Posts made by Syifa Hesti Pratiwi

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

A. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
Bagian ini menjelaskan bagaimana peneliti menentukan siapa yang akan menjadi sumber data penelitian.
Populasi adalah keseluruhan subjek yang memiliki karakteristik tertentu sesuai topik penelitian. Populasi digunakan sebagai dasar untuk menarik generalisasi hasil penelitian.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih melalui teknik tertentu untuk mewakili keseluruhan populasi, sehingga penelitian dapat dilakukan secara efisien.

Dalam menentukan sampel, peneliti harus memperhatikan ukuran populasi, sifat anggota populasi (homogen atau heterogen), serta tujuan penelitian. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling, yang secara umum dibagi menjadi dua kelompok:
1. Probability Sampling – memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih. Cocok untuk penelitian kuantitatif dan menghasilkan generalisasi yang kuat. Contohnya simple random sampling, stratified sampling, dan cluster sampling.
2. Non-Probability Sampling – tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi. Digunakan jika peneliti membutuhkan responden dengan kriteria tertentu atau populasi sulit diakses. Contohnya purposive sampling, accidental sampling, dan snowball sampling.
Peneliti harus memilih teknik sampling yang tepat agar sampel benar-benar representatif dan sesuai dengan tujuan penelitian.

B. Menentukan Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rencana atau struktur kerja yang digunakan peneliti untuk mengarahkan proses penelitian mulai dari pengumpulan data hingga analisis hasil. Desain penelitian ditentukan berdasarkan jenis masalah, tujuan penelitian, dan hubungan antarvariabel.
Desain penelitian membantu peneliti:
* Menentukan variabel yang diteliti (variabel bebas dan variabel terikat).
* Menetapkan jenis hubungan antarvariabel (sebab-akibat, korelasi, atau deskriptif).
* Menentukan cara pengumpulan data (angket, tes, observasi, dokumentasi).
* Menentukan teknik analisis data (statistik deskriptif maupun inferensial).
Jenis desain yang sering digunakan dalam penelitian kuantitatif meliputi desain deskriptif, korelasional, komparatif, dan eksplanatori. Untuk penelitian yang meneliti pengaruh antarvariabel, desain yang umumnya dipakai adalah desain korelasional atau eksplanatori karena mampu menjelaskan hubungan pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dari responden. Instrumen harus dirancang berdasarkan indikator dari setiap variabel agar data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Bentuk instrumen dapat berupa angket, tes, wawancara, lembar observasi, atau dokumentasi.
Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan utama, yaitu:
1. Validitas – instrumen harus benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas dapat diperoleh melalui validitas isi, validitas konstruk, atau validitas empiris.
2. Reliabilitas – instrumen harus memberikan hasil yang konsisten dan stabil ketika diujikan berulang kali. Uji reliabilitas biasanya dilakukan dengan metode Cronbach Alpha, belah dua (split-half), atau uji coba instrumen.
Selain itu, instrumen juga harus memperhatikan kejelasan bahasa, kesesuaian dengan karakter responden, serta kelayakan butir-butir pertanyaan. Instrumen yang valid dan reliabel akan menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

MPPE A2025 -> Diskusi

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

1. Populasi
Populasi adalah seluruh subjek, objek, atau individu yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sasaran penelitian. Populasi menjadi wilayah generalisasi, karena hasil penelitian nantinya akan diberlakukan pada keseluruhan kelompok ini. Dalam penelitian pendidikan, populasi dapat berupa seluruh siswa, mahasiswa, guru, atau kelompok tertentu yang relevan dengan topik penelitian.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih menggunakan teknik tertentu dan dianggap mewakili keseluruhan populasi. Sampel digunakan ketika peneliti tidak memungkinkan meneliti seluruh populasi karena keterbatasan waktu, biaya, akses, atau jumlah populasi yang terlalu besar. Sampel yang baik harus objektif, representatif, dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menentukan Populasi dan Sampel
Seorang peneliti perlu mempertimbangkan beberapa aspek penting berikut:
1. Relevansi dengan tujuan penelitian
Populasi harus sesuai dengan masalah yang ingin diteliti. Jika tidak relevan, hasil penelitian tidak akan menjawab pertanyaan penelitian.
2. Kejelasan karakteristik populasi
Peneliti harus menetapkan ciri-ciri populasi dengan jelas, seperti angkatan, jurusan, usia, lokasi, atau pengalaman tertentu. Populasi yang tidak jelas akan menghasilkan sampel yang bias.
3. Ukuran populasi
Besarnya populasi menentukan teknik sampling dan jumlah sampel yang perlu diambil. Populasi kecil dapat diteliti seluruhnya (sensus), sedangkan populasi besar memerlukan perhitungan sampel.
4. Homogenitas dan heterogenitas populasi
Jika populasi homogen, teknik sampling sederhana sudah cukup. Jika heterogen, perlu teknik yang mempertimbangkan kelompok atau strata tertentu agar semua kelompok terwakili.
5. Teknik sampling yang sesuai
Peneliti harus memilih teknik probability sampling jika ingin generalisasi kuat, atau non-probability sampling jika membutuhkan responden dengan kriteria khusus.
6. Representativitas sampel
Sampel harus benar-benar mewakili populasi agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Ini bisa dicapai melalui prosedur pengacakan atau pemilihan responden yang sesuai kriteria.
7. Ketersediaan dan aksesibilitas responden
Peneliti harus memastikan bahwa anggota populasi mudah dihubungi dan bersedia menjadi responden.
8. Etika penelitian
Peneliti harus menghormati hak responden melalui informed consent, menjaga kerahasiaan data, dan memastikan tidak ada paksaan maupun konflik kepentingan.

MPPE A2025 -> Penugasan mandiri

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Teknik sampling adalah cara peneliti memilih sebagian anggota populasi untuk dijadikan sampel agar data yang diperoleh dapat mewakili keseluruhan populasi. Dalam literatur metodologi penelitian (Sugiyono, 2021; Creswell, 2018), teknik sampling dibagi menjadi dua kelompok besar:
1. Probability Sampling
Setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Teknik ini digunakan jika peneliti ingin menghasilkan temuan yang dapat digeneralisasikan.
Contohnya:
* Simple Random Sampling
* Stratified Random Sampling
* Cluster Sampling
* Systematic Sampling

2. Non-Probability Sampling
Tidak semua anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Teknik ini digunakan jika populasi sulit dijangkau atau penelitian membutuhkan responden dengan kriteria tertentu.
Contohnya:
* Purposive Sampling
* Accidental Sampling
* Quota Sampling
* Snowball Sampling
Masing-masing teknik dipilih berdasarkan sifat populasi, tujuan penelitian, dan desain riset.

Teknik Sampling yang Sering Digunakan dalam Riset Pendidikan Ekonomi
Dalam penelitian di bidang Pendidikan Ekonomi, teknik sampling yang paling sering digunakan adalah:
1. Simple Random Sampling (SRS)
* Populasi mahasiswa atau siswa biasanya homogen dalam hal karakter akademik dan kurikulum (Sugiyono, 2021).
* SRS memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih sehingga mengurangi bias.
* Cocok untuk penelitian kuantitatif yang ingin mencari pengaruh variabel (misalnya pengaruh media belajar, metode pembelajaran, kemampuan kritis, dll.).
* Lebih mudah dilakukan karena hanya membutuhkan daftar populasi lengkap (sampling frame) dan alat pengacak.

Banyak penelitian pendidikan ekonomi menggunakan teknik ini ketika populasi jelas, tidak terlalu besar, dan terbagi dalam kelompok yang sejenis (misalnya satu angkatan atau satu program studi).

2. Purposive Sampling
* Digunakan ketika peneliti membutuhkan responden dengan kriteria tertentu (Creswell, 2018).
* Dalam pendidikan ekonomi, sering dipakai untuk meneliti mahasiswa yang:
* pernah menggunakan teknologi tertentu (misalnya ChatGPT),
* memiliki pengalaman belajar tertentu,
* atau mengikuti mata kuliah tertentu.
* Teknik ini lebih efisien karena peneliti langsung memilih responden yang relevan dengan tujuan penelitian.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

A. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan cara atau prosedur yang digunakan peneliti untuk memilih sebagian anggota populasi sebagai sampel agar penelitian dapat dilakukan secara efektif. Sampling sangat penting karena peneliti sering kali tidak mampu meneliti seluruh populasi akibat keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga. Teknik ini juga bertujuan agar sampel yang dipilih benar-benar mewakili karakteristik populasi, sehingga kesimpulan penelitian dapat digeneralisasikan. Dalam penelitian kuantitatif, pemilihan teknik sampling harus dilakukan dengan cermat agar tidak menimbulkan bias dan tetap menghasilkan data yang akurat.

B. Macam-Macam Teknik Sampling
Secara umum, teknik sampling terbagi menjadi probability sampling dan non-probability sampling.
1. Probability Sampling
   Teknik ini memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sampel. Metode ini cocok digunakan pada penelitian dengan populasi yang jelas dan ingin menghasilkan generalisasi yang kuat. Bentuk-bentuknya meliputi:
- Simple Random Sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak tanpa pembagian kelompok.
- Stratified Random Sampling, pengambilan sampel berdasarkan strata atau kelompok tertentu.
- Cluster Sampling, pengambilan sampel berdasarkan kelompok lokasi atau unit tertentu.
- Systematic Sampling, pemilihan sampel berdasarkan urutan tertentu (misalnya setiap nomor ke-5).

2. Non-Probability Sampling
   Teknik ini tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi. Teknik ini digunakan ketika populasi sulit diakses atau peneliti membutuhkan responden dengan kriteria tertentu. Bentuk-bentuknya antara lain:
- Purposive Sampling, pemilihan sampel berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu.
- Accidental Sampling, pemilihan berdasarkan siapa pun yang ditemui peneliti.
- Quota Sampling, pemilihan sampel dengan jumlah tertentu pada setiap kelompok.
- Snowball Sampling, digunakan pada populasi yang sulit dijangkau sehingga responden membantu peneliti menemukan responden lain.
Setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga pemilihannya harus disesuaikan dengan tujuan, karakter populasi, dan desain penelitian.

C. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rencana menyeluruh yang digunakan peneliti sebagai pedoman dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data. Desain penelitian menjadi landasan agar penelitian berjalan sistematis dan hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam penelitian kuantitatif, desain sering mencakup:
- Penentuan variabel (variabel bebas, terikat, kontrol).
- Menetapkan hubungan antarvariabel (pengaruh atau korelasi).
- Menentukan metode pengumpulan data (angket, tes, observasi).
- Menentukan teknik analisis data (statistik deskriptif dan inferensial).
Desain penelitian dapat berupa penelitian eksperimen, survei, korelasional, komparatif, atau deskriptif. Pemilihan desain disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Pada penelitian yang menguji pengaruh antarvariabel, desain yang digunakan biasanya adalah desain korelasional atau eksplanatori, di mana peneliti menguji apakah variabel bebas memengaruhi variabel terikat.

D. Instrumen Penelitian dan Persyaratannya
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti angket, lembar observasi, tes, atau wawancara. Instrumen harus dirancang berdasarkan indikator variabel dan disusun agar dapat mengukur objek penelitian secara tepat.
Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan utama:
1. Validitas
   Validitas menunjukkan sejauh mana instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas dapat diuji melalui validitas isi, validitas konstruk, dan validitas empiris. Instrumen yang valid memastikan bahwa data yang diperoleh sesuai dengan konsep teoritis variabel penelitian.

2. Reliabilitas
   Reliabilitas menunjukkan konsistensi instrumen dalam menghasilkan data. Instrumen yang reliabel memberikan hasil yang konsisten ketika digunakan berulang kali pada kondisi yang sama. Pengujian reliabilitas dapat dilakukan menggunakan metode uji coba (try-out), Cronbach Alpha, atau teknik belah dua (split-half). Selain itu, instrumen juga harus memperhatikan aspek kejelasan bahasa, kelayakan penyajian, serta kesesuaian dengan karakteristik responden. Instrumen yang baik akan membuat proses pengumpulan data berjalan lancar dan hasil penelitian lebih valid.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

A. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis adalah landasan konsep atau teori yang relevan dengan variabel-variabel yang diteliti. Peneliti harus mengumpulkan teori, hasil penelitian terdahulu, konsep-konsep ilmiah, serta pandangan para ahli yang berkaitan langsung dengan penelitian yang dilakukan.
1. Pengertian Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis merupakan uraian sistematis mengenai teori-teori yang mendasari hubungan antarvariabel dalam penelitian. Teori yang dibangun mengarahkan peneliti pada pemahaman mendalam tentang variabel yang diteliti, definisi operasional, serta hubungan antarvariabel.

2. Fungsi Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis berfungsi untuk:
* memberikan landasan ilmiah yang kuat,
* memperjelas hubungan antarvariabel,
* mempertegas konsep-konsep yang digunakan,
* menjelaskan keterkaitan antara penelitian dengan kajian sebelumnya,
* mempersempit ruang lingkup penelitian,
* membantu peneliti menghindari kesalahan konsep.
Kerangka teoritis tidak hanya menjelaskan teori yang sudah ada, tetapi juga harus menunjukkan posisi penelitian dalam konteks penelitian-penelitian terdahulu.

3. Sumber Penyusunan Kerangka Teoritis
Beberapa sumber yang digunakan:
* buku-buku ilmiah,
* jurnal penelitian,
* laporan penelitian terdahulu,
* artikel ilmiah dan referensi akademik kredibel,
* teori dan konsep dari para ahli.
Kerangka teoritis harus disusun secara logis, sistematis, dan langsung terkait dengan topik penelitian.

B. Fungsi Kerangka Pikir
Kerangka pikir adalah penjabaran logis dari kerangka teoritis yang menggambarkan alur berpikir peneliti berdasarkan teori-teori yang telah dijadikan landasan. Jika kerangka teoritis berisi teori yang mendasari penelitian, maka kerangka pikir adalah bagaimana teori-teori tersebut mengarahkan alur penelitian.
1. Pengertian Kerangka Pikir
Kerangka pikir menggambarkan hubungan antarvariabel berdasarkan teori yang telah dijelaskan. Ia berfungsi sebagai *alat visual atau naratif* yang menjelaskan bagaimana variabel-variabel saling terkait dan bagaimana peneliti memandang proses penelitian dari awal hingga akhir.
Kerangka pikir sering digambarkan dalam bentuk bagan atau skema agar hubungan antarvariabel terlihat jelas.

2. Fungsi Kerangka Pikir
Kerangka pikir berfungsi untuk:
* menjelaskan arah dan alur penelitian secara sistematis,
* mempertegas hubungan teoretis antarvariabel,
* mempermudah peneliti dalam menyusun hipotesis,
* memberikan gambaran bagaimana masalah dianalisis,
* menjadi dasar dalam penyusunan metodologi penelitian.
Kerangka pikir menyajikan alur logis yang menunjukkan bagaimana teori mendukung hipotesis.

C. Fungsi Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang masih perlu dibuktikan melalui penelitian. Hipotesis berasal dari hubungan teoretis antara variabel yang telah dijelaskan melalui kerangka teoritis dan kerangka pikir.
1. Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis menjadi dasar bagi peneliti dalam menentukan teknik analisis, instrumen, dan jenis data yang akan dikumpulkan.

2. Fungsi Hipotesis
Hipotesis memiliki beberapa fungsi penting:
* memberikan arah dalam pengumpulan data,
* menjadi dasar dalam menentukan metode dan teknik analisis,
* memfokuskan penelitian pada hubungan tertentu,
* membantu peneliti membuat prediksi dalam penelitian,
* menjadi dasar untuk menarik kesimpulan ilmiah.
Hipotesis hanya diperlukan dalam penelitian kuantitatif yang bersifat eksplanatori atau verifikatif. Dalam penelitian kualitatif, hipotesis biasanya tidak digunakan atau bersifat sementara.

3. Jenis-Jenis Hipotesis
Hipotesis dapat berupa:
- Hipotesis Deskriptif: gambaran atau dugaan mengenai satu variabel.
- Hipotesis Komparatif: dugaan adanya perbedaan antarvariabel atau kelompok.
- Hipotesis Asosiatif: dugaan adanya hubungan antarvariabel.

D. Hubungan Antara Kerangka Teoritis, Kerangka Pikir, dan Hipotesis
Ketiga komponen ini saling berkaitan dan menjadi dasar dalam membangun desain penelitian yang kokoh.
1. Hubungan Kerangka Teoritis dan Kerangka Pikir
Kerangka teoritis menyediakan teori dan konsep. Kerangka pikir menyederhanakan, mengurutkan, dan menampilkan teori-teori tersebut dalam bentuk alur. Dengan kerangka teoritis sebagai fondasi, kerangka pikir menjadi penjelasan operasional yang mengarah pada penelitian.

2. Hubungan Kerangka Pikir dan Hipotesis
Hipotesis muncul setelah hubungan antarvariabel dijelaskan melalui kerangka pikir. Kerangka pikir menunjukkan secara jelas bagaimana variabel berhubungan, sehingga hipotesis dapat disusun berdasarkan logika ilmiah dan teori yang mendukung.

3. Hubungan Kerangka Teoritis dan Hipotesis
Hipotesis tidak boleh dibuat tanpa dasar teori. Teori memberikan landasan ilmiah mengenai arah hubungan antarvariabel. Oleh karena itu, kerangka teoritis menjadi dasar utama dalam penyusunan hipotesis.

4. Hubungan Ketiganya dalam Penelitian
Kerangka teoritis → memberikan konsep dan teori.
Kerangka pikir → menyusun alur logika hubungan variabel.
Hipotesis → jawaban sementara yang akan diuji, hasil dari alur logika tersebut.
Ketiganya menghasilkan rancangan penelitian yang kuat, sistematis, dan dapat diuji secara ilmiah.