Kiriman dibuat oleh Salsabila Labibah

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


Jurnal 1

Jurnal ini mengkaji pengaruh penerapan XBRL sebagai format pelaporan keuangan digital terhadap biaya ekuitas perusahaan di pasar modal Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan XBRL mampu meningkatkan keterbukaan dan kualitas informasi keuangan, sehingga mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan investor. Kondisi tersebut berkontribusi pada penurunan biaya ekuitas, khususnya pada perusahaan dengan skala besar yang memiliki eksposur tinggi terhadap investor publik. Namun demikian, efektivitas XBRL sangat bergantung pada kualitas penerapan, tingkat literasi pengguna, serta dukungan infrastruktur pasar modal.

Opini:
Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dalam pelaporan keuangan memiliki dampak ekonomi yang nyata dan strategis. XBRL tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kepercayaan investor. Namun, manfaat XBRL belum sepenuhnya optimal apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas pengungkapan dan pemahaman pengguna. Oleh karena itu, peran regulator dan edukasi pasar menjadi kunci agar transformasi digital pelaporan benar-benar menghasilkan efisiensi dan transparansi yang diharapkan.

Jurnal 2

Jurnal kedua menekankan bahwa isu keberlanjutan dan ESG telah menjadi elemen penting dalam praktik pelaporan perusahaan modern. Pelaporan keberlanjutan dipandang sebagai instrumen untuk menunjukkan akuntabilitas perusahaan atas dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas bisnisnya. Artikel ini menjelaskan bahwa keterkaitan pelaporan keberlanjutan dengan SDGs memperluas peran akuntansi, dari sekadar pelaporan kinerja keuangan menjadi alat komunikasi nilai jangka panjang dan legitimasi perusahaan. Dengan meningkatnya tekanan dari investor dan masyarakat global, pelaporan ESG menjadi faktor penting dalam pengelolaan risiko dan reputasi perusahaan.

Opini:
Saya berpendapat bahwa jurnal ini sangat relevan dengan kondisi bisnis saat ini, khususnya bagi perusahaan yang beroperasi di sektor berdampak tinggi terhadap lingkungan. Pelaporan ESG tidak seharusnya dipandang sebagai beban tambahan, melainkan sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan usaha. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pelaporan keberlanjutan bersifat substantif dan tidak hanya menjadi alat pencitraan. Oleh karena itu, diperlukan standar yang kuat, konsistensi pengungkapan, serta integrasi yang lebih baik antara laporan keuangan dan nonkeuangan.





TA2025 -> CASE STUDY

oleh Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Tantangan utama dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan dan SDGs

PT Sumber Hijau menghadapi tantangan utama berupa pertentangan antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan tuntutan perlindungan lingkungan serta sosial. Rencana ekspansi ke Kalimantan Timur berpotensi meningkatkan kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sesuai dengan tujuan SDG 8, tetapi di sisi lain menimbulkan risiko kerusakan hutan hujan dan penurunan kualitas ekosistem daratan yang berlawanan dengan SDG 13 dan SDG 15. Penolakan dari LSM lingkungan dan masyarakat adat menunjukkan adanya persoalan penerimaan sosial yang harus diperhatikan perusahaan. Selain itu, tekanan dari investor internasional yang menekankan prinsip ESG semakin memperbesar tantangan, terutama karena standar akuntansi nasional belum sepenuhnya mengatur pelaporan keberlanjutan, sehingga perusahaan harus menyesuaikan tuntutan global dengan kerangka regulasi domestik yang ada.

2. Pendekatan teori akuntansi positif dan normatif dalam pelaporan keberlanjutan

Teori akuntansi positif dapat menjelaskan pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau sebagai respons strategis terhadap tekanan eksternal, seperti tuntutan investor berbasis ESG dan risiko reputasi akibat kritik publik. Dalam pandangan ini, pengungkapan keberlanjutan dilakukan untuk mengurangi biaya politik, mempertahankan kepercayaan pasar, dan memastikan keberlanjutan akses pendanaan. Sebaliknya, teori akuntansi normatif menekankan bahwa perusahaan memiliki kewajiban etis untuk mengungkapkan dampak sosial dan lingkungan dari aktivitasnya. Pelaporan keberlanjutan berdasarkan GRI dan SDGs dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral perusahaan dalam menyediakan informasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat luas, bukan semata-mata karena tekanan ekonomi.

3. Integrasi pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangan meskipun PSAK belum mengatur ESG secara penuh

Walaupun PSAK belum secara komprehensif mengatur pelaporan ESG, PT Sumber Hijau tetap dapat mengintegrasikan informasi keberlanjutan melalui penggunaan laporan keberlanjutan yang terpisah namun terhubung dengan laporan keuangan. Standar GRI dapat dijadikan pedoman utama untuk pengungkapan aspek lingkungan dan sosial, sementara keterkaitannya dengan SDG 8, 13, dan 15 dapat dijelaskan secara sistematis. Selain itu, kerangka Integrated Reportingdapat digunakan untuk menghubungkan informasi keuangan dan nonkeuangan, serta standar ISSB (IFRS S1 dan S2) sebagai acuan internasional pelaporan keberlanjutan. Dalam laporan keuangan berbasis PSAK, isu ESG dapat diungkapkan melalui catatan atas laporan keuangan, seperti pengakuan biaya lingkungan, provisi, risiko iklim, dan komitmen sosial perusahaan.

4. Penyusunan narasi laporan keberlanjutan untuk memenuhi ekspektasi stakeholder lokal dan global

Dalam menyusun laporan keberlanjutan, perusahaan perlu mengembangkan narasi yang terbuka, seimbang, dan didukung oleh data yang dapat diverifikasi. Laporan tersebut sebaiknya tidak hanya menonjolkan manfaat ekonomi dari ekspansi, tetapi juga secara jujur mengungkapkan risiko dan dampak lingkungan serta sosial, termasuk pengaruhnya terhadap masyarakat adat. Untuk memenuhi harapan investor global, narasi laporan perlu diselaraskan dengan standar GRI, SDGs, dan prinsip ESG agar mudah dibandingkan secara internasional. Sementara itu, bagi pemangku kepentingan lokal, laporan harus menekankan komitmen perusahaan terhadap dialog, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan lingkungan secara berkelanjutan, sehingga laporan menjadi sarana membangun kepercayaan dan legitimasi jangka panjang.



TA2025 -> e-journal

oleh Salsabila Labibah -
Nama : Salsabila Labibah
NPM : 2413031002

Artikel diatas menegaskan keterkaitan yang erat antara aktivitas bisnis dan isu keberlanjutan lingkungan. Artikel ini menguraikan bahwa kegiatan ekonomi, terutama pada sektor industri dan pengelolaan sumber daya alam, memberikan tekanan yang cukup besar terhadap lingkungan, sehingga perusahaan perlu memasukkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam kebijakan serta strategi operasionalnya. Selain itu, ditekankan bahwa praktik transparansi dan pelaporan keberlanjutan yang andal berperan penting dalam meningkatkan akuntabilitas perusahaan sekaligus membangun kepercayaan para pemangku kepentingan. Secara keseluruhan, artikel tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi sekadar tuntutan etis atau regulasi, melainkan telah menjadi elemen strategis yang berpengaruh terhadap kinerja jangka panjang dan legitimasi perusahaan.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Salsabila Labibah -
Nama : Salsabila Labibah
NPM : 2413031002

Video berjudul “Reporting on SDGs” membahas pentingnya Sustainable Development Goals (SDGs), Setelah menyimak video tersebut, saya memahami bahwa pelaporan Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan bagian penting dari praktik pelaporan perusahaan modern yang tidak hanya berfokus pada kinerja keuangan, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan. Video ini menekankan bahwa pelaporan SDGs membantu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan stakeholders terhadap komitmen keberlanjutan perusahaan. Menurut saya, pelaporan SDGs menjadi relevan dan mendesak karena mendorong perusahaan untuk bertanggung jawab secara lebih luas, meskipun masih diperlukan standar dan pengawasan yang jelas agar pelaporan tersebut tidak bersifat simbolis atau sekadar pencitraan.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


Jurnal 1

Jurnal ini memandang akuntansi sebagai praktik yang sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia, baik dari sisi psikologis maupun sosial. Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan prosedur teknis pencatatan dan pelaporan, tetapi juga berkaitan erat dengan sikap, persepsi, motivasi, nilai, serta karakter individu yang terlibat di dalamnya. Informasi akuntansi dibentuk dan dimaknai melalui proses kognitif dan interaksi sosial, sehingga hasil akhirnya mencerminkan respons manusia terhadap sistem akuntansi yang digunakan, bukan sekadar representasi objektif kondisi ekonomi.

Penulis menekankan bahwa pemahaman terhadap aspek perilaku menjadi krusial karena kelemahan dalam aspek ini dapat memicu perilaku tidak etis, seperti manipulasi laporan keuangan dan kecurangan. Akuntansi keperilakuan berperan sebagai sarana untuk menjembatani kepentingan teknis akuntansi dengan realitas perilaku manusia dalam organisasi. Dengan memahami bagaimana sikap dan nilai memengaruhi keputusan akuntansi, organisasi dapat membangun sistem yang mendorong perilaku etis, meningkatkan keandalan informasi keuangan, serta menjaga kepercayaan publik terhadap profesi akuntan.

Dalam kaitannya dengan penetapan standar, jurnal ini menunjukkan bahwa standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat standar tersebut diterapkan. Proses penyusunan standar merupakan hasil interaksi berbagai kepentingan, baik dari profesi, industri, maupun regulator, sehingga standar yang dihasilkan mencerminkan kompromi antara tuntutan teknis dan tekanan sosial-politik. Oleh karena itu, pemahaman perilaku aktor yang terlibat menjadi penting agar standar akuntansi tetap berorientasi pada kepentingan publik.


Jurnal 2

Jurnal ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan keuangan dan penggunaan sistem akuntansi tidak sepenuhnya bersifat rasional, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor perilaku seperti bias kognitif, emosi, kepercayaan, dan budaya organisasi. Penulis menolak asumsi klasik bahwa pengguna informasi akuntansi selalu bertindak objektif dan rasional, karena dalam praktiknya keputusan sering dipengaruhi oleh persepsi subjektif, kebiasaan, serta kepentingan tertentu. Akibatnya, informasi akuntansi dapat disalahartikan atau dimanfaatkan secara selektif sesuai dengan tujuan pengambil keputusan.

Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi semakin meningkat seiring dengan kompleksitas sistem akuntansi modern. Sistem yang semakin canggih justru berpotensi menimbulkan masalah apabila tidak disesuaikan dengan keterbatasan kognitif pengguna. Oleh karena itu, jurnal ini menekankan pentingnya merancang sistem dan praktik akuntansi yang mempertimbangkan cara manusia memproses informasi, sehingga sistem tersebut benar-benar mendukung pengambilan keputusan yang berkualitas dan tidak memperbesar risiko kesalahan penilaian.

Terkait dengan standard-setting, jurnal ini menyoroti bahwa penyusunan standar akuntansi berlangsung dalam lingkungan institusional yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Tekanan dari investor, pasar global, dan korporasi besar sering kali memengaruhi arah standar agar lebih fleksibel dan menguntungkan secara ekonomi. Di sisi lain, regulator berupaya menjaga stabilitas dan akuntabilitas. Interaksi kepentingan tersebut menjadikan standar akuntansi sebagai produk proses ekonomi politik, di mana perilaku dan kepentingan aktor memiliki peran penting dalam menentukan hasil akhir standar yang diterapkan.