Kiriman dibuat oleh Nela Amelia

MPPE B2025 -> CASE STUDY

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Evaluasi Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu angket dengan skala Likert, sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif.
Alasan: Penelitian kuantitatif membutuhkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistik untuk menguji hubungan antarvariabel atau perbedaan antargrup. Skala Likert memungkinkan peneliti mengubah persepsi, sikap, atau motivasi guru menjadi angka yang dapat diukur, dianalisis, dan dibandingkan.

2. Kelebihan dan Kelemahan Angket
Kelebihan:
• Memudahkan pengumpulan data dari banyak responden sekaligus (efisien waktu dan biaya).
• Memberikan data kuantitatif yang konsisten untuk dianalisis statistik.
• Responden bisa menjawab secara anonim, sehingga cenderung lebih jujur.
Kelemahan:
• Tidak dapat menangkap alasan mendalam di balik jawaban responden.
• Respon bisa bias jika pertanyaan tidak jelas atau interpretasi responden berbeda.
• Risiko jawaban tidak serius atau asal centang pada skala Likert.

3. Teknik Analisis Statistik yang Tepat
a. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja:
Gunakan regresi linear sederhana atau korelasi Pearson jika asumsi normal terpenuhi.
Alasan: Gaya kepemimpinan (variabel independen) dan motivasi kerja (variabel dependen) berskala interval/rasio (hasil Likert dapat diperlakukan sebagai interval), sehingga memungkinkan analisis hubungan sebab-akibat atau kekuatan asosiasi.
b. Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru:
Gunakan uji ANOVA satu arah jika terdapat lebih dari dua kategori pendidikan.
Alasan: Variabel motivasi kerja berskala interval/rasio dan variabel tingkat pendidikan berskala nominal/ordinal dengan beberapa kategori, sehingga ANOVA cocok untuk membandingkan rata-rata motivasi antargrup.

4. Potensi Bias dan Masalah Validitas
Potensi masalah:
• Bias respons: Guru mungkin memberikan jawaban yang dianggap “diinginkan” oleh peneliti atau kepala sekolah.
• Bias non-respons: Tidak semua guru mengembalikan angket, sehingga sampel bisa tidak representatif.
• Validitas kuesioner: Item angket mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan gaya kepemimpinan atau motivasi kerja yang sesungguhnya.

Cara mengatasinya:
• Menjamin anonimitas dan kerahasiaan responden untuk mengurangi bias sosial.
• Melakukan pre-test atau uji coba angket untuk memastikan pertanyaan jelas dan valid.
• Menggunakan teknik sampling acak atau stratifikasi untuk memastikan sampel mewakili populasi guru.
• Menyertakan beberapa item reverse-coded atau pertanyaan pengecekan konsistensi untuk meningkatkan reliabilitas.

MPPE B2025 -> Diskusi

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Seorang peneliti perlu memiliki kemampuan untuk menentukan teknik pengumpulan data yang tepat karena kualitas dan relevansi data sangat bergantung pada metode yang digunakan. Teknik yang sesuai memastikan informasi yang diperoleh akurat, lengkap, dan mencerminkan fenomena yang ingin diteliti. Jika teknik pengumpulan data tidak tepat, hasil penelitian bisa bias, tidak valid, atau bahkan menyesatkan.

Selain itu, pemilihan teknik pengumpulan data selalu terkait erat dengan masalah penelitian dan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya:
• Jika tujuan penelitian adalah mengukur tingkat kepuasan, kuesioner dengan skala Likert lebih tepat daripada wawancara terbuka.
• Jika masalah penelitian terkait perilaku nyata di lapangan, observasi langsung atau studi dokumentasi mungkin lebih efektif daripada angket.

Dengan kata lain, teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan jenis pertanyaan penelitian, karakteristik responden, dan informasi yang dibutuhkan, agar data yang diperoleh dapat menjawab rumusan masalah dan mencapai tujuan penelitian secara valid dan dapat dipercaya.

MPPE B2025 -> CASE STUDY

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Skala Pengukuran untuk Setiap Item Kuesioner
• Usia responden (dalam tahun) → Rasio
Alasan: Data usia memiliki nol absolut (0 tahun berarti tidak ada umur), urutan jelas, dan jarak antarangka sama sehingga memungkinkan perhitungan rata-rata, standar deviasi, dan analisis rasio.
• Jenis kelamin (laki-laki / perempuan) → Nominal
Alasan: Jenis kelamin hanya merupakan kategori tanpa urutan atau nilai numerik. Data ini hanya dapat diklasifikasikan dan dihitung frekuensinya.
• Tingkat kepuasan terhadap dosen pembimbing akademik (Sangat tidak puas–Sangat puas) → Ordinal
Alasan: Respon memiliki urutan peringkat dari yang sangat tidak puas hingga sangat puas, tetapi jarak antarkategori tidak dapat dijamin sama. Misalnya, perbedaan kepuasan antara “Tidak puas” dan “Netral” belum tentu sama dengan perbedaan antara “Puas” dan “Sangat puas”.
• Jumlah mata kuliah yang diambil → Rasio
Alasan: Jumlah mata kuliah bersifat kuantitatif dengan nol absolut (0 mata kuliah berarti tidak mengambil mata kuliah), urutan jelas, dan jarak antarangka sama.
• Prioritas aspek dalam memilih universitas (peringkat 1–5) → Ordinal
Alasan: Responden memberikan urutan prioritas, sehingga data memiliki ranking, namun jarak antarperingkat tidak bisa dianggap sama. Misalnya, perbedaan antara prioritas 1 dan 2 belum tentu sama dengan perbedaan antara prioritas 4 dan 5.

2. Kemungkinan Analisis Statistik Parametrik
Tidak semua data dari kuesioner ini bisa dianalisis dengan statistik parametrik. Hal ini karena statistik parametrik biasanya memerlukan data interval atau rasio yang berdistribusi normal. Dalam kuesioner ini:
• Usia dan jumlah mata kuliah berskala rasio → bisa dianalisis parametrik.
• Tingkat kepuasan dan prioritas aspek berskala ordinal → biasanya dianalisis dengan statistik non-parametrik, karena jarak antar peringkat tidak sama.
• Jenis kelamin berskala nominal → hanya dapat dianalisis dengan frekuensi, persentase, atau uji chi-square, bukan statistik parametrik seperti rata-rata atau uji-t.
Dengan kata lain, analisis parametrik hanya dapat diterapkan pada variabel kuantitatif (usia, jumlah mata kuliah), sedangkan variabel kualitatif atau ordinal membutuhkan metode non-parametrik.

3. Metode Analisis untuk Hubungan Kepuasan dan Jumlah Mata Kuliah
Jika peneliti ingin meneliti hubungan antara kepuasan layanan akademik (ordinal) dan jumlah mata kuliah yang diambil (rasio), metode yang paling tepat adalah analisis korelasi non-parametrik, misalnya Spearman Rank Correlation.
Alasannya:
• Kepuasan mahasiswa berskala ordinal, sehingga tidak bisa diasumsikan memiliki jarak yang sama antarkategori.
• Jumlah mata kuliah berskala rasio, tetapi karena salah satu variabel ordinal, uji Spearman lebih tepat daripada Pearson, karena Spearman dapat menangani variabel ordinal dan memeriksa hubungan monotonic antara kedua variabel.
Metode ini akan menunjukkan apakah ada kecenderungan bahwa mahasiswa yang mengambil lebih banyak mata kuliah cenderung memiliki tingkat kepuasan tertentu terhadap layanan akademik.

MPPE B2025 -> CASE STUDY

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Populasi dan Sampel
• Populasi: Seluruh siswa kelas XI SMA negeri di Provinsi Jawa Barat.
Alasan: Peneliti ingin menilai efektivitas pembelajaran hybrid pada seluruh siswa kelas XI di SMA negeri se-provinsi, sehingga seluruh kelompok tersebut menjadi cakupan penelitian.
• Sampel: Sekelompok siswa kelas XI yang dipilih dari beberapa SMA negeri di berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat.
Alasan: Jumlah sekolah sangat besar (600 sekolah di 27 wilayah), sehingga tidak mungkin meneliti semua. Sampel dipilih agar dapat mewakili karakteristik populasi yang beragam.

2. Teknik Sampling yang Tepat
• Teknik yang Disarankan: Stratified Random Sampling (sampling acak bertingkat).
Alasan:
-Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital tiap daerah berbeda.
-Jumlah siswa per sekolah tidak seragam.
-Tidak semua sekolah menerapkan pembelajaran hybrid secara merata.
Teknik bertingkat memungkinkan peneliti membagi populasi menjadi strata (lapisan) yang relevan—misalnya berdasarkan wilayah (kota/kabupaten), tingkat ketersediaan infrastruktur digital, atau konsistensi penerapan hybrid—lalu memilih sampel secara acak dari tiap strata agar representatif.

Cara Penerapan:
1) Bagi 27 kota/kabupaten ke dalam strata, misalnya berdasarkan tingkat kemajuan teknologi atau kategori wilayah (perkotaan, semi-urban, pedesaan).
2) Dari tiap strata, daftar seluruh SMA negeri yang benar-benar menerapkan pembelajaran hybrid.
3) Lakukan pemilihan sekolah secara acak proporsional terhadap jumlah sekolah/siswa di strata tersebut.
4) Ambil sampel siswa kelas XI secara acak dari setiap sekolah terpilih.

3. Risiko Jika Hanya Mengambil Sampel dari Kota Besar
Apabila peneliti hanya memilih sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, hasil penelitian bisa kurang valid secara eksternal (tidak dapat digeneralisasi ke seluruh provinsi).
• Kota besar cenderung memiliki infrastruktur internet lebih baik, sumber daya guru yang lebih lengkap, serta tingkat ekonomi yang relatif tinggi.
• Hasil efektivitas pembelajaran hybrid di daerah urban kemungkinan berbeda dengan daerah pedesaan atau wilayah yang infrastrukturnya terbatas.
Akibatnya, kesimpulan penelitian akan bias, karena tidak mewakili kondisi sebenarnya dari SMA negeri di seluruh Jawa Barat.

MPPE B2025 -> CASE STUDY 2

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Teori yang Dapat Menjadi Landasan
Mahasiswa dapat memadukan beberapa teori manajemen dan perilaku organisasi, antara lain:
a. Teori Kepemimpinan
-Transformational Leadership Theory (Bass & Avolio): menekankan pengaruh kepemimpinan visioner dan inspiratif terhadap motivasi serta kinerja bawahan.
-Transactional Leadership Theory: menyoroti kepemimpinan berbasis imbalan dan pengawasan ketat sebagai pendorong kinerja.
-Path-Goal Theory (House): pemimpin menyesuaikan gaya kepemimpinan (direktif, suportif, partisipatif, berorientasi prestasi) sesuai kebutuhan bawahan dan situasi.
bTeori Motivasi Kerja
-Two-Factor Theory (Herzberg): motivator seperti pengakuan dan pencapaian memengaruhi kepuasan kerja yang berdampak pada kinerja.
-Expectancy Theory (Vroom): persepsi karyawan tentang hubungan usaha–kinerja–imbalan memengaruhi produktivitas.
c.Teori Kinerja Karyawan
-Konsep Job Performance (Campbell): kinerja mencakup hasil kerja, perilaku, dan kontribusi terhadap tujuan organisasi.

2. Kerangka Pikir (Framework)
• Alur Pemikiran:
1. Gaya kepemimpinan yang diterapkan manajemen → memengaruhi tingkat motivasi dan kepuasan kerja karyawan.
2. Motivasi dan kepuasan → berperan sebagai faktor antara (mediator) yang mendorong peningkatan atau penurunan kinerja.
• Skema Singkat:
Gaya Kepemimpinan
(transformasional / transaksional / lain)
-Motivasi & Kepuasan Kerja (variabel perantara)
-Kinerja Karyawan (produktivitas, kualitas output, disiplin, inovasi)

3. Hipotesis yang Dapat Diuji
Beberapa contoh hipotesis:
• H1: Gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
• H2: Gaya kepemimpinan transaksional berpengaruh positif namun lebih rendah dibanding gaya transformasional terhadap kinerja karyawan.
• H3 (Opsional – Mediasi): Motivasi kerja memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan.