Posts made by Salsabila Labibah

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


Video

Video tersebut membahas topik earnings management menjelaskan bahwa manajemen laba merupakan praktik yang dilakukan perusahaan dengan memanfaatkan kebijakan dan teknik akuntansi tertentu untuk memengaruhi angka laba yang disajikan dalam laporan keuangan. Tujuan utama dari praktik ini adalah untuk menampilkan kinerja perusahaan agar terlihat lebih baik di mata investor, kreditor, maupun pihak eksternal lainnya. Video tersebut menekankan bahwa manajemen laba sering muncul sebagai respons atas tekanan pasar, tuntutan pencapaian target, serta keinginan manajemen untuk menjaga stabilitas dan reputasi perusahaan. Meskipun demikian, ditegaskan pula bahwa terdapat batas tipis antara manajemen laba yang masih berada dalam koridor standar akuntansi dan praktik manipulatif yang dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan.

Lebih lanjut, video menjelaskan beberapa bentuk umum earnings management, seperti income smoothing dan window dressing. Income smoothing dilakukan untuk mengurangi fluktuasi laba antarperiode sehingga kinerja perusahaan tampak stabil dan konsisten dari waktu ke waktu. Sementara itu, window dressing bertujuan memperindah tampilan laporan keuangan pada periode tertentu, terutama menjelang pelaporan tahunan atau saat perusahaan membutuhkan kepercayaan investor dan kreditor. Praktik-praktik tersebut sering kali didorong oleh kepentingan manajerial, seperti pencapaian bonus, pemenuhan perjanjian utang, atau penyesuaian terhadap ekspektasi analis pasar.

Video tersebut juga menegaskan bahwa earnings management tidak selalu bersifat ilegal. Selama dilakukan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, praktik ini masih dapat diterima secara formal. Namun, risiko utama muncul ketika manajemen laba dilakukan secara berlebihan atau dengan niat menyesatkan, karena hal tersebut dapat menurunkan kualitas, relevansi, dan keandalan informasi akuntansi yang disajikan kepada publik. Dalam jangka panjang, praktik tersebut berpotensi merusak kepercayaan investor dan kredibilitas perusahaan.

Opini saya, video ini memberikan pemahaman yang cukup komprehensif mengenai realitas praktik manajemen laba dalam dunia bisnis. Penjelasan yang disampaikan menunjukkan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan pencatatan angka, tetapi juga sarat dengan kepentingan, tekanan, dan pertimbangan strategis manajemen. Di satu sisi, earnings management dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas kinerja di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, di sisi lain, tanpa landasan etika dan transparansi yang kuat, praktik ini berisiko mengaburkan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, peran akuntan profesional, auditor, dan regulator menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa praktik manajemen laba tidak melanggar prinsip kejujuran, akuntabilitas, dan kepentingan publik.

Jurnal

Artikel "Earnings Management: A Literature Review" karya Debbianita, Tan Ming Kuang, dan Marcella Hoetama, diterbitkan dalam Indonesian Journal of Accounting and Governance Vol. 8 No. 1 Juni 2024, memberikan ulasan literatur mendalam atas 50 artikel internasional dari Google Scholar tentang pengelolaan laba (earnings management/EM). Penelitian ini membahas EM melalui dua sudut pandang pokok, yakni oportunistik dan signaling, disertai pengelompokan berdasarkan tipe studi, metode pengukuran, serta pengaruhnya bagi para pengguna laporan keuangan. Pengelolaan laba diartikan sebagai campur tangan sengaja pada pelaporan keuangan guna meraih target laba melalui penyesuaian kebijakan akuntansi, yang meski tidak melanggar ketentuan, bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi pemangku kepentingan. Sudut pandang oportunistik (Watts & Zimmerman, 1986) menggambarkan manajer yang memanfaatkan ketidakseimbangan informasi demi keuntungan pribadi, seperti insentif bonus, syarat perjanjian utang, atau tekanan regulasi, sehingga berisiko memutarbalikkan keputusan investasi. Di sisi lain, perspektif signaling (Holthausen & Leftwich, 1983) memposisikan EM sebagai alat penyampaian data internal kepada investor, menghasilkan pola laba yang stabil dan naik secara bertahap, yang pada gilirannya menekan biaya modal serta memperkuat kegunaan informasi. Mengadopsi kerangka Ruch dan Taylor (2015), studi ini menyortir 50 artikel dari jurnal ternama seperti The Accounting Review dan Journal of Accounting Research, di mana 74% (37 artikel) bersifat kuantitatif serta 26% kualitatif; dari studi kuantitatif, 65% menerapkan metode akrual (akrual diskresioner jangka pendek/panjang) ketimbang manipulasi aktivitas riil seperti arus kas operasional abnormal, biaya produksi abnormal, atau pengeluaran diskresioner abnormal. Sebagian besar (75%) condong ke perspektif oportunistik yang memandang EM sebagai tindakan manipulatif merugikan kreditor dan regulator, sementara 25% memilih signaling demi kepentingan investor. Hasil analisis mengungkap kecenderungan kuat pada metode akrual dan oportunistik, walaupun manipulasi riil lebih tersembunyi dan lebih digemari eksekutif berdasarkan survei Graham et al. (2005). Kendala utama adalah keterbatasan pada dua perspektif saja; rekomendasi ke depan ialah menggali motif dasar EM untuk membedakan praktik yang bermanfaat atau merugikan. 

Opini: Ulasan ini sangat berguna bagi para akuntan di Indonesia, khususnya dalam kerangka PSAK No. 1, sebab menekankan harmoni antara keluwesan akuntansi dan keterbukaan informasi guna hindari penyimpangan, sesuai dengan fokus saya pada standar pelaporan keuangan. Meski demikian, absennya pembahasan konteks lokal membatasi relevansinya; studi selanjutnya berbasis data perusahaan BEI bakal lebih aplikatif untuk bahan ajar dan analisis kasus bisnis.




TA2025 -> CASE STUDY 2

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Perbandingan pendekatan konvensional dan berbasis AI dalam pengukuran fair value

Pada metode konvensional, pengukuran nilai wajar bertumpu pada pertimbangan profesional akuntan atau penilai independen dengan merujuk pada hierarki nilai wajar IFRS 13, yakni harga pasar yang dapat diobservasi, teknik penilaian yang lazim, serta asumsi yang mencerminkan sudut pandang pelaku pasar. Pendekatan ini selaras dengan teori akuntansi normatif yang menempatkan manusia sebagai penafsir utama realitas ekonomi dan penanggung jawab atas hasil pengukuran. Sebaliknya, pendekatan berbasis AI memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin dan big data untuk mengolah informasi pasar secara berkelanjutan dan menghasilkan estimasi nilai wajar secara otomatis. Dari sudut pandang teori akuntansi positif, AI dapat meningkatkan efisiensi dan konsistensi pengukuran, namun sekaligus mengurangi peran eksplisit judgement manusia. Perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada sumber dan cara penilaian: pendekatan tradisional bersifat argumentatif dan dapat dijelaskan, sementara pendekatan AI cenderung bersifat teknis dan kurang transparan bagi pengguna laporan keuangan.

2. Implikasi epistemologis penggunaan AI dalam penentuan fair value

Penerapan AI dalam penentuan nilai wajar membawa konsekuensi epistemologis yang berkaitan dengan sumber dan keabsahan pengetahuan akuntansi. Dalam praktik akuntansi tradisional, suatu pengukuran dianggap sahih apabila dapat dijustifikasi melalui bukti pasar, asumsi yang rasional, dan pertimbangan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan AI menggeser dasar pengetahuan tersebut dari penalaran manusia ke inferensi statistik yang bersumber dari pola data historis dan hubungan algoritmik. Permasalahan muncul ketika sistem AI beroperasi sebagai “kotak hitam”, sehingga proses penalaran di balik hasil penilaian sulit dijelaskan. Kondisi ini berpotensi melemahkan transparansi dan menimbulkan keraguan atas validitas pengetahuan akuntansi yang dihasilkan, terutama dalam konteks audit dan pertanggungjawaban kepada publik.

3. Strategi akuntabilitas dan pengungkapan agar selaras dengan IFRS 13

Agar penilaian nilai wajar berbasis AI tetap sejalan dengan IFRS 13, PT Cerdas Digital perlu menempatkan teknologi tersebut sebagai pendukung keputusan, bukan pengganti pertimbangan profesional. Perusahaan harus memastikan bahwa hasil penilaian AI dapat diklasifikasikan secara jelas ke dalam hierarki nilai wajar (Level 1, 2, atau 3) dan didukung oleh data pasar yang relevan serta dapat diobservasi. Selain itu, pengungkapan yang memadai mengenai metode AI, asumsi utama, sumber data, dan sensitivitas hasil terhadap perubahan parameter menjadi sangat penting. Manajemen dan akuntan tetap memegang peran kunci dalam melakukan evaluasi kewajaran, validasi model, dan penyesuaian apabila diperlukan. Dari sisi audit, penerapan prosedur validasi model, penelaahan independen, dan dokumentasi yang komprehensif diperlukan untuk memastikan bahwa pengukuran berbasis AI memenuhi prinsip representasi wajar, keterverifikasian, dan transparansi sebagaimana diatur dalam IFRS 13.







TA2025 -> CASE STUDY 1

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Pengaruh blockchain terhadap reliabilitas dan transparansi dalam teori akuntansi keberlanjutan

Pemanfaatan teknologi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan dapat memperkuat konsep keandalan dan keterbukaan informasi yang menjadi dasar teori akuntansi. Dalam kerangka teori akuntansi normatif, blockchain mendukung karakteristik kualitas informasi seperti keterverifikasian dan penyajian yang jujur, karena data yang tersimpan bersifat permanen, terdesentralisasi, dan sulit diubah. Informasi terkait emisi karbon dan asal bahan baku dapat ditelusuri secara menyeluruh oleh berbagai pihak, sehingga meningkatkan tingkat kepercayaan terhadap laporan keberlanjutan. Dari sudut pandang teori akuntansi positif, penerapan blockchain berpotensi mengurangi asimetri informasi serta membatasi perilaku oportunistik manajemen, sehingga meningkatkan kredibilitas laporan di mata investor dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Tantangan regulasi dan implementasi di tingkat nasional dan global

Walaupun menawarkan manfaat yang signifikan, implementasi blockchain dalam pelaporan keberlanjutan tidak terlepas dari kendala regulasi, khususnya di Indonesia. Standar akuntansi dan kebijakan pelaporan keberlanjutan nasional masih belum secara eksplisit mengatur penggunaan blockchain sebagai sarana pencatatan dan verifikasi data keberlanjutan, sehingga berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam penerapan dan proses audit. Di tingkat internasional, perbedaan kerangka pelaporan keberlanjutan seperti GRI, ISSB, dan berbagai regulasi ESG lintas negara menuntut sistem blockchain yang mampu beradaptasi dan saling terhubung. Selain itu, persoalan perlindungan data, risiko keamanan siber, keterbatasan infrastruktur, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi tantangan tambahan yang perlu dikelola secara serius.

3. Rekomendasi strategis berbasis teori akuntansi dan teknologi

Agar penerapan blockchain dalam pelaporan keberlanjutan berjalan efektif, PT Hijau Lestari perlu mengembangkan strategi yang selaras dengan prinsip akuntansi dan perkembangan teknologi. Blockchain sebaiknya diposisikan sebagai sarana untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, bukan sebagai pengganti pertimbangan profesional akuntan. Selain itu, sistem blockchain perlu diintegrasikan dengan standar pelaporan keberlanjutan yang berlaku secara internasional, seperti GRI dan ISSB, agar informasi yang disajikan tetap relevan dan dapat dibandingkan secara global. Perusahaan juga perlu memperkuat tata kelola data, sistem pengendalian internal berbasis digital, serta melibatkan auditor independen guna menjamin keandalan informasi. Dengan langkah-langkah tersebut, blockchain dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan dan memperkuat kepercayaan stakeholder.



TA2025 -> CASE STUDY

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


Analisis Kritis

1. Tantangan teori akuntansi konvensional dalam sistem otomatisasi dan blockchain

Penggunaan AI dan blockchain dalam sistem akuntansi menimbulkan tantangan bagi teori akuntansi konvensional yang selama ini menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan akuntansi. Pendekatan tradisional sangat bergantung pada pertimbangan profesional dalam proses pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi, sementara sistem otomatis bekerja berdasarkan algoritma dan aturan yang telah diprogram. Kondisi ini menimbulkan persoalan terkait penerapan prinsip kehati-hatian dan representasi wajar, terutama ketika proses pengambilan keputusan bersifat tertutup dan sulit ditelusuri. Selain itu, karakteristik blockchain yang permanen menyulitkan perbaikan kesalahan estimasi, meskipun dalam praktik akuntansi perubahan estimasi merupakan hal yang wajar seiring berkembangnya informasi baru.

2. Peluang dan risiko manipulasi dalam era digitalisasi akuntansi

Digitalisasi memberikan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan ketepatan pencatatan transaksi serta memperkuat sistem pengendalian melalui jejak audit digital. Namun, kemajuan ini juga menciptakan risiko baru berupa manipulasi informasi yang dilakukan melalui pengaturan algoritma, asumsi model, atau kualitas data yang digunakan. Manipulasi semacam ini dapat berlangsung secara konsisten dan berulang tanpa mudah terdeteksi, karena terjadi dalam sistem otomatis. Akibatnya, kesalahan atau penyimpangan dalam laporan keuangan dapat bersifat sistemik dan sulit diidentifikasi melalui prosedur audit konvensional.


Etika dan Transparansi

1. Risiko etika akibat penggunaan AI dalam penilaian dan estimasi akuntansi

Penggantian pertimbangan profesional dengan algoritma AI menimbulkan risiko etika yang berkaitan dengan hilangnya tanggung jawab individual. Algoritma tidak memiliki kesadaran etis, sehingga keputusan yang dihasilkan sepenuhnya mencerminkan tujuan dan asumsi yang dirancang oleh manusia. Jika sistem diarahkan untuk mempertahankan kinerja laba atau citra perusahaan, maka prinsip integritas dan objektivitas berpotensi terabaikan. Kurangnya keterbukaan dalam cara kerja algoritma juga menyulitkan akuntan dan auditor dalam menilai kewajaran hasil yang dihasilkan, sehingga meningkatkan risiko pelanggaran etika profesi.

2. Sikap profesional akuntan terhadap tekanan penyesuaian laporan

Dalam menghadapi tekanan untuk menyesuaikan hasil laporan keuangan agar tetap menarik bagi investor, akuntan profesional harus tetap menjunjung tinggi prinsip etika dan kepentingan publik. Praktik seperti penundaan pengakuan beban atau pengaturan estimasi melalui sistem otomatis bertentangan dengan prinsip integritas dan penyajian yang wajar. Oleh karena itu, akuntan perlu bersikap kritis terhadap output teknologi, melakukan penilaian independen atas asumsi yang digunakan, serta menolak intervensi yang berpotensi menyesatkan pengguna laporan keuangan.


Respon Strategis

1. Penyesuaian praktik audit dan pengawasan di lingkungan teknologi tinggi

Menghadapi sistem akuntansi berbasis teknologi canggih, perusahaan dan auditor perlu mengembangkan pendekatan audit yang berorientasi pada risiko dan teknologi. Auditor tidak cukup hanya memeriksa hasil laporan, tetapi juga harus memahami dan mengevaluasi desain algoritma, kualitas data, serta efektivitas pengendalian internal digital. Penerapan audit berkelanjutan dan analisis data secara real-time menjadi semakin penting untuk mendeteksi pola penyimpangan yang bersifat sistematis.

2. Kesiapan standar pelaporan keuangan dalam konteks digital dan global

Standar pelaporan keuangan yang ada saat ini belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas transaksi digital dan dinamika globalisasi. Meskipun telah mengalami perkembangan, PSAK dan IFRS masih lebih menekankan pada hasil akhir pelaporan dibandingkan pada proses berbasis teknologi yang mendasarinya. Aspek seperti transparansi algoritma, akuntabilitas penggunaan AI, dan pengungkapan risiko teknologi masih memerlukan pengaturan yang lebih jelas. Oleh karena itu, diperlukan standar yang lebih adaptif dan berbasis prinsip untuk memastikan kualitas dan keandalan pelaporan keuangan di era digital.






TA2025 -> CASE STUDY

by Salsabila Labibah -

Nama : Salsabila Labibah

NPM : 2413031002


1. Analisis Praktik Manajemen Laba pada PT Karya Sentosa

Kasus PT Karya Sentosa memperlihatkan indikasi yang cukup kuat adanya praktik manajemen laba berbasis akrual. Peningkatan laba bersih yang sangat signifikan, yakni sebesar 45%, tidak diiringi dengan pertumbuhan arus kas operasi yang sebanding, sehingga menimbulkan perbedaan mencolok antara laba akuntansi dan kas yang dihasilkan perusahaan. Lonjakan piutang usaha yang besar dapat mengindikasikan percepatan pengakuan pendapatan, termasuk dari penjualan kredit yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Di samping itu, menurunnya cadangan kerugian piutang pada saat saldo piutang meningkat menunjukkan penggunaan estimasi akuntansi yang cenderung optimistis. Pola ini sejalan dengan karakteristik manipulasi akrual, di mana manajemen memanfaatkan fleksibilitas standar akuntansi dalam penentuan estimasi dan pengakuan pendapatan untuk meningkatkan laba yang dilaporkan tanpa didukung oleh kinerja kas yang memadai.

2. Perbandingan Dua Studi Ilmiah Terkini tentang Earnings Management

  • Jurnal 1: “Accrual vs. Real Earnings Management in Internationally Diversified Firms” (2025), Jurnal ini membahas bagaimana perusahaan, khususnya yang beroperasi secara internasional, memilih antara manajemen laba berbasis akrual dan manajemen laba berbasis aktivitas riil. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika pengawasan dan transparansi meningkat, perusahaan cenderung mengurangi manipulasi akrual dan beralih ke manipulasi aktivitas riil yang lebih sulit terdeteksi. Dengan menggunakan data panel dan analisis regresi, studi ini menyimpulkan bahwa mekanisme pengawasan yang kuat tidak selalu menghilangkan praktik manajemen laba, melainkan mendorong perubahan strategi manajerial dalam mengelola laba yang dilaporkan.
  • Jurnal 2: “Sustainability Performance and Earnings Management” (2024), Jurnal ini mengkaji hubungan antara praktik earnings management dan kinerja keberlanjutan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik manajemen laba berbasis akrual maupun aktivitas riil memiliki keterkaitan dengan bagaimana perusahaan melaporkan dan dinilai dalam aspek ESG. Dengan pendekatan regresi multivariat, studi ini menemukan bahwa earnings management tidak hanya memengaruhi kualitas laba, tetapi juga dapat berdampak pada persepsi dan kredibilitas pelaporan keberlanjutan perusahaan. Temuan ini menegaskan bahwa praktik manajemen laba memiliki implikasi yang lebih luas, tidak terbatas pada kinerja keuangan semata.


3. Penilaian Kritis terhadap Praktik Earnings Management

Praktik earnings management tidak selalu dapat dikategorikan sebagai tindakan negatif, karena dampaknya sangat bergantung pada tujuan dan konteks penerapannya. Dalam perspektif teori akuntansi positif, manajemen laba dapat dipahami sebagai respons rasional manajer terhadap kontrak, regulasi, dan tekanan pasar. Pada tingkat tertentu, praktik ini dapat berfungsi sebagai income smoothing untuk mengurangi volatilitas laba sehingga mencerminkan kinerja perusahaan yang lebih stabil dalam jangka panjang. Beberapa penelitian empiris bahkan menunjukkan bahwa perataan laba yang moderat dapat meningkatkan kegunaan informasi akuntansi bagi investor.

Namun demikian, earnings management menjadi bermasalah ketika dilakukan secara oportunistik dan bertujuan menyesatkan pengguna laporan keuangan. Tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip representasi yang andal dan dapat mengarahkan pengambilan keputusan ekonomi yang keliru. Dari sudut pandang etika dan teori stewardship, praktik manajemen laba yang agresif merusak kepercayaan publik dan meningkatkan risiko jangka panjang perusahaan. Bukti empiris juga menunjukkan bahwa manipulasi laba yang berlebihan sering dikaitkan dengan penurunan kinerja di masa depan, meningkatnya risiko litigasi, serta kerusakan reputasi perusahaan.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi bagi Stakeholder

Berdasarkan analisis terhadap PT Karya Sentosa, terdapat indikasi yang cukup jelas mengenai praktik manajemen laba berbasis akrual, yang tercermin dari ketidaksesuaian antara laba, piutang, dan arus kas operasi. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas laba dan meningkatkan risiko informasi bagi para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, temuan ini perlu disikapi secara kritis dan proporsional.

Rekomendasi yang dapat diberikan meliputi perlunya peningkatan transparansi dalam pengungkapan kebijakan akuntansi dan estimasi signifikan oleh manajemen, penguatan peran dewan komisaris dan komite audit dalam mengawasi pelaporan keuangan, serta peningkatan skeptisisme profesional auditor terhadap akun-akun yang berbasis estimasi. Selain itu, investor disarankan untuk tidak hanya berfokus pada angka laba, tetapi juga memperhatikan kualitas laba dan arus kas perusahaan agar penilaian terhadap kinerja perusahaan menjadi lebih akurat dan berkelanjutan.