ANALISIS KRITIS
Apa tantangan yang muncul dalam penerapan teori akuntansi tradisional ketika perusahaan menggunakan sistem otomatisasi dan blockchain?
- Konsep Pengakuan dan Pengukuran: Teori akuntansi tradisional mengandalkan prinsip-prinsip seperti kesesuaian waktu dan objektivitas. Pada sistem otomatisasi berbasis AI, algoritma dapat membuat keputusan pengakuan transaksi secara mandiri, yang mungkin tidak selaras dengan interpretasi manual tradisional. Sedangkan blockchain dengan sifatnya yang tidak dapat diubah (immutable) dapat menyebabkan kesulitan dalam pengakuan koreksi atau penyesuaian akuntansi yang diperlukan menurut standar tradisional.
- Kontrol Internal: Struktur kontrol internal tradisional dirancang untuk proses manual atau semi-manual. Pada sistem terotomatisasi dan blockchain, titik kontrol bergeser dari pengawasan manusia ke validasi kode, akses ke jaringan, dan integritas algoritma, yang tidak selalu tercakup dalam kerangka kontrol tradisional.
- Transparansi dan Auditabilitas: Meskipun blockchain dianggap transparan, kompleksitas jaringan dan enkripsi dapat menyulitkan auditor untuk melacak dan memverifikasi data sesuai dengan metode audit tradisional. Selain itu, sistem otomatisasi dapat menyembunyikan jejak pengambilan keputusan akuntansi, membuatnya sulit untuk mengevaluasi kesesuaian dengan standar.
Bagaimana digitalisasi dapat menciptakan peluang sekaligus risiko manipulasi informasi akuntansi?
- Peluang:
- Digitalisasi meningkatkan akurasi dan kecepatan pencatatan transaksi, mengurangi kesalahan manusia.
- Sistem terintegrasi memungkinkan akses data secara real-time, mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
- Teknologi seperti blockchain dapat meningkatkan keandalan dan tidak dapat dimanipulasi data pada tingkat tertentu.
- Risiko Manipulasi:
- Algoritma AI dapat dimodifikasi atau diatur parameter-nya untuk memanipulasi estimasi akuntansi atau waktu pengakuan transaksi, seperti yang dicurigai pada PT Delta.
- Delay dalam sinkronisasi data antar sistem digital dapat digunakan untuk menyembunyikan informasi atau mengubah urutan transaksi.
- Kompleksitas sistem teknologi dapat menyembunyikan praktik manipulatif dari auditor dan regulator, karena memerlukan keahlian khusus untuk mendeteksinya.
ETIKA DAN TRANSPARANSI
Apa risiko etika yang dihadapi akuntan ketika estimasi dan judgement keuangan digantikan oleh algoritma AI?
- Hilangnya Tanggung Jawab Individu: Ketika algoritma membuat keputusan estimasi, sulit untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan atau penyimpangan etis—apakah akuntan, tim pengembang algoritma, atau manajemen perusahaan.
- Ketergantungan yang Berlebihan: Akuntan mungkin terlalu mengandalkan hasil dari algoritma tanpa melakukan verifikasi manual yang diperlukan, mengabaikan tanggung jawab profesional untuk memastikan keakuratan informasi keuangan.
- Kesenjangan Etis dalam Desain Algoritma: Algoritma dapat mencerminkan bias dari pengembangnya atau tujuan bisnis yang mungkin tidak selaras dengan prinsip etika akuntansi, seperti memaksimalkan laba secara tidak adil tanpa mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan lainnya.
Bagaimana akuntan profesional harus menyikapi tekanan untuk "menyesuaikan" hasil laporan agar tetap menarik bagi investor?
- Memegang Teguh Prinsip Profesional: Akuntan harus selalu mengutamakan standar akuntansi yang berlaku dan prinsip etika profesi, seperti integritas, objektivitas, dan tanggung jawab publik.
- Komunikasi yang Jelas dengan Manajemen: Jelaskan konsekuensi hukum, regulasi, dan dampak jangka panjang bagi perusahaan jika melakukan manipulasi laporan keuangan, termasuk kerusakan citra dan potensi tuntutan hukum.
- Mencari Dukungan dari Badan Pengatur atau Asosiasi Profesional: Jika tekanan terus berlanjut, akuntan dapat berkonsultasi dengan badan regulasi atau organisasi profesi untuk mendapatkan panduan dan perlindungan.
- Dokumentasi yang Lengkap: Catat semua keputusan akuntansi, dasar
penilaian, dan setiap tekanan yang diterima sebagai bukti bahwa akuntan telah bertindak sesuai dengan standar profesional.
RESPON STRATEGIS
Rekomendasi bagaimana perusahaan dan akuntan publik harus menyesuaikan praktik audit dan pengawasan dalam menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi tinggi
1. Peningkatan Kompetensi Teknis: Perusahaan dan auditor harus mengembangkan keahlian di bidang teknologi informasi, AI, dan blockchain untuk memahami kompleksitas sistem akuntansi digital dan dapat mengidentifikasi risiko potensial.
2. Audit Terintegrasi (IT dan Keuangan): Menggabungkan audit sistem informasi dengan audit keuangan tradisional untuk mengevaluasi integritas sistem, kontrol akses, dan validitas algoritma yang digunakan dalam proses akuntansi.
3. Pemantauan Berkelanjutan: Menggunakan teknologi seperti analitik data dan AI untuk melakukan pemantauan transaksi secara real-time, mendeteksi anomali atau pola yang mencurigakan yang mungkin menunjukkan manipulasi.
4. Pembentukan Tim Pengawasan Teknologi: Perusahaan dapat membentuk tim khusus yang terdiri dari ahli akuntansi, teknologi, dan hukum untuk mengawasi penerapan dan penggunaan teknologi dalam proses akuntansi, serta memastikan kepatuhan dengan standar.
5. Transparansi dalam Penggunaan Teknologi: Mengungkapkan secara jelas dalam laporan keuangan tentang jenis teknologi yang digunakan, cara kerja algoritma, dan langkah-langkah yang diambil untuk memastikan keandalan data.
Apakah standar pelaporan keuangan saat ini cukup adaptif untuk mengakomodasi kompleksitas keuangan digital dan globalisasi?
Standar pelaporan keuangan saat ini (seperti IFRS atau PSAK di Indonesia) telah melakukan upaya adaptasi, namun masih memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi kompleksitas penuh keuangan digital dan globalisasi.
- Aspek yang Sudah Adaptif: Beberapa standar telah diperbarui untuk menangani isu seperti pengakuan aset digital, transaksi lintas batas, dan pengungkapan risiko keuangan global. Misalnya, standar terkait instrumen keuangan telah diubah untuk mengakomodasi produk keuangan digital yang semakin kompleks.
- Keterbatasan:
- Tidak ada panduan yang spesifik dan komprehensif untuk penerapan AI dan blockchain dalam proses akuntansi, yang menyebabkan inkonsistensi dalam pengakuan dan pengukuran di antara perusahaan.
- Standar belum sepenuhnya mengatasi tantangan volatilitas nilai tukar global dan ketidakpastian regulasi lintas negara, yang dapat mempengaruhi presentasi dan pengungkapan laporan keuangan.
- Pengungkapan terkait risiko teknologi dan manipulasi akuntansi berbasis digital masih belum cukup rinci, sehingga sulit bagi investor untuk mengevaluasi risiko yang sebenarnya dihadapi perusahaan.
Oleh karena itu, diperlukan pembaruan lebih lanjut pada standar pelaporan keuangan yang lebih terfokus pada dinamika digital dan global, serta kerjasama internasional yang lebih erat untuk menyelaraskan peraturan di berbagai negara.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang langkah-langkah spesifik yang dapat diambil oleh perusahaan fintech di Indonesia untuk mengatasi tantangan regulasi internasional terkait sistem akuntansi digital?