Posts made by Rahman Hidayat

Nama : Rahman Hidayat 
Kelas : PSTI C
NPM : 2415061073

Hasil Analisis Jurnal

Jurnal ini mengangkat persoalan krusial dalam praktik demokrasi di Indonesia, dengan fokus pada pelaksanaan Pemilu Presiden 2019. Meskipun pemilu merupakan pilar utama dalam sistem demokrasi, pelaksanaannya belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai demokrasi yang substansial. Berbagai elemen penting seperti partai politik, media, masyarakat sipil, dan birokrasi dinilai belum menjalankan peran mereka secara maksimal.

Permasalahan seperti politisasi identitas, lemahnya fungsi partai, serta rendahnya netralitas birokrasi menjadi sorotan utama. Selain itu, pemilu juga terdistorsi oleh maraknya disinformasi dan ujaran kebencian di media sosial yang membentuk opini publik secara negatif.

Jurnal ini menegaskan bahwa ukuran kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh tingginya partisipasi pemilih atau meriahnya kampanye, melainkan oleh seberapa besar kepercayaan publik terhadap institusi-institusi demokratis. Tanpa kepercayaan tersebut, demokrasi menjadi rapuh dan rentan terhadap instabilitas. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa agar demokrasi tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat.


Nama : Rahman Hidayat 
Kelas : PSTI C
NPM : 2415061073

Hasil Analisis Jurnal

Jurnal ini membahas tentang pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila keempat, dalam pelaksanaan Pemilihan Umum Daerah (Pilkada) di Indonesia. Dalam kajiannya, penulis menekankan bahwa meskipun Pilkada merupakan bagian dari sistem demokrasi, pelaksanaannya masih belum sepenuhnya mencerminkan prinsip “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.” Nilai-nilai ideal Pancasila sebagai dasar demokrasi khas Indonesia kerap kali tidak tampak secara nyata dalam praktik politik lokal.


Salah satu kekuatan jurnal ini terletak pada relevansi topiknya yang menyoroti pentingnya harmonisasi antara ideologi negara dan pelaksanaan demokrasi. Selain itu, penulis juga menunjukkan kesadaran terhadap adanya kesenjangan antara nilai ideal dan kenyataan politik yang terjadi. Namun, jurnal ini memiliki beberapa kelemahan, seperti minimnya bukti konkret, tidak adanya penjabaran yang jelas mengenai konsep “hikmat kebijaksanaan”, serta ketiadaan analisis yang mendalam tentang penyebab kesenjangan tersebut. Kurangnya tawaran solusi praktis juga menjadi salah satu titik lemah, di samping terbatasnya keterkaitan dengan teori demokrasi yang lebih luas.


Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan refleksi penting mengenai perlunya penyelarasan antara nilai-nilai Pancasila dan pelaksanaan demokrasi di tingkat daerah. Ke depan, penelitian ini akan lebih kuat jika dilengkapi dengan analisis yang berbasis data, definisi konsep yang lebih operasional, serta saran konkret untuk memperbaiki sistem pemilu agar lebih selaras dengan nilai-nilai dasar bangsa.

MKU PKN PSTI C DAN D 2024 -> FORUM JAWABAN ANALISIS VIDEO

by Rahman Hidayat -
Nama : Rahman Hidayat 
Kelas : PSTI C
NPM : 2415061073

Evolusi Demokrasi di Indonesia: Dari Perjuangan Hingga Pembenahan

  1. Awal Kemerdekaan: Demokrasi yang Masih dalam Bayang-Bayang Perang
    Pada masa revolusi, semangat demokrasi sudah terasa, tetapi penerapannya terbatas. Situasi darurat dan perjuangan melawan penjajah membuat urusan politik praktis bukan prioritas utama. Demokrasi masih sebatas idealisme yang tertunda realisasinya.

  2. Demokrasi Parlementer: Ramai Tapi Rapuh
    Dekade 1950-an memperlihatkan geliat sistem parlementer—dengan banyak partai, pemilu terbuka, dan kebebasan pers. Sayangnya, dinamika politik terlalu terpecah oleh loyalitas kelompok, kondisi sosial belum mendukung, dan ketidaktertarikan elite terhadap sistem yang terlalu "cerewet" membuat demokrasi sulit bertahan.

  3. Demokrasi Terpimpin: Satu Komando, Banyak Ketegangan
    Masuk ke era Demokrasi Terpimpin, arah politik berubah drastis. Presiden menjadi pusat kekuasaan, partai dibatasi, dan militer serta PKI menjadi aktor besar. Konflik antar kekuatan ini menumpuk dan akhirnya memicu gejolak besar di pertengahan 1960-an.

  4. Orde Baru: Stabilitas Berbiaya Kebebasan
    Setelah kekacauan politik, Orde Baru menjanjikan ketertiban dan pembangunan. Namun, di balik pencapaian ekonomi, demokrasi mengalami pembatasan serius. Pemilu dilaksanakan, tapi tidak kompetitif. Kritik dibungkam, masyarakat dijauhkan dari politik, dan negara mendikte arah organisasi sipil.

  5. Reformasi: Demokrasi dalam Perjalanan Pembaruan
    Sejak 1998, Indonesia memasuki era keterbukaan. Pemilu lebih transparan, kekuasaan berganti secara damai, dan ruang publik terbuka lebar. Meski demikian, tantangan tetap besar: korupsi masih mengakar, politik transaksional merajalela, dan demokrasi sering dibajak kepentingan sempit.

Refleksi Akhir:
Demokrasi Indonesia bukanlah proses instan. Dari masa revolusi hingga reformasi, perjalanan ini menunjukkan bahwa demokrasi butuh lebih dari sekadar sistem—ia butuh kesadaran, partisipasi, dan integritas bersama. Tugas besar masih menanti, tetapi langkah-langkah awal sudah menandai arah perubahan.