orang lain sangat penting. Hubungan yang baik akan membuat kita lebih mudah mendapatkan dukungan dan menyelesaikan pekerjaan bersama.

20. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah kita perlu mengetahui apa yang menjadi tujuan, nilai, kebutuhan, dan kepentingan rekan kerja. Setelah itu, cari bagian yang sama dengan tujuan kita. Hal ini bisa dilakukan melalui komunikasi informal dan menjadi pendengar yang baik, bukan hanya membicarakan kepentingan diri sendiri.

21. Kita perlu memahami jenis pekerjaan yang dilakukan rekan, masalah yang mereka hadapi, dan hal-hal yang membuat mereka termotivasi. Dengan memahami kondisi tersebut, kita tidak mudah menilai seseorang hanya dari perilakunya. Bisa saja perilaku seseorang dipengaruhi oleh situasi atau sistem imbalan yang ada. Karena itu, membantu rekan ketika mengalami masalah serta memberikan apresiasi yang tulus dapat memperkuat hubungan kerja.

22. Perencanaan pengembangan dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, menentukan tujuan karier dan kebutuhan pengembangan. Kedua, menentukan bagaimana keberhasilan akan diukur. Ketiga, membuat langkah tindakan yang spesifik dan bisa dilakukan di tempat kerja. Rencana tersebut juga perlu memiliki umpan balik, sumber daya, dan waktu untuk melakukan refleksi.

23. Setelah menjalankan rencana, kita perlu melihat kembali apakah tujuan yang dibuat masih sesuai, apa yang sudah berhasil, dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Evaluasi sebaiknya dilakukan secara berkala bersama atasan atau orang yang dipercaya. Dari hasil refleksi tersebut, rencana bisa diperbaiki atau disesuaikan dengan kebutuhan baru.

24. Hasil belajar sebaiknya tidak berhenti di lingkungan tempat kita mendapat pengalaman tersebut. Kita bisa menerapkannya dalam situasi atau lingkungan yang berbeda, terus memperbarui rencana pengembangan, dan mencoba keterampilan baru tersebut. Cara lainnya dengan membimbing atau mengajarkan keterampilan itu kepada orang lain, karena mengajarkan kembali dapat membuat pemahaman kita semakin kuat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Nalisa Amalia 2511011027 -
NAMA: Nalisa Amalia
NPM: 2511011027

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Pemimpin perlu mempersiapkan diri sebelum mulai bekerja dengan mempelajari organisasi, budaya, kondisi tim, dan pekerjaan yang akan dijalankan. Pemimpin juga perlu mencari informasi tambahan dan menyiapkan rencana kegiatan untuk beberapa minggu pertama agar bisa menjalankan peran barunya dengan lebih siap.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan seluruh tim. Pemimpin dapat menjelaskan latar belakang, nilai yang dianggap penting, harapan, cara berinteraksi, kebiasaan kerja, dan rencana untuk beberapa minggu ke depan.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
Pemimpin menggunakan dua minggu pertama untuk bertemu dengan orang-orang di dalam maupun di luar tim. Pemimpin perlu belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, mencari sekutu, serta memahami pekerjaan, tujuan, masalah, dan kemampuan anggota tim.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
Selama dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi tambahan, menentukan arah tim, lalu menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf. Pemimpin harus menempatkan strategi sebagai dasar struktur, kemudian struktur menjadi dasar penempatan staf agar tim dapat bekerja secara efektif.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
Pada bulan ketiga, pemimpin mengomunikasikan visi, struktur tim, penempatan staf, harapan, serta alasan perubahan kepada anggota tim. Pemimpin juga menetapkan tujuan yang jelas, menyusun ritme operasional, dan membentuk tim tugas untuk menangani perubahan utama.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman
100 hari pertama?
Pemimpin dapat belajar dari pengalaman dengan menciptakan kesempatan mendapatkan umpan balik, melakukan tantangan 10 persen di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal, dan memiliki rencana pengembangan. Cara ini membantu pemimpin mengambil pelajaran dari pengalaman yang sudah dijalani.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
Pemimpin perlu secara aktif meminta umpan balik, terutama dari orang yang bekerja di bawahnya. Pemimpin dapat menggunakan diskusi, survei, kuesioner, atau penilaian untuk mengetahui bagaimana orang lain melihat perilaku dan dampaknya terhadap efektivitas tim.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
Pemimpin dapat melakukan “tantangan 10 persen”, yaitu mencoba mengembangkan perilaku sedikit di luar zona nyaman. Contohnya, pemimpin mencoba lebih sering berbicara dengan orang lain, menjadi ketua kegiatan, atau mengubah cara bersikap dalam rapat.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
Pemimpin dapat belajar dari siapa pun dengan mengamati cara orang lain menghadapi berbagai situasi. Pemimpin juga dapat bertanya kepada orang yang pernah memegang suatu posisi dan mengambil pelajaran dari kejadian sehari-hari.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
Pemimpin dapat membuat jurnal dengan mencatat pengalaman, interaksi dengan orang lain, kutipan, artikel, atau kejadian yang berkaitan dengan kepemimpinan. Pemimpin kemudian dapat membaca kembali catatan tersebut untuk melihat perkembangan cara berpikir dan mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
Pemimpin perlu menentukan tujuan pengembangan dan mencari tahu kemampuan yang sudah dimiliki serta kemampuan yang masih perlu dikembangkan. Pemimpin dapat menggunakan umpan balik dari atasan dan rekan kerja, evaluasi kinerja, serta pengalaman kerja untuk menentukan kebutuhan pengembangannya.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
Pemimpin dapat membangun kompetensi teknis melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, dan latihan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan. Kompetensi teknis membantu pemimpin memahami pekerjaan, melatih bawahan, mengurangi konflik, dan meningkatkan efektivitas tim.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
Pemimpin perlu memahami hubungan antara pekerjaannya dengan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, pemimpin dapat menentukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang paling dibutuhkan dengan meminta umpan balik, melihat penilaian kinerja, dan memeriksa data hasil kerja.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
Pemimpin dapat menjadi ahli dengan mengikuti pendidikan atau pelatihan, mengamati orang yang lebih berpengalaman, mengajukan pertanyaan, dan mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Pemimpin juga perlu memahami mengapa seseorang melakukan suatu tindakan, bukan hanya melihat bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, dan ikut dalam proyek bersama unit kerja lain. Pemimpin juga dapat mengikuti kegiatan organisasi atau masyarakat untuk mengembangkan keterampilan baru.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
Bawahan perlu membangun hubungan dengan atasan secara aktif, bukan hanya menunggu atasan membangun hubungan tersebut. Bawahan perlu membantu atasan mencapai keberhasilan karena keberhasilan bawahan dan atasan saling berkaitan dalam keberhasilan tim.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
Bawahan perlu memahami tujuan pribadi dan tujuan organisasi atasannya, termasuk nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta kendalanya. Bawahan juga dapat melengkapi kelemahan atasan dan memberikan informasi penting mengenai perkembangan pekerjaan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
Bawahan perlu menyesuaikan diri dengan gaya atasannya dalam berkomunikasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berinteraksi. Bawahan juga perlu memahami ekspektasi atasannya terhadap peran yang dijalankan serta bersikap jujur dan dapat diandalkan.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
Pemimpin perlu membangun hubungan dengan rekan sejawat karena pekerjaan sering membutuhkan bantuan dan sumber daya dari orang lain. Pemimpin dapat membangun hubungan tersebut melalui komunikasi, kerja sama, dan pembentukan aliansi dengan rekan kerja.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
Pemimpin perlu mengetahui tujuan, nilai, minat, dan harapan rekan sejawat. Pemimpin dapat menemukannya melalui komunikasi informal, keterbukaan mengenai kebutuhan sendiri, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan serta kepentingan orang lain.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
Pemimpin perlu memahami tugas yang dijalankan rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan yang memengaruhi perilaku mereka. Pemahaman ini membantu pemimpin menentukan cara memberikan bantuan, umpan balik, dan penghargaan yang sesuai.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Pemimpin membuat perencanaan pengembangan melalui lima fase yaitu mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis dan menentukan prioritas, menyusun rencana, meninjau serta memodifikasi rencana, lalu menerapkan pembelajaran di lingkungan baru. Pemimpin dapat menggunakan analisis GAPS, yaitu Goals, Abilities, Perceptions, dan Standards, untuk melihat kesenjangan antara kondisi saat ini dan tujuan yang ingin dicapai.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
Pemimpin perlu mengevaluasi perkembangan secara berkala dan melihat apakah tujuan yang dibuat masih sesuai dan jika ada perubahan kebutuhan atau cara yang lebih baik, pemimpin dapat memodifikasi rencana dan membahas perkembangannya bersama atasan atau rekan yang dipercaya.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
Pemimpin perlu menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari pada situasi atau lingkungan yang berbeda. Pemimpin dapat memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan di lingkungan baru, dan membimbing orang lain agar kemampuan tersebut semakin kuat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Zaskya Khoirun 2511011071 -
Nama: Zaskya Khoirun Nisa
NPM: 2511011071

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Sebelum memulai maka perlu melakukan persiapan yaitu berupa pengumpulan data pra-perekkrutan. Orang-orang yang ingin pindah ke peran kepemimpinan harus memahami lebih dalam tentang sejarah dan budaya organisasi, membaca informasi organisasi dengan meninjau situs web, laporan tahunan, siaran pers, dan materi pemasaran organisasi. Setelah kandidat mendapatkan posisi baru, sebaiknya mencari informasi tambahan mengenai pekerjaan barunya serta merencanakan beberapa kegiatan yang perlu dilakukan selama dua minggu kedepan. Sekaligus menanyakan kepada atasan tentang metrik yang berkaitan dengan kelompok yang akan dipimpin, informasi anggaran, informasi kontak bawahan langsung, atau menanyakan cara mengurus fasilitas yang diberikan perusahaan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
Di hari pertama pemimpin hanya memiliki satu kesempatan untuk membuat kesan pertama. Pertemuan pertama sebaiknya dilakukan di kantor atasan dan membahas topik tentang mengidentifikasi tujuan utama, metrik, dan proyek-proyek penting tim, kekuatan dan kelemahan tim, menyusun jadwal rapat dan gaya komunikasi, serta membagikan rencana hari ini dan beberapa minggu ke depan. Para pemimpin baru juga sebaiknya bertemu dengan seluruh tim mereka pada hari pertama bekerja, untuk berbagi latar belakang, sifat, nilai, harapan, kebiasaan kerja dan cara berinteraksi, aktivitas keluarga dan rekreasi, serta rencana mereka untuk beberapa minggu ke depan. Pada pertemuan awal ini cenderung lebih banyak berupa komunikasi satu arah daripada dialog interaktif.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Pemimpin baru sebaiknya bertemu dengan banyak orang untuk mempelajari sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan, termasuk didalamnya mengadakan pertemuan satu lawan satu dengan anggota tim dan rekan sejawat. Berbeda dengan pertemuan yang bersifat pribadi, pemimpin baru perlu menjadwalkan pertemuan rutin dengan rekan-rekan untuk memperkuat hubungan dan membantu mengantisipasi potensi konflik atau masalah kerja.
Selama dua minggu pertama, pemimpin baru juga bertemu dengan individu-individu yang pernah menjadi bagian dari tim namun kini menduduki posisi di bagian lain organisasi, ini dapat memberikan wawasan unik mengenai sejarah tim dan anggotanya, dan sumber informasi ini tidak boleh diabaikan.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
Pemimpin baru perlu mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah, serta menyempurnakan struktur dan penempatan staf yang tepat untuk tim. Serta mengumpulkan informasi perbandingan dari organisasi lain, bertemu dengan pelanggan dan pemasok eksternal utama, dan bertemu dengan pemimpin tim sebelumnya yang akan membantu menentukan arah dan visi tim. Selain itu, pemimpin baru dapat membahas strategi, struktur, dan gagasan kepegawaian mereka dengan atasan serta rekan sejawat sebelum mengambil keputusan apa pun terkait kepegawaian sekaligus mengumpulkan masukan dan membahas potensi gangguan.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
Pemimpin baru perlu mengidentifikasi apa, mengapa, dan bagaimana perubahan yang diperlukan, serta menetapkan serangkaian ekspektasi yang jelas bagi anggota tim. Mengadakan pertemuan dengan seluruh tim, pertemuan di luar kantor dengan bawahan langsung dan perlu mengaitkan perubahan yang mereka lakukan dengan sifat dan nilai-nilai yang telah mereka sampaikan pada hari pertama mereka menjabat. Pemimpin baru perlu membuat kartu penilaian tim dan menetapkan ritme operasional baru.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Para pemimpin dapat meningkatkan nilai dari pengalaman belajar mereka melalui:
(1) menciptakan kesempatan untuk menerima masukan
(2) menghadapi tantangan 10 persen di luar zona nyaman
(3) belajar dari orang lain
(4) menulis jurnal harian mengenai peristiwa kepemimpinan
(5) memiliki rencana untuk pengembangan diri.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
Mengembangkan kepemimpinan dapat diperoleh dengan meminta umpan balik dari orang lain mengenai persepsi mereka terhadap perilaku Anda dan dampaknya terhadap efektivitas keseluruhan tim Anda. Pemimpin yang mengikuti tes psikologis dan menggunakan survei atau kuesioner berkala akan memiliki akses yang lebih besar terhadap umpan balik dibandingkan pemimpin yang gagal secara sistematis meminta umpan balik dari bawahan mereka.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
10 persen tantangan adalah upaya untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan. Contohnya dengan berupaya berbicara secara santai dengan semua orang di kantor setidaknya sekali sehari, mencari kesempatan untuk menjadi ketua komite, atau bersikap lebih tenang dari biasanya dalam rapat (atau lebih tegas, tergantung situasinya).
Manfaat melakukan ini anatara lain mengurangi rasa cemas ketika melakukan hal baru, para pemimpin akan menambah variasi kemampuan kepemimpinan mereka, memungkinkan meningkatkan kemampuan kepemimimpinan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
Pemimpin perlu menyadari bahwa mereka dapat belajar dari orang dengan mengajukan pertanyaan, memperhatikan situasi sehari-hari, dan sebaiknya berbicara dengan orang yang sebelumnya menduduki posisi tersebut untuk memanfaatkan wawasan, pengalaman, dan penilaiannya terhadap situasi tersebut. Para pemimpin dapat belajar banyak dengan secara aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi dan menangani berbagai tantangan serta situasi, bahkan yang umum sekalipun.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
Jurnal ini berisi entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan, dapat berupa komentar tentang kutipan yang mendalam atau menarik, anekdot, artikel koran, atau bahkan kartun lucu tentang kepemimpinan. Selain itu, dapat berisi refleksi atas peristiwa pribadi, seperti interaksi dengan atasan, pelatih, karyawan, rekan tim, dan sebagainya. Ini akan menyoroti baik buruk seseorang menangani suatu hal, masalah yang sedang berkembang, perbedaan reaksi orang-orang terhadap situasi tertentu, atau tokoh-tokoh dalam berita, buku, atau film.
Alasan baik menulis jurnal:
(1) Memungkinkan melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda atau merasakan hal yang berbeda tentangnya.
(2) Membaca ulang entri-entri sebelumnya
(3) Gudang ide yang kelak mungkin digunakan para pemimpin secara lebih formal untuk makalah, motivasi atau pidato.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
Rencana pengembangan diri akan membantu para pemimpin memanfaatkan peluang. Dimulai dari mengidentifikasi beberapa tujuan konkret meminta umpan balik, memperhatikan interaksi rekan sejawat sebagai sumber ide mengenai hal-hal yang perlu mereka perbaiki, meninjau peran dalam situasi dengan objektif, melihat ke depan mengenai keterampilan baru yang efektif, dan menggunakan tes psikologis formal dan kuesioner untuk menentukan kekuatan dan kelemahan relatif mereka sebagai pemimpin.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
Seseorang biasanya memperoleh kompetensi teknis melalui pendidikan formal, pelatihan khusus, pelatihan di tempat kerja, dan berdasarkan pengalaman. Kompetensi teknis akan menguntungkan bagi para pemimpin. Karena berkaitan dengan tingkat promosi manajerial, banyak pemimpin menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk melatih bawahan, mampu mengurangi tingkat ambiguitas peran dan konflik dalam kelompok mereka. Selain itu, mampu mendorong pengikut untuk memikirkan masalah dan isu dengan cara baru, yang sangat terkait dengan penilaian iorganisasi dan motivasi untuk meraih kesuksesan.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengevaluasi tingkat keterampilan teknis saat ini dengan meminta umpan balik lisan dari rekan kerja dan atasan, meninjau hasil penilaian kinerja sebelumnya atau meninjau data kinerja objektif. Hal ini akan membantu memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri dengan lebih baik.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
Seorang pemimpin dapat engikuti program pendidikan dan pelatihan formal, mengikuti kursus Pendidikan atau pelatihan yang relevan mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, dan mengajar orang lain. Lalu dengan mengamati bagaimana orang lain menangani masalah koordinasi kerja, mencapai target produksi, mendisiplinkan anggota tim, atau membantu anggota tim yang kurang terampil untuk berkembang.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
Peluang didapatkan dengan melaksanakan tugas-tugas yang terkait dengan posisi lain dalam kelompok kerjanya untuk lebih memahami bagaimana pekerjaan tersebut berkontribusi pada kesuksesan organisasi. Lalu dengan mengunjungi bagian-bagian lain dalam organisasi untuk memahami keseluruhan operasinya. Selain itu, dengan bekerja dalam proyek tim berinteraksi dengan anggota unit kerja lain dan sering kali dapat mengembangkan keterampilan baru.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
Bawahan yang efektif telah belajar bagaimana cara mengambil langkah-langkah aktif untuk memperkuat hubungan serta meningkatkan dukungan yang mereka berikan kepada atasan dan organisasi. Meraka akan membantu atasannya meraih kesuksesan, memahami cara pandang atasan terhadap dunia dan menyesuaikan diri dengan gaya atasan yang akan meningkatkan kemungkinan bahwa tindakan mereka akan memberikan hasil positif bagi diri mereka sendiri, atasan mereka, dan organisasi mereka.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
Seoarang bawahan harus berusaha memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan mereka berupa loyalitas dan dukungan yang bersifat timbal balik. Selain itu, mereka perlu menyadari bahwa atasan atasan tidak selalu memiliki semua jawaban, dan mereka memiliki kelebihan serta kelemahan, yang paling penting adalah tidak boleh pernah menempatkan atasannya dalam situasi yang memalukan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
Kemampuan beradaptasi sanagat penting, yang bisa dilakukan pertama kali adalah dengan mengklarifikasi ekspektasi mengenai peran mereka dalam tim, komite, atau kelompok kerja, membuat daftar tanggung jawab utama dan menggunakannya sebagai panduan dalam diskusi dengan atasan mengenai berbagai cara pelaksanaan tugas tersebut serta prioritas relatif dari masing-masing tugas, serta menjadi seseorang yang bersikap jujur dan dapat diandalkan.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
Efektivitas kepemimpinan adalah kemampuan untuk membangun aliansi yang kuat dengan orang lain, dan kelompok rekan kerja umumnya memiliki pengaruh yang lebih besar daripada individu yang bekerja secara terpisah sekaligus dapat memberikan manfaat jangka panjang jika suatu saat rekan kerja tersebut menduduki posisi berkuasa di masa depan.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
Membangun saluran komunikasi informal merupakan salah satu cara terbaik untuk menemukan minat dan nilai-nilai bersama. Seseorang perlu bersikap terbuka dan jujur dalam menyampaikan kebutuhan, nilai-nilai, dan tujuannya sendiri, serta bersedia mengakui kebutuhan, aspirasi, dan minat orang lain.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
Memahami rekan sejawat dapat dilakukan dengan membantu rekan kerja setiap kali mereka menghadapi masalah pribadi atau organisasi. Hal ini akan membantu seseorang menentukan apakah umpan balik positifnya berkontribusi atau justru menghambat, pembentukan hubungan yang efektif.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Ada 2 fase penting dalam menyusun rencana pengembangan
(1) Fase pertama dengan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, mengidentifikasi tujuan karier, mengevaluasi kemampuan
(2) Fase kedua dengan menganalisis data tersebut untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan pengembangan, menyusun rencana pengembangan yang terfokus dan dapat dicapai dan meninjau rencana secara berkala, merefleksikan pembelajaran, serta memodifikasi atau memperbarui rencana sesuai kebutuhan.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
Fase perencanaan pengembangan membantu menilai apakah tujuan akhir masih tepat, apakah ada rute alternatif yang mungkin lebih baik, dan apakah diperlukan sumber daya atau peralatan tambahan. Merefleksikan pembelajaran merupakan bentuk komitmen terbuka, dan orang-orang yang membuat komitmen terbuka jauh lebih mungkin untuk menepatinya. Refleksi ini akan mengevaluasi kemajuan secara berkala bersama atasan untuk memastikan tidak ada kejutan saat penilaian kinerja.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
Hasil belajar dapat diubah, dimodifikasi, atau diperbarui seiring belajar dari pengalaman, menerima umpan balik, memperoleh keterampilan baru, dan memenuhi kebutuhan pengembangan yang ditargetkan. Pada dasarnya ada tiga cara untuk mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru, yaitu dengan terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh dari lingkungan baru, dan membimbing orang lain dalam pengembangan keterampilan yang baru diperoleh. Beralih dari peran sebagai siswa ke peran sebagai ahli adalah cara yang sangat baik untuk memperkuat pembelajaran Anda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Farrel putra Fadhila -
Nama:Farrel Putra Fadhila
Npm:2511011157


1.Persiapan awal dilakukan dengan mempelajari organisasi, budaya, sejarah, kondisi tim, serta posisi yang akan dipimpin. Pemimpin juga perlu mengumpulkan informasi dari atasan dan orang-orang di dalam organisasi serta menyiapkan agenda kegiatan untuk minggu-minggu pertama. Tujuannya agar pemimpin tidak memasuki jabatan baru tanpa informasi dan arah yang jelas.

2.Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu atasan dan seluruh tim. Dengan atasan, bahas tujuan utama, metrik, proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta pola komunikasi. Kepada tim, sampaikan latar belakang, nilai-nilai, harapan, kebiasaan kerja, dan rencana ke depan. Kesan pertama harus menunjukkan bahwa pemimpin terbuka, jelas, dan memiliki arah.

3.Dua minggu pertama digunakan untuk:
Bertemu anggota tim secara langsung,
Mempelajari pekerjaan dan masalah yang sedang dihadapi,
Membangun hubungan kerja,
Mengidentifikasi orang-orang yang dapat menjadi sekut,
Bertemu rekan kerja dan anggota tim berprestasi,

4.Pada dua bulan pertama , digunakan untuk mengumpulkan informasi lebih luas, menentukan arah tim, dan menyempurnakan struktur serta penempatan staf. Pemimpin perlu menentukan visi dan strategi terlebih dahulu, kemudian menentukan struktur tim, dan terakhir menentukan orang yang tepat untuk setiap posisi.

5.Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, harapan, dan alasan perubahan kepada seluruh tim. Perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya melalui presentasi atau slogan.

6.Pemimpin dapat memperoleh umpan balik dengan secara aktif meminta pendapat dari anggota tim, bawahan, rekan kerja, dan atasan. Pemimpin harus benar-benar terbuka terhadap kritik dan tidak hanya mengatakan bahwa dirinya terbuka untuk berdiskusi.

7.Pemimpin harus secara aktif meminta umpan balik, terutama dari orang yang bekerja di bawahnya. Jangan hanya mengatakan memiliki “kebijakan pintu terbuka”, tetapi harus benar-benar menunjukkan bahwa dirinya mudah didekati dan tulus menerima kritik.

8.mencoba melakukan sesuatu sedikit di luar zona nyaman secara sukarela dan terus-menerus.
Contohnya:Lebih sering berbicara dengan rekan kerja,
Berani menjadi ketua suatu kegiatan.
Tujuannya untuk memperluas kemampuan dan meningkatkan efektivitas kepemimpinan.

9.Pemimpin harus menyadari bahwa siapa pun dapat menjadi sumber pembelajaran. Pemimpin dapat belajar dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah, bertanya kepada orang yang berpengalaman, dan mempelajari cara mereka mengambil keputusan.

10.Jurnal pemimpin bukan hanya buku harian, tetapi catatan mengenai pengalaman, pemikiran, dan pembelajaran tentang kepemimpinan.Misalnya:Pengalaman menghadapi masalah,
Interaksi dengan atasan, bawahan, atau rekan kerja,
Hal yang berhasil dan tidak berhasil.Jurnal membantu pemimpin melihat pengalaman dari sudut pandang berbeda, mengevaluasi perkembangan diri, dan menyimpan ide untuk masa depan.

11.Pertama, tentukan tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu cari tahu kemampuan yang masih kurang, tentukan prioritas, buat langkah tindakan yang jelas, tentukan siapa yang akan memberikan umpan balik, dan tentukan kapan perkembangan akan dievaluasi. Rencana ini harus realistis dan fokus pada beberapa kebutuhan utama saja.

12.•Mengikuti pendidikan atau pelatihan.
•Belajar melalui pengalaman kerja.
•Mengamati orang yang lebih ahli.
•Bertanya dan mencari informasi.
•Mengajarkan pengetahuan kepada orang lain.
Kompetensi teknis penting karena membantu pemimpin meningkatkan kinerja, melatih bawahan, mengurangi konflik dan ketidakjelasan pekerjaan.

13.Pertama, kita harus pahami bagaimana pekerjaan yang dilakukan berhubungan dengan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, tentukan pengetahuan dan keterampilan yang paling penting untuk mendukung keberhasilan tersebut.
Kemudian evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik dari atasan dan rekan kerja, hasil penilaian kinerja, serta data kinerja yang objektif.

14.Dengan terus belajar atau mengikuti pendidikan dan pelatihan,Mengamati orang yang lebih berpengalaman,
Aktif bertanya,Menganalisis alasan di balik tindakan orang lain,Mengajarkan pekerjaan kepada orang lain.

15.dengan cara mencoba tugas atau posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, terlibat dalam proyek lintas unit, dan mengikuti kegiatan organisasi atau masyarakat.
Dengan pengalaman yang lebih luas, pemimpin akan lebih memahami bagaimana setiap bagian berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi serta memperoleh keterampilan baru.

16.Dengan Memahami tujuan, harapan, dan cara kerja atasan,Memberikan informasi penting secara rutin dan tidak membuat atasan mendapat kejutan,Membantu atasan mencapai keberhasilan tim,
Menyampaikan pendapat dan informasi secara jujur serta profesional.

17.Kita harus mengetahui tanggung jawab, tekanan, tujuan, masalah, dan prioritas yang dihadapi atasan. Caranya adalah memahami target tim, mengetahui informasi apa yang dibutuhkan atasan, serta melihat keberhasilan diri sebagai bagian dari keberhasilan atasan dan organisasi.

18.Misalnya, jika atasan lebih menyukai laporan tertulis, gunakan memo atau laporan tertulis daripada hanya komunikasi lisan.

19.Dengan Membangun komunikasi yang terbuka, Saling membantu ketika menghadapi masalah,
Menghargai pendapat dan kemampuan rekan,
Melakukan pertemuan secara rutin,Membangun hubungan sosial di luar aktivitas kerja bila memungkinkan.

20.Dengan mencari tahu nilai, kepentingan, tujuan, dan harapan rekan sejawat. Kemudian temukan persamaan dengan tujuan kita. Hal ini dapat dilakukan melalui komunikasi informal, bersikap terbuka, menyampaikan tujuan sendiri, serta mau mendengarkan kebutuhan dan pendapat orang lain.

21.Kita harus memahami jenis pekerjaan dan tanggung jawab rekan, mengetahui masalah yang mereka hadapi, serta memahami hal-hal yang menjadi penghargaan atau imbalan bagi mereka. Dengan memahami kondisi tersebut, kita dapat memberikan bantuan yang tepat dan membangun rasa saling menghormati.

22.Dimulai dengan Menentukan tujuan karier dan pengembangan,Menentukan kriteria keberhasilan,
Menentukan tindakan yang harus dilakukan,Menentukan pengalaman atau tugas yang dapat membantu pengembangan,Menentukan sumber daya seperti buku, kursus, atau pelatihan.

23.Kita perlu melakukan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan diri. Tanyakan apakah tujuan masih sesuai, apakah ada cara yang lebih baik, dan apakah diperlukan sumber daya tambahan. Hasil evaluasi dan umpan balik kemudian digunakan untuk mengubah atau memperbarui rencana pengembangan. Evaluasi juga sebaiknya dilakukan bersama atasan agar perkembangan tetap diketahui dan tidak menimbulkan kejutan saat penilaian kinerja.

24.Hasil belajar diterapkan dengan menjadikan rencana pengembangan sebagai dokumen yang dinamis, yaitu terus diperbarui berdasarkan pengalaman, umpan balik, dan keterampilan baru. Pembelajaran yang diperoleh kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan baru sehingga dapat digunakan secara efektif dalam situasi yang berbeda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Zayyan Utami N 2511011032 -
Nama: Zayyan Utami N.
NPM: 2511011032

1. Persiapan awal dilakukan dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai organisasi, sejarah, budaya, tim, posisi yang akan dipimpin, tujuan, ukuran kinerja, serta kondisi pekerjaan. Pemimpin juga perlu menyiapkan rencana untuk dua minggu pertama dan mulai membangun hubungan dengan atasan serta anggota tim.

2. Kesan pertama sebagai pemimpin dibangun melalui pertemuan dengan atasan dan anggota tim. Dengan atasan, pemimpin perlu membahas tujuan utama, ukuran keberhasilan, proyek penting, kekuatan dan kelemahan, serta gaya komunikasi. Dengan tim, pemimpin dapat menjelaskan latar belakang, nilai, harapan, kebiasaan kerja, dan rencana ke depan.

3. Dua minggu pertama: membangun fondasi dilakukan dengan belajar sebanyak mungkin dan membangun hubungan. Pemimpin perlu:
- Mengenal anggota tim dan rekan kerja
- Mengidentifikasi orang-orang yang dapat menjadi pendukung atau sekutu
- Memahami masalah dan tujuan tim
- Mengenali karyawan berkinerja tinggi dan posisi yang penting bagi tim

4. Dua bulan pertama: menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf digunakan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah dan visi, kemudian menyempurnakan struktur serta penempatan staf. Keputusan mengenai personel sebaiknya didiskusikan dengan atasan dan rekan sejawat serta dijelaskan kepada anggota yang terdampak.

5. Bulan ketiga: mengomunikasikan dan mendorong perubahan dilakukan dengan menjelaskan visi, alasan perubahan, struktur dan penempatan staf yang baru, serta harapan pemimpin terhadap tim. Pemimpin juga perlu menyepakati nilai dan karakteristik yang diinginkan, target dan ukuran keberhasilan, pola kerja, serta membentuk tim tugas untuk perubahan penting.

6. Belajar dari pengalaman 100 hari pertama dapat dilakukan melalui beberapa cara menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik, belajar dari orang lain, membuat jurnal, membuat rencana pengembangan.

7. Menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik berarti pemimpin harus secara aktif meminta pendapat mengenai kinerja dan perilakunya, terutama dari bawahan. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau tes psikologis.

8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil 10% stretch, yaitu secara sukarela melakukan sesuatu yang sedikit berada di luar zona nyaman untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

9. Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati bagaimana orang lain menyelesaikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi dengan orang yang memiliki pengalaman. Pemimpin juga dapat belajar dari orang yang sebelumnya pernah memegang posisi tersebut.

10. Membuat jurnal bagi pemimpin bukan sekadar mencatat kegiatan sehari-hari, tetapi merefleksikan pengalaman kepemimpinan, interaksi dengan orang lain, peristiwa penting, bacaan, dan perilaku pemimpin yang diamati.

11. Membuat rencana pengembangan merupakan proses sistematis untuk mengembangkan diri berdasarkan hasil evaluasi kinerja, umpan balik dari atasan dan rekan kerja, kebutuhan keterampilan di masa depan, serta hasil tes atau kuesioner. Langkah awalnya dapat dilakukan dengan Analisis GAPS, yaitu:
G – Goals: tujuan yang ingin dicapai
A – Abilities: kemampuan yang dimiliki saat ini
P – Perceptions: bagaimana diri kita dipersepsikan oleh orang lain
S – Standards: standar yang harus dipenuhi

12. Membangun kompetensi teknis dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan formal, pelatihan di tempat kerja, serta pengalaman.

13. Memahami hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan keberhasilan organisasi. Pemimpin perlu mengetahui pengetahuan teknis dan perilaku apa yang dibutuhkan agar pekerjaan tersebut dapat mendukung tujuan organisasi secara keseluruhan.

14. Dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, mengamati orang yang lebih berpengalaman, mengajukan pertanyaan, dan mengajarkan pekerjaan kepada orang lain.

15. Mencari peluang untuk memperluas pengalaman dapat dilakukan dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengunjungi unit organisasi lain, berpartisipasi dalam proyek tim, menjadi sukarelawan untuk tugas tertentu.

16. Membangun hubungan efektif dengan atasan dilakukan dengan secara aktif memperkuat hubungan, mendukung atasan dan organisasi, serta memahami bahwa keberhasilan pemimpin dan atasannya saling bergantung.

17. Memahami dunia atasan berarti memahami tujuan pribadi dan organisasi, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan atasan. Pemimpin juga perlu melengkapi kelemahan atasannya, memberikan informasi penting, menjaga atasan tetap mengetahui perkembangan pekerjaan, dan menghindari kejutan yang dapat mempermalukan atasan.

18. Beradaptasi dengan gaya atasan merupakan tanggung jawab bawahan. Pemimpin perlu menyesuaikan cara berkomunikasi, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan berinteraksi sesuai dengan gaya atasannya. Pemimpin juga harus memahami harapan peran dan mendiskusikan tanggung jawab serta prioritas pekerjaan dengan atasan.

19. Membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat dilakukan dengan membangun aliansi yang kuat dan hubungan yang bersahabat serta tidak antagonis.

20. Mengenali kepentingan dan tujuan bersama dapat dilakukan melalui komunikasi informal untuk mengetahui kepentingan, nilai, tujuan, dan harapan rekan sejawat. Kegiatan informal seperti makan bersama atau kegiatan komunitas juga dapat membantu membangun hubungan.

21. Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat berarti mengetahui pekerjaan, masalah, serta sistem penghargaan yang memengaruhi perilaku mereka. Pemimpin perlu memahami faktor situasional yang mereka hadapi dan dapat memberikan umpan balik positif, ucapan terima kasih, serta pujian yang tulus untuk memengaruhi perilaku secara positif.

22. Membuat perencanaan pengembangan merupakan proses sistematis yang terdiri dari:
- Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan.
- Menganalisis dan menentukan prioritas.
- Membuat rencana yang terarah dan dapat dicapai.
- Melakukan evaluasi dan refleksi secara berkala.
- Menerapkan hasil pembelajaran di lingkungan baru.

23. Merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana pengembangan dilakukan dengan mengevaluasi perkembangan secara berkala, melihat apakah tujuan dan cara yang digunakan masih sesuai, kemudian mengubah rencana berdasarkan pengalaman dan umpan balik yang diperoleh.

24. Menerapkan hasil belajar di lingkungan baru dilakukan dengan mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi atau lingkungan yang berbeda. Rencana pengembangan perlu diperbarui berdasarkan pengalaman baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by ASRIKA 2511011009 -
NAMA: ASRIKA
NPM: 2511011009

1. Persiapan awal dilakukan sebelum pemimpin mulai menjalankan jabatan barunya. Pemimpin perlu mempelajari organisasi sebanyak mungkin, misalnya melalui informasi mengenai sejarah, budaya, laporan, kegiatan, serta kondisi tim yang akan dipimpin. Pemimpin juga perlu mengetahui alasan organisasi mencari pemimpin baru, apa yang sudah berjalan baik, apa yang bermasalah, dan hal apa yang menjadi kekhawatiran organisasi. Selain itu, pemimpin perlu meminta data atau metrik kinerja tim, informasi anggaran, serta menjadwalkan pertemuan dengan atasan dan anggota tim.

2. Pada hari pertama, pemimpin harus membangun kesan awal yang positif dengan bertemu atasan dan seluruh tim. Dengan atasan, pemimpin membahas tujuan utama, metrik, proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta gaya komunikasi yang diharapkan. Dengan tim, pemimpin memperkenalkan latar belakang, nilai-nilai, harapan, kebiasaan kerja, cara berinteraksi, dan rencana ke depan.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk belajar, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan. Pemimpin sebaiknya bertemu dengan anggota tim, rekan sejawat, anggota berprestasi tinggi, serta orang-orang yang sebelumnya pernah berada dalam tim. Pertemuan dilakukan untuk memahami pekerjaan, tujuan, masalah, potensi perbaikan, dan harapan anggota tim. Pemimpin juga perlu berhati-hati dalam berbicara karena belum mengetahui sepenuhnya siapa yang dapat dipercaya.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi tambahan dan menentukan arah tim. Informasi dapat diperoleh dari organisasi lain, pelanggan, pemasok, atasan, rekan kerja, dan anggota tim. Setelah itu, pemimpin menyusun visi dan strategi, kemudian menentukan struktur tim, dan terakhir menentukan penempatan staf yang sesuai. Urutannya harus strategi → struktur → penempatan staf, karena membalik urutan tersebut dapat menyebabkan tim menjadi tidak efektif. Sebelum mengambil keputusan kepegawaian, pemimpin juga perlu mendiskusikannya dengan atasan dan rekan sejawat.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin sudah memiliki visi, memahami perubahan yang diperlukan, dan menetapkan harapan bagi anggota tim. Pemimpin kemudian mengomunikasikan hasil pembelajaran, visi masa depan, struktur baru, penempatan staf, serta alasan perubahan kepada seluruh tim. Untuk tim yang besar, dapat dilakukan pertemuan di luar kantor dengan bawahan langsung untuk menyepakati nilai, tujuan, team scorecard, ritme operasional, dan pembentukan tim tugas untuk menangani perubahan utama.

6. Pemimpin dapat meningkatkan pembelajaran dari pengalaman dengan lima cara utama:
1.Menciptakan peluang mendapatkan umpan balik.
2.Mengambil tantangan sekitar 10% di luar zona nyaman.
3.Belajar dari orang lain.
4.Membuat jurnal tentang pengalaman kepemimpinan.
5.Memiliki rencana pengembangan.


7. Pemimpin harus secara aktif meminta umpan balik, terutama dari orang yang bekerja di bawahnya. Kebijakan “pintu terbuka” saja tidak cukup karena seseorang mungkin tetap merasa takut memberikan masukan. Pemimpin harus menunjukkan bahwa dirinya mudah didekati dan benar-benar tulus menerima kritik. Umpan balik dapat diperoleh melalui percakapan langsung, survei, kuesioner, maupun evaluasi dari bawahan.

8. materi menjelaskan konsep “10 persen tantangan”, yaitu secara sukarela memperluas perilaku sedikit di luar zona nyaman. Contohnya berusaha berbicara dengan orang lain setiap hari, menjadi ketua suatu kegiatan, atau berusaha lebih tenang maupun lebih tegas dalam rapat. Tujuannya bukan melakukan perubahan besar secara tiba-tiba, tetapi melakukan peningkatan kecil dan berkelanjutan.

9. Pemimpin harus menyadari bahwa ia dapat belajar dari siapa saja, bukan hanya dari orang yang memiliki jabatan sebagai pemimpin. Pemimpin dapat mengamati cara orang lain menghadapi masalah, bertanya kepada orang yang pernah memegang posisi sebelumnya, serta memperhatikan situasi sehari-hari. Dengan mengamati dan menganalisis tindakan orang lain, pemimpin dapat menemukan pola kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam dirinya.

10. Jurnal pemimpin bukan sekadar buku harian, tetapi berisi refleksi mengenai kepemimpinan dan pengalaman yang dialami. Isinya dapat berupa pengalaman berinteraksi dengan atasan, bawahan, rekan kerja, kutipan, artikel, atau peristiwa yang memberikan pelajaran kepemimpinan. Jurnal membantu pemimpin melihat suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda, meninjau perkembangan pemikirannya, serta menyimpan ide yang dapat digunakan di kemudian hari.

11. Rencana pengembangan dibuat secara sistematis dengan menentukan tujuan dan strategi pengembangan diri. Pemimpin terlebih dahulu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, mencari umpan balik, kemudian menentukan kebutuhan pengembangan yang paling penting. Setelah itu dibuat tujuan yang jelas, langkah tindakan, kriteria keberhasilan, sumber daya yang dibutuhkan, serta waktu untuk mengevaluasi kemajuan.

12. Kompetensi teknis dibangun melalui pendidikan formal, pelatihan, pengalaman kerja, pengamatan, bertanya, dan mengajar orang lain. Pemimpin harus memahami pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya. Kompetensi teknis penting karena membantu pemimpin melatih bawahan, mengurangi konflik dan ketidakjelasan peran, serta meningkatkan kepercayaan dan kepuasan bawahan terhadap pemimpin.

13. Langkah pertama adalah memahami bagaimana pekerjaan sendiri berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, pemimpin menentukan pengetahuan dan perilaku teknis yang paling berkaitan dengan keberhasilan pekerjaan. Tingkat kemampuan kemudian dapat dievaluasi melalui umpan balik atasan dan rekan kerja, hasil penilaian kinerja, atau data kinerja objektif.

14. Untuk menjadi ahli, seseorang dapat mengikuti pendidikan atau pelatihan formal, mengamati orang lain, banyak bertanya, dan mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Mengamati saja tidak cukup; pemimpin perlu memahami alasan di balik tindakan seseorang. Dengan mengajarkan suatu pekerjaan kepada orang lain, pemimpin dipaksa memahami pekerjaan tersebut secara mendalam sehingga keahliannya sendiri meningkat.

15. Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek lintas unit, dan terlibat dalam kegiatan organisasi atau masyarakat. Hal ini membuat seseorang memahami bagaimana berbagai pekerjaan saling berhubungan serta membantu mengembangkan keterampilan baru.

16.Hubungan efektif dibangun dengan melihat keberhasilan diri sendiri dan atasan sebagai sesuatu yang saling bergantung. Bawahan perlu membantu atasannya mencapai tujuan tanpa menjadi penjilat atau memanipulasi informasi. Bawahan yang efektif bersikap aktif, memberikan informasi yang relevan, mendukung organisasi, dan berusaha memperkuat hubungan kerja dengan atasannya.

17. Bawahan perlu memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai-nilai, preferensi, kepribadian, kelebihan, kelemahan, serta keterbatasan atasan. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat mengetahui alasan atasan mengambil keputusan tertentu dan dapat membantu melengkapi kelemahan yang dimiliki atasannya. Selain itu, bawahan harus terus memberikan informasi penting mengenai perkembangan pekerjaan kepada atasan.

18. Bawahan perlu menyesuaikan cara kerja dengan gaya atasan, bukan selalu mengharapkan atasan yang menyesuaikan diri. Penyesuaian dapat dilakukan terhadap cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan pola interaksi. Jika atasan lebih menyukai laporan tertulis, misalnya, bawahan perlu menggunakan laporan tertulis. Bawahan juga harus memahami perbedaan antara deskripsi pekerjaan dan peran yang sebenarnya diharapkan oleh atasan.

Selain fleksibel, bawahan harus jujur dan dapat diandalkan. Integritas merupakan dasar hubungan yang baik, sedangkan keandalan ditunjukkan dengan menyelesaikan tugas tepat waktu, sesuai urutan, dan menepati janji.

19. Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun melalui aliansi dan kerja sama. Dalam organisasi, seseorang sering membutuhkan bantuan dan sumber daya dari rekan kerja sehingga kemampuan memengaruhi orang lain tanpa wewenang formal menjadi penting. Hubungan yang baik dapat dibangun dengan komunikasi, kerja sama, saling membantu, serta kegiatan bersama di dalam maupun di luar pekerjaan.

20. Caranya adalah mencari kesamaan dalam minat, nilai, tujuan, dan harapan dengan rekan sejawat. Pemimpin perlu membuka komunikasi informal, menyampaikan kebutuhan dan tujuannya secara terbuka, tetapi juga bersedia mendengarkan kebutuhan orang lain. Kegiatan sosial, makan siang, rapat, kegiatan komunitas, atau aktivitas bersama juga dapat menjadi sarana untuk menemukan kesamaan tersebut.

21. Pemimpin perlu memahami jenis pekerjaan yang dilakukan rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta sistem imbalan yang memengaruhi perilaku mereka. Dengan memahami kondisi tersebut, pemimpin tidak terburu-buru menganggap seseorang tidak kooperatif hanya karena perilakunya, tetapi juga melihat faktor situasional yang mungkin memengaruhinya. Memberikan bantuan, dorongan, ucapan terima kasih, dan pujian yang tulus juga dapat memperkuat hubungan.

22. perencanaan pengembangan terdiri dari lima fase:
1. Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, termasuk tujuan karier, kemampuan, umpan balik, dan standar organisasi.
2. Menganalisis serta memprioritaskan kebutuhan berdasarkan kesenjangan yang ditemukan.
3.Menyusun rencana pengembangan yang fokus dan dapat dicapai.
4.Meninjau serta memodifikasi rencana secara berkala berdasarkan pembelajaran.
5. Mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru.

Salah satu alat yang digunakan adalah analisis GAPS, yaitu melihat Goals (tujuan), Abilities (kemampuan), Perceptions (persepsi), dan Standards (standar) untuk menemukan kesenjangan pengembangan.

23. Rencana pengembangan harus ditinjau secara berkala untuk melihat apakah tujuan masih sesuai, apakah ada cara lain yang lebih baik, dan apakah diperlukan sumber daya tambahan. Pemimpin dapat melakukan refleksi bersama rekan kerja atau atasan. Hasil refleksi kemudian digunakan untuk memodifikasi, memperbarui, atau mengubah rencana sesuai dengan pembelajaran dan umpan balik yang diperoleh.

24. Hasil belajar diterapkan melalui pengembangan yang berkelanjutan. Rencana pengembangan harus bersifat dinamis dan diperbarui ketika pemimpin memperoleh pengalaman, keterampilan, serta umpan balik baru. Ada tiga cara utama:
1.Terus memperbarui rencana pengembangan.
2.Mempraktikkan keterampilan baru di lingkungan yang berbeda.
3.Membimbing orang lain untuk mengembangkan keterampilan yang telah dipelajari.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Ayyasy Cahya Putri -
Nama : Ayyasy Cahya Putri
NPM : 2551011001

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin Pemimpin perlu memahami kondisi organisasi, tugas, anggota tim, serta tujuan yang ingin dicapai. Persiapan ini membantu pemimpin menentukan prioritas dan mengambil keputusan dengan tepat.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin Kesan pertama dapat dibangun dengan menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, profesional, dan mau mendengarkan anggota tim. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya.

3. Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi Pemimpin perlu mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mengidentifikasi masalah, dan membangun komunikasi yang baik. Pada tahap ini, pemimpin sebaiknya tidak langsung melakukan perubahan besar.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf Pemimpin mulai menentukan strategi kerja, membagi tugas sesuai kemampuan anggota, serta menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat agar tujuan organisasi dapat tercapai.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan Pemimpin menyampaikan strategi dan perubahan kepada anggota secara jelas. Perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan melibatkan anggota agar mereka memahami dan mendukungnya.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama Pemimpin perlu mengevaluasi keputusan dan tindakan yang sudah dilakukan. Kesalahan dijadikan pembelajaran, sedangkan keberhasilan dapat dipertahankan dan dikembangkan.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik Pemimpin dapat meminta masukan dari atasan, rekan kerja, dan anggota tim secara rutin. Umpan balik membantu pemimpin mengetahui kekurangan dan memperbaiki cara memimpinnya.

8. Melakukan Tantangan Tambahan Pemimpin perlu berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru untuk meningkatkan kemampuan. Tantangan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang.

9. Belajar dari Orang Lain Pemimpin dapat belajar dari pengalaman atasan, rekan kerja, mentor, maupun pemimpin lain. Hal yang baik dapat ditiru, sedangkan kesalahan orang lain dapat dijadikan pelajaran.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin Jurnal digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran setiap hari. Dengan begitu, pemimpin dapat melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

11. Membuat Rencana Pengembangan Pemimpin perlu menentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah-langkah untuk mencapainya. Rencana tersebut harus realistis dan dapat dievaluasi.

12. Membangun Kompetensi Teknis Kompetensi teknis dapat dibangun dengan mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaan, mengikuti pelatihan, membaca referensi, dan mempraktikkannya secara langsung.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan Pemimpin perlu memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan besar organisasi. Dengan demikian, setiap pekerjaan dapat dilakukan secara lebih terarah.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan Pemimpin harus terus memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam bidangnya melalui pengalaman, pelatihan, belajar, dan evaluasi secara terus-menerus.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman Pemimpin dapat mengambil proyek baru, bekerja dengan tim yang berbeda, atau mencoba tugas di luar tanggung jawab utama. Hal ini dapat menambah wawasan dan kemampuan.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi terbuka, menghargai arahan, memberikan laporan yang jelas, dan menunjukkan tanggung jawab terhadap pekerjaan.

17. Memahami Dunia Atasan Pemimpin perlu memahami tanggung jawab, tekanan, target, dan masalah yang dihadapi atasannya. Hal ini membuat pemimpin dapat bekerja sesuai kebutuhan organisasi.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan Pemimpin perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya atasannya selama tetap profesional. Tujuannya agar kerja sama menjadi lebih efektif.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, saling menghargai, kerja sama, dan saling membantu dalam mencapai tujuan organisasi.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama Pemimpin perlu mencari kesamaan tujuan dengan rekan kerja. Dengan menemukan kepentingan bersama, kerja sama akan lebih mudah dilakukan meskipun terdapat perbedaan pendapat.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat Pemimpin perlu memahami tanggung jawab, masalah, dan motivasi rekan kerja. Hal ini membantu menciptakan kerja sama yang lebih baik.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan Perencanaan pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan, kemampuan yang perlu ditingkatkan, kegiatan pengembangan, serta waktu untuk mencapainya.

23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan Pemimpin perlu mengevaluasi hasil rencana yang sudah dijalankan. Jika ada cara yang kurang efektif, rencana tersebut dapat diperbaiki agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru Pemimpin perlu menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh pada situasi baru. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi, orang, dan budaya lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Riska Rahma Dina 2511011008 -
Nama: Riska Rahma Dina
NPM: 2511011008

1. Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan mempelajari organisasi, kondisi tim, pekerjaan, dan harapan dari atasan. Persiapan ini membantu pemimpin lebih mudah menyesuaikan diri saat mulai menjalankan tugas.

2. Kesan pertama dapat dibangun dengan bersikap percaya diri, terbuka, dan mau mendengarkan. Pemimpin juga perlu memperkenalkan diri, menjelaskan harapan, serta membangun komunikasi yang baik dengan tim.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk mengenal anggota tim, rekan kerja, dan lingkungan organisasi. Pemimpin sebaiknya lebih banyak belajar dan membangun hubungan sebelum melakukan perubahan.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menentukan strategi berdasarkan informasi yang sudah diperoleh. Setelah itu, struktur kerja dan penempatan staf disesuaikan dengan tujuan serta kebutuhan tim.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, dan perubahan yang akan dilakukan kepada tim. Perubahan perlu dikomunikasikan dengan jelas agar anggota memahami dan mau mendukungnya.

6. Pemimpin perlu mengevaluasi pengalaman selama 100 hari pertama dengan melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang masih kurang. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk memperbaiki cara kerja dan kepemimpinan.

7. Pemimpin perlu aktif meminta masukan dari atasan, bawahan, dan rekan kerja. Umpan balik membantu pemimpin mengetahui kekurangan dan memperbaiki perilakunya.

8. Tantangan tambahan dilakukan dengan mencoba hal-hal yang sedikit di luar zona nyaman. Dalam materi disebut “melangkah 10 persen lebih jauh”, misalnya lebih aktif berbicara atau berani mengambil tanggung jawab baru.

9. Pemimpin dapat belajar dari siapa saja dengan mengamati cara mereka bekerja dan menghadapi masalah. Pemimpin juga dapat bertanya dan belajar dari orang yang lebih berpengalaman.

10. Jurnal dibuat ketika pemimpin ingin mencatat pengalaman dan pembelajaran yang berkaitan dengan kepemimpinan. Dengan jurnal, pemimpin dapat mengingat kembali pengalaman dan mengambil pelajaran dari kejadian yang sudah dialami.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan. Setelah itu, pemimpin menentukan langkah yang perlu dilakukan dan mengevaluasi perkembangannya secara berkala.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman langsung. Selain itu, pemimpin dapat belajar dari orang yang lebih ahli dan terus mempraktikkan kemampuan tersebut.

13. Pemimpin perlu memahami tujuan organisasi dan melihat bagaimana pekerjaannya membantu mencapai tujuan tersebut. Dengan begitu, pemimpin dapat mengetahui pentingnya pekerjaan yang dilakukan.

14. Untuk menjadi ahli, pemimpin harus terus belajar dan memahami pekerjaannya secara mendalam. Belajar dari orang yang berpengalaman dan sering mempraktikkan pekerjaan juga dapat meningkatkan kemampuan.

15. Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas baru, mengikuti proyek, atau membantu bagian lain. Hal ini dapat menambah keterampilan dan pengalaman dalam menghadapi berbagai situasi.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, kepercayaan, dan sikap saling mendukung. Kita juga perlu memahami tujuan atasan dan membantu mencapai tujuan bersama.

17. Kita perlu memahami tujuan, tanggung jawab, masalah, dan cara kerja atasan. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa memberikan bantuan dan bekerja sesuai dengan kebutuhan atasan.

18. Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Oleh karena itu, kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja agar hubungan kerja menjadi lebih efektif.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, dan saling membantu. Hubungan yang baik akan mempermudah kerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan.

20. Caranya dengan mencari kesamaan dalam tujuan, kebutuhan, nilai, dan kepentingan dengan rekan kerja. Kita juga harus mau mendengarkan pendapat orang lain agar kerja sama dapat terjalin dengan baik.

21. Kita perlu memahami pekerjaan, masalah, dan imbalan yang diterima rekan kerja. Hal ini membantu kita memahami alasan mereka bertindak dan menentukan cara yang tepat untuk bekerja sama.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan mengetahui kebutuhan yang harus dikembangkan, menentukan prioritas, lalu membuat rencana yang dapat dilakukan. Rencana tersebut kemudian dievaluasi dan diperbaiki jika diperlukan.

23. Pemimpin perlu melihat kembali apa yang sudah dipelajari dan apakah tujuan yang dibuat sudah tercapai. Jika masih ada kekurangan, rencana pengembangan dapat diubah sesuai hasil evaluasi dan umpan balik.

24. Kemampuan yang sudah dipelajari perlu diterapkan kembali dalam situasi atau lingkungan yang berbeda. Selain itu, kita dapat mengajarkan kemampuan tersebut kepada orang lain agar semakin memahami dan menguasainya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Hafizd Adi Rosyid 2511011061 -
Nama : Hafizd Adi Rosyid
NPM : 2511011061

1. Sebelum bekerja, seseorang harus membaca dan mempelajari informasi tentang organisasi tersebut (budaya kerja, tujuan organisasi, visi dan misi, kondisi lingkungan kerja, dan orang orang didalamnya. Dengan kita mempelajari tentang organisasi tersebut hal ini menjadi persiapan awal untuk menjadi seseorang pemimpin

2. Pada hari pertama, seseorang pemimpin harus memberikan kesan yang baik kepada atasan dan semua orang. Gaya komunikasi itu penting untuk membuat kesan yang baik pada hari bertama bekerja. Buatlah semua orang itu terkesan dan menjadikan dirimu sebagai panutan yang ingin ditiru.

3. Untuk membangun fondasi, kita memiliki fokus untuk belajar, membangun koneksi, dan mencari sekutu yang tepat. Luangkan waktu kita untuk mengobrol empat mata dengan bawahan untuk membahas tugas mereka, mencari tahu siapa saja pekerja terbaik di sana, dan meminta saran. Temui juga rekan sejawat dan mantan anggota tim untuk mendapat gambaran utuh tentang kondisi kantor.

4. Kumpulkan data dan informasi tambahan untuk merumuskan arah tim beberapa tahun ke depan. Diskusikan ide strategi dan struktur ini dengan atasan serta rekan untuk mendapat dukungan sebelum mengubah susunan personel. Setelah itu, bicaralah secara pribadi dengan anggota tim yang terdampak perubahan agar mereka memahami peran barunya.

5. Sampaikan visi dan struktur kerja baru kepada seluruh tim beserta alasan logisnya. Jika timmu besar, adakan rapat di luar kantor untuk menyepakati nilai kerja, membuat, menentukan jadwal rapat rutin, dan membentuk tim khusus untuk mengawal inisiatif perubahan tersebut.

6. Pengalaman adalah guru terbaik jika kamu aktif meminta saran dan tanggapan, berani mengambil tantangan ekstra, belajar dari orang lain, rutin menulis jurnal, dan memiliki rencana pengembangan diri yang terstruktur.

7. Kita harus aktif meminta masukan, terutama dari bawahan. Tunjukkan sikap tulus saat bertanya tentang dampak perilakumu, atau manfaatkan survei dan tes psikologi agar umpan balik yang masuk lebih objektif.

8.Paksakan diri kita sedikit keluar dari zona nyaman, misalnya dengan rutin menyapa semua orang di kantor atau mencoba lebih banyak mendengar saat rapat. Langkah kecil ini perlahan akan mengurangi rasa cemas kita terhadap hal baru, memperkaya skill memimpin, dan memberi contoh nyata kepada tim kita tentang pentingnya terus bertumbuh

9. Pelajaran memimpin bisa datang dari siapa saja, tidak melulu dari lingkungan bisnis, melainkan bisa juga dari lingkungan sekitar kita (masyarakat). Amati cara orang lain menyelesaikan masalah dan jangan ragu berdiskusi dengan orang yang pernah memegang posisi kita sebelumnya untuk memetik wawasan mereka.

10. Tuliskan renunganmu tentang kepemimpinan atau interaksimu dengan orang lain, bukan sekadar buku harian biasa. Menulis membantumu melihat masalah dengan lebih objektif dan bisa menjadi gudang ide saat kamu harus memberikan presentasi atau pidato di depan tim.

11. Susun target pertumbuhanmu dengan mengumpulkan masukan dari rekan kerja, atasan, atau kuesioner formal. Pikirkan skill apa yang kamu butuhkan untuk naik ke level berikutnya, dan jadwalkan rutinitas membaca buku agar wawasan dan perspektifmu terus meluas.

12. Pahami dulu bagaimana peranmu menyumbang kesuksesan bagi organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, asah keahlianmu lewat pelatihan formal, rajin bertanya, mengamati sekitar, atau dengan mengajarkan apa yang kamu tahu kepada rekan kerja.

13. Cari tahu pengetahuan teknis dan perilaku apa yang paling menentukan keberhasilan pekerjaanmu. Evaluasi kemampuanmu saat ini secara jujur dengan melihat data kinerja masa lalu atau meminta masukan lisan dari atasan dan rekan sejawat.

14. Ikuti pelatihan formal dan jadilah pengamat perilaku yang tajam untuk memahami mengapa orang menyelesaikan masalah dengan cara tertentu. Bertanyalah untuk memastikan asumsimu benar, dan cobalah mengajari prosedur kerja kepada orang lain karena proses mengajar itu akan memaksamu memahami pekerjaan secara menyeluruh.

15. Cobalah ambil tugas di luar rutinitasmu untuk memahami kendala yang dihadapi rekan kerjamu. Terlibatlah dalam proyek lintas divisi atau jadilah sukarelawan di luar lingkungan kerja untuk melatih kemampuan perencanaan dan komunikasi publikmu.

16. Hubungan yang baik butuh inisiatif dari pihak bawahan ingat bahwa kesuksesanmu dan atasan saling bergantung dan dinilai berdasarkan kinerja tim. Pahami kekuatan serta kelemahan atasanmu, lalu sesuaikan dirimu dengan gayanya.

17. Kenali target personal dan organisasi dari atasanmu beserta nilai-nilai yang ia pegang. Selalu update atasanmu tentang perkembangan tim, termasuk berita buruk, agar ia tidak pernah merasa kecolongan atau malu karena orang luar lebih tahu tentang divisinya.

18. Kamulah yang harus menyesuaikan diri dengan cara kerjanya, entah ia lebih suka komunikasi tertulis atau rapat formal. Susun daftar tanggung jawabmu dan diskusikan dengannya agar ekspektasi peranmu jelas, serta selalu tunjukkan integritas bahwa kamu bisa diandalkan.

19. Cari kesamaan minat, nilai, dan tujuan dengan rekan kerjamu melalui jalur komunikasi informal. Selalu berprasangka baik bahwa mereka kompeten dan mau bekerja sama, serta hindari bersikap egois yang hanya mementingkan pendapat sendiri.

20. Terbukalah tentang kebutuhanmu, tapi berikan juga ruang untuk mendengarkan apa yang rekan kerjamu butuhkan. Sempatkan hadir di acara sosial, komite, atau saat makan siang untuk mempererat hubungan personal di luar urusan pekerjaan.

21. Ketahui persis apa beban kerja rekanmu dan tawarkan bantuan saat mereka menghadapi kendala. Sadari juga bahwa terkadang perilaku kurang kooperatif mereka dipicu oleh sistem imbalan organisasi jadi, hargai mereka dengan dukungan dan pujian yang tulus.

22. 1) Identifikasi kebutuhanmu
2) Tentukan prioritas pengembanganmu
3) Buat rencana nyata di tempat kerja
4) Tinjau dan modifikasi secara berkala
5) Terapkan skill tersebut di situasi baru.

23. Evaluasi rencanamu secara berkala bersama atasan atau partner kerja untuk melihat apakah arah tujuanmu masih tepat atau butuh sumber daya tambahan. Berbagi target dengan orang lain akan menjadi komitmen publik yang membuatmu lebih terdorong untuk mewujudkannya.

24. Jadikan rencana pengembanganmu sebagai panduan yang fleksibel. Praktikkan kemampuan barumu di proyek atau posisi yang berbeda, dan bimbing orang lain dalam skill tersebut sebagai bukti bahwa kamu telah bertransformasi dari sekadar pembelajar menjadi seorang ahli.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Resafia Ayu Asifa -
Nama: Resafia Ayu Asifa
NMP: 2511011080

1. Persiapan dimulai dari mengumpulan data praperekrutan dan kegiatan pasca perekrutan. Pada hari pertama fokus kegiatan adalah bertemu atasan dan bertemu dengan seluruh tim utama. Pada minggu pertama kegiatan dilanjutkan dengan bertemu anggota tim, rekan kerja, karyawan, mengikuti berbagai rapat dan lainnya. Pada dua bulan pertama pemimpin baru mulai mencari sudut pandang eksternal, strategi, struktur dan penempatan karyawan, melakukan sosialisasi, mengambil keputusan serta mendapatkan timbal balik . Pada bulan ketiga, pemimpin mulai memperkuat budaya kerja dan mengagendakan acara tim di luar kantor untuk membahas nilai-nilai, strategi, ritme operasional, area perbaikan, hingga analisis subtim.

2. Hari pertama difokuskan untuk memberikan kesan pertama melalui dua agenda utama. Pertama, lakukan pertemuan satu jam di kantor atasan untuk membahas tujuan, proyek, kekuatan dan kelemahan tim, menyelaraskan gaya komunikasi, serta membagikan rencana kerja. Kedua, kumpulkan seluruh tim untuk memperkenalkan latar belakang, nilai, gaya kerja, hingga rencana ke depan, lalu tutup dengan sesi tanya jawab singkat meskipun interaksi mungkin masih minim karena tim belum mengenal pemimpin baru.

3. Pada dua minggu pertama, pemimpin fokus belajar, membangun hubungan, dan mencari sekutu dengan menemui anggota tim, karyawan berprestasi, rekan sejawat, hingga mantan anggota tim. Pertemuan ini bertujuan untuk menggali ide, mengantisipasi konflik, memahami sejarah tim, serta mengidentifikasi peran kritis dan kandidat internal, dengan tetap waspada menjaga kerahasiaan ucapan maupun tulisan.

4. Dalam enam minggu berikutnya, pemimpin baru fokus menentukan arah tim untuk 1–3 tahun ke depan dengan mengumpulkan informasi dari pihak eksternal maupun internal. Urutan perubahan harus berpatokan pada strategi, struktur, lalu penempatan staf agar tim tidak disfungsional. Sebelum dieksekusi, gagasan ini perlu didiskusikan dulu dengan atasan dan rekan sejawat, lalu disosialisasikan secara tatap muka kepada anggota tim yang terdampak. Selama proses ini, pemimpin wajib menjaga kestabilan kinerja harian tim dan aktif meminta umpan balik atas kinerjanya.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin berfokus mengeksekusi perubahan melalui dua acara utama. Pertama, pertemuan seluruh tim untuk membagikan visi, struktur baru, alasan perubahan, serta menunjukkan tindakan nyata seperti promosi, restrukturisasi, atau pemecatan. Kedua, pertemuan luar kantor bersama bawahan langsung untuk menyepakati nilai-nilai kritis tim, menyusun scorecard penilaian, menetapkan ritme operasional rapat, dan membentuk task force guna menangani inisiatif perubahan utama.

6. Pemimpin dapat meningkatkan nilai pembelajaran dari pengalaman mereka dengan menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan 10 persen di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal harian tentang peristiwa-peristiwa kepemimpinan dan memiliki rencana pengembangan.

7. Umpan balik bukan hanya sekadar menyatakan kebijakan, tetapi juga dipandang sebagai sosok yang mudah didekati dan tulus dalam penawarannya. Beberapa informasi paling bermanfaat untuk mengembangkan kepemimpinan dapat diperoleh dengan meminta umpan balik dari orang lain mengenai persepsi mereka terhadap perilaku pemimpin dan dampaknya terhadap efektivitas keseluruhan tim. Pemimpin yang mengikuti tes psikologis dan menggunakan survei atau kuesioner berkala akan memiliki akses yang lebih besar terhadap umpan balik.

8. Memperluas perilaku dengan sedikit melampaui zona nyaman dapat dilakukan dengan berbicara secara santai dengan semua orang di kantor setidaknya sekali sehari, mencari kesempatan untuk menjadi ketua komite, atau bersikap lebih tenang dari biasanya dalam rapat (atau lebih tegas, tergantung situasinya).

9. Parapemimpin dapat belajar banyak dengan secara aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi dan menangani berbagai tantangan serta situasi, bahkan yang umum sekalipun. Pemimpin juga dapat belajar dengan cara mengajukan pertanyaan. Saat yang sangat penting untuk mengajukan pertanyaan adalah ketika para pemimpin baru bergabung dengan suatu kelompok atau kegiatan dan memiliki tanggung jawab tertentu di dalamnya atau dengan orang yang sebelumnya menduduki posisi tersebut untuk memanfaatkan wawasan, pengalaman, dan penilaiannya terhadap situasi tersebut.

10. Menulis jurnal bagi pemimpin dilakukan dengan mencatat refleksi mendalam seputar aspek kepemimpinan, bukan sekadar buku harian biasa. Pemimpin dapat "berpikir di atas kertas" dengan menuangkan komentar atas kutipan atau artikel menarik, merefleksikan interaksi kerja untuk melihat penanganan masalah secara objektif, serta mengaitkan teori kepemimpinan dengan pengalaman nyata. Jurnal ini berfungsi sebagai rekam jejak perkembangan pola pikir pemimpin sekaligus menjadi gudang ide atau contoh konkret yang siap digunakan untuk pidato, presentasi, dan arahan tim di masa depan.
11. Membuat Rencana Pengembangan dilakukan dengan mengidentifikasi tujuan-tujuan konkret melalui pengumpulan informasi secara sistematis dari berbagai sumber. Pemimpin dapat mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan melalui evaluasi kinerja dan sesi umpan balik bersama atasan, memperhatikan pola masalah dalam interaksi dengan rekan sejawat, meninjau kebutuhan keterampilan baru untuk jenjang karier yang lebih tinggi, serta memanfaatkan tes psikologis formal atau kuesioner. Selain itu, rencana ini wajib dilengkapi dengan program membaca pribadi secara aktif seperti membaca biografi, esai etika, hingga buku pengembangan diri guna merangsang stimulasi intelektual dan memperluas perspektif kepemimpinan.

12. Membangun kompetensi teknis dapat dilakukan dengan menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan, menjadi ahli dalam pekerjaan, dan mencari peluang untuk memperluas pengalaman.

13. menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi organisasi secara keseluruhan adalah dengan 

14. Menjadi ahli dalam pekerjaan dapat dilakukan dengan mengikuti program pendidikan dan pelatihan formal yang relevan, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, dan mengajar orang lain.

15. Mencari peluang untuk memperluas pengalaman dapat dilakukan dengan mengunjungi bagian-bagian lain dalam organisasi untuk memahami keseluruhan operasi kerjanya serta bekerja dalam proyek tim sehingga berkesempatan berinteraksi dengan anggota unit kerja lain dan sering kali dapat mengembangkan keterampilan baru.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan dapat dilakukan dengan memahami dunia atasan dan beradptasi dengan gaya atasan.

17. Memahami Dunia Atasan dapat dilakukan dengan mengenali tujuan pribadi dan organisasinya, menyadari kelebihan serta kekurangannya, dan rutin memberi laporan mengenai perkembangan kegiatan kerja maupun peluang baru.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan dapat dilakukan dengan mengklarifikasi ekspektasi terkait peran dalam tim, komite dan kelompok kerja.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat dapat dilakukan dengan mengenali kepentingan dan tujuan bersama serta memahami tugas, masalah dan imbalan rekan sejawat.

20. Membangun komunikasi informal yang terbuka dan jujur untuk saling menyampaikan kebutuhan, nilai, dan tujuan kerja, serta mau mendengarkan gagasan orang lain. Selain itu, aktif menghadiri kegiatan atau pertemuan sosial di luar konteks kerja formal guna mempererat hubungan.

21. Memahami jenis tugas yang dikerjakan rekan kerja dan menawarkan bantuan saat mereka menghadapi masalah pribadi maupun organisasi. Pemimpin juga perlu memahami sistem imbalan yang diterima rekan, karena perilaku kerja mereka sangat dipengaruhi oleh insentif serta kondisi lingkungan kerja tersebut.

22.Perencanaan pengembangan dilakukan melalui lima fase yang saling terhubung. Diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan melalui evaluasi diri, umpan balik, dan tujuan karier, lalu menganalisis data untuk menentukan prioritas utama. Setelah itu, pemimpin menyusun rencana terfokus yang realistis, meninjau dan memperbarui rencana secara berkala lewat refleksi, serta mentransfer pembelajaran ke lingkungan kerja atau skala tanggung jawab yang lebih besar.

23. Refleksi dilakukan dengan menilai berkala apakah tujuan akhir masih tepat, apakah ada rute alternatif yang lebih baik, serta kebutuhan sumber daya tambahan. Pemimpin perlu membagikan refleksi ini kepada rekan kerja sebagai bentuk komitmen terbuka dan mengevaluasi kemajuan secara rutin bersama atasan agar perkembangan selalu terpantau dan menghindari kejutan saat penilaian kinerja.

24. Penerapan dilakukan dengan menjadikan rencana pengembangan sebagai dokumen dinamis yang terus diperbarui seiring munculnya pengalaman dan umpan balik baru. Pemimpin dapat mentransfer pembelajaran melalui tiga cara: terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan baru secara langsung di lingkungan baru, serta membimbing orang lain agar peran berubah dari seorang pembelajar menjadi seorang ahli.

In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Adelia fi janatin aliah 2511011067 -
Nama: Adelia fi janatin aliah
Npm: 2511011067

Jawaban:

1. Persiapan awal 83 hari pertama penting dilakukan supaya pemimpin tidak langsung mengambil keputusan tanpa memahami kondisi yang ada. Pemimpin perlu mempelajari organisasi, mengenali anggota tim, memahami masalah yang sedang dihadapi, dan mengetahui target yang harus dicapai. Dengan begitu, pemimpin punya dasar yang cukup untuk menentukan langkah selama masa awal kepemimpinannya.

2. Kesan pertama bisa dibangun melalui sikap yang percaya diri, terbuka, dan mau mendengarkan orang lain. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya serius dalam menjalankan tanggung jawab, tetapi tidak membuat anggota tim merasa takut. Cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain sejak awal sangat memengaruhi kepercayaan terhadap pemimpin.

3. Dalam dua minggu pertama, pemimpin sebaiknya lebih banyak mengamati dan memahami keadaan sebelum melakukan perubahan besar. Pemimpin dapat berdiskusi dengan anggota, mempelajari pekerjaan yang berjalan, melihat masalah yang ada, dan menentukan prioritas. Tahap ini menjadi dasar agar keputusan berikutnya tidak salah arah.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi berdasarkan hasil pengamatan sebelumnya. Selain itu, perlu ditentukan pembagian tugas, struktur kerja, dan orang yang paling sesuai untuk menjalankan setiap tanggung jawab. Penempatan staf harus mempertimbangkan kemampuan dan pengalaman masing-masing agar pekerjaan bisa berjalan lebih efektif.

5. Pada bulan ketiga, rencana yang sudah dibuat mulai dikomunikasikan kepada anggota tim. Pemimpin harus menjelaskan alasan perubahan, tujuan yang ingin dicapai, serta apa yang perlu dilakukan oleh setiap anggota. Perubahan juga harus dilakukan secara bertahap dan mendapat dukungan dari tim, bukan hanya berdasarkan keputusan pemimpin sendiri.

6. Pemimpin perlu melihat kembali apa saja yang sudah dilakukan selama 100 hari pertama. Hal yang berhasil bisa dipertahankan, sedangkan kesalahan perlu dijadikan pelajaran agar tidak terulang. Dari pengalaman tersebut, pemimpin dapat mengetahui cara memimpin yang lebih tepat untuk ke depannya.

7. Umpan balik dapat diperoleh dengan membuka komunikasi dengan anggota tim, rekan kerja, maupun atasan. Pemimpin bisa meminta pendapat mengenai cara kerja dan keputusan yang sudah dilakukan. Yang penting, pemimpin harus mau menerima kritik dan tidak langsung menganggap kritik sebagai sesuatu yang negatif.

8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tanggung jawab baru di luar pekerjaan utama. Hal tersebut bisa membantu pemimpin meningkatkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman baru. Namun, tantangan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan supaya tidak mengganggu pekerjaan utama.

9. Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara mereka bekerja dan memimpin. Kita bisa mengambil hal-hal positif dari orang yang lebih berpengalaman dan menjadikannya sebagai contoh. Selain itu, pengalaman orang lain juga bisa membantu kita menghindari kesalahan yang sama.

10. Jurnal pemimpin berisi catatan tentang pengalaman, keputusan, masalah, dan pembelajaran selama menjalankan pekerjaan. Tidak harus panjang, yang penting mencatat kejadian penting dan apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut. Jurnal ini bisa digunakan untuk melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan mengetahui kemampuan yang sudah dimiliki dan kemampuan yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu, tentukan tujuan, cara mencapainya, serta waktu yang dibutuhkan. Misalnya, jika kemampuan komunikasi masih kurang, maka bisa direncanakan untuk lebih sering melakukan presentasi atau diskusi.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan. Caranya bisa melalui pelatihan, membaca, bertanya kepada orang yang lebih ahli, dan langsung mempraktikkannya. Semakin sering digunakan, kemampuan tersebut akan semakin berkembang.

13. Kita harus memahami tujuan besar organisasi terlebih dahulu, kemudian melihat hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan tersebut. Setiap tugas seharusnya memiliki manfaat terhadap pencapaian tujuan organisasi. Dengan memahami hal ini, kita tidak hanya bekerja untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga tahu alasan dari pekerjaan tersebut.

14. Menjadi ahli membutuhkan proses belajar dan pengalaman yang terus-menerus. Kita harus memahami pekerjaan secara mendalam, tidak hanya mengetahui cara mengerjakannya tetapi juga memahami alasan dan dampaknya. Kesalahan yang terjadi juga harus dijadikan bahan untuk memperbaiki kemampuan.

15. Peluang dapat dicari dengan bersedia mengikuti proyek, kegiatan, atau pekerjaan yang berbeda dari biasanya. Kita juga bisa meminta kesempatan kepada atasan untuk mencoba tanggung jawab baru. Dengan pengalaman yang lebih beragam, kemampuan dan cara berpikir kita juga akan semakin luas.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, sikap profesional, dan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Kita harus memahami apa yang diharapkan atasan dan memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan. Hubungan yang baik bukan berarti selalu setuju, tetapi bisa saling menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat.

17. Memahami dunia atasan berarti mencoba melihat pekerjaan dari sudut pandang mereka. Atasan biasanya memiliki tanggung jawab dan tekanan yang lebih luas, sehingga keputusan mereka tidak hanya berkaitan dengan satu orang. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa lebih mengerti alasan di balik keputusan yang dibuat.

18. Setiap atasan memiliki gaya komunikasi dan cara kerja yang berbeda. Kita perlu mengetahui bagaimana cara atasan memberikan arahan, menerima laporan, dan mengambil keputusan. Setelah memahaminya, kita bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja agar hubungan kerja menjadi lebih lancar.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, dan saling menghargai. Jangan hanya berfokus pada kepentingan pribadi karena pekerjaan biasanya membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Kepercayaan juga penting supaya rekan kerja merasa nyaman untuk bekerja sama.

20. Kita perlu mencari tahu apa yang menjadi tujuan masing-masing pihak, kemudian menemukan bagian yang memiliki kesamaan. Jika tujuan bersama sudah diketahui, kerja sama akan lebih mudah dilakukan. Dengan fokus pada kepentingan bersama, perbedaan pendapat dapat lebih mudah diselesaikan.

21. Untuk memahami rekan sejawat, kita perlu mengetahui tanggung jawab dan masalah yang mereka hadapi. Kita juga perlu memahami apa yang mereka harapkan dari pekerjaan, termasuk penghargaan atau hasil yang ingin dicapai. Hal ini membuat kita lebih mudah memahami sudut pandang mereka ketika bekerja sama.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan menentukan kemampuan atau bagian diri yang ingin ditingkatkan. Setelah itu, tentukan target yang jelas, langkah yang akan dilakukan, dan waktu pencapaiannya. Rencana tersebut juga perlu dibuat realistis supaya bisa benar-benar dilakukan.

23. Setelah menjalankan rencana, kita perlu melihat apakah hasilnya sudah sesuai dengan target. Jika ada cara yang kurang berhasil, rencana tersebut bisa diubah atau diperbaiki. Jadi, rencana pengembangan tidak harus selalu tetap karena dapat disesuaikan dengan pengalaman dan kebutuhan baru.

24. Hasil belajar bisa diterapkan dengan menyesuaikannya dengan kondisi lingkungan baru. Tidak semua cara yang berhasil di tempat sebelumnya akan langsung berhasil di tempat baru. Karena itu, kita perlu memahami situasi terlebih dahulu, kemudian menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki dengan cara yang sesuai.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Riko Putra Jaya -
Nama : Riko Putra Jaya
NPM : 2511011133

1. tahap persiapan awal 83 hari pertama sebagai pemimpin:
a. melakukan pengumpulan data sebelum perekrutan dan kegiatan pasca perekrutan sebelum memulai
b. bertemu dengan seluruh tim dan atasan pada hari pertama
c. di 2 minggu pertama (membangun pondasi) bertemu anggota tim secara individu untuk memahami kekuatan, peran, dan aaspirasi masing masing. dan juga bertemu dengan rekan kerja dan karyawan lain untuk membangun hubungan lintas unit dan jaringan kerja yang lebih baik
d. pada 2 bulan pertama menganalisis strategi, struktur, dan posisi karyawan. serta mencari masukan dari pihak luar, dan mulai mengambil keputusan
e. pada 3 bulan pertama mulai membangun budaya tim dan mengadakan acara luar kantor untuk menyelaraskan nilai, strategi, serta ritme operasional

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
menampilkan sikap hangat dan profesional dengan lebih banyak mendengar daripada mendominasi pembicaraan. lalu menyempatkan waktu untuk mengenal tiap anggota tim secara individu demi membangun kepercayaan dan rasa hormat

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
mengadakan sesi tatap muka individual dengan setiap anggota tim serta rekan kerja, untuk memahami peran, tantangan, dan aspirasi mereka

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
evaluasi kesesuaian antara tujuan strategis organisasi dengan struktur tim serta posisi setiap anggota saat ini. lalu kumpulkan sudut pandang dari pemangku kepentingan eksternal maupun internal, lalu mulai memetakan alokasi peran yang paling efektif dan mengambil keputusan strategis awal berdasarkan umpan balik yang telah diterima

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
mulai mengomunikasikan arah perubahan secara transparan melalui forum tim untuk menyelaraskan nilai, strategi, dan ritme kerja baru. lalu orong eksekusi perubahan tersebut dengan menanamkan budaya kerja yang diinginkan, memperkuat kolaborasi antar-subtim, serta terus memantau dan mengevaluasi area yang membutuhkan peningkatan

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
selalu melakukan evaluasi mandiri atas keputusan yang telah diambil serta minta umpan balik jujur dari atasan, rekan kerja, dan anggota tim. kemudian catat setiap keberhasilan kecil maupun hambatan yang dihadapi, lalu gunakan temuan tersebut untuk menyesuaikan strategi kepemimpinan dan menyusun target jangka panjang yang lebih realistis

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
ciptakan peluang umpan balik dengan membuka sesi diskusi rutin secara informal, seperti obrolan singkat setelah rapat atau sesi "one on one" berkala. Ajukan pertanyaan spesifik yang memancing masukan membangun, dan selalu tunjukkan sikap terbuka serta tidak defensif agar tim merasa aman dan nyaman untuk menyampaikan pendapat jujur mereka

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
tantanglah diri sendiri secara perlahan melalui proyek lintas divisi dan menyelesaikan masalah operasi yang sebelumnya diabaikan oleh tim. gunakan metode ilmiah untuk menguji pendekatan kerja yang baru dan mendokumentasikan hasilnya yang akan menjadi dasar untuk penilaian dan pembelajaran berkelanjutan untuk pertumbuhan profesional kita

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati cara orang yang lebih berpengalaman bekerja, bertanya kepada mereka, mempelajari cara mereka menyelesaikan masalah, serta mengambil pelajaran dari keberhasilan maupun kesalahan mereka.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
untuk membuat sebuah jurnal sebagai seorang pemimpin kita harus mengalokasikan beberapa menit dalam sehari kita untuk mencatat setiap keputusan terpenting yang telah kita buat, kesulitan yang kita hadapi dan pengalaman yang kita peroleh.Kita harus berkonsentrasi pada analisis gaya kepemimpinan kita, pengembangan tim kita dan target kinerja

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
pertama tentukan kekuatan dan kelemahanmu berdasarkan temuan penilaian diri dan apa yang telah kamu dengar dari orang lain.Kamu harus menetapkan tujuan untuk dirimu sendiri dan menemukan tindakan yang akan membantumu mencapai tujuan tersebut dan kamu bisa menetapkan batas waktu untuk tindakan tersebut

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
dapatkan pengetahuan tentang bidang kita secara konsisten melalui pelatihan atau literatur lalu terapkan apa yang telah kita pelajari untuk berlatih. caari seorang mentor yang ahli di bidangnya,kenalilah teknologi terbaru yang sedang dikembangkan dan cari seseorang yang meninjau pekerjaan kita dan menunjukkan kelemahan kita

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
dengan memahami tujuan utama organisasi terlebih dahulu, lalu melihat bagaimana tugas harian kita dan tim saling terhubung untuk mendukung ketercapaian misi besar tersebut

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
dengan terus membangun kompetensi teknis, mempelajari proses kerja secara mendalam, serta rajin meminta umpan balik untuk memperbaiki kekurangan secara berkelanjutan

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
aktif mengambil tantangan tambahan di luar tugas rutin, terlibat dalam proyek lintas fungsi atau lintas divisi, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dari orang lain dan mentor di sekitar kita

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
menyelaraskan ekspektasi sejak awal, berkomunikasi secara terbuka dan berkala mengenai perkembangan kerja, serta aktif meminta umpan balik dan masukan agar kita bisa terus mendukung prioritas serta keputusan strategis yang diambil atasan

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
dengan mengidentifikasi prioritas, gaya komunikasi, serta tantangan utama yang sedang mereka hadapi. Kita perlu mempelajari apa yang menjadi fokus keberhasilan atasan dan bagaimana keputusan mereka dipengaruhi oleh tekanan dari level organisasi yang lebih tinggi, sehingga kita bisa memberikan dukungan yang paling tepat dan relevan

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
mengamati dan menyesuaikan cara komunikasi kita sesuai dengan preferensi mereka, baik itu melalui laporan tertulis yang detail maupun diskusi lisan yang singkat. Kita juga perlu memahami kecepatan pengambilan keputusan serta tingkat keterlibatan yang disukai atasan dalam tugas sehari-hari, lalu mengarahkan cara kerja kita agar selaras dengan gaya kepemimpinan mereka

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
menjalin komunikasi yang terbuka, saling menghargai peran serta kontribusi masing-masing, dan aktif bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Kita juga perlu membangun rasa saling percaya melalui kolaborasi yang positif serta siap memberikan bantuan maupun menerima masukan dari sesama rekan demi kelancaran tugas tim

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
aktif berdiskusi dan mendengarkan perspektif rekan kerja untuk memahami apa yang menjadi prioritas serta tantangan mereka. dengan begitu, kita bisa menemukan titik temu antara sasaran tugas kita dengan sasaran mereka, sehingga seluruh pihak dapat bergerak selaras menuju pencapaian target organisasi yang sama

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
dengan mengamati secara langsung alur kerja mereka serta melakukan komunikasi yang empati untuk mengetahui tantangan utama yang sedang mereka hadapi. Kita perlu mempelajari indikator keberhasilan serta sistem penghargaan yang berlaku bagi mereka, agar kita bisa memahami motivasi kerja rekan sejawat dan membangun kerja sama yang saling mendukung

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
identifikasi area kekuatan serta bidang yang masih perlu diperbaiki berdasarkan hasil evaluasi diri dan masukan orang lain. Setelah itu, kita menetapkan sasaran pengembangan yang spesifik, menyusun langkah tindakan yang konkret beserta jadwal pencapaiannya, dan rutin mengevaluasi kemajuan kita agar prioritas belajar tetap terarah dan relevan dengan kebutuhan peran kita

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
rutin meninjau kembali kemajuan yang telah kita capai, mengevaluasi pengalaman kerja yang sudah dilalui, serta melihat kembali umpan balik yang kita terima dari atasan maupun rekan kerja. Jika dari proses refleksi tersebut ditemukan perubahan prioritas, tantangan baru, atau area yang masih memerlukan peningkatan, maka kita perlu menyesuaikan kembali target dan langkah aksi dalam rencana pengembangan agar tetap relevan serta efektif mendukung pertumbuhan kita

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
aktif menyesuaikan pengetahuan serta keterampilan yang telah kita peroleh ke dalam konteks dan budaya kerja yang ada. Kita perlu langsung mempraktikkan konsep-konsep tersebut pada tugas harian, mengamati keefektifannya secara nyata, serta terbuka menerima umpan balik dari lingkungan sekitar agar kita bisa terus melakukan penyesuaian yang tepat demi mencapai kinerja terbaik di tempat baru
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Jihan Awanis 2511011014 -
Nama: Jihan Awanis
NPM: 2511011014

1. Persiapan awal seorang pemimpin bertujuan agar pemimpin mampu memahami organisasi sebelum melakukan perubahan. Pemimpin perlu mempelajari visi, misi, tujuan, budaya, struktur organisasi, kondisi bawahan, serta masalah yang sedang dihadapi.
Selain itu, pemimpin harus memahami harapan atasan dan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin sebaiknya tidak langsung membuat perubahan besar, tetapi terlebih dahulu mengumpulkan informasi, membangun hubungan, dan menentukan prioritas.

2. Kesan pertama sangat penting karena memengaruhi bagaimana bawahan, rekan kerja, dan atasan melihat seorang pemimpin. Pemimpin harus menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, profesional, jujur, dan mampu mendengarkan.
Pemimpin juga perlu menjelaskan harapan dan standar kerja dengan jelas. Kesan pertama yang baik bukan berarti harus terlihat sempurna, tetapi menunjukkan bahwa pemimpin dapat dipercaya dan memiliki arah yang jelas.

3. Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu membangun fondasi kepemimpinan melalui tiga hal utama: memahami kondisi, membangun hubungan, dan menentukan prioritas.
Pemimpin dapat melakukan observasi, berdiskusi dengan bawahan dan rekan kerja, mempelajari data organisasi, serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan tim. Pada tahap ini, pemimpin sebaiknya lebih banyak mendengar daripada terburu-buru mengambil keputusan.

4. Dalam dua bulan pertama, pemimpin mulai menerjemahkan informasi yang diperoleh menjadi strategi. Pemimpin menentukan tujuan, prioritas, pembagian tugas, struktur kerja, dan kebutuhan sumber daya.
Penempatan staf juga penting. Orang yang tepat harus ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan potensinya. Pemimpin perlu memastikan bahwa struktur organisasi mendukung pencapaian tujuan, bukan justru menghambatnya.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan strategi dan perubahan secara lebih luas. Perubahan harus dijelaskan dengan alasan yang jelas: mengapa perubahan diperlukan, apa manfaatnya, dan bagaimana perubahan akan dilaksanakan.
Pemimpin harus melibatkan anggota organisasi, mengatasi resistensi, memberikan contoh melalui tindakan, serta memantau perkembangan perubahan. Dengan demikian, perubahan tidak hanya menjadi perintah, tetapi menjadi proses yang dipahami dan didukung oleh anggota organisasi.

6. Pemimpin perlu mengevaluasi pengalaman selama 100 hari pertama. Evaluasi dilakukan dengan bertanya: apa yang berhasil, apa yang gagal, mengapa hal tersebut terjadi, dan apa yang harus dilakukan secara berbeda.
Pengalaman tidak otomatis menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi pembelajaran ketika pemimpin merefleksikan pengalaman, memahami penyebabnya, kemudian menerapkan hasil refleksi tersebut pada situasi berikutnya.

7. Pemimpin harus secara aktif mencari umpan balik dari atasan, bawahan, rekan sejawat, maupun orang lain yang berinteraksi dengannya.
Umpan balik dapat diperoleh melalui diskusi pribadi, evaluasi kerja, rapat, survei, atau meminta seseorang memberikan penilaian terhadap gaya kepemimpinan. Pemimpin harus menerima kritik secara terbuka dan tidak defensif.

8. Tantangan tambahan dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Pemimpin dapat mengambil tanggung jawab baru, menangani proyek yang lebih sulit, bekerja dengan orang yang berbeda, atau menghadapi masalah yang belum pernah dialami.
Tantangan tersebut harus digunakan sebagai kesempatan belajar. Pemimpin perlu berani keluar dari zona nyaman, tetapi tetap memperhitungkan risiko dan kemampuan yang dimiliki.

9. Pemimpin dapat belajar melalui pengalaman orang lain, terutama dari pemimpin yang lebih berpengalaman. Caranya dengan mengamati bagaimana mereka mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, berkomunikasi, dan menghadapi kegagalan.
Selain itu, pemimpin dapat belajar melalui mentoring, diskusi, membaca buku, mengikuti pelatihan, dan membangun jaringan profesional. Pengalaman orang lain dapat membantu pemimpin menghindari kesalahan yang sama.

10.Jurnal kepemimpinan digunakan untuk mencatat pengalaman, kejadian penting, keputusan, perasaan, masalah, keberhasilan, kegagalan, dan pembelajaran.
Contohnya, setelah menyelesaikan suatu masalah, pemimpin dapat menulis:
Apa yang terjadi?
Apa yang saya lakukan?
Mengapa saya mengambil keputusan tersebut?
Apa hasilnya?
Apa yang saya pelajari?
Apa yang akan saya lakukan secara berbeda jika menghadapi situasi yang sama?
Jurnal membantu pemimpin melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

11. Rencana pengembangan adalah rancangan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Pemimpin terlebih dahulu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya.
Kemudian menentukan kompetensi yang ingin dikembangkan, menetapkan tujuan, menentukan aktivitas pembelajaran, menetapkan batas waktu, dan menentukan indikator keberhasilan.
Contohnya: jika kemampuan komunikasi masih lemah, pemimpin dapat menetapkan tujuan untuk meningkatkan kemampuan presentasi dengan mengikuti pelatihan dan melakukan presentasi secara rutin.

12. Kompetensi teknis adalah kemampuan memahami pekerjaan atau bidang yang dipimpin. Pemimpin perlu mengetahui prosedur, teknologi, sistem, standar kerja, dan pengetahuan yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Kompetensi tersebut dapat dibangun melalui pendidikan, pelatihan, membaca literatur, mengikuti perkembangan teknologi, belajar dari ahli, dan praktik langsung.
Namun, pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling ahli dalam semua bidang. Yang penting adalah memahami pekerjaan secara cukup mendalam untuk dapat mengambil keputusan dan memimpin orang lain secara efektif.

13. Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Pemimpin harus memahami hubungan antara pekerjaan individu dengan visi dan misi organisasi.
Caranya dengan melihat: apa tujuan organisasi, apa tujuan unit kerja, dan bagaimana pekerjaan saya membantu mencapai tujuan tersebut.
Dengan memahami hubungan tersebut, pemimpin dapat menentukan prioritas dan menjelaskan kepada anggota tim mengapa pekerjaan mereka penting bagi organisasi.

14. Menjadi ahli berarti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam dalam bidang pekerjaan. Hal ini membutuhkan proses belajar terus-menerus.
Pemimpin dapat menjadi ahli dengan banyak berlatih, mempelajari teori, mencari pengalaman, meminta masukan dari ahli, mengikuti perkembangan bidang, serta belajar dari kesalahan.
Keahlian bukan hanya tentang mengetahui banyak hal, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan masalah secara efektif.

15. Pemimpin harus mencari pengalaman yang beragam. Misalnya dengan mengikuti proyek lintas departemen, menerima tanggung jawab baru, bekerja dengan kelompok yang berbeda, atau terlibat dalam kegiatan organisasi.
Pengalaman yang beragam membuat pemimpin memiliki perspektif yang lebih luas dan meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai situasi.

16. Hubungan dengan atasan harus dibangun berdasarkan kepercayaan, komunikasi, dan pemahaman terhadap harapan masing-masing.
Pemimpin perlu mengetahui apa yang diharapkan atasan, memberikan informasi secara tepat waktu, menyampaikan masalah beserta alternatif solusinya, dan memenuhi komitmen.
Hubungan yang baik bukan berarti selalu menyetujui atasan, tetapi mampu berkomunikasi secara profesional dan konstruktif.

17. Pemimpin perlu memahami tekanan, tanggung jawab, tujuan, dan masalah yang dihadapi atasannya.
Dengan memahami sudut pandang atasan, seorang pemimpin dapat melihat masalah tidak hanya dari kepentingan unitnya sendiri, tetapi dari perspektif organisasi secara keseluruhan.
Hal ini membantu pemimpin memberikan informasi dan solusi yang lebih relevan kepada atasannya.

18. Setiap atasan mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda. Ada yang menyukai komunikasi singkat dan langsung, sementara yang lain membutuhkan penjelasan yang lebih detail.
Pemimpin perlu menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa kehilangan prinsip dan integritas. Misalnya, jika atasan menyukai data, maka pemimpin harus menyampaikan informasi dengan fakta dan angka yang jelas.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui rasa saling menghormati, komunikasi terbuka, kerja sama, dan kepercayaan.
Pemimpin perlu menghindari persaingan yang tidak sehat dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi. Ketika terjadi perbedaan pendapat, masalah harus diselesaikan berdasarkan tujuan dan fakta, bukan kepentingan pribadi.

20. Dalam bekerja dengan rekan sejawat, setiap orang mungkin memiliki kepentingan yang berbeda. Oleh karena itu, pemimpin perlu menemukan titik temu di antara kepentingan tersebut.
Contohnya, dua departemen mungkin memiliki prioritas berbeda, tetapi keduanya mempunyai tujuan bersama yaitu meningkatkan kualitas pelayanan. Tujuan bersama tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun kerja sama.

21. Pemimpin perlu memahami pekerjaan yang dilakukan rekan sejawat, termasuk tanggung jawab, tekanan, masalah, serta penghargaan yang mereka dapatkan.
Pemahaman tersebut membuat pemimpin lebih mudah berempati dan bekerja sama. Selain itu, pemimpin dapat menghindari penilaian yang tidak adil karena memahami kondisi yang dihadapi orang lain.

22. Perencanaan pengembangan harus dilakukan secara sistematis. Langkahnya dapat dimulai dari:
1. Mengidentifikasi kemampuan yang sudah dimiliki.
2. Mengidentifikasi kekurangan atau kebutuhan pengembangan.
3. Menentukan kompetensi yang ingin ditingkatkan.
4. Menetapkan tujuan yang jelas.
5. Menentukan kegiatan pembelajaran.
6. Menentukan batas waktu.
7. Menentukan cara mengevaluasi hasilnya.
8. Perencanaan ini sebaiknya realistis dan dapat disesuaikan dengan perubahan kebutuhan.

23. Rencana pengembangan bukan sesuatu yang bersifat tetap. Setelah memperoleh pengalaman baru, pemimpin perlu melakukan refleksi.
Jika suatu metode ternyata tidak efektif, metode tersebut harus diperbaiki. Sebaliknya, jika suatu kegiatan memberikan hasil positif, kegiatan tersebut dapat dilanjutkan atau dikembangkan.
Jadi, prosesnya adalah pengalaman → refleksi → pembelajaran → perubahan rencana → penerapan kembali.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru. Pembelajaran akan memiliki nilai apabila dapat diterapkan dalam situasi yang berbeda. Pemimpin harus mampu mengambil prinsip dari pengalaman sebelumnya dan menyesuaikannya dengan lingkungan baru.
Namun, penerapan tidak boleh dilakukan secara mentah. Pemimpin perlu mempertimbangkan budaya organisasi, karakter orang, struktur, kondisi lingkungan, serta masalah yang berbeda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by NOVA INDAH CAHYATI 2511011109 -
Nama: Nova Indah Cahyati
NPM: 2511011109

1. Sebagai pemimpin, persiapan awal yang perlu dilakukan adalah memahami organisasi, mulai dari sejarah, budaya, posisi yang akan dijalankan, sampai kondisi tim. Kita juga perlu mengetahui hal apa yang sudah berjalan dengan baik, apa yang masih menjadi masalah, serta kekhawatiran yang ada dalam tim.

2. Kesan pertama yang perlu dibangun adalah dengan menunjukkan sikap terbuka dan memahami kondisi tim. Misalnya pada hari pertama, kita dapat bertemu dengan atasan dan anggota tim untuk membahas tujuan, proyek penting, cara berkomunikasi, harapan, serta rencana ke depannya.

3. Dalam dua minggu pertama, kita perlu banyak bertemu dengan orang-orang di dalam maupun di luar tim. Hal ini dilakukan untuk memahami kondisi organisasi, untuk membangun hubungan, dan mengetahui orang-orang yang nantinya bisa membantu dalam menjalankan pekerjaan. Pertemuan secara langsung dengan anggota tim dan rekan juga penting untuk memahami kondisi mereka.

4. Pada bulan kedua, kita mulai mengumpulkan informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi tim dan organisasi. Dari informasi tersebut, kita dapat menentukan visi untuk satu sampai tiga tahun ke depan, kemudian menyusun strategi, menentukan struktur tim, dan menempatkan orang yang sesuai dengan kebutuhan tim.

5. Saat bulan ketiga, perubahan yang sudah direncanakan perlu dikomunikasikan kepada tim. Kita perlu menjelaskan visi, struktur dan penempatan staf, harapan kepada anggota tim, serta membuat alasan mengapa perubahan tersebut diperlukan. Setelah itu, barulah perubahan mulai diterapkan melalui tindakan nyata.

6. Menurut dari materi/sumber yang saya baca, pengalaman tersebut dapat dimanfaatkan dengan mencari umpan balik, mencoba tantangan 10% di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal kepemimpinan, dan memiliki rencana pengembangan.

7. Untuk mendapatkan umpan balik, kita perlu secara aktif meminta pendapat dari orang lain, terutama dari anggota tim. Menurut saya, tidak cukup hanya mengatakan bahwa kita terbuka terhadap kritik dan saran. Kita juga harus benar-benar menunjukkan bahwa kita mau mendengarkan dan menerima masukan tersebut.

8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil “10 persen stretch”, yaitu mencoba melakukan sesuatu yang sedikit berada di luar zona nyaman. Dengan cara ini, kita dapat mengembangkan kemampuan dan mencoba cara baru dalam berkomunikasi maupun menjalankan tugas.

9. Kita dapat belajar dari orang lain dengan mengamati cara mereka menghadapi masalah dan menjalankan tugas, kemudian mengajukan pertanyaan untuk memahami alasan di balik tindakan mereka. Pembelajaran juga bisa didapatkan dari situasi/kondisi sehari-hari karena setiap orang dan pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran.

10. Jurnal dapat digunakan untuk mencatat pengalaman, interaksi, kejadian, bacaan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Menurut saya, jurnal membantu kita melihat kembali suatu kejadian dari sudut pandang yang berbeda, memahami perkembangan diri, dan menyimpan ide yang mungkin dapat digunakan di kemudian hari.

11. Rencana pengembangan dapat dibuat dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dan melihat kemampuan apa yang masih perlu dikembangkan. Kita dapat menggunakan hasil evaluasi, umpan balik dari atasan maupun rekan sejawat, serta melihat keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan peran yang lebih tinggi atau berbeda.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan formal, pelatihan, pengalaman kerja, maupun belajar langsung dari orang lain.

13. Kita perlu memahami bagaimana pekerjaan yang dilakukan berhubungan dengan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, kemampuan teknis yang dimiliki dapat dievaluasi melalui umpan balik, penilaian kinerja, atau data kinerja untuk mengetahui bagian yang sudah kuat dan yang masih harus diperbaiki.

14. Untuk menjadi ahli dalam pekerjaan, kita dapat mengikuti pendidikan atau pelatihan, mengamati/ memperhatikan cara orang lain bekerja, kemudian mengajukan pertanyaan, dan mencoba mengajarkan pekerjaan tersebut kepada orang lain. Dengan mengajarkan kepada orang lain, pemahaman dan keahlian kita juga dapat semakin meningkat.

15. Kita dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek bersama, atau terlibat dalam kegiatan tertentu. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami pekerjaan sendiri, tetapi juga memahami bagaimana bagian lain berkontribusi terhadap organisasi.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun dengan memahami bahwa keberhasilan kita dan keberhasilan atasan saling berkaitan. Kita perlu memberikan dukungan, menjaga kepercayaan, menyampaikan informasi dengan jujur, dan menjalankan tanggung jawab dengan baik tanpa harus melakukan penjilatan atau bermain politik.

17. Untuk memahami dunia atasan, kita perlu mengetahui tujuan pribadi dan organisasi yang ingin dicapai oleh atasan, termasuk nilai, preferensi, dan kepribadiannya. Kita juga perlu memahami kekuatan, kelemahan, serta kendala yang dimiliki atasan sehingga dapat memberikan dukungan yang sesuai.

18. Kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berinteraksi sesuai dengan gaya atasan. Menurut saya, kemampuan beradaptasi sangatlah penting supaya komunikasi dan hubungan kerja dengan atasan dapat berjalan lebih efektif.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun dengan menjaga komunikasi, saling membantu, dan membangun hubungan yang baik. Kita juga perlu menyadari bahwa dalam pekerjaan, terkadang kita membutuhkan bantuan dari rekan kerja sehingga hubungan yang baik akan mendukung efektivitas dan kenyamanan dalam kerja.

20. Kita perlu mengetahui minat, nilai, tujuan, dan harapan dari rekan sejawat. Komunikasi informal dapat membantu menemukan kesamaan tersebut. Kita juga perlu terbuka dalam menyampaikan tujuan sendiri dan mau mendengarkan kebutuhan serta pendapat dari orang lain.

21. Kita perlu memahami tugas yang dijalankan rekan sejawat, masalah yang mereka hadapi, serta hal-hal yang menjadi imbalan bagi mereka. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat lebih mudah memberikan bantuan dan membangun hubungan kerja yang baik.

22. Perencanaan pengembangan dapat dilakukan melalui lima tahap, yaitu mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, menentukan prioritas, menyusun rencana, meninjau dan memodifikasi rencana secara berkala, kemudian menerapkan hasil pembelajaran di lingkungan baru.

23. Setelah menjalankan rencana pengembangan, kita perlu melihat kembali perkembangan yang sudah dicapai. Jika ada tujuan yang belum sesuai atau cara yang kurang efektif, rencana tersebut dapat dimodifikasi. Evaluasi juga dapat dilakukan dengan meminta pendapat dari atasan atau rekan kerja.

24. Hasil belajar dapat diterapkan dengan mencoba menggunakan keterampilan yang sudah diperoleh dalam lingkungan atau situasi yang baru. Kita juga dapat membagikan atau mengajarkan keterampilan tersebut kepada orang lain sehingga pembelajaran yang diperoleh tidak berhenti pada diri sendiri.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dansia Citary -
Nama:Dansia Citary
Npm;2511011107

1. Menurut saya, pemimpin harus mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, melihat masalah yang ada, dan mengetahui kondisi organisasi sebelum mengambil keputusan.

2. Dengan bersikap ramah, percaya diri, tegas, dan terbuka. Pemimpin juga harus mau mendengarkan anggota tim agar mereka merasa dihargai.

3. Pemimpin mulai mengenal anggota tim, memahami tugas masing-masing, mempelajari aturan kerja, dan membangun komunikasi yang baik.

4. Pemimpin mulai menentukan strategi, membagi tugas, dan menempatkan anggota sesuai kemampuan mereka agar pekerjaan berjalan lebih efektif.

5. Pemimpin harus menjelaskan perubahan dengan jelas, termasuk alasan dan manfaatnya. Dengan komunikasi yang baik, anggota tim akan lebih mudah menerima perubahan.

6. Dengan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, melihat keberhasilan dan kesalahan, lalu menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara memimpin.

7. Dengan meminta pendapat dari anggota tim, rekan kerja, atau atasan. Pemimpin juga harus terbuka terhadap kritik agar mengetahui kekurangannya.

8. Dengan berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru. Dari tantangan tersebut, kita bisa mendapatkan pengalaman dan meningkatkan kemampuan.

9. Dengan mengamati cara orang lain bekerja, bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, dan mengambil hal-hal positif yang bisa diterapkan.

10. Dengan mencatat pengalaman, masalah, keputusan, kesalahan, dan hal-hal yang dipelajari setiap hari atau setiap minggu. Dari jurnal tersebut kita bisa melihat perkembangan diri.

11. Kita harus mengetahui kekurangan diri, menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, menentukan cara untuk mengembangkannya, dan menetapkan target waktu.

12. Dengan terus belajar, mengikuti pelatihan, membaca informasi terbaru, bertanya kepada orang yang lebih ahli, dan mempraktikkannya secara langsung.

13. Dengan melihat hubungan antara pekerjaan yang kita lakukan dengan tujuan organisasi. Jadi, kita bisa mengetahui bagaimana pekerjaan kita membantu mencapai tujuan perusahaan.

14. Dengan terus belajar, berlatih, mencari pengalaman, dan belajar dari kesalahan. Semakin sering kita belajar dan mempraktikkannya, kemampuan kita akan semakin baik.

15. Dengan mengambil tugas baru, mengikuti proyek, membantu pekerjaan di bidang lain, atau mengikuti pelatihan yang dapat menambah kemampuan.

16. Dengan berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, menghargai atasan, dan menyampaikan pendapat dengan sopan.

17. Kita harus memahami bahwa atasan juga mempunyai target, tekanan, dan tanggung jawab. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa lebih mengerti keputusan yang dibuat atasan.

18. Kita perlu memahami cara atasan berkomunikasi dan bekerja, kemudian menyesuaikan cara kita bekerja dengan gaya tersebut tanpa menghilangkan sikap profesional.

19. Dengan saling menghargai, menjaga komunikasi, mau membantu, dan bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan.

20. Dengan berdiskusi dan mengetahui apa yang ingin dicapai masing-masing pihak. Setelah itu, kita mencari tujuan yang dapat dicapai bersama.

21. Dengan memahami tanggung jawab, kesulitan, dan hal yang membuat mereka termotivasi. Dengan begitu, kita bisa lebih mudah bekerja sama dan memberikan bantuan.

22. Tentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, langkah-langkah yang harus dilakukan, serta waktu untuk mencapai tujuan tersebut.

23. Dengan mengevaluasi hasil yang sudah dicapai. Jika ada cara yang kurang efektif, kita bisa memperbaiki atau mengubah rencana agar hasilnya lebih baik.

24. Kita harus memahami kondisi lingkungan baru terlebih dahulu, kemudian menyesuaikan ilmu dan pengalaman yang sudah dimiliki dengan situasi tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Fadly Sinatriya 2511011101 -
Fadly Sinatriya
2511011101

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama
Pemimpin perlu mengenali lingkungan kerja, memahami kondisi tim, mengetahui target organisasi, dan menentukan hal-hal yang harus diprioritaskan.
2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
Tunjukkan sikap ramah, tegas, bertanggung jawab, dan percaya diri. Buat anggota tim merasa nyaman sekaligus menghormati posisi pemimpin.
3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Gunakan waktu awal untuk mengenal anggota tim, memahami sistem kerja, mencari masalah utama, dan membangun komunikasi yang baik.
4. Dua Bulan Pertama: Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Tentukan arah kerja yang jelas, atur pembagian tugas, dan tempatkan setiap anggota pada posisi yang sesuai dengan kemampuan mereka.
5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Sampaikan rencana perubahan dengan jelas, jelaskan manfaatnya, dengarkan pendapat anggota, dan dorong mereka untuk ikut menjalankan perubahan.
6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Lihat kembali apa yang sudah dilakukan, kemudian tentukan mana yang berhasil, mana yang kurang berhasil, dan apa yang perlu diperbaiki.
7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Buat komunikasi dua arah dengan meminta masukan secara langsung, melakukan diskusi, atau menyediakan waktu khusus untuk mendengarkan pendapat anggota tim.
8. Menghadapi Tantangan Tambahan
Jangan menghindari tugas yang sulit. Gunakan tantangan sebagai kesempatan untuk menguji kemampuan dan mendapatkan pengalaman baru.
9. Belajar dari Orang Lain
Belajar melalui pengalaman pemimpin lain, berdiskusi dengan rekan kerja, mengamati cara mereka menyelesaikan masalah, dan mengambil hal positif dari pengalaman tersebut.
10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Tuliskan kegiatan penting, keputusan yang dibuat, masalah yang muncul, serta pelajaran yang diperoleh sebagai bahan evaluasi diri.
11. Membuat Rencana Pengembangan
Tentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah nyata yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
12. Membangun Kompetensi Teknis
Tingkatkan kemampuan melalui belajar, mengikuti pelatihan, membaca sumber yang relevan, dan mempraktikkan keterampilan secara langsung.
13. Menentukan Kontribusi Pekerjaan terhadap Misi Keseluruhan
Pahami tujuan utama organisasi lalu hubungkan pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan tersebut agar setiap tugas memiliki manfaat yang jelas.
14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Kenali pekerjaan secara mendalam, pahami prosedurnya, terus berlatih, dan belajar dari kesalahan maupun pengalaman.
15. Memperluas Pengalaman
Ambil kesempatan untuk mengikuti kegiatan, proyek, atau tugas yang berbeda agar kemampuan dan wawasan semakin luas.
16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Pahami harapan atasan, komunikasikan pekerjaan dengan baik, tepati tanggung jawab, dan tunjukkan bahwa kita dapat dipercaya.
17. Memahami Dunia Atasan
Pahami beban kerja, tanggung jawab, target, dan permasalahan yang dihadapi atasan sehingga komunikasi dan kerja sama menjadi lebih mudah.
18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Kenali cara atasan bekerja dan berkomunikasi, kemudian sesuaikan cara menyampaikan informasi dan menjalankan tugas agar kerja sama lebih efektif.
19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Bangun hubungan berdasarkan rasa percaya, saling menghargai, komunikasi yang baik, dan kesediaan untuk membantu satu sama lain.
20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Cari tujuan yang dapat menguntungkan semua pihak sehingga perbedaan kepentingan dapat diselesaikan melalui kerja sama.
21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Pahami pekerjaan dan kesulitan yang dihadapi rekan kerja serta hal-hal yang menjadi motivasi mereka agar hubungan kerja lebih baik.
22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Buat rencana yang berisi kemampuan yang perlu ditingkatkan, tujuan pengembangan, kegiatan yang dilakukan, dan waktu untuk mengevaluasinya.
23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan
Setelah mendapatkan pengalaman baru, evaluasi perkembangan diri. Jika ada bagian yang tidak sesuai, ubah rencana agar lebih efektif.
24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Jangan hanya menyimpan pengetahuan yang diperoleh. Terapkan dalam pekerjaan baru dengan menyesuaikannya terhadap kondisi dan kebutuhan lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Risa Dilasari -
Nama : Risa Dilasari
NPM : 2511011134

1. sebelum memulai, pemimpin perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang organisasi, budaya, tim, tujuan, kekuatan, kelemahan, serta masalah yang ada. Pemimpin juga perlu menyiapkan agenda dan pertemuan untuk masa awal kepemimpinan.
2. Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan seluruh tim. Pemimpin menjelaskan latar belakang, nilai, harapan, cara kerja, serta rencana ke depan. Kepada atasan, pemimpin juga perlu memahami tujuan, metrik, proyek penting, dan gaya komunikasi yang diharapkan.
3. fokusnya adalah belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan menemukan calon sekutu. Pemimpin melakukan pertemuan dengan anggota tim, rekan sejawat, anggota berprestasi, serta orang yang pernah berada dalam tim untuk memahami kondisi dan masalah tim.
4. Pemimpin mengumpulkan informasi tambahan, menentukan visi/strategi, kemudian menyesuaikan struktur dan penempatan staf. Urutannya harus strategi → struktur → penempatan staf, serta keputusan perubahan perlu didiskusikan dengan atasan dan rekan sejawat terlebih dahulu.
5. pemimpin mengomunikasikan visi, alasan perubahan, struktur baru, ekspektasi, dan nilai-nilai tim kepada seluruh anggota. Untuk tim besar, dapat dilakukan pertemuan di luar kantor untuk menyepakati nilai, membuat target konkret, menetapkan ritme operasional, dan membentuk tim tugas untuk perubahan.
6. pemimpin perlu secara aktif merefleksikan pengalaman, mencari umpan balik, mengambil tantangan di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan memiliki rencana pengembangan.
7. jangan hanya mengatakan memiliki open-door policy. Pemimpin harus secara aktif meminta feedback, terutama dari bawahan, melalui percakapan, survei, kuesioner, atau evaluasi berkala.
8. gunakan konsep “10 persen stretch”, yaitu secara bertahap melakukan sesuatu sedikit di luar zona nyaman untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Contohnya lebih aktif berbicara, memimpin komite, atau melatih ketenangan dalam rapat.
9. pemimpin harus menyadari bahwa siapa pun dapat menjadi sumber pembelajaran. Caranya dengan mengamati cara orang lain menghadapi masalah, bertanya, serta belajar dari orang yang pernah menduduki posisi yang sama.
10. jurnal bukan sekadar mencatat kegiatan harian, tetapi berisi refleksi terhadap pengalaman kepemimpinan, interaksi dengan orang lain, ide, bacaan, dan pelajaran yang diperoleh. Jurnal membantu melihat pengalaman secara lebih objektif dan menjadi catatan perkembangan diri.
11. pemimpin perlu membuat rencana yang berisi tujuan dan strategi pengembangan diri berdasarkan kekuatan, kelemahan, feedback, pengalaman, serta kebutuhan karier. Rencana harus sistematis dan dapat dicapai.
12. kompetensi teknis dibangun melalui pendidikan/pelatihan formal, pelatihan kerja, dan pengalaman. Pemimpin perlu terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan pekerjaannya.
13. pertama, pahami bagaimana pekerjaan sendiri berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi. Setelah itu, identifikasi pengetahuan dan keterampilan yang paling penting untuk mendukung kontribusi tersebut.
14. menjadi ahli dapat dilakukan melalui pendidikan/pelatihan, mengamati orang lain, bertanya, dan mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Mengajar orang lain membantu memperdalam pemahaman dan keahlian sendiri.
15. cobalah mengerjakan tugas atau posisi lain, mengunjungi bagian lain organisasi, ikut proyek lintas unit, atau terlibat dalam kegiatan organisasi/masyarakat. Hal ini memperluas pemahaman dan keterampilan.
16. bawahan perlu secara aktif membangun hubungan dengan atasan dengan mendukung keberhasilan atasan dan organisasi, memberikan informasi penting, serta menunjukkan sikap kritis dan konstruktif.
17. pahami tujuan pribadi dan organisasi, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan atasan. Dengan begitu, bawahan dapat memberikan dukungan yang lebih tepat.
18. bawahan harus fleksibel menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan interaksi atasannya. Ekspektasi mengenai peran juga perlu diklarifikasi.
19. bangun aliansi dan hubungan kerja yang positif, karena pekerjaan sering membutuhkan bantuan dan sumber daya dari rekan kerja. Hubungan yang baik juga dapat membantu pencapaian tujuan bersama.
20. cari kesamaan dalam minat, nilai, tujuan, dan harapan. Hal ini dapat dilakukan melalui komunikasi informal, keterbukaan, mendengarkan orang lain, dan berinteraksi di luar konteks pekerjaan formal.
21. pahami pekerjaan, masalah, serta sistem imbalan yang dihadapi rekan kerja. Dengan memahami kondisi tersebut, kita dapat memberikan bantuan, feedback, apresiasi, dan kerja sama yang lebih tepat.
22. Menurut Peterson dan Hicks, terdapat lima fase:

1. Mengidentifikasi kebutuhan pengembangan.
2. Menganalisis dan memprioritaskan kebutuhan.
3. Menyusun rencana pengembangan.
4. Meninjau dan memodifikasi rencana.
5. Mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru.

23.rencana perlu ditinjau secara berkala berdasarkan pengalaman dan pembelajaran. Gunakan proses Action–Observation–Reflection (AOR) untuk mengevaluasi apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, kemudian memperbarui rencana.
24.tahap terakhir adalah mentransfer pembelajaran ke lingkungan atau situasi baru. Artinya, pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh tidak hanya dipahami, tetapi diterapkan dalam konteks pekerjaan atau kepemimpinan yang berbeda.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Aleza Elvanda Hendri 2511011077 -
Nama : Aleza Elvanda Hendri
NPM : 2511011077

1. Sebelum mulai menjalankan tugas sebagai pemimpin, seseorang perlu mempersiapkan diri dengan memahami organisasi, budaya kerja, kondisi tim, serta berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. Seorang pemimpin juga perlu mempelajari informasi mengenai kinerja, anggaran, proyek, dan administratif agar dapat menjalankan tugas dengan baik sejak awal.
2. Kesan pertama dapat dibangun dengan menunjukkan sikap profesional dan terbuka. Seorang pemimpin perlu merancang dan mengelola tujuan, kondisi tim, sistem komunikasi, serta harapan yang harus dicapai. Selain itu, pemimpin juga perlu memperkenalkan diri kepada anggota tim dan menjelaskan nilai serta rencana kerja yang akan dijalankan.
3. Pada dua minggu pertama, pemimpin sebaiknya lebih banyak mengamati, mendengarkan, dan mengumpulkan informasi daripada langsung membuat perubahan. Pertemuan dengan anggota tim dan rekan kerja dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pekerjaan, masalah yang dihadapi, peluang perbaikan, serta mendapatkan masukan mengenai kepemimpinan.
4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menentukan arah dan strategi tim berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan. Setelah strategi ditentukan, pemimpin menyesuaikan struktur organisasi dan menentukan orang yang sesuai untuk menjalankan setiap posisi. Dengan demikian, strategi harus menjadi dasar dalam menentukan struktur, kemudian struktur menjadi dasar dalam penempatan staf.
5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, harapan, dan perubahan yang akan dilakukan kepada anggota tim. Perubahan tidak cukup hanya dijelaskan melalui komunikasi, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata, seperti perubahan struktur, promosi, sistem perekrutan, atau penempatan anggota tim.
6. Dalam buku, hanya terdapat konsep 90 hari pertama. Pengalaman selama masa awal kepemimpinan dapat dijadikan bahan pembelajaran dengan cara meminta masukan dari orang lain, mencoba tantangan baru, mempelajari pengalaman orang lain, membuat jurnal atau catatan, serta menyusun rencana pengembangan diri.
7. Pemimpin perlu secara aktif meminta pendapat dari pihak internal perusahaan termasuk karyawan. Umpan balik dapat diperoleh melalui percakapan langsung, evaluasi, survei, atau diskusi. Sebagai seorang pemimpin, kita perlu menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik dan saran sehingga orang lain tidak merasa takut untuk memberikan pendapat.
8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mencoba aktivitas yang sedikit lebih sulit dibandingkan kemampuan yang biasa dilakukan. Konsep ini dikenal sebagai 10 persen stretch, yaitu keluar sedikit dari zona nyaman agar kemampuan dan pengalaman semakin berkembang.
9. Pemimpin dapat meningkatkan kemampuan dengan memperhatikan dan mempelajari pengalaman orang lain dengan bertanya, berdiskusi, mengamati cara orang lain menyelesaikan masalah, serta mempelajari pengalaman orang lain. Dengan begitu, pembelajaran kepemimpinan tidak hanya berasal dari pengalaman diri sendiri.
10. Jurnal kepemimpinan dapat digunakan untuk mencatat pengalaman, kejadian penting, pemikiran, serta pelajaran yang diperoleh selama menjalankan tugas. Melalui jurnal, pemimpin dapat melakukan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan melihat perubahan atau perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.
11. Rencana pengembangan dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dan mengetahui kemampuan apa saja yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu, seorang pemimpin perlu menentukan kegiatan yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut, seperti pelatihan, mencari pengalaman baru, meminta umpan balik, dan melakukan evaluasi secara berkala.
12. Kompetensi teknis dapat dikembangkan melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman langsung, mengamati orang yang lebih ahli, bertanya, dan berbagi pengetahuan kepada orang lain. Penguasaan kompetensi teknis membantu pemimpin memahami pekerjaan dengan lebih baik sehingga dapat membimbing anggota tim secara lebih efektif.
13. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan dan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Sehingga, pemimpin dapat menentukan kemampuan apa yang paling dibutuhkan agar pekerjaannya mampu memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi.
14. Untuk menjadi ahli, kita perlu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman, serta belajar dari orang yang lebih berpengalaman. Mengajarkan pengetahuan kepada orang lain juga dapat membantu memperdalam pemahaman terhadap pekerjaan yang dikuasai.
15. Pengalaman dapat diperluas dengan bersedia mencoba pekerjaan atau tanggung jawab yang berbeda. Pemimpin dapat mengikuti proyek baru, bekerja sama dengan bagian lain, mengikuti kegiatan lintas organisasi, atau mengambil tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Cara ini dapat membantu memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
16. Hubungan yang baik dengan atasan dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, dukungan, dan tanggung jawab. Seorang karyawan perlu membantu atasannya mencapai tujuan organisasi, memberikan informasi yang diperlukan, serta menunjukkan bahwa keberhasilan dirinya juga berkaitan dengan keberhasilan atasannya.
17. Kita perlu memahami dunia atasan dengan berusaha melihat pekerjaan dari sudut pandang atasan, bukan hanya dari posisi sendiri. Kita perlu mengetahui apa yang menjadi prioritas, target, cara kerja, serta hal-hal yang menjadi perhatian atasan. Dengan pemahaman tersebut, kita dapat memberikan informasi dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan atasan serta lebih mudah menyesuaikan diri dalam bekerja.
18. Setiap atasan memiliki kebiasaan dan cara yang berbeda dalam berkomunikasi maupun mengambil keputusan. Oleh karena itu, karyawan perlu menyesuaikan cara menyampaikan informasi, bekerja, dan berkomunikasi agar sesuai dengan karakter atasannya. Namun, penyesuaian tersebut tetap harus dilakukan dengan menjaga kejujuran, tanggung jawab, dan profesionalisme dalam menjalankan pekerjaan.
19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, kerja sama, saling membantu, dan menciptakan kepercayaan. Hubungan tersebut penting karena dalam organisasi seseorang sering membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan.
20. Kita perlu memahami apa yang menjadi tujuan, nilai, kepentingan, dan harapan rekan kerja. Setelah itu, mencari kesamaan dengan tujuan yang dimiliki sendiri dengan komunikasi dan keterbukaan. Komunikasi harus dilakukan dua arah dengan tidak hanya menyampaikan kepentingan sendiri, tetapi juga mau mendengarkan orang lain.
21. Pemimpin perlu mengetahui jenis pekerjaan yang dilakukan rekan kerja, kesulitan yang mereka hadapi, serta bentuk penghargaan atau imbalan yang mereka terima. Pemahaman ini membantu seseorang melihat alasan di balik perilaku rekan kerja dan tidak langsung menilai perilaku negatif sebagai masalah pribadi. Memberikan bantuan, apresiasi, dan penghargaan juga dapat memperkuat hubungan kerja.
22. Perencanaan pengembangan dilakukan dengan mengetahui kemampuan yang perlu dikembangkan, menentukan prioritas, menyusun langkah-langkah pengembangan, kemudian mengevaluasinya secara berkala dengan membagi proses menjadi lima tahap, yaitu mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, membuat rencana, melakukan evaluasi dan refleksi, serta menerapkan hasil pembelajaran pada lingkungan baru.
23. Refleksi dilakukan dengan melihat kembali perkembangan yang telah dicapai dan menilai apakah rencana yang dibuat masih sesuai dengan tujuan. Jika terdapat kekurangan atau perubahan kebutuhan, rencana tersebut dapat diperbaiki dan disesuaikan. Evaluasi bersama juga dapat membantu mendapatkan penilaian yang lebih objektif.
24. Hasil pembelajaran perlu diterapkan pada situasi atau lingkungan yang berbeda agar keterampilan yang diperoleh dapat terus berkembang. Rencana pengembangan sebaiknya bersifat fleksibel dan dapat diperbarui berdasarkan pengalaman, masukan, serta kemampuan baru yang telah diperoleh.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Shanasya Salsabila Andrika 2511011041 -
Nama: Shanasya Salsabila Andrika
NPM: 2511011041

1. Menurut saya, persiapan awal sebagai pemimpin adalah memahami dulu kondisi organisasi. Kita perlu mengenal orang-orang di dalamnya, mengetahui budaya kerja, tujuan yang ingin dicapai, masalah yang sedang terjadi, dan apa yang diharapkan dari kita sebagai pemimpin. Jadi, jangan langsung membuat perubahan sebelum benar-benar memahami keadaan.

2. Kesan pertama bisa dibangun dari sikap yang ramah, terbuka, percaya diri, dan mau mendengarkan. Pemimpin juga harus bisa menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Menurut saya, cara memperlakukan anggota sejak awal cukup berpengaruh terhadap hubungan kerja ke depannya.

3. Dua minggu pertama sebaiknya digunakan untuk mengenal lingkungan dan membangun hubungan dengan anggota. Saya akan lebih banyak mengamati, bertanya, mendengarkan pendapat anggota, dan mencari tahu masalah yang ada. Dari situ baru bisa terlihat apa yang menjadi kekuatan dan kekurangan dalam tim.

4. Setelah mulai memahami kondisi organisasi, pemimpin dapat menentukan strategi dan prioritas yang ingin dicapai. Pembagian tugas juga harus dibuat jelas supaya setiap anggota mengetahui tanggung jawabnya. Dalam menempatkan staf, kemampuan dan pengalaman masing-masing orang perlu dipertimbangkan agar pekerjaan bisa berjalan lebih efektif.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan rencana dan perubahan yang ingin dilakukan kepada anggota. Menurut saya, perubahan akan lebih mudah diterima kalau dijelaskan dengan alasan dan tujuan yang jelas. Pemimpin juga harus memberi contoh dan mengajak anggota untuk ikut terlibat, bukan hanya memberikan perintah.

6. Pengalaman selama 100 hari pertama bisa menjadi pembelajaran dengan cara melakukan evaluasi. Kita bisa melihat keputusan mana yang berhasil, mana yang belum berhasil, dan apa penyebabnya. Dari pengalaman tersebut kita bisa belajar untuk memperbaiki cara bekerja dan mengambil keputusan berikutnya.

7. Umpan balik bisa didapatkan dengan membiasakan komunikasi yang terbuka. Pemimpin dapat bertanya langsung kepada anggota mengenai cara kepemimpinannya atau meminta pendapat setelah suatu pekerjaan selesai. Kritik dan saran sebaiknya diterima dengan terbuka karena bisa membantu kita mengetahui kekurangan yang mungkin tidak kita sadari.

8. Tantangan tambahan bisa dilakukan dengan mencoba pekerjaan atau tanggung jawab yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini memang membuat kita keluar dari zona nyaman, tetapi bisa menambah pengalaman dan kemampuan. Tantangannya juga tetap harus disesuaikan dengan kemampuan supaya bisa dijalankan dengan baik.

9. Kita bisa belajar dari orang lain dengan melihat bagaimana mereka bekerja dan menghadapi suatu masalah. Selain mengamati, kita juga bisa bertanya dan meminta saran dari orang yang lebih berpengalaman. Hal-hal baik dari mereka bisa dijadikan contoh, sedangkan kesalahan mereka bisa menjadi pelajaran bagi kita.

10. Jurnal pemimpin menurut saya tidak harus berisi tulisan yang terlalu formal. Kita bisa mencatat kejadian penting, keputusan yang sudah dibuat, masalah yang muncul, dan bagaimana kita menyelesaikannya. Setelah itu, kita bisa menuliskan pelajaran yang didapat supaya pengalaman tersebut tidak hanya berlalu begitu saja.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan mengetahui terlebih dahulu kemampuan apa yang sudah kita punya dan kemampuan apa yang masih kurang. Setelah itu kita menentukan tujuan yang ingin dicapai dan cara untuk mencapainya. Misalnya ingin meningkatkan kemampuan komunikasi, maka bisa dilakukan dengan mengikuti pelatihan atau lebih sering melakukan presentasi.

12. Kompetensi teknis bisa dibangun dengan terus belajar dan berlatih sesuai bidang pekerjaan. Kita bisa mengikuti pelatihan, membaca referensi, belajar dari orang yang lebih ahli, dan langsung mempraktikkannya. Semakin sering digunakan, kemampuan tersebut akan semakin terbiasa dan berkembang.

13. Untuk mengetahui kontribusi pekerjaan terhadap misi organisasi, kita harus memahami tujuan organisasi terlebih dahulu. Setelah itu kita lihat hubungan antara tugas yang kita kerjakan dengan tujuan tersebut. Dengan begitu, kita akan lebih memahami bahwa setiap pekerjaan memiliki peran dalam membantu organisasi mencapai tujuannya.

14. Menjadi ahli dalam pekerjaan membutuhkan proses yang cukup panjang. Kita harus terus belajar, berlatih, mencari pengalaman, dan tidak malu untuk bertanya ketika belum memahami sesuatu. Selain itu, masukan dari orang lain juga penting supaya kita tahu bagian mana yang masih harus diperbaiki.

15. Pengalaman bisa diperluas dengan berani mencoba kegiatan atau pekerjaan yang berbeda. Misalnya ikut dalam proyek baru, membantu bagian lain, mengikuti kegiatan organisasi, atau mengambil tanggung jawab tambahan. Dari pengalaman tersebut kita bisa mendapatkan pengetahuan baru yang mungkin tidak didapatkan dari pekerjaan utama.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik dan sikap profesional. Kita perlu memahami apa yang diinginkan atasan, menyelesaikan pekerjaan dengan bertanggung jawab, dan memberikan informasi jika ada kendala. Kalau ada perbedaan pendapat, sebaiknya disampaikan dengan cara yang baik dan tetap menghargai atasan.

17. Memahami dunia atasan berarti kita mencoba melihat pekerjaan dari sudut pandang mereka. Atasan juga memiliki target, tanggung jawab, dan tekanan dalam pekerjaannya. Dengan memahami hal tersebut, kita jadi tidak hanya melihat masalah dari sisi kita sendiri dan bisa lebih mengerti alasan di balik keputusan yang dibuat atasan.

18. Cara beradaptasi dengan gaya atasan adalah dengan memahami kebiasaan dan cara kerja mereka. Ada atasan yang suka penjelasan singkat, ada juga yang lebih suka laporan yang lengkap. Kita bisa menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja selama tidak menghilangkan sikap profesional.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun dengan saling menghargai, terbuka dalam berkomunikasi, dan mau membantu ketika dibutuhkan. Perbedaan pendapat dalam pekerjaan merupakan hal yang biasa. Yang penting, perbedaan tersebut tidak dibawa menjadi masalah pribadi dan tetap fokus pada tujuan bersama.

20. Kepentingan dan tujuan bersama bisa diketahui dengan banyak berkomunikasi dan berdiskusi dengan anggota tim. Kita perlu mengetahui apa yang menjadi kebutuhan masing-masing dan mencari bagian yang memiliki kesamaan. Kalau sudah menemukan tujuan yang sama, kerja sama akan lebih mudah dilakukan.

21. Untuk memahami rekan kerja, kita perlu mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka serta masalah yang mungkin sedang dihadapi. Kita juga perlu memahami apa yang membuat mereka termotivasi dan menghargai hasil kerja mereka. Dengan begitu, kita tidak mudah menilai seseorang hanya dari hasil akhirnya tanpa mengetahui proses yang mereka jalani.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dari menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan. Kemudian dibuat langkah-langkah yang jelas, misalnya kegiatan yang akan dilakukan dan waktu untuk mencapainya. Setelah berjalan, hasilnya perlu dilihat kembali supaya kita tahu apakah rencana tersebut sudah sesuai atau masih perlu diperbaiki.

23. Refleksi dilakukan dengan melihat kembali apa yang sudah kita pelajari dan hasil yang sudah dicapai. Kalau ternyata ada bagian yang belum sesuai dengan tujuan, kita perlu mencari penyebabnya. Dari hasil refleksi tersebut, rencana pengembangan bisa diubah atau disesuaikan supaya menjadi lebih efektif.

24. Ketika masuk ke lingkungan baru, hasil belajar yang sudah dimiliki tetap bisa digunakan, tetapi tidak semuanya bisa diterapkan dengan cara yang sama. Kita perlu melihat dulu bagaimana kondisi dan budaya di lingkungan tersebut. Setelah itu, pengetahuan dan pengalaman yang kita punya dapat disesuaikan agar cocok dengan situasi baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Sebelum memulai posisi baru, seorang pemimpin perlu mempelajari organisasi secara mendalam, mencakup sejarah, budaya kerja, kondisi tim, hingga permasalahan yang sedang dihadapi. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan pihak internal organisasi maupun permintaan data kepada atasan baru. Selain itu, rencana kegiatan untuk dua minggu pertama juga perlu disusun sejak awal.

2. Pada hari pertama, pemimpin sebaiknya bertemu dengan atasan sekaligus seluruh anggota tim. Bersama atasan, hal yang dibahas meliputi tujuan utama, metrik keberhasilan, proyek-proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta gaya komunikasi yang diharapkan. Sementara kepada tim, pemimpin perlu menyampaikan latar belakang dirinya, nilai-nilai yang dianut, ekspektasi, kebiasaan kerja, cara berinteraksi, serta rencana untuk beberapa minggu ke depan.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk mempelajari banyak hal, menjalin hubungan, serta mengidentifikasi calon sekutu di masa mendatang. Pemimpin perlu menemui anggota tim, rekan sejawat, individu berprestasi tinggi, maupun mantan anggota tim, guna memahami pekerjaan, tujuan, kendala, dan potensi masing-masing anggota.

4. Dalam dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi tambahan dari berbagai sumber (organisasi lain, pelanggan, pemasok, atasan, rekan sejawat, maupun anggota tim) untuk merumuskan arah atau visi. Visi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan struktur, dan struktur pada gilirannya menjadi acuan dalam pengambilan keputusan penempatan staf.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mengomunikasikan visi, perubahan, struktur baru, penempatan staf, dan ekspektasi kepada seluruh tim. Jika tim berukuran besar, diperlukan pula pertemuan khusus dengan bawahan langsung untuk menyepakati nilai bersama, merumuskan target yang konkret, menetapkan ritme operasional, serta membentuk tim tugas guna menangani perubahan-perubahan utama.

6. Proses ini dapat ditempuh dengan menciptakan peluang mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal reflektif, serta menyusun rencana pengembangan diri.

7. Pemimpin harus secara aktif meminta masukan, terutama dari bawahannya. Sekadar mengklaim menerapkan kebijakan pintu terbuka tidak cukup, diperlukan sikap yang benar-benar mudah didekati dan ketulusan dalam menerima kritik. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau evaluasi berkala.

8. Tantangan tambahan dilakukan dengan menerapkan “10 persen stretch" yang diterapkan dengan secara sukarela memperluas perilaku sedikit di luar zona nyaman, misalnya lebih aktif berbicara, bersedia memimpin suatu kegiatan, atau mencoba bersikap lebih tenang maupun lebih tegas dalam rapat. Hal ini membantu mengurangi kecemasan, memperluas keterampilan, dan meningkatkan efektivitas kepemimpinan.

9. Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati, bertanya, berbagi pengalaman, dan belajar dari orang yang memiliki kemampuan atau pengalaman lebih baik.

10. Jurnal menjadi wadah refleksi atas pengalaman memimpin. Isinya dapat berupa catatan interaksi dengan atasan, bawahan, atau rekan kerja, komentar terhadap bacaan kepemimpinan, maupun pengamatan atas cara orang lain menyikapi suatu situasi. Jurnal membantu melihat suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda, mengevaluasi perkembangan pemikiran, dan menyimpan gagasan untuk digunakan kembali.

11. Rencana disusun secara sistematis dengan menetapkan tujuan pengembangan, mengidentifikasi kemampuan dan kebutuhan yang perlu ditingkatkan, serta menentukan strategi pencapaiannya. Rencana ini berfungsi sebagai peta jalan agar peluang pengembangan dapat dimanfaatkan secara optimal.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan dan pelatihan formal, pelatihan di tempat kerja, pengalaman, observasi terhadap orang lain, pengajuan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada pihak lain.

13. Langkah pertama adalah menentukan kontribusi pekerjaan terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Selanjutnya, identifikasi pengetahuan dan perilaku teknis yang paling relevan dengan keberhasilan tersebut, kemudian evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik atasan dan rekan kerja, penilaian kinerja, atau data kinerja objektif.

14. Keahlian dapat dicapai melalui pendidikan dan pelatihan, observasi terhadap orang lain, pengajuan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada pihak lain. Selain memahami apa yang dilakukan orang lain, penting pula memahami alasan di baliknya agar pemahaman menjadi lebih mendalam.

15. Caranya antara lain dengan mengambil tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek tim, serta mengikuti kegiatan pengembangan keterampilan. Dengan demikian, seseorang dapat memahami kontribusi bagian lain terhadap keberhasilan organisasi sekaligus memperoleh keterampilan baru.

16. Hubungan efektif dengan atasan dibangun melalui sikap aktif dalam mendukung atasan dan organisasi, bukan bersikap pasif. Kesuksesan diri sendiri dan atasan perlu dipandang saling berkaitan, sehingga penting untuk memberikan informasi relevan, membantu mengatasi kelemahan atasan, serta menjaga kejujuran dan keandalan.

17. Dunia atasan dipahami dengan mengetahui tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai-nilai, preferensi, kepribadian, kelebihan, kelemahan, serta kendala yang dihadapinya. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat memberikan dukungan yang tepat dan membantu melengkapi kelemahan atasan.

18. Bawahan harus menyesuaikan/beradaptasi diri dengan gaya atasannya, bukan mengharapkan atasan yang menyesuaikan diri. Penyesuaiannya mencakup cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan interaksi. Bawahan juga perlu memahami ekspektasi perannya serta bersikap jujur dan dapat diandalkan.

19. Hubungan ini dibangun melalui komunikasi yang baik, pencarian kesamaan kepentingan, pemahaman terhadap pekerjaan rekan, bantuan saat menghadapi kesulitan, serta pemeliharaan hubungan secara berkelanjutan. Kegiatan di luar konteks kerja, seperti acara sosial atau makan bersama, turut memperkuat hubungan tersebut.

20. Caranya dengan memahami tujuan, nilai, kebutuhan, dan minat rekan sejawat. Komunikasi informal dapat membantu menemukan kesamaan tersebut, sementara keterbukaan mengenai tujuan pribadi serta kesediaan mendengarkan aspirasi orang lain juga diperlukan.

21. Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja berarti memahami jenis pekerjaan yang mereka lakukan, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan yang mereka terima. Hal ini membantu membangun rasa hormat dan hubungan kerja sama. Selain itu, pemimpin perlu membantu rekan kerja ketika menghadapi masalah dan memahami faktor yang mendorong perilaku positif maupun negatif mereka. Dorongan yang dapat dilakukan seperti ucapan terima kasih, dan apresiasi yang tulus turut memengaruhi perilaku rekan kerja secara positif.

22. Proses ini terdiri atas lima tahap: mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, menganalisis dan memprioritaskan kebutuhan, menyusun rencana, meninjau serta memodifikasi rencana, dan menerapkan pembelajaran di lingkungan baru. Salah satu alat yang digunakan adalah analisis GAPS, yang mencakup tujuan (goals), kemampuan (abilities), persepsi (perceptions), dan standar (standards).

23. Rencana pengembangan perlu direfleksikan secara berkala untuk menilai kemajuan, memastikan tujuan masih sesuai, serta memodifikasi atau memperbarui rencana berdasarkan pembelajaran, umpan balik, keterampilan, dan kebutuhan yang berkembang.

24. Hasil belajar diterapkan di lingkungan baru dengan terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan yang telah diperoleh, serta membimbing orang lain dalam menggunakan keterampilan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Hairia Leena -
Npm: 2551011035
Nama: Hairia Leena

1. Memahami kondisi organisasi, tugas, budaya kerja, anggota tim, serta menentukan prioritas dan membangun hubungan yang baik.
2. Bersikap percaya diri, ramah, profesional, terbuka, dan mau mendengarkan anggota tim.
3. Mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mengamati kondisi organisasi, dan mengumpulkan informasi sebagai dasar tindakan.
4. Menyusun strategi, membagi tugas, menentukan struktur kerja, dan menempatkan staf sesuai kemampuan.
5. Menjelaskan strategi dan perubahan dengan jelas, memberikan contoh, mendukung anggota, serta melakukan evaluasi.
6. Mengevaluasi keberhasilan dan kesalahan selama 100 hari pertama untuk menjadi bahan perbaikan.
7. Meminta pendapat melalui diskusi atau percakapan dan menerima kritik dengan terbuka.
8. Mengambil tanggung jawab atau proyek baru untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman.
9. Mengamati dan mempelajari cara orang yang lebih berpengalaman dalam bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.
10. Mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran sebagai bahan refleksi.
11. Menentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, tujuan, langkah, dan waktu pencapaiannya.
12. Meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan, pelatihan, membaca, mengikuti perkembangan, dan praktik.
13. Memahami visi dan misi organisasi lalu menghubungkan setiap pekerjaan dengan tujuan tersebut.
14. Terus belajar, berlatih, memperdalam pengetahuan, dan belajar dari pengalaman maupun orang yang ahli.
15. Mengikuti proyek, pelatihan, tugas baru, atau bekerja sama dengan bagian lain untuk menambah pengalaman.
16. Menjalin komunikasi yang terbuka, memahami harapan atasan, memberikan laporan, dan bertanggung jawab.
17. Memahami tanggung jawab, target, tekanan, dan masalah yang dihadapi atasan.
18. Menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya kepemimpinan atasan.
19. Membangun kepercayaan, komunikasi, kerja sama, dan saling menghargai dengan rekan sejawat.
20. Mencari kesamaan kebutuhan dan tujuan serta mengutamakan kepentingan organisasi.
21. Memahami tugas, tanggung jawab, masalah, dan tujuan rekan sejawat agar kerja sama lebih efektif.
22. Menentukan kemampuan yang perlu ditingkatkan, tujuan, kegiatan, waktu, dan indikator keberhasilan.
23. Mengevaluasi hasil pembelajaran, mengetahui kekurangan, lalu memperbaiki atau menyesuaikan rencana.
24. Menyesuaikan hasil belajar dengan budaya, aturan, kondisi, dan kebutuhan lingkungan yang baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Asyrafil Akbar AMM -
Nama:Asyrafil Akbar Al Mukarom Muslim
NPM:2551011021

1. Sebelum menjalankan peran sebagai pemimpin, kita perlu memahami terlebih dahulu organisasi, budaya kerja, kondisi tim, dan tanggung jawab yang akan dijalankan. Kita juga perlu mengumpulkan informasi dari berbagai pihak agar lebih siap menghadapi masa awal kepemimpinan.

2. Kesan awal yang baik bisa dibentuk dengan memperkenalkan diri secara tepat, bersikap terbuka, serta menyampaikan nilai dan harapan kepada tim. Hubungan komunikasi dengan anggota tim dan atasan juga perlu dibangun sejak awal.

3. Pada dua minggu pertama, kita perlu fokus mengenal anggota tim dan memahami pekerjaan serta tujuan mereka. Selain itu, kita juga perlu melihat masalah yang ada sekaligus mengetahui potensi dan kemampuan masing-masing anggota.

4. Selama dua bulan awal, kita mulai mengolah informasi yang sudah diperoleh untuk menentukan arah tim. Setelah strategi ditetapkan, struktur tim dapat disesuaikan dan staf ditempatkan pada posisi yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

5. Memasuki bulan ketiga, kita perlu menjelaskan kepada seluruh tim mengenai visi, tujuan, harapan, dan perubahan yang akan dilakukan. Setiap perubahan juga harus disertai penjelasan mengenai alasan serta langkah nyata untuk menerapkannya.

6. Seratus hari pertama dapat menjadi bahan untuk meningkatkan kemampuan memimpin. Kita bisa melihat kembali tindakan yang sudah dilakukan, mengevaluasi keberhasilan dan kesalahan, menerima masukan, mencoba pengalaman baru, belajar dari orang lain, membuat catatan, dan menyusun pengembangan diri.

7. Untuk mengetahui kekurangan dalam kepemimpinan, kita perlu secara langsung meminta pendapat dari orang-orang di sekitar kita, seperti anggota tim, rekan kerja, bawahan, maupun atasan. Masukan tersebut harus diterima dengan sikap terbuka, termasuk ketika yang diberikan adalah kritik.

8. Kita dapat mengembangkan kemampuan dengan mencoba tanggung jawab yang belum biasa dilakukan atau sedikit melampaui zona nyaman. Dengan menghadapi pengalaman baru, kemampuan dan keterampilan dapat berkembang secara bertahap.

9. Kita bisa mendapatkan banyak pembelajaran dengan memperhatikan cara orang yang lebih berpengalaman dalam bekerja. Kita juga dapat bertanya mengenai cara mereka menghadapi masalah dan mengambil pelajaran dari keberhasilan maupun kesalahan yang pernah mereka alami.

10. Jurnal kepemimpinan dapat berisi berbagai pengalaman selama menjalankan tugas, seperti keputusan yang dibuat, kejadian penting, hal yang berhasil maupun gagal, serta pemikiran setelah mengalaminya. Catatan tersebut dapat digunakan untuk melihat perkembangan diri dan melakukan evaluasi.

11. Pengembangan diri diawali dengan menentukan kemampuan apa yang ingin ditingkatkan dan tujuan yang ingin dicapai. Setelah mengetahui kemampuan yang sudah ada dan bagian yang masih kurang, kita dapat menentukan keterampilan yang perlu dikembangkan serta tindakan yang harus dilakukan.

12. Kemampuan teknis dapat diperkuat melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman langsung dalam pekerjaan, dan belajar dari orang yang lebih menguasai bidang tersebut. Kemampuan tersebut juga perlu terus dilatih agar kita dapat bekerja dengan lebih baik dan efektif.

13. Kita perlu melihat keterkaitan antara pekerjaan sehari-hari dengan tujuan besar organisasi. Dengan memahami hubungan tersebut, kita akan mengetahui alasan pekerjaan kita penting dan seberapa besar hasilnya mendukung pencapaian tujuan organisasi.

14. Untuk semakin menguasai suatu pekerjaan, kita perlu terus belajar, mengikuti pelatihan, dan menambah pengalaman secara langsung. Pengetahuan juga bisa diperoleh dengan bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman dan membagikan ilmu yang sudah kita kuasai kepada orang lain.

15. Pengalaman dapat diperluas dengan tidak hanya terpaku pada tugas utama. Kita bisa mencoba tanggung jawab baru, ikut proyek tertentu, bekerja bersama divisi lain, menerima penugasan berbeda, atau terlibat dalam kegiatan organisasi lainnya.

16. Hubungan dengan atasan akan lebih efektif jika kita mampu berkomunikasi dengan baik dan memberikan informasi yang memang dibutuhkan. Kita juga perlu memahami tujuan atasan, memberikan dukungan, serta ikut bertanggung jawab dalam mencapai keberhasilan tim, bukan hanya berusaha mendapatkan perhatian atasan.

17. Untuk memahami atasan, kita perlu mengetahui apa yang menjadi tujuan dan nilai yang mereka pegang serta bagaimana cara mereka berpikir. Kita juga perlu memahami kelebihan, kekurangan, dan hal-hal yang menjadi preferensi maupun keterbatasan mereka agar dukungan yang diberikan bisa lebih tepat.

18. Setiap atasan memiliki kebiasaan dan cara kerja yang berbeda, sehingga kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi, bekerja, mengambil keputusan, dan memberikan informasi. Contohnya, apabila atasan lebih nyaman menerima laporan tertulis, maka penyampaian informasi sebaiknya dilakukan melalui cara tersebut.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat diperkuat dengan membangun komunikasi dan kerja sama yang baik. Sikap saling membantu, menghargai pendapat, serta menjaga kepercayaan akan membuat pekerjaan antarbagian berjalan lebih lancar.

20. Untuk menemukan kepentingan yang bisa diperjuangkan bersama, kita perlu memahami kebutuhan, nilai, minat, dan tujuan rekan kerja. Melalui komunikasi dan saling mendengarkan, kita dapat menemukan kesamaan yang bisa menjadi dasar untuk bekerja sama.

21. Kita perlu memahami apa saja yang menjadi tanggung jawab rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta penghargaan atau keuntungan yang mereka peroleh dari pekerjaannya. Pemahaman tersebut membantu kita mengetahui alasan di balik tindakan mereka sehingga kerja sama dapat dilakukan dengan lebih mudah.

22. Dalam menyusun pengembangan diri, kita bisa menggunakan analisis GAPS. Kita melihat dulu target yang ingin dicapai, kemampuan yang sudah kita punya, pandangan orang lain terhadap diri kita, serta standar yang harus dipenuhi dalam organisasi. Dari hasil tersebut, kita bisa menentukan bagian mana yang masih kurang dan perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan.

23. Pembelajaran perlu ditinjau kembali secara rutin untuk melihat apakah perkembangan yang dilakukan sudah sesuai dengan tujuan. Jika cara atau strategi yang digunakan ternyata kurang tepat, rencana pengembangan dapat diubah, dan evaluasinya juga bisa dilakukan bersama atasan atau rekan yang dipercaya.

24. Pengetahuan dan keterampilan yang sudah diperoleh perlu dicoba dalam lingkungan baru dengan menyesuaikannya terhadap kondisi yang ada. Penerapannya kemudian dapat diperbaiki berdasarkan pengalaman, tanggapan orang lain, dan hasil yang terlihat dari penggunaan keterampilan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Kgs.Fahri 2511011045 -
Nama : Kgs.Fahri Hidayatullah
NPM : 2511011045

1. Tahap persiapan diawali dengan pengumpulan data sebelum proses perekrutan berlangsung, dilanjutkan dengan aktivitas setelah perekrutan selesai. Hari pertama diisi dengan pertemuan bersama pimpinan dan seluruh anggota tim inti. Selama minggu pertama, kegiatan berlanjut dengan perkenalan kepada anggota tim, kolega, staf, serta keikutsertaan dalam berbagai pertemuan. Memasuki dua bulan awal, pemimpin baru mulai menggali perspektif dari luar, merumuskan strategi, menata struktur dan penempatan pegawai, melakukan sosialisasi, mengambil berbagai keputusan, serta menerima masukan. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengokohkan budaya kerja tim dan menjadwalkan pertemuan tim di luar kantor guna membahas nilai, strategi, ritme kerja, hal-hal yang perlu diperbaiki, dan evaluasi subtim.

2. Hari pertama diarahkan untuk membangun kesan awal lewat dua kegiatan pokok. Pertama, dilakukan diskusi selama satu jam bersama atasan di ruang kerjanya untuk membicarakan sasaran, proyek, kelebihan dan kekurangan tim, penyesuaian gaya komunikasi, serta pemaparan rencana kerja. Kedua, seluruh tim dikumpulkan untuk perkenalan latar belakang, nilai-nilai, cara kerja, serta rencana ke depan, kemudian diakhiri sesi tanya jawab singkat, walau interaksi bisa jadi masih terbatas karena tim belum mengenal pemimpin barunya.

3. Selama dua minggu pertama, pemimpin memprioritaskan pembelajaran, membangun relasi, dan mencari dukungan dengan menemui anggota tim, pegawai dengan kinerja unggul, kolega sejawat, hingga mantan anggota tim. Tujuan pertemuan ini adalah menggali gagasan, mengantisipasi potensi konflik, memahami latar belakang tim, serta mengenali posisi-posisi krusial dan calon internal yang potensial, sambil tetap berhati-hati menjaga kerahasiaan baik dalam ucapan maupun tulisan.

4. Selama enam minggu berikutnya, pemimpin baru berfokus merumuskan arah tim untuk jangka waktu 1–3 tahun mendatang dengan menghimpun informasi dari sumber eksternal maupun internal. Perubahan yang dilakukan harus mengikuti urutan strategi terlebih dahulu, baru struktur, kemudian penempatan staf, supaya tim tidak mengalami disfungsi. Sebelum dijalankan, ide-ide ini perlu dibahas terlebih dahulu bersama atasan dan rekan sejawat, lalu disampaikan langsung secara tatap muka kepada anggota tim yang akan terkena dampak. Sepanjang proses ini, pemimpin harus menjaga agar kinerja harian tim tetap stabil dan secara aktif meminta penilaian atas kinerjanya sendiri.

5. Pada bulan ketiga, fokus pemimpin adalah menjalankan perubahan melalui dua kegiatan utama. Pertama, pertemuan bersama seluruh tim untuk menyampaikan visi, struktur baru, latar belakang perubahan, serta memperlihatkan langkah nyata seperti promosi, restrukturisasi, atau pemberhentian. Kedua, pertemuan di luar kantor bersama bawahan langsung untuk menyepakati nilai-nilai penting tim, menyusun kartu penilaian kinerja, menetapkan jadwal rutin rapat, dan membentuk gugus tugas untuk menangani inisiatif perubahan utama.

6. Pemimpin bisa memperkaya nilai pembelajaran dari pengalamannya dengan menciptakan ruang untuk menerima umpan balik, mengambil tantangan yang sedikit di luar zona nyaman, belajar dari pengalaman orang lain, mencatat jurnal harian tentang kejadian-kejadian terkait kepemimpinan, dan menyusun rencana pengembangan diri.

7. Umpan balik tidak sekadar menjadi pernyataan kebijakan semata, melainkan juga dilihat dari sosok pemberi yang mudah dihampiri dan tulus dalam menyampaikannya. Informasi paling berharga untuk mengembangkan kepemimpinan bisa didapat dengan meminta pandangan orang lain tentang perilaku pemimpin dan pengaruhnya terhadap efektivitas tim secara keseluruhan. Pemimpin yang menjalani tes psikologis serta memanfaatkan survei atau kuesioner secara berkala akan memperoleh akses umpan balik yang lebih luas.

8. Perluasan perilaku sedikit di luar zona nyaman dapat dilakukan dengan mengobrol santai bersama semua orang di kantor minimal sekali dalam sehari, mencari peluang untuk memimpin sebuah komite, atau bersikap lebih kalem dari biasanya saat rapat (atau justru lebih tegas, sesuai kebutuhan situasi).

9. Para pemimpin dapat belajar banyak lewat pengamatan aktif terhadap cara orang lain merespons dan mengatasi berbagai tantangan serta situasi, sekalipun yang tergolong umum. Pemimpin juga dapat belajar melalui pengajuan pertanyaan. Momen krusial untuk bertanya adalah saat pemimpin baru bergabung dalam sebuah kelompok atau kegiatan dengan tanggung jawab tertentu, atau kepada pendahulunya di posisi tersebut, guna memanfaatkan wawasan, pengalaman, dan penilaiannya atas situasi yang dihadapi.

10. Penulisan jurnal bagi pemimpin dilakukan dengan mencatat renungan mendalam terkait aspek-aspek kepemimpinan, bukan sekadar catatan harian biasa. Pemimpin dapat "menuangkan pikiran di atas kertas" melalui komentar terhadap kutipan atau artikel yang menarik perhatian, merefleksikan interaksi kerja untuk menilai cara penanganan masalah secara objektif, serta menghubungkan teori kepemimpinan dengan pengalaman nyata. Jurnal ini menjadi catatan perkembangan pola pikir pemimpin sekaligus sumber ide atau contoh nyata yang dapat digunakan untuk pidato, presentasi, dan pengarahan tim di kemudian hari.

11. Penyusunan Rencana Pengembangan dilakukan dengan menetapkan tujuan-tujuan yang jelas melalui pengumpulan informasi secara sistematis dari beragam sumber. Pemimpin dapat menemukan area yang perlu diperbaiki lewat evaluasi kinerja dan diskusi umpan balik bersama atasan, mencermati pola masalah dalam interaksi dengan rekan kerja, meninjau kebutuhan keterampilan baru untuk jenjang karier yang lebih tinggi, serta memanfaatkan tes psikologis formal atau kuesioner. Selain itu, rencana ini harus disertai program membaca mandiri secara aktif, seperti biografi, esai etika, hingga buku pengembangan diri, untuk merangsang pemikiran dan memperluas cara pandang dalam kepemimpinan.

12. Pengembangan kompetensi teknis dapat dicapai dengan memahami kontribusi pekerjaan terhadap misi organisasi secara keseluruhan, menjadi mahir dalam bidang pekerjaan, dan mencari kesempatan untuk memperkaya pengalaman.

13. Cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi organisasi secara keseluruhan adalah dengan

14. Menjadi mahir dalam pekerjaan dapat dicapai melalui keikutsertaan dalam program pendidikan dan pelatihan formal yang relevan, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, serta mengajarkan orang lain.

15. Pencarian peluang untuk memperkaya pengalaman dapat dilakukan dengan mengunjungi bagian-bagian lain di dalam organisasi guna memahami keseluruhan proses kerjanya, serta terlibat dalam proyek tim sehingga berkesempatan berinteraksi dengan anggota unit kerja lain dan kerap dapat mengasah keterampilan baru.

16. Pembangunan Hubungan yang Efektif dengan Atasan dapat dilakukan dengan memahami dunia atasan serta menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinannya.

17. Memahami Dunia Atasan dapat dilakukan dengan mengenali tujuan pribadi maupun organisasinya, menyadari kekuatan dan kelemahannya, serta rutin melaporkan perkembangan kegiatan kerja maupun peluang-peluang baru.

18. Penyesuaian dengan Gaya Atasan dapat dilakukan dengan memperjelas ekspektasi terkait peran dalam tim, komite, dan kelompok kerja.

19. Pembangunan Hubungan yang Efektif dengan Rekan Sejawat dapat dilakukan dengan mengenali kepentingan dan tujuan bersama serta memahami tugas, kendala, dan imbalan yang dihadapi rekan sejawat.

20. Membangun komunikasi informal yang terbuka dan jujur untuk saling menyampaikan kebutuhan, nilai, dan tujuan kerja, serta bersedia mendengarkan gagasan pihak lain. Selain itu, turut aktif dalam kegiatan atau pertemuan sosial di luar konteks kerja formal untuk mempererat hubungan.

21. Memahami jenis tugas yang dikerjakan rekan kerja serta menawarkan bantuan ketika mereka menghadapi kendala pribadi maupun organisasi. Pemimpin juga perlu memahami sistem imbalan yang diterima rekan sejawat, mengingat perilaku kerja mereka sangat dipengaruhi oleh insentif dan kondisi lingkungan kerja tersebut.

22. Perencanaan pengembangan berlangsung melalui lima fase yang saling berkaitan. Diawali dengan mengenali kebutuhan lewat evaluasi diri, umpan balik, dan tujuan karier, lalu menganalisis data untuk menetapkan prioritas utama. Selanjutnya, pemimpin menyusun rencana yang terfokus dan realistis, meninjau serta memperbarui rencana tersebut secara berkala melalui refleksi, serta mentransfer hasil pembelajaran ke lingkungan kerja atau tanggung jawab yang lebih besar.

23. Refleksi dilakukan dengan menilai secara berkala apakah tujuan akhir masih relevan, apakah tersedia rute alternatif yang lebih baik, serta apakah dibutuhkan sumber daya tambahan. Pemimpin perlu membagikan hasil refleksi ini kepada rekan kerja sebagai wujud komitmen yang terbuka, serta mengevaluasi kemajuan secara rutin bersama atasan agar perkembangan senantiasa terpantau dan tidak muncul kejutan saat penilaian kinerja.

24. Penerapan dilakukan dengan menjadikan rencana pengembangan sebagai dokumen yang terus berkembang seiring munculnya pengalaman dan umpan balik baru. Pemimpin dapat menyalurkan hasil pembelajarannya melalui tiga cara: terus memperbarui rencana pengembangan, langsung mempraktikkan keterampilan baru di lingkungan yang berbeda, serta membimbing orang lain sehingga perannya berubah dari pembelajar menjadi seorang yang ahli.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by M Abdi Sanjaya 2511011042 -
Nama= M Abdi Sanjaya
NPM= 2511011042


1. saya akan mempelajari sejarah dan budaya organisasi melalui situs web, laporan tahunan, atau jejaring sosial. Saya juga perlu mencari tahu alasan perusahaan merekrut kandidat dari luar serta mengidentifikasi potensi masalah yang ada di dalam tim tersebut.  


2. Pada hari pertama, saya akan berfokus menyelaraskan target, jadwal rapat, dan gaya komunikasi dengan atasan. Saat bertemu tim, saya akan memperkenalkan latar belakang dan harapan kerja saya tanpa menuntut diskusi dua arah yang terlalu berat di awal.  


3. Saya akan meluangkan waktu untuk bertemu banyak orang di dalam maupun di luar tim guna mengumpulkan informasi dan membangun hubungan kerja. Saya juga akan mengadakan pertemuan empat mata dengan anggota tim untuk memahami proyek mereka, tujuan karier, serta kendala operasional yang sedang terjadi.  


4. Saya akan mengumpulkan data perbandingan dari eksternal, pelanggan, atau pesaing untuk menentukan arah visi tim ke depan. Rencana perubahan struktur tim ini akan saya diskusikan terlebih dahulu dengan atasan dan rekan kerja lintas divisi agar proses penempatan staf berjalan lancar.  


5. Saya akan mengadakan rapat bersama seluruh anggota tim untuk menjelaskan visi baru dan alasan di balik restrukturisasi. Apabila tim berukuran besar, saya akan mengadakan rapat di luar kantor dengan para bawahan langsung untuk menyepakati target evaluasi dan merumuskan aturan rapat operasional.  


6. Agar keterampilan kepemimpinan saya meningkat, saya harus secara aktif meminta umpan balik, berani mengambil tantangan di luar zona nyaman, mengamati cara kerja orang lain, menulis jurnal refleksi, dan menyusun rencana pengembangan diri.  


7. Saya tidak boleh hanya mengandalkan "kebijakan pintu terbuka" karena bawahan sering kali merasa sungkan untuk mengkritik. Saya harus aktif bertanya secara langsung, menggunakan kuesioner, atau melakukan survei agar mengetahui dampak perilaku saya terhadap tim secara objektif.  


8. Saya harus berani melampaui batas zona nyaman saya sekitar 10 persen, misalnya dengan mengambil inisiatif memimpin sebuah komite atau mengubah gaya komunikasi saat rapat. Hal ini akan memperluas perbendaharaan keterampilan saya sekaligus memberikan teladan yang baik bagi anggota tim.  


9. Pembelajaran kepemimpinan dapat diperoleh dari siapa saja, bahkan dengan mengamati cara kerja seorang pelatih olahraga atau sutradara. Saya juga akan berinisiatif bertanya kepada individu yang sebelumnya memegang jabatan saya guna menambah wawasan terkait situasi kerja.  


10. Saya akan menulis catatan rutin mengenai interaksi dengan rekan kerja, cara saya menyelesaikan masalah, atau kutipan bacaan yang inspiratif. Jurnal ini membantu saya berpikir lebih objektif, melacak perkembangan diri, dan menjadi referensi ide saat saya harus membuat presentasi di masa depan.  


11. Saya akan menyusun target pengembangan diri yang spesifik dan terukur berdasarkan hasil evaluasi kinerja maupun diskusi dengan rekan kerja. Saya juga perlu merutinkan membaca buku-buku kepemimpinan untuk terus memperluas wawasan intelektual saya.  


12. Saya harus menguasai pengetahuan dan keterampilan teknis untuk menyelesaikan pekerjaan, karena hal ini memengaruhi peluang promosi serta kemampuan saya saat harus melatih bawahan. Saya dapat meningkatkannya melalui pendidikan formal, pelatihan internal, atau pengalaman lapangan.  


13. Saya harus mengidentifikasi bagaimana posisi saya berkontribusi pada kesuksesan perusahaan secara keseluruhan agar saya mengetahui keterampilan teknis apa yang harus diprioritaskan. Saya juga akan memanfaatkan data evaluasi objektif dan masukan atasan untuk menilai kemampuan saya saat ini.  


14. Untuk menjadi seorang ahli, saya dapat mengikuti kursus pendidikan atau secara cermat mengamati cara kerja para profesional. Saya juga harus banyak memverifikasi asumsi dengan bertanya, serta berinisiatif mengajarkan materi tersebut kepada orang lain agar pemahaman saya semakin mendalam.  


15. Saya akan mencoba mengambil bagian dalam tugas dari divisi lain untuk memahami proses kerja organisasi secara menyeluruh. Menjadi sukarelawan dalam kegiatan komunitas juga menjadi sarana yang sangat baik untuk melatih kemampuan berorganisasi, berbicara di depan umum, dan kehumasan.  


16. Saya harus proaktif membantu atasan meraih pencapaiannya, karena kinerja saya sebagai anggota tim juga akan dinilai dari keberhasilan kelompok secara keseluruhan. Saya harus menganggap kesuksesan atasan sebagai bagian integral dari tanggung jawab kerja saya.  


17. Saya perlu memahami target operasional dan tekanan yang dihadapi atasan agar saya dapat melengkapi keterbatasannya. Saya juga harus rutin memberikan informasi terbaru agar atasan selalu siap dan tidak terjebak dalam situasi yang memalukan akibat ketidaktahuan.  


18. Sebagai bawahan, sayalah yang memikul tanggung jawab untuk menyesuaikan diri dengan preferensi dan gaya kepemimpinan atasan. Saya harus mengetahui apakah atasan lebih menyukai komunikasi berbasis dokumen tertulis atau diskusi langsung, serta memastikan diri menjadi pekerja yang berintegritas dan dapat diandalkan.  


19. Pekerjaan organisasi selalu membutuhkan kolaborasi dari rekan divisi lain meskipun kita tidak memiliki wewenang formal atas mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi saya untuk membangun jaringan yang kooperatif sejak awal guna mencegah hambatan operasional.  


20. Saya akan memanfaatkan interaksi informal untuk mengidentifikasi kesamaan nilai dan tujuan dengan sesama rekan kerja. Saya harus mengomunikasikan target saya secara jujur, sembari tetap bersedia mendengarkan dan mendukung aspirasi profesional mereka.  


21. Saya harus menumbuhkan empati terhadap beban tugas dan sistem imbalan rekan kerja, karena terkadang perilaku yang kurang kooperatif merupakan dampak dari sistem organisasi, bukan karakter pribadinya. Membantu rekan kerja yang sedang menghadapi kendala akan menciptakan rasa saling menghargai.  


22. Saya akan menyusun analisis GAPS yang memetakan: Tujuan karier ke depan (Goals), Kemampuan yang saya miliki saat ini (Abilities), Persepsi orang lain terhadap kompetensi saya (Perceptions), dan Standar kompetensi yang ditetapkan oleh instansi (Standards).  


23. Saya akan memosisikan rencana pengembangan ini sebagai peta jalan yang wajib ditinjau secara berkala bersama atasan atau rekan kerja yang saya percayai. Peninjauan ini berfungsi untuk mengevaluasi apakah sasaran karier saya masih relevan atau membutuhkan penyesuaian strategi.  


24. Rencana pengembangan saya harus menjadi dokumen yang dinamis dan terus disempurnakan. Ketika saya berhasil menguasai sebuah keterampilan baru, saya akan langsung menerapkannya pada pekerjaan harian serta mengambil peran untuk membimbing rekan kerja lain dalam mengasah keterampilan tersebut.

membimbing rekan kerja lain dalam mengasah keterampilan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by aliifah husnul khotimah -
Nama: Aliifah Husnul Khotimah
NPM; 2511011114

1. Sebelum resmi mulai, calon pemimpin harus mengumpulkan informasi pra-perekrutan mengenai budaya dan struktur organisasi, serta mempersiapkan kebutuhan logistik dan dokumen operasional pasca-perekrutan agar tidak kaget saat masuk kerja.
2. Kesan pertama dibangun dengan menemui atasan untuk menyelaraskan ekspektasi serta prioritas kerja, lalu memperkenalkan diri ke anggota tim secara terbuka tanpa langsung mengubah aturan lama secara mendadak.
3. Fokus utama di dua minggu awal adalah mengadakan sesi one-on-one dengan anggota tim untuk memahami peran dan kendala mereka, serta mulai menghadiri rapat operasional untuk memetakan dinamika kerja lintas divisi.
4. Pemimpin mulai mencari masukan dari pihak eksternal seperti klien, mengevaluasi kesesuaian penempatan staf (right man in the right place), serta mulai mengambil keputusan strategis dan sosialisasi kebijakan baru.
5. Pemimpin mengomunikasikan perubahan dengan menggelar acara kumpul tim (offsite event) di luar kantor untuk menyelaraskan nilai, arah strategi, serta mengevaluasi kinerja subtim secara lebih santai.
6. Periode ini dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap apa saja yang sudah berhasil dicapai, kendala yang dihadapi, dan dinamika hubungan yang sudah terbangun selama 100 hari memimpin.
7. Pemimpin harus bersikap ramah, gampang didekati, dan tulus saat menerima masukan atau kritik dari orang lain, bukan sekadar menjalankan formalitas.
8. Pengembangan diri dilakukan dengan mengambil upaya ekstra sebesar 10 persen di luar rutinitas harian untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman.
9. Amati orang-orang di sekitar. Perhatiin gimana atasan atau rekan kerja ngadapi situasi kritis, gimana cara mereka ambil keputusan, atau gimana cara mereka menenangkan tim yang lagi krisis. Pelajari mana yang bagus buat ditiru dan mana yang harus dihindar
10. Buat tempat refleksi pribadi. Dengan mencatat kejadian sehari-hari, keputusan yang diambil, dan apa hasilnya, kita jadi tahu pola kesalahan kita dan bisa belajar jadi lebih bijak di masa depan.
11. Membuat tujuan yang jelas. Manfaatkan hasil evaluasi kerja, minta pandangan orang lain, dan lakukan tes mandiri (misal tes psikologi/kepribadian) biar tahu persis kelemahan mana yang perlu diperbaiki.
12. Menguasai kemampuan teknis sangat penting agar pemimpin punya modal pengetahuan yang cukup, sehingga lebih dipercaya dan punya pengaruh kuat dalam pengambilan keputusan.
13. Pemimpin harus memahami dan menjelaskan bagaimana setiap tugas harian yang kecil berhubungan langsung dengan pencapaian visi dan misi besar organisasi.
14. Menguasai bidang kerja yang dipimpin secara mendalam akan membangun kredibilitas serta membuat tim merasa aman karena dipimpin oleh orang yang tepat.
15. Pemimpin perlu aktif mengambil proyek lintas fungsi atau tanggung jawab baru di luar tugas rutin agar wawasan dan gaya kepemimpinannya makin matang.
16. Hubungan baik dengan atasan dijaga dengan cara menyelaraskan cara kerja sesuai ekspektasi mereka, rutin memberikan laporan, dan selalu membawa opsi solusi saat ada masalah.
17. Pemimpin perlu mencoba melihat situasi dari kacamata atasan dengan memahami tekanan, target, dan tanggung jawab besar yang sedang dipikul atasan di tingkat organisasi.
18. Pemimpin yang baik akan menyesuaikan gaya komunikasi, kecepatan kerja, dan format pelaporan sesuai dengan preferensi atau tipe kepemimpinan atasannya.
19. Hubungan antar-kepala divisi dibangun atas dasar kerja sama yang saling menguntungkan, transparansi, serta penyelesaian konflik secara langsung dan profesional.
20. Penting untuk menemukan titik temu antara target divisi sendiri dengan kebutuhan divisi lain agar tidak terjadi bentrokan dan bisa saling mendukung.
21. Dengan memahami beban kerja dan kendala yang dihadapi divisi tetangga, pemimpin bisa lebih berempati dan tidak asal menuntut saat berkolaborasi.
22. Perencanaan disusun dengan memetakan Goals (tujuan), Abilities (kemampuan saat ini), Perceptions (pandangan orang lain), dan Standards (standar organisasi) untuk menentukan langkah aksi nyata.
23. Pemimpin harus berkala meninjau ulang rencana pengembangannya dan fleksibel melakukan penyesuaian jika ada perubahan kondisi atau tantangan baru di lapangan.
24. Semua pengetahuan, pengalaman, dan gaya kepemimpinan yang sudah dipelajari harus dipraktikkan secara nyata saat menghadapi peran atau tempat kerja yang baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Joanna Jesseca E -
Nama: Joanna Jesseca E
NPM: 2511011039

1. Sebagai pemimpin, kita perlu memahami dulu kondisi organisasi dan tim sebelum mengambil banyak keputusan. Kita bisa mencari tahu cara kerja, masalah, dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Dengan begitu, kita jadi lebih tahu langkah apa yang harus dilakukan.

2. Kesan pertama bisa dibangun dengan bersikap ramah, terbuka, dan profesional. Kita juga perlu mengenal atasan, anggota tim, dan rekan kerja. Hal ini supaya mereka merasa nyaman dan melihat kita sebagai pemimpin yang bisa diajak bekerja sama.

3. Di dua minggu pertama, kita sebaiknya lebih banyak mengenal lingkungan kerja dan orang-orang di dalamnya. Kita bisa berdiskusi dengan anggota tim dan rekan kerja untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jangan langsung terburu-buru mengubah sesuatu sebelum kita memahami kondisinya.

4. Setelah mendapat cukup informasi, kita mulai menentukan strategi dan pembagian pekerjaan yang sesuai. Kita juga perlu melihat kemampuan setiap anggota tim supaya bisa ditempatkan pada pekerjaan yang cocok. Dengan begitu, pekerjaan bisa berjalan lebih efektif.

5. Di bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan perubahan atau keputusan yang ingin dilakukan. Penjelasannya harus jelas supaya tim tahu apa yang berubah dan kenapa perubahan itu perlu. Kita juga perlu mendengarkan pendapat mereka agar perubahan bisa berjalan dengan baik.

6. Kita bisa belajar dengan melihat kembali apa saja yang sudah dilakukan selama 100 hari pertama. Kita lihat mana yang berhasil dan mana yang masih kurang. Dari situ, kita bisa memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Kita bisa memberi kesempatan kepada anggota tim untuk menyampaikan pendapat, kritik, atau saran. Sebagai pemimpin, kita harus mau mendengarkan dan tidak langsung merasa tersinggung. Dengan begitu, anggota tim akan lebih nyaman memberikan masukan.

8. Tantangan tambahan bisa dilakukan dengan mencoba tugas yang sedikit lebih sulit dari biasanya. Ini sesuai dengan konsep peregangan 10 persen, yaitu mencoba meningkatkan kemampuan sedikit demi sedikit. Dengan cara ini, kemampuan memimpin kita juga bisa semakin berkembang.

9. Kita bisa belajar dari orang lain dengan melihat bagaimana mereka bekerja dan menghadapi masalah. Misalnya, kita bisa memperhatikan cara mereka mengambil keputusan, berkomunikasi, atau menyelesaikan konflik. Dari situ, kita bisa mengambil hal-hal baik yang bisa diterapkan pada diri sendiri.

10. Jurnal bisa dibuat dengan mencatat pengalaman penting yang kita alami selama memimpin. Kita bisa menulis keputusan yang dibuat, masalah yang muncul, dan bagaimana cara kita menyelesaikannya. Dengan jurnal, kita jadi lebih mudah mengevaluasi perkembangan diri sendiri.

11. Pertama, kita tentukan dulu kemampuan apa yang ingin kita tingkatkan. Setelah itu, kita cari cara untuk mengembangkannya, misalnya dengan belajar, latihan, atau meminta masukan dari orang lain. Selanjutnya, perkembangan tersebut perlu dilihat lagi untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan tujuan.

12. Kompetensi teknis bisa dibangun dengan terus belajar tentang pekerjaan yang kita lakukan. Kita juga perlu banyak berlatih supaya semakin memahami dan mampu mengerjakan tugas dengan baik. Kalau kemampuan kita bagus, orang lain juga akan lebih percaya kepada kita.

13. Kita perlu tahu bagaimana pekerjaan kita bisa membantu mencapai tujuan organisasi. Jadi, kita tidak hanya mengerjakan tugas karena itu memang kewajiban kita. Kita juga harus memahami bahwa hasil pekerjaan kita ikut membantu organisasi mencapai tujuan yang lebih besar.

14. Untuk menjadi ahli, kita harus terus belajar dan tidak hanya mengandalkan kemampuan yang sudah dimiliki. Kita juga perlu belajar dari pengalaman dan kesalahan yang pernah terjadi. Semakin banyak belajar dan berlatih, semakin baik juga kemampuan kita dalam pekerjaan.

15. Kita bisa memperluas pengalaman dengan berani mencoba tugas atau kegiatan yang baru. Jangan hanya mengerjakan hal yang sudah biasa kita lakukan. Dengan mencoba hal baru, kita bisa mendapatkan pengalaman dan kemampuan yang lebih banyak.

16. Hubungan dengan atasan bisa dibangun dengan memahami apa yang diharapkan dan dibutuhkan oleh atasan. Kita juga harus bisa berkomunikasi dengan baik dan menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan. Dengan begitu, kerja sama dengan atasan bisa berjalan lebih lancar.

17. Kita perlu mencoba melihat pekerjaan dari sudut pandang atasan. Kita harus memahami tanggung jawab, masalah, dan tekanan yang mungkin dihadapi oleh atasan. Dengan begitu, kita bisa lebih memahami alasan ketika atasan mengambil suatu keputusan.

18. Kita perlu memahami bagaimana cara atasan berkomunikasi, memberikan arahan, dan mengambil keputusan. Setelah itu, kita bisa menyesuaikan cara kerja supaya komunikasi menjadi lebih mudah. Beradaptasi bukan berarti harus mengubah diri sepenuhnya, tetapi menyesuaikan diri dengan cara kerja atasan.

19. Hubungan dengan rekan kerja bisa dibangun dengan komunikasi dan kerja sama yang baik. Kita juga perlu menghargai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Kalau komunikasinya baik, pekerjaan bersama akan lebih mudah dilakukan.

20. Kita bisa mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh kita dan rekan kerja. Walaupun kepentingan setiap orang berbeda, biasanya ada tujuan yang sama. Kalau tujuan bersama sudah ditemukan, kerja sama akan menjadi lebih mudah.

21. Kita perlu memahami apa saja tugas dan tanggung jawab yang dimiliki rekan kerja. Kita juga perlu tahu masalah yang mereka hadapi dan apa yang mereka harapkan dari pekerjaannya. Dengan begitu, kita bisa lebih memahami posisi mereka dan tidak mudah menyalahkan ketika terjadi masalah.

22. Perencanaan pengembangan bisa dimulai dengan melakukan analisis GAPS. Caranya dengan melihat kemampuan yang kita punya sekarang dan membandingkannya dengan kemampuan yang masih dibutuhkan. Setelah tahu kekurangannya, kita bisa menentukan langkah untuk memperbaikinya.

23. Kita perlu melihat kembali apakah rencana pengembangan yang dibuat sudah berjalan dengan baik atau belum. Kalau ada bagian yang masih kurang, kita cari tahu apa yang harus diperbaiki. Kalau diperlukan, rencana tersebut bisa diubah supaya lebih sesuai dengan kebutuhan kita.

24. Pengetahuan dan pengalaman yang sudah kita dapat bisa digunakan ketika berada di lingkungan yang baru. Tetapi, kita tetap harus menyesuaikannya dengan kondisi dan cara kerja di tempat tersebut. Jadi, pengalaman lama kita gunakan sebagai bekal untuk menghadapi situasi yang baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Muhammad Bintang Syah 2511011044 -
NAMA : Muhammad Bintang Syah
NPM : 2511011044

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin

Sebelum memulai pekerjaan, pemimpin perlu melakukan pekerjaan dengan mempelajari organisasi, budaya, kondisi tim, serta masalah yang sedang dihadapi. Informasi dapat diperoleh dari laporan organisasi, atasan, maupun orang-orang yang memahami organisasi. Tujuannya agar pemimpin memiliki gambaran yang jelas sebelum mengambil tindakan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin?

Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan seluruh anggota tim. Pemimpin dapat menjelaskan latar belakang, nilai dan prinsip yang dianggap penting, harapan terhadap anggota tim, cara bekerja, serta rencana awal. Pertemuan ini bertujuan membangun kepercayaan dan memberikan gambaran mengenai gaya kepemimpinan.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi

Dua minggu pertama digunakan untuk mengenal banyak orang, mempelajari kondisi organisasi, membangun hubungan, dan menemukan calon pendukung atau sekutu. Pemimpin sebaiknya melakukan pertemuan dengan anggota tim, rekan sejawat, dan pihak penting lainnya untuk memahami tujuan, masalah, kekuatan, serta kelemahan tim.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf

Enam minggu berikutnya digunakan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah tim, serta menyusun strategi, struktur organisasi, dan penempatan staf yang tepat. Pemimpin juga perlu mencari informasi dari organisasi lain, pelanggan, pemasok, dan pihak yang pernah memimpin tim tersebut.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan

Pada bulan ketiga, pemimpin harus mulai mengomunikasikan visi, strategi, struktur baru, harapan, dan perubahan yang diperlukan kepada tim. Pemimpin juga perlu menjelaskan apa yang akan diubah, mengapa perubahan diperlukan, dan bagaimana perubahan tersebut akan dilakukan.

6. Bagaimana Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama?

Pemimpin perlu melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah dilalui. Cara yang dapat digunakan adalah meminta umpan balik, mengambil tantangan baru, belajar dari orang lain, membuat jurnal, dan memiliki rencana pengembangan. Pengalaman akan menjadi pembelajaran apabila pemimpin mau menganalisis tindakan dan hasilnya.

7. Bagaimana Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?

Pemimpin perlu secara aktif meminta umpan balik, terutama dari anggota tim, rekan sejawat, dan atasan. Jangan hanya mengandalkan kebijakan “open door”, tetapi secara langsung menanyakan bagaimana perilaku pemimpin memengaruhi orang lain dan efektivitas kelompok.

8. Bagaimana Melakukan Tantangan Tambahan?

Buku menyebutnya sebagai 10 Percent Stretch, yaitu mencoba mengembangkan perilaku sedikit di luar zona nyaman. Pemimpin dapat mengambil tanggung jawab baru, lebih aktif berkomunikasi, memimpin kegiatan, atau mengubah cara berinteraksi. Tujuannya memperluas kemampuan dan mengurangi rasa takut terhadap hal-hal baru.

9. Jelaskan Cara Belajar dari Orang Lain

Pemimpin harus menyadari bahwa setiap orang dapat menjadi sumber pembelajaran. Pemimpin dapat mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah, bertanya mengenai alasan suatu tindakan, dan belajar dari pengalaman maupun kesalahan orang lain.

10. Jelaskan Cara Membuat Jurnal bagi Pemimpin

Jurnal pemimpin bukan sekadar catatan kegiatan harian, tetapi berisi refleksi mengenai pengalaman kepemimpinan. Isinya dapat berupa interaksi dengan atasan, bawahan, rekan kerja, masalah yang muncul, tindakan yang dilakukan, serta pelajaran yang diperoleh. Jurnal membantu pemimpin melihat suatu pengalaman dari sudut pandang yang berbeda dan melacak perkembangan pemikirannya.

11. Jelaskan Cara Membuat Rencana Pengembangan

Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan kebutuhan pengembangan, tujuan, tindakan yang harus dilakukan, sumber umpan balik, dan waktu evaluasi. Rencana harus realistis dan fokus pada beberapa kemampuan penting agar dapat benar-benar dilaksanakan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?

Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan dan pelatihan formal, pelatihan di tempat kerja, serta pengalaman langsung. Pemimpin juga perlu terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan pekerjaannya.

13. Bagaimana Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?

Pertama, pemimpin harus memahami bagaimana pekerjaannya berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Setelah itu, tentukan pengetahuan dan perilaku yang paling penting untuk keberhasilan tersebut serta evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik dan data kinerja.

14. Bagaimana Menjadi Ahli dalam Pekerjaan?

Menjadi ahli dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, mengamati orang lain, bertanya, dan mengajarkan pengetahuan kepada orang lain. Mengajar orang lain dapat memperkuat pemahaman karena seseorang harus benar-benar menguasai pekerjaannya sebelum mampu menjelaskannya.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?

Pemimpin perlu mencoba berbagai tugas dan posisi, memahami pekerjaan unit lain, terlibat dalam proyek lintas bagian, serta mengambil kegiatan tambahan yang dapat meningkatkan keterampilan. Hal ini membantu pemimpin memahami organisasi secara lebih menyeluruh.

16. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?

Hubungan dengan atasan dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, dukungan, kejujuran, dan sikap dapat diandalkan. Pemimpin atau bawahan perlu memahami bahwa keberhasilan dirinya dan atasannya saling berkaitan serta memberikan informasi penting kepada atasan secara tepat waktu.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?

Pemimpin perlu memahami tujuan, nilai, kepentingan, preferensi, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan atasannya. Dengan memahami sudut pandang atasan, seseorang dapat memberikan dukungan yang lebih tepat dan membantu mencapai tujuan organisasi.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?

Seseorang perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya atasannya. Adaptasi dapat dilakukan terhadap cara mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan berinteraksi.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?

Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun dengan menciptakan kepercayaan, komunikasi yang baik, kerja sama, serta hubungan yang saling mendukung. Hal ini penting karena seseorang sering kali perlu memengaruhi rekan kerja tanpa memiliki wewenang formal.

20. Bagaimana Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?

Caranya adalah memahami kepentingan, nilai, tujuan, dan harapan rekan sejawat. Komunikasi informal dapat digunakan untuk menemukan kesamaan kepentingan dan tujuan sehingga kerja sama menjadi lebih mudah.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?

Pemimpin perlu memahami jenis pekerjaan, masalah, serta sistem penghargaan yang dihadapi rekan sejawat. Dengan memahami kondisi tersebut, pemimpin dapat mengetahui alasan di balik perilaku mereka dan memberikan bantuan atau dukungan yang lebih tepat.

22. Bagaimana Cara Membuat Perencanaan Pengembangan?

Perencanaan pengembangan dilakukan melalui lima tahap: mengidentifikasi kebutuhan, menganalisis dan menentukan prioritas, membuat rencana, mengevaluasi serta memperbarui rencana, kemudian menerapkan pembelajaran di lingkungan baru.

23. Bagaimana Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan?

Pemimpin perlu secara berkala meninjau hasil tindakan, merefleksikan apa yang telah dipelajari, meminta umpan balik, dan mengubah rencana jika diperlukan. Model Action–Observation–Reflection (AOR) dapat digunakan untuk membantu proses tersebut.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?

Hasil belajar tidak cukup hanya diterapkan pada situasi lama. Pemimpin harus menyesuaikan dan mengembangkan kembali keterampilan sesuai dengan kondisi lingkungan baru. Keterampilan yang berhasil pada satu situasi belum tentu langsung berhasil pada situasi lain, sehingga perlu adaptasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Rani Umi'ah -
Nama : Rani Umi'ah
Npm: 2511011029

1.Persiapan awal sebagai pemimpin dilakukan melalui pengumpulan data pra-perekrutan dan kegiatan pasca-perekrutan, kemudian bertemu dengan atasan dan seluruh tim.

2.Kesan pertama sebagai pemimpin diberikan dengan bertemu atasan dan seluruh anggota tim, serta mulai memahami kondisi kelompok kerja.

3.Dua minggu pertama dilakukan dengan bertemu anggota tim, rekan kerja, karyawan, dan mengikuti rapat lainnya untuk membangun fondasi hubungan kerja.

4.Dua bulan pertama dilakukan dengan memperoleh sudut pandang eksternal, kemudian menyusun strategi, struktur, dan penempatan karyawan, serta membangun budaya.

5.Bulan ketiga dilakukan melalui sosialisasi, pengambilan keputusan, dan mendapatkan timbal balik untuk mengomunikasikan arah organisasi dan mendorong perubahan.

6.Belajar dari pengalaman dilakukan dengan menciptakan kesempatan mendapatkan umpan balik, melakukan peregangan 10 persen, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan memiliki rencana pengembangan.

7.Menciptakan peluang mendapatkan umpan balik dilakukan dengan menjadi pemimpin yang mudah didekati dan tulus dalam penawarannya.

8.Tantangan tambahan dilakukan melalui “Peregangan 10 persen”, yaitu upaya sukarela namun tekun untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan.

9.Belajar dari orang lain dilakukan dengan secara aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi dan menangani berbagai tantangan serta situasi.

10.Membuat jurnal bagi pemimpin dilakukan dengan menulis entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan.

11.Membuat rencana pengembangan dilakukan dengan mengidentifikasi tujuan konkret, mengumpulkan informasi melalui evaluasi kinerja dan umpan balik, memperhatikan interaksi rekan sejawat, melihat keterampilan baru yang diperlukan, menggunakan tes psikologis atau kuesioner, serta membaca untuk memperluas perspektif kepemimpinan.

12.Membangun kompetensi teknis dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan repertoar perilaku yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan suatu tugas dengan sukses.

13.Menentukan kontribusi pekerjaan terhadap misi keseluruhan dilakukan dengan menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi terhadap kesuksesan organisasi secara keseluruhan, kemudian mengevaluasi keterampilan teknis melalui umpan balik, penilaian kinerja, atau data kinerja objektif.

14.Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan formal yang relevan, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, dan mengajar orang lain.

15.Mencari peluang memperluas pengalaman dilakukan dengan mengunjungi bagian-bagian lain dalam organisasi dan bekerja dalam proyek tim untuk memahami keseluruhan operasi kerja dan mengembangkan keterampilan baru.

16.Membangun hubungan efektif dengan atasan dilakukan dengan memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan serta terus memberi tahu atasan mengenai kegiatan kelompok kerja, perkembangan baru, maupun peluang di bidangnya.

17.Memahami dunia atasan dilakukan dengan mengetahui tujuan pribadi dan organisasi atasan serta menyadari bahwa atasan memiliki kelebihan dan kelemahan.

18.Beradaptasi dengan gaya atasan dilakukan karena tanggung jawab menyesuaikan diri berada pada bawahan, salah satunya dengan mengklarifikasi ekspektasi mengenai peran dalam tim, komite, atau kelompok kerja.

19.Membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat dilakukan dengan mengenali kesamaan dalam minat, nilai, tujuan, dan harapan, serta memahami pekerjaan, masalah, dan sistem imbalan rekan kerja.

20.Mengenali kepentingan dan tujuan bersama dilakukan dengan melihat kesamaan dalam minat, nilai, tujuan, dan harapan.

21.Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat dilakukan dengan memahami pekerjaan rekan kerja, masalah, serta sistem imbalan yang dapat memengaruhi perilaku mereka.

22.Membuat perencanaan pengembangan merupakan proses sistematis untuk membangun pengetahuan dan pengalaman atau mengubah perilaku, yang diawali dengan mengenali kebutuhan pengembangan sesuai tujuan karier.

23.Merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana pengembangan dilakukan dengan meninjau rencana pengembangan secara berkala agar dapat disesuaikan dengan pengalaman, umpan balik, dan keterampilan baru yang diperoleh.

24.Menerapkan hasil belajar di lingkungan baru dilakukan dengan menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan baru serta menyesuaikan rencana pengembangan berdasarkan pengalaman dan umpan balik.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Muhammad Farrel Ramadhan 2511011073 -
Nama: Muhammad Farrel Ramadhan
NPM:2511011073
1. Persiapan Awal 90 Hari Pertama

Sebelum resmi menduduki posisi kepemimpinan, seorang calon pemimpin harus melakukan serangkaian persiapan matang. Proses ini dimulai sejak masa wawancara kerja, di mana calon pemimpin secara aktif mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai organisasi melalui situs web resmi, laporan tahunan, siaran pers, dan materi pemasaran. Calon pemimpin juga disarankan memanfaatkan jejaring sosial profesional seperti LinkedIn, Facebook, atau Plaxo untuk mengadakan wawancara informasional dengan orangorang di dalam organisasi guna memahami sejarah, budaya, serta dinamika internal secara lebih mendalam.

Selama wawancara berlangsung, calon pemimpin harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan strategis, seperti alasan organisasi merekrut pihak luar, hal-hal yang dapat meningkatkan efektivitas tim, aspek yang sudah atau belum berjalan dengan baik, serta isu-isu yang membuat pihak pewawancara merasa khawatir.

Setelah resmi diterima, persiapan pascaperekrutan dilanjutkan dengan meminta data konkret kepada atasan baru, seperti hasil kinerja atau metrik kelompok sebelumnya, presentasi pendahulu, data anggaran, dan informasi kontak bawahan langsung. Pemimpin baru juga wajib mengurus kebutuhan logistik awal seperti kartu akses fasilitas, akun email, ruang kerja, dan ponsel kerja agar operasional dapat berjalan lancar sejak hari pertama. Sebelum masuk, pemimpin baru sebaiknya telah menjadwalkan rapat satu jam bersama atasan dan seluruh tim pada hari pertama, serta menyusun agenda pertemuan satu lawan satu (one on one) berdurasi dua hingga tiga jam dengan setiap anggota tim untuk dua minggu pertama.

2. Memberikan Kesan Pertama pada Hari Pertama

Hari pertama bekerja merupakan momen kritis bagi seorang pemimpin baru untuk membangun impresi awal yang positif melalui dua agenda utama:

1. Rapat Pertama dengan Atasan Baru (Berlangsung sekitar 1 jam):
Rapat ini diadakan di kantor atasan untuk mendiskusikan tujuan utama, metrik keberhasilan, dan proyek-proyek penting yang sedang dihadapi tim. Pemimpin baru harus menggali pandangan atasan mengenai kekuatan dan kelemahan tim, mendiskusikan gaya komunikasi yang diinginkan atasan (mengenai kapan, bagaimana, dan hal apa saja yang perlu dilaporkan), membagikan rencana kerjanya untuk beberapa minggu ke depan, serta menjadwalkan pertemuan rutin lanjutan untuk mengevaluasi kemajuan.
2. Rapat Pertama dengan Seluruh Anggota Tim (Berlangsung sekitar 1 jam):
Pertemuan ini dilakukan di ruang rapat, auditorium, atau melalui panggilan konferensi (tergantung ukuran tim). Pemimpin baru memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan latar belakang pribadinya, membagikan nilai-nilai dan prinsip kerja yang dianggap penting, menyampaikan harapan terhadap diri sendiri dan karyawan, menjelaskan kebiasaan kerja serta aktivitas rekreasi/keluarga, dan menyampaikan rencana awal untuk beberapa minggu mendatang. Pada tahap ini, interaksi cenderung berlangsung satu arah karena anggota tim masih dalam tahap mengamati dan belum mengenal pemimpin baru secara dekat.

3.Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi

Dua minggu pertama difokuskan pada tiga tujuan utama: mempelajari kondisi organisasi, membangun hubungan kerja, dan mengidentifikasi sekutu masa depan.

Pemimpin baru mengadakan pertemuan satu lawan satu secara mendalam (berdurasi 2–3 jam) dengan anggota tim kunci atau bawahan langsung. Jika tim beranggotakan kurang dari 15 orang, seluruh anggota ditemui secara individual. Jika tim lebih besar, pertemuan individual diprioritaskan bagi bawahan langsung, sementara anggota tim lainnya ditemui dalam Kelompok kecil sepanjang 90 hari pertama. Dalam pertemuan individual ini, pemimpin mengajukan pertanyaan kunci mengenai proyek yang sedang dikerjakan, tujuan kerja anggota tim, identitas karyawan berkinerja tinggi (bintang) di level bawah, masalah perilaku atau hubungan interpersonal di dalam tim, ide perbaikan kinerja, serta saran atau bantuan yang dibutuhkan anggota tim untuk sukses. Pemimpin disarankan berhati-hati dalam menjaga rahasia serta menunda interaksi pribadi yang terlalu dekat (seperti bertemu keluarga bawahan) selama 60 hari pertama agar tidak mengganggu objektivitas keputusan struktur dan staf di kemudian hari.

Selain dengan bawahan, pemimpin baru juga menjadwalkan pertemuan satu lawan satu berdurasi satu jam di kantor para rekan sejawat (peers). Pertemuan ini digunakan untuk memahami tujuan dan tantangan tim rekan kerja, meminta pandangan mereka mengenai kinerja tim pemimpin baru, serta mempelajari cara berkomunikasi dan pengambilan keputusan di lingkungan atasan. Pemimpin juga perlu menemui anggota tim berprestasi tinggi, mantan anggota tim yang telah pindah ke bagian lain untuk mendapatkan wawasan sejarah, serta mengidentifikasi peran-peran kritis dan calon kandidat internal yang sebelumnya mengincar posisi kepemimpinan tersebut.
4. Jelaskan dua bulan pertama: menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf

Pada dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi lebih lanjut, menentukan arah atau visi tim, kemudian menyusun struktur dan penempatan staf. Urutannya harus strategi, struktur, dan penempatan staf. Strategi menentukan tujuan dan arah tim, struktur disesuaikan dengan strategi, kemudian orang ditempatkan sesuai kebutuhan struktur tersebut. Pemimpin juga perlu mendiskusikan rencana perubahan dengan atasan dan rekan kerja sebelum mengambil keputusan.

5. Bagaimana bulan ketiga: mengomunikasikan dan mendorong perubahan?

Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, alasan perubahan, struktur tim, penempatan staf, serta harapan kepada seluruh anggota. Perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Pemimpin juga perlu memastikan perubahan yang dilakukan sesuai dengan nilai dan prinsip yang telah disampaikan sejak hari pertama.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Pemimpin perlu melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan selama 100 hari pertama. Evaluasi dapat dilakukan dengan melihat keberhasilan, kegagalan, keputusan yang tepat, kesalahan, dan respons anggota tim. Dari evaluasi tersebut, pemimpin dapat mempertahankan strategi yang efektif dan memperbaiki strategi yang kurang berhasil.
Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Caranya dengan tidak hanya menjalani pengalaman, tetapi juga mengevaluasinya. Pemimpin perlu meminta umpan balik, mencoba tantangan baru sekitar 10 persen di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan membuat rencana pengembangan.


7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Pemimpin perlu menciptakan suasana yang membuat orang merasa aman untuk memberikan pendapat. Umpan balik dapat diperoleh melalui rapat, diskusi pribadi, survei, evaluasi rutin, atau percakapan informal. Pemimpin harus menerima kritik secara terbuka dan tidak langsung menyalahkan orang yang memberikan masukan.

8. Melakukan Tantangan Tambahan
Tantangan tambahan berarti pemimpin sengaja mencari pengalaman yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinannya. Contohnya memimpin proyek baru, menangani konflik, berbicara di depan banyak orang, mengambil tanggung jawab yang lebih besar, atau memimpin tim lintas bagian. Tantangan tersebut membantu pemimpin keluar dari zona nyaman dan meningkatkan kompetensi.

9. Belajar dari Orang Lain
Pemimpin dapat belajar dari atasan, mentor, rekan kerja, bawahan, maupun pemimpin yang lebih berpengalaman. Caranya dengan mengamati cara mereka mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan menghadapi konflik. Pemimpin tidak harus meniru sepenuhnya, tetapi mengambil praktik yang baik dan menyesuaikannya dengan situasi sendiri.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Jurnal kepemimpinan digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, perasaan, masalah, keberhasilan, kesalahan, dan pembelajaran. Setelah suatu kegiatan atau keputusan penting, pemimpin dapat menuliskan apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, apa yang sudah dilakukan dengan baik, dan apa yang harus diperbaiki. Jurnal membantu pemimpin melakukan refleksi secara konsisten.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan merupakan langkah sistematis untuk meningkatkan kemampuan pemimpin. Pertama, identifikasi kekuatan dan kelemahan. Kemudian tentukan kompetensi yang perlu dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, kegiatan pengembangan, sumber belajar, serta batas waktu pencapaiannya.
Contohnya:
Kelemahan: komunikasi di depan umum
Tujuan: mampu melakukan presentasi dengan percaya diri
Tindakan: mengikuti pelatihan dan melakukan latihan presentasi
Waktu: 3 bulan
Indikator: mampu melakukan presentasi tanpa bergantung pada teks.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Kompetensi teknis dibangun dengan memahami pengetahuan, prosedur, teknologi, metode, dan keterampilan khusus yang berkaitan dengan pekerjaan. Caranya melalui pendidikan, pelatihan, membaca referensi, mengikuti perkembangan teknologi, belajar dari ahli, dan mempraktikkan pengetahuan secara langsung.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Pemimpin harus memahami hubungan antara tugas sehari-hari dengan visi, misi, dan tujuan organisasi. Caranya dengan bertanya: “Apa tujuan pekerjaan ini?”, “Siapa yang mendapatkan manfaat?”, dan “Bagaimana hasil pekerjaan saya memengaruhi tujuan organisasi?” Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya dianggap sebagai tugas rutin, tetapi sebagai bagian dari pencapaian tujuan organisasi.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Menjadi ahli membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan. Pemimpin harus menguasai pekerjaan, memahami masalah yang sering muncul, mengetahui standar kerja, mempelajari perkembangan bidangnya, dan terus melakukan praktik. Keahlian juga diperkuat dengan meminta umpan balik dari orang yang lebih berpengalaman.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Pemimpin perlu mencari pengalaman di luar tugas rutinnya. Misalnya dengan mengikuti proyek lintas departemen, bekerja dengan tim berbeda, mengikuti pelatihan, menjadi anggota tim khusus, atau mengambil tanggung jawab baru. Semakin beragam pengalaman yang dimiliki, semakin luas perspektif pemimpin dalam mengambil keputusan.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Hubungan dengan atasan dibangun melalui kepercayaan, komunikasi terbuka, profesionalisme, dan pemahaman terhadap harapan atasan. Pemimpin harus mengetahui prioritas atasannya, memberikan informasi yang diperlukan, menyampaikan masalah beserta solusi, dan memenuhi komitmen yang telah dibuat.

17. Memahami Dunia Atasan
Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, tekanan, target, kepentingan, dan tantangan yang dihadapi atasan. Dengan memahami perspektif tersebut, seorang pemimpin dapat lebih mudah menyampaikan informasi dan memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Ada yang sangat detail, ada yang memberikan kebebasan, ada yang berorientasi pada hasil, dan ada yang lebih mengutamakan hubungan. Pemimpin perlu menyesuaikan cara komunikasi, cara memberikan laporan, dan cara menyampaikan masalah tanpa kehilangan prinsip profesionalitas

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui saling menghormati, komunikasi, kepercayaan, kerja sama, dan keterbukaan. Hindari persaingan yang tidak sehat dan fokus pada kepentingan organisasi. Hubungan yang baik akan mempermudah koordinasi dan penyelesaian masalah lintas bagian.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Dalam bekerja dengan rekan sejawat, setiap pihak mungkin mempunyai kepentingan yang berbeda. Pemimpin harus mencari tujuan yang sama, misalnya peningkatan kualitas pelayanan, pencapaian target, efisiensi, atau keberhasilan organisasi. Kesamaan tujuan menjadi dasar untuk membangun kerja sama.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Pemimpin perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawab, tekanan, masalah, target, dan penghargaan bagi rekan sejawat. Dengan memahami kondisi mereka, pemimpin dapat menghindari kesalahpahaman dan membuat kerja sama yang lebih realistis serta saling menguntungkan.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Perencanaan pengembangan harus dibuat secara terarah dan terukur. Langkahnya meliputi:
Menilai kemampuan saat ini.
Menentukan kompetensi yang ingin ditingkatkan.
Menentukan tujuan.
Menentukan kegiatan pengembangan.
Menentukan waktu.
Menentukan indikator keberhasilan.
Melakukan evaluasi secara berkala.

23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan tidak boleh bersifat kaku. Setelah memperoleh pengalaman, pemimpin harus melakukan refleksi: apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, apa yang sudah dipelajari, dan kemampuan apa yang masih kurang. Berdasarkan hasil refleksi tersebut, rencana pengembangan dapat diperbarui agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Ketika berada di lingkungan baru, pemimpin harus menerapkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan menyesuaikannya terhadap budaya, orang, situasi, dan kebutuhan organisasi yang baru. Tidak semua metode yang berhasil di tempat lama akan berhasil di tempat baru. Karena itu, pemimpin perlu memahami situasi terlebih dahulu, kemudian memilih dan menyesuaikan pengalaman yang relevan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengembangan kepemimpinan merupakan proses berkelanjutan. Pemimpin yang efektif tidak hanya menguasai pekerjaan, tetapi juga mampu membangun hubungan dengan atasan dan rekan sejawat, menerima umpan balik, belajar dari pengalaman, mengembangkan kompetensi, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan. Tahap awal kepemimpinan sangat penting karena menjadi dasar terbentuknya kepercayaan, kredibilitas, strategi, dan efektivitas pemimpin.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Mutia Dinar 2511011036 -
Nama: Mutia Dinar Ayu Hapsari
NPM: 2511011036

1. Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan memahami kelompok yang akan dipimpin, memperoleh informasi mengenai tujuan dan kinerja tim, serta menyiapkan kebutuhan kerja seperti akses, akun email, kantor, dan perangkat kerja. Pemimpin juga sebaiknya menjadwalkan pertemuan dengan atasan dan seluruh tim pada hari pertama serta pertemuan satu lawan satu dengan anggota tim selama dua minggu pertama.

2. Pada hari pertama, pemimpin baru bertemu atasan dan seluruh tim. Pertemuan dengan atasan digunakan untuk memahami tujuan utama, metrik, proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta menentukan jadwal pertemuan. Sementara itu, dalam pertemuan dengan tim, pemimpin dapat memperkenalkan latar belakang, nilai yang dianggap penting, harapan terhadap diri sendiri dan anggota tim, kebiasaan kerja, serta rencana beberapa minggu ke depan.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk belajar sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan. Pemimpin perlu bertemu dengan anggota tim, rekan sejawat, mantan anggota tim, serta pihak lain yang memiliki informasi penting. Dengan anggota tim, pemimpin dapat melakukan pertemuan satu lawan satu untuk mengetahui pekerjaan yang sedang dilakukan, tujuan mereka, masalah dalam tim, karyawan berprestasi, serta peluang perbaikan. Pemimpin juga perlu mengetahui posisi-posisi yang kritis dan kandidat internal yang potensial.

4. Setelah memperoleh informasi awal, pemimpin menggunakan sekitar enam minggu berikutnya untuk mengumpulkan informasi tambahan, menentukan arah tim, serta menyempurnakan struktur dan penempatan staf. Informasi dapat diperoleh dari organisasi lain, pelanggan, pemasok, pemimpin sebelumnya, atasan, rekan sejawat, dan anggota tim. Pemimpin kemudian menentukan visi tim untuk satu sampai tiga tahun ke depan, apa yang harus dicapai, perubahan yang diperlukan, dan harapan terhadap anggota tim. Urutannya harus strategi, selanjutnya struktur,lalu penempatan staf, karena strategi atau visi menjadi dasar pembentukan struktur, kemudian struktur menjadi dasar keputusan penempatan orang. Sebelum mengambil keputusan, pemimpin juga perlu mendiskusikannya dengan atasan dan rekan agar memperoleh masukan. Setelah disetujui, perubahan perlu dijelaskan secara langsung kepada anggota tim yang terdampak.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin sudah seharusnya memiliki visi masa depan, memahami perubahan yang dibutuhkan, serta menetapkan ekspektasi yang jelas. Pemimpin kemudian mengomunikasikan visi, hasil pembelajaran, struktur dan penempatan staf baru, harapan terhadap anggota tim, serta alasan perubahan kepada seluruh tim. Jika tim besar, dapat dilakukan pertemuan khusus di luar kantor bersama bawahan langsung untuk menyepakati nilai dan atribut anggota tim, membuat kartu penilaian tim, serta menetapkan ritme operasional seperti jadwal dan aturan rapat.

6. Pemimpin dapat meningkatkan pembelajaran dari pengalaman dengan lima cara utama, yaitu: menciptakan peluang mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan sekitar 10% di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal mengenai peristiwa kepemimpinan, dan memiliki rencana pengembangan. Dengan demikian, pengalaman tidak hanya dijalani, tetapi harus diikuti dengan evaluasi dan refleksi agar pemimpin dapat mengetahui apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana mengembangkan keterampilan kepemimpinannya.

7. Pemimpin perlu secara aktif meminta dan menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik, terutama dari orang orang yang bekerja di bawahnya. Pemimpin tidak boleh hanya menganggap dirinya terbuka terhadap kritik karena memiliki kebijakan open door. Jika pemimpin tidak aktif meminta umpan balik, kemungkinan besar orang lain tidak memberikannya, terutama karena adanya perbedaan kekuasaan antara pemimpin dan bawahan.

8. Caranya adalah dengan sukarela dan konsisten mencoba meningkatkan keterampilan dengan keluar sedikit dari zona nyaman. Contohnya adalah berbicara dengan orang lain secara lebih aktif, mencoba menjadi ketua suatu kegiatan, atau mengubah perilaku dalam rapat (misalnya menjadi lebih tenang atau lebih tegas). Tantangan dilakukan secara bertahap, bukan dengan perubahan ekstrem. Manfaatnya adalah mengurangi kecemasan terhadap hal baru.

9. Pemimpin harus sadar bahwa setiap orang dapat menjadi sumber pembelajaran. Pemimpin dapat belajar dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah, menangani situasi kepemimpinan, atau berinteraksi dengan orang lain. Selain mengamati, pemimpin juga perlu berrtanya untuk mengetahui alasan di balik tindakan seseorang. Jika memungkinkan, pemimpin dapat berbicara dengan orang yang sebelumnya memegang posisi tersebut untuk mendapatkan pengalaman.

10. Jurnal kepemimpinan bukan sekadar catatan kegiatan sehari-hari. Jurnal berisi refleksi mengenai pengalaman kepemimpinan, interaksi dengan atasan atau rekan kerja, pengamatan terhadap perilaku orang lain, kutipan, artikel, atau gagasan mengenai kepemimpinan. Sebuah jurnal sebaiknya berisi entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan. jurnal dapat berupa komentar tentang kutipan yang mendalam atau menarik, anekdot, artikel koran, atau bahkan kartun
lucu tentang kepemimpinan

11. Rencana pengembangan merupakan proses sistematis untuk membangun pengetahuan dan pengalaman atau mengubah perilaku. Ada lima fase: mengidentifikasi kebutuhan pengembangan,menganalisis dan memprioritaskan kebutuhan, menyusun rencana pengembangan yang terfokus dan dapat dicapai, meninjau merefleksikan, serta memodifikasi rencana, dan mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan lebih dulu memahami kontribusi pekerjaan terhadap keberhasilan organisasi, kemudian mengevaluasi kemampuan teknis diri sendiri. Evaluasi dapat dilakukan dengan umpan balik dari atasan dan rekan kerja, penilaian kinerja sebelumnya, maupun data kinerja objektif. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan, pemimpin dapat menentukan pendidikan atau pelatihan yang sesuai.

13. Langkah pertama adalah memahami bagaimana pekerjaan sendiri berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Dengan memahami hubungan tersebut, pemimpin dapat menentukan pengetahuan teknis dan perilaku yang paling penting bagi keberhasilan pekerjaan dan organisasi. Setelah itu, tingkat kemampuan diri dapat dibandingkan dengan kebutuhan pekerjaan melalui umpan balik, penilaian kinerja, dan data objektif.

14. Menjadi ahli dalam pekerjaan dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti mengikuti pendidikan dan pelatihan formal, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Mengajar sangat membantu karena seseorang harus memahami pekerjaan secara mendalam agar dapat menjelaskannya secara efektif.

15. Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, serta terlibat dalam proyek tim. Dengan demikian, seseorang dapat memahami kontribusi bagian lain terhadap keberhasilan organisasi sekaligus memperoleh keterampilan baru. Kegiatan sukarela juga dapat membantu mengembangkan keterampilan seperti organisasi, perencanaan, berbicara di depan umum, penggalangan dana, dan hubungan masyarakat.

16. Hubungan dengan atasan harus dibangun secara aktif, bukan dengan bersikap pasif. Bawahan perlu membantu atasan mencapai keberhasilan dengan memberikan infomasi penting, mendukung tujuan organisasi,dan memahami bahwa keberhasilan bawahan dan atasan saling berkaitan. Namun, bukan berarti menjadi penjilat.

17. Bawahan perlu memahami tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai-nilai, preferensi, kepribadian, serta cara pandangnya. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat mengetahui alasan di balik tindakan atasan dan menentukan bagaimana mereka memberikan dukungan yang tepat. Bawahan juga perlu memahami bahwa atasan memiliki kekuatan dan kelemahan sehingga mereka dapat membantu melengkapi kelemahan tersebut.

18. Bawahan perlu menyesuaikan diri dengan gaya atasan, bukan selalu mengharapkan atasan menyesuaikan diri dengan mereka. Penyesuaian dapat dilakukan terhadap cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan gaya interaksi. Misalnya, jika atasan lebih menyukai memo tertulis daripada percakapan langsung, bawahan perlu menggunakan cara komunikasi tersebut. Ekspektasi peran juga perlu diklarifikasi agar hubungan kerja berjalan efektif.

19. Hubungan dengan rekan sekawat dapat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, dan pemahaman terhadap tujuan serta kepentingan masing-masing. Pemimpin sebaiknya melakukan pertemuan satu lawan satu dengan rekan sejawat, memahami tujuan dan tantangan mereka, serta menanyakan pandangan mereka mengenai tim dan cara kerja organisasi. Pertemuan rutin juga membantu memperkuat hubungan dan mengantisipasi konflik.

20. Caranya adalah dengan mengetahui minat, nilai, tujuan, dan harapan rekan. Komunikasi informal dapat digunakan untuk menemukan kesamaan tersebut. Pemimpin harus terbuka dalam menyampaikan kebutuhan dan tujuannya sendiri, tetapi juga harus mau mendengarkan dan memahami kebutuhan orang lain. Kegiatan sosial, makan bersama, rapat komite, atau kegiatan organisasi juga dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan di luar konteks pekerjaan formal.

21. Pemimpin perlu memahami jenis pekerjaan, masalah, serta sistem imbalan yang dihadapi rekan sejawat. Pemahaman terhadap tugas membantu membangun rasa hormat dan kerja sama. Sementara itu, pemahaman terhadap sistem imbalan penting karena perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh apa yang mereka dapatkan sebagai imbalan. Jadi, perilaku negatif tidak selalu disebabkan oleh karakter seseorang, tetapi dapat dipengaruhi oleh situasi dan sistem penghargaan yang berlaku. Memberikan bantuan, ucapan terima kasih, dan pujian tulus juga dapat mendorong perilaku positif.

22. Perencanaan pengembangan dapat dibuat melalui analisis GAPS, yaitu: Goals (tujuan): menentukan tujuan karier, Abilities (kemampuan): mengevaluasi kemampuan yang dimiliki, Perceptions (Persepsi): mencari umpan balik mengenai bagaimana perilaku kita dipersepsikan dan memengaruhi orang lain, Standards (Standar): memahami standar organisasi yang berkaitan dengan tujuan karier. Setelah data dikumpulkan, kebutuhan pengembangan dianalisis,lalu dibuat rencana yang fokus dan realistis, termasuk pengalaman atau tugas yang dapat membantu mengembangkan kemampuan trsbut.

23. Rencana pengembangan harus ditinjau secara berkala untuk melihat apakah tujuan masih tepat, apakah ada cara alternatif yang lebih baik, dan apakah dibutuhkan sumber daya tambahan. Proses refleksi dapat dilakukan bersama rekan atau mitra yang dipercaya dan memahami situasi kerja. Kemajuan juga sebaiknya dievaluasi secara berkala bersama atasan agar perkembangan diketahui dan tidak menimbulkan kejutan saat penilaian kinerja.

24. Hasil belajar harus diterapkan secara dinamis. Maksudnya, harus diubah, dimodifikasi atau diperbarui seiring kita belajar dari pengalaman baru, saat kita menerima umpan balik, punya keterampilan baru, dan saat target sudah tercapai. Ada tiga cara utama mentransfer pembelajaran: memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan baru di lingkungan yang baru, dan membimbing orang lain menggunakan keterampilan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Nur Parida 2511011103 -
Nama : Nur parida
NPM : 2511011103

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Persiapan awal 83 hari pertama sebagai pemimpin dilakukan dengan mengenal lingkungan kerja dan orang-orang di dalamnya. Pemimpin perlu bertemu dengan atasan, seluruh tim, anggota tim, rekan kerja, dan karyawan. Selain itu, pemimpin perlu mengumpulkan informasi, memahami nilai-nilai dan strategi, melihat area yang perlu ditingkatkan, serta mulai membangun hubungan dan kepercayaan dengan tim.

2. Bagaimana memberikan kesan pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama dapat dibangun dengan melakukan pertemuan dengan atasan, seluruh tim, anggota tim, rekan kerja, dan karyawan. Pertemuan tersebut penting untuk membangun hubungan dan memahami kondisi lingkungan kerja sejak awal.

3. Bagaimana menyusun dua minggu pertama: membangun fondasi?
Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu membangun fondasi dengan mengenal tim dan lingkungan kerja, bertemu dengan rekan kerja, mendapatkan sudut pandang eksternal, serta memahami nilai-nilai, strategi, ritme operasional, dan area yang perlu ditingkatkan.

4. Jelaskan bagaimana dua bulan pertama: menyusun strategi, struktur, dan penempatan staf!
Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi, struktur, dan penempatan karyawan. Selain itu, dilakukan sosialisasi, pengambilan keputusan, mendapatkan timbal balik, dan mulai membangun budaya dalam tim.

5. Bagaimana bulan ketiga: mengomunikasikan dan mendorong perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin berfokus pada sosialisasi, pengambilan keputusan, mendapatkan timbal balik, dan membangun budaya. Pemimpin juga dapat melakukan kegiatan tim di luar kantor untuk mendukung hubungan dan budaya kerja.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Cara belajar dari pengalaman 100 hari pertama adalah dengan melakukan evaluasi terhadap pengalaman yang sudah dilalui. Pemimpin dapat melihat apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Pengalaman tersebut kemudian digunakan sebagai pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan dan efektivitas kepemimpinan.

7. Bagaimana menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik?
Pemimpin perlu menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dengan menjadi pribadi yang mudah didekati dan tulus dalam menerima masukan. Umpan balik tidak hanya berupa penyampaian kebijakan, tetapi juga kesempatan untuk mengetahui pandangan orang lain terhadap kepemimpinannya.

8. Bagaimana melakukan tantangan tambahan?
Dalam materi istilah yang digunakan adalah “Peregangan 10 persen”, yaitu upaya sukarela tetapi tekun untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan. Jadi, pemimpin perlu terus mencoba dan mengembangkan kemampuan sedikit lebih jauh dari kemampuan yang sudah dimiliki.

9. Jelaskan cara belajar dari orang lain!
Pemimpin dapat belajar dari orang lain dengan aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi dan menangani berbagai tantangan serta situasi. Dari pengamatan tersebut, pemimpin dapat memperoleh ide dan pembelajaran untuk meningkatkan kepemimpinannya.

10. Jelaskan cara membuat jurnal bagi pemimpin!
Jurnal dibuat dengan mencatat pengalaman atau hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan. Isi jurnal sebaiknya membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan sehingga dapat digunakan sebagai bahan refleksi dan pembelajaran.

11. Jelaskan cara membuat rencana pengembangan!
Rencana pengembangan dapat dibuat dengan menentukan tujuan yang konkret, mengumpulkan informasi melalui evaluasi kinerja atau sesi umpan balik, memperhatikan interaksi dengan rekan sejawat, meninjau peran secara objektif, dan melihat keterampilan baru yang diperlukan. Selain itu, dapat menggunakan tes psikologis, kuesioner, dan membaca untuk memperluas perspektif kepemimpinan.
 
12. Bagaimana membangun kompetensi teknis?
Kompetensi teknis dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Kompetensi teknis penting karena berhubungan dengan kinerja dan dapat membuat seseorang lebih dipercaya untuk mendapatkan tugas serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

13. Bagaimana cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Caranya dengan memahami hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan misi organisasi secara keseluruhan. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui bahwa tugasnya bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan organisasi. materi mencantumkan hal ini sebagai bagian dari pembangunan kompetensi teknis.

14. Bagaimana menjadi ahli dalam pekerjaan?
Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan meningkatkan kompetensi teknis dan menguasai pengetahuan serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas dengan sukses.

15. Bagaimana mencari peluang untuk memperluas pengalaman?
Caranya dengan mencari kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan. Hal ini merupakan salah satu bagian dari membangun kompetensi teknis.

16. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan atasan?
Hubungan efektif dengan atasan dibangun dengan memahami dunia atasan dan menyesuaikan diri dengan gaya atasan. Dengan memahami cara kerja dan gaya atasan, hubungan kerja dapat berjalan lebih baik.

17. Bagaimana memahami dunia atasan?
Memahami dunia atasan berarti berusaha memahami cara pandang, pekerjaan, tanggung jawab, serta gaya kerja atasan sehingga kita dapat menyesuaikan cara bekerja dan berkomunikasi dengan lebih baik. materi menempatkan hal ini sebagai bagian dari membangun hubungan efektif dengan atasan.

18. Bagaimana beradaptasi dengan gaya atasan?
Dengan memahami gaya kerja dan cara berkomunikasi atasan, kemudian menyesuaikan cara kita bekerja dan berkomunikasi agar hubungan kerja menjadi lebih efektif.

19. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat?
Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun dengan mengenali minat dan tujuan bersama, memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja, serta menerapkan sikap teori Y. Selain itu, konflik dengan rekan kerja perlu dikelola dengan baik.

20. Bagaimana mengenali kepentingan dan tujuan bersama?
Caranya dengan memahami minat dan tujuan yang sama antara diri sendiri dan rekan kerja. Dengan mengetahui kepentingan dan tujuan bersama, kerja sama akan lebih mudah dibangun.

21. Bagaimana memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat?
Caranya dengan memahami tugas yang dikerjakan rekan, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan yang mereka dapatkan. Hal ini membantu kita memahami kondisi rekan kerja dan membangun hubungan kerja yang lebih efektif.

22. Bagaimana cara membuat perencanaan pengembangan?
Perencanaan pengembangan dilakukan melalui analisis GAP, menyusun rencana pengembangan, kemudian melakukan evaluasi dan refleksi. Analisis GAP membantu mengetahui kesenjangan antara kemampuan saat ini dengan kemampuan yang ingin dicapai.

23. Bagaimana cara merefleksikan pembelajaran: memodifikasi rencana pengembangan?
Caranya dengan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap hasil pengembangan. Dari hasil tersebut, kita dapat mengetahui bagian yang masih kurang dan kemudian menyesuaikan atau memodifikasi rencana pengembangan agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Bagaimana menerapkan hasil belajar di lingkungan baru?
Hasil belajar diterapkan dengan menggunakan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang sudah diperoleh ke dalam situasi atau lingkungan kerja yang baru. Tujuannya agar pembelajaran tidak hanya berhenti pada teori, tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan menyelesaikan tugas dengan lebih baik. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran materi yang menekankan peningkatan kompetensi teknis serta penyusunan rencana pengembangan diri.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Bagus Kristianto 2511011129 -
nama : Bagus Kristianto
npm 2511011129

1. Sebelum mulai memimpin, seorang pemimpin perlu memahami kondisi organisasi, mengenal anggota tim, mengetahui tugas dan tanggung jawabnya, serta menentukan hal-hal yang menjadi prioritas.

2. Kesan pertama bisa diberikan dengan bersikap percaya diri, ramah, tegas, dan terbuka. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya dan mau mendengarkan orang lain.

3. Dua minggu pertama sebaiknya digunakan untuk mengenal anggota tim, memahami pekerjaan yang sedang berjalan, membangun komunikasi, dan melihat masalah yang perlu segera diperbaiki.

4. Pada tahap ini pemimpin mulai menentukan tujuan dan strategi kerja. Selain itu, tugas dibagi sesuai kemampuan masing-masing anggota agar pekerjaan dapat berjalan lebih efektif.

5. Pemimpin mulai menyampaikan perubahan yang ingin dilakukan kepada seluruh anggota tim. Perubahan harus dijelaskan dengan jelas dan dilakukan secara bertahap agar anggota dapat memahami dan menerimanya.

6. Pengalaman selama 100 hari pertama perlu dievaluasi. Hal-hal yang berhasil dipertahankan, sedangkan kesalahan dijadikan bahan untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Umpan balik bisa diperoleh dengan bertanya langsung kepada anggota tim, rekan kerja, maupun atasan. Dengan begitu, pemimpin bisa mengetahui kekurangan dirinya dari sudut pandang orang lain.

8. Pemimpin sebaiknya tidak takut mengambil tugas atau tanggung jawab baru. Tantangan baru dapat menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kemampuan.

9. Kita bisa belajar dari orang lain dengan mengamati cara mereka bekerja, berdiskusi, meminta saran, dan melihat bagaimana mereka menyelesaikan masalah.

10. Jurnal dapat dibuat dengan mencatat kejadian penting, keputusan yang diambil, masalah yang muncul, serta pelajaran yang didapat. Catatan tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi diri.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya.

12. Kompetensi teknis dapat ditingkatkan dengan belajar secara rutin, mengikuti pelatihan, membaca informasi terbaru, dan langsung mempraktikkan ilmu yang sudah dipelajari.

13. Kita harus memahami bahwa setiap pekerjaan memiliki hubungan dengan tujuan organisasi. Dengan mengetahui hubungan tersebut, kita bisa bekerja dengan lebih terarah dan tidak hanya sekadar menyelesaikan tugas.

14. Untuk menjadi ahli, seseorang harus terus belajar dan banyak berlatih. Pengalaman dari pekerjaan sehari-hari juga sangat penting untuk membuat kemampuan semakin baik.

15. Pengalaman bisa diperluas dengan mencoba pekerjaan baru, ikut dalam proyek lain, bekerja dengan orang yang berbeda, atau mengambil tanggung jawab tambahan.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun dengan komunikasi yang baik, bekerja secara bertanggung jawab, memberikan laporan yang jelas, dan menghargai keputusan yang telah dibuat.

17. Memahami atasan berarti mengetahui tanggung jawab, target, tekanan, dan masalah yang sedang dihadapi oleh atasan. Hal ini membuat kita lebih mudah bekerja sama dengannya.

18. Setiap atasan memiliki cara memimpin yang berbeda. Karena itu, kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya atasan selama tetap menjaga sikap profesional.

19. Hubungan dengan rekan kerja dapat dibangun dengan saling menghargai, mau membantu, menjaga komunikasi, dan tidak hanya mementingkan kepentingan sendiri.

20. Kepentingan dan tujuan bersama dapat diketahui dengan melihat apa yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak. Jika memiliki tujuan yang sama, kerja sama akan lebih mudah dilakukan.

21. Kita perlu memahami pekerjaan, masalah, dan tanggung jawab yang dimiliki rekan kerja. Dengan begitu, kita bisa lebih menghargai mereka dan mengetahui cara bekerja sama yang tepat.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan mengetahui kemampuan yang masih kurang. Setelah itu tentukan tujuan, cara untuk meningkatkan kemampuan tersebut, dan waktu untuk mengevaluasinya.

23. Setelah mendapatkan pengalaman, kita perlu melihat kembali apa yang sudah dipelajari. Jika ada cara yang kurang efektif, rencana pengembangan dapat diubah agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Hasil belajar harus dicoba diterapkan ketika berada di lingkungan baru. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan cara kerja di lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Balqis sausan Khairunnisa -
Nama : Balqis sausan khairunnisa
Npm : 2511011141

1.Persiapan awal 83 hari pertama sebagai pemimpin merupakan masa untuk memahami organisasi, lingkungan kerja, tugas, serta orang-orang yang dipimpin. Pemimpin perlu mempelajari tujuan organisasi, kondisi tim, masalah yang sedang dihadapi, dan harapan dari atasan maupun bawahan. Pada tahap ini pemimpin sebaiknya tidak langsung melakukan perubahan besar, tetapi lebih banyak mengamati, mendengarkan, dan mengumpulkan informasi sebagai dasar dalam mengambil keputusan

2.Kesan pertama dapat diberikan dengan menunjukkan sikap profesional, percaya diri, terbuka, dan mampu menghargai orang lain. Pemimpin harus memperkenalkan diri dengan baik, menjelaskan tujuan dan harapannya, serta menunjukkan bahwa ia siap bekerja sama dengan tim. Kesan pertama yang baik dapat membantu membangun kepercayaan dan hubungan kerja yang positif.

3.Dalam dua minggu pertama, pemimpin perlu membangun fondasi dengan cara mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mempelajari aturan organisasi, dan mengetahui masalah yang sedang terjadi. Pemimpin juga perlu mendengarkan pendapat dan masukan dari anggota tim. Dengan begitu, pemimpin memiliki pemahaman yang cukup sebelum menentukan strategi atau melakukan perubahan.

4.Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi berdasarkan informasi yang sudah diperoleh sebelumnya. Pemimpin menentukan prioritas, membagi tugas dan tanggung jawab, serta memastikan orang yang tepat ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Struktur kerja juga perlu dibuat jelas agar setiap anggota memahami perannya dan tujuan yang harus dicapai.

5.Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan strategi dan perubahan kepada seluruh anggota tim. Perubahan harus dijelaskan secara terbuka, termasuk alasan, tujuan, dan manfaatnya. Pemimpin juga harus memberikan contoh melalui tindakannya sendiri serta mendorong anggota tim untuk ikut terlibat. Dengan komunikasi yang baik, perubahan akan lebih mudah diterima.

6.Cara belajar dari pengalaman 100 hari pertama adalah dengan melakukan evaluasi terhadap keputusan dan tindakan yang telah dilakukan. Pemimpin dapat melihat apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, serta penyebabnya. Dari evaluasi tersebut, pemimpin dapat memperbaiki cara kerja dan menentukan langkah yang lebih baik untuk periode berikutnya.

7.Pemimpin dapat menciptakan peluang mendapatkan umpan balik dengan melakukan diskusi, rapat evaluasi, atau berbicara langsung dengan anggota tim. Pemimpin juga harus terbuka terhadap kritik dan saran. Umpan balik tidak hanya berasal dari bawahan, tetapi juga dari atasan dan rekan kerja sehingga pemimpin dapat mengetahui kekurangan dirinya dari berbagai sudut pandang.

8.Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tanggung jawab atau tugas baru yang masih sesuai dengan kemampuan dan tujuan organisasi. Tantangan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan, pengalaman, dan kepercayaan diri. Namun, pemimpin tetap harus mempertimbangkan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki agar tantangan tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

9.Pemimpin dapat belajar dari orang lain dengan mengamati cara mereka bekerja, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah. Pemimpin juga dapat berdiskusi dengan senior, mentor, atasan, maupun rekan kerja yang memiliki pengalaman lebih banyak. Hal yang baik dapat ditiru, sedangkan kesalahan orang lain dapat dijadikan pembelajaran agar tidak dilakukan kembali.

10.Jurnal bagi pemimpin dapat dibuat dengan mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran yang diperoleh setiap hari atau setiap minggu. Pemimpin dapat menuliskan apa yang terjadi, bagaimana respons dirinya, dan apa yang seharusnya dilakukan dengan lebih baik. Jurnal tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan diri.

11.Rencana pengembangan dibuat dengan terlebih dahulu mengetahui kemampuan dan kekurangan diri. Setelah itu, pemimpin menentukan kompetensi yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah-langkah untuk mencapainya. Misalnya, jika kemampuan komunikasi masih kurang, maka dapat mengikuti pelatihan, membaca buku, atau lebih sering melakukan presentasi.

12.Kompetensi teknis dapat dibangun dengan memahami pekerjaan secara mendalam, mengikuti pelatihan, membaca referensi, mempelajari teknologi yang digunakan, dan mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan. Pemimpin juga harus terus mengikuti perkembangan di bidang pekerjaannya agar kemampuan yang dimiliki tetap relevan.

13.Caranya adalah dengan memahami visi, misi, dan tujuan organisasi terlebih dahulu. Setelah itu, pemimpin menghubungkan tugas yang dilakukan dengan tujuan tersebut. Dengan memahami hubungan ini, pemimpin dapat mengetahui bahwa setiap pekerjaan, meskipun terlihat kecil, sebenarnya memiliki kontribusi terhadap pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan.

14.Untuk menjadi ahli dalam pekerjaan, seseorang harus terus belajar dan memperdalam pengetahuan mengenai bidangnya. Selain teori, pengalaman langsung juga sangat penting. Seseorang perlu belajar dari kesalahan, meminta masukan, mengikuti perkembangan terbaru, dan terus meningkatkan kemampuan sehingga semakin memahami pekerjaannya.

15.Peluang untuk memperluas pengalaman dapat dicari dengan mengikuti proyek baru, bekerja sama dengan divisi lain, mengikuti pelatihan, menjadi anggota suatu tim, atau menerima tanggung jawab tambahan. Dengan mencoba berbagai pengalaman, seseorang dapat memperoleh keterampilan baru dan memahami pekerjaan dari perspektif yang lebih luas.

16.Hubungan efektif dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, profesional, dan saling menghargai. Pemimpin harus memahami harapan atasan, memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan, dan menyampaikan masalah secara jelas beserta alternatif solusinya. Hubungan yang baik bukan berarti selalu setuju, tetapi mampu berkomunikasi secara profesional.

17.Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, tekanan, target, serta masalah yang harus dihadapi oleh atasan. Dengan memahami kondisi tersebut, seorang pemimpin dapat melihat suatu masalah tidak hanya dari sudut pandangnya sendiri. Hal ini juga membantu dalam memberikan laporan, usulan, dan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi.

18.Beradaptasi dengan gaya atasan dilakukan dengan mengamati cara atasan berkomunikasi, mengambil keputusan, memberikan tugas, dan menerima laporan. Setelah memahami gayanya, kita dapat menyesuaikan cara berkomunikasi tanpa kehilangan profesionalisme. Misalnya, jika atasan lebih menyukai informasi singkat dan langsung, maka laporan sebaiknya dibuat ringkas dan fokus pada hal-hal penting.

19.Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, saling menghargai, menjaga kepercayaan, dan bersedia bekerja sama. Kita juga harus menghindari persaingan yang tidak sehat dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi. Hubungan yang baik dengan rekan sejawat akan mempermudah koordinasi dan penyelesaian pekerjaan.

20.Untuk mengenali kepentingan dan tujuan bersama, kita perlu mengetahui apa yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak dan mencari titik yang sama. Walaupun setiap orang memiliki kepentingan berbeda, biasanya terdapat tujuan bersama seperti meningkatkan kinerja, menyelesaikan pekerjaan, atau mencapai target organisasi. Titik kesamaan tersebut dapat menjadi dasar untuk bekerja sama.

21.Caranya adalah dengan memahami posisi dan tanggung jawab rekan sejawat serta mengetahui tantangan yang mereka hadapi. Kita juga perlu memahami target dan bentuk penghargaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat lebih menghargai pekerjaan rekan dan mencari cara kerja sama yang saling menguntungkan.

22.Perencanaan pengembangan dapat dibuat dengan menentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, langkah yang harus dilakukan, dan waktu pencapaiannya. Misalnya, seseorang ingin meningkatkan kemampuan kepemimpinan dalam enam bulan dengan mengikuti pelatihan, meminta bimbingan dari mentor, dan memimpin sebuah proyek kecil.

23.Refleksi dilakukan dengan mengevaluasi hasil dari proses pengembangan yang sudah dijalankan. Kita dapat melihat apakah tujuan sudah tercapai, kemampuan apa yang meningkat, dan bagian mana yang masih kurang. Jika rencana sebelumnya kurang efektif, maka rencana tersebut dapat diubah agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi terbaru.

24.Hasil belajar dapat diterapkan dengan menyesuaikan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan kondisi lingkungan baru. Tidak semua cara yang berhasil di tempat lama dapat langsung diterapkan di tempat baru. Oleh karena itu, kita perlu memahami budaya, aturan, karakter orang, dan kondisi organisasi terlebih dahulu, kemudian menerapkan pengalaman yang relevan secara bertahap.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Indi Aulia Davira 2551011046 -
Nama : Indi Aulia Davira
Npm : 2551011046

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin!
Sebagai pemimpin, kita harus memahami kondisi organisasi, mengenal anggota tim, dan mengetahui masalah yang sedang terjadi sebelum mengambil keputusan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin?
Berikan kesan yang baik dengan bersikap ramah, percaya diri, bertanggung jawab, dan mau mendengarkan orang lain.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk mengenal tim, memahami tugas, aturan, dan budaya kerja agar kita bisa bekerja dengan baik.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf!
Pemimpin mulai menentukan strategi, membagi tugas, dan menempatkan orang sesuai kemampuan agar pekerjaan lebih teratur dan efektif.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pemimpin menyampaikan rencana perubahan kepada tim dan mengajak mereka bekerja sama agar perubahan dapat berjalan dengan baik.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama?
Pemimpin perlu melihat kembali apa yang sudah berhasil dan apa yang masih kurang untuk dijadikan bahan perbaikan ke depannya.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Kita bisa meminta pendapat dari anggota tim, rekan kerja, atau atasan mengenai cara kerja dan kepemimpinan kita.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Kita dapat berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kemampuan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain!
Kita bisa belajar dari orang yang lebih berpengalaman dengan melihat cara mereka bekerja, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi Pemimpin!
Jurnal dibuat dengan mencatat pengalaman, masalah, keputusan, dan hasil kerja sehingga kita bisa melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Tentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, kemudian buat langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai kemampuan tersebut.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dapat dibangun dengan belajar, mengikuti pelatihan, membaca, dan terus berlatih dalam pekerjaan.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Kita harus memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan besar organisasi sehingga pekerjaan kita memiliki arah yang jelas.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Kita harus terus belajar, berlatih, dan memahami pekerjaan secara mendalam agar semakin terampil dalam menyelesaikan tugas.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Kita bisa mencoba tugas baru, mengikuti proyek lain, atau bekerja dengan tim yang berbeda untuk mendapatkan pengalaman tambahan.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, bertanggung jawab, dan memahami apa yang diharapkan oleh atasan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Kita perlu memahami tanggung jawab, tekanan, dan masalah yang dihadapi atasan agar lebih mudah bekerja sama dan saling memahami.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Kita perlu memahami cara kerja dan cara komunikasi atasan, kemudian menyesuaikan diri agar pekerjaan dapat berjalan lebih lancar.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Hubungan yang baik dapat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, saling menghargai, dan saling membantu dalam pekerjaan.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Kita perlu mengetahui kepentingan masing-masing dan mencari tujuan yang sama agar dapat bekerja sama dengan lebih baik.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Kita harus memahami tugas dan masalah yang dihadapi rekan kerja serta mengetahui hal-hal yang dapat membuat mereka termotivasi dalam bekerja.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Tentukan tujuan yang ingin dicapai, kemampuan yang perlu ditingkatkan, dan langkah yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Kita perlu mengevaluasi pengalaman dan pembelajaran yang sudah didapat. Jika ada yang kurang efektif, rencana pengembangan dapat diubah agar menjadi lebih baik.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Pengetahuan dan pengalaman yang sudah didapat dapat diterapkan di lingkungan baru dengan menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Muhamad Rafi Kurnia Fitra -
Nama : Muhamad Rafi Kurnia Fitra
NPM : 2511011105

JAWABLAH PERTANYAAN PERTANYAAN BERIKUT INI

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
: Fokus pelajari data kinerja, petakan siapa saja pemangku kepentingan kunci, dan samakan ekspektasi target dengan atasan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
: Lebih banyak mendengarkan daripada langsung mendikte, datang tepat waktu, dan tunjukkan gaya kepemimpinan yang jujur tanpa dibuat-buat.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
: Membuat obrolan one-on-one santai dengan tim inti, amati alur kerja harian, lalu catat masalah yang paling mendesak untuk dibereskan.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
:Geser posisi staf sesuai keahliannya, susun prioritas kerja baru, dan eksekusi masalah kecil yang gampang diselesaikan (quick wins) agar meningkatkan moral tim.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
: Jelaskan arah baru organisasi secara terbuka, bagi tugas ke tim, dan ajak diskusi anggota yang masih ragu dengan perubahan.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
: Cek target mana yang tercapai dan mana yang meleset, lalu pakai pengalaman itu buat perbaiki cara memimpin di bulan-bulan berikutnya.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
: Buka wadah masukan (bisa lewat obrolan santai atau formulir anonim), lalu buktikan kalau masukan mereka benar-benar kamu dengarkan dan tindak lanjuti.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
: Berani ambil proyek sulit yang belum pernah disentuh, izinkan tim coba cara baru, dan selesaikan masalah lama yang sempat tertunda.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
: Cari mentor yang lebih senior, amati kebiasaan pemimpin yang kamu kagumi, dan pelajari cara kerja timmu sendiri dari dekat.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
: Luangkan 5–10 menit tiap malam. Tulis ringkas 3 hal: keputusan penting hari ini, pelajaran yang didapat, dan apa yang harus diperbaiki besok.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
: Identifikasi kelemahan dan kekuatanmu saat ini, tetapkan target karier yang jelas, lalu susun langkah konkret beserta batas waktu pencapaiannya.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
: Pelajari alat dan metode kerja terbaru di bidangmu, ikuti pelatihan atau sertifikasi, serta rutin praktik langsung di lapangan.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
: Pahami target besar perusahaan, lalu petakan bagaimana tugas harianmu dalam mencapai target tersebut.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
: Fokus pada konsistensi detail, pelajari seluk-beluk teknis hingga ke akarnya, dan jadilah orang yang selalu punya solusi saat masalah muncul.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
: Ambil tanggung jawab di luar tugas rutin, ikuti proyek lintas divisi, dan tawarkan bantuan pada area yang belum pernah kamu tangani.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
: Jaga komunikasi yang transparan, selalu berikan pembaruan kerja (update) secara berkala, dan fokus membantu menyelesaikan beban kerja atasan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
: Pelajari tekanan, target utama, serta tantangan yang dihadapi atasanmu agar kamu bisa menyelaraskan prioritas kerja darinya.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
: Perhatikan cara komunikasinya (apakah suka detail, ringkasan, lisan, atau tulisan) dan sesuaikan caramu menyampaikan informasi dengannya.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
: Saling menghargai peran masing-masing, bantu saat mereka butuh dukungan, dan buka komunikasi yang jujur tanpa saling menjatuhkan.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
: Cari titik temu antara target divisimu dengan divisi lain, lalu jadikan hal tersebut sebagai fokus kolaborasi.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
: Luangkan waktu untuk mendengar kendala kerja mereka dan pahami indikator keberhasilan (KPI) mereka agar tidak saling berbenturan.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
: Bagi target besar menjadi aksi mingguan yang terukur, sediakan alokasi waktu khusus untuk belajar, dan cari rekan untuk saling memantau kemajuan.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
: Evaluasi perkembanganmu setiap bulan. Jika ada strategi yang tidak berjalan atau ada perubahan fokus karier, segera ubah dan sesuaikan rencanamu.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
: Amati budaya setempat terlebih dahulu, lalu selesaikan cara kerja lama yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan lingkungan baru tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Taufiqah Laila Nurul Fadhilah -
Nama: Taufiqah Laila Nurul Fadhilah
NPM: 2511011082

1. Before You Start, melakukan pengumpulan data pra-perekrutan dan kegiatan pasa perekrutan. Hari Pertama, bertemu dengan atasan dan bertemu dengan seluruh tim. Dua Minggu Pertama, bertemu dengan anggota tim, rekan kerja, karyawan, serta datang ke rapat lainnya. Dua Bulan Pertama, mendapatkan sudut pandang eksternal, strategi, struktur, dan penempatan karyawan, sosialiasi, mengambil keputusan, serta mendapatkan timbal balik. Bulan Ketiga, membangun budaya dan mengikuti acara tim di luar kantor untuk mendapat nilai-nilai, strategi, ritme operasional, area yang perlu ditingkatkan, dan analisis subtim.

2. Pemimpin baru memiliki dua tugas penting pada hari pertama bekerja, yaitu bertemu atasan baru dan tim baru. Pertemuan pertama sebaiknya dilakukan di kantor atasan dan berlangsung sekitar satu jam dengan membahas:
- identifikasi tujuan utama, metrik, proyek-proyek tim.
- memahami pandangan atasan mengenai kekuatan dan kelemahan tim.
- menyusun jadwal rapat dan gaya komunikasi.
- membagi rencana untuk hari ini dan beberapa minggu ke depan.

3. Dua minggu pertama difokuskan untuk mempelajari informasi, membangun hubungan, dan memetakan aliansi. Pemimpin baru perlu mengadakan pertemuan sau lawan satu dengan anggota tim untuk memahami proyek, tujuan, karyawan berprestasi, masalah internal, serta dukungan yang dibutuhkan dengan tetap menjaga batasan pribadi agar keputusan kepegawaian tetap objektif. Selain itu, penting juga mendatangi kantor rekan kerja untuk mempelajari budaya kerja dan pandangan mereka terhadap tim, serta berkonsultasi dengan karyawan berprestasi, mantan anggota tim, dan pihak terkait untuk mengidentifikasi peran kritis, sejarah tim, hingga potensi kandidat internal.

4. Selama dua bulan pertama, pemimpin harus mengumpulkan informasi lanjutan (organisasi lain, pemasok eksternal utama, dan pemimpin tim sebelumnya) serta melakukan pertemuan dengan pelanggan. Setelah itu, menentukan visi dan arah tim satu hingga tiga tahun ke depan. Pemimpin harus menerapkan urutan yang benar yaitu menetapkan strategi atau Vidi terlebih dahulu, yang kemudian dijadikan dasar untuk menentukan struktur tim, dan dilanjutkan dengan keputusan penempatan staf. Sebelum keputusan kepegawaian diambil, rencana tersebut harus didiskusikan terlebih dahulu dengan atasan dan rekan kerja untuk mendapatkan dukungan, lalu disosialisasikan secara tatap muka kepada anggota tim yang terdampak. Di samping itu, pemimpin baru wajib menjaga kinerja operasional tim tetap stabil dan aktif mencari umpan balik awal dari rekan kerja maupun perekrut.

5. Bulan ketiga berfokus pada mengomunikasikan visi dan mendorong perubahan melalui dua cara utama:
a. Pertemuan seluruh tim: pemimpin membagikan hasil pembelajaran, visi masa depan, struktur dan penempatan staf baru, serta alasan perubahan yang dikaitkan dengan nilai-nilai hari pertama. Perubahan ini ditegaskan melalui tindakan nyata, seperti perekrutan, promosi, atau restrukturisasi untuk mengubah norma tim.
b. Pertemuan luar kantor bersama bawahan langsung: langkah yang dilakukan meliputi menyepakati nilai dan perilaku kritis tim, membuat kartu penilaian berisi sasaran terukur dan jadwal keberhasilan, menetapkan ritme operasional atau jadwal rapat tahunan beserta aturannya, serta membentuk tim tugas yang diisi oleh anggota terbaik untuk menangani inisiatif perubahan utama.

6. Menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik, melakukan peregangan 10 persen, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan memiliki rencana pengembangan.

7. Pemimpin dapat menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik dengan tidak hanya bergantung pada regulasi pintu terbuka, melainkan juga harus bersikap tulus dan adaptif agar tercipta dialog konstruktif dengan bawahan. Selain itu, pemimpin harus secara aktif dan sistematis meminta masukan mengenai persepsi perilaku serta dampaknya terhadap tim, salah satunya melalui pemanfaatan tes psikologis, survei, atau kuisioner berkala.

8. Melakukan tantangan tambahan dilakukan melalui 10 percent strecth, yaitu melangkah sedikit di luar zona nyaman untuk melatih keterampilan kepemimpinan secara bertahap. Contohnya seperti berinisiatif menyapa rekan kerja, memimpin komite, atau menyesuaikan ketegasan saat rapat. Pendekatan ini efektif memperluas keterampilan, mengurangi kecemasan, dan memberikan teladan tanpa mengubah kepribadian secara drastis.

9. Cara belajar dari orang lain dilakukan dengan menyadari bahwa pelajaran kepemimpinan dapat diperoleh dari siapa saja tanpa membatasi diri pada figur tertentu. Pemimpin perlu aktif mengamati situasi sehari-hari dan mengajukan pertanyaan, terutama kepada pendahulu yang pernah menduduki posisi mereka, guna memanfaatkan wawasan serta pengalaman orang tersebut dalam menangani berbagai tantangan.

10. Cara membuat jurnal bagi pemimpin dilakukan dengan mencatat hal-hal speisifik terkait kepemimpinan (seperti tanggapan atas kutipan, artikel, refleksi peristiwa pribadi, maupun analisis bacaan materi kepemimpinan). Pemimpin perlu mencatat cara orang lain menangani masalah dan "berpikir di atas kertas" dengan mengaitkan pengalaman nyata pada konsep bacaan kepemimpinan. Proses menuliskan pengalaman ke dalam kata-kata ini membantu pemkmpin melihat peristiwa secara lebih objektif, dan dengan membaca ulang catatan tersebut secara berkala, pemimpin dapat memantau perkembangan pemikirannya sekaligus menjadikannya sebagai sebagai gudang ide untuk bahan presentasi atau pidato di masa depan.

11. Menetapkan tujuan konkret melalui evaluasi kinerja dan umpan balik atasan untuk memetakan kekuatan serta kelemahan. Pemimpin perlu memperhatikan masalah berulang dengan rekan kerja, mengidentifikasi keterampilan baru yang dibutuhkan untuk jenjah karier berikutnya, dan memanfaatkan tes psikologis formal. Selain itu, program membaca pribadi secara otomatis dan partisipasi dalam kelompok diskusi wajib dimasukkan untuk melatih stimulasi interktual serta refleksi kepemimpinan.

12. Menentukan bagaimana pekerjaan dapat berkontribusi terhadap misi organisasi secara keseluruhan, menjadi ahli dalam pekerjaan, dan mencari peluang untuk memperluas pengalaman.

13. Langkah pertama membangun kompetensi teknis adalah memahami bagaimana pekerjaan dapat berkontribusi pada kesuksesan organisasi agar dapat menentukan pengetahuan dan perilaku yang paling relevan. Setelah itu, evaluasi tingkat keterampilan saat ini melalui umpan balik rekan kerja dan atasan, peninjauan evaluasi kinerja, atau analisis data objektif. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan untuk memilih program pendidikan atau pelatihan formal yang paling tepat sesuai kebutuhan.

14. Menjadi ahli di bidang utama dilakukan dengan mengikuti program pendidikan atau pelatihan formal yang relevan, serta menjadi pengamat yang jeli terhadap perilaku orang lain dan merenungkan alasan di balik tindakan mereka berdasarkan konsep teori. Pemimpin juga harus aktif mengajukan pertanyaan untuk memverifikasi keakuratan asumsi mengenai suatu kejadian dan mencari kesempatan untuk mengajar orang lain, karena proses mengajar menuntut pemahaman mendalam yang dapat memperkuat keahlian teknis diri sendiri.

15. Meningkatkan kompetensi teknis melalui perluasan pengalaman dilakukan dengan mencoba berbagai tugas atau posisi berbeda dalam kelompok kerja, serta mengunjungi bagian lain organisasi untuk memahami operasi secara menyeluruh. Selain itu, pemimpin dapat terlibat dalam proyek tim lintas unit guna mempelajari keterampilan baru atau menjadi sukarelawan dalam kegiatan masyarakat untuk mengasah kemampuan perencanaan, organisasi, berbicara di depan umum, dan hubungan masyarakat.

16. Membangun hubungan efektif dengan atasan dilakukan dengan mengambil peran aktif dan tidak pasif, yaitu memandang bahwa kesuksesan bawahan dan atasan saling bergantung salah satu sama lain bawahan harus berfokus pada keberhasilan tim secara keseluruhan, berupaya memahami cara pandang serta dunia atasan, dan menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan atasan tanpa perlu menjadi penjilat atau memutarbalikkan informasi.

17. Memahami dunia atasan dilakukan dengan mengenali tujuan pribadi, sasaran organisasi, nilai-nilai, preferensi, serta kepribadian atasan untuk memberikan dukungan timbal balik bawahan, juga perlu menyadari keterbatasan atasan dan melengkapi kelemahannya, serta menjaga komunikasi yang transparan dengan memberi informasi terkini agar atasan tidak terkejut atau berada dalam situasi yang memalukan. Sebagaimana ditegaskan oleh Kelley, bawahan terbaik berpikir kritis dan berperan aktif dalam organisasi mereka yang berarti bawahan harus terus memberi informasi kepada atasannya mengenai informasi penting dan pendapat yang relevan terkait masalah organisasi.

18. Beradaptasi dengan gaya atasan dilakukan dengan menyadari bahwa tanggung jawab penyesuaian diri sepenuhnya berada pada bawahan, bukan sebaliknya. Bawahan harus fleksibel dalam menyesuaikan gaya komunikasi, gaya interaksi, serta strategi pengambilan keputusan sesuai dengan preferensi atasan. Selain itu, bawahan perlu aktif mengklarifikasi ekspektasi peran melalui diskusi prioritas tugas utama dan berkonsultasi dengan rekan kerja yang berpengalaman. Maka dari itu, hubungan yang efektif harus dilandasi oleh integritas yang tinggi kejujuran serta keandalan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan tepat waktu.

19. Pertama, mengenali minat dan tujuan bersama. Kedua, memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja. Ketiga, menerapkan sikap teori Y. Keempat, mengelola konflik dengan rekan kerja.

20. Mengenali kepentingan dan tujuan bersama dilakukan dengan mengidentifikasi minat nilai dan harapan yang sama antara kita dan rekan sejawat melalui pembentukan saluran komunikasi informal, proses Ini membutuhkan sikap terbuka dan jujur dalam menyampaikan keputusan diri sendiri sekaligus kesediaan untuk mendengarkan aspirasi, serta gagasan orang lain secara seimbang. Selain itu, berpartisipasi dalam kegiatan sosial di luar hubungan kerja biasa (seperti makan siang, tim olahraga perusahaan, atau kegiatan komunitas) menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan dan menemukan titik temu kepentingan bersama.

21. Memahami tugas masalah dan imbalan rekan sejawat dilakukan dengan mengenali jenis pekerjaan dan tantangan yang mereka hadapi di dalam organisasi. Hubungan yang kuat dibangun dengan memberikan bantuan saat rekan kerja menghadapi masalah pribadi atau organisasi. Selain itu, penting untuk memahami faktor-faktor situasional dan struktur imbalan yang mempengaruhi perilaku mereka, karena perilaku kontraproduktif seringkali dipicu oleh sistem imbalan yang ada bukan semata-mata karakter pribadi. Dengan memahami situasi tersebut, seseorang dapat menyesuaikan umpan balik agar dapat mendorong kerjasama yang efektif.

22. Membuat perencanaan pengembangan dilakukan melalui proses sistematis yang terdiri dari 5 fase yang saling terkait. Pertama, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan dengan menetapkan tujuan karier, mengevaluasi kemampuan, mencari umpan balik ,dan meninjau standar organisasi. Kedua, menganalisis data untuk memprioritaskan kebutuhan pengembangan. Ketiga, menyusun rencana pengembangan yang terfokus dan dapat dicapai. Keempat, meninjau rencana secara berkala, merefleksikan pembelajaran menggunakan model tindakan-pengamatan-refleksi (AOR) serta memodifikasi rencana sesuai kebutuhan. Kelima, mentransfer pembelajaran ke lingkungan baru.

23. Merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana pengembangan dilakukan dengan menilai secara berkala apakah tujuan akhir masih tepat, mencari rute alternatif yang lebih baik, serta mengidentifikasi kebutuhan sumber daya atau peralatan tambahan. Proses ini sebaiknya melibatkan diskusi kemajuan secara rutin bersama atasan dan rekan kerja sebagai bentuk komitmen terbuka. Langkah ini memastikan perkembangan diri tetap terpantau, rencana dapat disesuaikan dengan kebutuhan terbaru serta menghindari kejutan saat penilaian kinerja.

24. Menerapkan hasil belajar di lingkungan baru dilakukan dengan terus memperbarui rencana pengembangan secara dinamis, mempraktikkan keterampilan baru dalam situasi nyata yang baru, serta membimbing orang lain guna memperkuat penguasaan materi dari pembelajar menjadi ahli.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Mahesa Jenar Rudiasyah 2511011069 -
Nama : Mahesa Jenar Rudiasyah
NPM : 2511011069

1.Persiapan awal dilakukan dengan mempelajari organisasi sebanyak mungkin, memahami tim, pekerjaan, kekuatan dan kelemahannya, serta masalah yang sedang dihadapi. Pemimpin juga perlu mempersiapkan pertemuan dengan atasan dan anggota tim sebelum mulai bekerja.

2.Memberikan kesan pertama dilakukan dengan bertemu atasan dan seluruh anggota tim. Pemimpin perlu menjelaskan latar belakang, nilai dan hal-hal yang dianggap penting, harapan terhadap diri sendiri dan anggota tim, kebiasaan kerja, serta rencana beberapa minggu ke depan.

3.Dua minggu pertama digunakan untuk mempelajari organisasi dan tim, membangun hubungan, serta menentukan orang-orang yang dapat menjadi pendukung. Pemimpin dapat melakukan pertemuan dengan anggota tim untuk mengetahui pekerjaan, tujuan, kekuatan, masalah, dan hal-hal yang dapat diperbaiki.

4.Dua bulan pertama digunakan untuk mengumpulkan informasi dan menyusun strategi, struktur, serta penempatan staf. Strategi atau visi dan tujuan ditentukan terlebih dahulu, kemudian struktur organisasi dan staffing disesuaikan dengan kebutuhan. Rencana tersebut kemudian dikomunikasikan dan dibahas dengan pihak yang terkait.

5.Pada bulan ketiga, pemimpin mengomunikasikan apa yang telah dipelajari, visi masa depan, perubahan struktur dan staffing, serta harapan terhadap anggota tim. Pemimpin juga dapat membuat ukuran kinerja dan membentuk tim khusus untuk membantu menjalankan perubahan.

6.Pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran dengan menciptakan kesempatan memperoleh umpan balik, melakukan tantangan sekitar 10 persen di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal, dan memiliki rencana pengembangan.

7.Pemimpin perlu secara aktif meminta umpan balik dari orang-orang yang bekerja dengannya dan menunjukkan bahwa dirinya terbuka terhadap masukan. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui tes psikologis, survei, atau kuesioner.

8.Tantangan tambahan dilakukan dengan mengambil tugas yang sedikit berada di luar zona nyaman atau disebut 10 percent stretch. Contohnya menjadi ketua suatu kegiatan, mengambil tanggung jawab baru, atau mencoba mengubah kebiasaan tertentu dalam berinteraksi dengan orang lain.

9.Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dan mengamati bagaimana orang lain menghadapi berbagai situasi. Pemimpin juga dapat berbicara dengan orang yang pernah memegang posisi tersebut untuk mendapatkan pengalaman dan pelajaran.

10.Jurnal bagi pemimpin tidak hanya berisi catatan kegiatan sehari-hari, tetapi juga pengalaman kepemimpinan, kutipan, artikel, interaksi dengan orang lain, cara seseorang menyelesaikan masalah, serta hasil refleksi terhadap suatu kejadian. Jurnal membantu pemimpin melihat pengalaman dari berbagai sudut pandang dan mencatat perkembangan pemikirannya.

11.Rencana pengembangan dibuat secara sistematis dengan menentukan tujuan pengembangan dan strategi untuk mencapainya. Kebutuhan pengembangan dapat diketahui melalui penilaian kinerja, umpan balik dari atasan dan rekan kerja, kebutuhan keterampilan untuk posisi berikutnya, serta tes atau kuesioner.

12.Kompetensi teknis dibangun melalui pendidikan atau pelatihan formal, pelatihan di tempat kerja, dan pengalaman. Kompetensi teknis merupakan pengetahuan dan perilaku yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan berhasil.

13.Untuk mengetahui kontribusi pekerjaan terhadap misi keseluruhan, terlebih dahulu ditentukan bagaimana pekerjaan tersebut berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi. Setelah itu, kemampuan teknis yang paling berhubungan dengan keberhasilan pekerjaan dapat diidentifikasi dan dievaluasi melalui umpan balik, penilaian kinerja, dan data kinerja.

14.Menjadi ahli dalam pekerjaan dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan, mengamati orang lain, mengajukan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Dengan mengajarkan pekerjaan, seseorang akan terdorong untuk memahami pekerjaannya secara lebih mendalam.

15.Peluang untuk memperluas pengalaman dapat dicari dengan mencoba tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek bersama unit lain, serta terlibat dalam kegiatan sekolah, masyarakat, atau organisasi lainnya.

16.Hubungan efektif dengan atasan dibangun dengan mengambil langkah aktif untuk memperkuat hubungan dan membantu keberhasilan atasan serta organisasi. Hubungan yang baik dapat mengurangi konflik, meningkatkan dukungan, serta memberikan kesempatan untuk terlibat dalam keputusan dan mendapatkan tugas yang lebih menarik.

17.Dunia atasan dapat dipahami dengan mengetahui tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, dan keterbatasannya. Pemimpin juga perlu memberikan informasi penting mengenai kegiatan, perkembangan, masalah, dan peluang kepada atasan.

18.Beradaptasi dengan gaya atasan dilakukan dengan menyesuaikan diri terhadap gaya pengambilan keputusan, pemecahan masalah, komunikasi, dan interaksi atasan. Selain itu, bawahan perlu memahami perannya, bersikap jujur, memiliki integritas, dan dapat diandalkan.

19.Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun melalui hubungan dan aliansi yang kuat. Hal ini penting karena seseorang sering perlu memengaruhi rekan kerja tanpa memiliki kewenangan formal. Hubungan dapat diperkuat melalui komunikasi dan interaksi yang baik.

20.Kepentingan dan tujuan bersama dapat dikenali dengan mengetahui kesamaan kepentingan, nilai, tujuan, dan harapan dengan rekan sejawat. Hal tersebut dapat dilakukan melalui komunikasi informal, keterbukaan, kejujuran, dan kemauan untuk mendengarkan kepentingan orang lain.

21.Tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat dapat dipahami dengan mengetahui pekerjaan yang mereka lakukan, masalah yang mereka hadapi, serta penghargaan yang mereka terima. Memberikan bantuan, dorongan, ucapan terima kasih, dan pujian juga dapat membantu membangun hubungan yang baik.

22.Perencanaan pengembangan merupakan proses sistematis untuk membangun pengetahuan dan pengalaman atau mengubah perilaku. Prosesnya meliputi mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, menganalisis dan memprioritaskannya, membuat rencana, meninjau dan memodifikasi rencana, serta menerapkan pembelajaran di lingkungan baru.

23.Pembelajaran direfleksikan dengan meninjau rencana pengembangan secara berkala untuk melihat apakah tujuan masih sesuai, apakah diperlukan cara atau sumber daya lain, dan apa yang telah dipelajari. Rencana juga dapat dibahas dengan partner dan atasan agar tetap sesuai dengan perkembangan.

24.Hasil belajar diterapkan di lingkungan baru dengan terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh di lingkungan baru, dan mengajarkan keterampilan tersebut kepada orang lain. Dengan mengajarkan keterampilan kepada orang lain, pembelajaran yang telah diperoleh dapat semakin kuat.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Affan Hadiputra -
nama: affan hadiputra
npm: 2551011044

1. Persiapan Awal 90 Hari*
Sebagai pemimpin baru, kita harus pelajari dulu perusahaan, pahami kondisi tim, dan diskusi tujuan dengan atasan sebelum mulai bekerja.

*2. Kesan Pertama*
Berikan kesan pertama dengan banyak mendengar, jujur, tepat waktu, dan menghargai semua orang.

*3. 2 Minggu Pertama*
Gunakan untuk kenalan, dengarkan masukan tim, cari masalah kecil yang bisa cepat diselesaikan.

*4. 2 Bulan Pertama*
Susun strategi kerja, perbaiki struktur tim jika perlu, dan tempatkan orang sesuai kemampuannya.

*5. Bulan ke-3*
Komunikasikan perubahan ke tim dengan jelas dan beri contoh langsung agar tim mau ikut.

*6. Belajar dari 100 Hari*
Evaluasi apa yang sudah berhasil dan gagal, lalu perbaiki cara kerja untuk ke depan.

*7. Dapat Umpan Balik*
Buat jadwal diskusi rutin dan minta pendapat tim tentang kinerja kita.

*8. Tantangan Tambahan*
Ambil tugas baru di luar tanggung jawab untuk menambah pengalaman dan kemampuan.

*9. Belajar dari Orang Lain*
Amati cara kerja pemimpin lain, minta saran, dan jadikan contoh yang baik.

*10. Buat Jurnal Pemimpin*
Catat pengalaman, keputusan, dan pelajaran setiap hari agar bisa jadi bahan evaluasi.

*11. Rencana Pengembangan*
Tentukan kelemahan diri, buat target, lalu buat langkah-langkah untuk memperbaikinya.

*12. Kompetensi Teknis*
Terus belajar dan mengasah skill yang berhubungan langsung dengan pekerjaan.

*13. Kontribusi ke Misi*
Pahami tujuan perusahaan dan pastikan kerjaan tim mendukung tujuan itu.

*14. Jadi Ahli*
Fokus di 1 bidang, latihan terus, dan minta feedback untuk perbaikan.

*15. Perluas Pengalaman*
Coba hal baru, ikut proyek berbeda, dan jangan takut keluar dari zona nyaman.

*16. Hubungan dengan Atasan*
Komunikasi terbuka, pahami harapan atasan, dan kerjakan tugas dengan baik.

*17. Pahami Dunia Atasan*
Ketahui tekanan dan prioritas yang sedang dihadapi atasan.

*18. Adaptasi Gaya Atasan*
Sesuaikan cara melapor dan bekerja dengan gaya yang disukai atasan.

*19. Hubungan dengan Rekan*
Bangun kerjasama, saling menghargai, dan bantu jika ada kesulitan.

*20. Tujuan Bersama*
Cari persamaan tujuan antar tim agar bisa bekerja sama dengan baik.

*21. Pahami Rekan*
Ketahui tugas, masalah, dan apa yang membuat rekan semangat bekerja.

*22. Perencanaan Pengembangan Tim*
Lihat kebutuhan tim, lalu buat program pelatihan dan evaluasi.

*23. Modifikasi Rencana*
Tinjau ulang rencana tiap beberapa bulan dan ubah jika tidak sesuai.

*24. Terapkan di Tempat Baru*
Sesuaikan ilmu yang sudah dipelajari dengan budaya dan kondisi tempat baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Stevan Adrian Anas -
Nama: Stevan Adrian Anas
NPM: 2511011056

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Persiapan dilakukan sebelum resmi memimpin. Pemimpin perlu memetakan organisasi, budaya kerja, kondisi tim, hal yang sudah berjalan baik, kendala yang ada, serta target dari posisi baru tersebut. Langkah ini memastikan pemimpin tidak memulai dari nol saat resmi bertugas.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Di hari pertama, pemimpin perlu menemui atasan dan anggota tim. Bersama atasan, diskusikan sasaran kerja, kondisi tim, alur komunikasi, dan rencana awal. Kepada seluruh tim, perkenalkan diri, sampaikan nilai utama, harapan kerja, serta gambaran arah ke depan.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Fase ini difokuskan untuk menggali informasi dan menjalin hubungan. Pemimpin perlu berdiskusi dengan anggota tim, rekan sejawat, dan pihak yang memahami dinamika tim. Tujuannya untuk memetakan proyek yang berjalan, hambatan yang dihadapi, aspirasi anggota, serta mengidentifikasi personel yang berkinerja tinggi.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Dalam dua bulan pertama, kumpulkan data lebih dalam untuk merumuskan visi dan arah strategis tim. Setelah visi jelas, sesuaikan struktur organisasi dan tempatkan personel pada posisi yang tepat. Urutan langkah wajib dimulai dari penentuan strategi, dilanjutkan penataan struktur, lalu penempatan staf yang sesuai.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, sosialisasikan visi, sasaran, struktur baru, standar kerja, serta alasan di balik perubahan tersebut kepada tim. Tunjukkan komitmen perubahan tidak hanya lewat narasi, tetapi melalui aksi nyata seperti kebijakan promosi, restrukturisasi, atau penataan ulang posisi kerja.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Proses belajar dilakukan dengan mengevaluasi setiap pengalaman yang dilalui. Pemimpin perlu aktif meminta masukan, mengambil tantangan baru sekitar 10 persen di luar area nyaman, menimba ilmu dari figur lain, rutin mencatat refleksi dalam jurnal, dan menyusun rencana pengembangan diri.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin harus proaktif meminta masukan dari lingkungan sekitar, terutama dari tim bawahan. Ciptakan ruang yang aman dan nyaman agar orang lain berani menyampaikan pandangan secara jujur, bukan sekadar menyatakan diri terbuka terhadap kritik. Pemanfaatan survei atau evaluasi berkala dapat menjadi sarana yang efektif.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Dorong kapasitas diri dengan mencoba hal baru yang sedikit berada di luar batas nyaman, sekitar 10 persen. Contohnya, lebih aktif mengutarakan ide dalam rapat, memimpin suatu kegiatan, atau menghadapi situasi rumit yang biasanya dihindari agar keberanian serta keterampilan memimpin terasah secara bertahap.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Amati cara figur lain dalam mengatasi masalah dan menjalankan kepemimpinan. Manfaatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan praktisi yang lebih berpengalaman, termasuk pemegang jabatan sebelumnya. Keterbukaan untuk belajar bisa datang dari siapa saja, tanpa terbatas pada tingkatan jabatan formal.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal kepemimpinan berfokus pada catatan dan refleksi atas peristiwa kepemimpinan, bukan sekadar agenda harian. Catat momen penting, dinamika tim, pola penyelesaian masalah, serta refleksi atas keputusan yang diambil. Catatan ini membantu menilai pengalaman secara lebih objektif sekaligus memantau progres diri.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Awali dengan menetapkan sasaran yang ingin dicapai, lalu identifikasi area keterampilan yang perlu ditingkatkan. Tentukan prioritas, susun langkah aksi yang terukur, tentukan penilai perkembangan, dan tetapkan jadwal evaluasi. Pastikan rencana ini realistis serta berfokus pada beberapa aspek utama.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Tingkatkan pengetahuan dan pemahaman praktis yang relevan dengan bidang kerja. Langkah ini dapat ditempuh melalui pendidikan formal, pelatihan, pengalaman praktik langsung, mengamati kerja pakar, berdiskusi, hingga mengajarkan materi tersebut kepada orang lain.

13. Bagaimana cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Pahami keterkaitan antara peranan pribadi dengan tujuan besar organisasi. Dari pemahaman tersebut, petakan keterampilan utama yang paling dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan tim dan organisasi. Evaluasi kapasitas diri secara berkala melalui hasil kerja serta masukan dari atasan dan rekan kerja.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Memperdalam bidang keahlian dapat dilakukan melalui pembelajaran berkelanjutan, pelatihan, mengamati pakar, banyak bertanya, serta memahami latar belakang dari setiap proses kerja. Mengajarkan bidang tersebut kepada orang lain juga menjadi sarana efektif untuk memperkuat pemahaman secara mendalam.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Perluas wawasan dengan mengambil tanggung jawab baru, terlibat dalam proyek lintas fungsi, mengenal divisi lain, atau mengikuti kegiatan pengembangan diri. Pemahaman yang luas membantu pemimpin melihat keterkaitan antarbagian dalam mendukung tujuan organisasi.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Pahami sasaran kerja atasan, sajikan data yang dibutuhkan, bantu menyelesaikan kendala operasional, serta jaga kejujuran dan keandalan. Hubungan yang baik dibangun atas dasar keselarasan untuk mencapai tujuan bersama, bukan tindakan kompromistis yang tidak profesional.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Gali pemahaman mendalam mengenai sasaran, nilai, preferensi, serta gaya kerja atasan. Kenali pula kelebihan, area pengembangan, dan tekanan kerja yang dihadapi atasan agar bentuk dukungan yang diberikan tepat sasaran dan selaras dengan prioritas organisasi.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Sesuaikan pendekatan kerja dan pola komunikasi dengan preferensi atasan. Jika atasan menyukai laporan tertulis, sediakan ringkasan berkala secara rinci. Jika atasan cenderung formal, sesuaikan sikap kerja secara proporsional dalam hal komunikasi, pengambilan keputusan, dan koordinasi.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Jalin komunikasi yang terbuka, saling memberikan dukungan, pahami peran masing-masing, dan pelihara ikatan kerja yang positif. Kolaborasi dengan rekan sejawat sangat penting karena penyelesaian tugas organisasi kerap membutuhkan koordinasi dan sumber daya lintas unit.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Identifikasi sasaran, nilai, minat, dan harapan rekan kerja untuk menemukan titik temu dengan agenda tim. Interaksi informal dapat dimanfaatkan untuk menggali kesamaan kepentingan secara lebih luwes dan alami.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Pelajari cakupan tugas, kendala kerja, dan faktor pendorong motivasi rekan sejawat. Pemahaman ini membantu melihat hambatan kerja secara objektif berdasarkan konteks situasi atau sistem penghargaan yang berlaku, bukan menilai seseorang kurang kooperatif secara sepihak.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Mulailah dengan merumuskan sasaran karier, menilai tingkat kompetensi saat ini, dan memetakan kesenjangan keterampilan yang ada. Buat skala prioritas kebutuhan pengembangan, lalu susun tahapan aksi, indikator keberhasilan, mekanisme umpan balik, serta tenggat evaluasi.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Evaluasi efektivitas rencana pengembangan secara berkala untuk memastikan relevansinya dengan kondisi terkini. Jika ditemukan kekurangan atau pendekatan yang lebih efektif, lakukan penyesuaian strategi. Lakukan peninjauan ini bersama atasan atau mentor yang tepercaya.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Terapkan keterampilan yang telah dipelajari pada konteks atau tantangan baru agar kompetensi semakin teruji. Perbarui rencana pengembangan diri secara berkala dan bagikan ilmu tersebut kepada orang lain untuk memperkuat pemahaman serta fleksibilitas penerapan di berbagai situasi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Novandria Amelia Putri -
Nama : Novandria Amelia Putri
NPM : 2551011004

1. Melakukan riset organisasi, mengajukan pertanyaan kunci terkait kondisi tim, serta memastikan kesiapan administrasi dan jadwal pertemuan sebelum mulai kerja.

2. Melakukan pertemuan 1 jam dengan atasan untuk menyamakan ekspektasi dan cara kerja, lalu pertemuan 1 jam dengan seluruh tim untuk ngenalin diri dan arah kerja kamu.

3. Mengadakan sesi satu persatu dengan anggota tim, serta mengidentifikasi staf berkinerja tinggi (stars) dan posisi kunci.

4. Menyusun visi tim, menerapkan prinsip Strategy, lalu structure, dan staffing, serta mensosialisasikan rencana perubahan kepada atasan dan peers sebelum dieksekusi.

5. Menyampaikan arah dan perubahan tim secara terbuka. Jika tim berukuran besar, adakan sesi pertemuan khusus (off-site) untuk menyusun target kerja, aturan rapat, dan membagi tugas.

6. Menerapkan siklus Action-Observation-Reflection (A-O-R) secara terus-menerus untuk mengevaluasi dan menyempurnakan gaya kepemimpinan.

7. Bersikap proaktif, ramah, dan tulus, serta memanfaatkan tes psikologis, kuesioner, atau survei 360 derajat.

8. Dengan menerapkan 10 Percent Stretch dengan mencoba perilaku/keterampilan baru di luar zona nyaman secara bertahap.

9. Mengamati berbagai figur pemimpin, proaktif mengajukan pertanyaan mendasar, serta memperdalam pemahaman dengan cara mengajar orang lain.

10. Mencatat pengalaman harian, analisis interaksi, refleksi atas artikel/teori, serta mengulasnya secara berkala untuk melihat perkembangan diri.

11. Identifikasi sasaran karier, menganalisis area yang perlu ditingkatkan, serta konsisten membaca literatur kepemimpinan.

12. Ikuti pelatihan, mengamati dan merefleksikan cara kerja ahli, proaktif bertanya, serta berani mengambil peran baru di tim.

13. Menganalisis keselarasan tugas harian, lalu mengevaluasi keterampilan teknis diri secara objektif.

14. Perdalam kenmampuan utama melalui kursus, mengamati praktisi senior, serta melatih/mengajari orang lain.

15. Dengan mencoba berbagai tugas di dalam tim, mempelajari unit kerja lain, terlibat dalam proyek lintas fungsi, serta menjadi relawan kegiatan sosial.

16. Hubungan Efektif dengan Atasan: Menganggap keberhasilan sebagai tim, melengkapi kelemahan atasan, menjaga transmisi informasi yang transparan, serta menunjukkan integritas dan keandalan.

17. Memahami Dunia Atasan: Mengidentifikasi sasaran, preferensi, dan tekanan kerja atasan untuk memberikan dukungan yang tepat.

18. Dengan menyesuaikan cara berkomunikasi dan formalitas kerja dengan preferensi atasan, serta melakukan klarifikasi peran.

19. Membangun aliansi tanpa menggurui, bersosialisasi di luar jam kerja, serta saling membantu dan memberikan apresiasi.

20. Mengidentifikasi kesamaan nilai dan tujuan dengan rekan kerja melalui komunikasi yang terbuka, jujur, dan mau mendengarkan.

21. Dengan mempelajari tantangan kerja rekan dan memahami struktur insentif mereka untuk melihat penyebab perilaku yang tidak kooperatif secara objektif.

22. Melakukan Analisis GAPS (Goals, Abilities, Perceptions, Standards), menentukan Gaps-of-GAPS, serta menyusun rencana aksi terukur (action steps, kriteria sukses, jadwal review).

23. Mengulas kemajuan secara berkala bersama atasan atau rekan dan memperbarui rencana sebagai dokumen hidup.

24. Ujikan keterampilan baru pada situasi/tantangan baru, memperbarui rencana pengembangan, serta coba ajari orang lain.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Efrina Ginting 2511011024 -
Nama : Efrina Rosa Lita Br Ginting
NPM : 2511011024

1. Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan mempelajari organisasi, tujuan, budaya kerja, kondisi tim, serta masalah yang sedang dihadapi. Persiapan ini membantu pemimpin memahami situasi sebelum mengambil keputusan.

2. Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan anggota tim. Pemimpin dapat memperkenalkan diri, menjelaskan nilai dan harapan kerja, serta menunjukkan sikap terbuka, percaya diri, dan profesional.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk mengenal anggota tim dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pekerjaan. Pemimpin perlu mendengarkan berbagai pendapat, memahami masalah tim, serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang ada.

4. Pemimpin mengumpulkan informasi lebih banyak melalui pertemuan, benchmarking, serta masukan dari berbagai pihak. Berdasarkan informasi tersebut, pemimpin menentukan arah atau visi tim, struktur organisasi, dan penempatan staf yang sesuai.

5. Pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, struktur, harapan, dan perubahan yang akan dilakukan kepada seluruh tim. Perubahan harus didukung dengan tindakan nyata agar anggota tim memahami dan mengikuti arah yang baru.

6. Pemimpin dapat belajar dengan meminta umpan balik, mencoba tantangan baru, belajar dari orang lain, mencatat pengalaman dalam jurnal, dan membuat rencana pengembangan diri.

7. Pemimpin harus secara aktif meminta pendapat dari bawahan dan rekan kerja mengenai perilaku serta kinerja kepemimpinannya. Umpan balik dapat diperoleh melalui diskusi, survei, atau evaluasi secara berkala.

8. Pemimpin perlu keluar sedikit dari zona nyaman dengan mengambil tugas atau tanggung jawab yang lebih menantang. Hal ini membantu meningkatkan kemampuan dan memberikan pengalaman kepemimpinan baru.

9. Pemimpin dapat mengamati cara orang lain bekerja, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan berkomunikasi. Pengalaman orang lain dapat menjadi sumber pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan diri.

10. Pemimpin dapat mencatat kejadian penting setiap hari, termasuk keberhasilan, kesalahan, masalah, keputusan, dan respons anggota tim. Catatan tersebut kemudian direfleksikan untuk mengetahui apa yang sudah dipelajari.

11. Tentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, tindakan yang harus dilakukan, serta sumber umpan balik. Rencana tersebut digunakan sebagai panduan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

12. Pemimpin perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pengalaman kerja, pelatihan, membaca, dan belajar dari orang yang lebih ahli.

13. Pemimpin perlu memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan dan misi organisasi. Dengan demikian, setiap pekerjaan dapat diarahkan agar memberikan kontribusi terhadap keberhasilan organisasi.

14. Pemimpin harus terus memperdalam pengetahuan, memahami proses kerja, meningkatkan keterampilan, dan belajar dari pengalaman. Keahlian terbentuk melalui proses belajar dan praktik yang berkelanjutan.

15. Pemimpin dapat mengikuti proyek baru, rotasi pekerjaan, menjadi anggota tim tertentu, atau mengambil tugas tambahan. Pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan dan kemampuan kepemimpinan.

16. Bangun komunikasi yang terbuka dan saling percaya dengan atasan. Pahami kebutuhan serta harapan atasan dan berikan informasi yang dibutuhkan agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.

17. Pemimpin perlu memahami tujuan, tanggung jawab, tekanan, masalah, serta prioritas yang dihadapi atasannya. Dengan memahami kondisi tersebut, pemimpin dapat memberikan dukungan yang lebih tepat.

18. Pemimpin perlu mengenali cara atasan berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bekerja. Setelah itu, sesuaikan cara berinteraksi tanpa kehilangan profesionalisme dan prinsip pribadi.

19. Hubungan yang efektif dibangun melalui komunikasi, rasa saling menghargai, kepercayaan, dan kerja sama. Pemimpin juga perlu bersedia membantu rekan ketika menghadapi masalah.

20. Cari kesamaan tujuan dan kepentingan antara diri sendiri dengan rekan kerja. Kesamaan tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun kerja sama dan mengurangi konflik.

21. Pemimpin perlu mengetahui tugas, tanggung jawab, kesulitan, dan penghargaan yang diterima rekan kerja. Pemahaman ini membantu menciptakan kerja sama yang lebih baik dan saling mendukung.

22. Perencanaan dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan melalui analisis GAPS, kemudian menentukan prioritas dan membuat langkah-langkah untuk menutup kesenjangan kemampuan tersebut.

23. Pemimpin perlu mengevaluasi perkembangan secara berkala dengan melihat hasil yang sudah dicapai dan umpan balik yang diterima. Jika diperlukan, rencana pengembangan dapat diubah agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Keterampilan yang telah dipelajari perlu dipraktikkan dalam situasi atau lingkungan yang berbeda. Pemimpin juga dapat mengajarkan keterampilan tersebut kepada orang lain sehingga kemampuan semakin kuat dan berkembang.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Vannesa hati -
Nama: Vannesa arly metha hati
NPM: 2551011036

1. Pemimpin perlu mempelajari organisasi, sejarah perusahaan, budaya, kondisi tim, serta mencari informasi mengenai pekerjaan barunya. Pemimpin juga perlu menyiapkan agenda dan pertemuan untuk dua minggu pertama.
2. Pada hari pertama pemimpin perlu bertemu atasan dan seluruh tim, Bertemu atasan untuk membahas tujuan, proyek-proyek penting, membahas kekuatan, membagikan rencana hari ini dan kedepannya serta kelemahan tim dan menunjukkan gaya komunikasi yang baik. Dengan tim, berikan harapan, sampaikan latar belakang, nilai, cara bekerja dan rencana untuk kedepannya.
3. Pemimpin perlu bertemu dengan banyak orang, baik dalam maupun luar tim. Untuk Mempelajari sebanyak mungkin, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu di masa depan. Selama dua minggu pertama, pemimpin sebaiknya mengadakan pertemuan secara individu dengan setiap anggota tim. Pemimpin sebaiknya bertemu dengan individu-individu yang pernah menduduki bagian dari tim. Individu tersebut dapat memberikan informasi mengenai sejarah, budaya, dan memahami kondisi atau masalah pada tim.
4. Pemimpin mengumpulkan informasi mengenai perbandingan dari organisasi lain, bertemu dengan pelanggan dan pemasok eksternal utama, serta bertemu dengan pemimpin sebelumnya, untuk membantu tim mendapatkan informasi dan membantu menentukan arah yang tepat bagi tim. menentukan visi dan arah tim. Pemimpin baru perlu mengingat, tentukan visi dan tujuan, kemudian susun struktur tim, lalu tempatkan orang yang tepat sesuai kebutuhan tim.
5. Pemimpin menyampaikan visi, struktur tim, harapan, dan alasan perubahan kepada seluruh tim. Perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti perekrutan, promosi, restrukturisasi, dan penempatan staf.
6. Pembelajaran dilakukan dengan menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan 10% di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, membuat jurnal tentang peristiwa-peristiwa kepemimpinan dan memiliki rencana pengembangan.
7. Pemimpin harus secara aktif meminta umpan balik, terutama dari orang yang bekerja di bawahnya. Tidak cukup hanya mengatakan memiliki kebijakan pintu terbuka, pemimpin harus benar-benar mudah didekati dan tulus menerima masukan
8. Yaitu secara bertahap melakukan sesuatu sedikit di luar zona nyaman untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan, misalnya lebih aktif berbicara, menjadi ketua komite, atau mengubah cara berkomunikasi saat rapat
9. Pemimpin dapat belajar dari siapapun. Para pemimpin dapat belajar dengan mengajukan pertanyaan dan memperhatikan situasi sehari
hari dan mempelajari pengalaman orang yang pernah menjalankan posisi tersebut.
10. Jurnal digunakan untuk mencatat dan merefleksikan pengalaman kepemimpinan, seperti interaksi, masalah, tindakan orang lain, maupun pelajaran dari buku. Jurnal membantu melihat peristiwa secara lebih objektif dan menjadi catatan perkembangan pemimpin.
11. Pemimpin perlu menentukan tujuan pengembangan berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang ditemukan melalui umpan balik, pengalaman, dan evaluasi. Rencana tersebut membantu mengarahkan perkembangan diri secara sistematis.
12. Seseorang biasanya memperoleh kompetensi teknis melalui pendidikan formal atau pelatihan dalam topik khusus, pelatihan di tempat kerja, atau pengalaman. Kompetensi ini penting agar pemimpin mampu memahami pekerjaan, melatih anggota, dan menyelesaikan masalah dengan baik.
13. Pertama, pahami bagaimana pekerjaan berkontribusi terhadap keberhasilan organisasi. Setelah itu, tentukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang paling penting serta evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik dan data kinerja
14. Keahlian dapat dibangun melalui pendidikan dan pelatihan, mengamati orang lain, bertanya, dan mengajarkan pekerjaan kepada orang lain. Mengajarkan orang lain membuat pemimpin harus memahami pekerjaan secara lebih mendalam.
15. Caranya dengan mencoba tugas dari posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek lintas unit, atau terlibat dalam kegiatan yang dapat menambah keterampilan dan pengalaman.
16. Bawahan perlu membangun hubungan yang saling mendukung dengan atasan, membantu mencapai tujuan bersama, memberikan informasi penting, serta aktif berkontribusi terhadap keberhasilan tim.
17. Pahami tujuan, nilai, preferensi, kepribadian, kelebihan, kelemahan, serta keterbatasan atasan. Dengan begitu, bawahan dapat menyesuaikan dukungan dan membantu melengkapi kelemahan atasan.
18. Bawahan perlu bersikap fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan gaya pengambilan keputusan atasan, strategi pemecahan masalah, cara berkomunikasi, gaya
interaksi, dan sebagainya. Mengklarifikasi ekspektasi mengenai peran mereka dalam tim, komite, atau kelompok kerja juga perlu agar tidak terjadi kesalahpahaman
19. Bangun hubungan melalui komunikasi, kerja sama, saling membantu, dan membangun kepercayaan. Hubungan yang baik dengan rekan kerja penting karena banyak pekerjaan membutuhkan bantuan dan sumber daya dari orang lain.
20. Dengan mengetahui apa sebenarnya tujuan, nilai, dan minat rekan sejawat tersebut, membangun saluran komunikasi informal. Seseorang perlu bersikap terbuka dan jujur dalam menyampaikan kebutuhan, nilai-nilai, dan tujuannya sendiri, serta bersedia mengakui kebutuhan, aspirasi, dan minat orang lain. Serta cara yang efektif untuk membangun hubungan dengan anggota lain yaitu bertemu mereka dalam konteks di luar hubungan kerja biasa.
21. Pahami jenis pekerjaan, masalah, dan imbalan yang dihadapi rekan kerja. Dengan memahami kondisi mereka, kita dapat memberikan bantuan dan memahami mengapa mereka menunjukkan perilaku tertentu.
22.Dapat dilakukan dengan analisis GAPS, kemudian susun:
1).Tujuan karier dan pengembangan
2).Kriteria keberhasilan
3).Langkah-langkah tindakan
4).Pihak yang dilibatkan dan waktu penilaian ulang
5).Tugas yang menantang
6).Sumber daya
7).Refleksi bersama mitra.
23. Evaluasi kemajuan secara berkala, refleksikan apa yang telah dipelajari, lalu ubah atau perbarui rencana jika tujuan, cara, atau sumber daya yang digunakan sudah tidak sesuai. Evaluasi juga dapat dilakukan bersama atasan atau rekan kerja.
24. Rencana pengembangan harus menjadi dinamis. Hasil belajar diterapkan dengan memperbarui rencana, mempraktikkan keterampilan baru di lingkungan berbeda, dan membimbing orang lain agar memperkuat pembelajaran.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Nadella Azzahra Alfatino -
nama : Nadella Azzahra Alfatino
NPM : 2511011151

1. Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan belajar memahami kondisi organisasi atau perusahaan, mengenal atasan dan tim, serta mengumpulkan informasi sebelum mulai mengambil keputusan untuk organisasinya

2. cara memberikan kesan kepada rekan kerja melalui sikap percaya diri, terbuka, ramah, dan mudah didekati agar orang lain merasa nyaman bekerja dengan kita dan tidak merasa tertekan.

3. salah satu caranya adalah dengan mengenal atasan, anggota tim, dan rekan kerja serta memahami serta beradaptasi dengan kondisi dan cara kerja organisasi terlebih dahulu.

4. Dengan cara memahami strategi dan struktur organisasi, kemudian menempatkan staf sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pekerjaan.

5. Kita harus dapat mengomunikasikan keputusan, menerima timbal balik, dan mulai membangun budaya kerja yang mendukung perubahan yang ada dilingkungan sekitar

6. Pertama kita harus mengevaluasi pengalaman selama 100 hari pertama, lalu melihat apa yang berhasil dan tidak, terakhir menggunakannya untuk memperbaiki cara memimpin.

7. dengan cara terbuka menerima kritik dan saran serta meminta pendapat dari orang lain secara langsung.

8. melakukan “peregangan 10 persen”, yaitu berusaha secara sukarela dan tekun untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan.

9. kita dapat mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah, mengambil keputusan, dan menangani berbagai situasi.

10. menulis jurnal yang berisi catatan atau refleksi tentang pengalaman dan aspek-aspek tertentu dalam kepemimpinan, sehingga bisa menjadi bahan untuk belajar dan mengevaluasi diri.

11. menentukan tujuan yang konkret, mengumpulkan informasi dari evaluasi kinerja dan umpan balik, memperhatikan interaksi dengan rekan, melihat keterampilan yang masih dibutuhkan, serta memperluas wawasan melalui membaca.

12. Dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis yang dibutuhkan dalam pekerjaan, karena kompetensi teknis dapat membantu meningkatkan kinerja dan membuat pemimpin lebih berpengaruh dalam kelompok.

13. Dengan memahami bagaimana pekerjaan yang dilakukan berhubungan dan memberikan kontribusi terhadap misi organisasi secara keseluruhan, sehingga kita dapat menyadari pentingnya peran kita dalam mencapai tujuan organisasi.

14. kita dapat terus belajar dan meningkatkan kemampuan sampai benar-benar menguasai pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

15. Dengan mencari kesempatan untuk mencoba tugas baru agar pengalaman dan kemampuan menjadi lebih luas.

16. Dengan memahami tujuan atasan, berkomunikasi dengan baik, dan menyesuaikan cara bekerja agar hubungan kerja menjadi efektif.

17. kita harys memahami tugas, tanggung jawab, tujuan, dan kondisi yang dihadapi oleh atasan.

18. cara agar berdaptasi dengan gaya atasan adalah kita harus menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja sesuai dengan gaya kepemimpinan atasan.

19. cara agar hubungan kita baik dengan rekan kerja salah satunya adalah kita harus membangun komunikasi yang baik, saling memahami, bekerja sama, dan mampu mengelola konflik.

20. Dengan mencari kesamaan kepentingan dan tujuan sehingga lebih mudah untuk bekerja sama.

21. Kita perlu memahami tugas dan masalah yang sedang dihadapi rekan sejawat, termasuk mengetahui imbalan atau hal yang mereka harapkan. Dengan begitu, hubungan kerja bisa lebih baik dan kerja sama jadi lebih mudah.

22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, lihat kemampuan yang masih kurang, kumpulkan informasi dari evaluasi kinerja atau umpan balik, lalu tentukan langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

23. Setelah rencana dijalankan, pemimpin perlu melihat kembali hasil dan pengalaman yang diperoleh. Dari refleksi tersebut, kita bisa mengetahui bagian yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih perlu diperbaiki, kemudian menyesuaikan rencana pengembangan agar lebih sesuai dengan kebutuhan.

24. Hasil belajar tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu dipraktikkan dalam lingkungan yang baru. Keterampilan dan pengetahuan yang sudah diperoleh dapat diterapkan pada situasi kerja yang berbeda, lalu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Risky Ramadhan Pratama Putra -
Nama: Risky Ramadhan Pratama Putra
NPM: 2511011125

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Persiapan awal dilakukan dengan memahami 90 hari pertama sebagai pemimpin, yaitu mempersiapkan diri sebelum memulai, membangun fondasi pada dua minggu pertama, menyusun strategi, struktur dan penempatan karyawan pada dua bulan pertama, serta mengomunikasikan dan mendorong perubahan pada bulan ketiga.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama dibangun dengan bertemu atasan, seluruh tim, anggota tim, rekan kerja, dan karyawan. Pemimpin perlu menunjukkan sikap terbuka serta membangun hubungan kerja yang baik sejak awal.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk mendapatkan sudut pandang eksternal, memahami strategi, struktur dan penempatan karyawan, melakukan sosialisasi, serta memahami nilai-nilai, strategi, ritme operasional, area yang perlu ditingkatkan, dan melakukan analisis subtim.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi, struktur, dan penempatan karyawan. Pemimpin juga melakukan sosialisasi, mengambil keputusan, mendapatkan timbal balik, serta mulai membangun budaya dalam tim.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan keputusan dan perubahan, mendapatkan timbal balik dari anggota tim, serta membangun budaya melalui kegiatan yang dapat memperkuat hubungan dan kerja sama tim.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Pemimpin dapat belajar dari pengalaman dengan meninjau kembali pengalaman yang telah dilalui, melihat peran diri sendiri dalam berbagai situasi secara objektif, kemudian menggunakan pengalaman tersebut sebagai dasar untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin perlu menciptakan kesempatan untuk mendapatkan umpan balik dengan bersikap terbuka, mudah didekati, dan tulus dalam menerima masukan dari orang lain.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Tantangan tambahan dilakukan melalui “Peregangan 10 persen”, yaitu upaya sukarela namun tekun untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan dengan mengambil tantangan yang dapat mengembangkan kemampuan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Pemimpin dapat belajar dari orang lain dengan secara aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi dan menangani berbagai tantangan serta situasi, termasuk situasi yang umum terjadi.

10. Jelaskan cara membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal bagi pemimpin dibuat dengan mencatat pengalaman dan entri yang membahas aspek-aspek tertentu mengenai pemimpin atau kepemimpinan. Jurnal digunakan untuk membantu pemimpin melakukan refleksi terhadap pengalaman yang telah dilalui.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Rencana pengembangan dilakukan dengan mengidentifikasi tujuan konkret, mengumpulkan informasi melalui evaluasi kinerja atau sesi umpan balik, memperhatikan interaksi rekan sejawat, meninjau peran dalam situasi tertentu secara objektif, dan melihat keterampilan baru yang diperlukan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan repertoar perilaku yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan suatu tugas dengan sukses. Kompetensi teknis penting karena kinerja sering kali bergantung pada kompetensi tersebut.

13. Bagaimana cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Caranya dengan memahami bagaimana pekerjaan yang dilakukan berkontribusi terhadap misi organisasi secara keseluruhan, sehingga pemimpin dapat melihat hubungan antara tugasnya dengan tujuan organisasi.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan meningkatkan kompetensi teknis, memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan, sehingga mampu menyelesaikan tugas dengan sukses.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Pemimpin dapat mencari peluang untuk memperluas pengalaman dengan mengambil tugas atau kesempatan baru yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam pekerjaan.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Hubungan efektif dengan atasan dibangun dengan memahami dunia atasan dan menyesuaikan diri dengan gaya atasan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Memahami dunia atasan dilakukan dengan mengetahui cara pandang, kepentingan, tujuan, tugas, serta tuntutan yang dihadapi oleh atasan, sehingga hubungan kerja dapat berjalan lebih efektif.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Beradaptasi dilakukan dengan menyesuaikan diri dengan gaya atasan, terutama dalam komunikasi, pelaksanaan tugas, dan cara bekerja, tanpa mengabaikan tanggung jawab sendiri.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun dengan mengenali kepentingan dan tujuan bersama, memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja, menerapkan sikap Teori Y, serta mengelola konflik dengan rekan kerja.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Caranya dengan memahami kepentingan dan tujuan bersama antara diri sendiri dengan rekan sejawat, sehingga dapat menciptakan kerja sama yang mendukung pencapaian tujuan organisasi.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Pemimpin perlu memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja agar dapat mengetahui kondisi dan kepentingan rekan sejawat serta membangun hubungan kerja yang efektif.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Perencanaan pengembangan dilakukan melalui analisis GAP, kemudian menyusun rencana pengembangan berdasarkan kesenjangan antara kondisi atau kemampuan saat ini dengan kemampuan yang ingin dicapai.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Refleksi dilakukan dengan evaluasi dan refleksi terhadap hasil pembelajaran, kemudian memodifikasi atau menyesuaikan rencana pengembangan berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Hasil belajar diterapkan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dalam situasi atau lingkungan baru, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan tersebut. Ini merupakan bagian dari proses pengembangan diri sebagai pemimpin.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Aliyah Izzatun Nisa -
Nama : Aliyah Izzatun Nisa
Npm : 2511011113
1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin?
Persiapan awal dilakukan dengan mempelajari organisasi, mengumpulkan informasi mengenai tim, memahami kondisi pekerjaan, serta mengenali atasan dan orang-orang yang akan bekerja sama. Pemimpin perlu mengetahui hal yang sudah berjalan baik, masalah yang ada, dan hal-hal yang perlu diperbaiki.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Pada hari pertama, pemimpin perlu bertemu dengan atasan dan seluruh tim. Pemimpin memperkenalkan diri, menjelaskan nilai dan harapan dalam bekerja, cara berinteraksi, serta rencana awal. Sikap terbuka dan profesional penting untuk membangun kepercayaan sejak awal.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk bertemu dengan anggota tim, rekan sejawat, orang-orang berprestasi, dan pihak lain yang berkaitan dengan pekerjaan. Tujuannya adalah memperoleh informasi sebanyak mungkin, membangun hubungan, serta menemukan pihak yang dapat mendukung kepemimpinan.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Dua bulan pertama digunakan untuk mengumpulkan informasi tambahan, menentukan arah atau visi tim, menyusun struktur yang sesuai, dan menentukan penempatan staf. Strategi harus menjadi dasar dalam menentukan struktur, kemudian struktur menjadi dasar dalam menentukan staf yang tepat. Sebelum melakukan perubahan, pemimpin perlu mendiskusikannya dengan atasan dan rekan sejawat.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan visi, strategi, tujuan, dan perubahan kepada anggota tim. Pemimpin juga perlu menjelaskan alasan perubahan, peran setiap anggota, serta harapan yang ingin dicapai agar anggota tim memahami dan mendukung perubahan.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Pemimpin dapat belajar dari pengalaman melalui proses Action–Observation–Reflection (AOR), yaitu melakukan tindakan, mengamati hasilnya, kemudian melakukan refleksi terhadap apa yang terjadi. Dari proses tersebut, pemimpin dapat mengetahui apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang dapat diterapkan pada situasi berikutnya.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin perlu secara aktif meminta umpan balik dari bawahan, rekan kerja, atasan, maupun pihak lain yang memahami pekerjaannya. Umpan balik digunakan untuk mengetahui bagaimana perilaku pemimpin dipandang oleh orang lain dan bagian mana yang masih perlu dikembangkan.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tugas atau tanggung jawab yang sedikit lebih sulit dari kemampuan saat ini. Dengan menghadapi tantangan tersebut, pemimpin dapat memperluas pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman sehingga kemampuan kepemimpinannya berkembang.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Pemimpin dapat belajar dari orang lain dengan mengamati cara mereka bekerja, bertanya, mendengarkan pengalaman, serta memperhatikan bagaimana mereka menghadapi berbagai masalah. Pengalaman orang lain dapat menjadi sumber pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan diri.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal pemimpin dapat dibuat dengan mencatat pengalaman penting, tindakan yang dilakukan, masalah yang dihadapi, hasil yang diperoleh, serta pelajaran yang didapat. Jurnal juga dapat digunakan untuk melakukan refleksi dan melihat perkembangan kemampuan kepemimpinan dari waktu ke waktu.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan karier, mengidentifikasi kemampuan yang perlu dikembangkan, menentukan indikator keberhasilan, membuat langkah-langkah tindakan, menentukan sumber umpan balik, serta melakukan evaluasi secara berkala. Rencana tersebut perlu diperbarui sesuai dengan pengalaman dan perkembangan yang diperoleh.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dapat dibangun dengan memahami pekerjaan secara mendalam, mengikuti pelatihan atau pendidikan, belajar dari orang yang lebih ahli, mencari pengalaman baru, dan mengajarkan pengetahuan kepada orang lain. Dengan demikian, pemimpin dapat semakin memahami pekerjaan dan meningkatkan keahliannya.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Caranya adalah dengan memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan dan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Pemimpin perlu mengetahui bagaimana hasil pekerjaannya mendukung pencapaian tujuan organisasi sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih terarah.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Untuk menjadi ahli, pemimpin harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman, pelatihan, belajar dari orang yang lebih ahli, serta memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pekerjaan. Mengajarkan pekerjaan kepada orang lain juga dapat membantu memperdalam keahlian.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mencoba berbagai tugas atau posisi, mempelajari pekerjaan bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek bersama unit lain, serta mengambil kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan baru.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Hubungan efektif dengan atasan dapat dibangun melalui kejujuran, komunikasi yang baik, sikap dapat diandalkan, memahami tujuan atasan, dan memberikan dukungan terhadap keberhasilan tim serta organisasi. Hubungan yang baik harus didasarkan pada kepercayaan dan kerja sama.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
pemimpin perlu memahami tujuan pribadi dan organisasi atasannya, nilai, preferensi, kepribadian, kekuatan, kelemahan, serta keterbatasan yang dimiliki atasan. Dengan memahami hal tersebut, pemimpin dapat memberikan dukungan yang lebih tepat dan menyesuaikan cara bekerja dengan kebutuhan atasan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Beradaptasi dengan gaya atasan dilakukan dengan menyesuaikan cara berkomunikasi, berinteraksi, mengambil keputusan, dan menyampaikan informasi sesuai dengan preferensi atasan. Pemimpin harus fleksibel dan memahami bahwa setiap atasan dapat memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Hubungan efektif dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi terbuka, kerja sama, saling membantu, memahami pekerjaan dan permasalahan rekan kerja, serta memberikan dukungan dan penghargaan yang tulus. Hubungan yang baik dapat membentuk kerja sama dan aliansi yang membantu mencapai tujuan bersama.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Kepentingan dan tujuan bersama dapat dikenali dengan mengetahui tujuan, nilai, kebutuhan, dan harapan rekan sejawat melalui komunikasi yang terbuka. Setelah menemukan kesamaan tersebut, pemimpin dapat menggunakannya sebagai dasar untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Pemimpin perlu memahami tugas dan tanggung jawab rekan sejawat, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan atau penghargaan yang mereka peroleh dari pekerjaannya. Dengan memahami hal tersebut, pemimpin dapat memberikan bantuan yang tepat, membangun hubungan kerja yang baik, dan menciptakan kerja sama yang lebih efektif.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Perencanaan pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan pengembangan, menetapkan kriteria keberhasilan, menentukan langkah-langkah tindakan, mencari sumber daya yang dibutuhkan, serta menentukan pihak yang dapat memberikan umpan balik. Rencana tersebut perlu dibuat secara terarah dan dapat dievaluasi secara berkala.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Refleksi dilakukan dengan mengevaluasi pengalaman, hasil tindakan, dan umpan balik yang diperoleh. Dari hasil refleksi tersebut, pemimpin dapat mengetahui bagian yang berhasil maupun yang masih perlu diperbaiki. Rencana pengembangan kemudian dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kemampuan pemimpin.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Hasil belajar diterapkan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh pada situasi atau lingkungan yang berbeda. Pemimpin dapat mempraktikkan kembali keterampilan tersebut, menyesuaikannya dengan kondisi baru, serta membantu atau membimbing orang lain agar pembelajaran dapat terus berkembang.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by F'li Syalima -
Nama: F'li Syalima
Npm: 2561011001

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Memahami kondisi organisasi, mengenal tim, bertemu atasan dan rekan kerja, serta mengumpulkan informasi sebelum mengambil keputusan.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Bersikap ramah, terbuka, profesional, dan mau mendengarkan orang lain.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Mengenal tim, rekan kerja, atasan, dan memahami kondisi serta kebutuhan organisasi.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Menyusun strategi, menentukan struktur kerja, dan menempatkan karyawan sesuai kemampuan dan kebutuhan.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Mengomunikasikan keputusan, menerima masukan, dan mulai membangun budaya kerja yang mendukung perubahan.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Mengevaluasi pengalaman yang sudah dilalui, lalu mengambil pelajaran dari keberhasilan maupun kesalahan.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Meminta masukan dari orang lain dan menjadi pemimpin yang terbuka serta mudah diajak berdiskusi.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Mencoba tugas atau tantangan baru untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Ini disebut “peregangan 10 persen.”

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Mengamati cara orang lain menghadapi masalah dan mengambil hal-hal positif dari pengalaman mereka.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Mencatat pengalaman, kejadian, dan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan untuk bahan evaluasi diri.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Menentukan tujuan, melihat kekurangan diri, meminta umpan balik, lalu menentukan kemampuan yang perlu dikembangkan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Dengan terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Memahami bagaimana tugas yang dilakukan dapat membantu mencapai tujuan dan misi organisasi.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Terus belajar, berlatih, dan memperbanyak pengalaman agar semakin menguasai pekerjaan.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Mencoba tugas baru dan mengambil kesempatan untuk terlibat dalam berbagai pekerjaan.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Menjalin komunikasi yang baik, memahami harapan atasan, dan bekerja sama dengan baik.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Memahami tanggung jawab, masalah, dan tujuan yang sedang dihadapi oleh atasan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Menyesuaikan cara komunikasi dan cara kerja dengan gaya atasan agar kerja sama lebih mudah.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Menjaga komunikasi, saling menghargai, bekerja sama, dan menghindari konflik yang tidak perlu.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Mencari kesamaan kepentingan dan tujuan agar kerja sama bisa berjalan dengan baik.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Memahami pekerjaan, masalah, dan apa yang menjadi tujuan atau kepentingan rekan kerja.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Melakukan analisis GAPS, menentukan kemampuan yang perlu diperbaiki, lalu membuat rencana untuk mengembangkannya.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Melakukan evaluasi terhadap hasil belajar, kemudian memperbaiki rencana jika masih ada kekurangan.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang sudah dipelajari sesuai dengan kondisi lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Reuben Abdel -
NAMA:REUBEN ABDEL AZZEM ZACHARY
NPM: 2511011100

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama
Pelajari visi dan misi, pahami tugas pokok, kenali lingkungan kerja, siapkan sikap terbuka serta rencana awal yang fleksibel.

2. Memberikan Kesan Pertama
Datang tepat waktu, sopan, tenang, mendengarkan lebih dulu, bicara jelas dan jujur, tunjukkan antusiasme dan rasa hormat.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Kenali tim dan tugas masing-masing, pelajari aturan kerja, pahami masalah yang ada, bangun kepercayaan lewat komunikasi terbuka.

4. Dua Bulan Pertama: Strategi, Struktur, Staf
Susun arah tujuan jelas, atur pembagian tugas dan wewenang yang pas, tempatkan orang sesuai kemampuan, rapikan cara kerja.

5. Bulan Ketiga: Dorong Perubahan
Sampaikan rencana perubahan dengan jelas, jelaskan manfaatnya, ajak tim ikut berperan, mulai terapkan langkah demi langkah.

6. Belajar dari 100 Hari Pertama
Catat apa yang berhasil dan apa yang gagal, tinjau keputusan yang diambil, pahami sebab-akibat, simpan pelajaran untuk langkah selanjutnya.

7. Mendapatkan Umpan Balik
Tanya langsung secara terbuka, buat pertemuan santai maupun resmi, jadikan masukan hal biasa dan tidak menakutkan.

8. Tantangan Tambahan
Ambil tugas yang sedikit lebih sulit, selesaikan masalah yang tertunda, coba cara kerja baru yang lebih baik.

9. Belajar dari Orang Lain
Lihat cara pemimpin sukses bekerja, tanya pengalaman mereka, perhatikan apa yang baik dan kurang baik untuk dijadikan contoh.

10. Membuat Jurnal Pemimpin
Tulis secara berkala: apa yang terjadi, apa yang kamu lakukan, hasilnya bagaimana, apa yang bisa diperbaiki.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Tetapkan tujuan yang ingin dikuasai, tentukan cara mencapainya, buat jadwal, dan ukur kemajuan secara berkala.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Pelajari hal teknis inti pekerjaan yang dipimpin, pahami alur kerja, dan ikuti perkembangan yang dibutuhkan.

13. Membangun Kompetensi Hubungan
Kenali setiap anggota tim secara pribadi, bangun hubungan saling percaya, jaga komunikasi yang baik antar sesama.

14. Menjalin Hubungan dengan Atasan
Pahami harapan atasan, beri laporan kemajuan secara teratur, sampaikan masalah beserta usulannya, cari dukungan saat dibutuhkan.

15. Mengelola Hubungan dengan Rekan Kerja
Bekerja sama secara terbuka, hargai pendapat orang lain, selesaikan perselisihan dengan tenang dan adil.

16. Mengelola Hubungan dengan Pihak Luar
Kenali siapa saja mitra, pemasok, dan pelanggan utama, bangun kerjasama yang saling menguntungkan, jaga nama baik organisasi.

17. Mengembangkan Visi Bersama
Jelaskan tujuan besar organisasi, hubungkan tugas setiap orang dengan tujuan tersebut, ajak semua bergerak ke arah yang sama.

18. Menetapkan Tujuan yang Jelas
Buat sasaran yang spesifik, bisa diukur, dapat dicapai, relevan, dan ada batas waktunya, sampaikan dengan mudah dipahami semua orang.

19. Memberi Contoh yang Baik
Lakukan apa yang kamu katakan, tunjukkan sikap kerja keras, jujur, dan bertanggung jawab, jadilah teladan yang diikuti tim.

20. Memberi Dorongan dan Penghargaan
Perhatikan usaha anggota, ucapkan terima kasih secara tulus, berikan apresiasi saat hasil bagus, ciptakan suasana semangat.

21. Mengembangkan Anggota Tim
Kenali bakat setiap orang, berikan pelatihan dan tugas baru yang menantang, bantu mereka tumbuh dan maju bersama.

22. Mengambil Keputusan yang Tepat
Kumpulkan informasi cukup, pertimbangkan pandangan lain, putuskan dengan tegas, dan siap bertanggung jawab atas hasilnya.

23. Mengelola Perubahan
Jelaskan alasan perubahan, kurangi rasa takut anggota, libatkan mereka dalam proses, dan sesuaikan langkah jika diperlukan.

24. Menjaga Keseimbangan dan Keberlanjutan
Jaga keseimbangan antara hasil kerja dan kesejahteraan tim, bangun kebiasaan yang bertahan lama, pastikan kemajuan terus berjalan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Reuben Abdel -
NAMA: REUBEN ABDEL AZZEM ZACHARY
NPM: 2511011100

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama
Pelajari visi dan misi, pahami tugas pokok, kenali lingkungan kerja, siapkan sikap terbuka serta rencana awal yang fleksibel.

2. Memberikan Kesan Pertama
Datang tepat waktu, sopan, tenang, mendengarkan lebih dulu, bicara jelas dan jujur, tunjukkan antusiasme dan rasa hormat.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Kenali tim dan tugas masing-masing, pelajari aturan kerja, pahami masalah yang ada, bangun kepercayaan lewat komunikasi terbuka.

4. Dua Bulan Pertama: Strategi, Struktur, Staf
Susun arah tujuan jelas, atur pembagian tugas dan wewenang yang pas, tempatkan orang sesuai kemampuan, rapikan cara kerja.

5. Bulan Ketiga: Dorong Perubahan
Sampaikan rencana perubahan dengan jelas, jelaskan manfaatnya, ajak tim ikut berperan, mulai terapkan langkah demi langkah.

6. Belajar dari 100 Hari Pertama
Catat apa yang berhasil dan apa yang gagal, tinjau keputusan yang diambil, pahami sebab-akibat, simpan pelajaran untuk langkah selanjutnya.

7. Mendapatkan Umpan Balik
Tanya langsung secara terbuka, buat pertemuan santai maupun resmi, jadikan masukan hal biasa dan tidak menakutkan.

8. Tantangan Tambahan
Ambil tugas yang sedikit lebih sulit, selesaikan masalah yang tertunda, coba cara kerja baru yang lebih baik.

9. Belajar dari Orang Lain
Lihat cara pemimpin sukses bekerja, tanya pengalaman mereka, perhatikan apa yang baik dan kurang baik untuk dijadikan contoh.

10. Membuat Jurnal Pemimpin
Tulis secara berkala: apa yang terjadi, apa yang kamu lakukan, hasilnya bagaimana, apa yang bisa diperbaiki.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Tetapkan tujuan yang ingin dikuasai, tentukan cara mencapainya, buat jadwal, dan ukur kemajuan secara berkala.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Pelajari hal teknis inti pekerjaan yang dipimpin, pahami alur kerja, dan ikuti perkembangan yang dibutuhkan.

13. Membangun Kompetensi Hubungan
Kenali setiap anggota tim secara pribadi, bangun hubungan saling percaya, jaga komunikasi yang baik antar sesama.

14. Menjalin Hubungan dengan Atasan
Pahami harapan atasan, beri laporan kemajuan secara teratur, sampaikan masalah beserta usulannya, cari dukungan saat dibutuhkan.

15. Mengelola Hubungan dengan Rekan Kerja
Bekerja sama secara terbuka, hargai pendapat orang lain, selesaikan perselisihan dengan tenang dan adil.

16. Mengelola Hubungan dengan Pihak Luar
Kenali siapa saja mitra, pemasok, dan pelanggan utama, bangun kerjasama yang saling menguntungkan, jaga nama baik organisasi.

17. Mengembangkan Visi Bersama
Jelaskan tujuan besar organisasi, hubungkan tugas setiap orang dengan tujuan tersebut, ajak semua bergerak ke arah yang sama.

18. Menetapkan Tujuan yang Jelas
Buat sasaran yang spesifik, bisa diukur, dapat dicapai, relevan, dan ada batas waktunya, sampaikan dengan mudah dipahami semua orang.

19. Memberi Contoh yang Baik
Lakukan apa yang kamu katakan, tunjukkan sikap kerja keras, jujur, dan bertanggung jawab, jadilah teladan yang diikuti tim.

20. Memberi Dorongan dan Penghargaan
Perhatikan usaha anggota, ucapkan terima kasih secara tulus, berikan apresiasi saat hasil bagus, ciptakan suasana semangat.

21. Mengembangkan Anggota Tim
Kenali bakat setiap orang, berikan pelatihan dan tugas baru yang menantang, bantu mereka tumbuh dan maju bersama.

22. Mengambil Keputusan yang Tepat
Kumpulkan informasi cukup, pertimbangkan pandangan lain, putuskan dengan tegas, dan siap bertanggung jawab atas hasilnya.

23. Mengelola Perubahan
Jelaskan alasan perubahan, kurangi rasa takut anggota, libatkan mereka dalam proses, dan sesuaikan langkah jika diperlukan.

24. Menjaga Keseimbangan dan Keberlanjutan
Jaga keseimbangan antara hasil kerja dan kesejahteraan tim, bangun kebiasaan yang bertahan lama, pastikan kemajuan terus berjalan.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Annisa Tri Octavia -
Nama:Annisa Tri Octavia
NPM: 2511011123

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Persiapan awal dilakukan sebelum resmi memulai jabatan dengan mengumpulkan data pra-perekrutan (seperti membaca situs web perusahaan, laporan tahunan, siaran pers, dan melakukan wawancara informasional) serta menyiapkan langkah pasca-perekrutan seperti meminta metrik kinerja, informasi anggaran, dan menjadwalkan pertemuan hari pertama. 

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama diberikan pada hari pertama melalui dua tugas utama: bertemu atasan baru untuk membahas tujuan, ekspektasi, dan gaya komunikasi, serta bertemu seluruh tim untuk berbagi latar belakang, nilai, harapan, dan kebiasaan kerja. 

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Fokus pada fase ini adalah belajar, membangun hubungan, dan mengidentifikasi sekutu melalui pertemuan satu lawan satu dengan anggota tim kunci serta rekan sejawat. 

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Dilakukan dengan mengumpulkan informasi tambahan dari pelanggan, pemasok, dan pihak luar, menyusun visi serta strategi tim, dan menentukan struktur organisasi serta penempatan staf yang paling tepat. 

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Mengomunikasikan arah perubahan melalui pertemuan tim secara menyeluruh, mengadakan acara di luar kantor untuk tim besar guna menyusun kartu penilaian (scorecard), menetapkan ritme operasional, dan membentuk tim tugas (task force). 

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Dilakukan melalui penciptaan peluang umpan balik, tantangan atau peregangan 10%, belajar dari orang lain, menulis jurnal refleksi, serta menyusun rencana pengembangan. 

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin harus secara aktif meminta umpan balik terutama dari bawahan, serta menampilkan diri sebagai sosok yang mudah didekati, terbuka, dan tulus menerima masukan. 

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan (10% Stretch)?
Melalui upaya sukarela dan tekun untuk memperluas perilaku sedikit di luar zona nyaman guna mengurangi kecemasan serta memperluas repertoar keterampilan kepemimpinan. 

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Menyadari bahwa pembelajaran bisa didapat dari siapa saja dan situasi sehari-hari dengan cara mengamati perilaku orang lain, aktif bertanya, serta merenungkan tindakan yang mereka lakukan. 

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin?
Mencatat refleksi harian atas peristiwa, kutipan, atau interaksi pribadi untuk melihat sudut pandang yang lebih objektif sekaligus menjadikannya gudang ide. 

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan?
Menyusun rencana yang sistematis dengan menguraikan tujuan pengembangan, kriteria keberhasilan, langkah tindakan konkret, serta sumber daya yang dibutuhkan. 

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Membangun repertoar pengetahuan dan perilaku yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan tugas dengan sukses, meningkatkan peluang promosi, serta mengurangi ambiguitas peran. 

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Memahami keterkaitan antara tugas harian yang dikerjakan dengan visi, misi, dan tujuan besar dari organisasi tempat bekerja. 

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Melalui pelatihan formal, observasi langsung, aktif bertanya kepada yang lebih berpengalaman, serta mengajar orang lain untuk memperkuat pemahaman. 

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Secara sukarela mengambil tugas-tugas baru, bergabung dalam proyek lintas fungsi, atau terlibat dalam kegiatan di luar rutinitas harian untuk memperkaya wawasan. 

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Dengan memahami dunia atasan (tujuan, nilai, preferensi), melengkapi kelemahan atasan, menjaga integritas, serta menghindari kejutan buruk. 

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Mengenali tekanan, kendala, tujuan, nilai, dan prioritas yang sedang dihadapi oleh atasan dalam kesehariannya. 

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Menyesuaikan diri dengan preferensi komunikasi, cara pengambilan keputusan, dan pola kerja yang biasa digunakan oleh atasan. 

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Mengenali minat bersama, memahami sistem kerja dan masalah rekan sejawat, serta menerapkan asumsi positif (Teori Y) dalam bekerja sama. 

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Melalui komunikasi informal atau kegiatan di luar pekerjaan untuk menemukan titik temu antara kepentingan pribadi/tim dengan tujuan rekan sejawat. 

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Mempelajari tantangan operasional, hambatan, serta sistem penghargaan yang memotivasi rekan kerja agar dapat memberikan dukungan yang tepat. 

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Menggunakan analisis GAPS (Goals, Abilities, Perceptions, Standards) untuk merumuskan prioritas pengembangan diri secara terstruktur. 

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Mengevaluasi kembali efektivitas tindakan yang telah dilakukan dan memperbarui rencana pengembangan berdasarkan umpan balik serta pengalaman baru. 

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Mengaplikasikan keterampilan, wawasan, dan strategi kepemimpinan yang telah dipelajari secara langsung ke dalam situasi kerja nyata yang sedang dihadapi.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Zaskia Rizky Febriyanti -
Nama : Zaskia Rizky Febriyanti
NPM : 2511011130
1. Persiapan Awal (83 Hari Pertama): Riset budaya dan finansial organisasi, kelola ekspektasi, dan miliki niat belajar.
1. Kesan Pertama: Tampil profesional, ramah, dan komunikasikan komitmen untuk mendengarkan serta bekerja sama.
2. Dua Minggu Pertama (Fondasi): Lakukan wawancara 1-on-1 dengan bawahan, petakan pemangku kepentingan (stakeholders), dan pahami operasional harian.
3. Dua Bulan Pertama (Strategi & Staf): Evaluasi kapabilitas tim, tata ulang struktur jika perlu, dan capai quick wins (kemenangan cepat).
4. Bulan Ketiga (Perubahan): Sosialisasi visi/strategi baru, jelaskan alasannya, dan mulai eksekusi target jangka menengah.
5. Belajar dari 100 Hari Pertama: Evaluasi pencapaian vs rencana, uji kembali asumsi awal, dan sesuaikan gaya kepemimpinan.
6. Peluang Umpan Balik: Minta feedback secara aktif, ciptakan suasana aman untuk kritik, dan gunakan survei/penilaian 360 derajat.
7. Tantangan Tambahan: Ambil proyek rumit atau lintas divisi di luar zona nyaman sebagai sarana memperluas wawasan.
8. Belajar dari Orang Lain: Amati role model, pelajari kegagalan orang lain, serta aktif bertanya dan mendengarkan.
9. Membuat Jurnal: Catat keputusan/kejadian penting secara rutin, lakukan refleksi (alasan terjadi?), dan tinjau berkala.
10. Rencana Pengembangan (Development Plan): Tentukan area yang perlu ditingkatkan, buat target SMART, dan jalankan aksi nyata (pelatihan/tugas).
11. Membangun Kompetensi Teknis: Kuasai tren industri, regulasi, serta alur kerja dasar agar paham operasional tim.
12. Kontribusi pada Misi Utama: Petakan bagaimana output tim mendukung tujuan besar organisasi dan komunikasikan big picture ke anggota.
13. Menjadi Ahli Pekerjaan: Lakukan pembelajaran berkelanjutan dan deliberate practice (praktik terarah) secara konsisten.
14. Memperluas Pengalaman: Ambil penugasan khusus (stretch assignments) atau rotasi divisi.
15. Hubungan dengan Atasan: Komunikasi jujur/terbuka (no surprises), serta fokus menjadi pemecah masalah.
16. Memahami Dunia Atasan: Pahami tekanan, KPI, dan prioritas utama atasan agar target tim berorientasi ke sana.
17. Beradaptasi dengan Gaya Atasan: Sesuaikan format komunikasi (ringkas vs detail) dan gaya pengambilan keputusan atasan.
18. Hubungan dengan Rekan Sejawat: Perlakukan mereka sebagai mitra, bukan pesaing, dan bangun hubungan informal.
19. Kepentingan & Tujuan Bersama: Cari titik temu (common ground) demi mencapai solusi yang saling menguntungkan (win-win).
20. Memahami Tugas & Imbalan Sejawat: Pahami beban kerja dan ukuran keberhasilan (insentif) divisi lain agar kerja sama lebih mulus.
21. Perencanaan Pengembangan (Implementasi): Kombinasikan aksi, observasi, dan refleksi (action-observation-reflection) dengan dukungan sumber daya.
22. Refleksi & Modifikasi Rencana: Tinjau progres secara berkala dan ubah rencana jika kondisi/strategi organisasi berubah.
23. Menerapkan Hasil Belajar di Tempat Baru: Adaptasikan pengalaman masa lalu dengan kondisi, konteks, dan budaya di lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by CINDY OKTAVIA RAMADHANI -
Nama : Cindy Oktavia Ramadhani
NPM : 2511011143

1. Persiapan dilakukan dengan memahami kondisi organisasi, tugas, budaya kerja, tujuan, serta harapan atasan dan anggota tim. Pemimpin perlu menentukan prioritas, membangun hubungan kerja, dan membuat rencana tindakan.
2. Kesan pertama dibangun melalui sikap percaya diri, terbuka, profesional, dan mau mendengarkan. Pemimpin perlu menunjukkan visi yang jelas sekaligus menghargai anggota tim.
3. Dua minggu pertama digunakan untuk mengenali orang, memahami pekerjaan dan masalah utama, mengumpulkan informasi, serta membangun kepercayaan sebelum melakukan perubahan besar.
4. Pemimpin mulai menyusun strategi berdasarkan informasi yang diperoleh, memperjelas struktur kerja, menentukan prioritas, dan menempatkan orang sesuai kompetensi serta kebutuhan organisasi.
5. Pemimpin menyampaikan visi, strategi, dan perubahan secara jelas kepada tim. Perubahan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan anggota agar mendapat dukungan.
6. Pemimpin mengevaluasi keputusan dan tindakan selama 100 hari pertama, melihat keberhasilan dan kesalahan, lalu menggunakan hasilnya untuk memperbaiki cara memimpin.
7. Umpan balik dapat diperoleh melalui diskusi, pertemuan individu, survei, atau meminta pendapat secara langsung. Pemimpin harus terbuka terhadap kritik dan menggunakannya untuk perbaikan.
8. Tantangan tambahan dilakukan dengan mengambil tugas atau proyek baru yang dapat meningkatkan kemampuan, pengalaman, dan keterampilan kepemimpinan.
9. Pemimpin dapat belajar dari mentor, atasan, rekan kerja, atau pemimpin lain dengan mengamati cara mereka mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
10. Jurnal pemimpin berisi catatan pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, kesalahan, dan pembelajaran. Jurnal membantu melakukan refleksi dan melihat perkembangan diri.
11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan kompetensi yang perlu ditingkatkan, tujuan, langkah pembelajaran, dan waktu pencapaiannya.
12. Kompetensi teknis dibangun melalui pelatihan, membaca, praktik, belajar dari ahli, dan mengerjakan proyek yang berkaitan dengan pekerjaan.
13. Pemimpin perlu memahami hubungan antara pekerjaan sehari-hari dengan tujuan dan misi organisasi sehingga pekerjaan dapat diprioritaskan berdasarkan kontribusinya.
14. Menjadi ahli dilakukan dengan menguasai pengetahuan, keterampilan, proses kerja, dan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan melalui pengalaman dan pembelajaran berkelanjutan.
15. Pengalaman diperluas dengan mengikuti proyek baru, mengambil tanggung jawab tambahan, bekerja dengan tim berbeda, atau mempelajari bidang lain dalam organisasi.
16. Hubungan dengan atasan dibangun melalui komunikasi yang jelas, kepercayaan, tanggung jawab, memahami harapan, serta memberikan informasi dan solusi secara tepat.
17. Memahami dunia atasan berarti memahami tekanan, tanggung jawab, target, prioritas, dan masalah yang dihadapi sehingga pekerjaan dapat mendukung kebutuhan organisasi.
18. Pemimpin perlu memahami gaya komunikasi dan pengambilan keputusan atasannya, lalu menyesuaikan cara berkomunikasi agar kerja sama menjadi lebih efektif.
19.Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi terbuka, saling menghargai, kepercayaan, dan kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi.
20. Kepentingan dan tujuan bersama dapat ditemukan dengan mencari kesamaan kebutuhan, target, dan manfaat sehingga tercipta dasar kerja sama yang kuat.
21. Pemimpin perlu memahami tanggung jawab, masalah, tekanan, dan penghargaan yang diterima rekan sejawat agar dapat bekerja sama dan berkomunikasi dengan lebih efektif.
22. Perencanaan pengembangan dimulai dengan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki dan yang perlu ditingkatkan, kemudian menentukan tujuan, kegiatan, dan indikator keberhasilan.
23. Pemimpin melakukan refleksi terhadap hasil pembelajaran untuk mengetahui hal yang berhasil dan belum berhasil, kemudian menyesuaikan rencana pengembangan sesuai kebutuhan.
24. Hasil belajar diterapkan dalam situasi nyata dengan menyesuaikannya terhadap budaya, aturan, orang, dan kondisi lingkungan baru agar dapat memberikan hasil yang efektif.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Ramona Nicola Denada -
Ramona Nicola Denada
2551011050
1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin!
Sebagai pemimpin, pada awal masa kerja kita perlu memahami kondisi organisasi, tugas, anggota tim, dan tujuan yang ingin dicapai. Kita juga harus mengenali masalah yang ada dan menentukan prioritas agar bisa mengambil keputusan dengan tepat.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama bisa dibangun dengan menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, dan mau mendengarkan orang lain. Pemimpin juga perlu menunjukkan bahwa dirinya bisa dipercaya dan mampu bekerja sama dengan tim.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama sebaiknya digunakan untuk mengenal lingkungan kerja, anggota tim, aturan, serta memahami tugas dan tanggung jawab. Jangan terburu-buru membuat perubahan sebelum mengetahui kondisi sebenarnya.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf!
Setelah memahami kondisi organisasi, pemimpin mulai menyusun strategi yang sesuai dengan tujuan. Selain itu, struktur kerja dan pembagian tugas perlu dibuat dengan jelas agar setiap orang mengetahui tanggung jawabnya dan pekerjaan bisa berjalan lebih efektif.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan rencana dan perubahan kepada anggota tim. Perubahan harus dijelaskan dengan baik supaya anggota memahami alasan dan tujuan perubahan tersebut, bukan hanya merasa diperintah.

6. Bagaimana cara belajar dari pengalaman 100 hari pertama?
Pemimpin dapat mengevaluasi apa saja yang sudah berhasil dan apa yang masih kurang selama 100 hari pertama. Dari situ, kesalahan yang terjadi bisa dijadikan pelajaran untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Bagaimana menciptakan peluang untuk mendapatkan umpan balik?
Pemimpin bisa meminta pendapat dari anggota tim, atasan, maupun rekan kerja mengenai cara kerja dan kepemimpinannya. Dengan begitu, pemimpin dapat mengetahui kekurangan yang mungkin tidak disadari sendiri.

8. Bagaimana melakukan tantangan tambahan?
Pemimpin sebaiknya berani mengambil tanggung jawab atau tugas baru untuk menambah pengalaman. Tantangan tersebut bisa membantu meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.

9. Jelaskan cara belajar dari orang lain!
Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara mereka bekerja, berdiskusi, dan meminta saran dari orang yang lebih berpengalaman. Pengalaman orang lain bisa menjadi pembelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

10. Jelaskan cara membuat jurnal bagi pemimpin!
Jurnal dapat digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, masalah, dan hal-hal yang sudah dipelajari. Dengan mencatatnya secara rutin, pemimpin bisa lebih mudah melihat perkembangan dan mengevaluasi dirinya.

11. Jelaskan cara membuat rencana pengembangan!
Rencana pengembangan dibuat dengan mengetahui kemampuan apa yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu, tentukan tujuan, cara untuk mencapainya, dan waktu yang dibutuhkan agar perkembangan tersebut bisa lebih terarah.

12. Bagaimana membangun kompetensi teknis?
Kompetensi teknis dapat dibangun dengan terus mempelajari bidang pekerjaan, mengikuti pelatihan, membaca informasi yang berkaitan dengan pekerjaan, dan mempraktikkannya secara langsung.

13. Bagaimana menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Kita perlu memahami tujuan utama organisasi kemudian melihat hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan tersebut. Dengan begitu, kita tidak hanya mengerjakan tugas, tetapi juga memahami manfaat tugas tersebut bagi organisasi.

14. Bagaimana menjadi ahli dalam pekerjaan?
Untuk menjadi ahli, seseorang harus terus belajar dan memahami pekerjaannya secara mendalam. Selain teori, pengalaman langsung dan evaluasi dari kesalahan juga penting untuk meningkatkan kemampuan.

15. Bagaimana mencari peluang untuk memperluas pengalaman?
Peluang bisa dicari dengan mencoba tugas baru, ikut dalam proyek atau kegiatan lain, serta bekerja sama dengan orang dari bidang yang berbeda. Semakin banyak pengalaman yang didapat, semakin luas juga kemampuan yang dimiliki.

16. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan atasan?
Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, menghargai keputusan, menyelesaikan tugas dengan bertanggung jawab, dan tidak takut menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat.

17. Bagaimana memahami dunia atasan?
Kita perlu memahami tanggung jawab, tekanan, dan masalah yang dihadapi atasan. Dengan memahami posisi tersebut, kita bisa lebih mengerti alasan di balik keputusan yang dibuat oleh atasan.

18. Bagaimana beradaptasi dengan gaya atasan?
Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Karena itu, kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja tanpa kehilangan sikap profesional.

19. Bagaimana membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat?
Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan mau bekerja sama. Hubungan yang baik akan membuat pekerjaan lebih mudah dilakukan bersama.

20. Bagaimana mengenali kepentingan dan tujuan bersama?
Caranya dengan memahami apa yang ingin dicapai oleh masing-masing pihak dan mencari kesamaan di antara tujuan tersebut. Jika ada tujuan yang sama, kerja sama akan lebih mudah dibangun.

21. Bagaimana memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat?
Kita perlu mengetahui tanggung jawab dan kendala yang dihadapi rekan kerja. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa lebih menghargai pekerjaan mereka dan mencari cara untuk saling membantu.

22. Bagaimana cara membuat perencanaan pengembangan?
Pertama, tentukan kemampuan yang ingin dikembangkan. Kemudian buat tujuan yang jelas, tentukan langkah-langkah yang harus dilakukan, dan lakukan evaluasi secara berkala untuk melihat perkembangannya.

23. Bagaimana cara merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana pengembangan?
Setelah melakukan suatu kegiatan, kita perlu melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang belum. Jika ada cara yang kurang efektif, rencana pengembangan dapat diubah agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada.

24. Bagaimana menerapkan hasil belajar di lingkungan baru?
Hasil belajar dapat diterapkan dengan menyesuaikan pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh dengan kondisi lingkungan baru. Tidak semua cara lama bisa langsung digunakan, sehingga kita perlu melihat situasi terlebih dahulu dan menyesuaikannya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dimas Dadah Sumantri_2511011078 -
Nama: Dimas Dadah Sumantri
NPM: 2511011078

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama: sebagai pemimpin?
Persiapan awal 83 hari pertama sebagai pemimpin. Kenali organisasi, orang-orang, budaya, masalah utama, dan harapan terhadap diri Anda. Tentukan prioritas serta tujuan awal yang realistis.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin ?
Memberikan kesan pertama sebagai pemimpin. Tunjukkan sikap percaya diri, terbuka, profesional, mau mendengar, dan menghargai orang lain. Hindari langsung mengkritik atau mengubah banyak hal.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi ?
Dua minggu pertama: membangun fondasi. Bangun hubungan dengan tim, pahami pekerjaan dan masalah yang ada, kumpulkan informasi, serta tentukan prioritas jangka pendek.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf ?
Dua bulan pertama: strategi, struktur, dan penempatan staf. Susun strategi berdasarkan kondisi nyata, pastikan pembagian tugas jelas, dan tempatkan orang sesuai kompetensi serta kebutuhan organisasi.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan ?
Bulan Ketiga: mengomunikasikan dan mendorong perubahan. Sampaikan visi, tujuan, dan alasan perubahan secara jelas. Libatkan tim, berikan contoh, dan lakukan perubahan secara bertahap.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Belajar dari pengalaman 100 hari pertama. Evaluasi keberhasilan dan kegagalan, cari penyebabnya, lalu gunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara memimpin.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik ?
Menciptakan peluang mendapatkan umpan balik. Minta pendapat dari atasan, bawahan, dan rekan kerja secara rutin. Terima kritik dengan terbuka dan gunakan sebagai bahan perbaikan.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan ?
Melakukan tantangan tambahan. Ambil tugas atau proyek yang lebih sulit untuk menguji kemampuan dan memperluas pengalaman kepemimpinan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain ?
Belajar dari orang lain. Amati pemimpin yang efektif, berdiskusi dengan orang berpengalaman, membaca, mengikuti pelatihan, dan belajar dari praktik terbaik.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin !
Membuat jurnal bagi pemimpin. Catat keputusan, pengalaman, masalah, keberhasilan, kesalahan, dan pelajaran setiap hari atau setiap minggu.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan !
Membuat rencana pengembangan. Tentukan kemampuan yang perlu ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, cara belajar, batas waktu, dan indikator keberhasilannya.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis ?
Membangun kompetensi teknis. Pelajari pengetahuan, prosedur, teknologi, dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan secara profesional.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan ?
Menentukan kontribusi pekerjaan terhadap misi keseluruhan. Pahami bagaimana tugas Anda mendukung tujuan organisasi dan hubungkan setiap pekerjaan dengan visi serta misi organisasi.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan ?
Menjadi ahli dalam pekerjaan. Kuasai bidang pekerjaan, terus belajar, memahami masalah secara mendalam, dan selalu meningkatkan kualitas hasil kerja.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman ?
Mencari peluang memperluas pengalaman. Ikuti proyek lintas bidang, ambil tanggung jawab baru, bekerja dengan tim berbeda, dan pelajari fungsi organisasi lainnya.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan ?
Membangun hubungan efektif dengan atasan. Pahami harapan atasan, berkomunikasi secara jelas, berikan informasi yang dibutuhkan, dan bangun kepercayaan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan ?
Memahami dunia atasan. Pahami tekanan, tanggung jawab, target, kepentingan, dan masalah yang dihadapi atasan agar dapat bekerja lebih efektif dengannya.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan ?
Beradaptasi dengan gaya atasan. Sesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan gaya atasan tanpa kehilangan profesionalisme dan prinsip pribadi.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat ?
Membangun hubungan efektif dengan rekan sejawat. Bangun kepercayaan, saling menghormati, berkomunikasi terbuka, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama ?
Mengenali kepentingan dan tujuan bersama. Cari kesamaan kepentingan antara Anda dan rekan kerja sehingga kerja sama menjadi lebih mudah dan saling menguntungkan.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat ?
Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan sejawat. Pahami tanggung jawab, tekanan, tantangan, serta motivasi mereka agar dapat bekerja sama dan menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Membuat perencanaan pengembangan. Buat daftar kemampuan yang ingin dikembangkan, tentukan prioritas, langkah pembelajaran, target waktu, dan cara mengevaluasinya.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan ?
Merefleksikan pembelajaran dan memodifikasi rencana
Evaluasi perkembangan secara berkala. Jika strategi tidak efektif, ubah tujuan, metode, atau prioritas sesuai kebutuhan.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru ?
Menerapkan hasil belajar di lingkungan baru. Sesuaikan pengetahuan dan pengalaman dengan kondisi baru, pahami budaya lingkungan tersebut, lalu terapkan pembelajaran secara fleksibel.



In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Salsabila Yusrina Suhendra -
Nama : Salsabila Yusrina Suhendra
NPM : 2511011131

1. - Mengumpulkan informasi awal mengenai organisasi, posisi, serta kondisi tim sebelum resmi menjabat.

- Melakukan persiapan transisi diri dan administrasi awal setelah resmi diterima.


2. - Bertemu Atasan: Mendiskusikan ekspektasi, tujuan utama, dan menyelaraskan pandangan dengan atasan langsung.

- Bertemu dengan Seluruh Tim: Memperkenalkan diri, menyapa anggota tim, serta menunjukkan sikap profesional dan terbuka.


3. - Bertemu dengan anggota tim secara individu.

- Bertemu dengan rekan kerja selevel (peers).

- Bertemu dan berinteraksi dengan karyawan lain.

- Mengikuti serta memimpin rapat-rapat awal.


4. - Mendapatkan sudut pandang dari pihak eksternal.
- Memeriksa dan menetapkan strategi, struktur organisasi, serta penempatan karyawan.
- Melakukan sosialisasi, mengambil keputusan-keputusan penting, dan mendapatkan umpan balik.

5. - Membangun budaya kerja.
- Mengadakan acara tim di luar kantor (offsite) untuk membahas nilai-nilai, strategi, ritme operasional, area yang perlu ditingkatkan, serta analisis subtim

6. - Mengidentifikasi tujuan yang konkret.
- Mengumpulkan informasi melalui evaluasi kinerja (sesi umpan balik) dan memperhatikan interaksi rekan sejawat sebagai sumber ide.
- Meninjau peran diri dalam situasi tertentu secara objektif serta melihat keterampilan baru yang diperlukan.
- Memanfaatkan tes psikologis formal, kuesioner, serta program membaca pribadi untuk memperluas perspektif kepemimpinan.

7. Memosisikan diri agar dipandang sebagai sosok yang mudah didekati dan tulus dalam memberikan penawaran. Memastikan umpan balik bukan sekadar menyatakan kebijakan formal.

8. Upaya sukarela namun tekun dari seorang pemimpin untuk mengambil tantangan baru guna meningkatkan keterampilan kepemimpinannya di atas kapasitas biasa.

9. Pemimpin dapat berkembang dengan cara secara aktif mengamati bagaimana orang lain bereaksi, mengambil tindakan, dan menangani berbagai tantangan serta situasi sehari-hari.

10. Menulis jurnal dilakukan dengan membuat catatan/entri berkala yang secara khusus membahas refleksi diri, keputusan, serta aspek-aspek tertentu mengenai kepemimpinan yang dihadapi sehari-hari.

11. - Mengidentifikasi tujuan konkret.
- Mengumpulkan informasi dari evaluasi kinerja/umpan balik.
- Memperhatikan interaksi rekan sejawat sebagai ide.
- Meninjau peran diri secara objektif dalam situasi tertentu.
- Mengidentifikasi keterampilan baru yang dibutuhkan.
- Menggunakan tes psikologis formal, kuesioner, dan program membaca pribadi.

12. - Memahami bahwa kompetensi teknis adalah pengetahuan dan repertoar perilaku untuk menyelesaikan tugas secara sukses.
- Memahami bahwa kompetensi teknis yang tinggi meningkatkan pengaruh dalam kelompok, mempermudah keterlibatan pengambilan keputusan, dan berkorelasi dengan promosi manajerial.


13. Memahami kaitan antara detail tugas harian dengan tujuan besar serta misi utama yang ingin dicapai oleh organisasi.


14. Menjadi ahli dilakukan dengan mendalami tugas teknis, menguasai alur kerja, serta meningkatkan pengetahuan dan repertoar perilaku secara konsisten demi efektivitas kinerja.

15. Dapat dicapai dengan mengambil tanggung jawab di luar bidang rutin, berpartisipasi dalam proyek lintas fungsi, serta aktif mengikuti tantangan pengembangan (peregangan 10 persen).

16. Membangun hubungan yang baik dengan atasan dilakukan melalui dua langkah utama:
1. Memahami dunia atasan.
2. Menyesuaikan/beradaptasi dengan gaya atasan.


17. Pemimpin harus memahami tekanan, prioritas, beban kerja, tantangan, serta tujuan yang sedang dihadapi oleh atasannya dalam organisasi.

18. Menyesuaikan metode komunikasi, cara pelaporan, dan pendekatan kerja agar selaras dengan preferensi serta gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan.

19. Dapat dibangun melalui 4 pilar:
- Mengenali minat dan tujuan bersama.
- Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja.
- Menerapkan sikap Teori Y (percaya pada potensi orang lain).
- Mengelola konflik dengan rekan kerja secara konstruktif.


20. Pemimpin harus mengidentifikasi area di mana sasaran timnya beririsan dengan sasaran tim rekan kerja, sehingga dapat berkolaborasi menuju hasil yang saling menguntungkan.

21. Memahami beban kerja, kendala operasional, serta sistem insentif/imbalan yang memotivasi rekan kerja agar tercipta empati dan kerja sama tim yang lebih solid.

22. Proses perencanaan pengembangan diri mencakup tiga komponen utama:
1.) Analisis GAPS: Mengidentifikasi jarak antara kondisi saat ini dan target yang ingin dicapai.
2.) Menyusun Rencana Pengembangan: Merumuskan langkah aksi konkret.
3.) Evaluasi dan Refleksi: Meninjau kemajuan secara berkala.


23. Proses evaluasi dan refleksi dilakukan berkala untuk melihat efektivitas rencana yang telah berjalan, lalu memodifikasi strategi pengembangan sesuai dengan kebutuhan atau perubahan kondisi baru.

24. Mengaplikasikan wawasan, kompetensi teknis baru, serta keterampilan hubungan interpersonal yang telah dipelajari ke dalam praktik kerja nyata dan situasi organisasi baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Stefanus Rio Prayoga 2511011140 -
Nama : Stefanus Rio Prayoga
NPM : 2511011140

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai pemimpin!
Pemimpin baru perlu mempelajari organisasi, kondisi tim, budaya kerja, serta tujuan dan masalah yang sedang dihadapi. Selain itu, perlu memahami alasan dirinya ditempatkan pada posisi tersebut dan mulai menyiapkan rencana untuk minggu-minggu pertama agar proses perpindahan ke posisi baru berjalan lancar.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama dapat dibangun dengan menunjukkan sikap terbuka, percaya diri, dan mau mendengarkan. Pemimpin perlu memperkenalkan diri, menjelaskan nilai dan harapannya, serta mendengarkan kebutuhan dan masalah anggota tim. Hubungan dengan atasan dan rekan kerja juga perlu mulai dibangun sejak awal.

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk banyak belajar dan membangun hubungan. Pemimpin perlu bertemu dengan anggota tim, rekan sejawat, dan orang-orang penting lainnya untuk memahami pekerjaan, tujuan, masalah, kekuatan, dan kelemahan tim. Dari sini pemimpin mulai mengetahui hal-hal yang perlu dipertahankan maupun diperbaiki.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf!
Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun arah tim berdasarkan informasi yang sudah dikumpulkan. Setelah strategi atau visi ditentukan, barulah struktur organisasi disusun dan penempatan staf ditentukan sesuai kebutuhan. Keputusan mengenai staf sebaiknya didasarkan pada kemampuan dan kinerja, bukan hubungan pribadi.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan visi, tujuan, perubahan struktur, dan harapan kepada tim. Pemimpin juga perlu menjelaskan alasan di balik perubahan agar anggota tim memahami dan mendukungnya. Setelah itu, perubahan mulai dijalankan melalui pembagian tugas, penetapan tanggung jawab, dan evaluasi secara berkala.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Pengalaman selama masa awal kepemimpinan perlu dievaluasi secara terus-menerus. Pemimpin dapat belajar dengan meminta umpan balik, mencoba hal-hal baru, mengamati orang lain, membuat jurnal, dan menyusun rencana pengembangan diri. Dengan begitu, pengalaman tidak hanya dilewati, tetapi benar-benar menjadi bahan untuk meningkatkan kemampuan.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin perlu secara aktif meminta pendapat dari orang lain, terutama dari anggota tim dan orang yang sering bekerja dengannya. Jangan hanya menunggu orang lain memberikan kritik atau saran. Umpan balik juga bisa diperoleh melalui diskusi, survei, evaluasi kinerja, atau meminta pendapat secara langsung.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mencoba melakukan perubahan kecil sekitar 10% dari kebiasaan atau perilaku yang biasa dilakukan. Misalnya, lebih aktif berbicara dalam rapat, berani menjadi ketua suatu kegiatan, atau lebih sering berinteraksi dengan orang lain. Tujuannya untuk keluar sedikit dari zona nyaman dan mengembangkan kemampuan.

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain!
Pemimpin dapat belajar dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi masalah dan menjalankan perannya. Tidak hanya dari pemimpin, tetapi juga dari siapa saja yang memiliki pengalaman atau kemampuan tertentu. Selain mengamati, pemimpin juga perlu aktif bertanya dan memperhatikan kejadian sehari-hari yang dapat memberikan pelajaran.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal digunakan untuk mencatat dan merefleksikan pengalaman yang berkaitan dengan kepemimpinan. Isinya bisa berupa pengalaman dengan atasan, bawahan, rekan kerja, masalah yang terjadi, atau hal menarik yang dipelajari. Dengan menulis jurnal, pemimpin bisa melihat suatu kejadian dari sudut pandang yang lebih objektif dan melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai, kemampuan yang perlu dikembangkan, cara untuk mengembangkannya, serta sumber daya yang dibutuhkan. Rencana tersebut juga perlu memiliki target dan waktu evaluasi sehingga perkembangan dapat dipantau dan diperbaiki jika diperlukan.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman langsung, mengamati orang lain, bertanya, dan mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Semakin sering seseorang menggunakan pengetahuan dan keterampilannya dalam pekerjaan nyata, semakin kuat pula kompetensi teknisnya.

13. Bagaimana cara menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan?
Caranya dengan memahami hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan. Pemimpin perlu mengetahui hasil apa yang diharapkan dari pekerjaannya dan bagaimana hasil tersebut membantu tim maupun organisasi mencapai tujuannya.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Untuk menjadi ahli, seseorang perlu memahami pekerjaannya secara mendalam, baik dari segi prosedur, masalah, strategi, maupun sumber daya yang digunakan. Kemampuan tersebut dapat diperkuat melalui pengalaman dan dengan mengajarkan pekerjaan tersebut kepada orang lain.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Caranya dengan mencoba tugas yang berbeda, mengikuti proyek bersama, mempelajari pekerjaan dari bagian lain, atau terlibat dalam kegiatan yang memberikan pengalaman baru. Dengan memperluas pengalaman, seseorang tidak hanya memahami pekerjaannya sendiri tetapi juga memahami bagaimana bagian lain bekerja dan saling berhubungan.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Hubungan yang efektif dibangun dengan memahami tujuan atasan, memberikan informasi yang dibutuhkan, membantu menyelesaikan masalah, dan memberikan dukungan. Bawahan juga harus aktif berkomunikasi dan tidak hanya menunggu arahan. Keberhasilan bawahan dan atasan sebaiknya dipandang sebagai sesuatu yang saling berkaitan.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Kita perlu memahami tujuan, nilai, cara berpikir, preferensi, dan gaya kerja atasan. Selain itu, perlu memahami kelebihan, kelemahan, serta keterbatasan yang dimiliki atasan. Dengan memahami hal tersebut, kita bisa lebih mudah menentukan cara yang tepat untuk bekerja dan membantu atasan.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Kita perlu menyesuaikan cara bekerja dengan gaya atasan. Misalnya, jika atasan lebih suka komunikasi melalui tulisan, gunakan laporan atau memo. Jika atasan lebih menyukai komunikasi langsung, gunakan pertemuan. Penyesuaian juga dapat dilakukan dalam cara mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, dan berinteraksi.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, saling membantu, dan saling menghargai. Kita perlu memahami kondisi dan pekerjaan mereka serta menjaga hubungan yang baik, bukan hanya ketika sedang membutuhkan bantuan.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Kita perlu mengetahui tujuan, nilai, kebutuhan, dan kepentingan rekan kerja. Hal ini bisa dilakukan melalui komunikasi informal dan keterbukaan. Dengan mengetahui kesamaan tujuan dan kepentingan, kerja sama akan lebih mudah dibangun.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Kita perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawab rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta penghargaan atau imbalan yang mereka dapatkan. Dengan memahami hal tersebut, kita dapat mengetahui alasan di balik tindakan mereka dan lebih mudah menentukan cara bekerja sama yang tepat.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Pertama, tentukan tujuan yang ingin dicapai. Kemudian lihat kemampuan yang sudah dimiliki, bagaimana orang lain melihat kemampuan kita, dan standar yang diharapkan organisasi. Setelah itu tentukan kebutuhan pengembangan yang paling penting, buat rencana tindakan, dan lakukan evaluasi secara berkala.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Rencana pengembangan perlu diperiksa secara berkala untuk melihat apakah tujuan yang ditetapkan masih sesuai. Jika ada pengalaman baru, umpan balik, atau perubahan kebutuhan, rencana dapat diubah dan diperbarui. Evaluasi juga sebaiknya dilakukan bersama atasan atau orang yang dipercaya.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Hasil belajar perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan baru. Keterampilan yang berhasil digunakan di satu situasi belum tentu bisa langsung diterapkan dengan cara yang sama di situasi lain. Karena itu, pemimpin perlu menyesuaikan cara menerapkan keterampilan berdasarkan karakteristik tim, pekerjaan, dan lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Arina Manda Haqqi -
Nama: Arina manda haqqi
Npm: 2511011054

1. Persiapan awal 83 hari pertama bertujuan agar pemimpin dapat memahami lingkungan kerja sebelum mengambil banyak keputusan. Pemimpin perlu mempelajari visi, misi, tujuan, budaya organisasi, kondisi tim, serta masalah yang sedang dihadapi. Selain itu, pemimpin perlu mengenali pihak-pihak yang berkepentingan dan menentukan prioritas utama. Dengan persiapan yang baik, pemimpin dapat membangun kredibilitas dan menghindari kesalahan akibat kurang memahami situasi.
2. Kesan pertama dapat dibangun melalui sikap profesional, percaya diri, terbuka, dan mampu menunjukkan bahwa pemimpin menghargai anggota tim. Pemimpin sebaiknya memperkenalkan visi dan harapan secara jelas, tetapi tidak langsung bersikap seolah-olah mengetahui semua hal. Mendengarkan anggota tim dan menunjukkan kemauan untuk belajar juga penting untuk membangun kepercayaan sejak awal.
3. Dalam dua minggu pertama, pemimpin perlu membangun fondasi dengan memahami pekerjaan, mengenal anggota tim, mengamati budaya organisasi, serta mengidentifikasi masalah dan peluang. Pemimpin juga perlu membangun hubungan dengan atasan, rekan sejawat, dan bawahan. Pada tahap ini, sebaiknya pemimpin lebih banyak mengamati dan mendengarkan sebelum melakukan perubahan besar.
4. Dua bulan pertama digunakan untuk mulai menyusun strategi berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan. Pemimpin menentukan tujuan dan prioritas, kemudian menyesuaikan struktur organisasi agar mendukung strategi tersebut. Pemimpin juga perlu memastikan bahwa orang yang ditempatkan pada setiap posisi memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang sesuai. Dengan demikian, strategi, struktur, dan sumber daya manusia dapat bekerja secara selaras.
5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan strategi dan perubahan kepada seluruh anggota organisasi. Komunikasi harus menjelaskan alasan perubahan, tujuan yang ingin dicapai, serta peran masing-masing anggota. Pemimpin juga perlu memberikan dukungan, memotivasi tim, dan mengatasi hambatan yang muncul. Perubahan akan lebih mudah diterima apabila anggota merasa dilibatkan dan memahami manfaatnya.
6. Pemimpin dapat belajar dengan mengevaluasi keputusan dan tindakan yang telah dilakukan selama 100 hari pertama. Pemimpin perlu melihat apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, serta faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan tersebut. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki cara memimpin dan menentukan langkah selanjutnya.
7. Pemimpin dapat menciptakan peluang umpan balik dengan meminta pendapat dari atasan, rekan sejawat, dan anggota tim secara rutin. Umpan balik dapat diperoleh melalui diskusi, rapat evaluasi, percakapan pribadi, atau survei. Pemimpin harus menerima kritik secara terbuka dan menggunakan masukan tersebut sebagai bahan untuk meningkatkan kinerja.
8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tanggung jawab atau proyek baru yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan. Pemimpin sebaiknya memilih tantangan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan dirinya. Tantangan tersebut dapat membantu pemimpin memperoleh pengalaman baru, menguji kemampuan memecahkan masalah, serta meningkatkan kepercayaan diri.
9. Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara pemimpin atau rekan yang lebih berpengalaman dalam menghadapi masalah, mengambil keputusan, dan berkomunikasi. Pemimpin juga dapat meminta saran, berdiskusi, atau mencari mentor. Hal yang baik dari orang lain dapat dijadikan contoh, sementara kesalahan orang lain dapat dijadikan pembelajaran agar tidak diulangi.
10. Jurnal kepemimpinan berisi catatan mengenai pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, kegagalan, dan pembelajaran yang diperoleh pemimpin. Jurnal dapat dibuat secara rutin, misalnya setiap hari atau setiap minggu. Dengan mencatat pengalaman, pemimpin dapat melihat perkembangan dirinya, menemukan pola masalah, dan mengevaluasi efektivitas gaya kepemimpinannya.
11. Rencana pengembangan dibuat dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri. Setelah itu, pemimpin menentukan kompetensi yang ingin ditingkatkan dan menetapkan tujuan yang jelas. Selanjutnya, tentukan kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut, seperti pelatihan, membaca, mentoring, atau mengambil proyek baru. Perkembangan harus dievaluasi secara berkala.
12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan. Caranya dapat melalui pendidikan, pelatihan, membaca referensi, belajar dari ahli, dan praktik langsung. Kompetensi teknis juga perlu diperbarui secara terus-menerus agar pemimpin mampu mengikuti perkembangan dalam bidang pekerjaannya.
13. Pemimpin perlu memahami visi dan misi organisasi terlebih dahulu, kemudian melihat hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan organisasi. Setiap pekerjaan harus memiliki kontribusi terhadap pencapaian tujuan tersebut. Dengan memahami hubungan ini, pemimpin dapat menentukan prioritas pekerjaan dan menjelaskan kepada tim mengapa pekerjaan mereka penting.
14. Untuk menjadi ahli, seseorang harus terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam bidang pekerjaannya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui belajar secara berkelanjutan, mencari pengalaman baru, mempelajari kesalahan, serta meminta masukan dari orang yang lebih berpengalaman. Keahlian terbentuk melalui kombinasi antara pengetahuan dan praktik yang konsisten.
15. Pemimpin dapat memperluas pengalaman dengan mengambil proyek lintas divisi, mengerjakan tugas yang berbeda, mengikuti pelatihan, atau terlibat dalam kegiatan organisasi. Pengalaman dari berbagai bidang membuat pemimpin memiliki pemahaman yang lebih luas dan mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang.
16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang terbuka, profesional, dan dapat dipercaya. Pemimpin perlu memahami harapan atasan, memberikan informasi mengenai perkembangan pekerjaan, serta menyampaikan masalah bersama dengan solusi yang memungkinkan. Kepercayaan akan terbentuk apabila pemimpin konsisten dalam memenuhi tanggung jawabnya.
17. Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, tekanan, tujuan, dan masalah yang dihadapi atasan. Pemimpin perlu melihat situasi bukan hanya dari sudut pandangnya sendiri, tetapi juga dari sudut pandang atasan. Dengan memahami hal tersebut, komunikasi dan kerja sama akan menjadi lebih efektif.
18. Setiap atasan memiliki gaya komunikasi dan kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin perlu mengamati bagaimana atasan menerima informasi, membuat keputusan, dan memberikan arahan. Setelah memahaminya, cara berkomunikasi dapat disesuaikan tanpa kehilangan profesionalisme. Adaptasi ini membantu menciptakan hubungan kerja yang lebih efektif.
19. Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, saling menghargai, kerja sama, dan kepercayaan. Pemimpin perlu menghindari persaingan yang tidak sehat serta terbuka terhadap pendapat rekan. Hubungan yang baik akan mempermudah koordinasi dan membantu organisasi mencapai tujuan bersama.
20. Pahami kebutuhan masing-masing pihak dan cari kesamaan kepentingan. Fokuskan kerja sama pada tujuan yang dapat memberikan manfaat bagi organisasi.
21. Pahami tanggung jawab, tantangan, dan hasil yang diharapkan dari rekan kerja. Hal ini membuat kita lebih menghargai pekerjaan mereka dan mempermudah kerja sama.
22. Tentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah dan target waktunya. Perencanaan perlu dievaluasi secara berkala.
23. Evaluasi hasil dari proses pengembangan. Jika belum sesuai harapan, ubah metode atau tujuan agar rencana lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan diri.
24. Terapkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh dengan menyesuaikannya terhadap budaya, kondisi, dan kebutuhan lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Sofia Dwi Putri -
Nama: Sofia Dwi Putri
NPM: 2511011108

1. Persiapan awal dilakukan dengan pengumpulan data pra-perekrutan dan kegiatan pasca perekrutan.

2. Kesan pertama dibangun melalui pertemuan dengan atasan untuk menyelaraskan ekspektasi dan pertemuan dengan seluruh tim.

3. Dua minggu pertama disusun dengan menemui anggota tim, rekan kerja, dan karyawan lain.

4. Dua bulan pertama diisi dengan mencari sudut pandang eksternal, menentukan strategi, struktur, penempatan staf, serta meminta umpan balik.

5. Bulan ketiga dilakukan dengan membangun budaya tim dan mengadakan acara offsite untuk membahas strategi serta analisis tim.

6. Belajar dari pengalaman dilakukan melalui umpan balik, 10 percent stretch, belajar dari orang lain, menulis jurnal, dan rencana pengembangan.

7. Peluang umpan balik diciptakan dengan bersikap mudah didekati dan tulus.

8. Tantangan tambahan dilakukan lewat 10 percent stretch dengan mengambil tugas sukarela di atas kemampuan saat ini.

9. Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati cara orang lain menangani tantangan dan mengambil pelajaran dari kegagalan atau keberhasilan mereka.

10. Jurnal pemimpin dibuat dengan mencatat dan merefleksikan kejadian kepemimpinan harian secara rutin.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan menetapkan tujuan konkret, mengumpulkan umpan balik, dan meninjau kebutuhan keterampilan baru.

12. Kompetensi teknis dibangun melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, dan proyek tim.

13. Kontribusi pada misi ditentukan dengan memahami kaitan antara peran harian dan tujuan besar organisasi.

14. Menjadi ahli dilakukan dengan mengasah keterampilan, mencari umpan balik, bertanya, dan mengajari orang lain.

15. Memperluas pengalaman dilakukan dengan mengambil tugas baru yang bervariasi dan terlibat dalam kegiatan sukarela.

16. Hubungan dengan atasan dibangun dengan bekerja sama sebagai tim serta berbagi tanggung jawab dan kredit hasil.

17. Memahami dunia atasan dilakukan dengan mempelajari beban kerja, masalah, dan kriteria keberhasilan atasan.

18. Beradaptasi dengan atasan dilakukan dengan mengamati dan mengikuti gaya komunikasi serta pengambilan keputusan atasan.

19. Hubungan dengan rekan dibangun lewat umpan balik positif, sikap Teori Y, dan pengelolaan konflik secara baik.

20. Kepentingan bersama dikenali dengan menyelaraskan sasaran kerja pribadi dan tujuan kelompok.

21. Perencanaan pengembangan dibuat melalui analisis GAPS, penyusunan rencana aksi, dan evaluasi rutin.

22. Perencanaan pengembangan dibuat melalui analisis GAPS, penyusunan rencana aksi, dan evaluasi rutin.

23. Merefleksikan pembelajaran dilakukan dengan meninjau tindakan harian dan memperbarui rencana pengembangan berdasarkan umpan balik.

24. Menerapkan hasil belajar dilakukan dengan menerapkan keterampilan dan kerangka kerja yang baru dipelajari ke dalam situasi kerja baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by I Komang Chandra Arkino Wibawa 2511011135 -
Nama:I Komang Chandra Arkino Wibawa
2511011135

1. Pemimpin perlu memahami kondisi organisasi, mengenali anggota, mengetahui masalah yang ada, serta menentukan prioritas agar dapat mengambil keputusan dengan tepat.


2. Kesan pertama dapat dibangun dengan bersikap percaya diri, terbuka, ramah, dan bertanggung jawab. Pemimpin juga harus mau mendengarkan orang lain.


3. Fokus pada mengenal anggota, memahami tugas dan kondisi organisasi, membangun komunikasi, serta menciptakan hubungan kerja yang baik.


4. Pemimpin mulai menentukan tujuan, membagi tugas sesuai kemampuan anggota, dan menyusun strategi untuk mencapai target. Penempatan orang harus disesuaikan dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.


5. Pemimpin menyampaikan tujuan perubahan dengan jelas dan melibatkan anggota dalam prosesnya. Perubahan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar dapat diterima dengan baik.


6. Pemimpin perlu mengevaluasi pengalaman selama 100 hari pertama, melihat apa yang berhasil maupun tidak, lalu menggunakan hasilnya untuk memperbaiki cara memimpin.


7. Umpan balik dapat diperoleh dengan meminta pendapat dari anggota, rekan kerja, maupun atasan. Masukan tersebut digunakan untuk mengetahui kekurangan dan memperbaiki diri.


8. Pemimpin perlu berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru sebagai kesempatan untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kemampuan.


9. Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara mereka bekerja, berdiskusi, dan mengambil hal-hal positif dari pengalaman mereka.


10. Jurnal dapat digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan hal-hal yang dipelajari sehingga perkembangan diri dapat dilihat dengan lebih jelas.


11. Tentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah yang harus dilakukan. Rencana tersebut harus realistis dan dapat dievaluasi.


12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan belajar secara rutin, mengikuti pelatihan, membaca referensi, dan mempraktikkan pengetahuan secara langsung.


13. Pahami hubungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan organisasi. Dengan begitu, setiap tugas dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan bersama.


14. Menjadi ahli dalam pekerjaan dilakukan dengan memahami tugas secara mendalam, terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan memperbanyak pengalaman.


15. Perluas pengalaman dengan mengikuti proyek, kegiatan, atau tanggung jawab lain yang dapat menambah wawasan dan kemampuan.


16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, kepercayaan, tanggung jawab, dan sikap profesional.


17. Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, target, tekanan, serta masalah yang dihadapi sehingga kerja sama dapat berjalan lebih baik.


18. Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, sehingga cara berkomunikasi dan bekerja perlu disesuaikan dengan gaya tersebut tanpa mengabaikan tanggung jawab.


19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi terbuka, saling menghargai, membantu, dan menjaga kepercayaan.


20. Cari kesamaan tujuan dan kepentingan agar setiap pihak dapat bekerja sama untuk mencapai hasil yang diinginkan bersama.


21. Pahami tanggung jawab, masalah, dan kondisi yang dihadapi rekan kerja agar dapat saling menghargai dan membantu dalam menyelesaikan pekerjaan.


22. Tentukan kemampuan yang perlu dikembangkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah yang harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan diri.


23. Lakukan evaluasi terhadap proses yang sudah dijalankan. Jika hasilnya belum sesuai, rencana pengembangan dapat diperbaiki agar lebih efektif.


24. Terapkan pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh dalam lingkungan baru dengan menyesuaikannya terhadap kondisi dan kebutuhan yang ada.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Daffa Fernanda -
1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin

Persiapan awal bertujuan agar pemimpin memahami kondisi organisasi sebelum mengambil banyak keputusan. Hal yang perlu dilakukan adalah mempelajari visi dan misi organisasi, memahami budaya kerja, mengenali anggota tim, mempelajari masalah yang sedang dihadapi, serta menentukan prioritas. Pemimpin juga perlu membuat rencana 30–60–90 hari agar proses adaptasi lebih terarah.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin

Kesan pertama dapat dibangun melalui sikap profesional, percaya diri, terbuka, dan mampu mendengarkan. Pemimpin sebaiknya memperkenalkan visi dan harapan secara jelas, menghargai anggota tim, serta tidak langsung mengubah banyak hal sebelum memahami situasi. Kesan pertama yang baik dapat membangun kepercayaan sejak awal.

3. Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi

Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu fokus membangun hubungan dan memahami organisasi. Caranya dengan bertemu anggota tim, atasan, dan rekan kerja; mempelajari tugas serta prosedur; mengidentifikasi masalah; dan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak. Tahap ini menjadi dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf

Dalam dua bulan pertama, pemimpin mulai menentukan arah kerja yang lebih jelas. Pemimpin perlu mengevaluasi strategi yang berjalan, menyesuaikan struktur organisasi jika diperlukan, serta menempatkan orang sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya. Tujuannya agar strategi, struktur, dan sumber daya manusia dapat bekerja secara selaras.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan

Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mengomunikasikan perubahan secara lebih luas. Perubahan harus dijelaskan mengenai alasan, tujuan, manfaat, dan cara pelaksanaannya. Pemimpin juga perlu melibatkan anggota tim, mengatasi penolakan, memberikan contoh, dan melakukan evaluasi agar perubahan dapat diterima.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama

Pemimpin perlu melakukan evaluasi terhadap keputusan dan tindakan selama 100 hari pertama. Tanyakan: apa yang berhasil, apa yang gagal, apa penyebabnya, dan apa yang perlu diperbaiki. Dari evaluasi tersebut, pemimpin dapat memperbaiki strategi dan menentukan langkah berikutnya.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik

Umpan balik dapat diperoleh dengan melakukan diskusi rutin, rapat evaluasi, wawancara dengan anggota tim, survei, atau meminta pendapat secara langsung. Pemimpin harus menciptakan suasana yang aman agar orang berani menyampaikan pendapat. Umpan balik sebaiknya digunakan untuk memperbaiki kinerja, bukan untuk menyalahkan.

8. Melakukan Tantangan Tambahan

Pemimpin perlu mencari tugas atau proyek yang dapat meningkatkan kemampuan dan pengalaman. Tantangan tambahan harus tetap realistis dan sesuai kapasitas. Dengan menghadapi tantangan baru, pemimpin dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan mengelola tim.

9. Belajar dari Orang Lain

Pemimpin dapat belajar dari atasan, rekan sejawat, bawahan, mentor, maupun pemimpin yang berpengalaman. Caranya dengan mengamati cara mereka bekerja, bertanya, berdiskusi, dan mempelajari pengalaman mereka. Pemimpin tidak harus melakukan semuanya sendiri untuk mendapatkan pengetahuan.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin

Jurnal kepemimpinan berisi catatan mengenai pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, kegagalan, dan pembelajaran. Contohnya setiap akhir minggu pemimpin mencatat apa yang terjadi, bagaimana respons saya, apa hasilnya, dan apa yang akan saya lakukan berbeda berikutnya. Jurnal membantu meningkatkan kemampuan refleksi diri.

11. Membuat Rencana Pengembangan

Rencana pengembangan berisi kemampuan yang ingin ditingkatkan beserta langkah untuk mencapainya. Misalnya meningkatkan kemampuan komunikasi dalam tiga bulan dengan mengikuti pelatihan, membaca buku, melakukan presentasi, dan meminta feedback. Rencana harus memiliki tujuan, waktu, tindakan, dan indikator keberhasilan.

12. Membangun Kompetensi Teknis

Kompetensi teknis dibangun dengan memahami pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pekerjaan. Caranya melalui pendidikan, pelatihan, membaca referensi, mengikuti perkembangan teknologi, dan praktik langsung. Pemimpin tidak harus menguasai semua hal, tetapi harus cukup memahami bidangnya untuk mengambil keputusan yang tepat.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan

Pemimpin harus memahami hubungan antara pekerjaan individu, tujuan tim, dan misi organisasi. Caranya dengan bertanya: “Apa tujuan pekerjaan ini?”, “Siapa yang mendapatkan manfaat?”, dan “Bagaimana hasil pekerjaan ini mendukung tujuan organisasi?” Dengan demikian, setiap pekerjaan memiliki arah dan tujuan yang jelas.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan

Untuk menjadi ahli, pemimpin harus terus belajar dan memperdalam bidang pekerjaannya. Selain memahami teori, pemimpin harus memiliki pengalaman praktis, mempelajari kesalahan, mengikuti perkembangan bidangnya, dan belajar dari orang yang lebih berpengalaman. Keahlian terbentuk melalui proses belajar dan praktik yang berkelanjutan.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman

Pengalaman dapat diperluas dengan mengikuti proyek lintas departemen, mengambil tanggung jawab baru, mengikuti pelatihan, bekerja dengan tim berbeda, atau terlibat dalam kegiatan organisasi. Pengalaman yang beragam membantu pemimpin memahami berbagai perspektif dan meningkatkan kemampuan beradaptasi.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan

Hubungan dengan atasan dibangun melalui komunikasi yang terbuka, profesional, dan saling percaya. Pemimpin harus memahami harapan atasan, memberikan laporan yang jelas, menyampaikan masalah beserta solusi, dan memenuhi komitmen. Jangan hanya datang kepada atasan ketika mengalami masalah.

17. Memahami Dunia Atasan

Memahami dunia atasan berarti memahami tanggung jawab, tekanan, target, dan masalah yang harus dihadapi atasan. Dengan memahami perspektif tersebut, kita dapat menyesuaikan cara berkomunikasi dan memberikan informasi yang lebih relevan.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan

Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Ada yang lebih menyukai laporan singkat, ada yang membutuhkan penjelasan rinci. Pemimpin perlu mengamati gaya tersebut dan menyesuaikan cara komunikasi tanpa kehilangan profesionalisme atau prinsip kerja.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat

Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, kerja sama, kepercayaan, dan saling menghargai. Hindari persaingan yang tidak sehat dan fokus pada pencapaian tujuan organisasi. Hubungan yang baik akan memudahkan koordinasi ketika menghadapi masalah bersama.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama

Pemimpin perlu menemukan tujuan yang dapat menyatukan berbagai pihak. Misalnya setiap departemen memiliki kepentingan berbeda, tetapi semuanya memiliki tujuan bersama yaitu meningkatkan kinerja organisasi. Fokus pada kepentingan bersama dapat mengurangi konflik dan meningkatkan kerja sama.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat

Pemimpin perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawab rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta hasil atau penghargaan yang mereka harapkan. Dengan memahami hal tersebut, pemimpin dapat bekerja sama dengan lebih efektif dan menghindari permintaan yang tidak realistis.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan

Perencanaan pengembangan dilakukan dengan mengidentifikasi kemampuan saat ini, menentukan kekurangan, menetapkan tujuan pengembangan, kemudian membuat tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Contohnya:

Kemampuan saat ini → Kekurangan → Tujuan → Tindakan → Batas waktu → Evaluasi.

23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana Pengembangan

Rencana pengembangan tidak boleh bersifat tetap. Setelah mendapatkan pengalaman baru, pemimpin perlu mengevaluasi apakah tujuan dan metode yang digunakan masih sesuai. Jika belum efektif, rencana dapat diubah agar lebih realistis dan sesuai kebutuhan.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru

Hasil belajar harus diterapkan dalam situasi nyata. Ketika memasuki lingkungan baru, pemimpin tidak boleh langsung menerapkan semua cara lama. Pemimpin perlu memahami budaya dan kondisi lingkungan baru, memilih pengetahuan yang relevan, menyesuaikannya dengan situasi, kemudian mengevaluasi hasilnya.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Naura Fitri Andini -
Nama: Naura Fitri Andini
NPM: 2551011045

1. Persiapan awal dilakukan dengan memahami kondisi organisasi, tugas, anggota tim, serta tujuan yang ingin dicapai. Pemimpin juga perlu mengenali kemampuan dan kekurangan dirinya agar lebih siap menghadapi tantangan.

2. Kesan pertama dapat diberikan dengan bersikap ramah, percaya diri, terbuka, dan bertanggung jawab. Pemimpin juga perlu mau mendengarkan anggota agar mereka merasa dihargai dan lebih mudah percaya.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk membangun hubungan dengan anggota, memahami pekerjaan, mengetahui masalah yang ada, dan membangun komunikasi yang baik. Pemimpin sebaiknya tidak langsung melakukan perubahan sebelum memahami situasinya.

4. Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi sesuai tujuan organisasi. Setelah itu, tugas dibagi berdasarkan kemampuan masing-masing anggota dan menempatkan orang yang sesuai dengan tanggung jawabnya.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mulai menyampaikan strategi dan perubahan kepada anggota dengan jelas. Alasan dan manfaat perubahan perlu dijelaskan agar anggota memahami dan mau ikut mendukung perubahan tersebut.

6. Belajar dari pengalaman dapat dilakukan dengan melihat tindakan yang sudah dilakukan, mengamati hasilnya, kemudian melakukan refleksi. Hal ini sesuai dengan model AOR, yaitu tindakan, pengamatan, dan refleksi.

7. Umpan balik dapat diperoleh dengan meminta pendapat dari anggota, atasan, atau rekan kerja. Pemimpin harus terbuka terhadap kritik dan menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki kekurangannya.

8. Tantangan tambahan dapat dilakukan dengan mengambil tugas atau tanggung jawab yang lebih sulit dari biasanya. Dengan menghadapi tantangan, seseorang bisa mendapatkan pengalaman baru dan mengembangkan kemampuan kepemimpinannya.

9 Belajar dari orang lain dapat dilakukan dengan mengamati cara mereka bekerja dan memimpin, berdiskusi, meminta saran, serta belajar dari mentor atau rekan yang lebih berpengalaman.

10. Jurnal pemimpin dapat berisi pengalaman yang terjadi, tindakan yang dilakukan, hasil yang diperoleh, masalah yang muncul, dan pelajaran yang didapat. Jurnal membantu pemimpin melihat perkembangan dirinya dan mengetahui hal yang perlu diperbaiki.

11. Rencana pengembangan dibuat dengan menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, cara mencapainya, serta waktu pelaksanaannya. Rencana tersebut harus realistis dan dapat dilakukan secara bertahap.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun dengan mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan pekerjaan, mengikuti pelatihan, membaca referensi, dan mempraktikkannya secara langsung.

13. Caranya dengan memahami tujuan besar organisasi terlebih dahulu, kemudian melihat bagaimana pekerjaan yang dilakukan dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Dengan begitu, seseorang dapat memahami pentingnya pekerjaannya bagi organisasi.

14. Menjadi ahli membutuhkan proses belajar yang terus-menerus. Caranya dengan memahami pekerjaan secara mendalam, sering berlatih, belajar dari kesalahan, mencari informasi baru, dan menerima masukan dari orang lain.

15. Peluang untuk memperluas pengalaman dapat dicari dengan mengambil tugas baru, ikut proyek, mengikuti kegiatan organisasi, atau mencoba tanggung jawab yang belum pernah dilakukan. Pengalaman yang beragam dapat membantu mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

16. Hubungan dengan atasan dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, menunjukkan tanggung jawab, menghargai keputusan, dan menyelesaikan tugas dengan baik. Kita juga bisa meminta arahan atau umpan balik jika diperlukan.

17. Memahami dunia atasan berarti mencoba melihat pekerjaan dari sudut pandang mereka. Kita perlu memahami tanggung jawab, target, tekanan, dan masalah yang dihadapi sehingga lebih memahami keputusan yang dibuat.

18. Beradaptasi dengan gaya atasan dapat dilakukan dengan memahami cara komunikasi dan cara kerja mereka, lalu menyesuaikan cara kita bekerja tanpa menghilangkan prinsip pribadi.

19. Hubungan dengan rekan sejawat dapat dibangun melalui komunikasi terbuka, saling menghargai, bekerja sama, dan saling membantu. Hal ini penting karena pekerjaan dalam organisasi membutuhkan kerja sama.

20. Kepentingan dan tujuan bersama dapat diketahui melalui komunikasi dan diskusi. Setelah itu, cari bagian yang memiliki tujuan yang sama agar kerja sama dapat berjalan lebih mudah.

21. Kita perlu memahami tanggung jawab, masalah, dan hal yang menjadi motivasi rekan kerja. Dengan memahami kondisi mereka, kita bisa bekerja sama dengan lebih baik dan tidak mudah salah memahami.

22. Perencanaan pengembangan dapat dibuat dengan mengetahui kemampuan yang masih kurang, menentukan target, memilih cara belajar, dan menentukan waktu untuk mengevaluasinya.

23. Setelah melakukan suatu kegiatan, kita perlu melihat kembali apa yang berhasil dan apa yang belum. Jika cara yang digunakan kurang efektif, rencana pengembangan dapat diubah sesuai pengalaman dan umpan balik yang diperoleh.

24. Hasil belajar dapat diterapkan dengan menggunakan pengalaman dan keterampilan yang sudah diperoleh pada situasi yang berbeda. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan baru.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Susi Susanti Nst -
Nama: Susi Susanti Nst
NPM: 2511011007

1. Jelaskan Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin?
Persiapan awal dilakukan dengan memahami kondisi organisasi sebelum dan saat mulai memimpin. Pemimpin perlu mengumpulkan informasi, memahami nilai dan strategi organisasi, serta mengenali orang-orang yang akan bekerja dengannya.

2. Bagaimana memberikan Kesan Pertama sebagai pemimpin?
Kesan pertama dapat diberikan dengan menunjukkan sikap profesional, terbuka, ramah, dan percaya diri. Pemimpin sebaiknya bertemu dengan atasan, anggota tim, rekan kerja, dan karyawan untuk membangun hubungan yang baik sejak awal

3. Bagaimana menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi?
Dua minggu pertama digunakan untuk membangun fondasi kepemimpinan dengan mengenal tim, memahami pekerjaan, mengumpulkan informasi, serta mendapatkan sudut pandang dari orang lain. Pemimpin tidak sebaiknya terburu-buru membuat perubahan sebelum memahami kondisi organisasi.

4. Jelaskan bagaimana Dua Bulan Pertama: menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf?
Pada dua bulan pertama, pemimpin mulai menyusun strategi, struktur, dan penempatan karyawan sesuai kebutuhan organisasi. Pemimpin juga menganalisis kemampuan anggota tim agar setiap orang dapat ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai.

5. Bagaimana Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan?
Pada bulan ketiga, pemimpin mulai mensosialisasikan keputusan, mengomunikasikan perubahan, mendapatkan timbal balik, dan membangun budaya tim. Perubahan perlu disampaikan dengan jelas agar anggota tim memahami tujuan dan dapat mendukungnya.

6. Bagaimana cara Belajar dari Pengalaman 100 hari pertama?
Caranya dengan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, melihat keberhasilan dan kesalahan, meminta umpan balik, serta menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya. PPT menekankan belajar dari pengalaman sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan.

7. Bagaimana menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik?
Pemimpin dapat meminta pendapat secara langsung dari atasan, rekan kerja, dan anggota tim. Umpan balik harus diterima dengan terbuka dan pemimpin perlu menunjukkan bahwa dirinya mudah didekati serta tulus menerima masukan.

8. Bagaimana melakukan Tantangan Tambahan?
Tantangan tambahan dapat dilakukan melalui konsep “Peregangan 10 persen”, yaitu secara sukarela tetapi tekun berusaha meningkatkan keterampilan kepemimpinan melalui tugas atau pengalaman baru

9. Jelaskan cara Belajar dari Orang Lain?
Pemimpin dapat belajar dengan mengamati bagaimana orang lain menghadapi dan menyelesaikan berbagai tantangan. Dari pengamatan tersebut, pemimpin dapat mengambil cara yang baik dan menghindari kesalahan yang dilakukan orang lain.

10. Jelaskan cara Membuat Jurnal bagi pemimpin!
Jurnal pemimpin dibuat dengan mencatat pengalaman, kejadian penting, masalah, keputusan, serta pembelajaran yang berkaitan dengan kepemimpinan. Jurnal sebaiknya berisi entri mengenai aspek-aspek tertentu dari diri pemimpin atau kepemimpinan.

11. Jelaskan cara membuat Rencana Pengembangan!
Rencana pengembangan dibuat dengan:
- Menentukan tujuan yang konkret.
- Menilai kemampuan diri.
- Mengidentifikasi keterampilan yang masih kurang.
- Mengumpulkan informasi melalui evaluasi dan umpan balik.
- Menentukan cara untuk meningkatkan kemampuan tersebut.

12. Bagaimana Membangun Kompetensi Teknis?
Kompetensi teknis dibangun dengan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan. Kompetensi teknis penting karena dapat meningkatkan kinerja, pengaruh dalam klmpk , serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

13. Bagaimana cara menentukan bagaimana pekerjaan berkontribusi pada misi keseluruhan?
Caranya dengan memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan dan misi organisasi. Pemimpin perlu mengetahui bagaimana hasil pekerjaannya membantu organisasi mencapai tujuan secara keseluruhan.

14. Bagaimana menjadi Ahli dalam Pekerjaan?
Dengan terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan. Pemimpin harus memahami pekerjaannya secara mendalam sehingga mampu menyelesaikan tugas dengan baik dan memberikan kontribusi bagi organisasi.

15. Bagaimana Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman?
Caranya dengan bersedia menerima tugas baru, tanggung jawab tambahan, dan pengalaman di bidang yang berbeda. Hal tersebut membantu pemimpin memperluas kemampuan dan memahami berbagai situasi dalam organisasi.

16. Bagaimana membangun Hubungan Efektif dengan Atasan?
Dengan membangun komunikasi yang baik, memahami harapan atasan, menunjukkan tanggung jawab, serta menyesuaikan cara bekerja dengan kebutuhan atasan. Hubungan yang baik membantu terciptanya kerja sama yang efektif.

17. Bagaimana Memahami Dunia Atasan?
Memahami dunia atasan berarti memahami tugas, tanggung jawab, tekanan, tujuan, dan masalah yang dihadapi atasan. Dengan memahami sudut pandang tersebut, pemimpin dapat bekerja sama dan memberikan dukungan yang lebih tepat.

18. Bagaimana Beradaptasi dengan Gaya Atasan?
Pemimpin perlu mengamati bagaimana atasan berkomunikasi, membuat keputusan, memberikan tugas, dan menerima laporan. Setelah itu, cara berkomunikasi dan bekerja dapat disesuaikan agar hubungan kerja menjadi lebih efektif.

19. Bagaimana Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat?
Dengan menjaga komunikasi, saling menghargai, bekerja sama, memahami kepentingan masing-masing, serta mengelola konflik secara baik. Hubungan yang efektif akan membantu tercapainya tujuan bersama.

20. Bagaimana mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama?
Caranya dengan mencari persamaan kepentingan dan tujuan antara diri sendiri dengan rekan kerja. Setelah ditemukan, persamaan tersebut dapat dijadikan dasar untuk membangun kerja sama.

21. Bagaimana Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat?
Dengan memahami apa yang menjadi tanggung jawab rekan kerja, masalah yang mereka hadapi, serta hasil atau imbalan yang mereka harapkan. Hal ini membantu pemimpin bekerja sama tanpa mengabaikan kepentingan pihak lain.

22. Bagaimana cara membuat Perencanaan Pengembangan?
Perencanaan pengembangan dapat dilakukan melalui analisis GAP, yaitu membandingkan kemampuan yang dimiliki saat ini dengan kemampuan yang dibutuhkan. Setelah mengetahui kesenjangan tersebut, pemimpin menyusun rencana untuk menutup GAP tersebut.

23. Bagaimana cara Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan?
Caranya dengan melakukan evaluasi dan refleksi terhadap hasil pengembangan. Jika cara yang digunakan belum efektif, rencana perlu diperbaiki atau dimodifikasi sesuai kebutuhan dan hasil yang diperoleh.

24. Bagaimana Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru?
Hasil belajar diterapkan dengan membawa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang sudah diperoleh ke lingkungan baru. Namun, penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi, budaya, tugas, dan kebutuhan lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Dwi Marissa 2511011115 -
Nama : Dwi Marissa
NPM : 2511011115

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin
Memahami kondisi organisasi, mengenali anggota tim, mempelajari tugas dan tanggung jawab, serta menentukan tujuan yang ingin dicapai.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
Bersikap percaya diri, ramah, terbuka, dan menunjukkan bahwa kita siap mendengarkan serta bekerja sama dengan tim.

3. Menyusun Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Fokus pada mengenal lingkungan kerja, membangun hubungan dengan anggota, memahami masalah, dan menentukan prioritas awal.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Menentukan strategi kerja, membagi tugas sesuai kemampuan anggota, dan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang sesuai.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Menjelaskan tujuan dan perubahan kepada tim, memberikan alasan yang jelas, serta mengajak anggota untuk ikut menjalankan perubahan.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Mengevaluasi apa yang sudah berhasil dan gagal, kemudian menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara memimpin.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Aktif meminta pendapat dari anggota, rekan kerja, dan atasan mengenai kinerja dan cara kita memimpin.

8. Tantangan Tambahan
Berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru untuk meningkatkan kemampuan dan mendapatkan pengalaman.

9. Belajar dari Orang Lain
Mengamati cara orang lain bekerja, berdiskusi dengan orang yang lebih berpengalaman, dan mengambil hal positif dari mereka.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Mencatat kegiatan, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran setiap hari agar dapat menjadi bahan evaluasi.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, menetapkan target, serta menentukan langkah dan waktu untuk mencapainya.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Meningkatkan kemampuan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan melalui belajar, pelatihan, praktik, dan pengalaman.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan besar organisasi sehingga pekerjaan tidak hanya sekadar menyelesaikan tugas.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Memahami pekerjaan secara mendalam, terus belajar, sering berlatih, dan mengikuti perkembangan yang berkaitan dengan bidang tersebut.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Mencoba tugas baru, ikut dalam proyek lain, bekerja dengan orang berbeda, dan mengambil kesempatan yang dapat menambah pengalaman.

16.;Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Menjaga komunikasi yang baik, memahami harapan atasan, memberikan laporan secara jelas, dan menunjukkan sikap profesional.

17. Memahami Dunia Atasan
Memahami tanggung jawab, tekanan, target, dan masalah yang dihadapi atasan agar kita dapat bekerja sesuai kebutuhan organisasi.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan karakter atasan, tanpa kehilangan sikap profesional.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Menjaga komunikasi, saling menghargai, membantu ketika diperlukan, dan membangun kepercayaan.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Mencari hal yang menjadi kepentingan bersama sehingga kerja sama lebih mudah dilakukan dan konflik dapat dikurangi.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Memahami tanggung jawab, kesulitan, serta tujuan rekan kerja agar kita dapat bekerja sama dengan lebih baik.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Menentukan tujuan pengembangan diri, kemampuan yang perlu ditingkatkan, cara mencapainya, dan target waktunya.

23. Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan
Mengevaluasi perkembangan diri dan mengubah rencana jika ada target atau metode yang ternyata kurang sesuai.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh untuk menghadapi situasi baru serta menyesuaikannya dengan kondisi lingkungan tersebut.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by lidya indah prayoga -
Lidya Indah Prayoga
2511011120

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin
Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan memahami organisasi, tujuan, masalah, budaya kerja, serta orang-orang yang akan dipimpin. Tujuannya agar pemimpin tidak langsung mengambil keputusan tanpa memahami kondisi terlebih dahulu.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
Kesan pertama dapat dibangun dengan menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, bertanggung jawab, dan mau mendengarkan. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya siap bekerja sama dengan anggota tim.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mengetahui masalah yang ada, serta menetapkan prioritas awal. Hubungan dan komunikasi yang baik perlu dibangun sejak awal.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Pemimpin mulai menentukan strategi untuk mencapai tujuan, membagi tugas dengan jelas, dan menempatkan orang sesuai kemampuan mereka. Struktur kerja harus dibuat agar setiap anggota mengetahui tanggung jawabnya.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Pemimpin mulai menyampaikan arah dan perubahan yang ingin dilakukan kepada tim. Perubahan harus dikomunikasikan dengan jelas serta disertai alasan dan tujuan agar anggota dapat memahami dan mendukungnya.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Pemimpin perlu mengevaluasi apa yang sudah berhasil dan apa yang masih kurang. Kesalahan dan pengalaman selama 100 hari pertama dijadikan bahan untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Pemimpin dapat meminta pendapat dari atasan, rekan kerja, dan anggota tim secara terbuka. Umpan balik digunakan untuk mengetahui kekurangan dan meningkatkan kinerja.

8. Menghadapi Tantangan Tambahan
Pemimpin perlu berani mengambil tanggung jawab dan tantangan baru. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan, pengalaman, dan rasa percaya diri dalam memimpin.

9. Belajar dari Orang Lain
Pemimpin dapat belajar dari orang yang lebih berpengalaman melalui diskusi, mengamati cara mereka bekerja, dan meminta saran. Pengalaman orang lain dapat menjadi pembelajaran untuk menghindari kesalahan yang sama.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Jurnal digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran selama menjalankan kepemimpinan. Dengan jurnal, pemimpin dapat melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan berisi kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah-langkah untuk mencapainya. Rencana harus dibuat secara realistis dan dapat dievaluasi.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Pemimpin perlu memahami pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Caranya bisa melalui pelatihan, membaca, belajar dari ahli, atau langsung mempraktikkan pekerjaan.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Pemimpin perlu memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan besar organisasi. Dengan begitu, setiap pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tidak hanya sekadar menyelesaikan tugas.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Untuk menjadi ahli, seseorang harus terus belajar, memahami pekerjaannya secara mendalam, dan banyak berlatih. Pengalaman serta evaluasi dari kesalahan juga membantu meningkatkan keahlian.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Pemimpin dapat mengambil proyek baru, bekerja dengan tim berbeda, mengikuti pelatihan, atau mencoba tanggung jawab baru. Semakin banyak pengalaman, semakin luas kemampuan yang dimiliki.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Hubungan dengan atasan dibangun melalui komunikasi yang baik, kepercayaan, tanggung jawab, dan hasil kerja yang konsisten. Pemimpin juga perlu memahami harapan atasannya.

17. Memahami Dunia Atasan
Memahami atasan berarti mengetahui tekanan, tanggung jawab, tujuan, dan masalah yang dihadapi atasan. Dengan begitu, kita dapat lebih memahami alasan di balik keputusan yang dibuat.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja tanpa kehilangan profesionalitas agar kerja sama menjadi lebih efektif.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, saling menghargai, kerja sama, dan kepercayaan. Hindari persaingan yang tidak sehat dan fokus pada tujuan bersama.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Cari tahu apa yang menjadi kepentingan masing-masing pihak dan temukan tujuan yang sama. Tujuan bersama dapat menjadi dasar untuk membangun kerja sama yang lebih baik.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Kita perlu memahami tanggung jawab, kesulitan, dan hal yang dianggap penting oleh rekan kerja. Dengan memahami kondisi mereka, kita dapat bekerja sama dengan lebih efektif.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Perencanaan pengembangan dilakukan dengan menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, target, cara mencapainya, serta waktu pencapaiannya. Rencana tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan pekerjaan.

23. Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan
Setelah menjalankan rencana, kita perlu melihat hasilnya. Jika ada cara yang kurang efektif, rencana dapat diubah atau disesuaikan berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh harus diterapkan ketika menghadapi situasi baru. Caranya dengan menyesuaikan pembelajaran sebelumnya dengan kondisi lingkungan baru agar dapat memberikan hasil yang lebih baik.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by lidya indah prayoga -
Lidya Indah Prayoga
2511011120

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama sebagai Pemimpin
Pemimpin perlu mempersiapkan diri dengan memahami organisasi, tujuan, masalah, budaya kerja, serta orang-orang yang akan dipimpin. Tujuannya agar pemimpin tidak langsung mengambil keputusan tanpa memahami kondisi terlebih dahulu.

2. Memberikan Kesan Pertama sebagai Pemimpin
Kesan pertama dapat dibangun dengan menunjukkan sikap percaya diri, terbuka, bertanggung jawab, dan mau mendengarkan. Pemimpin juga harus menunjukkan bahwa dirinya siap bekerja sama dengan anggota tim.

3. Dua Minggu Pertama: Membangun Fondasi
Pada dua minggu pertama, pemimpin perlu mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mengetahui masalah yang ada, serta menetapkan prioritas awal. Hubungan dan komunikasi yang baik perlu dibangun sejak awal.

4. Dua Bulan Pertama: Menyusun Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf
Pemimpin mulai menentukan strategi untuk mencapai tujuan, membagi tugas dengan jelas, dan menempatkan orang sesuai kemampuan mereka. Struktur kerja harus dibuat agar setiap anggota mengetahui tanggung jawabnya.

5. Bulan Ketiga: Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan
Pemimpin mulai menyampaikan arah dan perubahan yang ingin dilakukan kepada tim. Perubahan harus dikomunikasikan dengan jelas serta disertai alasan dan tujuan agar anggota dapat memahami dan mendukungnya.

6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama
Pemimpin perlu mengevaluasi apa yang sudah berhasil dan apa yang masih kurang. Kesalahan dan pengalaman selama 100 hari pertama dijadikan bahan untuk memperbaiki cara memimpin ke depannya.

7. Menciptakan Peluang untuk Mendapatkan Umpan Balik
Pemimpin dapat meminta pendapat dari atasan, rekan kerja, dan anggota tim secara terbuka. Umpan balik digunakan untuk mengetahui kekurangan dan meningkatkan kinerja.

8. Menghadapi Tantangan Tambahan
Pemimpin perlu berani mengambil tanggung jawab dan tantangan baru. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan, pengalaman, dan rasa percaya diri dalam memimpin.

9. Belajar dari Orang Lain
Pemimpin dapat belajar dari orang yang lebih berpengalaman melalui diskusi, mengamati cara mereka bekerja, dan meminta saran. Pengalaman orang lain dapat menjadi pembelajaran untuk menghindari kesalahan yang sama.

10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin
Jurnal digunakan untuk mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, dan pembelajaran selama menjalankan kepemimpinan. Dengan jurnal, pemimpin dapat melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu.

11. Membuat Rencana Pengembangan
Rencana pengembangan berisi kemampuan yang ingin ditingkatkan, tujuan yang ingin dicapai, serta langkah-langkah untuk mencapainya. Rencana harus dibuat secara realistis dan dapat dievaluasi.

12. Membangun Kompetensi Teknis
Pemimpin perlu memahami pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Caranya bisa melalui pelatihan, membaca, belajar dari ahli, atau langsung mempraktikkan pekerjaan.

13. Menentukan Bagaimana Pekerjaan Berkontribusi pada Misi Keseluruhan
Pemimpin perlu memahami hubungan antara tugas yang dilakukan dengan tujuan besar organisasi. Dengan begitu, setiap pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tidak hanya sekadar menyelesaikan tugas.

14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan
Untuk menjadi ahli, seseorang harus terus belajar, memahami pekerjaannya secara mendalam, dan banyak berlatih. Pengalaman serta evaluasi dari kesalahan juga membantu meningkatkan keahlian.

15. Mencari Peluang untuk Memperluas Pengalaman
Pemimpin dapat mengambil proyek baru, bekerja dengan tim berbeda, mengikuti pelatihan, atau mencoba tanggung jawab baru. Semakin banyak pengalaman, semakin luas kemampuan yang dimiliki.

16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan
Hubungan dengan atasan dibangun melalui komunikasi yang baik, kepercayaan, tanggung jawab, dan hasil kerja yang konsisten. Pemimpin juga perlu memahami harapan atasannya.

17. Memahami Dunia Atasan
Memahami atasan berarti mengetahui tekanan, tanggung jawab, tujuan, dan masalah yang dihadapi atasan. Dengan begitu, kita dapat lebih memahami alasan di balik keputusan yang dibuat.

18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan
Setiap atasan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Kita perlu menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja tanpa kehilangan profesionalitas agar kerja sama menjadi lebih efektif.

19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat
Hubungan dengan rekan sejawat dibangun melalui komunikasi, saling menghargai, kerja sama, dan kepercayaan. Hindari persaingan yang tidak sehat dan fokus pada tujuan bersama.

20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama
Cari tahu apa yang menjadi kepentingan masing-masing pihak dan temukan tujuan yang sama. Tujuan bersama dapat menjadi dasar untuk membangun kerja sama yang lebih baik.

21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat
Kita perlu memahami tanggung jawab, kesulitan, dan hal yang dianggap penting oleh rekan kerja. Dengan memahami kondisi mereka, kita dapat bekerja sama dengan lebih efektif.

22. Membuat Perencanaan Pengembangan
Perencanaan pengembangan dilakukan dengan menentukan kemampuan yang ingin ditingkatkan, target, cara mencapainya, serta waktu pencapaiannya. Rencana tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan pribadi dan pekerjaan.

23. Merefleksikan Pembelajaran: Memodifikasi Rencana Pengembangan
Setelah menjalankan rencana, kita perlu melihat hasilnya. Jika ada cara yang kurang efektif, rencana dapat diubah atau disesuaikan berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh.

24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru
Pengetahuan dan pengalaman yang sudah diperoleh harus diterapkan ketika menghadapi situasi baru. Caranya dengan menyesuaikan pembelajaran sebelumnya dengan kondisi lingkungan baru agar dapat memberikan hasil yang lebih baik.
In reply to Dr. NOVA MARDIANA, S.E., M.M.

Re: Responsi sesi 3

by Zalfa Rafeyfa Chayriya -
Nama: Zalfa Rafeyfa Chayriya
NPM : 2551011034

1. Persiapan Awal 83 Hari Pertama: Sebagai pemimpin, perlu memahami kondisi organisasi, tugas, orang-orang, budaya kerja, serta tujuan yang harus dicapai. Jangan langsung mengubah semuanya sebelum memahami situasinya.
2. Kesan Pertama sebagai Pemimpin: Tunjukkan sikap percaya diri, terbuka, profesional, dan mau mendengarkan. Kesan awal penting untuk membangun kepercayaan dengan anggota tim.
3. Dua Minggu Pertama – Membangun Fondasi: Fokus mengenal anggota tim, memahami pekerjaan, mengumpulkan informasi, menetapkan prioritas, dan membangun hubungan kerja yang baik.
4. Dua Bulan Pertama – Strategi, Struktur, dan Penempatan Staf: Susun strategi berdasarkan kondisi organisasi, tentukan pembagian tugas dan struktur kerja, lalu tempatkan orang sesuai kompetensi agar pekerjaan berjalan efektif.
5. Bulan Ketiga – Mengomunikasikan dan Mendorong Perubahan: Sampaikan tujuan dan alasan perubahan dengan jelas, libatkan anggota tim, serta berikan arahan dan dukungan agar perubahan dapat diterapkan.
6. Belajar dari Pengalaman 100 Hari Pertama: Evaluasi apa yang berhasil dan tidak berhasil, cari penyebabnya, minta masukan, lalu gunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki cara memimpin.
7. Menciptakan Peluang Mendapatkan Umpan Balik: Secara aktif meminta pendapat dari atasan, rekan, dan anggota tim, baik melalui diskusi, evaluasi, maupun percakapan langsung.
8. Tantangan Tambahan: Berani mengambil tugas atau tanggung jawab baru yang dapat meningkatkan kemampuan dan memberikan pengalaman kepemimpinan.
9. Belajar dari Orang Lain: Mengamati pemimpin atau rekan yang lebih berpengalaman, mempelajari cara mereka menghadapi masalah, kemudian mengambil hal yang sesuai untuk diterapkan.
10. Membuat Jurnal bagi Pemimpin: Mencatat pengalaman, keputusan, masalah, keberhasilan, kesalahan, serta pelajaran yang diperoleh sebagai bahan refleksi.
11. Membuat Rencana Pengembangan: Menentukan kemampuan yang ingin dikembangkan, menetapkan tujuan, langkah yang harus dilakukan, serta waktu dan indikator keberhasilannya.
12. Membangun Kompetensi Teknis: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan melalui belajar, pelatihan, praktik, dan pengalaman.
13. Menentukan Kontribusi Pekerjaan terhadap Misi Keseluruhan: Memahami hubungan antara tugas pribadi, tujuan tim, dan visi organisasi sehingga pekerjaan tidak hanya dilakukan sebagai rutinitas.
14. Menjadi Ahli dalam Pekerjaan: Menguasai tugas, prosedur, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan serta terus mengikuti perkembangan di bidang tersebut.
15. Mencari Peluang Memperluas Pengalaman: Mengikuti proyek baru, bekerja dengan tim berbeda, mengambil tanggung jawab tambahan, atau mencoba pekerjaan yang berada di luar rutinitas.
16. Membangun Hubungan Efektif dengan Atasan: Memahami harapan atasan, menjaga komunikasi, memberikan laporan yang jelas, dan membangun kepercayaan melalui kinerja yang konsisten.
17. Memahami Dunia Atasan: Memahami tanggung jawab, tekanan, target, serta masalah yang dihadapi atasan agar dapat melihat pekerjaan dari perspektif yang lebih luas.
18. Beradaptasi dengan Gaya Atasan: Menyesuaikan cara berkomunikasi dan bekerja dengan karakter serta gaya kepemimpinan atasan tanpa kehilangan profesionalitas.
19. Membangun Hubungan Efektif dengan Rekan Sejawat: Menjaga komunikasi, saling menghargai, bekerja sama, dan membangun kepercayaan tanpa terlalu mengutamakan kepentingan pribadi.
20. Mengenali Kepentingan dan Tujuan Bersama: Mencari titik temu antara tujuan pribadi, tim, dan organisasi agar kerja sama lebih mudah dibangun.
21. Memahami Tugas, Masalah, dan Imbalan Rekan Sejawat: Memahami tanggung jawab, kendala, tekanan, serta hal yang menjadi motivasi rekan kerja sehingga dapat bekerja sama dengan lebih efektif.
22. Membuat Perencanaan Pengembangan: Menentukan kebutuhan pengembangan, menetapkan tujuan yang jelas, memilih cara untuk mencapainya, dan menentukan waktu evaluasinya.
23. Merefleksikan Pembelajaran dan Memodifikasi Rencana: Menilai hasil dari rencana yang sudah dilakukan. Jika ada yang kurang efektif, ubah strategi atau target sesuai pengalaman dan kebutuhan baru.
24. Menerapkan Hasil Belajar di Lingkungan Baru: Menyesuaikan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan kondisi lingkungan baru, kemudian menerapkannya secara fleksibel sesuai situasi.