Nama: Rahmi Taqiya Darmawanti
NPM:2413031006
1. PT Sumber Hijau menghadapi tantangan utama dalam menyeimbangkan ekspansi ke Kalimantan Timur dengan prinsip keberlanjutan karena konflik antara manfaat ekonomi seperti penyerapan tenaga kerja lokal dan risiko kerusakan hutan tropis yang dikritik LSM serta masyarakat adat, ditambah tekanan regulasi ISPO dan sertifikasi global yang menuntut nol deforestasi. Integrasi pelaporan SDGs seperti SDG 13 (iklim), SDG 15 (ekosistem darat), dan SDG 8 (pekerjaan layak) menjadi rumit akibat kurangnya data terverifikasi untuk emisi karbon dan dampak sosial, serta resistensi internal manajemen yang memprioritaskan pertumbuhan laba daripada transparansi jangka panjang.
2. Teori akuntansi positif membantu memahami pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau dengan menganalisis perilaku aktual manajemen yang cenderung memilih pengungkapan minimal untuk memaksimalkan valuasi saham di mata investor ESG, sementara teori normatif merekomendasikan standar ideal seperti pengakuan biaya lingkungan penuh untuk mencerminkan tanggung jawab sosial, sehingga keduanya menjelaskan dilema antara realitas profit-driven dan etika berkelanjutan.
3. Untuk mengintegrasikan SDGs ke laporan keuangan PSAK yang terbatas pada data finansial, PT Sumber Hijau bisa menerapkan standar GRI secara sukarela melalui bagian terpisah seperti Sustainability Report yang dirujuk dalam catatan laporan tahunan, dengan mengadopsi ISSB IFRS S1/S2 untuk pengukuran materialitas ESG seperti biaya reklamasi lahan sawit, serta menggunakan indeks SDG mapping untuk menghubungkan metrik seperti emisi GHG (SDG 13) dengan posisi keuangan.
4. Sebagai akuntan pelaporan keberlanjutan, saran untuk PT Sumber Hijau adalah menyusun narasi laporan dengan struktur berbasis stakeholder yang menonjolkan cerita sukses penyerapan 70% tenaga kerja lokal (respons terhadap SDG 8 dan komunitas adat), diimbangi komitmen nol deforestasi via HCV assessment untuk SDG 15, serta strategi mitigasi iklim seperti biomassa EFB pellet guna meyakinkan investor global sambil menjawab kritik LSM melalui data audited dan dialog multipartai.
NPM:2413031006
1. PT Sumber Hijau menghadapi tantangan utama dalam menyeimbangkan ekspansi ke Kalimantan Timur dengan prinsip keberlanjutan karena konflik antara manfaat ekonomi seperti penyerapan tenaga kerja lokal dan risiko kerusakan hutan tropis yang dikritik LSM serta masyarakat adat, ditambah tekanan regulasi ISPO dan sertifikasi global yang menuntut nol deforestasi. Integrasi pelaporan SDGs seperti SDG 13 (iklim), SDG 15 (ekosistem darat), dan SDG 8 (pekerjaan layak) menjadi rumit akibat kurangnya data terverifikasi untuk emisi karbon dan dampak sosial, serta resistensi internal manajemen yang memprioritaskan pertumbuhan laba daripada transparansi jangka panjang.
2. Teori akuntansi positif membantu memahami pelaporan keberlanjutan PT Sumber Hijau dengan menganalisis perilaku aktual manajemen yang cenderung memilih pengungkapan minimal untuk memaksimalkan valuasi saham di mata investor ESG, sementara teori normatif merekomendasikan standar ideal seperti pengakuan biaya lingkungan penuh untuk mencerminkan tanggung jawab sosial, sehingga keduanya menjelaskan dilema antara realitas profit-driven dan etika berkelanjutan.
3. Untuk mengintegrasikan SDGs ke laporan keuangan PSAK yang terbatas pada data finansial, PT Sumber Hijau bisa menerapkan standar GRI secara sukarela melalui bagian terpisah seperti Sustainability Report yang dirujuk dalam catatan laporan tahunan, dengan mengadopsi ISSB IFRS S1/S2 untuk pengukuran materialitas ESG seperti biaya reklamasi lahan sawit, serta menggunakan indeks SDG mapping untuk menghubungkan metrik seperti emisi GHG (SDG 13) dengan posisi keuangan.
4. Sebagai akuntan pelaporan keberlanjutan, saran untuk PT Sumber Hijau adalah menyusun narasi laporan dengan struktur berbasis stakeholder yang menonjolkan cerita sukses penyerapan 70% tenaga kerja lokal (respons terhadap SDG 8 dan komunitas adat), diimbangi komitmen nol deforestasi via HCV assessment untuk SDG 15, serta strategi mitigasi iklim seperti biomassa EFB pellet guna meyakinkan investor global sambil menjawab kritik LSM melalui data audited dan dialog multipartai.