Nama: Imas Khansa Qurota A'yun
NPM: 2511011028
1. Bagaimana membedakan kekuasaan (power), pengaruh (influence), dan wewenang (authority)?
Tiga konsep ini berbeda. Kekuasaan (power) adalah kapasitas atau potensi seseorang untuk mempengaruhi orang lain, meskipun belum digunakan. Pengaruh (influence) adalah proses atau tindakan nyata ketika kekuasaan tersebut digunakan sehingga berhasil mengubah sikap atau perilaku orang lain. Sedangkan wewenang (authority) adalah kekuasaan formal yang sah yang diberikan oleh organisasi karena jabatan struktural.
Contohnya, seorang staf IT memiliki kekuasaan karena keahliannya (expert power), ketika ia menggunakan keahliannya untuk meyakinkan tim mengganti sistem maka itu menjadi pengaruh, namun manajer IT memiliki wewenang untuk memerintahkan penggantian sistem tersebut karena jabatannya.
2. Bagaimana menganalisis lima basis kekuasaan menurut French & Raven?
French & Raven membagi kekuasaan menjadi 5 basis:
1. Legitimate Power (Sah): berasal dari posisi/jabatan formal (efektif untuk kepatuhan awal tapi lemah jika tidak didukung basis lain.)
2. Reward Power (Imbalan): berasal dari kemampuan memberi bonus, promosi, atau pujian (efektif jangka pendek, tapi jika imbalan habis, kepatuhan hilang)
3. Coercive Power (Paksaan): berasal dari kemampuan memberi hukuman, SP, atau pemecatan (paling berisiko, menimbulkan rasa takut, dendam, dan resistensi).
4. Expert Power (Keahlian): berasal dari pengetahuan dan skill khusus yang dibutuhkan organisasi (paling kuat dan tahan lama di era modern karena sulit digantikan)
5. Referent Power (Panutan): berasal dari kharisma dan rasa kagum bawahan. (menghasilkan komitmen tertinggi karena bawahan mengikuti dengan sukarela)
3. Bagaimana mengevaluasi cara memperoleh dan mempertahankan kekuasaan?
Cara memperoleh kekuasaan dapat dilakukan dengan menguasai sumber daya kritis seperti informasi penting, anggaran, atau relasi klien, membangun jaringan dengan orang-orang berpengaruh, menjadi ahli yang tak tergantikan, dan membangun koalisi atau dukungan
kelompok.
Untuk mempertahankannya, kekuasaan tidak boleh dipertahankan dengan paksaan. Evaluasinya: pemimpin yang hanya mengandalkan coercive power akan kehilangan kekuasaan karena ditinggalkan bawahan. Cara etis mempertahankannya adalah dengan terus menjaga relevansi keahlian, membagikan kekuasaan melalui pemberdayaan, agar bawahan merasa memiliki, serta menjaga kepercayaan dengan bersikap transparan dan adil. Kekuasaan yang dibagikan justru semakin besar, bukan semakin hilang.
4. Bagaimana mengidentifikasi berbagai taktik pengaruh (influence tactics)?
Taktik pengaruh dapat diidentifikasi dari cara seseorang meminta sesuatu. Menurut Yukl, ada 9 taktik:
1. Rational Persuasion: menggunakan data dan logika.
2. Inspirational Appeal: menggunakan visi dan nilai emosional.
3. Consultation: mengajak bawahan berdiskusi sebelum memutuskan.
4. Ingratiation: memuji atau bersikap ramah sebelum meminta.
5. Exchange: menawarkan tukar jasa atau imbalan.
6. Personal Appeal: menggunakan hubungan pertemanan.
7. Coalition: mengajak orang lain untuk menekan bersama.
8. Legitimating: mengacu pada aturan atau SOP.
9. Pressure: menggunakan ancaman atau paksaan.
Taktik 1-3 termasuk taktik lunak dan paling efektif untuk komitmen, sedangkan taktik 7-9 termasuk taktik keras yang berisiko menimbulkan penolakan
5. Bagaimana memahami dampak kekuasaan terhadap komitmen dan kepatuhan bawahan?
Dampak kekuasaan terhadap bawahan menghasilkan tiga respon yang berbeda:
- Komitmen, bawahan setuju sepenuh hati, internalisasi nilai, dan mau bekerja melebihi yang diminta. Ini terjadi jika pemimpin menggunakan Expert Power, Referent Power, dan taktik Rational Persuasion serta Inspirational Appeal.
- Kepatuhan, bawahan hanya nurut karena harus, tanpa antusias, asal tugas selesai. Ini terjadi jika pemimpin menggunakan Legitimate Power, Reward Power, dan taktik Exchange atau Legitimating.
- Resistensi, bawahan menolak, menunda, atau bahkan sabotase diam-diam. Ini terjadi jika pemimpin terlalu sering menggunakan Coercive Power dan taktik Pressure.
Semakin kasar basis kekuasaan yang digunakan, semakin rendah tingkat komitmen yang dihasilkan.
6. Jelaskan cara menerapkan kekuasaan dan taktik pengaruh secara etis!
Penerapan kekuasaan secara etis harus berprinsip bahwa kekuasaan digunakan untuk melayani tujuan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi. Caranya adalah:
- Tujuan harus untuk kebaikan organisasi, bukan memperkaya diri.
- Menggunakan taktik yang jujur dan transparan, yaitu Rational Persuasion dan Consultation, bukan manipulasi atau kebohongan.
- Menghormati otonomi bawahan dengan memberi pilihan dan penjelasan, bukan memaksa.
- Bersikap adil dalam memberi imbalan dan hukuman, tidak pilih kasih.
- Menghindari penggunaan Coercive Power dan Pressure kecuali untuk pelanggaran etika yang berat.
- Membuka diri untuk dikontrol dan dikritik melalui sistem whistleblowing.
Dengan menggunakan Personal Power (keahlian dan keteladanan) dan taktik yang etis, pemimpin akan mendapatkan komitmen jangka panjang, bukan hanya kepatuhan sesaat