CASE STUDY

CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 32

Dana Pensiun Dosen Nusantara (DPDN) mengelola dana pensiun sebesar Rp10 miliar yang dikumpulkan dari para dosen tetap Universitas selama lebih dari 15 tahun. Dana ini akan digunakan untuk membayar manfaat pensiun selama 20 tahun ke depan.

Manajer investasi internal DPDN ingin menyusun portofolio investasi baru untuk mengoptimalkan keuntungan investasi jangka panjang tanpa mengorbankan stabilitas dan keamanan dana, karena menyangkut masa depan para pensiunan.

Terdapat tiga pilihan instrumen investasi utama:

  1. Saham Dividen (perusahaan sektor konsumer dan perbankan):
  • Rata-rata return: 11% per tahun
  • Risiko: fluktuatif, tergantung kondisi pasar dan ekonomi makro
  • Dividen dibagikan 1–2 kali setahun
  • Likuiditas: tinggi
Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN):
  • Kupon tetap: 6.5% per tahun
  • Risiko: sangat rendah (jaminan pemerintah)
  • Jangka waktu: 3–10 tahun
  • Likuiditas: sedang (bisa diperdagangkan, tapi harga pasar bisa naik/turun)
Deposito Berjangka:
  • Bunga: 4.25% per tahun (net pajak)
  • Risiko: sangat rendah
  • Tenor: 1 tahun, bisa diperpanjang otomatis
  • Likuiditas: rendah (penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo)

 

Pertanyaan:

1. Analisis Instrumen Investasi

Bandingkan ketiga instrumen dari sisi return, risiko, likuiditas, dan kesesuaian dengan tujuan dana pensiun. Apa kelebihan dan kelemahan masing-masing?

 

2. Penentuan Alokasi Portofolio

Berdasarkan profil risiko dana pensiun (konservatif-moderat), susunlah alokasi investasi dari Rp10 miliar ke dalam ketiga instrumen tersebut. Jelaskan alasan alokasinya!

 

3. Simulasi Dampak Ekonomi

Dalam skenario krisis ekonomi (misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%):

a. Bagaimana dampaknya terhadap portofolio Anda?

b. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?

 

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Jelaskan bagaimana ketiga instrumen investasi tersebut dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan Dana Pensiun berdasarkan prinsip akuntansi keuangan. (Gunakan pendekatan PSAK yang relevan.)


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nashita Shafiyah -
In reply to Nashita Shafiyah

Re: CASE STUDY

by Alya Nurani -
Nama: Alya Nurani
Npm: 2413031025

Analisis Instrumen Investasi

Dana Pensiun Dosen Nusantara seolah sedang menilai tiga karakter utama yang akan menjaga masa depan para pensiunan. Masing-masing memiliki sifat yang berbeda.

Saham Dividen
Instrumen ini adalah sosok lincah dengan potensi besar. Rata-rata return mencapai 11% per tahun, namun ia mudah terbawa arus naik-turun pasar. Likuiditasnya tinggi, sehingga bisa dilepas kapan saja. Kelebihannya adalah potensi keuntungan yang menarik dan dividen rutin, tetapi kelemahannya adalah ketidakstabilan yang bisa mengganggu keuangan dana pensiun jika porsinya terlalu besar.

Obligasi Pemerintah
Instrumen ini berperan sebagai penjaga ketenangan. Return 6.5% per tahun tidak terlalu tinggi, tetapi sangat stabil berkat jaminan pemerintah. Likuiditasnya sedang; bisa diperdagangkan tetapi harganya mengikuti pergerakan suku bunga. Kelebihannya terletak pada kestabilan dan kepastian kupon, sedangkan kelemahannya adalah sensitif pada kenaikan suku bunga.

Deposito
Instrumen ini adalah sosok paling aman, berjalan perlahan namun pasti. Return 4.25% per tahun memang tidak spektakuler, namun hampir tanpa risiko. Likuiditas rendah karena pencairan awal dikenai penalti. Kelebihannya adalah keamanan, sedangkan kelemahannya adalah potensi imbal hasil yang kalah oleh inflasi bila kondisi ekonomi memanas.

Secara keseluruhan, saham menawarkan pertumbuhan, obligasi memberi stabilitas, dan deposito menjaga keamanan. Untuk dana pensiun, kombinasi ketiganya penting agar dana tetap tumbuh tanpa mengorbankan ketenangan jangka panjang.

Penentuan Alokasi Portofolio

Dengan profil risiko konservatif hingga moderat, portofolio harus dibuat seperti ramuan yang seimbang antara pertumbuhan dan perlindungan jangka panjang. Berikut alokasi yang sesuai dari total dana Rp10 miliar.

Obligasi Pemerintah: 50 persen atau Rp5 miliar
Bagian ini menjadi fondasi stabil karena memberikan kupon tetap dan risiko rendah. Cocok sebagai tumpuan dana pensiun jangka panjang.

Saham Dividen: 30 persen atau Rp3 miliar
Instrumen ini menjadi mesin pertumbuhan portofolio. Sektor konsumer dan perbankan dipilih karena lebih tahan menghadapi siklus ekonomi.

Deposito: 20 persen atau Rp2 miliar
Bagian ini berfungsi sebagai bantalan likuiditas dan penyeimbang risiko. Saat pasar bergejolak, deposito membantu menjaga portofolio tetap kokoh.

Alokasi ini memungkinkan dana pensiun memiliki pertumbuhan yang sehat tanpa kehilangan stabilitas yang sangat penting bagi manfaat jangka panjang.

Simulasi Dampak Ekonomi

Dalam skenario krisis ekonomi, seperti inflasi melonjak dan IHSG turun 20 persen, portofolio akan mengalami tekanan yang berbeda-beda pada tiap instrumen.

Dampak pada saham: bagian portofolio ini menerima hantaman paling besar. Penurunan indeks akan langsung menurunkan nilai aset secara signifikan.
Dampak pada obligasi: efeknya lebih ringan, meskipun harga bisa turun jika suku bunga naik. Kupon tetap masih mengalir sehingga tidak sepenuhnya tertekan.
Dampak pada deposito: hampir tidak berubah. Bunga tetap berjalan dan dana tetap aman.

Untuk mitigasi risiko, manajer investasi dapat melakukan beberapa langkah.
Pertama, rebalancing portofolio secara berkala untuk mengembalikan komposisi sesuai strategi awal.
Kedua, memperbesar porsi aset defensif seperti obligasi tenor pendek atau menambah posisi di deposito.
Ketiga, menahan dividen dan kupon untuk memperkuat likuiditas.
Keempat, menggunakan pendekatan pembelian bertahap agar tidak masuk pasar dalam satu waktu yang tidak menguntungkan.

Mitigasi ini membantu portofolio tetap stabil meskipun badai ekonomi datang.

Aspek Akuntansi dan Pelaporan

Ketiga instrumen ini dicatat sesuai PSAK yang relevan, khususnya PSAK 50, 55, 60, dan PSAK 71 yang mengatur instrumen keuangan.

Saham Dividen
Dicatat sebagai aset keuangan pada nilai wajar. Untuk investasi jangka panjang dana pensiun, kategorinya adalah nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain (FVOCI). Perubahan nilai wajar dicatat di penghasilan komprehensif lain, bukan laba rugi. Dividen dicatat sebagai pendapatan ketika hak atasnya timbul.

Obligasi Pemerintah
Jika dimiliki untuk mendapatkan kupon dan ditahan hingga jatuh tempo, dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Jika dapat diperjualbelikan secara aktif, maka dapat dikategorikan sebagai FVOCI. Kupon diakui sebagai pendapatan bunga sesuai periode berjalan.

Deposito
Dicatat pada biaya perolehan diamortisasi sebagai aset keuangan. Pendapatan bunga diakui secara akrual.

Dalam laporan keuangan dana pensiun, ketiga instrumen masuk ke dalam kategori Aset Investasi Dana Pensiun. Catatan kaki laporan harus menjelaskan nilai wajar, risiko instrumen, serta kebijakan investasi yang digunakan, sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 60.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Vina Nailatul Izza -
Nama : Vina Nailatul Izza
NPM : 2413031007

1. Analisis Instrumen Investasi
Saham Dividen menawarkan return tertinggi (11%) dengan likuiditas tinggi, tetapi risikonya fluktuatif karena tergantung kondisi pasar, sehingga kurang ideal sebagai komponen utama dana pensiun yang memprioritaskan stabilitas. Obligasi Pemerintah memberikan return moderat (6,5%) dengan risiko sangat rendah dan jaminan pemerintah, cocok sebagai tulang punggung portofolio untuk pendapan tetap, meskipun likuiditasnya terbatas. Deposito Berjangka memiliki return terendah (4,25%) namun risiko minimal dan cocok untuk cadangan likuid, meski likuiditasnya rendah akibat penalti pencairan dini. Kelebihan saham adalah potensi pertumbuhan jangka panjang, sedangkan kelemahannya adalah volatilitas. Obligasi unggul dalam keamanan, tetapi returnnya terbatas. Deposito sangat stabil tetapi kurang menarik untuk melawan inflasi.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Berdasarkan profil konservatif-moderat, alokasi Rp10 miliar dapat diatur sebagai berikut:
- 50% Obligasi Pemerintah (Rp5 miliar) : Sebagai inti portofolio untuk memberikan pendapatan tetap dan stabilitas dengan risiko minimal.
- 30% Deposito Berjangka (Rp3 miliar) : Untuk menjaga likuiditas darurat dan melindungi modal dari gejolak pasar.
- 20% Saham Dividen (Rp2 miliar): Meningkatkan return portofolio secara bertahap melalui dividen dan apresiasi saham jangka panjang, dengan risiko yang terkendali karena porsi terbatas.
Alokasi ini menyeimbangkan keamanan dana pensiun dengan potensi optimasi return, sesuai tujuan jangka panjang 20 tahun.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dalam krisis ekonomi (inflasi tinggi dan IHSG turun 20%), portofolio akan mengalami penurunan nilai di bagian saham (sekitar 20% dari alokasi saham), tetapi dampaknya terbatas berkat dominasi obligasi dan deposito yang stabil. Return obligasi mungkin tetap terjaga, sementara deposito tidak terpengaruh fluktuasi pasar.
b. Mitigasi risiko dapat dilakukan dengan: yang pertama Rebalancing portofolio dengan mengurangi eksposur saham dan meningkatkan obligasi/deposito yang kedua Diversifikasi saham ke sektor defensif ( konsumer) yang ketiga Memanfaatkan lindung nilai (hedging) melalui instrumen derivatif yang keempat Mempertahankan cadangan likuiditas untuk memanfaatkan pelakuam pembelian saat harga rendah.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan PSAK 71 (Instrumen Keuangan), ketiga instrumen dicatat sebagai aset keuangan :
- Saham Dividen : Diklasifikasikan sebagai Financial Asset at Fair Value Through Profit or Loss (FVPL) atau Fair Value Through Other Comprehensive Income (FVOCI), dilaporkan pada nilai wajar dengan perubahan diakui dalam laporan laba rugi atau ekuitas.
- Obligasi Pemerintah : Umumnya diukur pada amortized cos (jika dimiliki hingga jatuh tempo) atau FVPL/FVOCI, dengan bunga diakui sebagai pendapatan secara efektif.
- Deposito Berjangka : Dicatat sebesar biaya perolehan dan diakui sebagai cash and cash equivalents atau investasi jangka pendek, dengan bunga diakui secara proporsional selama tenor.
Laporan keuangan harus mengungkapkan kebijakan klasifikasi, pengukuran, dan risiko terkait instrumen tersebut untuk memastikan transparansi sesuai standar akuntansi dana pensiun.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Mourien Ganesti -

Nama : Mourien Ganesti

Npm : 2413031013

1. Saham yang memberikan dividen memberikan imbal hasil yang tinggi sekitar 11% setiap tahun, namun terdapat risiko besar karena harganya sangat tergantung pada situasi pasar. Instrumen ini ideal untuk pertumbuhan dalam waktu lama tetapi tidak bisa dijadikan bagian utama karena fluktuasinya. Obligasi yang diterbitkan pemerintah jauh lebih konsisten, memberikan kupon tetap sebesar 6,5% dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi sehingga cocok untuk menjadi fondasi portofolio dana pensiun. Di sisi lain, deposito menawarkan risiko terendah tetapi juga imbal hasil yang paling sedikit, sehingga lebih sesuai untuk menjaga likuiditas dalam jangka pendek. Setiap instrumen memiliki fungsi tersendiri: saham untuk pertumbuhan, obligasi untuk ketahanan, dan deposito untuk keamanan serta cadangan uang tunai.


2. Dengan profil risiko yang cenderung konservatif hingga moderat, alokasi portofolio yang ideal adalah dengan menempatkan proporsi terbesar pada obligasi negara, karena menawarkan pendapatan yang stabil dan aman. Sebagian dari dana tetap dialokasikan untuk saham yang memberikan dividen agar nilai portofolio dapat mengalami pertumbuhan dalam jangka panjang, tetapi proporsinya diatur agar tidak berlebihan supaya fluktuasi pasar tidak terlalu berpengaruh pada dana pensiun. Sisa dana dialokasikan ke dalam deposito sebagai cadangan likuiditas untuk kebutuhan pembayaran manfaat atau situasi mendesak. Susunan ini mempertahankan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.


3. Dalam situasi krisis seperti penurunan indeks saham dan inflasi yang tinggi, nilai aset dalam portofolio umumnya akan mengalami penurunan yang signifikan, sedangkan obligasi bisa juga terpengaruh jika suku bunga meningkat. Di sisi lain, deposito cenderung tetap stabil. Untuk mengurangi risiko, manajer investasi bisa melakukan perubahan dalam komposisi portofolio dengan meningkatkan proporsi instrumen yang lebih aman, memegang obligasi hingga waktu jatuh tempo, dan memilih saham dari sektor yang lebih tahan banting terhadap kondisi krisis. Tindakan-tindakan ini berkontribusi untuk menjaga agar nilai portofolio tetap terjaga selama masa ketidakpastian ekonomi.


4. Dalam laporan keuangan, ekuitas umumnya dicatat dengan nilai wajar sesuai dengan PSAK 71, dan perubahan nilai tersebut bisa tercermin dalam laporan laba rugi atau OCI sesuai dengan klasifikasinya. Obligasi negara dapat dicatat menggunakan metode biaya yang diamortisasi jika disimpan sampai jatuh tempo, atau dengan nilai wajar jika ada niat untuk menjualnya. Sementara itu, deposito dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi, dan bunga yang dihasilkan diakui secara akrual. Ketiga instrumen ini ditampilkan sebagai aset keuangan dan pendapatan dari investasi mereka dijelaskan secara terpisah dalam laporan dana pensiun.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Tantowi Jauhari -
Nama : Tantowi Jauhari
NPM : 2413031008

1. Analisis Instrumen Investasi
Saham dividen memberikan return tertinggi sekitar 11% per tahun tetapi memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi karena sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan pasar saham, meskipun likuiditasnya tinggi sehingga mudah dijual. Obligasi pemerintah menawarkan return sedang sebesar 6,5% per tahun dengan risiko sangat rendah karena dijamin negara, likuiditasnya sedang, serta sangat sesuai untuk dana pensiun karena memberikan pendapatan yang stabil. Deposito berjangka memiliki return terendah sebesar 4,25% per tahun, risiko sangat rendah, namun likuiditasnya rendah karena terkena penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo, sehingga lebih cocok sebagai dana cadangan.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dengan profil risiko dana pensiun yang konservatif-moderat, alokasi yang ideal dari dana Rp10 miliar adalah 50% pada obligasi pemerintah sebesar Rp5 miliar untuk menjaga stabilitas dan kepastian pendapatan, 30% pada saham dividen sebesar Rp3 miliar untuk memperoleh pertumbuhan nilai jangka panjang, serta 20% pada deposito sebesar Rp2 miliar untuk menjaga likuiditas dan dana cadangan. Alokasi ini menyeimbangkan antara keamanan dana dan optimalisasi imbal hasil.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
Dalam kondisi krisis ekonomi saat IHSG turun 20% dan inflasi meningkat, nilai investasi saham akan mengalami penurunan cukup besar, obligasi relatif tetap stabil karena memberikan kupon tetap meskipun harga pasar bisa berfluktuasi, sementara deposito tetap aman namun nilainya secara riil tergerus inflasi. Untuk mitigasi risiko, manajer investasi dapat melakukan rebalancing portofolio, meningkatkan porsi obligasi pemerintah, melakukan diversifikasi saham lintas sektor, serta menghindari panic selling agar kerugian tidak terealisasi secara permanen.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Berdasarkan PSAK 71, saham dan obligasi dicatat sebagai aset keuangan yang dapat diklasifikasikan sebagai FVOCI atau biaya perolehan diamortisasi tergantung tujuan pengelolaan, sedangkan deposito dicatat sebagai aset lancar sebesar nilai nominalnya; pendapatan dividen saham diakui sebagai pendapatan investasi, bunga obligasi dan deposito diakui sebagai pendapatan bunga, serta perubahan nilai wajar saham dan obligasi yang diklasifikasikan FVOCI dilaporkan dalam penghasilan komprehensif lain pada ekuitas dana pensiun.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Reyhta Putri Herdian -
NAMA : REYHTA PUTRI HERDIAN
NPM : 2413031035

1. Saham dividen menawarkan tingkat pengembalian paling tinggi, yaitu sekitar 11% per tahun, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan nilai dana pensiun secara signifikan. Namun, risikonya juga lebih tinggi karena harga saham sangat fluktuatif mengikuti kondisi ekonomi, suku bunga, dan sentimen pasar. Meskipun demikian, saham sektor konsumer dan perbankan cenderung memberikan dividen stabil dan likuiditas yang tinggi sehingga masih relevan untuk porsi jangka panjang dana pensiun. Dibandingkan saham, obligasi pemerintah memiliki profil risiko yang jauh lebih rendah karena pembayaran kupon dan pokok dijamin oleh negara. Return-nya lebih stabil dengan kupon sekitar 6,5% per tahun, sehingga cocok menjadi instrumen utama dalam portofolio dana pensiun yang membutuhkan kestabilan arus kas. Kelemahannya hanya terletak pada risiko pasar jika yield naik, yang dapat menurunkan harga obligasi, serta likuiditas yang tidak setinggi saham. Sementara itu, deposito berjangka menawarkan risiko paling rendah dan bunga tetap sekitar 4,25% setelah pajak. Deposito cocok untuk cadangan likuiditas, tetapi pengembalian yang rendah membuatnya kurang kompetitif sebagai instrumen pertumbuhan dana jangka panjang. Selain itu, likuiditasnya terbatas karena pencairan sebelum jatuh tempo dikenakan penalti.

2. Dengan profil risiko konservatif–moderat, dana pensiun perlu menyeimbangkan antara keamanan dan pertumbuhan nilai investasi. Alokasi yang disarankan adalah 60% untuk obligasi pemerintah, 25% untuk saham dividen, dan 15% untuk deposito. Porsi terbesar dialokasikan ke obligasi karena instrumen ini memberikan pendapatan yang stabil dan aman, sesuai dengan kebutuhan dana pensiun untuk membayar manfaat rutin selama 20 tahun. Saham tetap diberikan porsi 25% untuk memberikan potensi pertumbuhan jangka panjang dan melawan inflasi, namun porsinya tidak terlalu besar agar volatilitas tetap terkendali. Sementara itu, deposito sebesar 15% berfungsi sebagai buffer likuiditas untuk situasi darurat atau kebutuhan kas jangka pendek tanpa harus menjual obligasi atau saham dalam keadaan merugi.

3. Jika terjadi krisis ekonomi—misalnya IHSG turun 20% dan inflasi naik tajam—nilai portofolio akan terkena dampak terutama pada bagian saham. Porsi saham yang turun akan mengurangi total nilai portofolio, meskipun tidak secara drastis karena portofolionya konservatif. Obligasi juga bisa melemah apabila suku bunga naik sebagai respons terhadap inflasi, sehingga harga obligasi di pasar sekunder turun. Deposito menjadi instrumen yang paling stabil, tetapi nilainya tetap tergerus inflasi. Untuk mitigasi risiko, manajer investasi dapat melakukan rebalancing portofolio dengan menjual sebagian aset yang terlalu volatil dan menambah porsi obligasi jangka menengah yang lebih aman. Selain itu, diversifikasi sektor saham, pembelian obligasi bertingkat jatuh tempo (laddering), dan penyiapan kas likuid dapat membantu menjaga stabilitas portofolio di tengah gejolak pasar.

4. Berdasarkan PSAK yang berlaku, ketiga instrumen investasi dicatat sesuai kategori pengukuran dalam PSAK 71. Saham dividen umumnya diklasifikasikan sebagai financial assets at fair value through profit or loss (FVPL) sehingga nilai saham disesuaikan tiap periode berdasarkan nilai wajar, dan perubahan nilai dilaporkan dalam laba rugi. Obligasi pemerintah dapat dikategorikan sebagai financial assets at amortized cost jika dimaksudkan untuk dimiliki hingga jatuh tempo untuk menerima arus kas kontraktual berupa pokok dan kupon. Jika dana pensiun berencana memperdagangkannya, obligasi dapat diklasifikasikan sebagai FVOCI sehingga perubahan nilai wajar dicatat pada penghasilan komprehensif lain. Deposito berjangka dicatat pada amortized cost karena bersifat menahan hingga jatuh tempo. Dalam pelaporan keuangan, seluruh aset keuangan harus diungkapkan nilai tercatat, nilai wajar, risiko pasar, serta kebijakan manajemen investasi sebagai bagian dari laporan keuangan dana pensiun.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by FERIN OKTAVIA RAMADANI -
Ferin Oktavia Ramadani
2413031023

1. Analisis Instrumen Investasi
Saham Dividen

Return:
• Tinggi (11% per tahun rata-rata).
• Ada dua sumber: dividen + capital gain.

Risiko:
• Tinggi karena harga saham volatil.
• Dividen bisa turun saat ekonomi melemah.

Likuiditas:
• Tinggi (bisa jual beli setiap hari di bursa).

Kesesuaian untuk Dana Pensiun:
• Cocok sebagai instrumen growth jangka panjang.
• Tidak cocok menjadi porsi mayoritas karena volatilitas dapat mengganggu kestabilan dana.

Kelebihan: return tinggi, lindungi nilai dari inflasi, likuid.
Kelemahan: harga tidak stabil, sensitivitas terhadap krisis.

Obligasi Pemerintah (ORI/SBN)

Return:
• Kupon tetap 6.5% per tahun.
• Lebih stabil dibanding saham.

Risiko:
• Sangat rendah (dijamin pemerintah RI).
• Ada risiko pasar jika suku bunga naik.

Likuiditas:
• Sedang (bisa dijual di pasar sekunder, tapi volume tidak setinggi saham).

Kesesuaian untuk Dana Pensiun:
• Sangat cocok sebagai instrumen utama karena stabil, aman, dan memberi arus kas kupon rutin.

Kelebihan: aman, pendapatan stabil, cocok jangka panjang.
Kelemahan: potensi capital gain terbatas, harga sensitif terhadap perubahan suku bunga.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Dana Pensiun membutuhkan:
• Keamanan dana utama
• Arus kas yang stabil untuk manfaat pensiun
• Pertumbuhan jangka panjang untuk melawan inflasi

Rekomendasi Alokasi Portofolio: A. Obligasi Pemerintah — 55% = Rp 5,5 miliar

Alasan:
• Instrumen paling aman.
• Kupon rutin → sumber kas untuk pembayaran manfaat pensiun.
• Cocok jangka panjang 3–10 tahun.
Saham Dividen — 30% = Rp 3 miliar

Alasan:
• Memberikan growth yang dibutuhkan (return 11%).
• Dividen stabil dari sektor defensif (consumer dan perbankan besar).
• Porsi dibatasi agar risiko volatilitas tidak terlalu besar.

C. Deposito — 15% = Rp 1,5 miliar

Alasan:
• Menjadi cadangan likuid untuk kebutuhan 1–2 tahun pembayaran manfaat pensiun.
• Menghindari penjualan aset saat pasar memburuk.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
Saham Dividen (30%)

• Jika IHSG turun 20%, portofolio saham bisa turun 15–25%.
→ Dampak negatif terbesar.

2) Obligasi Pemerintah (55%)

• Saat inflasi tinggi, suku bunga naik → harga obligasi turun 5–10%.
• Kupon tetap masih masuk, jadi kerugian hanya sementara pada nilai wajar.

3) Deposito (15%)

• Tidak terdampak krisis pasar.
• Tetap memberikan bunga normal.

Total Dampak:

• Nilai portofolio berpotensi turun 7–12%.
• Cashflow masih aman karena kupon + deposito tetap berjalan.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan (PSAK Relevan: PSAK 71, 50, 55, 60)
Saham Dividen

Klasifikasi:
• Biasanya diklasifikasikan sebagai FVOCI – Equity Instruments.

Pencatatan:
• Dicatat pada nilai wajar.
• Keuntungan/kerugian perubahan nilai → OCI (bukan laba rugi).
• Dividen → diakui sebagai pendapatan pada laporan operasional.

Penyajian:
• Aset Investasi – Saham (nilai wajar).
• Saldo perubahan nilai wajar ada di OCI.

Obligasi Pemerintah

Dapat diklasifikasikan sebagai:
• FVOCI – Debt Instrument (paling umum)
atau
• Amortized Cost (jika niat hold-to-maturity kuat)

Pencatatan:
• Initial: biaya perolehan.
• Kupon: masuk ke laba rugi.
• Selisih premium/discount: diamortisasi.
• Perubahan nilai wajar (jika FVOCI): masuk ke OCI.

Penyajian:
• Aset Investasi – Obligasi (nilai wajar atau amortized cost).
• Catatan atas laporan keuangan harus menjelaskan tingkat risiko dan jatuh tempo.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Fathiyah Dzahirah 2413031001 -
Nama : Fathiyah Dzahirah
NPM : 2413031001

1. Analisis Instrumen Investasi (Singkat & Sistematis)
Saham dividen menawarkan return tertinggi (±11%) dan likuiditas tinggi, cocok untuk pertumbuhan jangka panjang, tetapi memiliki risiko fluktuasi besar sehingga kurang stabil untuk kebutuhan pensiun. Obligasi pemerintah (ORI/SBN) memberikan kupon stabil (6,5%) dengan risiko sangat rendah dan cocok untuk menjaga kestabilan arus kas, namun potensi return terbatas dan likuiditas sedang. Deposito berjangka paling aman dengan risiko sangat rendah dan return terendah (4,25%), cocok sebagai penyangga likuiditas, tetapi kurang optimal untuk pertumbuhan dana.

2. Alokasi Portofolio Rp10 Miliar (Profil Risiko Konservatif–Moderat)
Alokasi yang disarankan: Obligasi Pemerintah 50% (Rp5 miliar) sebagai tulang punggung stabilitas, Saham Dividen 30% (Rp3 miliar) untuk meningkatkan pertumbuhan nilai dana jangka panjang, dan Deposito Berjangka 20% (Rp2 miliar) sebagai cadangan likuiditas. Alokasi ini menyeimbangkan keamanan dana pensiun dengan kebutuhan imbal hasil yang memadai.

3. Simulasi Dampak Krisis Ekonomi
a) Saat inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, nilai saham akan turun signifikan, obligasi relatif stabil meski tertekan jika suku bunga naik, dan deposito tetap aman. Secara keseluruhan, portofolio akan mengalami penurunan moderat, tetapi tidak ekstrem karena porsi besar ada pada instrumen berisiko rendah.
b) Mitigasi risiko dilakukan dengan rebalancing portofolio, meningkatkan porsi obligasi/deposito saat pasar saham turun, diversifikasi sektor saham, serta menjaga cadangan kas untuk kebutuhan jangka pendek.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan (PSAK)
Saham dicatat sebagai aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi/OCI (PSAK 71). Obligasi pemerintah dicatat sebagai aset keuangan tersedia untuk dijual atau diamortisasi sesuai model bisnis (PSAK 71). Deposito berjangka dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Seluruh instrumen disajikan dalam neraca sebagai investasi dan penghasilan (dividen, kupon, bunga) diakui dalam laporan laba rugi secara periodik.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Saskia Kanesa Dinia -
Nama: Saskia Kanesa Dinia
NPM: 2413031021

1. Analisis Instrumen Investasi
Saham menawarkan return tinggi dengan risiko tinggi (fluktuatif); Obligasi menawarkan return sedang dengan risiko sangat rendah dan pendapatan tetap; Deposito menawarkan return rendah dengan risiko sangat rendah dan likuiditas rendah. Obligasi paling sesuai untuk stabilitas dana pensiun.

2. Penentuan Alokasi Portofolio
Alokasi yang direkomendasikan untuk profil konservatif-moderat: 60% Obligasi Pemerintah, 30% Deposito Berjangka, dan 10% Saham Dividen. Alasan utamanya adalah prioritas pada keamanan dan pendapatan tetap (fixed income) untuk menjamin pembayaran pensiun di masa depan.

3. Simulasi Dampak Ekonomi
a. Dampaknya terhadap portofolio Anda
Dampak: Saham turun nilainya 20%. Obligasi stabil secara pendapatan, tetapi nilainya bisa turun karena inflasi. Deposito aman dari penurunan IHSG, tetapi return tergerus inflasi tinggi.
b. Apa langkah mitigasi risiko yang bisa dilakukan oleh manajer investasi?
Mitigasi: Fokus pada rebalancing ke instrumen pendapatan tetap yang lebih tahan inflasi, dan analisis fundamental perusahaan saham yang defensif.

4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan
Semua instrumen dicatat pada nilai wajar (fair value) sesuai PSAK No. 18 tentang Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya. Perubahan nilai wajar diakui dalam laporan perubahan aset neto.