CASE STUDY 1

CASE STUDY 1

Jumlah balasan: 30

PT Hijau Lestari, sebuah perusahaan agribisnis di Indonesia, sedang mempersiapkan sustainability reporting (laporan keberlanjutan) sesuai dengan standar GRI (Global Reporting Initiative). Perusahaan ini mempertimbangkan untuk menggunakan teknologi blockchain guna meningkatkan transparansi dan integritas data dalam laporan keberlanjutan mereka, khususnya terkait jejak karbon dan sumber bahan baku.

Namun, manajemen belum sepenuhnya memahami implikasi akuntansi dan etika dari penggunaan blockchain dalam pelaporan tersebut, serta bagaimana hal ini akan diterima oleh stakeholder dan regulator di Indonesia.

Pertanyaan:

  1. Analisislah bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam konteks sustainability reporting.
  2. Evaluasilah tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global.
  3. Berikan rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi ini.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Siti haryanti 2413031094 -
Nama : Siti Haryanti
Npm : 2413031094
Kelas : 2024 C

1. Pengaruh terhadap reliabilitas dan transparansi
Pemanfaatan blockchain dalam sustainability reporting dapat meningkatkan transparansi karena setiap data yang dicatat bersifat permanen dan dapat ditelusuri kembali. Dalam konteks teori akuntansi, hal ini mendukung keterandalan (reliability) dan mempermudah proses verifikasi. Namun, reliabilitas informasi tetap sangat dipengaruhi oleh kualitas data yang dimasukkan ke sistem. Jika data jejak karbon atau asal bahan baku yang masuk sudah keliru, blockchain tidak memperbaiki substansi datanya—teknologi tersebut hanya memastikan bahwa catatan yang salah itu tidak bisa diubah. Dengan kata lain, blockchain meningkatkan akurasi pencatatan, tetapi tidak otomatis menjamin kebenaran informasi akuntansinya.

2. Tantangan regulasi Indonesia dan global
Di Indonesia, penerapan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan menghadapi kendala karena belum adanya regulasi khusus yang mengatur penggunaan teknologi ini. Perusahaan tetap harus menyesuaikan diri dengan aturan OJK dan standar GRI, sehingga perlu memastikan bahwa mekanisme pencatatan berbasis blockchain tidak bertentangan dengan prinsip pelaporan yang berlaku. Selain itu, sifat blockchain yang tidak dapat dihapus bisa menabrak aturan perlindungan data pribadi. Tantangan lain muncul pada integrasi pemasok dan verifikasi data off-chain, yang masih bergantung pada kesiapan teknologi dan keakuratan data dari pihak luar. Secara global, standar assurance non-keuangan menuntut metode verifikasi yang jelas, sehingga penggunaan blockchain perlu disertai prosedur audit yang memadai.

3. Rekomendasi strategis
PT Hijau Lestari sebaiknya memulai penggunaan blockchain pada aspek pelaporan yang benar-benar material, seperti penelusuran bahan baku dan pengukuran emisi. Penggunaan blockchain jenis permissioned lebih sesuai untuk menjaga kontrol akses dan mematuhi ketentuan privasi. Perusahaan juga perlu menetapkan prosedur validasi data yang ketat agar informasi yang masuk dapat dipastikan akurasinya sebelum dicatat di blockchain. Selain itu, kolaborasi dengan auditor yang memahami assurance atas data keberlanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa proses verifikasi berjalan sesuai standar. Transparansi mengenai metode pengumpulan dan verifikasi data perlu disampaikan dalam laporan agar penggunaan teknologi ini benar-benar meningkatkan kredibilitas pelaporan keberlanjutan perusahaan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Nadiya Adila -
Nama : Nadiya Adila
Npm : 2413031079
Kelas : 24 C

1. Penggunaan blockchain dalam laporan keberlanjutan bisa membuat data lebih bisa dipercaya dan terbuka, terutama soal jejak karbon dan rantai pasok bahan baku. Teknologi ini seperti buku besar digital yang tak bisa diubah, mendukung konsep Triple-Entry Accounting di mana setiap transaksi diverifikasi oleh banyak pihak secara otomatis, beda dengan catatan ganda biasa yang rawan dipalsukan. Untuk standar GRI, ini berarti stakeholder bisa cek data real-time tanpa ragu, kurangi risiko laporan palsu alias greenwashing, dan sesuai prinsip akuntansi soal keakuratan serta netralitas.

2. PT Hijau Lestari menghadapi tantangan regulasi di Indonesia seperti POJK No. 51/POJK.03/2017 dan SPK (berbasis IFRS S1-S2 efektif 2027) dari OJK dan IAI, yang mewajibkan sustainability report tapi belum secara eksplisit mengatur blockchain, menyebabkan ketidakpastian hukum terkait validitas data blockchain sebagai bukti audit. Secara global, keragaman standar ESG (GRI, TCFD) dan kompleksitas regulasi menimbulkan biaya tinggi serta kesulitan integrasi, ditambah konsumsi energi blockchain (Proof-of-Work) yang ironis bagi pelaporan lingkungan.

3. Rekomendasi dengan pilot project blockchain untuk jejak karbon menggunakan platform berbasis Proof-of-Stake rendah energi, terintegrasi GRI dan SPK, untuk membangun bukti empiris sebelum skala penuh. Kolaborasi dengan regulator OJK/IAI dan pakar akuntansi untuk mengembangkan panduan audit TEA-blockchain, sambil melatih karyawan guna mengatasi resistensi institusional. Pantau perkembangan global seperti IFRS Sustainability Standards untuk memastikan keselarasan, sehingga meningkatkan penerimaan investor dan mengurangi risiko non-kepatuhan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Ni Made Dwi Agustini -
Nama : Ni Made Dwi Agustini
Npm : 2413031086

1. Analisis bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi terkait reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam sustainability reporting.

Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting sebenarnya membawa pengaruh yang cukup besar terhadap konsep reliabilitas dan transparansi dalam teori akuntansi. Blockchain membuat data yang dicatat menjadi lebih sulit diubah, sehingga informasi akuntansi yang disajikan perusahaan dapat lebih dipercaya. Dalam konteks sustainability reporting, terutama terkait jejak karbon dan asal bahan baku, blockchain memberikan catatan yang lebih jelas tentang bagaimana data dihasilkan dan dari mana asalnya. Hal ini memperkuat karakteristik verifiability dan faithful representation, karena data yang tersimpan memiliki jejak digital yang bisa dilacak kembali kapan saja. Namun, meskipun blockchain menjaga agar data tidak dimodifikasi, teknologi ini tetap tidak bisa menjamin bahwa data awal masuk sudah benar. Jika sumber data tidak akurat sejak awal, blockchain hanya akan mengunci kesalahan itu. Jadi, teknologi ini harus dibarengi dengan kontrol internal yang kuat dan proses pengumpulan data yang sesuai standar seperti GRI dan GHG Protocol agar blockchain benar-benar meningkatkan kualitas pelaporan.

2. Evaluasi tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global.

Tantangan terbesar yang mungkin muncul terletak pada regulasi data dan tanggung jawab perusahaan dalam menjaga privasi. Di Indonesia, aturan Perlindungan Data Pribadi memberi hak kepada individu untuk meminta penghapusan data diri, sedangkan blockchain bersifat tidak bisa dihapus. Ini dapat menimbulkan konflik regulasi apabila perusahaan tidak merancang sistem dengan tepat. Selain itu, tantangan juga terjadi pada kesiapan pemasok dalam rantai pasok agribisnis, terutama petani kecil yang mungkin belum familiar dengan teknologi digital. Jika sistem blockchain memerlukan input data yang konsisten dan tepat, perusahaan perlu memastikan semua pihak dapat mengikuti prosesnya. Dari sisi regulator, teknologi blockchain tidak selalu otomatis diterima sebagai bukti akuntansi yang sah jika metode pengukuran data tidak memenuhi standar profesional. Auditor dan pihak verifikator tetap akan menilai kualitas prosedur, bukan hanya teknologinya. Tantangan global juga ada, misalnya kesesuaian dengan standar internasional, interoperabilitas platform blockchain, dan tuntutan transparansi yang lebih ketat dari pasar internasional.

3. Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi untuk mendukung keberhasilan implementasi.

Strategi terbaik yang dapat dilakukan PT Hijau Lestari adalah memulai implementasi blockchain secara bertahap, misalnya melalui program percontohan pada satu produk atau area operasional terlebih dahulu. Langkah ini memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas sistem dan menyesuaikan proses sebelum diterapkan secara luas. Penggunaan permissioned blockchain bisa menjadi pilihan yang lebih aman dan sesuai regulasi, karena memungkinkan perusahaan mengontrol siapa saja yang bisa mengakses atau menginput data. Untuk memenuhi UU PDP, data sensitif sebaiknya tidak disimpan langsung di blockchain, melainkan disimpan off-chain dan hanya jejak digitalnya yang ditempatkan di blockchain. Perusahaan juga perlu melibatkan auditor independen di awal agar verifikasi data tetap sesuai standar akuntansi dan pedoman GRI. Selain itu, pelatihan bagi pemasok, terutama petani kecil, sangat penting agar teknologi tidak menjadi hambatan tetapi justru memperkuat kerja sama dalam rantai pasok. Dengan pendekatan yang hati-hati dan bertahap, blockchain dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan perusahaan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Niabi Rahma Wati -
Nama: Niabi Rahma Wati
NPM: 2413031078

1. Penggunaan blockchain dalam mempengaruhi teori akuntansi
Teknologi blockchain dapat meningkatkan keandalan dan juga transparansi laporan berkelanjutan. Dalam akuntansi, informasi harus dapat dipercaya dan dapat diverifikasi. Blockchain mencatat data secara permanen, terdesentralisasi, dan diberi sampel waktu. Hal ini membuat data sulit untuk diubah dan dimanipulasi, sehingga meningkatkan integritasnya dan mengurangi risiko greenwashing.
Blockchain juga meningkatkan transparansi lebih dari sekedar laporan tertulis. Pemangku kepentingan terpilih seperti investor atau auditor dapat diberikan akses untuk melihat catatan data mentah secara real-time, yang artinya mereka dapat melacak sendiri asal-usul bahan baku. Sehingga prinsip substansi di atas bentuk dalam akuntansi benar-benar tercapai. Selain itu, peran audit bisa saja berubah. Dengan adanya smart contract, proses verifikasi bisa berjalan otomatis dan terus-menerus. Misalnya, sistem bisa otomatis mencatat jika emisi melebihi batas. Auditor kemudian fokus pada pemeriksaan logika sistemnya, bukan pada pencocokan dokumen satu per satu, sehingga hal ini membuat proses audit lebih komprehensif.

2. Tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini di Indonesia dan Global
Pt Hijau Lestari akan menghadapi beberapa tantangan ketika menerapkan teknologi blockchain ini. Di Indonesia, regulasi untuk laporan berbasis blockchain masih belum jelas. Standar akuntansi PSAK dan aturan OJK tentang keberlanjutan belum mengatur secara spesifik seperti apa penggunaan teknologi ini. Status hukum data di blockchain juga sepenuhnya diuji di pengadilan. Tantangan lain yang mungkin muncul ketika menerapkan teknologi ini yaitu penyelarasan dengan sektor lain. Data rantai pasok mungkin berbenturan dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi atau aturan sertifikasi khusus seperti ISPO untuk sawit. Dalam hal ini perusahaan harus berhati-hati dalam mengintegrasikannya.
Secara global, belum ada standar tunggal untuk pelaporan berbasis blockchain. Meskipun standar GRI atau TCFD mendukung transparansi, format dan teknisnya masih beragam, sehingga hal ini dapat menyulitkan harmonisasi. Selai itu, tidak semua pemasok dalam rantai pasok memiliki kemampuan teknologi yang sama. Pemasok kecil mungkin tertinggal, sehingga data menjadi tidak lengkap. Tantangan teknis juga memungkinkan terjadi, biaya awal untuk membangun dan mengintegrasikan sistem ini tinggi. Yang penting adalah, prinsip “garbage in, garbage out” tetap berlaku. Jika data yang dimasukkan dari sensor atau lapangan salah, maka kesalahan itu akan tercatat secara permanen di blockchain. Akhirnya keandalan sangat bergantung pada akurasi data di sumbernya.

3. Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi PT Hijau Lestari
a. Mulai secara bertahap dan skala kecil, jangan langsung menerapkan untuk semua operasi. Misalnya, mulai dengan proyek percontohan (pilot project) untuk satu produk atau rantai pasok utama. Gunakan sistem blockchain terbatas yang melibatkan mitra kunci dan auditor. Setelah berhasil, beru diperluas secara bertahap.
b. Menjalin komunikasi dengan regulator, ambil inisiatif untuk berdiskusi dengan OJK, IKAPI, atau kementerian terkait. Tawarkan diri sebagai mitra untuk menguji dan menyusun pedoman pelaporan berbasis blockchain di Indonesia. Ini akan membangun legitimasi dan mengurangi ketidakpastian hukum di masa depan.
c. Membentuk tim gabungan dari departemen akuntansi, IT, dan keberlanjutan. Memberikan pelatihan kepada staf dan juga kepada pemasok tentang bagaimana sistem baru ini bekerja. Memastikan ada prosedur audit yang kuat untuk memeriksa keakuratan data di titik masukan, karena blockchain bukan pengganti audit.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Gifrika Tutut Pradiyana -
Nama: Gifrika Tutut Pradiyana
NPM: 2453031008
Kelas: 2024 C

  1. Analisislah bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam konteks sustainability reporting.
    Penggunaan blockchain dalam sustainability reporting dapat meningkatkan keandalan dan keterbukaan data yang disampaikan perusahaan. Blockchain bekerja dengan sistem pencatatan yang tidak bisa diubah begitu data sudah dimasukkan. Untuk PT Hijau Lestari, hal ini bermanfaat karena data jejak karbon, asal bahan baku, dan proses produksi dapat ditelusuri secara jelas. Dari sudut pandang teori akuntansi, pencatatan yang tidak mudah dimodifikasi membuat informasi lebih reliabel karena risiko pemalsuan atau perubahan data jadi sangat kecil. Transparansi juga meningkat karena setiap langkah transaksi atau aktivitas yang berhubungan dengan keberlanjutan akan terekam secara terbuka dan dapat diperiksa kembali. Kondisi ini mendukung prinsip akuntansi tentang penyajian informasi yang jujur dan dapat diuji kembali oleh pihak lain.

  2. Evaluasilah tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global.
    Meskipun blockchain menjanjikan banyak keuntungan, penerapannya di PT Hijau Lestari tetap menghadapi beberapa hambatan. Di Indonesia, regulasi mengenai penggunaan blockchain dalam laporan keberlanjutan masih belum jelas. Perusahaan harus memastikan sistem yang digunakan tidak bertentangan dengan aturan pelaporan lingkungan, standar GRI, maupun pedoman dari OJK. Tantangan lain adalah kesiapan SDM internal karena teknologi seperti ini membutuhkan pemahaman teknis yang lebih dalam. Secara global, perusahaan juga perlu memastikan bahwa data yang ditampilkan sesuai dengan tuntutan pasar internasional, karena negara tertentu memiliki standar pelaporan keberlanjutan yang lebih ketat. Selain itu, teknologi blockchain biasanya membutuhkan biaya awal yang besar dan proses integrasi yang tidak sederhana, sehingga perusahaan harus siap secara finansial dan operasional.

  3. Berikan rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi ini.
    Agar penerapan blockchain berjalan efektif, PT Hijau Lestari perlu mengambil langkah yang terarah. Perusahaan dapat memulai dengan melakukan kajian menyeluruh tentang kebutuhan data sustainability reporting yang paling penting, lalu menentukan bagian mana yang paling cocok dipindahkan ke sistem blockchain. Dari sisi teori akuntansi, perusahaan tetap harus menjaga prinsip keandalan, relevansi, dan keterbandingan laporan meskipun menggunakan teknologi baru. Oleh karena itu, pengawasan internal harus diperkuat agar data yang masuk ke blockchain benar sejak awal. Perusahaan juga perlu bekerja sama dengan auditor dan konsultan teknologi untuk memastikan sistem yang dipakai sesuai standar GRI dan dapat dipahami oleh auditor eksternal. Jika diperlukan, perusahaan dapat mengadakan pelatihan bagi karyawan agar pemanfaatan teknologi berjalan mulus. Dengan cara seperti ini, penggunaan blockchain tidak hanya membantu transparansi, tetapi juga mendukung kualitas laporan keberlanjutan secara keseluruhan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Ivan Kurniawan -
Nama: Ivan Kurniawan
NPM: 2453031005
Kelas: 2024 C

1. Penggunaan blockchain dalam mempengaruhi teori akuntansi
Teknologi blockchain dapat meningkatkan transparansi dan transparansi laporan berkelanjutan. Dalam akuntansi, informasi harus dapat dipercaya dan dapat dipercaya. Blockchain mencatat data secara permanen, terdesentralisasi, dan diberi sampel waktu. Hal ini membuat data sulit untuk diubah dan dimanipulasi, sehingga meningkatkan integritasnya dan mengurangi risiko greenwashing.
Blockchain juga meningkatkan transparansi lebih dari sekedar laporan tertulis. Pemangku kepentingan terpilih seperti investor atau auditor dapat diberikan akses untuk melihat catatan data mentah secara real-time, yang artinya mereka dapat melacak sendiri asal-usul bahan baku. Sehingga prinsip substansi di atas bentuk dalam akuntansi benar-benar tercapai. Selain itu, peran audit bisa saja berubah. Dengan adanya smart contract, proses verifikasi dapat berjalan otomatis dan terus menerus. Misalnya, sistem bisa otomatis mencatat jika emisi melebihi batas. Auditor kemudian fokus pada pemeriksaan logika sistemnya, bukan pada pencocokan dokumen satu per satu, sehingga hal ini membuat proses audit lebih komprehensif.

2. Tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini di Indonesia dan Global
Pt Hijau Lestari akan menghadapi beberapa tantangan ketika menerapkan teknologi blockchain ini. Di Indonesia, regulasi untuk laporan berbasis blockchain masih belum jelas. Standar akuntansi PSAK dan aturan OJK tentang keinginan belum mengatur secara spesifik seperti apa penggunaan teknologi ini. Status hukum data di blockchain juga sepenuhnya diuji di pengadilan. Tantangan lain yang mungkin muncul ketika menerapkan teknologi ini yaitu penyelarasan dengan sektor lain. Rantai data pasok mungkin berbenturan dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi atau aturan sertifikasi khusus seperti ISPO untuk sawit. Dalam hal ini perusahaan harus berhati-hati dalam mengintegrasikannya.
Secara global, belum ada standar tunggal untuk pelaporan berbasis blockchain. Meskipun standar GRI atau TCFD mendukung transparansi, format dan teknisnya masih beragam, sehingga hal ini dapat menyulitkan harmonisasi. Selai itu, tidak semua pemasok dalam rantai pasok memiliki kemampuan teknologi yang sama. Pemasok kecil mungkin tertinggal, sehingga data menjadi tidak lengkap. Tantangan teknis juga memungkinkan terjadinya, biaya awal untuk membangun dan mengintegrasikan sistem ini tinggi. Yang penting adalah, prinsip “sampah masuk, sampah keluar” tetap berlaku. Jika data yang dimasukkan dari sensor atau lapangan salah, maka kesalahan itu akan dicatat secara permanen di blockchain. Akhirnya permintaan itu sangat bergantung pada keakuratan data di sumbernya.

3. Rekomendasi strategi berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi PT Hijau Lestari
A. Mulai secara bertahap dan skala kecil, jangan langsung diterapkan ke semua operasi. Misalnya, mulai dengan proyek percontohan (pilot project) untuk satu produk atau rantai pasok utama. Gunakan sistem blockchain terbatas yang melibatkan mitra kunci dan auditor. Setelah berhasil, beru menyelesaikan secara bertahap.
B. Menjalin komunikasi dengan regulator, mengambil inisiatif untuk berdiskusi dengan OJK, IKAPI, atau kementerian terkait. Menawarkan diri sebagai mitra untuk menguji dan menyusun pedoman pelaporan berbasis blockchain di Indonesia. Ini akan membangun legitimasi dan mengurangi batasan hukum di masa depan.
C. Membentuk tim gabungan dari departemen akuntansi, IT, dan keinginan. Memberikan pelatihan kepada staf dan juga kepada pemasok tentang bagaimana sistem baru ini bekerja. mengedit ada prosedur audit yang kuat untuk memeriksa keakuratan data di titik masukan, karena blockchain bukan pengganti audit.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Natasya Natasya -
Nama: Natasya
NPM: 2413031081
Kelas: 2024 C

1. Penggunaan blockchain oleh PT Hijau Lestari untuk mencatat data keberlanjutan seperti jejak karbon dan sumber bahan baku yang akan mempengaruhi dua kualitas informasi akutansi yang krusial yaitu realibitas dan transparansi. Pada transparansi ini dimana informasi bebas dari kesalahan material dan bias serta dapat diandalkan oleh pengambilan keputusan, dan block chain ini juga dapat meningkatkan realibilitas melalui verivikasi ganda, pencatatan real time . kemudian transparansi adalah kualitas. Kemudian transparansi informasi dimana kualitas yang memungkinkan pengguna memahami dan melihat dasar dari suatu informasi akutansi, dan disini blockchain menyempiurnakan transparansi seperti audit trail digital dan smart contract.


2. Pada kondisi di PT Hijau yang sudah saya lihat bahwasannya PT Hijau Lestari akan menghadapi tantangan signifikan dalam menerapkan teknologi ini baik dari aspek regulasi domestic maupun global. Tantangan paada regulasi di Indonesia adalah yyang pertama pengakuan bukti digital yaitu hukum regulasi di Indonesia termasuk OJK dan BEI yang masih bergantung pada dokumen legal konvennsional. Standar teknis domestic yaitu pada saat ini belum ada standar teknis spesifik dari regulator Indonesia mengenai protocol dan keamaanan jaringan blockchain yang digunakan untuk sustainability reporting. Kemudian terdapat tantangan global dan stakeholder terdapat interoperability dann standarisasi serta biaya dan skalibilitas dan privasi data, dimana data sumber bahan baku, mungkin dianggap informasi sensitive atau rahasia dagang.


3. Menurut saya untuk mendukung keberhasilan implementasi, PT Hijau lestari harus mengambil beberapa Langkah Langkah yang pertama fokus pada tata Kelola data yaitu penerapan governance model, diimana PT Hijau Lestari harus secara jelas siapa yang bertanggung jawab untuk menginput data awal ke dalam blockchain. Keterlibatan stakeholder dan kepatuhan meliputi ppilot project dengan regulator, edukasi stakeholder. Modifikasi proses audit meliputi audit berbasis teknologi, pengujian control internal.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : Rulla Alifah

1. Blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi laporan keberlanjutan karena data yang dicatat bersifat permanen, terverifikasi, dan memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini membantu mengurangi manipulasi informasi dan memberi stakeholder akses yang lebih transparan terhadap data jejak karbon maupun sumber bahan baku. Namun, teknologi ini tetap bergantung pada kualitas input; jika data awal tidak akurat, blockchain tidak dapat memperbaikinya. Karena itu, kontrol internal dan metode pengukuran yang benar tetap menjadi bagian penting untuk menjaga relevansi dan representasi yang andal dalam konteks teori akuntansi.

2. Dalam konteks Indonesia, tantangan utama mencakup kepatuhan terhadap POJK mengenai laporan keberlanjutan serta risiko pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi karena sifat blockchain yang sulit diubah. Jika sistem melibatkan token atau aset digital, perusahaan juga harus menyesuaikan diri dengan regulasi OJK yang lebih ketat. Di tingkat internasional, data on-chain harus tetap kompatibel dengan standar seperti GRI dan GHG Protocol. Selain itu, kesiapan teknologi di tingkat pemasok, potensi biaya tinggi, serta risiko dianggap melakukan greenwashing menjadi hambatan yang perlu dikelola dengan baik.

3. PT Hijau Lestari disarankan membangun tata kelola data yang jelas agar hanya data yang valid dan terverifikasi masuk ke blockchain. Penggunaan permissioned blockchain dengan model hybrid menyimpan data rinci secara off-chain dan hash di on-chain akan lebih sesuai dengan kebutuhan privasi dan regulasi. Perusahaan juga perlu mengadopsi standar pengukuran emisi yang diakui, melibatkan auditor sejak awal, serta memulai penerapan melalui pilot project terbatas untuk menguji kelayakan teknis dan regulasi. Pelibatan pemasok dan komunikasi transparan akan membantu meningkatkan penerimaan stakeholder dan memastikan manfaat teknologi benar-benar dirasakan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

1. Analisis penggunaan teknologi blokchain
Teknologi blockchain secara signifikan memperkuat prinsip-prinsip dasar teori akuntansi, yaitu reliabilitas dan transparansi, dalam praktik pelaporan keberlanjutan berlandaskan standar Global Reporting Initiative (GRI). Sebagai sistem ledger terdistribusi yang terdistribusi dan tidak dapat diubah, blockchain memastikan bahwa informasi mengenai keberlanjutan, seperti jejak karbon (GRI 305) dan sumber bahan baku, dicatat dalam urutan waktu yang akurat, tidak bisa dimanipulasi, serta diverifikasi oleh jaringan node. Dengan demikian, risiko penipuan dan kesalahan manusia dapat diminimalkan secara drastis, yang secara langsung meningkatkan ketepatan dan keandalan data (representasi yang sesuai). Selanjutnya, dengan akses data secara real-time dan terdesentralisasi, blockchain memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk memverifikasi klaim keberlanjutan secara mandiri, yang meningkatkan keterbukaan laporan dan mendukung prinsip inklusi pemangku kepentingan dalam GRI. Hal ini memungkinkan perusahaan seperti PT Hijau Lestari untuk membangun kepercayaan dengan para investor dan masyarakat umum.

2. Tantangan yang dihadapi PT Hijau Lestari
Implementasi teknologi blockchain untuk sustainability reporting menghadapi berbagai permasalahan regulasi yang serius, baik di dalam negeri maupun secara internasional. Di Indonesia, kurangnya regulasi yang jelas dari OJK atau KLHK untuk menganggap data blockchain sebagai alat bukti yang sah secara hukum, ditambah dengan tantangan dalam mematuhi UU ITE tentang perlindungan data pribadi, menciptakan ketidakpastian hukum dan kemungkinan adanya penolakan dari pihak regulator. Di tingkat global, masalah yang ada termasuk privasi data (terutama dengan regulasi seperti GDPR), tantangan interoperabilitas antar platform blockchain yang berbeda, serta ancaman keamanan siber (seperti risiko serangan 51%). Selain itu, keterbatasan infrastruktur digital yang tidak merata dan biaya implementasi yang tinggi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, serta kekhawatiran mengenai ketergantungan berlebihan pada teknologi yang mereduksi peran verifikasi manusia (masalah etika), semakin memperlambat proses adopsi yang efisien oleh perusahaan seperti PT Hijau Lestari.

3. Rekomendasi strategis
Untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan blockchain bagi sustainability reporting PT Hijau Lestari, diperlukan pendekatan bertahap yang menekankan pada keandalan dan keterbukaan. Beberapa saran yang diberikan adalah: memulai dengan proyek percontohan yang menggunakan blockchain privat (contohnya Hyperledger) pada satu indikator tertentu (seperti emisi karbon) untuk mengurangi risiko terkait regulasi, bekerja sama dengan pihak regulator Indonesia (OJK/KLHK) dan auditor pihak ketiga sejak awal untuk memastikan kepatuhan, serta mengintegrasikan kontrak pintar untuk mengotomatiskan verifikasi data sesuai dengan standar GRI guna meningkatkan tingkat transparansi,dan mengimplementasikan arsitektur hibrida (blockchain dan basis data konvensional) yang didukung oleh kecerdasan buatan untuk analisis, dalam rangka mengatasi persoalan privasi dan kemampuan interoperabilitas, sambil menjaga kepatuhan terhadap standar keamanan (ISO 27001) dan melakukan penilaian etis serta analisis biaya-manfaat yang menyeluruh sebelum melakukan adopsi secara besar-besaran.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

1. - Reliabilitas (Reliability)
Blockchain secara langsung memperkuat atribut kualitatif reliabilitas dalam kerangka konseptual akuntansi.
Keterverifikasian (Verifiability): Data transaksi atau metrik keberlanjutan (seperti konsumsi energi atau asal bahan baku) yang dicatat pada distributed ledger (buku besar terdistribusi) menjadi tidak dapat diubah (immutable) setelah diverifikasi dan ditambahkan ke chain. Ini menghilangkan kebutuhan untuk menguji integritas data secara ekstensif karena sifat teknologinya sudah memastikan kebenaran historis. Hal ini memberikan dasar yang kuat bagi stakeholder untuk percaya pada data yang disajikan.

Netralitas (Neutrality): Pencatatan otomatis melalui smart contract dan sensor IoT (Internet of Things) yang terhubung ke blockchain dapat mengurangi pertimbangan profesional (professional judgment) yang subjektif (yang rentan terhadap bias manajerial) dalam pengumpulan data. Data menjadi lebih objektif, mencerminkan transaksi atau kejadian nyata tanpa pengaruh keinginan manajemen.

- Transparansi (Transparency)
Blockchain meningkatkan transparansi data keberlanjutan (non-keuangan) secara radikal, melampaui kerangka pelaporan tradisional.
Keteraksesan (Accessibility): Dengan membuat data metrik keberlanjutan (misalnya, jejak karbon per ton produk) dapat diakses oleh pihak yang berwenang (regulator, investor, atau bahkan publik) melalui ledger yang sama, blockchain menciptakan single source of truth. Hal ini memungkinkan penelusuran (traceability) yang tak tertandingi atas klaim sustainability, dari sumber bahan baku hingga produk akhir.

Integrasi Data Keuangan & Non-Keuangan: Blockchain memungkinkan integrasi data akuntansi keuangan (misalnya, biaya pembelian bahan baku) dan data non-keuangan (misalnya, lokasi dan waktu panen bahan baku) secara real-time dalam satu sistem yang terverifikasi. Ini mendukung prinsip materialitas dalam pelaporan keberlanjutan, di mana data yang paling relevan dapat dengan mudah diverifikasi secara holistik.

2. 1. Tantangan Regulasi Indonesia
-Kejelasan Regulasi Teknologi: Regulator Indonesia (OJK, BEI) telah mengakui blockchain di sektor keuangan, tetapi belum ada kerangka regulasi yang eksplisit mengenai penggunaan blockchain untuk pelaporan non-keuangan/keberlanjutan dan bagaimana data tersebut diakui sebagai bukti audit yang sah dalam konteks kepatuhan GRI atau POJK terkait.

-Validitas Data Input: Masalah hukum terbesar adalah pada titik input (data off-chain ke on-chain). Jika data jejak karbon dari sensor atau data sumber bahan baku dari pemasok awal dimasukkan ke blockchain secara salah (Garbage in, garbage out), integritas data yang tidak dapat diubah justru menjadi bumerang. Regulasi perlu mendefinisikan standar teknis (misalnya, penggunaan IoT bersertifikasi) untuk memvalidasi input data ini.

-Kompetensi Auditor: Otoritas (PPAJP) perlu menetapkan pedoman audit untuk auditor keberlanjutan agar mampu menilai desain, kontrol, dan integritas jaringan blockchain yang digunakan perusahaan.

2. Tantangan Global dan Standar GRI
-Standar Interoperabilitas: Standar GRI adalah kerangka pelaporan, tetapi belum secara spesifik mengatur format data blockchain. PT Hijau Lestari perlu memastikan blockchain mereka dapat dioperasikan (interoperable) dengan sistem pemasok dan pembeli internasional, serta dapat menghasilkan output yang mudah dicerna dan sesuai dengan indikator GRI yang disyaratkan.

-Tata Kelola Jaringan (Network Governance): Jika blockchain adalah permissioned ledger (hanya diizinkan), PT Hijau Lestari harus mengatasi kekhawatiran stakeholder global mengenai sentralisasi. Jika ledger dikendalikan oleh satu entitas, kritikus mungkin berpendapat bahwa kepercayaan pada data tetap bergantung pada kepercayaan pada entitas tersebut.

3. 1. Fokus pada Materialitas dan Transparansi Selektif
Pilih Indikator Material (GRI): Jangan mencoba menempatkan semua data di blockchain. Prioritaskan metrik keberlanjutan yang paling material dan berisiko tinggi (seperti Emisi Gas Rumah Kaca Scope 1 & 2 atau sertifikasi sumber bahan baku). Tindakan ini selaras dengan prinsip materialitas GRI, mengalokasikan sumber daya verifikasi yang mahal ke area yang paling penting bagi stakeholder.

Implementasi Permissioned Ledger yang Terkelola: PT Hijau Lestari sebaiknya menggunakan Permissioned Blockchain (hanya pihak tertentu yang memiliki izin membaca/menulis) dan mengundang pihak independen (auditor, badan sertifikasi, atau regulator) sebagai node validator di jaringan. Hal ini mempertahankan kerahasiaan data komersial sensitif sambil memenuhi prinsip transparansi melalui mekanisme pengawasan terdistribusi.

2. Memperkuat Kontrol Internal Data Input
Integrasi IoT dan Smart Contract: Gunakan perangkat IoT dan sensor yang andal (bersertifikasi) untuk mengotomatisasi pengumpulan data jejak karbon dan energi, meminimalkan campur tangan manusia. Smart contract harus dikodekan untuk secara otomatis mencatat data ini ke blockchain hanya jika memenuhi kriteria validasi yang telah ditetapkan. Hal ini memperkuat prinsip keandalan data pada sumbernya.

Audit Kode (Code Audit): Lakukan audit independen atas kode smart contract yang mengatur pencatatan metrik keberlanjutan sebelum diimplementasikan. Tujuannya adalah memastikan logika pengakuan data non-keuangan sudah sesuai dengan interpretasi standar GRI dan tidak ada celah untuk manipulasi kode.

3. Keterlibatan Regulator dan Stakeholder
Sinyal dan Edukasi: PT Hijau Lestari harus memberi sinyal (signal) komitmennya kepada regulator dan investor tentang penggunaan blockchain sebagai alat untuk meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan. Adakan sesi edukasi yang menjelaskan bagaimana blockchain secara teknis memastikan integritas data. Ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan berpotensi mengurangi biaya modal (berdasarkan Teori Sinyal) karena laporan dianggap lebih andal.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Melinda Dwi Safitri -

Nama: Melinda Dwi Safitri

Npm: 2413031092

Kelas: 2024 C

1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas dan transparansi

Pemanfaatan blockchain bisa meningkatkan kualitas sustainability reporting karena setiap data yang tercatat bersifat immutable, time stamped, dan dapat ditelusuri kembali sehingga reliabilitas dan transparansi informasi meningkat secara signifikan. Dalam konteks jejak karbon dan asal bahan baku, teknologi ini membantu mengurangi risiko data yang direkayasa atau diedit belakangan. Namun, kehadiran sistem otomatis ini menantang teori akuntansi tradisional yang biasanya mengandalkan judgement manusia, karena akuntan harus menilai apakah data yang “terverifikasi” secara teknologi benar benar mencerminkan kondisi riil. Ini membuat blockchain memperkuat aspek objektivitas tetapi juga menuntut interpretasi baru agar laporan tetap relevan dan mudah dipahami oleh stakeholder yang tidak familiar dengan teknologi tersebut.

2. Tantangan regulasi Indonesia dan global

PT Hijau Lestari kemungkinan menghadapi kesenjangan regulasi karena otoritas Indonesia, seperti OJK atau regulator lingkungan, belum memiliki pedoman spesifik mengenai penggunaan bukti berbasis blockchain dalam pelaporan keberlanjutan. Akibatnya, walaupun datanya valid secara teknologi, belum tentu diterima sebagai bukti formal dalam audit atau kepatuhan. Di tingkat global pun adopsinya belum seragam, sementara GRI masih mengutamakan prinsip materialitas dan verifiability yang harus dipenuhi dengan cara yang dapat diaudit. Tantangan tambahan muncul dari isu keamanan data, kesiapan infrastruktur digital, hingga potensi bias jika input awal yang dimasukkan tidak akurat, sehingga perusahaan perlu memastikan kualitas data sebelum menggunakan blockchain sebagai dasar laporan.

3. Rekomendasi strategis untuk implementasi

Strategi paling realistis untuk PT Hijau Lestari adalah memulai melalui pendekatan bertahap, yaitu mengintegrasikan blockchain hanya pada elemen data yang objektif, seperti pencatatan emisi, penggunaan energi, atau informasi rantai pasok, sambil tetap menggunakan judgement akuntan untuk penilaian yang bersifat kualitatif. Perusahaan juga perlu mengembangkan kontrol internal sebelum data masuk ke sistem agar teknologi tidak mengabadikan kesalahan input. Di sisi lain, pelatihan bagi akuntan, auditor, dan tim keberlanjutan menjadi penting supaya mereka memahami cara membaca bukti on chain. Langkah ini harus diselaraskan dengan GRI dan pemantauan perkembangan standar ESG global, sehingga implementasi blockchain bisa meningkatkan kredibilitas laporan tanpa menimbulkan masalah kepatuhan atau auditability di kemudian hari.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas & transparansi dalam sustainability reporting
Blockchain dapat meningkatkan kualitas informasi akuntansi karena setiap data yang dicatat tersimpan dalam jaringan yang tidak bisa diubah dan memiliki jejak histori lengkap. Dalam pelaporan keberlanjutan, teknologi ini membantu perusahaan menunjukkan data lingkungan yang lebih akurat seperti penggunaan energi, tingkat emisi, atau aktivitas CSR, sehingga laporan lebih transparan. Hal ini sejalan dengan tujuan teori akuntansi untuk menyediakan informasi yang relevan, dapat dipercaya, dan terbuka kepada pengguna laporan, terutama investor yang peduli pada aspek keberlanjutan.
2. Tantangan regulasi Indonesia & global
Hambatan yang mungkin muncul adalah ketidaksiapan regulasi yang mengatur pencatatan akuntansi berbasis blockchain di Indonesia. Perusahaan juga harus menghadapi persoalan standar pelaporan internasional yang berbeda-beda, sehingga data yang dihasilkan belum tentu langsung bisa diterima oleh auditor global. Selain itu, implementasi memerlukan penyesuaian sistem dan keterampilan baru bagi staf akuntansi, sehingga ada risiko kesalahan penggunaan jika SDM belum menguasai teknologi. Tantangan lainnya adalah perlindungan privasi data dan kesesuaian dengan aturan perlindungan informasi digital di berbagai negara.
3. Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi
PT Hijau Lestari dapat membentuk tim lintas fungsi yang terdiri dari bagian akuntansi, IT, serta manajemen risiko untuk mengawasi proses penerapan blockchain. Perusahaan sebaiknya membuat kebijakan internal yang mengatur standar pencatatan digital agar tetap sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Kolaborasi dengan lembaga audit eksternal juga penting supaya proses verifikasi data dapat dilakukan secara konsisten. Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan smart contract untuk mengotomatisasi pencatatan transaksi keberlanjutan sehingga data yang diperoleh lebih objektif dan minim intervensi manual.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh IREN AGISTA PUTRI 2413031071 -
NAMA : IREN AGISTA PUTRI
NPM : 2413031071

1. Penggunaan teknologi blockchain secara fundamental memperkuat karakteristik kualitatif fundamental informasi akuntansi dalam sustainability reporting (SR).
- Reliabilitas (Keterandalan):
Blockchain meningkatkan reliabilitas melalui sifatnya yang immutable (tidak dapat diubah) dan erdistribusi. Setiap data yang masuk (misalnya, pengukuran jejak karbon atau sertifikasi bahan baku) dicatat secara permanen dan dapat diverifikasi oleh setiap pihak dalam jaringan (verifiability). Penggunaan smart contracts juga mendukung
netralitas dengan mengotomatisasi pencatatan dan pelaporan, mengurangi bias dan intervensi manusia dalam proses akuntansi data non-keuangan.
- Transparansi:
Data yang dicatat di ledger terdistribusi dan aman memungkinkan pengungkapan yang lebih detail dan akurat. Ini menyediakan informasi yang lebih tepat waktu dan memfasilitasi keterbandingan kinerja keberlanjutan PT Hijau Lestari dengan standar industri atau kinerja historis mereka sendiri. Secara teori, ini memastikan laporan SR menyajikan Representasi Tepat (Faithful Representation).

2. Tantangan Implementasi (Regulasi Indonesia & Global)
- Regulasi Indonesia dan Penerimaan Regulator:
Saat ini, belum ada kerangka regulasi spesifik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau bursa (BEI) yang secara eksplisit mengakui atau mengatur penggunaan blockchain untuk validasi data SR. Perusahaan perlu mengupayakan validasi dari regulator dan auditor agar data berbasis blockchain ini diterima secara resmi dalam laporan wajib.
- Integritas Data Masukan (nput Integrity):
Tantangan terbesar adalah memastikan kualitas data awal sebelum dicatat di blockchain. Jika data dari sensor (IoT) atau pemasok di luar jaringan sudah salah atau dimanipulasi (Garbage In), sifat immutable blockchain akan mengabadikan kesalahan tersebut (Garbage Out).

3. Rekomendasi Strategis
- Verifikasi Data Sumber:
Gunakan sistem Oracle Mekanisme atau integrasikan langsung dengan teknologi IoT yang aman untuk memvalidasi dan memverifikasi data jejak karbon dan rantai pasokan sebelum dimasukkan ke dalam blockchain.
- Standardisasi dan Tata Kelola:
Terapkan Smart Contract untuk mengotomatisasi perhitungan dan pelaporan sesuai dengan standar seperti GRI. Ini akan memastikan kekonsistenan dan keterbandingan data.
- Keterlibatan Regulator:
Lakukan pilot project terbatas dengan melibatkan auditor eksternal tepercaya dan OJK/BEI sejak dini. Tujuannya adalah untuk mendapatkan assurance independen dan mengurangi risiko ketidaksesuaian regulasi di masa depan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Sofia Dilara -
Nama: Sofia Dilara
NPM : 2413031091
Kelas: 2024 C

1. Analisis: Bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam konteks sustainability reporting (GRI)
Penerapan blockchain dapat membuat laporan keberlanjutan menjadi lebih terbuka dan terpercaya karena setiap data yang dimasukkan akan disimpan dalam jaringan yang tidak mudah diubah. Dalam teori akuntansi, laporan yang transparan dan dapat dipercaya merupakan dasar penting untuk pengambilan keputusan. Dengan adanya catatan digital yang permanen, pihak internal maupun eksternal bisa melacak asal data, waktu pencatatan, dan perubahan yang terjadi, sehingga jejaknya jelas. Meskipun demikian, teknologi ini tidak otomatis menjamin bahwa data yang dilaporkan benar sejak awal. Jika data dimasukkan tanpa proses kontrol, kesalahan tetap dapat terjadi, hanya saja akan tercatat secara permanen. Oleh sebab itu, blockchain lebih berfungsi sebagai sistem penguatan bukti dan pelacakan, sedangkan penilaian, verifikasi, dan pertimbangan tetap menjadi tugas profesional akuntan agar laporan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku.

2. Evaluasi: Tantangan apa yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global? 
Dalam penerapan blockchain, PT Hijau Lestari akan berhadapan dengan beberapa hambatan dari sisi aturan, pelaksanaan di lapangan, dan penerimaan publik. Di Indonesia, penggunaan bukti digital harus sesuai dengan ketentuan perlindungan data, dokumentasi elektronik, serta standar pelaporan keberlanjutan yang berlaku. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan bahwa data yang dikumpulkan dapat dipadukan dengan standar global yang digunakan dalam pelaporan GRI atau standar baru yang muncul. Tantangan di lapangan juga tidak kecil, karena akurasi data bergantung pada kemampuan sistem dalam mencatat informasi dengan benar. Kesiapan pemasok, terutama yang berskala kecil, sangat menentukan karena mereka mungkin kurang akrab dengan teknologi. Dari sisi penerimaan stakeholder, perusahaan juga perlu menunjukkan bahwa penggunaan blockchain bukan sekadar tren teknologi, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas laporan. Tanpa bukti pendukung dan penjelasan yang jelas, justru muncul risiko kecurigaan publik bahwa itu hanya strategi pencitraan lingkungan.

3. Rekomendasi strategis: Apa yang sebaiknya dilakukan PT Hijau Lestari berdasarkan teori akuntansi dan perkembangan teknologi untuk mendukung keberhasilan implementasi?
Langkah strategis yang realistis adalah memulai dari lingkup kecil, misalnya satu produk atau satu jalur pasokan, supaya perusahaan bisa menguji alur kerja, biaya, dan dampaknya. PT Hijau Lestari perlu menyiapkan sistem pengelolaan data yang jelas, termasuk siapa yang bertanggung jawab memasukkan informasi, bagaimana memverifikasi keakuratan, dan bagaimana memanfaatkan catatan digital untuk penyusunan laporan. Prinsip akuntansi tetap menekankan bahwa kualitas laporan sangat bergantung pada kualitas bukti, sehingga kontrol pada sumber data harus diperkuat. Auditor atau pihak assurance sebaiknya terlibat dari awal agar sistem yang dibangun memenuhi kebutuhan pemeriksaan. Selain itu, perusahaan perlu mengelola aspek hukum dan privasi data sambil memberikan pembekalan kepada pemasok supaya mereka merasa didukung, bukan diawasi. Setelah hasilnya terlihat positif, barulah pemanfaatan blockchain dapat diperluas secara bertahap. Dengan cara ini, manfaat bagi reputasi, efisiensi audit, dan kepercayaan pasar dapat ditingkatkan tanpa menimbulkan resistensi atau kesalahan teknis yang tidak perlu.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Esa Azalia Zahra -
Nama : Esa Azalia Zahra
NPM : 2413031084
Kelas : 24 C

1. Dampak Blockchain pada Teori Akuntansi dalam Pelaporan Keberlanjutan
Pemanfaatan teknologi blockchain dapat sangat memperkuat teori akuntansi, terutama yang berhubungan dengan karakteristik kualitas seperti reliabilitas dan transparansi informasi. Reliabilitas (keandalan) ditingkatkan melalui sifat blockchain yang tidak dapat diubah dan buku besar terdistribusi. Setiap data transaksi terkait keberlanjutan, seperti pengukuran jejak karbon atau sertifikasi sumber bahan, direkam dalam bentuk blok yang dienkripsi dan diverifikasi oleh jaringan, sehingga sulit untuk dimanipulasi setelah dicatat. Ini secara langsung meningkatkan verifiability (kemampuan untuk diverifikasi) data, yang merupakan elemen penting dari reliabilitas. Di sisi lain, transparansi juga meningkat karena informasi yang tercatat dalam blockchain publik atau izin dapat diakses dan diaudit oleh pemangku kepentingan secara langsung atau hampir langsung, tergantung pada desainnya. Akses yang langsung ini mengurangi information asymmetry (ketidaksetaraan informasi) antara perusahaan dan pemakai laporan, sejalan dengan prinsip teori agensi yang menyatakan bahwa transparansi data keberlanjutan dapat menurunkan biaya pemantauan dan membangun kepercayaan. Secara umum, blockchain menawarkan tingkat keandalan data yang bersifat teknis dan mendasar, melengkapi jaminan audit eksternal yang biasa dilakukan.

2. Tantangan Penerapan Blockchain dalam Regulasi di Indonesia dan Dunia
PT Hijau Lestari kemungkinan akan menghadapi sejumlah rintangan berkaitan dengan regulasi dan operasional. Di Indonesia, tantangan utama adalah ketidakjelasan mengenai peraturan yang spesifik tentang penggunaan blockchain untuk laporan non-finansial, terutama terkait dengan keabsahan data elektronik dan legalitas kontrak pintar sebagai bukti transaksi keberlanjutan menurut hukum atau regulator seperti OJK dan Bappebti, jika aset keberlanjutan diperdagangkan. Isu mengenai privasi data, terutama yang bersifat sensitif, juga menjadi perhatian di bawah undang-undang perlindungan data pribadi. Secara global, tantangannya lebih kepada interoperabilitas standar data. Meskipun ada standar GRI, perusahaan perlu memastikan bahwa data yang dikumpulkan dan dicatat dalam blockchain memiliki interoperabilitas semantik yang memungkinkan pertukaran data yang lancar dengan platform lain atau sistem pelaporan global seperti TCFD dan ISSB. Selain itu, ada tantangan etika dan governance, seperti menegakkan akuntabilitas dan otoritas dalam memasukkan data awal ke dalam blockchain, serta mengatasi konsumsi energi dari beberapa jenis blockchain yang dapat bertentangan dengan tujuan keberlanjutan perusahaan.

3. Rekomendasi Strategis yang Berbasis pada Teori Akuntansi dan Teknologi
Untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan, PT Hijau Lestari harus mengambil langkah-langkah strategis yang menggabungkan teori akuntansi dengan inovasi teknologi. Pertama, berdasarkan teori akuntansi positif dan teori legitimasi, perusahaan perlu memilih model blockchain dengan Struktur Tata Kelola yang jelas (seperti Permissioned Consortium Blockchain) yang mengikutsertakan pemangku kepentingan utama seperti auditor, pemasok, dan regulator sebagai titik verifikasi. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kemampuan verifikasi data tetapi juga memperkuat legitimasi di pandangan publik dan regulator. Kedua, perusahaan perlu menerapkan Penilaian Materialitas Digital untuk mengidentifikasi metrik data keberlanjutan yang paling signifikan (contohnya, data jejak karbon pada scope 1 dan 3) dan fokus pada integrasi sistem IoT/sensor untuk Otomatisasi Pencatatan ke dalam blockchain, yang dapat mengurangi kesalahan manusia dan risiko manipulasi. Ketiga, dari perspektif akuntansi biaya, perusahaan harus melakukan Analisis Biaya-Manfaat yang menyeluruh, membandingkan biaya implementasi blockchain (infrastruktur, kontrak pintar, pemeliharaan) dengan keuntungan yang diharapkan, seperti pengurangan biaya audit, peningkatan nilai merek, dan kemungkinan premium harga pada produk berkelanjutan. Terakhir, PT Hijau Lestari harus secara aktif bekerja sama dengan regulator dan organisasi industri di Indonesia (misalnya IAI dan Bursa Efek Indonesia) untuk merumuskan pedoman dan standar pelaporan yang berbasis blockchain demi memastikan kepatuhan terhadap regulasi di waktu mendatang.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Erlita Pakpahan -
Nama : Erlita pakpahan
NPM : 2413031077

1. Pengaruh Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi).
Penggunaan teknologi blockchain dalam sustainability reporting meningkatkan reliabilitas dan transparansi karena data yang tersimpan bersifat immutable, dapat diaudit, dan terlacak asal-usulnya. Hal ini membuat informasi jejak karbon dan rantai pasok menjadi lebih dapat dipercaya serta mengurangi risiko manipulasi data. Dari sudut teori akuntansi, blockchain memperkuat karakteristik kualitatif informasi akuntansi seperti verifiability dan faithful representation, sehingga laporan keberlanjutan PT Hijau Lestari menjadi lebih kredibel dan bernilai bagi stakeholder.

2. Tantangan Regulasi Indonesia & Global.
PT Hijau Lestari dapat menghadapi berbagai tantangan seperti kurangnya standar regulasi yang jelas terkait penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan di Indonesia, kesiapan infrastruktur TI, serta kebutuhan integrasi dengan standar global seperti GRI dan ISSB. Perusahaan juga perlu menghadapi isu privasi data, kesesuaian dengan UU ITE dan regulasi OJK, serta kemungkinan rendahnya pemahaman regulator dan auditor mengenai blockchain. Tantangan lainnya mencakup biaya implementasi yang tinggi dan resistensi dari karyawan atau pemasok yang belum terbiasa dengan sistem digital yang transparan.

3. Rekomendasi Strategis
PT Hijau Lestari bisa memulai implementasi secara bertahap melalui pilot project untuk data yang paling relevan seperti jejak karbon dan sumber bahan baku. Perusahaan perlu bekerja sama dengan auditor, regulator, dan ahli teknologi agar penerapan blockchain tetap sesuai standar GRI serta prinsip-prinsip akuntansi seperti relevance dan faithful representation. Selain itu, perusahaan harus menyiapkan pelatihan SDM, memperkuat kebijakan tata kelola TI, serta memastikan integrasi dengan sistem pelaporan yang sudah ada. Dengan pendekatan bertahap dan berbasis teori akuntansi, teknologi blockchain dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kredibilitas sustainability reporting.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Rizky Abelia Putri -
Nama: Rizky Abelia Putri
Npm: 2413031098

1 Analisis
Blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam sustainability reporting GRI melalui ledger terdistribusi yang immutable, memastikan data jejak karbon dan rantai pasok tidak dapat diubah secara retrospektif, selaras dengan teori akuntansi seperti faithful representation dalam Conceptual Framework IASB. Untuk PT Hijau Lestari, ini memungkinkan verifikasi real-time oleh stakeholder, mengurangi greenwashing dan meningkatkan kredibilitas laporan dibandingkan metode manual yang rentan manipulasi. Namun, tantangan mencakup kurangnya standarisasi data ESG on-chain yang kompatibel dengan GRI, sehingga memerlukan mapping protokol untuk interoperability.​

2.Tantangan Regulasi dan Implementasi
Di Indonesia, PT Hijau Lestari menghadapi regulasi OJK dan POJK No. 51/2017 tentang Pelaporan Keuangan Berkelanjutan yang belum secara eksplisit mengakomodasi blockchain, berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum terkait validitas data digital sebagai bukti audit. Secara global, kerangka GRI dan TCFD mendukung transparansi blockchain, tetapi isu privasi data (GDPR) dan konsumsi energi proof-of-work menghambat adopsi skala besar. Tantangan lain termasuk integrasi dengan sistem IT existing dan biaya awal tinggi untuk konsorsium blockchain.​

3. Rekomendasi Strategis
memelihra atau adopsi permissioned blockchain seperti Hyperledger untuk mengontrol akses stakeholder, dengan mapping data ke GRI standards melalui API dan IoT untuk otomatisasi jejak karbon. Lakukan pilot project dengan auditor independen untuk validasi smart contract, dan kolaborasi dengan regulator OJK guna mengembangkan panduan blockchain-specific. Integrasikan governance framework berbasis teori stewardship untuk memastikan akuntabilitas, termasuk pelatihan manajemen pada etika data dan continuous auditing.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​‎NPM : 2413031088 

‎‎1.Analisislah bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam konteks pelaporan keberlanjutan. Jawab : ‎Penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi secara menyeluruh, terutama dalam konteks reliabilitas dan transparansi informasi akuntansi dalam pengajuan permohonan. Blockchain, dengan strukturnya yang terdesentralisasi dan sifatnya yang transparan, memungkinkan setiap transaksi dan pencatatan data untuk kinerja dan dilacak secara permanen. Hal ini mengurangi kemungkinan manipulasi data, sehingga meningkatkan reliabilitas informasi yang disajikan.Dengan blockchain, setiap pemangku kepentingan, termasuk investor dan pelanggan, dapat mengakses Informasi dengan cara yang lebih mudah dan akurat. Misalnya, informasi terkait jejak karbon dan sumber bahan baku dapat diakses secara real-time, Ini memberikan gambaran yang lebih jernih tentang kinerja keberhentian perusahaan, yang selanjutnya dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. 

2 . Evaluasilah tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global. Jawab: ‎Meskipun banyak manfaatnya, penerapan blockchain di PT Hijau Lestari menghadapi sejumlah tantangan, baik dari sisi regulasi di Indonesia maupun di tingkat global. Di Indonesia, regulasi terkait blockchain masih dalam tahap perkembangan. Banyak aturan yang belum siap untuk mengakomodir teknologi baru ini, dan hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan kelancaran dalam pelaksanaan siklus berikutnya. Di tingkat global, meskipun blockchain banyak dipuji sebagai teknologi inovatif, penerimaan dan pemahaman terhadapnya bisa sangat bervariasi antar negara. Hal ini bisa menimbulkan keluhan dan kesulitan dalam memenuhi standar akuntansi dan pelaporan internasional. Selain itu, ada juga tantangan teknologi, seperti kebutuhan infrastruktur IT yang memadal dan keterampilan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengelola dan memelihara sistem blockchain. Tanpa dukungan yang cukup, implementasi bisa terhambat, bahkan bisa menjadi beban bagi perusahaan, 

‎ ‎3 . Memberikan rekomendasi strategi berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi ini. Jawab: ‎Untuk mengatasi tantangan yang ada, PT Hijau Lestari dapat mempertimbangkan beberapa rekomendasi strategi. Pertama, penting untuk meningkatkan pemahaman tentang blockchain di kalangan manajemen dan pemangku kepentingan melalui pelatihan atau lokakarya. Dengan pemahaman yang lebih baik, dukungan untuk inisiatif ini diharapkan akan meningkat.
Kedua, perusahaan sebaiknya menjalin kerjasama dengan regulator dan lembaga terkait untuk membantu menyusun pedoman dan regulasi yang sesuai dengan penggunaan blockchain dalam pelaporan izin. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang lebih ramah lingkungan dan mengurangi risiko hukum.
Selanjutnya, keterlibatan pihak ketiga independen untuk melakukan audit dan verifikasi data yang tercatat di blockchain dapat memperkuat kepercayaan terhadap informasi yang disajikan. Langkah-langkah ini akan membantu PT Hijau Lestari tidak hanya dalam meningkatkan integritas dan transparansi laporan yang diinginkan, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan di pasar yang semakin menuntut. ‎ ‎

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Pengaruh Blockchain terhadap Keakuratan dan Transparansi Laporan Keberlanjutan Akuntansi
Blockchain meningkatkan akurasi data akuntansi dengan sistem pencatatan terdesentralisasi dan permanen, mencegah manipulasi data tentang emisi karbon serta asal bahan baku, selaras dengan prinsip keandalan GRI yang menekankan validasi. Transparansi terwujud berkat pemantauan langsung rantai pasok pertanian, meminimalisir praktik greenwashing dengan riwayat audit yang terus dapat diakses oleh pihak berkepentingan. Dalam laporan keberlanjutan, ini memperkuat prinsip representasi setia dari IFRS S1/S2 yang mengadopsi GRI.

Kendala Penerapan Blockchain dalam Regulasi di Indonesia dan Dunia
Di Indonesia, PT Hijau Lestari menghadapi ambiguitas dalam regulasi OJK POJK 51/2017 yang mewajibkan laporan keberlanjutan, namun belum spesifik mengatur blockchain, ditambah lagi minimnya infrastruktur digital serta keahlian internal di bidang agribisnis. Di kancah global, terdapat masalah terkait skala blockchain untuk pemrosesan big data, penggunaan energi yang besar, serta sulitnya interoperabilitas antara platform GRI dan ISSB. Biaya implementasi yang mahal dan resistensi dari organisasi juga menjadi penghalang adopsi di UMKM sektor pertanian.

Saran Strategis Implementasi Blockchain
Memulai dengan proyek uji coba bertahap terkait jejak karbon dan rantai pasokan memakai blockchain berizin yang terhubung dengan IoT untuk memperoleh data secara langsung, sesuai dengan teori institusional yang mendorong adaptasi bertahap. Bekerja sama dengan regulator OJK lewat regulatory sandbox, memberikan pelatihan kepada akuntan mengenai digital ESG, serta membuat standar data GRI agar bisa beroperasi secara interoperable. Memakai smart contracts untuk otomatisasi validasi klaim keberlanjutan bisa meningkatkan efisiensi audit serta kepercayaan investor.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Silviana Febriani -
NAMA: SILVIANA FEBRIANI
NPM: 2413031075

1. Penggunaan blockchain bisa memperkuat reliabilitas dan transparansi dalam sustainability reporting karena data yang dicatat bersifat permanen dan sulit diubah. Informasi seperti jejak karbon atau asal bahan baku bisa diverifikasi langsung dari sumber tanpa bergantung pada satu pihak. Ini sesuai dengan teori akuntansi yang menekankan keandalan, keterlacakan, dan bukti objektif. Blockchain juga membantu mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan stakeholder karena semua data dapat ditelusuri. Namun, penerapannya tetap membutuhkan sistem input data yang akurat karena teknologi tidak otomatis menjamin kebenaran jika data awal salah.

2. PT Hijau Lestari bisa menghadapi tantangan regulasi karena penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan belum banyak diatur di Indonesia. Standardisasi data lingkungan masih berkembang. Regulator mungkin meminta bukti kepatuhan pada SNI, OJK, atau pedoman GRI yang belum sepenuhnya mengakomodasi teknologi baru. Ada juga tantangan teknis seperti integrasi dengan sistem existing dan kesiapan SDM. Perusahaan harus memastikan privasi data, keamanan digital, dan kapasitas jaringan. Tantangan global muncul dari kebutuhan untuk mengikuti standar laporan yang berbeda seperti ISSB dan EU CSRD yang mungkin meminta format pelaporan tertentu.

3. Rekomendasi strategis yang bisa dilakukan adalah memastikan desain sistem blockchain selaras dengan prinsip akuntansi seperti relevansi, reliabilitas, dan verifiability. Perusahaan bisa memulai dari pilot project untuk data jejak karbon atau rantai pasok bahan baku agar risiko dapat dikontrol. PT Hijau Lestari perlu bekerja sama dengan auditor, regulator, dan konsultan teknologi agar implementasi sejalan dengan GRI, standar nasional, dan perkembangan global. Pelatihan internal juga penting agar data yang dimasukkan benar dan konsisten. Perusahaan juga bisa mengembangkan governance framework untuk menjaga kualitas data dan menetapkan mekanisme verifikasi pihak ketiga agar laporan keberlanjutan lebih dipercaya stakeholder.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Salwa Trisia Anjani -
Salwa Trisia Anjani
2413031090

Jawab:
1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas & transparansi dalam sustainability reporting:
Penggunaan blockchain dapat memperkuat kualitas informasi akuntansi PT Hijau Lestari karena setiap data yang dicatat bersifat immutable, memiliki jejak waktu, dan dapat diverifikasi oleh pihak lain. Dalam konteks teori akuntansi, hal ini meningkatkan reliabilitas karena data jejak karbon maupun asal bahan baku tidak mudah dimanipulasi dan dapat ditelusuri sumbernya. Selain itu, blockchain juga meningkatkan transparansi, sebab alur data dari pemasok hingga tahap produksi dapat terlihat dengan jelas dan konsisten. Namun, reliabilitas tetap bergantung pada kebenaran data yang dimasukkan, sehingga kontrol internal dan verifikasi input tetap sangat diperlukan. Dengan kata lain, blockchain memperkuat fondasi teori akuntansi terkait keandalan dan keterbukaan, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan sistem pengendalian internal yang baik.


2. Tantangan bagi PT Hijau Lestari dalam regulasi Indonesia & global:
Meskipun potensial, penerapan blockchain menghadapi beberapa tantangan. Di Indonesia, regulasi terkait penggunaan blockchain untuk pelaporan keberlanjutan masih terbatas, sehingga perusahaan harus berhati-hati menyesuaikan praktiknya dengan aturan OJK, UU PDP, dan standar pelaporan GRI. Pada tingkat internasional, standar keberlanjutan juga terus berkembang, sehingga PT Hijau Lestari harus memastikan bahwa sistem blockchain yang digunakan selaras dengan GRI, ISSB, dan GHG Protocol. Dari sisi operasional, tantangan muncul dari integrasi data, kesiapan pemasok kecil, serta kebutuhan assurance pihak ketiga untuk memverifikasi data on-chain. Selain itu, perusahaan harus memastikan bahwa teknologi yang dipakai tidak menimbulkan persepsi negatif, seperti tingginya konsumsi energi atau isu privasi data.


3. Rekomendasi strategis untuk keberhasilan implementasi:
Agar implementasi blockchain berhasil, PT Hijau Lestari sebaiknya memulai dengan pilot project pada satu jenis bahan baku atau satu lini produksi untuk menguji keandalan sistem. Perusahaan perlu membentuk tim lintas fungsi yang melibatkan unit akuntansi, TI, keberlanjutan, hukum, dan pengadaan guna menyusun tata kelola data yang jelas. Teknologi yang digunakan sebaiknya berbasis permissioned blockchain, yang lebih efisien dan sesuai kebutuhan privasi. Selain itu, perusahaan harus menyusun prosedur akuntansi yang memastikan data yang masuk sudah diverifikasi, serta bekerja sama dengan auditor berpengalaman dalam verifikasi teknologi. Melalui kombinasi pengendalian internal yang kuat, pemilihan teknologi yang tepat, dan komunikasi transparan kepada stakeholder, blockchain dapat memberikan nilai strategis dalam meningkatkan kualitas sustainability reporting perusahaan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Alfiantika Putri -
Nama : Alfiantika Putri
NPM : 2413031095

Jawaban pertanyaan :

1. Blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi karena setiap data terkait jejak karbon dan sumber bahan baku tercatat secara permanen, tidak dapat diubah, dan mudah diverifikasi. Hal ini memperkuat _faithful representation_, meningkatkan keandalan, serta membuat pelaporan keberlanjutan lebih transparan sesuai prinsip akuntansi modern.
2. Tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari yaitu belum adanya regulasi spesifik di Indonesia terkait blockchain untuk sustainability reporting, biaya implementasi yang tinggi, kebutuhan tenaga ahli, serta risiko terkait privasi dan keamanan data pemasok. Selain itu, penerimaan auditor dan regulator global juga belum sepenuhnya seragam sehingga metode verifikasi berbasis blockchain masih perlu disesuaikan.
3. Rekomendasi strategisnya adalah memulai dengan proyek percontohan yang kecil, menggunakan blockchain berizin agar data sensitif tetap terjaga, serta memastikan seluruh proses selaras dengan standar GRI dan pedoman ESG dari OJK. Perusahaan perlu menyiapkan tata kelola data yang kuat dan melibatkan auditor sejak tahap awal agar implementasinya dapat diterima serta mendukung kualitas informasi akuntansi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Nuraini Naibaho 2413031076 -

Nama : Nuraini Naibaho

Npm   : 2413031076

Kelas  : 24 C

1. Pengaruh Blokchain terhadap Reliabilitas dan Transparansi

Penerapan blockchain bisa memperkuat kualitas informasi dalam sustainability reporting karena setiap data yang dicatat bersifat tetap, berurutan, dan tidak bisa dimodifikasi. Ini membuat informasi seperti jejak karbon atau asal bahan baku lebih dapat dipercaya dan mudah diverifikasi. Dari sisi transparansi, blockchain juga membantu menunjukkan alur rantai pasok secara lebih terbuka, sehingga laporan keberlanjutan lebih mencerminkan kondisi sebenarnya dan sejalan dengan prinsip faithful representation dalam teori akuntansi.

2. Tantangan Bagi PT. Hijau Lestari

Walaupun manfaatnya besar, perusahaan tetap menghadapi hambatan, terutama karena regulasi Indonesia belum mengatur secara spesifik penggunaan blockchain untuk pelaporan keberlanjutan. Perusahaan harus tetap mengikuti GRI, OJK, dan standar internasional yang lebih fokus pada isi laporan dibanding teknologinya. Selain itu, biaya implementasi, keterbatasan kemampuan teknis, potensi kesalahan input data, dan kesiapan supplier untuk ikut memakai sistem baru juga menjadi kendala yang cukup berarti.

3. Rekomendasi Strategi Implementasi

Strategi terbaik adalah memulai dari skala kecil melalui pilot project agar perusahaan bisa belajar tanpa risiko besar. Menggunakan blockchain jenis private lebih aman dan sesuai dengan kondisi regulasi Indonesia. Perusahaan juga perlu menyiapkan prosedur pencatatan data yang ketat, melibatkan auditor sejak awal, serta memastikan laporan tetap mengikuti standar seperti GRI atau ISSB. Edukasi internal dan komunikasi dengan mitra rantai pasok juga penting agar sistem dapat berjalan dengan baik.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Della Puspita -
Nama :Della Puspita
NPM :2453031007

1. Dampak Blockchain pada Keandalan dan Keterbukaan Laporan Keberlanjutan
Teknologi blockchain mampu meningkatkan mutu informasi dalam pelaporan keberlanjutan sebab setiap data yang dimasukkan dicatat secara permanen dan sulit untuk dimodifikasi. Menurut teori akuntansi, hal tersebut memperkokoh keandalan karena bukti pencatatan menjadi lebih terpercaya dan dapat dilacak. Keterbukaan juga ditingkatkan karena jejak data, seperti emisi karbon atau sumber bahan mentah, dapat diverifikasi oleh pihak eksternal, bukan sekadar mengandalkan pernyataan perusahaan. Akibatnya, blockchain berkontribusi pada laporan keberlanjutan yang lebih obyektif dan meyakinkan bagi pemangku kepentingan.

2. Hambatan dalam Regulasi di Indonesia dan Dunia
Tantangan utama yang dihadapi PT Hijau Lestari adalah ketiadaan peraturan khusus terkait penerapan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan di Indonesia. Perusahaan harus memastikan bahwa data yang dicatat tetap mematuhi standar Global Reporting Initiative (GRI) dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, kesiapan infrastruktur dapat menjadi kendala karena sektor agribisnis sering melibatkan pemasok kecil yang belum familiar dengan teknologi tersebut. Pada skala global, standar pemanfaatan blockchain untuk pelaporan ESG belum sepenuhnya seragam, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan format data agar diterima oleh regulator dan investor internasional. Masalah privasi data juga harus diwaspadai karena tidak semua informasi dapat dibuka secara umum.

3. Saran Strategis untuk Mendukung Pelaksanaan
Untuk memastikan keberhasilan implementasi, perusahaan sebaiknya memulai dari bidang yang paling memerlukan bukti kuat, seperti pencatatan emisi karbon atau asal bahan mentah. PT Hijau Lestari perlu menyusun prosedur internal yang tetap sejalan dengan GRI dan regulasi nasional agar penggunaan blockchain tidak menimbulkan masalah kepatuhan. Pelatihan untuk pemasok dan tim internal juga krusial untuk menjaga konsistensi kualitas data. Lebih lanjut, berkolaborasi dengan konsultan atau penyedia teknologi blockchain yang berpengalaman di bidang keberlanjutan dapat membantu perusahaan memastikan sistem yang digunakan sesuai dengan standar internasional. Pendekatan ini menjadikan blockchain sebagai instrumen yang benar-benar mendukung akuntabilitas dan kredibilitas laporan keberlanjutan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C

1. Dampak Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Transparansi)
Penggunaan blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi karena setiap data keberlanjutan seperti jejak karbon atau asal bahan baku dicatat secara permanen dan sulit dimodifikasi. Ini sejalan dengan prinsip faithful representation dalam teori akuntansi. Namun, blockchain juga menantang konsep tradisional karena akuntabilitas berpindah dari manusia ke sistem. Jika data awal yang dimasukkan salah, blockchain justru mengabadikan kesalahan tersebut. Artinya, reliabilitas tidak hanya berasal dari teknologi, tetapi dari kualitas governance dan kontrol internal yang memastikan data yang masuk benar dan dapat diverifikasi.

2. Tantangan Regulasi di Indonesia dan Global
Tantangan utama adalah belum adanya pedoman regulasi spesifik di Indonesia yang mengatur penggunaan blockchain dalam sustainability reporting, sehingga auditor dan regulator mungkin meragukan validitasnya. Integrasi blockchain dengan standar GRI juga belum sepenuhnya terakomodasi. Selain itu, perbedaan standar global, isu privasi data, dan keterbatasan kemampuan rantai pasok terutama petani kecil dapat menimbulkan inkonsistensi data. Stakeholder mungkin menghargai transparansi, tetapi mereka tetap menuntut penjelasan teknis dan jaminan bahwa teknologi tidak menggantikan penilaian profesional.

3. Rekomendasi Strategis
PT Hijau Lestari perlu membangun tata kelola data yang kuat, termasuk audit data awal dan standar input sebelum data masuk ke blockchain. Perusahaan juga sebaiknya menerapkan hybrid assurance: audit teknologi digabungkan dengan audit profesional untuk memastikan informasi tetap sesuai prinsip akuntansi dan GRI. Selain itu, perusahaan harus berkolaborasi dengan regulator dan auditor sejak awal agar implementasi diterima secara formal, sekaligus melatih seluruh rantai pasok agar mampu menghasilkan data yang akurat. Dengan langkah ini, blockchain dapat menjadi alat peningkat kredibilitas, bukan sekadar inovasi teknologi yang sulit diverifikasi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Penggunaan teknologi blockchain berpotensi memperkuat prinsip reliabilitas dan transparansi dalam teori akuntansi, khususnya pada pelaporan keberlanjutan. Blockchain memungkinkan pencatatan data yang bersifat immutable (tidak dapat diubah), dapat ditelusuri, dan terverifikasi secara kronologis, sehingga mengurangi risiko manipulasi data seperti jejak karbon atau asal bahan baku. Dalam konteks teori akuntansi, hal ini memperkuat faithful representation karena informasi yang disajikan lebih lengkap dan bebas dari bias pasca pencatatan. Selain itu, transparansi meningkat karena stakeholder dapat menelusuri sumber data secara langsung. Namun, reliabilitas tetap bergantung pada kualitas data awal yang dimasukkan ke dalam sistem, sehingga prinsip akuntansi masih memerlukan pengendalian dan verifikasi manusia.

2. Tantangan utama yang dihadapi PT Hijau Lestari adalah belum adanya regulasi akuntansi dan pelaporan keberlanjutan di Indonesia yang secara spesifik mengatur penggunaan blockchain. Hal ini menimbulkan ketidakpastian terkait pengakuan, auditabilitas, dan tanggung jawab hukum atas data berbasis teknologi tersebut. Di tingkat global, perbedaan standar keberlanjutan, perlindungan data, dan kebijakan lintas negara juga dapat menyulitkan penyelarasan/harmonisasi pelaporan. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia, biaya implementasi, serta potensi resistensi dari stakeholder yang belum familier dengan teknologi blockchain menjadi tantangan tambahan.

3. Secara strategis, PT Hijau Lestari sebaiknya menerapkan blockchain secara bertahap dan terintegrasi dengan standar GRI yang sudah ada, bukan sebagai pengganti sistem pelaporan konvensional. Dari perspektif teori akuntansi, perusahaan perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap selaras dengan prinsip relevansi, keandalan, dan kehati-hatian. Penguatan tata kelola data, keterlibatan auditor sejak tahap desain sistem, serta pengungkapan yang jelas mengenai metodologi dan keterbatasan teknologi menjadi kunci keberhasilan. Selain itu, edukasi stakeholder dan dialog dengan regulator penting dilakukan agar inovasi teknologi ini dapat diterima dan memberikan nilai tambah nyata bagi transparansi dan akuntabilitas pelaporan keberlanjutan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Aura Liyanti -
Nama : Aura Liyanti Fani
NPM : 2413031089


1. Dalam teori akuntansi khususnya terkait kualitas informasi akuntansi, reabilitas dan transparansi merupakan karakteristik kualitatif utama. Penggunaan teknologi blockchain berpotensi memperkuat kedua karakteristik ini dalam konteks laporan keberlanjutan PT Hijau Lestari. Dari perspektif agency theory, blockchain dapat mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan pemangku kepentingan. Data terkait jejak karbon dan sumber bahan baku yang dicatat secara real-time dan tidak dapat diubah dapat mengurangi kemungkinan manipulasi atau pemutihan data. Hal ini meningkatkan tingkat kepercayaan di antara pengguna laporan keberlanjutan karena manajemen tidak dapat dengan mudah mengubah informasi secara sepihak. Sudut pandang dari perspektif teori stewardship, blockchain mendukung peran manajemen sebagai entitas yang bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Transparansi yang dihasilkan oleh blockchain memperkuat tanggung jawab moral dan sosial Perusahaan dan memastikan bahwa laporan keberlanjutan tidak hanya bersifat simbolis tetapi mencerminkan kondisi lingkungan yang sebenarnya. Meskipun blockchain meningkatkan keandalan teknis data, relevansi dan representasi yang akurat namun masih bergantung pada bagaimana indikator keberlanjutan didefinisikan dan diukur. Ini berarti bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan penilaian profesional dalam akuntansi keberlanjutan.

2. Tantangan utama yang dihadapi PT Hijau Lestari adalah kurangnya kesiapan regulasi. Di Indonesia, pelaporan keberlanjutan masih dalam tahap awal dan terutama didasarkan pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) dan standar GRI yang tidak secara spesifik mengatur penggunaan blockchain sebagai alat pencatatan dan verifikasi data. Hal ini menimbulkan ketidakpastian mengenai legalitas, standar audit, dan pengakuan regulasi terhadap data berbasis blockchain. Secara global perbedaan regulasi antar negara mengenai perlindungan data, standar lingkungan, dan teknologi digital juga menimbulkan tantangan. Sifat lintas batas blockchain dapat menimbulkan masalah tata kelola data, khususnya mengenai kerahasiaan data dari pemasok dan petani lokal. Selain itu, biaya implementasi dan kebutuhan akan sumber daya manusia yang familiar dengan teknologi dan akuntansi keberlanjutan menghadirkan hambatan operasional yang signifikan.

3. Secara strategis, PT Hijau Lestari sebaiknya menerapkan blockchain secara bertahap (hybrid approach), dengan menggunakan teknologi tersebut sebagai alat pendukung verifikasi data bukan hanya sebagai pengganti sistem informasi yang ada secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian akuntansi untuk menghindari risiko implementasi yang terlalu agresif.

Perusahaan juga harus memperkuat tata kelola dan pengendalian internal, termasuk menetapkan standar untuk mengukur emisi dan sumber bahan baku sesuai dengan GRI. Kolaborasi antara akuntan, ahli lingkungan, dan spesialis teknologi merupakan kunci untuk memastikan bahwa data yang tercatat tidak hanya akurat secara teknis tetapi juga bermakna dari perspektif akuntansi.
PT Hijau Lestari juga disarankan untuk melibatkan auditor, regulator, dan pemangku kepentingan utama sejak awal untuk memastikan bahwa adopsi blockchain dipahami sebagai upaya untuk meningkatkan transparansi bukan hanya sebagai strategi hubungan masyarakat. Dengan pendekatan ini, implementasi blockchain dapat memperkuat kredibilitas laporan keberlanjutan sekaligus mendukung tujuan keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Dwi Nurshovi Diana Sari -
Nama : Dwi Nurshovi Diana Sari
NPM : 2413031072

1. Penilaian Dampak Blockchain terhadap Ketepatan dan Keterbukaan Informasi
Dari sudut pandang teori akuntansi, penerapan blockchain secara signifikan meningkatkan kualitas informasi, terutama dalam hal ketepatan dan kemampuan untuk diverifikasi. Karakteristik blockchain yang tidak dapat diubah dan terdistribusi membentuk jejak audit digital yang permanen untuk semua transaksi jejak karbon dan rantai pasok. Ini mengalihkan cara pandang transparansi dari "kepercayaan yang bergantung pada institusi" menjadi "kepercayaan yang didasarkan pada sistem". Dengan data yang disimpan secara langsung dan tersebar di berbagai titik, potensi manipulasi data atau praktik greenwashing dapat diminimalkan, sehingga informasi terkait keberlanjutan yang disajikan memiliki tingkat kepastian yang hampir setara dengan data keuangan konvensional.

2. Penilaian Kendala Pelaksanaan dalam Konteks Regulasi Indonesia dan Internasional
PT Hijau Lestari akan menghadapi hambatan dalam menyelaraskan teknologi dengan regulasi yang masih berkembang. Di Indonesia, meskipun OJK telah merilis POJK No. 51/2017 tentang Keuangan Berkelanjutan, belum ada peraturan khusus yang mengakui data blockchain sebagai satu-satunya bukti audit dalam laporan keberlanjutan. Secara internasional, tantangan timbul dari ketidakcocokan antara standar GRI dan berbagai teknologi blockchain. Selain itu, ada pula isu etika dan privasi data yang berkaitan dengan pengungkapan informasi rantai pasok dalam jaringan terbuka yang kompetitif, serta tingginya biaya investasi dalam teknologi yang perlu dibenarkan kebermanfaatannya untuk pemangku kepentingan dalam jangka panjang.

3. Saran Strategis Berdasarkan Teori Akuntansi dan Teknologi
Saran utama untuk PT Hijau Lestari adalah menerapkan sistem informasi akuntansi hibrida, di mana blockchain berfungsi sebagai buku pembantu digital untuk memverifikasi data mentah, sementara laporan akhir mengikuti kerangka kerja standar akuntansi yang berlaku (GRI dan IFRS Sustainability Standards). Perusahaan harus memberikan pelatihan kepada auditor eksternal mengenai cara kerja smart contracts yang digunakan agar proses audit dapat dilakukan dengan efisien. Selain itu, sebagai langkah strategis, PT Hijau Lestari harus memastikan adanya pengelolaan data yang baik untuk menjamin bahwa data yang dimasukkan ke dalam blockchain tetap akurat dari awal, sehingga integritas laporan keberlanjutan sesuai dengan prinsip kejujuran dalam akuntansi tetap terjaga.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh vie amanillah -
Nama: Vie Amanillah
NPM: 2413031097

1. Penggunaan blockchain secara mendasar mengubah cara teori akuntansi melihat kualitas informasi:
-Dalam teori akuntansi yang lama, keandalan sering kali tergantung pada pemeriksaan oleh pihak ketiga (auditor). Dengan adanya blockchain, keandalan beralih ke "Kepercayaan Algoritmik". Karena data tidak bisa diubah, risiko manipulasi laba atau "greenwashing" (seperti yang dibahas dalam studi manajemen laba) bisa dikurangi dengan sangat baik.
-Blockchain mengurangi ketidaksetaraan informasi antara manajemen dan pemangku kepentingan. Teori Keagenan (Agency Theory) mengatakan bahwa manajer cenderung menyembunyikan informasi buruk. Dengan buku besar yang distribusi, data tentang jejak karbon dan asal bahan baku bisa diakses secara langsung dan dicek oleh semua orang dalam rantai pasokan.
-Pelaporan keberlanjutan yang tradisional biasanya dilakukan setahun sekali. Blockchain memungkinkan pelaporan yang terus menerus, sehingga informasi menjadi lebih relevan bagi investor ESG yang butuh data terbaru untuk mengambil keputusan.

2. Meskipun secara teknologi sangat menjanjikan, PT Hijau Lestari akan menghadapi beberapa masalah berikut:
-Saat ini, peraturan di Indonesia, seperti POJK No. 51/2017, mengharuskan adanya laporan keberlanjutan. Namun, belum ada peraturan yang jelas tentang standar teknologi untuk laporan digital. Status data blockchain sebagai bukti yang sah dalam audit akuntansi masih tidak pasti.
-Di seluruh dunia, ada kesulitan dalam menyamakan data blockchain dengan standar XBRL, seperti yang dijelaskan dalam video IFAC. Data yang ada di blockchain perlu dapat diubah ke dalam format digital yang bisa dibaca oleh mesin agar bisa dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain di dunia.
-Artikel tentang penerapan teknologi di pasar yang sedang berkembang menyebutkan bahwa biaya awal untuk membangun infrastruktur blockchain sangat besar. Bagi perusahaan di bidang agribisnis, tantangannya adalah menghubungkan data dari petani kecil, yang menjadi pemasok bahan baku, ke dalam sistem digital yang lebih canggih.

3. Untuk membantu keberhasilan pelaksanaan, saya punya beberapa saran berikut:
-Menggunakan Standar Pelaporan Digital (Berbasis XBRL): PT Hijau Lestari sebaiknya tidak hanya memanfaatkan blockchain, tetapi juga memastikan bahwa data yang dihasilkan sudah dilabeli dengan XBRL. Ini akan membuat informasi lebih jelas dan menurunkan biaya modal, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian di Indonesia.
-Menggunakan "Smart Contract" untuk Kepatuhan: Manfaatkan smart contracts untuk otomatisasi pencatatan data keberlanjutan. Contohnya, data emisi dari pabrik kelapa sawit bisa langsung dikirimkan ke buku besar tanpa campur tangan manusia. Ini memastikan informasi yang akurat karena mengurangi kesalahan yang bisa dilakukan oleh orang.
-Bekerjasama dengan auditor yang ahli dalam IT Audit. Daripada melakukan audit setiap tahun, perusahaan dapat memberikan akses terbatas ke blockchain kepada auditor sehingga mereka bisa memantau operasi sepanjang tahun.
-Sesuai dengan teori legitimasi, perusahaan perlu menjelaskan penerapan teknologi ini kepada masyarakat lokal dan LSM sebagai bukti keseriusan dalam menjaga transparansi. Ini akan membantu memperkuat izin sosial untuk beroperasi.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY 1

oleh Afita Nurmala Sari -
nama :afita nurmala sari
npm :2454032006

1. - Reliabilitas (Reliability)
Blockchain secara langsung memperkuat atribut kualitatif reliabilitas dalam kerangka konseptual akuntansi.
Keterverifikasian (Verifiability): Data transaksi atau metrik keberlanjutan (seperti konsumsi energi atau asal bahan baku) yang dicatat pada distributed ledger (buku besar terdistribusi) menjadi tidak dapat diubah (immutable) setelah diverifikasi dan ditambahkan ke chain. Ini menghilangkan kebutuhan untuk menguji integritas data secara ekstensif karena sifat teknologinya sudah memastikan kebenaran historis. Hal ini memberikan dasar yang kuat bagi stakeholder untuk percaya pada data yang disajikan.

Netralitas (Neutrality): Pencatatan otomatis melalui smart contract dan sensor IoT (Internet of Things) yang terhubung ke blockchain dapat mengurangi pertimbangan profesional (professional judgment) yang subjektif (yang rentan terhadap bias manajerial) dalam pengumpulan data. Data menjadi lebih objektif, mencerminkan transaksi atau kejadian nyata tanpa pengaruh keinginan manajemen.

- Transparansi (Transparency)
Blockchain meningkatkan transparansi data keberlanjutan (non-keuangan) secara radikal, melampaui kerangka pelaporan tradisional.
Keteraksesan (Accessibility): Dengan membuat data metrik keberlanjutan (misalnya, jejak karbon per ton produk) dapat diakses oleh pihak yang berwenang (regulator, investor, atau bahkan publik) melalui ledger yang sama, blockchain menciptakan single source of truth. Hal ini memungkinkan penelusuran (traceability) yang tak tertandingi atas klaim sustainability, dari sumber bahan baku hingga produk akhir.

Integrasi Data Keuangan & Non-Keuangan: Blockchain memungkinkan integrasi data akuntansi keuangan (misalnya, biaya pembelian bahan baku) dan data non-keuangan (misalnya, lokasi dan waktu panen bahan baku) secara real-time dalam satu sistem yang terverifikasi. Ini mendukung prinsip materialitas dalam pelaporan keberlanjutan, di mana data yang paling relevan dapat dengan mudah diverifikasi secara holistik.

2. 1. Tantangan Regulasi Indonesia
-Kejelasan Regulasi Teknologi: Regulator Indonesia (OJK, BEI) telah mengakui blockchain di sektor keuangan, tetapi belum ada kerangka regulasi yang eksplisit mengenai penggunaan blockchain untuk pelaporan non-keuangan/keberlanjutan dan bagaimana data tersebut diakui sebagai bukti audit yang sah dalam konteks kepatuhan GRI atau POJK terkait.

-Validitas Data Input: Masalah hukum terbesar adalah pada titik input (data off-chain ke on-chain). Jika data jejak karbon dari sensor atau data sumber bahan baku dari pemasok awal dimasukkan ke blockchain secara salah (Garbage in, garbage out), integritas data yang tidak dapat diubah justru menjadi bumerang. Regulasi perlu mendefinisikan standar teknis (misalnya, penggunaan IoT bersertifikasi) untuk memvalidasi input data ini.

-Kompetensi Auditor: Otoritas (PPAJP) perlu menetapkan pedoman audit untuk auditor keberlanjutan agar mampu menilai desain, kontrol, dan integritas jaringan blockchain yang digunakan perusahaan.

2. Tantangan Global dan Standar GRI
-Standar Interoperabilitas: Standar GRI adalah kerangka pelaporan, tetapi belum secara spesifik mengatur format data blockchain. PT Hijau Lestari perlu memastikan blockchain mereka dapat dioperasikan (interoperable) dengan sistem pemasok dan pembeli internasional, serta dapat menghasilkan output yang mudah dicerna dan sesuai dengan indikator GRI yang disyaratkan.

-Tata Kelola Jaringan (Network Governance): Jika blockchain adalah permissioned ledger (hanya diizinkan), PT Hijau Lestari harus mengatasi kekhawatiran stakeholder global mengenai sentralisasi. Jika ledger dikendalikan oleh satu entitas, kritikus mungkin berpendapat bahwa kepercayaan pada data tetap bergantung pada kepercayaan pada entitas tersebut.

3. 1. Fokus pada Materialitas dan Transparansi Selektif
Pilih Indikator Material (GRI): Jangan mencoba menempatkan semua data di blockchain. Prioritaskan metrik keberlanjutan yang paling material dan berisiko tinggi (seperti Emisi Gas Rumah Kaca Scope 1 & 2 atau sertifikasi sumber bahan baku). Tindakan ini selaras dengan prinsip materialitas GRI, mengalokasikan sumber daya verifikasi yang mahal ke area yang paling penting bagi stakeholder.

Implementasi Permissioned Ledger yang Terkelola: PT Hijau Lestari sebaiknya menggunakan Permissioned Blockchain (hanya pihak tertentu yang memiliki izin membaca/menulis) dan mengundang pihak independen (auditor, badan sertifikasi, atau regulator) sebagai node validator di jaringan. Hal ini mempertahankan kerahasiaan data komersial sensitif sambil memenuhi prinsip transparansi melalui mekanisme pengawasan terdistribusi.

2. Memperkuat Kontrol Internal Data Input
Integrasi IoT dan Smart Contract: Gunakan perangkat IoT dan sensor yang andal (bersertifikasi) untuk mengotomatisasi pengumpulan data jejak karbon dan energi, meminimalkan campur tangan manusia. Smart contract harus dikodekan untuk secara otomatis mencatat data ini ke blockchain hanya jika memenuhi kriteria validasi yang telah ditetapkan. Hal ini memperkuat prinsip keandalan data pada sumbernya.

Audit Kode (Code Audit): Lakukan audit independen atas kode smart contract yang mengatur pencatatan metrik keberlanjutan sebelum diimplementasikan. Tujuannya adalah memastikan logika pengakuan data non-keuangan sudah sesuai dengan interpretasi standar GRI dan tidak ada celah untuk manipulasi kode.

3. Keterlibatan Regulator dan Stakeholder
Sinyal dan Edukasi: PT Hijau Lestari harus memberi sinyal (signal) komitmennya kepada regulator dan investor tentang penggunaan blockchain sebagai alat untuk meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan. Adakan sesi edukasi yang menjelaskan bagaimana blockchain secara teknis memastikan integritas data. Ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan berpotensi mengurangi biaya modal (berdasarkan Teori Sinyal) karena laporan dianggap lebih andal.