Posts made by HabibahHusnul 2523031006

PKDIPS2025 -> Summary

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Fenomena ekonomi dan bisnis pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menunjukkan bahwa kehidupan sosial manusia kini berada dalam arus perubahan yang sangat cepat, terutama karena digitalisasi dan otomatisasi telah mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi. Teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan Internet of Things membuat proses bisnis menjadi lebih efisien, tetapi juga memunculkan tantangan baru, terutama dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Meski barang dan jasa semakin mudah diakses melalui platform digital, kelangkaan tetap terjadi karena keterbatasan sumber daya alam, distribusi yang tidak merata, serta ketimpangan kapasitas manusia dalam memanfaatkan teknologi. Sisi lain, kehidupan sosial manusia juga terdampak: pola interaksi bergeser ke ruang digital, muncul pekerjaan baru sekaligus hilangnya profesi lama, serta meningkatnya kesenjangan antara individu yang melek teknologi dan yang tertinggal. Kelangkaan dalam konteks modern bukan hanya terkait sumber daya fisik, tetapi juga akses terhadap informasi, literasi digital, dan peluang ekonomi. Society 5.0 berupaya menawarkan solusi melalui integrasi teknologi berbasis kemanusiaan teknologi tidak hanya untuk efisiensi industri, tetapi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Solusi terhadap kelangkaan dan tantangan tersebut meliputi penguatan literasi digital, peningkatan keterampilan melalui pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan teknologi untuk pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, serta kebijakan pemerintah yang memastikan pemerataan akses. Dengan demikian, manusia dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital sekaligus mengatasi kelangkaan secara lebih inovatif dan berkeadilan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) tidak pernah lepas dari sektor ekonomi karena keduanya saling menggerakkan secara simultan: inovasi teknologi menciptakan efisiensi, produk baru, serta model bisnis yang meningkatkan produktivitas, sementara kebutuhan ekonomi seperti persaingan pasar, tuntutan konsumen, dan investasi industri, mendorong percepatan riset serta penerapan teknologi baru. Dalam konteks modernisasi ekonomi saat ini, manusia dituntut untuk beradaptasi secara cepat karena perubahan teknologi berjalan lebih cepat dibanding kemampuan kebijakan atau pendidikan dalam mempersiapkan tenaga kerja. Digitalisasi yang pesat, didorong oleh otomasi, kecerdasan buatan, serta ekonomi platform, telah menggeser jenis keterampilan yang dibutuhkan; bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga literasi digital, kecakapan berpikir kritis, kolaborasi, pemecahan masalah, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. Tanpa adaptasi ini, individu berisiko tertinggal dan tergerus dari dinamika pasar kerja yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.

Agar tetap mampu bertahan (survive) dalam kehidupan yang dinamis, manusia perlu melakukan pembelajaran berkelanjutan melalui peningkatan dan pengembangan keterampilan (reskilling dan upskilling), memanfaatkan peluang kerja fleksibel seperti wirausaha digital, serta membangun ketahanan ekonomi melalui manajemen keuangan yang bijak dan kesiapan menghadapi perubahan. Upaya adaptasi juga perlu didukung oleh lingkungan sosial dan kebijakan pemerintah melalui penyediaan pelatihan, jaminan sosial, dan infrastruktur digital yang merata. Namun adaptasi paling penting tetap berasal dari individu, yaitu kesediaan untuk membuka diri terhadap inovasi, menggunakan teknologi secara produktif, serta memahami risiko dan etika dalam ekonomi digital.

Sebagai calon pengembang pembelajaran IPS, penting untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya memperkenalkan konsep mikro dan makro ekonomi, tetapi juga membantu peserta didik memahami realitas ekonomi masa kini dan tren yang akan datang. Pembelajaran harus bersifat interdisipliner, menggabungkan pemahaman ekonomi dengan teknologi, sosial, budaya, dan isu etika. Selain itu, pembelajaran harus berbasis kompetensi, mendorong literasi digital, kemampuan membaca data, serta pemikiran sistem dalam menganalisis perubahan ekonomi di tingkat lokal maupun global. Metode seperti project-based learning, studi kasus berbasis konteks daerah, simulasi pasar, serta analisis data sederhana perlu diintegrasikan agar siswa dapat menarik hubungan antara teori dan fenomena nyata, seperti perkembangan pasar digital, perubahan perilaku konsumen, atau dampak teknologi terhadap pekerjaan masyarakat. Dengan rancangan pembelajaran seperti ini, peserta didik bukan hanya memahami perubahan ekonomi, tetapi juga siap menghadapi tantangan dan peluang dalam ekonomi modern secara kritis, adaptif, dan berdaya saing.

Refrensi:
OECD, Employment Outlook / AI and labour market (2021–2023)
World Bank, Skills Development / Digital Skills pages & reports.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006


Fenomena alam dalam satu dasawarsa terakhir menunjukkan perubahan yang semakin ekstrem dan tidak menentu mulai dari peningkatan suhu global, banjir besar, kekeringan panjang, hingga kebakaran hutan yang meluas. Perubahan-perubahan ini tidak hanya merupakan dinamika alam semata, tetapi memiliki korelasi kuat dengan aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca dari industri, transportasi, dan penggunaan energi fosil mempercepat pemanasan global, sementara deforestasi menghilangkan kemampuan alam untuk menyerap karbon dan menjaga stabilitas iklim. Urbanisasi yang tidak terkendali juga mengubah keseimbangan ekosistem lokal sehingga memicu banjir, penurunan kualitas udara, serta meningkatnya suhu perkotaan. Polusi plastik maupun limbah industri memperburuk kondisi ekosistem laut dan daratan sehingga keanekaragaman hayati menurun dengan cepat. Melalui berbagai penelitian iklim terkini, seperti laporan IPCC (2018, 2021) dan kajian keberlanjutan lingkungan oleh Rockström et al. (2018), disimpulkan bahwa lebih dari 70% perubahan fenomena ekstrem dalam dekade terakhir dipicu aktivitas manusia. Artinya, manusia bukan hanya penyebab utama kerusakan, melainkan juga aktor yang memiliki pengaruh paling besar untuk memulihkan dan menjaga eksistensi alam bagi generasi mendatang.

Pengaruh manusia terhadap keberlanjutan alam sangat signifikan karena keputusan hari ini menentukan daya dukung bumi di masa depan. Upaya mengurangi emisi, menghentikan deforestasi, memulihkan ekosistem, mengembangkan energi terbarukan, serta menerapkan gaya hidup berkelanjutan mampu memperlambat laju perubahan iklim. Berbagai studi menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan dapat terjadi dengan cepat jika intervensi manusia dilakukan secara kolektif. Sebagai contoh, rehabilitasi mangrove mampu menurunkan abrasi dan meningkatkan keanekaragaman hayati pesisir, sementara reforestasi mampu memulihkan kualitas tanah dan udara dalam waktu relatif singkat. Ini membuktikan bahwa manusia memiliki ruang kendali yang besar terhadap keberlanjutan alam. Oleh karena itu, menjaga eksistensi alam bukan sekadar tanggung jawab moral, tetapi sebuah keharusan untuk menjamin keberlanjutan hidup generasi mendatang, karena kesehatan bumi saat ini adalah fondasi kehidupan manusia pada masa depan.