NASHITA SHAFIYAH
2413031009
1. Analisis Kritis
Penggunaan otomatisasi dan blockchain dalam akuntansi membuat beberapa konsep tradisional menjadi sulit diterapkan, karena transaksi dicatat secara otomatis, permanen, dan terdesentralisasi. Hal ini menggeser peran judgement manusia yang sebelumnya menjadi fondasi utama dalam pencatatan dan verifikasi. Di sisi lain, digitalisasi membuka peluang efisiensi dan akurasi, tetapi juga menciptakan risiko manipulasi yang lebih terselubung—misalnya melalui pengaturan algoritma atau penundaan pengakuan beban. Dengan sistem yang bekerja seperti “kotak hitam”, manipulasi menjadi lebih sulit dideteksi meski laporan terlihat stabil di permukaan.
2. Etika dan Transparansi
Ketika estimasi dan penilaian akuntansi mulai digantikan oleh AI, akuntan menghadapi risiko etika berupa ketergantungan berlebihan pada algoritma yang mungkin memuat bias atau logika yang tidak sepenuhnya dipahami. Situasi ini bisa mengaburkan tanggung jawab profesional, terutama jika sistem digunakan untuk membenarkan hasil yang tidak mencerminkan kondisi nyata perusahaan. Dalam tekanan menjaga citra perusahaan, akuntan tetap harus berpegang pada integritas dan menolak penyesuaian laporan yang tidak didukung dasar akuntansi, karena transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan publik.
3. Respon Strategis
Untuk menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi, perusahaan dan auditor perlu menyesuaikan pendekatan audit dengan memahami struktur algoritma, proses dalam blockchain, dan potensi bias data. Audit tidak cukup hanya memeriksa angka akhir, tetapi juga harus menilai bagaimana data dihasilkan dan apakah sistem dapat dimanipulasi. Standar pelaporan keuangan saat ini belum sepenuhnya adaptif terhadap kompleksitas digital dan globalisasi, sehingga perlu pembaruan agar pelaporan mampu mengakomodasi penggunaan AI, transaksi lintas negara, serta bukti digital yang semakin beragam. Pembaruan ini penting agar akuntansi tetap relevan dan dapat diandalkan di era teknologi tinggi.