Kiriman dibuat oleh Nurida Elsa

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Nurida Elsa -

Nama: Nurida Elsa 

NPM: 2413031012

1. Artikel: “Digitalization of Financial Reporting Through XBRL and the Cost of Equity” (Tohang & Lusiana, 2022)
Isi pokok: Penelitian ini menganalisis pengaruh penggunaan XBRL terhadap biaya ekuitas perusahaan publik di Indonesia. Dari studi terhadap 59 perusahaan sebelum dan sesudah menerapkan XBRL, ditemukan bahwa digitalisasi pelaporan keuangan ini menurunkan biaya ekuitas, terutama pada perusahaan besar, karena transparansi dan kualitas laporan keuangan meningkat.

Opini: Menurut saya, penggunaan XBRL sangat penting untuk meningkatkan keterbukaan dan kepercayaan investor terhadap laporan keuangan. Namun, keberhasilan digitalisasi ini juga membutuhkan dukungan teknologi yang memadai dan sumber daya manusia yang kompeten, terutama bagi perusahaan kecil.

2. Artikel: “Enhancing the Value of Corporate Sustainability: An Approach for Aligning Multiple SDGs Guides on Reporting”

Isi pokok: Artikel ini membahas pentingnya menyelaraskan berbagai panduan pelaporan keberlanjutan, seperti GRI, IIRC, dan SDGs, agar laporan perusahaan lebih terpadu dan bernilai strategis. Studi kasus di sektor telekomunikasi menunjukkan bahwa keselarasan panduan membuat laporan lebih transparan dan menambah nilai strategis bagi perusahaan.

Opini: Saya berpendapat bahwa pelaporan yang terintegrasi dengan SDGs menunjukkan komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan keberlanjutan. Selain itu, hal ini dapat meningkatkan reputasi perusahaan dan memperkuat daya saing di tingkat global.


TA2025 -> CASE STUDY

oleh Nurida Elsa -

ZNama: Nurida Elsa

NPM: 2413031012


1. Tantangan utama PT Sumber Hijau dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan keberlanjutan dan SDGs
PT Sumber Hijau menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan ekspansi ke Kalimantan Timur dengan prinsip keberlanjutan. Di satu sisi, proyek ini berpotensi merusak hutan hujan tropis dan ekosistem lokal, bertentangan dengan SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDG 15 mengenai ekosistem daratan. Di sisi lain, ekspansi tersebut dapat meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi regional sesuai SDG 8. Perusahaan juga dihadapkan pada tekanan dari LSM, masyarakat adat, dan investor global yang menuntut transparansi dan tanggung jawab sosial, sementara PSAK belum sepenuhnya mengakomodasi pelaporan isu ESG, sehingga menimbulkan dilema dalam menyajikan informasi keberlanjutan secara kredibel.

2. Pendekatan teori akuntansi positif dan normatif
Teori akuntansi positif membantu menjelaskan pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau sebagai refleksi perilaku ekonomi nyata perusahaan, di mana informasi ESG dilaporkan sesuai insentif pasar dan tekanan investor. Sementara itu, teori akuntansi normatif menekankan bagaimana perusahaan seharusnya melaporkan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dengan jujur dan transparan, tanpa terpengaruh hanya oleh laba atau tekanan eksternal. Kombinasi kedua teori ini memungkinkan perusahaan menyeimbangkan pelaporan yang memenuhi ekspektasi pasar sekaligus bertanggung jawab secara etis terhadap keberlanjutan.

3. Integrasi pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangan
Meskipun PSAK belum sepenuhnya mengakomodasi isu ESG, PT Sumber Hijau dapat mengintegrasikan SDGs melalui penggunaan standar non-keuangan seperti GRI (Global Reporting Initiative) dan SDG Compass, serta pendekatan integrated reporting  yang menghubungkan informasi keuangan dan non-keuangan. Perusahaan dapat mengidentifikasi indikator SDG yang relevan, seperti luas hutan yang direhabilitasi, jumlah tenaga kerja lokal, dan emisi gas rumah kaca, lalu menyajikannya dalam catatan atas laporan keuangan atau laporan keberlanjutan terpisah namun saling terkait. Dengan demikian, kontribusi perusahaan terhadap SDGs dapat disampaikan secara kuantitatif dan kualitatif, sekaligus memperkuat transparansi dan akuntabilitas.

4. Penyusunan narasi laporan untuk stakeholder
Sebagai akuntan, narasi laporan PT Sumber Hijau sebaiknya dirancang untuk menjawab ekspektasi stakeholder lokal maupun global. Laporan harus menyeimbangkan informasi tentang kontribusi ekonomi lokal, seperti lapangan kerja dan pertumbuhan regional, dengan upaya mitigasi dampak lingkungan, termasuk rehabilitasi hutan dan konservasi ekosistem. Data kuantitatif dan kualitatif harus disajikan secara transparan dan konsisten, menggunakan standar GRI sebagai acuan. Selain itu, narasi harus menghubungkan kinerja keberlanjutan dengan strategi bisnis dan tujuan SDGs, menyertakan target yang terukur serta rencana mitigasi risiko lingkungan dan sosial. Dengan pendekatan ini, laporan tidak hanya meningkatkan kredibilitas dan reputasi perusahaan, tetapi juga mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang sejalan dengan prinsip ESG dan SDGs.

TA2025 -> e-journal

oleh Nurida Elsa -

Nama: Nurida Elsa

NPM: 2413031012

Artikel yang membahas mengenai "Enhancing the value of corporate sustainability: An approach for aligning multiple SDGs guides on reporting" menjelaskan bahwa perusahaan perlu menyelaraskan berbagai panduan pelaporan keberlanjutan agar dapat berkontribusi secara maksimal pada pencapaian SDGs. Penulis menekankan bahwa laporan keberlanjutan yang baik harus mencakup aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi secara terpadu, serta mampu meningkatkan nilai perusahaan melalui penggunaan panduan pelaporan SDGs yang saling mendukung dan tidak bertentangan.

Pendekatan yang ditawarkan dalam artikel ini menyoroti pentingnya memiliki sistem manajemen yang kuat agar setiap keputusan bisnis selaras dengan SDGs, baik pada tingkat prinsip dasar, strategi jangka panjang, maupun kegiatan operasional sehari-hari. Dengan cara ini, perusahaan tidak hanya sekadar memenuhi kewajiban membuat laporan, tetapi benar-benar mengintegrasikan SDGs ke dalam strategi bisnis dan proses pengambilan keputusan, sehingga mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan dan semua pihak yang terkait.

Selain itu, artikel ini juga menekankan pentingnya melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pelaporan keberlanjutan. Dengan memahami kebutuhan dan harapan berbagai pihak, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih baik, meningkatkan kinerja keuangan, dan memperkuat daya saing di pasar. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kebijakan pelaporan keberlanjutan yang lebih seragam, efektif, dan mudah diterapkan di tingkat lokal, nasional, maupun global.


TA2025 -> DISKUSI

oleh Nurida Elsa -
Nama: Nurida Elsa
NPM: 2413031012

Menurut saya, video “Reporting on SDGs” dari Askel Sustainability Solutions memberikan penjelasan yang jelas tentang bagaimana perusahaan dapat ikut berkontribusi pada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Video tersebut menekankan bahwa perusahaan tidak cukup hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga perlu memasukkan prinsip-prinsip SDGs ke dalam rencana dan kegiatan bisnis mereka. Dengan cara ini, perusahaan dapat menunjukkan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang nyata, bukan hanya sekadar slogan.

Pelaporan SDGs juga dijelaskan sebagai langkah strategis yang membantu perusahaan menjadi lebih transparan dan dapat dipercaya oleh masyarakat, pemerintah, maupun investor. Selain itu, pelaporan ini dapat membuka peluang baru, seperti kerja sama bisnis, inovasi produk yang lebih ramah lingkungan, dan akses pendanaan berkelanjutan. Karena itu, pelaporan SDGs sebaiknya tidak dipandang sebagai beban atau kewajiban administratif, tetapi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang yang membantu perusahaan berkembang secara berkelanjutan.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Nurida Elsa -
Nama: Nurida Elsa
NPM: 2413031012

Jurnal yang pertama: Artikel yang ditulis oleh Muhammad Daham Sabbar menjelaskan bahwa akuntansi keuangan bukan hanya soal mencatat transaksi, tetapi juga berfungsi sebagai alat penting untuk menyampaikan informasi yang jelas dan berguna kepada semua pihak yang membutuhkan. Di era globalisasi, laporan keuangan harus benar-benar menggambarkan kondisi ekonomi perusahaan agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat. Karena itu, informasi akuntansi harus andal, relevan, dan mengikuti standar internasional supaya bisa dibandingkan dengan perusahaan lain di seluruh dunia.

Penulis juga menekankan bahwa akuntansi memiliki peran sosial, yaitu menjaga kepercayaan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Laporan yang dibuat secara jujur dapat meningkatkan kepercayaan investor dan publik, serta membantu keberlanjutan bisnis. Namun jika akuntansi disalahgunakan untuk manipulasi, kepercayaan itu bisa hilang dan berdampak buruk. Oleh karena itu, akuntansi keuangan harus dilihat bukan hanya sebagai teknik hitung, tetapi juga sebagai alat moral yang membantu menjaga stabilitas dan perkembangan ekonomi.

Jurnal kedua: Artikel ini membahas bahwa akuntansi keperilakuan mencoba menghubungkan akuntansi dengan ilmu psikologi, sosiologi, dan perilaku manusia. Akuntansi tidak hanya soal mencatat atau melaporkan transaksi, tetapi juga dipengaruhi oleh sikap, motivasi, cara pandang, kepribadian, dan nilai-nilai yang dimiliki individu maupun kelompok dalam sebuah organisasi. Penulis menekankan bahwa memahami faktor psikologis dan sosial sangat penting agar sistem akuntansi tidak hanya bekerja dengan baik secara teknis, tetapi juga mampu mencegah masalah etika seperti manipulasi laporan keuangan yang pernah terjadi di perusahaan besar dunia. Artinya, akuntansi sangat berkaitan dengan perilaku orang yang menjalankan dan memanfaatkannya.

Selain itu, artikel ini menjelaskan bahwa berbagai konsep psikologi—seperti perubahan sikap, motivasi, disonansi kognitif, hingga pembentukan kepribadian—bisa diterapkan dalam akuntansi keperilakuan. Konsep-konsep ini membantu memahami bagaimana perilaku orang di dalam organisasi dapat memengaruhi keputusan dan cara sistem akuntansi dirancang. Penulis menyimpulkan bahwa memahami akuntansi keperilakuan sangat penting bagi praktisi maupun akademisi untuk menciptakan sistem yang lebih jujur, etis, dan mendukung keberlanjutan perusahaan. Dengan memperhatikan unsur manusia, akuntansi dapat berfungsi bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan dan integritas dalam dunia bisnis.