Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083
1. Perbandingan pendekatan tradisional fair value dengan pendekatan berbasis AI
Pendekatan konvensional dalam penilaian nilai wajar atau fair value yang mengandalkan penilaian manusia (seperti DCF) lebih unggul dalam hal representasi yang akurat dan keandalan karena asumsi yang jelas dan proses audit yang sederhana, tetapi kurang relevan dan lambat dalam menanggapi perubahan pasar secara langsung. Di sisi lain, metode yang berbasis AI (seperti yang diterapkan oleh PT Cerdas Digital) meningkatkan relevansi dan kemampuan perbandingan melalui analisis data besar dan konsistensi algoritma, menghasilkan penilaian yang cepat dan tepat; namun, masalah "kotak hitam" dan kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan dapat mengganggu representasi yang akurat dan keandalan, serta berpotensi mengurangi kepercayaan dari para pemangku kepentingan.
2. Implikasi epistemologis (sumber dan validitas pengetahuan akuntansi) dari penggunaan AI dalam penentuan fair value.
Penggunaan AI dalam penilaian fair value memicu pergeseran epistemologi signifikan dalam akuntansi, menggeser sumber pengetahuan dari yang rasional dan empiris human-centric (analisis ahli) menuju yang empiris data-centric melalui pemrosesan big data oleh algoritma induktif yang menghasilkan pengetahuan prediktif. Perubahan ini secara kritis mempertanyakan keabsahan pengetahuan karena karakteristik yang dimiliki oleh AI, yang menghalangi verifikasi independen dan keterbukaan, sehingga dapat mengurangi kepercayaan epistemik para pemangku kepentingan terhadap objektivitas "nilai wajar" yang dihasilkan, ini merupakan masalah yang sebanding dengan isu ketidakpastian dalam teori akuntansi meskipun AI memiliki potensi untuk meningkatkan keabsahan berkat akurasi statistik yang lebih baik jika data yang digunakan tidak terpengaruh oleh bias.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan yang dapat memastikan bahwa pendekatan AI tetap sesuai dengan standar akuntansi internasional (IFRS 13).
Untuk memastikan bahwa penilaian nilai wajar yang berbasis AI tetap sejalan dengan prinsip IFRS 13, khususnya representasi yang akurat dan keterbukaan, PT Cerdas Digital harus menerapkan strategi akuntabilitas dan pelaporan yang menyeluruh. Strategi ini mencakup: pengembangan Framework Audit AI dengan menggunakan Explainable AI (XAI) seperti teknik SHAP untuk menjelaskan dan mendokumentasikan proses algoritma, guna memenuhi persyaratan pengungkapan IFRS 13 dan mengadopsi pendekatan semi-otomatis yang memerlukan penilaian dari manusia untuk memverifikasi rekomendasi AI, sekaligus melakukan validasi silang dan pengujian ulang terhadap data eksternal untuk memastikan keandalan data yang dapat diamati
NPM: 2413031083
1. Perbandingan pendekatan tradisional fair value dengan pendekatan berbasis AI
Pendekatan konvensional dalam penilaian nilai wajar atau fair value yang mengandalkan penilaian manusia (seperti DCF) lebih unggul dalam hal representasi yang akurat dan keandalan karena asumsi yang jelas dan proses audit yang sederhana, tetapi kurang relevan dan lambat dalam menanggapi perubahan pasar secara langsung. Di sisi lain, metode yang berbasis AI (seperti yang diterapkan oleh PT Cerdas Digital) meningkatkan relevansi dan kemampuan perbandingan melalui analisis data besar dan konsistensi algoritma, menghasilkan penilaian yang cepat dan tepat; namun, masalah "kotak hitam" dan kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan dapat mengganggu representasi yang akurat dan keandalan, serta berpotensi mengurangi kepercayaan dari para pemangku kepentingan.
2. Implikasi epistemologis (sumber dan validitas pengetahuan akuntansi) dari penggunaan AI dalam penentuan fair value.
Penggunaan AI dalam penilaian fair value memicu pergeseran epistemologi signifikan dalam akuntansi, menggeser sumber pengetahuan dari yang rasional dan empiris human-centric (analisis ahli) menuju yang empiris data-centric melalui pemrosesan big data oleh algoritma induktif yang menghasilkan pengetahuan prediktif. Perubahan ini secara kritis mempertanyakan keabsahan pengetahuan karena karakteristik yang dimiliki oleh AI, yang menghalangi verifikasi independen dan keterbukaan, sehingga dapat mengurangi kepercayaan epistemik para pemangku kepentingan terhadap objektivitas "nilai wajar" yang dihasilkan, ini merupakan masalah yang sebanding dengan isu ketidakpastian dalam teori akuntansi meskipun AI memiliki potensi untuk meningkatkan keabsahan berkat akurasi statistik yang lebih baik jika data yang digunakan tidak terpengaruh oleh bias.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan yang dapat memastikan bahwa pendekatan AI tetap sesuai dengan standar akuntansi internasional (IFRS 13).
Untuk memastikan bahwa penilaian nilai wajar yang berbasis AI tetap sejalan dengan prinsip IFRS 13, khususnya representasi yang akurat dan keterbukaan, PT Cerdas Digital harus menerapkan strategi akuntabilitas dan pelaporan yang menyeluruh. Strategi ini mencakup: pengembangan Framework Audit AI dengan menggunakan Explainable AI (XAI) seperti teknik SHAP untuk menjelaskan dan mendokumentasikan proses algoritma, guna memenuhi persyaratan pengungkapan IFRS 13 dan mengadopsi pendekatan semi-otomatis yang memerlukan penilaian dari manusia untuk memverifikasi rekomendasi AI, sekaligus melakukan validasi silang dan pengujian ulang terhadap data eksternal untuk memastikan keandalan data yang dapat diamati