Nama: Refamei kudadiri
Npm:2413031014
1. Analisis Instrumen Investasi
Saham Dividen (sektor konsumer dan perbankan)
Dari sisi return, saham dividen memiliki potensi paling tinggi dengan rata-rata imbal hasil sekitar 11% per tahun ditambah dividen tunai 1–2 kali setahun. Namun, instrumen ini memiliki risiko paling tinggi karena sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar saham, inflasi, suku bunga, serta situasi ekonomi nasional dan global. Harga saham bisa turun cukup tajam saat terjadi krisis.
Likuiditas saham sangat tinggi karena bisa dijual kapan saja di bursa. Untuk dana pensiun, saham cocok sebagai instrumen pertumbuhan jangka panjang, tetapi porsinya tidak boleh terlalu besar agar tidak mengganggu stabilitas dana.
Kelebihannya adalah potensi keuntungan tinggi, adanya dividen rutin, dan mudah dicairkan. Kelemahannya adalah fluktuasi harga tinggi dan risiko penurunan nilai portofolio saat kondisi pasar memburuk.
Obligasi Pemerintah (ORI dan SBN)
Obligasi pemerintah memberikan kupon tetap sekitar 6,5% per tahun. Risikonya sangat rendah karena dijamin oleh pemerintah. Namun, jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo, harganya bisa naik atau turun tergantung kondisi suku bunga pasar.
Likuiditasnya sedang karena bisa diperdagangkan di pasar sekunder, tetapi tidak secepat saham. Untuk dana pensiun, obligasi sangat cocok sebagai tulang punggung portofolio karena memberikan pendapatan tetap yang stabil dan aman.
Kelebihannya adalah pendapatan kupon rutin, stabilitas tinggi, dan risiko gagal bayar yang sangat kecil. Kelemahannya adalah return lebih rendah dibanding saham dan sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Deposito Berjangka
Deposito memberikan bunga bersih sekitar 4,25% per tahun. Risikonya sangat rendah karena dijamin oleh LPS selama sesuai ketentuan. Namun, likuiditasnya rendah karena ada penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo.
Untuk dana pensiun, deposito cocok sebagai dana cadangan dan kebutuhan likuiditas jangka pendek, tetapi tidak cocok sebagai instrumen utama jangka panjang karena return-nya relatif rendah.
Kelebihannya adalah paling aman dan memberikan return pasti. Kelemahannya adalah imbal hasil rendah dan kurang mampu mengimbangi inflasi dalam jangka panjang.
2. Penentuan Alokasi Portofolio Dana Rp10 Miliar
Dengan profil risiko konservatif–moderat, portofolio sebaiknya menekankan stabilitas namun tetap memiliki ruang pertumbuhan.
Rekomendasi alokasi adalah:
Sekitar 50% atau Rp5 miliar ditempatkan pada obligasi pemerintah sebagai sumber pendapatan tetap dan stabil.
Sekitar 30% atau Rp3 miliar pada saham dividen untuk pertumbuhan nilai dana jangka panjang.
Sekitar 20% atau Rp2 miliar pada deposito berjangka sebagai dana likuid dan cadangan pembayaran manfaat pensiun.
Komposisi ini menjaga keseimbangan antara keamanan dana, pendapatan rutin, dan pertumbuhan jangka panjang agar nilai dana tetap terjaga selama 20 tahun ke depan.
3. Simulasi Dampak Krisis Ekonomi
Misalnya terjadi inflasi tinggi dan IHSG turun 20%.
Dampak terhadap portofolio
Nilai saham dividen kemungkinan turun mengikuti penurunan IHSG, sehingga nilai bagian saham dalam portofolio bisa turun sekitar 20%. Namun dividen biasanya masih tetap dibagikan meskipun nilainya bisa sedikit turun.
Obligasi pemerintah relatif lebih stabil. Jika inflasi tinggi biasanya diikuti kenaikan suku bunga, maka harga obligasi di pasar bisa turun. Namun jika obligasi dipegang sampai jatuh tempo, DPDN tetap menerima kupon 6,5% per tahun secara penuh.
Deposito relatif aman karena bunganya tetap, meskipun secara riil nilainya tergerus inflasi.
Secara keseluruhan, portofolio masih relatif aman karena hanya 30% yang terpapar langsung pada penurunan pasar saham.
Langkah mitigasi risiko
. Manajer investasi dapat melakukan beberapa langkah berikut:
. Melakukan diversifikasi saham pada beberapa sektor defensif seperti konsumsi dan perbankan besar.
. Menahan obligasi sampai jatuh tempo agar tidak terkena risiko penurunan harga pasar.
. Melakukan rebalancing portofolio secara berkala untuk menjaga proporsi sesuai target.
. Menyimpan dana likuid di deposito untuk kebutuhan pembayaran rutin agar tidak perlu menjual saham saat pasar turun.
. Memilih saham dengan fundamental kuat dan dividen stabil.
4. Aspek Akuntansi dan Pelaporan (Pendekatan PSAK)
Dalam laporan keuangan Dana Pensiun, investasi dicatat sesuai PSAK yang relevan, khususnya PSAK 71 (Instrumen Keuangan) dan PSAK 18 (Akuntansi Dana Pensiun).
Saham
Saham diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (fair value through profit or loss). Pada saat perolehan, saham dicatat sebesar harga beli. Selanjutnya, pada setiap akhir periode pelaporan, saham dinilai kembali berdasarkan harga pasar. Selisih nilai wajar dicatat sebagai keuntungan atau kerugian investasi dalam laporan hasil usaha dana pensiun. Dividen yang diterima dicatat sebagai pendapatan investasi.
Obligasi Pemerintah
Obligasi dicatat sebagai aset keuangan yang diukur pada biaya perolehan diamortisasi jika dimaksudkan untuk dimiliki sampai jatuh tempo. Nilai obligasi dicatat sebesar harga perolehan dan diamortisasi menggunakan metode suku bunga efektif. Kupon dicatat sebagai pendapatan investasi periodik.Jika obligasi diperdagangkan, maka dapat diklasifikasikan sebagai aset keuangan pada nilai wajar.
Deposito Berjangka
Deposito dicatat sebagai aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi. Bunga deposito diakui sebagai pendapatan investasi secara akrual sesuai periode berjalan.
Pelaporan dalam Laporan Keuangan Dana Pensiun
Ketiga instrumen disajikan dalam kelompok investasi pada neraca dana pensiun. Pendapatan dari bunga, kupon, dan dividen disajikan dalam laporan hasil usaha dana pensiun sebagai pendapatan investasi. Perubahan nilai wajar saham dan obligasi (jika diperdagangkan) dicatat sebagai keuntungan atau kerugian investasi.