གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Hesti Badria

Pendidikan Nilai dan Moral Kelas G ganjil 2024 -> Forum Analisis Jurnal 2

Hesti Badria གིས-
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Saya menganalisis bahwasanya jurnal ini mengungkapkan pentingnya hubungan antara etika, hukum, dan moral dalam masyarakat, dengan menyoroti kondisi di Kampung Cijambe Girang, Sukaresmi, Kabupaten Sukabumi. Etika sebagai norma sosial dan hukum sebagai norma yang lebih tegas saling berperan untuk menciptakan keadilan dan ketertiban. Pelanggaran etika, seperti pelecehan seksual, mencerminkan rendahnya moralitas yang disebabkan oleh kurangnya kesadaran hukum dan pengetahuan tentang hak asasi manusia. Pendidikan etika yang dimulai sejak dini, baik di sekolah maupun dalam keluarga, sangat penting untuk memperbaiki moral masyarakat. Penegakan hukum yang mengatur etika serta pengawasan terhadap informasi negatif juga sangat diperlukan untuk menjaga kesejahteraan sosial. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga sangat diperlukan untuk memperkuat nilai moral dan menegakkan hukum yang berlandaskan prinsip etika.

Pendidikan Nilai dan Moral Kelas G ganjil 2024 -> Forum Analisis Video 2

Hesti Badria གིས-
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206
Moral masyarakat Indonesia kini mengalami kemunduran dibandingkan dengan zaman dahulu. Nilai-nilai penting seperti kejujuran, gotong royong, dan kesopanan mulai terkikis akibat pengaruh budaya asing, teknologi, serta minimnya penanaman pendidikan karakter di sekolah dan dalam keluarga. Lingkungan yang tidak mendukung, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat, semakin memperparah situasi, sehingga generasi muda kerap menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma moral. Untuk mengatasi hal ini, semua pihak—dari pemerintah hingga keluarga—harus berperan aktif dalam memperkuat pendidikan moral dan karakter.

Pendidikan Nilai dan Moral Kelas G ganjil 2024 -> FORUM pertanyaan

Hesti Badria གིས-
Hardskill dan softskill memiliki kriteria yang berbeda karena fokus dan sifatnya yang berbeda:
Hardskill adalah keterampilan teknis atau kemampuan spesifik yang bisa diukur secara objektif, seperti kemampuan menggunakan software, bahasa pemrograman, atau mengoperasikan mesin. Kriteria penilaiannya meliputi akurasi, kecepatan, dan hasil akhir pekerjaan.
Softskill adalah kemampuan non-teknis yang lebih bersifat interpersonal dan emosional, seperti komunikasi, kerja sama, atau manajemen waktu. Kriterianya biasanya dinilai melalui observasi perilaku, sikap, dan cara seseorang menyelesaikan masalah atau berinteraksi dengan orang lain.
Perbedaan utama terletak pada cara keduanya diukur: hardskill lebih terukur secara kuantitatif, sedangkan softskill cenderung bersifat kualitatif dan subjektif.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

jurnal ini itu mengupas peran penting keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam membentuk nilai-nilai moral anak, guna mencegah perilaku menyimpang dan penurunan moral. Sebagai pondasi awal pendidikan, keluarga bertanggung jawab untuk menanamkan nilai keimanan, moralitas, dan karakter anak sejak usia dini melalui pembiasaan positif dan teladan yang diberikan oleh orang tua. Berbagai faktor yang memengaruhi kemerosotan moral, seperti lemahnya keimanan, kondisi masyarakat yang tidak kondusif, serta kurangnya pendidikan moral dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, turut diidentifikasi. Sebagai solusi, jurnal ini menekankan perlunya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk menguatkan pendidikan moral. Penanaman nilai agama, bimbingan sikap yang baik, serta terciptanya keharmonisan dalam hubungan keluarga menjadi aspek utama yang diperlukan untuk menghasilkan generasi muda yang bermoral baik dan berkualitas.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Pada Artikel ini membahas pentingnya pendidikan moral di sekolah untuk menciptakan generasi muda yang berkualitas, baik secara intelektual maupun moral.
1. Peran Sekolah sebagai Mikrosistem :
Sekolah dianggap sebagai lingkungan penting yang memengaruhi perkembangan moral siswa, di mana interaksi dengan guru, teman, dan staf sekolah lainnya membentuk moral mereka.
2. Komponen Pendidikan Moral :
Pendidikan moral harus dirancang secara komprehensif, mencakup:
- Pendidik : Tidak hanya guru, tetapi semua warga sekolah berperan sebagai pendidik moral.
- Materi : Meliputi moral terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam, dan Tuhan.
- Metode : Termasuk inkulkasi nilai, keteladanan, klarifikasi nilai, fasilitasi nilai, dan keterampilan moral.
- Evaluasi : Menilai penalaran, perasaan, dan perilaku moral siswa melalui berbagai pendekatan.
3. Tantangan dan Pendekatan Modern :
Dengan perkembangan zaman, pendekatan indoktrinasi dianggap kurang relevan. Pendekatan modern lebih menekankan pada dialog, pemahaman nilai, dan pembiasaan praktik moral.
Sehingga dapat saya tarik kesimpulan yaitu :
Pendidikan moral yang komprehensif di sekolah sangat penting untuk membentuk generasi muda yang berkualitas. Guru sebagai ujung tombak harus menjadi teladan moral, didukung oleh berbagai metode pembelajaran moral yang relevan. Hasil pendidikan moral diharapkan menciptakan siswa dengan karakter yang baik, mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Kesuksesan pendidikan moral bergantung pada kolaborasi antara guru, siswa, keluarga, dan masyarakat.