Nama : Ni Made Dwi Agustini
Npm : 2413031086
1. Perbandingan pendekatan tradisional vs AI dalam
penilaian fair value (dari perspektif teori akuntansi)
Kalau menurut pemikiran saya, perbedaan terbesar antara
penilaian tradisional dan berbasis AI itu ada pada cara keduanya “menghasilkan” angka fair value.
Penilaian tradisional itu biasanya lebih mudah dijelaskan karena prosesnya dilakukan manusia. Penilai bisa menunjukkan asumsi, sumber data, sampai alasan kenapa angka tertentu dipilih. Dari sisi teori akuntansi—yang menekankan reliabilitas dan keterlacakan informasi—pendekatan tradisional terasa lebih aman, karena auditor bisa menelusuri langkah-langkahnya satu per satu.
Begitu AI dipakai, situasinya sebenarnya jadi dua sisi: satu sisi, AI jauh lebih cepat dan mampu mengolah data yang mungkin tidak akan sempat diproses oleh manusia. Namun di sisi lain, proses di dalam algoritma kadang terasa gelap; kita tahu hasil akhirnya, tapi tidak selalu tahu bagaimana langkah-langkahnya terbentuk. Dari sudut pandang akuntansi, hal ini bikin nilai yang dihasilkan AI terasa agak “tidak terpegang”, meskipun mungkin secara data lebih akurat. Jadi menurut saya, bedanya ada di aspek transparansi: tradisional lebih bisa dijelaskan, sedangkan AI lebih kuat secara teknologi tapi kadang susah dibuktikan logikanya.
2. Implikasi epistemologis penggunaan AI (soal sumber dan keabsahan pengetahuan akuntansi)
Kalau bicara dari sisi epistemologi, penggunaan AI seperti menggeser sumber pengetahuan akuntansi dari manusia ke mesin. Biasanya pengetahuan akuntansi itu lahir dari analisis profesional, pengalaman auditor, dan aturan-aturan yang jelas. Tapi ketika AI masuk, pengetahuan yang muncul berasal dari pola data dan model yang tidak selalu bisa diurai.
Ini yang menimbulkan pertanyaan: apakah angka fair value yang keluar itu benar-benar “representasi ekonomi yang layak”, atau hanya hasil pola statistik yang kebetulan ditemukan AI? Menurut saya, ketika auditor tidak bisa menjelaskan asal-usul logika internal model, nilai tersebut jadi kurang kuat secara epistemologis, meskipun secara teknis mungkin tepat. Jadi, AI memperluas sumber informasi, tapi sekaligus menambah jarak antara hasil akhir dan pemahaman manusia tentang bagaimana pengetahuan itu terbentuk.
3. Strategi akuntabilitas dan pelaporan agar tetap sesuai IFRS 13
Menurut saya, kunci agar penggunaan AI tidak bertentangan dengan IFRS 13 adalah memastikan bahwa perusahaan tetap bisa menjelaskan prosesnya dengan bahasa manusia. Jadi bukan berarti semua logika AI harus dibuka, tapi minimal perusahaan harus punya dokumentasi yang rapi tentang dari mana data berasal, asumsi apa yang digunakan, dan sejauh mana model tersebut sudah diuji.
Selain itu, perusahaan perlu menyediakan semacam penjelasan yang lebih mudah dipahami, misalnya: faktor apa saja yang paling mempengaruhi nilai wajar, atau kenapa model bisa menghasilkan angka tertentu di kondisi tertentu. Auditor tidak butuh rumus lengkapnya—yang penting mereka bisa mengerti alurnya.
Terakhir, menurut saya perusahaan juga harus melakukan pengecekan berkala: membandingkan hasil AI dengan data pasar sebenarnya atau dengan
penilaian manual. Kalau ada selisih yang mencurigakan, berarti model perlu diperbaiki. Dengan cara seperti ini, AI tetap bisa dipakai tanpa mengorbankan prinsip-prinsip IFRS 13 yang mengutamakan transparansi dan keandalan nilai wajar.