གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah

MPPE A2025 -> Diskusi

Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah གིས-
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025

Populasi adalah seluruh keseluruhan objek atau subjek yang menjadi sasaran penelitian dan memenuhi kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.​
Sampel adalah bagian atau sebagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan populasi tersebut.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Peneliti dalam Menentukan Populasi dan Sampel
1. Kesesuaian dengan Tujuan Penelitian: Populasi dan sampel harus relevan dan mampu menjawab pertanyaan penelitian.​
2. Kriteria Populasi yang Jelas: Peneliti harus menetapkan karakteristik dan kriteria yang jelas agar populasi yang dipilih benar-benar sesuai dan tidak ambigu.​
3. Kemampuan Mengambil Sampel Secara Representatif: Sampel harus dipilih dengan teknik yang memungkinkan mewakili karakteristik populasi secara akurat, contohnya dengan teknik random sampling.​
4. Ukuran Sampel yang Memadai: Ukuran sampel harus cukup besar agar data yang diperoleh valid dan dapat digeneralisasi kepada populasi secara keseluruhan.​
5. Kemudahan Akses dan Ketersediaan Data: Peneliti harus memastikan bahwa data dari populasi dan sampel dapat diakses dan dikumpulkan secara efektif.​
Dengan memperhatikan poin-poin tersebut, peneliti dapat memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi serta hasilnya dapat dipercaya.

Referensi
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Cetakan ke-19). Bandung: Alfabeta.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah གིས-
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025

BAB 5
Menentukan Teknik Sampling, Desain Penelitian, dan Instrumen Penelitian

1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subjek atau wilayah generalisasi yang memiliki karakteristik tertentu. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili karakteristik keseluruhan populasi.
Penentuan teknik sampling harus mempertimbangkan:
• Ukuran populasi (besar atau kecil)
• Tingkat homogenitas populasi (apakah subjek relatif seragam atau sangat beragam).
• Ketersediaan sumber daya (waktu, biaya, dan kemampuan peneliti).

2. Menentukan Teknik Sampling
Pemilihan teknik sampling (apakah akan menggunakan Probability atau Nonprobability sampling, dan jenis spesifiknya) harus didasarkan pada kesesuaian dengan konteks penelitian:
• Pertimbangan Pemilihan: Peneliti harus melihat tujuan penelitian (apakah ingin generalisasi atau pemahaman kasus spesifik), karakteristik subjek yang akan diteliti, pendekatan penelitian (kuantitatif menuntut probability sampling agar dapat digeneralisasi; kualitatif sering menggunakan purposive sampling), dan kondisi lapangan yang memungkinkan.
• Kesesuaian: Pemilihan teknik harus dipertanggungjawabkan secara logis agar sampel benar-benar dapat mewakili populasi.

3. Menentukan Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rencana kerja menyeluruh yang menjadi panduan peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Desain penelitian harus dipilih berdasarkan tujuan spesifik penelitian yang sudah dirumuskan, karena setiap desain menawarkan prosedur pengujian yang berbeda:
• Jika tujuannya adalah mengetahui pengaruh atau hubungan sebab-akibat, peneliti wajib memilih desain Eksperimen atau Causal Comparative.
• Jika tujuannya adalah menggambarkan fenomena atau memperoleh data dari sampel besar, peneliti memilih desain Deskriptif atau Survei.
• Jika tujuannya adalah memahami makna dan proses di balik suatu fenomena secara mendalam, peneliti memilih desain Kualitatif (seperti studi kasus atau etnografi).

4. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data (misalnya: tes, angket, pedoman wawancara, observasi, dan dokumentasi). Penentuan instrumen penelitian menempatkan penekanan pada pemilihan alat pengumpul data yang paling tepat dan berkualitas. Pemilihan ini harus mempertimbangkan dua aspek mendasar:
a. Kesesuaian dengan Variabel (Substantive Fit) Instrumen yang akan digunakan (seperti tes, angket, pedoman wawancara, atau observasi) harus sesuai secara substantif dengan variabel yang sedang diukur atau diteliti. Hal ini memastikan bahwa alat ukur yang dipilih relevan dan mampu menangkap data yang dibutuhkan untuk menjawab tujuan penelitian.
b. Kualitas dan Persyaratan Instrumen Setelah instrumen ditentukan, peneliti memiliki kewajiban untuk memastikan instrumen tersebut memenuhi standar kualitas melalui pengujian. Kualitas instrumen ditentukan oleh:
• Validitas: Instrumen harus tepat mengukur konsep yang dimaksud.
• Reliabilitas: Instrumen harus memberikan hasil yang konsisten jika digunakan berulang kali.
• Kepraktisan: Instrumen harus efisien dan realistis untuk diterapkan di lapangan.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah གིས-
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025

BAB 4
Teknik Sampling, Desain Penelitian, dan Instrumen Penelitian

1. Teknik Sampling
Sampling adalah proses atau teknik memilih sebagian kecil dari keseluruhan populasi (sampel) untuk diteliti, dengan tujuan agar temuan dapat digeneralisasikan kembali ke populasi. Peneliti harus memastikan sampel yang dipilih benar-benar representatif terhadap karakteristik populasi.
Teknik sampling terbagi menjadi dua kategori utama:
a. Probability Sampling (Pengambilan Sampel Secara Acak) Teknik ini menjamin setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Metode ini sangat penting untuk penelitian kuantitatif yang bertujuan melakukan generalisasi.
Contoh: Simple Random Sampling, Stratified Random Sampling (berdasarkan strata/tingkatan), dan Cluster Sampling).
b. Nonprobability Sampling (Pengambilan Sampel Tidak Acak) Pemilihan sampel didasarkan pada pertimbangan tertentu atau kriteria spesifik peneliti.
Contoh: Purposive Sampling (berdasarkan tujuan), Snowball Sampling (melalui referensi dari subjek awal), Accidental Sampling, Quota Sampling, dan Sampel Jenuh.

2. Desain Penelitian (Research Design)
Desain penelitian adalah rencana kerja atau kerangka menyeluruh yang digunakan peneliti sebagai panduan logis untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Desain berfungsi untuk menjawab rumusan masalah dengan prosedur yang tepat.
Setiap desain memiliki prosedur dan tujuan spesifiknya masing-masing:
• Causal Comparative (Untuk menguji pengaruh atau hubungan sebab-akibat).
• Eksperimental (Untuk menguji pengaruh atau hubungan sebab-akibat).
• Etnografi (Untuk memahami budaya atau kelompok sosial).
• Historis (Untuk mengkaji peristiwa masa lalu).
• Penelitian Tindakan Kelas atau PTK (Untuk memecahkan masalah praktis di lingkungan pendidikan).
• Survei (Untuk mengumpulkan data dari populasi luas).

3. Instrumen Penelitian dan Persyaratannya
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data (seperti: angket, tes, pedoman wawancara, atau observasi).
Instrumen yang baik harus memenuhi persyaratan kualitas yang ketat agar data yang dihasilkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan:
• Validitas (Sejauh mana instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur).
• Reliabilitas (Konsistensi hasil pengukuran jika dilakukan berulang kali).
• Objektivitas (Bebas dari bias pribadi).
• Kepraktisan (Mudah digunakan dan efisien dalam pelaksanaan).

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah གིས-
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025

BAB 3
Kerangka Teoritis, Kerangka Pikir, dan Hipotesis

1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis merupakan landasan ilmiah yang berisi teori, konsep, dan hasil penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Teori berfungsi memperjelas serta mempertajam ruang lingkup pada variabel penelitian, memprediksi guna menemukan fakta setelah itu digunakan untuk merumuskan hipotesis yang ada dan untuk
menyusun instrumen dalam penelitian, dan untuk mengontrol serta membahas hasil dari penelitian kemudian digunakan untuk memberikan saran. Tanpa kerangka teori yang kuat, penelitian sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berdasarkan proses dalam penelitian kuantitatif, teori mempunyai fungsi yaitu untuk memperjelas suatu persoalan, menyusun suatu hipotesis, menyusun suatu instrumen serta untuk membahas analisis data. Sedangkan fungsi teori dalam penelitian kuantitatif yaitu untuk dapat memperkuat penelitian sebagai human instrument, dimana para peneliti mempunyai suatu skill untuk dapat menggali data penelitian secara lengkap, dan mampu mengkonstruksi temuannya tersebut ke dalam tema dan hipotesis penelitian.


2. Kerangka Pikir
Kerangka Pikir (Kerangka Berpikir) adalah alur logis yang menggambarkan keterkaitan antarvariabel berdasarkan landasan teori yang sudah dibahas. Kerangka pikir berfungsi sebagai sintesa dan panduan yang memetakan bagaimana suatu fenomena dijelaskan, dan bagaimana hubungan sebab-akibat atau korelasi antarvariabel dihipotesiskan. Kerangka pikir dapat disajikan dalam bentuk narasi maupun bagan (flowchart). Proses penyusunannya mencakup:
• Menentukan paradigma teoritis
• Menyusun hubungan antarvariabel
• Menyajikan argumen teoretis
• Membentuk model penelitian
Kerangka pikir memandu peneliti dari teori menuju pengujian empiris.

3. Hipotesis dan Fungsinya
Hipotesis adalah jawaban sementara yang merupakan dugaan atau prediksi tentang hubungan antarvariabel, yang kebenarannya harus diuji secara empiris melalui penelitian. Hipotesis digunakan dalam penelitian kuantitatif untuk memprediksi hubungan atau pengaruh antarvariabel. Fungsi utamanya adalah memberi arah yang jelas bagi penelitian, memandu pemilihan variabel, dan menjadi penentu utama dalam penarikan kesimpulan.
Untuk dapat memecahkan sebuah masalah melalui penelitian setidaknya dibutuhkan tiga hubungan untuk menentukan.
a. Hubungan yang bersifat asimetri
b. Hubungan yang bersifat simetris
c. Hubungan yang bersifat reciprocal

4. Hubungan Teori, Kerangka Pikir, dan Hipotesis
Teori, kerangka pikir, dan hipotesis memiliki hubungan hierarkis dalam penelitian. Teori menjadi dasar ilmiah yang menyediakan konsep dan proposisi untuk memahami fenomena. Berdasarkan teori tersebut, peneliti menyusun kerangka pikir sebagai alur logis yang menggambarkan hubungan antarvariabel dan menjelaskan masalah penelitian. Dari kerangka pikir inilah hipotesis dirumuskan sebagai dugaan sementara yang akan diuji melalui data empiris. Dengan demikian, teori memberi landasan konsep, kerangka pikir menghubungkan konsep secara logis, dan hipotesis menguji kebenaran hubungan tersebut.
Ketiganya memiliki hubungan berurutan: Teori → Kerangka Pikir → Hipotesis.
Teori menyediakan konsep, kerangka pikir menyusun hubungan antarvariabel, dan hipotesis menguji dugaan berdasarkan teori.

MPPE A2025 -> ACTIVITY: RESUME

Mar'atus Shalihah Mar'atus Shalihah གིས-
Nama : Mar'atus Shalihah
NPM : 2313031025

BAB 2
Rumusan Masalah, Tujuan, dan Manfaat Penelitian

1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah dapat disusun dengan pendekatan Deduktif (menjelaskan dari teori menuju fakta) atau Induktif (menjelaskan dari fakta menuju teori). Masalah penelitian dapat bersumber dari literatur, hasil penelitian terdahulu, pengamatan lapangan, atau diskusi ilmiah. Bagian ini menjelaskan alasan penelitian dilakukan, menggambarkan kondisi ideal dan kenyataan di lapangan, serta menunjukkan adanya gap yang perlu dikaji.

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan titik awal yang menentukan seluruh arah, metode, dan hasil penelitian. Masalah muncul karena adanya kesenjangan (gap) antara kondisi ideal yang seharusnya terjadi dengan kenyataan empiris di lapangan. Masalah harus dirumuskan secara jelas, spesifik, dan dapat diteliti. Walaupun suatu fenomena mungkin tampak biasa bagi orang lain, bagi peneliti sebuah fenomena dapat menjadi masalah ilmiah apabila menimbulkan pertanyaan yang membutuhkan jawaban melalui pendekatan ilmiah.
a. Sumber Masalah Penelitian
Masalah dapat bersumber dari berbagai hal, seperti pengamatan aktivitas manusia, kondisi lingkungan, literatur, penelitian sebelumnya, pengalaman pribadi, diskusi ilmiah, dan kebutuhan masyarakat. Semakin banyak sumber masalah yang dianalisis, semakin kuat dasar dilakukannya penelitian.
b. Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang Baik
Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang baik harus memenuhi kriteria tertentu. Masalah harus Feasible (dapat dilaksanakan) mengingat keterbatasan biaya dan waktu; harus Jelas dan spesifik; harus Signifikan agar memberikan kontribusi nyata bagi ilmu atau masyarakat; dan yang terpenting, harus Etis serta tidak melanggar norma atau hak subjek. Rumusan masalah harus memenuhi kriteria:
• Feasible (dapat dilaksanakan)
• Jelas dan tidak menimbulkan makna ganda
• Signifikan (penting untuk diteliti)
• Etis, tidak melanggar norma atau hak subjek
Rumusan masalah yang baik memudahkan peneliti menentukan tujuan dan manfaat penelitian.

3. Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian dirumuskan secara operasional dan konkret, yang merupakan jawaban langsung dari rumusan masalah. Tujuan ini memandu peneliti dalam memilih metode dan alat analisis data.

4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terbagi menjadi dua:
• Manfaat Teoretis: Berkontribusi terhadap pengembangan, penegasan, atau pengujian teori dalam ilmu pengetahuan.
• Manfaat Praktis: Memberikan solusi dan rekomendasi yang dapat diterapkan langsung oleh pengguna, seperti guru, sekolah, atau pembuat kebijakan.