Kiriman dibuat oleh Dera Lediana

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Dera Lediana -
RESUME VIDEO "EARNINGS MANAGEMENT" – EDSPIRA (BAB 6: LAPORAN LABA | AKUNTANSI KEUANGAN)

Video ini merupakan bagian dari seri pembelajaran Akuntansi Keuangan Bab 6 tentang Laporan Laba, yang membahas konsep Manajemen Laba secara rinci. Diupload pada 11 Februari 2014 oleh Edspira (dibuat oleh Michael McLaughlin), video ini telah ditonton lebih dari 34 ribu kali dan bertujuan menyediakan pendidikan bisnis berkualitas tinggi secara gratis untuk masyarakat luas.

Pada awalnya, video menjelaskan definisi manajemen laba sebagai upaya sengaja dalam pelaporan keuangan untuk menyajikan angka laba sesuai dengan tujuan tertentu. Meskipun tidak selalu melanggar aturan akuntansi, praktik ini dapat memanfaatkan fleksibilitas pilihan kebijakan akuntansi atau penjadwalan transaksi untuk mencapai target laba yang diinginkan.

Selanjutnya, video memberikan contoh praktis untuk mengilustrasikan konsep tersebut, khususnya bagaimana perusahaan dapat menjadwalkan transaksi untuk meningkatkan laba secara artifisial. Misalnya, perusahaan mungkin mempercepat pengakuan pendapatan dari penjualan yang seharusnya dicatat di periode berikutnya, atau menunda pencatatan beban yang seharusnya dikenakan dalam periode saat ini. Tujuan dari tindakan semacam ini bisa beragam, mulai dari memenuhi ekspektasi analis pasar, mendapatkan bonus manajemen, hingga memenuhi syarat perjanjian utang.

Video ini juga menjadi dasar untuk memahami kualitas laba, yang kemudian dibahas dalam video terkait lainnya dari Edspira. Selain konten video, penonton juga dapat mengakses berbagai panduan gratis berupa PDF dan spreadsheet tentang analisis laporan keuangan, akuntansi manajerial, dan perpajakan AS dengan berlangganan newsletter resmi Edspira.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Dera Lediana -
1. ANALISIS MANAJEMEN LABA PADA PT KARYA SENTOSA

Manajemen laba berbasis akrual yang diduga terjadi pada PT Karya Sentosa merupakan upaya manipulasi angka laba melalui pilihan kebijakan akuntansi atau penilaian yang fleksibel dalam sistem akrual. Berikut adalah indikator yang mendukung dugaan tersebut:

- Peningkatan Signifikan Akun Kredit Usaha: Perusahaan mungkin mempercepat pengakuan pendapatan dengan mencatat penjualan kredit yang belum memenuhi syarat pengakuan sesuai standar akuntansi, atau melonggarkan kebijakan kredit tanpa alasan bisnis yang jelas. Hal ini menyebabkan akun kredit usaha melonjak namun belum menghasilkan arus kas.
- Penurunan Cadangan Kerugian Piutang: Cadangan kerugian piutang dirancang untuk mengantisipasi piutang yang tidak dapat ditagih. Penurunan yang tidak proporsional dengan kualitas piutang menunjukkan kemungkinan manajemen menekan beban dengan memperkecil estimasi kerugian yang diharapkan, sehingga meningkatkan laba bersih.
- Pendapatan Tidak Sejalan dengan Arus Kas Operasi: Dalam sistem akrual, pendapatan dicatat saat diperoleh, bukan saat diterima kas. Jika pendapatan meningkat tetapi arus kas operasi tidak mengikuti, menunjukkan sebagian pendapatan tersebut bersumber dari akrual diskresioner yang dimanipulasi, bukan aktivitas bisnis riil yang menghasilkan kas.

2. PERBANDINGAN DUA JURNAL ILMIAH TERKINI

Jurnal 1: Audit Committee Features and Earnings Management (Nassir Zadeh et al., 2023)

- Pendekatan: Fokus pada hubungan antara karakteristik komite audit dengan dua jenis manajemen laba (akrual dan riil), dengan tujuan menjelaskan hasil inkonsisten dalam penelitian sebelumnya.
- Metodologi: Menggunakan model regresi multivariat dengan data panel, membagi manajemen laba menjadi dua kategori. Sampel tidak disebutkan secara spesifik, namun penelitian dilakukan pada perusahaan dengan data keuangan yang tersedia.
- Temuan Utama: Keahlian keuangan dan ukuran komite audit berpengaruh negatif terhadap manajemen laba akrual, namun tidak ada hubungan signifikan dengan manajemen laba riil. Independensi anggota komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba akrual.

Jurnal 2: Central Bank Digital Currency and Bank Earnings Management Using Loan Loss Provisions (Peterson K. Ozili, 2023)

- Pendekatan: Meneliti dampak mata uang digital bank sentral (CBDC) terhadap manajemen laba perbankan melalui cadangan kerugian pinjaman (LLPs), dengan fokus pada akrual berbasis laba.
- Metodologi: Menggunakan analisis teoritis dan empiris dengan data perbankan, menguji bagaimana disintermediasi yang disebabkan oleh CBDC mendorong bank untuk menurunkan LLPs diskresioner untuk meningkatkan laba yang dilaporkan.
- Temuan Utama: Bank akan menggunakan akrual seperti LLPs untuk mengelola laba ketika CBDC menyebabkan penurunan simpanan dan pemberian pinjaman. Penurunan LLPs diskresioner dilakukan untuk mengimbangi penurunan laba yang diharapkan.

Perbedaan Utama

Aspek Nassir Zadeh et al. (2023) Ozili (2023)
Fokus Topik Karakteristik komite audit sebagai faktor penentu Dampak teknologi keuangan (CBDC) terhadap praktik
Jenis Manajemen Laba Membandingkan akrual dan riil Hanya manajemen laba akrual (melalui LLPs)
Konteks Industri Umum (tidak spesifik industri) Khusus industri perbankan

3. EVALUASI KRITIS: APAKAH MANAJEMEN LABA SELALU NEGATIF?

Manajemen laba tidak selalu bersifat negatif, namun praktiknya seringkali menimbulkan kontroversi. Berikut adalah argumen dengan dukungan teori dan bukti empiris:

Argumen Negatif

- Teori Agensi: Manajer sebagai agen mungkin menggunakan manajemen laba untuk memaksimalkan keuntungan pribadi (seperti bonus) atau memenuhi ekspektasi pasar, yang tidak sejalan dengan kepentingan pemilik (prinsipal). Bukti empiris menunjukkan bahwa manajemen laba berlebihan menurunkan kualitas laba dan kredibilitas laporan keuangan (Healy & Wahlen, 1999).
- Dampak Jangka Panjang: Praktik manipulatif seperti mempercepat pengakuan pendapatan atau menekan beban dapat menciptakan ilusi kinerja, yang pada akhirnya menyebabkan kerugian bagi investor ketika fakta terungkap. Contoh skandal akuntansi seperti Enron dan WorldCom menunjukkan dampak merusak dari manajemen laba yang ekstrem.

Argumen Positif

- Teori Sinyal: Manajemen laba dapat digunakan untuk menyampaikan informasi tentang prospek perusahaan yang belum tercermin dalam data riil saat ini. Misalnya, manajer dapat menyesuaikan akrual untuk menunjukkan stabilitas laba yang mencerminkan potensi bisnis jangka panjang (Scott, 2003).
- Bukti Empiris: Penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba yang dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang (debt covenant) dapat membantu perusahaan menjaga akses ke sumber daya keuangan, yang penting untuk kelangsungan operasional (Andriyani, 2004). Selain itu, beberapa perusahaan menggunakan manajemen laba untuk menyeimbangkan fluktuasi laba yang disebabkan oleh kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Kesimpulan: Manajemen laba bersifat negatif jika dilakukan dengan tujuan menyesatkan pemangku kepentingan atau melanggar standar akuntansi. Namun, jika dilakukan secara wajar dan transparan untuk menyampaikan informasi yang relevan atau menjaga kelangsungan bisnis, dapat dianggap memiliki sisi positif yang terbatas.

4. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan

PT Karya Sentosa menunjukkan indikasi kuat terhadap manajemen laba berbasis akrual, yang dapat merusak kepercayaan investor dan kredibilitas perusahaan. Penelitian terkini menunjukkan bahwa faktor seperti karakteristik komite audit dan perkembangan teknologi keuangan memengaruhi praktik manajemen laba, dan bahwa praktik ini tidak selalu negatif namun membutuhkan pengendalian yang ketat.

Rekomendasi untuk Pemangku Kepentingan

- Bagi Manajemen Perusahaan:
- Tinjau ulang kebijakan akuntansi terkait pengakuan pendapatan dan pencatatan cadangan kerugian piutang untuk memastikan kesesuaian dengan standar akuntansi yang berlaku.
- Tingkatkan transparansi dengan mengungkapkan dasar penilaian akuntansi dan asumsi yang digunakan dalam laporan keuangan.
- Bagi Komite Audit:
- Perkuat peran pengawasan dengan memastikan anggota memiliki keahlian keuangan yang memadai dan independensi yang tinggi.
- Lakukan evaluasi berkala terhadap sistem pengendalian internal terkait proses akuntansi akrual.
- Bagi Investor dan Analis:
- Lakukan analisis mendalam terhadap hubungan antara pendapatan, akrual, dan arus kas operasi untuk menilai kualitas laba perusahaan.
- Perhatikan karakteristik komite audit dan praktik tata kelola perusahaan sebagai indikator risiko manajemen laba.
- Bagi Regulator:
- Perbarui standar pelaporan keuangan untuk mengakomodasi kompleksitas praktik akuntansi modern dan meningkatkan pengungkapan terkait manajemen laba.
- Tingkatkan pengawasan terhadap perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan laba tidak wajar atau ketidakkonsistenan antara data keuangan dan aktivitas bisnis riil.

Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang model pengukuran manajemen laba yang dapat digunakan untuk mendeteksi praktik manipulatif pada perusahaan manufaktur?

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Dera Lediana -
ANALISIS KRITIS

Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?

- Konsep Pengakuan dan Pengukuran: Teori akuntansi tradisional mengandalkan prinsip-prinsip seperti kesesuaian waktu dan objektivitas. Pada sistem otomatisasi berbasis AI, algoritma dapat membuat keputusan pengakuan transaksi secara mandiri, yang mungkin tidak selaras dengan interpretasi manual tradisional. Sedangkan blockchain dengan sifatnya yang tidak dapat diubah (immutable) dapat menyebabkan kesulitan dalam pengakuan koreksi atau penyesuaian akuntansi yang diperlukan menurut standar tradisional.
- Kontrol Internal: Struktur kontrol internal tradisional dirancang untuk proses manual atau semi-manual. Pada sistem terotomatisasi dan blockchain, titik kontrol bergeser dari pengawasan manusia ke validasi kode, akses ke jaringan, dan integritas algoritma, yang tidak selalu tercakup dalam kerangka kontrol tradisional.
- Transparansi dan Auditabilitas: Meskipun blockchain dianggap transparan, kompleksitas jaringan dan enkripsi dapat menyulitkan auditor untuk melacak dan memverifikasi data sesuai dengan metode audit tradisional. Selain itu, sistem otomatisasi dapat menyembunyikan jejak pengambilan keputusan akuntansi, membuatnya sulit untuk mengevaluasi kesesuaian dengan standar.

Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?

- Peluang:
- Digitalisasi meningkatkan akurasi dan kecepatan pencatatan transaksi, mengurangi kesalahan manusia.
- Sistem terintegrasi memungkinkan akses data secara real-time, mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
- Teknologi seperti blockchain dapat meningkatkan keandalan dan tidak dapat dimanipulasi data pada tingkat tertentu.
- Risiko Manipulasi:
- Algoritma AI dapat dimodifikasi atau diatur parameter-nya untuk memanipulasi estimasi akuntansi atau waktu pengakuan transaksi, seperti yang dicurigai pada PT Delta.
- Delay dalam sinkronisasi data antar sistem digital dapat digunakan untuk menyembunyikan informasi atau mengubah urutan transaksi.
- Kompleksitas sistem teknologi dapat menyembunyikan praktik manipulatif dari auditor dan regulator, karena memerlukan keahlian khusus untuk mendeteksinya.

ETIKA DAN TRANSPARANSI

Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?

- Hilangnya Tanggung Jawab Individu: Ketika algoritma membuat keputusan estimasi, sulit untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau penyimpangan etis—apakah akuntan, tim pengembang algoritma, atau manajemen perusahaan.
- Ketergantungan yang Berlebihan: Akuntan mungkin terlalu mengandalkan hasil dari algoritma tanpa melakukan verifikasi manual yang diperlukan, mengabaikan tanggung jawab profesional untuk memastikan keakuratan informasi keuangan.
- Kesenjangan Etis dalam Desain Algoritma: Algoritma dapat mencerminkan bias dari pengembangnya atau tujuan bisnis yang mungkin tidak selaras dengan prinsip etika akuntansi, seperti memaksimalkan laba secara tidak adil tanpa mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan lainnya.

Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?

- Memegang Teguh Prinsip Profesional: Akuntan harus selalu mengutamakan standar akuntansi yang berlaku dan prinsip etika profesi, seperti integritas, objektivitas, dan tanggung jawab publik.
- Komunikasi yang Jelas dengan Manajemen: Jelaskan konsekuensi hukum, regulasi, dan dampak jangka panjang bagi perusahaan jika melakukan manipulasi laporan keuangan, termasuk kerusakan citra dan potensi tuntutan hukum.
- Mencari Dukungan dari Badan Pengatur atau Asosiasi Profesional: Jika tekanan terus berlanjut, akuntan dapat berkonsultasi dengan badan regulasi atau organisasi profesi untuk mendapatkan panduan dan perlindungan.
- Dokumentasi yang Lengkap: Catat semua keputusan akuntansi, dasar penilaian, dan setiap tekanan yang diterima sebagai bukti bahwa akuntan telah bertindak sesuai dengan standar profesional.

RESPON STRATEGIS

Rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi

1. Peningkatan Kompetensi Teknis: Perusahaan dan auditor harus mengembangkan keahlian di bidang teknologi informasi, AI, dan blockchain untuk memahami kompleksitas sistem akuntansi digital dan dapat mengidentifikasi risiko potensial.
2. Audit Terintegrasi (IT dan Keuangan): Menggabungkan audit sistem informasi dengan audit keuangan tradisional untuk mengevaluasi integritas sistem, kontrol akses, dan validitas algoritma yang digunakan dalam proses akuntansi.
3. Pemantauan Berkelanjutan: Menggunakan teknologi seperti analitik data dan AI untuk melakukan pemantauan transaksi secara real-time, mendeteksi anomali atau pola yang mencurigakan yang mungkin menunjukkan manipulasi.
4. Pembentukan Tim Pengawasan Teknologi: Perusahaan dapat membentuk tim khusus yang terdiri dari ahli akuntansi, teknologi, dan hukum untuk mengawasi penerapan dan penggunaan teknologi dalam proses akuntansi, serta memastikan kepatuhan dengan standar.
5. Transparansi dalam Penggunaan Teknologi: Mengungkapkan secara jelas dalam laporan keuangan tentang jenis teknologi yang digunakan, cara kerja algoritma, dan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan keandalan data.

Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi?

Standar pelaporan keuangan saat ini (seperti IFRS atau PSAK di Indonesia) telah melakukan upaya adaptasi, namun masih memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi kompleksitas penuh keuangan digital dan globalisasi.

- Aspek yang Sudah Adaptif: Beberapa standar telah diperbarui untuk menangani isu seperti pengakuan aset digital, transaksi lintas batas, dan pengungkapan risiko keuangan global. Misalnya, standar terkait instrumen keuangan telah diubah untuk mengakomodasi produk keuangan digital yang semakin kompleks.
- Keterbatasan:
- Tidak ada panduan yang spesifik dan komprehensif untuk penerapan AI dan blockchain dalam proses akuntansi, yang menyebabkan inkonsistensi dalam pengakuan dan pengukuran di antara perusahaan.
- Standar belum sepenuhnya mengatasi tantangan volatilitas nilai tukar global dan ketidakpastian regulasi lintas negara, yang dapat mempengaruhi presentasi dan pengungkapan laporan keuangan.
- Pengungkapan terkait risiko teknologi dan manipulasi akuntansi berbasis digital masih belum cukup rinci, sehingga sulit bagi investor untuk mengevaluasi risiko yang sebenarnya dihadapi perusahaan.

Oleh karena itu, diperlukan pembaruan lebih lanjut pada standar pelaporan keuangan yang lebih terfokus pada dinamika digital dan global, serta kerjasama internasional yang lebih erat untuk menyelaraskan peraturan di berbagai negara.

 

Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang langkah-langkah spesifik yang dapat diambil oleh perusahaan fintech di Indonesia untuk mengatasi tantangan regulasi internasional terkait sistem akuntansi digital?

TA2025 -> CASE STUDY 2

oleh Dera Lediana -
Perbandingan Pendekatan Tradisional Penilaian Fair Value vs Pendekatan Berbasis AI (Perspektif Teori Akuntansi)
a. Pendekatan Tradisional Penilaian Fair Value
Pendekatan tradisional dalam penentuan fair value umumnya merujuk pada standar seperti PSAK 68 / IFRS 13, yang menekankan:
Input yang dapat diobservasi (observable inputs)
Pertimbangan profesional (professional judgment) dari penilai atau akuntan
Metode konvensional:
Pendekatan pasar (market approach)
Pendekatan pendapatan (income approach)
Pendekatan biaya (cost approach)
Dari perspektif teori akuntansi:
Selaras dengan Positive Accounting Theory (PAT) → akuntansi sebagai alat untuk merefleksikan realitas ekonomi.
Mengandalkan Human Judgment Theory → manusia dianggap mampu menilai konteks, asumsi, dan risiko.
Memiliki akuntabilitas personal (penilai dapat dimintai pertanggungjawaban).
Kelemahan utama:
Subjektivitas tinggi
Lambat
Rentan bias manusia dan konflik kepentingan
b. Pendekatan Penilaian Fair Value Berbasis AI
Pendekatan AI menggunakan:
Big data
Machine learning
Data pasar real-time
Algoritma prediktif non-linear
Dari perspektif teori akuntansi:
Sejalan dengan Decision Usefulness Theory → informasi lebih relevan dan tepat waktu.
Mendukung Information Economics Theory → efisiensi informasi meningkat.
Cenderung positivistik ekstrem: nilai dihasilkan dari pola statistik, bukan interpretasi normatif.
Keunggulan:
Cepat dan konsisten
Memproses data dalam skala besar
Mengurangi bias emosional manusia
Kelemahan utama:
Black box problem → proses tidak transparan
Sulit diaudit
Ketergantungan pada kualitas data dan desain algoritma
c. Ringkasan Perbandingan
Aspek
Pendekatan Tradisional
Pendekatan AI
Sumber penilaian
Judgment manusia
Algoritma & data
Transparansi
Tinggi
Rendah
Kecepatan
Lambat
Sangat cepat
Objektivitas
Terbatas
Relatif tinggi
Auditabilitas
Mudah
Sulit
Akuntabilitas
Jelas
Kabur
2. Implikasi Epistemologis Penggunaan AI dalam Penentuan Fair Value
Epistemologi membahas sumber, legitimasi, dan validitas pengetahuan.
a. Pergeseran Sumber Pengetahuan Akuntansi
Tradisional:
Pengetahuan berasal dari:
Teori ekonomi
Standar akuntansi
Pengalaman profesional
Berbasis AI:
Pengetahuan berasal dari:
Korelasi statistik
Pola data historis
Pembelajaran mesin (machine learning)
➡ Terjadi pergeseran dari knowledge-based accounting ke data-driven accounting.
b. Masalah Validitas Pengetahuan
Beberapa isu epistemologis utama:
Opacity of Knowledge
Nilai fair value dihasilkan tanpa penjelasan kausal
Auditor tidak dapat menelusuri logika keputusan
Algorithmic Bias
Data historis dapat mencerminkan distorsi pasar
AI mereproduksi bias masa lalu sebagai “kebenaran”
Loss of Interpretability
Pengetahuan akuntansi tidak lagi dapat diverifikasi secara konseptual
Bertentangan dengan prinsip verifiability dan faithful representation
Epistemic Authority Shift
Otoritas kebenaran berpindah dari akuntan → sistem AI
Menimbulkan pertanyaan: siapa yang “tahu” nilai wajar sebenarnya?
c. Konsekuensi Filosofis
AI memperkuat empirisisme ekstrem
Melemahkan normative accounting theory
Mengaburkan peran etika dan profesionalisme
3. Strategi Akuntabilitas dan Pelaporan untuk Menjamin Keandalan, Objektivitas, dan Transparansi AI
Agar penggunaan AI dalam penilaian fair value dapat diterima oleh auditor dan pemangku kepentingan, diperlukan strategi berikut:
a. Explainable AI (XAI)
Menggunakan model AI yang dapat dijelaskan (misalnya:
Feature importance
Sensitivity analysis)
Menyediakan audit trail algoritmik
➡ Mengurangi masalah black box.
b. Hybrid Judgment Model
AI digunakan sebagai decision support system, bukan decision maker.
Keputusan akhir tetap pada:
Manajemen
Penilai independen
➡ Menjaga akuntabilitas manusia.
c. Pengungkapan (Disclosure) yang Diperluas
Dalam Catatan atas Laporan Keuangan:
Metodologi AI yang digunakan
Jenis dan sumber data
Asumsi utama algoritma
Tingkat ketidakpastian estimasi
Peran judgment manajemen
➡ Selaras dengan prinsip full disclosure.
d. Model Governance dan Audit AI
Pembentukan AI Governance Committee
Audit algoritma secara berkala
Validasi eksternal model AI
➡ Memastikan independensi dan objektivitas.
e. Penyesuaian Standar Akuntansi dan Audit
Standar perlu mengakomodasi:
Algorithm assurance
Data quality assurance
Ethical AI principles

TA2025 -> CASE STUDY 1

oleh Dera Lediana -
PT Hijau Lestari, sebuah perusahaan agribisnis di Indonesia, sedang mempersiapkan pelaporan keberlanjutan (laporan keinginan) sesuai dengan standar GRI (Global Reporting Initiative). Perusahaan ini mempertimbangkan untuk menggunakan teknologi blockchain guna meningkatkan transparansi dan integritas data dalam laporan permintaan mereka, khususnya terkait jejak karbon dan sumber bahan baku.

Namun, manajemen belum sepenuhnya memahami akuntansi dan etika dari penggunaan blockchain dalam pelaporan tersebut, serta bagaimana hal ini akan diterima oleh pemangku kepentingan dan regulator di Indonesia.

Pertanyaan:

Analisislah bagaimana penggunaan teknologi blockchain dapat mempengaruhi teori akuntansi yang terkait dengan reliabilitas dan melindungi informasi akuntansi dalam konteks pelaporan keberlanjutan
Evaluasilah tantangan yang mungkin dihadapi PT Hijau Lestari jika menerapkan teknologi ini dalam konteks regulasi Indonesia dan global.
Memberikan rekomendasi strategi berbasis teori akuntansi dan perkembangan teknologi yang dapat mendukung keberhasilan implementasi ini.. Pengaruh Teknologi Blockchain terhadap Teori Akuntansi (Reliabilitas & Perlindungan Informasi)
a. Perspektif Teori Akuntansi Keuangan (Qualitative Characteristics of Accounting Information)
Dalam Kerangka Konseptual Akuntansi, kualitas utama informasi akuntansi adalah relevansi dan faithful representation (keandalan/reliabilitas).
Blockchain berkontribusi sebagai berikut:
Reliabilitas (Reliability / Faithful Representation)
Blockchain bersifat immutable (tidak dapat diubah tanpa jejak), sehingga:
Data jejak karbon (emisi CO₂, penggunaan energi, rantai pasok) menjadi lebih dapat dipercaya.
Mengurangi risiko greenwashing dalam laporan keberlanjutan.
Setiap transaksi dicatat secara kronologis dan terverifikasi oleh jaringan → mendukung prinsip verifiability.
Integritas dan Perlindungan Informasi
Sistem cryptographic hashing melindungi data dari manipulasi.
Akses berbasis izin (permissioned blockchain) selaras dengan prinsip internal control dalam akuntansi.
Akuntabilitas dan Transparansi (Accountability Theory)
Blockchain mendukung stakeholder accountability, karena:
Pemangku kepentingan dapat melacak asal bahan baku (traceability).
Data bersifat real-time dan auditable.
b. Perspektif Teori Stakeholder dan Legitimasi
Teori Stakeholder:
Blockchain memperkuat kepercayaan investor, konsumen, LSM, dan pemerintah terhadap klaim keberlanjutan perusahaan.
Teori Legitimasi:
Implementasi blockchain menjadi alat legitimasi sosial, menunjukkan bahwa perusahaan:
Tidak hanya patuh regulasi, tetapi juga proaktif dalam transparansi lingkungan.
2. Tantangan Implementasi Blockchain dalam Konteks Regulasi Indonesia & Global
a. Tantangan Regulasi di Indonesia
Belum Spesifiknya Regulasi Blockchain untuk Pelaporan
OJK dan BAPEPAM-LK belum memiliki pedoman teknis penggunaan blockchain untuk laporan non-keuangan.
GRI belum mewajibkan blockchain → risiko over-investment teknologi.
Kepatuhan terhadap UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP)
Konflik antara:
Prinsip hak untuk dihapus (right to be forgotten)
vs. immutable ledger blockchain.
Standar Audit dan Assurance
Auditor di Indonesia masih terbatas pengalamannya dalam:
Audit data berbasis blockchain
Assurance atas ESG digital data
b. Tantangan Global
Interoperabilitas Standar
GRI, ISSB, dan EU CSRD memiliki pendekatan ESG berbeda.
Blockchain harus mampu menyesuaikan dengan berbagai format laporan.
Etika dan Tata Kelola Teknologi
Risiko:
Bias data input (garbage in, garbage out)
Ketergantungan pada penyedia teknologi global
3. Rekomendasi Strategi Berbasis Teori Akuntansi & Perkembangan Teknologi
a. Strategi Implementasi Bertahap (Incremental Accounting Innovation)
Berdasarkan Teori Perubahan Akuntansi (Accounting Change Theory):
Mulai dari pilot project:
Fokus pada jejak karbon dan traceability bahan baku utama.
Gunakan permissioned blockchain agar sesuai kontrol internal.
b. Integrasi dengan Sistem Akuntansi & GRI
Hubungkan blockchain dengan:
Sistem ERP
Modul akuntansi lingkungan (environmental accounting)
Pastikan indikator GRI (misalnya GRI 305 – Emissions) dapat:
Diverifikasi
Ditrace ke sumber data blockchain
c. Penguatan Etika & Tata Kelola
Bentuk Sustainability & Technology Governance Committee
Tetapkan:
Kebijakan etika data
Audit trail berbasis blockchain
Prosedur koreksi kesalahan data (off-chain adjustment)
d. Kolaborasi Regulator dan Assurance Provider
Libatkan sejak awal:
Auditor independen
Konsultan ESG
Akademisi akuntansi berkelanjutan
Tujuan:
Meningkatkan credibility assurance laporan keberlanjutan
Kesimpulan
Penggunaan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan PT Hijau Lestari:
Memperkuat teori reliabilitas, akuntabilitas, dan transparansi akuntansi
Meningkatkan legitimasi dan kepercayaan stakeholder
Namun menghadapi tantangan regulasi, etika data, dan kesiapan audit
Dengan strategi bertahap, berbasis teori akuntansi, dan tata kelola yang kuat, blockchain dapat menjadi enabler transformasi pelaporan keberlanjutan yang kredibel dan berkelanjutan di Indonesia.