Kiriman dibuat oleh Rahman Hidayat

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Jurnal

oleh Rahman Hidayat -
Rahman Hidayat 
PSTI C

Jurnal ini, ditulis oleh Ariesta Wibisono Anditya dan diterbitkan dalam Nurani Hukum pada Juni 2020, membahas peran media massa dalam pencegahan kejahatan di Indonesia melalui penanaman nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif untuk menganalisis norma hukum yang terkait dengan media massa dan kontrol sosialnya.
Penulis menekankan bahwa meskipun kebijakan penal masih diperlukan, pencegahan kejahatan melalui media massa lebih disarankan. Hal ini karena kebijakan penal memiliki keterbatasan dan tidak selalu efektif sebagai satu-satunya cara untuk menekan kejahatan. Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, harus diinternalisasi dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pemberitaan media.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif yang mengkaji norma hukum dan peraturan terkait media massa. Pendekatan yang diambil meliputi pendekatan undang-undang, sosial, dan asas. Penulis menyajikan analisis deskriptif-eksplanatoris untuk menjelaskan temuan dan relevansinya dengan praktik media massa saat ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik media massa. Banyak berita yang beredar tidak dapat dipercaya dan berpotensi merusak tatanan sosial. Media massa cenderung hanya menyajikan informasi untuk memenuhi kebutuhan publik tanpa menanamkan nilai-nilai moral yang sejalan dengan Pancasila.
Penulis menyimpulkan bahwa untuk mencapai keharmonisan sosial dan mengurangi kejahatan, media massa harus berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang efektif. Ini membutuhkan kesadaran dari setiap individu untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, media tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga agen perubahan sosial yang positif.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana media massa dapat berperan lebih aktif dalam membentuk perilaku sosial dan mendorong penerapan nilai-nilai Pancasila di Indonesia

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Soal

oleh Rahman Hidayat -
Rahman Hidayat
PSTI C

A. Sistem Etika Perilaku Politik Saat IniSistem etika perilaku politik di Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar. Meskipun terdapat upaya untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme masih marak. Banyak birokrat yang tidak menjalankan tugasnya sebagai pelayan publik yang baik, sehingga mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah 12
B. Etika Generasi MudaEtika generasi muda di sekitar saya cenderung mencerminkan nilai-nilai positif, namun ada indikasi dekadensi moral. Banyak yang terpengaruh oleh materialisme dan ketidakpuasan terhadap sistem. Solusi untuk mengatasi masalah ini termasuk pendidikan karakter yang lebih kuat dan peningkatan kesadaran akan nilai-nilai Pancasila

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Jurnal

oleh Rahman Hidayat -
Tujuan dan Pendekatan
Jurnal ini bertujuan untuk memahami hubungan antara hukum dan etika, serta bagaimana keduanya berperan dalam politik hukum di Indonesia. Penulis menggarisbawahi bahwa pencapaian tujuan negara, yang tertuang dalam UUD 1945, harus dirumuskan dan disepakati oleh seluruh elemen bangsa melalui proses politik hukum. Ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dan konsensus dalam pembentukan hukum yang mencerminkan nilai-nilai etika masyarakat.

Dimensi Hubungan Hukum dan Etika
Penulis menjelaskan bahwa hubungan antara hukum dan etika dapat dilihat dari tiga dimensi: substansi dan wadah, luasnya hubungan, serta alasan manusia untuk mematuhi atau melanggar hukum. Hal ini menunjukkan kompleksitas interaksi antara norma hukum yang bersifat formal dan norma etika yang lebih bersifat moral.

Dinamika Politik Hukum
Jurnal ini juga membahas dinamika politik hukum di Indonesia, yang dipengaruhi oleh kepentingan politik berbagai pihak. Proses legislasi sering kali melibatkan pertarungan kepentingan antara partai politik, yang dapat menghasilkan kompromi atau dominasi politik. Ini menegaskan bahwa pembuatan hukum tidak hanya merupakan proses teknis, tetapi juga merupakan arena konflik kepentingan.

Perkembangan Etika
Penulis menjelaskan perkembangan etika dari doktrin agama hingga menjadi sistem nilai yang lebih konkret, dengan tahapan-tahapan yang mencakup etika teologis, ontologis, dan fungsional. Ini menunjukkan bahwa etika tidak statis; ia berkembang seiring dengan perubahan sosial dan kebutuhan masyarakat.

Kesimpulan
Secara keseluruhan, jurnal ini menekankan pentingnya pemahaman tentang hubungan antara hukum dan etika dalam konteks politik hukum di Indonesia. Pancasila sebagai sumber nilai harus dijadikan acuan dalam pembentukan hukum agar sesuai dengan moralitas masyarakat. Jurnal ini memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana etika dapat memandu pembuatan hukum dan pengambilan keputusan dalam konteks pemerintahan yang demokratis.
Rahman Hidayat
2415061073

Tanggapan pribadi terhadap bacaan mengenai Pancasila sebagai sistem filsafat dan tantangannya menunjukkan betapa pentingnya pemahaman mendalam tentang Pancasila dalam konteks kehidupan mahasiswa saat ini. Bacaan ini menggarisbawahi bahwa Pancasila bukan hanya sekadar teks yang harus dihafal, tetapi juga merupakan nilai-nilai filosofis yang harus dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya setuju bahwa mahasiswa, sebagai generasi muda, memiliki tanggung jawab untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Dalam dunia yang semakin kompleks ini, tantangan seperti kapitalisme yang berlebihan dan ancaman komunisme memerlukan mahasiswa untuk berpikir kritis dan bertindak etis. Pancasila menyediakan landasan moral yang dapat membimbing mereka dalam menghadapi berbagai isu sosial dan politik.

Lebih jauh lagi, dinamika Pancasila dari masa ke masa menunjukkan bahwa pemahaman terhadapnya harus terus diperbarui agar relevan dengan kondisi saat ini. Saya percaya bahwa pendidikan tinggi harus berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila agar mahasiswa tidak hanya menjadi individu yang berpengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

Pesan terakhir dari bacaan ini, bahwa "belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna; tetapi berpikir tanpa belajar itu sangat berbahaya," sangat relevan. Ini mengingatkan kita akan pentingnya integrasi antara pengetahuan dan pemikiran kritis dalam membentuk karakter mahasiswa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang Pancasila sangat penting untuk menjaga integritas bangsa Indonesia di tengah tantangan zaman modern.

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Soal

oleh Rahman Hidayat -
A.
Proses pendidikan selama pandemi covid-19 telah mengalami perubahan besar, beralih dari metode pembelajaran langsung ke pembelajaran daring. Meskipun langkah ini diperlukan untuk menghentikan penyebaran virus, tantangan yang dihadapi cukup rumit. Banyak orangtua, termasuk saya, mengalami kesulitan dalam mendampingi anak-anak belajar di rumah. Ketersediaan perangkat teknologi seperti laptop dan koneksi internet menjadi kendala utama, terutama bagi keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi rendah. Hal ini berpotensi memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi yang telah ada. Selain itu, kualitas pendidikan juga berisiko menurun karena tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap materi pembelajaran. Oleh karena itu, meskipun ada usaha untuk melanjutkan pendidikan, keberhasilannya sangat tergantung pada dukungan yang memadai dari pemerintah dan masyarakat.

B.
Untuk meningkatkan efektivitas dan memaksimalkan proses pendidikan selama pandemi, beberapa langkah yang dapat diambil adalah:

Penyediaan Akses Teknologi: Pemerintah perlu memastikan bahwa semua siswa dapat mengakses perangkat teknologi yang dibutuhkan untuk pembelajaran daring, termasuk memberikan subsidi untuk pembelian laptop dan akses internet.
Pelatihan untuk Guru: Meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran daring melalui pelatihan dan workshop agar mereka dapat menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan efektif.
Kurikulum yang Fleksibel: Menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan dengan kondisi saat ini, dengan fokus pada pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong dan kepedulian sosial.
Keterlibatan Orangtua: Mendorong orangtua untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran anak-anak mereka, termasuk memberikan dukungan moral dan menciptakan suasana belajar yang kondusif di rumah.
Program Bantuan Sosial: Menyediakan bantuan langsung bagi keluarga yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi, sehingga mereka tidak harus memilih antara memenuhi kebutuhan dasar dan pendidikan anak.
Dengan langkah-langkah ini, pendidikan dapat terus berlangsung dengan baik dan tetap mencerminkan nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama.

C.
Contoh pengembangan karakter Pancasilais di lingkungan saya adalah kegiatan gotong royong untuk membersihkan lingkungan. Setiap akhir pekan, warga di kompleks perumahan kami berkumpul untuk membersihkan area publik seperti taman dan jalan setapak. Kegiatan ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

Menurut saya, kegiatan ini sangat positif karena mencerminkan nilai gotong royong yang ada dalam Pancasila. Selain itu, kegiatan ini juga mendidik anak-anak di lingkungan kami tentang pentingnya menjaga kebersihan dan saling membantu. Dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan ini, mereka belajar untuk bertanggung jawab dan peduli terhadap lingkungan, yang merupakan elemen penting dari karakter Pancasilais.

D.
Hakikat Pancasila merujuk pada inti dan makna yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebagai pedoman hidup masyarakat Indonesia. Dalam pengaktualisasiannya, Pancasila berfungsi sebagai paradigma berpikir yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan, baik dalam konteks sosial, politik, maupun budaya.

Sebagai paradigma berpikir, Pancasila mendorong masyarakat untuk berpikir kritis dan konstruktif, menghargai perbedaan, serta berkomitmen pada keadilan dan kesejahteraan bersama. Dalam bersikap, nilai-nilai Pancasila mengajarkan masyarakat untuk bersikap santun, toleran, dan peduli terhadap sesama, serta berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Dalam berperilaku, Pancasila menginspirasi tindakan nyata yang mencerminkan nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan. Dengan demikian, hakikat Pancasila tidak hanya menjadi semboyan, tetapi harus diinternalisasi dan diwujudkan dalam tindakan nyata.