CASE STUDY

CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 30

PT Delta Finansial adalah perusahaan penyedia layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) yang beroperasi secara internasional. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan ini telah mengadopsi teknologi AI untuk pencatatan transaksi, serta menggunakan blockchain untuk verifikasi dan penyimpanan data akuntansi. Namun, akibat ketegangan geopolitik dan fluktuasi suku bunga global, perusahaan menghadapi tekanan likuiditas, volatilitas nilai tukar, dan ketidakpastian regulasi internasional.

Di sisi lain, laporan keuangan terakhir PT Delta menunjukkan laba bersih yang stabil, namun analis keuangan eksternal mencurigai adanya delay pengakuan beban dan manipulasi estimasi akuntansi berbasis algoritma untuk menjaga citra perusahaan di mata investor.

 

Pertanyaan:

  1. Analisis Kritis:
  • Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?
  • Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?
Etika dan Transparansi:
  • Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?
  • Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?
Respon Strategis:
  • Berikan rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi.
  • Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi? Jelaskan pandangan Anda.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

‎Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

‎Kelas : 2024C

‎JAWABAN CASE STUDY 

‎1. Analisis Kritis

  • ‎ Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatis dan blockchain?  ‎Jawab : Teori akuntansi tradisional yang bergantung pada penilaian manusia yang fleksibel menghadapi tantangan serius ketika perusahaan seperti PT Delta Finansial mengadopsi otomatisasi dan blockchain untuk pencatatan transaksi. Aturan lama seperti prinsip akrual atau pengakuan pendapatan dirancang untuk proses manual, di mana akuntan dapat menyesuaikan estimasi berdasarkan konteks spesifik, seperti email suku bunga global yang mempengaruhi likuiditas. Namun, otomatisasi membuat semuanya berjalan real-time tanpa jeda untuk koreksi, dan blockchain yang immutable artinya data sekali tercatat tidak bisa diubah bisa menyulitkan penyesuaian yang wajar, misalnya saat ada kesalahan input akibat ketegangan geopolitik yang tidak terantisipasi. Hal ini menciptakan ketegangan karena konsistensi teori tradisional dan konsistensi, namun sistem digital justru bisa menghasilkan data yang terlalu kaku. Akuntan harus menjembatani kesenjangan antara aturan lama dan keluaran mesin, yang sering kali menambah kerumitan audit dan biaya operasional. Pada akhirnya, tantangan ini bukan hanya teknis, tetapi juga filosofis, di mana keanehan manusia hilang, dan perusahaan harus beradaptasi agar laporan keuangan tetap relevan di tengah volatilitas nilai tukar.

  • ‎ Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus manipulasi risiko informasi akuntansi?  ‎Jawab : Digitalisasi membawa peluang besar bagi akuntansi dengan mempercepat proses dan meningkatkan akurasi, namun sekaligus membuka pintu lebar untuk risiko manipulasi informasi yang halus dan sulit dideteksi. Di satu sisi, teknologi seperti AI di PT Delta memungkinkan analisis data besar untuk verifikasi transaksi yang lebih cepat, mengurangi kesalahan manusia dan membangun kepercayaan melalui penyimpanan blockchain yang aman, sehingga perusahaan bisa lebih lincah dalam mencegah pencegahan internasional. Ini seperti memiliki asisten super yang memprediksi beban keuangan berdasarkan tren global, membantu menjaga laba bersih stabil di tengah tekanan likuiditas. Namun, risikonya muncul ketika algoritma yang mengendalikan estimasi dapat diprogram untuk mencegah hilangnya pengakuan, menciptakan gambaran stabilitas palsu yang mencurigakan oleh analis eksternal seperti tertundanya beban yang membuat laporan terlihat lebih menarik. Blockchain memang mencegah perubahan pasca-pencatatan, namun tidak melindungi dari input awal yang bias atau dimanipulasi, apalagi di era globalisasi di mana data dari berbagai mimpi bisa tercampur. Akibatnya, digitalisasi ini dapat memperbesar dampak manipulasi, karena informasi palsu menyebar secara instan ke investor, namun dengan kesadaran yang tepat, peluang efisiensinya dapat dimaksimalkan sambil meminimalkan jebakan tersebut.

2. Etika dan transparansi

  • ‎Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan penilaian keuangan digantikan oleh algoritma AI?  Jawab: Melihat risiko etika yang menghadap akuntan ketika estimasi dan penilaian keuangan digantikan oleh algoritma AI sangatlah nyata, karena peran manusia sebagai penjaga nilai moral mulai memudar di balik efisiensi mesin. Dulu, akuntan seperti di PT Delta bertanggung jawab penuh atas keputusan subjektif, seperti menilai cadangan kerugian dengan mempertimbangkan etika dan dampak sosial, memastikan laporan adil dan tidak bias. Namun AI menghasilkan angka berdasarkan data dan model matematis semata, tanpa nuansa etis misalnya, algoritma yang dibor pada data historis mungkin mengabaikan ketegangan geopolitik yang mempengaruhi wilayah tertentu, sehingga estimasi jadi tidak adil atau diskriminatif. Risikonya, akuntan bisa kehilangan akuntabilitas jika output AI ternyata salah karena bias tersembunyi, berpotensi memuat kode etik profesional seperti yang diatur IFAC, dan di Indonesia, standar serupa dari Ikatan Akuntan Indonesia. Ini bukan hanya soal salah satu keputusan, tapi erosi kepercayaan secara keseluruhan, di mana akuntan merasa terjebak antara validasi buta terhadap AI dan tuntutan transparansi, terutama saat kualitas transmisi estimasi muncul dari laporan stabil yang terlalu sempurna.

  • ‎Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor? Jawab : Melalui akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan agar menarik bagi investor dengan sikap tegas yang mewajibkan pada integritas, bukan kompromi sementara. Di tengah dorongan manajemen untuk memoles angka demi citra positif, seperti menunda pengakuan beban di PT Delta, akuntan sebaiknya memprioritaskan dokumentasi lengkap setiap langkah, termasuk bukti dari algoritma AI, agar proses transparan dan bisa diaudit. Ini berarti berkomunikasi secara jujur ​​​​dengan pemangku kepentingan tentang keterbatasan, seperti bagaimana mengirimkan suku bunga dapat mempengaruhi perkiraan, daripada menyembunyikannya untuk kesan sementara. Secara praktis, saya sarankan bergabunglah dengan komunitas profesional untuk dukungan, dan selalu mematuhi peraturan seperti PSAK atau IFRS, yang menekankan kejujuran di atas segalanya. Sikap ini tidak hanya melindungi karir pribadi dari sanksi etika, tetapi juga membangun kepercayaan jangka panjang dengan investor yang menghargai kenyataan daripada ilusi, membantu perusahaan seperti PT Delta bertahan di pasar global yang penuh gejolak.

3. Respon Strategis

  • ‎Berikan rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi.‎ Jawab: Menurut pendapat saya, perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit serta pengawasan dengan strategi yang menggabungkan teknologi dan pengawasan manusia untuk menangani sistem akuntansi berbasis tinggi seperti di PT Delta. Bagi perusahaan, memulai dengan kerangka internal yang rutin memvalidasi algoritma AI melalui stress test terhadap skenario volatilitas nilai tukar atau ketegangan geopolitik, sambil memanfaatkan blockchain untuk audit trail yang tak tergoyahkanini memastikan data akurat tanpa bergantung pada vendor. Saya juga menyarankan latih tim akuntansi dalam keterampilan ilmu data agar bisa menginterpretasikan output digital secara mandiri. Sementara itu, akuntan publik perlu mengadopsi alat forensik untuk mendeteksi pola manipulasi, seperti analisis transaksi di ledger blockchain, dan berkolaborasi dengan spesialis IT untuk meninjau kode algoritma secara berkala. Tambahkan kebijakan whistleblower internal untuk mendorong pelaporan tertundanya kualitas beban, dan gunakan sampling audit berbasis AI untuk efisiensi, namun tetap dengan pengawasan manusia untuk menjaga penilaian yang etis. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi risiko likuiditas, tetapi juga memperkuat pengawasan secara keseluruhan, membuat proses lebih adaptif terhadap kompleksitas fintech global.
  • ‎Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi? menjelaskan pandangan Anda.  Jawab: Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi, meskipun ada upaya perbaikan yang patut diapresiasi. Standar seperti IFRS 9 yang membahas instrumen keuangan atau PSAK di Indonesia sudah menyentuh estimasi berbasis model, namun masih kurang detail dalam mengatur AI dan blockchain misalnya, tidak ada ketentuan khusus untuk mengungkapkan bias algoritma atau dampak regulasi internasional yang berbeda antar negara. Di PT Delta, ini terlihat dari ancaman eksploitasi yang sulit dilakukan karena tidak adanya panduan untuk data digital global, di mana blockchain dapat diaktifkan dengan aturan privasi seperti GDPR di Eropa. Pandangan saya, standar ini perlu mempercepat evolusinya melalui inisiatif dari IASB atau DSAK Indonesia, seperti mandat pengungkapan wajib untuk teknologi, agar bisa menangkap nuansa volatilitas suku bunga dan mencakup geopolitik. Jika tidak, kita akan melihat lebih banyak ketidakpercayaan pasar, namun ini juga merupakan kesempatan bagi profesi akuntansi untuk memimpin reformasi, memastikan standar tetap relevan dan mendukung inovasi tanpa mengorbankan transparansi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by IREN AGISTA PUTRI 2413031071 -
NAMA : IREN AGISTA PUTRI
NPM : 2413031071

ANALISIS KRITIS
1. Tantangan dalam Penerapan Teori Akuntansi Tradisional
Teori akuntansi tradisional berasumsi pada proses manual dengan pengakuan transaksi dan estimasi yang transparan dan terdokumentasi. Dengan otomatisasi dan blockchain, kompleksitas meningkat. Transaksi terjadi secara real-time dan otomatis, sementara blockchain mengaburkan kontrol manual dan audit trail tradisional yang memerlukan pendekatan baru untuk verifikasi dan validasi data. Blockchain memberi catatan permanen, tapi validasi algoritmik dan kecerdasan buatan (AI) dalam estimasi dapat mengaburkan akuntabilitas, membuat audit tradisional sulit untuk menemukan manipulasi tersembunyi. Fluktuasi nilai tukar, likuiditas dan ketidakpastian regulasi global memperparah kesulitan dalam pengukuran dan pengakuan aset/liabilitas sesuai standar konvensional.
2. Peluang dan Risiko Digitalisasi dalam Manipulasi Informasi Akuntansi
Digitalisasi menghadirkan peluang efisiensi tinggi, otomatisasi pelaporan, dan akurasi transaksi dengan AI dan blockchain yang mengurangi kesalahan manusia. Namun, penggunaan algoritma AI juga membuka risiko manipulasi, seperti delay beban, estimasi bias, atau pemrograman algoritma untuk "mengatur" angka keuangan demi citra perusahaan, sulit terdeteksi auditor manusia. Manipulasi digital bisa lebih kompleks dan tersembunyi karena teknologi menyulitkan pelacakan manual, menuntut audit berbasis data besar (big data audit).

ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Risiko Etika dari Algoritma AI pada Estimasi dan Judgement Keuangan
Ketergantungan pada AI mengurangi peran judgement profesional, yang berpotensi mengesampingkan etika dan integritas manusia. Mesin tidak memiliki moralitas, sehingga algorithm bias atau sengaja diprogram untuk menyembunyikan informasi penting. Akuntan menghadapi risiko dilema etika, yaitu tekanan untuk menerapkan algoritma yang menyesatkan demi memenuhi target bisnis. Transparansi keputusan algoritma sering terbatas, yang memberikan celah bagi pelanggaran etika dan pengaburan tanggung jawab.
2. Sikap Profesional Akuntan terhadap Tekanan "Menyesuaikan" Laporan
Akuntan harus menegakkan prinsip integritas dan objektivitas, menolak tekanan untuk melakukan manipulasi laporan, walaupun menghadapi tekanan investor atau pimpinan. Akuntan perlu mengadopsi audit berbasis teknologi, meningkatkan kompetensi dalam pengawasan algoritma dan menerapkan whistleblowing serta pengawasan independen. Edukasi dan pelatihan etika digital menjadi penting agar akuntan dapat menavigasi dilema tersebut secara profesional.

RESPON STRATEGIS
1. Rekomendasi Praktik Audit dan Pengawasan
Penggunaan teknologi audit berbasis AI dan big data untuk memonitor transaski real-time dan pola manipulasi digital. Audit blockchain harus melibatkan auditor teknologi yang memahami mekanisme smart contracts dan verifikasi algoritmik. Penguatan regulasi dan standar audit terkait penggunaan teknologi tinggi termasuk transparansi algoritma AI. Kolaborasi antara auditor, regulator, dan pengembang teknologi untuk memastikan integritas data dan pelaporan.
2. Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan
Standar saat ini sebagian besar masih berbasis pada akuntansi konvensional, yang belum sepenuhnya mengakomodasi kompleksitas aset digital, transaksi berbasis blockchain, dan estimasi algoritmik. Diperlukan pembaruan standar yang mengatur pengakuan transaksi otomatis, validasi algoritma, serta mengintegrasikan pengungkapan risiko digital dan model AI. Standar harus lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan teknologi dan globalisasi pasar dengan penekanan pada transparansi dan akuntabilitas digital.

Kesimpulannya, digitalisasi akuntansi membuka peluang besar sekaligus tantangan serius terkait etika, transparansi, dan audit yang harus dihadapi dengan peningkatan kompetensi, regulasi adaptif, dan pendekatan audit berbasis teknologi canggih untuk memastikan laporan yang kredibel dan terpercaya
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ni Made Dwi Agustini -
NAMA :Ni Made Dwi Agustini
NPM : 2413031086

ANALISIS KRITIS
1. Tantangan dalam Penerapan Teori Akuntansi Tradisional
Penerapan teori akuntansi tradisional menjadi semakin kompleks ketika perusahaan seperti PT Delta Finansial mengintegrasikan AI dan blockchain ke dalam sistem keuangannya. Teori akuntansi konvensional dibangun atas dasar proses manual, judgement profesional, serta dokumentasi yang dapat ditelusuri dengan jelas. Namun, otomatisasi berbasis AI mengubah proses pengakuan transaksi menjadi instan, terprogram, dan bergantung pada algoritma yang tidak selalu transparan. Blockchain memang memberikan pencatatan permanen, tetapi sifatnya yang immutable justru membuat kesalahan input sulit diperbaiki dan menuntut metode verifikasi baru yang tidak dibahas dalam teori klasik.

Selain itu, volatilitas nilai tukar, tekanan likuiditas, serta ketidaksinkronan regulasi internasional memperberat pengukuran nilai aset dan liabilitas dalam standar akuntansi tradisional. Instrumen digital, aset kripto, dan transaksi lintas negara menimbulkan masalah penilaian yang belum sepenuhnya diakomodasi oleh PSAK maupun IFRS. Tantangan utama terletak pada cara menilai bukti audit ketika transaksi tidak lagi melalui dokumen fisik, tetapi melalui kode, smart contract, dan alur data otomatis.

2. Peluang dan Risiko Digitalisasi dalam Manipulasi Informasi Akuntansi
Digitalisasi membuka peluang besar untuk efisiensi, ketepatan pencatatan, dan otomatisasi pelaporan. AI mampu memproses data dalam skala besar, meminimalkan kesalahan manusia, dan mengidentifikasi anomali secara cepat. Blockchain menyediakan sistem pencatatan yang transparan dan sulit dimanipulasi secara manual.

Namun, di balik peluang tersebut terdapat risiko manipulasi yang lebih canggih. Logika algoritma dapat diatur untuk menunda pengakuan beban, mengubah estimasi, atau menampilkan pola kinerja yang tampak stabil di permukaan padahal distorsi terjadi di level sistem. Manipulasi ini sulit dideteksi karena tidak meninggalkan jejak perubahan jurnal, melainkan tertanam dalam pengaturan parameter, model prediktif, atau data training AI.

Dengan kata lain, digitalisasi tidak menghilangkan kemungkinan rekayasa laporan keuangan—justru membuatnya lebih tersembunyi dan membutuhkan pendekatan audit berbasis big data dan analisis algoritmik untuk mendeteksinya.

ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Risiko Etika dari Algoritma AI dalam Estimasi dan Judgement
Ketergantungan pada AI dalam menentukan estimasi akuntansi dapat mengurangi peran judgement profesional akuntan. Algoritma yang digunakan tidak memiliki nilai moral atau pertimbangan etika seperti prinsip keadilan, kehati-hatian, dan integritas. Jika model AI dilatih dengan data yang bias atau sengaja dikonfigurasi untuk menyembunyikan informasi kerugian, hal ini dapat menghasilkan laporan yang menyesatkan.

Selain itu, keterbatasan explainability membuat keputusan AI sulit dipertanggungjawabkan. Ketika terjadi kesalahan estimasi atau dugaan manipulasi, menjadi tidak jelas siapa yang bertanggung jawab: manajemen, akuntan, atau pengembang algoritma. Dilema etika ini menempatkan akuntan pada posisi rawan ketika perusahaan menghadapi tekanan pasar, terutama jika algoritma dipakai sebagai alat untuk menjaga “kinerja semu”.

2. Sikap Profesional Akuntan terhadap Tekanan untuk Mengubah Laporan
Dalam situasi tekanan eksternal seperti penurunan reputasi atau kebutuhan menjaga minat investor, akuntan harus tetap menjunjung prinsip dasar etika profesi: integritas, objektivitas, dan profesionalisme. Akuntan wajib menolak permintaan untuk “mengatur” output algoritma atau memanfaatkan celah teknologi demi menampilkan kinerja yang tidak sesuai realitas.

Akuntan juga harus membekali diri dengan kompetensi teknologi—memahami cara kerja AI, mengetahui potensi bias model, serta melakukan evaluasi kritis terhadap hasil algoritma. Penguatan mekanisme whistleblowing, kolaborasi dengan auditor independen, dan dokumentasi keputusan berbasis teknologi menjadi penting untuk menjaga transparansi serta mencegah penyalahgunaan sistem otomatis.

RESPON STRATEGIS
1. Rekomendasi Praktik Audit dan Pengawasan
Untuk menghadapi ekosistem akuntansi digital, audit harus berevolusi. Auditor tidak hanya memeriksa dokumen dan saldo, tetapi juga menilai model AI, memeriksa kode smart contract, mengevaluasi keamanan blockchain, serta memverifikasi integritas data input. Penggunaan AI dalam audit—seperti deteksi pola transaksi abnormal secara real-time—harus menjadi bagian dari metodologi pemeriksaan.
Selain itu, diperlukan sinergi antara auditor, regulator, dan pengembang teknologi untuk menetapkan pedoman verifikasi algoritmik dan standar keamanan data. Pengawasan terhadap perubahan model AI harus diperketat melalui audit trail digital, validasi berkala, serta dokumentasi versioning untuk mencegah manipulasi parameter yang tidak terdeteksi.

2. Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya memadai untuk mengatasi kompleksitas transaksi digital. Pengakuan aset digital, pengukuran transaksi otomatis, dan dampak estimasi berbasis algoritma membutuhkan pedoman baru yang lebih responsif terhadap teknologi.

-Standar ke depan perlu memuat:
-pedoman penilaian aset digital,
-kewajiban pengungkapan penggunaan AI dalam estimasi material,
-aturan audit atas algoritma,

serta ketentuan transparansi data dalam sistem blockchain.

Standar yang futuristik dan adaptif menjadi keharusan agar laporan keuangan tetap relevan, dapat diandalkan, dan mampu mencerminkan realitas digital yang dihadapi perusahaan global seperti PT Delta Finansial.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nadiya Adila -
Nama : Nadiya Adila
Npm : 2413031079

1. Analisis Kritis
a. Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?

Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional pada sistem otomasi dan blockchain antara lain kesulitan mengintegrasikan prinsip akuntansi manual dengan pencatatan otomatis yang terdesentralisasi, serta ketidakpastian regulasi terkait penggunaan teknologi baru. Selain itu, blockchain memerlukan sumber daya teknologi yang tinggi dan penyesuaian audit tradisional agar dapat memverifikasi data secara efektif.

b. Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?

Digitalisasi membuka peluang mempercepat proses akuntansi dan meningkatkan transparansi data melalui rekaman transaksi yang permanen dan real-time di blockchain. Namun, risiko manipulasi muncul ketika algoritma AI diprogram untuk menunda pengakuan biaya atau mengubah estimasi demi memperlihatkan kinerja finansial yang lebih baik, serta risiko keamanan siber yang dapat mengancam integritas data.

2. Etika dan Transparansi:
a. Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?

Risiko etika yang dihadapi akuntan saat estimasi dan judgment digantikan AI termasuk hilangnya kontrol profesional dan potensi penyalahgunaan algoritma untuk kepentingan tertentu. Akuntan harus tetap menjaga independensi dan kejujuran dengan melakukan review kritis atas output AI dan mendorong keterbukaan fungsi algoritma untuk transparansi.

b. Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?

Dalam menghadapi sistem akuntansi teknologi tinggi, perusahaan dan auditor harus mengadopsi audit berbasis data dan teknologi, memperkuat keahlian dalam AI dan blockchain, serta memperbarui standar dan prosedur audit untuk mengatasi potensi manipulasi. Kolaborasi dengan regulator diperlukan untuk menciptakan kerangka kerja pengawasan yang adaptif.

3. Respon Strategis:
a. Berikan rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi.

Perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dengan mengintegrasikan teknologi analitik data dan audit berbasis digital untuk memverifikasi keandalan sistem AI dan blockchain. Pelatihan khusus diperlukan untuk memahami teknologi ini, serta revisi prosedur audit agar mampu mendeteksi manipulasi algoritma dan risiko siber. Kolaborasi dengan regulator penting untuk mengembangkan kerangka pengawasan yang adaptif dan responsif terhadap inovasi teknologi.

b. Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi? Jelaskan pandangan Anda.

Mengenai standar pelaporan keuangan, standar saat ini seperti IFRS sudah bergerak menuju prinsip fleksibilitas dan transparansi yang mendukung era digital dan globalisasi. Namun, standar masih perlu dikembangkan lebih lanjut untuk menangani spesifikasi pelaporan yang terkait dengan transaksi berbasis blockchain, penggunaan AI dalam estimasi, dan risiko kompleks global. Standar harus memperkuat aspek keamanan data, keterlacakan transaksi, dan pengungkapan risiko digital agar dapat lebih responsif terhadap kebutuhan pelaporan keuangan modern di dunia fintech dan ekonomi digital global.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Gifrika Tutut Pradiyana -

Nama: Gifrika Tutut Pradiyana
NPM: 2453031008
Kelas: 2024 C

ANALISIS KRITIS

  1. Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?Penggunaan AI dan blockchain membuat beberapa konsep dalam akuntansi tradisional menjadi kurang cocok. Sistem akuntansi lama sangat bergantung pada bukti transaksi, pengendalian manual, dan penilaian manusia. Ketika perusahaan memakai otomatisasi penuh, proses pencatatan dilakukan oleh algoritma yang tidak selalu memahami konteks ekonomi transaksi. Hal ini dapat menyebabkan klasifikasi akun yang tidak tepat atau pengakuan pendapatan dan beban yang tidak sesuai waktu. Blockchain yang bersifat permanen juga membuat koreksi tidak bisa dilakukan secara fleksibel. Jika ada kesalahan, pencatatannya tidak bisa dihapus, hanya bisa ditambahkan blok baru, sehingga akuntan harus memahami rangkaian transaksi secara keseluruhan. Kondisi ini membuat prinsip tradisional seperti ketepatan bukti transaksi, kehati-hatian, dan substansi ekonomi menjadi lebih sulit diterapkan.
  2. Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?
    Digitalisasi memberi peluang besar karena proses akuntansi jadi lebih cepat, data lebih akurat, dan risiko human error berkurang. Namun, otomatisasi juga membuka pintu manipulasi baru. Misalnya, algoritma dapat diatur untuk menunda pengakuan beban agar laba terlihat stabil, atau model perhitungan AI dimodifikasi secara halus sehingga auditor tidak mudah mendeteksinya. Risiko ini terjadi karena sistem digital menyimpan logika yang tidak terlihat langsung oleh pembaca laporan keuangan, sehingga manajemen bisa menyembunyikan tindakan manipulatif melalui pengaturan sistem, bukan melalui jurnal manual.

ETIKA DAN TRANSPARANSI

  1. Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?
    Ketika estimasi dan judgement keuangan diambil alih algoritma, akuntan dihadapkan pada dilema etika baru. Jika mereka terlalu bergantung pada output AI tanpa memahami bagaimana angka itu dihasilkan, mereka dapat mengabaikan tanggung jawab profesional untuk menilai kewajaran laporan. Selain itu, jika algoritma dirancang dengan kepentingan tertentu oleh manajemen, akuntan harus waspada karena hasil estimasi bisa saja diarahkan untuk mendukung citra perusahaan, misalnya menampilkan risiko yang lebih kecil dari kenyataan.
  2. Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?
    Dalam kondisi perusahaan seperti PT Delta yang ingin mempertahankan kepercayaan investor, tekanan untuk mempercantik laporan sangat mungkin terjadi. Akuntan profesional harus menolak tekanan tersebut dan tetap berpegang pada prinsip integritas serta independensi. Mereka perlu memastikan bahwa setiap angka yang muncul baik dari AI maupun estimasi manual benar-benar mencerminkan kondisi perusahaan. Jika terjadi tekanan yang berlebihan, akuntan perlu berkonsultasi dengan komite audit atau auditor eksternal agar keputusan yang diambil tetap objektif dan tidak melanggar kode etik.

RESPON STRATEGIS

  1. Penyesuaian praktik audit dan pengawasan
    Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan akuntan publik perlu menyesuaikan pendekatan audit. Auditor tidak lagi cukup memeriksa bukti fisik atau jurnal manual, tetapi harus memahami bagaimana algoritma bekerja, bagaimana data diproses, serta bagaimana blockchain menyimpan transaksi. Pemeriksaan terhadap log sistem, parameter algoritma, dan perubahan dalam pengaturan AI perlu menjadi bagian dari prosedur audit. Perusahaan juga harus memperkuat pengendalian internal berbasis teknologi, termasuk pembatasan akses, pemantauan aktivitas sistem, dan audit TI secara berkala. Pelatihan bagi akuntan dalam memahami teknologi seperti blockchain dan machine learning juga menjadi kebutuhan penting.
  2. Adaptasi standar pelaporan keuangan
    Standar pelaporan keuangan saat ini sebenarnya sudah cukup kuat untuk transaksi umum, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas sistem digital. Belum ada pedoman rinci mengenai pencatatan berbasis blockchain, pengungkapan model AI, atau bagaimana algoritma menentukan estimasi akuntansi. Oleh karena itu, meskipun standar yang ada tetap relevan, pengembang standar perlu membuat pembaruan agar laporan keuangan perusahaan berbasis teknologi tetap dapat diaudit dan dipahami secara transparan.

 


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Salwa Trisia Anjani -
Salwa Trisia Anjani
2413031090

1. Analisis Kritis
a. Tantangan teori akuntansi tradisional pada AI & blockchain
• Prinsip akrual dan pengakuan pendapatan menjadi sulit karena transaksi otomatis dan immutable.
• Jejak audit blockchain rumit dan butuh pemahaman teknis.
Penilaian aset digital belum diatur jelas dalam standar tradisional.
• Kontrol internal berubah karena AI menjalankan banyak fungsi sekaligus.

b. Digitalisasi: peluang & risiko manipulasi
Peluang: akurasi tinggi, real-time reporting, dan transparansi blockchain.
Risiko: AI bisa dimodifikasi untuk menunda beban, algoritma tidak transparan (black-box), serta risiko keamanan digital dan penyalahgunaan smart contract.


2. Etika & Transparansi
a. Risiko etika ketika judgement digantikan AI
• Tanggung jawab kabur bila estimasi salah.
• Algoritma dapat bias atau sengaja diatur agar memperindah laporan.
• Kurangnya transparansi perhitungan AI.
• Tekanan untuk mengubah parameter AI menjadi bentuk baru manipulasi.

b. Sikap akuntan saat ditekan “mempercantik” laporan
• Berpegang pada Kode Etik (integritas & objektivitas).
• Mendokumentasikan penolakan.
• Menjalankan professional skepticism atas output AI.
• Berkoordinasi dengan auditor eksternal jika terdapat red flag.


3. Respon Strategis
a. Penyesuaian praktik audit & pengawasan
Untuk perusahaan:
• Membangun AI governance, audit trail AI, dan kontrol digital.
• Memperkuat audit internal berbasis data analytics.
• Meningkatkan transparansi sistem AI dan blockchain.

Untuk auditor publik:
• Meningkatkan kompetensi teknologi.
• Menggunakan CAATs dan audit berbasis data.
• Melakukan audit algoritma dan memeriksa keamanan blockchain.

b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan
• Belum sepenuhnya adaptif, karena IFRS/PSAK belum mengatur aset digital, smart contract, dan estimasi berbasis AI.
• Standar masih memadai untuk kerangka dasar, tetapi perlu diperbarui menghadapi kompleksitas transaksi digital dan globalisasi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Silviana Febriani -
NAMA: SILVIANA FEBRANI
NPM: 2413031075

1. Analisis Kritis:
-Tantangan dalam penerapan teori akuntansi tradisional muncul karena sistem otomatisasi dan blockchain mengubah cara pencatatan dan verifikasi dilakukan. Teori akuntansi tradisional mengandalkan pencatatan manual dan pengendalian internal berbasis manusia. Teknologi baru membuat proses berjalan otomatis sehingga akuntan kesulitan menilai keandalan algoritma. Blockchain juga mencatat data secara permanen sehingga koreksi transaksi tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Kondisi ini membuat beberapa konsep seperti materialitas, pengakuan, dan verifikasi perlu penyesuaian agar sesuai dengan sistem digital.

-Digitalisasi memberi peluang untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi akuntansi karena sistem otomatis dapat memproses transaksi besar dengan cepat. Namun digitalisasi juga menciptakan risiko manipulasi. Algoritma bisa disetel untuk menunda pengakuan beban atau mengubah estimasi akuntansi. Manipulasi lebih sulit dideteksi karena jejak keputusan tersembunyi di dalam sistem. Perusahaan dapat menyembunyikan bias dalam parameter algoritma sehingga laporan terlihat wajar tetapi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

2. Etika dan Transparansi:
-Risiko etika muncul ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh AI. Akuntan bisa kehilangan kendali atas proses penilaian yang seharusnya membutuhkan pertimbangan profesional. Jika algoritma salah atau disetel dengan tujuan tertentu, akuntan dapat dianggap bertanggung jawab meskipun tidak mengetahui detail logikanya. Akuntan juga berisiko terjebak pada situasi dimana mereka hanya menjadi operator sistem tanpa kemampuan menguji kembali kewajaran hasil yang diberikan AI.

-Akuntan profesional harus bersikap tegas ketika menghadapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan agar menarik bagi investor. Akuntan harus memegang prinsip integritas dan objektivitas. Akuntan perlu menolak perubahan yang tidak sesuai dengan standar atau tidak mencerminkan kondisi perusahaan. Akuntan juga harus memberi penjelasan kepada manajemen bahwa laporan yang akurat lebih penting bagi keberlanjutan jangka panjang dibanding sekadar menarik investor dalam jangka pendek.

3. Respon Strategis:
-Perusahaan dan akuntan publik perlu menyesuaikan praktik audit dengan meningkatkan pemahaman terhadap teknologi seperti AI dan blockchain. Auditor harus menilai desain algoritma, menguji logika sistem, dan memastikan tidak ada manipulasi parameter. Perusahaan perlu memperkuat tata kelola teknologi agar setiap perubahan pada sistem terekam dengan jelas. Auditor juga harus menambahkan prosedur audit berbasis data analytics untuk menguji pola transaksi yang tidak wajar.

-Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. Beberapa standar belum menjelaskan cara mengaudit algoritma, menilai aset digital, atau mengatasi transaksi yang terjadi secara otomatis. Namun standar yang ada masih bisa digunakan sebagai dasar selama dilakukan interpretasi tambahan. Menurut saya, regulator perlu memperbarui standar agar lebih sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga akuntan tidak kebingungan ketika menghadapi sistem berbasis AI dan blockchain.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Siti haryanti 2413031094 -
Nama : Siti Haryanti
Npm : 2413031094
Kelas : 2024 C

1. Analisis Kritis

Perusahaan seperti PT Delta Finansial menghadapi tantangan besar ketika teori akuntansi tradisional dipadukan dengan sistem otomatisasi, AI, dan blockchain. Akuntansi konvensional bergantung pada pertimbangan profesional manusia—mulai dari pengakuan, pengukuran, hingga penyesuaian transaksi. Namun blockchain memiliki karakter permanen sehingga koreksi atau reklarifikasi data yang biasanya dapat dilakukan dalam sistem manual menjadi sangat terbatas. AI juga memberikan keputusan berdasarkan data historis dan algoritmik, bukan berdasarkan konteks bisnis yang memerlukan penilaian manusia. Hal ini menimbulkan ketidaksesuaian antara prinsip akuntansi tradisional (seperti prudensi, materialitas, dan akrual) dengan mekanisme sistem digital yang bersifat otomatis dan kaku.

Digitalisasi sebenarnya membawa peluang seperti efisiensi, kecepatan pelaporan, dan pengurangan human error. Namun teknologi juga membuka ruang manipulasi baru. Model AI dapat diatur untuk mengubah asumsi estimasi akuntansi atau menunda pengakuan beban sehingga laporan terlihat lebih menguntungkan. Karena prosesnya dilakukan mesin, manipulasi dapat tersamarkan sebagai “hasil algoritma” dan lebih sulit terdeteksi oleh auditor. Dengan kata lain, digitalisasi bisa memperbaiki kualitas laporan keuangan, tetapi juga dapat digunakan untuk membungkus bias data dan rekayasa informasi secara teknis.

2. Etika, Transparansi, dan Respons Strategis

Ketika keputusan keuangan digantikan oleh algoritma, muncul dilema etika baru. Akuntan tidak lagi memiliki kendali penuh terhadap logika sistem yang menghasilkan angka laporan keuangan. Bias data, kurangnya transparansi model AI, dan keputusan pemrograman dapat menyembunyikan kondisi ekonomi sebenarnya. Bila akuntan hanya menjadi operator, bukan pengambil keputusan, tanggung jawab etis dan profesional mereka terancam melemah. Akuntan bertugas memastikan hasil sistem tetap mencerminkan keadaan riil, bukan sekadar output AI.

Dalam tekanan perusahaan untuk menghasilkan laporan yang menarik bagi investor, akuntan harus tetap menjaga integritas. Sekalipun manipulasi dilakukan lewat algoritma, risiko etisnya sama seperti rekayasa manual. Akuntan harus berani menolak penekanan untuk “menghaluskan angka” dan menjelaskan dampak jangka panjang manipulasi terhadap reputasi, kepatuhan, dan transparansi.

Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan auditor publik perlu memperbarui metode audit. Audit tidak boleh hanya memeriksa dokumen transaksi, tetapi harus mencakup audit algoritma, pemeriksaan parameter AI, validasi data blockchain, serta keamanan siber. Auditor perlu memahami cara kerja machine learning, mendeteksi bias model, dan mengevaluasi apakah sistem digital tetap mematuhi prinsip akuntansi.

Terkait standar pelaporan keuangan, kerangka seperti IFRS dan PSAK belum sepenuhnya adaptif terhadap realitas digital seperti aset kripto, smart contract, dan AI-driven accounting. Diperlukan pembaruan standar yang lebih fleksibel dan berbasis prinsip agar dapat menampung perkembangan teknologi keuangan global tanpa mengurangi transparansi dan akuntabilitas laporan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ratih Apriyani -
RATIH APRIYANI
2413031073

1. Analisis Kritis
Tantangan muncul ketika teori akuntansi tradisional diterapkan pada sistem modern yang berbasis otomatisasi dan blockchain. Dalam praktik lama, pencatatan serta pengendalian banyak bergantung pada pekerjaan manual dan pemantauan langsung oleh manusia. Kemunculan teknologi digital membuat proses pencatatan dan verifikasi berlangsung otomatis, sehingga akuntan menghadapi kesulitan menilai sejauh mana algoritma dapat dipercaya. Sementara itu, pencatatan berbasis blockchain bersifat permanen, sehingga koreksi transaksi tidak bisa dilakukan dengan mekanisme konvensional. Perubahan ini menuntut penyesuaian konsep-konsep akuntansi seperti materialitas, pengakuan, dan verifikasi agar sesuai dengan karakteristik sistem digital.
Digitalisasi sebenarnya membuka peluang besar untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi proses akuntansi karena sistem mampu menangani volume transaksi tinggi dalam waktu singkat. Namun, digitalisasi juga membawa risiko terjadinya manipulasi. Algoritma dapat diatur untuk menunda pencatatan biaya atau mengubah estimasi tertentu. Jejak keputusan yang tersembunyi di dalam sistem membuat penyimpangan lebih sulit dideteksi. Perusahaan bahkan dapat menyisipkan bias dalam parameter algoritma sehingga laporan tampak normal tetapi tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
2. Etika dan Transparansi
Masalah etika muncul ketika peran estimasi dan pertimbangan profesional dalam akuntansi mulai digantikan oleh kecerdasan buatan. Akuntan dapat kehilangan kendali terhadap proses evaluasi yang seharusnya membutuhkan keahlian profesional. Jika algoritma menghasilkan keluaran yang keliru atau sengaja disetel untuk tujuan tertentu, akuntan tetap dapat dianggap bertanggung jawab meskipun mereka tidak memahami sepenuhnya cara kerja logikanya. Situasi ini juga berpotensi membuat akuntan hanya menjadi operator sistem tanpa ruang untuk memeriksa kembali kewajaran hasil yang dihasilkan AI.
Dalam kondisi tertentu, akuntan mungkin mendapat tekanan untuk menyesuaikan laporan agar terlihat lebih menarik bagi investor. Pada situasi seperti ini, akuntan wajib mempertahankan integritas dan objektivitasnya. Penolakan terhadap perubahan yang tidak sesuai standar atau tidak mencerminkan kondisi perusahaan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional. Selain itu, akuntan harus menjelaskan kepada manajemen bahwa laporan keuangan yang akurat jauh lebih penting bagi keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang dibanding upaya sesaat untuk menarik perhatian pasar.
3. Respon Strategis
Perusahaan dan auditor perlu menyesuaikan prosedur audit dengan memperdalam pemahaman mengenai teknologi seperti AI dan blockchain. Auditor perlu mengevaluasi desain algoritma, menelusuri logika sistem, serta memastikan tidak ada manipulasi pada parameter yang digunakan. Penguatan tata kelola teknologi juga diperlukan agar setiap perubahan pada sistem dapat ditelusuri dengan jelas. Selain itu, auditor perlu memasukkan teknik analisis data dalam prosedur audit untuk mengidentifikasi pola transaksi yang tidak lazim.
Saat ini, standar pelaporan keuangan belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kompleksitas aktivitas ekonomi digital dan arus transaksi global. Panduan mengenai audit algoritma, penilaian aset digital, dan transaksi otomatis masih terbatas. Meskipun demikian, standar yang ada tetap dapat dijadikan acuan dengan penyesuaian interpretasi. Ke depan, regulator perlu memperbarui standar tersebut agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi sehingga akuntan memiliki pedoman yang jelas ketika berhadapan dengan sistem berbasis AI maupun blockchain.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Niabi Rahma Wati -
Nama: Niabi Rahma Wati
NPM: 2413031078

1. Analisis kritis
Dalam teori akuntansi tradisional tantangan mungkin dihadapi ketika perusahaan menggunakan otomatisasi dan blockchain. Prinsip akuntansi seperti pencatatan biaya historis dan pencocokan pendapatan dengan beban menjadi kurang relevan karena blockchain mencatat transaksi secara real-time dan sulit diubah. Selain itu, sistem otomatis berbasis AI dapat mengatur waktu pengakuan pendapatan atau beban secara tidak transparan. Blockchain juga menghilangkan kebutuhan perantara verifikasi, sehingga prosedur audit konvensional seperti konfirmasi pihak ketiga perlu ditinjau ulang. Di era digitalisasi ini peluang dan risiko manipulasi akuntansi sangat memungkinkan untuk dilakukan.
A. Peluang, transparansi dan keandalan data melalui pencatatan yang tidak dapat diubah (immutable), efisiensi dalam proses rekonsiliasi dan pelaporan, dan juga deteksi kecurangan secara real-time melalui analisis data terpadu.
B. Risiko manipulasi dapat berbentuk manipulasi algoritma, bias data (Garbage in, garbage out), maupun keterbatasan pemahaman auditor.

2. Etika transparansi
Penggantian estimasi akuntan oleh algoritma AI menimbulkan risiko etika. Akuntan bisa saja “bersembunyi” di balik teknologi untuk menghindari tanggung jawab, atau algoritma tersebut mungkin dirancang dengan bias tertentu. Selain itu, akuntan sering menghadapi tantangan tekanan untuk menyesuaikan laporan agar kinerja perusahaan tetap menari8k di mata investor. Dalam situasi seperti ini, akuntan harus memiliki pegangan pada integritas profesional, meningkatkan pemahaman terhadap teknologi yang digunakan, dan secara proaktif menjelaskan dampak penggunaan AI kepada investor.

3. Respons strategis
Dalam kasus ini perusahaan dan akuntan public perlu mengubah pendekatan audit dan pengawasan. Mereka harus beralih dari audit berbasis sampel ke audit berbasis data lengkap, menggunakan alat analisis untuk memeriksa semua transaksi. Tim audit juga perlu dilengkapi dengan ahli teknologi yang memahami blockchain dan AI. Selain itu, standar pelaporan keuangan saat ini masih tertinggal dalam menghadapi kompleksitas transaksi digital. Sehingga diperlukan adanya pembaruan standar yang mengatur pengakuan aset digital, pengungkapan penggunaan algoritma, dan juga harmonisasi aturan secara global karena perusahaan fintech sering beroperasi lintas negara.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Natasya Natasya -
Nama: Natasya
NPM: 2413031081
Kelas: 2024 C

1. Analisis kritis
- Tantangan akutansi tradisional dalam otomatisasi dan blockchain adalah pada penerapan sistem otomatisasi AI dan blockchain, dimana pada blockchain ini pencatatan transasksi tersebut bersifat imporfeksibel atau tidak dapat diubah dan real time. Disini posisinya blockchain menawarkan pandangan yang terus menerus mengenai posisi keuangan, kemudian dalam ekosistem digital dan global seperti PT Delta dengan Volatilitas nilai tukar, nilai asset sering kali lebih dapat diukur menggunakan nilai wajar, karna siistem ai dapat dengan cepat memproses data pasar untuk fair value dan menantang relevansi historical cost yang merupakan prinsip akutansi tradisional. Kemudian pada akutansi tradisional lebih mengandalkan dokumen fisik ata paper based sebagai bukti dan blockchain menciptakan jejak audit digitala terdesentralisasi, auditor harus memverifikasi keaabsahan kode dan consensus jaringan bukan sekedar memverifikasi faktur
- Peluang dan risiko manipulasi digitalisasi, yang pertama ada pada peluag di bagian kecepatan dan akurasi yaitu mengurangi kesalahan humor error dan memastikan pencatatan real time yang cepat tetapi ada resiko manipulasi yaitu delay pada pengakuan beban kasus PT Delta dimana algoritma dapat deprogram untuk menunda pengakuan beban hingga periode berikutnya , menaikan laba periode saat ini tanpa jejak manipulasi manual yang jelas.

2. Etika dan Transparansi
- Pada hal ini resiko etika bergeser dari niat akuntan ke desain sistem, bias algoritma dalam AI dilatih bberdasarkan data hiistoris, jika data historis pperusahaan bias selalu optimis AI akan mengabadika bias tersebut dalam estimasi masa depan dan akuntan berisiko kehilangan peran etis mereka dalam mempertanyan asumsi dasar. Kemudian pada etikanya akuntan harus menolat penyesuainan yang melanggar standar pelaporan keuangan berdasarkan prinsip integritas dan mereka juga harus memastikan estimasi AI di dasarkan pada data dan asumsi objjektif, bukan parameter yang di setel untuk menncapai laba target.
- Kemudian dalam menghadapi sistem akutansi yang berbasis teknologi tinggi perusahaan dan akuntan public harus melakukan pennyesuain signifikan, seperti pada perusahaan delta tata Kelola algoritma membentuk kkomite pengawasan untuk AI atau blockchain yang mencakup ahli IT, akuntan, dan etika yang menawaajibkan dokumentasi yang jelas mengenai input, parameter, dan kalibrasi setiap algoritma akutansi.

3. Respon Strategis
- Standar harus bergerak menuju kerangka kerja yang lebih berorientasi pada prinsip daripada aturan untuk mengakomodasi teknologi baru dan harus mewajibkan pengungkapan yang lebih rinci tentang assumptions, estimation methology dan source code bias dari sistem akutansi otomatis.
- Menururt saya standar yang saat ini berlaku seperti IFRS, US GAAP belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas penuh dari keuangan digital dan globalisasi yang berkembang pesat standar tersebut menghadapu kesenanngan teknologi dan kesenangan regulasi, jadi kesimpulannya adalah standar saat ini menyediakan fondasi yang baik tetapi memrlukan perluasan yang lebih terutama dalam teknologi supaya menajadi benar benar adaptif terhadap era keuangan digital dan hiper globalisasi pada saat ini
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Adinda Putri Zahra -
Nama: Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

Analisis Kritis
1. Tantangan Penerapan Akuntansi Tradisonal
Penerapan teknologi otomatisasi dan blockchain secara signifikan menantang prinsip-prinsip akuntansi tradisonal karena ada pergeseran dari keputusan subjektif yang dibuat manusia ke pencatatan data yang tidak dapat diubah dan terdistribusi. Tantangan utama yang muncul adalah ketidakpastian dalam pengakuan dan pengukuran, di mana kecepatan serta otomatisasi dari AI dapat mengesampingkan konteks non-kuantitatif seperti risiko geopolitik dalam estimasi, sementara blockchain menyulitkan auditor tradisional dalam memverifikasi asal data. Di samping itu, kompleksitas global dan regulasi yang dipercepat oleh transaksi digital antar negara belum sepenuhnya diperhitungkan oleh standar internasional, seperti Basel III, sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan sistemik dan ketidakcocokan yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan manipulasi terhadap stabilitas laba, seperti yang terjadi pada dugaan penundaan pengakuan beban di PT Delta Finansial.
2. Peluang dan Risiko Manipulasi Informasi Akuntansi melalui Digitalisasi
Peluang yang ada menunjukkan bahwa Blockchain meningkatkan kejelasan dengan catatan yang tidak dapat diubah, yang memungkinkan pemeriksaan secara langsung oleh pihak luar, sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan dari manusia. AI bisa mengevaluasi volume data yang besar untuk hasil yang lebih tepat (misalnya, memperkirakan risiko kredit berdasarkan tren global), mempercepat proses pelaporan dan menekan biaya. Ini mendukung proses globalisasi dengan mempermudah transaksi lintas negara yang aman, seperti yang dilakukan oleh fintech PT Delta. Di sisi lain, manipulasi risiko berarti AI dapat diatur ulang lewat "penyetelan" algoritma untuk menghasilkan perkiraan yang menguntungkan, seperti penundaan pengakuan beban untuk menjaga stabilitas laba, sama seperti yang dilakukan dalam laporan PT Delta. Masalah ini menjadi lebih serius karena kurangnya kejelasan mengenai kode AI, yang membuatnya sulit untuk diaudit. Meskipun Blockchain dianggap aman, ia tetap rentan terhadap manipulasi awal (contohnya, input data yang salah) atau serangan siber yang dapat mengubah catatan.

Etika dan Transparansi:
1. Risiko Etika Ketika Estimasi dan Judgment Keuangan Digantikan oleh Algoritma AI
Perubahan dalam penilaian akuntansi dari manusia ke algoritma AI menghadirkan masalah etika yang signifikan karena dapat mengancam tanggung jawab dan keutuhan profesi. Ketergantungan kecerdasan buatan terhadap data masa lalu dapat mengulangi bias yang sudah ada dalam estimasi (contohnya, risiko kredit atau nilai tukar), sementara sifat algoritma yang sering tidak dapat dilihat atau dimengerti menyebabkan kurangnya transparansi dan mempersulit akuntan untuk memverifikasi keakuratan. Masalah ini bertentangan langsung dengan Kode Etik profesi akuntansi (seperti IFAC) yang mengharuskan kejujuran dan objektivitas, serta mendorong praktik "algoritma washing" di mana manajemen dapat menyalahgunakan tampak netralitas AI untuk membenarkan manipulasi, walaupun akuntan tetap akan bertanggung jawab secara etis atas kegagalan sistem meskipun mereka tidak mengendalikan kode program tersebut.
2. Cara Akuntan Profesional Menyikapi Tekanan untuk "Menyesuaikan" Hasil Laporan
Akuntan yang professional perlu menolak pengaruh manipulatif dengan menjadikan integritas dan objektivitas sebagai hal yang paling penting, sesuai dengan kode etik profesi (IAI/IFAC), yang dengan jelas melarang penyesuaian yang ditujukan untuk menipu atau mempercantik laporan. Pendekatan penanganan ini melibatkan pencatatan ketidaksepakatan dengan manajemen dan melaporkannya kepada Komite Audit atau pihak berwenang (seperti OJK di Indonesia) jika terdapat tekanan. Akuntan diwajibkan untuk menerapkan penilaian profesional agar setiap estimasi (termasuk yang dihasilkan oleh AI) didasarkan pada data yang layak, bukan untuk tujuan kosmetik seperti yang diduga pada PT Delta. Selanjutnya, akuntan harus mendorong transparansi sepenuhnya melalui pengungkapan penggunaan teknologi (AI dan blockchain) serta melakukan audit independen terhadap algoritma tersebut, sehingga mereka dapat berfungsi sebagai penjaga integritas yang penting bagi kepercayaan investor.

Respon Strategis
1. Rekomendasi untuk Perusahaan dan Akuntan Publik dalam Audit dan Pengawasan Sistem Akuntansi Berbasis Teknologi Tinggi
Untuk menangani kompleksitas yang ditimbulkan oleh AI dan blockchain, perusahaan seperti PT Delta serta akuntan publik perlu mengadaptasi cara audit mereka dengan meningkatkan pengawasan internal dan manajemen teknologi informasi. Perusahaan harus rutin melaksanakan audit terhadap algoritma AI dan memastikan penerapan blockchain memiliki jejak audit yang handal, sedangkan auditor publik perlu menciptakan standar audit baru yang mencakup pengujian algoritma AI melalui simulasi dan analisis logika, serta memverifikasi data blockchain dengan alat forensik digital. Perubahan ini memerlukan kerja sama lintas disiplin dengan para ahli TI dan mendorong pelatihan auditor digital untuk memastikan pengawasan dan jaminan yang diberikan dapat mendeteksi ketidakwajaran serta mencegah potensi manipulasi sistematis yang bisa saja disengaja.
2. Apakah Standar Pelaporan Keuangan Saat Ini Cukup Adaptif?
Menurut pandangan saya standar yang ada saat ini, seperti IFRS dan GAAP, tidak sepenuhnya sesuai dengan kompleksitas finansial di era digital dan global. Meskipun telah mengalami perubahan (contohnya, IFRS 9 untuk instrumen keuangan dan IFRS 15 untuk pengakuan pendapatan), namun standar ini tetap berlandaskan pada penilaian manusia dan belum sepenuhnya mampu memasukkan penggunaan AI atau blockchain. Contohnya, IFRS tidak menyediakan pedoman yang jelas untuk pengakuan aset digital atau teknologi audit berbasis algoritma, yang dapat menyebabkan ketidakjelasan dalam transparansi dan keakuratan, seperti yang terlihat dalam kasus manipulasi estimasi di PT Delta.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Analisis Kritis
● Pemanfaatan AI dan blockchain mengganggu konsep utama akuntansi konvensional, seperti keandalan bukti, transparansi proses, dan fleksibilitas koreksi. Sistem AI sering menghasilkan estimasi secara otomatis tanpa penjelasan yang jelas, sehingga sulit dipahami oleh auditor. Sementara itu, karakter permanen blockchain menyulitkan penyesuaian transaksi. Selain itu, pemisahan data yang tersimpan di blockchain dan data tambahan di luar jaringan membuat proses verifikasi menjadi lebih kompleks. Situasi ini menuntut penyesuaian ulang terhadap konsep verifiabilitas dan pertimbangan profesional dalam akuntansi.
● Digitalisasi memang meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kecepatan pelaporan, namun juga menciptakan bentuk manipulasi baru. Manajemen dapat mengatur parameter algoritma untuk menunda pencatatan beban atau mengubah estimasi tanpa terlihat jelas. Input yang dimasukkan ke sistem AI pun bisa dimanipulasi, dan kerumitan model membuat kesalahan atau bias lebih sulit diidentifikasi auditor. Dengan demikian, risiko manipulasi beralih dari level transaksi ke level sistem dan algoritma.

2. Etika dan Transparansi
● Ketika algoritma mulai mengambil alih proses penilaian dan estimasi, muncul risiko siapa yang bertanggung jawab atas hasilnya. Akuntan juga berisiko kehilangan kapasitas judgement karena terlalu bergantung pada model otomatis. Selain itu, manajemen mungkin memanfaatkan kurangnya transparansi sistem untuk menampilkan laporan yang tampak lebih baik, menempatkan akuntan dalam posisi etis yang sulit.
● Akuntan harus tetap berpegang pada prinsip skeptisisme profesional. Mereka perlu meminta dokumentasi lengkap terkait penggunaan algoritma, termasuk parameter dan rekam jejak perubahan. Jika ada desakan untuk “menyelaraskan angka” demi menarik investor, akuntan wajib menolak dan melaporkannya sesuai prosedur, menjaga independensi serta kepatuhan terhadap kode etik.

3. Respon Strategis
● Perusahaan perlu memperkuat tata kelola teknologi, termasuk pengujian model, verifikasi perubahan algoritma, dan rekonsiliasi data on-chain dan off-chain. Auditor harus mengembangkan kemampuan analitis terkait AI dan blockchain, menggunakan teknik audit berkelanjutan, serta menilai integritas model melalui pengujian sensitivitas. Dokumentasi dan akses terhadap log algoritma menjadi elemen penting untuk memperkuat audit.
● Standar akuntansi berbasis prinsip masih berfungsi sebagai fondasi, namun belum cukup spesifik untuk menangani isu-isu teknis dalam ekosistem digital, seperti pengakuan transaksi otomatis atau estimasi yang dihasilkan AI. Karena itu, diperlukan pedoman tambahan yang mengatur pengungkapan penggunaan teknologi, tata kelola model, serta metode audit yang sesuai dengan sistem berbasis AI dan blockchain.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Erlita Pakpahan -
Nama : Erlita pakpahan
NPM : 2413031077
Kelas : c

ANALIS KRITIS:
1. Tantangan Teori Akuntansi Tradisional di Era Sistem Otomatis & Blockchain
Teori akuntansi tradisional kesulitan karena blockchain dan otomatisasi mengubah konsep keandalan, verifikasi, dan kontrol. Proses yang dulu berbasis judgement manusia kini digantikan sistem digital yang kurang fleksibel terhadap prinsip akuntansi klasik.

2. Peluang & Risiko Digitalisasi terhadap Ekonomi Informasi Akuntansi.
Digitalisasi meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan ketepatan informasi, tetapi juga menghadirkan risiko seperti manipulasi berbasis algoritma, bias data, dan asimetri informasi yang lebih sulit dideteksi karena sifat sistem yang kompleks.

ETIKA DAN TRANSPARANSI :
1. Risiko Etika saat Estimasi Digantikan AI.
AI dapat menyembunyikan bias, manipulasi, ataupun keputusan tidak transparan, sehingga akuntan berisiko kehilangan independensi dan tanggung jawab moral jika hanya bergantung pada algoritma.

2. Sikap Akuntan terhadap Tekanan Penyesuaian Laporan.
Akuntan harus menjaga independensi, menolak intervensi yang menyesatkan, dan mengikuti kode etik profesi meskipun ada tekanan manajerial untuk mempercantik laporan.

RESPON STRATEGI:
1. Rekomendasi Penyesuaian Audit & Pengawasan.
Audit harus memperkuat IT audit, governance algoritma, verifikasi data blockchain, serta meningkatkan kompetensi auditor terhadap teknologi untuk memastikan integritas sistem digital.
2. Apakah Standar Keuangan Saat Ini Sudah Adaptif.
Standar saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital karena perkembangan teknologi lebih cepat dari standar. Namun, prinsip-prinsip IFRS masih dapat digunakan dengan penguatan panduan khusus dan penyempurnaan regulasi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

1. - Penerapan sistem otomatisasi dan blockchain oleh PT Delta Finansial menimbulkan tantangan signifikan terhadap teori akuntansi tradisional. Teori tradisional sangat bergantung pada konsep substansi mendahului bentuk (substance over form) dan pertimbangan profesional (professional judgment) akuntan. Namun, dalam lingkungan blockchain, bentuk teknis dan data yang tidak dapat diubah (immutability) sering menjadi substansi itu sendiri, menantang prinsip fleksibilitas dan estimasi akuntansi. Teknologi AI dan blockchain juga menantang prinsip periodisitas dan pengakuan pendapatan/beban karena transaksi dicatat secara real-time dan tersebar (distributed ledger), berbeda dengan sistem batch tradisional. Akibatnya, penentuan kapan laba "diperoleh" atau beban "terjadi" menjadi lebih ambigu dan tersembunyi di dalam logika algoritma.

- Digitalisasi menciptakan peluang dan risiko manipulasi informasi akuntansi. Peluangnya adalah peningkatan akurasi data, penghapusan entri ganda, dan peningkatan transparansi transaksi melalui audit trail yang tidak dapat diubah pada blockchain. Risiko manipulasi muncul dari sifat sistem itu sendiri. Dugaan delay pengakuan beban atau manipulasi estimasi akuntansi berbasis algoritma menunjukkan pergeseran risiko dari manajemen laba berbasis akrual manual ke manajemen laba berbasis kode. Jika logika algoritma yang menentukan estimasi (misalnya, cadangan kerugian kredit) diatur untuk menghasilkan hasil yang menguntungkan, manipulasi menjadi lebih sulit dideteksi karena terkesan "otomatis" dan "objektif."

Etika dan Transparansi
Penggantian estimasi dan judgment keuangan oleh algoritma AI menimbulkan risiko etika utama, yaitu hilangnya pertanggungjawaban manusia (human accountability). Akuntan berisiko melepaskan tanggung jawab etika mereka, menganggap hasil algoritma sebagai kebenaran mutlak dan menghindari perlunya skeptisisme profesional atas hasil tersebut. Ketika algoritma menjadi black box, sulit untuk mengetahui apakah hasil estimasi didasarkan pada bias yang disengaja atau bug kode. Risiko etika terbesar bagi akuntan profesional dalam menghadapi tekanan investor adalah pelanggaran integritas dengan membenarkan atau mengabaikan manipulasi akrual hanya karena didorong oleh sistem otomatisasi. Akuntan harus menolak tekanan untuk menyesuaikan laporan (misalnya, memanipulasi parameter input algoritma) dan menggunakan Kode Etik sebagai pedoman utama, bersikeras pada pelaporan true and fair view terlepas dari dampaknya terhadap citra perusahaan di pasar.

Respon Strategis
Menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan. Rekomendasinya meliputi:

1. Audit Algoritma (Algorithmic Auditing): Akuntan publik harus mengembangkan keahlian dalam mengaudit kode sumber (source code) dan logika machine learning yang mendasari estimasi akuntansi utama. Audit harus berfokus pada input data, logika pemrosesan, dan output algoritma, bukan hanya pada transaksi akhir.

2. Audit Berkelanjutan (Continuous Auditing): Memanfaatkan kemampuan blockchain yang real-time untuk melakukan audit secara berkelanjutan, memungkinkan deteksi anomali (seperti delay pengakuan beban) segera setelah terjadi, bukan hanya di akhir periode.

3 Penguatan Tata Kelola TI: Perusahaan harus memiliki tata kelola TI yang ketat atas perubahan kode AI, memastikan semua perubahan yang memengaruhi laporan keuangan ditinjau oleh Komite Audit dan unit kepatuhan.

Mengenai adaptabilitas, standar pelaporan keuangan saat ini (misalnya, IFRS/PSAK) belum sepenuhnya adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. Meskipun standar seperti IFRS 9 (Instrumen Keuangan) dan IFRS 15 (Pendapatan dari Kontrak Pelanggan) mencoba mengatasi estimasi yang kompleks, standar tersebut masih terlalu berfokus pada struktur transaksi tradisional dan basis akrual diskresioner manual. Standar saat ini kurang memberikan panduan yang eksplisit mengenai pelaporan aset kripto, perlakuan akuntansi untuk transaksi smart contract yang tereksekusi otomatis, dan bagaimana transparansi algoritma harus diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) untuk memitigasi risiko earnings management berbasis kode. Diperlukan kerangka kerja yang lebih berorientasi pada prinsip transparansi data dan algoritma daripada hanya rules transaksi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Melinda Dwi Safitri -

Nama: Melinda Dwi Safitri

Npm: 2413031092

Kelas: 2024 C

1. Analisis Kritis: Tantangan teori akuntansi tradisional dalam otomatisasi & blockchain

Sistem otomatis seperti AI dan blockchain membuat proses akuntansi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kerangka teori tradisional yang bergantung pada judgement manusia. Ketika algoritma mengambil alih penilaian, konsistensi penerapan prinsip akuntansi seperti penentuan nilai wajar, pencadangan, hingga cut-off menjadi sulit dievaluasi. Blockchain memang menjamin keaslian dan kronologi data, tetapi tidak memberi ruang fleksibilitas terhadap estimasi yang sifatnya subjektif. Karena proses akuntansi berlangsung otomatis, potensi rekayasa muncul bukan pada pencatatan, tetapi pada parameter yang dimasukkan ke sistem, sehingga manipulasi bisa tersamarkan sebagai “setelan algoritma”.

2. Analisis Kritis: Digitalisasi sebagai peluang & risiko manipulasi

Digitalisasi memberi keunggulan akurasi dan efisiensi, tetapi sekaligus membuka peluang manipulasi baru. Algoritma bisa diarahkan untuk menunda pengakuan beban atau mengatur estimasi agar laba terlihat stabil. Sistem yang kompleks juga membuat manipulasi lebih sulit terdeteksi karena jejaknya tersembunyi dalam kode atau pengaturan otomatis. Dengan kata lain, risiko bukan lagi pada jurnal manual, tetapi pada bias yang sengaja ditanamkan ke dalam sistem.

3. Etika & Transparansi: Risiko etika dalam penggunaan AI untuk judgement keuangan

Ketika judgement keuangan digantikan algoritma, akuntan berhadapan dengan dilema etika baru: apakah mereka memahami logika keputusan algoritma, dan apakah mereka bertanggung jawab atas output yang tidak mereka buat secara langsung. Tekanan untuk mempertahankan citra perusahaan juga membuat akuntan rawan diarahkan memilih parameter algoritmik yang menghasilkan laba lebih “cantik”. Di situ, integritas akuntan diuji untuk tetap memprioritaskan fairness dan keterandalan laporan.

4. Etika & Transparansi: Sikap akuntan menghadapi tekanan manajerial

Akuntan harus memegang prinsip objektivitas meskipun ada dorongan untuk menyesuaikan angka demi menarik investor. Mereka perlu menegaskan batas profesional—bahwa perbaikan kinerja harus dilakukan melalui tindakan bisnis, bukan manipulasi estimasi. Transparansi mengenai asumsi algoritma dan pengungkapan risiko juga menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.

5. Respon Strategis: Penyesuaian audit & pengawasan

Audit harus mulai bergeser ke pendekatan teknologi, termasuk audit algoritma, penilaian integritas data blockchain, dan pengujian parameter AI. Auditor perlu memahami bagaimana model memproses data, bukan hanya bagaimana laporan dihasilkan. Pengawasan internal juga harus diperkuat melalui kontrol atas input, pembaruan algoritma, dan proses validasi yang berkelanjutan.

6. Respon Strategis: Kecukupan standar pelaporan keuangan

Standar yang ada sebenarnya sudah menyediakan kerangka dasar, tetapi belum cukup responsif terhadap kompleksitas digital dan transaksi lintas negara. Banyak aspek baru seperti aset digital, smart contract, dan estimasi berbasis machine learning belum sepenuhnya tercakup. Karena itu, diperlukan pembaruan standar yang lebih adaptif dan memberikan panduan jelas tentang bagaimana entitas menilai, mencatat, serta mengungkapkan transaksi di era keuangan digital yang semakin global.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rency Husna Adinda -
Nama: Rency Husna Adinda
Npm: 2413031082

1. Analisis Kritis
a. Penerapan sistem otomatisasi dan blockchain dapat menimbulkan tantangan bagi teori akuntansi tradisional karena proses pencatatan yang sebelumnya dilakukan dengan bukti fisik dan pengendalian manual menjadi tergantikan oleh sistem digital. Kondisi ini membuat akuntan harus menyesuaikan diri dengan prosedur baru dalam memverifikasi data, mengelola transparansi transaksi, dan memahami cara kerja algoritma. Selain itu, kompleksitas teknis sistem digital sering kali menimbulkan kesulitan dalam menentukan dasar pengakuan dan pengukuran sesuai standar akuntansi yang berlaku.
b. Digitalisasi membuka peluang untuk meningkatkan kecepatan dalam pemrosesan data akuntansi, memudahkan pelacakan transaksi, serta memperbaiki efisiensi pelaporan keuangan. Namun, penggunaan algoritma dan sistem otomatis juga membawa risiko manipulasi informasi jika parameter perhitungan diubah atau jika terdapat kelemahan dalam pengendalian internal. Kesalahan dalam pemrograman atau perubahan data yang tidak terdeteksi dapat membuat laporan keuangan tampak wajar padahal sebenarnya menyembunyikan kondisi yang sesungguhnya.

2. Etika dan Transparansi
a. Ketika algoritma mengambil alih sebagian proses penilaian dan pengambilan keputusan, muncul tantangan etika terkait tanggung jawab profesional akuntan. Jika sistem menghasilkan estimasi atau judgement keuangan, akuntan tetap berkewajiban memberikan pertimbangan profesional untuk memastikan informasi yang disajikan tidak bias. Risiko lain adalah manajemen dapat memanfaatkan fleksibilitas digital untuk memanipulasi angka tanpa terlihat jelas sehingga menciptakan ketidaktransparanan dalam laporan keuangan.
b. Untuk menjaga prinsip transparansi, perusahaan perlu menerapkan prosedur audit digital yang jelas dan terdokumentasi. Laporan keuangan harus dapat ditinjau kembali dengan jejak yang dapat dilacak sehingga setiap perubahan data terekam dalam sistem. Selain itu, akuntan perlu memberikan penjelasan mengenai metode perhitungan berbasis algoritma agar pengguna laporan memahami dasar penyajian informasi. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan investor serta mengurangi risiko bias dalam penyampaian kondisi perusahaan.

3. Respon Strategis
a. Perusahaan perlu memperkuat tata kelola teknologi dengan membangun sistem pengendalian internal yang memadai, melakukan pemisahan tugas digital, serta memberikan otorisasi berlapis terhadap perubahan data akuntansi. Pemahaman terhadap teknologi seperti AI dan blockchain juga harus ditingkatkan, sehingga akuntan tidak sekadar menjadi operator sistem, tetapi mampu memastikan bahwa proses pencatatan sesuai dengan standar dan memperhatikan risiko penyimpangan. Langkah ini dapat meminimalkan potensi manipulasi data yang dilakukan melalui sistem otomatis.
b. Standar akuntansi berbasis prinsip tetap diperlukan untuk mengatur pelaporan keuangan digital. Regulasi yang ada saat ini belum secara spesifik menjelaskan perlakuan akuntansi dalam sistem berbasis AI dan blockchain, sehingga auditor dituntut untuk beradaptasi dan melakukan penilaian tambahan agar laporan keuangan tidak keliru. Selain itu, perusahaan harus mengikuti perkembangan kode etik profesi agar transparansi tetap terjaga dan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat yang mendukung akurasi pelaporan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nuraini Naibaho 2413031076 -
Nama : Nuraini Naibaho
Npm : 2413031076
Kelas : 24 C

1. Analisis Kritis
a. Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional dalam sistem otomatisasi dan blockchain
Masuknya teknologi otomatisasi dan blockchain membuat penerapan teori akuntansi konvensional menjadi kurang mudah, karena teori ini dibangun atas dasar proses pencatatan manual dan pertimbangan manusia. Dalam sistem digital, transaksi langsung diproses oleh program dan disimpan dalam jaringan yang tidak dapat diubah, sehingga akuntan tidak lagi memeriksa dokumen fisik, tetapi harus memahami cara kerja teknologi tersebut untuk menilai keandalan data.
Kesulitannya muncul ketika aturan akuntansi seperti pengakuan pendapatan, penentuan nilai, atau pencatatan transaksi harus diterapkan pada mekanisme teknologi yang berjalan otomatis dan terkadang tidak mempertimbangkan “substansi ekonomi”. Hal ini membuat akuntan dan auditor perlu mengembangkan kemampuan baru untuk menafsirkan data dan menilai bukti dalam konteks teknologi, bukan hanya prosedur tradisional.

b. Digitalisasi sebagai peluang dan risiko manipulasi informasi
Digitalisasi membuat proses akuntansi menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu menghasilkan informasi keuangan yang lebih tepat waktu. Teknologi membantu mengurangi kesalahan manual, menyederhanakan pelaporan, dan mempermudah analisis.
Tetapi di sisi lain, teknologi memberikan ruang baru bagi manipulasi. Rekayasa tidak lagi dilakukan melalui perubahan dokumen, tetapi melalui pengaturan sistem, algoritma, atau parameter yang sengaja diatur agar mengubah hasil laporan. Praktik seperti menunda pembebanan biaya atau mengatur estimasi dapat dilakukan secara halus melalui sistem otomatis, sehingga sulit dikenali tanpa pemahaman teknis. Dengan demikian, digitalisasi menciptakan kualitas informasi yang lebih baik, tetapi juga memperbesar risiko penyimpangan jika tidak diawasi dengan baik.

2. Etika dan Transparansi
a. . Risiko etika ketika keputusan akuntansi digantikan algoritma
Ketika sistem otomatis mengambil alih perhitungan dan estimasi, ada kemungkinan tanggung jawab profesional menjadi kabur. Secara tradisional, judgement akuntansi adalah hasil penilaian manusia yang harus dipertanggungjawabkan. Namun, bila keputusan berasal dari algoritma, sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Selain itu, algoritma sering bekerja tanpa penjelasan yang mudah dipahami, sehingga menimbulkan risiko kurangnya transparansi. Apabila keputusan teknologi tidak dapat dijelaskan dengan jelas, hal ini bisa memengaruhi kepercayaan publik dan mengurangi kualitas pelaporan keuangan.

b. Sikap akuntan ketika mendapat tekanan untuk mengubah laporan
Tekanan untuk menampilkan kinerja perusahaan secara menarik tetap ada, terutama ketika kondisi bisnis tidak stabil. Teknologi memungkinkan penyesuaian angka dilakukan secara sistematis dan otomatis, tetapi hal ini tetap bertentangan dengan nilai profesionalisme. Akuntan berkewajiban mempertahankan kejujuran laporan, bukan mengikuti tekanan untuk memoles angka. Menurut etika profesi, akuntan harus menolak praktik yang mengarah pada pelaporan yang menyesatkan dan tetap menjaga objektivitas meskipun keadaan perusahaan sulit atau ada dorongan dari manajemen.

3.Respon Strategis
a. Penyesuaian audit dan pengawasan dalam sistem teknologi tinggi
Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi, perusahaan dan auditor perlu mengubah fokus pengawasan, dari memeriksa dokumen menjadi menilai bagaimana teknologi bekerja. Auditor harus memahami cara sistem memproses data, mengidentifikasi risiko kesalahan, serta memeriksa apakah mekanisme pencatatan telah berjalan sesuai aturan.
Audit juga perlu menggunakan pendekatan berbasis analisis data agar dapat menilai keseluruhan transaksi, bukan hanya sampel. Pemantauan terhadap algoritma, validasi sistem, dan evaluasi keamanan menjadi bagian penting dari proses audit di era digital.

b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan terhadap teknologi dan globalisasi
Secara prinsip, standar pelaporan keuangan masih dapat diterapkan pada transaksi digital karena bersifat fleksibel dan prinsipil. Namun, perkembangan teknologi seperti blockchain dan AI menimbulkan situasi baru yang belum sepenuhnya tercakup dalam standar yang ada.
Oleh karena itu, sekalipun kerangka dasarnya masih relevan, praktik akuntansi digital membutuhkan pedoman lebih rinci mengenai cara pengakuan, pengukuran, dan verifikasi. Dalam konteks global, dibutuhkan pengembangan standar tambahan agar pelaporan tetap mampu menggambarkan realitas ekonomi dan menjaga transparansi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Sofia Dilara -
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

1. Analisis Kritis
a) Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional dalam otomatisasi & blockchain
Penerapan teknologi otomatisasi dan blockchain membawa tantangan baru bagi teori akuntansi tradisional. Prinsip-prinsip lama seperti matching dan pengakuan berbasis judgement manusia menjadi sulit diterapkan ketika keputusan pelaporan dilakukan oleh sistem otomatis yang bekerja berdasarkan algoritma. Sistem blockchain memang menghasilkan data yang permanen dan sulit dimanipulasi, tetapi ledger hanya mencatat kebenaran setelah data dimasukkan. Ini berarti kesalahan atau bias yang terjadi pada tahap input, desain sistem, atau parameter model tetap akan dipertahankan oleh sistem tanpa bisa diperbaiki. Selain itu, banyak estimasi akuntansi modern, seperti nilai wajar dan cadangan kerugian yang dibangun menggunakan model matematis dan machine learning, sehingga proses pengukuran tidak lagi sepenuhnya bersandar pada judgement profesional. Kompleksitas model juga menciptakan kesenjangan pemahaman antara pembuat laporan, auditor, regulator, dan investor.

b) Digitalisasi: peluang dan risiko manipulasi informasi
Digitalisasi memberi peluang besar dalam meningkatkan akurasi dan efisiensi pengelolaan informasi akuntansi. Otomatisasi transaksi mengurangi kesalahan manual, blockchain menyediakan jejak bukti yang lengkap, dan analitik real-time membantu manajemen mengambil keputusan cepat. Namun, teknologi yang sama juga menciptakan risiko manipulasi baru. Perusahaan dapat mengatur parameter algoritma untuk menunda pengakuan beban, menghaluskan laba (earnings smoothing), atau memilih input data tertentu agar hasil terlihat stabil. Risiko ini semakin tinggi ketika pihak luar tidak memahami metode, kode, atau algoritma yang digunakan. Dengan kata lain, digitalisasi meningkatkan transparansi transaksi, tetapi justru dapat menyembunyikan manipulasi yang terjadi pada tingkat model dan estimasi.

2. Etika dan Transparansi
a) Risiko etika bagi akuntan ketika judgement digantikan AI
Ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma, muncul risiko etika yang serius. Permasalahan utama adalah hilangnya akuntabilitas: siapa yang bertanggung jawab jika hasil estimasi ternyata salah atau menyesatkan? Akuntan mungkin merasa terlindungi karena keputusan “dibuat oleh sistem”, sementara sistem itu sendiri mungkin dirancang atau disesuaikan untuk mencapai hasil tertentu. Selain itu, ada risiko bias tersembunyi dalam model, misalnya input data yang tidak representatif, asumsi yang terlalu optimistis, atau parameter yang disetel untuk menjaga citra perusahaan. Ketika algoritma bekerja dalam “kotak hitam”, auditor, regulator, dan pengguna laporan menjadi sulit untuk menilai apakah angka yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang wajar.

b) Sikap profesional menghadapi tekanan untuk “menyesuaikan” hasil laporan
Akuntan profesional harus tetap berpegang pada prinsip integritas, objektivitas, dan independensi. Tekanan untuk menampilkan laporan yang terlihat menarik bagi investor adalah tantangan nyata, terutama dalam industri teknologi finansial yang kompetitif. Akuntan seharusnya bersikap tegas bahwa pelaporan keuangan tidak boleh dijadikan alat pemasaran. Ketika ada permintaan “penyesuaian” hasil, langkah etis yang dapat dilakukan adalah meminta dokumentasi keputusan, melakukan analisis alternatif, dan mengeskalasi ke komite audit apabila diperlukan. Transparansi juga penting: akuntan harus mendorong pengungkapan asumsi, metode, dan sensitivitas estimasi agar pemangku kepentingan dapat memahami sumber angka dan risiko yang menyertainya.

3. Respon Strategis
a) Penyesuaian praktik audit dan pengawasan
Agar sejalan dengan perkembangan sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan akuntan publik perlu melakukan beberapa penyesuaian strategis. Pertama, dibutuhkan governance terhadap penggunaan AI, termasuk dokumentasi asumsi, kontrol perubahan model, dan validasi berkala. Auditor harus memperluas prosedur pemeriksaan tidak hanya pada angka dan dokumen, tetapi juga pada log sistem, pemrograman kode, serta sumber data yang digunakan oleh algoritma. Audit berbasis data real-time, shadow calculations (perhitungan paralel), dan stress testing perlu dilakukan untuk memeriksa keandalan dan konsistensi hasil. Selain itu, keterlibatan ahli IT, data scientist, dan spesialis keamanan data menjadi bagian penting dari tim audit.

b) Kecukupan standar pelaporan keuangan di era digital
Secara prinsip, standar pelaporan keuangan seperti IFRS atau PSAK masih dapat diterapkan karena bersifat berbasis-prinsip dan fleksibel. Namun, di sisi teknis, standar tersebut belum sepenuhnya memberikan panduan rinci mengenai penggunaan model AI, blockchain, dan aset digital. Pengungkapan metodologi algoritma, parameter model, dan asumsi kunci sering kali tidak diwajibkan secara eksplisit, padahal justru aspek-aspek ini yang dapat mempengaruhi materialitas laporan. Oleh karena itu, standar pelaporan keuangan perlu lebih adaptif dengan menambahkan panduan mengenai transparansi data, risiko model, dan tata kelola sistem otomatis. Tanpa penyesuaian, ada risiko bahwa laporan keuangan terlihat lengkap secara formal, tetapi gagal menyampaikan realitas ekonomi perusahaan yang sebenarnya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Esa Azalia Zahra -
Nama : Esa Azalia Zahra
NPM : 2413031084
Kelas : 24 C

ANALISIS KRITIS
1. Tantangan Teori Akuntansi Tradisional
Implementasi sistem otomatisasi yang menggunakan AI dan blockchain oleh PT Delta Finansial menghadapi hambatan besar bagi teori akuntansi konvensional, terutama yang berfokus pada aspek keandalan dan penilaian profesional. Teori konvensional, seperti Positive Accounting Theory, beranggapan bahwa pencatatan dan estimasi membutuhkan pemikiran manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, saat transaksi dicatat secara otomatis oleh AI dan diverifikasi secara permanen oleh blockchain, perhatian terhadap keandalan berpindah dari penilaian manusia menuju kemampuan verifikasi yang melekat pada sistem. Masalah yang muncul adalah terkait "kotak hitam" pada AI: akuntan dan auditor kesulitan memahami alasan di balik keputusan algoritma dalam memberikan estimasi tertentu (seperti estimasi piutang tak tertagih atau usia manfaat aset), yang mengancam prinsip transparansi dan verifikasi yang sangat penting. Selain itu, karakteristik tidak bisa diubah dari blockchain juga menantang prinsip konservatisme dan penyesuaian mundur, karena memperbaiki data yang salah menjadi jauh lebih rumit setelah data terkonfirmasi dalam jaringan.

2. Peluang dan Risiko Manipulasi Digital
Proses digitalisasi membuka peluang signifikan untuk meningkatkan relevansi dan ketepatan waktu informasi akuntansi, sesuai dengan tujuan konseptual laporan keuangan. Dengan otomatisasi yang didorong AI, pelaporan secara langsung dan analisis data besar dapat menghasilkan estimasi yang lebih tepat secara prediktif. Meskipun demikian, digitalisasi juga menimbulkan ancaman baru terkait manipulasi yang lebih rumit. Risiko utama muncul dari manipulasi estimasi berbasis algoritma, yang memungkinkan manajemen mengubah parameter input data atau bobot algoritma (kesalahan algoritmik) untuk mendapatkan angka laba yang diinginkan (misalnya, menunda pengakuan biaya atau merubah asumsi usia aset) tanpa meninggalkan jejak audit yang jelas dan konvensional. Risiko lain timbul dari teknik pengolahan pada data blockchain yang, meskipun keras untuk dimanipulasi setelah dicatat, mungkin sudah terkontaminasi atau salah saat entri awal (kualitas data buruk, kualitas hasil buruk), menciptakan ilusi integritas data padahal sebenarnya sudah dimanipulasi pada tahap awal.

ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Risiko Etika dari Algoritma AI
Masalah etika utama yang dihadapi oleh akuntan PT Delta Finansial berasal dari penggantian penilaian manusia dengan algoritma AI. Masalah ini menciptakan penurunan dalam akuntabilitas moral. Ketika estimasi keuangan tidak tepat, akuntan dapat berlindung di balik "keputusan algoritma," yang mengurangi perasaan tanggung jawab profesional individu. Risiko lainnya adalah adanya bias yang sudah diprogram. Jika algoritma dibangun dengan menggunakan data sejarah yang bias (seperti dalam penilaian kredit yang mungkin mendiskriminasi kelompok tertentu secara tidak adil), AI dapat memperkuat dan memperbesar bias tersebut, yang bertentangan dengan prinsip keadilan dan objektivitas dalam akuntansi. Akuntan berisiko kehilangan kemampuan untuk membuat penilaian etis dan menolak hasil yang secara teknis benar tetapi secara substansial tidak etis atau tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

2. Menyikapi Tekanan Penyesuaian Laporan
Akuntan profesional di PT Delta Finansial harus menghadapi tekanan untuk mengubah hasil laporan dengan tetap berpegang pada Kode Etik Akuntan Profesional (IAI) yang menegaskan pentingnya integritas dan objektivitas. Mereka wajib menolak segala bentuk manipulasi data atau parameter algoritma yang bertujuan untuk menyesatkan penerima laporan keuangan. Secara strategis, para akuntan perlu berperan sebagai pengawas (gatekeepers) yang melakukan pengawasan terhadap sistem AI. Ini meliputi memastikan bahwa: (a) semua asumsi dan parameter dalam model AI didokumentasikan dengan jelas dan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), (b) setiap modifikasi manual atau penyesuaian pada hasil AI diungkapkan dengan jelas, dan (c) menerapkan sikap skeptis profesional yang tinggi terhadap hasil yang tampak terlalu konsisten di saat pasar tidak stabil, seperti yang dicurigai oleh analis luar.

RESPON STRATEGIS
1. Penyesuaian Praktik Audit dan Pengawasan
Dalam menghadapi sistem akuntansi yang berteknologi tinggi, perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan metode audit mereka dengan model Audit 4. 0. Pertama, Audit Berkelanjutan: Akuntan publik perlu beralih dari audit berbasis sampel dan tahunan menuju audit berkelanjutan (Continuous Auditing) yang menganalisis aliran data transaksi secara real-time dan tidak dapat diubah yang tercatat di blockchain. Kedua, Jaminan Algoritmik: Akuntan perlu mengasah keterampilan dalam bidang forensik digital dan data science untuk dapat melakukan audit terhadap algoritma (Audit of the Algorithm). Ini berarti perlu memverifikasi validitas dan pemahaman model AI itu sendiri, bukan hanya hasil yang dihasilkannya. Ketiga, Kerangka Pengelolaan Teknologi: PT Delta Finansial perlu menerapkan kerangka tata kelola TI (seperti COBIT) dan Kontrol Internal atas Laporan Keuangan (ICFR) yang khusus mengatur kontrol terhadap akses dan perubahan parameter AI serta data awal yang dimasukkan ke blockchain.

2. Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan (SAK/IFRS)
Saya berpendapat bahwa standar pelaporan keuangan yang ada saat ini (IFRS/SAK) masih belum cukup fleksibel untuk sepenuhnya menangani kompleksitas keuangan digital serta globalisasi. Walaupun standar seperti IFRS 13 (Pengukuran Nilai Wajar) memperbolehkan penggunaan model, mereka masih bergantung pada harapan akan transparansi dalam penilaian manusia dan struktur input yang jelas, yang sulit diterapkan pada hasil model "kotak hitam" AI yang tidak dapat dilihat dan komprehensif. Selain itu, standar akuntansi saat ini tidak memberikan pedoman yang jelas mengenai: (a) Pengakuan dan pengukuran aset digital/tokenisasi yang spesifik, (b) Pengungkapan wajib tentang arsitektur dan parameter model AI yang diterapkan dalam estimasi material, dan (c) Perlakuan akuntansi terhadap kontrak pintar (smart contracts). Dibutuhkan upaya global dari badan standarisasi (seperti IASB) untuk mengembangkan standar yang berfokus pada Jaminan atas Pengelolaan AI dan mewajibkan pengungkapan yang lebih detail (berbasis prinsip pengungkapan) untuk menjembatani kesenjangan antara penilaian algoritmik dan kebutuhan verifikasi dari pengguna laporan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rizky Abelia Putri -
Nama: Rizky Abelia Putri
Npm: 2413031098
Kelas 24c


1. Analisis Kritis
PT Delta Finansial menghadapi tantangan dalam menerapkan teori akuntansi tradisional seperti prinsip pengakuan pendapatan dan estimasi cadangan karena sistem AI dan blockchain menghasilkan data real-time yang immutable, yang bertentangan dengan penilaian subjektif berbasis judgment manusia. Otomatisasi ini mengurangi fleksibilitas untuk menyesuaikan akrual secara manual, tetapi menimbulkan isu rekonsiliasi antara ledger terdistribusi blockchain dengan standar seperti IFRS yang masih bergantung pada estimasi periodik. Digitalisasi menciptakan peluang melalui transparansi data yang lebih tinggi dan pengurangan kesalahan manusia, namun berisiko manipulasi melalui algoritma yang diprogram untuk delay pengakuan beban atau over-optimistic estimasi, seperti terlihat pada peningkatan earnings management di supplier firms pasca-adopsi blockchain pelanggan.​

2.Risiko Etika dan Transparansi
Akuntan menghadapi risiko etika ketika AI menggantikan judgment, karena algoritma bisa di-bias oleh data input atau desain yang memprioritaskan target laba, mengerosi prinsip integritas dan objektivitas seperti yang diatur dalam kode etik IFAC. Tekanan untuk "menyesuaikan" laporan dapat mendorong konflik kepentingan, di mana akuntan profesional harus menolak dengan mendokumentasikan bukti, berkonsultasi komite audit, dan melaporkan ke regulator jika diperlukan, guna menjaga independensi. Blockchain justru dapat mengurangi risiko ini melalui traceability, meski implementasi yang buruk berpotensi menciptakan blind spot pada real earnings management.​

3.Respon Strategis
Perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan audit dengan tools AI-augmented untuk continuous auditing pada blockchain ledger, mengintegrasikan smart contract verification, dan melatih auditor pada data analytics untuk deteksi anomali algoritma. Standar pelaporan seperti IFRS saat ini kurang adaptif terhadap kompleksitas digital karena masih mengandalkan disclosure manual dan estimasi, sehingga memerlukan amandemen untuk mandatory blockchain reporting dan AI governance framework guna mengakomodasi globalisasi fintech. Rekomendasi mencakup kolaborasi dengan regulator untuk pilot program audit berbasis blockchain dan peningkatan pengawasan internal pada model AI.​
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Tantangan Otomatisasi dan Blockchain bagi Teori Akuntansi

Teori akuntansi yang berlaku saat ini mengalami kendala terkait kapasitas blockchain dalam menangani data bervolume besar yang memperlambat proses, juga karena ketidakpastian aturan yang masih dalam pengembangan untuk sistem terdesentralisasi. Inovasi otomatisasi AI serta blockchain mengubah cara manual dalam mencatat transaksi menjadi validasi instan lewat smart contracts, yang bisa mengurangi kesalahan manusia, namun menuntut perubahan pada asumsi akuntansi yang ada.

Peluang dan Bahaya Manipulasi di Era Digital

Digitalisasi menawarkan kesempatan untuk meningkatkan efisiensi melalui otomatisasi pencatatan dan pemanfaatan deteksi kecurangan berbasis AI, juga transparansi dari buku besar blockchain yang tak bisa diubah. Meski begitu, ada risiko manipulasi algoritma yang bisa menunda pengakuan beban atau pemalsuan data lewat serangan siber, terutama pada perkiraan rumit, seperti nilai tukar di industri fintech global.

Risiko Etika Akuntan dengan Estimasi AI

Akuntan menghadapi risiko yang berasal dari bias algoritmik yang timbul dari data historis yang tak netral, yang dapat mengganggu objektivitas penilaian profesional, serta minimnya transparansi terkait "kotak hitam" AI yang sulit dipahami. Perlindungan terhadap data sensitif juga menjadi masalah tanpa adanya pengamanan yang memadai, yang mengharuskan akuntan untuk tetap bertanggung jawab atas hasil dari pemakaian AI.

Sikap Profesional terhadap Tekanan Manipulasi

Akuntan profesional wajib menolak segala bentuk tekanan dengan berpegang pada kode etik yang mengutamakan independensi, melaporkan dugaan manipulasi pada pihak berwenang seperti OJK, dan mewujudkan budaya transparan di dalam organisasi. Komitmen etis biasanya lebih kuat pada perusahaan yang berfokus pada kepatuhan, agar terhindar dari sanksi yang bisa berujung pada pencabutan izin audit.

Rekomendasi Audit dan Pengawasan Teknologi Tinggi

Perusahaan dan akuntan publik disarankan menerapkan audit berkelanjutan berbasis AI dan blockchain untuk validasi instan, melatih auditor dalam analisis data besar, serta bekerja sama dengan regulator untuk menetapkan standar baru. Penggunaan machine learning untuk deteksi anomali dan smart contracts dapat menekan biaya sekaligus meningkatkan akurasi.

Adaptasi Standar Pelaporan Keuangan yang Ada

Standar seperti IFRS cukup fleksibel dengan pendekatan berbasis prinsip dan alat digital XBRL untuk pelaporan instan lintas batas, mendukung proses globalisasi dalam fintech. Meski demikian, kompleksitas yang ditimbulkan oleh AI dan blockchain menuntut pengembangan lebih lanjut pada regulasi mengenai privasi dan penipuan digital agar bisa diakomodasi secara menyeluruh.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Alfiantika Putri -
Nama : Alfiantika Putri
NPM : 2413031095

Jawaban Pertanyaan :

1. Teori akuntansi biasa dibuat untuk catatan yang ditulis tangan oleh manusia, yang bisa diperiksa ulang atau diubah jika salah, dan banyak keputusan bergantung pada pertimbangan akuntan sendiri. Tetapi, ketika perusahaan seperti PT Delta pakai AI untuk catat transaksi dan blockchain untuk simpan data, semuanya berubah jadi otomatis dan data tidak bisa dihapus begitu saja. Misalnya, blockchain membuat catatan transaksi tetap selamanya, sehingga kalau ada kesalahan, tidak bisa langsung diperbaiki seperti saat menggunakan akuntansi biasa, melainkan harus ditambahkan catatan baru di atasnya, yang menyulitkan penerapan prinsip akuntansi tradisional seperti koreksi manual. Selain itu, sistem ini bisa update nilai keuangan hampir secara langsung setiap saat, padahal aturan lama dirancang untuk laporan yang dibuat sekali setahun atau per kuartal, sehingga ada pertanyaan kapan sebenarnya pendapatan atau beban harus dihitung. Akuntan juga tidak lagi fokus mencatat, tapi lebih ke mengawasi apakah sistem komputer bekerja dengan benar.
2. Penggunaan teknologi digital seperti AI dan blockchain di PT Delta memang membuka peluang besar untuk membuat laporan keuangan lebih cepat, akurat, dan mudah dilacak karena jejak setiap transaksi jadi jelas dan sulit disembunyikan jika sistemnya dirancang dengan baik. AI juga bisa menemukan kesalahan atau kecurangan lebih awal daripada manusia. Akan tetapi, hal ini juga menciptakan risiko baru dalam memanipulasi informasi, bukan dengan mengubah angka, melainkan dengan mengatur pengaturan di balik sistem, seperti mengubah asumsi dalam model AI agar beban seperti cadangan kerugian diakui lebih lambat atau nilai aset dinilai lebih tinggi dari seharusnya. Di PT Delta, kecurigaan delay pengakuan beban kemungkinan besar terjadi, di mana manajemen tidak perlu menyentuh jurnal manual cukup ubah tingkat risiko atau umur manfaat aset digital, sehingga laba terlihat stabil meski kondisi sebenarnya tidak mudah.
3. Saat estimasi keuangan seperti cadangan rugi atau nilai aset diambil alih oleh algoritma AI di PT Delta, akuntan menghadapi risiko moral serius karena mereka tetap bertanggung jawab atas kebenaran laporan secara keseluruhan, tapi sulit dijelaskan mengapa AI memilih angka tertentu sebab banyak model AI yang logikanya sulit dipahami. Ini bisa membuat akuntan kurang waspada atau bersembunyi di balik alasan "itu hasil komputer", padahal aturan profesi mengharuskan mereka jujur dan hati-hati. Selain itu, ada bahaya bisa dari data buruk yang dipakai melatih AI, misalnya menilai risiko kredit lebih rendah untuk pelanggan tertentu, atau masalah privasi karena data nasabah jadi terlalu banyak digunakan, yang melanggar prinsip kerahasiaan dan keadilan.​
4. Dalam situasi PT Delta yang tertekan likuiditas dan nilai tukar naik-turun, manajemen sering meminta akuntan menyesuaikan hasil agar investor tetap percaya, tapi akuntan profesional harus menolak dengan tegas dengan berpegang pada aturan standar akuntansi dan kode etik yang menekankan kejujuran serta objektivitas, sehingga perubahan asumsi AI hanya boleh dilakukan jika ada alasan bisnis nyata dan dicatat lengkap beserta dampaknya terhadap laba. Dokumentasi ini jadi perlindungan jika nanti ada investigasi, dan jika tekanan terlalu kuat sampai mengarah pada kecurangan, akuntan wajib lapor ke komite audit, atasan, atau regulator untuk menjaga integritas profesi.​
5. Bagi PT Delta dan akuntan publik yang mengauditnya, pendekatan lama seperti cek sampel transaksi kertas sudah tidak cukup, sekarang audit harus cek sistem secara keseluruhan, termasuk memeriksa bagaimana model AI dilatih, data apa yang dipakai, dan apakah pengaturannya bisa menghasilkan angka, serta kode blockchain untuk pastikan akses dan perubahan aman. Auditor perlu belajar keterampilan baru seperti analisis data dan pemahaman blockchain agar bisa uji sistem bukan hanya hasil akhirnya, sambil catat semua perubahan parameter atau update kode sebagai jejak audit yang kuat, dan sering libatkan ahli IT untuk bantu nilai keamanan dan logika algoritma.​
6. Menurut saya, standar seperti IFRS sudah mulai menyesuaikan dengan dunia digital, misalnya dengan panduan untuk aset kripto yang diperlakukan sebagai aset tak berwujud atau nilai pasar, serta penggunaan fair value untuk instrumen keuangan yang fluktuatif, yang cocok untuk fintech global seperti PT Delta.Tetapi, standar ini masih lambat mengejar kecepatan inovasi seperti pinjaman digital lintas negara, smart contract, sehingga banyak area abu-abu yang bisa dimanfaatkan untuk trik akuntansi, dan diperlukan update rutin serta kerjasama internasional agar kerangka konseptualnya lebih siap hadapi AI.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Della Puspita -
Nama : Della Puspita
NPM :2453031007

1. Analisis Kritis
• Tantangan bagi teori akuntansi konvensional ketika perusahaan mengadopsi AI dan blockchain
Penerapan AI dan blockchain memerlukan penyesuaian signifikan terhadap teori akuntansi konvensional. Dalam sistem AI, berbagai proses akuntansi berjalan secara otomatis, sehingga akuntan kesulitan untuk memahami dengan jelas bagaimana angka atau estimasi tersebut dihasilkan. Hal ini menantang prinsip akuntansi yang menekankan transparansi dan dasar perhitungan yang dapat dijelaskan. Blockchain juga menimbulkan kesulitan karena data yang telah dimasukkan tidak dapat diubah. Apabila terjadi kesalahan pencatatan, proses koreksinya menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan metode akuntansi standar. Oleh karena itu, akuntan harus menguasai teknologi baru untuk menjaga keandalan dan akurasi laporan keuangan.
• Digitalisasi sebagai kesempatan dan bahaya manipulasi data akuntansi
Digitalisasi menawarkan peluang seperti pencatatan yang lebih cepat, data yang lebih akurat, serta proses kerja yang lebih efisien. Namun, hal ini juga membawa risiko manipulasi. Sistem AI dapat diprogram untuk memengaruhi estimasi atau menunda pencatatan beban tanpa terdeteksi oleh auditor. Karena prosesnya otomatis, manipulasi dapat terjadi secara tersembunyi. Blockchain pun tidak sepenuhnya kebal dari manipulasi jika data awal yang dimasukkan sudah tidak benar. Dengan demikian, digitalisasi memberikan manfaat, tetapi tetap memerlukan pengawasan dan kontrol yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan informasi akuntansi.

2. Etika dan Transparansi
• Risiko etis ketika AI menggantikan penilaian akuntan
Ketika algoritma AI mulai mengambil alih proses estimasi, akuntan berpotensi kehilangan pemahaman mendalam terhadap mekanismenya. Meskipun mereka tetap bertanggung jawab, mereka tidak selalu mengetahui bagaimana angka tersebut dihasilkan. Jika sistem diprogram dengan bias tertentu, akuntan mungkin menyetujui hasil yang tidak tepat. Ketergantungan berlebihan pada AI juga dapat mengurangi kemampuan akuntan untuk menilai data secara kritis.

• Pendirian akuntan di bawah tekanan untuk "memperbaiki" laporan
Akuntan harus tetap menjunjung integritas dan berpegang teguh pada prinsip profesional. Jika ada desakan untuk membuat laporan tampak lebih menarik, akuntan wajib menolaknya dengan alasan etis, menjelaskan risiko yang mungkin timbul, serta melaporkan tekanan tersebut kepada komite audit atau otoritas terkait di perusahaan.

3. Respon Strategis
• Penyesuaian proses audit dan pengawasan dalam era teknologi canggih
Audit perlu beradaptasi dengan memeriksa bukan hanya angka-angka, tetapi juga sistem AI dan blockchain yang diterapkan. Auditor harus memahami fungsi algoritma, risiko kesalahan input, serta keamanan data. Perusahaan juga harus memperkuat mekanisme kontrol internal untuk mencegah manipulasi sistem.

• Apakah standar yang ada saat ini cukup fleksibel?
Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya mampu mengakomodasi perkembangan teknologi digital yang pesat. Banyak aturan belum secara spesifik mengatur penerapan AI dan blockchain. Oleh karena itu, standar tersebut perlu direvisi agar lebih selaras dengan praktik keuangan kontemporer.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Lola Egidiya -
Nama : Lola Egidiya
NPM : 2413031087
Kelas : 24C

ANALISIS KRITIS
1. Penerapan teori akuntansi tradisional menghadapi tantangan mendasar ketika dihadapkan pada sistem otomatisasi AI dan Blockchain, terutama pada isu verifiabilitas dan objektivitas. Blockchain menciptakan sistem triple entry yang secara teknis sangat andal karena sifatnya yang immutable (tidak dapat diubah), namun secara bersamaan menantang auditor konvensional yang terbiasa melacak jejak audit dokumen sumber fisik berdasarkan prinsip substance over form. Selanjutnya, dalam ekosistem fintech yang bergerak cepat dan aset digital yang volatil, prinsip biaya historis menjadi kurang relevan untuk menyajikan nilai aset yang benar dan wajar. Selain itu, penggunaan smart contracts di Blockchain mengotomatisasi pengakuan transaksi, secara efektif mengeliminasi judgement akrual di titik waktu tertentu, sehingga memaksa kerangka teori akuntansi untuk beradaptasi dari pengukuran berbasis peristiwa menjadi pengukuran yang didorong oleh kode dan algoritma.

2. Digitalisasi menciptakan peluang substansial melalui otomatisasi, mengurangi kesalahan manusia, dan meningkatkan integritas data karena sifat immutable dari ledger terdistribusi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keandalan (reliability) laporan keuangan. Namun, digitalisasi juga melahirkan risiko manipulasi yang jauh lebih canggih, seperti yang dicurigai terjadi di PT Delta Finansial. Manipulasi bergeser dari penyesuaian entry manual menjadi manipulasi input dan parameter algoritma. Akuntan atau manajemen dapat secara sengaja memilih atau mengubah asumsi dalam model AI (misalnya, suku bunga, tingkat diskonto) yang digunakan untuk estimasi akuntansi seperti cadangan kerugian piutang untuk menunda pengakuan beban (delay recognition of expenses) atau menstabilkan laba secara artifisial, yang menghasilkan praktik earnings management yang tersembunyi dalam kompleksitas kode dan sulit dideteksi tanpa audit teknologi yang mendalam.

ETIKA DAN TRANSPARANSI
1. Ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI, risiko etika utama bergeser dari kesalahan manusia menjadi algorithmic bias dan opacity. Kurangnya akuntabilitas etis menjadi isu sentral, sebab sulit untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab (akuntan, data scientist, atau pemrogram) jika algoritma secara sistematis menghasilkan output yang manipulatif atau bias (misalnya, selalu meremehkan risiko). Selain itu, masalah kotak hitam (black box) pada model AI yang canggih melanggar prinsip objektivitas dan transparansi akuntan. Akuntan mungkin hanya menerima hasil tanpa mampu memverifikasi atau menjelaskan logika internal model tersebut secara memadai, yang merupakan pelanggaran serius terhadap tanggung jawab profesional untuk menyajikan gambaran yang benar dan wajar.

2. Akuntan profesional wajib menyikapi tekanan manajemen untuk "menyesuaikan" hasil laporan seperti yang dihadapi PT Delta dengan berpegang teguh pada Prinsip Integritas dan Objektivitas yang diamanatkan Kode Etik Akuntan Profesional (IESBA). Akuntan harus menolak setiap permintaan untuk memanipulasi judgement atau estimasi akuntansi, terlepas dari insentif atau tekanan untuk menjaga citra perusahaan. Tanggung Jawab Publik (Public Interest) harus menjadi prioritas utama, di atas loyalitas kepada manajemen. Jika tekanan mengarah pada pelanggaran etika yang material, akuntan internal harus mencari perlindungan whistleblowing dan meningkatkan masalah ini kepada Komite Audit dan Dewan Komisaris, sementara akuntan publik harus mengeluarkan opini audit yang tidak wajar (adverse) atau qualified untuk melindungi kepentingan stakeholder dan pasar modal.

RESPONS STRATEGIS
1. Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, praktik audit dan pengawasan harus bertransformasi dengan fokus pada teknologi itu sendiri. Perusahaan dan auditor publik harus mengimplementasikan Audit Algoritma (Algorithmic Auditing), yang tidak hanya menguji output data tetapi juga mengaudit kode sumber (source code) model AI yang digunakan untuk estimasi akuntansi. Fokus pengawasan harus diarahkan pada Manajemen Risiko Model (Model Risk Management), memastikan bahwa asumsi dan parameter model diverifikasi oleh pihak independen dan tidak mengandung bias yang disengaja. Selain itu, Audit Blockchain memerlukan keahlian kriptografi untuk memverifikasi keutuhan ledger terdistribusi dan memastikan bahwa smart contracts beroperasi sesuai dengan prinsip pengakuan akuntansi, dengan penekanan pada titik input data awal (di luar Blockchain) untuk mencegah manipulasi.

2. Pandangan saya adalah bahwa standar pelaporan keuangan saat ini (IFRS/PSAK) belum sepenuhnya adaptif, meskipun memiliki dasar prinsip yang kuat. Standar yang ada, yang sebagian besar dirancang untuk lingkungan transaksional konvensional, memang principle-based dan memungkinkan judgement untuk mencakup model bisnis baru. Namun, kurangnya panduan eksplisit mengenai disclosure tata kelola dan parameter model AI yang digunakan untuk estimasi material (seperti yang dicurigai di PT Delta) merupakan kelemahan utama. Standar perlu berevolusi dengan mewajibkan pengungkapan yang jauh lebih detail mengenai bagaimana algoritma AI mempengaruhi estimasi penting dan bagaimana integritas serta fairness model tersebut dijamin. Adaptasi ini harus melampaui pelaporan keuangan tradisional dan mencakup kerangka Governance data dan algoritma, agar kompleksitas keuangan digital dan globalisasi dapat direpresentasikan secara transparan dan andal.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Analisis Kritis
a. Tantangan penerapan teori akuntansi tradisional
Teori akuntansi tradisional dibangun atas asumsi pencatatan manual, kontrol internal berbasis manusia, serta proses judgement yang jelas sumbernya. Ketika PT Delta Finansial menggunakan AI dan blockchain, muncul tantangan dalam penentuan akuntabilitas dan verifiabilitas. Sistem otomatis sulit dijelaskan secara sederhana, terutama ketika algoritma bersifat black box. Prinsip pengakuan, pengukuran, dan matching biaya juga menjadi lebih kompleks karena transaksi diproses real time lintas negara dan mata uang. Akibatnya, konsep tradisional seperti kehati-hatian dan bukti audit konvensional perlu ditafsirkan ulang agar tetap relevan.

b. Peluang dan risiko manipulasi akibat digitalisasi
Digitalisasi membuka peluang besar berupa efisiensi, akurasi, dan ketertelusuran data, khususnya melalui blockchain yang bersifat immutable (tidak bisa diubah). Namun, risiko manipulasi justru bergeser ke tahap desain sistem dan pemrograman algoritma. Estimasi akuntansi berbasis AI dapat disesuaikan melalui asumsi input, parameter model, atau waktu eksekusi, sehingga laba tetap terlihat stabil. Risiko ini sering kali sulit dideteksi karena tidak muncul sebagai kesalahan pencatatan, melainkan sebagai bias sistemik yang terprogram.

2. Etika dan Transparasi
a. Risiko etika dalam penggunaan AI
Ketika judgement akuntansi digantikan oleh algoritma, risiko etika utama adalah hilangnya tanggung jawab profesional. Akuntan dapat terdorong berlindung di balik keputusan sistem tanpa memahami atau mempertanyakan logika perhitungannya. Selain itu, jika algoritma dirancang untuk memenuhi target tertentu, maka integritas laporan keuangan dapat terkompromi. Akuntan tetap memiliki kewajiban etis untuk memastikan bahwa hasil yang dihasilkan AI mencerminkan substansi ekonomi, bukan sekadar output teknis.

b. Sikap profesional terhadap tekanan investor
Akuntan profesional harus menjaga independensi dan integritas dengan menolak praktik penyesuaian laporan yang tidak berlandaskan realitas ekonomi. Tekanan investor seharusnya dijawab melalui pengungkapan yang lebih transparan, bukan dengan manipulasi estimasi. Peran akuntan bukan mempercantik laporan, melainkan menjaga kredibilitas informasi agar kepercayaan pasar tetap berkelanjutan.

3. Respon Strategis
a. Rekomendasi strategis bagi audit dan pengawasan
Perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit berbasis teknologi, termasuk audit algoritma, pengujian data secara berkelanjutan, dan pemahaman lintas disiplin antara akuntansi dan teknologi informasi. Pengawasan tidak cukup hanya pada output laporan, tetapi juga pada desain sistem, tata kelola data, dan pengendalian algoritma.

b. Adaptivitas standar pelaporan keuangan
Standar pelaporan keuangan saat ini relatif adaptif secara prinsip, tetapi belum sepenuhnya siap menghadapi kompleksitas keuangan digital dan global. Kerangka berbasis prinsip memberi ruang interpretasi, namun dibutuhkan panduan teknis tambahan terkait AI, blockchain, dan transaksi lintas batas. Tanpa penguatan ini, risiko kesenjangan antara inovasi teknologi dan akuntabilitas pelaporan akan semakin besar.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dwi Nurshovi Diana Sari -
Nama : Dwi Nurshovi Diana Sari
NPM : 2413031072

1. Tantangan dalam Mengimplementasikan Teori Akuntansi Klasik:
Penggunaan AI dan blockchain menghadapkan kita pada tantangan bagi prinsip-prinsip akuntansi klasik, terutama dalam hal pengakuan dan keandalan. Kemampuan real-time AI mengguncang konsep periode akuntansi, sementara sifat tidak dapat diubah dari blockchain menyulitkan perbaikan kesalahan serta menantang prinsip pelaksanaan yang biasanya membutuhkan penilaian manusia, karena penilaian kini digantikan oleh kode smart contract.

2. Peluang dan Ancaman Manipulasi Akuntansi Akibat Digitalisasi:
Digitalisasi memberikan kesempatan dengan memungkinkan pencatatan transaksi secara cepat dan tidak bisa diubah. Namun, di sisi lain, digitalisasi juga menghadirkan ancaman manipulasi berbasis algoritma, di mana manajer dapat mengubah estimasi akuntansi melalui pemilihan data atau parameter dari algoritma AI. Banyaknya data yang tersedia bisa dimanfaatkan untuk menyembunyikan praktik penipuan, sehingga menyulitkan auditor dalam mendeteksi pola yang tidak biasa.

3. Risiko Etika dari Penggantian Penilaian oleh Algoritma AI:
Ada risiko etika yang muncul dari pergeseran fokus dari niat buruk individu ke Bias Algoritma dan Kurangnya Tanggung Jawab. Algoritma bisa mengulangi dan memperkuat praktik akuntansi yang bias berdasarkan data yang sudah ada. Meskipun AI menghasilkan penilaian, akuntan masih bertanggung jawab secara etis untuk memahami, menguji, dan memverifikasi model AI, dan mereka tidak boleh hanya menerima hasil sebagai "kotak hitam" tanpa pemahaman.

4. Sikap Akuntan terhadap Tekanan untuk Mengubah Laporan:
Akuntan profesional harus berpegang pada prinsip Integritas dan Objektivitas. Tindakan yang tepat adalah: (1) Menolak tekanan dari manajemen untuk menunda pengakuan kewajiban, (2) Mencatat secara rinci semua penilaian dan perbedaan pendapat, dan (3) Mengangkat isu tersebut kepada Komite Audit atau auditor independen jika tekanan tersebut membahayakan kepatuhan terhadap Standar Pelaporan Keuangan.

5. Rekomendasi untuk Menyesuaikan Praktik Audit dan Pengawasan:
Perusahaan dan akuntan publik sebaiknya menerapkan: (1) Audit Berbasis Data Berkelanjutan untuk memantau transaksi secara real-time; (2) Audit Algoritma yang berfokus pada pengujian data input, kode, dan parameter model AI untuk mengidentifikasi bias; dan (3) Memperkuat Komite Audit dengan anggota yang memiliki keahlian dalam teknologi (siber dan ilmu data) agar pengawasan dapat dilakukan dengan lebih efektif.

6. Penyesuaian terhadap Standar Pelaporan Keuangan yang Ada:
Standar IFRS/PSAK saat ini cukup fleksibel dalam hal prinsip karena didasarkan pada prinsip-prinsip umum. Namun, standar ini kurang jelas dalam penerapan praktis terkait dengan kompleksitas keuangan digital, seperti pengelolaan aset kripto, kontrak pintar, dan perlakuan data sebagai aset. Diperlukan panduan interpretasi yang lebih rinci atau standar baru yang mengharuskan pengungkapan yang lebih mendalam mengenai model dan asumsi AI yang digunakan dalam estimasi keuangan yang penting.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Aura Liyanti -
Nama : Aura Liyanti Fani
NPM : 2413031089

1. Analaisis Kritis
a. Teori akuntansi tradisional pada dasarnya didasarkan pada asumsi bahwa manusia (akuntan dan manajemen) adalah aktor utama dalam proses pencatatan, pengukuran, dan pelaporan transaksi keuangan. Dalam konteks PT Delta Financial, penggunaan AI dan blockchain menantang asumsi ini. Otomasi mengurangi intervensi manusia dalam pencatatan transaksi, sementara blockchain menciptakan sistem buku besar yang terdesentralisasi dan tidak dapat diubah. Tantangan utama muncul dalam aspek pertimbangan akuntansi seperti pengakuan pendapatan, estimasi cadangan, dan penilaian risiko. Teori akuntansi berbasis akrual bergantung pada pertimbangan profesional, tetapi ketika keputusan ini dialihkan ke algoritma kesulitan muncul dalam menentukan siapa yang bertanggung jawab atas hasil laporan. Selain itu, konsep verifikasi dan relevansi dalam teori akuntansi menjadi lebih kompleks karena auditor tidak hanya mengaudit angka-angka tetapi juga logika sistem dan model AI yang digunakan

b. Digitalisasi menawarkan peluang signifikan untuk meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan akurasi pelaporan keuangan. Blockchain dapat meningkatkan transparansi, karena setiap transaksi dicatat dan dilacak secara permanen. Namun, pada saat yang sama, digitalisasi juga telah menciptakan cara baru untuk mengelola hasil.
Manipulasi tidak lagi dilakukan secara manual tetapi dengan menyesuaikan parameter algoritmik, seperti menunda pengakuan biaya, memodifikasi asumsi estimasi, atau memilih model AI yang menghasilkan hasil laba yang lebih stabil. Hal ini membuat manipulasi sulit dideteksi, karena tampak objektif dan berbasis teknologi, namun tetap mengandung kepentingan manajerial.

2. Etika dan Transparansi
a. Penggunaan AI dalam estimasi akuntansi meningkatkan risiko menjauhkan diri dari tanggung jawab moral, yaitu kecenderungan akuntan dan manajemen untuk menghindari tanggung jawab moral dengan alasan "hasil sistem." Algoritma dapat bersifat bias, tergantung pada data pelatihan dan desain awalnya. Jika bias ini secara sistematis menguntungkan perusahaan maka akuntan tetap memiliki tanggung jawab etis, meskipun keputusan dibuat oleh mesin. Selain itu, transparansi sangat penting karena model AI seringkali bersifat black box sehingga sulit dijelaskan kepada auditor, regulator, dan investor.

b. Akuntan profesional harus menjunjung tinggi prinsip integritas, objektivitas, dan independensi. Tekanan untuk menyesuaikan laporan dan menjaga citra perusahaan harus diatasi dengan memperkuat dokumentasi, memberikan justifikasi profesional, dan mengkomunikasikan risiko pelaporan secara jelas. Akuntan tidak boleh menggunakan teknologi sebagai justifikasi untuk praktik yang secara substansial bersifat menipu.

3. Respons Strategis
a. Firma perlu mengembangkan tata kelola sistem digital, termasuk audit algoritma, validasi model AI, dan kontrol atas perubahan parameter sistem. Akuntan publik juga harus memperluas keahlian mereka untuk mencakup audit berbasis teknologi, mengaudit tidak hanya hasil keuangan tetapi juga proses, logika sistem, dan keamanan blockchain.
Kolaborasi antara akuntan, ilmuwan data, dan pakar IT sangat penting untuk pengawasan yang efektif.

b. Menurut saya, standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya beradaptasi dengan kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. IFRS masih berfokus pada penyajian hasil, bukan pada transparansi algoritma dan sistem digital yang menghasilkan angka-angka tersebut. Oleh karena itu pengembangan standar tambahan terkait pengungkapan informasi teknologi, model AI, dan risiko digital diperlukan untuk memastikan bahwa informasi keuangan tetap relevan, andal, dan dapat dipercaya di era digital.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by vie amanillah -
Nama: Vie Amanillah
NPM; 2413031097
Kelas: 2024C

Pertanyaan:
1. Analisis Kritis:
-Dalam cara lama, bukti audit biasanya berupa dokumen kertas yang dianggap aman. Namun, dengan blockchain, bukti sekarang berbentuk digital dan tersebar. Masalahnya adalah bagaimana akuntansi menjelaskan "pengendalian" ketika data tidak lagi disimpan di satu tempat, tetapi ada di jaringan umum atau kelompok. Dengan otomatisasi, pelaporan bisa dilakukan secara langsung. Ini membuat cara akuntansi yang lama yang melaporkan setiap kuartal atau tahun menjadi kurang sesuai. Jika transaksi bisa dicatat dan diperiksa dengan cepat oleh blockchain, konsep pemotongan waktu yang lama jadi kurang penting. Cara penilaian berdasarkan biaya sejarah sering kali tidak mencerminkan nilai sebenarnya dari aset digital atau kripto yang bisa berubah-ubah dengan cepat di laporan keuangan perusahaan fintech.

-Dengan adanya digitalisasi, ketelitian data menjadi lebih baik, kesalahan yang dilakukan oleh manusia bisa dihilangkan, dan ada jejak audit yang tidak bisa diubah lewat blockchain. Ini membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan jelas. Ada masalah baru yang disebut "Akuntansi Kotak Hitam". AI bisa diatur untuk secara otomatis melakukan "penyamarataan laba" dengan cara yang rumit melalui penghitungan akuntansi, seperti cadangan untuk kerugian kredit, yang sulit untuk dilihat oleh auditor manusia. Sekarang, manipulasi tidak lagi terjadi di catatan keuangan, tapi di tingkat kode pemrograman yang bisa dipengaruhi.

2. Etika dan Transparansi:
-Ada kemungkinan akuntan terlalu mengandalkan hasil dari AI dan tidak lagi bersikap kritis. Jika AI menghasilkan informasi yang salah karena data yang tidak akurat, akuntan bisa jadi tidak merasa bertanggung jawab karena mereka berpikir itu adalah "masalah sistem". Masalah etika mulai muncul ketika manajemen memanfaatkan algoritma yang tidak jelas untuk menutupi keterlambatan dalam pengakuan beban, seperti yang dicurigai oleh analis di PT Delta.

-Akuntan yang profesional harus mengikuti peraturan Kode Etik IAI/IFAC, terutama prinsip kejujuran dan ketidakberpihakan. Akuntan perlu berani untuk mengungkapkan semua informasi yang berkaitan dengan ketidakpastian dana dan pergerakan yang tidak stabil. Mengubah laporan hanya untuk menjaga image adalah tindakan yang salah secara etika yang dapat berakibat pada masalah hukum dan merusak reputasi perusahaan dalam jangka panjang (seperti yang terjadi pada kasus Enron).

3. Respon Strategis:
-Rekomendasi Praktik Audit dan Pengawasan:
Auditor sekarang tidak hanya melihat contoh transaksi, tetapi juga melakukan pemeriksaan terhadap semua data secara otomatis. Mengubah audit yang biasanya dilakukan setahun sekali menjadi pengawasan yang terus menerus dengan menggunakan alat analisis data yang terhubung dengan sistem perusahaan. Perusahaan perlu melibatkan auditor sistem informasi untuk memeriksa apakah kode algoritma AI tidak memiliki instruksi yang melanggar aturan akuntansi (contohnya, memastikan bahwa algoritma tidak secara sengaja menunda pengakuan pengeluaran).

-Adaptivitas Standar Pelaporan Keuangan (PSAK/IFRS):

Aturan yang ada sekarang, seperti IFRS, mulai mencoba untuk mengikuti tetapi masih belum secepat perubahan yang terjadi di dunia digital. Walaupun sudah ada IFRIC yang membahas aset kripto, aturan global belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana Smart Contracts dalam blockchain seharusnya diakui secara hukum dan akuntansi. Selain itu, pengungkapan tentang "Risiko Algoritma" belum diwajibkan dalam laporan tahunan, padahal bagi perusahaan seperti PT Delta, risiko ini sangat penting. Kita memerlukan aturan yang mengharuskan pencantuman informasi tentang bagaimana teknologi AI memengaruhi angka-angka keuangan, supaya tetap ada kejelasan di zaman globalisasi digital.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006


1. Analisis Kritis:
-Tantangan dalam penerapan teori akuntansi tradisional muncul karena sistem otomatisasi dan blockchain mengubah cara pencatatan dan verifikasi dilakukan. Teori akuntansi tradisional mengandalkan pencatatan manual dan pengendalian internal berbasis manusia. Teknologi baru membuat proses berjalan otomatis sehingga akuntan kesulitan menilai keandalan algoritma. Blockchain juga mencatat data secara permanen sehingga koreksi transaksi tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Kondisi ini membuat beberapa konsep seperti materialitas, pengakuan, dan verifikasi perlu penyesuaian agar sesuai dengan sistem digital.

-Digitalisasi memberi peluang untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi akuntansi karena sistem otomatis dapat memproses transaksi besar dengan cepat. Namun digitalisasi juga menciptakan risiko manipulasi. Algoritma bisa disetel untuk menunda pengakuan beban atau mengubah estimasi akuntansi. Manipulasi lebih sulit dideteksi karena jejak keputusan tersembunyi di dalam sistem. Perusahaan dapat menyembunyikan bias dalam parameter algoritma sehingga laporan terlihat wajar tetapi tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

2. Etika dan Transparansi:
-Risiko etika muncul ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh AI. Akuntan bisa kehilangan kendali atas proses penilaian yang seharusnya membutuhkan pertimbangan profesional. Jika algoritma salah atau disetel dengan tujuan tertentu, akuntan dapat dianggap bertanggung jawab meskipun tidak mengetahui detail logikanya. Akuntan juga berisiko terjebak pada situasi dimana mereka hanya menjadi operator sistem tanpa kemampuan menguji kembali kewajaran hasil yang diberikan AI.

-Akuntan profesional harus bersikap tegas ketika menghadapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan agar menarik bagi investor. Akuntan harus memegang prinsip integritas dan objektivitas. Akuntan perlu menolak perubahan yang tidak sesuai dengan standar atau tidak mencerminkan kondisi perusahaan. Akuntan juga harus memberi penjelasan kepada manajemen bahwa laporan yang akurat lebih penting bagi keberlanjutan jangka panjang dibanding sekadar menarik investor dalam jangka pendek.

3. Respon Strategis:
-Perusahaan dan akuntan publik perlu menyesuaikan praktik audit dengan meningkatkan pemahaman terhadap teknologi seperti AI dan blockchain. Auditor harus menilai desain algoritma, menguji logika sistem, dan memastikan tidak ada manipulasi parameter. Perusahaan perlu memperkuat tata kelola teknologi agar setiap perubahan pada sistem terekam dengan jelas. Auditor juga harus menambahkan prosedur audit berbasis data analytics untuk menguji pola transaksi yang tidak wajar.

-Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas keuangan digital dan globalisasi. Beberapa standar belum menjelaskan cara mengaudit algoritma, menilai aset digital, atau mengatasi transaksi yang terjadi secara otomatis. Namun standar yang ada masih bisa digunakan sebagai dasar selama dilakukan interpretasi tambahan. Menurut saya, regulator perlu memperbarui standar agar lebih sesuai dengan perkembangan teknologi sehingga akuntan tidak kebingungan ketika menghadapi sistem berbasis AI dan blockchain.