NAMA :Ni Made Dwi Agustini
NPM : 2413031086
ANALISIS KRITIS
1. Tantangan dalam Penerapan Teori Akuntansi Tradisional
Penerapan teori akuntansi tradisional menjadi semakin kompleks ketika perusahaan seperti PT Delta Finansial mengintegrasikan AI dan blockchain ke dalam sistem keuangannya. Teori akuntansi konvensional dibangun atas dasar proses manual, judgement profesional, serta dokumentasi yang dapat ditelusuri dengan jelas. Namun, otomatisasi berbasis AI mengubah proses pengakuan transaksi menjadi instan, terprogram, dan bergantung pada algoritma yang tidak selalu transparan. Blockchain memang memberikan pencatatan permanen, tetapi sifatnya yang immutable justru membuat kesalahan input sulit diperbaiki dan menuntut metode verifikasi baru yang tidak dibahas dalam teori klasik.
Selain itu, volatilitas nilai tukar, tekanan likuiditas, serta ketidaksinkronan regulasi internasional memperberat pengukuran nilai aset dan liabilitas dalam standar akuntansi tradisional. Instrumen digital, aset kripto, dan transaksi lintas negara menimbulkan masalah
penilaian yang belum sepenuhnya diakomodasi oleh PSAK maupun IFRS. Tantangan utama terletak pada cara menilai bukti audit ketika transaksi tidak lagi melalui dokumen fisik, tetapi melalui kode, smart contract, dan alur data otomatis.
2. Peluang dan Risiko Digitalisasi dalam Manipulasi Informasi Akuntansi
Digitalisasi membuka peluang besar untuk efisiensi, ketepatan pencatatan, dan otomatisasi pelaporan. AI mampu memproses data dalam skala besar, meminimalkan kesalahan manusia, dan mengidentifikasi anomali secara cepat. Blockchain menyediakan sistem pencatatan yang transparan dan sulit dimanipulasi secara manual.
Namun, di balik peluang tersebut terdapat risiko manipulasi yang lebih canggih. Logika algoritma dapat diatur untuk menunda pengakuan beban, mengubah estimasi, atau menampilkan pola kinerja yang tampak stabil di permukaan padahal distorsi terjadi di level sistem. Manipulasi ini sulit dideteksi karena tidak meninggalkan jejak perubahan jurnal, melainkan tertanam dalam pengaturan parameter, model prediktif, atau data training AI.
Dengan kata lain, digitalisasi tidak menghilangkan kemungkinan rekayasa laporan keuangan—justru membuatnya lebih tersembunyi dan membutuhkan pendekatan audit berbasis big data dan analisis algoritmik untuk mendeteksinya.
ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Risiko Etika dari Algoritma AI dalam Estimasi dan Judgement
Ketergantungan pada AI dalam menentukan estimasi akuntansi dapat mengurangi peran judgement profesional akuntan. Algoritma yang digunakan tidak memiliki nilai moral atau pertimbangan etika seperti prinsip keadilan, kehati-hatian, dan integritas. Jika model AI dilatih dengan data yang bias atau sengaja dikonfigurasi untuk menyembunyikan informasi kerugian, hal ini dapat menghasilkan laporan yang menyesatkan.
Selain itu, keterbatasan explainability membuat keputusan AI sulit dipertanggungjawabkan. Ketika terjadi kesalahan estimasi atau dugaan manipulasi, menjadi tidak jelas siapa yang bertanggung jawab: manajemen, akuntan, atau pengembang algoritma. Dilema etika ini menempatkan akuntan pada posisi rawan ketika perusahaan menghadapi tekanan pasar, terutama jika algoritma dipakai sebagai alat untuk menjaga “kinerja semu”.
2. Sikap Profesional Akuntan terhadap Tekanan untuk Mengubah Laporan
Dalam situasi tekanan eksternal seperti penurunan reputasi atau kebutuhan menjaga minat investor, akuntan harus tetap menjunjung prinsip dasar etika profesi: integritas, objektivitas, dan profesionalisme. Akuntan wajib menolak permintaan untuk “mengatur” output algoritma atau memanfaatkan celah teknologi demi menampilkan kinerja yang tidak sesuai realitas.
Akuntan juga harus membekali diri dengan kompetensi teknologi—memahami cara kerja AI, mengetahui potensi bias model, serta melakukan evaluasi kritis terhadap hasil algoritma. Penguatan mekanisme whistleblowing, kolaborasi dengan auditor independen, dan dokumentasi keputusan berbasis teknologi menjadi penting untuk menjaga transparansi serta mencegah penyalahgunaan sistem otomatis.
RESPON STRATEGIS
1. Rekomendasi Praktik Audit dan Pengawasan
Untuk menghadapi ekosistem akuntansi digital, audit harus berevolusi. Auditor tidak hanya memeriksa dokumen dan saldo, tetapi juga menilai model AI, memeriksa kode smart contract, mengevaluasi keamanan blockchain, serta memverifikasi integritas data input. Penggunaan AI dalam audit—seperti deteksi pola transaksi abnormal secara real-time—harus menjadi bagian dari metodologi pemeriksaan.
Selain itu, diperlukan sinergi antara auditor, regulator, dan pengembang teknologi untuk menetapkan pedoman verifikasi algoritmik dan standar keamanan data. Pengawasan terhadap perubahan model AI harus diperketat melalui audit trail digital, validasi berkala, serta dokumentasi versioning untuk mencegah manipulasi parameter yang tidak terdeteksi.
2. Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya memadai untuk mengatasi kompleksitas transaksi digital. Pengakuan aset digital, pengukuran transaksi otomatis, dan dampak estimasi berbasis algoritma membutuhkan pedoman baru yang lebih responsif terhadap teknologi.
-Standar ke depan perlu memuat:
-pedoman
penilaian aset digital,
-kewajiban pengungkapan penggunaan AI dalam estimasi material,
-aturan audit atas algoritma,
serta ketentuan transparansi data dalam sistem blockchain.
Standar yang futuristik dan adaptif menjadi keharusan agar laporan keuangan tetap relevan, dapat diandalkan, dan mampu mencerminkan realitas digital yang dihadapi perusahaan global seperti PT Delta Finansial.